Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PENDAHULUAN

PASIEN DENGAN KEPUTUSASAAN

OLEH:
NI LUH PUTU DESY INDRAWATI
NIM:1201030300

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KENDEDES MALANG
NOVEMBER 2014

KEPUTUSASAAN

A. Definisi
Keputusasaan merupakan keadaan subjektif seorang individu yang
melihat keterbatasan atau tidak ada alternatif atau pilhan pribadi yang tersedia
dan tidak dapat memobilisasi energi yang dimilikinya (NANDA, 2005).
Keputusasaan adalah keadaan emosional ketika individu merasa bahwa
kehidupannya terlalu berat untuk dijalani (dengan kata lain mustahil).
Seseorang yang tidak memiliki harapan tidak melihat adanya kemungkinan
untuk memperbaiki kehidupannya dan tidak menemukan solusi untuk
permasalahannya, dan ia percaya bahwa baik dirinya atau siapapun tidak
akan bisa membantunya.
Keputusasaan berkaitan dengan kehilangan harapan, ketidakmampuan,
keraguan duka cita, apati, kesedihan, depresi, dan bunuh diri (Cotton dan
Range, 1996 ).
Menurut (Pharris, Resnick, dan Ablum, 1997), mengemukakan bahwa
keputusasaan merupakan kondisi yang dapat menguras energi.
Keputusasaan merupakan status emosional yang berkepanjangan dan
bersifat subyektif yang muncul saat individu tidak melihat adanya alternatif lain
atau pilihan pribadi untuk mengatasi masalah yang muncul atau untuk
mencapai apa yang diiginkan serta tidak dapat mengerahkan energinya untuk
mencapai tujuan yang ditetapkan (Carpenito, 563).
B. Faktor penyebab
Beberapa faktor penyebab orang mengalami keputusasaan yaitu :
1. Faktor kehilangan
2. Kegagalan yang terus menerus
3. Faktor Lingkungan
4. Orang terdekat ( keluarga )
5. Status kesehatan ( penyakit yang diderita dan dapat mengancam jiwa)
6. Adanya tekanan hidup
7. Kurangnya iman

C. Tanda dan gejala


1. Mayor ( harus ada)
Mengungkapkan atau mengekspresikan sikap apatis yang mendalam,
berlebihan, dan berkepanjangan dalam merespon situasi yang dirasakan
sebagai hal yang mustahil isyarat verbal tentang kesedihan.
a. Fisiologis :
1. Respon terhadap stimulus melambat
2. Tidak ada energi
3. Tidur bertambah
b. Emosional :
1. Individu yang putus asa sering sekali kesulitan mengungkapkan
perasaannya tapi dapat merasakan.
2. Tidak mampu memperoleh nasib baik, keberuntungan dan
pertolongan tuhan.
3. Tidak memiliki makna atau tujuan dalam hidup.
4. Hampa dan letih
5. Perasaan kehilangan dan tidak memiliki apa-apa.
6. Tidak berdaya,tidak mampu dan terperangkap.
c. Individu memperlihatkan :
1. Sikap pasif dan kurangnya keterlibatan dalam perawatan
2. Penurunan verbalisasi
3. Penurunan afek
4. Kurangnya ambisi, inisiatif, serta minat.
5. Ketidakmampuan mencapai sesuatu
6. Hubungan interpersonal yang terganggu
7. Proses pikir yang lambat
8. Kurangnya tanggung jawab terhadap keputusan dan kehidupannya
sendiri.
d. Kognitif :
1. Penurunan

kemampuan

untuk

memecahkan

masalah

dan

kemampuan membuat keputusan


2. Mengurusi masalah yang telah lalu dan yang akan datang bukan
masalah yang dihadapi saat ini
3. Penurunan fleksibilitas dalam proses pikir
4. Kaku ( memikirkan semuanya atau tidak sama sekali )

5. Tidak punya kemampuan berimagenasi atau berharap


6. Tidak dapat mengidentifikasi atau mencapai target dan tujuan yang
ditetapkan
7. Tidak dapat membuat perencanaan, mengatur serta membuat
keputusan
8. Tidak dapat mengenali sumber harapan
9. Adanya pikiran untuk membunuh diri.

2. Minor ( mungkin ada )


a. Fisiologis
1. Anoreksia
2. BB menurun
b. Emosional
1. Individu marasa putus asa terhadap diri sendiri dan orang lain
2. Merasa berada diujung tanduk
3. Tegang
4. Muak (merasa ia tidak bisa)
5. Kehilangan kepuasan terhadap peran dan hubungan yang ia jalani
6. Rapuh
c. Individu memperlihatkan
1. Kontak mata yang kurang mengalihkan pandangan dari pembicara
2. Penurunan motivasi
3. Keluh kesah
4. Kemunduran
5. Sikap pasrah
6. Depresi
d. Kognitif
1. Penurunan kemampuan untuk menyatukan informasi yang diterima
2. Hilangnya persepsi waktu tentang masa lalu, masa sekarang,
masa datang
3. Bingung
4. Ketidakmampuan berkomunikasi secara efektif
5. Distorsi proses pikir dan asosiasi
6. Penilaian yang tidak logis

D. Pohon Masalah
Ketidakberdayaan

Keputusasaan

Harga diri rendah


E. Penatalaksaan medis
1. Psikofarmako
Terapi dengan obat-obatan sehingga dapat meminimalkan
gangguan keputusasaan.
2. Psikoterapi
Adalah terapi kejiwaan yang harus diberikan apabila penderita
telah diberikan terapi psikofarmaka dan telah mencapai tahapan di mana
kemampuan menilai realitas sudah kembali pulih dan pemahaman diri
sudah baik. Psikoterapi ini bermacam-macam bentuknya antara lain
psikoterapi

suportif

dimaksudkan

untuk

memberikan

dorongan,

semangat dan motivasi agar penderita tidak merasa putus asa dan
semangat juangnya.
Psikoterapi

Re-eduktif

dimaksudkan

untuk

memberikan

pendidikan ulang yang maksudnya memperbaiki kesalahan pendidikan


di waktu lalu, psikoterapi rekonstruktif dimaksudkan untuk memperbaiki
kembali

kepribadian

yang

telah

mengalami

keretakan

menjadi

kepribadian utuh seperti semula sebelum sakit, psikologi kognitif,


dimaksudkan untuk memulihkan kembali fungsi kognitif (daya pikir dan
daya ingat) rasional sehingga penderita mampu membedakan nilai- nilai
moral etika. Mana yang baik dan buruk, mana yang boleh dan tidak,
dsbnya.
Psikoterapi perilaku dimaksudkan untuk memulihkan gangguan
perilaku yang terganggu menjadi perilaku yang mampu menyesuaikan
diri, psikoterapi keluarga dimaksudkan untuk memulihkan penderita dan
keluarganya.

3. Terapi Psikososial
Dengan terapi ini dimaksudkan penderita agar mampu kembali
beradaptasi dengan lingkungan sosialnya dan mampu merawat diri,
mampu mandiri tidak tergantung pada orang lain sehingga tidak menjadi
beban keluarga. Penderita selama menjalani terapi psikososial ini
hendaknya masih tetap mengkonsumsi obat psikofarmako.

4. Terapi Psikoreligius
Terapi keagamaan ternyata masih bermanfaat bagi penderita
gangguan jiwa. Dari penelitian didapatkan kenyataan secara umum
komitmen agama berhubungan dengan manfaatnya di bidang klinik.
Terapi keagamaan ini berupa kegiatan ritual keagamaan seperti
sembahyang, berdoa, mamanjatkan puji-pujian kepada Tuhan, ceramah
keagamaan, kajian kitab suci dsb.

5. Rehabilitasi
Program

rehabilitasi

penting

dilakukan

sebagi

persiapan

penempatan kembali kekeluarga dan masyarakat. Program ini biasanya


dilakukan di lembaga (institusi) rehabilitasi misalnya di suatu rumah sakit
jiwa. Dalam program rehabilitasi dilakukan berbagai kegiatan antara lain;
terapi kelompok, menjalankan ibadah keagamaan bersama, kegiatan
kesenian, terapi fisik berupa olah raga, keterampilan, berbagai macam
kursus, bercocok tanam, rekreasi, dsbnya. Pada umumnya program
rehabilitasi ini berlangsung antara 3-6 bulan. Secara berkala dilakukan
evaluasi paling sedikit dua kali yaitu evaluasi sebelum penderita
mengikuti program rehabilitasi dan evaluasi pada saat si penderita akan
dikembalikan ke keluarga dan ke masyarakat.