Anda di halaman 1dari 20

I.

1.1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Air merupakan bahagian yang essensial protoplasama dan dapat
dikatakan bahwa semua jenis kehidupan bersifat akuatik. Dalam
prakteknya suatu habitat akuatik apabila mediumnya baik eksternal
maupun internal adalah air. Aquatik ecosystem atau ekologi perairan
berdasarkan habitatnya dapat dibagi atas 3 jenis,yaitu : 1. Fres water
aquatic, Marine water aquatic, dan Brancis water aquatic. Masing-masing
habitat tersebut mempunyai ciri tersendiri dan adanya perbedaan
lingkungan tersebut akan mengakibatkan jumlah jenis dan kelimpahan
organisme yang hidup didalamnya berbeda-beda ( Kasry.dkk.2009 ).
Di dalam suatu perairan terdapat berbagai jenis organisme. Salah
satu diantaranya adalah plankton. Plankton merupakan organisme yang
hidupnya melayang-layang di lautan terbuka. Plankton terdiri dari
organisme-organisme yang berukuran kecil ( mikroskopik ) yang
jumlahnya sangat banyak dan mereka ini tidak cukup kuat untuk menahan
gerakan air yang begitu besar. Terdapat dua jenis golongan plankton, yaitu
dari golongan binatang (zooplankton ) dan golongan tumbuh-tumbuhan (
fitoplankton ). Banyak di antara golongan hewan ini yang merupakan
golongan perenang aktif walaupun demikian mereka tetap terombangambing oleh arus lautan.
Plankton didefinisikan sebagai organisme hanyut apapun yang
hidup dalam zona pelagik (bagian atas) samudera, laut, dan badan air
tawar. Secara luas plankton dianggap sebagai salah satu organisme
terpenting di dunia, karena menjadi bekal makanan untuk kehidupan
akuatik. Bagi kebanyakan makhluk laut, plankton adalah makanan utama
mereka. Plankton terdiri dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan laut.
Ukurannya kecil saja.

Plankton hidup di pesisir pantai di mana ia mendapat bekal garam


mineral dan cahaya matahari yang mencukupi. Ini penting untuk
memungkinkannya

terus

hidup.

Mengingat

plankton

menjadi

makanan ikan, tidak mengherankan bila ikan banyak terdapat di pesisir


pantai. Selain sisa-sisa hewan, plankton juga tercipta dari tumbuhan.
1.2

Tujuan
Supaya praktikan dapat mempelajari dan mengamati serta dapat
melakukan identifikasi sampai tingkat genus dan famili. Serta
dapat mengenal perbedaan diatom yang berasal dari muara,perairan
pantai dan estuari.

1.3

Manfaat
1. Praktikan dapat mengklasifikasikan fitoplankton sampai tingkat genus
2. Praktikan dapat mengetahui teknik pengamatan phytoplankton

II.

2.1

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi Plankton

Definisi tentang plankton telah banyak dikemukakan oleh para ahli


dengan pendapat yang hampir sama yakni seluruh kumpulan baik hewan
maupun tumbuhan yang hiup terapung atau melayang didalam air ,tidak
dapat begerak atau dapat bergerak sedikit dan tidak dapat melawan arus
(Kasim dan Wanurgaya,2009).
Plankton adalah organisme yang melayang-layang pada badan air
dan pergerakannya sangat dipengaruhi oleh arus. Ukuran plankton sangat
bervariasi tergantung pada jenis dan penggolongan plankton namun
umumnya mempunyai ukuran microscopic. Ukuran yang sangat kecil
inilah sehingga untuk mempelajari plankton dipelajari metode khusus yang
berbeda dengan penelitian terhadap organisme lain umumnya.Plankton
aalah organisme micro yang keberadaannya dalam linkungan perairan
sangat penting karena sebagai produsen primer (Yuliana,2012). Plankton
akan menghasilkan karbohidrat yang menjadi makanan konsumen primer
dan menjadi dasar rantai makanan.Aktivitas fotosintesis yang dilakukan
plankton

akan

perairan.Plankton

menghasilkan
berperan

karbohidrat

sebagai

dan

oksigen

penyumbang oksigen

dalam
terbesar

diperairan.,keberadaanya sangat penting dalam menunjang kehidupan


diperairan (Djumanto,dkk.2009)
Menrut nontji (2008), menyatakan bahwa penggolongn plankton
Secara fungsional, plankton digolongkan menjadi empat golongan utama,
yaitu fitoplankton, zooplankton, bakterioplankton, dan virioplankton.
Berdasarkan ukuran plankton terbagai atas megaplankton (20-200 cm),
makroplankton (2-20 cm) dan mesoplankton (0,2-20 mm). Berdasarkan
daur hidupnya plankton dibagi menjadi holoplankton, meroplankton dan
tikoplankton. Berdasarkan sebaran horizontal yaitu plankton neritik dan
plankton oseanik, sedangkan penggolongan plankton berdasarkan sebaran
vertikal yaitu meliputi epiplankton , mesoplankton dan hipoplankton.

Secara garis besar plankton dapat dibedakan menjadi dua


golongan,

yakni

phytoplankton

dan

zooplankton.

Phytoplankton

merupakan hewan nabati yang berukuran microscopic dan bergerakannya


sangat dipengaruhi oleh arus, mampu membuat makanannya sendiri
dengan cara proses phosintesis karena mereka mengandung clorofil dalam
selnya. Dengan kemampuan tersebut phytoplankton menempati urutan
pertama dalam rantai makanan sebagai produser primer pada perairan
terbuka. Zooplankton yaitu plankton hewani yang bersifat herbivora tidak
dapat mebuat makanannya sendiri dan akan memakan phytoplankton
secara lansung, dari golongan karnivora memakan golongan herbivora
(Sulawesty, 2008).
2.2

Fitoplankton
Nama
"tanaman"

fitoplankton
dan

diambil

("planktos"),

dari

istilah Yunani, phyton atau

berarti

"pengembara"

atau

"penghanyut". Sebagian besar fitoplankton berukuran terlalu kecil untuk


dapat dilihat dengan mata telanjang. Akan tetapi, ketika berada dalam
jumlah yang besar, mereka dapat tampak sebagai warna hijau di air karena
mereka

mengandung klorofil dalam

sel-selnya

(walaupun

warna

sebenarnya dapat bervariasi untuk setiap spesies fitoplankton karena


kandungan

klorofil

yang

berbeda

beda

atau

memiliki

tambahan pigmen seperti phycobiliprotein).(Thurman, H. V., 1997)


Fitoplankton

memperoleh

energi

melalui

proses

yang

dinamakan fotosintesis sehingga mereka harus berada pada bagian


permukaan permukaan (disebut sebagai zona euphotic) lautan, danau atau
kumpulan air yang lain. Melalui fotosintesis, fitoplankton menghasilkan
banyak oksigen yang memenuhi atmosfer Bumi.(Thurman, H. V., 1997)
Fitoplankton merupakan tumbuhan tingkat rendah yeng bersifat
planktonik,hidup melayang dalam kolom perairan. Walaupun renik
tubuhnya ,namun mereka mampu melakukan aktifitas fotosintetik seperti
halnya tumbuhan tingkat tinggi. Kecepatan pertumbuhannya yang

tinggi,mereka mereka sangat potensial dalm penyerapan CO2 . Selain itu


fitoplankton mampu menghasilkan O2 yang sangat berguna untuk proses
respirasi makhluk hidup. Sehingga fitoplankton sangat berperan penting
dalam produktivitas primer (Sutomo,2013).
Disamping cahaya, fitoplankton juga sangat tergantung dengan
ketersediaan nutrisi untuk pertumbuhannya. Nutrisi-nutrisi ini terutama
makronutrisi sepertinitrat, fosfat atau asam silikat, yang ketersediaannya
diatur oleh kesetimbangan antara mekanisme yang disebut pompa
biologis dan upwelling pada air bernutrisi tinggi dan dalam. Akan tetapi,
pada beberapa tempat di Samudra Dunia seperti di Samudra bagian
Selatan, fitoplankton juga dipengaruhi oleh ketersediaan mironutrisi besi.
Hal

ini

menyebabkan

beberapa

ilmuan

menyarankan

penggunaan pupuk besi untuk membantu mengatasi karbondioksida akibat


aktivitas manusia di atmosfer.(Richtel, M., 2007)
Walaupun hampir semua fitoplankton adalah fotoautotrof obligat,
ada beberapa fitoplankton yang miksotrofik dan ada juga spesies tak
berpigmen

yang

merupakan

sebagai zooplankton).

heterotrof

Jenis-jenis

ini,

(yang
yang

ini

dinamakan

paling

dikenal

adalah dinoflagellata seperti genus Noctiluca dan Dinophysis, memperoleh


karbon

organiknya

dengan

memakan

organisme

atau

material detritus lainnya.(Thurman, H. V., 1997).


Fitoplankton ada yang berukuran besar dan kecil dan biasanya yang
besar tertangkap oleh jaringan plankton yang terdiri dari dua kelompok
besar, yaitu diatom dan dinoflagellata.Diatom mudah dibedakan dari
dinoflagellata karena bentuknya seperti kotak gelas yang unik dan tidak
memiliki alat gerak. Pada proses reproduksi tiap diatom akanmembela
dirinya menjadi dua. Satu belahan dari bagian hidup diatom akan
menempati katup atas (epiteka) dan belahan yang kedua akan menempati
katup bawah (hipoteka). Sedangkan kelompok utama kedua yaitu
dinoflagellata yang dicirikan dengan sepasang flagella yang digunakan
untuk bergerak dalam air. Beberapa dinoflagellata seperti Nocticula yang

mampu

menghasilkan

cahaya

melalui

proses

bioluminesens.

(Nyabakken,1992)
Anggota fitoplankton yang merupakan minoritas adalah berbagai
alga

hijau

biru

(Cyanophyceae),

Haptophyceae),

dan

kokolitofor

(Coccolithophoridae,

silicoflagellata

(Dictyochaceae,

Chrysophyceae).Cyanophyceae laut hanya terdapat di laut tropik dan


sering sekali membentuk permadani filamen yang padat dan dapat
mewarnai air.(Nyabakken,1992)
Sachlan (1972) menggolongkan algae dalam tujuh golongan
berdasarkan pigmen yang dikandungnya dan habitatnya, yaitu :

Cyanophyta

: alga biru yang hidup di air tawar dan laut.

Chlorophyta

: alga hijau banyak hidup di air tawar

Chrysophyta : alga kuning yang hidup di air tawar dan


laut

Phyrrophyta

: alga yang hidup sebagai plankton di air

tawar dan di laut

Eugulenophyta : hidup di air tawar dan di air payau

Phaeophyta

: alga coklat yang hidup sebagai rumput laut

Rhodophyta

: alga merah yang hidup sebagai rumput laut


(Niniek,2009)

2.3

Ordo Biddulphiales
Pada ordo ini hidup dalam laut,merupakan salah satu penyusun
plankton.Memiliki alur yang memusat (central) pada permukaan
cawannya. Hal ini berkaitan dengan cara hidupnya yakni supaya
memudahkan untuk melayang di dalam air ,terdapat alat-alat melayang
yang berupa duri atau sayap ,atau dengan perantaraan lender.
Perkembangan

dapat

membelah

diri,oogami,serta

pembentukan

auksospora.Ordo Bidulphiales dibedakan atas bentuk sel,polaritas, dan


pola tonjolan (process). Alur pori cangkang tersusun berdasarkan ada atau
tidaknya titik/ujung (point),annulus, atau ereola pusat.Biddulphiales terdiri
dari 3 sub ordo yaitu :

1. Coscinodisciane
Cangkang pada umumnya mempunyai semacam cincin tepi yang
tersusun oleh tonjolan (processes), simetri primer tanpa kutub
2. Rhizosoleniinae
Cangkang berkutub tunggal (unipolar) secara primer , tanpa cincin
tepi processes
3. Biddulphiinae
Cangkang berkutub ganda (bipolar) secara primer tanpa cincin tepi
processes
(Wiya,2009)

2.4

Ordo Bacillariales
Alga kersik yang memiliki alur ke arah yamg menyirip (pinnae)
berbentuk batang, seperti perahu atau pahat. Organisme ini merayap maju
mundur yang mungkin karena antara alas dan arus plasma ekstraseluler
pada rafe. Organisme ini pula biasanya melekat pada tumbuh-tumbuhan
air , dan terkadang hidup sebagai bentik. Perkembangbiakannya dapat
berlangsung dengan cara isogami. Contoh Pinnularia dan Navicula.
Selain itu dibedakan atas ada tidaknya alur lekuka/raphe; terdiri dari dua
subordo :
1. Fragillariineae (diatom araphid)
Tanpa raphe, memiliki sternum
2. Bacillariineae
Memiliki raphe dan sternum
(Wiya,2009)

III.

MATERI DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Hari/tanggal : Jumat,15 November 2013
Tempat

:Laboratorium Biologi Laut,FPIK,Undip

Waktu

: 15.00 WIB

3.2 Metode
3.2.1

Alat da Bahan

No Nama Alat

Gambar

Keterangan

Mikroskop

Alat untuk melihat objek yang


terlalu kecil untuk dilihat
dengan mata kasar.

Pipet Tetes

Alat untuk mengambil sampel


zooplankton dari botol sampel

Botol Sampel

Untuk menampung sampel


zooplankton

Sedgewick
rafter

Sebagai media tempat


plankton diletakkan

Buku
Identifikasi

Media untuk menentukan dari


jenis plankton yang sudah
ditemukan dengan mikroskop.

Alat Tulis

alat yang digunakan untuk


menunjang lancarnya dan
rapinya dari pembuatan
laporan sementara dari
praktikum planktonologi.

Tissue

untuk mengeringkan atau


membersihkan kaca preparat
yan g sudah dicuci dengan
aquades

Bahan
Nama Bahan
Formalin4 %

Sampel
Zooplankton

Gambar

Fungsi
Untuk
mengawetkan
sampel

Sebagai objek
yang akan diteliti

3.2.2

Cara Kerja

1. Menyiapkan light mikroskop yang akan digunakan dengan pembesaran 40


kali dan 100 kali
2. Mengambil masing-masing sampel fitoplankton dari botol sampel dan
mengamatinya dengan mikroskop
3. Gambar hasil yang didapatkan dan klasifikasikan sampai tingkat genus
4. Mengulangi hal yang sama sampai menemukan minimal 3 genus yang
berbeda

IV.

4.1

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
No

Nama

Gambar

Taksonomi

1.

Coscinodiscu

Kingdom :

Chromalveolata
Pyhlum :
Heterokontophyta
Subphylum
:Bacillariophyceae
Kelas :
Coscinodiscophyceae
Ordo : Coscinodiscales
Family :
Coscinodiscaceae
Genus : Coscinodiscus

Dinophysis

Kingdom : Plantae
Filum : Pyrrophyta
Kelas : Dynophyceae
Genus : Dinophysis

Hemiaulus

Kingdom : Plantae
Devisi : Bacillariophyta
Kelas : Bacillariophyceae
Ordo : Centrales
Kelas : Hemiaulaceae
Genus : Hemiaulus

Rhizoselenia

Kingdom :plantae
Filum : Bacilariophyceae
Kelas : Bacillariophyceae
Ordo : Biddulphiales
Family :
Rhizosoleniaceae
Genus : Rhizosolenia

Biddulphia

Kingdom ;Plantae
Filum : Bacillariophyta
Kelas : Bacillariophyceae
Ordo : Centrales
Family : Biddulphiaceae
Genus : Biddulphia

Triceratium

Kingdom :plantae
Filum : Bacilariophyceae
Kelas : Bacillariophyceae
Ordo : Centrales
Family : Biddulphiaceae
Genus : Triceratium

4.1.1

Coscinodiscus
Coscinodiscus merupakan kelas dari Bacillariophyceaea
yang biasa ditemukan diwilayah perairan laut. Genus ini memiliki
bentuk silinder atau tympaniform dengan sumbu pervalvar
bervariasi dari setengah sampai seluruh panjang diameter.Panjang
diameter Coscinodiscus dapat mencapai 400 m. Genus ini hidup
secara soliter dilaut. Dinding selnya mengandung silika yang
berfungsi sebagai pembatas antara kerangka luar

dengan

sitoplasma,vakuola,dan nukleus. Di dalam sel terdapat kloroplas

kecil-kecil,

selain

itu

genus

ini

memiliki

pigmen

karotenoid.Sehingga masuk kedalam devisi Chromophyta. Antara


ephyteca dan hyphotheca dihubungkan oleh cincin pectin. Didalam
sel terdapat tiga cincin rimoportuale (proses labiate). Satu cincin
berada didasar dinding sedangkan yang lainnya berada di margin.
Setiapa rimoportula merupakan ujung dari garis hialin (
interstriae). Permukaan sel berbentuk flat atau datar hidup pada
temperatur optimum 25oC an salinitas maksimal 36% dan
mempunya areal berbentuk radial
4.1.2

Hemiaulus
Hemiaulus tergolong filum bacillariophyta hal ini disebabkan
karena memiliki klroplas yang mengandung

klorofi serta

pigmennya menganung karotenoid.Dinding selnya terlihat agak


bening karena tersusun dari silika. Disetiap sudut selnya terdapat
rumbai seperti flagella yang berguna untuk menyambungkan diri
ketika akan membentuk koloni. Selnya dapat berkoloni dengan
membentuk rantai seprti tangga. Hemiaulus termasuk pada ordo
Centrales atau Biddulphiales. Hidupnya terbiasa melayang-layang
di kolom air. Perkembangan dapat membelah diri,oogami,serta
pembentukan auksospora.Hemiaulus memiliki ukuran 15-35um dan
biasa ditemukan di bagian neritic dengan temperatur yang hangat.
4.1.3

Rhizoselenia
Rhizosolenia mengacu pada diatom besar aciform memiliki
bentuk pensil panjang langsing dinding selnya terdiri dari silikat
dengan cangkang yang kuat. Sel tunggal. Mereka memiliki bentuk
tongkat tipis panjang, bulat penampang. Diameter bervariasi 3-50
, biasanya 5-12 . Panjang (tinggi) dari sel-sel berdiameter kecil
mencapai 1000 , mereka diameter besar bervariasi 238-417 .
Shell tipis, kabisat rims banyak, squami-bentuk-belah ketupat,
disusun dalam dua baris punggung-perut. Katup yang memanjangberbentuk kerucut, tulang kasar berongga, Kromatofora normal,

berlimpah, tersebar di seluruh sel dan biasanya menumpuk di


nukleus.
Panjang 5-12 sel berdiameter biasanya terjadi di Laut
Kaspia. Hanya selama 1956 populasi semi dan musim dingin yang
luas sel 33-50 diameter tumbuhan di zona dari Kuli mercusuar.
Sel diameter besar (sampai 100) tidak pernah terjadi di Laut
Kaspia. Topi cacat dan duri dari bentuk abnormal yang diamati,
individu soliter memiliki dua dan bahkan tiga duri. Spora jarang
terjadi di musim gugur (Proshkina-Lavrenko, 1968).
Menurut Kennish (1990) dan Nybakken (1988) genus ini
melakukan reproduksi melalui pembelahan sel vegetatif. Hasil
pembelahan sel menjadi dua bagian yaitu bagian atas (epiteka) dan
bagian bawah (hipoteka). Reproaseksual seperti ini menghasilkan
sejumlah ukuran yang bervariasidari suatu populasi diatom pada
suatu spesies. Ukuran terkecil dapat mencapai 30 kali lebih kecil
dari

ukuran

terbesarnya

(Kennish,

1990).

Tetapi

proses

pengurangan ukuran ini terbatas sampai suatu generasi tertentu.


Apabila generasi itu telah tercapai diatom akan meninggalkan
kedua katupnya dan terbentuklah apa yang disebut auxospore.
4.2.5

Biddulphia
Biddulphia

termasuk kedalam kelas Bacillariophyceae

dimana pada genus ini memiliki kloroplas dengan kandungan


piqmen klorofil a dan c.Namun

mengandung piqmen yang

dominan yaitu karotenoid dan fukosantin.Biddulphia memiliki


bentuk segiempat seperti bantal, dengan dinding sel yang dilapisi
oleh silika sehingga membentuk ornamentasi yang indah yang
disebut dengan frustula. Karena tumbuhan ini masuk kedalam ordo
Centrales maka hidup tumbuhan ini lebih sering melayang-layang
atau sebagai planktonik.Tumbuhan ini biasanya ditemuakan di
wilayah pelagic pada laut (Azis,2005).

Reprouksi pada Biddulphia dibagi menjai dua yaitu secara


sexual

dan

ansexual.Secara

pemebelahan.seangkan

sexual

secara

biddulphia

asexual

dengan

melakukan
membelah

sitoplasma dalam frustul dimana epteka induk akan menghasilkan


hipoteca

yang

baru,sedangkan

epiteka

yang

lama

akan

menghasilkan hipoteka baru. Setiap pembelahan akan memiliki


ukuran yang berbeda samapi pada ukuran minimummya,Jika ini
terjadi maka sel akan membentuk auxspore dan akan menjadi sel
berukuran besar (normal)
4.2.6

Triceratium
Triceratium

merupakan organisme bersel tunggal yang

tergolong sebagai algaan termasuk kedalam kelas diatom. Diatom


merupakan salah satu jenis phytoplankton yang unik karena
memiliki dinding sel yang mengandung silika,dinding inilah yang
memberikan pertahanan terhadap sel tersebut sehingga tidak mudah
untuk terurai.Genus ini berpotensi bisa menjadi fosil yang dapat
dimanfaatkan dikemudian hari.Triceratium merupakan genus yang
memiliki bentuk segitiga tetapi beberpa memiliki bentuk bintang
atau kotak segiempat. Triceratium memilik ukuran kurang lebih 4761 m. Selain itu Triceratium juga menganung kloroplas dan
memilik kloofil a dan c sehingga apat melakukan fotosintesis.
Pigmen yang dominan dalam genus ini adalah karotenoid dan
fukosanin (Fernandes,2001).
Sistem reproduksi pada genus ini sama dengan jenis diatom
lainnya,yaitu melakukan pembelahan. Triceratium dapat ditemukan
dimana saja baik pada lingkungan air tawar maupun dilingkunga
air laut. Selain itu sering ditemukan diwilayah dekat dengan
mangrove,hal ini disebabkan di wilayah mangrove kaya akan unsur
hara yang sangat dibutuhkan oleh genus tersebut. Genus ini tidak
mengandung toxin sehingga tidak menimbulkan efek berlebih jika
terjadi blooming alga.

4.2

Pembahasan
Pada praktikum ini sampel yang digunakan berasal dari
stasiun 13 dari wilayah perairan Jepara. Sebagian besar yang
didapatkan berasal dari kelas Bacillariophyceae,dimana pada
kelas ini merupakan penyusun biomassa terbesar dilautan.
Genus yang didapatkan yaitu Biddulphia, Triceratium,
Rhizoselenia,

Hemiaulus,

fitoplankton

dari

dan

kelas

Coscinodiscus.

Bacillariophyceae

Semua
memiliki

kemampuan untuk berfotosintesis. Sebagian besar sampel


yang ditemui termasuk kedalam fitoplankton karena sampel
diambil

ketika

siang

hari

sehingga

fitoplankton

naik

kepermukaan untuk menggunakn cahaya matahari untuk


berfotosintesis

BAB V
PENUTUP

5.1

Kesimpulan
1.

Anggota Kelas Bacillariophyceae mengandung pigmen karotenoid


sehingga masuk kedalam devisi Chromophyta

2.

Bacillariophyceae bersifat autotrof karena memiliki klorofil untuk


berfotosintesis

3.

Bacillariophyceae banyak ditemukan diwilayah laut

4.

Bacillariophyceae terbagi menjadi dua ordo yaitu Biddulphiales


dan Bacillariales

5.2

Saran

1.

Pelaksaan praktikum iharapkan tepat waktu

2.

Praktikan iharap tenang ketika melaksanakan praktikum

3.

Alat yang akan dipergunakan dibersihkan terlebih dahulu

DAFTAR PUSTAKA

Aziz,Abdul.2005. Brackish Water Algae From Bangladesh. I. Biddulphia spp.


Departmen of Botany, University of Dhaka 1000, Bangladesh. Vol 34(2)
Djumanto., Sidabutar, T., Pontororing, H., Leipary, R. 2009. Pola Sebaran
Horizontal dan Kerapatan Plankton Di Perairan Bawean. Yogyakarta :
Universitas Gadjah Mada..
Evendi, E. 2011. Pemodelan Peran Zooplankton Dalam Siklus Nitrogen Di Teluk
Lampung. Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Bandar Lampung.
14 Hal.
Fernandes and Souza . 2001. Triceratium moreirae sp. Nov. And Triceratium
dubium (Triceratiaceae- Bacillariophyta) From Estuarine Environment of

Southern Brazil. With Comments on the Genus Triceratium C. G.


Ehrenberg. Department the Botanica,Faderal do Parana University
Wahyui,Indah.2010. Struktur Komunitas dan Kelimpahan Fitoplankton di
Perairan Muara Sungai Porong Sidoarjo.Jurnal Kelautan,vol 3, no 1
Kasim, M., Wanurgaya. 2009. Penuntun Praktikum Planktonology. Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluoleo. Kendari. 30 Hal..
Nontji, A. 2008. Plankton Laut. Jakarta :Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
(LIPI)
Nybaken,J W.1992. Biologi Laut Suatu Pendekata Ekologis.Alih Bahasa:
M.Edma, et al. Jakarta : Gramedia
Rahman, A. 2008. Kajian Kandungan Phospat dan Nitrat Pengaruhnya terhadap
Kelimpahan Jenis Plankton di Perairan Muara Sungai Nelayan.
Kalimantan Scientiae. (71). 24 Hal.
Sulawesty, F. 2008. Komposisi Diatom Epifit di Perairan Busang.
Kalimantan.Warta Limnologi.(41). 35-44.
Widyorini, N. 2009. The Community Structure Of Phytoplankton Based On
Pigment Content in Jepara
Estuary. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro,
Semarang. Jurnal Saintek Perikanan. (2). 6975.

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM PLANKTONOLOGI


IDENTIFIKASI KELAS BACILLARIOPHYCEAE

OLEH
SHINTA WAHYU J
26020112130058

ASISTEN
CRISTIANA MANULLANG
ELZA LUSIA AGUS

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN


JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2013

Tanggal Praktikum

: 15 November 2013

Tanggal Pengumpulan : 22 November 2013

LEMBAR PENILAIAN
MODUL 1

No.

Keterangan

Nilai

1
2
3
4
5
6

Pendahuluan
Tinjauan Pustaka
Materi dan Metode
Hasil dan Pembahasan
Penutup
Daftar Pustaka
Jumlah

Mengetahui,
Asisten

Cristiana Manullang

Praktikan

Shinta Wahyu J