Anda di halaman 1dari 27

BAB I

Pendahuluan
1.1.

Latar Belakang

Peranan pers dalam masyarakat demokrasi, Pers adalah salah satu sarana bagi
warga negara untuk mengeluarkan pikiran dan pendapat serta memiliki peranan penting
dalam negara demokrasi. Pers yang bebas dan bertanggung jawab memegang peranan
penting dalam masyarakat demokratis dan merupakan salah satu unsur bagi negara dan
pemerintahan yang demokratis. Menurut Miriam Budiardjo, bahwa salah satu ciri negara
demokrasi adalah memiliki pers yang bebas dan bertanggung jawab.
Sedangkan, Inti dari demokrasi adalah adanya kesempatan bagi aspirasi dan suara rakyat
(individu) dalam mempengaruhi sebuah keputusan.Dalam Demokrasi juga diperlukan
partisipasi rakyat, yang muncul dari kesadaran politik untuk ikut terlibat dan andil dalam
sistem pemerintahan.Pada berbagai aspek kehidupan di negara ini, sejatinya masyarakat
memiliki hak untuk ikut serta dalam menentukan langkah kebijakan suatu Negara. pers
merupakan pilar demokrasi keempat setelah eksekutif, legislatif dan yudikatif. pers sebagai.
kontrol atas ketiga pilar itu dan melandasi kinerjanya dengan check and balance. untuk
dapat melakukan peranannya perlu dijunjung kebebasan pers dalam menyampaikan
informasi publik secara jujur dan berimbang. disamping itu pula untuk menegakkan pilar
keempat ini, pers juga harus bebas dari kapitalisme dan politik. pers yang tidak sekedar
mendukung kepentingan pemilik modal dan melanggengkan kekuasaan politik tanpa
mempertimbangkan kepentingan masyarakat yang lebih besar. kemungkinan kebebasan
lembaga pers yang terkapitasi oleh kepentingan kapitalisme dan politik tersebut,
mendorong semangat lahirnya citizen journalism. istilah citizen journalism untuk
menjelaskan kegiatan pemrosesan dan penyajian berita oleh warga masyarakat bukan
jurnalis profesional. aktivitas jurnalisme yang dilakukan oleh warga sebagai wujud aspirasi
dan penyampaian pendapat rakyat inilah yang menjadi latar belakang bahwa citizen
journalism sebagai bagian dari pers merupakan sarana untuk mencapai suatu demokrasi.
Wajah demokrasi sendiri terlihat pada dua sisi. Pertama, demokrasi sebagai realitas
kehidupan sehari-hari, kedua, demokrasi sebagaimana ia dicitrakan oleh media informasi. Di
satu sisi ada citra, di sisi lain ada realitas. Antara keduanya sangat mungkin terjadi
pembauran, atau malah keterputusan hubungan. Ironisnya yang terjadi sekarang justru
terputusnya hubungan antara citra dan realitas demokrasi itu sendiri. Istilah yang tepat
digunakan adalah simulakrum demokrasi, yaitu kondisi yang seolah-olah demokrasi padahal
sebagai citra ia telah mengalami deviasi, distorsi, dan bahkan terputus dari realitas yang
sesungguhnya. Distorsi ini biasanya terjadi melalui citraan-citraan sistematis oleh
1

media massa. Demokrasi bukan lagi realitas yang sebenarnya, ia adalah kuasa dari pemilik
informasi dan penguasa opini publik.
Proses demokratisasi disebuah negara tidak hanya mengandalkan parlemen, tapi
juga ada media massa, yang mana merupakan sarana komunikasi baik pemerintah dengan
rakyat, maupun rakyat dengan rakyat. Keberadaan media massa ini, baik dalam kategori
cetak maupun elektronik memiliki cakupan yang bermacam-macam, baik dalam hal isu
maupun daya jangkau sirkulasi ataupun siaran.
Akses informasi melalui media massa ini sejalan dengan asas demokrasi, dimana adanya
tranformasi secara menyeluruh dan terbuka yang mutlak bagi negara yang menganut
paham demokrasi, sehingga ada persebaran informasi yang merata. Namun, pada
pelaksanaannya, banyak faktor yang menghambat proses komunikasi ini, terutama
disebabkan oleh keterbatasan media massa dalam menjangkau lokasi-lokasi pedalaman.
Keberadaan radio komunitas adalah salah satu jawaban dari pencarian solusi akan
permasalahan penyebaran akses dan sarana komunikasi yang menjadi perkerjaan media
massa umum. Pada perkembangannya radio komunitas telah banyak membuktikan peran
pentingnya di tengah persoalan pelik akan akses informasi dan komunikasi juga dalam peran
sebagai kontrol sosial dan menjalankan empat fungsi pers lainnya.

1.2.

Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.

1.3.

Bagaimana pers dalam masyarakat demokratis.


Bagaimana kode etik jurnalistik dan pers yang bebas dan bertanggung jawab.
Apa dampak penyalahgunaan kebebasan pers dalam masyarakat demokratis.
Apa manfaat media massa dalam kehidupan sehari-hari.
Apa saja upaya pemerintah dalam mengendalikan kebebasan pers.

Tujuan
1. Untuk mengetahui dalam masyarakat demokratis.
2. Untuk mengetahui kode etik jurnalistik dan pers yang bebas dan bertanggung
jawab.
3. Untuk mengetahui dampak penyalahgunaan kebebasan pers dalam masyarakat
demokratis.
4. Untuk mengetahui manfaat media massa dalam kehidupan sehari-hari.
5. Untuk mengetahui apa saja upaya pemerintah dalam mengendalikan kebebasan
pers.

BAB II
Pembahasan
2.1.

Pers Indonesia dalam Masyarakat Demokratis

a. Pengertian Pers
Pers adalah badan yang membuat penerbitan media massa secara berkala. Secara
etimologis, kata Pers (Belanda), atau Press (inggris), atau presse (prancis), berasal dari
bahasa latin, perssare dari kata premere, yang berarti Tekan atau Cetak, definisi
terminologisnya adalah media massa cetak atau media cetak. Media massa,
menurut Gamle & Gamle adalah bagian komunikasi antara manusia (human
communication), dalam arti, media merupakan saluran atau sarana untuk memperluas dan
memperjauh jangkauan proses penyampaian pesan antar manusia.
Dalam UU pers no 40 tahun 1999, Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi
massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki,
menyimpan, mengolah, dan meyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara,
gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan
menggunakan media cetak, media elektronik dan segala jenis saluran yang tersedia.
Pengertian menurut para ahli
1) Menurut L. Taufik, seorang ahli jurnalistik, pers adalah usaha-usaha dari alat
komunikasi massa untuk memenuhi kebutuhan anggota-anggota masyarakat
terhadap penerangan, hiburen, keinginan mengetahui peristiwa-peristiwa, atau
berita-berita yang telah atau akan terjadi di sekitar mereka khususnya dan di dunia
umumnya.
2) Menurut Weiner, seorang ahli jurnalistik, pers memiliki tiga arti. Pertama,
wartawan media cetak. Kedua, publisitas atau peliputan. Ketiga, mesin cetak-naik
cetak.
3) Menurut Oemar Seno Adji, seorang pakar komunikasi, pengertian pers dibagi dalam
arti sempit dan luas. Dalam arti sempit, pers mengandung penyiaran-penyiaran
pikiran, gagasan, atau berita-berita dengar jalan kata tertulis. Dalam arti luas, pers
adalah semua media komunikasi massa yang memancarkan pikiran dan perasaan
seseorang, balk dengan kata-kata tertulis maupun kata lisan.
4) Menurut J.C.T. Simorangkir, seorang tokoh hukum, pers dibedakan menjadi dua
pengertian sebagai berikut.
a. Pers dalam arti sempit, artinya hanya terbatas pada pers cetak, yaitu surat
kabar, majalah, dan tabloid.
3

b. Pers dalam arti luas, yaitu meliputi segala penerbitan, bahkan termasuk
perselektronik, siaran radio, dan siaran televisi.
5) Menurut Mc. Luhan, dalam bukunyaUnderstanding Media mengemukakan pers
sebagai the extended of man, yaitu yang menghubungkan satu tempat dengan
tempat lain dan peristiwa satu dengan peristiwa lain pada momen yang bersamaan.
b. Fungsi dan Peranan Pers
Fungsi pers
1. Pers sebagai Media Informasi
Media informasi merupakan bagian dari fungsi pers dari dimensi idealisme. Informasi
yang disajikan pers merupakan berita-berita yang telah diseleksi dari berbagai berita yang
masuk ke meja redaksi, dari berbagai sumber yang dikumpulkan oleh para reporter di
lapangan. Menurut Pembinaan Idiil Pers, pers mengemban fungsi positif dalam mendukung
mendukung kemajuan masyarakat, mempunyai tanggung jawab menyebarluaskan informasi
tentang kemajuan dan keberhasilan pembangunan kepada masyarakat pembacanya.
Dengan demikian, diharapkan para pembaca pers akan tergugah dalam kemajuan dan
keberhasilan itu.
2. Pers sebagai Media Pendidikan
Dalam Pembinaan Idiil Pers disebutkan bahwa pers harus dapat membantu pembinaan
swadaya, merangsang prakarsa sehingga pelaksanaan demokrasi Pancasila, peningkatan
kehidupan spiritual dan kehidupan material benar-benar dapat terwujud. Untuk
memberikan informasi yang mendidik itu, pers harus menyeimbangkan arus informasi,
menyampaikan fakta di lapangan secara objektif dan selektif. Objektif artinya fakta
disampaikan apa adanya tanpa dirubah sedikit pun oleh wartawan dan selektif maksudnya
hanya berita yang layak dan pantas saja yang disampaikan. Ada hal-hal yang tidak layak
diekspose ke masyarakat luas.
3. Pers sebagai Media Entertainment
Dalam UU No. 40 Tahun 1999 pasal 3 ayat 1disebutkan bahwa salah satu fungsi pers
adalah sebagai hiburan. Hiburan yang diberikan pers semestinya tidak keluar dari koridorkoridor yang boleh dan tidak boleh dilampaui. Hiburan yang sifatnya mendidik atau netral
jelas diperbolehkan tetapi yang melanggar nilai-nilai agama, moralitas, hak asasi seseorang,
atau peraturan tidak diperbolehkan. Hiburan yang diberikan pers kepada masyarakat yang
dapat mendatangkan dampak negatif, terutama apabila hiburan itu mengandung unsurunsur terlarang seperti pornografi dan sebagainya seharusnya dihindari.

4. Pers sebagai Media Kontrol Sosial


Maksudnya pers sebagai alat kontrol sosial adalah pers memaparkan peristiwa yang
buruk, keadaan yang tidak pada tempatnya dan yang menyalahi aturan, supaya peristiwa itu
tidak terulang lagi dan kesadaran berbuat baik serta mentaati peraturan semakin tinggi.
Makanya, pers sebagai alat kontrol sosial bisa disebut penyampai berita buruk.
5. Pers sebagai Lembaga Ekonomi
Beberapa pendapat mengatakan bahwa sebagian besar surat kabar dan majalah di
Indonesia memperlakukan pembacanya sebagai pangsa pasar dan menjadikan berita
sebagai komoditas untuk menarik pangsa pasar itu. Perlakuan ini menjadikan keuntungan
materi sebagai tujuan akhir pers. Konsekuensinya, pers senantiasa berusaha menyajikan
berita yang disenangi pembaca.
Peranan
Peranan pers secara umum adalah memberi informasi , mendidik masyarakat ,
memberikan kontrol , menghubungkan atau menjebatani antara pemerintah dan
masyarakat , serta memberi hiburan kepada masyarakat pembaca atau pemirsanya.
Pers yang ada di negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila berperan sebagai
penyampai informasi yang efektif dan sarana komunikasi yang bertanggung jawab . Dalam
pers Pancasila , berita yang ideal adalah berita yang bersumber pada fakta yang benar dan
disusun secara wajar dan tidak didramatisasi.
Fungsi Dan Peranan Pers Terhadap Perkembangan Pers Di Indonesia
Pers di Indonesia pada masa perjuangan memiliki usaha yaitu menyebar luaskan
semangat kesadaran bangsa Indonesia demikian pula pada saat Indonesia
memproklamasikan kemeerdekaannya tersebut kesegala penjuru wilayah indonesia dan
dunia.
Pers sangat berperan penting dalam penyiaran dan pemberitaan tentang kemerdekaan
indonesia dan sangat disayangkan apabila pers tidak dihargai dan di lindungi dalam bertugas
karena mereka sangat berjasa. Disaat sekarang telah banyak terjadi kekerasan terhadap
kinerja pers di indonesia, seperti yang baru-baru ini diberitakan seorang juru foto yang
sedang memotret situasi saat pesawat tempur milik TNI jatuh. Dimana pada saat itu datang
seorang prajurit angkatan udara yang marah dan memaksa untuk merebut kamera yang
dipegang oleh wartawan itu sambil ia menjatuhkan ketanah dan terekam memukul wajah
pemuda tersebu, ini merupakan potret dimana pers belum bisa aman dan dihargai.
Anggapan yang selalu ada adalah pers merupakan saran yang sangat berbahaya bagi
sebuat institusi dikala mendapatkan sebuah pemberitaan yang dapat menurunkan
reputasinya dimasyarakat, namun disisi lain pers merupakan kacamata bagi masyrakat,
5

dimana sewaktu-waktu apabila kinerja sebuah institusi kepemerintahan buruk maka berita
itu akan dengan cepat diketahui oleh masyarakat luas.
Berdasarkan ketentuan pasal 33 UU No. 40 tahun 1999 tentang pers, fungsi pers adalah
sebagai media informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial. Sementara itu Pasal 6 UU
Pers nasional melaksanakan peranan sebagai berikut ;

Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui menegakkan nilai nilai dasar demokrasi
dan mendorong terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia. Selain itu pers
juga harus menghormati kebinekaan mengembangkan pendapat umum berdasarkan
informasi yang tepat, akurat dan benr melakukan pengawasan. [1]
Sebagai pelaku Media Informasi.

Pers itu memberi dan menyediakan informasi tentang peristiwa yang terjadi kepada
masyarakat, dan masyarakat membeli surat kabar karena memerlukan informasi.

Fungsi Pendidikan
Pers itu sebagi sarana pendidikan massa (mass Education), pers memuat tulisan-tulisan
yang mengandung pengetahuan sehingga masyarakat bertambah pengetahuan dan
wawasannya.

Fungsi Hiburan
Pers juga memuat hal-hal yang bersifat hiburan untuk mengimbangi berita-berita berat
(hard news) dan artikel-artikel yang berbobot. Berbentuk cerita pendek, cerita
bersambung, cerita bergambar, teka-teki silang, pojok, dan karikatur.

Fungsi Kontrol Sosial


Fungsi ini terkandung makna demokratis yang didalamnya terdapat unsur-unsur sebagai
berikut:
1. Social participation (keikutsertaan rakyat dalam pemerintahan)
2. Social responsibility (pertanggungjawaban pemerintah terhadap rakyat)
3. Social support (dukungan rakyat terhadap pemerintah)
4. Social control (kontrol masyarakat terhadap tindakan-tindakan pemerintah)

Sebagai Lembaga Ekonomi


Pers adalah suatu perusahaan yang bergerak di bidang pers dapat memamfaatkan
keadaan di sekiktarnya sebagai nilai jual sehingga pers sebagai lembaga sosial dapat

memperoleh keuntungan maksimal dari hasil prodduksinya untuk kelangsungan hidup


lembaga pers itu sendiri.

c. Teori-Teori Pers

Teori pers otoritarian.

Menurut pendapat Mc. Quail, dalam teori pers otoritarian disebutkan prinsip-prinsip
dasar pelaksanaan sebagai berikut:
1. Media selamanya (akhirnya) harus tunduk kepada penguasa yang ada.
2. Penyensoran dapat dibenarkan.
3. Kecaman terhadap penguasa atau terhadap penyimpangan dari kebijakan resmi
tidak dapat diterima.
4. Wartawan tidak mempunyai kebebasan di dalam organisasinya.

Teori pers libertarian.

Sesuai dengan ajaran demokrasi, manusia memiliki hak alamiah untuk mengejar
kebenaran yang hakiki dan memiliki kebebasan untuk menyatakan pendapat, secara lisan
dan tulisan (pers) tanpa control dari pemerintah (pihak luar). Maka teori libertarian
berpendapat bahwa pers harus memiliki kebebasan seluas-luasnya untuk membantu
manusia mencari dan menemukan kebenaran hakiki tersebut. Salah satu caranya melaiui
pers. Menurut teori ini, pers merupakan sarana penyalur hati nurani rakyat untuk
mengawasi dan menentukan sikap kebijakan pemerintah karena ia bukanlah alat kekuasan
pemerintah, sehingga harus bebas dari pengaruh dan pengawasan pemerintah. Dengan
demikian teori ini memandang sensor merupakan tindakan yang inkonstitusional terhadap
kemerdekaan pers. Menurut Krisna Harahap pers libertarian mempunyai tugas:
1.
2.
3.
4.
5.

Melayani kebutuhan kehidupan ekonomi (iklan).


Melayani kebutuhan kehidupan politik.
Mencari keuntungan (demi kelansungan hidupnya).
Menjaga hak warga negara.
Memberi biburan.

Selanjutnya Krisna Harahap menyebutkan ciri pers yang merdeka (libertarian) yaitu:
1. Publikasi bebas dari tiap penyensoran pendahuluan.
2. Penerbitan dan pendistribusian terbuka bagi setiap orang tanpa memerlukan izin
atau lisensi.
3. Kecaman terhadap pemerintah, pejabat, atau partai politik tidak dapat dipidana.
4. Tidak ada kewajiban mempublikasikan segala hal.

5. Publikasi kesalahan dilindungi sama halnya dengan publikasi kebenaran dalam


hal-hal yang berkaitan dengan opini dan keyakinan.
6. Tidak ada batasan hukum terhadap upaya pengumpulan informasi untuk
kepentingan publikasi.
7. Wartawan mempunyai otonomi profesional dalam organisasi mereka.

Teori tanggung jawab sosial

Menurut Krisna Harahap prinsip utama teori tanggung jawab sosial yaitu:
1. Media mempunyai kewajiban tertentu kepada masyarakat.
2. Kewajiban tersebut dipenuhi dengan menetapkan standar yang tinggi atau
professional.
3. Dalam menerima dan menerapkan kewajiban, media seyogyanya dapat
mengatur diri sendiri dalam kerangka hukum dan lembaga yang ada.
4. Media seyogyanya menghindari segala sesuatu yang menimbulkan kejahatan,
yang akan mengakibatkan ketidaktertiban atau penghinaan terhadap minoritas
etnik atau agama.
5. Media hendaknya bersifat pluralis dan mencerminkan kebhinekaan.
6. Masyarakat diberi kesempatan sama untuk mengemukakan berbagai sudut
pandang dan hak untuk menjawab.
7. Masyarakat memiliki, mengharapkan standar prestasi yang tinggi, dan intervensi
dapat dibenarkan untuk mengamankan kepentingan umum.
Mengenai kebebasan pers, Komisi Kemerdekaan Pers menyatakan bahwa kemerdekaan
pers harus diberi arti:
1. Bahwa kebebasan tidaklah berarti bebas untuk melanggar kepentingan individu
yang lain.
2. Bahwa kekebasan harus memperhatikan segi-segi keamanan negara.
3. Bahwa pelanggaran terhadap kemerdekaan pers membawa konsekuensi/
tanggung jawab terhadap ukuran yang berlaku.
Menurut teori tanggung jawab sosial, pembatasan terhadap kemerdekaan pers justru
perlu diadakan untuk melindungi kehormatan dan nama baik individu/kelompok melindungi
nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat, dan melindungi ketertiban serta keamanan baik
yang datang dari dalam (subversi) maupun yang datang dari luar (agresi).
Perlunya pembatasan pers dimaksudkan untuk kepentingan keamanan sosial, ketertiban
umum, memelihara persahabatan antarnegara, melindungi agama yang dianut oleh
masyarakat, melindungi ras/golongan suku bangsa, melindungi orang/masyarakat, dan
melindungi hak-hak peradilan terhadap contempt of count atau pengkhianatan/
pendiskreditan pengadilan.

Teori pers komunis

Ciri-ciri teori pers komunis ini yaitu:


1. Media berada di bawah pengendalian kelas pekerja, karenanya ia melayani
kepentingan kelas tersebut.
2. Media tidak dimiliki secara pribadi.
3. Masyarakat berhak melakukan sensor dan tindakan hukunl lainnya untuk mencegah
atau menghukum setelah terjadinya peristiwa publikasi anti masyarakat
d. Perkembangan Pers Di Indonesia
Indonesia ialah Negara penganut system pers demokrasi. Sebelum menganut system
pers ini, Negara kita mengalami beberapa revolusi dalam bidang pers. Tidak bisa dipungkiri
pengaruh pers di Negara kita sangat besar. Perkembangannya pun juga termasuk sangat
kompleks, dalam arti pers Indonesia terbagi menjadi beberapa periode dimana satu periode
mewakili satu era/masa dimulai dari pers di masa kolonial hingga pers di era reformasi.
Berikut ialah perkembangan Pers di Indonesia :
1. Pers di masa kolonial ( tahun 1744 sampai awal abad 19)
Pada masa kolonial pers Indonesia diduduki oleh Pers Belanda. Pers Belanda
menerbitkan surat kabar berbahasa Belanda yang selanjutnya bangsa Indo raya dan Cina
menerbitkan surat kabar sendiri yang berbahasa Belanda, Cina, dan bahasa daerah. Namun,
diketahui tahun 1776 surat kabar pertama Indonesia telah dibredel oleh pemerintah
Belanda. Sampai pada pertengahan abad 19, terdapat 30 surat kabar Belanda, dan 27 surat
kabarbahasa Indonesia dan satu surat kabar berbahasa Jawa.
2. Pers di masa pergerakan (1908 - 1942)
Ketika awal berdirinya Boedi Oetomo, pers Indonesia bisa dibilang sebagai alat
perjuangan bagi rakyat indonesia. Pers di Indonesia berfungsi untuk perjuangan dan alat
penentu nasib (memperbaiki kedudukan dan nasib) anak bangsa. Hingga akhir
masa colonial , terdapat 33 surat kabar berbahasa Indonesia (47.000 eksemplar) dan 27
surat kabar yang dibredel. Beberapa surat kabar yang beredar saat itu ialah :

Harian Sedio Tomo sebagai kelanjutan harian Budi Utomo terbit di Yogyakarta
didirikan bulan Juni 1920.
Harian Darmo Kondo terbit di Solo dipimpin Sudarya Cokrosisworo.
Harian Utusan Hindia terbit di Surabaya dipimpin HOS Cokroaminoto.
Harian Fadjar Asia terbit di Jakarta dipimpin Haji Agus Salim.
Majalah mingguan Pikiran Rakyat terbit di Bandung dipimpin Ir. Soekarno.
Majalah berkala Daulah Rakyat dipimpin Mocb. Hatta dan Sutan Syahrir.

3. Pers di masa Penjajahan Jepang (1942 - 1945)


Pers Indonesia pada pemerintah jepang mengalami perkembangan, dengan belajar
tentang kemampuan media massa dalam mobilisasi massa untuk tujuan tertentu berarti
telah memperluas wawasan rakyat Indonesia. Pada era ini pers Indonesia mengalami
kemajuan dalam hal teknis namun juga mulai diberlakukannya izin penerbitan pers. Dalam
masa ini surat kabar berbahasa Belanda diberangus dan beberapa surat kabar baru
diterbitkan meskipun dikontrol ketat oleh Jepang. Selain itu Jepang juga mendirikan Jawa
Shinbun Kai dan cabang kantor berita Domei dengan menggabungkan dua kantor berita
yang ada di Indonesia yakni Aneta dan Antara. Selama masa ini, terbit beberapa media
(harian), yaitu:

Asia Raya di Jakarta


Sinar Baru di Semarang
Suara Asia di Surabaya
Tjahaya di Bandung

Pers nasional masa pendudukan Jepang mengalami penderitaan dan pengekangan lebih
dari zaman Belanda. Namun begitu, hal ini justru memberikan banyak keuntungan bagi pers
Indonesia, diantaranay adalah Pengalaman karyawan pers Indonesia bertambah. Adanya
pengajaran bagi rakyat agar berpikir kritis terhadap berita yang disajikan oleh sumber resmi
Jepang, serta meluasnya penggunaan bahasa Indonesia.
4. Pers di masa revolusi fisik (1945 - 1949)
Periode ini antara tahun 1945 sampai 1949 saat itu bangsa Indonesia berjuang
mempertahankan kemerdekaan yang baru diraih tanggal 17 Agustus 1945. Belanda ingin
kembali menduduki sehingga terjadi perang mempertahankan kemerdekaan. Saat itu pers
terbagi menjadi dua golongan yaitu:

Pers yang diterbitkan dan diusahakan oleh tentara Sekutu dan Belanda yang
dinamakan Pers Nica (Belanda).
Pers yang terbit dan diusahakan oleh orang Indonesia atau disebut Pers Republik.

5. Era pers partisan


Era ini berlangsung dari 1945-1957. Setelah terkena euphoria kemerdekaan terjadilah
persaingan keras antara kekuatan politik sehingga pers Indonesia mengalami perubahan
sifat dari pers perjuangan menjadi pers partisan. Pers pada era ini sekedar menjadi corong
partai politik.
Ada tiga jenis suratkabar dalam era ini yakni, surat kabar republikein yang mengobarkan
aksi kemerdekaan dan semangat anti Jepang, surat kabar belanda, dan surat kabar Cina.

10

6. Pers dimasa Orde Lama atau Pers Terpimpin (1957 - 1965)


Lebih kurang 10 hari setelah Dekrit Presiden RI menyatakan kembali ke UUD 1945,
tindakan tekanan pers terus berlangsung, yaitu pembredelan terhadap kantor berita PIA dan
surat kabar Republik, Pedoman, Berita Indonesia, dan Sin Po dilakukan oleh penguasa
perang Jakarta. Hal ini tercermin dari pidato Menteri Muda Penerangan Maladi dalam
menyambut HUT Proklamasi Kemerdckaan RI ke-14, antara lain: Hak kebebasan individu
disesuaikan dengan hak kolektif seluruh bangsa dalam melaksanakan kedaulatan rakyat.
Hak berpikir, menyatakan pendapat, dan memperoleh penghasilan sebagaimana dijamin
UUD 1945 harus ada batasnya: keamanan negara, kepentingan bangsa, moral dan
kepribadian Indonesia, serta tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Awal tahun 1960 penekanan kebebasan pers diawali dengan peringatan Menteri Muda
Maladi bahwa langkah-langkah tegas akan dilakukan terhadap surat kabar, majalahmajalah, dan kantor-kantor berita yang tidak menaati peraturan yang diperlukan dalam
usaha menerbitkan pers nasional. Masih tahun 1960 penguasa perang mulai mengenakan
sanksi-sanksi perizinan terhadap pers.
Tahun 1964 kondisi kebebasan pers makin buruk: digambarkan oleh E.C. Smith dengan
mengutip dari Army Handbook bahwa Kementerian Penerangan dan badan-badannya
mengontrol semua kegiatan pers. Perubahan ada hampir tidak lebih sekedar perubahan
sumber wewenang, karena sensor tetap ketat dan dilakukan secara sepihak.
7. Pers di era demokrasi Pancasila dan Orde lama
Awal masa kepemimpinan pemerintahan Orde Baru bahwa akan membuang jauh-jauh
praktik demokrasi terpimpin dan mengganti demokrasi Pancasila. Pernyataan ini membuat
semua tokoh bangsa Indonesia menyambut dengan antusias sehingga lahirlah istilah pers
Pancasila.
Pemerintah Orde Baru sangat menekankan pentingnya pemahaman tentang pers
pancasila. Dalam rumusan Sidang Pleno XXV Dewan Pers (Desember 1984), pers pancasila
adalah pers Indonesia dalam arti pers yang orientasi, sikap dan tingkab lakunya didasarkan
nilai-nilai pancasila dan UUD45 Hakikat pers pancasila adalah pers yang sehat, yakni pers
yang bebas dan bertanggung jawab dalam menjalankan fungsinya sebagai penyebar
informasi yang benar dan objektif, penyalur aspirasi rakyat dan kontrol sosial yang
konstruktif.
Masa bulan madu antara pers dan pemerintah ketika dipermanis dengan keluarnya
Undang-Undang Pokok Pers (UUPP) Nomor II tahun 1966, yang dijamin tidak ada sensor dan
pembredelan, serta penegasan bahwa setiap warga negara mempunyai hak untuk
menerbitkan pers yang bersifat kolektif dan tidak diperlukan surat ijin terbit. Kemesraan ini
hanya berlangsung kurang lebih delapan tahun karena sejak terjadinya Peristiwa Malari

11

(Peristiwa Lima Belas Januari 1974), kebebasan pers mengalami set-back (kembali seperti
zaman Orde Lama).
8. Pers di masa Transisi (sebelum Reformasi)
Era ini terjadi pada akhir tahun 1980 an dimana situasi politik mulai berubah. Faktor
yang melatarblekangi perubahan ini antara lain adalah kaenyataan bahwa Soeharto akan
mencapai usia 70 tahun dalam 1991 sehingga muncul perkiraan bahwa perubahan di rezim
orde baru hanya soal waktu. Namun tak ada yang berubah dalam kebijakan pers karean
lembaga SIUPP yang mengontrol pers dengan ketat tidak dihapus.
Pers dimata negara memiliki peranan sebagai pendorong kesatuan nasional dan
pembangunan sambil menrapkan system perijinan. Pemerintah juga tidak menjamin dengn
tegas kebebasan pers di Indoensia, hal ini terbukti dengan kontrol ketat pemerintah dengan
mendirikan dewan pers dan PWI, selain itu pemerintah juga ikut campur tangan dalam
keredaksian.
Dalam pemerintahan Orde Baru ini setidaknya ada tiga macam cara yang digunakan
wartawan untuk menghindari peringatan dan atau pembredeilan dari pemrintah, yakni
eufimisme, jurnalisme rekaman dan jurnalisme amplop.
Teknik eufeumisme adalah teknik mengungkapkan fakta secara tersirat bukan tersurat.
Penggunaan kata-kata ini adalah upaya meringankan akibat politik dari suatu pemberitaan.
Fakta dalam sebuah berita berbahaya senantiasa ditup oleh pers dengan ungkapan yang
sopan.
Jurnalisme rekaman adalah budaya wartawan untuk mentranskrip setepat-tepatnya apa
yang dikatakan sumber berita dan tidak mengertikannya sendiri. Budaya ini tentu saja
membuat wartwan Indonesia semakin malas.
Jurnalisme amplop adalah budaya pemberian amplop bagi wartawan oleh sumber
berita. Meskipun pemberian ini dikecam dan berusah dihindari namun pada prakteknya
tetap saja terjadi.
Pada masa orde baru ini juga diketemukan adanya monopoli media massa oleh keluraga
para pejabat. Hal ini tentu saja membuat sudut pandang pemberitaan yang hampir sama
dan sangat berhati-hati karena takut menyinggung pemilik saham.
Pada awal tahun 1990-an pemerintah mulai bersikap terbuka, begitupun dengan pers
meskipun tetap harus bersikap hati-hati. Keterbukaan ini merupakan pengaruh dari
perubahan situasi politik di Indonesia dan juga tuntutan pembaca kelas menengah yang
jumlahnya semkain banyak di Indonesia.
Pada 21 Juni 1994 pemerintah Indonesia membredel tiga mingguan terkemuka yaitu
Tempo, Editor dan Detik. Ada tiga teori tentang pembredelan tersebut yakni teori
12

permusuhan Habibie-Tempo, dalam kasus ini Tempo memberitakan rencana produksi


pesawat terbang dan pembelian bekas kapal perang yang mengkritik habibie, teori intrik
politik yang berspekulasi bahwa ketiga penerbitan itu bekerjasama dengan Benni Moerani
dan pengikutnya di ABRI untuk menjatuhkan dan menyingkirkan Habibie dan teori Intimiasi
yang berspekulasi bahwa kepemimpinan nasional ingin memperlambat laju perubahan
masyarakat dan media yang semkain bergerak menuju kebebasan yang lebih lebar.
Pembredelan ini mengakibatkan terjadinya protes dan demo di kalangan wartawan
Indonesia.Sebagai penyelesaian kasus pembredelan ini menteri penerangan mengeluarkan
dua izin penerbitan baru untuk menampung wartawan yang kehilangan pekerjaannya.
9. Pers di masa pasca Reformasi
Pada tanggal 21 Mei 1998 orde baru tumbang dan mulailah era reformasi. Tuntutan
reformasi bergema ke semua sektor kehidupan, termasuk sektor kehidupan pers. Selama
rezim orde lama dan ditambah dengan 32 tahun di bawah rezim orde baru, pers Indonesia
tidak berdaya karena senantiasa ada di bawah bayang-bayang ancaman pencabutah surat
izin terbit. Di awal reformasi banyak bermunculan penerbitan pers atau koran, majalah, atau
tabloid baru. Di Era reformasi pemerintah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun
1999 tentang Hak Asasi Manusia dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang pers.
Hal ini disambut gembira dikalangan pers, karena tercatat beberapa kemajuan penting
dibanding dengan undang-undang sebelumnya, yaitu Undang-Undang Nomor 21 Tahun
1982 tentang Pokok-Pokok Pers (UUPP).
Dalam Undang-Undang ini, dengan tegas dijamin adanya kemerdekaan pers sebagai hak
asasi warga negara (pasal 4). Itulah sebabnya mengapa tidak lagi disinggung perlu tidaknya
surat ijin terbit, yaitu terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan,
dan pelarangan penyiaran sebagaimana tercantum dalam pasal 4 ayat 2.
Pada masa reformasi, Undang-Undang tentang pers No. 40 1999, maka pers nasional
melaksanakan peranan sebagai berikut:

Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui dan mendapatkan informasi.


Menegakkan nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan
hak asasi manusia, serta menghormati kebhinekaan.
Mengembangkan pendapat umum berdasar informasi yang tepat, akurat, dan benar.
Melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan
dengan kepentingan umum.
Memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum, wartawan mempunyai


hak tolak. Tujuannya agar wartawan dapat melindungi sumber informasi, dengan cara
menolak menyebutkan identitas sumber informasi. Hal ini digunakan jika wartawan dimintai
keterangan pejabat penyidik atau dimintai mnejadi saksi di pengadilan.
13

2.2.

Kode Etik Jurnalistik dan Pers yang Bebas dan Bertanggungjawab

A. Pers yang Bebas serta Bertanggung Jawab


1) Landasan Hukum Pers Indonesia
a. Pasal 28 UUD 1945
Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan
tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang- undang.
b. Pasal 28 F UUD 1945
Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk
mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari,
memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan
menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.
c. Tap MPR No. XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia
Lebih rincinya lagi terdapat pada Piagam Hak Asasi Manusia, Bab VI, Pasal 20 dan 21
yang berbunyi sebagai berikut:
Pasal 20 : Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk
mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya.
Pasal 21 : Setiap orang berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan,
mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang
tersedia.
d. Undang-Undang No. 39 Tahun 2000 Pasal 14 Ayat 1 dan 2 tentang Hak Asasi Manusia
(1) Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi yang diperlukan
untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya.
(2) Setiap orang berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan
menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis sarana yang tersedia.
e. Undang-undang No. 40 Tahun 1999 dalam Pasal 2 dan Pasal 4 ayat 1 tentang pers
Pasal 2 berbunyi, Kemerdekaan pers adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat yang
berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan dan supremasi hukum.
Pasal 4 Ayat 1 berbunyi, Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara.

14

2) Norma-Norma Pers Nasional


Pers sebagai salah satu unsur mass media yang hadir di tengah- tengah masyarakat demi
kepentingan umum, harus sanggup hidup bersama-sama dan berdampingan dengan
lembaga-lembaga masyarakat lainnya dalam suatu suasana keserasian/sosiologis. Dalam hal
ini, corak hubungan antara satu dengan yang lainnya tidak akan luput dari pengaruh falsafah
yang dianut oleh masyarakat dan bangsa kita, yakni Pancasila dan struktur sosial dan politik
yang berlaku di sini.
Dalam melaksanakan fungsinya sehari-hari, partisipasi pers dalam pembangunan
melibatkan lembaga-lembaga masyarakat lainnya yang lingkup hubungannya, dapat dibagi
dalam dua golongan sebagai berikut:

Hubungan antara pers dan pemerintah


Hubungan antara pers dan masyarakat / golongan-golongan dalam masyarakat.

Hubungan antara pers dan pemerintah terjalin dalam bentuk yang dijiwai oleh semangat
persekawanan (partnership) dalam mengusahakan terwujudnya masyarakat yang adil dan
makmur berdasarkan Pancasila.
Dalam alam pembangunan, stabilitas politik, ekonomi dan sosial merupakan prasyarat
untuk suksesnya usaha-usaha pembangunan yang sedang diselenggarakan. Dalam hal ini
hendaknya pers merasa terpanggil untuk membantu pemerintah dalam menjalankan
kekuasaan pemerintahan umum demi kemantapan stabilitas yang dinamis, tanpa
mengurangi hak-haknya memberikan kritik yang sehat dan konstruktif dalam alam
kebebasan yang bertanggung jawab.
Dalam negara yang sedang membangun, pers sebagai lembaga masyarakat secara
implisif perlu juga dibangun. Dalam hal ini, pemerintah sejauh kemampuannya merasa
terpanggil untuk membantu usaha-usaha pers untuk membangun dirinya
sendiri, agardalam waktu secepat mungkin pers sendiri mampu mengembangkan dirinya
atas dasar kekuatan sendiri.
Jika terjadi perbedaan atau konflik pendapat antara pemerintah dan pers dalam
menjalankan fungsinya masing-masing, maka yang dijadikan dasar penyelesaian adalah
ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku, namun tetap dengan berlandaskan pada itikad
baik untuk menjamin atau menegakkan asas kebebasan pers yang bertanggung jawab.
Hubungan antara pers dan masyarakat dijiwai semangat dan itikad baik untuk saling
membina demi kemajuan masing- masing.
Dalam menjalankan fungsi-fungsinya sebagai sarana penerangan, pendidikan umum,
kontrol sosial dan hiburan pers menjadi wahana bagi pembinaan pendapat umum yang
sehat. Di satu pihak, pers ikut menajamkan daya tangkap dan daya tanggap masyarakat
terhadap langkah-langkah kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Di lain pihak, dengan
15

meningkatkan daya tangkap dan daya tanggap masyarakat tersebut yang akan tercermin
dalam peningkatan secara kualitatif dankuantitatif pendapat umum yang disuarakan, pers
dapat menjadi wahana untuk menyampaikan pendapat umum tersebut sebagai denyut
jantung rakyat kepada pemerintah untuk dipakai sebagai bahan pengkajian bagi tepat
tidaknya langkah-langkah kebijaksanaan tersebut. Dengan demikian pers membantu
masyarakat meningkatkan partisipasinya dalam melaksanakan tugas-tugas nasional melalui
komunikasi dua arahnya.
Dalam alam dan suasana membangun di mana pers sendiri masih memerlukan
pembangunan diri di segala bidang, masyarakat perlu membantu dan membimbing
pertumbuhan dan perkembangan terhadap segala kekurangan yang terdapat di dalam pers
atau secara positifnya, bantuan masyarakat ini diwujudkan dalam tetap menumpahkan
kepercayaan masyarakat terhadap pers nasional sebagai salah satu sumber informasinya
yang pokok. Dengan jalan demikian perbedaan atau konflik pendapat di dalam tubuh pers
atau lingkungan pers sendiri, atau antara pers dengan masyarakat cq. golongan dalam
masyarakat, dicarikan penyelesaiannya atas dasar hukum yang berlaku, namun tetap
berlandaskan pada itikad baik dari suatu pers yang bertanggung jawab dalam alam hidup
Pancasila.
3) Organisasi Pers
Organisasi Pers adalah organisasi wartawan dan organisasi perusahaan pers. Organisasiorganisasi tersebut mempunyai latar belakang sejarah, alur perjuangan dan penentuan tata
krama professional berupa kode etik masing-masing. PWI (Persatuan Wartawan Indonesia)
yang lahir di Surakarta, dalam kongresnya yang berlangsung tanggal 8-9 Februari 1946 dan
SPS (Serikat Penerbit Surat Kabar) yang lahir di serambi Kepatihan Yogyakarta pada hari
Sabtu tanggal 8 Juni 1946, merupakan komponen penting dalam pembinaan pers Indonesia.
Ketika itu di Indonesia sedang berkobar revolusi fisik melawan kolonialisme Belanda yang
mencoba menjajah kembali negeri kita.
Dewan Pers sebagai lembaga tertinggi dalam sistem pembinaan pers di Indonesia dan
memegang peranan utama dalam membangun institusi bagi pertumbuhan dan
perkembangan pers. Dewan pers yang independent, dibentuk dalam upaya
mengembangkan kemerdekaan pers dan meningkatkan kehidupan pers nasional (UU No.
40/1999 ps. 15: 1).
Dan Dewan pers melaksanakan fungsi-fungsi sebagai berikut:

Melindungi kemerdekaan pers dari campur tangan pihak lain;


Melakukan pengkajian untuk pengembangan pers;
Menetapkan dan mengawasi pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik;
Memberikan pertimbangan dan mengupayakan penyelesaian pengaduan
masyarakat atas kasus-kasus yang berhubungan dengan pemberitaan pers
16

Mengembangkan komunikasi antara pers, masyarakat dan pemerintah;


Memfasilitasi organisasi-organisasi pers dalam menyusun peraturan di bidang pers
dan meningkatkan kualitas profesi kewartawanan;
Mendata perusahaan pers.

Anggota Dewan Pers terdiri dari:

Wartawan yang dipilih oleh organisasi wartawan;


Pimpinan perusahaan pers yang dipilih oleh organisasi perusahaan pers;
Tokoh masyarakat, ahli bidang pers atau komunikasi dan bidang lainnya yang dipilih
oleh organisasi perusahaan pers;
Ketua dan wakil ketua Dewan Pers dipilih dari dan oleh anggota;
Keanggotaan Dewan Pers sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 3 pasal 15
ditetapkan dengan keputusan presiden;
Keanggotaan Dewan Pers berlaku untuk masa tiga tahun dan sesudah itu hanya
dapat dipilih kembali untuk satu periode berikutnya

4) Sistem Pers Indonesia


Sistem pers merupakan subsistem dari sistem komunikasi, sedangkan sistem komunikasi
itu sendiri merupakan bagian dari sistem kemasyarakatan (sistem sosial). Sistem komunikasi
adalah sebuah pola tetap tentang hubungan manusia yang berkaitan dengan
proses pertukaran lambang-lambang yang berarti untuk mencapai salingpengertian dan
saling mempengaruhi dalam rangka mewujudkan suatu masyarakat yang harmonis.
Ciri khas sistem pers adalah sebagai berikut:

integrasi (integaration)
keteraturan (regularity)
keutuhan (wholeness)
organisasi (organization)
koherensi (coherence)
keterhubungan (connectedness) dan
ketergantungan (interdependence) dari bagian-bagiannya.

Inti permasalahan dalam sistem kebebasan pers adalah sistem kebebasan untuk
mengeluarkan pendapat (freedom of expression ) di negara-negara barat atau sistem
kemerdekaan untuk mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan, sebagaimana
tercantum dalam Pasal 28 UUD 1945.
Faham dasar sistem pers Indonesia tercermin dalam konsideran Undang-undang Pers,
yang menegaskan bahwa Pers Indonesia (nasional) sebagai wahana komunikasi massa,
penyebar informasi, dan pembentuk opini harus dapat melaksanakan asas, fungsi, hak,
17

kewajiban, dan peranannya dengan sebaik-baiknya berdasarkan kemerdekaan pers yang


profesional, sehingga harus mendapat jaminan dan perlindungan hukum, serta bebas dari
campur tangan dan paksaan dari manapun.
Dengan demikian, sistem pers Indonesia tidak lain adalah sistem pers yang berlaku di
Indonesia. Kata Indonesia adalah pemberi, sifat, warna, dan kekhasan pada sistem pers
tersebut. Dalam kenyataan, dapat dijumpai perbedaan-perbedaan essensial sistem pers
Indonesia dari periode yang satu ke periode yang lain, misalnya Sistem Pers Demokrasi
Liberal, Sistem Pers Demokrasi Terpimpin, Sistem Pers Demokrasi Pancasila, dan Sistem Pers
di era reformasi, sedangkan falsafah negaranya tidak berubah.

B. Kode etik Jurnalistik


Kode Etik adalah suatu pedoman tingkah laku yang hanya berlaku bagi sekelompok
orang yang menjalankan profesi tertentu. Menurut pasal 7 ayat 2 UU No 40 tahun 1999,
Kode Etik Jurnalistik adalah kode etik yang disepakati organisasi wartawan dan ditetapkan
oleh Dewan Pers. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Kode Etik Jurnalistik diartikan
sebagai aturan tata susila kewartawanan; norma tertulis yang mengatur sikap, tingkah laku
dan tata krama penerbitan.
Adapun ciri-ciri dari kode etik adalah sebagai berikut :

Kode etik memiliki sanksi yang bersifat moral bagi anggotanya, bukan sanksi pidana.
Daya jangkau suatu kode etik hanya berlaku pada anggota organisasi atau kelompok
tersebut.
Kode etik dibuat dan disusun oleh lembaga/kelompok profesi yang bersangkutan
sesuai dengan aturan organisasi dan bukan dari pihak luar.

Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI) dibentuk pada tanggal 6 Agustus 1999 disepakati
dan ditandatangani oleh wakil dari 26 organisasi wartawan. Kode Etik Wartawan Indonesia
(KEWI) merupakan kode etik yang disepakati semua organisasi wartawan cetak dan
elektronik termasuk Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI),
dan Himpunan Praktisi Penyiaran Indonesia (HPPI).

C. Kode Praktik Jurnalistik


Di luar kode Etik Jurnalistik yang telah disusun masing-masing organisasi wartawan,
Dewan Pers menyusun Kode Praktik media sebagai upaya penegakkan independensi serta
penerapan prinsip pers mengatur sendiri. Kode etik yang disusun ini juga berfungsi
menjamin berlakunya etika dan standar jurnalis professional serta media yang
bertanggungjawab. Jika semua media patuh pada kode etik yang telah berlaku dan
18

disepakati diharapkan bisa menerapkan regulasi sendiri dan lepas dari ketentuan undangundang atau peraturan khusus. Dewan Pers memandang perlu disusun kode praktik yang
berlaku bagi media untuk mempraktikkan standarisasi kerja jurnalistik, yang meliputi
sebagai berikut.
1. Akurasi
Dalam menyebarkan informasi, pers wajib menempatkan kepentingan publik di atas
kepentingan individu atau kelompok,
Pers tidak menerbitkan informasi yang kurang akurat, menyesatkan, atau
diputarbalikkan Ketentuan ini juga berlaku untuk foto dan gambar,
Jika diketahui informasi yang dimuat/ disiarkan ternyata tidak akurat, menyesatkan,
atau diputarbalikkan, koreksi harus segera dilakukan, jika perlu disertai permohonan
maaf,
Pers wajib membedakan antara komentar, dugaan, dan fakta,
Pers menyiarkan secara seimbang dan akurat hal-hal yang menyangkut pertikaian
yang melibatkan dua pihak,
Pers kritis terhadap sumber berita dan mengkaji fakta dengan hati-hati.
2. Privasi
Setiap orang berhak dihormati privasinya, keluarga, rumah tangga, kesehatan, dan
kerahasiaan surat-suratnya. Menerbitkan hal-hal di atas tanpa izin dianggap
gangguan atas privasi seseorang.
Penggunaan kamera lensa panjang untuk memotret seseorang di wilayah privasi
tanpa seizin yang bersangkuta tidak dibenarkan,
Wartawan tidak menelepon, bertanya, memaksa, atau memotret seseorang setelah
diminta untuk menghentikan upaya itu,
Wartawan tidak boleh bertahan di kediaman nara sumber yang telah meminta
meninggalkan tempat, termasuk tidak membuntuti nara sumber itu,
Wartawan dan fotografer tidak diperbolehkan memperoleh atau mencari informasi
dan gambar melalui intimidasi, pelecehan atau pemaksaan,
Pers wajib berhati-hati, menahan diri menerbitkan, menyiarkan informasi yang bisa
dikategorikan melanggar privasi, kecuali hal itu demi kepentingan publik,
Redaksi harus menjamin wartawannya mematuhi semua ketentuan tersebut, tidak
menerbitkan bahan dari sumber-sumber yang tidak memenuhi ketentuan tersebut.
3. Pornografi
Pers tidak menyiarkan informasi dan produk visual yang diketahui menghina atau
melecehkan perempuan. Media pornografi tidak termasuk kategori pers. Meski demikian
adakalanya pers menyiarkan informasi, gambar yang dinilai menyinggung rasa kesopanan

19

individu atau kelompok tertentu. Dalam penilaian pornografi harus disesuaikan dengan
perkembanagan zaman dan keragaman masyarakat.
4. Diskriminasi
Pers menghindari prasangka atau sikap merendahkan seseorang berdasarkan ras, warna
kulit, agama, jenis kelamin, atau kecenderungan seksual, terhadap kelemahan fisik dan
mental, atau penyandang cacat,
Pers menghindari penulisan yang mendetail tentang ras seseorang, warna kulit, agama,
kecenderungan seksual, dan terhadap kelemahan fisik dan mental atau penyandang cacat,
kecuali hal itu secara langsung berkaitan dengan isi berita.
5. Liputan Kriminalitas
Pers menghindari identifikasi keluarga atau teman yang dituduh atau disangka
melakukan kejahatan tanpa seizin mereka
Pertimbangan khusus harus diperhatikan untuk kasus anak-anak yang menjadi saksi
atau menjadi korban kejahatan,
Pers tidak boleh mengidentifikasi anak-anak di bawah umur yang terlibat dalam
kasus serangan seksual, baik sebagai korban maupun saksi.
6. Cara-cara yang tidak dibenarkan
Jurnalis tidak memperoleh atau mencari informasi atau gambar melalui cara-cara
yang tidak dibenarkan atau menggunakan dalih-dalih,
Dokumen atau foto hanya boleh diambil tanpa seijin pemiliknya,
Dalih dapat dibenarkan bila menyangkut kepentingan publik dan hanya ketika bahan
berita tidak bisa diperoleh dengan cara-cara yang wajar.
7. Sumber rahasia
Pers memiliki kewajiban moral untuk melindungi sumber-sumber rahasia atau
konfidensial.
8. Hak jawab dan bantahan
a. Hak jawab atas berita yang tidak akurat harus dihormati,
b. Kesalahan dan ketidakakuratan wajib segera dikoreksi,
c. Koresi dan sanggahan wajib diterbitkan segera.
D. Hak Tolak dan Hak Jawab
Dalam UU No. 40 tahun 1999, pasal 1 ayat 11 disebutkan, hak jawab adalah hak
seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap
pemberitaan berupa fakta, yang merugikan nama baiknya.

20

Dalam beberapa Kode etik Jurnalistik, tercantum bahwa Wartawan Indonesia dengan
kesadaran sendiri secepatnya mencabut atau meralat setiap pemberitaan yang kemudian
ternyata tidak akurat dan memberi kesempatan hak jawab secara proporsional pada sumber
dan atau obyek berita. Isi jawaban harus terkait pokok persoalan dan disampaikan secara to
the point.
Tujuan hak jawab dalam tradisi hukum Anglo Saxon adalah untuk mempersingkat
penyelesaian perkara pers yang terkait abuse of press freedom.
UU No. 40 tahun 1999 pasal 1 ayat 10 menyebutkan, hak tolak adalah hak wartawan
karena profesinya untuk menolak mengungkapkan nara sumber dan atau identitas sumber
berita yang harus dirahasiakan. Pertimbangan etis tertentu membuat wartawan harus
menolak memberi keterangan dalam proses peradilan dan hakim harus menghormati
keberatan itu. Pembukaan antara reporter dengan nara sumber yang telah disepakati
sebelumnya dapat dianggap tindak pidana menurut pasal 322 KUHP. Dalam praktik
penulisan berita pelaksanaan hak tolak ini dapat diwujudkan. Misalnya melalui kata-kata :
kriteria rahasia harus diperjelas, yaitu : Bila ia buka kepada publik akan mengganggu
ketertiban umum dan keselamatan negara.
Ada dua model penyelesaian kasus pelanggaran kode etik, baik menurut UU Pers
maupun aturan main yang disepakati dan dirumuskan oleh Dewan Pers bersama DPR dan
berbagai kelompok masyarakat terkait. Kedua model itu adalah :

Penyelesaian secara prosedural


Penyelesaian secara mandiri

Dalam sidang tanggal 6 Juni 2006, Komisi I DPR sependapat dengan saran dewan Pers
agar penyelesaian konflik media dengan publik ditempuh tiga jalur, yaitu :

melalui pemuatan hak jawab narasumber oleh pers,


jika masih belum puas, narasumber dapat mengadu /meminta bantuan kepada
Dewan Pers, sesuai pasal 15 ayat 2 UU Pers No. 40 tahun 1999,
jika salah satu pihak tetap merasa tidak puas dengan Rekomendasi Dewan Pers, ia
dapat menempuh jalur hukum ke pengadilan.

21

2.3.

Dampak Penyalahgunaan Kebebasan Pers dalam Masyarakat Demokratis

Kebebasan pers adalah kebebasan media komunikasi baik melalui media cetak maupun
melalui media elektronik. Dengan demikian kebebasan pers merupakan suatu yang sangat
fundamental dan penting dalam demokrasi karena menjadi pilar yang ke 4 setelah lembaga
eksekutif, lembaga legislatif dan lembaga yudikatif.
Jadi, pers yang bebas berfungsi sebagai lembaga media atau aspirasi rakyat yang tidak
bisa diartikulasikan oleh lembaga formal atau resmi tetapi bisa diartikulasikan melalui pers
atau mediamassa.
Pers yang bebas tidak bertanggung jawab, sering menimbulkan dampak yang tidak baik
bagi masyarakat. Dewasa ini, penggunaan pers atau media massa sebagai sarana
komunikasi sangatlah menguntungkan karena kita bisa mendapatkan berita yang hangat
dengan cepat tanpa mengeluarkan uang yang banyak. Media komunikasi modern seperti
radio, televisi dan lainnya dengan muda dapat kita gunakan. Dengan media komunikasi
tersebut pertukaran nilai-nilai budaya antar bangsa akan cepat terjadi. Padahal belum tentu
sesuai dengan budaya-budaya indonesia. Program ditayangkan seperti kejahatan,
perangdan hal-hal yang menjurus pornografi dapat menimbulkan dampak negatif yang
menjurus pada kemerosotan moral masyarakat. Hal tersebut tentu dapat membahayakan
bangsa ini, karena dampak yang ditimbulkan akan mengancam kesejahteraan dan
kemakmuran rakyat.
Faktor-faktor penyebab penyalahgunaan kebebasan berpendapat dan berbicara di
muka diantaranya adalah:
1.
2.
3.
4.
5.

Lebih mengutamakan kepentingan ekonomis (oriented bisnis)


Campur tangan pihak ketiga
Keberpihakan
Kepribadian
Tidak mempertimbangkan kondisi sosial budaya masyarakat

Sedangkan bentuk-bentuk penyalahgunaan kebebasan berpendapat dan berbicara


melalui media massa diantaranya dapat berupa:
1. Penyiaran berita/informasi yang tidak sesuai dengan kode etik jurnalistik, seperti
penyebutan nama tersangka dan gambar lengkap tersangka untuk melengkapi
informasi kriminal.
2. Peradilan oleh pers (trial by press) seperti berita yang menyimpulkan bahwa seorang
atau golongan atau instansi telah melakukan kesalahan tanpan melalui informasi
yang seimbang dan lengkap tanpa melalui proses peradilan.
3. Membentuk opini yang meyesatkan, seperti penulisan berita yang tidak yang tidak
memperhatikan objektifitas dan membela kepentingan tertentu sehingga disadari

22

atau tidak disadari rangkaian informasi yang disampaikan dapat menyesattkan pola
pikir pembaca dan penontonnya.
4. Berisi tulisan/siaran yang bersifat profokatif seperti isi berita dan tayangan yang
mengarahkan pembaca dan penontonnya untuk membenci individu, golongan,
pejabat, atau instansi tertentu.
5. Iklan yang menipu, yaitu iklan yang bersifat tidak jujur, menipu, menyesatkan, dan
merugikan suatu pihak baik secara morill, material maupun kepentingan umum.
6. Pelanggaran terhadap kitab undang-undang hukum pidana (KUHP), seperti:
Pasal 37 KUHP
Barang siapa menyiarkan, mempertontongkan tau menempelkan tulisan atau
gambar yang isinya menghina presiden atau wakil presiden dengan niat supaya
diketahui oleh orang banyak dihukum selama-lamanya satu tahun atau denda
sebanyak-banyaknya Rp. 4.500.000
Jika sitersalah melakukan kejahatan itu dalam jabatannya dan pada
melakukan kejahatan itu belum lewat dua tahun sesudah pemidanaannya yang
dahulu menjadi tetap karena karena kejahatan yang semacam maka ia dipecat
dari jabatannya.

Pasal 154 KUHP


barang siapa dimuka umum menyatakan prasan permusuhan, kebencian, atau
penghinaan terhadap kepala pemerintahan indonesia dihukum penjara selamalamanya tujuh tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp.4.500.000

Pasal 155 KUHP


Barang siapa yang menyiarkan, mempertontongkan atau menempelkan surat
atau gambar yang isinya menyatakan perasaan kebencian tau penghinaan
terhadap pemerintah indonesia dengan maksud supaya isi surat atau gambar itu
diketahui orang banyak dihukum penjara selama-lamanya 4 tahun atau denda
sebanyak-banyaknya Rp. 4.5000.000.

Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang cara penyalur kebebasan


berpendapat dan berbicara malaui media massa harus dipatuhi oleh semua pihak bukan saja
insan pers. Meskipun pemerintah telah berusaha membuat peraturan untuk mengatur
kebebasan pers, namun kebebasan pers yang tidak bertanggung jawab, penyalahgunaan
kebebasan berpendapat dan berbicara melalui media massa masih saja terjadi.
Penyalahgunaan kebebasan berpendapat dan berbicara melalui media massa selain
membawa dampak negatif ada kalanya juga memberikan dampak yang positif.
Penyalahgunaan kebebasan berpendapat dan berbicara dapat berdampak pada semua

23

pihak baik dalam lingkup individu, masyarakat ataupun negara. Berikut dampak-dampak
penyalahgunaan kebebasan pers.

Dampak
No.

Pihak

Individu

Masyarakat

Negara

Positif

Negatif

apabila
suatu
pemberitaaan
dapat
meningkatkan nilai positif
pribadinya, Sehingga akan
mendorong
masyarakat
untuk berpendapat bahwa
dirinya adalah pribadi yang
jujur dan benar.

Adapun pemberitaan itu akan


menghancurkan nilai positif
pribadinya
dimasyarakat
sehingga
mengakibatkan
opini masyarakat yang tidak
baikterhadapnya. Hal itu akan
berdampak pula pada aspek
bisnis

Apabila
dapat
menumbuhkan
kesetiakawanan sosila dan
mewujudkan
persatuan
dan
kesatuan
serta
menjaga
keamanan,
ketentraman,
dan
keteriban.

Apabila menyebabkan hal-hal


yang bertentangan dengan
nilai luhur budaya bangsa,
sehingga
menyebabkan
hilangnya
rasa
kesetiakawanan sosial dan
pecahnya persatuan dan
gangguan
terhadap
keamanan, ketentraman dan
keteriban.

Apabila
dapat
meningkatkan partisipasi,
dukungan
dan
keberpihakan
rakyat
kepada
pemerintah,
meembantu pelaksanaan
pembangunan
nasional
agar berjalan lancar dan
dapat
meningkatkan
kepatuhan
terhadap
peraturan
perundangundangan.

Apabila
menyebabkan
rakyaat tidak percaya dan
tidak memberikan dukungan
lagi terhadap pemerintah,
kurang
lancarnya
pembangunan nasional dan
memburuknya
kondisi
keamanan
negara
serta
menurunnya
tingkat
kepatuhan
masyarakat
terhadap
peraturan
perundang-undangan
yang
berlaku.

24

2.4.

Manfaat Media Massa dalam Kehidupan Sehari-Hari

Media massa harus dapat memberikan manfaat yang baik bagi konsumennya.
Pemberitaan dan penyiaran media massa harus sesuai dengan nilai-nilai kepribadian
bangsa, memelihara keamanan dan ketentraman, menjaga persatuan dan keutuhan
wilayah NKRI. Untuk mendorong pertumbuhan media massa maka isi dan materi
pemberitaan dan siaran pers dan media massa, sebaiknya mengandung hal-hal berikut
antara lain:
1. Mengandung informasi, pendidikan, hiburan, dan manfaat bagi pembentukan
intelektualitas watak, moral bangsa, dan mengutamakan nilaai-nilai agaama dan
budaya indonesia.
2. Bersifat netral dan tidak boleh mengutamakan kepentingan golongan tertentu
3. Tidak bersifat fitnah menghasut, menyesatkan atau bohong.
4. Tidak menonjolkan unsur kekerasan, cabul, perjudian, penyalahgunaan narkotika
dan obat terlarang,
5. Tidak mempertentangkan suku, agama, ras, dan antargolongan
6. Tidak memperolokan, merendahkan , melecehkan, dan mengabaikan nilai-nilai
agama, martabat manusia indonesia dan merusak hubungan internasional.
Media massa secara umum dikelompokkan menjadi tiga yaitu:
a. Media audio, yaitu media komunikasi yang dapat didengar atau ditangkap oleh indra
telinga. Misalnya radio dan telepon.
b. Media visual, yaitu media komunikasi yang dapat dibaca atau ditangkap oleh indra
mata. Misalnya surat kabar, buletin dll.
c. Media audio visual, yaitu media komnunikasi yang dapat dibaca dan didengar.
Misalnya televisi.
Dalam Undang-undang No. 40 tahun 1999 pasal 3 tentang pers disebutkan diantaranya
bahwa pers nasioanl berfungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol
sosialdan dapat juga sebagai lembaga ekonomi. Pers sebagai media infirmasi mempunyai
misi:

Ikut mencerdaskan masyarakat.


Menegakkan keadilan.
Memberantas kebatilan.

25

2.5.

Upaya Pemerintah dalam Mengendalikan Kebebasan Pers

Upaya pemerintah dalam mengendalikan kebebasan pers pada masa orde baru,
pengawas kebebasan pers pemerintah mengadakan sensor sebelum disiarkan atau
sebelum diterbitkan.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan maka pemerintah mengeluarkan
beberapa peraturan, antara lain:

UUD 1945
Ketetapan MPR RI No. XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia
UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
UU No. 9 Tahun 1998 Tentang Kemerdekaan menyampaikan pendapat dimuka
umum
UU No. 40 tahun 1999 tentang pers,
UU No. 40 tahun 2000 tentang pers Nasional
UU No. 32 tahun 2002 tentang penyiaran

Dengan adanya batasan batasan tersebut diharapkan pers dapat melakukan hal-hal
yang dapat meningkatkanperkembangan masyarakat indonesia diantaranya:

Memberikan hiburan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat


Meningkatkan kemampuan dan pengetahuan masyarakat
Menghindari terjadinya gangguan stabilitas yang menyangkut SARA
Melindungi hak-hak pribadi agar golongan minoritas tidak tertindas oleh golongan
mayoritas.

26

BAB III
Penutup

3.1.

Kesimpulan

Kebebasan pers yang sedang kita nikmati sekarang memunculkan hal-hal yang
sebelumnya tidak diperkirakan. Suara-suara dari pihak pemerintah misalnya, telah
menanggapinya dengan bahasanya yana khas; kebebasana pers di ndoesia telah
kebablasan! Sementara dari pihak asyarakat, muncul pula reaksi yang lebih konkert bersifat
fisik.
Barangakali, kebebasana pers di Indonesia telah mengahsilkan berbagai ekses. Dan hal
itu makin menggejala tampaknya arena iklim ebebasan tersebut tidak dengan sigap diiringi
dengan kelengakapan hukumnya. Bahwa kebebasan pers akan memunculkan kebabasan, itu
sebenarnya merupakan sebuah konsekuensi yan wajar. Yang kemudan harus diantisipasi
adalah bagaimana agar kebablasan tersbeut tidak kemudian diterima sebagai kewajaran.

3.2.

Saran

Para pekerja pers dalam bekerja wajib memenuhi aspek-aspek profesionalitas. Standar
profesionalitas dalam jurnalistik.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Tidak memutar balikan fakta, tidak memfitnah.


Berimbang, adil dan jujur.
Mengetahui perbedaan kehidupan pribadi dan kepentingan umum.
Mengetahui kredibilitas narasumber.
Sopan dan terhormat dalam mencari berita.
Tidak melakukan tindak yang bersifat plagiat.
Meneliti semua bahan berita terlebih dahulu.
Memiliki tanggung jawab moral yang besar.

27