Anda di halaman 1dari 16

A.

TUJUAN
Menentukan isoterm adsorpsi menurut Freundlich bagi proses adsorpsi asam
asetat pada arang.
B. DASAR TEORI
Karbon aktif dapat dibuat dari bahan yang mengandung karbon dalam jumlah
cukup tinggi. Salah satu bahan baku karbon aktif yang potensial adalah tempurung
kelapa. Pemanfaatannya sebagai bahan baku karbon aktif selain karena harganya
yang murah juga karena dapat mengurangi limbah pertanian. Penggunaan karbon aktif
di Indonesia mulai berkembang dengan pesat, yang dimulai dari pemanfaatannya
sebagai adsorben untuk pemurnian pulp, air, minyak, gas, dan katalis. Namun, mutu
karbon aktif domestik masih rendah (Harfi & Kusuman1994), dengan demikian perlu
ada peningkatan mutu karbon aktif tersebut. Karbon aktif dapat dijadikan sebagai zat
pengadsorbsi atau adsorben.
Arang adalah padatan berpori hasil pembakaran bahan yang mengandung karbon.
Arang tersusun dari atom-atom karbon yng berikatan secara kovalen membentuk
struktur heksagonal datar dengan sebuah atom C pada setiap sudutnya(Gambar 1).
Susunan kisi-kisi heksagonal datar ini tampak seolah-olah seperti pelat-pelat datar
yang saling bertumpuk dengan sela-sela di antaranya.

Gambar 1 Struktur grafit karbon aktif


Sebagian pori-pori yang terdapat dalam arang masih tertutup oleh hidrokarbon dan
senyawa organik lainnya. Komponen arang ini meliputi karbon terikat, abu, air,
nitrogen, dan sulfur (Djatmiko et al. 1985 dalam Januar Ferry 2002). yang mempunyai
luas permukaan dan jumlah pori sangat banyak (Baker 1997).
Manes (1998) mengatakan bahwa karbon aktif adalah bentuk umum dari berbagai
macam produk yang mengandung karbon yang telah diaktifkan untuk meningkatkan
luas permukaannya. Karbon aktif berbentuk kristal mikro karbon grafit yang pori-

porinya telah mengalami pengembangan kemampuan untuk mengadsorpsi gas dan


uap dari campuran gas dan zat-zat yang tidak larut atau yang terdispersi dalam cairan
(Roy 1985). Luas permukaan, dimensi, dan distribusi karbon aktif bergantung pada
bahan baku, pengarangan, dan proses aktivasi. Berdasarkan ukuran porinya, ukuran
pori karbon aktif diklasifikasikan menjadi 3, yaitu mikropori (diameter <2 nm), mesopori
(diameter 250 nm), dan makropori (diameter >50 nm) (Baker 1997).

Setyaningsih (1995) membedakan karbon aktif menjadi 2 berdasarkan fungsinya,


yaitu Karbon adsorben gas (gas adsorbent carbon): Jenis arang ini digunakan untuk
mengadsorpsi kotoran berupa gas. Pori-pori yang terdapat pada karbon aktif jenis ini
tergolong mikropori yang menyebabkan molekul gas akan mampu melewatinya, tetapi
molekul dari cairan tidak bisa melewatinya. Karbon aktif jenis ini dapat ditemui pada
karbon tempurung kelapa. Selanjutnya adalah karbon fasa cair (liquid-phase carbon).
Karbon aktif jenis ini digunakan untuk mengadsorpai kotoran atau zat yang tidak
diinginkan dari cairan atau larutan. Jenis pori-pori dari karbon aktif ini adalah makropori
yang memungkinkan molekul berukuran besar untuk masuk. Karbon jenis ini biasanya
berasal dari batu bara, misalnya ampas tebu dan sekam padi.
Aktivasi adalah perubahan fisik berupa peningkatan luas permukaan karbon aktif
dengan penghilangan hidrokarbon. Ada dua macam aktifasi, yaitu aktivasi fisika dan
kimia. Aktivasi kimia dilakukan dengan merendam karbon dalam H3PO4, ZnCl2,
NH4Cl, dan AlCl3 sedangkan aktivasi fisika menggunakan gas pengoksidasi seperti
udara, uap air atau CO2.

Adsorpsi ialah pengumpulan zat terlarut di permukaan media dan merupakan jenis
adhesi yang terjadi pada zat padat atau zat cair yang kontak dengan zat lainnya.
Proses ini menghasilkan akumulasi konsentrasi zat tertentu di permukaan media
setelah terjadi kontak antar muka atau bidang batas (paras, interface) cairan dengan
cairan, cairan dengan gas atau cairan dengan padatan dalam waktu tertentu.(Gede,
2009)
Untuk proses adsorpsi dalam larutan, jumlah zat teradsorbsi tergantung pada
beberapa faktor yaitu:
1. Jenis adsorben
2. Jenis adsorban atau zat yang teradsorpsi
3. Luas permukaan adsorben
4. Konsentrasi zat terlarut
5. Temperatur

Bagi suatu sistem adsorpsi tertentu, hubungan antar banyaknya zat teradsorpsi
per satuan berat adsorben dengan konsentrasi zat terlarut pada temperature tertentu
disebut isoterm adsorbsi (Tim Dosen Kimia Fisika,2012:4)
Isoterm adsorpsi merupakan hubungan konsentrasi zat terlarut yang teradsorpsi
pada padatan dengan konsentrasi larutan, pada suhu tetap. Persamaan isoterm
adsorpsi yang lazim digunakan ialah yang dikaji dan dikembangkan oleh Freundlich
dan Langmuir. Isoterm adsorpsi merupakan hubungan konsentrasi zat terlarut yang
teradsorpsi pada padatan dengan konsentrasi larutan, pada suhu tetap. Persamaan
isoterm adsorpsi yang lazim digunakan ialah yang dikaji dan dikembangkan oleh
Freundlich dan Langmuir.

Oleh freundlich isotherm adsorpsi dinyatakan sebagai:


x/m = k. Cn ..............................................................................(1)
dalam hal ini :
x = jumlah zat teradsorbsi (gram)
m = jumlah adsorben (gram)
C = konsentrasi zat terlarut dalam larutan, setelah tercapai kesetimbangan
adsorpsi
k dan n = tetapan
maka persamaan (1) menjadi :
slog x/m = log k + n log c....................................................(2)
Persamaan ini mengungkapkan bahwa bila suatu proses adsorbsi menuruti
isoterm Freundlich, maka aluran log x/m terhadap log C akan merupakan garis lurus.
Dari garis dapat dievaluasi tetapan k dan n (TimDosen KF,2012 : 4).
Peristiwa adsorpsi yang terjadi jika berada pada permukaan dua fasa yang bersih
ditambahkan komponen ketiga, maka komponen ketiga ini akan sangat mempengaruhi
sifat permukaan. Komponen yang ditambahkan adalah molekul yang teradsorpsi pada
permukaan (dan karenanya dinamakan surface aktif).Jumlah zat yang terserap setiap
berat adsorbens, tergantung konsentrasi dari zat terlarut.Namun demikian, bila
adsorbens sudah jenuh, konsentrasi tidak lagi berpengaruh.Adsorpsi dan desorpsi
(pelepasan) merupakan kesetimbangan (Atkins, 1990).
Isoterm adsorbsi adalah hubungan yang menunjukkan distribusi adsorben antara
fase teradsorbsi pada permukaan adsorben dengan fase ruah kesetimbangan pada
temperatur tertentu. Ada tiga jenis hubungan matematik yang umumnya digunakan
untuk menjelaskan isoterm adsorbsi (anonim,2008).
1.

Isoterm Langmuir

Isoterm ini berdasar asumsi bahwa :


a.

Adsorben

mempunyai

permukaan

yang

homogen

dan

hanyadapat

mengadsorbsi satu molekul untuk setiap molekul adsorbennya. Tidak ada interaksi
antara molekul-molekul yang terserap.
b. Semua proses adsorbsi dilakukan dengan mekanisme yang sama.
c. Hanya terbentuk satu lapisan tunggal saat adsorbsi maksimum.
Namun, biasanya asumsi-asumsi sulit diterapkan karena hal-hal berikut : selalu
ada ketidaksempurnaan pada permukaan, molekul teradsorbsi tidak inert dan
mekanisme adsorbsi pada molekul pertama asangat berbeda dengan mekanisme pada
molekul terakhir yang teradsorpsi.
Langmuir mengemukakan bahwa mekanisme adsorpsi yang terjadi adalah
sebagai berikut: A(g) + S AS, dimana A adalah molekul gas dan s adalah
permukaan adsorpsi (anonim,2008).
Salah satu kelemahan dari isoterm Freundlich adalah bahwa ia gagal pada
tekanan tiggi gas. Irving langmuir pada 1916 berasal isoterm adsorbsi sederhana pada
pertimbangan teoritis berdasarkan teori kinetika gas. Ini disebut sebagai adsorpsi
isoterm Langmuir (anonim,2010).
2.

Isoterm Branauer, Emmet and Teller (BET)

Isoterm ini berdasar asumsi bahwa adsorbent mempunyai nilai permukaan yang
homogen. Perbedaan isoterm ini dengan Langmuir adalah BET berasumsi bahwa
molekul-molekul adsorbat bisa membentuk lebih dari satu lapisan adsorbat
dipermukaannya. Pada isoterm ini, mekanisme adsopsi untuk setiap proses adsorpsi
berbeda-beda. Mekanisme yang diajukan dalam isoterm ini adalah :
Isoterm Langmuir biasanya lebih baik apabila diterapkan untuk adsorpsi kimia,
sedangkan isoterm BET akan lebih baik daripada isoterm Langmuir bila diterapkan
untuk adsorpsi fisik (anonim,2008).
3. Isoterm Freundlich
Untuk rentang konsentrasi yang kecil dan campuran yang cair, isoterm adsorpsi
dapat digambarkan dengan persamaan empirik yang dikemukakan oleh Freundlich.
Isoterm ini berdasarkan asumsi bahwa adsorben mempunyai permukaan yang
heterogen dan tiap molekul mempunyai potensi penyerapan yang berbeda-beda.
Persamaan ini merupakan persamaan yang paling banyak digunakan saat ini.
Persamaannya adalah :
x/m = k C 1/n
dimana:
x = banyaknya zat terlarut yng teradsorpsi (mg)
m = massa adsorben (mg)

C = konsentrasi adsorben yang sama


k,n = konstanta adsorben
Dari persamaan tersebut, jika konsentrasi larutan dalam kesetimbangan diplot
sebagai ordinat dan konsentrasi adsorbat dalam adsorben sebagai absis pada
koordinat logaritmik, akan diperoleh gradien n dan intersept. Dari isoterm ini, akan
diketahui kapasitas adsorben dalam menyerap air. Isoterm ini akan digunakan dalam
penelitian yang akan dilakukan, karena dengan isoterm ini dapat ditentukan efisisensi
dari suatu adsorben (anonim,2008).
C. ALAT DAN BAHAN
Alat :
Cawan porselin

1 buah

Labu Erlenmeyer bertutup 250 ml

6 buah

Labu Erlenmeyer 150 ml

6 buah

Pipet 10 ml

1 buah

Pipet 25 ml

1 buah

Buret 50 ml

1 buah

Buret 10 ml

1 buah

Corong

1 buah

Statif

2 buah

Batang pengaduk

1 buah

Kertas saring

6 buah

Kasa asbes

1 buah

Kaki tiga

1 buah

Pembakar spirtus

1 buah

Stopwatch

1 buah

Bahan :
Larutan HCl 0,5 N,0,25 N,0,125 N, 0,0625 N, 0,0313 N, 0,0156 N
Karbon Aktif 6 gram
Larutan standar NaOH 500 ml
Indikator phenolphthalein

D. CARA KERJA

Mengaktifkan arang

Memasukkan arang kedalam 6 buah labu


Erlenmeyer bertutup masing-masing 1 gram

Menyiapkan larutan HCl dengan kosentrasi 0,500 N;0,250 N;0,125


N;0,0625 N; 0,0313 N; 0,0156 N sebanyak 125 ml dan memasukkan
100 ml masing-masing larutan kedalam labu Erlenmeyer berisi arang

Menutup labu dan membiarkannya selama 30 menit


serta mengocok larutan selama 1 menit tiap 10 menit

Sisa asam yang tidak diadsorpsi dititrasi dengan


NaOH 0,25 N. Masing-masing 2X titrasi, yang murni
dan yang sudah diberi arang.

Menyaring larutan dengan kertas saring

Menitrasi larutan filtrate dengan larutan NaOH


0,25 N menggunakan indicator PP
sebagaiberikut:

0,500 N dan 0,250 N


masing-masing diambil 10
ml

0,125 N diambil 25
ml

0,0625N, 0,0313 N,
0,0156 N masing-masing
50 ml
6

E. HASIL PERCOBAAN
Dari percobaan yang telah dilakukan, diperoleh data yang disajikan pada table 1 dan 2.
Suhu kamar : 27 0 C
Table 1. Data Pengamatan

Konsentrasi
CH3COOH

Akhir

Awal

(dengan penambahan arang)

CH3COOH

NaOH 0,25 N

CH3COOH

NaOH 0,25 N

(ml)

(ml)

(ml)

(ml)

0,5 N

10

18,0

18,5

10

9,4

9,4

0,25 N

10

8,1

7,58

10

4,0

4,0

0,125 N

25

4,1

4,2

25

8,5

0,0625 N

50

2,0

2,2

50

15,56

15,5

0,0313 N

50

1,0

1,4

50

7,7

7,8

0,0156 N

50

0,6

0,58

50

2,2

2,3

Tabel 2. Data HasilPerhitungan

N
o

Konsentrasi asam (N)

Massa

X/m

Log x/m

Log C

2,4592

0,3907

-1,4167

0,1093

-0,9613

-2,5228

0,3537

0,3544

-0,4505

-2,0222

0,00875

0,3190

0,3196

-0,4953

-2,0579

0,02

0,01

0,3646

0,3641

-0,4387

-2

0,01125

0,0035

0,1276

0,1274

-0,8948

-2,4559

(gram)

awal

Sisa

(gram)

1,0082

0,456

0,388

0,068

2,4794

1,0004

0,196

0,193

0,003

0,1094

0,998

0,1035

0,094

0,0095

0,998

0,0525

0,04375

1,0012

0,03

1,0013

0,01475

0.6

grafik hubungan log C dengan log x/m

0.4
0.2
0
-0.2

-1.4167

-2.5228

-2.0222

-2.0579

-2

-2.4559

-0.4
-0.6
-0.8
-1
-1.2

grafik hubungan C dengan x/m


3
2.5
2
Series1

1.5
1
0.5
0
0.068

F.

0.003

0.0095

0.00875

0.01

0.0035

PEMBAHASAN
Adsorpsi adalah pengumpulan zat terlarut dipermukaan media dan merupakan

jenis adhesi yang terjadi pada zat padat atau cair yang kontak dengan zat-zat lainnya.
Salah satu adsorben yang biasa diterapkan dalam pengolahan air minum adalah
karbon aktif arang.karbon aktif ini digunakan untuk menghilangkan bau, warna dan
rasa air termasuk logam-logam ion berat. Dalam percobaan ini menggunakan karbon
aktif sebagai adsorben dan adsorbatnya adalah asam asetat dengan berbagai
konsentrasi serta larutan NaOH 0,25 N sebagai larutan standar. Larutan HCl yang

telah dibuat dalam berbagai konsentrasi dimasukkan arang aktif dan didiamkan selama
30 menit. Peristiwa adsorpsi yang terjadi bersifat selektif dan spesifik dimana Asam
klorida lebih mudah teradsorbsi dari pelarut (air), karena arang aktif (karbon) hanya
mampu mengadsorpsi senyawa-senyawa organik.
Perubahan konsentrasi asam klorida sebelum dan sesudah adsorpsi dapat
diketahui dengan cara mentitrasi filtrat yang mengandung asam klorida dengan larutan
standar NaOH 0,25 N. Konsentrasi awal asam klorida mempengaruhi volume titrasi
yang digunakan. Semakin besar konsentrasinyanya semakin banyak larutan NaOH
yang digunakan. Hal ini disebabkan karena semakin besar konsentrasi, letak antara
molekulnya semakin berdekatan sehingga susah untuk mencapai titik ekivalen pada
saat proses titrasi.
Dalam percobaan isoterm adsorpsi arang aktif digunakan larutan asam klorida
dalam berbagai variasi konsentrasi. yaitu, 0,500N ; 0,250N ; 0,125N ; 0,0625N
;0,0313N ; 0,0156N. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan arang untuk
mengabsorpi larutan asam klorida dalam berbagai konsentrasi pada suhu konstan
(isoterm).
Arang dalam percobaan sebagai absorben (zat yang mengapsorbsi) dimana
dalam awal percobaan arang ini harus dipanaskan terlebih dahulu. Pemanasan
dilakukan sampai keluar asap, jangan lakukan pemanasan sampai arang membara.
Pemanasan arang sampai membara dapat menjadikan arang menjadi abu, dimana jika
telah menjadi abu, arang tersebut tidak dapat lagi untuk menjadi absorben. Tujuan dari
pemanasan ini adalah untuk membuka pori-pori permukaan dari arang agar mampu
mengabsorpsi secara maksimal (mengabsorpsi asam asetat).
Dalam percobaan ini, larutan asam klorida mendapat dua perlakuan yang
berbeda. Pertama(awal) asam klorida yang murni, tidak mendapat perlakuan apa-apa,
sedang yang kedua(akhir) ditambah dengan arang dan disaring. Kedua perlakuan ini
dilakukan untuk membandingkan konsentrasi asam klorida yang dicampurkan arang
dan asam klorida yang tidak diberikan perlakuan khusus yang nantinya akan samasama dititrasi dengan larutan baku NaOH 0,25N dengan indikator phenolphtalein.
Indicator PP sangat peka terhadap gugus OH-yang terdapat pada larutan NaOH.
Pada percobaan ini akan ditentukan harga tetapan-tetapan adsorbsi isotherm
Freundlich bagi proses adsorpsi HCl terhadap arang. Variabel yang terukur pada
percobaan adalah volume larutanNaOH 0,25 N yang digunakan untuk menitrasi HCl.
Setelah konsentrasi awal dan akhir diketahui, konsentrasi HCl yang teradsorbsi dapat
diketahui dengan cara pengurangan konsentrasi awal dengan konsentrasi akhir.
Selanjutnya dapat dicari berat HCl yang teradsorbsi. Dengan cara X = C*Mr*100/1000.

Berdasarkan percobaan yang dilakukan, pada data ke 4 dan 5 terjadi kesalahan


karena pada jumlah zat yang teradsorbsi seharusanya semakin tinggi konsentrasi
maka jumlah zat yang teradsorbsi juga harus semakin besar. Selain itu, pada data
pertama jumlah zat yang teradsorbsi melebihi massa zat adsorbennya,padahal
seharusnya massa zat yang teradsorbsi harus lebih kecil dari massa zat adorsen.
Kemungkinan hal ini terjadi karena terjadi kesalahan pada saat menitrasi larutan. Jadi
hasil percobaan yang telah dilakukan tidak sesuai dengan teori yang ada sehingga
grafik yang dihasilkan sedikit melenceng dari teori yang sebenarnya. Hal ini dapat
terjadi karena mugkin masih terdapat karbon yang tidak tersaring dengan sempurna
dan kurang berhati-hati dalam melakukan tritasi, karena indikator PP sangat peka akan
adanya gugus OH-, maka penambahan atau kelebihan satu tetes NaOH sangat
berpengaruh. Sehingga alat yang digunakan haruslah alat (buretdan statif) yang baik
dan tidak rusak, maupun bocor.
Kesalahan titrasi terjadi karena alat yang digunakan bocor dan karena terdapat
arang yang tidak tersaring sempurna, sehingga dalam titrasi volume NaOH yang
dibutuhkan semakin banyak. Pada percobaan, titrasi dilakukan dengan menggunakan
buret yang bocor dan sedikit pecah pada bagian bawahnya. Buret bocor ini adalah
karena kurang rapatnya antara buret dan penutupnya.Hasilnya, penghitungan volume
NaOH pun menjadi tidak maksimal karena adanya larutan NaOH yang keluar bukan
saat titrasi, sering pula penambahan satu tetes larutan NaOH telah merubah warna
HCl menjadi terlalu merah, sehingga warna menjadi keunguan. Hal ini, dapat pula
terjadi karena sangat kecilnya selisih antara titik ekivalen konsentrasi satu dengan
lainya.
Mengenai gambar grafik yang dihasilkan sudah sesuai, akan tetapi kurang tepat
karena beberapa kesalahan dalam titrasi, menurut teori semakin besar konsentrasi
titran, maka semakin banyak volume titrat yang dibutuhkan. Dan seharusnya volume
titrat lebih banyak dibutuhkan oleh titran yan diberi arang aktif.
G. SIMPULAN DAN SARAN
1. Simpulan
Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa:
1. Isotherm adsorpsi karbon aktif merupakan hubungan antara banyaknya zat
yang teradsorpsi (asam klorida) persatuan luas atau persatuan berat
adsorben, dengan konsentrasi zat terlarut pada temperature tertentu.
2. Isotherm yang terjadi pada percobaan ini adalah isotherm adsorpsi Freundlich,
dimana adsorben mengadsorpsi larutan organic yang sangat bagus dengan
situs-situs hoterogen seperti situs Freundlich.

10

3. Dalam pengenceran semakin besar konsentrasi yang diinginkan semakin


besar pula volume yang diperlukan untuk pengenceran.
2. Saran
1. Jangan lupa menggunakan indikator PP, sehingga tidak terjadi kesalahan
titrasi karena lupa menggunakan indikator PP.
2. Penggunaan alat yang terbatas dan alat yang tidak valid membuat percobaan
kurang efisien.
3. Berhati-hati dalam melakukan titrasi, karena satu tetes titrat sangat
berpengaruh terhadap hasil akhir titrasi, sehingga bisa mejadikan data kurang
valid.
4. Membuat rancangan pembagian tugas pada kelompok, sehingga waktu
termanfaatkan dengan baik dan benar.

H. DAFTAR PUSTAKA
Puspitasari,Dyah Pratama,2006Adsorpsi Surfaktan Anionik Pada Berbagai pH
Menggunakan Karbon Aktif Termodifikasi Zink Klorida.dalam Jurnal
Kimia,Departeman

Kimia

Fakultas

Matematika

dan

Ilmu

Pengetahuan Alam: Institut Pertanian Bogor


Tim Dosen Kimia Fisika.2012. Diktat Petunjuk Praktikum Kimia Fisika
II.UNNES;Semarang.

Semarang, 25 Maret 2012


Dosen Pengampu

Ir. Sri Wahyuni, M.Si

Praktikan,

Aftri Nur Maulida

11

I.

JAWABAN TUGAS DAN PRTANYAAN


1.

Apakah proses adsorsi ini merupakan adsorpsi fisik atau kimia?


Jawab: pada percobaan termasuk ke dalam adsorpsi secara fisika dikarenakan
ikatan yang terlibat dalam adsorpsi ini yaitu ikatan yang lemah yang merupakan
ikatan van der waals dan melalui panas reaksi yang rendah.

2.

Apakah perbedaan kedua jenis adsorpsi ini? Berikan beberapa contoh dari
kedua jenis adsorpsi ini!
Jawab:
Adsorpsi terbagi atas 2, yaitu :
a.

Adsorpsi fisik, yaitu berhubungan dengan gaya Van der Waals dan

merupakan suatu proses bolak balik apabila daya tarik menarik antara zat
terlarut dan adsorben lebih besar daya tarik menarik antara zat terlarut dengan
pelarutnya maka zat yang terlarut akan diadsorpsi pada permukaan adsorben,
tidak melibatkan energy aktivasi.
Contoh: adsorpsi nitrogen pada besi secara fisik nitrogen cair pada -190 0 C akan
teradsorpsi pada besi.
b.

Adsorpsikimia, yaitureaksi yang terjadi antara zat padat dan zat terlarut

yang teradsorpsi,

terjadi pemutusan dan pembentukan ikatan kimia, panas

adsorpsinya tinggi, melibatkan energy aktivasi.


Contoh:Padasuhu 500 0 C nitrogen teradsorpsi cepat pada permukaan besi.
3. Bagaimana isoterm adsorpsi Freundlich untuk adsorpsi gas pada permukaan zat
padat? Apapembatasannya?
Jawab :
Isoterm Freundlich berlaku untuk gas yang bertekanan rendah, semua tempat di
atas permukaannya tidak sama dan lapisan molekul gas padat, zat padat bersifat
multilayer dengan persamaan :
V + k p 1/n
dalam hal ini :
v = gas yang teradsorpsi pada setiap suhu, satuan massa adsorpsi pada tekanan
gas
k,n = konstanta dengan n > 1
p = tekanan gas yang teradsorpsi
batasannya adalah kelarutan harus ideal. Nilai batasannya adalah Vm, yaitu
volume gas yang diserap ( 0 C, 76 mmHg). Vm tidak akan dicapai walaupun
tekanan gas yang dibutuhkan untuk menutupi satuan-satuan massa adsorben

12

4. Mengapa isoterm Freundlich untuk adsorpsi gas pada permukaan zat padat kurang
memuaskan dibandingkan dengan isoterm adsopsi Langmuir? Bagaimana bentuk
isotherm adsorpsi yang berakhir ini?
Jawab :
Isotherm Freundlich untuk adsorpsi gas pada permukaan zat padat kurang baik
atau memuaskan. Hal ini terjadi karaena pada adsorpsi Freundlich situs-situs aktif
pada permukaan adsorben bersifat heterogen. Gas merupakan campuran yang
homogeny sehingga kurang cocok jika digunakan dalam isotherm Freundlich.
Batasannya : adsorpsi Freundlich situs-situs aktif pada permukaan adsorben
bersifat heterogen. Juga karena pada Isoterm Freundlich untuk adsorpsi gas
permukaan zat padat kurang memuaskan karena nilai V/m tidak akan dicapai
walaupun

tekannaya

diperbesar.

Sedangkan

pada

isoterm

Langmuir

mengemukakan asumsi yang lebih baik.


5. Bagaimanakah bentuk kurva isotherm adsorpsi Langmuir (antara n dengan C
untuk larutan atau V/m dengan P untuk gas)?
n

c
6. Turunkanpersamaan (1). C!
x/m = k. Cn
log x/m = log kCn
log x/m = log k + n log C

13

J.

LAMPIRAN

Data Pengamatan dan Perhitungan


Diketahui [NaOH] = 0,25 N
Asam klorida (HCl) yang diadsorpsi = 100 mL

Konsentrasi awal

Konsentrasi akhir

M1 . V1 = M2 . V2

M1 . V1=M2 . V2

M1 . 10 = 0,25 . 18,25

M1 . 10 = 0,25 . 15,53

M1 = 0,456

M1 = 0,388

M1 . V1 = M2 . V2

M1 . V1=M2 . V2

M1 . 10 = 0,25 . 7,84

M1 . 10 = 0,25 . 7,75

M1 = 0,196

M1 = 0,193

M1 . V1 = M2 . V2

M1 . V1=M2 . V2

M1 . 10 = 0,25 . 3,565

M1 . 25 = 0,25 . 9,4

M1 = 0,1035

M1 = 0,094

M1 . V1 = M2 . V2

M1 . V1=M2 . V2

M1 . 10 = 0,25 . 2,1

M1 . 5 0= 0,25 . 8,75

M1 = 0,0525

M1 = 0,04375

M1 . V1 = M2 . V2

M1 . V1=M2 . V2

M1 . 10 = 0,25 . 1,2

M1 . 10 = 0,25 . 4

M1 = 0,03

M1 = 0,02

M1 . V1 = M2 . V2

M1 . V1=M2 . V2

M1 . 10 = 0,25 . 0,89

M1 . 10 = 0,25 . 2,25

M1 = 0,001475

M1 = 0,05625

14

Jumlah zat yang teradsorbsi (x)


1.

x1

= (Cawal-Cakhir) x Mr x V / 1000
= 0,068 x 36,4627 x 100 / 1000
= 2,4794 gram

2.

x2

= (Cawal-Cakhir) x Mr x V / 1000
= 0,003 x 36,4627 x 100 / 1000
= 0,1094 gram

3.

x3

= (Cawal-Cakhir) x Mr x V / 1000
= 0,0095 x 36,4627 x 100 / 1000
= 0,3537 gram

4.

x4

= (Cawal-Cakhir) x Mr x V / 1000
= 0,00875 x 36,4627 x 100 / 1000
= 0,3190 gram

5.

x5

= (Cawal-Cakhir) x Mr x V / 1000
= 0,01 x 36,4627 x 100 / 1000
= 0,3646 gram

6.

x6

= (Cawal-Cakhir) x Mr x V / 1000
= 0,0035 x 36,4627 x 100 / 1000
=0,1276 gram

15

16