Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM IMUNOSEROLOGI

TUBEX TF RAPID THYPOID DETECTION

OLEH :
KELOMPOK 2 (GANJIL)
NI WYN NURSILAYANI

(P07134012013)

YULISTYA RANDI PUTRI

(P07134012015)

NYOMAN GEDE NGARDIANA

(P07134012017)

PUTU RATIH SATYAWATI

(P07134012019)

KDK AYU LESTARIANI

(P07134012021)

I GST. AG. AYU KRISMA D. DEWI

(P07134012023)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
DIII JURUSAN ANALIS KESEHATAN
2014

TUBEX TF RAPID THYPOID DETECTION


Hari / tanggal : jumat / 3 Oktober 2014
Tempat : Laboratorium Patologi Klinik RS Sanglah

I.

TUJUAN
1. Tujuan Instruksional Umum
Untuk dapat memahami dan mengetahui cara pemerikssaan demam tifoid dengan
Tubex Test.
2. Tujuan Instruksional Khusus
Untuk mendeteksi demam tifoid primer (Antibodi IgM) terhadap antigen
Salmonella typhi O9 lipopolisakarida.

II. METODE
Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah Inhibiton Magnetic Binding
Immunoassay.
III. PRINSIP
Tubex TF mendeteksi antibody anti-O9 pada sampel serum sesuai dengan
menilai kemampuannya dalam menghambat reaksi antibody yang dilapisi dengan
reagen biru dengan antigen yang dilapisi dengan reagen coklat. Penghambatan yang
terjadi akan sebanding dengan konsenterasi antibody anti O9 dalam sampel.
Pemisahan diaktifkan oleh gaya magnet. Hasil dibaca secara visual terhadap skala
warna.
IV. DASAR TEORI
4.1 Morfologi dan Identifikasi
Salmonella sering bersifat pathogen untuk manusia atau hewan jika masuk ke
dalam tubuh melalui mulut. Bakteri ni ditularkan dari hewan atau produk hewan
kepada manusia, dan menyebabkan enteris, infeksi sistemik dan demam enteric.
Salmonella merupakan bakteri Gram (-) batang, tidak berkapsul dan bergerak
dengan flagel peritrich (Soemarno, 2000).

Panjang Salmonella bervariasi, kebanyakan spesies kecuali Salmonella


pullorumgallinarum dapat bergerak dengan flagel peritrich, bakteri ini mudah
tumbuh pada pembenihan biasa, tetapi hampir tidak pernah meragikan laktosa dan
sukrosa. Bakteri ini termasuk asam dan kadang kadang gas dari glukosa dan
maltosa, dan biasanya membentuk H2S. Bakteri ini dapat hidup dalam air beku
untuk jangka waktu yang cukup lama. Salmonella resisten terhadap zat-zat kimia
tertentu (misalnya hijau brilliant, natrium tetratrionat, dan natrium desoksikolat)
yang menghambat bakteri enteric lainnya. Oleh karena itu senyawa ini bermanfaat
untuk dimasukkan

dalam

pembenihan yang dipakai untuk mengisolasi

Salmonella dari tinja (Jawetz, 1996).


Salmonella tumbuh dengan situasi aerob dengan suhu optimum 36o C.
-

Mac conkey agar, koloni tidak berwarna, jernih, keping, sederhana,

bulat, smooth.
EMB, koloni tidak berwarna, sedang lebih besar dari MC, keping.
SSA, koloni tidak berwarna, kecil-kecil, smooth, bulat, keeping.
Desoxycholate Citrate, koloni kecil-kecil, sedang, berwarna, jernih

kelabu, smooth, keeping.


Endo Agar, koloni kecil, tidak berwarna atau merah muda, kecil-sedang,

keeping.
Hektoen Enteric Agar, koloni kecil sedang, berwarna hijau biru, dengan

atau tanpa warna hitam tengah, koloni bulat, smooth.


TSI : Lereng = alkali/asam
Gas = +/- (Soemarno. 2000).

2.2 Struktur Antigen


Meski pada awalnya Salmonella dideteksi berdasarkan sifat sifat biokimianya,
golongan dan spesiesnya harus di identifikasi dengan analisis antigen. Seperti
Enterobacteriacea lain, Salmonella memiliki antigen O (dari keseluruhan berjumlah
lebih dari 60) dan antigen H yang berbeda pada salah satu atau kedua fase. Beberapa
Salmonella mempunyai antigen simpai (K) yang disebut V1 yang dapat menganggu
aglutinasi melalui anti serum O, antigen ini dihubungkan dengan sifat invasif yang
dimilikinya. Tes aglutinasi dengan anti serum serapan untuk antigen O dan H yang
berbeda merupakan dasar untuk klasifikasi Salmonella secara serologi. (Jawetz,
1996).

2.3 Demam Tifoid


Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh
Salmonella typhi yang masih di jumpai secara luas di berbagai negara berkembang
yang terutama terletak di daerah tropis dan subtropics (Anonim, 2010).
Penularannya dapat terjadi melalui kontak antar manusia atau jika makanan dan
minuman yang di konsumsi terkontaminasi di karenakan penanganan yang tidak
bersih. Selang waktu antara infeksi dan permulaan sakit ( masa inkubasi ) tergantung
dari banyaknya bakteri apa yang masuk ke dalam tubuh. Masa inkubasi berkisar
antara 8-14 hari. (Anonim, 2010).
Penyakit demam tifoid ini juga merupakan masalah kesehatan masyarakat yang
penting karena penyebarannya berkaitan dengan urbanisasi, kepadatan penduduk,
kesehatan lingkungan, sumber air dan sanitasi yang buruk, serta standar hygiene
industri pengolahan makanan yang masih rendah (Anonim, 2010).
2.4 Gejala Penyakit Tifus
Dalam minggu pertama, keluhan dan gejala mengenai infeksi akut pada
umumnya seperti demam, sakit kepala, mual, nafsu makan menurun, sakit perut,
diare pada anak-anak atau sulit buang air besar pada orang dewasa. Suhu tubuh
meningkat terutama pada sore hari dan malam hari (Anonim, 2010).
Setelah minggu ke dua gejala menjadi lebih jelas , yaitu demam yang tinggi terus
menerus, nafas berbau tak sedap, kulit kering, rambut keriting, bibir kering dan
pecah pecah, lidah di tutupi oleh selaput putih kotor, pembesaran hati dan limfa,
serta timbul rasa nyeri bila di raba, dan gangguan kesadaran dari yang ringan,
apatis, koma (Anonim, 2010).
Penyakit tifus yang berat menyebabkan komplikasi pendarahan, kebocoran usus,
infeksi selaput, renjatan bronkopnemonia dan kelainan di otak. Jika terdapat gejala
penyakit tifus segera di lakukan pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan
diagnosa penyakit tifus, koma. Keterlambatan diagnose dapat menyebabkan
komplikasi yang berakibat fatal, sampai pada kematian (Anonim, 2010).

Sebagian besar penderita mengalami penyembuhan sempurna. Tetapi bisa terjadi


komplikasi terutama bila tidak di obati atau pengobatan terlambat berupa:
a. Perdarahan usus (2 % penderita)
Perforasi usus (1-2 % penderita yang menyebabkan nyeri perut karena isi usus
menginfeksi rongga perut).
b. Infeksi kantung kemih dan hati
c. Infeksi darah ( bakterimia) yang kadang menyebabkan infeksi organ tubuh
lainnya.
2.5 Identifikasi Kuman Melalui Uji Serologi
Uji serologi di gunakan untuk membantu menegakkan diagnose demam tifoid
dengan mendeteksi anti bodi spesifik terhadap komponen anti gen S. typhi maupun
mendeteksi antigen itu sendiri. Beberapa uji serologi yang dapat digunakan pada
demam tifoid ini meliputi:
a. Uji Widal
Merupakan suatu metode serologi baku dan rutin. Teknis aglutinasi ini dapat
dilakukan dengan uji hapusan atau uji tabung. Uji ini di lakukan dengan
mencampur serum yang sudah di encerkan dengan suspensi Salmonella mati yang
mengandung anti gen O (somatik) dan H (flagel)
b. Test Tubex
Test aglutinasi kompetitif semikuaantitatif yang cepat dan sederhana dengan
menggunakan partikel berwarna untuk meningkatkan sensitifikasi. Spesifikasi di
tingkatkan dengan menggunakan antigen O yang benar benar spesifik yang hanya
di temukan pada Salmonella setogrup D.
c. Metode Enzyme Immunoassay
Didasarkan pada metode untuk melacak antibodi spesifik IgM dan IgM
terhadap antigen OMP 50 kp. S. typhi. Deteksi IgM menunjukkan fase awal infeksi
pada demam tifoid akut, sedangkan IgM dan IgG menunjukkan demam tifoid fase
pertengahan infeksi.
d. ELISA
Dipakai untuk melacak antibody IgG , IgM, IgA terhadap antigen LPS Og,
antibody terhadap antigen d (Hd) flagel dan antibody terhadap antigen S. typhi.
e. Pemeriksaan Dipstik

Dikembangkan di Belanda dalam mendeteksi antibody IgM spesifik terhadap


antigen LPS. S. typhi dengan menggunakan membran nitrose lulosa yang
mengandung antigen S. typhi sebagai pita pendeteksi dan antibodi IgM anti human
immobilized sebagai reagen control.
2.6 Pemeriksaan Tubex TF
Tubex TF adalah suatu tes diagnostic in vitro semi kuantitatif 10 menit untuk
deteksi Demam Tifoid akut yang disebabkan oleh salmonella typhi, melalui deteksi
spesifik adanya serum antibodi lgM tersebut dalam menghambat (inhibasi) reaksi antara
antigen berlabel partikel lateks magnetik (reagen warna coklat) dan monoklonal
antibodi berlabel lateks warna (reagen warna biru), selanjutnya ikatan inhibasi tersebut
diseparasikan oleh suatu daya magnetik. Tingkat inhibasi yang dihasilkan adalah setara
dengan konsentrasi antibodi lgM S. Typhi dalam sampel. Hasil dibaca secara visual
dengan membandingkan warna akhir reaksi terhadap skala warna(Afidin, 2013).

Dasar konsep antibodi lgM spesifik terhadap salmonella typhi digunakan sebagai
marker penanda TUBEX TF menurut beberapa peneliti:
-

kadar ketiga kelas immunoglobin anti Lipopolisakarida (lgA, lgG dan lgM)lebih
tinggi pada pasien tifoid dibandingkan kontirol;pengujian lgM antipolisakarida

memberikan hasil yang berbeda bermakna antara tifoid dan non tifoid.
Dalam diagnosis serologis Demam Tifoid, deteksi antibodi lgM adalah lebih baik
karena tidak hanya meningkat lebih awal tetapi juga lebih cepat menurun sesuai
dengan fase akut infeksi, sedangkan antibodi lgG tetap bertahan pada fase

penyembuhan.
TUBEX TF mendeteksi antibodi lgM dan bukan lgG. Hal ini membuat sangat
bernilai dalam menunjang diagnosa akut(Afidin, 2013).
Pemeriksaan ini mudah dilakukan dan hanya membutuhkan waktu singkat untuk

dilakukan (kurang lebih 5 menit). Untuk meningkatkan spesivisitas, pemeriksaan ini


menggunakan antigen O9 yang hanya ditemukan pada Salmonellae serogroup D dan
tidak pada mikroorganisme lain. Antigen yang menyerupai ditemukan pula pada
Trichinella spiralis tetapi antibodi terhadap kedua jenis antigen ini tidak bereaksi silang
satu dengan yang lain. Hasil positif uji Tubex ini menunjukkan terdapat infeksi
Salmonellae serogroup D walau tidak secara spesifik menunjuk pada S. typhi. Infeksi
oleh S. paratyphi akan memberikan hasil negatif.

Secara imunologi, antigen O9 bersifat imunodominan. Antigen ini dapat


merangsang respons imun secara independen terhadap timus, pada bayi, dan
merangsang mitosis sel B tanpa bantuan dari sel T. Karena sifat-sifat ini, respon
terhadap antigen O9 berlangsung cepat sehingga deteksi terhadap anti-O9 dapat
dilakukan lebih dini, yaitu pada hari ke 4-5 untuk infeksi primer dan hari ke 2-3 untuk
infeksi sekunder. Uji Tubex hanya dapat mendeteksi IgM dan tidak dapat mendeteksi
IgG sehingga tidak dapat dipergunakan sebagai modalitas untuk mendeteksi infeksi
lampau.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan 3 macam komponen, meliputi:
1. Tabung berbentuk V, yang juga berfungsi untuk meningkatkan sensitivitas.
2. Reagen A, yang mengandung partikel magnetik yang diselubungi dengan
antigen S. typhi O9
3. Reagen B, yang mengandung partikel lateks berwarna biru yang diselubungi
dengan antibodi monoklonal spesifik untuk antigen 09.
Komponen-komponen ini stabil disimpan selama 1 tahun dalam suhu 40C
dan selama beberapa minggu dalam suhu kamar.
Di dalam tabung, satu tetes serum dicampur selama kurang lebih 1 menit dengan
satu tetes reagen A. Dua tetes reagen B kemudian dicampurkan dan didiamkan selama
1-2 menit. Tabung kemudian diletakkan pada rak tabung yang mengandung magnet dan
didiamkan. Interpretasi hasil dilakukan berdasarkan warna larutan campuran yang dapat
bervariasi dari kemerahan hingga kebiruan. Berdasarkan warna inilah ditentukan skor,
yang interpretasinya dapat dilihat pada label 1(Analis Muslim, 2011)
Konsep pemeriksaan ini dapat diterangkan sebagai berikut. Jika serum tidak
mengandung antibodi terhadap O9, reagen B akan bereaksi dengan reagen A. Ketika
diletakkan pada daerah yang mengandung medan magnet (magnet rak), komponen magnet yang dikandung reagen A akan tertarik pada magnet rak, dengan membawa serta
pewarna yang dikandung oleh reagen B. Sebagai akibatnya, terlihat warna merah pada
tabung yang sesungguhnya merupakan gambaran serum yang lisis. Sebaliknya, bila
serum mengandung antibodi terhadap O9, antibodi pasien akan berikatan dengan reagen
A menyebabkan reagen B tidak tertarik pada magnet rak dan memberikan warna biru
pada larutan(Analis Muslim, 2011).
Tabel 1. Interpretasi hasil uji Tubex

Skor
<2
3
4-5
>6

Interpretasi
Negatif
Borderline
Positif
Positif

V. ALAT DAN BAHAN


V.1 Alat
a. Mikropipet (45 dan 90 l)
b. Yellow tip
c. Tubex TF terdiri dari:
- Reagen biru
- Reagen coklat
d. Control positif dan negatif
e. Skala warna, trip wall reaction
f. Tape sealing

5.2 Bahan
a. Sampel serum

VI. CARA KERJA


1. Disiapkan alat dan abahan yang akan digunakan.
2. Dipipet reagen coklat sebanyak 45 L sapel ke dalam sumur 3 sumur.
3. Kemudian ditambahkan 45 L sampel ke dalam sumur I.
4. Dan masukkan kontrol (+) ke dalam sumur 2 sebanyak 45 L.
5. Dimasukkan control (-) ke dalam sumur 3 sebanyak 45 L.
6. Kemudian masing-masing sumur ditambahkan 90 L reagen biru, kemudian
dihomogenkan selam 2 menit.
7. Lalu didiamkan selama menit, kemudian dibandingkan dengan standar warna.
8. Sebelum dihomogenkan sumur ditutup dengan sealing tape.

VII.

INTERPRETASI HASIL
2 => Negatif (tidak menunjukkan indikasi demamtifoid)
3 => Border line skor (tidak meyakinkan, analisis diulang)
4 => Positif (indikasi)
6-10`=> Positif (indikasi kuat demam tifoid)

VIII. HASIL PENGAMATAN


Gambar

Keterangan

Pada sisi paling kiri gambar :


merupakan reagen berwarna coklat

Pada sisi tengah gambar :


merupakan reagen berwarna biru

Pada sis kanan gambar : merupakan


gambar Sampel yang akan dianalisi

Pemiptan Reagen coklat 45 L

Pemipetan reagen biru 45 L

XI.

Penghomogenisasian antara reagen


dan sampel

Tubex Colour Scale

Pada sampel X didapatkan skala


titer demam typhoid yaitu 10 yang
mengindikasikan kuat demam
typhoid

PEMBAHASAN
Demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan yang penting di negara

berkembang. Penyakit ini biasanya mewabah pada musim hujan. Demam tifoid
merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi .
Penyakit ini juga merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting karena
penyebarannya berkaitan erat dengan urbanisasi, kepadatan penduduk, kesehatan
lingkungan, sumber air dan sanitasi yang buruk serta standar higiene industri
pengolahan makanan yang masih rendah.
Pada praktikum ini, pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi demam
tifoid ini pada sampel serum pasien adalah pemeriksaan tubex. Tes TUBEX

merupakan tes aglutinasi kompetetif semi kuantitatif yang sederhana dan cepat ( 2
menit) dengan menggunakan partikel yang berwarna untuk meningkatkan
sensitivitas. Spesifisitas ditingkatkan dengan menggunakan antigen O9 yang benarbenar spesifik yang hanya ditemukan pada Salmonella serogroup D. Tes ini sangat
akurat dalam diagnosis infeksi akut karena hanya mendeteksi adanya antibody IgM
dan tidak mendeteksi antibody IgG.
Tujuan dari dilakukannya pemeriksaan tubex ini adalah untuk mendeteksi
demam tifoid primer (antibody IgM) terhadap antigen Salmonella typhi 09
lipopolisakarida. Metode yang digunakan untuk pemeriksaan tubex ini yaitu metode
inhibition magnetic binding. Dimana prinsip dari pemeriksaan tubex dengan
metode ini yaitu

antibodi IgM terhadap antigen O9 LPS dideteksi melalui

kemampuannya untuk menghambat interaksi antara kedua tipe partikel reagen yaitu
indikator mikrosfer lateks yang disensitisasi dengan antibodi monoklonal anti O
(reagen berwarna biru) dan mikrosfer magnetik yang disensitisasi dengan
LPS Salmonella typhi (reagen berwarna coklat). Setelah sedimentasi partikel
dengan kekuatan magnetik, konsentrasi partikel indikator yang tersisa dalam cairan
menunjukkan daya inhibisi.Tingkat inhibisi yang dihasilkan adalah setara dengan
konsentrasi antibodi IgM Salmonella typhi dalam sampel. Hasil dibaca secara
visual dengan membandingkan warna akhir reaksi terhadap skala warna.
Pada pemeriksaan tubex ini ada tiga tahapan yang harus dilakukan yaitu
tahapan pre analitik, analitik, dam post analitik.
1. Tahapan pre analitik
Pemeriksaan tubex dalam sampel serum dimulai dengan tahap pre analitik
yaitu persiapan alat, bahan, dan reagen yang akan digunakan , dimana alat yang
digunakan pada pemeriksaan ini yaitu mikropipet (45 dan 90 L), rellow tip , satu
set tabung yang berbentuk V dengan model khusus yang dapat menampung enam
sampel dalam satu set tabung tersebut. Tabung berbentuk V, yang berfungsi untuk
meningkatkan sensitivitas,
Alat yang juga digunakan yaitu tape sealing dan tubex color scale, tubex color
scale yang berisi skala warna sebagai panduan interpretasi hasil. Bahan yang
digunakan yaitu sampel serum dimana sampel serum pasien ini diperoleh dari hasil
sentrifugasi kemudian dipisahkan

untuk diperiksa kadar tubexnya. Selain

menyiapkan alat dan bahan yang digunakan, reagen juga harus disiapkan pada

tahapan pre analitik ini. Dimana reagen yang digunakan

pada praktikum

pemeriksaan tubex ini yaitu brown reagent yang mengandung partikel-partikel


magnetik

yang

dilapisi

dengan

antigen

(Salmonella

Typhi

O9

lipopolysaccharide[LPS]) dan blue reagent yang mengandung partikel-partikel


indikator yang berwarna biru dilapisi dengan monoklonal antibodi (mAb) spesifik
terhadap antigen Salmonella Typhi O9 LPS, selain itu disiapkan juga control positif
dan control negative. Semua alat, bahan dan reagen harus dikondisikan pada suhu
ruang dan harus bebas dari kontaminasi agar pemeriksaan tubex yang dilakukan
hasilnya akurat.
2. Tahapan analitik
Pada tahapan analitik ini dilakukan pemeriksaan terhadap sampel serum yang
akan diuji kadar tubexnya. Pada praktikum ini pemeriksaan dilakukan dengan :
meneteskan brown reagent sebanyak 45 l kedalam 3 sumur tabung yang berbentuk
V. Reagen brown mengandung partikel magnetik yang diselubungi dengan
antigen S. typhi O9. Selanjurnya pada sumur pertama diisi dengan sampel serum
sebanyak 45 L, sumur kedua ditambahkan denga control positif (+) sebanyak 45
L , dan sumur ketiga diisi dengan control negative (-) sebanyak 45 L. Setelah itu,
ketiga sumur tersebut kemudian ditambahkan dengan blue reagen atau reagen biru
sebanyak 90 L.
Reagen blue mengandung partikel lateks berwarna biru yang diselubungi
dengan antibodi monoklonal spesifik untuk antigen 09. Setelah dicampur, sumur
tersebut kemudian ditutup dengan sealing tape. Tujuan dari penutupan sumur
dengan sealing tape ini yaitu untuk menghindari campuran dalam cumur tidak
terkontaminasi dan untuk menghindari agar campuran tidak jatuh saat
dihomogenkan. Setelah ditutup dengan sealing tape, ketiga campuran tersebut
kemudian dihomogenkan selama 2 menit. Setelah homogen, campuran lalu
didiamlan 5 menit, kemudian dibandingkan dengan standar warna. Pembandingan
campuran dengan standar warna dilakukan dengan meletakkan campuran reaksi
tersebut pada penyangga magnet yang sudah tersedia untuk memisahkan partikel
indikator warna yang berikatan dengan partikel magnetic dengan partikel - partikel

indikator yang tidak berikatan. Oleh karena itu , pada saat didiamkan selama 5
menit pada penyangga mangnet tabunng jangan diangkat-diangkat sebelum 5 menit
karena akan mempengaruhi hasil tes.
Pada praktikum pemeriksaan tubex ini diperiksa sampel serum pasien dengan
identitas sebagai berikut :
Nama pasien : Mr X
Umur
:Jenis kelamin : Dimana pada praktikum ini, didapatkan kadar tubex pada pasien ini
Sampel yang diperiksa berwarna ungu pekat, yang berada direntang no 10
menandakan serum yang diuji positif 10 (+10). Hasil positif ini terbentuk karena
serum pasien mengandung antibodi Salmonella O9, antibodi tersebut akan
berikatan dengan partikel magnetik dan mencegah partikel indikator berikatan
dengan partikel magnetik. Partikel-partikel indikator biru yang tidak berikatan
tersebut masih melayang-layang sehingga menimbulkan warna biru pada larutan
tersebut. Rentang warnanya dari biru kemerah-merahan jika konsentrasi antibodi
rendah, sampai biru tua jika konsentrasi antibodi tinggi
3. Tahapan post analitik
Pada tahapan post analitik ini, dilakukan pelaporan hasil pemeriksaan dimana
sampel serum dari Mr X yang diperiksa positif 10 (+10) yang menandakan bahwa
sampel yang diperiksa terindikasi kuat demam tifoid. Selain melaporkan hasil
pemeriksaan, alat dan reagen yang digunakan disimpan pada tempatnya , kemudian
meja kerja juga dibersihkan agar meja kerja selalu dalam keadaan aseptis.
Keunggulan pemeriksaan TUBEX TF yaitu :

Mendeteksi secara dini infeksi akut akibat Salmonella typhi, karena antibody

IgM muncul pada hari ke 3 terjadinya demam.


Mempunyai sensitivitas yang tinggi terhadap kuman Salmonella ( > 95 %)

Hanya dibutuhkan sampel darah sedikit,

Hasil dapat diperoleh lebih cepat.

Reliable (dapat dipercaya), karena menggunakan antigen 09-LPS yang


dikenal sangat spesifik. Antigen O9 yang digunakan sangat spesifik karena
immunodominant epitope pada antigen tersebut mengandung dideoxyhexose

sugar yang sangat jarang terdapat di alam.


Flexible, karena dirancang sangat cocok baik untuk penelitian maupun
penggunaan laboratorium rutin diagnosis demam tifoid.
Kelemahan pemeriksaan TUBEX TF yaitu :

Hasil tes bersifat subjektif karena hasil tes tersebut dibaca dengan mata
telanjang. Pada reaksi yang kuat (skor 5 atau lebih tinggi) mungkin tidak
menimbulkan masalah dalam pembacaan hasil tes karena interpretasi hasilnya
pasti positif. Sedangkan pada reaksi yang lemah (skor 3 atau 4) memerlukan
beberapa pertimbangan dalam menginterpretasikan hasilnya.
Kesulitan dalam menginterpretasikan hasil pada spesimen hemolisis karena
interpretasi hasil pada tes TUBEX berdasarkan atas perubahan warna.
Tes TUBEX mungkin menghasilkan positif palsu pada orang yang terinfeksi
Salmonella

enterica serotype Enteritidis sehingga hasil ini menyebabkan

penanganannya menjadi tidak tepat terutama dalam pemberian antibiotik. Hal


ini disebabkan karena Salmonella Enteritidis yang merupakan group D nontyphoidal Salmonella memiliki kemiripan dengan Salmonella Typhi pada
antigen O9. Akan tetapi, hal ini masih perlu penelitian lebih lanjut.
XII.

KESIMPULAN
Pada praktikum kali ini dilakukan praktikum pemeriksaan Tubex TF Rapid
Typhoid

Detection

dengan

metode

IMBI.

Praktikum

dilakukan

dengan

menggunakan sampel serum dengan kode sampel X. Atas nama Mr. X didapatkan
hasil skala titer demam typhoid yaitu 10 yang mengindikasikan kuat demam
typhoid.
XIII. DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Pemeriksaan Demam Tifoid. Online. http://www.prodia.co.id
.Diakses 6 Oktober 2014.

Anonim.2010.

Pemeriksaan

Demam

Tifoid.

Online.

http://www.wido25.blogster.com. Diakses 6 Oktober 2014.


Anonim, 2010. Salmonella. Online. http://beingmom.org/2007/10/demam-tifoid.
Diakses 6 Oktober 2014.
Jawetz, Ernest. 1996. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta : EGC.
Soemarno. 2000. Isolasi dan Identifikasi Bakteri Klinis. Yogyakarta: Akademi
Analis kesehatan Yogyakarta Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Analis

Muslim.

2011.

Pemeriksaan

Tubex

TF.

http://interestlibrary.blogspot.com/2011/01/thyfoid-fever.html.

Online.

Diakses

Oktober 2014.
Afidin.

2013.

Pemeriksaan

Tubex

TF.

Online.

http://bemb17afidin.blogspot.com/2013/09/tubex-tf-deteksi-dini-demamtyfoid.html. Diakses 6 Oktober 2014.

Denpasar, 3 Oktober 2014


Praktikan

I G.A.A. Krisma Diantika Dewi


(a.n. kelompok 2)
Mengetahui,

Pembimbing

(dr. Kadek Mulyantari, Sp,


PK)

Pembimbing

(Ketut Adi Santika, A, Md, AK)

Pembimbing

(Ni Made Sri Dwijastuti , A, Md,


AK)