Anda di halaman 1dari 23

Mengapa harus TRUERMS ?

oyunlar

Beban non linier memerlukan alat ukur dengan fitur true-rms


agar dapat membaca sinyal dengan akurat
Root Mean Square
Berbeda dengan sinyal DC yang memiliki nilai aktual tetap, sinyal AC memiliki nilai
aktual yang terus berubah secara periodik. Pengukuran sinyal AC dilakukan dengan
mencari nilai ekuivalen DC nya, nilai ekuivalen tersebut dikenal dengan istilah nilai
RMS atau nilai efektif. Dalam terminologi elektrik, nilai RMS AC akan ekuivalen
dengan DC heating value nya.

Mayoritas alat ukur yang saat ini beredar dipasaran adalah alat ukur berteknologi MEAN
(Averaging Rectified). Metode MEAN sangat populer digunakan karena memiliki
prosedur kalkulasi yang lebih mudah dan ekonomis. Pada sinyal yang berbentuk sinus
murni, nilai dari MEAN akan mirip dengan nilai RMS sehingga dapat dikatakan
bernilai sama. Pada pengukuran sinyal sinus murni yang memiliki nilai puncak 1 V
(gambar 1), terlihat bahwa nilai 0,6366 (MEAN) mendekati nilai 0,7071 (RMS). Alat
ukur berbasis MEAN akan menampilkan nilai yang didapatkan dari hasil penghitungan
MEAN yang kemudian dikalikan dengan bilangan 1,11. Nilai hasil perkalian inilah yang
akan tampil pada display alat ukur.
Ketika signal tak lagi berbentuk sinus...
Sebagian besar peralatan elektronik modern menggunakan sumber tegangan AC yang
telah disearahkan. Beban ini sering dikenal dengan istilah beban non-linier. Beban nonlinier memiliki karakteristik dimana sinyal arus yang ditarik dari jala-jala PLN tidak lagi
proporsional terhadap sinyal sinus tegangan dan mengalami distorsi (gambar 2b),
bandingkan dengan gambar 2a. Pada perkembangannya, ekspansi beban non linier telah
merambah ke dunia industri seiring dengan maraknya penggunaan inverter dan switching
power supply. Bentuk sinyal output dari inverter pun tak lagi berbentuk sinus, melainkan
berupa rangkaian sinyal square seperti gambar 2c. Dengan kondisi tersebut, proses
trouble shooting akan menghadapi masalah bila kita tidak menggunakan alat ukur yang

tepat. Kesalahan dalam pemilihan alat ukur dapat mengakibatkan ketidakakuratan hasil
pengukuran. Untuk itulah diperlukan alat ukur yang mampu membaca nilai RMS pada
semua kondisi sinyal tanpa terkecuali.

Masih relevankah MEAN dengan RMS untuk kondisi kelistrikan sekarang....?


Alat ukur berbasis MEAN dirancang untuk menghitung nilai pendekatan terhadap nilai
RMS pada beban-beban linier seperti motor induksi, heater dan lampu pijar. Beban linier
akan memiliki pola arus yang berbentuk sinus sehingga hasil pembacaan alat ukur akan
mendekati nilai RMS sinyal. Namun, metode MEAN tidak akan akurat bila diaplikasikan
pada beban-beban non linier, mengapa? Jawabannya sederhana, beban non linier
memiliki pola gelombang arus yang tak lagi berbentuk sinus. Bila beban non linier di
ukur dengan alat ukur berteknologi MEAN, maka hasil pembacaan akan jauh lebih kecil.
Beberapa sumber menyatakan bahwa penyimpangan nilai yang terbaca dapat mencapai
hingga 40% lebih rendah daripada nilai RMS yang sebenarnya.

Kenapa harus terbaca dalam RMS ?


Komponen-komponen dalam sistem elektrik seperti fuse, circuit breaker, bus bar dan
sebagainya diratifikasi dalam arus RMS. Ratifikasi tersebut berhubungan dengan aspek
daya tahan terutama terhadap disipasi panas. Misalnya, kita akan melakukan pengecekan
overloading pada jalur elektrik. Maka kita harus mengetahui terlebih dahulu berapa nilai
rms arus yang mengalir pada jalur tersebut. Hasil pengukuran kemudian kita bandingkan
dengan nilai ratifikasi (rated value) yang biasanya tertera pada label. Bila ternyata arus

yang mengalir terdeteksi lebih besar dari batas ratifikasi, maka dapat disimpulkan jalur
tersebut overload. Proses pembandingan ini tidak akan menjadi masalah bila saat
melakukan pengukuran, kita menggunakan clamp berfitur true rms. Clamp true rms
memiliki kemampuan dalam melakukan kalkulasi heating value sesuai formula rms.
Artinya, seperti apapun bentuk sinyal arus tidak akan mempengaruhi pembacaan nilai
rms. Tapi pengukuran akan menimbulkan masalah baru jika kita melakukannya dengan
menggunakan alat ukur berbasis MEAN. Alat ukur berteknologi MEAN akan
memberikan nilai pembacaan dengan margin error hingga mencapai 40 % lebih rendah,
tergantung dari jenis sinyalnya. Dapat kita bayangkan bila sebuah bus bar dengan batas
ratifikasi 1000 A rms dialiri arus yang terdistorsi dan terdeteksi oleh clamp MEAN
dengan nilai 800 A. Maka nilai rms arus sebenarnya mengalir pada bus bar tersebut dapat
mencapai diatas1000A.
- See more at: http://www.tridinamika.com/news/news-details/mengapa-harustrue-rms#sthash.GUXXB0Ma.dpuf
Bagian ini menjelaskan tentang bagaimana mengkaji kinerja motor listrik.
1 Efisiensi motor lisrik
Motor mengubah energi listrik menjadi energi mekanik untuk melayani beban tertentu.
Pada proses ini, kehilangan energi ditunjukkan dalam Gambar 11.

Efisiensi motor ditentukan oleh kehilangan dasar yang dapat dikurangi hanya oleh
perubahan pada rancangan motor dan kondisi operasi. Kehilangan dapat bervariasi dari
kurang lebih dua persen hingga 20 persen. Tabel 1 memperlihatkan jenis kehilangan untuk
motor induksi.

Efisiensi motor dapat didefinisikan sebagai perbandingan keluaran daya motor yang
dirgunakan terhadap keluaran daya totalnya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi adalah:


Usia. Motor baru lebih efisien.
Kapastas. Sebagaimana pada hampir kebanyakan peralatan, efisiensi motor meningkat
dengan laju kapasitasnya.
Kecepatan. Motor dengan kecepatan yang lebih tinggi biasanya lebih efisien.
Jenis. Sebagai contoh, motor kandang tupai biasanya lebih efisien daripada motor cincingeser
Suhu. Motor yang didinginkan oleh fan dan tertutup total (TEFC) lebih efisien daripada
motor screen protected drip-proof (SPDP)
Penggulungan ulang motor dapat mengakibatkan penurunan efisiensi
Beban, seperti yang dijelaskan dibawah

Terdapat hubungan yang jelas antara efisiensi motor dan beban. Pabrik motor membuat
rancangan motor untuk beroperasi pada beban 50-100% dan akan paling efisien pada beban
75%. Tetapi, jika beban turun dibawah 50% efisiensi turun dengan cepat seperti
ditunjukkan pada Gambar 11. Mengoperasikan motor dibawah laju beban 50% memiliki
dampak pada faktor dayanya. Efisiensi motor yang tinggi dan faktor daya yang mendekati
1 sangat diinginkan untuk operasi yang efisien dan untuk menjaga biaya rendah untuk
seluruh pabrik, tidak hanya untuk motor. Untuk alasan ini maka dalam mengkaji kinerja
motor akan bermanfaat bila menentukan
beban dan efisiensinya. Pada hampir kebanyakan negara, merupakan persyaratan bagi
fihak pembuat untuk menuliskan efisiensi beban penuh pada pelat label motor. Namun
demikian, bila motor beroperasi untuk waktu yang cukup lama, kadang-kadang tidak
mungkin untuk mengetahui efisiensi tersebut sebab pelat label motor kadangkala sudah
hilang atau sudah dicat.
Untuk mengukur efisiensi motor, maka motor harus dilepaskan sambungannya dari beban
dan dibiarkan untuk melalui serangkaian uji. Hasil dari uji tersebut kemudian dibandingkan
dengan grafik kinerja standar yang diberikan oleh pembuatnya.
Jika tidak memungkikan untuk memutuskan sambungan motor dari beban, perkiraan nilai
efisiensi didapat dari tabel khusus untuk nilai efisiesi motor. Nilai efisiensi disediakan

untuk:
Motor dengan efisiesi standar 900, 1200, 1800 dan 3600 rpm
Motor yang berukuran antara 10 hingga 300 HP
Dua jenis motor: motor anti menetes terbuka/ open drip-proof (ODP) dan motor yang
didinginkan oleh fan dan tertutup total/ enclosed fan-cooled motor (TEFC)
Tingkat beban 25%, 50%, 75% dan 100%.
1. Mengapa mengkaji beban motor
Karena sulit untuk mengkaji efisiensi motor pada kondisi operasi yang normal, beban
motor dapat diukur sebagai indikator efisiensi motor. Dengan meningkatnya beban, faktor
daya dan efisinsi motor bertambah sampai nilai optimumnya pada sekitar beban penuh.
2. Bagaimana mengkaji beban motor
Persamaan berikut digunakan untuk menentukan beban:

Dimana,
= Efisiensi operasi motor dalam %
HP = Nameplate untuk Hp
Beban = Daya yang keluar sebagai % laju daya
Pi = Daya tiga fase dalam kW
Survei beban motor dilakukan untuk mengukur beban operasi berbagai motor di seluruh
pabrik. Hasilnya digunakan untuk mengidentifikasi motor yang terlalu kecil.
(mengakibatkan motor terbakar) atau terlalu besar (mengakibatkan ketidak efisiensian).
US DOE merekomendasikan untuk melakukan survei beban motor yang beroperasi lebih
dari 1000 jam per tahun. Terdapat tiga metode untuk menentukan beban motor bagi motor
yang beroperasi secara individu:
Pengukuran daya masuk. Metode ini menghitung beban sebagai perbandingan antara daya
masuk (diukur dengan alat analisis daya) dan nilai daya pada pembebanan 100%.
Pengukurann jalur arus. Beban ditentukan dengan membandingkan amper terukur (diukur
dengan alat analisis daya) dengan laju amper. Metode ini digunakan bila faktor daya tidak
dketahui dan hanya nilai amper yang tersedia. Juga direkomendasikan untuk menggunakan
metode ini bila persen pembebanan kurang dari 50%
Metode Slip. Beban ditentukan dengan membandingkan slip yang terukur bila motor
beroperasi dengan slip untuk motor dengan beban penuh. Ketelitian metode ini terbatas
namun dapat dilakukan dengan hanya penggunaan tachometer (tidak diperlukan alat
analisis daya).
Karena pengukuran daya masuk merupakan metode yang paling umum digunakan, maka
hanya metode ini yang dijelaskan untuk motor tiga fase.

3. Pengukuran daya masuk


Beban diukur dalam tiga tahap.
Tahap 1. Menentukan daya masuk dengan menggunakan persamaan berikut:

Dimana:
Pi = Daya tiga fase dalam kW
V = RMS (akar kwadrat rata-rata) tegangan, nilai tengah garis ke garis 3 fase
I = RMS arus, nilai tengah 3 fase
PF = Faktor daya dalam desimal
Alat analisis daya dapat mengukur nilai daya secara langsung. Industri yang tidak memiliki
alat analisis daya dapat menggunakan multi-meters atau tong-testers untuk mengukur
tegangan, arus dan faktor daya untuk menghitung daya yang masuk.
Tahap 2. Menentukan nilai daya dengan mengambil nilai pelat nama/nameplate atau
dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:

Dimana :
Pr = Daya masuk pada beban penuh dalam kW
HP = Nilai Hp pada nameplate
r = Efisiensi pada beban penuh (nilai pada nameplate atau dari tabel
efisiensi motor)

Dimana :
Beban = Daya keluar yang dinyatakan dalam % nilai daya
Pi = Daya tiga fase terukur dalam kW
Pr = Daya masuk pada beban penuh dalam kW
3.2.4 Contoh
Pertanyaan:
Pengamatan terhadap pengukuran daya berikut dilakukan untuk motor induksi tiga fase 45
kW dengan efisiensi beban penuh 88%.
V = 418 Volt

I = 37 Amp
PF = 0.81
Hitung beban.
Jawab:
Daya Masuk = (1,732 x 418 x 37 x 0,81)/1000 = 21,70 kW
% Pembebanan = [21,70 /(45/0,88)] x 100 = 42,44 %

Menghitung Arus, Daya, Kecepatan, dan Torsi


Motor Listrik AC
Motor listrik adalah suatu perangkat elektromagnetik yang digunakan
untuk mengkonversi atau mengubah energi listrik menjadi energi
mekanik. Hasil konversi ini atau energi mekanik ini bisa digunakan untuk
berbagai macam keperluan seperti digunakan untuk memompa suatu
cairan dari satu tempat ke tempat yang lain pada mesin pompa, untuk
meniup udara pada blower, digunakan sebagai kipas angin, dan keperluan
keperluan yang lain. Berdasarkan jenis dan karakteristik arus listrik yang
masuk dan mekanisme operasinya motor listrik dibedakan menjadi 2,
yaitu motor AC, dan motor DC. Namun pada artikel kali ini kita akan
membahas sedikit tentang motor AC, beserta cara menghitung arus,
daya, dan kecepatan pada motor tersebut.
Ada 2 jenis motor pada motor AC, yaitu :
1. Motor sinkron, yaitu motor AC (arus bolak-balik) yang bekerja pada
kecepatan tetap atau konstan pada frekuensi tertentu. Kecepatan putaran
motor sinkron tidak akan berkurang(tidak slip) meskipun beban
bertambah, namun kekurangan motor ini adalah tidak dapat menstart
sendiri. Motor ini membutuhkan arus searah (DC) yang dihubungkan ke
rotor untuk menghasilkan medan magnet rotor. Motor ini disebut motor
sinkron karena kutup medan rotor mendapat tarikan dari kutup medan
putar stator hingga turut berputar dengan kecepatan yang sama
(sinkron).
2. Motor induksi, yaitu motor AC yang paling umum digunakan di industri
industri. Pada motor DC arus listrik dihubungkan secara langsung ke rotor
melalui sikat-sikat(brushes) dan komutator(commutator). Jadi kita bisa
mengatakan motor DC adalah motor konduksi. Sedangkan pada motor AC,
rotor tidak menerima sumber listrik secara konduksi tapi dengan induksi.
Oleh karena itu motor AC jenis ini disebut juga sebagai motor induksi.
Mungkin sudah cukup penjelasan dan pengertian singkat tentang motor
listrik. Dan selanjutnya akan dijelaskan sedikit tentang rumus-rumus dasar
perhitungan pada motor. seperti menghitung arus/ampere motor,
menghitung kecepatan motor, menghitung daya/beban motor, dan lainlain.
Rumus menghitung kecepatan sinkron, jika yang diketahui
frekuensi dan jumlah kutup pada motor AC.

Contoh : hitung kecepatan putar motor 4 poles/kutup jika motor


dioperasikan dengan frekuensi 50 hz.
ns = (120. F)/ P = (120 . 50)/ 4 = 1500 rpm
menghitung slip pada motor

Contoh : hitung slip motor jika diketahui kecepatan motor 1420 rpm.
Dengan kecepatan sinkron yang sama dengan hasil diatas.
% slip = ((ns - n)/ ns) x 100 = ((1500 - 1420)/ 1500)x 100 = 5 %
Menghitung arus/ampere motor ketika diketahui daya(watt),
tegangan(volt), dan faktor daya(cos ).

Contoh. Hitung besarnya arus(ampere) motor dengan daya 1 kw dan


tegangan 220V dengan faktor daya 0,88.
I = P / V. Cos .....P = 1 kw = 1000 watt
I = 1000/(220 . 0,88) = 5 Ampere
Menghitung daya motor 3 phasa ketika diketahui arus, tegangan,
dan faktor daya.

Contoh. Hitung daya motor induksi 3 phasa yang memiliki arus 9,5 A
dengan tegangan 380V dan faktor daya/ cos 0,88.
P = 3 .V. I . cos = 1,73 . 380 . 9,5 . 0,88 = 5495 watt atau dibulatkan
jadi 5,5 KW.
Menghitung daya output motor
P output = 3 .V. I . eff . cos
Contoh. Hitung daya output motor jika diketahui seperti data diatas
dengan efisiensi motor 90 % .

P output = 3 .V. I . eff . cos = 1,73 . 380 . 9,5 . 0,9 . 0,88 = 4946 watt
atau dibulatkan jadi 5 KW atau 6,6 HP
Menghitung efisiensi daya motor

Contoh. Dengan daya input motor 5 KW dan daya output 4,5 KW. Hitung
efisiensi daya pada motor tersebut.
= (Pout / P)x 100% = (4500/5000)x 100% = 90 %
Menghitung daya semu motor (VA)
Pada motor 1 phasa
S (VA) = V . I
Pada motor 3 phasa
S = 3 . V . I

Menghitung torsi motor jika diketahui daya motor dan kecepatan


motor.
Hubungan antara horse power, torsi dan kecepatan.

Contoh. Hitung berapa torsi motor 10 HP. Dengan kecepatan 1500 rpm.

T = (5250 . HP)/n = (5250 . 10)/ 1500 = 35 lb ft = 45,6 Nm


Menghitung torsi motor
1. T = F . D
Dimana :
T = torsi motor (dalam lb ft)
F = gaya (pon)
D = jarak (ft)
2. T = F . D
Dimana :
T = torsi motor (Nm)
F = gaya (Newton)
D = jarak (meter)
1 lb ft = 0,1383 kgm =1,305 Nm
1 kgm = 7,233 lb ft = 9,807 Nm

Mengukur Ampere Motor Listrik


Sebelum mulai belajar mengukur ampere motor listrik, anda harus tahu,
apa sih tujuan mengukur ampere / arus motor listrik itu? Perlu anda
ketahui, semua peralatan listrik itu mempunyai life time. Namun ada
beberapa hal atau sebab yang bisa memperpendek life time atau umur
dari peralatan listrik tersebut. Oleh karena itu perlunya perawatan dan
pengawasan secara berkala untuk memperpanjang umur dari peralatan
listrik tersebut. Begitu juga dengan motor listrik, tidak selamanya akan
beroperasi dengan normal, adakalanya motor listrik akan mengalami
kerusakan, baik itu kerusakan berat atau ringan. Dan dengan mengukur
arus atau ampere yang mengalir pada motor, akan dapat diketahui motor
tersebut dalam keadaan normal, atau tidak normal. Dari hasil pengukuran
ini, akan dilakukan pengecekan pada motor yang beroperasi dengan arus
yang tidak normal. Sehingga kerusakan motor pun dapat dicegah atau
dihindari.
Untuk mengetahui atau mengukur arus listrik(ampere) yang mengalir
pada beban, bisa digunakan alat ukur ampere meter yang dipasang
secara seri. Namun pengukurannya akan menyulitkan dan mengganggu
pengoperasian motor atau mesin, karena dalam pemasangannya
diperlukan penyambungan dengan rangkaian. Pengukuran dengan
ampere meter ini lebih cocok bila alat ukurnya dipakai secara permanen
pada rangkaian tersebut. Dan untuk pengukuran yang lebih mudah dan
lebih flexible akan lebih baik pengukurannya menggunakan clamp meter
atau yang biasa disebut tang ampere. karena penggunaan tang ampere
ini lebih mudah disesuaikan dalam melakukan pengukurannya, dan tanpa
mengganggu rangkaian tersebut.

Berikut ini contoh cara menggunakan tang ampere untuk mengukur arus
beban motor listrik 3 fasa.

1. Putar selector switch pada skala ampere, lihat kapasitas ampere pada
MCB atau pada beban untuk menghindari ampere beban lebih besar dari
skala ampere pada alat ukur. (ingat : arus beban yang lebih tinggi dari
skala alat ukur dapat merusak alat ukur).
2. Pasang tang ampere pada salah satu kabel fasa tersebut. Lihat seperti
pada gambar 2 diatas. pengambilan kabel pengukuran bisa setelah
kontaktor dan OCR(over current relay) ataupun sebelum kontaktor. Anda

bisa juga mengukurnya dari sebelum MCB asalkan tidak ada percabangan
beban(pararel).
3. Angka hasil pengukuran arus akan keluar di monitor tang ampere.
Gambar nomor 3.
4. Ukur semua atau ketiga kabel fasa tersebut (R, S, T).

Dari hasil pengukuran RST tersebut batas toleransi perbedaan antar fasa
adalah +0,5 A ~ -0,5A . Jika perbedaan hasil pengukuran antar fasa lebih
besar dari itu, maka perlu pengecekan lebih lanjut karena hal itu juga
merupakan abnormal. Hal ini terjadi akibat beberapa sebab, seperti:
Tegangan listrik RST tidak seimbang, bisa juga disebabkan dari kontaktor,
kabel, MCB, ataupun memang dari sumber PLN.
Isolasi belitan motor yang sudah jelek, mungkin disebabkan karena sudah
lewat lifetime, panas, dan lain-lain.
Hambatan atau impedansi(Z) dari belitan motor yang tidak seimbang.
Jika dari hasil pengukuran arus atau ampere lebih tinggi dari arus nominal
yang tertera pada nameplate motor. maka dalam kondisi ini akan sangat
berbahaya atau mengancam motor, karena hal ini menyebabkan panas
yang bisa berakibat kebakaran pada belitan motor. Kebanyakan hal
seperti ini terjadi karena :
Bearing seret atau aus, hal ini kemungkinan disebabkan karena; life time,
panas, kopling beban tidak center, impeller tidak ballance, dan lain-lain.
Beban terlalu berat (overload), disebabkan karena,
jammed/macet/menyumbat, daya motor terlalu kecil (salah pilih motor),
Phase loss(hilangnya salah satu fasa), kebanyakan hal ini terjadi karena
rusaknya kontak utama pada kontaktor, namun biasanya juga terjadi
karena diakibatkan dari sumber PLN yang terputus. Memang sebab
ampere motor naik karena phase losses jarang terjadi namun phase loss
inilah yang sangat berbahaya pada motor, karena kerusakan motor yang
disebabkan hilangnya salah satu tegangan fasa ini(phase loss) tidak bisa
diperkirakan/diduga oleh mekanik. Ketika salah satu tegangan fasa hilang
maka dengan seketika ampere motor akan naik dengan drastis, dan
dengan seketika pula belitan motor akan terbakar/terputus. Maka dari itu
pentingnya sebuah pengaman motor, seperti OCR(Over Current relay)
untuk mematikan sistem instalasi motor jika terjadi over current/arus
lebih.

Untuk mengetahui apa yang menyebabkan arus atau ampere yang begitu
tinggi, maka diperlukan pengecekan satu-persatu. Berikut ini adalah
langkah-langkah yang harus diambil bila hasil pengukuran ampere motor
abnormal (ampere tinggi /over current):
1. Matikan motor atau mesin, matikan juga MCB motor tersebut demi
keselamatan.
2. Cek sumber tegangan RST yang masuk ke motor,(gunakan ohm meter
untuk mengetahui kondisi kontaktor, kabel, dan motor), jika tidak ada
masalah dengan sumber tegangan motor, dan motor, lanjutkan dengan
mengecek sebab-sebab mekanis,

3. Lepaskan motor dari beban (seperti; mesin, impeller, pompa, kompresor,


atau beban-beban motor lainnya).
4. Jalankan motor tanpa beban secara manual dengan tangan, apa putaran
motor seret atau terdengar suara bearing yang rusak. Kerusakan bearing
yang tidak terlalu parah, tidak akan mengeluarkan suara yang keras,
sehingga diperlukan alat bantu stetoskop. Jika tidak punya stetoskop, coba
jalankan motor tanpa beban dengan tegangan listrik secara hati-hati
(awas bahaya putaran motor). lalu perhatikan suara motor kembali, panas
pada body motor, dan ampere motor yang tanpa beban ini. jika tidak ada
masalah di motor, lanjutkan pengecekan pada beban atau mesin.
5. Pengecekan beban ini, tidak bisa dijelaskan secara rinci karena
tergantung dari jenis beban.
- Jika pada beban impeller, apakah impellernya seimbang? perlu diketahui,
impeller yang tidak seimbang mengakibatkan motor panas, bearing rusak
dan arus meningkat.
- Jika pada beban conveyor,apakah jalannya conveyor berat? apakah
conveyornya tidak macet,? Apa jalannya conveyor tidak terhambat oleh
suatu benda? apa bearing-bearing roll conveyor dalam kondisi baik?
- Jika pada beban pompa, apa pompa jalannya lancar dan tidak berat? Apa
kopling motor dengan pompa center? Dan lain sebagainya.
- Pengecekan yang sama juga diperlukan pada beban-beban yang lain.
Perlu diingat, semakin berat beban untuk berputar, berarti semakin besar
daya yang dibutuhkan, Dan dengan daya yang dibutuhkan semakin
besar(P) dan dengan tegangan(V) dan faktor daya(cos ) yang tetap,
maka ampere/arus listriklah(I) yang meningkat. Ingat rumus daya aktif, P
= V . I . cos .
Sampai disini artikel tentang pengukuran ampere motor listrik-nya.
Semoga bisa bermanfaat. Baca juga artikel yang lainnya tentang
menghitung arus, daya, kecepatan, dan torsi motor.

MESIN ASYNKRON ATAU MOTOR TAK


SEREMPAK
Hmm.. Setelah bingung mencari materi apa yang ingin di postingkan, akhirnya saya
menemukan materi ini. karena situasi ayng sedang sibuk berbarengan dengan tugas
kuliah yang menumpuk, maka hanya ini yang dapat saya postingkan. Semoga
bermanfaat.
Motor tidak serempak dibedakan menjadi dua jenis. Yaitu :
1. Motor iduksi 1 phase.
2. Motor induksi 3 phase.

1.
a.
2.
a.

1.
2.

Ditinjau dari rotor yang digunakan adalah :


Rotor lilit.
Motor jenis ini sering disebut dengan motor cincin serat. Rotor jenis ini digunakan pada
motor induksi 3 phase yang berdaya besar.
Rotor sangkar.
Motor jenis ini sering disebut dengan motor hubung singkat. Rotor ini digunakan pada motor
induksi 1 phase yang berdaya kecil.
Motor induksi 3 fase memiliki beberapa bagian. Diantaranya adalah :
Inti stator. Pada permukaan inti stator terdapat alur-alur stator tempat untuk meletakkan
lilitan stator. Inti stator terbuat dari bahan feromagnetik yang berlapis-lapis.
Lilitan stator. Lilitan stator ini merupakan tempat untuk menghasilkan garis gaya magnet atau
fluk magnet. Sehingga diperoleh medan magnet putar.

3. Rotor sangkar. Terdiri dari sejumlah batang yang dihubungkan sedemikian rupa dengan
duabuah gelang, sehingga menyerupai suatu sangkar. Batang dipasang secara aksial atau agak
miring dan pada ujung-ujungnya diikat dengan sebuah gelang.
4. Rotor lilit. Pada permukaannya terdapat lilitan rotor.
Secara umum, jumlah putaran medan magnet stator sering disebut dengan putaran sinkron
(putaran serempak) dapat ditentukan dengan rumus :
Dengan keterangan :
N : Jumlah putaran sinkron medan magnet stator (RPM).
p : Jumlah pasang kutub.
f : frekwensi sumber (Hz).
Sedangkan untuk menghitung besarnya slip yang dialami oleh motor adalah :

Dengan keterangan :
S : Slip
Ns : Jumlah putaran pada stator.
Nr : Jumlah putaran pada rotor.
Untuk menghitung besarnya arus yang mengalir pada lilitan rotor adalah :

Dengan keterangan :
Err : GGL induksi lilitan rotor saat jalan perfase.
S : Slip.
Rr: Tahanan lilitan rotor perfase.
Ir : Arus lilitan rotor perfase.
Xr0 : Reaktansi lilitan rotor.
Sedangkan untuk menghitung rugi-rugi pada lilitan (P2Cu) adalah :
Dengan keterangan :
P2cu : Rugipada lilitan.
Ir : Arus yang mengalir pada lilitan rotor perfase.
Rr : Tahanan lilitan rotor per fasa.
Sedangkan untuk menghitung daya keluran rotor adalah :
Dengan keterangan :
P2 : Daya keluaran pada motor.
Ir : Arus pada lilitan rotor.
Rr : Tahanan lilitan rotor perfasa.

S : Slip.
Sedangkan untuk menghitung daya masukan pada motor :
Atau untuk daya 3 phase
Dengan keterangan :
P1 : Daya masukan motor.
Vs : Tegangan sumber perphase.
Is : Arus pada lilitan stator.
Untuk menghitung daya pada celah udara adalah :

Dari ketiga persamaan untuk menghitung daya pada celah udara, maka didapat :
Dengan keterangan :
S : Slip.
Ir : Arus pada rotor.
Rr : Tahanan lilitan rotor perphase.
Er0 : GGL induksi pada lilitan rotor saat diam.
Zrr : Impedansi lilitan rotor.
P12 : Daya pada celah udara.
Untuk menghitung daya pada rotor :
Dengan keterangan :
P2 : Daya pada rotor.
S : Slip.
Ns : Jumlah putaran pada stator.
Nr : Jumlah putaran pada rotor.
P12 : Daya pada celah udara.
P2Cu : Rugi inti tembaga perphase.
Untuk menghitung efisiensi pada motor adalah :
Dengan keterangan :
P12 : Daya pada celah udara.
P1Cu : Rugi tembaga pada stator.
Untuk menghitung torsi pada motor, dapat menggunakan rumus berikut ini :

Dengan keterangan :
To : Torsi keluaran pada motor.
Po : Daya keluaran pada motor.
: 3,14
N : Jumlah putaran dalam RPM.
Untuk memprediksi besarnya torsi terhadap perubahan teganan dapat dihitung melalui
rumus :
Dengan keterangan :
Tmax 1 : Torsi maksimal pada tegangan sebelum diubah.
Tmax 2 : Torsi maksimal setelah ada perubahan tegangan
V1 : Tegangan pada saat torsi maksimal sebelum ada perubahan tegangan.
V2 : Tegangan pada saat torsi maksimal setelah ada perubahan tegangan.

Motor induksi 3 phase merupakan salah satu cabang dari jenis motor listrik
yang merubah energi listrik menjadi energi gerak berupa putaran yang
mempunyai slip antara medan stator dan rotor dengan sumber tegangan 3
phase. Arus rotor motor ini bukan diperoleh dari suatu sumber listrik, tetapi
merupakan arus yang terinduksi sebagai akibat adanya perbedaan relatif
antara putaran rotor dengan medan putar.
Motor induksi 3 phase merupakan motor arus bolak-balik (AC) yang paling
banyak digunakan untuk keperluan dalam kelangsungan proses suatu
industry. Konstruksinya yang sederhana dan kuat mendasari alasan keluasan
pemakaianya. Dengan menggunakan motor induksi 3 phase, banyak hal yang
bisa dilakukan. Salah satunya adalah dengan membalik arah putarannya
sesuai dengan yang diinginkan. Cara yang sering dilakukan dalam pembalikan
arah putaran adalah dengan menukar salah satu phase dengan phase yang
lainnya yang terhubung pada lilitan stator motor.

Motor induksi 3 fasa berputar pada kecepatan yang pada dasarnya adalah
konstan. Kecepatan putaran motor ini dipengaruhi olehfrekuensi, dengan
demikian pengaturan kecepatan tidak dapat dengan mudah dilakukan
terhadap motor ini, namun motor induksi 3 phase merupakan jenis motor
listrik yang paling banyak digunakan pada dunia industri karena sesuai
kebutuhan dan memiliki banyak keuntungan
Prinsip kerja Motor 3 Phasa
Bila sumber tegangan tiga phase dipasang pada kumparan stator, maka pada
kumparan stator akan timbul medan putar dengan kecepatan, ns = 120f/P , ns
= kecepatan sinkron, f = frekuensi sumber, p = jumlah kutup. Medan putar
stator akan memotong konduktor yang terdapat pada sisi rotor, akibatnya
pada kumparan rotor akan timbul tegangan induksi ( ggl ) sebesa E2s =
44,4fn . Keterangan : E = tegangan induksi ggl, f = frekkuensi, N = banyak
lilitan, Q = fluks. Karena kumparan rotor merupakan kumparan rangkaian
tertutup, maka tegangan induksi akan menghasilkan arus ( I ). Adanya arus
dalam medan magnet akan menimbulkan gaya ( F ) pada rotor. Bila torsi awal
yang dihasilkan oleh gaya F pada rotor cukup besar untuk memikul torsi
beban, maka rotor akan berputar searah dengan arah medan putar stator.
Untuk membangkitkan tegangan induksi E2s agar tetap ada, maka diperlukan
adanya perbedaan relatif antara kecepatan medan putar stator (ns) dengan
kecepatan putar rotor (nr). Perbedaan antara kecepatan nr dengan ns disebut
dengan slip ( S ) yang dinyatakan dengan Persamaan S = ns-nr/ns (100%).
Jika ns = nr tegangan akan terinduksi dan arus tidak mengalir pada rotor,
dengan demikian tidak ada torsi yang dapat dihasilkan. Torsi suatu motor
akan timbul apabila ns > nr. Dilihat dari cara kerjanya motor tiga phasa
disebut juga dengan motor tak serempak atau asinkron.

Rumus perhitungan pada motor 3 phase

Jenis Motor Induksi 3 phase Berdasaarkan Bentuk Rotornya


A. Motor induksi 3 phase rotor belitan
Jenis motor induksi ini mempunyai belitan kumparan 3 phase sama seperti
kumparan statornya serta kumparan stator dan rotornya mempunyai jumlah
kutub yang sama. Belitan 3 phase pada motor jenis ini biasanya terhubung Y
dan ujung 3 kawat belitan rotor tersebut di hubungkan pada slipring yang
terdapat pada poros rotor. Belitan-belitan rotor ini kemudian di hubung
singkatkan melalui sikat (brush) yang menempel pada slipring dengan sebuah
perpanjangan kawat untuk tahanan luar. slipring dan sikat merupakan
penghubung belitan rotor ke tahanan luar (fungsi tahanan luar yaitu
membatasi arus awal yang besar). Tahanan luar ini kemudian perlahan
dikurangi hingga nol sebagaimana kecepatan motor yang bertambah telah
mencapai kecepatan penuh. Setelah mencapai kecepatan penuhnya, 3 buah
sikat akan terhubung singkat (tanpa tahanan luar ) maka rotor belitan ini akan
bekerja mirip seperti rotor sangkar. Motor induksi jenis ini mempunyai arus
awal yang rendah dan torsi awal yang tinggi.

Gambar 1. Bentuk rotor belitan


B. Motor indusi 3 phase rotor sangkar
Jenis motor induksi ini terdiri dari tumpukan lempengan besi tipis yang
dilaminasi dan batang konduktor yang mengitarinya, tumpukan besi yang
dilaminasi tersebut disatukan untuk membentuk inti rotor. Alumunium
(sebagai batang konduktor) dimasukan ke dalam slot dari inti rotor untuk
membentuk serangkaian konduktor yang mengelilingi inti rotor. Rotor yang
terdiri dari sederetan batang-batang konduktor yang terletak pada alur-alur
sekitar permukaan rotor, ujung-ujungnya dihubung singkat dengan
menggunakan cincin hubung singkat (shorting ring) atau disebut juga dengan
end ring. Motor induksi jenis ini tidak terdapat komutator sehingga tidak
memercikan bunga api. Motor induksi jenis ini mempunyai arus awal tinggi,
torsi awal rendah dan Kapasitas Overload tinggi. serta Efesiensi dan faktor
kerjanya lebih tinggi dibanding rotor belitan.

Gambar 2. Bentuk rotor sangkar


Rangkaian Starting Star-Delta

Untuk mengurangi besarnya arus start pada motor induksi 3 phase yang
mendekati 7x arus nominal maka dapat dengan menggunakan metode start
Star-Delta. Dengan metode ini motor awalnya disetting pada asutan Star,
setelah motor mencapai kecepatan 80% kecepatan maksimal, sambungan
diubah ke sambungan Delta. Dengan cara ini maka torsi dapat dipertahankan
sedangkan lonjakan arus start dapat ditekan.
Star delta adalah sebuah sistem starting motor yang paling banyak
dipergunakan untuk starting motor listrik. Dengan menggunakan star delta
starter Lonjakan arus listrik yang terlalu tinggi bisa dihindarkan. cara
kerjanya adalah saat start awal motor tidak dikenakan tegangan penuh hanya
0.58 dengan cara dihubung bintang/ star. Setelah motor berputar dan arus
sudah mulai turun dengan menggunakan timer arus dipindahkan menjadi
segitiga/ delta sehingga tegangan dan arus yang mengalir ke motor penuh.
Bentuk dari rangkaian kendali dan rangkaian star-deltany dapat dilihat dari
gambar berikut:

Gambar 3. Rangkaian Kontrol

Gambar 4. Rangkaian Star-delta

Gambar 5. Wiring Diagram star-delta

Konstruksi Motor Induksi 3 Phase


Secara umum motor induksi terdiri dari rotor dan stator. Rotor merupakan
bagian yang bergerak, sedangkan stator bagian yang diam. Diantara stator
dengan rotor ada celah udara (gap) yang jaraknya sangat kecil.

Gambar 6. Konstruksi motor 3 phase

Keuntungan penggunaan motor induksi 3 phase

1. Konstruksi sangat kuat dan sederhana terutama bila motor dengan rotor
sangkar.
2. Harganya relatif murah dan kehandalannya tinggi.
3. Effesiensi relatif tinggi pada keadaan normal, tidak ada sikat sehingga rugi
gesekan kecil.
4. Biaya pemeliharaan rendah karena pemeliharaan motor hampir tidak
diperlukan.
Kerugian Penggunaan Motor Induksi 3 phase
1. Kecepatan tidak mudah dikontrol
2. Power faktor rendah pada beban ringan
4. Arus start biasanya 5 sampai 7 kali dari arus nominal
Artikel diambil dari berbagai sumber.

Anda mungkin juga menyukai