Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Secara harafiah batubara adalah salah satu bahan bakar fosil dan batuan
sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah
sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Berdasarkan
tingkat proses pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan, panas dan waktu,
batu bara umumnya dibagi dalam lima kelas: antrasit, bituminus, sub-bituminus,
lignit dan gambut.Gambut, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta
nilai kalori yang paling rendah.Lignit atau batu bara coklat adalah batu bara
yang sangat lunak yang mengandung air 35-75% dari beratnya, Sub-bituminus
mengandung sedikit karbon dan banyak air, dan oleh karenanya menjadi
sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus.Bituminus
mengandung 68 - 86% unsur karbon (C) dan berkadar air 8-10% dari beratnya.
Kelas batu bara yang paling banyak ditambang di Australia.Antrasit adalah
kelas batu bara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan (luster) metalik,
mengandung antara 86% - 98% unsur karbon (C) dengan kadar air kurang dari
8%.
Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan pencucian batubara untuk
memisahkan batubara murni dengan pengotornya. Pada kegiatan pencucian
batubara terdapat tahapan uji ketercucian batubara ( Coal Washability Test)

Uji Ketercucian Batubara

untuk memisahkan batubara dengan pengotor berdasarkan berat jenis relatifnya.


Dalam makalah ini uji ketercucian batubara dilakukan dengan metode Endap
Apung ( Flaot and Sink).
1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini antara lain:
1. Apa yang dimaksud dengan uji ketercucian batubara?
2. Mengapa Harus Dilakukan uji ketercucian batubara?
3. Bagaiamana tahapan kegiatan Uji Ketercucian Batubara?
1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui Uji ketercucian
Batubara, serta tahapan-tahapan dalam kegiatan uji Ketercucian batubara.
1.4. Manfaat
Manfaat penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui Uji ketercucian Batubara,
2. Untuk mengetahui tujuan dari dilakukannya Uji Ketercucian Batubara.
3. Untuk mengetahui tahapan-tahapan dalam kegiatan uji Ketercucian batubara.
1.5. Batasan Masalah
Pembahasan pada makalah Uji Ketercucian Batubara ini dibatasi pada:
1. Pengertian secara umum Uji Ketercucian Batubara.
2. Tujuan dilakukannya Uji Ketercucian Batubara.

Uji Ketercucian Batubara

3. Tahapan kegiatan Uji Ketercucian Batubara dengan metode Endap Apung


(Float and Sink).

Uji Ketercucian Batubara

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Pengantar Pembentukan Batubara

2.1.1 Pembentukan Gambut dan Batubara


Proses pembentukan batubara dari tumbuhan melalui dua tahap, yaitu
tahap pembentukan gambut (peat) dari tumbuhan disebut proses peatification
dan tahap pembentukan batubara dari gambut disebut proses coalification.
1. Pembentukan Gambut
Tumbuhan yang tumbang atau mati dipermukaan tanah pada umumnya
akan mengalami proses pengendapan dan penghancuran yang sempurna
sehingga setelah beberapa waktu kemudian tidak terlihat lagi bentuk asalnya.
Proses pengendapan dan penghancuran tersebut pada dasarnya merupakan
proses oksidasi yang disebabkan oleh adanya oksigen dan aktivitas bakteri
atau jasad renik lainnya. Jika tumbuhan tumbang di suatu rawa, yang
dicirikan dengan kandungan oksigen yang sangat rendah sehingga tidak
memungkinkan bakteri aerob (bakteri yang memerlukan oksigen) hidup,
maka sisa tumbuhan tersebut tidak mengalami proses pembusukan dan
penghancuran yang sempurna sehingga tidak akan terjadi proses oksidasi
yang sempurna. Pada kondisi tersebut hanya bakteri-bakteri anaerob saja
yang berfungsi melakukan proses dekomposisi yang kemudian membentuk

Uji Ketercucian Batubara

gambut (peat). Daerah yang ideal untuk pembentukan gambut misalnya delta
sungai, danau dangkal. Meskipun oksigen tidak tersedia dalam jumlah yang
cukup, komponen utama pembentuk kayu akan juga teroksidasi menjadi
H2O, CH4, CO dan CO2. Tahap pembentukan gambut ini sering disebut juga
sebagai proses biokimia. Gambut yang umumnya berwarna kecoklatan
sampai hitam merupakan padatan yang bersifat porous dan masih
memperlihatkan struktur tumbuhan asalnya. Proses pembentukan gambut
biasanya juga disebut sebagai proses biokimia. Gambut umumnya masih
mengandung lengas (moisture) yang tinggi, bisa lebih dari 50 %.
2. Pembentukan Batubara
Proses pembentukan gambut akan berhenti misalnya karena penurunan
cepat dasar cekungan. Jika lapisan gambut yang telah terbentuk kemudian
ditutupi oleh lapisan sedimen, maka tidak ada lagi bakteri anaerob, atau
oksigen yang dapat mengoksidasi, maka lapisan gambut akan mengalami
tekanan dari lapisan sedimen. Tekanan terhadap lapisan gambut akan
meningkat dengan bertambahnya tebalnya lapisan sedimen. Tekanan yang
bertambah besar akan mengakibatkan peningkatan suhu. Disamping itu suhu
juga akan meningkat dengan bertambahnya kedalaman. Selain karena
adanya lapisan sedimen, kenaikan suhu dan tekanan dapat juga disebabkan
oleh aktivitas magma, proses pembentukan gunung, serta aktivitas-aktivitas
tektonik lainnya.

Uji Ketercucian Batubara

Peningkatan

tekanan

dan

suhu

pada

lapisaan

gambut

akan

mengkonversi gambut menjadi batubara di mana terjadi proses pengurangan


kandungan lengas, pelepasan gas-gas (CO2, H2O, CO, CH4), peningkatan
kepadatan dan kekerasan serta peningkatan nilai kalor. Faktor tekanan (P)
dan suhu (T) serta faktor waktu (t) merupakan faktor-faktor yang
menentukan kualitas batubara. Tahap pembentukan batubara ini sering
disebut juga sebagai proses termodinamika.
2.1.2 Teori Pembentukan Batubara
Terdapat
ketebalannya

dua

teori

maupun

tentang
mengenai

akumulasi

gambut

penyebarannya,

baik
yang

mengenai
kemudian

memungkinkan terjadinya lapisan batubara yang ditemukan dan ditambang saat


ini, yaitu:
1. Teori insitu yang menyatakan bahwa lapisan gambut terbentuk dari
tumbuhan yang tumbang di tempat tumbuhnya.
2. Teori drift yang menyatakan bahwa lapisan gambut yang terbentuk berasal
dari bagian-bagian tumbuhan yang terbawa oleh aliran air (sungai) dan
terendapkan di daerah hilir (delta).
Laju akumulasi gambut sangat tergantung pada beberapa faktor, yaitu:
1. faktor tumbuhan: jenis, laju pertumbuhan, laju pembusukan
2. faktor tempat tumbuh: kondisi, kesuburan
3. faktor cuaca

Uji Ketercucian Batubara

2.2

Pencucian Batubara
Pencucian batubara ialah usaha yang dilakukan untuk memperbaiki
kualitas batubara, agar batubara tersebut memenuhi syarat penggunaan tertentu.
Pencucian batubara sangat diperlukan karena adanya persyaratan batubara yang
diminta oleh konsumen terutama kadar abu yang ada kaitannya dengan
kandungan kalori(calorific value)dan persyaratan yang diminta adalah
persyaratan mengenai sifat fisik, sifat kimia dan persyaratan ukuran
batubaranya.
Operasi dasar dari coal washing plant antara lain sebagai berikut:
1. Size reduction
2. Sizing (screening dan classifying)
3. De-watering dan thickening
4. Handling stockpiling
5. Blending
6. Coal sampling
7. Loading to barge
Dalam industri pertambangan pengolahan bahan galian adalah suatu cara
meningkatkan

kualitas

bahan

galian

dengan

menghilangkan

material

pengotornya dengan memanfaatkan adanya perbedaan sifat-sifat fisik mineral


berharga dengan mineral yang tidak berharga yang ada dalam bahan galian
tersebut atau untuk memenuhi persyaratan ukuran. Coal washing merupakan

Uji Ketercucian Batubara

pengolahan bahan galian untuk batubara yang menggunakan perbedaan berat


jenis antara batubara dengan pengotornya.
2.2.1 Operasi Kominusi Untuk Preparasi Batubara
Operasi pengecilan ukuran pada pabrik pencucian batubara bertujuan
pertama untuk menyesuaikan ukuran partikel batubara dengan ukuran yang
dapat diterima oleh operasi pencucian, kedua agar ukuran partikel batubara
sesuai dengan permintaan pasar. Operasi pengecilan ukuran harus dilakukan
secara bertahap, karena tidak mungkin atau sampai saat ini belum ada alat yang
dapat memperkecil ukuran batuan yang semula berukuran 50 cm menjadi
langsung berukuran 1 cm dalam satu kali peremukan. Apabila material yang
datang dari tambang berukuran katakanlah 50 cm, maka pada tahap pertama
harus dilakukan pengecilan ukuran menjadi misalnya 10 cm, kemudian pada
tahap kedua dilakukan pengecilan ukuran menjadi 2 cm. Mengingat sifat
batubara yang relatif lunak tetapi liat, maka tahap pertama dan kedua ini
biasanya dilakukan dengan menggunakan suatu peremuk roll (roll crusher).
Dalam melaksanakan tahap kominusi, pengecilan ukuran harus dilakukan
sampai pada ukuran yang diperlukan saja, tanpa harus memperkecil sehingga
menjadi terlalu halus, karena akan menambah biaya tahap kominusi yang
umumnya relatif mahal.

Uji Ketercucian Batubara

2.2.2 Operasi Pengayakan Pada Pencucian Batubara


Batubara kotor yang diumpankan ke pabrik pencucian terdiri dari berbagai
ukuran. Operasi alat pencucian akan sangat baik bila selang ukuran partikel
terbesar dan terkecil relatif pendek, karenanya sebelum dilakukan pencucian harus
dilakukan operasi pengayakan agar partikel dapat dikelompokkan berdasarkan
ukurannya. Kegiatan pengelompokkan partikel ke dalam ukuran yang berbedabeda merupakan salah satu kegiatan penting yang dilakukan di dalam pabrik
pencucian.Kegiatan pengelompokkan ke dalam kelompok-kelompok ukuran
dilakukan baik sebelum, selama, atau sesudah operasi pemisahan menjadi
batubara bersih dan pengotor. Pengelompokkan batubara kasar dilakukan dengan
cara mengayak, sedang pemisahan partikel halus harus dilakukan di dalam suatu
media (air).
1. Pengayak Primer
Pengayak primer dipakai pada awal proses untuk menyiapkan batubara
kotor agar ukuran partikelnya sesuai dengan syarat operasi pencucian (gambar
2.1). Hasil yang diperoleh adalah kelompok batubara dengan berbagai fraksi
ukuran misalnya:
a. fraksi + 125 mm untuk operasi kominusi
b. fraksi - 125 mm untuk jig
c. fraksi -125 mm + 6 mm untuk dense medium bath
d. fraksi - 50 mm + 0,5 mm untuk dense medium cyclone

Uji Ketercucian Batubara

e. fraksi - 50 mm untuk sistem water washing cyclone


f. fraksi - 0,5 mm atau - 0,25 mm untuk flotasi

Gambar 2.1 Penempatan Pengayak Primer

Pengelompokkan ukuran partikel terhadap alat konsentrasi yang diberikan


di atas hanyalah panduan umum saja, karena penentuan alat yang akan dipakai
harus ditentukan dari uji ketercucian batubara, dan kebutuhan pasar. Ukuran
partikel terbesar bisa 150 mm atau 75 mm; sedangkan ukuran terkecilnya
mungkin 30 mm. Siklon media dense sering juga dipakai untuk partikel dengan
ukuran terbesar 40 mm dan yang terkecil sekitar 6 mm.
2. Pengayak Sekunder
Pengayak sekunder biasanya dipakai untuk mengayak material diantara
dua bagian tertentu dan jika pemisahan middling diperlukan. Sebagai contoh
misalnya (Gambar 2.2) dari umpan batubara yang berukuran -125 mm, produk
batubaranya diayak dengan pengayak 16 mm dan 0,5 mm. Fraksi -16+0,5 mm

Uji Ketercucian Batubara

10

langsung dialirkan ke centrifuge untuk dikurangi kadar airnya. Sedangkan


fraksi -125+16 mm digerus kembali hingga ukurannya menjadi -50 mm
kemudian dicampur kembali dengan produk yang sudah siap dipasarkan.

Gambar 2.2 Penempatan Pengayak Sekunder

Pengayakan batubara bersih bila perlu dilakukan sesuai dengan


kebutuhan pasar, dan batubara dipasarkan secara terpisah sesuai dengan
ukurannya masing-masing. Misal batubara bersih diayak dengan ukuran lubang
50 mm, 25 mm dan 12 mm, maka fraksi ukuran yang dihasilkan adalah:+ 50
mm; - 50 mm + 25 mm; - 25 mm + 12 mm; dan - 12 mm.
2.2.3 Operasi Pemisahan Media Berat
Cycloneadalah alat untuk melakukan pemisahan berdasarkan ukuran
partikel (classifying), untuk pengurangan kadar lengas (dewatering), dan untuk
pencucian batubara. Pada umumnya pabrik pencucian batubara selalu memiliki
cyclone.Alat ini berukuran relatif kecil dan tidak membutuhkan ruang yang
Uji Ketercucian Batubara

11

luas.Cyclone dapat dipakai untuk memisahkan batubara dari pengotornya.Cyclone


mampu memisahkan batubara secara efektif sampai ukuran yang relatif kecil,
lebih kecil dari ukuran yang bisa diolah dengan bak media berat.
Kegunaan lain cyclone adalah untuk memisahkan batubara halus di dalam
suspensi air pada ukuran partikel 0-2 mm, alatnya disebut cyclone klasifikasi
(classifying cyclone). Selain itu cyclone berguna untuk memadatkan suspensi
partikel dalam air, dengan cara mengurangi kadar airnya, alatnya disebut cyclone
pengental (thickeningcyclone). Jenis yang paling umum untuk pencucian batubara
adalah cyclone media berat (dense medium cyclone), yaitu menggunakan media
magnetit. Alat ini sangat efisien dan mampu membersihkan partikel batubara
sampai ukuran 0,5 mm.
Alat pemisah batubara (Cyclone) yang medianya hanya memakai air saja,
disebut water washingcyclone atau siklon air (water only cyclones) dan dapat
dipakai untuk mengolah hampir semua ukuran partikel batubara, terutama yang
berukuran halus.
1. Konstruksi Cyclone
Desain dasar suatu cyclone terdiri dari sebuah kerucut yang atasnya
terpotong dan diletakkan terbalik, sebuah silinder di bagian atasnya dan sebuah
saluran untuk memasukkan umpan di bagian atas. Di dalam cyclone, umpan
akan terbagi menjadi dua bagian yaitu overflow dan underflow. Overflow
dikumpulkan pada sebuah tabung, yang disebut vortex finder, yang letaknya di

Uji Ketercucian Batubara

12

tengah menembus bagian atascyclone. Underflowdikeluarkan melalui sebuah


lubang di ujung bawah kerucut.Tempat keluarnya underflow ini dinamakan
sebagai apex, spigot, underflow nozzle atau bottom discharge nozzle.Dalam
operasi pencucian batubara, batubara bersih keluar sebagai overflowsedangkan
pengotornya ke luar ke apex sebagai underflow.
2. Prinsip Pemisahan Pada Cyclone
Gaya gravitasi yang merupakan dasar pemisahan batubara dari
pengotornya,sangat sedikit pengaruhnya dibandingkan dengan gaya-gaya lain.
Karenanya, cyclone dapat bekerja hampir dalam segala posisi dan bahkan
dapat dioperasikan secara terbalik, yakni apex berada di atas (Gambar 2.3).
Gaya-gaya utama yang bekerja di dalam cyclone adalah gaya sentrifugal dan
gaya hidrolik.

Gambar 2.3 Aliran Fluida Pada Cyclone

Uji Ketercucian Batubara

13

a. Gaya Sentrifugal
Tali pengikat martil yang dipegang oleh pelempar martil akan
mengencang saat martil diputar sebelum dilepaskan. Gaya yang menyebabkan
hal ini disebut gaya sentrifugal. Gaya sentrifugal cenderung menarik sesuatu
yang berputar menjauhi sumbu putarnya. Kekuatan gaya sentrifugal tergantung
pada jari-jari lingkarannya, kecepatan gerak benda yang berputar, dan berat
benda. Semakin cepat benda berputar atau semakin pendek talinya, maka
semakin besar gaya sentrifugalnya. Contoh lain misalnya, air yang diputar di
dalam sebuah tabung, akan tertekan ke arah sisi tabung oleh gaya sentrifugal.
Gaya ini menarik air menjauhi sumbu putarnya sehingga akan terbentuk
pusaran air. Air akan menumpuk di sisi tabung dan akan terjadi kekosongan di
bagian tengah tabung.
Cairan yang diputar dengan cara seperti ini, akan membentuk pusaran
(vortex). Pusaran air terjadi misalnya di suatu sungai, sewaktu air bergerak ke
arah lubang, air akan bergerak lebih cepat karena kecepatan akan bertambah
bila radius berkurang. Penguatan pusaran air akan menimbulkan gaya
sentrifugal yang lebih besar didekat sumbu pusaran. Didalam siklon, gaya
sentrifugal bisa mencapai dua puluh kali lipat gaya gravitasi pada dinding
siklon bagian atas. Tetapi, gaya sentrifugal bisa meningkat lagi hingga 700 kali
lipat gaya gravitasi di daerah dekat sumbu pusaran. Karena semua partikel
padat harus meninggalkan siklon di dekat sumbu tengah, baik ke arah atas

Uji Ketercucian Batubara

14

bersama overflow maupun ke arah bawah bersama underflow, maka semua


partikel harus melewati daerah yang gaya sentrifugalnya sangat kuat ini.
b. Gaya Hidrolik
Air atau media berat yang dipompa ke dalam cycloneakan ke luar
sebagai underflow atau overflow. Material di dalam cycloneakan menerima
gaya hidrolik dengan empat cara yang berbeda, yaitu aliran ke dalam, aliran
berputar, aliran ke bawah, dan aliran ke atas. Sebelum keluar sebagai
underflow atau overflow, lumpur harus bergerak dahulu ke arah sumbu inti,
mengikuti aliran ke dalam. Karena aliran lumpur bersifat tangensial, maka
lumpur akan mengikuti aliran berputar di dalam cyclone. Aliran di bagian
bawah cyclone, akan berputar membentuk lingkaran, mengalir ke bawah
sejalan dengan makin kecilnya diameter cyclone, dan keluar sebagai underflow.
Aliran ke atas adalah aliran di sepanjang kolom udara yang ada di sekeliling
sumbu siklon dan mengalir ke luar pada vortexfinder. Berbagai gerakan
suspensi air media berat ini akan mengontrol gerakan partikel batubara yang
masuk ke cyclone.

Uji Ketercucian Batubara

15

2.2.4 Pencucian Batubara Dengan Jig dan Spiral


1. Pencucian Batubara Dengan Jig
Pada umumnya jig yang dipakai untuk pencucian batubara beroperasi
dengan menggunakan udara tekan. Jig Baum menggunakan tabung U. Saat ini
tersedia jigyang menggunakan udara tekan dalam suatu rangkaian ruang udara
yang letaknya di bawah pengayak jig.Jig ini disebut jig Under-Air.
Pada Gambar 2.4 ditunjukkan dua kenampakan jig Baum.Pada gambar
tampak depan, udara tekan masuk ke ruang udara (air chamber), diteruskan
ke salah satu kaki tabung U dan mendorong air melalui pengayak dan
lapisan-lapisan batubara dan pengotor di atas pengayak. Pada Gambar 2.4
ditunjukkan bahwa jig dibagi menjadi 6 kompartemen yang masing-masing
diberi katup udara. Jumlah kompartemen tergantung pada kebutuhan.
Stratifikasi dan pemisahan terjadi di atas pengayak, partikel kecil dan berat
akan lolos melalui lubang-lubang pengayak kemudian diangkut oleh
konveyor screw menuju ke elevator pengotor di sebelah kiri. Selain lolos
pengayak, partikel pengotor yang tidak lolos pengayak keluar bersama aliran
air ke sebelah kiri, ke elevator pengotor.Pengayak paling kiri dipasang
miring agar partikel mudah mengalir, dan pada umumnya kemiringan
pengayak dapat diatur sesuai kebutuhan. Agar batubara bersih tidak terbawa
aliran material pengotor yang berada di atas pengayak, digunakan float
pengotor, dengan cara menaikkan atau menurunkan untuk mengatur

Uji Ketercucian Batubara

16

ketebalan lapisan pengotor. Batubara bersih yang terapung akan terbawa


aliran air. Middling mengalir ke elevator middling. Aliran partikel middling
dan aliran batubara bersih diatur dengan menaikkan atau menurunkan float
middling.
Backwater dimasukkan dari bagian belakang kompartemen.Backwater
berguna untuk menghasilkan arus air ke atas melalui bagian dasar jig, dan arus
backwater ini tidak terlalu kuat untuk melepaskan partikel yang melekat pada
dasar kompartemen. Dalam prakteknya gaya yang dihasilkan oleh udara tekan
dan backwater bekerja bersama-sama. Pada saat terjadi pultion langkah
dorongan ke atas yang diakibatkan oleh udara tekan akan semakin kuat dengan
adanya arus air ke atas yang dihasilkan oleh backwater, karena keduanya
searah. Pada saat suction arus air ke atas yang dihasilkan oleh backwater tetap
tidak berubah sehingga kekuatan suctionakan berkurang.

Uji Ketercucian Batubara

17

Gambar 2.4 Penampang Jig Baum

2. Pencucian Batubara Dengan Spiral


Pada umumnya berdasarkan ukuran partikelnya, batubara dapat
dikelompokkan sebagai batubara kasar bila berukuran 200 mm sampai 50 mm,
batubara sedang untuk ukuran 50 mm hingga 0,5 dan batubara halus untuk
ukuran 0,5 mm hingga nol. Batasan ukuran pengelompokkan ini sifatnya tidak
ketat, karena batasan kelompok ukuran bisa saja ditentukan sendiri oleh suatu
pabrik pencucian, misalnya ukuran partikel yang umumnya diolah pada adalah
pencucian bak media berat, cyclone media berat, dan flotasi masing-masing
adalah -100 mm +25 mm untuk batubara kasar, -25 mm +0,5 mm untuk
batubara sedang dan -0,5 mm untuk batubara halus.

Uji Ketercucian Batubara

18

Pencucian batubara halus harus mendapat pertimbangan khusus karena


fraksi ini biasanya diolah tidak hanya demi kepentingan nilai ekonomi saja,
tetapi memperhatikan masalah pengelolaan lingkungan juga.Karena ukurannya
yang kecil maka masalah yang timbul tentu berbeda dengan masalah yang
timbul pada saat mengolah batubara kasar.Pabrik pencucian batubara dituntut
untuk mengolah batubara halus.Metoda penangkapan partikel batubara halus
bisa dilakukan dengan spiral, atau meja goyang.Pemisahan batubara bersih
dari partikel pengotor yang lebih berat dapat dilakukan dengan menggunakan
metoda konsentrasi gravitasi.
Dalam mempertimbangkan perlunya mengolah batubara halus secara
memuaskan harus memperhatikan juga permintaan pasar. Pembangkit listrik
tenaga uap (PLTU), biasanya lebih toleran terhadap kadar abu, maka densitas
cut point yang tinggi bisa diterapkan (artinya material near gravity-nya bisa
besar), sehingga memungkinkan penggunaan sistem pencucian batubara halus
dengan metoda gravitasi yang saat ini sangat baik yaitu spiral.
Konsentrator spiral telah digunakan selama bertahun-tahun di dalam
industri mineral dan telah terbukti sangat baik untuk mengolah pasir mineral.
SpiralHumphreys (terbuat dari besi tuang) pernah dicoba untuk operasi
pencucian batubara halus pada akhir tahun 40-an dan awal 50-an, tetapi
hasilnya tidak memuaskan dan penggunaan spiral sebagai alat pencuci

Uji Ketercucian Batubara

19

batubara tidak mendapat perhatian. Pemakaian spiral untuk pencucian batubara


halus mulai mendapat perhatian di Australia pada tahun 90-an.
Konsentrator spiral batubara (Gambar 2.5) memiliki disain saluran yang
berbeda dengan yang ada pada spiralHumphreys serta memiliki kinerja yang
lebih baik. Spiral batubara telah dikembangkan untuk memisahkan batubara
halus dengan ukuran partikel terbesar tidak lebih dari 3 mm.

Gambar 2.5 Konsentrator Spiral Batubara

Uji Ketercucian Batubara

20

2.3

UJi Ketercucian Batubara

2.3.1 Pengertian Umum


Pencucian batubara dilakukan dengan memanfaatkan perbedaan densitas
relatif untuk memisahkan batubara bersih dari shale yang berkadar abu tinggi.
Densitas relatif adalah perbandingan densitas suatu benda dengan densitas air,
misal densitas relatif batubara adalah 1,4 (tanpa satuan), karena densitas air 1
gr/cm3. Adanya hubungan antara densitas relatif dengan kadar abu membuat
pengendalian densitas relatif di dalam operasi pencucian akan dapat
mempertahankan batubara bersih dengan kadar abu tertentu, sehingga nilai
kalor, sulfur dan sifat-sifat penting lainnya juga dapat ditentukan.
Sebelum dilakukan pencucian terhadap suatu batubara kotor, harus
diketahui distribusi densitas relatif, artinya harus diketahui berapa bagian dari
batubara kotor tersebut merupakan batubara dengan densitas relatif rendah,
menengah, tinggi, dan kadar abu dari setiap fraksi densitasnya. Jika data ini
tersedia maka sistem pencucian batubara dapat ditentukan. Berat batubara
bersih, middling, pengotornya,dan kadar abu masing-masing produk ini dapat
diperkirakan.
Metode untuk mendapatkan data distribusi densitas relatif dan kadar
abu batubara disebut karakteristik ketercucian (washability), dan pengujiannya
dikenal sebagai analisis uji endap-apung. Batubara yang baru ditambang tidak
hanya terdiri dari batubara bersih dan shale. Batubara juga mengandung partikel

Uji Ketercucian Batubara

21

yang memiliki densitas relatif antara 1,4 sampai 2,4 dan bahkan ada yang lebih
kecil dari 1,4 dan lebih besar dari 2,4. Contohnya, pirit memiliki densitas relatif
sekitar 5.Jika sejumlah partikel diambil dari batubara kemudian ditentukan
densitas relatifnya dan dianalisis kadar abunya. Umumnya partikel yang
densitas relatifnya kecil akan memiliki kadar abu yang rendah, sedangkan
partikel yang densitas relatifnya tinggi memiliki kadar abu yang tinggi
pula.Partikel middling memiliki densitas relatif yang berada di tengah-tengah,
dan kadar abunya lebih besar dari kadar abu batubara bersih tetapi lebih kecil
dari kadar abu shale.
Bila densitas relatif meningkat, kadar abu juga akan meningkat. Semua
benda yang memiliki densitas lebih rendah dari air (kurang dari 1) akan
terapung, sedangkan yang memiliki densitas lebih besar dari 1 akan tenggelam
di dalam air.
Prinsip dasar ini dipakai dalam operasi pencucian batubara di mana
batubara diusahakan terapung di dalam suatu fluida sedang pengotornya
diusahakan tenggelam.Artinya densitas fluida yang digunakan haruslah terletak
di antara densitas batubara dan densitas pengotornya.

Uji Ketercucian Batubara

22

2.3.2

Analisis Uji Endap-Apung (Sink & Float)


Analisis uji endap-apung biasanya terapkan untuk percontoh batubara

yang berasal dari :


batubara yang baru ditambang untuk umpan pabrik
setiap produk yang keluar pabrik
bahan pengotor yang keluar dari pabrik
batubara yang telah diremuk dari inti bor
batubara yang diambil langsung dari lapisannya
Proses sink and float adalah salah satu pemisahan antara mineral
berharga dengan mineral tidak berharga dengan mendasarkan pada perbedaan
berat jenis (densitas) antara mineral-mineral yang akan dipisahkan dengan
densitas suatu media. Selain berdasarkan pada perbedaan densitas, ukuran
partikel dan kekentalan (viskositas) mediapun akan mempengaruhi terhadap
waktu dan kecepatan jatuh partikel di dalam proses pemisahan.
Tujuan dari proses ini adalah selain untuk menentukan densitas media
pemisah, juga untuk mengevaluasi efisiensi dari pada alat pemisah dalam suatu
proses pemisahan, sehingga baik buruknya suatu proses pemisahan akan dapat
diketahui.

Uji Ketercucian Batubara

23

Preparasi Percontoh
Pekerjaan preparasi perconto harus dilakukan secara hati-hati sesuai
dengan aturan-aturan yang telah ditentukan, agar diperoleh perconto yang dapat
mewakili dari unit perconto secara keseluruhan. Preparasi perconto tergantung
pada analisis yang akan dilakukan. Preparasi dapat terdiri dari peremukan,
pengayakan dan pengeringan batubara.
Perconto yang akan digunakan untuk analisis sink and float biasanya
disiapkan dalam keadaan kering. Bila percontoh dalam jumlah yang besar, yaitu
melebihi dari jumlah perconto yang diperlukan untuk analisis, maka harus
dilakukan pembagian perconto dengan cara coning and quatering.
Sebelum melakukan uji endap apung, harus ditentukan terlebih dahulu
fraksi ukuran yang akan diuji dan densitas relatif yang akan digunakan.
Selannjutnya apakah pengujian akan dimulai dari cairan dengan densitas relatif
terendah atau tertinggi. Pilihan ini sangat tergantung pada densitas relatif yang
akan dipakai untuk membuang sebagian besar material pada tahap awal.
Perconto batubara yang kotor yang mengandung sedikit shale sebaiknya
diuji dengan memakai densitas relatif mulai dari yang terendah sampai yang
tertinggi. Sebaliknya jika yang akan diuji adalah perconto dengan sebagian
besar mengandung shale, sebaiknya dimulai dari densitas yeng tertinggi.
Dalam melakukan uji endap apung batubara, metode yang digunakan
adalah memasukan perconto batubara ke dalam serangkaian media yang
Uji Ketercucian Batubara

24

densitas relatifnya berlainan secara berurutan dan mengamati apakah batubara


tersebut dapat terapung atau tenggelam.
Media yang akan digunakan merupakan cairan berat dalam suatu range
density dengan perbedaan densitas relatif secara bertahap. Jarak dan besarnya
interval densitas relatif ditentukan sesuai dengan yang diperlukan. Biasanya
besar interval adalah 0,05 pada selang densitas relatif 1,30 1,70. Dengan jarak
interval tersebut, batubara akan mengalami keterapungan dan ketenggelaman.
Cairan yang digunakan untuk uji endap apung disebut sebagai media.
Media yang digunakan adalah :
perchloro ethylene (densitas relatif sekitar 1,61),
solar (0,83), dan
bromoform (2,89).
Untuk mendapatkan cairan dengan densitas relatif yang diinginkan,
maka dilakukan pencampuran dari larutan diatas dengan perbandingan yang
tepat. Campuran antara perchloro ethylene dan solar dilakukan untuk
mendapatkan densitas relatif antara 1,3 1,6. Cairan dengan densitas relatif 1,7
1,8 dapat disiapkan dengan mencampur bromoform dan perchloro ethylene.
Untuk

mengukur

densitas

suatu

cairan

digunakan

alat

hydrometer.Waktu yang diperlukan untuk uji endap apung tergantung dari


kecepatan pengendapan partikel di dalam suatu media. Kecepatan pengendapan

Uji Ketercucian Batubara

25

suatu partikel secara umum dipengaruhi oleh beberapa parameter, yaitu :


diameter partikel, densitas partikel, densitas media, dan viscositas media.
Pada akhir uji endap apung diperoleh satu seri fraksi yang telah
dikeringkan, mulai dari yang terapung pada densitas relatif paling rendah
sampai yang tenggelam pada densitas relatif yang paling tinggi.
Setiap fraksi yang sudah kering kemudian ditimbang dan berat
keseluruhannya dihitung dan dibandingkan dengan berat total perconto sebelum
diuji. Persen berat untuk masing-masing fraksi dapat dihitung. Selanjutnya
setiap fraksi disiapkan untuk analisis kadar abu. Data persen berat dan kadar
abu dimasukkan ke dalam tabel.

Tabel 2.1 Washability Data

Uji Ketercucian Batubara

26

Pembuatan kurva :
1. Kurva SG : menunjukkan teoritis % berat produk hasil pencucian pada SG
media tertentu.
2. Kurva kumulatif abu terapung: menunjukkan teoritis % berat abu produk
terapung hasil pencucian pada SG media tertentu
3. Kurva kumulatif abu tenggelam : menunjukkan teoritis % berat abu produk
tenggelam hasil pencucian pada SG media tertentu.
4. Kurva elementary abu :
Untuk mengetahui kecepatan perubahan abu dengan berubahnya SG
media
Mengetahui kadar abu tertinggi dalam setiap partikel.
Slope kurva menunjukkan kemudahan relatif pencucian batubara
terhadap pengotornya.
5. Kurva SG 0,1 , untuk memperlihatkan mudah tidaknya proses pencucian
batubara pada SG media pemisah tertentu.

Uji Ketercucian Batubara

27

Penggambaran kurva :
Tabel 2.2 Data Penggambaran Kurva

Kurva

Ordinat

Absis

(nomor kolom)

(nomor kolom)

Specific gravity ash curve

Cummulative ash curve

Elementary ash curve

13

Sp Gr Distribution curve

12

Ash in refuse

10

11

Kurva Partisi (Partition Curves)


Di dalam pencucian batubara, kurva partisi adalah suatu metode untuk
menganalisis efisiensi pemisahan suatu alat.Metode ini hanya berlaku untuk
pencucian yang menggunakan metode perbedaan densitas relatif.
Metode ini pertama kali diusulkan oleh TROMP yang kemudian disebut
kurva Tromp. Nama lain yang sering dipakai adalah kurva distribusi (distribution
curve), kurva kesalahan (error curve).
Analisa tromp (evaluasi pencucian) dilakukan terhadap :
o Alat di pabrik pencucian batubara (washing plant) yang sudah ada.

Uji Ketercucian Batubara

28

o Dilakukan di laboratprium khusus untuk baum jig (sebelum washing


plant ada)
Tahapannya :
1. Analisa ayak, dengan hasil fraksi-fraksi :
o Egg coal bila ukuran butir 1-2 inch
o Nut coal bila ukuran butir 0,5 - 1 inch
o Pea coal bila ukuran butir 0,25 0,5 inch
o Slack and fine bila ukuran butir 0,25 inch
2. Terhadap masing-masing fraksi dilakukan proses pencucian dengan Baum
Jig skala laboratorium, hasilnya adalah wash coal (batubara tercuci) dan
reject /discharge (kotoran).
3. Timbang wash coal dan discharge
4. Lakukan uji endap appung baik terhadap wash coal maupun discharge
menggunakan cairan berat dari SG 1,20 s/d 1,90
Hasilnya baik yang tenggelam dan mengapung ditimbang.
Pembuatan tabel.
Pembuatan grafik.

Uji Ketercucian Batubara

29

Tabel 2.3 Tabel Data TROMP


Berat

Float

Sink

Spesifik

coal

refuse

Wt(%)

Wt(%)

Composite

Coal

Refuse

wt(%)

wt(%)

Feed

Distribution

Average

wt(%)

(%)

SG

coal

refuse

- 1,30

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

1,25

1,30-

64,5

0,0

53,7

0,0

53,7

100,0

0,0

1,35

32,2

1,3

26,8

0,2

27,0

99,3

0,7

1,45

3,3

39,9

2,7

6,7

9,4

28,7

71,3

1,55

0,0

23,1

0,0

3,9

3,9

0,0

100,0

1,65

0,0

11,5

0,0

1,9

1,9

0,0

100,0

1,75

0,0

24,2

0,0

4,1

4,1

0,0

100,0

2,25

100,0

100,0

83,2

16,8

100

1,40
1,401,50
1,501,60
1,601,70
1,701,80
+ 1,80

Pembuatan grafik :

Grafik dibuat hanya untuk batubara bersih

Absis harga rata-2 SG media (kolom 9) dan ordinat kolom 7

Untuk mengetahui baik atau buruknya proses pencucian, maka digunakan


metode probable error.

Uji Ketercucian Batubara

30

Gambar 2.6 Gambar Grafik TROMP

Dimana :
o dp : probable error
o d : SG pemisah ( d.50)

Uji Ketercucian Batubara

31

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
1. Proses pembentukan batubara terjadi melalui dua tahap, yaitu tahap pembentukan
gambut (peat) dari tumbuhan disebut proses peatification dan tahap pembentukan
batubara dari gambut disebut proses coalification.
2. Dari tahap pembentukannya, batubara terbagi menjadi 4 jenis dengan kadar
carbon dan pengotor yang berbeda, yaitu lignit, sub-bituminus, bituminus dan
antrasit.
3. Karena batubara memiliki pengotor saat proses pembentukan alami maka
dilakukan pencucian batubara untuk mendapatkan batubara yang murni dengan
kadar kalori sesuai yang diinginkan. Dan untuk pengujian hasil pencucian
batubara dilakukanlah Uji Ketercucian Batubara.
4. Dalam melaksanakan uji ketercucian batubara terdapat proses uji pemisahan
mineral berharga dengan mineral tak berharga (pengotor) yang disebut dengan
Analisis Uji Endap-Apung (Sink & Float).

Uji Ketercucian Batubara

32