Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM

MEKANIKA FLUIDA DAN HIDROLIKA


MODUL H-03
STABILITAS BENDA TERAPUNG

KELOMPOK 7

Adnan Kusuma Putra


Andhika Rizki Yuandry
Andrean Wardani
Humayri Sidqi
Shodikin Martanto
Yoel Priatama

Tanggal Praktikum
Asisten Praktikum
Tanggal Disetujui
Nilai
Paraf Asisten

:
:
:
:
:

1306369415
1306369402
1306369453
1306369440
1306369434
1306369421

13 Oktober 2014
Lusiana Indarwati

LABORATORIUM HIDROLIKA, HIDROLOGI, DAN SUNGAI


DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK 2014

H-03 STABILITAS BENDA TERAPUNG


A. TUJUAN PERCOBAAN
Menentukan tinggi titik Metacentrum.
B. PERALATAN
1. Meja Hidrolika
2. Perangkat alat percobaan Stabilitas Benda Terapung

b
d

400 mm

g
c

f
a

200 mm

350 mm

Gambar Ponton

Keterangan gambar:
a. Kotak ponton
b. Tiang vertikal
c. Skala derajat
d. Pengatur beban geser
e. Skala jarak
f. Pengatur beban transversal
g. Unting-unting

Spesifikasi

- Dimensi ponton :

Panjang

: 350 mm

Lebar

: 200 mm

Tinggi

: 75 mm

- Massa Ponton

1457 gram

- Massa pengatur beban transversal

: 322 gram

- g = 9,81 m/s2
- air = 1,00 gram/cm3

C. CARA KERJA
1. Menyiapkan meja hidrolika
2. Menyiapkan ponton dan perlengkapannya
3. Mengatur pengatur beban transversal sehingga tepat di tengah ponton
4. Mengatur beban geser pada tiang vertikal sedemikian rupa sehingga titik
berat ponton secara keseluruhan terletak di atas ponton. Caranya:
a. Meletakkan pengatur beban geser sehingga 200 mm dari dasar
ponton.
b. Mencari titik berat ponton dengan cara menggantungkan ponton
pada seutas benang yang diletakkan/dikaitkan pada tiang vertikal di
antara pengatur beban transversal dan pengatur beban geser
(memegang unting-unting agar tidak mempengaruhi berat ponton).
c. Apabila telah terjadi keseimbangan yaitu pada saat posisi benang
tegak lurus dengan tiang vertikal, maka menandai titik tersebut (G).
d. Apabila letak titik G masih di bawah ponton, letak beban dinaikkan
lagi lalu mengulangi langkah b sampai c sampai letak titik G di
atas ponton.
e. Mengukur tinggi titik tersebut dari dasar ponton (y).
5. Mengisi tangki pengatur volume pada meja hidrolika dan mengapungkan
ponton di atasnya.

6. Terlebih dahulu mengatur unting-untingnya, dimana dalam keadaan stabil


sudut bacaannya nol derajat.
7. Menghitung kedalaman bagian ponton yang terbenam (d), untuk kemudian
menentukan titik pusat gaya apung dari dasar ponton alam keadaan stabil
(B).
8. Menggerakkan beban transversal ke sebelah kanan tiap 15 mm, sampai
kembali ke titik awal (0).
9. Mengulangi langkah ke 8 dan 9, untuk pergeseran beban tranversal ke
sebelah kiri.
10. Mengulangi kembali langkah ke 4, dimulai dari poin b sampai langkah ke
10 dengan menaikkan beban geser tiap 50 mm sampai posisi massa geser
di puncak tiang vertikal.

D. DASAR TEORI

M
M

Gambar 1. Ponton di atas permukaan air

Titik metacentrum adalah titik perpotongan antara garis vertikal yang melalui
titik berat benda dalam keadaan stabil (G) dengan garis vertikal yang melalui
pusat apung setelah benda digoyangkan (B)

Tinggi Metacentrum adalah jarak antara titik G dan titik M

Titik apung B adalah titik tangkap dari gaya apung atau titik tangkap dari
resultan tekanan apung

Jarak bagian dasar ponton ke titik apung B adalah setengah jarak bagian dasar
ponton ke permukaan air (setengah jarak bagian ponton yang terendam atau
tenggelam)

Biasanya penyebab posisi (B) pada gambar diatas adalah bergeraknya suatu
benda tertentu (w) sejauh x dari titik G, sehingga untuk mengembalikan ke
posisi semula harus memenuhi persamaan berikut:

Momen guling

= Momen yang mengembalikan ke posisi semula

w.x

= W . GM . Sin , maka

GM

w.x
w.x
=
, <<<
W . sin W . tan

Secara teoritis GM dapat pula diperoleh dari:


GM

= BM BG

dengan,

BM

p . l3
l2
Imin
d
=
=
=
dan BG = y 12 . p . l . d 12d
V
2

dimana:
W

= berat ponton

= berat pengatur beban transversal

= sudut putar ponton

GM

= tinggi titik metacentrum

BM

= jarak antara titik apung dan titik metacentrum

BG

= jarak antara titik apung dan titik berat ponton

Ix

= momen inersia arah c dari luasan dasar ponton

= volume zat cair yang dipindahkan

= jarak antara titik berat ponton dengan dasar ponton

= kedalaman bagian ponton yang terbenam air

Ponton berbentuk empat persegi panjang yang mengapung di


permukaan air dalam kondisi kesetimbangan terlihat seperti pada Gambar
1 menerima kerja dua macam gaya yaitu beban vertikal seberat ponton
(W) berarah ke bawah di titik G dan gaya bouyancy Fb seberat air yang
didesak oleh ponton berarah ke atas di titik B.
Pengamatan stabilitas ponton dalam kondisi miring dengan susut
d 1seperti pada Gambar 1. titk berat air yang didesak oleh ponton
berpindah dari B ke B1 begitu juga titik berat pontonjuga berpindah dari G
ke G1. Garis vertikal yang ditarik melalui B1 dan G1 adalah titik
metasentrik M. Perpindahan dari B ke B1 tersebut menimbulkan juring
juring segitiga AA1C dan FF1C yang mengurangi dan menambah bidang
culupan air pada sisi kiri dan kanan titik C. Sehingga didapat hubungan
nilai nilai berikut ini :
Metode analitis :

Gaya bouyancy, Fb= W =m.g atau Fh= o.Vd

dalam satuan N

atau kN.

Volume air yang terdesak Vd=

dalam satuan m3.

Tinggi bagian ponton yang tercelup air,X =

dalam satuan

m.

Letak titik tangkap gaya bouyancyterhadap permukaan air, CB


= dalam satuan m.

Jari jari metasentrik, BM =

dalam satuan mm.

Momen inersia bidang air yang terhadap sb. x, Ix =


dalam satuan m3.

Metode observasi :

Tinggi titik M terhadap permukaan air, CM = BM - CB


dalam satuan mm.

Tinggi metasentrik,GM =

( ) dalam satuan mm.

E. DATA PENGAMATAN
Dimensi ponton :
Panjang (p)

= 35 cm

Lebar (l)

= 20 cm

Tinggi (h)

= 7,5 cm

Massa ponton (W) : 1457 gram


Massa pengatur beban transversal (w) = 322 gram
g = 9,81 m/s2
air = 1,00 gram/cm3
kedalaman ponton terendam (d) = 2 cm

sudut

Tinggi
beban geser
(mm)

Pergeseran
(mm)

rata2

Sin rata2
(sumbu y)

Tinggi
titik
berat
ponton
(mm)

Kanan
()

Kiri
()

200

15
30
45
60

2
4,5
6,5
8,5

2,5
4,5
6,5
8,5

2,25
4,5
6,5
8,5

0,03926
0,078459
0,113203
0,147809

89

250

15
30
45
60

2,5
5,25
7,25
9,5

2,5
5,25
7,25
9,5

2,5
5,25
7,25
9,5

0,043619
0,091502
0,126199
0,165048

94

300

15
30
45
60

3,5
5,75
8,5
11

3,5
5,75
8,5
11

3,5
5,75
8,5
11

0,061049
0,100188
0,147809
0,190809

103

F. PENGOLAHAN DATA
1. t = 200 mm, y = 89 mm, d=20 mm
a. Menghitung koefisien b
Pergeseran Beban

Sin rata-

Transversal (xi)

rata (yi)

15

0,03926

225

0,588897

30

0,078459

900

2,353773

45

0,113203

2025

5,094145

60

0,147809

3600

8,868565

6750

16,90538

xi2

xi.yi

b. Grafik pergeseran (x) vs sin rata-rata (y)

Grafik x vs y saat t=200 mm


0.16
y = 0,002x + 0,004
R = 0,999

Sin rata-rata (y)

0.14
0.12
0.1
0.08
0.06
0.04
0.02
0
0

10

20

30

40

50

60

70

Pergeseran (x) dalam satuan milimeter

Dari grafik kita dapat mengetahui fungsi sin rata-rata (y), yaitu :
y= 0,002x + 0,004

c.

Menghitung Koefisien Korelasi


(

xi

yi

15

0,03926

-0,057115374

0,055423

0,055423

0,003072

30

0,078459

-0,019547865

0,016224

0,016224

0,000263

45

0,113203

0,018019645

-0,01852

-0,01852

0,000343

60

0,147809

0,055587155

-0,05313

-0,05313

0,002822

0,007059

0,006500

(
(

)
)

d. Menghitung GM percobaan & GM teori

GM percobaan =

GM teori = BM BG
(

)
(

(
(

)( )
)( )(

e. Kesalahan Relatif
|

2. t = 250 mm, y = 94 mm, d=20 mm


a. Menghitung koefisien b
Pergeseran Beban

Sin rata-

Transversal (xi)

rata (yi)

15

0,043619

225

0,654291

30

0,091502

900

2,745049

45

0,126199

2025

5,678954

60

0,165048

3600

9,902856

6750

18,98115

xi2

xi.yi

b. Grafik pergeseran (x) vs sin rata-rata (y)

Sin2 rata-rata (y)

Grafik x vs y saat t=250 mm


0.18
0.16
0.14
0.12
0.1
0.08
0.06
0.04
0.02
0

y = 0.0027x + 0.0068
R = 0.9956

10

20

30

40

50

Pergeseran (x) dalam satuan milimeter

Dari grafik, fungsi sin rata-rata (y), adalah :


y= 0,002x + 0,006

60

70

c. Menghitung Koefisien Korelasi


(

xi

yi

15

0,043619

-0,064411563

0,062973

0,004149

0,003966

30

0,091502

-0,022231232

0,01509

0,000494

0,000228

45

0,126199

0,0199491

-0,01961

0,000398

0,000384

60

0,165048

0,062129432

-0,05846

0,00386

0,003417

0,008901

(
(

d.

)
)

Menghitung GM percobaan & GM teori

GM percobaan =

GM teori = BM BG
(

)
(

(
(

e.

0,007995

)( )
)( )(

Kesalahan Relatif
|

3. t = 300 mm, y = 103 mm, d=20 mm


a. Menghitung koefisien b
Pergeseran Beban

Sin rata-

Transversal (xi)

rata (yi)

15

0,03926

225

0,588897

30

0,078459

900

2,353773

45

0,113203

2025

5,094145

60

0,147809

3600

8,868565

6750

16,90538

xi2

xi.yi

b. Grafik pergeseran (x) vs sin rata-rata (y)

0.25

Sin2 rata-rata (y)

0.2

y = 0,003x + 0,015
R = 0,998

0.15
Series1

0.1

Linear (Series1)
0.05
0
0

20

40

60

80

Pergeseran (x) dalam satuan meter

Dari grafik kita dapat mengetahui fungsi sin rata-rata (y),


yaitu :
y= 0,003x + 0,015

c. Menghitung koefisien korelasi


(

xi

Yi

15

0,061049

-0,076027456

0,063915

0,00578

0,004085

30

0,100188

-0,02709116

0,024776

0,000734

0,000614

45

0,147809

0,021845136

-0,02285

0,000477

0,000522

60

0,190809

0,070781432

-0,06585

0,00501

0,004336

0,012001

(
(

0,009557

)
)

d. Menghitung GM percobaan & GM teori

GM percobaan =

GM teori = BM BG
(

)
(

(
(

e.

)( )
)( )(

Kesalahan Relatif
|

Hasil perhitungan di atas dapat dirangkum ke dalam tabel berikut :


t

(tinggi beban geser) (titik berat ponton)

GMpercobaan

GMteori

Kesalahan
Relatif

200 mm

89 mm

88,2 mm

87,7 mm

0,57 %

250 mm

94 mm

78,6 mm

82,6 mm

4,84 %

300 mm

103 mm

67,75 mm

73,6 mm

7,94 %

G. ANALISIS
1. Analisis Percobaan
Praktikum yang berjudul Stabilitas Benda Apung ini bertujuan
untuk menentukan tinggi metasentrum. Titik metacentrum adalah titik
perpotongan antara garis vertikal yang melalui titik berat benda dalam keadaan
stabil (G) dengan garis vertikal yang melalui pusat apung setelah benda
digoyangkan (B). Dalam praktikum ini peralatan yang digunakan terdiri dari
meja hidrolika, dan seperangkat ponton (tidak diisi air) yang dilengkapi dengan
tiang vertikal, unting-unting, beban transversal, beban geser, dan alat pengukur
kemiringan ponton.
Dalam menentukan tinggi metacentrum, terdapat 2 metode yang
digunakan, pertama adalah secara teoritis (hanya membutuhkan momen inersia
poton, kedalaman ponton yang terendam, dan titik berat ponton), kemudian
yang kedua berdasarkan percobaan, (data yang digunakan adalah sudut
kemiringan ponton akibat beban transversal).
Langkah pertama, praktikan meletakkan beban transversal di tengahtengah ponton, kemudian mengatur beban geser pada tiang vertikal sedemikian
rupa sehingga titik berat ponton secara keseluruhan terletak di atas ponton.
Dalam hal ini praktikan meletakkan beban geser pada jarak 20 cm dari dasar
ponton.
Setelah itu mencari titik berat ponton, dengan cara menggantung ponton
pada seutas benang yang diikatkan pada tiang vertikal (terletak di antara beban
transversal dan beban geser). Kemudian menggeser ikatan benang pada tiang
vertikal sampai benang tegak lurus terhadap tiang vertikal. Pada saat tegak
lurus, titik ikatan benang merupakan titik berat ponton, lalu mengukur jarak titik

beratnya dari dasar ponton. Jarak titik berat ponton (y) ini digunakan dalam
perhitungan tinggi metacentrum secara teoritis.

Setelah menemukan titik berat, langkah selanjutnya adalah


meletakkan ponton di atas air, dengan memastikan pembacaan awal
unting-unting adalah 0 derajat (artinya tiang vertikal ponton tegak lurus
dengan permukaan air. Pada saat itu, mengukur kedalaman ponton yang
terendam, yang besarnya adalah 2 cm. Kedalaman ini juga akan
digunakan dalam perhitungan tinggi metacentrum secara teoritis.
Langkah

selanjutnya

adalah

mencari

tinggi

metacentrum

berdasarkan percobaan, dengan cara : meletakkan beban transversal 15


mm ke kiri, lalu mencatat sudut kemiringan ponton berdasarkan angka
yang ditunjuk oleh unting-unting pada pembacaan derajat. Lalu
memindahkan beban transversal pada jarak 30 mm, 45 mm, sampai yang
terakhir adalah 60 mm, lalu mencatat kemiringan ponton pada jarak
beban transversal 15 mm, 30 mm, 45 mm, dan 60 mm pada arah kiri.
Kemudian

mengulang

pengukuran

kemiringan

ponton,

dengan

meletakkan beban transversal di sebelah kanan pada jarak 15 mm, 30


mm, 45 mm, dan 60 mm.
Pengukuran

kemiringan

ponton

dengan

meletakkan

beban

transversal di sebelah kiri kemudian di kanan, dimaksudkan agar kita


mendapatkan variasi data yang berguna untuk meminimalisir kesalahan
pembacaan kemiringan ponton.
Kemudian mengulangi percobaan dengan memindahkan beban
geser pada jarak 25 cm dan 30 cm dari dasar ponton, lalu mencari titik
berat ponton, dan menghitung kembali kemiringan ponton saat beban
geser diletakkan pada 15 mm, 30 mm, 45 mm, dan 60 mm (kanan dan
kiri).
Berdasarkan percobaan, saat beban geser (t) = 200 mm, maka titik
beratnya (y)= 89 mm, lalu saat t=250 mm, y=94 mm, dan pada saat t=
300 mm, y= 103 mm. Kita memiliki 3 nilai titik berat yang berbeda,
sehingga terdapat 3 perhitungan tinggi metacentrum. Kemudian membuat

grafik sinus rata-rata kemiringan ponton terhadap pergeseran dengan


menggunakan aplikasi Ms.Excel.

2. Analisis Grafik
Pada praktikum ini kita mempunyai 3 buah grafik. Grafik pertama
adalah grafik yang menunjukkan kemiringan ponton akibat beban
transversal untuk t=200 mm, dan y= 89 mm. Sedangkan grafik kedua dan
ketiga menunjukkan kemiringan ponton akibat beban transversal
berturut-turut saat t=250 mm, y=94 mm, dan saat t= 300 mm, y=103 mm.
Pada tiap grafik, sumbu x adalah besar pergeseran beban
transversal, yaitu 15 mm, 30 mm, 45 mm, dan 60 mm. Sedangkan sumbu
y adalah nilai sinus dari rata-rata kemiringan ponton untuk setiap
pergeseran.
Pada grafik t (tinggi beban geser)= 200 mm dan y(tinggi titik
berat)= 89 mm, grafik bergerak naik dan cenderung linier. Hal ini
menunjukkan bahwa pergeseran (x) berbanding lurus dengan sinus
kemiringan ponton. Kemudian grafik tersebut diregresi secara linier
sehingga didapat persamaan linier grafik, Y= 0,002x + 0,004 dengan
koefisien korelasi (R2) sebesar 1,08. Nilai koefisien korelasi yang
mendekati angka 1 menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara nilai
pergeseran dan sinus kemiringan ponton.
Pada grafik kedua dan ketiga, grafik tersebut juga bergerak naik
dan cenderung linier, dimana persamaan linier grafik kedua adalah Y=
0,002x + 0,006 dengan koefisien korelasi (R2)= 1,11, dan persamaan
linier grafik ketiga adalah Y= 0,003x + 0,015 dengan Koefisien Korelasi
(R2) = 1,25.
Karena nilai sinus pada interval 0o 90o adalah berbanding lurus
dengan besar sudutnya, maka berdasarkan grafik, kita dapat mengetahui
bahwa semakin jauh jarak beban transversal, maka kemiringan
ponton juga akan semakin bertambah.

3. Analisis Hasil
Pada praktikum ini, praktikan memplot grafik sin rata-rata (y) vs
pergeseran (x). Kemudian dengan aplikasi Ms.Excel, didapatlah bentuk
fungsi grafik, yaitu y=bx+a.
Dimana b adalah gradien fungsi. Gradien b menunjukkan nilai

Menurut dasar teori, tinggi metacentrum benda dapat dicari dengan


persamaan :
GM =

w.x
W . sin

atau jika menggunakan gradien b, maka :


GM
Sehingga,
GM
Dimana w adalah berat beban transversal (0,322 kg), dan W adalah
berat beban geser (1,457 kg). Rumus tersebut digunakan untuk mencari
GM yang didapat dari percobaan (GMpercobaan).
Pada persamaan yang dibuat dengan Ms. Excel, nilai b yang
didapat belum memenuhi ketelitian yang diharapkan, sehingga nilai b
dihitung kembali dengan menggunakan persamaan :
(

Dimana xi adalah pergeseran beban transversal dan yi adalah sinus


rata-rata pada tiap pergeseran. Berdasarkan pengolahan data, didapat
nilai b pada saat tinggi titik berat 200 mm, 250 mm, dan 300 mm
berturut-turut sebesar 88,2 mm; 78,6 mm; dan 67,75 mm. Kemudian nilai
ini dibandingkan dengan GMteori , yang rumusnya :
GMteori

Dimana Imin adalah momen inersia ponton yang besarnya

(nilai p,

l, dan d telah diketahui dalam modul), juga terdapat V (volume ponton

yang terendam) dengan kedalaman terendam 20 mm, sedangkan y di sini


adalah jarak titik berat ponton terhadap dasar ponton.
Berdasarkan pengolahan data, pada saat t=200 mm, didapat GMteori
sebesar 87,7 mm. GMteori digunakan sebagai acuan perhitungan
GMpercobaan , sehingga kesalahan relatif GMpercobaan dihitung terhadap
GMteori nya. Kesalahan relatif pada saat t=200 mm dan y=89 mm yang
didapat sebesar 0,57 %. Nilai kesalahan relatif ini cukup kecil, sehingga
nilai GM dari percobaan masih dapat diterima.
Kemudian perhitungan GM dilakukan untuk t= 250 mm, dan t=
300 mm. Pada t=250 mm, GMpercobaan yang didapat sebesar 78,6 mm
dengan kesalahan relatif 4,84 %. Lalu saat t=300 mm, GMpercobaannya
sebesar 67,75 mm dengan kesalahan relatif 7,94%. Berdasarkan
perhitungan tersebut, GMpercobaan pada saat t=200 mm memiliki kesalahan
relatif terkecil, sedangkan kesalahan relatif terbesar terjadi pada
perhitungan GM percobaan saat tinggi beban geser 200 mm. Kesalahan
relatif terbesar mengkin terjadi kesalahan pada saat membaca kemiringan
ponton, dimana unting-unting selalu bergerak karena gelombang air tidak
tenang.
Kemudian nilai koefisien korelasi grafik sin rata-rata (y) vs
pergeseran (x) saat t= 20 mm, 250 mm, dan 300 mm berturut-turut adalah
1,08; 1,11; dan 1,25. Nilai tersebut mendekati angka 1, hal ini
menunjukkan bahwa sin rata-rata (y) dan pergeseran (x) saling berkorelasi.
Dari perhitungan GM pada setiap peletakkan beban geser, terlihat
bahwa semakin tinggi beban geser, maka nilai GM semakin kecil. Hal ini
sesuai dengan persamaan GM= BM-BG. Dimana semakin tinggi beban
geser, maka jarak BG atau jarak titik berat dari dasar ponton akan
semakin bertambah, sehingga nilai GMnya semakin kecil. Hal ini
terlihat dari data percobaan, dimana nilai tinggi titik berat ponton
semakin bertambah seiring penambahan tinggi beban geser.
Kemudian praktikan akan membahas pengaruh beban transversal
terhadap kemiringan ponton. Berdasarkan percobaan, semakin jauh jarak

beban transversal, maka akan membuat ponton menjadi semakin miring


(sudut kemiringan bertambah). Hal ini sesuai dengan persamaan :
w.x = W . GM . Sin

GM.Sin

G
B

Jika beban trasnversal (w) diletakkan semakin jauh dari titik tengah,
maka nilai w.x akan semakin besar. Kemudian karena w.x= W.GM. sin
sedangkan pada saat yang sama nilai beban geser (W) dan GM tidak
mengalamai perubahan maka sudah tentu nilai sin lah yang
bertambah oleh karena itu sudut kemiringan ponton () menjadi
semakin besar.
Lalu jika membandingkan kemiringan ponton pada beban
geser yang berbeda, untuk pergeseran yang sama, akan terlihat
bahwa sudut kemiringan ponton saat tinggi beban geser 300 mm
lebih besar dari sudut kemiringan ponton pada saat tinggi beban
geser 200 mm dan 250 mm. Menurut pengamatan praktikan, hal
tersebut terjadi karena semakin tinggi beban geser, nilai GM menjadi
semakin kecil, sehingga momen yang berfungsi untuk melawan
momen guling akibat beban transversal menjadi berkurang, sehingga
kemiringan ponton pun menjadi bertambah.
Dari praktikum ini, praktikan berhasil mencari nilai GM atau tinggi
metacentrum, sehingga tujuan dari praktikum ini pun dapat tercapai.

4. Analisis Kesalahan
Dalam praktikum ini terdapat beberapa kesalahan yang mungkin
terjadi, yang membuat perhitungan pada pengolahan data tidak akurat
100 %. Beberapa kesalahan yang mungkin terjadi adalah :

Proses pembulatan dan pemilihan angka penting pada setiap


perhitungan

Saat menentukan titik berat dengan menggantung ponton,


praktikan tidak memegang pemberat unting-unting, sehingga
letak titik berat ponton menjadi kurang akurat.

proses pengukuran yang kurang akurat karena keterbatasan


pengamatan praktikan.

H. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan, didapat:
1.

Saat tinggi beban geser 200 mm, GM percobaannya sebesar 88,2


mm dengan kesalahan relatif 0,57 %

2.

Saat tinggi beban geser 250 mm, GM percobaannya sebesar 78,6


mm dengan kesalahan relatif 4,84 %

3.

Saat tinggi beban geser 300 mm, GM percobaannya sebesar 67,75


mm dengan kesalahan relatif 7,94 %

Semakin besar tinggi metacentrum (GM), maka benda akan semakin


stabil ketika mengapung.
Pergeseran

beban

transversal

berbanding

lurus

dengan

sudut

kemiringan ponton
Semakin tinggi beban geser, sudut kemiringan ponton akan semakin
besar.
Nilai GM positif (titik metasentrum terletak di atas titik berat ponton)
menimbulkan momen yang berlawanan dengan arah momen guling,
sehingga membuat ponton stabil.
Nilai GM negatif (titik metasentrum terletak di bawah titik berat
ponton) menimbulkan momen yang searah dengan momen guling,
sehingga ponton menjadi tidak stabil

I. REFERENSI

Potter, Merle. C and Wiggert, David. C. Mechanics of Fluids Fourth


Edition. Prentice Hall, NJ. 2012.

Bruce R. Munson, Donald F. Young, Theodore H. Okishi,


Fundamentals of Fluid Mechanics 5th edition. 2005

Hidayat, Acep. Modul Mekanika Fluida dan Hidrolika. Universitas


Mercu Buana.

Laboratorium Hidrolika, Hidrologi dan Sungai Departemen Teknik


Sipil UI (2009). Pedoman Praktikum Mekanika Fluida dan Hidrolika.

J.

LAMPIRAN

Gambar 2. Alat peraga Stabilitas Benda Terapung

Gambar 3. Menentukan Titik Berat Ponton