Anda di halaman 1dari 12

1

ERICH TINGGI, S.H


JUNE 2013

RINGKASAN BUKU
(Hukum Acara Pidana.)

Judul Buku
Penulis
Penerbit

: HUKUM ACARA PIDANA. SURAT RESMI ADVOKAT DI PENGADILAN. Pra peradilan, Eksepsi,
Pledoi, Duplik, Memori Banding, Kasasi dan Peninjauan Kembali.
: Dr. LUHUT M.P. PANGARIBUAN, S.H., LL.M.
: PAPAS SINAR SINANTI. Cetakan pertama, 2013.

Dua model dalam Sistem Peradian Pidana (Teori yang dikembangkan oleh Michael King & Herbert L Packer:
1. DUE PROCES OF LAW MODEL. Titik beratnya terletak pada proses berjalannya hukum acara, yaitu
apakah syarat-syarat formil dari setiap tahapan hukum acara seperti surat-surat telah dipenuhi secara
sebagaimana semestinya atau tidak. Dalam Due Process tahap menerapan dan pemeriksaan upaya
paksa, penangkapan, penggeledahan dan penahanan mendapat perhatian yang besar.
2. CRIMINAL CONTROL MODEL. Penekannya terletak pada prinsip-psinsip penting dibalik setiap deilk /
kejahatan dan pada pelaku deilk.

Sepuluh asas hukum dalam KUHAP, yakni:


1. Asas EQUALITY BEFORE THE LAW. Setara di depan hukum.
2. Asas LEGALITAS dalam penerapan upaya paksa yang mensyaratkan harus ada SURAT PERINTAH yang
SAH dalam proses penerapan upaya paksa yang meiputi: PENANGKAPAN, PENAHANAN,
PENGGELEDAHAN, dan PENYITAAN.
3. Asas PRADUGA TIDAK BERSALAH.
4. Asas REMEDY and REHABILITATION. Bahwa seseorang yang diproses secara keliru dan dalam Sistem
peradian pidana harus mendapatkan ganti kerugian dan rehabilitasi yang setimpal atas kerugiannya.
5. Asas FAIR IMPERSONAL and OBJECTIVE. Proses peradilan perkara harus dilakukan dengan cepat dan
efekif, sederhana dan berbiaya ringan. Peradilan yang jujur dan tidak memihak juga harus diterapkan
secara konsekuen dan konsisten di semua tingkatan peradilan.
6. Asas LEGAL ASSITANCE. Bahwa setiap orang berhak mendapatkan bantuan hukum disemua tingkatan
peradilan.
7. Asas MIRANDA RULE. Bahwa setiap orang berhak mengetahui apa delik yang disangkakan dan
didakwakan padanya dan oleh karena itu berhak untuk mendapatkan bantuan hukum.
8. Asas PRESENTASI. Bahwa Pengadilan memeriksa perkara dengan hadirnya terdakwa.
9. Asas KETERBUKAAN. Bahwa Sidang pengadilan pemeriksaan perkaara adalah terbuka untuk umum.

APARATUR PENEGAK HUKUM dalam proses Peradilan Pidana:


1. PENYELIDIK.
2. PENYIDIK.
POLISI, JAKSA, PPNS, KPK, TNI AL & PENYIDIK BNN.

ERICH TINGGI, S.H


JUNE 2013

3
JAKSA PENELITI PERKARA

3.

JAKSA.

4.
5.
6.

ADVOKAT.
HAKIM.
LEMBAGA PEMASYARAKATAN.

JAKSA PENUNTUT UMUM

TAHAPAN DALAM PROSES PERADILAN PIDANA;


PENYELIDIKAN

PRA PENUNTUTAN

PENUNTUTAN

PEMERIKSAAN DI
PENGADILAN

PENJATUHAN PUTUSAN

Pada tahap PRA AJUDIKASI ini yang berperan adalah


PENYIDIK yang terdiri dari PENYIDIK POLISI dan PPNS, dan
JAKSA PENELITI. PENYIDIK POLISI membuat BAP dan
melimpahkannya ke KE KEJAKSAAN. BAP diperiksa oleh
JAKSA PENELITI. Dalam waktu 7 hari BAP yang telah lengkap
harus diserahkan kepada JAKSA PENUNTUT UMUM. Jika
belum dikembalikan ke PENYIDIK, 14 hari setelah
disampaikan BAP harus sudah dikembalikan kembali ke JAKSA

Tahap AJUDIKASI dimulai dengan dilakukannya PENUNTUTAN


oleh JAKSA PENUNTUT UMUM. Kemudian digelar SIDANG
PERTAMA dimana surat dakwaan dibacakan JPU. Terdakwa
dapat mengajukan EKSEPSI atas dakwaan karena:
1. Kompetensi Pengadilan.
2. Aspek formil surat dakwaan seperti identitas terdakwa
serta alasan dakwaan batal demi hukum atau dapat
dibatalkan karena surat dakwaan tidak cermat, jelas dan
lengkap menjelaskan mengenai tindak pidana yang
didakwakan.
Setelah itu REPLIK dari JPU, ditanggapi dengan DUPLIK dari
terdakwa, kemudian SIDANG PEMBUKTIAN, setelah itu JPU
mengajukan TUNTUTAN (Rekuisitor) yang oleh TERDAKWA
dapat ditanggapi dengan PLEDOI. Setelah pemeriksaan
dinyatakan selesai MAJELIS HAKIM kemudian membuat
PUTUSAN (Vonis).

UPAYA HUKUM

PELAKSANAAN PUTUSAN

ERICH TINGGI, S.H


JUNE 2013

4
UPAYA PAKSA, merupakan suatu perbuatan Penyidik, atau Penuntut Umum, atauHakim yang sifatnya
memaksa untuk dilakukan guna mengumpulkan keterangan dan alat bukti dalam perkara Pidana, yang
meliputi.

PENANGKAPAN
PENANGKAPAN Menurut Pasal 1 butir 20
KUHAP merupakan pengekangan sementara
waktu kebebasan. SYARAT PENANGKAPAN
adalah ADANYA BUKTI PERMULAAN YANG
CUKUP
UNTUK
MENDUGA
BAHWA
SESEORANG TELAH MELAKUKAN TINDAK
PIDANA yang berupa LAPORAN POLISI dan 1
ALAT BUKTI YANG SAH (Pasal 1 butir 14
KUHAP jo PERATURAN KAPOLRI No. 14
Tahun 2012.)

Penangkapan dilakukan oleh Pejabat yang


berwenang untuk jangka waktu satu hari / 24jam
(Pasal 19 ayat 1 KUHAP). PEJABAT YANG
BERWENANG melakukan penangkapan adalah:
1. PENYELIDIK atas perintah Penyidik (Pasal 16
ayat 1 KUHAP).
2. PENYIDIK (Pasal 16 ayat 2 KUHAP).
3. PENYIDIK PEMBANTU (Pasal 16 ayat 2 KUHAP).

Menurut Pasal 24, 25, 26, 27 dan 28 KUHAP MASA


PENAHANAN untuk KEPENTINGAN PENYIDIKAN
meliputi:
1. 20 Hari oleh PENYIDIK.
2. PERPANJANGAN 20 Hari oleh JAKSA PENUNTUT
UMUM.
PENGECUALIAN ketentuan diatas menurut Pasal 29
ayat 2 & 3 KUHAP meliputi:
1. 30 Hari oleh KETUA PN.
2. PERPANJANGAN untuk 30 Hari lagi oleh KETUA
PN.
TOTAL masa PENAHANAN adalah 120 Hari.

MASA
PENAHANAN
untuk
KEPENTINGAN
PENUNTUTAN menurut Pasal 25 KUHAP meliputi:
1. 20 Hari oleh PENUNTUT UMUM.
2. PERPANJANGAN 20 hari oleh KETUA PN.
PENGECUALIAN menuerut Pasal 29 ayat 2 & 3
KUHAP meliputi:
1. 30 Hari oleh KETUA PN.
2. PERPANJANGAN 30 Hari oleh KETUA PN.
TOTAL masa PENAHANAN adalah 110 Hari.

ERICH TINGGI, S.H


JUNE 2013

PENAHANAN
PENAHANAN berdasarkan Pasal 1 butir 21
KUHAP adalah penempatan tersangka atau
terdakwa ditempat tertentu oleh PENYIDIK,
atau PENUNTUT, atau HAKIM dalam hal
serta menurut cara yang diatur dalam
KUHAP. Penahan meliputi PENAHANAN dan
PENAHANAN LANJUTAN. Adapun syaratsyarat untuk dapat dilakukannya penahanan
adalah:
1. SYARAT
MATERIL
/
NESESITAS:
Penahanan
dilakukan
apabila
berdasarkan bukti permulaan yang cukup
dan dalam hal timbul kekuatiran atau
keadaan
yang
menimbulkan
mengkuatirkan atau keadaan yang
menimbulkan
kekuatiran
yang
bersangkutan akan melarikan diri,
merusak atau menghilamngkan barang
bukti dan atau mengulangi tindak pidana
(Pasal 21 ayat 1 KUHAP)
2. SYARAT FORMIL: Penahanan dilakukan
dengan memberikan surat perintah
penahanan atau penetapan Hakim yang
mencantumkan identitas tersangka atau
terdakwa dan menyebutkan alasan
penahanan serta uraian singkat perkara
kejahatan yang dipersangkakan atau
didakwakan
padanya,
serta
menyebutkan tempatnya dimana dia
akan ditahan (Pasal 21 ayat 2 KUHAP)

Menurut Pasal 26 KUHAP MASA PENAHANAN


untuk KEPENTINGAN PEMERIKSAAN di SIDANG
PENGADILAN meliputi:
1. 30 Hari oleh HAKIM PN yang mengadili perkara.
2. PERPANJANGAN 60 Hari oleh KETUA PN.
PENGECUALIAN. ketentuan diatas menurut Pasal 29
ayat 2 & 3 KUHAP meliputi:
1. 30 Hari oleh KETUA PN.
2. PERPANJANGAN untuk 30 Hari oleh KETUA PT.
TOTAL masa PENAHANAN adalah 150 Hari.

Menurut Pasal 27 KUHAP MASA PENAHANAN


untuk KEPENTINGAN BANDING meliputi:
1. 30 Hari oleh HAKIM PT yang mengadili perkara.
2. PERPANJANGAN 60 Hari oleh KETUA PT.
PENGECUALIAN. ketentuan diatas menurut Pasal 29
ayat 2 & 3 KUHAP meliputi:
1. 30 Hari oleh KETUA MA.
2. PERPANJANGAN untuk 30 Hari oleh KETUA MA.
TOTAL masa PENAHANAN adalah 150 Hari.

Menurut Pasal 28 KUHAP MASA PENAHANAN


untuk KEPENTINGAN KASASI meliputi:
1. 50 Hari oleh HAKIM MA yang mengadili perkara.
2. PERPANJANGAN 60 Hari oleh KETUA MA.
PENGECUALIAN ketentuan diatas menurut Pasal 29
ayat 2 & 3 KUHAP meliputi:
1. 30 Hari oleh KETUA MA.
2. PERPANJANGAN untuk 30 Hari oleh KETUA MA.
TOTAL masa PENAHANAN adalah 170 Hari.

ERICH TINGGI, S.H


JUNE 2013

Menurut Pasal 1 butir 17 KUHAP PENGGELEDAHAN


RUMAH ialah Tindakan Penyidik memasuki rumah
tempat tinggal dan tempat tertutup lainnya untuk
melakukan tindakan Pemeriksaan, dan/ Penyitaan,
dan/ Penangkapan.
Menurut Pasal 1 butir 18 KUHAP PENGGELEDAHAN
BADAN ialah Tindakan untuk mengadakan
pemeriksaan badan, dan/ pakaian Tersangka untuk
mencari benda yang diduga keras ada pada
badannya atau dibawanya serta untuk disita.

PENGGELEDAHAN
Macam
PENGGELEDAHAN
menurut
KUHAP:
1. PENGGELEDAHAN RUMAH.
2. PENGGELEDAHAN BADAN / PAKAIAN.

Pasal 33 KUHAP, PENGGELEDAHAN dilakukan oleh


PENYIDIK menurut cara yang ditentukan UU, yakni:
1. Mendapatkan Ijin dari ketua PN setempat.
2. Disaksikan oleh 2 saksi dalam hal pemilik atau
penghuni menyetujui.
3. Disaksikan oleh 2 orang saksi dan kepala desa
atau kepala lingkungan setempat dalam hal
penghuni atau pemilik menolak.
4. Dalam tempo 2 hari harus sudah dibuat BA
penggeledahan dan salinannya disampaikan
kepada ybs.
PENGECUALIANNYA menurut Pasal 34 ayat 1
KUHAP yaitu dalam hal yang SANGAT PERLU DAN
MENDESAK, maka penggeledahan dapat dilakukan:
1. Pada halaman rumah tersangka tinggal, berdiam
dan atau berada diatasnya.
2. Pada setiap tempat lain dimana tersangka
bertempat tingggal, berdiam atau ada.
3. Ditempat delik dilakukan atau bekasnya.
4. Ditempat pennginapan atau tempat umum
lainnya.
Pasal 35 KUHAP menyebutkan bahwa selain itu,
KECUALI
TERTANGKAP,
TANGAN
TIDAK
PERKENANKAN MEMASUKI:
1. Ruang dimana sedang berlangsung sidang MPR,
DPR/DPRD.
2. Tempat dimana sedang berangsung ibadah /
upacara keagamaan.
3. Ruang diimana sedang berlangsung sidang
pengadilan.

ERICH TINGGI, S.H


JUNE 2013

Adapun
benda-benda
yang
dapat
disita
berdasarkan Pasal 39 ayat 1 KUHAP adalah:
1. Benda atau taghihan tersangka / terdakwa yang
seluruhnya / sebagian diduga diperoleh dari
tindakan pidana atau hasil dari tindak pidana.
2. Benda yang telah dipergunakan secara langsung
untuk melakukan tindak pidana, atau untuk
mempersiapkannya.
3. Benda yang dipergunakan untuk menghalanghalangi penyidikan tindak pidana.
4. Benda yang dibuat atau diperuntukkan
melakukan tindak pidana.
5. Benda lain yang mempunyai hubungan langsung
dengan tindak pidana yang dilakukan.

PENYITAAN & Tindakan lain.


Terkadang suatu penyitaan diikutii dengan
Penyitaan. Pasal 1 butir 16 KUHAP
menyebutkan
PENYITAAN
adalah
Serangkaian tindakan Penyidik untuk
mengambil alih, dan/ menyimpan dibawah
penguasaannya benda bergerak atau tidak
bergerak, berwujud atau tidak berwujud
untuk kepentingan pembuktian dalam
PENYIDIKAN,
PENUNTUTAN
dan
PERADILAN.

Adapun benda-benda lain yang dapat disita, adalah:


1. Benda yang berada dalam sitaan karena perkara
Perdata atau Pailit (Pasal 39 ayat 2 KUHAP).
2. Surat atau tulisan lain dari mereka yang
berkewajiban merahasaiakannya menurut UU
atas ijin Ketua PN setempat kecuali ditentukan
lain (Pasal 43 KUHAP jo Pasal 19 UU No. 18
Tahun 2003 Tentang Advokat.)

Dalam Praktek peradilan apabila tidak


dilakukan penangkapan atau penahanan
maka sebagai penggantinya adalah wajib
lapor (Pasal 7 ayat 1 butir j KUHAP).

PRAPERADILAN
Berdasarkan Pasal 77 jo 85 jo 95 KUHAP
Praperadilan adalah persidangan untuk
memeriksa:
1. Sah
atau
tidaknya
Penangkapan,
Penahanan, Penghentian penyidikan atau
Penghentian penuntutan.
2. Ganti kerugian, dan/ Rehabilitasi bagi
seseorang yang perkara Pidananya
dihentikan pada tingkat Penyidikan dan
Penuntutan.
3. Sah atau tidaknya benda yang disita
sebagai alat bukti.
4. Tuntutan
ganti
kerugian
karena
ditangkap, ditahan, dituntut dan diadili
atau dikenakan tindakan tanpa alasan
yang sah menurut UU atau karena
kekeliruan mengenai orangnya atau
hukum yang telah diterapkan padanya

ERICH TINGGI, S.H


JUNE 2013

8


PEMERIKSAAN DI MUKA PERSIDANGAN

PENUNTUTAN
Pemeriksaan di Pengadilan dimulai dengan pelimpahan perkara ke pengadilan oleh Kejaksaa mengenai Surat
pelimpahan perkara disertai dengan surat dakwaan dan berkas BAP perkara. Fungsi daripada surat dakwaan:
1. Bagi HAKIM, dasar dalam memeriksa perkara.
2. Bagi JAKSA PENUNTUT UMUM, dasar pembuktian delik dan penuntutan.
3. Bagi ADVOKAT, dasar melakukan pembelaan.
BENTUK-BENTUK surat Dakwaan:
1. Surat DAKWAAN TUNGGAL.
2. Surat DAKWAAN ALTERNATIF.
3. Surat DAKWAAN SUBSIDAIR.
4. Surat DAKWAAN KUMULATIF.
5. Surat DAKWAAN KOMBINASI.
UNSUR-UNSUR dalam Surat Dakwaan.
1. Unsur FORMIL, merupakan uraian lengkap identitas terdakwa. Jika tidak dipenuhi maka dakwaan dapat
dibatalkan.
2. Unsur MATERIL, merupakan uraian lengkap mengenai delik yang didakwakan yang meliputi peristiwanya,
tempat dan waktu dilakukannya tindak pidana. jika tidak dipenuhi menyebabkan dakwaan batal demi
hukum.
Secara materil, suatu surat dakwaan dipandang telah memenuhi syarat-syarat materil jika telah memberi
gambaran secara jelas dan utuh tentang:
1. Tindak pidana yang dilakukan.
2. Pelaku tindak pidana tersebut.
3. Dimana tindak pidana itu dilakukan.
4. Bagaimana tindak pidana diakukan.
5. Akibat apa yang ditimbulkan oleh tindak pidana tersebut (Delik Materil).
6. Unsur-unsur yang mendorong terdakwa melakukan tindak pidana tersebut.
7. Ketentuan-ketentuan pidana yang diterapkan.

EKSEPSI
Surat KEBERATAN disebut juga EKSEPSI. Eksepsi diajukan oleh Terdakwa. Beberapa BENTUK EKSEPSI:
1. EKSEPSI KEWENANGAN. Meliputi KEWENANGAN RELATIF dan KEWENANGAN ABSOLUT (Pasal 143 ayat
2 butir b, 148 ayat 1, 150, 151 ayat 1 KUHAP).
2. EKSEPSI SURAT DAKWAAN TIDAK DAPAT DITERIMA karena syarat FORMIL sebagaimana Pasal 143 ayat 2
butir a KUHAP.
3. EKSEPSI SURAT DAKWAAN KABUR (Obscurum Libellum). Surat Dakwaan kabur jika:
a. Perbuatan yang dirumuskan bukan merupaan tindak pidana (Pasal 143 ayat 2 KUHAP).
b. Faktanya bukan merupakan perbuatan terdakwa (Eror in persona).
c. Ne bis in idem (Pasal 76 KUHAP).
d. Daluarsa (Pasal 74 KUHAP).

ERICH TINGGI, S.H


JUNE 2013

PLEDOI
PLEDOI adalah hak yang berisi tanggapan atau sanggahan atas Rekuisitor (Tuntutan) Jaksa Penuntut Umum.
Substansi sebuah pledoi harus memuat atau menggambarkan hal-hal sebagai berikut:
1. FAKTA PERSIDANGAN, yaitu keterangan-keterangan yang diperoleh dari alat-alat bukti, dan/ barang
bukti yang diajukan selama persidangan pembuktian. Fakta-fakta dimaksud dibedakan dalam 2 jenis,
yaitu:
a. Fakta yang hanya bersifat DESKRIPTIF, artinya apa yang diterangkan begitu saja oleh saksi
dicatat apa adanya.
b. Fakta yang bersifat PRESKRIPTIF, artinya keterangan dari alat bukti, dan/ barang bukti yang
telah diuji keabsahannya dan kebenarannya berdasarkan hukum pembuktian sehingga sifatnya
mengikat, dalam praktek disebut juga sebagai FAKTA HUKUM.
2. Apakah sungguh-sungguh benar bahwa FAKTA-FAKTA HUKUM itu kesemuanya TELAH MEMENUHI
UNSUR DELIK sebagaimana didakwakan diawal persidangan.
3. Apakah ada / tidak ada faktor-faktor sebagai DASAR YANG MENGHILANGKAN SIFAT PIDANA.
Faktor-faktor yang dapat menghilangkan sifat pidana pada sebuah perbuatan didasarkan pada 2
dasar:
a. Dasar PEMAAF.
b. Dasar PEMBENAR.
4. Apakah ada / tidak ada faktor-faktor yang MERINGANKAN (Klemensi).
STRUKTUR PLEDOI terdiri dari:
1. PENDAHULUAN.
2. FAKTA-FAKTA PERSIDANGAN.
3. ANALISA YURIDIS.
4. PENUTUP.

REPLIK & DUPLIK

PUTUSAN HUKUM
Hakim yang mengadili perkara memutuskan berdasarkan KEYAKINANNYA dan ALAT-ALAT BUKTI. Antara alatalat bukti dan keyakinan harus memiliki hubungan sebab akibat.
Putusan / Vonis hakim dapt berupa:
1. Putusan BEBAS.
2. Putusan LEPAS DARI SEGALA TUNTUTAN HUKUM.
3. Putusan Tuntutan Jaksa Penuntut Umum tidak dapt diterima.
4. Putusan Penerapan pidana yang lain atau yang lebih ringan.
5. ___Dsb.

ERICH TINGGI, S.H


JUNE 2013

10
UPAYA HUKUM. Upaya hukum ditempuh apabila tidak setuju dengan putusan pengadilan sebelumnyna
apakah tentang pertimbangannya atau mengenaiamarnya maka dapat diperiksa kembali perkaranya.
Suatu upaya hukum lebih merupakan argumentasi melalui dokumentasi beras yang disebut dengan memori
daripada perdebatan secara verbal. Adapun Peradilaan yang berkompetensi memeriksa perkara yang
bersumber dari upaya hukum adalah;
1. PENGADILAN TINGGI (PT). Pegadilan Tinggi melakukan pemeriksaan ulangan di tingkat banding
terhadap semua aspek perkara yang telah diputus di PN. PN disebut juga Pengadilan JUDEX FACTIE.
2. MAHKAMAH AGUNG (MA). Pada prinsipnya MA disebut jjuga JUDEX JURIST oleh karena lingkup
kewenangan MA lebih pada pemeriksaan soal hukum. Namun terbuka kemungkinan juga dimana MA
dapat menjadi JUDEX FACTIE yaitu ketika dalam putusannya MA menyatakan MEMBATALKAN
PUTUSAN JUDEX FACTIE dan MENGADILI SENDIRI PERKARANYA. Pasal 253 ayat 3 KUHAP menyatakan
bahwa jika dianggap perlu MA dapat mendenngar sendiri keterangan terdakwa, saksi dan penuntut
umum. MA dalam menjalankan kewenangannya sebagai judex factie terbatas hanya dalam hal:
a. Tentang penerapan hukumnya.
b. Cara mengadili yang meliputi lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peratutan
perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang
bersangkutan. (vide: UU No. 5 Tahun 2004).
c. Judex Factie tidak berwenang telah melampaui batas wewenang.
BENTUK-BENTUK UPAYA HUKUM:
BANDING. Upaya hukum banding mulai diperhitungkan pada hari
berikutnya hingga waktu 7 hari berikutnya sejak putusan dijatuhkan
atau setelah putusan diberitahukan (Pasal 233 ayat 2 KUHAP).
Memori / kontra memori Banding tidak merupakan keharusan.
Upaya hukum BANDING tidak dapat dilakukan TERHADAP:
1. PUTUSAN BEBAS.
2. PUTUSAN LEPAS DARI SEGALA TUNTUTAN HUKUM yang
menyangkut masalah kurang tepatnya penerapan hukum.
3. Dalam hal PUTUSAN CEPAT.

1. UPAYA HUKUM
BIASA

Terhadap ketiga jenis putusan yang tidak dapat dibanding tersebut


berdasarkan Pasal 67 KUHAP seketika harus dianggap telah
berkekauatan hukum tetap. Oleh karena itu, upaya hukum yang
tersedia menurut Pasal 259 KUHAP adalah upaya hukum luar biasa
yang dapat dilakukan oleh Jaksa Agung yaitu Kasasi demi kepentingan
hukum. Dalam Pasal 259 ayat 2 KUHAP dengan tegas disebutkan
bahwa kasasi demi kepentingan hukum ini tidak boleh merugikan
pihak yang berkepentingan.

KASASI. Waktu untuk mengajukan kasasi adalah 14 hari (Pasal 245


ayat 1 KUHAP). Memori / kontra memori kasasi merupakan suatu
kewajiban, dan diserahkan dalam waktu 14 hari setelah mengajukan
permoohonan kasasi (Pasal 248 ayat 1 KUHAP). Apabila tidak punya
advokat dan tidak mengerti hukum, maka dapat dibantu oleh
panitera. Terhdap putusan bebas, tidak dapat dimintakan kasasi.

ERICH TINGGI, S.H


JUNE 2013

11
Upaya hukum PENINJAUAN KEMBALI dilakaukan terhadap
putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap
kecuali terhadap putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan
hukum. PK adalah hak hukum bagi terpidana dan ahli warisnya.
PK tidak dibatasi oleh jangka waktu (Pasal 264 ayat 3 KUHAP).

2. UPAYA HUKUM
LUAR BIASA

PK diajukan secara TERTULIS dengan alasan-alasan sebagai


berikut:
1. Ada KEADAAN BARU atau FAKTA BARU (Novum) yang
mana jika keadaan tersebut diketahui waktu sidang masih
berlangsung hasilnya akan lain.
2. Apabila dalam putusannya terdapat penyataan bahwa
sesuatu telah terbukti akan tetapi fakta, hal atau keadaaan
sebagai dasar putusan dan alasan putusan yang dinyatakan
ternyata telah bertentangan satu dengan yang lain.
3. Apabila putusan itu jelas memperlihatkan suatu kehilafan
hakim, atau suatu kekeliruan yang nyata (Pasal 263 ayat 2
KUHAP).

KASASI DEMI KEPENTINGAN HUKUM

ERICH TINGGI, S.H


JUNE 2013

Filename:
ringkasan buku HUKUM ACARA PIDANA
Directory:
D:\ringkasan BUKU
Template:
C:\Users\erich
tinggi\AppData\Roaming\Microsoft\Templates\Normal.dotm
Title:
ringkasan buku HUKUM ACARA PIDANA. Surat resmi Advokat di
Pengadilan. PRAPERADILAN, EKSEPSI, PLEDOI, DUPLIK, MEMORI BANDING, KASASI &
PENINJAUAN KEMBALI.
Subject:
Author:
ERICH TINGGI, S.H.
Keywords:
Dr. Luhut M.P. Pangaribuan, S.H., LL.M, Erich Tinggi, S.H.
Comments:
Creation Date:
30/05/2013 17:08:00
Change Number:
51
Last Saved On:
05/06/2013 15:57:00
Last Saved By:
Erich Tinggi, S.H.
Total Editing Time:
1.958 Minutes
Last Printed On:
05/06/2013 15:57:00
As of Last Complete Printing
Number of Pages: 11
Number of Words: 2.747 (approx.)
Number of Characters:
15.662 (approx.)