Anda di halaman 1dari 35

WRAP UP SKENARIO 3

BLOK ENDOKRIN DAN METABOLISME


MENSTRUASI TIDAK TERATUR

KELOMPOK B-11
KETUA
SEKRETARIS
ANGGOTA

:
:
:

Rannissa Puspita Jayanti


Ratna Kurnianingsih
Muchammad Adiguna Said
Muhamad Eko Prastia
Muhammad Azmi Hakim
Muhammad Faisal Alim
Muhammad Fajrin
Ratnasari
Raysilva Chuneva Alros
Razky Noormansyah

(1102012225)
(1102012228)
(1102010174)
(1102012168)
(1102012170)
(1102012171)
(1102012173)
(1102012229)
(1102012230)
(1102012231)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI

Jl. Letjen Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta 10510


Telp. 62.21.4244574 Fax. 62.21. 4244574

SKENARIO 3
MENSTRUASI TIDAK TERATUR
Seorang wanita, 20 tahun, mahasiswi universitas yarsi datang ke poliklinik RS dengan keluhan haid
tidak teratur yaitu sejak 6 bulan yang lalu. Setiap haid lamanya 2-3 minggu. Dua hari ini, haid
banyak sekali (5x ganti pembalut sehari). Pasien mendapatkan haid yang pertama sejak usia 12
tahun, teratur setiap bulan.
Pemeriksaan fisik didapatkan:
Keadaan umum
: tampak pucat
Kesadaran
: Komposmentis
TD
: 110/80 mmHg
Nadi
: 80 x/menit
Jantung dan paru
: dalam batas normal
Pemeriksaan luar ginekologi :
Abdomen :
Inspeksi
: perut tampak mendatar
Palpasi
: lemas, fundus uteri tidak teraba di atas simfisi
Auskultasi
: bising usus normal
Vulva/vagina : fluksus (+)
Pemeriksaan penunjang :
USG Ginekologi : uterus bentuk dan ukuran normal, ovarium kanan dan kiri normal. Tidak tampak
massa pada adneksa kanan dan kiri.
Lab darah rutin: Hb 10g/dL, trombosit 300.000/uL, lain-lain normal
Berdasarkan pemeriksaan di atas, Dokter menduga kelainan haid disebabkan oleh ketidak
seimbangan hormonal.
Pasien juga bingung apakah keluhan ini karena haid atau istihadhah sehingga ragu dalam
melaksanakan hukum Islam.

KATA-KATA SULIT
1. Haid
2. Fluksus
3. Adneksa
4. Ginekologi
5. Istihadhah

: Meluruhnya dinding rahim akibat tidak terjadi pembuahan pada ovum


: Keluarnya cairan atau lelehan dari tubuh
: Jaringan yang berada di sekitar rahim
: Ilmu yang mempelajari penyakit-penyakit sistem reproduksi wamita
: Darah penyakit yang keluar dari sebuah otot pada bagian rahim

PERTANYAAN
1. Berapa kisaran waktu haid yang normal?
2. Mengapa haid tidak teratur?
3. Berapa jumlah darah haid yang dikeluarkan saat menstruasi normal per harinya?
4. Cairan apa yang keluar pada fluksus?
5. Bagaimana hubungan usia dengan keluhan pasien?
6. Apa maksud dari ketidakseimbangan hormonal?
7. Mengapa pasien pada pemeriksaan fisik terlihat pucat?
8. Berapa usia normal haid pertama? Faktor apa yang mempengaruhi haid pertama?
9. Mengapa fundus uteri tidak teraba di atas simphisis?
10. Mengapa dilakukan pemeriksaan darah?
11. Bagaiman perbedaan darah istihadhah dan darah haid?
12. Bagaimana fase menstruasi normal?
13. Hormon apa saja yang mungkin terganggu pada pasien tersebut?
14. Apa yang harus dilakukan dokter pada pasien?
15. Apa yang terjadi bila keluhan dibiarkan?

JAWABAN
1. 3-8 hari, maksimal 14 hari
2. Karena adanya faktor psikis yang mempengaruhi hormon
3. 30-80 ml/hari
4. Darah dan mukus
5. Dewasa muda dengan pekerjaan mahasiswa dan memiliki faktor stress yang cukup tinggi
sehingga mempengaruhi keseimbangan hormon
6. Kadar hormon tidak dalam batas normal
7. Karena Hb turun dan tekanan darah turun.
8. 12-13 tahun, paling lambat = 18 tahun
Faktor yang mempengaruhi adalah genetik, hormonal, makanan dan gaya hidup
9. Karena fundus uteri teraba pada saat hamil
10. Untuk mengetahui adanya komplikasi anemia atau tidak
11. Darah istihadhah akan keluar lebih dari 14 hari saat haid atau diwaktu bukan haid dan
berwarna merah segar
Darah haid berwarna merah tua atau gelap
12. Di ovarium terdapat dua fase yaitu fase folikuler dan fase luteal
Di endometrium terdapat tiga fase yaitu fase menstruasi, fase proliferasi dan fase sekresi.
13. FSH, LH, GnRH, Estrogen dan Progesteron
14. Diberikan OAINS dan dilakukan edukasi
15. Anemia, menorrhage, infeksi

HIPOTESIS
Seorang wanita dewasa muda memiliki faktor resiko genetic, psikis dan gaya hidup yang kurang
sehat, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan hormon FSH, LH, GNRH, estrogen dan
progesterone. Karena ketidakseimbangan tersebut menyebabkan haid tidak teratur dan menjadi
menorrhageae. kemudian dilakukan pemeriksaan, dari hasil anamnesis didapatkan haid lebih dari 14
hari dan jadwal haid tidak teratur, sedangkan pada pemeriksaan fisik didapatkan fluksus +, lemas,
pucat dan fundus uteri tidak teraba dan pada pemeriksaan penunjang didapatkan hasil HB rendah dan
ginekologi normal. Setelah dilakukan pemeriksaan maka dilaksanakan penatalaksanaan dengan
edukasi dan OAINS. Penatalaksanaan tersebut dilakukan untuk mengurangi manifestasi kemudian
kembali normal dan mencegah komplikasi anemis dan infeksi.
Wanita Dewasa Muda
Faktor Resiko : Genetik, hormon, psikis, gaya hidup
Katidakseimbangan hormon :
FSH, LH, GNRH, Estrogen dan Progesteron
Haid Tidak Teratur
Menorrhageae
Anamnesis : Haid > 14 hari, Haid tidak teratur
Pemeriksaan Fisik : Fluksus + , Lemas, pucat, Fundus uteri tidak teraba
Pemeriksaan Penunjang : HB rendah, Ginekologi normal
Tatalaksana : OAINS, edukasi.
Komplikasi : Anemia, Infeksi

SASARAN BELAJAR
LI 1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Saluran Reproduksi Wanita
LO 1.1. Memahami dan Menjelaskan Makroskopik Saluran Reproduksi Wanita
LO 1.2. Memahami dan Menjelaskan Mikroskopik Saluran Reproduksi Wanita
LI 2. Memahami dan Menjelaskan Fisiologi dan Biokimia Menstruasi
LI 3. Memahami dan Menjelaskan Kelainan Menstruasi
LO 3.1. Memahami dan Menjelaskan Definisi dan Klasifikasi Kelainan Menstruasi
LO 3.2. Memahami dan Menjelaskan Etiologi Kelainan Menstruasi
LO 3.3. Memahami dan Menjelaskan Epidemiologi Kelainan Menstruasi
LO 3.4. Memahami dan Menjelaskan Patogenesis dan Patofisiologi Kelainan Menstruasi
LO 3.5. Memahami dan Menjelaskan Manifestasi Klinis Kelainan Menstruasi
LO 3.6. Memahami dan Menjelaskan Diagnosis (Anamnesis, Pemeriksaan Fisik, Pemeriksaan
Penunjang, dan Diagnosis) Kelainan Menstruasi
LO 3.7. Memahami dan Menjelaskan Tatalaksana Kelainan Menstruasi
LO 3.8. Memahami dan Menjelaskan Komplikasi Kelainan Menstruasi
LO 3.9. Memahami dan Menjelaskan Pencegahan Kelainan Menstruasi
LO 3.10. Memahami dan Menjelaskan Prognosis Kelainan Menstruasi
LI 4. Memahami dan Menjelaskan Darah Istihadhah Menurut Pandangan Islam
LO 1.1. Memahami dan Menjelaskan Perbedaan Haid dan Istihadhah Menurut Pandangan Islam
LO 1.2. Memahami dan Menjelaskan Ibadah yang Boleh Dilakukan Dalam Keadaan Suci dan
Tidak Suci Menurut Pandangan Islam

LI 1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Organ Reproduksi Wanita


LO 1.1. Makroskopik

1. Bagian eksterna (bagian luar)


a. Mons Veneris
Mons Veneris merupakan bagian yang menonjol dan terdiri dari jaringan lemak yang
menutupi bagian depan simpisis pubis, dan setelah masa pubertas kulit mons veneris akan di
tumbuhi oleh rambut kemaluan (pubes).
b. Labia Mayora
Labia mayora berbentuk lonjong dan menonjol, berasal dari mons veneris dan berjalan ke
bawah dan belakang. Yaitu dua lipatan kulit yang tebal membentuk sisi vulva dan terdiri dari
kulit, lemak, pembuluh darah, jaringan otot polos dan syaraf. Labia mayora sinistra dan dextra
bersatu di sebelah belakang dan merupakan batas depan dari perinium, yang disebut
commisura posterior (frenulum), dan panjangnya kira-kira 7, 5 cm.
Labia Mayora terdiri daridua permukaan :
1. Bagian luar, menyerupai kulit biasa dan ditumbuhi rambut.
2. Bagian dalam menyerupai selaput lendir dan mengandung banyak kelenjar sebacea.
c. Labia Minora
Labia minora merupakan lipatan sebelah medial dari labia mayora dan merupakan lipatan
kecil dari kulit diantara bagian superior labia mayora. Sedangkan labianya mengandung
jaringan erektil. Dijumpai frenulum klitoris, preputium, dan frenulum pudenti.
d. Klitoris
Klitoris merupakan sebuah jaringan erektil kecil, kira-kira sebesar kacang hijau sampe cabe
rawit ditutupi oleh frenulum klitoris. Banyak mengandung urat-urat syaraf sensoris yang
dibentuk oleh suatu ligamentum yang bersifat menahan ke depan simpisis pubis dan pembuluh
darah.
e. Hymen (selaput Dara)
5

Hymen adalah diafragma dari membrane yang tipis dan menutupi sebagian besar introitus
vagina, di tengahnya terdapat lubang dan melalui lubang tersebut kotoran menstruasi dapat
mengalir keluar. Biasanya hymen berlubang sebesar jari, letaknya di bagian mulut vagina
memisahkan genitalia eksterna dan interna.

Annular hymen selaput melingkari lubang vagina.


Septate hymen selaput yang ditandai dengan beberapa lubang yang terbuka.
Cibriform hymen selaput ini juga ditandai beberapa lubang yang terbuka, tapi lebih kecil
clan jumlahnya lebih banyak.
Introitus Pada perempuan yang sangat berpengalaman dalam berhubungan seksual, bisa saja
lubang selaputnya membesar. Namun masih menyisakan jaringan selaput dara.
f. Vestibulum
Vestibulum merupakan rongga yang sebelah lateralnya dibatasi oleh kedua labia minora,
anterior oleh klitoris, dorsal oleh fourchet. Pada vestibulum terdapat muara-muara dari vagina
uretra dan terdapat juga 4 lubang kecil yaitu: 2 muara dari kelenjar Bartholini yang terdapat
disamping dan agak kebelakang dari introitut vagina, 2 muara dari kelenjar skene disamping
dan agak dorsal dari uretra.
g. Introitus vagina : Pintu masuk ke vagina
i. Lubang Kemih (orifisium uretra eksterna)
Tempat keluarnya air kemih yang terletak dibawah klitoris. Disekitar lubang kemih bagian
kiri dan kanan didapat lubang kelenjar skene.
J. Perineum : terletak diantara vulva dan anus
2. Bagian interna (bagian dalam)
a) Vagina
Vagina merupakan saluran yang menghubungkan uterus dengan vulva dan merupakan
tabung berotot yang dilapisi membran dari jenis epitelium bergaris khusus dan dialiri banyak
pembuluh darah serta serabut saraf secara melimpah. Panjang Vagina kurang lebih 10-12 cm
dari vestibula ke uterus, dan letaknya di antara kandung kemih dan rektum.
Fungsi yaitu : sebagai saluran keluar dari uterus yang dapat mengalirkan darah menstruasi,
sebagai jalan lahir pada waktu partus.

b) Uterus (rahim)
6

- Fundus uteri, bagian yang terletak diatas (proximal) ostium tuba uterine.
- Corpus uteri, bagian tengah uterus, berbentuk segitiga. Batas antara corpus dan cervix uteri
dibentuk oleh isthmus uteri, merupakan suatu penyempitan di dalam rongga uteri, terletak
antara ostium uteri internum anatomicum dan ostium uteri histologicum.
- Cervix uteri, bagian yang paling sempit dan menonjol ke dalam rongga vagina. Pada bagian
ujung distal cervix, terdapat bangunan yang menyempit disebut ostium uteri externum.
Rongga di dalam cervix uteri disebut canalis cervicis.
- Cavum uteri (rongga Rahim
Bentuk dan ukuran uterus sangat berbada-bada tergantung dari usia, dan pernah melahirkan
anak atau belum. Cavum uteri (rongga rahim) berbentuk segitiga, melebar di daerah fundus dan
menyempit kearah cervix. Sebelah atas rongga rahim brhubungan dengan saluran indung telur
(tuba follopi) dan sebelah bawah dengan saluran leher rahim (kanalis cervikalis). Hubungan
antara kavum uteri dengan kanalis cervikalis disebut ostium uteri internum, sedangkan muara
kanalis cervikalis kedalam vagina disebut ostium uteri eksternum.

Dinding rahim terdiri dari 3 lapisan :


a) Perimetrium
Meliputi dinding rahim bagian luar. Menutupi bagian luar uterus. Merupakan penebalan
yang diisi jaringan ikat dan pembuluh darah limfe dan urat syaraf. Peritoneum meliputi tuba
dan mencapai dinding abdomen.
b) Lapisan otot (Myometrium)
Susunan otot rahim terdiri dari tiga lapisan yaitu lapisan luar, lapisan tengah, dan lapisan
dalam. Pada lapisan tengah membentuk lapisan tebal anyaman serabut otot rahim. Lapisan
tengah ditembus oleh pembuluh darah arteri dan vena. Lengkungan serabut otot ini membentuk
angka delapan sehingga saat terjadi kontraksi pembuluh darah terjepit rapat, dengan demikian
pendarahan dapat terhenti. Makin kearah serviks, otot rahim makin berkurang, dan jaringan
7

ikatnya bertambah. Bagian rahim yang terletak antara osteum uteri internum anatomikum, yang
merupakan batas dari kavum uteri dan kanalis servikalis dengan osteum uteri histologikum
(dimana terjadi perubahan selaput lendir kavum uteri menjadi selaput lendir serviks) disebut
isthmus. Isthmus uteri ini akan menjadi segmen bawah rahim dan meregang saat persalinan.
c) Endometrium
Pada endometrium terdapat lubang kecil yang merupakan muara dari kelenjar
endometrium.Variasi tebal, tipisnya, dan fase pengeluaran lendir endometrium ditentukan oleh
perubahan hormonal dalam siklus menstruasi. Pada saat konsepsi endometrium mengalami
perubahan menjadi desidua, sehingga memungkinkan terjadi implantasi (nidasi). Lapisan epitel
serviks berbentuk silindris, dan bersifat mengeluarakan cairan secara terus-menerus, sehingga
dapat membasahi vagina. Kedudukan uterus dalam tulang panggul ditentukan oleh tonus otot
rahim sendiri, tonus ligamentum yang menyangga, tonus otot-otot panggul.
Perdarahan
- Berasal dari A. Uterina percabangan dari A. Iliaca Interna dan akhirnya beranastomosis
dengan A. Ovarica yang juga membantu memberikan suplai darah bagi uterus. Selanjutnya,
Arteri Uterina bercabang menjadi sebuah cabang kecil yang berjalan turun dan ikut
meperdarahi cervix dan vagina.
- Aliran baliknya V. Uterine akan bermuara ke V. Iliaca Interna.
Persyarafan
Simpatis dan Parasimpatisnya berasal dari Plexus Hypogastricus Inferior.
Fungsi
Berfungsi sebagai organ tempat terjadinya menstruasi, tumbuh dan berkembangnya hasil
konsepsi, serta tempat pembuatan hormon HCG.
Ligamentum yang ikut menfiksasi uterus diantaranya adalah :
- Lig. cardinal (Mackenrodts)/ lig. cervicalis lateralis, melewati sebelah lateral cervix dan
bagian atas vagina ke dinding pelvis.
- Lig. utero-sacrale/lig. retro uterine, melewati bagian belakang cervix dan fornix vagina ke
fasia yang melapisi sendi sacro-iliaca. Mulai dari isthmus ke jaringan pengikat di sebelah
lateral dari rectum setinggi vertebra sacralis III, mengandung otot polos.
- Lig. puboservicale, meluas ke anterior dari lig. cardinal ke pubis.
- Lig. pubovesicale, dari belakang symphisis pubis menuju collum vesica urinaria.
d) Tuba Fallopi
Tuba Fallopi terdapat pada tepi atas ligamentum latum, berjalan kearah lateral, mulia dari
kornu uteri kanan kiri yang panjangnya kurang lebih 12-13 cm dan diameternya 3-8 mm.
bagian dalam dilapisi silia menyalurkan telur dan hasil konsepsi.
Fungsi : saluran telur, menangkap dan membawa ovum; tempat terjadinya pembuahan.
Pada tuba ini dapat dibedakan menjadi 4 bagian, sebagai berikut :
1. Pars interstitialis (intramularis), bagian tuba yang berjalan dalam dinding uterus mulai pada
ostium internum tubae.
2. Pars Ampullaris, bagian tuba antara pars isthmixca dan infundibulum dan merupakan bagian
tuba yang paling lebar dan berbentuk huruf S.
3. Pars Isthmica, bagian tuba sebelahkeluar dari dinding uerus dan merupakan bagian tuba
yang lurus dan sempit.
8

4. Pars Infundibulum, bagian yang berbentuk corong dan lubangnya menghadap ke rongga
perut, Bagian ini mempunyai fimbria yang berguna sebagai alat penangkap ovum.
Perdarahan
Berasal dari A. Uterina percabangan dari A. Iliaca Interna.
Persyarafan
Simpatis dan Parasimpatisnya berasal dari Plexus Hypogastricus Inferior.
d. Ovarium

Ovarium terdapat di dalam rongga panggul di sebelah kanan maupun sebelah kiri dan
berbentuk seperti buah kenari. Berukuran 2,5-5 x 1,5-2 x 0,6-1cm. ovarium ditunjang oleh :
mesovarium, lig.ovariak dan lig.infundibulopelvikum.
Difiksasi oleh :
- Lig. Suspensorium Ovarii (Lig. infundibulopelvicum), menggantungkan uterus pada
dinding panggul antara sudut tuba.
- Lig. Ovarii Propium, menggantungkan ovarium pada uterus.
- Lig. Teres Uteri (Lig. Rotundum), terdapat di bagian atas lateral dari uterus, caudal dari
tuba, ligamentum ini akan melalui canalis inguinalis ke cranial labium majus. Pada saat
kehamilan hipertrofi, shg dapat diraba dgn pemeriksaan luar.
Perdarahan
- A. ovarica yang berasal dari aorta abdominalis.
- Aliran darah baliknya oleh V. Ovarica Dextra bermuara ke V. Cava Inferior dan V.
Ovarica Sinistra bermuara ke V. Renalis Sinistra.
Persyarafan
Berasal dari Plexus Aorticus.
Fungsi memproduksi sel telur, hormon esterogen dan hormon progesterone, ikut serta
mengatur haid.
LO 1.2. Mikroskopik
Ovarium
Ovarium dibungkus Epitel Germinatif berupa Selapis Kuboid yg menyatu dg mesotel.
Di bwh epitel tsb tdpt jaringan ikat padat yaitu Tunika albuginea

Struktur ovarium tdd :


a) Korteks di bagian luar,tdd:
Stroma padat , mengandung folikel ovarium. Stroma bbtk jala retikulin dg sel btk
gelendong.
Sebelum pubertas hanya tdpt folikel primitif atau primer.
Kematangan seks adanya folikel yg berkembang dan hasil akhirnya berupa
korpus luteum, folikel atretis.
Saat menopause folikel menghilang dan korteks jd tipis dan tdd jaringan ikat fibrosa
b) Medula dibagian dalam,tdd:
Jaringan ikat fibroelastis berisi pembuluh darah besar, limf dan saraf.
Korpus Luteum
Bila tdk tjd fertilisasi maka korpus luteum hanya
bertahan 10-14 hari dan berdegenerasi disebut
KORPUS LUTEUM MENSTRUASI
Bila tjd fertilisasi, plasenta menghasilkan HCG
dan menstimulasi Korpus luteum utk bertahan
selama 6 bln tapi tdk hilang dan msh
mensekresi progesteron sampai akhir kehamilan
disebut KORPUS LUTEUM PREGNANS

Tuba uterina (t.falopii)


Lumen tuba falopii dilapisi epitel kolumnar dengan silia panjang pada permukaan selnya. Silia
bergerak konsisten ke arah uterus untuk memfasilitasi pergerakan zygote ke dalam uterus agar
mengadakan implantasi pada endometrium
Terdiri atas 4 segmen
A.
Bag. Intramural (Pars Interstitial)
B.
Istmus
C.
Ampula
D.
Infundibulum . Jari2/jumbai melebar ke arah ovarium disebut FIMBRIAE
Scr histologi, dinding tuba uterina tdd 3 lapis :
o T. Mukosa
o T. Muskularis
o T. Serosa

10

Dinding uterus
1.
PERIMETRIUM
2.
MIOMETRIUM
3.
ENDOMETRIUM
Lapisannya dibagi 2 bagian dan fungsinya
1. Stratum fungsional
2. Stratum Basale
Fase menstruasi
Jk tdk ada pembuahan, endometrium dihancurkan, kelenjar rusak menyerpih
Stroma tdpt rembesan
Akhir fase, dinding A. Spiralis berkontraksi menutup aliran darah shg tjd nekrosis
endometrium
Tjd proliferasi sel kelenjar dan bagian basal migrasi ke permukaan sbg awal fase
proliferasi
Fase proliferasi
Disebut fase estrogenik krn estrogen sbg persiapan implantasi.
Epitel Selapis silindris
Endometrium mengalami regenerasi, kelenjar mjd lurus dg lumen sempit, arteri
spiralis memanjang dan berkelok2

Miometrium tersusun berlapis


Fase Sekresi
Fase sekreimulai sth ovulasi. Adanya progesteron (pmbtkn korpus luteum)
menyebabkan :
Kelenjar mjd berkelok2, lumen melebar, sekresi byk.
Endometrium tebal maksimal (5 nm)
Arteri Spiralis memanjang ke dlm bagian superfisial endometrium
Dinding berlipat

11

LI. 2. Memahami dan Menjelaskna Fisiologi Menstruasi


FISIOLOGI
SIKLUS OVARIUM
Fase Folikuler
1. Siklus
fungsi
ovarium
dengan
pematangan folikel-folikel, ovulasi,
formasi corpus luteum diatur oleh sistem
kelenjar hypothalamo-hipofise seperti
halnya dengan mekanisme intraovarial.
2. Hypothalamus
memproduksi
gonadotropin-releasing
hormones
(GnRH)
3. GnRH dibawa melalui sistem vena portal
menuju kelenjar hipofise anterior
4. GnRH menyatu pada reseptor spesifik
yang menginduksi sekresi luteotropic
hormone (LH) dan follicle-stimulating
hormone (FSH)
5. Pelepasan FSH dan LH bergantung pada
GnRH dan terjadi setiap 90 menit
(berkala)
6. Selanjutnya
FSH
menstimulasi
pematangan folikel. Hanya satu folikel
yang matang sempurna.
7. Saat ovulasi
8. Selanjutnya
folikel
menghasilkan
estrogen dan estrogen menekan produksi
FSH (negative feedback)
9. Akibatnya beberapa folikel selain satu
folikel yang matur sempurna mengalami
atresia.
10. Meningkatnya
kadar
estrogen
mensitmulasi sekresi LH sehingga kadar
LH melonjak di pertengahan siklus
(positive feedback)
11. Kadar LH yang tinggi menyebabkan
degenerasi kolagen folikel ovulasi
setelah 16-24 jam lonjakan LH
Fase luteal
Setelah 7-8 hari ovulasi,sel granulosa membesar,bervakuola dan berpigmen kuning (lutein)
korpus luteum
Corpus luteum terhubung ke sirkulasi dan reseptor-reseptor low density lipoprotein (LDL)
terbentuk
Sebagai hasilnya sel-sel granulosa dapat menggunakan kolesterol yang ada untuk biosintesis
progesteron
Terdapat 2 sel di korpus luteum
Luteinized granulosa cells : meningkatkan sekresi Progesteron
Luteinized theca cells : meningkatkan sekresi Estrogen
12

Level maksimum serum progesteron 15 ng/ml 6 sampai 8 hari setelah ovulasi


Progesteron
Mempersiapkan rahim untuk kehalmilan (meningkatkan kelenjar sekretori uterus dan
menurunkan kontraksi uterus untuk mencegah expulsi pada ovum yang tertanam
Meningkatkan sekresi mukosa tuba falopii untuk nutrisi ovum
Meningkatkan perkembangan lobulus dan alveoli payudara
Estrogen:
Organ seks dan tubu keseluruhan:mendorong perkembangan folikel,berperan dalalm
karakteristik seks sekunder, merangsang pertubuhan uterus dan payudara
Tulang : mencegah aktivitas osteoklas,meningkatkan matriks tulang,merangsang
penutupan epifisial plate,meningkatkan deposit calsium
Berperan dalam penyimpanan lemak dan pengaturan produksi kolesterol oleh hati
sehingga menurunkan resiko atherosklerosis
Meningkatkan vaskularisasi pada kulit sehingga kulit halu dan lembut
Keseimbangan elektrolit: meningkatkan retensi Na dan air
SIKLUS ENDOMETRIUM
Pada siklus endometrium, terbagi jadi 3 fase, yaitu:
1.
Masa menstruasi yang berlangsung selama 2-8 hari. Bila tidak terjadi pembuahan
sampai 2 hari sebelum akhir dari siklus bulanan maka corpus luteum akan beregresi dan
terbentuk jaringan parut (corpus albicans ) dengan berkurangnya kapiler-kapiler dan diikuti
menurunnya sekresi estrogen dan progesteron (involusi endometrium sebesar 65% )
pembuluh darah endometrium melepaskan material vasokonstriksi (Prostaglandins, sitokinin,
dan growth factors seperti TNF-beta , dan makrofag) vasopspasme menyebabkan
penurunan nutrisi endometrium inisiasi nekrosis darah merembes ke lapisan pertama
endometrium pendarahan (hemoragik) meningkat cepat dalam 24-36 jam bagian
nekrosis terpisah dari endometrium deskuamasi peningkatan kontraksi uterus
pengeluaran darah menstruasi + deskuamasi pendarahan berhenti 4-7 hari setelah
menstruasi
Siklus haid yang normal berlangsung antara 21-35 hari, selama 2-8 hari dengan
jumlah darah haid sekitar 25-80 ml/hari
2.
Masa proliferasi dari berhenti darah menstruasi sampai hari ke-14. Fae proliferasi ini
dapat berkisar 7-21 post ovulasi.Setelah menstruasi berakhir, dimulailah fase proliferasi
dimana terjadi pertumbuhan dari desidua fungsionalis untuk mempersiapkan rahim untuk
perlekatan janin. Pada fase ini endometrium tumbuh kembali. Antara hari ke-12 sampai 14
dapat terjadi pelepasan sel telur dari indung telur (disebut ovulasi)
3.
Masa sekresi. Masa sekresi adalah masa sesudah terjadinya ovulasi. Fase sekresi
biasanya tetap yaitu 14 hari. Hormon progesteron dikeluarkan dan mempengaruhi
pertumbuhan endometrium untuk membuat kondisi rahim siap untuk implantasi (perlekatan
janin ke rahim)

13

GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone)


GnRH merupakan hormon yang diproduksi oleh hypothalamus. GnRH akan merangsang
pelepasan FSH (folikel stimulating hormone) di hypophisis. Bila kadar estrogen tinggi, maka
estrogen akan memberikan umpan-balik (feed back mechanism) ke hypothalamus sehingga
kadar GnRH akan menjadi rendah, begitupun sebaliknya. Berikut ini merupakan fungsi dari
GnRH :
Menstimulasi produksi folikel stimulating hormone (FSH) dan leutinizing hormone
(LH)
Mengatur pelepasan FSH dan LH oleh kelenjar hypophisis

14

(Wilson dan Price, 2005)


FSH (Folikel Stimulating Hormone)
FSH diproduksi oleh sel gonadotropin pada kelenjar hypophiisis, pada lobus anterior
(adenohypophisis). Sel target dari FSH adalah testis (tubulus semineferus) pada laki-laki dan
ovarium pada perempuan. Fungsi dari FSH adalah :
Laki-laki
Menstimulasi produksi sperma dengan cara mempengaruhi reseptor testosterone pada
tubulus semineferus
Perempuan
Menstimulasi perumbuhan dan pematangan folikel
Menstimulasi produksi estrogen pada corpus luteum
(Guyton and Hall, 1997)
LH (Leutinizing Hormone)
LH diproduksi oleh sel gonadotropin pada lobus anterior kelenjar hypophysis. Sel target dari
LH adalah tubulus semineferus testis pada laki-laki dan ovarium pada perempuan. Fungsi LH
adalah :
Laki-laki
Menstimulasi produksi sperma dalam proses spermatogenesis dengan cara
menstimulasi sel intersisial leydig pada testis untuk mensekresikan testosterone
Perempuan
Membentuk korpus luteum dari folikel yang telah pecah
Menstimulasi produksi progesteron oleh korpus luteum
(Guyton and Hall, 1997)

15

Progesteron
Progesteron merupakan produk yang dihasilkan oleh korpus luteum. Fungsi dari progesteron
itu sendiri adalah :
1. Menyiapkan endometrium untuk implantasi blastokist
Endometrium yang sudah dipengaruhi estrogen karena pengaruh progesteron berubah
menjadi desidua dengan timbunan glikogen yang makin bertambah yang sangat penting
sebagai bahan makanan dan menunjang ovum
2. Mencegah kontraksi otot-otot polos terutama uterus dan mencegah kontraktilitas
uterus secara spontan karena pengaruh oksitosin
3. Cervix uteri menjadi kenyal, ostium uteri tertutup disertai dengan lendir yang kental,
sedikit, lekat, seluler dan banyak mengandung lekosit sehingga sukar dilalui spermatozoa
4. Mempengaruhi tuba fallopi, dengan cara :
Glikogen dan vitamin C tertimbun banyak di dalam mukosa tuba falopii
Memperlemah gerakan peristaltik
5. Bersifat termogen, yaitu menaikkan suhu basal
6. Merangsang pertumbuhan asini dan lobuli glandula mammae pada fase luteal,
sedangkan estrogen akan mempengaruhi epitel saluran
7. Merangsang natriuresis dan menambah produksi aldosteron
8. Merangsang pusat pernafasan (medulla oblongata) sehingga terjadi peningkatan
proses respirasi
(H. Wiknjosastro, 1984)
Estrogen
Estrogen memegang peranan penting dalam perkembangan ciri-ciri kelamin sekunder dan
mempunyai pengaruh terhadap psikologi perkembangan kewanitaan. Efek utama estrogen
adalah pertumbuhan alat genital wanita dan kelenjar mamma. Vulva dan vagina berkembang di
bawah pengaruh estrogen. Hormone ini akan mempengaruhi jaringan epitel, otot polos, dan
merangsang pembuluh darah pada alat-alat tersebut. Estrogen juga menyebabkan proliferasi
epitel vagina, penimbunan glikogen dalam sel epitel yang oleh basil doderlein diubah menjadi
asam laktat sehingga menyebabkan pH vagina menjadi rendah. (H. Wiknjosastro, 1984)
Disamping itu estrogen juga mempunyai fungsi sebagai berikut, yaitu :
1. Mempengaruhi hormone lain, seperti :
Menekan produksi hormone FSH dan menyebabkan sekresi LH
Merangsang pertumbuhan follikel didalam ovarium, sekalipun tidak ada FSH
2. Menimbulkan proliferasi dari endometrium baik kelenjarnya maupun stromanya
3. Mengubah uterus yang yang infantile menjadi mature
4. Merangsang pertumbuhan dan menambah aktifitas otot otot tuba fallopi
5. Cervix uteri menjadi lembek, ostium uteri terbuka disertai lendir yang bertambah
banyak, encer, alkalis dan aselluler dengan pH yang bertambah sehingga mudah dilalui
spermatozoa

6.

Menyebabkan pertumbuhan sebagian lobuli alveoli dan saluran glandula mammae


16

Hormon-Hormon lain yang Berperan dalam Siklus Menstruasi Normal


Sistem hormonal yang mempengaruhi siklus menstruasi adalah:
1. FSH-RH (follicle stimulating hormone releasing hormone) yang dikeluarkan hipotalamus
untuk merangsang hipofisis mengeluarkan FSH
2. LH-RH (luteinizing hormone releasing hormone) yang dikeluarkan hipotalamus untuk
merangsang hipofisis mengeluarkan LH
3. PIH (prolactine inhibiting hormone) yang menghambat hipofisis untuk mengeluarkan
prolaktin
BIOKIMIA

17

LI. 3. Memahami dan Menjelaskna Kelainan Menstruasi


LO 3.1. Definisi dan Klasifikasi Kelainan Menstruasi
Kelainan Menstruasi Digolongkan dalam :
Kelainan panjang siklus (N=21-35hr):
- Polimenorea Yaitu siklus haid pendek dari biasanya (kurang dari 21 hari pendarahan).
Polimenorea dapat disebabkan oleh gangguan hormonal yang mengakibatkan gangguan
ovulasi, akan menjadi pendeknya masa luteal. Penyebabnya ialah kongesti ovarium
karena peradangan,endometritis dan sebagainya.
- Oligomenorea Yaitu siklus haid lebih panjang, lebih dari 35 hari. Perdarahan pada
oligomenorea biasanya berkurang. Penyebabnya adalah gangguan hormonal, ansietas dan
stress, penyakit kronis, obat-obatan tertentu, bahaya di tempat kerja dan lingkungan,
status penyakit nutrisi yang buruk, olah raga yang berat, penurunan berat badan yang
signifikan.
- Amenorea (tidak haid) jika haid tidak terjadi selama 3 bln berturut turut.
Amenorea dibagi menjadi dua bagian besar :
a. Amenorea primer dimana seorang wanita tidak pernah mendapatkan sampai umur 18
tahun. Terutama gangguan poros hipotalamus, hipofisis, ovarium, dan tidak
terbentuknya alat genitalia.
b. Amenorea sekunder, pernah beberapa kali mendapat menstruasi sampai umur 18
tahun dan diikuti oleh kegagalan menstruasi dengan melewati waktu 3 bulan atau
lebih.
18

Kelainan banyaknya haid (Normalnya darah haid = 25-80ml/hari):


- Hipermenorea (menoragia) Perdarahan haid yang lebih banyak dari normal (lebih dari
80ml/hari) atau lebih lama dari normal (lebih dari 8 hari), kadang disertai dengan bekuan
darah sewaktu haid.
- Hipomenore perdarahan haid yang lebih pendek dan atau lebih kurang dari biasa.
Penyebab Hipomenorea disebabkan oleh karena kesuburan endometrium kurang akibat
dari kurang gizi, penyakit menahun maupun gangguan hormonal.
Kelainan lama haid (Normalnya lama haid 3 7 hari):
- Menoragi (memanjang) jika lama haid lebih dari 7 hari
- Brakimenore (memendek) jika lama haid kurang dari 3 hari
Perdarahan bercak
- Premenstrual spotting Perdrhan yg terjd 3-4 hr sblm haid berupa bercak darah
- Postmenstrual spotting Perdrhan bercak yg terjd spi 7 hr stlh haid normal
Perdarahan uterus disfungsional didefinisikan sebagai perdarahan endometrium
abnormal dan berlebihan tanpa adanya patologi struktural. Perdarahan ini juga didefinisikan
sebagai menstruasi yang banyak dan / atau tidak teratur tanpa adanya patologi pelvik yang
diketahui, kehamilan atau gangguan perdarahan umum.
- berdasarkan usia : PUD perimenars,reproduksi, perimenopause
- berdasarkan kausa : PUD ovulatorik, anovulat, folikel persisten
- berdasarkan kadar Hb : ringan,sedang,berat
- berdasarkan gej.klinik : akut dan kronik
Gangguan lain berhubungan dengan haid :
- Metroragi Merupakan suatu perdarahan iregular yang terjadi di antara dua waktu haid.
Pada metroragia, haid terjadi dalam waktu yang lebih singkat dengan darah yang
dikeluarkan lebih sedikit. Metroragia tidak ada hubungannya dengan haid, namun
keadaan ini sering dianggap oleh wanita sebagai haid walaupun hanya berupa bercak.
Klasifikasi :
1. Metroragia oleh karena adanya kehamilan, seperti abortus, kehamilan ektopik.
2. Metroragia diluar kehamilan
- Dismenorea Nyeri selama menstruasi yang disebabkan oleh kejang otot uterus.
dismenorea hanya dipakai jika nyeri haid sedemikian hebatnya, sehingga memaksa
penderita untuk istirahat dan meninggalkan pekerjaan/ cara hidupnya sehari-hari untuk
beberapa jam atau beberapa hari. Dibagai menjadi :
1. Dismenorea Primer : Apabila tidak terdapat gangguan fisik yang menjadi penyebab
dan hanya terjadi selama siklus-siklus ovulatorik. Penyebabnya adalah adanya jumlah
prostaglandin yang berlebihan dalam darah menstruasi, yang merangsang
hiperaktivitas uterus.
2. Dismenorea Sekunder : Timbul karena adanya masalah fisik, seperti endometriosis,
polip uteri, leiomyoma, stenosis serviks, atau penyakit radang panggul (PID). Timbul
karena adanya masalah fisik, seperti endometriosis, polip uteri, leiomyoma, stenosis
serviks, atau penyakit radang panggul (PID)
Berdasarkan derajat :
Derajat 0 : tanpa rasa nyeri dan aktifitas tidak terganggu
Derajat 1 : nyeri ringan dan memerlukan obat rasa nyeri, aktifitas jarang terpengaruh
Derajat 2 : nyeri sedang dan tertolong dengan obat penghilang nyeri, altifitas
terganggu.
Derajat 3 : nyeri yang sangat hebat dan tidak berkurang walaupun sudah
menggunakan obat,
tidak dapat bekerja dan kasus ini ditangani dokter.

19

Premenstrual tension Ketegangan sebelum haid terjadi beberapa hari sebelum haid
bahkan sampai menstruasi berlangsung. Terjadi karena ketidakseimbangan hormon
estrogen dan progesterom menjelang menstruasi.

LO 3.2. Etiologi Kelainan Menstruasi


Polimenorea
Bila siklus pendek namun teratur ada kemungkinan stadium proliferasi pendek atau stadium
sekresi pendek atau kedua stadium memendek.Yang paling sering dijumpai adalah
pemendekan stadium proliferasi.Bila siklus lebih pendek dari 21 hari kemungkinan melibatkan
stadium sekresi juga dan hal ini menyebabkan infertilitas.
Siklus yang tadinya normal menjadi pendek biasanya disebabkan pemendekan stadium
sekresi karena korpus luteum lekas mati.Hal ini sering terjadi pada disfungsi ovarium saat
klimakterium, pubertas atau penyakit kronik seperti TBC.
Oligomenorrehea
Oligomenorrhea biasanya berhubungan dengan anovulasi atau dapat juga disebabkan
kelainan endokrin seperti kehamilan, gangguan hipofise-hipotalamus, dan menopouse atau
sebab sistemik seperti kehilangan berat badan berlebih.Oligomenorrhea sering terdapat pada
wanita astenis.Dapat juga terjadi pada wanita dengan sindrom ovarium polikistik dimana pada
keadaan ini dihasilkan androgen yang lebih tinggi dari kadara pada wanita normal.
Oligomenorrhea dapat juga terjadi pada stress fisik dan emosional, penyakit kronis, tumor
yang mensekresikan estrogen dan nutrisi buruk. Oligomenorrhe dapat juga disebabkan
ketidakseimbangan hormonal seperti pada awal pubertas.Oligomenorrhea yang menetap dapat
terjadi akibat perpanjangan stadium folikular, perpanjangan stadium luteal, ataupun perpanjang
kedua stadium tersebut.Bila siklus tiba-tiba memanjang maka dapat disebabkan oleh pengaruh
psikis atau pengaruh penyakit.
Amenorea (tidak haid)
Penyebab tersering dari amenorea primer adalah:
Pubertas terlambat.
Kegagalan dari fungsi indung telur.
Agenesis uterovaginal (tidak tumbuhnya organ rahim dan vagina).
Gangguan pada susunan saraf pusat.
Himen imperforata yang menyebabkan sumbatan keluarnya darah menstruasi dapat
dipikirkan apabila wanita memiliki rahim dan vagina normal.
Penyebab terbanyak dari amenorea sekunder adalah kehamilan, setelah kehamilan, menyusui,
dan penggunaan metode kontrasepsi disingkirkan, maka penyebab lainnya adalah:
Stress dan depresi.
Nutrisi yang kurang, penurunan berat badan berlebihan, olahraga berlebihan, obesitas.
Gangguan hipotalamus dan hipofisis.
Gangguan indung telur.
Obat-obatan.
Penyakit kronik dan Sindrom Asherman.
Hipermenorea (Menorrhagiae)
Penyebab Menorrhagia dikelompokan dalam 4 kategori yaitu,
1. Gangguan Pembekuan
Walaupun keadaan perdarahan tertentu seperti ITP dan penyakit von willebrands
berhubungan dengan peningkatan menorrhagia, namun efek kelainan pembekuan terhadap
20

individu bervariasi. Pada wanita dengan tromboitopenia kehilangan darah berhubungan dengan
jumlah trombosit selama haid. Splenektomi terbukti menurunkan kehilangan darah.
2. Disfunctional Uterine Bleeding (DUB)
Pada dasarnya peluruhan saat haid bersifat self limited karena haid berlangsung secara
simultan di seluruh endometrium serta jaringan endometrium yang terbentuk oleh estrogen dan
progesterone normal bersifat stabil. Pada DUB, keadaan ini sering terganggu.
DUB dapat terjadi disertai ovulasi maupun anovulasi. Pada keadaan terjadinya ovulasi,
perdarahan bersifat lebih banyak dan siklik hampir sesuai dengan siklus haid. Pada keadaan
anovulasi, perdarahan bersifat namun dengan siklus yang tidak teratur sehingga sering disebut
menometrorrhagia. DUB dapat disebabkan estrogen withdrawl bleeding, progesteron
withdrawl bleeding, estrogen breakthrough bleeding, progesterone breakthrough bleeding.
Estrogen withdrawl bleeding terjadi pada keadaan setelah ooparektomi bilateral, radiasi folikel
yang matur atau penghentian tiba-tiba obat-obatan yang mengandung estrogen.
Estrogen breakthrough bleeding menyebabkan lapisan endometrium menjadi semakin
menebal namun akhirnya runtuh karena kurang sempurnanya struktur endometrium karena
tidak sebandingnya jumlah progesterone yang ada disbanding jumlah estrogen. Perdarahan
biasanya bersifat spotting. Estrogen breakthrough bleeding yang berkelanjutan mengacu pada
keadaan amenorrhea namun secara tiba-tiba dapat mengakibatkan perdarahan yang banyak.
Progesteron withdrawl bleeding terjadi bila korpus luteum dihilangkan. Progesteron
withdrawl bleeding hanya akan terjadi bila diawali proliferasi endometrium yang diatur oleh
estrogen. Namun bila kadar estrogen meningkat 10-20 kali lipat, progesteron withdrawl
bleeding tidak akan terjadi.
Progesterone breakthrough bleeding terjadi bila kadar progesterone melebihi keseimbangan
dengan estrogen. Dinding endometrium yang menebal akan meluruh sedikit demi sedikit akibat
struktur yang tidak kuat. Hal ini terjadi saat menggunakan pil kontrasepsi dalam jangka waktu
lama.
Pada keadaan progesteron withdrawl bleeding dan estrogen breakthrough bleeding
diberikan terapi progesteron sehingga tercapai keseimbangan jumlah progesterone-estrogen.
Progesterone bersifat antiestrogen dimana menstimulasi perubahan estradiol menjadi estron
sulfat yaitu bentuk tidak aktif estrogen. Progesterone juga menghambat pembentukan reseptor
estrogen. Estrogen juga mencegah transkripsi onkogen yang dimediasi oleh estrogen.
Pada oligomenorrhea (estrogen breakthrough bleeding) preparat progesterone yang
digunakan adalah medroxypogesteronaseta, 5-10 mg/hari selama 10 hari. Pada menorrhagia
(estrogen breakthrough bleeding yang berlangsung lama dan progesteron withdrawl bleeding)
progestin digunakan selama 10 hari hingga 2 minggu untuk menstabilkan dinding endometrium
lalu dihentikan secara tiba-tiba dengan maksud mengikis semua dinding endometrium dan
bersifat kuretase alami.
Terapi estrogen diberikan pada Estrogen withdrawl bleeding dan progesterone breakthrough
bleeding untuk memperkuat stroma tempat kelenjar yang hiperplasia karena dirangsang
progesterone. Pada keadaan ini diberikan 25 mg estrogen terkonjugasi secara intra vena tiap 4
jam hingga perdarahan berhenti atau selama 24 jam untuk menghindari terbentuknya trombus
pada kapiler uterus. Semua terapi estrogen harus diikuti terapi progesteron dan withdrawl
bleeding.
Dapat juga diberikan anti prostaglandin untuk vasokontriksi darah sehingga perdarahan
dapat berhenti. Desmopresin asetat (analog sintetik dari arginin vasopresin) digunakan untuk
mengobati DUB pada pasien gangguan pembekuan terutama pada penyakit von willebrands
dan dapat diberikan intranasal maupun intravena. Pengobatan dapat meningkatkan kadar faktor
VIII dan faktor von willebrands yang berlangsung sekitar 8 jam.

21

3. Gangguan pada organ dalam pelvis


Menorrrhagia biasanya berhubungan dengan fibroid pada uterus, adenommiosis, infeksi
pelvis, polips endometrial, dan adanya benda asing seperti IUD. Wanita dengan perdarahan
haid melebihi 200 cc 50% mengalami fibroid. 40% pasien dengan adenomiosis mengalami
perdarahan haid melebihi 800cc. Menorrhagia pada retrofleksi disebabkan karena bendungan
pada vena uterus sedangkan pada mioma uteri, menorrhagia disebabkan oleh kontraksi otot
yang kurang kuat, permukaan endometrium yang luas dan bendungan vena uterus.
4. Gangguan medis lainnya
Gangguan medis lainnya yang dapat menyebabkan menorrhea diantaranya hipotiroid dan
sindrom cushing, patifisiologi terjadinya belum diketahui dengan pasti. Dapat juga terjadi pada
hipertensi, dekompsatio cordis dan infeksi dimana dapat menurunkan kualitas pembuluh darah.
Menorrhagia dapat terjadi pada orang asthenia dan yang baru sembuh dari penyakit berat
karena menyebabkan kualitas miometrium yang jelek.
Hipomenore
a. Setelah dilakukan miomektomi/ gangguan endokrin.
b. Kesuburan endometrium kurang akibat dari kurang gizi, penyakit menahun maupun
gangguan hormonal.
Metroragi
Metroragia diluar kehamilan dapat disebabkan oleh luka yang tidak sembuh; carcinoma
corpus uteri, carcinoma cervicitis; peradangan dari haemorrhagis (sepertikolpitis
haemorrhagia, endometritis haemorrhagia); hormonal.
Perdarahan fungsional :
a) Perdarahan Anovulatoar; disebabkan oleh psikis, neurogen,hypofiser, ovarial (tumor atau
ovarium yang polikistik) dan kelainan gizi, metabolik,penyakit akut maupun kronis.
b) Perdarahan Ovulatoar; akibat korpus luteumpersisten, kelainan pelepasan endometrium,
hipertensi, kelainan darah dan penyakitakut ataupun kronis.
Premenstrual spotting kelainan endokrin (estrogen rendah) prahaid & kel.organik
(polip,erosi porsio)
Postmenstrual spotting ggn reepitelisasi endometrium & inf. Penanganan : kuret dan
antibiotik
LO 3.3. Epidemiologi Kelainan Menstruasi
Amenorea Amenorea primer terjadi pada 0.1 2.5% wanita usia reproduksi. Amenorea
Sekunder Angka kejadian berkisar antara 1 5%.
Perdarahan uterus disfungsional Perdarahan uterus disfungsional tidak memiliki
kegemaran untuk ras, namun dari segi umur yang paling umum yaitu pada usia ekstrim
tahun reproduksi wanita, baik di awal atau mendekati akhir, tetapi mungkin terjadi pada
setiap saat selama hidup reproduksinya.
Sebagian besar kasus perdarahan uterus disfungsional pada remaja putri terjadi selama 2
tahun pertama setelah onset menstruasi, ketika sumbu dewasa mereka hipotalamus-hipofisis
mungkin gagal untuk merespon estrogen dan progesteron.
Dismenore Prevelense disminorhea pada anak remaja berkisar 20-90%. Sebuah studi
longitudinal secara kohort pada wanita Swedia ditemukan prevalensi dismenore adalah 90%
pada wanita usia 19 tahun dan 67% pada wanita usia 24 tahun.

22

LO 3.4. Patogenesis dan patofisiologi Kelainan Menstruasi

Amenorea
Menetapkan adanya disfungsi primer sangat penting dalam menentukan patofisiologi
amenorea. Amenorea terjadi jika hipotalamus dan pituitari gagal dalam memberikan stimulasi
gonadotropin pada ovarium, sehingga produksi estradiol tidak memadai dan atau terjadi
kegagalan ovulasi dan kegagalan produksi progesteron. Amenorea juga dapat terjadi jika
ovarium gagal menghasilkan jumlah estradiol yang cukup meskipun stimulasi gonadotropin
normal oleh hipotalamus dan hipofisis. Dalam beberapa kasus, hipotalamus, hipofisis, dan
ovarium semua dapat berfungsi normal, namun amenorea dapat terjadi karena kelainan uterus
seperti perlekatan dalam rongga endometrium, defek pada serviks, septum uteri, dan hymen
imperforata.
Tidak adanya uterus, baik itu sebagai kelainan atau sebagai bagian dari sindrom hemaprodit
seperti testicular feminization, adalah penyebab utama dari amenorea primer. Testicular
feminization disebabkan oleh kelainan genetik. Pasien dengan amenorea primer yang
diakibatkan oleh testicular feminization menganggap dan menyampaikan dirinya sebagai
wanita yang normal, memiliki tubuh feminin. Vagina kadang kadang tidak ada atau
mengalami kecacatan, tapi biasanya terdapat vagina. Vagina tersebut berakhir sebagai kantong
kosong dan tidak terdapat uterus. Gonad, yang secara morfologi adalah testis berada di kanal
inguinalis. Keadaan seperti ini menyebabkan pasien mengalami amenorea yang permanen.
Prinsip dasar fisiologi fungsi menstruasi memungkinkan dibuatnya suatu sistem yang
memisahkan dalam beberapa kompartemen. Hal ini berguna untuk memakai evaluasi
diagnostik yang memilah penyebab amenorea dalam 4 kompartemen, yaitu:

Kompartemen I : kelainan terletak pada organ target uterus atau outflow tract
Kompartemen II : kelainan pada ovarium.
Kompartemen III : kelainan pada pituitri anterior
Kompartemen IV : kelainan pada sistem syaraf pusat (hipotalamus).

Hipermenore
Pada siklus ovulasi normal, hipotalamus mensekresi Gonadotropin releasing hormon
(GnRH), yang menstimulasi pituitary agar melepaskan Folicle-stimulating hormone (FSH). Hal
ini pada gilirannya menyebabkan folikel di ovarium tumbuh dan matur pada pertengahan
siklus, pelepasan leteinzing hormon (LH) dan FSH menghasilkan ovulasi. Perkembangan
folikel menghasilkan esterogen yang berfungsi menstimulasi endometrium agar berproliferasi.
Setelah ovum dilepaskan kadar FSH dan LH rendah. Folikel yang telah kehilangan ovum akan
berkembang menjadi korpus luteum, dan korpus luteum akan mensekresi progesteron.
Progesteron menyebabkan poliferasi endometrium untuk berdeferemnsiasi dan stabilisasi. 14
hari setelah ovulasi terjadilah menstruasi. Menstruasi berasal dari dari peluruhan endometrium
sebagai akibat dari penurunan kadar esterogen dan progesteron akibat involusi korpus luteum.
Siklus anovulasi pada umumnya terjadi 2 tahun pertama setelah menstruasi awal yang
disebabkan oleh HPO axis yang belum matang. Siklus anovulasi juga terjadi pada beberapa
kondisi patologis.
Pada siklus anovulasi, perkembangan folikel terjadi dengan adanya stimulasi dari FSH,
tetapi dengan berkurangnya LH, maka ovulasi tidak terjadi. Akibatnya tidak ada korpus luteum
yang terbentuk dan tidak ada progesteron yang disekresi. Endometrium berplroliferasi dengan
cepat, ketika folikel tidak terbentuk produksi esterogen menurun dan mengakibatkan
perdarahan. Kebanyakan siklus anovulasi berlangsung dengan pendarahan yang normal, namun
ketidakstabilan poliferasi endometrium yang berlangsung tidak mengakibatkan pendarahan
hebat.
23

Perdarahan uterus disfungsional


Patologi PUD bervariasi. Gambaran penting salah satunya yaitu gangguan pada hipotalamus
pituitari ovarium sehingga menimbulkan siklus anovulatorik. Kurangnya progesteron
meningkatkan stimulasi esterogen terhadap endometrium. Endometrium yang tebal berlebihan
tanpa pengaruh progestogen, tidak stabil dan terjadi pelepasan irreguler. Secara umum,
semakin lama anovulasi maka semakin besar resiko perdarahan yang berlebihan. Ini adalah
bentuk DUB yang paling sering ditemukan pada gadis remaja.Sekitar 90% perdarahan uterus
difungsional (perdarahan rahim) terjadi tanpa ovulasi (anovulation) dan 10% terjadi dalam
siklus ovulasi.
-

Pada siklus ovulasi


Perdarahan rahim yang bisa terjadi pada pertengahan menstruasi maupun bersamaan
dengan waktu menstruasi. Perdarahan ini terjadi karena rendahnya kadar hormon estrogen,
sementara hormon progesteron tetap terbentuk.
Ovulasi abnormal ( DUB ovulatori ) terjadi pada 15 20 % pasien DUB dan mereka
memiliki endometrium sekretori yang menunjukkan adanya ovulasi setidaknya intermitten
jika tidak reguler. Pasien ovulatori dengan perdarahan abnormal lebih sering memiliki
patologi organik yang mendasari, dengan demikian mereka bukan pasien DUB sejati
menurut definisi tersebut. Secara umum, DUB ovulatori sulit untuk diobati secara medis.
- Pada siklus tanpa ovulasi (anovulation)
Perdarahan rahim yang sering terjadi pada masa pre-menopause dan masa reproduksi. Hal
ini karena tidak terjadi ovulasi, sehingga kadar hormon estrogen berlebihan sedangkan
hormon progesteron rendah. Akibatnya dinding rahim (endometrium) mengalami penebalan
berlebihan (hiperplasi) tanpa diikuti penyangga (kaya pembuluh darah dan kelenjar) yang
memadai. Kondisi inilah penyebab terjadinya perdarahan rahim karena dinding rahim yang
rapuh.
Pasien dengan perdarahan uterus disfungsional telah kehilangan siklus endometrialnya yang
disebabkan oleh gangguan pada siklus ovulasinya. Sebagai hasilnya pasien mendapatkan siklus
estrogen yang tidak teratur yang dapat menstimulasi pertumbuhan endometrium, berproliferasi
terus menerus sehingga perdarahan yang periodik tidak terjadi.
Schroder pada tahun 1915, setelah penelitian histopatologik pada uterus dan ovarium pada
waktu yang sama, menarik kesimpulan bahwa gangguan perdarahan yang dinamakan
metropatia hemoragika terjadi karena persistensi folikel yang tidak pecah sehingga tidak terjadi
ovulasi dan pembentukan korpus luteum. Akibatnya, terjadilah hiperplasi endometrium karena
stimulasi estrogen yang berlebihan dan terus-menerus.
Penelitian lain menunjukkan pula bahwa perdarahan disfungsional dapat ditemukan
bersamaan dengan berbagai jenis endometrium, yaitu endometrium atrofik, hiperplastik,
proliferatif dan sekretoris, dengan endometrium jenis non sekresi merupakan bagian terbesar.
Pembagian endometrium menjadi endomettrium sekresi dan non sekresi penting artinya,
karena dengan demikian dapat dibedakan perdarahan ovulatoar dari yang anovulatoar.
Klasifikasi ini memiliki nilai klinik karena kedua jenis perdarahan disfungsional ini memiliki
dasar etiologi yang berlainan dan memerlukan penanganan yang berbeda. Pada perdarahan
disfungsional yang ovulatoar gangguan dianggap berasal dari faktor-faktor neuromuskular,
hematologi dan vasomotorik, yang mekanismenya belum seberapa dimengerti, sedang
perdarahan anovulatoar biasanya dianggap bersumber pada gangguan endokrin

24

Dismenore

Pada disminorea primer :


Bila tidak terjadi kehamilan, maka korpus luteum akan mengalami regresi dan hal ini akan
mengakibatkan penurunan kadar progesteron. Penurunan ini akan mengakibatkan labilisasi
membran lisosom, sehingga mudah pecah dan melepaskan enzim fosfolipase A2. Fosfolipase
A2 ini akan menghidrolisis senyawa fosfolipid yang ada di membran sel endometrium
menghasilkan asam arakhidonat. Adanya asam arakhidonat bersama dengan kerusakan
endometrium akan merangsang kaskade asam arakhidonat yang akan menghasilkan
prostaglandin, antara lain PGE2 dan PGF2 alfa. Wanita dengan disminorea primer didapatkan
adanya peningkatan kadar PGE dan PGF2 alfa di dalam darahnya, yang akan merangsang
miometrium dengan akibat terjadinya peningkatan kontraksi dan distrimi uterus. Akibatnya
akan terjadi penurunan aliran darah ke uterus dan ini akan mengakibatkan iskemia.
Prostaglandin sendiri dan endoperoksid juga menyebabkan sensitisasi dan selanjutnya
menurunkan ambang rasa sakit pada ujung-ujung syaraf aferen nervus pelvicus terhadap
rangsang fisik dan kimia.
-

Pada disminorea sekunder :


Adanya kelainan pelvis, misalnya : endometriosis, mioma uteri, stenosis serviks, malposisi
uterus atau adanya IUD dapat menyebabkan kram pada uterus sehingga timbul rasa nyeri
LO 3.5. Manifestasi klinis kelainan menstruasi

Oligominorea Gejala oligomenorrhea terdiri dari periode menstruasi yang lebih panjang
dari 35 hari dimana hanya didapatkan 4-9 periode dalam 1 tahun.Beberapa wanita dengan
oligomenorrhea mungkin sulit hamil. Bila kadar estrogen yang menjadi penyebab, wanita
tersebut mungkin mengalami osteoporosis dan penyakit kardiovaskular. Wanita tersebut
juga memiliki resiko besar untuk mengalami kanker uterus.
Amenorea (tidak haid) Jika penyebabnya adalah kegagalan mengalami pubertas, maka
tidak akan ditemukan tanda-tanda pubertas seperti pembesaran payudara, pertumbuhan
rambut kemaluan dan rambut ketiak serta perubahan bentuk tubuh. Jika penyebabnya adalah
kehamilan, akan ditemukan morning sickness dan pembesaran perut. Jika penyebabnya
adalah kadar hormon tiroid yang tinggi maka gejalanya adalah denyut jantung yang cepat,
kecemasan, kulit yang hangat dan lembab. Sindroma Cushing menyebabkan wajah bulat
(moon face), perut buncit dan lengan serta tungkai yang kurus.
Hipomenorea Waktu haid singkat, jumlah darah haid sangat sedikit (<30cc), kadangkadang hanya berupa spotting.
Metroragi Adanya perdarahan tidak teratur dan tidak ada hubungannya dengan haid
namun keadaan ini sering dianggap oleh wanita sebagai haid walaupun berupa bercak.
Disminorea Kram bagian bawah perut dan menyebar ke punggung dan kaki, Muntah,
sakit kepala, cemas, kelelahan, diare, pusing dan kembung.

LO 3.6. Diagnosis (Anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dan diagnosis)


kelainan menstruasi
Anamnesis
Pada anamnesis yang perlu ditanyakan antara lain :
1. Jumlah pemakian pembalut dalam 1 hari. Normalnya 2-5 pembalut dalam 1 hari.
2. Jadwal siklus menstruasi.
3. Kehamilan

25

4. Riwayat haid, perlu diketahui riwayat menarche, siklus haid teratur atau tidak,
banyaknya darah yang keluar, lamanya haid, disertai rasa nyeri atau tidak, dan menopause.
Perlu ditanyakan haid terakhir yang masih normal.
5. Keluhan utama, keluhan yang dialami pasien sekarang.
Pemeriksaan fisik
1. Pemeriksaan abdomen, terdiri dari :
a. Inspeksi - yaitu memperhatikan bentuk, pembesaran (mengarah pada kehamilan, tumor,
maupun asites), pergerakan pernapasan, kondisi kulit (tebal, mengkilat, keriput, striae,
pigmentasi)
b. Palpasi - sebelum pemeriksaan kandung kemih dan rectum sebaiknya dalam keadaan
kosong. Untuk mengetahui besaar tumor, tinggi fundus uteri, permukaan tumor, adanya
gerakan janin, tanda cairan bebas, apakah ada perabaan terasa sakit.
c. Perkusi - untuk mendengar gas dalam usus, menentukan pembesaran tumor, terdapat
cairan bebas dalam kavum abdomen dan perasaan sakit saat diketok
d. Auskultasi pemeriksaan bising usus, gerakan janin maupun denyut jantung janin.
2. Payudara, mempunyai arti penting sehubungan dengan diagnostic kelainan endokrin,
kehamilan, dan karsinoma mammae. Hal yang diperiksa: ukuran, simetris, apakah ada
pembengkakan, masa retraksi, jaringan parut/bekas luka, kondisi putting susu.
Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Panggul (Pelvix Internal)
Pemeriksaan daerah panggul memungkinkan dokter
atau dokter kandungan untuk mengetahui apakah ada
pelebaran pada rahim. Dokter dapat memeriksa leher
rahim Anda dengan memasukkan plastik atau logam yang
disebut spekulum alat ke dalam vagina dan Pap (Pap
Smear) dapat diambil pada waktu yang bersamaan. Swab
dapat diambil dari leher rahim atau vagina untuk menguji
ada tidaknya infeksi. Seorang perawat atau pendamping
perempuan harus hadir saat Anda sedang diperiksa oleh
dokter laki-laki.
2. Tes Darah
TSH (Thyroid Stimulating Hormone)
TSH bertugas mengatur sintesis hormon tiroid. Pemeriksaan TSH berfungsi untuk
mengetahui fungsi kelenjar tiroid. Hipotiroid yang biasa ditandai dengan meningkatnya
TSH, menyebabkan haid tidak teratur termasuk amenorrhea. Gangguan fungsi tiroid ini
dapat menyebabkan peningkatan produksi prolaktin.
Prolaktin
Produksi prolaktin yang berlebihan atau disebut hiperprolaktinemia pada wanita dapat
menyebabkan gangguan siklus haid.
Luteinizing Hormone (LH) dan Folicle Stimulating Hormone (FSH)
Pemeriksaan LH dan FSH berguna untuk mengetahui keadaan hipergonadotropik
hipogonadisme dan hipogonadotropik hipogonadisme. Hipergonadotropik hipogonadisme
dapat menyebabkan gagal ovarium yang mengakibatkan menopause dini, sedangkan
hipogonadotropik hipogonadisme dapat mengakibatkan amenorrhea hipotalamus yang
disebabkan oleh gangguan poros hipotalamus-pituitari-ovarium.
Progesteron
26

Pemeriksaan progesteron dapat mengetahui terjadinya defisiensi estrogen, lesi pada struktur
endometrium dan sumbatan pada uterus yang menyebabkan amenorrhea. Amenorrhea dapat
menyebabkan ketidaknyamanan, namun dengan pemeriksaan laboratorium dan konsultasi
dokter dapat diketahui penyebabnya sehingga dapat dilakukan tindakan yang tepat untuk
menormalkan kembali siklus haid.
3. USG
Pemindaian USG adalah prosedur tes yang sederhana yang dapat dilakukan dengan cara
memindahkan alat scan ke perut bagian bawah (scan abdomen) atau dengan menempatkannya
di vagina bagian atas (transvaginal scan). Wanita lebih sering memilih metode transvaginal
karena, selama pemeriksaan scan abdomen wanita harus menjaga kandung kemihnya agar tetap
penuh.
Pilihan metode scanning akan sangat bervariasi sesuai dengan tujuan masing-masing. Jika
dicurigai adanya fibroid atau kista ovarium, scan abdomen dapat memberikan informasi lebih
lanjut, untuk menyelidiki kelainan menstruasi, transvaginal scan memberikan gambaran yang
lebih jelas pada lapisan rahim (endometrium). Kadang-kadang kedua metode ini digunakan
bersama-sama tetapi Anda akan diberikan kesempatan untuk mengosongkan kandung kemih
Anda setelah scan abdomen dilakukan.
Di beberapa rumah sakit ada pemeriksaan khusus dari scanning transvaginal yaitu dengan
menginjeksi sedikit cairan (saline) atau garam fisiologis ke dalam rahim melalui leher rahim
untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya fibroid atau polip di dalam rahim. Pemeriksaan
vagina ini memerlukan penyisipan sebuah spekulum sebelum scan, tapi tidak terlalu
mengganggu.
4. Biopsi Eendometrium
Digunakan untuk screening keganasan, perdarahan yang tidak teratur, gangguan fertilitas,
infeksi dan memonitor pengobatan. Biopsi endometrium melibatkan pengambilan sampel dari
lapisan rahim Anda dengan terlebih dahulu memasukkan spekulum vagina dan kemudian
melewati sebuah tabung halus melalui leher rahim Anda. Sampel tersebut kemudian dikirim ke
laboratorium untuk pemeriksaan dibawah mikroskop. Hal ini mungkin diperlukan jika Anda
mengalami perdarahan yang tidak teratur atau perdarahan tambahan di antara periode
menstruasi. Biopsi dapat diambil di klinik atau rumah sakit dan hanya membutuhkan beberapa
menit, selama waktu pengambilan Anda akan merasa sedikit tidak nyaman.
5. Hysteroscopy
Histeroskopi adalah pemeriksaan dalam (rongga) rahim Anda dengan instrumen
(hysteroscope) yang dilengkapi dengan sumber cahaya dan kamera sehingga pandangan dari
rongga rahim dapat dilihat pada layar. Hysteroscope akan melewati leher rahim melalui vagina,
dan gas atau cairan digunakan untuk memperluas rongga rahim anda. Setelah rongga telah
diperiksa secara detail, biopsi endometrium biasanya diambil. Teknik ini dapat mendeteksi
keberadaan polip dan fibroid dan jika fibroid atau polip berukuran kecil kadang-kadang dapat
langsung dihilangkan pada waktu yang bersamaan. Histeroskopi biasanya dilakukan di klinik
rawat jalan, tetapi dapat dilakukan sebagai prosedur untuk anestesi umum.
6. Dilatasi dan Kuretase
Dilatasi dan kuretase (D & C) merupakan metode tradisional yang digunakan untuk
menyelidiki masalah perdarahan, tetapi sekarang jarang digunakan karena harus dilakukan
anestesi lokal. Ini melibatkan peregangan pertama membuka leher rahim (dilatasi) dan
kemudian mengorek keluar dinding rahim (kuret). Hal ini masih dilakukan, dalam

27

hubungannya dengan histeroskopi pada beberapa wanita untuk menyelidiki pendarahan setelah
menopause.
7. Laparoscopy
Laparoskopi mungkin disarankan jika masalah utama anda adalah nyeri pada bagian
abdomen yang dikarenakan menstruasi.Pemeriksaan permukaan eksternal dari rahim serta tuba
falopii, ovarium dan struktur sekitarnya diperiksa melalui laparoskopi, dihubungkan oleh
sebuah sumber cahaya serat optik dan kamera ke layar TV.
Laparoskopi melibatkan anestesi lokal, satu atau dua sayatan perut kecil dan perawatan
singkat (satu hari) di rumah sakit biasanya dibagian bedah. Ini adalah cara yang paling dapat
diandalkan untuk mendiagnosa endometriosis. Operasi laparoskopi dapat digunakan untuk
mengobati kista ovarium kecil dan di daerah endometriosis
Langkah-langkah diagnosa bila ditemukan amenorrhea
Yang harus dilakukan adalah lakukan pemeriksaan TSH karena pada keadaan hipotroid
terjadi penurunan dopamin sehingga merangsang pelepasan TRH. TRH merangsang hipofise
anterior untuk menghasilkan prolaktin dimana prolaktin akan menghambat pelepasan GnRH.
Namun pada satu waktu, saat hipofise anterior terangsang secara kronik, hipofise anterior dapat
membesar sehingga meningkatkan sekresi GnRH dan menyebabkan terjadinya pematangan
folikel yang terburu-buru sehingga terjadi kegagalan ovarium prematur. Sehingga harus
diwaspadai bila terjadi suatu tanda-tanda hipotiroid, amenorrhea dan galaktorrhea.
Keadaan amenorrhea yang disertai keadaan galaktorrhea dapat juga terjadi pada sindrom
chiari-Frommel yang terjadi setelah kehamilan dan merupakan amenorrhea laktasi yang
berkepanjangan. Diduga keadaan ini disebabkan oleh inhibisi dari faktor imhibisi prolaktin dari
hipofise. Pada sindrom Forbes-Albright terdapat adenoma chromopob dimana banyak
dihasilkan prolaktin. Pada sindrom Ahoemada del-Costello tidak terdapat hubungan antara
kehamilan dengan tumor hipofise. Sindrom ini diduga akibat obat-obatan seperti kontrasepsi
dan fenotiazin. Pasien juga seharusnya dilakukan progesteron challenge. Bila dengan
pemberian progesteron lalu dilakukan withdrawl terjadi haid, maka dipastikan amenorrhea
disebabkan anovulasi. Terapi yang diberikan pada pasien ini adalah pemberian progesterone.
Perlu juga diberikan preparat estrogen bila dengan pemberian progesteron tidak menghasilkan
haid untuk mencari apakah penyebab terjadinya amenorrhea akibat kurangnya estrogen. Bila
dengan langkah-langkah di atas tidak didapatkan hasil yang memuaskan, lakukan pemeriksaan
FSH dan LH untuk mencari apakah penyebab amenorrhea ada pada kompartemen III
Amenorrhea pada atlet dengan latihan berlebih. Saat dilakukan latihan berlebih, dibutuhkan
kalori yang banyak sehingga cadangan kolesterol tubuh habis dan bahan untuk pembentukan
hormon steroid seksual (estrogen & progesteron) tidak tercukupi. Pada keadaan tersebut juga
terjadi pemecahan estrogen berlebih untuk mencukupi kebutuhan bahan bakar dan terjadilah
defisiensi estrogen dan progeteron yang memicu terjadinya amenorrhea. Pada keadaan latihan
berlebih banyak dihasilkan endorpin yang merupakan derifat morfin. Endorpin menyebabkan
penurunan GnRH sehingga estrogen dan progesteron menurun. Pada keadaan stress berlebih,
corticotropin releasing hormon dilepaskan, pada peningkatan CRH, terjadi peningkatan opoid
yang dapat menekan pemebentukan GnRH.
LO 3.7. Tatalaksana Kelainan Menstruasi

Polimenorea
Keadaan ini dapat diperbaiki dengan menggunakan terapi hormonal.Stadium proliferasi
dapat diperpanjang dengan estrogen dan stadium sekresi dapat diperpanjang dengan kombinasi
estrogen-progesteron.
28

Oligominorea
Pengobatan oligomenorrhea tergantung dengan penyebab.Pada oligomenorrhea dengan
anovulatoir serta pada remaja dan wanita yang mendekati menopouse tidak memerlukan
terapi.Perbaikan status gizi pada penderita dengan gangguan nutrisi dapat memperbaiki
keadaan oligomenorrhea.Oligomenorrhea sering diobati dengan pil KB untuk memperbaiki
ketidakseimbangan hormonal.Pasien dengan sindrom ovarium polikistik juga sering diterapi
dengan hormonal.Bila gejala terjadi akibat adanya tumor, operasi mungkin
diperlukan.Pengobatan alternatif lainnya dapat menggunakan akupuntur atau ramuan herbal.

Amenorea
Pengobatan untuk kasus amenore tergantung kepada penyebabnya. Jika penyebanya adalah
penurunan berat badan yang drastis atau obesitas, penderita dianjurkan untuk menjalani diet
yang tepat. Jika penyebabnya adalah olah raga yang berlebihan, penderita dianjurkan untuk
menguranginya.
Jika seorang anak perempuan yang belum pernah mengalami menstruasi ( amenore primer )
dan selama hasil pemeriksaan normal, maka dilakukan pemeriksaan setiap 3 6 bulan untuk
memantau perkembangan pubertasnya.

Hipermenore (Monorrhagea)
Terapi menorrhagia sangat tergantung usia pasien, keinginan untuk memiliki anak, ukuran
uterus keseluruhan, dan ada tidaknya fibroid atau polip. Spektrum pengobatannya sangat luas
mulai dari pengawasan sederhana, terapi hormon, operasi invasif minimal seperti
pengangkatan dinding endometrium (endomiometrial resection atau EMR), polip
(polipektomi), atau fibroid (miomektomi) dan histerektomi (pada kasus yang refrakter).
Dapat juga digunakan herbal yarrow, nettles purse, agrimony, ramuan cina, ladies mantle,
vervain dan raspbery merah yang diperkirakan dapat memperkuat uterus. Vitex juga dianjurkan
untuk mengobati menorrhea dan sindrom pre-mentrual. Dianjurkan juga pemberian suplemen
besi untuk mengganti besi yang hilang melalui perdarahan. Vitamin yang diberikan adalah
vitamin A karena wanita dengan lehilangan darah hebat biasanya mengalami penurunan kadar
vitamin A dan K yang dibutuhkan untuk pembekuan darah. Vitamin C, zinc dan bioflavinoids
dibutuhkan untuk memperkuat vena dan kapiler.

Hipomenore
1. Suplemen zat besi (jika kondisi menorrhagia disertai anemia, kelainan darah yang
disebabkan oleh defisiensi sel darah merah atu hemoglobin).
2. Prostaglandin inhibitor seperti medications (NSAID), seperti aspirin atau ibuprofen.
3. Kontrasepsi oral (ovulation inhibitor)
4. Progesteron (terapi hormon)
5. Hysteroctomy (operasi untuk menghilangkan uterus)

Dismenore
- obat analgetik, NSAID, diuretic (untuk relaksasi uterus)
- Aspirin hambat sintesis prostaglandin di hipotalamus (mengangani rasa sakit dari ringan
sampai sedang), efek samping terhadap saluran pencernaan.
- Asetaminofen hambat sintesis prostaglandin di SSP. mengangani rasa sakit dari ringan
sampai sedang. Dapat mengganti aspirin pada penderita dengan keluhan saluran cerna. Efek
samping adalah alergi(dosis normal). Nekrosis hati, nekrosis tubuli renalis serta koma
hipoglikemik. (Dosis besar).
- Asam mefenamat ES terhadap saluran cerna seperti dyspepsia, diare, dan iritasi lambung.
29

- Ibuprofen sifat analgesic dengan daya anti inflamasi yang tidak terlalu kuat, ES sama
seperti aspirin.
- Pemberian kompres panas : menurunkan kontraksi dan meningkatkan sirkulasi.
- latihan fisik meningkatkan sekresi hormone dan pemanfatannya khususnya estrogen.
- diet mengurangi garam dan meningkatkan penggunaan diuretic alami, sehingga
mengurangi edema dan rasa tidak nyaman tubuh. , tidur cukup.
- Pembedahan upaya terakhir.
LO 3.8. Komplikasi Kelainan Menstruasi

Oligominorea Komplikasi yang paling menakutkan adalah terganggunya fertilitas dan


stress emosional pada penderita sehingga dapat meperburuk terjadinya kelainan haid lebih
lanjut. Prognosa akan buruk bila oligomenorrhea mengarah pada infertilitas atau tanda dari
keganasan.

Amenorea Komplikasi yang paling ditakutkan dari amenorrhea adalah infertilitas.


Komplikasi lainnya adalah tidak percaya dirinya penderita sehingga dapat menggangu
kompartemen IV dan terjadilah lingkaran setan terjadinya amenorrhea. Komplikasi lainnya
munculnya gejala-gejala lain akibat insufisiensi hormon seperti osteoporosis.

LO 3.9. Pencegahan Kelainan Menstruasi


o
o
o
o

Berolahraga secara rutin


Mengelola stres anda dengan baik
Menjaga berat badan yang sehat
Menjaga diet yang seimbang
LO 3.10. Prognosis Kelainan Menstruasi
Prognosis pada semua ketidakteraturan adalah baik bila diterapi dari awal.

LI 4. Memahami dan Menjelaskan Darah Istihadhah Menurut Pandangan Islam


LO.4.1. Perbedaan Haid adan Istihadhah
Haid
Haidh atau haid (dalam ejaan bahasa Indonesia) adalah darah yang keluar dari rahim
seorang wanita pada waktu-waktu tertentu yang bukan karena disebabkan oleh suatu penyakit
atau karena adanya proses persalinan, dimana keluarnya darah itu merupakan sunnatullah yang
telah ditetapkan oleh Allah kepada seorang wanita. Sifat darah ini berwarna merah kehitaman
yang kental, keluar dalam jangka waktu tertentu, bersifat panas, dan memiliki bau yang khas
atau tidak sedap.
Wanita yang haid tidak dibolehkan untuk shalat, puasa, thawaf, menyentuh mushaf, dan
berhubungan intim dengan suami pada kemaluannya. Namun ia diperbolehkan membaca AlQuran dengan tanpa menyentuh mushaf langsung (boleh dengan pembatas atau dengan
menggunakan media elektronik seperti komputer, ponsel, ipad, dll), berdzikir, dan boleh
melayani atau bermesraan dengan suaminya kecuali pada kemaluannya.
Allah Taala berfirman:
Mereka bertanya kepadamu tentang (darah) haid. Katakanlah, Dia itu adalah suatu
kotoran (najis). Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita di tempat
30

haidnya (kemaluan). Dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci (dari
haid). Apabila mereka telah bersuci (mandi bersih), maka campurilah mereka itu di tempat
yang diperintahkan Allah kepada kalian. (QS. Al-Baqarah: 222)
Batasan Haid :
Menurut Ulama Syafiiyyah batas minimal masa haid adalah sehari semalam, dan batas
maksimalnya adalah 15 hari. Jika lebih dari 15 hari maka darah itu darah Istihadhah dan
wajib bagi wanita tersebut untuk mandi dan shalat.
Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu Fatawa mengatakan bahwa tidak ada
batasan yang pasti mengenai minimal dan maksimal masa haid itu. Dan pendapat inilah
yang paling kuat dan paling masuk akal, dan disepakati oleh sebagian besar ulama,
termasuk juga Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah juga mengambil pendapat ini. Dalil tidak
adanya batasan minimal dan maksimal masa haid :
Istihdhah
Istihadhah adalah darah yang keluar di luar kebiasaan, yaitu tidak pada masa haid dan bukan
pula karena melahirkan, dan umumnya darah ini keluar ketika sakit, sehingga sering disebut
sebagai darah penyakit. Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarah Muslim mengatakan
bahwa istihadhah adalah darah yang mengalir dari kemaluan wanita yang bukan pada
waktunya dan keluarnya dari urat.
Sifat darah istihadhah ini umumnya berwarna merah segar seperti darah pada umumnya,
encer, dan tidak berbau. Darah ini tidak diketahui batasannya, dan ia hanya akan berhenti
setelah keadaan normal atau darahnya mengering.
Wanita yang mengalami istihadhah ini dihukumi sama seperti wanita suci, sehingga ia tetap
harus shalat, puasa, dan boleh berhubungan intim dengan suami.
Imam Bukhari dan Imam Muslim telah meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha :

Fatimah binti Abi Hubaisy telah datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam lalu
berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya aku adalah seorang wania yang mengalami
istihadhah, sehingga aku tidak bisa suci. Haruskah aku meninggalkan shalat? Maka jawab
Rasulullah SAW: Tidak, sesungguhnya itu (berasal dari) sebuah otot, dan bukan haid. Jadi,
apabila haid itu datang, maka tinggalkanlah shalat. Lalu apabila ukuran waktunya telah
habis, maka cucilah darah dari tubuhmu lalu shalatlah.
LO.4.2. Ibadah yang Boleh Dilakukan dalam Keadaan Suci dan Tidak Suci
Dari penjelasan diatas, dapat kita mengerti kapan darah itu sebagai darah haid dan kapan
sebagai darah istihadhah. Jika yang terjadi adalah darah haid maka berlaku baginya hukumhukum haid, sedangkan jika yang terjadi darah istihadhah maka yang berlaku pun hukumhukum istihadhah.
Hukum-hukum haid yang penting telah dijelaskan di muka. Adapun hukum-hukum
istihadhah seperti halnya hukum-hukum keadaan suci. Tidak ada perbedaan antara wanita
mustahdhah dan wanita suci, kecuali dalam hal-hal berikut:
1. Wanita mustahdhah wajib berwudhu setiap kali hendak shalat. Berdasarkan sabda Nabi saw
kepada Fatimah binti Abu Hubaisy.

31

Kemudian berwudhulah kamu setiap kali hendak shalat. (Hr. Al-Bukhari)


Hal itu memberikan pemahaman bahwa wanita mustahadhah tidak berwudhu untuk shalat yang
telah tertentu waktunya kecuali jika telah masuk waktunya. Sedangkan shalat yang tidak
tertentu waktunya, maka ia berwudhu pada saat hendak melakukannya.
2. Ketika hendak berwudhu, membersihkan sisa-sisa darah dan melekatkan kain dengan kapas
(atau pembalut) pada farjinya untuk mencegah keluarnya darah.
Berdasarkan sabda Nabi saw kepada Hamnah.
Aku beritahukan kepadamu (untuk menggunakan) kapas, karena hal itu dapat menyerap
darah. Hamnah berkata, Darahnya lebih banyak dari itu. Nabi bersabda, Gunakan kain.
Kata Hamnah, Darahnya masih banyak pula. Nabi pun bersabda, Maka pakailah penahan.
Kalaupun masih ada darah yang keluar setelah tindakan tersebut, maka tidak apa-apa
hukumnya. Karena sabda Nabi saw kepada Fatimah binti Abu Hubaisy:

Tinggalkan shalat selama hari-hari haidmu, kemudian mandilah dan berwudhulah untuk setiap
kali shalat, lalu shalatlah meskipun darah menetes di atas alas. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
3. Jima (senggama).
Para ulama berbeda pendapat tentang kebolehannya pada kondisi bila ditinggalkan tidak
dikhawatirkan menyebabkan zina. Yang benar adalah boleh secara mutlak. Karena ada banyak
wanita, mencapai sepuluh atau lebih, mengalami istihadhah pada zaman nabi, sementara Allah
dan rasulNya tidak melarang jima dengan mereka. FirmanNya,
Hendaknya kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid (Al-Baqarah: 222).
Ayat ini menunjukkan bahwa di luar keadaan haid, suami tidak wajib menjauhkan diri dari
sitri. Kalaupun shalat saja boleh dilakukan wanita mustahadhah maka jima pun tentu lebih
boleh. Dan tidak benar jima wanita mustahadhah dikiaskan dengan jima wanita haid, karena
keduanya tidak sama, bahkan menurut pendapat para ulama yang menyatakan haram. Sebab,
mengkiaskan sesuatu dengan hal yang berbeda adalah tidak sah.
IBADAH YANG BOLEH DILAKUKAN SAAT HAID
1. Berdzikir
Berdzikir boleh dilakukan wanita haid. Hal ini lebih baik daripada sekadar membiarkan
lisan dan hati kita lalai dari mengingat Allah. Atau membiarkan lisan dan hati kita untuk halhal maksiat seperti bergunjing dan membicarakan serta memikirkan hal yang sia-sia. Dzikir
selain bisa mengingatkan kita pada Allah, menenteramkan hati juga mendatangkan pahala.
2. Ihram
Menjadi kewajiban bagi manusia terhadap Allah, mengerjakan haji di Baitullah, yakni bagi
orang-orang yang mampu mengunjunginya. (Ali Imran: 97)
Namun terkadang wanita terhalang haid, sehingga ada beberapa hal yang tak boleh dikerjakan
seperti melakukan thawaf dan dua rakaat shalat thawaf. Selain itu semua manasik haji boleh
dikerjakan oleh wanita haid dan nifas. Jadi wanita yang dalam keadaan haid dan nifas boleh
melakukan ihram. Seperti disebutkan dalam sebuah hadits Aisyah x yang meriwayatkan kasus
Asma binti Umais. Asma melahirkan di Syajarah. Lalu Rasulullah n menyuruhnya mandi dan
sesudah itu langsung ihram.
32

3. Melayani suami
Selama menjalani fitrahnya mengalami haid, bukan berarti wanita absen dari
membahagiakan suami. Seorang istri tetap harus siap melayani suaminya, khususnya
kebutuhan biologisnya. Meski diharamkan melakukan persetubuhan (senggama), suami
dibolehkan bersenang-senang dengan istri pada bagian pusar ke atas atau selain kemaluan.
Haram menolak ajakan suami, kecuali ada hal-hal yang mengakibatkan risiko jika
berhubungan badan. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,
Jika suami mengajak istrinya ke ranjangnya (untuk berjima) kalau istri tidak mau
melayaninya sehingga ia marah kepadanya, maka malaikat melaknatnya hingga subuh.
(Riwayat Bukhari Muslim)
Bukankah taat pada suami selama tidak bermaksiat pada Allah serta mengakui hak suami
atasnya memiliki pahala yang besar laksana pahala jihad? Tak hanya itu, wanita shalihah selalu
menyenangkan bagi suaminya. Seperti sabda Nabi n,
Tidakkah mau aku khabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang paling baik dijadikan bekal
seseorang? Wanita yang baik (shalihah), jika dilihat suami ia menyenangkan, jika diperintah
suami ia mentaatinya, dan jika (suami) meninggalkannya ia menjaga dirinya dan harta
suaminya. (Riwayat Abu Dawud dan An-Nasai)
4. Menghadiri majelis ilmu
Selain hal-hal yang disebutkan di atas, kegiatan lain yang bisa dilakukan adalah menghadiri
majelis ilmu/talim selama majelis tersebut tidak berlangsung di masjid. Hal ini disebabkan
larangan bagi wanita haid untuk masuk ke masjid.
Selama majelis tersebut bebas dari tabarruj dan ikhtilat serta bermanfaat, alangkah baiknya
mengisi waktu dengan hal-hal bermanfaat. Kegiatan ini juga menghindarkan kita dari anganangan kosong atau sekadar melamun tanpa guna atau membiarkan waktu terlewat tanpa guna.
Berkumpul bersama orang-orang shalih, membaca buku-buku yang bermanfaat, mendengarkan
murajaah bacaan al-Quran juga mengandung nilai-nilai ibadah. Tak hanya itu, melakukan tugas
harian sebagai istri dan ibu yang baik selama dilakukan dengan tulus juga bermakna ibadah.
Insyaallah bisa menjadi pengisi pundi-pundi amal kita, meski kita tengah terhalang fitrah haid.

33

DAFTAR PUSTAKA
Cormack D.H. Introduction to Histology. Philadelphia, J.B. Lippincott Company, 1984:299-303

Ganong W.F. 2008. Buku Ajar FIsiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Gunawan ,SG.(2007).Farmakologi dan Terapi, Edisi 5. Jakarta : Departement Farmakologi dan
Terapeutik FKUI
Guyton, Hall. 2006. Text Book of Medical Physiology 11th edition. Philadelphia: Elsevier Soundres
Harrisons : Principles of Internal medicine, 18th
http://emedicine.medscape.com/article/953945-treatment
th

Junquiera L.C, Carneiro J, Kelley R.O. Basic Histology. 10 edition, Washington, Lange, 2003: 31623
Kumar V, Abbas AK, Fausto N. Robbins and Cotran Pathologic Basis of Disease. Philadelphia:
Elsevier Saunders. 2005
Leeson CR, Leeson TS, Paparo AA. 1996. Buku Ajar Histologi. Ed 5. Jakarta : EGC.
Murray,RK et al (2003). Biokimia Harper edisi 25.Jakarta.EGC
Persatuan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Standar Pelayanan Medik. Jakarta : 2006
Price, Sylvia A. Wilson, Lorraine M. 1995. Patofisiologi : konsep klinis proses-proses penyakit. Ed.
4. Jakarta : EGC.
Sarwono, 1999. Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta.
Scherzer W J, Clamrock H, 1996. Amenorea, Novaks Gynecology, 12 th edition, William & Wilkins,
Baltimore, 809 831
Sherwood Lauralee. Fisiologi Manusia dari sel ke sel. Edisi 2. Jakarta: EGC, 2001
Snell,RS.(2006).Anatomi Klinik untuk Mahasiswa kedokteran edisi 6. Jakarta.EGC

34