Anda di halaman 1dari 12

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN

FAKULTAS KEDOKTERAN

REFERAT MINI 2
MEI 2014

UNIVERSITAS HASANUDDIN

FURUNKEL, KARBUNKEL DAN TERAPINYA

DISUSUN OLEH :
Miftahul Jannah Tatuhey
2008-83-031
PEMBIMBING:
dr. Fauzan Azhari Marzuki

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT & KELAMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini, menyatakan bahwa :


Nama

: Miftahul Jannah Tatuhey (2008-83-031)

Fakultas

: Kedokteran

Universitas

: Universitas Pattimura

Judul Referat

: Furunkel, Karbunkel dan Terapinya

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian ILMU
KESEHATAN

KULIT

DAN

KELAMIN

Fakultas

Kedokteran

Universitas

Makassar,

Mei 2014

Hasanuddin.

Pembimbing

dr. Fauzan Azhari Marzuki

FURUNKEL, KARBUNKEL DAN TERAPINYA


I.

DEFINISI
Furunkel (abscess or boil) adalah suatu penyakit infeksi akut pada
folikel rambut dan sekitarnya, bulat, nyeri, berbatas tegas yang berakhir dengan
supurasi di tengah akibat daripada bakteri staphylococcus aureus.1,2,3 Jika lebih
daripada satu disebut furunkulosis.1
Karbunkel merupakan gabungan daripada beberapa furunkel yang
dibatasi oleh trabekula fibrosa yang berasal dari jaringan subkutan yang padat. 4,5
Karbunkel juga merupakan nodul inflamasi pada daerah folikel rambut yang
lebih luas dan dasarnya lebih dalam daripada furunkel.4

Gambar 1. (A) furunkel di bibir atas, tampak lesi nodular dan plug neksrosis yang di bungkus
krusta purulent;(B) Multipel furunkel/karbunel pada bokong.*

Gambar 2. Karbunkel. Lesi ini menampakkan multipel furunkel yang berkumpul dan
mengeluarkan pus.*

* Dikutip dari Kepustakaan 3


3

Gambar 3. Karbunkel dengan ukuran besar pada dagu.**

Gambar 3. Furunculosis pada pasien diabetes mellitus.***

II.

EPIDEMIOLOGI
Furunkel jarang ditemukan pada anak di daerah beriklim sedang kecuali
terdapat riwayat atopi, namun frekuensinya meningkat dengan cepat pada masa
mendekati pubertas, dan masa remaja, dan pada dewasa merupakan penyakit
yang umum ditemukan.4,7 Furunkel di Inggris yang paling umum terjadi selama
bulan-bulan awal musim dingin. Pada masa remaja, laki-laki lebih banyak
terkena dibanding perempuan dan angka puncak kejadian berhubungan dengan
acne vulgaris. Seperti infeksi staphylococcus lainnya, faktor yang berperan pada
perusakan dan penetapan pada jaringan belum diketahui. Pada umumnya jarang
terjadi kelainan pada respon imun.4

** Dikutip dari Kepustakaan 6


*** Dikutip dari Kepustakaan 7

III. ETIOLOGI
Penyebab dari furunkel atau karbunkel ini biasanya adalah bakteri
staphylococcus aureus.4 Furunkel jarang ditemukan pada anak di daerah
beriklim sedang kecuali terdapat riwayat atopi, namun frekuensinya meningkat
dengan cepat pada masa mendekati pubertas, dan masa remaja, dan pada
dewasa merupakan penyakit yang umum ditemukan. Pada masa remaja, lakilaki lebih banyak dikenai dibanding perempuan dan angka puncak kejadian
berhubungan dengan acne vulgaris. Seperti infeksi staphylococcus lainnya,
faktor yang berperan pada perusakan dan penetapan pada jaringan belum
diketahui. Pada umumnya jarang terjadi kelainan pada respon imun.
Kemungkinan kerusakan fungsi neutrofil sampai saat ini masih diperdebatkan.
Jenis strain staphylococcus yang menginfeksi juga sering ditemukan pada
hidung dan perineum, yang menyimpulkan bahwa inokulasi yang berulang dan
berat pada pasien furunkel kronik dapat menjadi kondisi yang baik pada
perkembangan furunkel.4,7
Gangguan sistemik tertentu dapat menjadi predisposisi terjadinya
furunkulosis, seperti peminum alkohol, malnutrisi, dyscrasias darah, gangguan
fungsi neutrofil, iatrogenik atau penyakit defisiensi imun (HIV), dan diabetes.
Selain itu, dermatitis atopi juga merupakan predisposisi terjadinya perpindahan
infeksi staphylococcus aureus.2
IV. PATOGENESIS
Wabah furunkulosis terbaru disebabkan oleh strain tertentu oleh
staphylococcus telah ditemukan. Kebanyakan dari ini dikaitkan dengan infeksi
staphylococcus pada komunitas. Pada suatu studi di Prancis, pasien dengan
furunkulosis

menunjukkan

adanya

staphylococcus

pada

kebanyakan

pemeriksaan swab, dan 42% dari yang tersembunyi memiliki gen PantonValentine-Leokucidin (PVL).4

Furunkel biasanya merupakan vellus type. Mekanisme patologi pastinya


bagaimana Staphylococcus aureus membentuk abses masih belum jelas, tapi
injeksi PVL pada kulit kelinci menghasilkan lesi nekrotik. Ini mengindikasikan
bahwa produksi cytotoxin dapat mempengaruhi terjadinya folikulitis.4
V.

DIAGNOSIS
1. Gejala klinis
Gejala klinis dari furunkel dimulai dengan nodul folikulocentrik yang
keras, lunak, merah (kelainan berupa nodus eritematosa berbentuk kerucut,
di tengahnya terdapat pustul) pada daerah yang terdapat bulu (hair-bearing)
dan kemudian melunak menjadi abses yang berisi pus dan jaringan nekrotik,
lalu memecah membentuk fistel.3
Karbunkel biasanya pertama muncul sebagai tonjolan yang nyeri,
permukaannya halus, berbentuk kubah dan berwarna merah. Tonjolan
tersebut biasanya juga indurasi. Demam dan malaise juga sering muncul.
Karbunkel yang pecah dan kering kemudian membentuk lubang yang
kuning keabuan ireguler pada bagian tengah dan sembuh perlahan derngan
granulasi.3
2. Pemeriksaan Fisik
Terdapat nodul berwarna merah, hangat dan berisi pus. Supurasi
terjadi setelah kira-kira 5-7 hari dan pus dikeluarkan melalui saluran keluar
tunggal (single follicular orifices). Furunkel yang pecah dan kering
kemudian membentuk lubang yang kuning keabuan ireguler pada bagian
tengah dan sembuh perlahan dengan granulasi.2,3
Furunkel dan karbunkel dapat terjadi di seluruh bagian tubuh,
predileksi terbesar penyakit ini pada wajah, leher, ketiak, pantat, paha dan
perineum.3,6,8 Yaitu tempat-tempat yang banyak friksi.1
Setiap orang memiliki potensi terkena penyakit ini, namun beberapa
orang dengan penyakit diabetes, sistem imun yang lemah, jerawat atau

problem kulit lainnya memiliki resiko lebih tinggi. 3,8 Gambaran klinis
penyakit ini adalah timbulnya nodul kemerahan berisi pus, panas dan nyeri.
Diagnosis furunkel dapat ditegakkan berdasarkan gambaran klinis yang
dikonfirmasi dengan pewarnaan gram dan kultur bakteri.3
3. Pemeriksaan Penunjang
Pada

pemeriksaan

laboratorium,

furunkulosis

atau

karbunkel

menunjukkan adanya leukositosis. Pemeriksaan histologis dari furunkel


menunjukkan proses inflamasi dengan PMN yang banyak di dermis dan
lemak subkutan.3 Pada karbunkel, abses multipel yang dipisahkan oleh
trabekula jaringan ikat menyusup dermis dan melewati sepanjang pinggir
folikel rambut, mencapai permukaan melalui lubang pada epidermis yang
terkikis. 3,6,7
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan gambaran klinis yang
dikonfirmasi dengan pewarnaan gram dan kultur bakteri. Pewarnaan gram
akan menunjukkan sekelompok kokus berwarna ungu (gram positif).3
VI. DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis didasarkan terutama pada penampilan klinis. Kultur dan
pewarnaan garam dari lesi dapat mendukung diagnosis. Furunkel yang luas dan
karbunkel dapat dikaitkan dengan jumlah leukosit yang meningkat. Kista
epidermoid, hidradenitis supuratif (akne inversa) dan akne kistik harus
dipertimbangkan sebagai diganosa banding.3,8
VII. PENGOBATAN
Pengobatan furunkel meliputi pengobatan topikal, sistemik, dan
pengobatan penyakit yang mendasari. Umumnya penderita sembuh dengan
terapi adekuat tersebut, namun ada beberapa penderita yang mengalami
rekurensi yang membutuhkan evaluasi dan penanganan lebih lanjut.3

Untuk furunkel yang kecil, pengobatan mungkin tidak diperlukan. 8 Atau


cukup

dengan

antibiotik

topikal.1

Namun,

kompres

hangat

dapat

mempromosikan pematangan, drainase dan resolusi gejala. Lesi berfluktuasi


memerlukan insisi dan drainase. Antibiotik sistemik harus digunakan dalam 4
kasus: (1) furunkel sekitar hidung, dalam nares atau di kanal auditori eksternal;
(2) lesi besar dan berulang; (3) lesi dengan selulitis sekitarnya; dan (4) lesi tidak
sembuh dengan terapi topikal.8
Jika sedikit cukup dengan antibiotik topikal. Jika banyak digabung
dengan antibiotik sistemik.1
Kalau berulang-ulang mendapat furunkolosis atau karbunkel, harus
dicari fraktor predisposisi misalnya diabetes mellitus.1
Antibiotik sistemik mempercepat resolusi penyembuhan dan wajib
diberikan pada seseorang yang beresiko mengalami bakteremia. Antibiotik
diberikan selama tujuh sampai sepuluh hari. Lebih baiknya, antibiotik diberikan
sesuai dengan hasil kultur bakteri terhadap sensitivitas antibiotik.3
Bila infeksi berasal dari methicillin resistent Streptococcus aureus
(MRSA) dapat diberikan vankomisin sebesar 1 gram tiap 12 jam. Pilihan lain
adalah tetrasiklin, namun obat ini berbahaya untuk anak-anak. Terapi pilihan
untuk golongan penicilinase-resistant penicillin adalah dicloxacilin Pada
penderita yang alergi terhadap penisilin dapat dipilih golongan eritromisin. Pada
orang yang alergi terhadap -lactam antibiotic dapat diberikan vancomisin.3
Untuk infeksi berat atau infeksi pada area yang berbahaya, dosis
antibiotik maksimal harus diberikan dalam bentuk perentral. Bila infeksi berasal
dari methicillin resistent Streptococcus aureus (MRSA) atau dicurigai infeksi
serius, dapat diberikan vankomisin (1 sampai 2 gram IV setiap hari dalam dosis
terbagi). Pengobatan antibiotik harus berlanjut paling tidak selama 1 minggu.2,3
Tabel 1. Manajemen furunkulosis atau karbunkel rekuren.*

Evaluasi penyebab yang mendasari dengan teliti

* Dikutip dari Kepustakaan 3

Proses sistemik

Faktor-faktor predisposisi yang terlokalisasi spesifik: paparan zat industri (zat kimia,
minyak); higiene yang buruk; obesitas; hiperhidrosis; tekanan dari celana yang
sempit atau sabuk pengaman.

Sumber kontak Staphylococcus: infeksi piogenik dalam keluarga, olahraga kontak


seperti gulat, autoinokulasi.

Stahphylococcus aureus dari hidung : disini tempat dimana penyebaran organisme ke


tempat tubuh yang lain.terjadi. Frekuensi dari bawaan nasal bervariasi : 10%-15%
pada balita 1 tahun, 38% pada mahasiswa, 50% pada dokter RS dan siswa militer.

Perawatan kulit secara umum: tujuannya adalah mengurangi jumlah S.aureus pada kulit.
Perawatan kulit pada kedua tangan dan tubuh dengan air dan sabun adalah penting.
Sabun antimikrobial yang mengandung providone iodine atau benzoyl peroxide atau
klorheksidin 4% dapat digunakan untuk mengurangi kolonisasi stafilokokus pada kulit..
Handuk yang terpisah harus digunakan dan secara hati-hari dicuci dengan air panas
sebelum digunakan.

Jenis Pakaian : pakaian yang menyerap keringat, ringan dan longgar harus digunakan
sesering mungkin. Sejumlah besar stafilokokus sering berada pada seprai dan pakaian
dalam pasien dengan furunkulosis atau karbunkel dan dapat menyebabkan reinfeksi pada
pasien dan infeksi pada anggota keluarganya. Pakaian secara terpisah dicuci dalam air
hangat dan diganti tiap hari.

Pertimbangan umum: beberapa pasien tetap memiliki siklus lesi rekuren. Kadang-kadang,
masalah dapat diperbaiki atau dihilangkan dengan menyuruh pasien agar tidak
melakukan pekerjaan rutin regular. Terutama pada individu dengan stres emosional dan
kelelahan fisik. Liburan selama beberapa minggu, idealnya pada iklim sejuk atau kering
akan membantu dengan cara menyediakan istirahat dan juga menyisihkan waktu yang
dibutuhkan untuk melaksanakan program perawatan kulit.

Pertimbangkan hal yang bertujuan eliminasi S.aureus (yang peka methicillin maupun
yang resisten methicillin) dari hidung (dan kulit) :
-

Penggunaan salep lokal pada vestibulum nasalis mengurangi S.aureus pada hidung
dan secara sekunder mengurangi sekelompok organisme pada kulit, sebuah proses
yang menyebabkan furunkulosis rekuren. Pemakaian secara intranasal dari salep
mupirocin calcium 2% dalam base paraffin yang putih dan lembut selama 5 hari
dapat mengeliminasi S.aureus pada hidung sekitar 70% pada individu yang sehat
selama 3 bulan. Resistensi stafilokokus terhadap mupirocin hanya didapatkan pada 1

dari 17 pasien. Profilaksis dengan salep asam fusidat yang dioleskan pada hidung
dua kali sehari setiap minggu keempat pada pasien dan anggota keluarganya yang
merupakan karier strain infeksius S.aureus pada hidung (bersamaan dengan
pemberian antibiotik anti-stafilokokus peroral selama 10-14 hari pada pasien) telah
terbukti dengan beberapa keberhasilan.
-

Antibiotik oral (misalnya rifampin 600 mg PO tiap hari selama 10 hari) efektif dalam
mengeradikasi S.aureus untuk kebanyakan nasal carrier selama periode lebih dari 12
minggu. Penggunaan rifampin dalam jangka waktu tertentu untuk mengeradikasi
S.aureus pada hidung dan menghentikan siklus berkelanjutan dari furunkulosis
rekuren adalah beralasan pada pasien yang dengan pengobatan lain gagal. Namun,
strain yang resisten rifampin dapat muncul dengan cepat pada terapi seperti itu.
Penambahan obat kedua (dikloxacillin bagi S.aureus yang peka methicillin;
trimethoprim-sulfametaxole, siprofloksasin, atau minoksiklin bagi S.aureus yang
resisten methicillin) telah digunakan untuk mengurangi resistensi rifampin dan untuk
mengobati furunkulosis rekuren.

VIII. KOMPLIKASI
Furunkel dapat menimbulkan komplikasi yang cukup serius.
Masuknya Staphylococcus aureus ke dalam aliran darah menimbulkan
bakteremia. Bakteremia Staphylococcus aureus dapat mengakibatkan infeksi
pada organ lain atau yang dikenal infeksi metastasis seperti osteomielitis,
endokarditis akut, dan abses otak. Manipulasi pada lesi akan mempermudah
menyebarnya infeksi melalui aliran darah. Tetapi, komplikasi tersebut jarang
terjadi.3
IX.

PROGNOSIS
Prognosis baik sepanjang faktor penyebab dapat dihilangkan.
Prognosis tidak dapat ditentukan selama episode pertama. Beberapa pasien
hanya mengalami satu serangan sedangkan yang lain mengalami rekurensi
selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun dengan atau tanpa periode bebas
furunkel. Dimana sering terjadi methicillin resistent Streptococcus aureus.4

10

DAFTAR PUSTAKA

11

1. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Furunkel/Karbunkel. Ilmu Penyakit Kulit


dan Kelamin. Edisi ke-6. Jakarta: FKUI; 2010.p.60.
2. Cohen PR et al. Bacterial Infection. In: Harry LA et al, editor. Andrews
Disease of The Skin: Clinical Dermatology. 10th Ed. Philadelphia: W.B.
Saunders Company;2006.p.253-4.
3. Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, Wolpp K.
Furuncles and Carbuncles. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine
Vol 1st. 8th Ed. New York: McGrawHill; 2012.p.3036-9.
4. Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C, Editors. Furuncles, Carbuncles.
Rook's Textbook Of Dermatology Vol 1st . 8th Ed. New York:Blackwell
Publishing;2010.p.30.23-30.25.
5. Hee TG, Jin BJ. The Surgical Treatment of Carbuncles: A Tale of Two
Techniques. Iranian Red Crescent Medical Journal 2013; 15(4):367-70.
6. Chelliah G, Hamzah AA, Ahmad MZ, Ahmad R. Carbuncle of the Chin: A
Case Report and Literature review. The Libyan Journal of Surgery2013:1-4.
7. M. Motswaledi. Review: Superficial Skin Infections and the use of Topical
and Systemic Antibiotics in General Practice. S Afr Fam Pract 2011;53(2):
139-42.
8. Bolognia JL, Jorizzo JL, Rapini RP. Abscesses, Furuncles and Carbuncles.
Dermatology Vol 1st. 2nd Ed. New York: Elsevier;2008.

12