Anda di halaman 1dari 26

STRATEGI MANAJEMEN PESANTREN DI MALANG MENUJU

PESANTREN MANDIRI
(STUDI ANALISIS APLIKASI KONSEP TOTAL QUALITY MANAJEMEN DI
PESANTREN)
Oleh:
Akhmad Najibul Khairi Syaie, M.A
ABSTRAK
Pesantren sebagai local genius masih diakui existensi dan kontribusinya
dalam membangun bangsa dan negara Indonesia, khususnya dalam
meberikan warna pendidikan Islam di Indonesia. Akan tetapi, menghadapi
tantangan dunia global dengan perkembangan teknologi informasi yang
begitu dahsyat, pesantren harus segera berbenah diri dan mengambil
langkah antisipatif. Pola-pola manajemen pesantren sudah seyogyanya
mulai dirubah ke arah manajemen modern yang lebih mengedepankan
kualitas dan kepuasan pelanggan, yang lebih dikenal dengan Total Quality
Manajemen (TQM). Penelitian ini bertujuan menjelaskan konsep Total
Quality Manajemen dalam kasus Pesantren An- Malang Jawa Timur, dan
dapat dijadikan acuan bagi pesantren-pesantren lain dalam menyusun dan
mengambil kebijakan strategi manajemen lembaganya yang berujung pada
pemenuhan tuntutan kualitas dan kepuasan masyarakat.Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif.
Penelitian ini dirancang dengan menggunakan rancangan studi kasus.
Rancangan studi studi kasus merupakan pengujian secara rinci terhadap satu
latar atau satu orang subjek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau
satu peristiwa tertentu.Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa menurut
pandangan pengelola pesantren An Nur malang untuk mengikuti konsep
berpikir TQM, maka manajemen Pesantren seyogianya memandang bahwa
proses pendidikan adalah suatu peningkatan terus menerus (continuous
educational process improvement). Pondok Pesantren An Nur melakukan
modernisasi dalam pengelolaan pondok sebagai upaya mengantisipasi
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan melakukan pemantapan
internal dan melakukan penyesuaian visi dan misi pendidikan ke arah
perubahan global. Dalam menentukan segala kebijakan terkait peningktan
mutu pesantren, pengelola pesantren selalu melibatkan masyarakat
dalammemberikan masukan.
Kata Kunci : Total Quality Management, Pesantren

A. Latar Belakang Masalah


Dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan pendidikan di Indonesia,
agaknya tidak dapat dipungkiri bahwa pesantren telah menjadi semacam local
genius. Di kalangan umat Islam sendiri pesantren telah dianggap sebagai model
institusi keilmuannya, yang oleh Martin Van Bruinnessen dinilai sebagai salah satu
tradisi agung (great Tradition) (Fajar, 1999:113). Kata Nurkholis Majid dalam
Raharjo (1985:3), Andaikan saja negeri ini tidak mengalami penjajahan, kata
Nurcholis Madjid , tentu pertumbuhan sistem pendidikan di Indonesia akan
mengikuti jalur-jalur yang ditempuh pesantren-pesantren. Sehingga perguruan
tinggi tidak akan berupa UI, IPB, ITB, UGM, dan lain-lain, tetapi mungkin
Universitas

Tremas,

Krapyak,

Al-Munawariyah,

Bangkalan,

Lasem

dan

sebagainya.
Sejarah juga telah membuktikan kontribusi pesantren dalam rangka turut
mendirikan negara Republik Indonesia. Banyak ulama dan santri yang gugur
dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Ulama bersama
santri

rela mengisolisir diri sambil memotivasi masyarakat untuk tidak

bekerjasama dengan penjajah. Pada masa awal gerakan mengisi kemerdekaan


sampai masa pembangunan sekarang ini peran pesantren dan ulama terus
meningkat, terutama dalam rangka kerjasama ulama dan umara dalam
mensukseskan pembangunan bangsa dalam segala bidang sesuai dengan posisi
masing-masing (Jamali, 1999:129).
Dalam proses pembelajaran, dahulu pesantren hanya mengedepankan
metode pembelajaran bandongan, sorogan dan wetonan. Namun dalam pesantren
modern diperkenalkan metode diskusi dengan memberikan porsi lebih besar

kepada para santri untuk menyampaikan gagasan dalam menginterpretasikan


sebuah kitab kajian. Begitu juga dalam mengklasifikasi santri, pesantren modern
mengintroduksi sistem kelas yang didasarkan pada pengetahuan yang dimiliki,
bukan pada jumlah dan jenis kitab yang telah dikaji. Disamping itu, pesantren
modern mulai mengakses teknologi sebagai sarana dan bahasa asing (khususnya
Arab dan Inggris) sebagai bahasa pengantar yang memungkinkan santri mampu
berkomunikasi dengan komunitas intelektual di dunia luar (Munawar, 2001:100).
Perubahan model dari tradisional menjadi modern memiliki sisi plus dan
minus. Sisi plus dari sistem pertama (tradisionalisme) adalah, pada umumnya para
santri kuat dalam telaah kitab-kitab warisan ulama klasik. Mereka menguasai teori
bahasa arab secara baik, namun kurang menekankan aspek praktis dari
pemanfaatan bahasa sebagai alat komunikasi verbal. Sebaliknya, sistem yang
kedua (modern) pada umumnya- kurang dalam penguasaan kitab-kitab warisan
ulama klasik, namun mereka telah membiasakan bahasa Arab dan Inggris sebagai
bahasa pengantar keseharian sehingga santrinya lebih mudah dan cepat dalam
mengakses serta berkomunikasi dengan para intelektual di dunia luar.
Namun dari pengalaman perjalanan pesantren, baik yang mengarah pada
model tradisional maupun modern, memiliki visi yang sama, yakni keajegan
(istiqomah) dalam menegakkan nilai-nilai moralitas agama dalam kehidupan di
masyarakat. Dunia boleh berubah, tapi subtansi yang diajarkan dan nilai-nilai
moralitas tidak boleh luntur diterpa badai dekadensi. Disamping itu pembinaan
akhlak dibangun atas dasar teladan yang baik (uswatu al-Hasanah) dari para
pengajar. Para santri dalam interaksi sosial keseharian dapat dikontrol setidaknya

terawasi- oleh para guru (asatidz). Karena tempat tinggal santri tidak berjauhan
dengan tempat tinggal para guru.
Denga demikian

jika terjadi kasus dekadensi moral dikalangan santri

maupun asati>dh dapat lebih cepat dicegah penyebarannya. Barangkali inilah nilai
posistif dari sistem pendidikan pesantren yang hingga kini masih diidealkan oleh
masyarakat Muslim di Indonesia. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa
pesantren sebagai local genius masih diakui existensi dan kontribusinya dalam
membangun bangsa dan negara Indonesia, khususnya dalam meberikan warna
pendidikan Islam di Indonesia. Akan tetapi, menghadapi tantangan dunia global
dengan perkembangan teknologi informasi yang begitu dahsyat, pesantren harus
segera berbenah diri dan mengambil langkah antisipatif. Pesantren juga dituntut
untuk lebih mandiri dan tanggap terhadap tuntutan masyarakat modern yang terus
menerus mendambakan kualitas dalam segala hal (Tilaar, 1999:135).
Jika tidak demikian, pesantren tetap akan terkurung dalam orbitnya sendiri,
sehingga tidak mampu mengantisipasi perubahan sosial. Hal ini sesuai dengan poin
panca jiwa pesantren yaitu : mandiri dan bebas. Mandiri berarti; pesantren tidak
pernah menggantungkan hidup kepada belas kasihan orang lain, akan tetapi
berusaha sendiri dengan modal keikhlasan dan keyakinan akan kebesaran Allah
SWT yang diiringi dengan usaha maksimal. Bebas berarti Bebas dalam berfikir,
berbuat, bebas menentukan masa depan, dalam memilih alternatif jalan hidup
didalam masyarakat kelak dengan jiwa besar dan optimistis dalam menghadapi
segala problematika kehidupan.
Dari sini, hal yang paling urgent yang harus dibenahi oleh pesantren
sebagai langkah antisipatif tersebut adalah pembenahan pola manajemen, sebab

pola manajemen pesantren cenderung dilakukan secara insidental dan kurang


memperhatikan tujuan-tujuannya yang telah disistematisasikan secara hirarkis.
Sistem pendidikan pesantren biasanya dilakukan secara alami dengan pola
manajerial yang tetap (sama) dalam tiap tahunnya. Perubahan-perubahan mendasar
dalam pengelolaan pesantren agaknya belum terlihat. Penerimaan santri baru
misalnya, masih dilakukan secara terbuka untuk semua individu yang
mempunyai latar belakang dan kemampuan beragam tanpa mengadakan usaha pretes terlebih dahulu. Usaha kategorisasi dan klasifikasi santri secara kualitatif jarang
sekali dilakukan (Suwendi, 1999:209).
Pengorganisasian pesantren mulai penyiapan fasilitas dan sumber daya
manusia, mengatur berbagai komponen secara cermat sampai kepada pelatihan
guru dan staf secara teratur, tampaknya, jarang sekali ditemukan pada pesantren,
hanya hal-hal lumrah yang dapat ditemukan dalam kehidupan Pesantren. Dalam
struktur dan cara pengelolaan, hingga asset pesantren, dikuasai secara turuntemurun. Ketakutan terhadap kehilangan aset pesantren ini, menyebabkan
diserahkannya pengorganisasian pesantren kepada. Efeknya tidak jarang pula para
ahli waris memperebutkan pesantren itu agar dia dapat mempunyai andil disana
(Anwar, 1908:201).
Pola-pola manajemen pesantren seperti tersebut diatas sudah seyogyanya
mulai dirubah ke arah manajemen modern yang lebih mengedepankan kualitas dan
kepuasan pelanggan, yang lebih dikenal dengan Total Quality Manajemen (TQM).
Prinsip-prinsip konsep manajemen ini juga telah dipakai oleh pemerintah dalam
rangka meningkatkan kualitas lembaga pendidikan di Indonesia dengan istilah
Manajemen Peningkatan Mutu berbasis Sekolah (MPMBS). Prinsip-prinsip

tersebut adalah : (1)Fokus pada kualitas atau mutu (2)Perencanaan dan


pengambilan keputusan yang dimulai dari bawah (bootom up planning and
decision making) (3)manajemen yang transparan (4) Pemberdayaan masyarakat
(5)Peningkatan mutu secara berkelanjutan (continuous quality improvement)
(Tjiptono, 2002:41). Selanjutnya dengan mendasarkan pada kelima prinsip
tersebut, maka aspek aspek yang perlu ditata dengan lebih baik oleh pesantren
anatara lain : (1) perencanaan dan evaluasi (2) kurikulum (3) proses belajar
mengajar (4) ketenagaan (5) Peralatan dan perlengkapan (6) keuangan (7)
pelayanan siswa (8) hubungan pesantren dan masyarakat (9) iklim pesantren
(Depdiknas, 2001:21).
Menurut Sobirin Naji dalam (Raharjo : 1985:147), penerapan Total Quality
Manajemen ini bukanlah suatu hal yang dipaksakan, akan tetapi memang sudah
menjadi keharusan, jika pesantren tetap ingin membuktikan kualitasnya ditengahtengah serbuan model-model pendidikan baru, dengan tanpa melepaskan
karakteristik khasnya. Hal ini juga sebagai wujud dari statemen yang tidak asing
lagi di kalangan pesantren yaitu mempertahankan tradisi lama yang masih
signifikan dan mengambil tradisi baru yang lebih bermanfaat (al muhafadzah ala
qadim al salih wa al akhdzu bi al jadid al aslah).
Selain itu pesantren tidak lagi hanya mengelola pendidikan diniyah yang
dilakukan dengan seadanya, melainkan mengelola beberapa lembaga pendidikan
yang variatif mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Pesantren juga
mengelola badan usaha seperti persawahan dan koprasi pondok pesantren sebagai
penyokong finansial, seperti di pesantren An-Nuur dan Tebuireg Malang. Semua
itu tidak akan berjalan tanpa didukung oleh sumber daya manusia yang cukup

banyak. Untuk itulah diperlukan manajemen yang rapi dan transparan. Hal ini
sesuai dengan definisi manajemen yang diungkapkan oleh Dale (1973:4) dan
Arsyad (2002:2) yaitu : Management is process of working with and trough others
to achieve organitational objective in changing environment.
Berdasarkan pada keterangan tersebut diatas, aplikasi konsep TQM dalam
dunia pesantren dalam rangka mempertahankan eksistensi dan kualitasnya
ditengah-tengah maraknya penawaran model pendidikan di Indonesia, merupakan
hal yang sangat menarik untuk dikaji dan diteliti lebih lanjut.
Diantara pesantren yang telah melakukan perubahan manjemen menuju ke
arah Total Quality Manajemen adalah Pesantren An-Nuur Malang Jawa Timur,
dengan bukti bahwa pesantren tersebut masih tetap menjadi alternatif utama bagi
para orang tua untuk menyekolahkan putra-putri mereka. Hal tersebut disebabkan
oleh adanya jaminan keamanan (safety) dari aspek moralitas, karena seluruh siswa
harus tinggal di pondok. Selain itu pesantren juga telah menyediakan unit
pendidikan yang sangat variatif, mulai dari sekolah dasar sampai dengan perguruan
tinggi, dengan kualitas yang hampir sama, bahkan lebih, jika dibanding dengan
lembaga pendidikan lain diluar pesantren.
Beberapa penelitian dan kajian terdahulu tentang pesantren antara lain
dilakukan oleh Zamakhsyari Dlofir (1985), Mastuhu (1994), Hiroko Hirokushi
(1987), Manfred Ziemek (1986) dan Sudjoko dkk (1982). Para peneliti tersebut
berupaya untuk menggambarkan pesantren secara global dari aspek elemen-elemen
pesantren,

metode

pembelajaran,

kepemimpinan

pesantren,

tetapi

tidak

memfokuskan pada pola-pola manajemen pesantren secara khusus. Kajian lain

yang dlakukan oleh Musthofa Syarif (1984), lebih menekankan pada model
administrasi pesantren secara lebih tehnis.
Dari kajian dan penelitian diatas tampak bahwa, belum ada penelitian yang
memfokuskan kepada manajemen pesantren khususnya aplikasi Total Quality
Manajemen di pensantren. Oleh karena itu penelitian ini berupaya melengkapi
penelitian-penelitian terdahulu dari aspek manajemen pesantren. Penelitian ini
berupaya untuk menemukan dan menggali lebih jauh strategi manajemen yang
diterapkan di pesantren An-Nuur dan Malang Jawa Timur.

B. Analisis Data
Pelaksanaan Total Quality Management (TQM) di Pesantren An-Nur Malang
Fungsi pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia
yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi Warga Negara yang demokratis serta

bertanggung

jawab. Untuk

mewujudkan idealisme pendidikan maka diperlukan upaya upaya yang inovatif


mengingat dinamika masyarakat, ilmu pengetahuan

dan

teknologi

terus

berkembang. Merespon hal yang demikian Pesantren An Nuur Malang berupaya


melakukan

berbagai terobosan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Sesuai dengan hasil observasi peneliti serta hasil wawancara dengan


beberapa pengelola pesantren An Nuur Malang, dapat di katakana bahwa kegiatan
pendidikan secara keseluruhan di pesantren An Nuur Malang sudah sesuai yang
diharapkan terutama pada kegiatan-kegiatan pemberdayaan di pesantren umumnya

serta kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan belajar mengajar khususnya.


Partisipasi guru, karyawan, masyarakat terhadap kegiatan pendidikan di pesantren
dalam pengembangan fisik, pengadaan sarana prasarana serta kurikulum cukup
baik.
Pesantren An Nuur Malang tentunya memiliki bangunan dasar sebagai
sebuah instansi pendidikan agar bisa dikembangkan dan mampu diterima di
tengah-tengah kehidupan

masyarakatnya. Adapun konsep atau visi awal yang

sudah dibangun Pesantren An Nuur Malang sebagaimana diungkapkan oleh


pimpinan pesantren adalah membentuk masyarakat yang adil, cerdas, terampil,
mandiri serta bertanggung jawab kepada masyarakat, Negara dan agama.
Visi Pesantren An Nuur Malang dalam penyelenggaraan Total Quality
Management

adalah memberdayakan

seluruh sumber daya manusia yang

berwawasan masa depan dan berakhlakul karimah, unggul dalam IMTAQ dan
IPTEK. adapun Misi Pesantren An Nuur Malang dalam penyelenggaraan total
quality management adalah memberdayakan seluruh sumber daya pesantren untuk
membentuk membentuk kepribadian muslim yang berwawasan global dan
berakhlakul karimah. Membekali santri ilmu pengetahuan dan teknologi yang
berorientasi pada kecakapn hidup. secara garis besar Pesantren An Nuur Malang
dalam menerapkan total quality management adalah sebagai berikut:
a. Merespon keinginan pelanggan
Program pendidikan yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren An- Nur
II ada dua jenis, yaitu pendidikan sekolah (pendidikan formal) dan pendidikan
luar sekolah (pendidikan non formal). Pendidikan sekolah adalah pendidikan
yang

diselenggarakan di sekolah melalui kegiatan belajar mengajar secara

berjenjang dan berkesinambungan. Sedangkan pendidikan non formal adalah


pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah melalui kegiatan belajar
mengajar yang tidak harus

berjenjang dan berkesinambungan. Berdirinya

lembaga pendidikan formal dilingkungan Pondok Pesantren An-Nur II bukan


hanya berasal dari arus atas (Top Down), namun lebih banyak didukung
aspirasi dari bawah (Bottom Up), yaitu berasal dari swadaya masyarakat yang
merasa perlu untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anaknya.
Hal ini terwujud karena pada masa itu di Kecamatan Bululawang
belum ada sekolah umumnya baik SMA atau SMP. Untuk mewujudkan
keinginan masyarakat sekitar maka dibentuklah pendidikan formal tersebut.
Sedangkan dari pemikiran pengasuh, dibentuknya pendidikan formal ini lebih
ditujukan pada perluasan pondok sehingga dapat menampung santri yang
semakin komplek minat dan kebutuhannya akan pendidikan. Selain itu juga
untuk memberi sumbangan pada pendidikan nasional, sehingga lembaga
pendidikan

pondok

pesantren tidak hanya melulu mengkaji ilmu-ilmu

agama, namun juga membuka diri dengan ilmu-ilmu pengetahuan umum


sehingga akan tetap dapat mengikuti perkembangan jaman.
Pondok Pesantren An-Nur yang keberadaannya memang dipersiapkan
untuk membangun masyarakat pedesaan yang rata-rata berada pada tingkatan
kelas menengah kebawah. Hal ini sebagai salah satu langkah awal
turut

serta

(materi)

untuk

memberantas kemiskinan masyarakat, baik itu kemiskinan harta

maupun

kemiskinan

ilmu pengetahuan

serta mengupayakan

pengembangan sumber daya yang lebih berkualitas dalam aspek kehidupan.

10

Pondok Pesantren An-Nur yang selama ini telah menunjukkan adanya


kemajuan baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya masih terus berusaha
merespon keinginan pelanggan dengan mengadakan terobosan-terobosan baru
untuk memantapkan posisinya dalam pembangunan nasional pada masa
yang akan datang.
menentukan

Oleh karena

langkah

itu

selanjutnya demi

perlu

program-program

mancapai

tujuan

yang

untuk
telah

ditetapkan. Adapun program yang ada di Pondok Pesantren An-Nur terdiri


atas program pendidikan, program sosial kemasyarakatan

dan program

perekonomian.
b. Pelayanan terbaik
Pondok Pesantren An Nuur Malang telah melakukan antisipasi yang
diperkirakan mampu mengikuti perkembangan zaman dan tetap memberikan
pelayanan terbaik

bagi

santri-santrinya, misalnya memperbaharui

pembelajaran dengan sistem digitalisasi

alat

yakni memperkaya perpustakaan

yang ada dengan membentuk Digital Library. Digital Library (perpustakaan


digital) dilakukan melalui proses scanning sejumlah
berkaitan

bahan

pustaka

yang

dengan semua mata pelajaran dan buku-buku penunjang lainnya

di Pondok Pesantren An-Nur dan dimasukkan ke dalam sebuah komputer.


Seluruh santri dapat mengakses materi-materi pembelajaran tersebut dengan
membuka file-file di komputer sesuai dengan kebutuhan masing. Dan
menggunaan peralatan multimedia yakni sarana pembelajaran berupa satu unit
computer, televisi 24 inc., VCD, sound system dan ratusan keping CD
pembelajaran.

11

Pondok Pesantren An Nur melakukan modernisasi dalam pengelolaan


pondok sebagai upaya mengantisipasi kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Dari wawancara dengan peneliti, didapatkan jawaban; bahwa
pimpinan pondok sebagai salah satu pusat kendali dalam pengajaran, dalam
menyikapi kemajuan iptek melakukan pemantapan internal dan melakukan
penyesuaian visi dan misi pendidikan ke arah perubahan global. Pengembangan
sumber daya manusia (dewan astidz) dan sumber daya alat atau media yang
memadai untuk pencapaian tujuan pendidikan dan pengajaran yang berorientasi
penguasaan iptek telah dan sedang dilakukan.
Dalam kaitannya dengan peningkatan mutu pendidikan di Pondok
Pesantren An Nur tampak bahwa program pengelolaan pendidikan dan
pengajaran dilakukan dalam berbagai aspek yang berkaitan langsung dan tidak
langsung terhadap peningkatan

mutu

proses

pendidikan

dan

terutama

peningkatan hasil pendidikan itu sendiri. Terlihat jelas bahwa pengelolaan


pendidikan formal selalu berorientasi pada mutu. Pimpinan pondok bersama
bersama komponen-komponen yang ada di dalamnya, baik kepala pesantren,
pengasuhan santri, guru (astidz), dan organisasi santri (OSNH) terus
melakukan upaya pemantapan internal seperti; peningkatan kualitas dan
kuantitas guru, pengadaan fasilitas dan multimedia pembelajaran, optimaliasi
kegiatan-kegiatan siswa yang berbasisi keterampilan dan kreativitas.
c. Pemberdayan Sumber Daya Manusia
Kualitas dan kuantitas guru menjadi salah satu poin utama yang
diperhatikan dalam pengelolaan pendidikan dan pengajaran di Pondok Pesantren
An Nur, karena dalam banyak hal, guru sangat sering berinteraksi dengan siswa

12

(santri). Guru dengan tutur kata dan tingkahnya akan menjadi contoh dan
tauladan yang pertama bagi siswa di dalam pondok, terlebih karena kebanyakan
guru yang mengajar di Pondok Pesantren An Nur langsung tinggal di dalam
pondok. Dengan demikian, peningkatan kualitas guru dalam berbagai upaya
merupakan upaya peningkatan mutu proses dan mutu hasil pendidikan dan
pengajaran yang ada di Pondok Pesantren An Nur.
Untuk meningkatkan kualitas input dan kualitas pendidikan di pesantren
serta kualitas oututnya, pengelola pesantren An Nur selalu bermusyawarah
dengan

guru, wali santri serta melibatkan masyarakat setempat dalam

menciptakan lulusan santri yang berkualitas dan berwawasan luas.


Ada beberapa penunjang untuk peningkatan kualitas guru dan karyawan
Pesantren An Nur antara lain: Pelatihan MGMP untuk Peningkatan Kualitas
Mengajar Guru, Training Manajemen dan Kepemimpinan Tenaga Pendidik,
Workshop Peningkatan Kreatifitas mengajar.

Dengan beberapa kegiatan tersebut diharapkan kualiatas guru dan


karyawan

semakin

meningkat

dalam memberikan

pelayanan

terhadap

pelanggan pendidikan yakni pengguna jasa pendidikan yaitu masyarakat. Di


samping itu diperlukan input santri yang berkualitas melalui rekrutmen
pada saat penerimaan santri baru.
Untuk

meningkatkan

kemampuan

para

guru,

maka

pesantren

An Nur Mal ang mendorong agar para guru selalu mengikuti perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi baik melalui media cetak atau elektronik
yang bisa diakses melalui buku, Koran, televisi maupun internet. Upaya lain
yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas guru antara lain; Mengadakan

13

diskusi rutin dewan guru setiap tiga bulan sekali, Mendorong guru untuk
melanjutkan studi kejenjang yang lebih tinggi, Menugaskan

guru mata

pelajaran untuk mengikuti musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) yang


diselenggarakan oleh pemerintah, mengikuti pelatihan dan seminar pendidikan
baik yang diselenggarakan oleh Departemen Agama maupun Departemen
Pendidikan Nasional.

Upaya Peningkatan Total Quality Management (TQM) di Pesantren An Nur


a. Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan

Membahas peningkatan total quality management pesantren An Nur


Malang tidak bisa lepas dari pembahasan kurikulum, tenaga pendidik, tenaga
kependidikan, proses kegiatan belajar mengajar (KBM), sarana prasarana,
anggaran, dan manajemen mutu sebagaimana telah dibahas sebelumnya.
Pesantren An Nur Malang sekarang

ini telah mengembangkan

kurikulum seperti yang dianjurkan pemerintah. Dalam kurikulum ini guru


tidak hanya memandang siswa sebagai obyek pendidikan semata, melainkan
sebagia subyek. Diberlakukannya kurikulum menunjukkan niat baik pesantren
dalam rangka mencapai jati diri pendidikannya. Selain itu para guru pesantren
juga diikutkan dalam pelatihan-pelatihan/Workshop

pendidikan seperti

Workshop peningkatan kreatifitas mengajar melalui MGMP, dan memahami dan

memperdalam sendiri

dengan

membaca buku

panduan kurikulum.

Ini

dilakukan agar Guru tidak ketinggalan dengan perkembangan kurikulum


dan dapat menyampaikan materi dengan baik.

14

Untuk meningkatkan nilai Ujian Nasional, dan memacu siswa kelas tiga
tahun ini, pesantren di pesantren An Nur Malang melakukan:
1) Tambahan jam belajar (Les) pada sore hari, mulai masuk semester
pertama
2) Siswa diberi pekerjaan rumah untuk menjawab soal - soal, meresum
pelajaran, diskusi kelompok, serta tugas lain yang memacu siswa untuk
terus belajar.
3) Membekali siswa supaya diberikan hidayah dan kemantapan hati oleh
Allah SWT, maka diadakan doa bersama / Istighosah.

b. Upaya Peningkatan Mutu Layanan

Pada Bab II didepan telah disinggung masalah pendidikan dan


pelanggannya,

pesantren adalah penyelenggara

(provider) atau service

(layanan). Untuk meningkatkan mutu layanan pesantren pesantren harus


lebih

dulu mengenali siapa pelanggan pesantren pesantren, jasa apa yang

ditawarkan kepada pelanggan, dan bagaimana ukuran layanan bermutu.


Menjawab
bukan

pertanyaan

tersebut

pabrik yang menghasilkan

tidak gampang

sebab pesantren

suatu produk atau jasa

tertentu

sebagaimana layanan yang ada pada perusahaan. Pelanggan Pesantren dapat


dibedakan menjadi dua

yaitu

pelanggan

luar

dan

pelanggan

dalam.

Pelanggan Luar Utama adalah siswa karena merekalah yang memperoleh


layanan langsung dari pesantren. Pelanggan Luar Kedua adalah orangtua
pejabat pendidikan/masyarakat

penyedia maupun pengguna jasa karena

mereka yang membiayai siswa dan institusi pendidikan dalam hal ini

15

pesantren ini tentunya sehingga sangat penting dan menentukan. Pelanggan


Luar yang Ketiga adalah dunia kerja atau masyarakat pengguna lulusan.
Guru serta karyawan yang berada di pesantren An nur Malang disebut
pelanggan dalam.
Jasa

yang ditawarkan pesantren

kepada

pelanggan adalah

layanan.upaya untuk meningkatkan mutu layanan yang telah dilakukan


pesantren An Nur Malang adalah :
a. Mambangun kultur mutu dalam semua komponen pesantren melalui
budaya disiplin dan tepat waktu pada siswa, guru, dan karyawan
b. Meningkatkan

profesionalisme guru, sebagai bagian dari reformasi

paradigma dan memberdayakan siswa.


c. Adanya kontak langsung antara provider (yang melayani) dengan user
(pengguna layanan). Hubungan ini untuk membuka komunikasi dengan
pelanggan.
d. Layanan secara luas yang merupakan proses. Pemimpin pesantren
berusaha memberikan kepuasan bagi para pelanggan, dan kepuasan ini
harus dijaga meskipun selalu berubah
e. Mengupayakan layanan terbaik sehingga berkesan. Ini selalu diupayakan
oleh semua staf yang ada di man 1 surakarta. Mutu pelayanan prima
akan mewarnai persepsi pelanggan terhadao keseluruhan organisasi
pesantren An Nur malang.
f. Pemimpin pesantren senantiasa menanamkan untuk berbuat yang terbaik
dan meyakinkan serta memotivasi staf akan pentingnya layanan.
Pelatihan pengembangan staf dapat memberikan visi layanan dan

16

menjelaskan standar layanan yang ingin dicapai.


Untuk menghasilkan institusi yang berkualitas dan output yang
unggul maka diperlukan strategi khusus agar pesantren memiliki daya saing
dan tetap survive, mengingat dewasa ini pesantren masih menjadi prioritas
yang kedua Total Quality Management atau Manajemen Mutu Terpadu
dikalangan pesantren kelihatannya
sebenarnya

indikator-indikator

masih belum popular,


TQM sudah dilaksanakan,

meskipun
hanya saja

mungkin persepsi dan istilahnya yang berbeda.


Strategi pembangunan pendidikan selama ini cenderung lebih input
oriented. Artinya orientasi ini mengandung asumsi bahwa bila semua input
pendidikan (penyediaan buku-buku, alat belajar-mengajar, pelatihan guru,
dsb)

telah

terpenuhi,

maka

otomatis

sekolah atau pesantren dapat

menghasilkan keluaran (output) yang berkualitas sesuai dengan harapan.


Pengelolaan

pendidikan

selama ini juga lebih bersifat

macro

oriented yang diatur oleh jajaran birokrasi di tingkat pusat (sentralistik).


Akibatnya, banyak perencanaan yang dipikirkan di pusat tidak dapat
dilaksanakan

di sekolah atau pesantren

(daerah). Dengan kata lain,

kompleksitas permasalahan pendidikan, kondisi lingkungan sekolah dan


bervariasinya kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan, seringkali tidak
dapat terakomodasikan

secara utuh dan akurat oleh para perencana

pendidikan di tingkat pusat.

C. Temuan Penelitian

17

Pesantren An Nur malang telah berupaya melaksanakan Total Quality


Management dengan baik. Hal ini bisa di katakana peneliti dari beberapa pendapat
pengelola pesantren ini tentang keterbukaannya terhadap perubahan zaman serta
pentingnya peningkatan mutu pesantren dari segala aspek.
Mutu layanan pendidikan pesantren sesuai dengan visi pesantren yakni
membentuk masyarakat

yang

adil,

cerdas,

terampil,

mandiri

serta

bertanggung jawab kepada masyarakat, Negara dan agama merupakan prinsip


dasar penyelenggaraan pesantren An Nur yang terus dikembangkan sesuai
dengan tuntutan perubahan zaman.
Untuk menjaga prinsip di atas pesantren an Nur Malang menerapkan
manajemen mutu yang difokuskan pada perbaikan setiap aspek pesantren,
khususnya sumberdaya manusia dan sumber daya pendukung seperti adanya
pelatihan dan pengembangan guru dan karyawan.
Berbagai upaya juga dilakukan pengelola pesantren An Nur untuk tetap
menjaga kualitas pelaksanan pendidikannya. Secara kognitif, standar mutu santri
yang digunakan pesantren An Nur berupa pencapaian nilai baik dalam setiap mata
pelajaran. Secara afektif, standar kompetensi yang harus dicapai adalah memiliiki
nilai-nilai etika, estetika, demokrasi, toleransi, dan humaniora dengan dilandasi
keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT serta mampu bertingkah laku secara
syari sesuai dengan tuntunan ajaran Islam sehingga akan mencapai muslimah
shalihah kamil (utuh) sosial. Secara psikomotorik, standar kompetensi santri yaitu
memiliki ketrampilan berkomunikasi, kecakapan hidup dan mampu beradaptasi
dengan perkembangan lingkungan sosial budaya dan lingkungan alam baik lokal
maupun regional.

18

Program perbaikan mutu ustadz antara lain pengadaan program workshop


dewan asatidz, musyawarah ustadz mata pengajian (MUMP), seminar berkala, dan
pembuatan karya ilmiah asatidz.
Perbaikan mutu santri antara lain adanya beberapa program seperti tes
masuk madrasah, praktek pengalaman mengajar (PPM), pembuatan karya ilmiah
(tugas akhir), halaqah bahtsul masail al haditsah (musyawarah pembahasan
masalah-masalah terkini), pemberian penghargaan kepada santri berprestasi,
latihan khitobah (latihan pidato 4 bahasa: bahasa Arab, Jawa, Inggris dan
Indonesia), dzibaiyyah (bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW dengan
menggunakan lagu atau nada), membaca tahlil, halaqoh al-talim atau majlis
talim, sorogan kitab dan al Quran, daurah ilmiah dan kajian tematik. Kegiatan ini
dilakukan baik secara kelompok ataupun individual.

D. Kesimpulan
Berdasarkan data dan analisis yang telah dipaparkan pada bab-bab
terdahulu, peneltian ini menyimpulkan:
1. Menurut pandangan pengelola pesantren An Nur malang untuk mengikuti
konsep berpikir TQM, maka manajemen Pesantren seyogianya memandang
bahwa proses pendidikan adalah suatu peningkatan terus menerus (continuous
educational process improvement), yang dimulai dari sederet siklus sejak
adanya ide-ide untuk menghasilkan lulusan (ouput) yang berkualitas,
pengembangan kurikulum berbasis kompetensi global, proses pembelajaran
yang interaktif, sampai kepada ikut bertanggungjawab untuk memuaskan
pengguna lulusan itu. Seterusnya berdasarkan informasi sebagai umpan balik

19

yang dikumpulkan dari pengguna lulusan itu, dapat dikembangkan ide-ide


kreatif untuk mendesain ulang kurikulum berbasis kompetensi itu atau,
memperbaiki proses pendidikan pesantren yang ada saat ini.
2. Pondok Pesantren An Nur melakukan modernisasi dalam pengelolaan pondok
sebagai upaya mengantisipasi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
dengan melakukan pemantapan internal dan melakukan penyesuaian visi dan
misi pendidikan ke arah perubahan global. Pengembangan sumber daya
manusia (dewan astidz) dan sumber daya alat atau media yang memadai untuk
pencapaian tujuan pendidikan dan pengajaran yang berorientasi penguasaan
iptek telah dan sedang dilakukan. Dalam kaitannya dengan peningkatan mutu
pendidikan di Pondok Pesantren An Nur tampak bahwa program pengelolaan
pendidikan dan pengajaran dilakukan dalam berbagai aspek yang berkaitan
langsung dan tidak langsung terhadap peningkatan mutu proses pendidikan
dan terutama peningkatan hasil pendidikan itu sendiri. Terlihat jelas bahwa
pengelolaan pendidikan formal selalu berorientasi pada mutu. Pimpinan pondok
bersama bersama komponen-komponen yang ada di dalamnya, baik kepala
madrasah, pengasuhan santri, guru (astidz), dan organisasi santri (OSNH) terus
melakukan upaya pemantapan internal seperti; peningkatan kualitas dan
kuantitas guru, pengadaan fasilitas dan multimedia pembelajaran, optimaliasi
kegiatan-kegiatan siswa yang berbasisi keterampilan dan kreativitas.
3. Untuk dapat memainkan peran edukatifnya dalam penyediaan sumberdaya
manusia yang berkualitas pesantren An Nur mensyaratkan terus meningkatkan
mutu sekaligus memperbarui model pendidikannya. Dalam menentukan segala
kebijakan terkait peningktan mutu pesantren, pengelola pesantren selalu

20

melibatkan

masyarakat

dalammemberikan

masukan.

berkaitan

dengan

lingkungn sekitar , pesantren an nur memiliki hubungan timbal balik yang


relatif baik. berkaitan dengan lingkungn sekitar , pesantren an nur memiliki
hubungan timbal balik yang relatif baik.

E. Referensi

A. Halim. ed. Manajemen pesantren. LKiS. Yogyakarta, 2005.


A.Tabrani Ruslan et.al.. Pendekatan dalam Proses Pengajaran. Bandung: Remaja
Rosda Karya, 1989.
Abdillah, Abi Muhammad Ismail Al Bukhori, Shohih Bukhori, Indonesia:
Maktabah Dahlan, tt
Abidin Anwar, Zainal. Problem Managerial Pesantren Dalam Peradaban dalam
Modernn. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1908.
Ahmad Syalaby.. al-Tarbiyah al-islamiyah, nudzumuha falsafatuha tarikhuha.
Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Mashriyah, 1987.
Ainurrafiq,
Dawam,
Manajemen Madrasah Berbasis Pesantren,
Jakarta: Lastafarista Putra., 2005.
Arcaro, Jeromes, Pendidikan Berbasis Mutu Prinsip-prinsip Perumusan dan
Tata Langkah Penerapan, terj. Yosal Irinatara, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2005
Arsyad, Azhar . Pokok Pokok Manajemen. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2002.
Azyumardi Azra. Pendidikan islam tradisi dan modernisasi menuju millenium baru.
Jakarta: Logos Ilmu Wacana, 1996.
B. Miles, Matthew dan A.Michael Huberman. Qualitative Data Analysis. London :
Sage Publications, 1984.
Bassand, Michel,. Direction of change: modernization theory, research and
reality. New York: Free Press, 1984.
Berg, Rudolf Van Der.. Teacher meanings regarding educational practice dalam
Review educational research. Volume 72. No.4., 2002

21

Bogdan, R.C & Biklen, S.K. Qualitative Research for Education: An Introduction
to Theory and Methods. Third Edition. Boston : Allyn and Bacon, Inc,
1998.
Bruinessen, Martin Van (1999). Kitab kuning. Bandung: Mizan Burnham, John
West. (1992). Managing quality in school. Prentice Hall. Daft, I. Richard.
(1991). Management. Dyden press. Orlando. New York.
Bush, Tony Dan Marianne Coleman, Leadership And Strategic Management In
Education, Terj, Fahrurrozi, Yogyakarta: IRCiSoD, 2006
Dale, Ernest . Management: Theory and practice. Tokyo : McGraw Hill
Kogakusha, 1973.
Danim, Sudarwan, Metode Penelitian Kualitatif, Jakarta: Bumi Aksara, 2005
Dawam Ainurrafiq. Manajemen Madrasah Berbasis Pesantren. Yogyakarta:
Listafariska, 2004.
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran dan Terjemahnya, Semarang:
CV. Assyfa, 1992
, Pedoman Akreditasi Madrasah, Jakarta: t.p., 2004
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Total Quality Management, Jakarta:
1998
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta; Balai
Pustaka, 2005
, Badan Akreditasi Sekolah Nasional (BASNAS), Jakarta: t.p., 2003
, Instrumen Akreditasi SMA/MA, Jakarta: Badan Akreditasi Nasional
Sekolah/Madrasah (BAN-S/M), 2008
______,Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta : Depdiknas.
2001.
Dlofier, Zamakhsyari. Tradisi Pesantren. Jakarta : LP3ES, 1985.
Endang Turmudi. (2004). Perselingkuhan kiai dan kekuasaan. Yogyakarta: LkiS
Fadjar, Malik. Reorientasi pendidikan Islam. Jakarta : Fajar Dunia, 1999.
Fakih Muhammad.. Kepemimpinan islam. Yogyakarta. UII Press, 2001.

22

Fanani, Zainul. Politik Santri : Pemikiran dan Aksi (Studi Kasus di Pondok
Pesantren Al-Munawariyah Malang). Tesis : Universitas Muhamadiyah
Malang, 2000.
Feigenbaum.. Kendali mutu terpadu. Jakarta: Erlangga, 1992.
Fuad Riyadi.. Kampung santri. Yogyakarta : Ittaqa Press, 2001
Haidar Putra Daulay.. Historisitas dan Eksistensi Pesantren. Yogyakarta: Tiara
Wacana, 2001
Hakim, Cathrine. Research Design. London : Routledge, 1997.
Hardjosoedarmo, Soewarso, Total Quality Management, Yogyakarta: Andi Offset,
2002
Horikushi, Hiroko. A Traditional Leader in A Time Of Change: The Kijaji ang
Ulama in West java. ter. Umar Basalim dan Andi Murly. Jakarta : P3M,
1987.
Husaini Usman.. Manajemen Pendidikan. Yogyakarta: Universitas Negeri
Yogyakarta, 2004
Iqbal, M. Hasan, Pokok-Pokok Materi Metode Penelitian Dan
Aplikasinya, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2002
Ismail, ed.,. Dinamika pesantren dan madrasah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2002.
Ismat, Ibrahim Mutowi dan Amin Ahmad Khasan, Al-Ushul Al-Idharoh
Littarbiyah, Riyad: Dar al-Syurq, 1998/1416 H
J.Moleong, Lexi. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Rosda Karya, 1998.
Jamal Maruf Asmani.. Menggagas pesantren masa depan: geliat suara santri
untuk indonesia baru. Yogyakarta: Qirtas, 2003
Jamali. Kaum Santri dan Tantangan Kontemporer. Bandung : Pustaka Hidayah,
1999.
Junaidi Abdusy Syakur dkk.. Madrasah salafiyah III. Yogyakarta: Lana usaha,
2003
Koontz, Harold et.al. Management. McGraw-Hill, Inc. 1984
Madjid, Nurcholish. (ed.). Merumuskan Kembali Tujuan Pendidikan Islam,
dalam Pergulatan Dunia Pesantren: Membangun dari Bawah. Jakarta :
P.3M, 1985.

23

Maksum Mochtar.. Madrasah, Sejarah dan Perkembangannya. Jakarta: Logos


Wacana Ilmu, 1999.
Maksum,. Pola Pembelajaran di Pesantren. Jakarta. Departemen Agama RI, 2003.
Mastuhu.. Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren. Jakarta: INIS, 1994.
Maykuri Abdillah.. Peningkatan kualitas pendidikan madrasah. Jurnal Madrasah,
Vol 1, No 2, 1997
Mastuhu. Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren. Jakarta : INIS, 1994.
Milles, B Mathew & Huberman, A.M. Analisis Data Kualitatif. Judul asli:
Qualitative Data Analysis. (Terjemahan Tjetjep Rohendi Rohidi). Jakarta:
Universitas Indonesia Press, 1994
Moleong. Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda Karya, 2001
Muhadjir, Noeng. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta : Rake Sarasi,
1996.
Muhaimin. Pembaharuan Pembelajaran SMU Unggulan BPPT An-Nuriyah
Malang. Tesis, 2003.
Mulyasa, E, Manajemen Berbasis Sekolah, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2004
Munawwar, Abdul. Belajar Dari Keajegan Proses Pembelajaran Di Pesantren.
Seri XI Lectur STAIN Cirebon, 2001.
Nadji, E. Shobirin. (Ed.). "Perspektif Kepemimpinan dan Manajemen Pesantren"
dalam Pergulatan Dunia Pesantren Mambangun dari Bawah. Jakarta:P3M,
1985.
Nanang Fattah.. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda
Karya, 2001
Nasution, S. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung : Transit, 1996..
Nasution.. Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management). Jakarta: Ghalia
Indonesia, 2001
Noeng Muhadjir.. Metodologi penelitian kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin.
2002
Nurcholis Madjid. Bilik-bilik pesantren. Jakarta: Paramadina, 1997

24

Patton, M.Q. Qualitative Evaluation Methods. London : Sage Publicatio, 1980..


Pedoman penyelenggaraan MPMBS SMU. Malang : Universitas Negeri Malang,
2002.
Sadler, Philip.. Leadership. London: Kogan page, 1997.
Sallis, Edward (1993). Total quality management in education. London: Kogan
Page
Schoderbek, Peter P. Management. Amerika: Harcout Brace Jovanovich, 1998.
Siagian, Sondang P.. Fungsi-Fungsi Manajerial. Jakarta: Bumi Aksara, 2005
Spokesman. Artikel dalam State Department Funded Training for Indonesian
Islamic School. .http://www.state.gov/r/pa/prs/ ps/2002/13615, 2002
Steenbirink, Karel A. Pesantren madrasah sekolah. Jakarta: LP3ES, 1986
Subandi.. Religious & Medical Mental Health Care In Western & Eastern Context.
www.crescentlife.com/articles/islamic%20
psych/religious_&_medical_mental_health_care_east_&_west_
context.htm, 1999.
Sulthon Masyhud, dkk. Manajemen pondok pesantren. Jakarta: Diva Pustaka, 2003
Sudarni.. Pesantren Al-Munawariyah; Sejarah dan perkembangannya dalam
perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Skripsi : Universitas
Padjajaran Bandung, 1993
Sudjoko dkk. Profil Peantren. Jakarta : LP3ES. 1982
Suwendi. Rekontruksi Sistem Pendidikan Pesantren : Beberapa Catatan. Bandung:
Pustaka Hidayah. 1999.
Syarif, Mustofa. Administrasi Pesantren. Jakata : Paryu Barkali, 1984.
Syaukani HR. Pendidikan paspor masa depan. Jakarta: Nuansa Madani, 2001
Tilaar, H.A.R. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Dalam
Perspektif Abad 21. Jakarta: Indonesia Tera, 1999.
Tjiptono, Fandi. Perspektif Manajemen dan Pemasaran Kontemporer. Yogyakarta
: Andi Offset, 2002.
Yukl, Gary. Leadership in organizations. Englewood Cliffs: Prentice Hall
International, INC. 1994

25

Yunan Ruhendi, Luluk. Neo Modernisme Pendidikan; Studi kasus di SMU


Unggulan darl Ulum. Tesis : IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2002.
Yunus. Artikel dalam Revitalizing pesantrens role in era of globalized education.
http://usinfo.state.gov, 2005

Zainal Arifin Thoha. Runtuhnya Singgasana Kiai NU, Pesantren, Kekuasaan:


Pencarian Tak Kunjung Usai. Yogyakarta: Kutub, 2003.
Zamarkhsyari Dhofier.. Tradisi pesantren, studi tentang pandangan hidup kiai.
Jakarta: LP3ES, 1982.
Ziemek, Manfred. Pesantren Islamishe Bildung in Sozialen Wandel. Ter. Buthche
Soendjojo. Jakarta : LP3M, 1986.

26