Anda di halaman 1dari 16

TUGAS PROSES INDUSTRI KIMIA

ANILIN

Disusun oleh :
1. Aditya Gunadi

21030113120058

2. Adrianus Atma Adiwijaya

21030113120105

3. Bella Anggita Pratiwi

21030113120074

4. Erna Listyaningrum

21030113140188

5. Fiky Zakiyatul Awaliyah

21030113120093

6. Mawarni Anwar

21030113120104

7. Reza Nur Ramadhan

21030113120032

8. Safira Aulia Rinanda

21030113130176

9. William Wicaksono Darmanto

21030113140194

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014

KATA PENGANTAR
Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh.
Segalapujibagi Allah yang telah memberikan kemudahan sehingga dapat menyelesaikan
makalah ini. Tanpa pertolongan-Nya mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikannya
dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda tercinta kita yakni Nabi
Muhammad SAW.
Dan tak lupa penyusun mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah
membantu dalam penyelesaian makalah ini. Penyusun juga mengucapkan terimakasih kepada
teman-teman mahasiswa yang juga sudah membantu baik langsung maupun tidak langsung
dalam pembuatan makalah ini.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang "SenyawaAnilin",
dari berbagai sumber. Makalah ini disusun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu
yang dating dari diri penyusun maupun yang dating dari luar. Namun dengan penuh kesabaran
dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Makalah ini memuat tentang Senyawa Anilin yang sangat banyak dibutuhkan di berbagai
industri di Indonesian. Salah satu manfaatnya yaitu sebagai bahan untuk pembuatan obat-obatan
contohnya parasetamol dan masih banyak lagi manfaatl ainnya yang dapat diketahui dengan
membaca makalah ini. Walaupun makalah ini kurang sempurna dan memerlukan perbaikan
tetapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca.
Akhir kata semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan
penulis pada khususnya, Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari
kata sempurna, untuk itu penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun demi
perbaikan ke arah kesempurnaan. Akhir kata penulis sampaikan terimakasih.
Wassalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
Aniline pertama kali diperoleh pada tahun 1826 dengan distilasi indigo. Namanya
diambil dari nama spesifik dari tanaman indigo yang menghasilkan Indigofera anil (Indigofera
suffruticosa); rumus kimia adalah C6H5NH2. Aniline diproduksi dengan reaksi hidrogenasi
katalitik nitrobenzena atau dengan reaksi amonia pada chlorobenzene.
Dalam sebuah amina aromatik primer, anilin adalah basa lemah dan membentuk
garam dengan asam mineral. Dalam larutan asam, asam nitrit mengubah anilin menjadi garam
diazonium yang merupakan perantara dalam penyusunan zat pewarna dan senyawa organik
lainnya. Ketika anilin dipanaskan dengan asam organik, memberikan amida, yang disebut
anilides, seperti Acetanilide dari anilin dan asam asetat. Monomethylaniline dan dimetilanilin
dapat dibuat dari anilin dan metil alkohol. Reduksi katalitik dari anilin menghasilkan
cyclohexylamine. Berbagai oksidator mengkonversi anilin untuk kuinon, azobenzene,
nitrosobenzene, p-aminofenol, dan phenazine pewarna anilin hitam
Aniline merupakan senyawa turunan benzene yang dihasilkan dari reduksi
nitrobenzene. Anilin merupakan cairan minyak tak berwarna yang mudah menjadi coklat
karena oksidasi atau terkena cahaya, bau dan cita rasa khas, basa organik penting karena
merupakan dasar bagi banyak zat warna dan obat toksik bila terkena, terhirup, atau terserap
kulit. Senyawa ini merupakan dasar untuk pembuatan zat warna diazo. Anilin dapat diubah
menjadi garam diazoinum dengan bantuan asam nitrit dan asam klorida.
Di Indonesia kebutuhan aniline setiap tahun rata-rata meningkat, namun masih
mengimpor Negara maju seperti seperti Jepang, Amerika Serikat, Korea, Belgia, Inggris,
Australia, dan Jerman. Hal ini disebabkan karena Indonesia sendiri belum memiliki pabrik
aniline. Oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan aniline di Indonesia tanpa harus
mengimpor serta menambah aktivitas ekonomi Negara, Indonesia perlu merencanakan dan
merancang pabrik aniline.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Anilin diproduksi dengan mereduksi Nitrobenzena, dimana Nitrobenzena tersebut
diproduksi dari nitrasi dari Benzene didalam campuran Sulfur dan Asam Nitrat. Anilin juga
dapat diproduksi didalam fase gas dengan mereduksi Nitrobenzena bersama katalis Hidrogen
berlebih. Pembuatan anilin dapat dilakukan melalui berbagai macam proses antara lain :
1. Aminasi Chlorobenzen
Pada proses aminasi chlorobenzen menggunakan zat pereaksi amoniak cair, dalam fasa cair
dengan katalis Tembaga Oxide dipanaskan akan menghasilkan 85 - 90 % anilin. Sedangkan
katalis yang aktif untuk reaksi ini adalah Tembaga Khlorid. Pada proses aminasi
chlorobenzen, hasil yang diperoleh berupa nitro anilin dengan yield yang dihasilkan adalah
96 %
2. Reduksi Nitrobenzena
a. Reduksi fasa cair. Untuk fasa cair, nitrobenzen direduksi dengan hidrogen dalam suasana
asam ( HCl ) serta adanya iron boring, dengan suhu sekitar 135 - 170 C dan tekanan
antara 50 - 500 atm, dengan bantuan katalis Fe2O3. Namun proses ini tidak digunakan lagi
karena tekanan yang digunakan tinggi sehingga kurang effisien dari segi ekonomis dan
teknis. Yield yang dihasilkan adalah 95 % (Faith and Keyes, DB, 1957).
b. Reduksi fasa gas. Proses pembuatan anilin dari reduksi nitrobenzen dalam fasa gas,
sebagai pereduksi adalah gas hidrogen dan untuk mempercepat reaksi dibantu dengan
katalisator Nikel Oksid. Yield yang dihasilkan pada prosese ini adalah 98 % dan
kemurnian dari hasil ( anilin ) yang tinggi ini ( 99 % ) mengakibatkan anilin dari segi
komersial dapat digunakan (Faith and Keyes, DB, 1957).
Dari uraian di atas proses pembuatan anilin yang paling efisien dan efektif adalah dengan
reduksi Nitrobenzene fasa gas. Selain itu dilihat dengan berbagai manfaat anilin seperti zat warna
terutama zat warna diazo yang digunakan sebagai pewarna blue jeans, selain itu juga sebagai bahan baku
pembuatan berbagai obat, seperti antipirina dan antifebrin serta parasetamol(acetaminophen,Tyle
nol). Aplikasi anilin terbesar adalah pada pembuatan metilen difenil diisosianat (MDI). Seiring
berjalannya waktu, anilin semakin dibutuhkan sehingga peluang untuk didirikannya pabrik anilin
masih besar.

BAB III
PEMBAHASAN
III.1 Definisi Anilin
Rumus Molekul

: C6H5NH2

Rumus Bangun / Struktur

Sifat Fisik
Nama IUPAC Anilin ialah Fenilamina; nama lainnya, Aminobenzena, Benzenamin.
Adapun sifat-sifatnya adalah:

Rumus molekul: C6H5NH2

Berat molekul: 93,13 gr/mol

Penampilan: Cairan tak berwarna sampai kuning

Densitas: 1,0217 gr/mL, cairan

Titik lebur: 6,3 C; 20,7 F; 266,8 K

Titik didih: 184,13 C; 363,43 F; 457,28 K

Kelarutan dalam air: 3,6 gr/100 mL pada 20 C

Kebasaan (pKb): 9,3

Viskositas: 3,71 cP (3,71 mPa.s pada 25 C

Entalpi pembakaran standar cHo298: -3394 kJ/mol

Titik nyala: 70 C; 158 F; 343 K

Suhu menyala sendiri: 770 C; 1,420 F; 1,040 K

Klasifikasi Uni Eropa: Toksik (T); Karsinogenik Cat.3; Mutagenik Cat.3; Berbahaya
untuk lingkungan (N)

MSDS: MSDS eksternal


(Anonim, 2013)

Sifat Kimia

Anilin larut pada pelarut organic dengan baik, larut pada air dengan tingkat kelarutan
3,5% pada 25C

Anilin adalah basa lemah (Kb : 3.8 x 10-10)


4

Halogenasi senyawa aniline dengan brom dalam larutan sngant encer menghasilkan
endapan 2,4,6 tribromanilin, sedang halogenasi dengan klorin menghasilkan
trikloroanilin

Pemanasan aniline hidroklorid dengan senyawa aniline sedikit berlebihan pada


tekanan 6 atm menghasilkan senyawa difenilamida.

Hidrogenasi katalitik pada fase cair pada suhu 140C dan tekanan 250 atm
menghasilkan 80% sikloheksamin (C6H11NH2), sedangkan hidrogenasi aniline pada
fase uap dengan katalis nikel menghasilkan dikloroheksamin

Nitrasi aniline dengan asam nitrat pada suhu -20C menghasilkan mononitroanilin
dan nitrasi aniline dengan nitrogen oksida cair pada suhu 0C menghasilkan 2,4
dinitrofenol

Aniline bereaksi dengan gliserol membentuk quinolin dengan adanya nitrobenzene


dan asam sulfat

Aniline bereaksi dengan hydrogen peroksida dan arctonitril dalam larutan methanol
membentuk azoxybenzene

Hidrigenasi aniline dengan menggunakan brom menghasilkan 2,4,6 tribromoanilin


(Othmer, 1997)

III.2 Reaksi Kimia dengan Zat Lain


Kimia anilin kaya karena senyawa ini telah tersedia secara murah selama bertahun-tahun.
Di bawah ini adalah beberapa kelas dari reaksinya.
1. Oksidasi
Oksidasi anilin telah gencar diteliti, dan dapat dihasilkan dalam reaksi yang
terlokalisasi pada nitrogen atau yang lebih umum dihasilkan dalam pembentukan
ikatan C-N baru. Dalam larutan basa (alkalis), menghasilkan azobenzena, di mana
asam arsenat menghasilkan bahan berwarna-ungu violamin.
Asam kromat mengubahnya menjadi kuinon, di mana klorat, dengan adanya garam
logam tertentu (terutama vanadium), menghasilkan anilin hitam. Asam hidroklorida
dan kalium klorat menghasilkan kloranil. Kalium permanganat dalam larutan netral
mengoksidasinya menjadi nitrobenzena, dalam larutan alkali menghasilkan
5

azobenzena, ammonia dan asam oksalat, dalam larutan asam menghasilkan anilin
hitam. Asam hipoklorit memberikan 4-aminofenol dan para-amino difenilamin.
Oksidasi dengan persulfat menghasilkan berbagai senyawa polianilin. Polimer ini
menunjukkan kaya akan sifat-sifat redoks dan asam-basa.
2. Reaksi Elektrofilik pada Karbon
Seperti fenol, turunan anilin sangat rentan terhadap reaksi substitusi elektrofilik.
Reaktivitasnya yang tinggi mencerminkan bahwa ia adalah enamin, yang
meningkatkan kemampuan cincin menyumbangkan elektronnya.
Contohnya, reaksi anilin dengan asam sulfat pada suhu 180 C menghasilkan asam
sulfanilat, H2NC6H4SO3H, yang dapat diubah menjadi sulfanilamida. Sulfanilamida
merupakan salah satu obat sulfa, yang digunakan secara luas sebagai anti-bakteri di
awal abad-20. Reaksi anilin industri skala terbesar meliputi alkilasinya dengan
formaldehida. Sebuah persamaan ideal ditunjukkan di bawah ini:
2 C6H5NH2 + CH2O CH2(C6H4NH2)2 + H2O
Diamin yang dihasilkan merupakan prekursor, zat pendahulu untuk 4,4-MDI dan
diisosianat terkait.
3. Reaksi pada Nitrogen
Kebasaan Anilin ialah basa lemah. Amina aromatik seperti anilin, umumnya basa
yang jauh lebih lemah dibandingkan amina alifatik disebabkan efek penarikanelektronnya dari gugus fenil. Anilin bereaksi dengan asam kuat yang membentuk ion
anilinium atau fenilammonium (C6H5-NH3+). Meskipun anilin basa lemah, anilin
dapat mengendapkan garam seng, aluminium, dan ferri, dan pada pemanasan
mengusir amonia dari garamnya.
Kebasaan yang lemah karena efek induktif dari karbon sp2 yang lebih elektronegatif
dan terhadap efek resonansi, seperti pasangan sunyi pada nitrogen terdelokalisasi
secara parsial ke dalam sistem pi dari cincin benzena.
4. Asilasi
Anilin bereaksi dengan asam karboksilat atau lebih mudah dengan asil klorida seperti
asetil klorida untuk memberikan amida. Amida yang terbentuk dari anilin kadangkadang disebut anilida, misalnya CH3-CO-NH-C6H5 adalah Asetanilida. Antifebrin

(Asetanilida), anti-piretik dan analgesik, diperoleh melalui reaksi asam asetat dan
anilin.
5. N-Alkilasi
N-Metilasi anilin dengan metanol pada suhu yang ditingkatkan melalui katalis asam
memberikan N-metilanilin dan dimetilanilin:
C6H5NH2 + 2 CH3OH C6H5N(CH3)2 + 2H2O
N-Metilanilin dan dimetilanilin merupakan cairan tidak berwarna dengan titik didih
193195 C dan 192 C, berturut-turut. Turunan ini penting dalam industri warna.
Anilin bergabung secara langsung dengan alkil iodida membentuk amina sekunder
dan tertier.
6. Turunan Karbon Disulfida
Dididihkan

bersama

karbon

disulfida,

anilin

memberikan

sulfokarbanilida

(difeniltiourea, CS(NHC6H5)2), yang mungkin terurai menjadi fenil isotiosianat


(C6H5CNS), dan trifenil guanidin (C6H5N=C(NHC6H5)2).
7. Diazotisasi
Anilin dan turunan cincin-bersubstitusi bereaksi dengan asam nitrit yang membentuk
garam diazonium. Melalui zat-antara ini, anilin dapat diubah dengan mudah menjadi
-OH, -CN, atau halida melalui reaksi Sandmeyer. Garam diazonium dapat juga
bereaksi dengan NaNO2 dan fenol yang menghasilkan pewarna yang merupakan
benzenaazofenol, proses ini disebut coupling.
8. Reaksi Lain
Anilin bereaksi dengan nitrobenzena yang menghasilkan fenazina dalam reaksi WohlAue. Hidrogenasi memberikan sikloheksilamina.
Sebagai reagen standar di laboratorium, anilin digunakan untuk berbagai reaksi niche.
Asetatnya digunakan dalam uji aniline asetat untuk karbohidrat, mengidentifikasi
pentosa melalui konversi ke furfural. Anilin ini digunakan untuk menandai biru RNA
saraf dalam noda Nissl.
(Meta, 2014)
III.3 Reaksi Pembentukan
Proses pembuatan anilin dapat dilakukan melalui berbagai macam proses antara lain :
1. Aminasi Chlorobenzen
7

Pada proses aminasi chlorobenzen menggunakan zat pereaksi amoniak cair, dalam
fasa cair dengan katalis Tembaga Oxide dipanaskan akan menghasilkan 85 - 90 %
anilin. Sedangkan katalis yang aktif untuk reaksi ini adalah Tembaga Khlorid yang
terbentuk dari hasil reaksi samping ammonium khlorid dengan Tembaga Oxide. Mula
- mula amoniak cair dimasukkan ke dalam mixer dan pada saat bersamaan
chlorobenzen dimasukkan pula, tekanan di dalam mixer adalah 200 atm. Dari mixer
campuran chlorobenzen dengan amoniak dilewatkan ke preheater kemudian masuk ke
reaktor dengan suhu reaksi 235 C dan tekanan 200 atm. Pada reaksi ini ammonia cair
yang digunakan adalah berlebihan. Dengan menggunakan katalis tertentu, reaksi yang
terjadi adalah sebagai berikut : C6H5Cl + 2 NH3 ===> C6H5NH2+ NH4Cl Pada
proses aminasi chlorobenzen, hasil yang diperoleh berupa nitro anilin dengan yield
yang dihasilkan adalah 96 %
2. Reduksi Nitrobenzena
a. Reduksi fasa cair Untuk fasa cair, nitrobenzen direduksi dengan hidrogen dalam
suasana asam ( HCl ) serta adanya iron boring, dengan suhu sekitar 135 - 170 C
dan tekanan antara 50 - 500 atm, dimana asam ini akan mengikat oksigen
sehingga akan terbentuk air, dengan bantuan katalis Fe2O3 reaksinya sebagai
berikut :
4 C6H5NO2 + 11 H2 ===> 4 C6H5NH2 + 8 H2O (Faith and Keyes, DB, 1957)
Proses reduksi dalam fasa cair sudah tidak digunakan lagi karena tekanan yang
digunakan tinggi sehingga kurang effisien dari segi ekonomis dan teknis. Yield
yang dihasilkan adalah 95 % (Douiswamy LK and Shaimas, 1957).
b. Reduksi fasa gas Proses pembuatan anilin dari reduksi nitrobenzen dalam fasa
gas, sebagai pereduksi adalah gas hidrogen dan untuk mempercepat reaksi
dibantu dengan katalisator Nikel Oksid, reaksinya sebagai berikut :
C6H5NO2 + 3 H2 ===> C6H5NH2 + 2H2O
Pada proses reduksi fasa gas dengan suhu di dalam reaktor sekitar 275 - 350 C
dan tekanan 1,4 atm, reaksi yang terjadi adalah reaksi eksotermis karena
mengeluarkan panas. Yield yang dihasilkan pada prosese ini adalah 98 % dan
8

kemurnian dari hasil (anilin) yang tinggi ini (99 %) mengakibatkan anilin dari
segi komersial dapat digunakan (Faith and Keyes, DB, 1957).
Tabel Perbandingan Proses Pembuatan Anilin

III.4 Tinjauan Kinetika


Ditinjau dari segi reaksinya kecepatan reaksi yang terjadi akan semakin besar dengan
kenaikan temperaturnya, hal ini dapat ditunjukkan dengan menggunakan persamaan
Archenius:

k = Konstanta laju reaksi


A = Faktor frekuensi
E = Energi aktivasi
R = Konstanta/ ketetapan gas
T = Suhu (K)
Yang mana pada proses pembuatan anilin dari nitrobenzene fase uap ini persamaan nilai k
adalah :
9

k = 8,77 exp (-2631 / RT)


k = (s-1)
sehingga reaksi merupakan reaksi orde satu terhadap nitrobenzene.
(Doraiswamy, 1984)

III.5 Tinjauan Termodinamika


Reaksi pembuatan aniline dari nitrobenzene ini berlangsung secara eksotermis, hal ini
dapat ditinjau dari H reaksi pada suhu 298 K.

(Smith Vannes, 1984)

III.6 Kebutuhan Anilin di Indonesia

10

III.7 Manfaat
Anilin banyak digunakan sebagai zat warna terutama zat warna diazo yang digunakan
sebagai pewarna blue jeans. Bukan hanya itu, anilin juga digunakan sebagai bahan baku
pembuatan berbagai obat, seperti antipirina dan antifebrin serta parasetamol
(acetaminophen, Tylenol). Aplikasi anilin terbesar adalah pada pembuatan metilen difenil
diisosianat (MDI). Kegunaan dari anilin yang lain antara lain untuk pembuatan
karet bahan kimia atau karet sintetis pengolahan (9%), herbisida (2%), dan pewarna dan
pigmen

(2%).

Sebagai

tambahan

untuk

karet,

aniline

derivatif yang digunakan adalah fenilen diamin dan di fenilamin yang berfungsi sebagai
antioksidan. Anilin juga digunakan pada skala yang lebih kecil dalam produksi. Anilin
juga digunakan sebagain tambahan pada mesin, dan digunakan untuk parfume, shoe
blacks, dan Varnish.
Penggunaan aniline di Indonesia dapat dikatakan sebagai pemenuhan bahan kimia
menengah. Hal ini akan lebih jelas lagi jika ditinjau dari kegunaan aniline sebagai bahan
dalam pembuatan Rigid polyurethanes dan reaction injection model (RIM), Accelerator
meliputi mercapto benzenable, industri pharmaceutical khususnya dalam pembuatan
sulfachugs dan sweetening agent sintetik, industry kimia fotografi, resin dari aniline,
bahan inhibitor korosi. Berbagai turunan aniline penting untuk industry tekstil, kertas,
industry metalurgi, penyediaan suffactum inti catalos serta stabilizer pestisida. Sehingga
dilihatseluruh kegunaannya, penggunaan aniline cukup mendukung operasional industry
kimia di Indonesia. (Othmer, 1997)

III.8 Peluang
Pertumbuhan industri di Indonesia khususnya industri kimia mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun, seperti yang disampaikan dalam situs resmi
Kementerian Perindustrian : Jakarta - Pertumbuhan industri kimia dasar diprediksi bisa
mencapai 6-7%. Hal ini lantaran pertumbuhan industri kimia dasar seiring dengan
pertumbuhan ekonomi yang terus membaik. Managing Director Federasi Industri Kimia
Indonesia Ida Bagus Agra Kusuma menjelaskan bahwa pertumbuhan industri kimia dasar
ditopang dengan naiknya kebutuhan bahan kimia dari masing-masing sektor industri.
Misalnya seperti industri plastik yang diperkirakan naik 8% dan semen yang diproyeksi
11

naik 10% hingga 14%. "Kenaikan kebutuhan akan membuat permintaan bahan kimia
dasar seperti petrokimia meningkat," jelasnya di Jakarta, Senin (21/1). Oleh karena itu
sehingga kebutuhan bahan baku industri bahan-bahan kimia dan tenaga kerja juga akan
meningkat. Salah satu bahan baku yang diperlukan adalah aniline dan turunannya.
Namun kebutuhan yang tinggi tersebut baru dapat dipenuhi oleh impor dari Negaranegara maju seperti Jepang, Amerika Serikat, Korea, Belgia, Inggris, Australia, dan
Jerman. Sedangkan Indonesia sendiri, pada tahun 2012 kebutuhan aniline sebesar
10.745,23 ton. Untuk memenuhi kebutuhan aniline di Indonesia dan diharapkan dapat
diekspor ke luar negeri, maka didirikan pabrik aniline. Disamping itu dengan adanya
pabrik aniline dapat membuka lapangan pekerjaan baru dan memicu berdirinya pabrik
lain yang menggunakan bahan baku aniline. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka
pabrik aniline layak didirikan di Indonesia.

II.9 Diagram Alir

(Setiawan, Dwi Panggih, 2011)

12

(Setiawan, Dwi Panggih, 2011)

III.10 Reaktor yang Digunakan


Umumnya dalam proses pembuatan aniline digunakan reaktor kimia yang
berdasarkan proses semi-batch (reaktor semi- batch). Jenis reaktor semi-batch yang
digunakan dalam proses pembuatan aniline adalah Fluidized Bed Reactor (FBD). Pada
proses pembuatan aniline menggunakan Fluidized Bed Reactor (FBD) dikarenakan: (Shela
Maranatha, 2012)
-

Suhu konstan sehingga mudah dikontrol

Reaksinya memiliki efek panas yang tinggi

Regenerasi bed yang mudah

Dapat mereaksikan bahan dalam keadaan banyak fasa

Reaksi yang terjadi saat proses pembuatan aniline pada reaktor adalah isotermis.
Bahan baku nitrobenzene dan gas hydrogen masuk reaktor fluidized bed dalam fase gas
dan dengan 200 % gas hydrogen berlebih. Reaktor beroperasi isotermal 2700 C dan
tekanan 2,3 atm dan katalis yang digunakan Cu dalam silika ( silica-supported copper
catalyst). (Nugraheni Dwi Andini, 2013)

13

BAB IV
PENUTUP
IV.1 Simpulan
Pada tahun 2012 kebutuhan aniline sebesar 10.745,23 ton. Untuk memenuhi
kebutuhan aniline di Indonesia dan diharapkan dapat diekspor ke luar negeri, maka
didirikan pabrik aniline. Disamping itu dengan adanya pabrik aniline dapat membuka
lapangan pekerjaan baru dan memicu berdirinya pabrik lain yang menggunakan bahan
baku aniline. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka pabrik aniline layak didirikan di
Indonesia. Digunakan reaktor kode R-01 yang berfungsi sebagai tempat terjadinya reaksi
gas-gas katalis padat berjenis fluidized bed dengan siklon internal dan dilengkapi dengan
koil pendingin, berbahan konstruksi carbon steel SA 283 grade C dan kondisi operasi
bertekanan 2,3 atm bersuhu 270 C.
IV.2 Saran
1. Sebaiknya melihat data kebutuhan impor dan ekspor anilin tebaru sehingga dapat
menentukan peluang didirikannya pabrik anilin di Indonesia.
2. Gunakan proses pembuatan anilin yang paling efektif dan efisien.

14

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Industri Petrokimia Bisa Tumbuh Hingga 7%.
http://www.kemenperin.go.id/artikel/5498/Industri-Petrokimia-Bisa-Tumbuh-Hingga-7.
diakses tanggal 5 Oktober 2014
Anonim. 2013. Aniline. http://www.britannica.com/EBchecked/topic/25473/aniline. Diakses
tanggal 20 September 2014.
Biro Pusat Statistik, 2012. Kebutuhan Anilin di Indonesia. diakses tanggal 17 September 2014.
Douiswamy LK and Shaimas. 1984. Heterogeneous reaction Analysis Example and Reactor
Design vol 1. John Willey and Sons Inc. New York.
Dwiandini, Nugraheni. 2013. Rancangan Pabrik Anilin.
https://www.academia.edu/5137469/RANCANGAN_PABRIK_ANILIN. diakses tanggal
30 September 2014.
Faith and Keyes. 1957. Industrial Chemical. John Willey and Sons Inc. London
Maranatha, Shela. 2012. Macam-Macam Reaktor Kimia.
https://www.academia.edu/4862399/Macam_macam_Reaktor_kimia_Macam_Macam_Reaktor. diakses tanggal 30 September 2014.
Meta, 2014. Anilin. http://wawasanilmukimia.wordpress.com/2014/03/22/anilin-aplikasiutamanya-untuk-prekursor-zat-kimia-lain-termasuk-pewarna/. Diakses tanggal 17
September 2014.
Othmer DF. 1997. Encyclopedia of Chemical Technology 4th ed. The Interscience Encyclopedia
Inc. New York.
Setiawan, Dwi Panggih, 2011. Prarancangan Pabrik Anilin dari Hidrogenasi Nitrogen Fase
Uap Kapasitas 40.000 ton Per Tahun.
http://eprints.uns.ac.id/5471/1/206741812201103071.pdf. diakses tanggal 17 September
2014.
Smith J.M and Van Ness. 1984. Introduction to Chemical Engineering Thermodynamics 6th ed.
Mc.Graw Hill International Book Company. Singapore.

15

Anda mungkin juga menyukai