Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

ANALGETIKA

OLEH :
Kls/Smt : A/III
Nama Kelompok :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

Dewi Putriyani
Ni Luh Dian Pratiwi
I Putu Esa Diputra Anjasmara
Dewa Ayu Dwina Inggriani
Dewa Ayu Embas Saraswati
Ni Putu Erna Widiasmini
Fransiska Oktaviana Mei
I Gusti Agung Ayu Ketut Sudiariyanti
Anak Agung Indah Astrijayanti
I Gusti Ayu Juniantari
I Nyoman Kertanegara

(131012)
(131013)
(131014)
(131015)
(131016)
(131017)
(131019)
(131020)
(131021)
(131022)
(131023)

AKADEMI FARMASI SARASWATI DENPASAR


2014
BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Tujuan Percobaan
Agar mahasiswa dapat mengetahui volume urin yang dikeluarkan marmot akibat

pemberian obat furosemid.


1.2
Teori dasar
Diuretik adalah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urin. Fungsi utama
diuretik adalah memobilisasi cairan edema, yang berarti mengubah keseimbangan cairan
sehingga volume cairan ekstrasel kembali menjadi normal
Diuretik merupakan agen yang dapat mengurangi jumlah cairan berlebih didalam tubuh,
dan mengubah distribusi cairan di dalam tubuh serta meningkatkan eliminasi urin dari substansi
yang berbahaya. Kemampuan lain yang dimiliki oleh diuretik ini antara lain dapat meningkatkan
(mengatur) aliran di tubulus ginjal (Zill & Dewar,2011)
Hal tersebut membuktikan bahwa diuretik ini agen yang dapat mengatur cairan di dalam
tubuh dengan kemampuannya menghasilkan efek diuretik. Ini sangat bermanfaat dalam
fungsinya menurunkan tekanan darah pada orang yang mengalami hipertensi dan pada orang
yang mengalami masalah edema (Zill & Dewar,2011)
Secara umum diuretik dapat dibagi menjadi 2 golongan besar yaitu :
1. Penghambat mekanisme transpor elektrolit di dalam tubuli ginjal
Obat yang dapat menghambatnya antara lain :
a. Diuretik golongan penghambat enzim karbonik anhidrase
Penghambatan reabsropsi HCO3-, H+ dan Na+ . Khasiat diuretiknya hanya lemah,
setelah beberapa hari terjadi tachyfylaxie, maka perlu digunakan secara selang
seling (intermittens).
Yang termasuk golongan diuretik ini adalah asetazolamid, diklorofenamid dan
meatzolamid.
b. Diuretik golongan tiazid
Diuretik golongan tiazid ini bekerja pada hulu tubuli distal dengan cara
menghambat reabsorpsi natrium klorida. Efeknya lebih lemah dan lambat tetapi
tertahan lebih lama (6-48 jam) dan terutama digunakan dalam terapi pemeliharaan
hipertensi dan kelemahan jantung (dekompensatio cardis). Obat-obat diuretik
yang termsuk golongan ini adalah ; klorotiazid, hidroklorotiazid,

hidroflumetiazid, bendroflumetiazid, politiazid, benzotiazid, siklotiazid,


metiklotiazid, klortalidon, kuinetazon, dan indapamid.
c. Diuretik hemat kalium
Diuretik hemat kalium ini bekerja pada hilir tubuli distal dan duktus koligentes
daerah korteks dengan cara menghambat antiport Na+/K+ ( reabsorpsi natrium
dan sekresi kalium) dengan jalan antagonisme kompetitif (sipironolakton) atau
secara langsung (triamteren dan amilorida). Efek obat-obat ini hanya melemahkan
dan khusus digunakan terkombinasi dengan diuretika lainnya guna menghemat
ekskresi kalium. Aldosteron menstimulasi reabsorbsi Na dan ekskresi K. proses
ini dihambat secara kompetitif (saingan) oleh obat-obat ini. Amilorida dan
triamteren dalam keadaan normal hanyalah lemah efek ekskresinya mengenai Na
dan K. tetapi pada penggunaan diuretika lengkungan dan thiazida terjadi ekskresi
kalium dengan kuat, maka pemberian bersama dari penghemat kalium ini
menghambat ekskresi K dengan kuat pula.
d. Diuretik kuat
Diuretik kuat ini bekerja pada Ansa Henle asenden bagian epitel tebal dengan cara
menghambat transport elektrolit natrium, kalium, dan klorida. Obat-obat ini
berkhasiat kuat dan pesat tetapi agak singkat (4-6 jam). Banyak digunakan pada
keadaan akut, misalnya pada edema otak dan paru-paru. Yang termasuk diuretik
kuat adalah asam etakrinat, furosemid dan bumetamid.
2. Diuretik osmotik
Diuretik osmotik mempunyai tempat kerja :
a. Tubuli proksimal
Diuretik osmotik ini bekerja pada tubuli proksimal dengan cara menghambat
reabsorpsi natrium dan air melalui daya osmotiknya.
b. Ansa Henle
Diuretik osmotik ini bekerja pada ansa henle dengan cara menghambat reabsorpsi
natrium dan air oleh karena hipertonisitas daerah medula menurun.

c. Duktus Koligentes
Diuretik osmotik ini bekerja pada Duktus Koligentes dengan cara menghambat
reabsorpsi natrium dan air akibat adanya papillary wash out, kecepatan aliran
filtrat yang tinggi, atau adanya faktor lain.
Istilah diuretik osmotik biasanya dipakai untuk zat bukan elektrolit yang mudah
dan cepat diekskresi oleh ginjal. Contoh dari diuretik osmotik adalah ; manitol,
urea, gliserin dan isisorbid.

Gambar 1.1. Tempat Kerja dan Mekanisme Kerja Diuretik

Ada tiga faktor utama yang mempengaruhi respon diuretik :


1. Pertama, tempat kerja diuretik di ginjal. diuretik yang bekerja pada daerah yang
reabsorbsi natrium sedikit, akan memberi efek yang lebih kecil bila dibandingkan
dengan diuretik yang bekerja pada daerah yang reabsorbsi natrium banyak.
2. Status fisiologi dari organ. misalnya dekompensasi jantung, sirosis hati, gagal ginjal.
dalam keadaan ini akan memberikan respon yang berbeda terhadap diuretik.
Interaksi antara obat dengan reseptor. Kebanyakan bekerja dengan mengurangi
reabsorbsi natrium, sehingga pengeluarannya lewat kemih dan juga air diperbanyak.
3. Interaksi antara obat dengan reseptor. kebanyakan bekerja dengan mengurangi
reabsorbsi natrium, sehingga pengeluarannya lewat kemih dan juga air diperbanyak.

Monografi bahan aquabides


aquabidest adalah aquadest yang telah mengalami dua kali penyulingan
pemerian

: cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau.

penyimpanan : dalam wadah dosis tunggal dari kaca atau plastik

BAB II
METODE PRAKTIKUM

2.1 Binatang percobaan


Marmot
2.2 Alat yang digunakan
Spuit 1 cc
Gelas ukur 25 ml
Stopwach
2.3 Bahan yang digunakan
Aquabides
2.4 Prosedur kerja
Menyiapkan alat, bahan dan binatang percobaan yang digunakan
Menyuntikan aquabides 0,4 cc secara intraperitoneal pada marmot
Kemudian ditunggu selama 15 menit, 30 menit, 45 menit dan 60 menit.
Diamati volume urine yang dikeluarkan oleh marmot
Catat hasil pengamatan

BAB III
HASIL PRAKTIKUM

Obat

Dosis Obat

Setelah pemberian

Jumlah cc urine yang

Aquabidest

0,4 cc

obat

dikeluarkan

15

30

45

60

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada praktikum tanggal 25 November 2014 dilakukan percobaan diuretik dengan
menggunakan marmot sebagai hewan percobaan. Pertama-tama marmot kontrol disuntikkan

dengan aquabidest sebanyak 0,4 cc secara intraperitoneal pada marmot. Kemudian setelah
disuntikkan ditunggu selama 15, 30, 45, dan 60 menit untuk melihat apakah marmot
mengeluarkan urin atau tidak. Dan didapatkan hasil selama 60 menit marmot tidak mengeluarkan
urine. Hal tersebut dikarenakan aquabidest yang berfungsi hanya sebagai kontrol perbandingan
dengan marmot yang diberikan obat furosemide. Marmot sebagai kontrol setelah disuntikkan
aquabidest tidak mengeluarkan urin selama 60 menit. Hanya obat deuretika yang mampu
mempercepat keluarnya urin. Sedangkan aquabidest hanya sebagai kontrol.
.

BAB V
KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
Sulistia, dkk.2007. Farmakologi dan Terapi. Jakarta. Departemen Farmakologi dan Teraupetik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
http://www.kerjanya.net/faq/5205-diuretik.html

Lampiran

Aquabidest dan spuit 1 cc

Binatang percobaan (marmot)

Menyuntikan aquabides 0,4 cc secara

Diamati volume urin yang dikeluarkan

intraperitoneal pada marmot

oleh marmot selama 15, 30, 45 dan


60 menit.

Anda mungkin juga menyukai