Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN TUTORIAL FARMAKOTERAPI SISTEM ORGAN II

PAIN MANAGEMENT (COMBUSTIO)

DISUSUN OLEH
Thalita Noviari

(125070501111003)

Siti Nurul Khotimah

(125070501111006)

M. Okta Dody M

(125070502111001)

Duwi Efasari

(125070502111002)

Nindia Alvionita Larasati

(125070505111002)

Ridzky Ayu S

(125070505111003)

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2014

I. TINJAUAN PENYAKIT
a. Epidemiologi
Lima puluh juta orang Amerika yang sebagian atau seluruhnya cacat karena
nyeri. Biaya tahunan sakit untuk masyarakat AS dapat diperkirakan dalam miliaran
dolar. Dalam 1 tahun, sekitar 25 juta orang Amerika akan mengalami nyeri akut
akibat cedera atau pembedahan, dan sepertiga orang Amerika akan mengalami nyeri
kronis parah di beberapa titik. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat, karena
semakin banyak orang Amerika bekerja setelah usia 60 tahun. Pasien dengan tingkat
keparahan serius dirawat di rumah sakit telah melaporkan kejadian 50% dari nyeri;
15% memiliki sangat atau cukup sakit parah terjadi setidaknya 50%, dan 15% tidak
puas dengan control keseluruhan. Dalam laporan tindak lanjut, para penulis
menyatakan bahwa kontrol nyeri tetap sebagai masalah besar pada pasien rumah sakit
dan beberapa dari pasien ini masih sakit berbulan-bulan setelah rawat inap.dalam gan
studi nyeri Michi- , 70% dari pasien yang sakit kronis mengaku memiliki rasa sakit
meskipun diobati, dengan 22% percaya bahwa pengobatan memburuk (Gallagher,
1999)
b. Definisi dan Derajat Kedalaman
Pada abad ke-19, Mueller, Van Frey, dan Goldscheider hipotesis konsep
neuroreceptors, nociceptors, dan input. Sensorik Teori-teori ini berkembang menjadi definisi
saat sakit: "pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan terkait dengan
kerusakan jaringan aktual atau potensial atau dijelaskan dalam hal kerusakan tersebut."
(Stimmel,1983).
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan
kontak dengan sumber panas, bahan kimia, listrik dan radiasi (Moenadjat,2003). Nyeri
merupakan salah satu manifestasi klinis yang serius pada luka bakar derajat II. Kulit yang
terbakar mengakibatkan cidera terhadap jaringan tubuh, keadaan tersebut akan menimbulkan
nyeri karena hampir disemua jaringan tubuh terdapat ujung-ujung saraf halus yang
menyalurkan impuls nyeri. Nyeri digambarkan sebagai sensoris yang tidak menyenangkan
dan pengalaman emosional yang berhubungan dengan kerusakan jaringan aktual maupun
potensial (Brunner,2002).
c. Derajat Kedalaman
Kedalaman kerusakan jaringan akibat luka bakar tergantung pada derajat panas
sumber, penyebab dan lamanya kontak dengan tubuh penderita. Dahulu Dupuytren membagi
atas 6 tingkat, sekarang lebih praktis hanya dibagi 3 tingkat/derajat, yaitu sebagai berikut:
1. Luka Bakar Derajat I :
Kerusakan terbatas pada lapisan epidermis (surperficial), kulit hipermik berupa eritem, tidak
dijumpai bullae, terasa nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi. Penyembuhan
terjadi secara spontan tanpa pengobatan khusus.

2. Luka Bakar Derajat II


Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis, berupa reaksi inflamasi disertai
proses eksudasi. Terdapat bullae, nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi.
Dibedakan atas 2 (dua) bagian :
A. Derajat II dangkal/superficial (IIA)
Kerusakan mengenai bagian epidermis dan lapisan atas dari corium/dermis. Organ
organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar sebecea masih banyak. Semua ini merupakan
benih-benih epitel. Penyembuhan terjadi secara spontandalam waktu 10-14 hari tanpa
terbentuk cicatrik.
B. Derajat II dalam / deep (IIB)
Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis dan sisa sisa jaringan epitel
tinggal sedikit. Organ organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar
sebacea tinggal sedikit. Penyembuhan terjadi lebih lama dan disertai parut hipertrofi.
Biasanya penyembuhan terjadi dalam waktu lebih dari satu bulan.

3. Luka bakar derajat III


Kerusakan meliputi seluruh tebal kulit dan lapisan yang lebih dalam sampai mencapai
jaringan subkutan, otot dan tulang. Organ kulit mengalami kerusakan, tidak ada lagi sisa
elemen epitel. Tidak dijumpai bullae, kulit yang terbakar berwarna abu-abu dan lebih
pucat sampai berwarna hitam kering. Terjadi koagulasi protein pada epidermis dan dermis
yang dikenal sebagai esker. Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensasi karena ujung
ujung sensorik rusak. Penyembuhan terjadi lama karena tidak terjadi epitelisasi spontan.

LUAS LUKA BAKAR


Wallace membagi tubuh atas bagian nagian 9 % atau kelipatan dari 9
terkenaldengan nama Rule of Nine atau Rule of Wallace.
Kepala dan leher
9%
Lengan
18%
Badan Depan
18%
Badan Belakang
18%
Tungkai
36%
Genitalia/perineum
1%
Total
100%

Dalam perhitungan agar lebih mempermudah dapat dipakai luas telapak tangan
penderita adalah 1 % dari luas permukaan tubuhnya. Pada anak anak dipakai modifikasi
Rule of Nine menurut Lund and Brower, yaitu ditekankan pada umur 15 tahun, 5 tahun dan 1
tahun.

KRITERIA BERAT RINGANNYA (American Burn Association)


1. Luka Bakar Ringan.
- Luka bakar derajat II <15 %
- Luka bakar derajat II < 10 % pada anak anak
- Luka bakar derajat III < 2 %

2. Luka Bakar Sedang


- Luka bakar derajat II 15-25 % pada orang dewasa
- Luka bakar II 10 20 5 pada anak anak
- Luka bakar derajat III < 10 %
3. Luka Bakar Berat
- Luka bakar derajat II 25 % atau lebih pada orang dewasa
- Luka bakar derajat II 20 % atau lebih pada anak anak.
- Luka bakar derajat III 10 % atau lebih
- Luka bakar mengenai tangan, wajah, telinga, mata, kaki dan genitalia/perineum.
- Luka bakar dengan cedera inhalasi, listrik, disertai trauma lain.
d. Klasifikasi
A. Nyeri Akut
Nyeri akut dapat menjadi proses fisiologis yang berguna peringatan pada
penyakit dan situasi yang berpotensi membahayakan. Nyeri akut biasanya
nociceptive, meskipun dapat neuropatik di alam, dengan hubungan yang relatif kuat
dengan tingkat pathology.Penyebab umum nyeri akut termasuk operasi, penyakit akut,
trauma dan tenaga kerja (Dipiro et al, 2005).
B. Nyeri Kronis
Dalam kondisi normal, nyeri akut mereda dengan cepat sebagai proses
penyembuhan menurunkan rangsang nyeri yang memproduksi. Namun, dalam
beberapa kasus, nyeri menetap selama beberapa bulan sampai bertahun-tahun, yang
menyebabkan keadaan sakit kronis dengan fitur yang cukup berbeda dengan nyeri
akut.Jenis rasa sakit ini berupa nociceptive, Subtipe neuropati / fungsional, atau
keduanya.meliputi: nyeri yang berlangsung di luar waktu penyembuhan normal untuk
cedera akut (misalnya, kompleks sindrom nyeri regional), nyeri akibat penyakit kronis
(misalnya, nyeri sekunder untuk osteoarthritis), sakit tanpa penyebab organik yang
dapat diidentifikasi (misalnya, fibromyalgia), dan jenis keempat yang banyak ahli
percaya waran klasifikasi diskrit dan rasa sakit yang terkait dengan cancer (Dipiro et
al, 2005).
C.

Kanker Pain
Nyeri berhubungan dengan kondisi berpotensi mengancam nyawa sering
disebut nyeri ganas atau nyeri kanker. Jenis rasa sakit meliputi kronis dan akut
komponen dan sering memiliki beberapa etiologi. Hal ini sakit yang disebabkan oleh
penyakit itu sendiri (misalnya, invasi tumor, obstruksi organ), pengobatan (misalnya,
kemoterapi, radiasi,operasi sayatan), atau prosedur diagnostik (misalnya, biopsi)
(Dipiro JT et al, 2005).

c. Patofisiologi
-

Stimulasi

Langkah pertama menuju sensasi nyeri adalah stimulasi ujung saraf bebas
yang dikenal sebagai nosiseptor.Reseptor ini ditemukan di kedua struktur somatik dan
visceral.Mereka membedakan antara rangsangan berbahaya dan tidak berbahaya, dan
mereka diaktifkan dan peka oleh mekanik, termal, dan kimia impulses.Mekanisme
berbaring memahami ini rangsangan berbahaya (yang dalam dan dari diri mereka
sendiri dapat peka / merangsang reseptor) mungkin rilis bradikinin, ion kalium (K +),
prostaglandin, histamin, leukotrien, serotonin, dan substansi P (antara lain) yang Tize
peka dan / atau mengaktifkan aktivasi nociceptors.Reseptor menyebabkan potensial
aksi yang ditransmisikan sepanjang saraf aferen serat ke sumsum tulang belakang
(Pasero etc, 1999).
-

Transmisi
Transmisi nociceptive terjadi di A dan C-saraf aferen fibers. Stimulasi
berdiameter besar, serat A jarang mielin membangkitkan tajam, nyeri baik lokal,
sedangkan stimulasi unmyelinated, berdiameter kecil serat C menghasilkan kusam,
sakit, nyeri sulit dilokalisasi .Fungsional , pentingnya interaksi antara serat yang
berbeda dan berbagai neurotransmitter dan neuroreceptors jelas dalam respon
analgesik yang dihasilkan oleh iritasi topikal atau stimulasi saraf transkutan listrik.
Proses nyeri dimulai ini mencapai otak melalui array kompleks setidaknya lima naik
jalur saraf tulang belakang, yang meliputi tract. Informasi spinotalamikus selain nyeri
juga dilakukan di sepanjang jalur ini.Dengan demikian, rasa nyeri dipengaruhi oleh
banyak faktor tambahan untuk nosisepsi dan menghalangi representasi skema
sederhana.Hal ini mendalilkan bahwa thalamus bertindak sebagai stasiun relay,
karena jalur ini naik dan passs impuls ke struktur pusat di mana nyeri dapat diproses
(Pasero etc, 1999).
-

Modulasi
Tubuh memodulasi nyeri melalui sejumlah proses yang kompleks. Satu,
dikenal sebagai sistem opiat endogen, terdiri dari neurotransmitter (misalnya,
enkephalins, endorfin, dan -endorfin) dan reseptor (misalnya, , , dan ) yang
ditemukan di seluruh sistem saraf pusat (SSP).Seperti opioid eksogen, opioid endogen
mengikat reseptor opioid dan memodulasi transmisi nyeri impulse. Jenis reseptor lain
juga dapat mempengaruhi sistem ini. Aktivasi N-methyl-D-aspartat (NMDA)
reseptor, ditemukan di tanduk dorsal, dapat menurunkan respon yang -reseptor
'untuk opiates. SSP juga berisi sistem menurun sangat terorganisir untuk mengontrol
transmisi nyeri.Sistem ini dapat menghambat transmisi nyeri sinaptik di tanduk dorsal
dan berasal otak.Neurotransmitter penting di sini termasuk opioid endogen, serotonin,
norepinefrin, -aminobutyric acid (GABA), dan neurotensin (Pasero etc, 1999).
-

Persepsi
Pada titik ini dalam transmisi, nyeri diduga menjadi pengalaman sadar yang
terjadi dalam struktur kortikal yang lebih tinggi.Otak dapat menampung hanya
sejumlah sinyal rasa sakit, dan kognitif dan perilaku fungsi dapat memodifikasi rasa
sakit.Relaksasi, distraksi, meditasi, dan citra mental dipandu dapat menurunkan rasa

sakit dengan membatasi jumlah sinyal yang diproses. Nyeri Sebaliknya, perubahan
neurokimia yang menghasilkan suatu rasa seperti depresi atau kecemasan dapat
memperburuk rasa sakit (Pasero etc, 1999).
d. TERAPI
I. Farmakologi
Analgetik Opioid
Secara kimia analgetik opioid berhubungan dengan morfin. Morfin
merupakan bahan alami yang disarikan dari opium, walaupun ada yang berasal
dari tumbuhan lain dan sebagian lainnya dibuat di laboratorium. analgetik opioid
sangat efektif dalam mengurangi rasa nyeri namun mempunyai beberapa efek
samping. semakin lama pemakai obat ini akan membutuhkan dosis yang lebih
tinggi. selain itu sebelum pemakaian jangka panjang dihentikan, dosisnya harus
dikurangi secara bertahap, untuk mengurangi gejala-gejala putus obat (Dipiro et
al, 2005).
Analgetik Non-Opioid
Semua analgetik non-opiod (kecuali asetaminofen) merupakan obat anti
peradangan non-steroid (nsaid, nonsteroidal anti-inflammatory drug). obat-obat ini
bekerja melalui 2 cara (Dipiro et al, 2005):
1. mempengaruhi sistem prostaglandin, yaitu suatu sistem yang
bertanggungjawab terhadap timbulnya rasa nyeri.
2. mengurangi peradangan, pembengkakan dan iritasi yang seringkali
terjadi di sekitar luka dan memperburuk rasa nyeri.
Aspirin merupakan prototipe dari nsaid, yang telah digunakan selama lebih
dari 100 tahun. Pertama kali disarikan dari kulit kayu pohon willow. Tersedia
dalam bentuk per-oral (ditelan) dengan masa efektif selama 4-6 jam. Efek
sampingnya adalah iritasi lambung, yang bisa menyebabkan terjadinya ulkus
peptikum. karena mempengaruhi kemampuan darah untuk membeku, maka
aspirin juga menyebabkan kecenderungan terjadinya perdarahan di seluruh tubuh.
pada dosis yang sangat tinggi, aspirin bisa menyebabkan gangguan pernafasan.
salah satu pertanda dari overdosis aspirin adalah teling berdenging (tinitus)
(Dipiro et al, 2005)..
Mula kerja dan masa efektif dari berbagai nsaid berbeda-beda, dan respon
setiap orang terhadadap nsaid juga berbeda-beda.semua nsaid bisa mengiritasi
lambung dan menyebabkan ulkus peptikum, tetapi tidak seberat aspirin.
Mengonsumsi nsaid bersamaan dengan makanan dan antasid bisa
membantu mencegah iritasi lambung. Obat misoprostol bisa membantu mencegah
iritasi lambung dan ulkus peptikum; tetapi obat ini bisa menyebabkan diare.
Asetaminofen berbeda dari aspirin dan nsaid. Obat ini bekerja pada sistem
prostaglandin tetapi dengan mekanisme yang berbeda. Asetaminofen tidak
mempengaruhi kemampuan pembekuan darah dan tidak menyebabkan ulkus

peptikum maupun perdarahan. Tersedia dalam bentuk per-oral atau supositoria,


dengan masa efektif selama 4-6 jam. Dosis yang sangat tinggi bisa menyebabkan
efek samping yang sangat serius, seperti kerusakan hati (Dipiro et al, 2005).
Analgetik Ajuvan
Analgetik ajuvan adalah obat-obatn yang biasanya diberikan bukan karena
nyeri, tetapi pada keadaan tertentu bisa meredakan nyeri. Contohnya, beberapa
anti-depresi juga merupakan analgetik non-spesifik dan digunakan untuk
mengobati berbagai jenis nyeri menahun, termasuk nyeri punggung bagian bawah,
sakit kepala dan nyeri neuropatik. Obat-obat anti kejang (misalnya karbamazepin)
dan obat bius lokal per-oral (misalnya meksiletin) digunakan untuk mengobai
nyeri neuropatik (Dipiro et al, 2005).
II. Non-Farmakologi
Stimulasi Terapi
Stimulasi saraf transkutan listrik (TENS) telah digunakan dalam mengelola baik
nyeri akut dan kronis (misalnya, bedah, trauma, punggung bawah, arthritis, neuropati,
fibromyalgia, dan sakit mulut-wajah).Namun, studi bertentangan dan gagal untuk
menunjukkan penghilang rasa sakit yang berkelanjutan.Akibatnya, teknik belum
memperoleh penerimaan luas.
Intervensi psikologis
Meskipun aspek kognitif, perilaku, dan sosial nyeri yang mapan, intervensi
psikologis untuk pengobatan nyeri akut tidak digunakan secara luas.Intervensi sederhana
(misalnya, informasi pengantar tentang sensasi yang akan terjadi setelah prosedur
tertentu).Teknik-teknik psikologis yang sukses lainnya, termasuk pelatihan relaksasi,
citra, dan hipnosis, telah terbukti efektif dalam pengelolaan nyeri pasca prosedur dan
kanker terkait nyeri.

III. Terapi Combustio


Pada kasus, pasien mengalami Luka bakar grade 2 dengan luas permukaan
22% disebabkan oleh ledakan gas LPG. Dari obat yang diberkan, pasien
menerima terapi berupa injeksi, dimana pasien tidak dapat mengonsumsi obat
melalui oral. Jalur pemberian nutrisi yang dianjurkan adalah melalui oral atau
enteral (Grunwald , 2008).
Penderita luka bakar minor yang mampu makan melalui oral sebaiknya
mendapatkan nutrisi melalui oral, sedangkan pasien luka bakar minor yang tidak
mampu makan karena usia, rasa nyeri, atau tidak patuh, sebaiknya diberikan
melalui enteral. Pemberian nutrisi melalui enteral dapat mencegah atropi mukosa
saluran cerna dan translokasi bakteri dalam lambung(Yurt, 2008). Indikasi
pemberian nutrisi parenteral pada luka bakar adalah bila terjadi ketidakstabilan
hemodinamik, resusitasi, pemakaian vasopressor, distensi abdomen atau cairan
lambung >200 cc/hari6 (Mehta, 2009).

Infus RL diberikan sebagai nutrisi luka bakar baru dengan dosis 2640 cc
pada jam 04.00-12.00 dan dikontrol lagi pukul 12.00-04.00. Infus RD5 berisi
dektrose, sebagai asupan energi pasien dosis 1000 cc/24 jam, infus ini diberikan
hingga pasien dapat mengonsumi makanan secara oral. Hingga tanggal 10
September, pasien mengalami penurunan kadar albumin penurunan kadar albumin
karena eksudasi cairan yang kaya protein dari kompartemen intravaskular
kedalam kompartemen interstitial, proses hiperkatabolik yang menyebabkan
respon metabolik yang meningkat sejajar dengan beratnya trauma, urinary
nitrogen yang meningkat, dan keadaan ini diperberat dengan nafsu makan yang
kurang , rasa mual, abdominal discomfort. Albumi n diberikan dengan
pertimbangan untuk mempertahankan tekanan koloid osmotik intravaskular,
inhibisi fungsi platelet dan efek antirombotik, dan efek permeabilitas pembuluhg
darah (Arif, 2009).
Anti nyeriyang digunakan injeksi Amikacin dosis penanganan nyeri
menjadi sangat penting karena biloa tidak ditanggulangi memperberat kondisi
pasien. Antibiotik yang digunakan golongan Aminoglycosides injeksi Amikacin
dosis 2x750 mg, dosis diturunkan menyesuaikan tingkat keparahan nyeri pasien.
Anti nyeri yang digunakan Injeksi Novalgin (Metamizole) golongan NSAID dosis
3x1gram , ketorolac 3x30 mg, golongan kortikosteroid dexamethasone dosis
1x40mg, golongan non-opiod Tramadol drip dosis 3x100mg/PZ 100cc, dan
golongan benzodiazepine Esilgan (Midazolam) dosis 1x2 mg. Pemberian vitamin
C sebagai penanganan perbaikan luka pengurangan edema luka bakar dan
perbaikan sistem imun dosis 2x400mg (Sullivan, 2001).
Golongan H2RA seperti Ranitidine diberikan sebagai upaya mencegah
perlindungan di ulcer dan menetralisisr asam lambung yang dicurigai akan
meningkat pada kondisi stress.Insulin diberikan seiring pemberian infus RD5 yang
berisi dekstros. Savlon topikal diberikan sebagai desinfektandengan cara
membilasnya (Grunwald , 2008).

(Mehta, 2009)

DOKUMEN FARMASI PASIEN


INSTALASI FARMASI
RSUD DR. SOETOMO
No DMK : xx.xx.xx.xx
Nama

Ruangan asal: ROI

: Ny. S

Diagnosa : Combustion gr. II AB 22% ec


ledakan gas LPG

L/P

Tgl KRS:
Riwayat Pengobatan: -

Riwayat Penyakit: Alamat

: Sby

Alergi: tidak diketahui


Alasan MRS : luka bakar terkena ledakan
LPG

Umur/BB : 50 th / 70 kg
Pindah ruangan: Burn Unit (Tgl. MRS: 04/03/2011)
No.

JENIS OBAT

Tanggal pemberian obat (mulai MRS)


Regimen dosis
4/3/11

Nama dagang/generik
1.

Infus RL

(04.00-12.00) = 2640 cc

5/3/11

6/3/11

7/3/11

8/3/11

9/3/11

10/3/11

11/3/11

(12.00-04.00) = 2640 cc

2.

Infus RD5
1000 cc/24 jam

//
500cc/24jam

3.

Albumin 20%

4.

Infus KAEN Mg 3

5.

Inj. Amikacin

100 cc

500 cc/24 jam


2 x 750 mg

1 x 750mg

1 x 750mg

2 x 500mg

2 x 500mg

2 x 500mg

2 x 500mg

2 x 500mg

3x1g

Inj. Cernevit (Vit C)

2 x 400 mg

8.

Inj. Ranitidin

2 x 50 mg

9.

Inj. Ketorolac

3 x 30 mg

10.

Inj. Dexamethasone

2 x 5 mg

11.

Inj. Lasix (Furosemide)

1 x 40 mg

12.

Actrapid s.c

13.

Tramadol drip

14.

Esilgan p.o (Midazolam)

15.

Savlon topikal

6.

Inj. Novalgin (Metamizole)

7.

3 x 4 iu 15 ac

1 x 2 mg

(chlorhexidine gluconate
1,5% dan cetrimide 3,0%)

No.

3 x 100 mg/PZ 100 cc

Data Klinik

TD (<120/80)

Tanggal
4/3/11

5/3/11

6/3/11

7/3/11

8/3/11

9/3/11

10/3/11

11/3/11

120/70

120/80

130/90

120/100

120/90

130/100

125/90

130/70

Nadi (80-100 x/menit)

90

120

100

100

100

100

90

90

RR (<20 x/menit)

18

21

20

19

20

21

20

22

Suhu badan (37 0,5oC)

36,6

37,3

37,2

37,2

37

37

37

37

GCS

456

456

456

456

456

456

456

456

KU (Kondisi Umum)

Lemah

Lemah

Lemah

lemah

lemah

lemah

lemah

Lemah

Mual

Muntah

Nyeri

Tanggal
No.

Data Lab

Nilai Rujukan
4/3

5/3

7/3

9/3

10/3

153

120

BGA (Blood Gas Artery)


1.

pH

(7,35 - 7,45)

7,412

2.

pO2

(80 107) mmHg

166,7

3.

pCO2

(35 - 45)mmHg

36,3

4.

BE

(-3,5 2) mmol/L

-1,4

Darah Lengkap
5.

WBC

(4.500-10.500) /L

19.190

10.100

6.

RBC

(4-6) x 106/L

4,88

5,28

7.

Hgb

(11-18) g/dL

15,6

15,1

8.

Hct

(35-60) %

45,5

47,7

9.

Plt

(150.000-450.000)/L

108.000

115.000

10.

GDA

<200mg/dL

222

125

11.

GDP

(<110) mg/dL

233

12.

GD2JPP

(<140) mg/dL

246

13.

Creatinin

(0,6-1,1)mg/dL

0,6

14.

BUN

10-25 mg/dl

14

15.

AST

(5-23) IU/L

60

16.

ALT

(5-34) IU/L

77

17.

ALB

(3,8-5,4) g/dL

4,3

18.

Na

(136-144) meq/L

151

133

19.

(3,8-5,0) meq/L

4,3

4,1

20.

Cl

(97-103) meq/L

114

2,9

3,3

1,8

TUGAS MAHASISWA

FORM SUBJECTIVE
Ny. S, wanita berumur 50 tahun memiliki berat badan 70 kg mengalami luka bakar karena ledakan gas LPG dengan grade II AB 22% dan mengeluh
merasakan lemas serta nyeri. Tidak diketahui riwayat alergi dan tidak terdapat riwayat penyakit penyerta.

FORM OBJECTIVE
Ny. S mengalami penurunan jumlah platelet darah ( 115.000/L), penurunan ALB (1,8 g/dL) dan penurunan kadar Na (133meq/L) di bawah rentang normal.
Pemeriksaan gula darah GDP (233 mg/dL) dan GD2JPP (246mg/dL) melebihi batas normal disebabkan karena pemberian infus yang mengandung dextrose
(gula) dalam jumlah banyak. Pasien juga mengalami peningkatan kadar Cl (114meq/L). Pemeriksaan fungsi hepar terjadi peningkatan kadar AST (60IU/L)
dan ALT (77IU/L) disebabkan karena penggunaan NSAID. Kadar pO2 mengalami peningkatan dari rentang normal (166,7 mmHg).

FORM ASSESSMENT & PLAN


PROFIL PENGOBATAN
Tgl. Mulai
Terapi
4/3/2011

Nama Obat
(Generik)
Infus RL

Rute

i.v

Dosis

(04.00-12.00) = 2640 cc

Frekuensi

1x

Tgl.
Berhenti
Terapi
5/3/2011

Indikasi Obat

Resusitasi cairan dan


elektrolit agar pasien

Pemantauan Kefarmasian

Monitoring rasa lemas

(12.00-04.00) = 2640 cc

tidak lemas

5/3/2011

Infus RD5

i.v

1000 cc/24 jam

5x

10/3/2011

10/3/2011

Infus RD5

i.v

500cc/24jam

1x

11/3/2011

11/3/2011

Infus KAEN Mg 3

i.v

500cc/24jam

1x

12/3/2011

6/3/2011

Albumin 20%

i.v

100cc

1x

7/3/2011

Resusitasi cairan dan


nutrisi agar pasien
tidak lemas
Resusitasi cairan dan
nutrisi agar pasien
tidak lemas
Resusitasi cairan dan
elektrolit agar pasien
tidak lemas
- Menjaga tekanan
osmotic
plasma
(homeostasis
intravascular)
dan
berfungsi
sebagai
pembawa metabolit
dalam transpor dan
pertukaran
hasil
metabolit
dalam
jaringan.
Sebagai
terapi
suportif
dalam
penanganan
luka
bakar karena pasien
yang mengalami luka
bakar, albumin yang
merupakan
protein
akan
rusak
jika
terkena
panas
sehingga
menyebabkan cairan
akan keluar menuju
ekstravascular
dan

Monitoring rasa lemas

Monitoring rasa lemas

Monitoring rasa lemas

-monitoring volume intravascular,


mengaji tanda-tanda overload
cairan sebelum dan selama infus.
- monitoring reaksi alergi atau
piogenik (ditandai dengan demam
dan menggigil). Jika gejala ini
terjadi, menghentikan pengobatan
dan memberitahu dokter.
- monitoring gangguan fungsi hati
atau ginjal karena beban protein
ditambah.
- Memeriksa Ht sebelum infus.
- Memeriksa BP sebelum dan
selama infus.
- Memantau Hct, elektrolit,
albumin plasma, dan protein total
serum sebelum dan selama terapi.

4/3/2011
5/3/2011
7/3/2011

Inj. amikacin

i.v

2x750 mg
1x750mg
2x500mg

1x
2x
5x

5/3/2011
7/3/2011
12/3/2011

dalam intravascular
kekurangan cairan
- kelas Antibiotik /
aminoglikosida untuk
menghambat
produksi
protein
bakteri, menyebabkan
kematian sel bakteri
(bakteri
terutama
gram negatif.)

-memeriksa
hipersensitivitas
terhadap aminoglikosida.
- monitoring efek ototoxicity dan
nefrotoksisitas karena umumnya
tidak diindikasikan untuk terapi
jangka panjang
- monitoring interaksi obat
(furosemide)
karena
dapat
meningkatkan risiko toksisitas
pendengaran
- memberitahu dokter dan
menghentikan infus jika pasien
memiliki tanda-tanda oliguria
atau menunjukkan tanda-tanda
gagal ginjal (misalnya, edema,
sesak
napas,
pruritus),
ototoksisitas
atau
reaksi
anafilaksis.
- edukasi terhadap pasien atau
keluarga jika pasien yang diare
dan perut kembung adalah efek
samping yang umum dari
antibiotik.
- menganjurkan pasien untuk
melaporkan tanda-tanda jika
terjadi hipersensitivitas, tinnitus,
vertigo, gangguan pendengaran
untuk dokter.

4/3/2011

Inj. Novalgin
(metamizole)

i.v

3x 1g

8x

12/3/2011

Analgesik, agen antiinflamasi golongan


( NSAID) untuk
mengatasi nyeri

-monitoring gangguan fungsi


ginjal dan gangguan fungsi hati.
-monitoring
efektifitas
menghilangkan nyeri

4/3/2011

Inj. Cernevit (vit.c)

i.v

2x400mg

8x

12/3/2011

Suplemen makanan
multivit harian untuk
pasien
nutrisi
parenteral.
Juga
diindikasikan dalam
situasi lain di mana
pemberian intravena
diperlukan,
seperti
luka bakar luas yang
memicu
keadaan
stress
dengan
peningkatan
kebutuhan metabolik
dan nutrisi jaringan
berkurang.

-memantau
cara
pemberian
Cernevit, yang mana tidak
diberikan
secara
langsung,
pemberian
intravena
tanpa
pengenceran
dapat
mengakibatkan pusing, pingsan,
dan kemungkinan iritasi jaringan.
-menghitung kebutuhan vitamin
harian
untuk mencegah over
dosis dan efek toksik. Pada pasien
yang akan menerima nutrisi
parenteral total dalam jangka
waktu lama, kadar vitamin A, C,
D dan asam folat dalam darah
harus dikontrol.
- Monitoring efek samping obat
walau jarang terjadi seperti ruam,
eritema, gatal,
Sakit kepala,
pusing, kekakuan otot, cemas,
atau urtikaria.

4/3/2011

Inj. Ranitidin

i.v

2x50 mg

8x

12/3/2011

Golongan Histamine
H2
antagonist
diindikasikan untuk
menghambat sekresi
asam lambung karena
pasien
hanya
menerima
nutrisi
parenteral (tidak bisa

- Monitoring CBC, hasil tes


ginjal dan fungsi hati secara
berkala.
- Beritahu dokter jika pasien
mengeluh perut sakit, mual,
muntah, perubahan warna atau
konsistensi tinja, dan penyakit
kuning.
- Memberitahu dokter jika pasien

intake makanan per


oral)
sehingga
lambung
dalam
keadaan kosong

mengalami
aritmia,
sakit
kepala,
kelelahan,
pusing,
halusinasi, depresi, insomnia,
alopesia, ruam atau eritema
multiforme, atau diare berat
atau persisten

5/3/2011

Inj. ketorolac

i.v

3x30 mg

1x

6/3/2011

Golongan
NSAID
untuk
mengurangi
inflamasi, nyeri dan
demam,melalui
penghambatan
aktivitas
siklooksigenase dan
sintesis
prostaglandin.

- Monitoring rasa nyeri


- Menilai fungsi ginjal sebelum
dan selama terapi. Memantau
serum kreatinin.
- Memantau tes fungsi hati.
memberitahu dokter jika tes
fungsi hati memburuk.
- Observasi adanya tanda-tanda
infeksi karena ketorolak dapat
menutupi tanda-tanda yang
biasa.

5/3/2011

Inj. Dexamethasone

i.v

2x5mg

1x

6/3/2011

Golongan
coticosteroid
antinyeri

- Memantau WBC
- Monitoring rasa nyeri
- Monitoring efek samping obat
dan memberitahu dokter jika
tanda-tanda overload cairan
meningkat (edema perifer,
peningkatan berat badan, rales /
ronki, dyspnea).

6/3/2011

Inj. Lasix
(furosemide)

i.v

1x40mg

1x

7/3/2011

untuk

-diuretic,
untuk
mengeluarkan
kelebihan cairan di
ekstravascular akibat
terlalu
banyak
penggunaan
furosemide

- Inkompatibel dengan normal


saline
- Monitoring interaksi obat. IO
dengan Aminoglikosida dapat
meningkatkan
toksisitas
pendengaran.
IO
dengan
Nonsteroidal anti-inflammatory
dapat
mengurangi
efek
furosemide.
- Mendapatkan
evaluasi

pendengaran awal.
- Memantau BP; nadi apikal;
berat; serum elektrolit, kalsium,
glukosa, asam urat, CO2, BUN
dan serum creatine ; CBC; dan
fungsi hati dan ginjal dan
memonitor secara teratur.
- Memberitahu
dokter
jika
perubahan mendadak dalam
status cairan dan elektrolit
dicatat.
- Memantau adanya tanda dan
gejala hipokalemia.
8/3/2011

Actrapid s.c

s.c

3 x 4 iu 15 ac

4x

12/3/2011

Insulin
untuk
menurunkan
gula
darah,
pasien
hiperglikemi karena
infus dextrose

- Monitoring gula dara GDP dan


GD2JPP

10/3/2011

Tramadol drip

i.v

3 x 100 mg/PZ 100 cc

1x

11/3/2011

Analgesik, anti nyeri


non
opiod.
Meredakan
nyeri
sedang sampai cukup
parah.

- Monitoring tanda-tanda vital


sebelum pemberian obat dengan
bantuan perawat Jika pasien
hipotensi
atau
dyspneic,
memberitahu dokter sebelum
memberikan.
- Memeriksa retensi urin.
- Menilai efektivitas obat dalam
menghilangkan rasa sakit.

9/3/2011

Esilgan p.o
(Midazolam)

p.o

1 x 2 mg

1x

10/3/2011

Anestesi, anti nyeri


golongan
benzodiazepine

- Mencatat
riwayat
hipersensitivitas
terhadap
benzodiazepin dan ada depresi
SSP.
- Terus memantau pasien untuk
hipoventilasi atau apnea.
- Membantu ambulasi setelah

prosedur sampai
menyelesaikan.
4/3/2011
10/3/2011

2x

Savlon topikal
(chlorhexidine
gluconate 1,5%
dan cetrimide
3,0%)

5/3/2011
11/3/2011

Antiseptik embantu
mencegah
infeksi,
membantu
dalam
penyembuhan alami
gangguan kulit ringan
untuk luka bakar

mengantuk

- Monitoring reaksi efek samping


atau alergi

ASUHAN KEFARMASIAN (PHARMACISTS CARE PLAN)

1. Masalah aktual dan potensial


2. Pemantauan efek terapi obat

3. Kepatuhan pasien
4. Pemilihan obat

5. Penghentian obat
6. Efek samping obat

7. Interaksi obat

TINDAKAN
NO.

TANGGAL

URAIAN MASALAH
(USULAN PADA KLINISI, PERAWAT, PASIEN)

1.

4-12/3/2011

2.

4-12/3/2011

3.

4-12/3/2011

- Efek samping amikacin tanda-tanda oliguria atau menunjukkan tanda- - Memberi tahu efek samping yang terjadi kepada dokter dan
tanda gagal ginjal (misalnya, edema, sesak napas, pruritus), ototoksisitas menghentikan infusdengan persetujuan dokter
atau reaksi anafilaksis.
- Meminta bantuan perawat untuk mengoptimalkan kepatuhan
- Pemakaian antibiotik selama 5-10 hari secara rutin agar tidak terjadi pasien terhadap terapi
resistensi
pemberian Cernevit tidak diberikan secara langsung, pemberian intravena Memberi pemahaman pada perawat cara pemberian cernevir
tanpa pengenceran dapat mengakibatkan pusing, pingsan, dan
kemungkinan iritasi jaringan.
Pada pasien yang akan menerima nutrisi multivitamin cernevit parenteral
total dalam jangka waktu lama, kadar vitamin A, C, D dan asam folat

Memberi saran ahli gizi untukmenghitung kebutuhan vitamin

4.

4-12/3/2011

5.

5-6/3/2011

6.

6-7/3/2011

dalam darah harus dikontrol.

harian untuk mencegah over dosis dan efek toksik

Efek samping Ranitidin pasien mengeluh perut sakit, mual, muntah,


perubahan warna atau konsistensi tinja, dan penyakit kuning., dan /atau
mengalami aritmia, sakit kepala, kelelahan, pusing, halusinasi, depresi,
insomnia, alopesia, ruam atau eritema multiforme, atau diare berat atau
persisten
Monitoring efek samping obat Dexamethasone overload cairan meningkat
(edema perifer, peningkatan berat badan, rales / ronki, dyspnea)

Beritahu dokter jika pasien mengeluhkan atau mengalami efek


samping obat

Terdapat interaksi obat. IO dengan Aminoglikosida dapat meningkatkan


toksisitas pendengaran. IO dengan Nonsteroidal anti-inflammatory dapat
mengurangi efek furosemide.
Efek samping dan interaksi obat furosemide

Insulin memiliki efek terapi menurunkan gula darah

Memberitahu dokter jika tanda-tanda dialaami pasien

Memberi tahu dokter jika terdapat interaksi obat

Menyarankan perawat melakukan evaluasi pendengaran awal dan


memantau BP; nadi apikal; berat; serum elektrolit, kalsium,
glukosa, asam urat, CO2, BUN dan serum creatine ; CBC; dan
fungsi hati dan ginjal dan memonitor secara teratur
Memberitahu dokter jika perubahan mendadak dalam status
cairan dan elektrolit dicatat.
Monitoring gula dara GDP dan GD2JPP dengan bantuan perawat

7.

8-12/3/2011

8.

10-11/3/2011

- Monitoring tanda-tanda vital sebelum pemberian obat tramadol dengan


bantuan perawat Jika pasien hipotensi atau dyspneic, memberitahu dokter
sebelum memberikan.
- Memeriksa retensi urin.
- Menilai efektivitas obat dalam menghilangkan rasa sakit.

Meminta bantuan perawat untuk monitoring tanda-tanda vital dan


meminta bantuan sampel urin

9.

9-10/3/2011

10.

4-12/3/2011

11.

12/3/2011

Mencatat riwayat hipersensitivitas terhadap midazolam (benzodiazepin)


dan ada depresi SSP serta efek samping obat
Efek samping metamizole menyebabkan Tekanan Darah berubah-ubah
secara drastis
Infus KAEN Mg3 memiliki efek samping hipoglikemia

Meminta bantuan perawat untuk terus memantau pasien jika


terjadi hipoventilasi atau apnea.
Meminta bantuan perawat untuk selalu memantau tekanan darah
pasien
Memantau kadar K pasien

12.

12/3/2011

Nyeri pasien sudah berangsung berkurang

Menghentikan beberapa obat penghilang


dexamethasone dengan persetujuan dokter

MONITORING
NO.
1.
2.
3.

4.

PARAMETER
Rasa nyeri
Rasa lemas
Fungsi hati (AST,ALT, ALB)

5.
6.

Fungsi ginjal ( serum kreatinin, BUN, atau


menunjukkan tanda-tanda gagal ginjal
misalnya, edema, sesak napas, pruritus)
Kadar elektrolit (Kalium)
Tekanan darah

7.
8.
9.
10.

Gula darah GDP dan GD2JPP


CBC
WBC
Evaluasi pendengaran

11.
12.
13.

Alergi (ruam, gatal, dll.)


Albumin
Hct

TUJUAN MONITORING
Untuk mengetahui ekektifitas potensi anti nyeri
Untuk mengetahui target terapi nutrisi infus tercapai
Untuk mengetahui fungsi hati akibat efek samping penggunaan
NSAID
dan
obat
lain
(metamizole,ketorolac,
furosemide,ranitidin)
Untuk mengetahui fungsi hati akibat efek samping penggunaan
NSAID dan obat lain seperti (amikacyn, metamizole,ketorolac,
furosemide)
Untuk mengetahui kadar kalium setelah infus KAEN Mg
Untuk mengetahui perubahan tekanan darah yang sering berubah
drastis efek samping metamizole
Untuk mengetahui efektifitas terapi insulin
Monitoring Efek samping dan interaksi obat furosemide
Monitoring efek samping terapi dexamethasone
monitoring interaksi obat (furosemide) dengan aminoglycoside
amikacyn karena dapat meningkatkan risiko toksisitas
pendengaran
Monitoring hipersensitif terhadap obat terutama antibiotik
Monitoring kadar albumin
Monitoring efek samping albumin

nyeri

seperti

LEMBAR KONSELING
No.

1.

Sasaran
Konseling
Pasien dan/atau
keluarga

Uraian

Rekomendasi/Saran

- Efek terapi antibiotik amikacin


- Efek samping amikacin : Hipersensitivitas,
tinnitus, vertigo, gangguan pendengaran.

Memperingatkan bahwa diare dan perut kembung adalah efek samping yang umum dari
antibiotik.
Memberitahu dokter jika pasien mengalami efek samping

Efek samping ranitidin seperti sakit perut, mual,


muntah, perubahan warna atau konsistensi tinja,
tinja berwarna hitam atau emesis; ikterus, sakit
kepala, kelelahan yang berlebihan, pusing,
memar yang tidak biasa atau perdarahan,
petechiae, ruam atau sesak napas.

Menyarankan untuk melaporkan gejala-gejala tersebut ke dokter

Efek smaping albumin : Demam, menggigil,


sakit kepala, sakit punggung.

menganjurkan pasien untuk melaporkan gejala berikut untuk dokter:

Efek samping ketorolac : ruam kulit, gatal-gatal,


gangguan penglihatan, kenaikan berat badan,
edema, tinja berwarna hitam atau sakit kepala
terus-menerus.

menganjurkan pasien untuk melaporkan gejala-gejala tersebut ke dokter.

Efek samping furosemide : Indikasi kelemahan,


pusing, kebingungan mental, anoreksia, lesu,
muntah, kram, sakit kepala terus-menerus atau
demam, sakit perut, diare, cepat atau tidak
teratur denyut jantung, menguning kulit atau
mata, atau dyspnea.

menganjurkan pasien untuk melaporkan gejala tersebut untuk dokter:

Monitoring efek samping obat dexamethasone


overload cairan meningkat (edema perifer,

memberitahu dokter jika tanda-tanda tersebut terjadi

Menyarankan pasien untuk mengurangi stres

peningkatan berat badan, rales / ronki, dyspnea).

Efek samping midazolam sedasi.

Memberitahu bahwa obat midazolam dapat menyebabkan kantuk

2.

Ahli gizi

Pada pasien yang akan menerima nutrisi


multivitamin cernevit parenteral total dalam
jangka waktu lama, kadar vitamin A, C, D dan
asam folat dalam darah harus dikontrol.

Memberi saran ahli gizi untukmenghitung kebutuhan vitamin harian untuk mencegah over
dosis dan efek toksik

3.

Dokter

Monitoring efek samping obat Dexamethasone


overload cairan meningkat (edema perifer,
peningkatan berat badan, rales / ronki, dyspnea)

Memberitahu dokter jika tanda-tanda dialaami pasien dan menghentikan terapi dengan
persetujuan dokter

4.

Perawat

Terdapat interaksi obat.


IO dengan Memberi tahu dokter jika terdapat interaksi obat
Aminoglikosida dapat meningkatkan toksisitas
pendengaran. IO dengan Nonsteroidal antiinflammatory
dapat
mengurangi
efek
furosemide.
Efek samping dan interaksi obat furosemide
Menyarankan perawat melakukan evaluasi pendengaran awal dan memantau BP; nadi
apikal; berat; serum elektrolit, kalsium, glukosa, asam urat, CO2, BUN dan serum creatine ;
CBC; dan fungsi hati dan ginjal dan memonitor secara teratur Memberitahu dokter jika
perubahan mendadak dalam status cairan dan elektrolit dicatat.
Insulin memiliki efek terapi menurunkan gula Monitoring gula dara GDP dan GD2JPP dengan bantuan perawat
darah
- Monitoring
tanda-tanda
vital
sebelum Meminta bantuan perawat untuk monitoring tanda-tanda vital dan meminta bantuan sampel
pemberian obat tramadol dengan bantuan urin
perawat Jika pasien hipotensi atau dyspneic,
memberitahu dokter sebelum memberikan.
- Memeriksa retensi urin.
- Menilai efektivitas obat dalam menghilangkan
rasa sakit.

Mencatat riwayat hipersensitivitas terhadap


midazolam (benzodiazepin) dan ada depresi
SSP serta efek samping obat
Efek samping metamizole menyebabkan
Tekanan Darah berubah-ubah secara drastis
Infus KAEN Mg3 memiliki efek samping
hipoglikemia
Nyeri pasien sudah berangsung berkurang

Meminta bantuan perawat untuk terus memantau pasien jika terjadi hipoventilasi atau apnea.

Meminta bantuan perawat untuk selalu memantau tekanan darah pasien


Memantau kadar K pasien
Menghentikan beberapa obat penghilang nyeri seperti dexamethasone dengan persetujuan
dokter

TUGAS TAMBAHAN
Ada beberapa rumus yang sudah di kembangkan oleh berbagai pusat perawatan untuk
menghitung kebutuhan cairan pada penderita luka bakar. Diantaranya rumus Brooke,Evan
dan Parkland. Dua sistem yang sering digunakan adalah Modifikasi Brooke dan Parkland.
Kedua rumus ini menghitung kebutuhan cairan berdasarkan luas daerah luka bakar di kali
berat pasien dalam kilo gram, dikali volume larutan Ringer yang akan diberikan dalam 24
jam pasca-luka bakar. Pada kedua perhitungan,setengah jumlah cairan diberikan dalam 8 jam
pertama resusitasi, dengan seperempat dari seluruh jumlah semula diberikan tiap 8 jam
berikutnya.
Formula yang terkenal untuk resusitasi cairan adalah formula Parkland :
24 jam pertama,Cairan Ringer laktat : 4ml/kgBB/%luka bakar
o contohnya pria dengan berat 80 kg dengan luas luka bakar 25 %
o membutuhkan cairan : (25) X (80 kg) X (4 ml) = 8000 ml dalam 24 jam pertama

jumlah cairan 4000 ml diberikan dalam 8 jam


jumlah cairan sisanya 4000 ml diberikan dalam 16 jam berikutnya.

Cara lain adalah cara Evans :


l. Luas luka bakar dalam % x berat badan dalam kg = jumlah NaCl / 24 jam
2. Luas luka bakar dalam % x berat badan dalam kg =jumah plasma / 24 jam
Separuh dari jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama, sisanya diberikan dalam
16 jam berikutnya. Pada hari kedua diberikan setengah jumlah cairan pada hari pertama. Dan
hari ketiga diberikan setengah jumlah cairan hari kedua.
Cara lain yang banyak dipakai dan lebih sederhana adalah menggunakan rumus Baxter yaitu :

% x BB x 4 cc
Separuh dari jumlah cairan ini diberikan dalam 8 jam pertama, sisanya diberikan
dalam 16 jam berikutnya. Hari pertama terutama diberikan elektrolit yaitu larutan RL karena
terjadi defisit ion Na. Hari kedua diberikan setengah cairan hari pertama. Contoh : seorang
dewasa dengan BB 50 kg dan luka bakar seluas 20 % permukaan kulit akan diberikan 50 x 20
% x 4 cc = 4000 cc yang diberikan hari pertama dan 2000 cc pada hari.
Jadi, jawaban menggunakan perhitungan Baxter : % luka bakar x BB x 4cc = 22% x
70x 4cc = 6160cc, 3080cc pada 8 jam pertama, 16 jam berikutnya sisanya, pada hari kedua
3080cc saja.

DAFTAR PUSTAKA
Arif .2009. SK: Terapi Cairan pada Luka Bakar berat. In: Harijianto E, ed. Panduan
tatalaksana terapi cairan perioperatif. Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan
Reanimasi Indonesia; P. 193-206
Brunner & Suddarth, 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi Kedelapan,
Volume Pertama. EGC. Jakarta.
David C Sabiston. 1995. Buku Ajar Bedah. Jakarta: EGC
David S. Perdanakusuma, 2006, Penanganan Luka Bakar, Airlangga University Press.
Surabaya.
Gallagher RM. 1999. Primary care and pain medicine: A community solu- tion to the public
health problem of chronic pain. Med Clin North Am
Grunwald TB, Garner WL. 2008. Acute Burns. Plast Reconstr Surg;121:311e-9e.
Mehta NM, Compher C. A.S.P.E.N. 2009. Clinical guidelines: Nutrition support of the
critically ill child. Journal of parenteral and enteral nutrition; 33(3):260-76.
Moenadjat, 2003. Luka Bakar, Pengetahuan Klinis Praktis,Edisi Kedua, Cetakan
Kedua.Fakultas KedokteranUniversitas Indonesia. Jakarta.
Pasero C, Paice JA, McCaffery M. 1999.Basic mechanisms underlying the causes and effects
of pain. In: McCaffery M, Pasero C, eds. Pain. St. Louis: Mosby.
R Sjamsuhidajat, Wim De Jong. 2007. Buku Ajar Ilmu Bedah. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta.
Sjaifudin Noer. 2006. Penanganan Luka Bakar. Airlangga University Press. Surabaya.
Sullivan, M.M, et al. 2001. Respirology; 6:43-50.
Yurt RW, Howell JD. 2008. Greenwald BM. Burns, electrical injuries, and smoke inhalation.
Dalam: Nichols DG, penyunting. Roger's textbook of pediatric intensive care. Edisi ke- 4.
Philadelphia: Lippincott Williams&Wilkins. hlm. 414-25.