Anda di halaman 1dari 15

BAB I

A. PENDAHULUAN
Anak memiliki suatu ciri yang khas yaitu tumbuh dan berkembang sejak saat
konsepsi sampai berakhirnya masa remaja. Perkembangan merupakan sederetan
perubahan fungsi organ tubuh yang berkelanjutan, teratur dan saling berkaitan.
Berbagai masalah perkembangan anak seperti keterlambatan motorik, berbahasa,
perilaku, autisme, hiperaktif, dalam beberapa tahun terakhir ini semakin meningkat,
angka kejadian di Amerika serikat berkisar 12-16%, Thailand 24%, dan Argentina
22%, di Indonesia antara 13%-18%. [1]
Lima tahun pertama kehidupan seorang anak merupakan masa kritis
perkembangan karena pada masa ini terbentuknya dasar-dasar kepribadian manusia,
kemampuan pengindraan, berpikir, ketrampilan berbahasa, berbicara, bertingkah laku
sosial dan sebagainya. Untuk mengurangi masalah perkembangan, perlu dilakukan
upaya pencegahan sedini mungkin yaitu dengan melakukan deteksi dini. Salah satu
cara deteksi dini perkembangan yang sistematik, komprehensif, efektif, dan efisien
adalah metoda skrining yang dapat dilakukan secara informal maupun formal. [1]
Dokter maupun tenaga kesehatan adalah profesi yang paling mungkin
melakukan deteksi dini keterlambatan perkembangan anak pada saat orangtua
membawa anaknya untuk pemeriksaan rutin ataupun berobat karena sakit. Mereka
akan selalu mendengarkan keluhan dan cerita orang tua pasien. Walaupun demikian
hanya sebagian dokter yang melakukan skrining secara rutin di tempat praktek. Di
Amerika hanya 30% dokter anak yang melakukan skrining secara formal. Hal ini
mungkin disebabkan keterbatasan waktu, pengetahuan, dan keterampilan dalam
melakukan skrining. [1]
Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) merupakan salah satu alat
skrining yang diwajibkan oleh Depkes (Departemen Kesehatan) untuk digunakan di
tingkat pelayanan kesehatan primer. KPSP sangat mudah digunakan baik oleh
petugas kesehatan bahkan bagi guru TK (Taman Kanak-kanak), guru PAUD
(Pendidikan Anak Usia Dini), maupun orangtua untuk mendeteksi dini adanya
1

kelainan perkembangan anak sejak usia 3 bulan hingga 72 bulan sehingga dengan
cepat dapat dilakukan intervensi dini.[10]

BAB II
ISI
A. PERKEMBANGAN ANAK
1) Definisi Perkembangan Anak
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), perkembangan adalah
bertambahnya kemampuan dan struktur /fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam
pola yang teratur, dapat diperkirakan dan diramalkan sebagai hasil dari proses
diferensiasi sel, jaringan tubuh, organ-organ, dan sistemnya yang terorganisasi.
Perkembangan adalah perubahan secara berangsur-angsur

dan bertambah

sempurnannya fungsi alat tubuh, meningkat, dan meluasnya kapasitas seseorang


melalui pertumbuhan, kematangan, atau kedewasaan

(maturation), dan

pembelajaran (learning).[2]

2) Ciri Perkembangan
Perkembangn memiliki karakteristik yang dapat diramalkan dan memiliki
ciri-ciri sehingga dapat diperhitungkan. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut:
a. Perkembangan adalah proses yang kontinu dari konsepsi sampai maturasi.
Perkembangan sudah terjadi sejak didalam kandungan, dan setelah kelahiran
merupakan suatu masa dimana perkembangan dapat dengan mudah diamati. [2]
b. Dalam periode tertentu ada masa percepatan atau masa perlambatan. Terdapat 3
periode pertumbuhan cepat, yaitu pada masa janin, masa bayi, dan masa
pubertas. [2]
c. Perkembangan memiliki pola yang sama pada setiap anak, tetapi kecepatannya
berbeda. [2]

d. Perkembangan dipengaruhi maturasi sitem saraf pusat. Bayi akan menggerakkan


seluruh tubuhnya, tangan dan kakinya kalau melihat sesuatu yang menarik, tetapi
pada anak yang lebih besar reaksinya hanya tertawa atau meraih benda tersebut.
[2]

e. Arah perkembangan anak anak adalah sefalokaudal. [2]


f. Reflex primitive seperti reflex memegang akan menghilang sebelum gerakan
volunter tercapai. [2]

3) Faktor Perkembangan
Pada umumnya anak memiliki pola perkembangan normal yang merupakan
hasil interaksi banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan anak. Adapun
faktor-faktor tersebut antara lain:
a. Faktor dalam (Internal) meliputi:
Ras/ etnik atau bangsa, keluarga, umur, jenis kelamin, genetic, dan kelainan
kromosom.[3]
a) Perbedaan ras, etnis, atau bangsa
Tinggi badan orang Indonesia atau bangsa lainnya, dengan demikian postur
tubuh tiap bangsa berlainan. [3]
b) Keluarga
Ada keluarga yang cenderung mempunyai tubuh gemuk atau perawakan
pendek. [3]
c) Umur
Masa prenatal, masa bayi, dan masa remaja merupakan tahap yang
mengalami pertumbuhan cepat dibandingkan dengan masa lalu. [3]
d) Jenis kelamin
Wanita akan mengalami masa prapubertas lebih dahulu dibandingkan dengan
laki-laki. [3]
e) Kelainan kromosom
Dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan, misalnya sindroma down. [3]
3

b. Faktor Luar (Eksternal)


a) Faktor Prenatal
Nutrisi ibu hamil akan memengaruhi pertumbuhan janin, terutama
selama trimester akhir kehamilan. Mekanis. Posisi janin yang abnormal dalam
kandungan dapat menyebabkan kelainan congenital, misalnya club foot, Toksin,
zat kimia, radiasi, Kelainan endokrin, Infeksi TORCH atau penyakit menular
seksual, Kelainan imonulogi, Psikologis ibu. [3]
b) Faktor Perinatal
Faktor yang mempengaruhi selama masa persalinan, meliputi proses
kelahiran, misalnya terjadi trauma pada saat kelahiran atau adanya infeksi pada
jalan lahir, kesemuanya berpengaruh terhadap proses perkembangan anak
kedepannya. [3]
c) Faktor Pascanatal
Selain faktor lingkungan intrauteri, lingkungan setelah anak lahir yang
juga dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak misalnya budaya lingkungan,
sosial ekonomi keluarga, nutrisi, iklim atau cuaca, kebiasaan berolahraga, posisi
anak dalam keluarga, dan stasus kesehatan. [3]
1) Budaya ligkungan
Budaya lingkungan dalam hal ini adalah masyarakat dapat
mempengaruhi tumbuh kembang anak dalam memahami atau mempersiapkan
pola hidup sehat. Sebagai contoh, anak dalam usia tumbuh kembang
membutuhkan makanan yang bergizi, namun karena adanya adat atau budaya
tertentu dilarang makan tertentu, padahal makanan tersebut dibutuhkan untuk
perbaikan gizi. Contoh yang lain adalah perbedaan budaya kehidupan kota dan
kehidupan desa dalam waktu tidur. Di kota karena banyak hiburan dan saluran
TV sampai malam. Kebiasaan ini kemungkinan besar dapat mempengaruhi
tumbuh kembang. [3]

2) Stasus sosial ekonomi


Stasus sosial ekonomi juga dapat mempengaruhi tumbuh kembang
anak. Hal ini dapat terlihat anak dengan sosial ekonomi tinggi, tentunya
pemenuhan kebutuhan gizi sangat cukup baik dibandingkan dengan anak dengan
sosial ekonominya rendah. Stasus pendidikan keluarga juga menjadi salah satu
faktor tumbuh kembang anak. Keluarga dengan tingkat pendidikan rendah
biasanya sulit menerima arahan dalam pemenuhan gizi dan sulit diyakinkan
mengenai pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi atau pentingnya pelayanan
kesehatan lain yang menunjang tumbuh kembang anak. [3]
3) Nutrisi
Nutrisi adalah salah satu komponen penting yang menunjang
kelangsungan proses tumbuh kembang. Selama masa tumbuh kembang, anak
sangat membutuhkan zat gizi seperti protein, karbohidrat, lemak, mineral,
vitamin, dan air. Apabila kebutuhan tersebut tidak atau kurang terpenuhi, maka
proses tumbuh kembang selanjutnya dapat terhambat. [3]
4) Iklim / cuaca
Iklim atau cuaca juga menjadi salah satu faktor tumbuh kembang anak.
Pada musim tertentu, makanan bergizi dapat mudah diperoleh, atau sebaliknya,
justru menjadi sulit diperoleh. Misalnya pada musim kemarau, sumber makanan
atau hasil panen sebagai faktor pemenuhan gizi anak menjadi terbatas karena
berkurangnya kadar air dalam tanah. [3]
5) Olahraga / latihan fisik
Olahraga atau latihan fisik dapat memacu perkembangan anak karena
meningkatkan sirkulasi darah sehingga pasokan oksigen ke seluruh tubuh
menjadi teratur. Hal ini selanjutnya dapat meningkatkan stimulasi perkembangan
otot dan pertumbuhan sel. Dari sisi aspek sosial, anak dapat berinteraksi dengan
teman-teman sesuai dengan jenis olahraga yang ditekuni. [3]
6) Posisi anak dalam keluarga

Posisi anak dalam keluarga dapat mempengaruhi tumbuh kembangnya.


Pada anak pertama atau tunggal, secara umum kemampuan intelektualnya lebih
menonjol dan cepat berkembang karena sering berinteraksi dengan orang
dewasa. Namun, perkembangan motoriknya kadang-kadang terlambat karena
tidak ada stimulasi yang biasanya dilakukan saudara kandungnya. Sedangkan
pada anak kedua atau anak yang berada di tengah, kepercayaan diri orang tua
yang sudah merasa biasa dalam merawat anak akan membuat anak lebih cepat
dan mudah beradaptasi, namun perkembangan intelektual mereka mungkin tidak
senaik anak pertama. Meskipun demikian, kecenderungan tersebut juga
tergantung pada keluarga. [3]
7) Stasus kesehatan
Stasus kesehatan anak dapt mempengaruhi pada pencapaian tumbuh
kembang. Pada anak dengan kondisi tubuh yang sehat, percepatan untuk tumbuh
kembang sangat mudah. Namun sebalikanya, apabila kondisi stasus kesehatan
kurang baik, akan terjadi perlambatan. Sebagai contoh, pada saat anak
seharusnya mencapai puncak dalam tumbuh kembang namun mengalami
penyakit kronis, maka pencapaian kemampuan untuk maksimal dalam tumbuh
kembang tersebut akan mengalami hambatan. [3]
8) Faktor hormonal
Faktor hormonal yang mempengaruhi tumbuh kembang anak
diantaranya adalah somatotropin (hormon pertumbuhan) yang menstimulasi
terjadinya proliferasi sel kartilago dan system skeletal untuk pertumbuhan tinggi
badan, hormon tiroid yang menstimulasi pertumbuhan sel interstisial dari testis
untuk memproduksi testoteron dan ovarium untuk memproduksi estrogen, yang
selanjutnya akan menstimulasi perkembangan seks, baik pada anak laki-laki
maupun perempuan sesuai dengan peran hormonnya. [3]

4) Kebutuhan Dasar Dalam Perkembangan


Kebutuhan dasar anak untuk berkembang secara garis besar dapat
digolongkan, yaitu : [4]
a) Kebutuhan Fisik (Asuh)
Menunjukkan kebutuhan fisik biomedis, dalam hal ini yang terpenting
adalah nutrisi yang lain perawatan kesehatan dasar (Imunisasi, pemberian ASI),
sandang pangan dan rekreasi. [4]
b) Kebutuhan Emosi Atau Kasih Sayang (Asih).
Pada tahun-tahun pertama kehidupan, hubungan yang erat, mesra dan
selaras antara ibu dan anak merupakan syarat mutlak untuk menjamin tumbuh
kembang yang selaras baik fisik, mental, maupun psikososial. Kasih sayang dari
orangtua akan menciptakan ikatan yang erat dan kepercayaan dasar. [4]
c) Kebutuhan Akan Stimulasi (Asah).
Stimulasi merupakan cikal bakal dalam proses belajar pada anak
(pendidikan dan pelatihan). Asah ini mengembangkan perkembangan mental
psikososial,

kecerdasan,

keterampilan,

kemandirian,

kreativitas,

agama,kepribadia, moral, etika, dan produktivitas.[4]


5) Tahap Perkembangan Anak
a. Perkembangan 0-3 tahun
Pada proses perkembangan ditandai oleh semakin bertambahnya kemampuan
anak. Bagian Psikologi fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bersama Unit
Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia menyusun beberapa tahapan praktis
tumbuh kembang anak, yaitu sebagai berikut. Perubahan dalam pertumbuhan
diawali dengan perubahan berat badan pada usia 0 3 bulan. Bila gizi bayi cukup
maka, perkiraan berat badan akan mencapai 700-1000 gram/bulan sedangkan
pertumbuhan tinggi badan agak stabil tidak mengalami kecepatan dalam
pertumbuhan tinggi badan. Perkembangan pada usia ini dapat dilihat dari : [2]
a. 4-6 minggu : tersenyum spontan, dapat mengeluarkan suara 1-2 minggu
kemudian. [2]
7

b.12-16 minggu : menegakkan kepala, tengkurap sendiri, menoleh ke arah suara,


memegang benda yang ditaruh di tangannya, mengangkat kepala 90 derajat dan
mengangkat dada dengan bertopang tangan. [2]
c. 20 minggu : meraih benda yang didekatkan kepadanya, menaruh benda-benda di
mulutnyaa. [2]
d.26 minggu : dapat memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lainnya, duduk
dengan bantuan kedua tangannya ke depan, makan biskuit sendiri. [2]
Pada umur 3 6 bulan, pertumbuhan dapat menjadi 2 kali berat badan pada
waktu lahir dan rata-rata kenaikan 500-600 gram/bulan apabila mendapat gizi
yang baik. Sedangkan tinggi badan tidak mengalami kecepatan dalam
pertumbuhan dan terjadi kestabilan berdasarkan pertambahan umur.[4]
Masa emas (golden age) perkembangan anak terjadi pada usia prasekolah
dimana 80% perkembangan kognitif telah dicapai pada masa ini. Perkembangan
kognitif anak harus mendapat stimulasi agar dapat berkembang optimal.[7]
Hasilhasil studi dibidang neurologi mengetengahkan antara lain bahwa
perkembangan kognitif anak telah mencapai 50% ketika anak berusia 4 tahun,
80% ketika anak berusia 8 tahun, dan genap 100% ketika anak berusia 18 tahun .
Studi tersebut makin menguatkan pendapat para ahli sebelumnya, tentang
keberadaan masa peka atau masa emas (golden age) pada anakanak usia dini.
Masa emas perkembangan anak yang hanya datang sekali seumur hidup tidak
boleh disiasiakan. Hal itu yang memicu makin mantapnya anggapan bahwa
sesungguhnya pendidikan yang dimulai setelah usia SD tidaklah benar.
Pendidikan harus sudah dimulai sejak usia dini supaya tidak terlambat. Sehingga
penting bagi anak untuk mendapatkan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).[7]

b. Perkembangan Anak usia 3-5 tahun


Selama masa prasekolah yaitu usia 3-5 tahun, baik anak laki-laki maupun
perempuan menjadi ramping. Meskipun kepala mereka masih agak besar bagi
tubuh mereka, pada akhir masa prasekolah, sebagian besar anak terlihat tidak lagi
8

memiliki kepala yang terlihat berat. Lemak tubuh juga menunjukkan


perlambatan, menurun stabil selama tahun-tahun prasekolah. [2]
Sebuah tinjauan terhadap berat badan dan tinggi badan anak-anak diseluruh
duniamenyimpulkan bahwa dua contributor terpenting perbedaan tinggi badan
adalah etnis asal dan nutrisi. [2]
Salah satu perkembangan fisik yang paling penting selama masa kanak-kanak
awal adalah perkembangan lanjutan otak dan system saraf. Pada usia 3 tahun
ukuran otak tiga perempat ukuran otak dewasa. [2]
Anak-anak

mengembangkan

rasa

penguasaan

akan

sesuatu

melalui

peningkatan kemampuan keterampilan motorik kasar seperti berjalan dan berlari.


Meningkatkan

keterampilan

motorik

halus

juga

berkontribusi

dalam

timbulnyarasa penguasaan anak ditahun kedua. [2]


1) Keterampilan motorik kasar
Pada usia 3 tahun, anak-anak menikmati gerakan-gerakan sederhana seperti
meloncat, melompat, dan berlari bolak-balik yang ia lakukan hanya semata
mata senang melakukan aktivitas tersebut. Pada usia 4 tahun, anak-anak masih
menikmati jenis aktivitas yang sama, tetapi mereka lebih senang berpetualang.
Pada usia 5 tahun, anak-anak menjadi lebih senang berpetualang dibandingkan
saat berusia 4 tahun. Anak usia 5 tahun berlari lebih cepat dan senagn adu cepat
antara satu sama lain. [3]
2) Keterampilan motorik halus
Padausia 3 tahun, anak-anak menunjukkan kemampuan yang lebih matang untuk
mencari dan menangani sesuatu dibandingkan ketika mereka amsih bayi. Mereka
dapat membangun sebuah menara balok dan agak kasar dalam menempatkan
potongan-potongan puzzle. Pada usia 4 tahun, koordinasi motorik halus anakanak telah meningkat secara substansial dan lebih tepat. Anak-anak usia 4 tahun
memiliki masalah dalam membangun menara tinggi dengan balok karena mereka
ingin menempatkan setiap balok lebih sempurna. Pada usia 5 tahun, koordinasi

motorik halus dari anak-anak meningkat. Tangan, lengan, dan tubuh semua
bergerak bersama lebih baik. [3]

3) Perkembangan bahasa
Anak usia prasekolah dapat menciptakan kombinasi tiga, empat, dan lima
kata. Selama tahun usia prasekolah, kebanyakan anak sensitif tehadap bunyi
kata-kata yang diucapkan dan menjadi semakin mampu memproduksi semua
bunyi dan bahasa mereka. Pada saat anak usia 3 tahun, mereka dapat
menyebutkan semua bunyi vocal dan konsonan. Anak juga belajar menerapkan
aturan sintaksis. Mereka semakin menunjukkan penguasaan aturan kompleks
mengenai penyusunan kata-kata yang benar. Sekitar usia 4-5 tahun, anak belajar
untuk mengubah gaya berbicara dan sopan santun, serta menjadi peka terhadap
kebutuhan untuk menyesuaikan ucapan mereka dalam situasi yang berbeda.[2]
Sejak lahir sampai usia 3 tahun anak memiliki kepekaan sensoris dan
daya pikir yang sudah mulai dapat menyerap pengalamanpengalaman melalui
sensorinya; usia satu setengah tahun sampai kirakira 3 tahun mulai memiliki
kepekaan bahasa dan sangat tepat untuk mengembangkan bahasanya (berbicara,
bercakap-cakap).[7]
4) Perkembangan Psikoemosional
Pada sekitar usia 4-5 tahun, anak mulai menggunakan deskripsi diri
seperti sifat dan menunjukkan banyak pemahaman diri dan pemahaman terhadap
orang lain. Anak-anak menunjukkan kemampuan untuk mencerminkan dan
memahami bahwa satu aktivitas dapat menimbulkan emosi yang berbeda pada
orang yang berbeda. Perkembangan moral melibatkan pikiran, perasaan, dan
perilaku mengenai aturan dalam berinteraksi dengan orang lain.[5]

6) Epidemiologi Penyimpangan Perkembangan Balita


Penyimpangan perkembangan Balita dapat terjadi pada setiap Balita, di
Amerika terdapat 1 dari 100 Balita mengalami penyimpangan perkembangan, di
10

Asia 0,25% Balita yang mengalami penyimpangan perkembangan, di Indonesia


ditemukan 5% dari jumlah Balita yang mengalami penyimpangan perkembangan,
sedangkan untuk daerah Jawa Timur diperkirakan 44 Balita yang mengalami
penyimpangan perkembangan pada setiap Kabupaten yang ada.[2]

B. KPSP (KUISIONER PRA SKRINING PERKEMBANGAN)


1) Definisi
Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) adalah suatu daftar pertanyaan
singkat yang ditujukan kepada para orang tua dan dipergunakan sebagai alat
untuk melakukan skrining pendahuluan perkembangan anak usia 3 bulan sampai
dengan 6 tahun. Bagi tiap golongan umur terdapat 10 pertanyaan untuk orang tua
atau pengasuh anak. Untuk memudahkan, selanjutnya Kuesioner Pra Skrining
Perkembangan disebut KPSP.[1,6,9]
Kuesioner Pra Skrining perkembangan (KPSP) merupakan skrining
perkembangan yang mudah dilakukan oleh tenaga kesehatan, bahkan oleh guru
sekolah atau orangtua anak.[10]
KPSP merupakan hasil terjemahan PDQ (Parent Developmental Questions)
dikembangkandari DDST (Denver Developmental Screening Test), sedangkan
sebagai gold standard digunakan DENVER II yang merupakan revisi dari
DDST. [10]
2) Tujuan KPSP
KPSP dipakai untuk mengetahui perkembangan anak normal atau ada
penyimpangan.[1,9]
3) Cara Menggunakan KPSP
Penentuan usia formulir KPSP dilakukan dengan cara: Bila anak berusia
diantaranya maka KPSP yang digunakan adalah yang lebih kecil dari usia anak.
Contohnya adalah bila bayi umur umur 7 bulan maka yang digunakan adalah
KPSP 6 bulan. Bila anak ini kemudian sudah berumur 9 bulan yang diberikan
adalah KPSP 9 bulan. [8]
11

Tentukan umur anak dengan menjadikannya dalam bulan. Bila umur anak
lebih

dari

16

hari

dibulatkan

menjadi

bulan.

[8]

Contohnya bila bayi umur 3 bulan 16 hari dibulatkan menjadi 4 bulan bila
umur bayi 3 bulan 15 hari dibulatkan menjadi 3 bulan.[8]

4) Cara Melakukan Pemeriksaan Ulang Dengan KPSP


Pemeriksaan ulang dengan menggunakan KPSP dilaksanakan pada tiga
keadaan dibawah ini : Hasil KPSP negatif atau jumlah jawaban Ya = 9 atau 10,
pemeriksaan ulang dapat dilakukan.[6,9]
a) Tiap 3 bulan untuk usia dibawah 12 bulan. [6,9]
b) Tiap 6 bulan untuk usia 12 sampai 72 bulan. [6,9]
Walaupun demikian pemeriksaan yang lebih sering akan lebih baik. Hasil
KPSP dengan jawaban Ya = 7 atau 8, pemeriksaan ulang dilakukan satu minggu
kemudian setelah pemeriksaan pertama. Hasil KPSP dengan jawaban Ya =
kurang dari 7 atau pemeriksaan ulang tetap 78, anak perlu dirujuk kefasilitas
pelayanan kesehatan yang lebih lengkap. [6,9]

5) Instrumen yang Digunakan


a) Formulir KPSP menurut umur. Formulir ini berisi 910 pertanyaan tentang
kemampuan perkembangan yang telah dicapai anak. Sasaran KPSP anak umur 0
72 bulan. [6,9]
b) Alat bantu pemeriksaan berupa pensil, kertas, bola sebesar bola tenis,
kerincingan, kubus berukuran sisi 2,5 cm sebanyak 6 buah, kismis, kacang tanah,
potongan biskuit kecil berukuran 0,51 cm. [6,9]
6) Interpretasi hasil KPSP
a. Hitunglah berapa jumlah jawaban Ya. [1,9]
b. Apabila jumlah jawaban Ya = 9 atau 10, perkembangan anak sesuai (S) dengan
tahap perkembangannya. [1,9]

12

c. Apabila jumlah jawaban Ya = 7 atau 8, perkembangan anak meragukan (M),


tentukan jadwal untuk dilakukan pemeriksaan ulang dua minggu kemudian. [1,9]
d. Apabila jumlah jawaban Ya = 6 atau kurang, kemungkinan ada penyimpangan
(P) maka anak tersebut memerlukan pemeriksaan lebih lanjut atau dirujuk. [1,9]
Untuk Anak dengan Perkembangan SESUAI (S)

Orangtua/pengasuh anak sudah mengasuh anak dengan baik. [8]

Pola asuh anak selanjutnya terus lakukan sesuai dengan bagan stimulasi
sesuaikan dengan umur dan kesiapan anak. [8]

Keterlibatan orangtua sangat baik dalam tiap kesempatan stimulasi. Tidak


usah mengambil momen khusus. Laksanakan stimulasi sebagai kegiatan
sehari-hari yang terarah. [8]

Ikutkan anak setiap ada kegiatan Posyandu. [8]

Untuk Anak dengan Perkembangan MERAGUKAN (M)

Konsultasikan nomer jawaban tidak, mintalah jenis stimulasi apa yang


diberikan lebih sering. [8]

Lakukan stimulasi intensif selama 2 minggu untuk mengejar ketertinggalan


anak. [8]

Bila anak sakit lakukan pemeriksaan kesehatan pada dokter/dokter anak.


Tanyakan adakah penyakit pada anak tersebut yang menghambat
perkembangannya. [8]

Lakukan KPSP ulang setelah 2 minggu menggunakan daftar KPSP yang sama
pada saat anak pertama dinilai. [8]

Bila usia anak sudah berpindah golongan dan KPSP yang pertama sudah bisa
semua dilakukan. Lakukan lagi untuk KPSP yang sesuai umur anak. [8]

13

7) Hal Yang Harus Dilakukan Bila Terjadi Penyimpangan Perkembangan


Yaitu dengan melakukan rujukan ke Rumah Sakit atau dokter spesialis anak
dengan menuliskan jenis dan jumlah penyimpangan perkembangan (Gerak kasar,
Gerak halus, Bicara dan Bahasa, Sosialisasi dan Kemandirian). [6,9]

8) Petugas Yang Dapat Melakukan Pemeriksaan


a) Tenaga kesehatan, misalnya dokter dan perawat. [6,9]
b) Guru TK. [6,9]
c) Petugas PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) terlatih. [6,9]

9) Jadwal Pemeriksaan Atau Skrining KPSP Rutin


Jadwal pemeriksaan atau skrining KPSP rutin adalah pada umur 3, 6, 9, 12,
15, 18, 21, 24, 30, 36, 42, 48, 54, 60, 66 dan 72 bulan, jika anak belum mencapai
umur skrining tersebut, minta ibu datang kembali pada umur skrining yang
terdekat untuk pemeriksaan rutin. Apabila orang tua datang dengan keluhan
anaknya mempunyai masalah perkembangan sedangkan umur anak bukan umur
skrining maka pemeriksaan menggunakan KPSP untuk umur skrining terdekat
yang lebih muda. [1,6,9]

14

DAFTAR PUSTAKA
1. Dhamayanti, Meita. Kuesioner Praskrining Perkembangan (KPSP) Anak. Sari
Pediatri. 2006: 1(8): 9-15
2. Nurgiyantoro, Burhan. Tahapan Perkembangan Anak dan Pemilihan Bacaan
Sastra Anak. Cakrawala Pendidikan. 2005: 24 (2): 197-200
3. Lindawati. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perkembangan Motorik
Anak Usia Pra Sekolah. Jurnal Health Quality. 2013: 4 (1): 22-27
4. Pendidikan dan Perkembangan Anak Usia Dini. Ringkasan Kajian Unicef
Indonesia. 2012. 1-8
5. Rahmayanti, SD, Pujiastuti, S. Hubungan Pola Asuh dengan Perkembangan
Anak Usia Sekolah. 2012. 46-55
6. Kadi, FA, Garna, H, Fadlyana, E. Kesetaraan Hasil Skirining Risiko
Penyimpangan

Perkembangan

Menurut

Cara

Kuesioner

Praskrining

Perkembangan (KPSP) dan Denver II pada Anak Usia 12-14 Bulan dengan Berat
Lahir Rendah. Sari Pediatri. 2008. 10 (1). 29-33
7. Apriyana, R. Hubungan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dengan
Perkembanagn Kognitif Anak Usia Prasekolah di Kelurahan Tinjomoyo,
Semarang. 2009. 1-15
8. http://tumbuhkembang.net/alat/kuesioner-pra-skrining-perkembangan-kpsp
9. Umiyah, A. Hubungan Penggunaan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan
(KPSP) dengan Penyimpangan Perkembangan Balita Usia 13-59 Bulan. 2006. 115
10. Ariani, Yasoprawoto, M. Usia Anak dan Pendidikan Ibu sebagai Faktor Resiko
Gangguan Perkembangan Anak. Jurnal Kedokteran Brawijaya. 2012. 27 (2).
118-121

15