Anda di halaman 1dari 22

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi hidup manusia menurut
WHO, sehat diartikan sebagai suatu keadaan sempurna baik fisik, mental, dan sosial
serta bukan saja keadaan terhindar dari sakit maupun kecacatan. Kesehatan jiwa
menurut undang-undang No.3 tahun 1966 adalah suatu kondisi yang memungkinkan
perkembangan fisik, intelektual, dan emosional yang optimal dari seseorang dan
perkembangan itu selaras dengan keadaan orang lain (Teguh, 2009). Kesehatan jiwa
merupakan kondisi yang memfasilitasi secara optimal dan selaras dengan orang lain,
sehingga tercapai kemampuan menyesuaikan diri sendiri, orang lain, masyarakat, dan
lingkungan (Suliswati, 2005).
Dalam Undang-undang no.36 tahun 2009 tentang Kesehatan disebutkan
bahwa setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang
aman, bermutu dan terjangkau. Disebutkan pula bahwa penderita gangguan jiwa yang
terlantar, menggelandang, mengancam keselamatan dirinya dan orang lain,
mengganggu ketertiban keamanan umum wajib mendapatkan pengobatan dan
perawatan di fasilitas pelayanan kesehatan. Prevalensi gangguan jiwa di Indonesia
mencapai 245 jiwa per 1000 penduduk hal ini merupakan kondisi yang sangat serius
karena lebih tinggi 2,6 kali dari ketentuan WHO. Prevalensi penderita di Indonesia
adalah 0,3-1% dan bisa timbul pada usia sekitar 18-45 tahun, namun ada juga yang
baru berusia 11-12 tahun sudah menderita gangguan jiwa. Apabila penduduk
Indonesia sekitar 200 juta jiwa maka diperkirakan sekitar 2 juta mengalami
skizofrenia. Tingginya angka gangguan kesehatan jiwa tersebut penyebabnya
multifaktorial bisa diakibatkan masalah sosial, ekonomi, maupun gizi yang kurang
dimana sekitar 99% pasien di Rumah Sakit Jiwa adalah penderita skizofrenia (Yosep,
1

2007). Skizofrenia adalah penyakit yang mempengaruhi otak dan menyebabkan


timbulnya pikiran, persepsi, emosi, gerakan, dan perilaku yang aneh dan terganggu.
Skizofrenia tidak dapat di definisikan sebagai penyakit tersendiri melainkan diduga
sebagai suatu sindrom gangguan jiwa (Videbeck, 2008).
Studi yang dilakukan oleh Bank Dunia (World Bank) pada tahun 1995 di
beberapa Negara menunjukkan bahwa hari-hari produktif yang hilang yang
disebabkan oleh masalah kesehatan jiwa sebesar 8,1 %. Angka ini jauh lebih tinggi
dari pada dampak yang disebabkan penyakit tuberculosis(7,2%), kanker(5,8%),
penyakit jantung (4,4%) maupun malaria (2,6%). Namun pada kenyataannya
berdasarkan data Riskesdas 2007, ternyata terdapat sekitar 13.000-24.000 orang
penderita gangguan jiwa di Indonesia yang diabaikan oleh keluarganya. Sedangkan di
Jawa Tengah berdasarkan data dari Kabupaten/Kota sampai dengan Juni 2011 tercatat
3 tidak kurang 200 orang penderita gangguan jiwa tidak dibawa ke RSJ. Hasil
penghitungan data jumlah pasien pada tahun 2010 di RSJD Dr. Amino Gondohutomo
Semarang dengan rumus jumlah diagnosa / jumlah gangguan jiwa x 100% (jumlah
gangguan jiwa: 3914). Pasien yang mengalami perilaku kekerasan sebanyak 1534 jiwa
atau sekitar 39,2%, pasien yang mengalami gangguan persepsi halusinasi sebanyak
1606 jiwa atau sekitar 41%, pasien yang mengalami isolasi sosial : menarik diri
sebanyak 457 jiwa atau sekitar 11,7%, pasien yang mengalami waham sebanyak 111
jiwa atau sekitar 2,8%, pasien yang mengalami gangguan konsep diri : harga diri
rendah yaitu sebanyak 82 jiwa atau sekitar 2,1%, kemudian pasien yang mengalami
depresi sebanyak 662 jiwa atau sekitar 16,9%, pasien yang ingin melakukan percobaan
bunuh diri sebanyak 116 jiwa atau sekitar 2,3%, pasien yang sudah pulang dan
kambuh lagi ada 4452 jiwa atau sekitar 11,5%, pasien skizofrenia sendiri ada 3912
jiwa atau sekitar 99,99%, kemudian jumlah pasien laki-laki sekitar 2357 jiwa,
1.2

sedangkan pasien yang perempuan sebanyak 1557 jiwa (Arfian, 2010).


Rumusan Masalah
2

Berdasarkan permasalahan dan fenomena diatas, maka dapat dirumuskan


permasalahan sebagai berikut: bagaimana asuhan keperawatan pada Tn.F dengan
diagnosa keperawatan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran?
1.3

Tujuan
1.3.1 Tujuan umum :
Untuk memberikan gambaran nyata tentang pemberian asuhan
keperawatan pada pasien dengan masalah utama gangguan persepsi sensori :
1.3.2

halusinasi pendengaran
Tujuan khusus :
1.
Menggambarkan hasil pengkajian keperawatan pada Tn.F dengan
Gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran
2.
Mendiskripsikan diagnosa keperawatan pada Tn.F dengan Gangguan
Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran
3.
Dapat menyusun perencanaan keperawatan untuk mengatasi masalah
Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran pada Tn.F.
4.
Mendiskripsikan implementasi pada pasien dengan Gangguan Persepsi

1.4

Sensori : Halusinasi Pendengaran


5. Dapat mengevaluasi tindakan keperawatan yang dilakukan
Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Responden
Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk penderita agar mempercepat
1.4.2

penyembuhan.
Bagi Petugas Kesehatan
Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam
mengambil keputusan atau kebijaksanaan untuk mengatasi masalah-masalah
yang berkaitan dengan kejiwaan khususnya dalam memberikan tindakan pada
pasien dengan Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran

1.4.3

Bagi Profesi Keperawatan


Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi tambahan
khususnya tentang asuhan keperawatan jiwa pada pasien dengan Gangguan
Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran.

1.4.4

Bagi Peneliti
3

Hasil penelitian ini dapat meningkatkan wawasan dan pengetahuan


mahasiswa dalam memberikan asuhan keperawatan jiwa pada pasien dengan
Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran

BAB II
LANDASAN TEORI
I.

Kasus (Masalah Utama)

II.

Halusinasi
Proses Terjadinya Masalah
A. Pengertian
Halusinasi adalah merupakan gangguan persepsi dimana klien mempersiapkan
sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu pencerapan panca indra tanpa ada
rangsangan dari luar (Maramis, 2005).
Halusinasi adalah pesan, respon, dan pengalaman sensori yang salah (Stuart
Sudden, 2007).
B. Jenis Jenis Halusinasi
Menurut Stuart Sudden, 2007, Halusinasi dibagi dalam:
1. Halusinasi Pendengaran / Auditorik
Karakteristik ditandai dengan mendengarkan suara terutama suara orang.
Biasanya klien mendengarkan suara orang yang membicarakan apa yang sedang
dipikirkannya dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu hal.
2. Halusinasi Penglihatan / Visual
Karakteristik ditandai dengan adanya stimulasi visual dalam bentuk
kilatan cahaya, gambaran, geometrik, gambar kartun dan panorama yang
kompleks. Penglihatan bisa menyenangkan atau menakutkan.
4

3. Halusinasi Penghidu / Alfaktari


Karakteristik ditandai dengan adanya bau busuk, amis, dan bau
menjijikkan seperti darah, urin, faces. Biasanya berhubungan dengan stroke,
tumor, kejang dan dimensia.
4. Halusinasi Peraba
Karakteristik ditandai dengan adanya rasa sakit. Mengalami nyeri atau
ketidaknyamanan stimulus yang jelas. Contohnya rasa tersetrum listrik yang
datang dari tanah, benda mati atau orang lain.
5. Halusinasi Pengecap
Karakteristik ditandai dengan rasa mengecap seperti rasa darah, urin, faces.
6. Halusinasi Sinestetik
Karakteristik ditandai dengan merasakan fungsi tubuh seperti rasa aliran
darah vena atau arteri, pencernaan makanan, pembentukan urin.
7. Halusinasi Kinestetik
Karakteristik ditandai dengan merasakan pergerakan sementara berdiri
tanpa bergerak.
C. Penyebab
Penyebab perubahan sensori persepsi halusinasi adalah isolasi sosial. Isolasi
Sosial adalah percobaan untuk menghindar interaksi dengan orang lain, menghindari
hubungan dengan orang lain.
Tanda dan gejala Isolasi sosial antara lain:
1. Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul
2. Menghindar dari orang lain
3. Komunikasi kurang atau tidak ada
4. Tidak ada kontak mata
5. Tidak melakukan aktifitas sehari hari
6. Berdiam diri di kamar
7. Mobilitas kurang
D. Tanda dan gejala
Tanda dan gejala seseorang yang mengalami halusinasi adalah:
1. Tahap 1 ( Comforting )
a. Tertawa tidak sesuai dengan situasi
b. Menggerakkan bibir tanpa bicara
c. Bicara lambat
d. Diam dan pikirannya dipenuhi pikiran yang menyenangkan
2. Tahap 2 ( Condeming )
a. Cemas
b. Konsentrasi menurun
c. Ketidakmampuan membedakan realita
3. Tahap 3
a. Pasien cenderung mengikuti halusinasi
b. Kesulitan berhubungan dengan orang lain
c. Perhatian dan konsentrasi menurun
d. Afek labil
e. Kecemasan berat ( berkeringat, gemetar, tidak mampu mengikuti petunjuk )
4. Tahap 4 ( Controlling )
5

a. Pasien mengikuti halusinasi


b. Pasien tidak mampu mengendalikan diri
c. Beresiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
E. Akibat
Akibat dari perubahan sensori persepsi halusinasi adalah resiko mencederai diri
sendiri, orang lain dan lingkungan adalah suatu perilaku mal adaftive dalam
memanifestasikan perasaan marah yang dialami seseorang. Perilaku tersebut dapat
berupa mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Marah sendiri
merupakan perasaan jengkel yang timbul sebagai respon terhadap kecemasan atau
kebutuhan yang tidak terpenuhi yang dirasakan sebagai ancaman. Perasaan marah
sendiri merupakan suatu hal yang wajar sepanjang perilaku yang dimanifestasikan
berada pada rentang adaptif.

III.

A. Pohon Masalah
Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan

Perubahan persepsi sensori : Halusinasi (Core Problem)


Isolasi sosial : Menarik Diri
Gangguan konsep diri, Harga diri rendah
B. Masalah Keperawatan Dan Data Yang Perlu Dikaji
1. Masalah Keperawatan
6

a. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan


b. Perubahan persepsi sensori : Halusinasi
c. Isolasi Sosial : Menarik Diri
2. Data Yang Perlu Dikaji
a. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
Data Subjektif :
1) Klien mengatakan kesal atau benci terhadap seseorang
2) Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika
sedang kesal atau marah
3) Riwayat prilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya
Data Objektif :
1) Mata merah, wajah agak merah
2) Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai, berteriak, menjerit,
memukul diri sendiri / orang lain
3) Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam
4) Merusak dan melempar barang barang
b. Perubahan persepsi sensori : Halusinasi
Data Subjektif :
1)

Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan

2)
3)
4)
5)
6)
7)

stimulasi nyata
Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata
Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus
Klien merasakan makan sesuatu
Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya
Klien takut pada suara / gambar / bunyi yang dilihat dan didengar
Klien ingin memukul / melempar barang barang

Data Objektif :
1)
2)
3)
4)
3.

Klien berbicara dan tertawa sendiri


Klien bersikap seperti mendengar / melihat sesuatu
Klien berhenti bicara ditengah tengah kalimat untuk mendengar sesuatu
DisOrientasi

Isolasi Sosial : Menarik Diri


Data Subjektif:
Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa apa,
bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri
sendiri.
Data Objektif :
Klien terlihat lebih suka sendiri, binggung bila disuruh memilih
alternatif tindakan, ingin mencederai diri atau ingin mengakhiri hidup, apatis,
7

ekspresi sedih, komunikasi verbal kurang, aktivitas menurun, menolak


berhubungan, kurang memperhatikan kebersihan.
IV.

Diagnosa Keperawatan
Perubahan Persepsi Sensori : Halusinasi

V.

Rencana Tindakan Keperawatan


Diagnosa I : Perubahan persepsi sensori : Halusinasi
Tujuan Umum :
Klien tidak mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
Tujuan Khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Kriteria Evaluasi :
Ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, ada kontak mata, mau
berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, mau duduk
berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi.
INTERVENSI :
a. Bina hubungan saling percaya dengan :
1) Sapa klien dengan ramah dan baik secara verbal dan non verbal
2) Perkenalkan diri dengan sopan
3) Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien
4) Jelaskan tujuan pertemuan
5) Jujur dan menepati janji
6) Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
7) Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan klien
RASIONAL : Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk memperlancar
hubungan interaksi selanjutnya
2. Klien dapat mengenal halusinasi.
Kriteria Evaluasi:
a. Klien dapat menyebutkan, waktu, isi dan frequensi timbulnya halusinasi
b. Klien dapat mengungkapkan perasaan terhadap halusinasinya
INTERVENSI :
a.

Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap


R/ Kontak dan singkat selain upaya membina hubungan saling percaya juga

dapat memutuskan halusinasinya.


b. Observasi tingkah laku klien terkait halusinasinya, berbicara dan tertawa tanpa
stimulus memandang ke kiri dan ke kanan seolah ada teman bicara
R/ Mengenal perilaku pada saat halusinasi timbul memudahkan perawat dalam
c.

melakukan intervensi
Bantu klien mengenal halusinasi dengan cara :
1) Jika menemukan klien yang sedang halusinasi tanyakan apakah ada suara
2)

yang di dengar
Jika klien menjawab ada lanjutkan apa yang dikatakan
halusinasinya
8

3) Katakan bahwa perawat percaya klien mendengar suara itu. Namun


4)
5)

perawat sendiri tidak mendengarnya (dengan nada sahabat tanpa menuduh)


Katakan pada klien bahwa ada klien yang seperti dia
Katakan bahwa perawat akan membantu klien

R/ Mengenal halusinasi memungkinkan klien untuk menghindari faktor


timbulnya halusinasi
d.

Diskusikan kepada klien tentang :


1)
Situasi yang menimbulkan / tidak menimbulkan halusinasi
2) Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi ( pagi, siang, sore, malam, atau
jika sendiri, jengkel, sedih )
R/ Dengan mengetahui waktu, isi, dan frekuensi munculnya halusinasinya
mempermudah tindakan keperawatan yang akan dilakukan oleh perawat

e.

Diskusikan pada klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi ( marah,
takut, sedih, senang ). Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan

perasaannya
R/ Untuk mengidentifikasi pengaruh halusinasi
3. Klien dapat mengontrol halusinasinya.
Kriteria Evaluasi :
a. Klien dapat menyebutkan tindakan yang biasanya

dilakukan

untuk

mengendalikan halusinasinya
b. Klien dapat menyebutkan cara baru
c. Klien dapat memilih cara mengatasi halusinasinya seperti yang telah di
diskusikan
d. Klien dapat melakukan cara yang telah dipilih untuk mengendalikan
halusinasinya
e. Klien dapat mengikuti aktifitas kelompok
INTERVENSI :
a. Identifikasi bersama klien tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi ( tidur,
marah, menyibukkan diri, dll )
R/ Upaya untuk memutus siklus halusinasinya sehingga tidak berlanjut
b. Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien jika bermanfaat beri pujian
R/ Reinforcement dapat meningkatkan harga diri klien
c. Diskusikan cara baru untuk memutuskan timbulnya halusinasinya :
1) Katakan saya tidak mau dengar kau pada saat halusinasi muncul
2) Menemui orang lain atau perawat, teman untuk bercakap cakap atau
mengetahui halusinasinya didengar
3) Membuat jadwal kegiatan sehari hari agar halusinasi tidak muncul
4) Meminta teman, keluarga, perawat menyapa jika klien tampak sendiri
R/ memberikan alternatif pilihan untuk mengontrol halusinasi
d. Bantu klien memilih cara dan melatih cara untuk memutuskan halusinasinya
secara bertahap misalnya dengan :
1) Mengambil air wudhu dan sholat atau baca Al-Quran
9

2)
3)
4)
5)
R/

Membersihkan rumah atau peralatan rumah


Mengikuti kegiatan sosial di masyarakat ( pengajian, gotong royong )
Mengikuti kegiatan olahraga di kampung ( jika masih muda )
Mencari teman merngobrol
Memotivasi dapat meningkatkan keinginan klien untuk mencoba memilih

cara mengendalikan halusinasinya


e. Beri kesempatan klien untuk melakukan cara yang telah dipilih
R/ Memberi kesempatan pada klien untuk mencoba cara yang dipilih
f. Anjurkan klien untuk mengikuti terapi aktifitas kelompok orientasi realita dan
stimulasi persepsi
R/ Stimulasi persepsi dapat mempengaruhi perubahan intepretasi realitas akibat
halusinasi
4. Klien dapat dukungan keluarga untuk mengontrol halusinya
Kriteria Hasil :
a. Keluarga dapat saling percaya dengan perawat
b. Keluarga dapat menyebutkan pengertian, tanda dari

tindakan

untuk

mengendalikan halusinasinya
INTERVENSI :
a. BHSP dengan menyebutkan nama, tujuan dengan sopan dan ramah
R/ Sebagai dasar untuk memperlancar interaksi selanjutnya
b. Anjurkan klien untuk menceritakan halusinasinya kepada keluarga
R/ Untuk mendapatkan bantuan keluarga dalam mengontrol halusinasinya
c. Diskusikan halusinasinya pada saat berkunjung :
1) Pengertian halusinasi
2) Gejala halusinasi yang mendalam
3) Cara yang dilakukan klien dan keluarga untuk memutus halusinasinya
4) Cara merawat klien halusinasi dirumah, misalnya diberi kegiatan jangan di
biarkan sendiri
5) Beri informasi kapan mendapat bantuan : Halusinasi tidak terkontrol dapat
mencederai orang lain
R/ Untuk mengetahui pengetahuan keluarga tentang informasi halusinasi
5. Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik.
Kriteria Evaluasi :
a. Klien dapat menyebutkan manfaat, dosis, dan efek samping obat
b. Klien dapat mendemonstrasikan penggunaan obat dengan benar
c. Klien dapat informasi tentang efek samping obat
d. Klien dapat memahami akibat berhenti minum obat tanpa berkonsultasi
e. Klien dapat tahu prinsip penggunaan 5 tepat
INTERVENSI :
a.
b.
c.

Diskusikan dengan keluarga tentang dosis, frequensi, dan manfaat obat


R/ Dapat menyebutkan dosis, frequensi, dan manfaat obat
Anjurkan klien meminta obat ke perawat
R/ Menilai kemampuan klien dapat pengobatan sendiri
Anjurkan klien bicara kepada dokter tentang manfaat dan efek samping yang
dirasakan
10

R/ Dengan mengetahui efek samping, klien tahu apa yang harus dilakukan
d.

setelah minum obat


Diskusikan untuk berhenti minum obat tanpa diskuksi konsultasi dengan

dokter
e.

R/ Program pengobatan berjalan lancar


Bantu klien untuk menggunakan prinsip obat 5 tepat
R/ Dapat mengetahui prinsip penggunaan obat

BAB III
TINJAUAN KASUS
FORMULIR PENGKAJIAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA
RS. JIWA DAERAH MENUR SURABAYA
RUANGAN RAWAT : Gelatik
I.

TANGGAL DIRAWAT : 12 November 2014

IDENTITAS KLIEN
Inisial

: Tn. F (L)

Tanggal Pengkajian

: 24 November 2014
11

Umur

: 31 tahun

RM No.

Informan

: Pasien dan Rekam Medis

: 02-70-XX

II. ALASAN MASUK


Alasan masuk

: Pasien sering mendengar bisikan yang berujung marah-marah

Keluhan Utama : Pasien mengatakan sering mendengar suara-suara/bisikan yang


mengajak untuk mengobrol
III. FAKTOR PREDISPOSISI
1.

Pasien pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu yaitu pertama kali dirawat
di RSJ Menur pada tahun 2011 dan dirawat untuk ke lima kali ini.

2.

Pengobatan pasien sebelumnya kurang berhasil yaitu tidak kontrol rutin dan tidak
minum obat rutin.

3.

Pasien pernah marah hingga memukul anggota keluarga dan merusak rumah
tetangga.

Masalah Keperawatan
4.

Pasien tidak mempunyai anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa

Masalah Keperawatan
5.

: Risiko mencederai orang lain


: Tidak ada masalah keperawatan

Pasien mengatakan mempunyai pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan


yaitu rebutan/sengketa tanah dengan orang lain.

Masalah Keperawatan

: Respon Pasca Trauma

IV. FISIK
Tanda Vital

: TD : 120/80mmHg

2.

Ukur

: TB : 165 cm

3.

Keluhan Fisik : Pada saat dikaji, tidak ditemukan keluhan fisik

Masalah Keperawatan

N : 84x/menit

S: 36,5oC

1.

P : 22x/menit

BB : 57kg

: Tidak ada masalah keperawatan

V. PSIKOSOSIAL
1.

Genogram
Pasien mengatakan dirinya anak kedua dari enam bersaudara
Masalah Keperawatan : Koping keluarga inefektif

2.

Konsep Diri
a. Gambaran diri

: Pasien mengatakan tubuhnya besar

b. Identitas

: Pasien belum menikah, tamatan SMP, dan tidak bekerja

c. Peran

: Pasien sebagai anak

d. Ideal diri

: Pasien ingin menjadi anak yang baik dan ingin berbakat

12

e. Harga diri

: Pasien mengatakan ada beberapa keluarga yang tidak suka


dengannya karena pasien pernah marah-marah.

Masalah Keperawatan : gangguan konsep diri : harga diri rendah


3.

Hubungan Sosial
a. Orang yang berarti

: kedua orang tua

b. Peran serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat

: Pasien terlihat diam saat

berkumpul bersama orang-orang dan terkadang mengobrol tetapi hanya sesaat.


c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain

Pasien susah dalam berhubungan dengan orang lain karena sering tidak
nyambung
Masalah Keperawatan : Gangguan interaksi sosial
4.

Spiritual
a. Nilai dari keyakinan

: pasien beragama islam

b. Kegiatan ibadah

: pasien tidak pernah beribadah selama MRS

Masalah Keperawatan : Distress spiritual


GENOGRAM

Keterangan

:
: Perempuan
: Laki-laki
: Pasien

13

: Perempuan meninggal
: Laki-laki meninggal
VI. STATUS MENTAL
1.

Penampilan
Pasien menggunakan pakaian bersih dan sesuai,rambut bersih,kuku tidak kotor
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah

2.

Pembicaaran
Pasien berbicara ngelantur/inkoheren
Masalah Keperawatan : hambatan komunikasi verbal

3.

Aktivitas Motorik
Pasien banyak berdiam diri
Masalah Keperawatan : penurunan aktivitas motorik

4.

Alam perasaan
Pasien mengatakan jengkel/gregetan ketika suara-suara/bisikan muncul dan
membuat badan pasien terasa gerah dan panas sehingga pasien ingin marah-marah
Masalah Keperawatan : Ansietas

5.

Afek
Pasien bereaksi sesuai dengan stimulus
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan

6.

Interaksi selama wawancara


Pasien kooperatif dan kontak mata baik
Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan

7.

Persepsi Halusinasi
Pasien mengatakan sering mendengar suara-suara/bisikan yang mengajak untuk
mengobrol yang muncul ketika pasien sendiri dan bangun tidur dan pasien merasa
jengkel/gregetan ketika suara-suara/bisikan muncul dan membuat badan pasien
terasa gerah dan panas sehingga pasien ingin marah-marah. Pasien selalu
menanggapi suara-suara tersebut.
Masalah Keperawatan : Gangguan persepsi : halusinasi pendengaran

8.

Proses Pikir
Pasien mengatakan alasan masuk secara berulang-ulang
Masalah Keperawatan : Gangguan proses pikir
14

9.

Isi Pikir

: Pikiran magis

Pasien mengatakan masuk RSJ karena diguna-guna oleh orang yang terlibat
sengketa tanah dengan pasien
Waham

: Curiga

Masalah Keperawatan : Gangguan proses pikir : waham


10. Tingkat Kesadaran
Pasien mengatakan dia berada di rumah sakit menur dan dapat menyebutkan
waktu/jam saat pengkajian
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan
11. Memori
Ketika pasien menceritakan masa lalunya pasien tidak ingat kapan/waktu kejadian
tersebut
Masalah Keperawatan : Perubahan proses pikir
12. Tingkat Konsentrasi dan berhitung
Saat pengkajian pasien konsentrasi penuh dan dapat menyebutkan serta
menghitung jumlah saudaranya.
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan
13. Kemampuan Penilaian
Pasien mengatakan bisikan-bisikan yang dialami benar adanya (Gangguan
bermakna)
Masalah Keperawatan : Gangguan proses pikir
14. Daya tilik diri
Pasien mengatakan dirinya sakit karena diguna-guna orang lain
Masalah Keperawatan : Gangguan proses pikir
VII.KEBUTUHAN PULANG
1.

Kemampuan klien memenuhi/menyediakan kebutuhan :


Pasien mampu melakukan pemenuhan kebutuhan sehari-hari secara mandiri
dengan bantuan minimal.
Masalah Keperawatan

2.

: Tidak ada masalah keperawatan

Kegiatan hidup sehati-hari :


a. Perawatan diri
Pasien

dapat

mandi,menjaga

kebersihan,makan,BAK/BAB,dan

ganti

pakaian dengan mandiri.


15

Masalah Keperawatan

: Tidak ada masalah keperawatan

b. Nutrisi
Pasien puas makan dengan porsi yang telah disediakan oleh RS, pasien
makan bersama teman-temannya/tidak memisahkan diri. Pasien makan
3x/hari dan kudapan 1x/hari. BB tertinggi 60kg dan BB terendah 57kg, tidak
ada diet khusus.
Masalah keperawatan

: Tidak ada masalah keperawatan

c. Tidur
Pasien tidak pernah tidur siang dan tidur malam pukul 01.00 WIB kemudian
bangun tidur pukul 04.00 WIB
Masalah Keperawatan
3.

: Gangguan pola tidur

Kemampuan pasien:
Pasien tidak bisa mengantisipasi kebutuhan sendiri,membuat keputusan
berdasarkan keinginan sendiri,mengatur penggunaan obat dan melakukan
pemeriksaan kesehatan masih perlu dibimbing.
Masalah Keperawatan

4.

: Perilaku mencari bantuan kesehatan

Klien memiliki sistim pendukung


Pasien selalu dijenguk oleh keluarganya
Masalah keperawatan

5.

: Perilaku mencari bantuan kesehatan

Apakah klien menikmati saat bekerja kegiatan yang menghasilkan atau hobi
Pasien tidak bekerja dan tidak memiliki hobi
Masalah keperawatan

: Sulit dievaluasi

VIII. MEKANISME KOPING


Pasien mengatakan jika ada masalah dia minum alkohol dan mencederai orang lain
(Maladatif)
Masalah Keperawatan
IX.

: Koping individu tidak efektif

MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN


1. Masalah dengan dukungan kelompok, spesifik : pasien dijenguk oleh
keluarganya, klien tidak mengikuti kelompok/organisasi tertentu.
2. Masalah berhubungan dengan lingkungan, spesifik : pasien jarang berinteraksi
dengan pasien lain karena tidak nyambung/pasien sering ngelantur.
3. Masalah dengan pendidikan, spesifik : pasien hanya tamatan SMP
4. Masalah dengan pekerjaan, spesifik pasien tidak bekerja

16

5. Masalah dengan perumahan, spesifik pasien tinggal bersama dengan orang


tuanya.
6. Masalah ekonomi, spesifik: klien pengangguran sehingga tidak mempunyai uang.
7. Masalah dengan pelayanan kesehatan, spesifik : klien kontrol dan minum obat
tidak rutin.
Masalah Keperawatan

: Ketidakmampuan

X. PENGETAHUAN KURANG TENTANG


Pasien kurang pengetahuan tentang penyakit jiwa,faktor presipitasi,koping,sistim
pendukung,penyakit fisik,dan obat-obatan.
Masalah Keperawatan
XI. DATA LAIN-LAIN

: Kurang pengetahuan

: Tidak Terkaji

XII. ASPEK MEDIK


Diagnosa Medik

: F20.13 (Skizofrenia Hebefrenik Episodik Berulang)

Terapi Medik

: Trihexipenidile

(THD) 2mg

1-0-1

Trifluoperazine

(TFP) 5mg

1-1-1

Chlorpromazine

(CPZ) 100mg

1-1-1

XIII. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN


Risiko mencederai orang lain
Respon Pasca Trauma
Koping keluarga inefektif
Gangguan konsep diri : harga diri rendah
Gangguan interaksi sosial
Distress spiritual
Hambatan komunikasi verbal
Penurunan aktivitas motorik
Ansietas
Gangguan persepsi : halusinasi pendengaran
Gangguan proses pikir : waham
Perubahan proses pikir
Gangguan pola tidur
Perilaku mencari bantuan kesehatan
17

Koping individu tidak efektif


Ketidakmampuan
Kurang pengetahuan

XIV. PRIORITAS DIAGNOSIS KEPERAWATAN


Gangguan persepsi halusinasi pendengaran

ANALISA DATA SINTESA


NAMA : Tn. F

NIRM : 02-70-XX

TGL
24-11-14 DS :

DATA

RUANGAN : GELATIK

ETIOLOGI
MASALAH
Gangguan persepsi :

Pasien mengatakan sering

halusinasi

mendengar

pendengaran

suara-

T.T.

suara/bisikan yang mengajak


untuk

mengobrol

yang

muncul ketika pasien sendiri


18

dan bangun tidur dan pasien


merasa

jengkel/gregetan

ketika

suara-suara/bisikan

muncul dan membuat badan


pasien

terasa

gerah

dan

panas sehingga pasien ingin


marah-marah, pasien selalu
menanggapi

suara-suara

tersebut.
DO :
1. Pasien terlihat bingung
2. Pasien

berbicara

melantur
3. Pasien terlihat diam saat
berkumpul

bersama

orang-orang

dan

terkadang

mengobrol

tetapi hanya sesaat.


4. Pasien

mempunyai

riwayat pernah marahmarah

dan

memukul

orang tuanya
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
NAMA : Tn. F

NIRM : 02-70-XX

RUANGAN : GELATIK

TGL
24-11-

DX KEP
Gangguan

IMPLEMENTASI
SP I

EVALUASI
T.T.
S : Pasien mengatakan

14

persepsi :

1. BHSP dengan pasien

namanya

Halusinasi

2. Menanyakan identitas mengatakan

pendengaran

pasien
3. Membantu

mengenal
yang

mendengar
pasien suara/bisikan
halusinasi mengajak

pasien
sering
suarayang
untuk

berisi mengobrol yang muncul


19

bentuk,isi,frekuensi,

ketika pasien sendiri dan

waktu, respon

bangun tidur dan pasien

4. Membantu mengontrol menanggapi suara-suara


dan

menghardik tersebut.

halusinasinya
O:
Pasien menyebutkan
nama
Pasien dapat
memperagakan
mengontrol halusinasi
A : SP I :1,2,3,4 tercapai
P : Lanjut SP II
26-11-

Gangguan

14

persepsi :
Halusinasi
pendengaran

SP II
1. Evaluasi kegiatan
yaitu SP1
2. Melatih pasien
berbicara dengan
orang lain
3. Melatih klien

S : Pasien mengatakan
sudah mengobrol dengan
oeang lain
O:
- Pasien mampu
memperagakan

berinteraksi dengan

mengobrol dengan orang

lingkungan sekitar

lain

4. Menganjurkan pasien
memasukkan ke
27-11-

Gangguan

2014

persepsi
halusinasi
pendengaran

jadwak sehari-hari
SP III
1. Evalausi kegiatan
dari SP I dan SP II
2. Membantu aktivitas

A : SP II, 2,3 tercapai


P :SP II dilanjutkan
S : Pasien mengatakan
sudah mandi, sudah
ganti baju, dan sudah

yang biasa

ngobrol dengan

dikakukan oleh

temannya.

pasien

O : Pasien mulai mampu

3. Membantu aktivitas
yang terakhir untuk

mengontrol
halusinasinya dengan
20

mengetahui

berbicara dengan orang

halusinasinya

lain.

4. Memantau

A : SP II 2,3 /dan SP III

pelaksanaan jadwal

2,3 tercapai

memberikan

P : SP III dilanjutkan

kegiatan terhadap
perilaku pasien
yang positif
28-11-

Gangguan

2014

persepsi

SP IV
1.

SP IV
Melatih paaien

S : Pasien sudah mampu

halusinasi

menggunakan obat

melakukan apa yang

pendengaran

secara teratur

dianjurkan perawat.

Jelaskan

Pasien mengatakan

pentingnya

waktu minum obat pagi

penggunaan obat

dan malam.

Jelaskan akibat bila

O : Pasien paham fungsi

obat tidak

obat,waktu minum,

digunakan sesuai

pasien minum obat

program

secara teratur.

Jelaskan akibat bila

A : SP IV 1,2 tercapai

putus minum obat

P : SP IV dilanjutkan

2.

3.

4.
29-11-

Gangguan

2014

persepsi

SP II
1. Mengevaluasi

halusinasi
pendengaran

kegiatan SP 1
2. Melatih pasien

S : Pasien mengatakan
sudah mengobrol dengan
orang lain

berbiacara dengan
orang lain
3. Melatih Pasien

O : Pasien mampu
memperagakan

berinteraksi dengan

mengobrol dengan orang

lingkungan sekitar

lain.

4. Mengajarkan pasien
untuk memasukkan

A : SP II 2,3 tercapai

ke jadwal seharihari
01-12-

Gangguan

P : SP II dilanjutkan

SP IV
21

2014

persepsi
halusinasi
pendengaran

1. Melatih pasien
menggunakan obat

S : Pasien mampu
menjelaskan ulang apa

2. Jelaskan pentingnya yang dijelaskan oleh


penggunaan obat

perawat

3. Jelaskan akibat bila


obat tidak

O : Pasien minum obat

digunakan sesuai

secara teratur dan paham

program

kegunaan obat.

4. Jelaskan akibat bila


putus minum obat

A : SP IV 2,3,3 tercapai
P : SP IV dihentikan

22