Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

Asuhan Keperawatan pada Klien dengan


Ileus Paralitik

Disusun oleh :
Choirun Nisa Nur Aini
P17420613049

DIV Keperawatan Semarang


Jurusan Keperawatan
Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Semarang
2014/2015

A. Definisi
Ileus adalah gangguan pasase isi usus yang merupakan tanda adanya obstruksi usus akut.
Ileus paralitik adalah obstruksi yang terjadi karena suplai saraf otonom mengalami
paralisis dan peristaltik usus terhenti sehingga tidak mampu mendorong isi sepanjang
usus. Contohnya amiloidosis, distropi otot, gangguan endokrin seperti diabetes mellitus,
atau gangguan neurologis seperti penyakit parkinson.
B. Etiologi
Pembedahan Abdomen
Trauma abdomen: Tumor yang ada dalam dinding usus meluas kelumen usus atau
tumor di luar usus menyebaban tekanan pada dinding usus.
Infeksi: peritonitis, appendicitis, diverticulitis
Pneumonia
Sepsis
Serangan Jantung
Ketidakseimbangan elektrolit, khususnya natrium
Kelainan metabolic yang mempengaruhi fungsi otot
Obat-obatan: Narkotika, Antihipertensi
Mesenteric ischemia
C. Patofisiologi
Perubahan patofisiologi utama pada obstruksi usus adalah lumen usus yang
tersumbat secara progresif akan teregang oleh cairan dan gas (70% dari gas yang ditelan)
akibat peningkatan tekanan intralumen, yang menurunkan pengaliran air dan natrium
dari lumen ke darah. Oleh karena sekitar 8 liter cairan diekskresikan ke dalam saluran
cerna setiap hari ke sepuluh. Tidak adanya absorpsi dapat mengakibatkan penimbunan
intralumen dengan cepat. Muntah dan penyedotan usus setelah pengobatan dimulai
merupakan sumber kehilangan utama cairan dan elektrolit. Pengaruh atas kehilangan ini
adalah penyempitan ruang cairan ekstrasel yang mengakibatkan syok-hipotensi,
pengurangan curah jantung, penurunan perfusi jaringan dan asidosis metabolik.
Peregangan usus yang terus menerus mengakibatkan lingkaran setan penurunan absorpsi
cairan dan peningkatan sekresi cairan ke dalam usus. Efek lokal peregangan usus adalah
iskemia akibat distensi dan peningkatan permeabilitas akibat nekrosis, disertai absorpsi

toksin-toksin bakteri ke dalam rongga peritoneum dan sirkulasi sistemik untuk


menyebabkan bakteriemia.
Pada obstruksi mekanik simple, hambatan pasase muncul tanpa disertai gangguan
vaskuler dan neurologik. Makanan dan cairan yang ditelan, sekresi usus, dan udara
terkumpul dalam jumlah yang banyak jika obstruksinya komplit. Bagian usus proksimal
distensi, dan bagian distal kolaps. Fungsi sekresi dan absorpsi membrane mukosa usus
menurun, dan dinding usus menjadi edema dan kongesti. Distensi intestinal yang berat,
dengan sendirinya secara terus menerus dan progresif akan mengacaukan peristaltik dan
fungsi sekresi mukosa dan meningkatkan resiko dehidrasi, iskemia, nekrosis, perforasi,
peritonitis, dan kematian

D. Pathway
Obat-obatan
(narkotik,
antihipertensi,
opioid, dll)
Iskemi atau
penurunan fungsi
plexus
mesenteriua

Persangsangan
kuat pada saraf
parasimpatis

Gangguan N.
Thoracalis

Menghambat
aktifitas traktus
gastrointestinal

Menghambat
kontraksi otot
organ abdomen

Peristaltik
usus
Otot usus tidak mampu
mendorong makanan
Ileus Paralitik
Stasis isi usus
Feses, cairan, gas,
bakteri terjebak dalam
usus
Perut terasa
penuh

Distensi
abdomen

Anoreksia,
mual,
muntah

Bila distensi makin


bertambah, akan
menghambat suplai
darah ke usus

Bakteri
berkemban
g biak

Risiko infeksi
usus & organ2
sekitar
Suplai darah

Hipoksia

Air, elektrolit, nutrisi


tidak diabsorpsi. Malah
disekresi ke lumen usus

Nutrisi tubuh

Dehidrasi

Lemah

Syok
Hipovolemik

Iskemia

Oliguria

E. Proses Keperawatan
1. Pengkajian
Adapun lingkup pengkajian yang dilakukan pada klien ileus paralitik adalah sebagai
berikut:
a. Identitas pasien meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, agama, alamat,
status perkawinan, suku bangsa.
b. Riwayat Keperawatan
1) Riwayat kesehatan sekarang, meliputi apa yang dirasakan klien saat
pengkajian.
2) Riwayat kesehatan masa lalu, meliputi penyakit yang diderita, apakah
sebelumnya pernah sakit sama.
3) Riwayat kesehatan keluarga, meliputi apakah dari keluarga ada yang menderita
penyakit yang sama.
c. Riwayat psikososial dan spiritual meliputi pola interaksi, pola pertahanan diri,
pola kognitif, pola emosi, dan nilai kepercayaan klien.
d. Kondisi lingkungan meliputi bagaimana kondisi lingkungan yang mendukung
kesehatan klien.
e. Pola aktivitas sebelum dan di rumah sakit meliputi pola nutrisi, pola eliminasi,
personal hygiene, pola aktivitas sehari-hari, dan pola aktivitas tidur.
f. Pengkajian fisik dilakukan secara inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi, yaitu:
1) Inspeksi
Dengan pemeriksaan ini dapat ditemukan kontur dan steifung. Benjolan pada
region inguinal, femoral dan skrotum menunjukkan suatu hernia inkarserata.
Pada intussusepsi dapat terlihat masa abdomen berbentuk sosis. Adanya adhesi
dapat dicurigai bila ada bekas luka operasi sebelumnya. Kadang teraba masa
seperti tumor, invaginasi, hernia, rectal toucher. Selain itu, dapat juga
melakukan pemeriksaan inspeksi pada
a)

System penglihatan posisi mata simetris atau asimetris, kelopak mata


normal atau tidak, pergerakan bola mata normal atau tidak, konjungtiva
anemis atau tidak, kornea normal atau tidak, sklera ikterik atau anikterik,

pupil isokor atau anisokor, reaksi terhadap otot cahaya baik atau tidak.
b) System pendengaran daun telinga, serumen, cairan dalam telinga.
c) System pernafasan kedalaman pernafasan dalam atau dangkal, ada atau
tidak batuk dan pernafasan sesak atau tidak.
d) Sistem hematologi ada atau tidak perdarahan, warna kulit.
e) Sistem saraf pusat tingkat kesadaran, ada atau tidak peningkatan tekanan
intrakranial.

f)

Sistem pencernaan kedalaman mulut, gigi, stomatitis, lidh bersih, saliva,

warna dan konsistensi feses.


g) System urogenital warna BAK.
h) System integument turgor kulit, ptechiae, warna kulit, keadaan kulit,
keadaan rambut.
2) Palpasi

System pencernaan abdomen, hepar nyeri tekan di daerah epigastrium.

System kardiovaskuler pengisian kapiler.

System integument ptechiae.

3) Auskultasi
Hiperperistaltik, bising usus bernada tinggi, borborhygmi. Pada fase lanjut
bising usus dan peristaltik melemah sampai hilang.
4) Perkusi
Ditemukan hipertimpani pada bagian usus.
g. Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan Radiologi
Peleburan udara halus atau usus besar dengan gambaran anak tangga dan air
fluid level. Penggunaan kontras dikontraindikasikan adanya perforasi
peritonitis. Barium enema diindikasikan untuk invaginasi.
2) Endoskopi
Disarankan pada kecurigaan volvulus.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Risiko infeksi.
b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidak mampuan untuk mencerna makanan.
c. Risiko syok hipovolemik.
d. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kegagalan mekanisme regulasi.
3. Intervensi Keperawatan
a. Risiko infeksi.
Tingkatkan intake nutrisi.
Berikan terapi antibiotik bila terinfeksi terhadap bakteri.
Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal.
Monitor hitung granulosit dan WBC.
Instrusikan klien untuk meminum antibiotik sesuai resep.
b. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidak mampuan untuk mencerna makanan.
Monitor mual dan muntah.

c.

Monitor kadar albumin, total protein, Hb dan kadar Ht.


Monitor adanya penurunan berat badan.
Monitor turgor kulit.
Konsultasikan dengan ahli gizi.
Anjurkan klien untuk makan sedikit dengan frekuensi sering.
Risiko syok hipovolemik.
Monitor status sirkulasi Bp, warna kulit, suhu kulit, denyut jantung, HR dan
ritme, nadi perifer, kapiler refill, adanya inadekuat oksigenasi jaringan dan

d.

F.

suhu tubuh.
Pantau nilai laboratorium Hb, Ht, AGD, dan elektrolit.
Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kegagalan mekanisme regulasi.
Pertahankan catatan intake dan output yang akurat.
Monitor status hidrasi, dan tanda-tanda vital.
Kolaborasikan pemberian cairan IV.

Referensi
Melz_90. In https://id.scribd.com/doc/38674545/ILEUS-PARALITIK. Diakses pada 01
Desember 2014, 21.36.
Nuran, F. In https://id.scribd.com/doc/210255613/askep-ileus-paralitik. Diakses pada 01
Desember 2014, 21.58.
Nurarif, A. N; Kusuma, H. (2013). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis dan NANDA Jilid 2. Jakarta: Mediaction. Hal. 364-710.

LAMPIRAN

SOP Memasang Infus

A. Tujuan:
Dilakukan untuk pasien yang memerlukan masukan cairan melalui intravena (Infus).
B. Indikasi:
Pasien Syok
Pasien yang mengalami pengeluaran cairan berlebih
Intoksikasi berat
Sebelum tranfusi darah
Dan pasien yang membutuhkan pengobatan tertentu
C. Persiapan alat:
Alat steril
1. Bak instrument berisi hand scon dan kasa steril
2. Infus set steril
3. Jarum / wingnedle / abocath dengan nomer yang sesuai
4. Korentang dan tempatnya
5. Kom tutup berisi kapas alcohol

Alat tidak steril


1. Standart infus
2. Bidai dan pembalut jika perlu
3. Perlak dan alasnya
4. Pembendung (tourniquet)
5. Plester
6. Gunting verban
7. Bengkok
8. Jam tangan

Obat-obatan
1. Alcohol 70%
2. Cairan sesuai advis dokter

D. Persiapan Pasien :
1. Memberitahukan dan menjelaskan tindakan dan tujuan yang akan dilakukan
2. Menyiapkan lingkungan yang aman dan nyaman
E. Pelaksanaan :
1. Mengisi selang infus:

Mencuci tangan

Memeriksa etiket

Mencuci hama karet penutup botol

Menusukkan infus set ke dalam botol infus

Pengatur tetesan infus ditutup, jarak 24 cm dibawah tempat tetesan

Menggantungkan botol infus

Ruang tetesan diisi setengah (Jangan sampai terendam)

Selang infus diisi cairan infus dikeluarkan udaranya

2. Melakukan vena punksi


o

Menentukan lokasi

Letakkan perlak kecil dan alasnya dibawah bagian yang akan dipunksi

Melakukan pembendungan

Menghapus hama lokasi punksi (gunakan sarung tangan)

Menusukkan abocath ke dalam vena sedalam mungkin

Buka pembendung dan sambungkan dengan infus, kemudian pengatur tetesan


dibuka

F.

Menilai ada atau tidaknya pembengkakan

Jarum ditambahkan dengan plester

Pasang bidai dan balut (kp)

Mengatur tetesan dalam satu menit sesuai intruksi

Merapikan pasien

Mencuci tangan

Mencatat: tanggal dan jam pemberian cairan, macam cairan

Mengobservasi reaksi pasien

Hasil :
1. Reaksi pasien baik
2. Tetesan infus lancar

3. Tidak terjadi pembengkakan


4. Pasien nyaman