Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Penyakit ginjal kronis adalah penurunan fungsi ginjal yang ditandai dengan
penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG) <60 mL/ mnt/ 1,73 m 2 dengan atau tanpa
disertai dengan kelainan struktur ginjal selama 3 bulan dan menetap. 1,2,3 Terjadi secara
bertahap dan berlangsung progresif yang dapat menyebabkan akumulasi dari bahan
toksik dalam tubuh, menyebabkan terjadinya beberapa komplikasi seperti, tekanan
darah tinggi, penurunan fungsi tulang, kerusakan saraf dan yang terpenting lainnya
adalah anemia.

Penyakit ginjal kronis diklasifikasikan ke dalam lima stadium

berdasarkan laju filtrasi glomerulus dan kerusakan pada ginjal berdasarkan Guideline of
the National Kidney Foundation. 2,3,5
Anemia adalah satu dari banyaknya komplikasi yang terjadi pada penyakit ginjal
kronis. Kejadian anemia banyak terjadi pada orang yang mengalami penyakit ginjal
kronis yang progresif.
ginjal kronis.

1,3

1,2,5

Angka kejadian anemia terjadi 80-90% pada pasien penyakit

Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah

massa eritrosit (red cell mass) sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk
membawa oksigen dalam jumlah yang cukup ke jaringan perifer (penurunan oxygen
carrying capacity). Anemia terjadi bila kadar serum hemoglobin kurang dari 12 g/dl pada
wanita dan kurang dari 13 g/dl pada laki-laki. 3,4
Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat, dari 12.077 populasi dewasa
ditemukan 14% mengalami penyakit ginjal kronis pada tahun 2007-2010. Anemia
masuk ke dalam prevalensi kedua pada pasien dengan penyakit ginjal kronis (15,4%)
seperti pada populasi umum (7,6%). Prevalensi anemia meningkat sesuai dengan
stadium penyakit ginjal kronis yang terjadi, dari 8,4% di stadium satu menjadi 53,4% di
stadium lima. Total dari 22,8% pasien penyakit ginjal kronis yang mengalami anemia
mendapatkan pengobatan untuk anemia selama tiga bulan terakhir, yaitu 14,6% pada
penyakit ginjal kronis stadium 1-2 dan 26,4% pasien pada stadium 3-4. 2

Penelitian lain di Inggris prevalensi anemia dengan kategori anemia (hemoglobin


kurang dari 12 gr/dl pada laki-laki dan hemoglobin kurang dari 11 gr/dl pada wanita)
adalah sebesar 1% pada stadium 3, 9% pada stadium 4 dan 33% pada stadium 5.
Anemia terjadi 68% pada pasien yang memulai dialisis. Pada pasien penyakit ginjal
kronis dengan pasien laki-laki 49,6% dan pasien wanita 51,2% yang tidak dibawa ke
spesialis ginjal mengalami anemia. 5
Anemia pada penyakit ginjal kronis terutama disebabkan oleh defisiensi
eritropoeitin. Salah satu fungsi ginjal adalah menghasilkan eritropoeitin yang
merupakan suatu molekul yang merangsang pembentukan sel darah merah sebagai
respon penurunan dari kadar oksigen di dalam darah. Selain itu, hal-hal lain dapat ikut
berperan dalam terjadinya anemia, yaitu defisiensi besi, kehilangan darah yang dapat
disebabkan oleh perdarahan saluran cerna, hematuria, masa hidup eritrosit yang
pendek akibat terjadinya hemolisis, defisiensi asam folat, penekanan sumsum tulang
akibat substansi uremik maupun proses inflamasi baik akut atau kronis.

Pada

dasarnya anemia pada penyakit ginjal kronis adalah akibat adanya efek eritropoesis
terhadap rangsangan hipoksia.

I.2. Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan anemia pada penyakit ginjal kronis?
2. Apa yang menjadi penyebab terjadinya anemia pada penyakit ginjal kronis?
3. Bagaimana tanda dan gejala klinis anemia pada penyakit ginjal kronis?
4. Bagaimana terjadinya anemia pada penyakit ginjal kronis?
5. Bagaimana mendiagnosis anemia pada penyakit ginjal kronis?
6. Bagaimana penatalaksanaan anemia pada penyakit ginjal kronis?
7. Bagaimana prognosis pasien anemia pada penyakit ginjal kronis?

I.3. Maksud dan Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui definisi dari anemia pada penyakit ginjal kronis
2. Untuk mengetahui penyebab anemia pada penyakit ginjal kronis
3. Untuk mengetahui tanda dan gejala klinis pada pasien anemia pada penyakit
ginjal kronis

4. Untuk mengetahui patofisiologi anemia pada penyakit ginjal kronis


5. Untuk mengetahui cara mendiagnosis anemia pada penyakit ginjal kronis
6. Untuk mengetahui penatalaksanaan anemia pada penyakit ginjal kronis
7. Untuk mengetahui prognosis anemia pada penyakit ginjal kronis

I.4. Metode Penulisan


Metode penulisan tinjauan pustaka berdasarkan beberapa literatur.

I.5 Manfaat Penulisan


a) Manfaat teoritis
Referat ini diharapkan dapat menjadi salah satu informasi bagi tenaga
kesehatan dan mahasiswa kedokteran tentang anemia pada penyakit ginjal
kronis.

b) Manfaat praktis
Diharapkan dapat menjadi pengalaman dan menambah wawasan bagi
penulis dan pembaca tentang anemia pada penyakit ginjal kronis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Anemia pada Penyakit Ginjal Kronis


World Health Organization (WHO) mendefinisikan anemia dengan konsentrasi
hemoglobin < 13,0 mg/dl pada laki-laki dan wanita postmenopause dan < 12,0 gr/dl
pada wanita lainnya. The National Kidney Foundations Kidney Dialysis Outcomes
Quality Initiative (K/DOQI) merekomendasikan anemia pada pasien penyakit ginjal
kronis jika kadar hemoglobin <11,0 gr/dl (hematokrit <33%) pada wanita premenopause
dan pasien prepubertas, dan <12,0 gr/dl (hematokrit <37%) pada laki-laki dewasa dan
wanita postmenopause. Dan berdasarkan PERNEFRI 2011, dikatakan anemia pada
penyakit ginjal kronik jika Hb 10 gr/dl dan Ht 30%.
Anemia sering terjadi pada pasien-pasien dengan penyakit ginjal kronis. Klinisi
harus memikirkan keadaan anemia jika tingkat Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) pasien
2

menurun ke 60 ml/menit/1,73 m atau lebih rendah.

II.2. Penyebab
Faktor-faktor yang berkaitan dengan anemia pada penyakit ginjal kronik termasuk
kehilangan darah, pemendekan masa hidup sel darah merah, defisiensi vitamin,
uremic milieu, defisiensi eritropoetin, defisiensi besi dan inflamasi.

Kehilangan Darah
Pasien-pasien dengan penyakit ginjal kronis memiliki risiko kehilangan darah oleh
karena terjadinya disfungsi platelet. Penyebab utama kehilangan darah pada pasienpasien ini adalah dari dialisis, terutama hemodialisis dan nantinya menyebabkan
defisiensi besi juga. Pasien-pasien hemodialisis dapat kehilangan 3 -5 gr besi per
tahun. Normalnya, kita kehilangan besi 1-2 mg per hari, sehingga kehilangan besi pada
pasien-pasien dialisis 10-20 kali lebih banyak.

Pemendekan masa hidup eritrosit


Masa hidup eritrosit berkurang sekitar sepertiga pasien-pasien hemodialysis.

Defisiensi Eritropoetin
Defisiensi eritropoetin merupakan penyebab utama anemia pada pasien-pasien
penyakit ginjal kronik. Para peneliti mengatakan bahwa sel-sel peritubular yang
menghasilkan eritropoetin rusak sebagian atau seluruhnya seiring dengan progresivitas
penyakit ginjalnya.

Defisiensi Besi
Homeostasis besi tampaknya terganggu pada penyakit ginjal kronik. Untuk alasan yang
masih belum diketahui (dimungkinan karena malnutrisi), kadar transferin pada penyakit
ginjal kronik setengah atau sepertiga dari kadar normal, menghilangkan kapasitas
sistem transport besi. Situasi ini yang kemudian mengganggu kemampuan untuk
mengeluarkan cadangan besi dari makrofag dan hepatosit pada penyakit ginjal kronik.

Inflamasi
Anemia pada inflamasi juga ditandai dengan kadar besi serum yang rendah, saturasi
transferin yang rendah dan gangguan pengeluaran cadangan besi yang bermanifestasi
dengan tingginya serum feritin. Peningkatan jumlah sitokin-sitokin inflamasi di sirkulasi
seperti interleukin 6 berhubungan dengan respon yang buruk terhadap pemberian
eritropoetin pada pasien-pasien gagal ginjal terminal.

th

Dikutip dari : Fauci A, et all. Harrisons Principles of Internal Medicine. 18 . ed . Abbruzzese, et al.
United States of America : McGraw-Hill, 2012

II.3. Patofisiologi
Dalam kondisi homeostatik normal, ginjal berfungsi mengatur volume plasma
melalui reabsorpsi atau ekskresi dari garam dan air. Kadar hemoglobin dipantau melalui
respon pembentukan eritropoietin ke jaringan yang mengalami hipoksia. Eritropoietin
dikenal sebagai faktor multifungsi dengan efek tidak hanya pada sumsum tulang tetapi
pada sistem saraf pusat dimana penelitian telah menunjukkan fungsi neurotropik
dan

fungsi

neuroprotektif.

Target

utamanya

meskipun

adalah

sel-sel

induk

hematopoietik pluripoten dari sumsum tulang. Jalur sel ini mampu membentuk eritrosit,
leukosit, dan megakarosit. Eritropoietin diproduksi oleh fibroblas khusus dalam
interstitium ginjal sebagai respon terhadap hipoksia.

10

Dikutip dari : Provenzano, R. Current Diagnosis & Treatment Nephrology & Hypertension. Lerma
EV, Berns JS, Nissenson AR. United States of America : McGraw-Hill, 2009. 156 p

Karena fungsi ginjal menurun, anemia menjadi lebih umum terjadi. Sebagian
besar pasien dengan GFR kurang dari 60 mL /mnt/ 1.73 m2 ( K/DOQI stadium 3 ) terjadi
penurunan produksi eritropoietin untuk mempertahankan kadar hemoglobin > 12 g/dL.
Hasil ini khas sebagai anemia normositik normokrom pada penyakit ginjal kronis.
Namun, anemia pada penyakit ginjal kronis sering disebabkan oleh penyebab lainnya
selain kadar eritropoietin yang rendah. 10
Anemia normositik normokrom terjadi pada awal stadium tiga penyakit ginjal
kronis dan kejadian anemia pasti terjadi pada stadium empat. Penyebab utama
terjadinya anemia adalah penurunan produksi eritropoeitin (EPO) oleh karena rusaknya
ginjal. Faktor tambahan lain yang mempengaruhi seperti kekurangan zat besi, proses
inflamasi akut atau kronis yang menyebabkan gangguan utilisasi besi (anemia pada
penyakit kronis), hiperparatiroid yang berat dengan terjadinya fibrosis sumsum tulang,
dan pendeknya umur sel darah merah karena keadaan uremik. Selain itu, komorbiditas
seperti hemoglobinopati dapat memperburuk anemia.

Anemia pada penyakit ginjal kronis dikaitkan dengan terjadinya patofisiologis


yang merugikan, termasuk penurunan aliran dan penggunaan oksigen di jaringan,
meningkatkan curah jantung, dilatasi ventrikel, dan hipertrofi ventrikel. 9

II.4. Manifestasi Klinis


Gejala umum anemia disebut juga dengan sindrom anemia, timbul karena
iskemia organ target serta akibat mekanisme kompensasi tubuh terhadap penurunan
kadar hemoglobin. Gejala ini muncul pada setiap kasus anemia setelah penurunan
hemoglobin sampai kadar tertentu (Hb <7 gr/dl).

Manifestasi klinis yang terjadi mudah

lelah, toleransi terhadap aktivitas berkurang, angina, gagal jantung, penurunan kognitif
dan gangguan mental, serta gangguan pertahanan host terhadap infeksi. Selain itu,
anemia mungkin berpengaruh dalam retardasi pertumbuhan pada anak-anak dengan
penyakit ginjal kronis. 8 Pemeriksaan fisik dapat ditemukan pasien tampak pucat, yang
mudah dilihat pada konjungtiva, mukosa mulut, telapak tangan dan jaringan di bawah
kuku. 4

II.5. Diagnosis
Anemia hanyalah suatu sindrom, bukan suatu kesatuan penyakit (disease entity),
yang dapat disebabkan oleh berbagai penyakit dasar (underlying disease). Hal ini
penting diperhatikan dalam diagnosis anemia. Tidak cukup hanya sampai pada
diagnosis anemia tetapi sedapat mungkin menentukan penyakit dasar yang
menyebabkan anemia tersebut. Tahap-tahap mendiagnosis anemia adalah : 4

Menentukan adanya anemia

Menentukan jenis anemia

Menentukan etiologi atau oenyakit dasar anemia

Menentukan ada atau tidaknya penyakit penyerta yang akan mempengaruhi


hasil pengobatan

th

Dikutip dari : Bakta IM. Buku Ajar Penyakit Dalam. 4 . ed. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Idrus A, et
al. Jakarta : Interna Publishing, 2008. 635 p

Evaluasi terhadap anemia dimulai saat kadar hemoglobin 10g/dl atau


hematokrit 30 g/dl, meliputi evaluasi terhadap status besi (kadar besi serum/ serum
iron), kapasitas ikat besi total (Total Iron Binding Capacity), feririn serum, mencari
sumber perdarahan, morfologi eritrosit, kemungkinan adanya hemolisis dan lain
sebagainya. 3
Frekuensi pemeriksaan untuk anemia : 6
Untuk pasien penyakit ginjal kronis tanpa anemia, pengukuran kadar hemoglobin ketika
secara klinis diindikasikan :

Sekurangnya sekali dalam setahun pada pasien penyakit ginjal kronis stadium 3

Sekurangnya dua kali dalam setahun pada pasien penyakit ginjal kronis stadium
4 tanpa dialisis

Sekurangnya setiap tiga bulan pada pasien penyakit ginjal kronis stadium lima
dengan hemodialisa dan penyakit ginjal kronis stadium lima pada peritoneal
dialysis

Untuk pasien penyakit ginjal kronis dengan anemia tetapi tidak diterapi dengan ESA
(Eritropoeitin Stimulant Agent), pengukuran kadar hemoglobin dilakukan apabila secara
klinis diindikasikan :

Sekurangnya setiap tiga bulan pada pasien penyakit ginjal kronis stadium 3
tanpa dialisis dan penyakit ginjal kronis stadium 5 dengan peritoneal dialisis

Sekurangnya setiap bulan pada pasien dengan penyakit ginjal kronis stadium 5
dengan hemodialisis

Diagnosis anemia : 6,7

Anemia pada dewasa dan anak-anak > 15 tahun dengan penyakit ginjal kronis
dinyatakan dengan kadar hemoglobin <13 g/dl pada laki-laki dan <12 g/dl pada
wanita

Anemia pada anak-anak dengan penyakit ginjal kronis dinyatakan dengan kadar
hemoglobin <11.0 g/dl pada anak umur 0,5-5 tahun, <11.5 g/dl pada anak umur
5-12 tahun dan <12 g/dl pada anak umur 12-15 tahun

Pada pasien penyakit ginjal kronis dan anemia (disesuaikan dengan umur dan
stadium penyakit), pemeriksaan lain yang harus dilakukan sebagai bahan evaluasi awal
anemia adalah :

10

Pemeriksaan darah lengkap yang termasuk konsentrasi Hb, sel darah merah, sel
darah putih dan hitung jenis leukosit, serta jumlah trombosit

Jumlah total retikulosit

Kadar serum ferritin

Serum transferrin saturation (TSAT)

Kadar serum vitamin B12 dan folat

II.6. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan terutama ditujukan pada penyebab utamanya, disamping
penyebab lain bila ditemukan. Pemberian eritropoeitin (EPO) merupakan hal yang
dianjurkan. Dalam pemberian EPO, status besi harus selalu mendapat perhatian karena
EPO memerlukan besi dalam mekanisme kerjanya. Pemberian transfusi pada penyakit
ginjal kronis harus dilakukan dengan hati-hati, berdasarkan indikasi yang tepat dan
pemantauan yang cermat. Karena transfusi darah yang tidak cermat dapat
menyebabkan kelebihan cairan tubuh, hiperkalemia, dan perburukan fungsi ginjal.
Sasaran hemoglobin menurut berbagai studi klinik adalah 11-12 g/dl. 3

Dikutip dari : Provenzano, R. Current Diagnosis & Treatment Nephrology & Hypertension. Lerma EV,
Berns JS, Nissenson AR. United States of America : McGraw-Hill, 2009. 157 p

11

Suplementasi Besi
Pengobatan dengan terapi besi dapat dilakukan. Ketika memberikan terapi besi,
dapat menyeimbangkan potensi manfaat untuk menghindari atau meminimalkan
transfusi darah, terapi ESA, dan gejala anemia yang berhubungan terhadap risiko
kerugian pada pasien (misalnya, anafilaktoid dan reaksi akut lainnya, dan risiko jangka
panjang yang tidak diketahui).

Dikutip dari : Provenzano, R. Current Diagnosis & Treatment Nephrology & Hypertension. Lerma EV,
Berns JS, Nissenson AR. United States of America : McGraw-Hill, 2009. 158 p

Untuk pasien penyakit ginjal kronis dewasa dengan anemia tidak menggunakan
terapi besi atau terapi ESA disarankan pengunaan percobaan besi IV (atau pada
penyakit ginjal kronis non dialisis pasien alternatif pengobatan terapi besi oral selama
1-3 bulan) : 6,7

Peningkatan konsentrasi Hb tanpa memulai pengobatan ESA yang diinginkan

TSAT <30% dan ferritin <500 ng / ml ( <500 g/l)

Untuk pasien penyakit ginjal kronis non dialisis yang membutuhkan suplemen zat
besi , pilih rute pemberian besi berdasarkan derajat keparahan kekurangan zat besi,

12

ketersediaan akses vena, respon terhadap terapi besi sebelum oral, efek samping
sebelumnya dengan terapi oral atau besi IV, kepatuhan pasien, dan biaya. 7
Panduan penggunaan besi berikutnya pada pasien penyakit ginjal kronis
berdasarkan respons Hb terhadap terapi besi baru-baru ini, serta kerugian kehilangan
darah yang sedang berlangsung, tes status zat besi ( TSAT dan feritin ), konsentrasi
Hb, respons penggunaan ESA dan dosis ESA pada pasien yang diobati ESA, pantau di
setiap parameter, dan status klinis pasien. 6,7
Untuk semua pasien anak dengan penyakit ginjal kronis dan anemia tidak dalam
terapi besi atau terapi ESA, disarankan menggunakan besi oral (atau besi IV pada
penyakit ginjal kronis dengan hemodialisis) dilakukan ketika TSAT 20 % dan ferritin
100 ng / ml (100 g / l ).
Untuk semua pasien anak dengan penyakit ginjal kronuis pada terapi ESA yang
tidak menerima suplemen zat besi , disarankan besi oral (atau besi IV pada pasien
penyakit ginjal kronis dengan hemodialisis) dipantau untuk mempertahankan TSAT
>20% dan feritin >100 ng / ml (>100 g /l).

Terapi Eritropoeitin
Penggunaan hormon eritropoietin rekombinan dapat memberi hasil dalam
penanganan anemia pada penyakit ginjal kronis

. Hal ini penting karena terapi koreksi

pada anemia dapat menekan perkembangan hipertrofi ventrikel kiri dan faktor-faktor
lain yang berkontribusi terhadap penyakit jantung yang begitu umum terjadi pada
pasien penyakit ginjal kronis. Penyebab utama terganggunya pengunaan gangguan
eritropoietin adalah kekurangan zat besi dan peradangan, dan ini harus diperbaiki agar
tercapai respon yang optimal terhadap terapi eritropeitin.
Pemilihan obat berdasarkan pada tingkat kepuasan klinis dari nefrologis dan
faktor biaya. Walaupun darbepoeitin-alfa memiliki waktu paruh lama dan dapat
diberikan dalam dosis setiap 2 minggu, ditemukan bukti bahwa baik darbepoeitin-alfa
atau epoeitin-alfa dapat diberikan dalam dosis yang jarang setiap 4 minggu. Dosis awal
dari epoeitin-alfa umumnya 100.000 unit per minggu subkutaneus. Bergantung pada
protocol yang digunakan, setelah target kadar hemoglobin tercapai (11-12 gr/dl) banyak
dokter yang menggandakan dosis menjadi 2 kali lipar dari dosis awal (10.000 unit

13

seminggu sekali menjadi 20.000 unit setiap 2 minggu dan kemudian 40.000 unit setiap
4 minggu) setelah interval waktu tercapai dilakukan titrasi dosis untuk tetap memantau
kadar hemoglobin. 7,10
Evaluasi status zat besi (TSAT dan feritin) setidaknya setiap 3 bulan selama terapi
ESA, termasuk menentukan untuk memulai atau melanjutkan terapi besi. Test status
besi (TSAT dan feritin) lebih sering dilakukan ketika memulai atau meningkatkan dosis
ESA, bila ada kehilangan darah, ketika memantau respon setelah pemberian besi IV,
dan dalam keadaan lain dimana cadangan besi dapat menurun. 6,7
Penggunaan ESA untuk pasien penyakit ginjal kronis non dialisis dewasa dengan
konsentrasi Hb 10.0 g/dl ( 100 g/l ), disarankan tidak menggunakan terapi ESA.
Untuk pasien penyakit ginjal kronis non dialisis dewasa dengan konsentrasi Hb <10.0
g/dl

(<100

g/l)

disarankan

bahwa

keputusan

apakah

akan

memulai terapi ESA berdasarkan tingkat penurunan konsentrasi Hb , respon sebelum


dengan terapi besi, risiko dibutuhkannya transfusi, risiko yang terkait dengan terapi ESA
dan adanya gejala yang menimbulkan anemia. Untuk pasien penyakit ginjal kronis
stadium 5 non dialisis dewasa, menunjukkan bahwa terapi ESA digunakan untuk
menghindari konsentrasi Hb jatuh di bawah 9,0 g/dl (90 g/l) dengan memulai terapi ESA
ketika hemoglobin adalah antara 9,0-10,0 g/dl (90-100 g/l). 6,7
Individualisasi terapi dilakukan karena beberapa pasien mungkin memiliki
peningkatan kualitas hidup yang lebih tinggi pada konsentrasi Hb yang tinggi pula dan
terapi ESA dapat dimulai di atas 10,0 g/dl ( 100 g/ l ).
Secara umum, ESA tidak dapat digunakan untuk memantau konsentrasi Hb di atas
11,5 g/dl (115 g /l) pada orang dewasa dengan penyakit ginjal kronis. Individualisasi
terapi akan diperlukan karena beberapa pasien mungkin memiliki peningkatan kualitas
hidup dengan konsentrasi Hb di atas 11,5 g / dl (115 g/l) yang akan siap untuk
menerima risiko. Pada semua pasien dewasa, tidak direkomendasikan penggunaan
ESA yang digunakan untuk sengaja meningkatkan konsentrasi Hb di atas 13 g / dl (130
g/l). Pada semua pasien penyakit ginjal kronis anak yang menerima terapi ESA,
disarankan

agar

konsentrasi

Hb

yang

dipilih

berada

dalam

kisaran

11,0-12,0 g/dl (110-120 g / l). Sebaiknya menentukan dosis awal ESA dengan
menggunakan konsentrasi Hb pasien, berat badan, dan keadaan klinis. Penyesuaian

14

dosis ESA dibuat berdasarkan konsentrasi Hb pasien serta tingkat perubahan


konsentrasi Hb, dosis ESA saat ini dan keadaan klinis. Re-evaluasi dosis ESA jika :

Pasien memburuk dengan terapi ESA

Pasien memiliki penyakit akut atau progresif yang dapat menyebabkan


hiporesponsif ESA

Untuk pasien penyakit ginjal kronis stadium 5 dengan hemodialisis dan terapi
hemofiltrasi disarankan penggunaan ESA dengan intravena atau subkutan. Untuk
penyakit ginjal kronis non dialisis dan pasien penyakit ginjal kronis stadium 5 peritoneal
dialisis, disarankan penggunaan ESA subkutan. Frekuensi pemberian disarankan
berdasarkan stadium penyakit ginjal kronis, pengaturan pengobatan, pertimbangan
efektifitas, toleransi pasien dan jenis ESA. Frekuensi pemantauan selama fase inisiasi
terapi ESA, mengukur konsentrasi Hb setidaknya satu kali dalam sebulan. Untuk pasien
penyakit ginjal kronis non dialisis, selama fase pemeliharaan ESA pengukuran
konsentrasi Hb dilakukan setidaknya setiap 3 bulan.Untuk pasien penyakit ginjal kronis
stadium 5 dengan dialisis, selama fase pemeliharaan terapi ESA pengukuran
konsentrasi Hb dilakukan setidaknya satu kali dalam sebulan. 6,7

II.7. Prognosis
Sementara banyak penelitian pada pasien penyakit ginjal kronis menemukan
bahwa anemia dan kaitannya terhadap resistensi terhadap EPO eksogen memiliki
prognosis yang buruk, kontribusi relatif terhadap hasil yang buruk dari hematokrit yang
rendah, inflamasi yang menjadi penyebab anemia, dan penyebab lain yang belum jelas.
Hubungan anemia dengan penyakit ginjal kronis, pertumbuhan populasi pasien
dengan penyakit ginjal kronis dan anemia, dan hubungan anemia dengan mortalitas
kardiovaskular.

Pengetahuan

dini,

ditambah

dengan

erythropoiesis dan strategi dosis, mengindentifikasi dan

ketersediaan

efektifitas

pengobatan anemia pada

penyakit ginjal kronis sangat penting dalam pengelolaan populasi berisiko. 10

15

BAB III
KESIMPULAN
Penyakit ginjal kronis adalah penurunan fungsi ginjal yang ditandai dengan
penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG) <60 mL/ mnt/ 1,73 m 2 dengan atau tanpa
disertai dengan kelainan struktur ginjal selama 3 bulan dan menetap.

1,2,3

Terjadi secara

bertahap dan berlangsung progresif yang dapat menyebabkan akumulasi dari bahan
toksik dalam tubuh, menyebabkan terjadinya beberapa komplikasi seperti, tekanan
darah tinggi, penurunan fungsi tulang, kerusakan saraf dan yang terpenting lainnya
adalah anemia.1
The National Kidney Foundations Kidney Dialysis Outcomes Quality Initiative
(K/DOQI) merekomendasikan anemia pada pasien penyakit ginjal kronis jika kadar
hemoglobin <11,0 gr/dl (hematokrit <33%) pada wanita premenopause dan pasien
prepubertas, dan <12,0 gr/dl (hematokrit <37%) pada laki-laki dewasa dan wanita
postmenopause. Prevalensi anemia meningkat sesuai dengan stadium penyakit ginjal
kronis yang terjadi, dari 8,4% di stadium satu menjadi 53,4% di stadium lima. Total dari
22,8% pasien penyakit ginjal kronis yang mengalami anemia mendapatkan pengobatan
untuk anemia selama tiga bulan terakhir, yaitu 14,6% pada penyakit ginjal kronis
stadium 1-2 dan 26,4% pasien pada stadium 3-4.
Faktor-faktor yang berkaitan dengan anemia pada penyakit ginjal kronik termasuk
kehilangan darah, pemendekan masa hidup sel darah merah, defisiensi vitamin,
uremic milieu, defisiensi eritropoetin, defisiensi besi dan inflamasi.
Penyebab utama terjadinya anemia adalah penurunan produksi eritropoeitin (EPO)
oleh karena rusaknya ginjal. Faktor tambahan lain yang mempengaruhi seperti
kekurangan zat besi, proses inflamasi akut atau kronis yang menyebabkan gangguan
utilisasi besi (anemia pada penyakit kronis), hiperparatiroid yang berat dengan
terjadinya fibrosis sumsum tulang, dan pendeknya umur sel darah merah karena
keadaan uremik. Selain itu, komorbiditas seperti hemoglobinopati dapat memperburuk
anemia.
Manifestasi klinis yang terjadi mudah lelah, toleransi terhadap aktivitas berkurang,
angina, gagal jantung, penurunan kognitif dan gangguan mental, serta gangguan

16

pertahanan host terhadap infeksi. Selain itu, anemia mungkin berpengaruh dalam
retardasi pertumbuhan pada anak-anak dengan penyakit ginjal kronis. Pemeriksaan
fisik dapat ditemukan pasien tampak pucat, yang mudah dilihat pada konjungtiva,
mukosa mulut, telapak tangan dan jaringan di bawah kuku.
Diagnosis anemia :

Anemia pada dewasa dan anak-anak > 15 tahun dengan penyakit ginjal kronis
dinyatakan dengan kadar hemoglobin <13 g/dl pada laki-laki dan <12 g/dl pada
wanita

Anemia pada anak-anak dengan penyakit ginjal kronis dinyatakan dengan kadar
hemoglobin <11.0 g/dl pada anak umur 0,5-5 tahun, <11.5 g/dl pada anak umur
5-12 tahun dan <12 g/dl pada anak umur 12-15 tahun

Penatalaksanaan terutama ditujukan pada penyebab utamanya,

disamping

penyebab lain bila ditemukan. Pemberian eritropoeitin (EPO) merupakan hal yang
dianjurkan. Dalam pemberian EPO, status besi harus selalu mendapat perhatian karena
EPO memerlukan besi dalam mekanisme kerjanya. Pemberian transfusi pada penyakit
ginjal kronis harus dilakukan dengan hati-hati, berdasarkan indikasi yang tepat dan
pemantauan yang cermat. Karena transfusi darah yang tidak cermat dapat
menyebabkan kelebihan cairan tubuh, hiperkalemia, dan perburukan fungsi ginjal.
Sasaran hemoglobin menurut berbagai studi klinik adalah 11-12 g/dl.
Sementara banyak penelitian pada pasien penyakit ginjal kronis menemukan
bahwa anemia dan kaitannya terhadap resistensi terhadap EPO eksogen memiliki
prognosis yang buruk, kontribusi relative terhadap hasil yang buruk dari hematokrit
yang rendah, inflamasi yang menjadi penyebab anemia, dan penyebab lain yang belum
jelas.

17

DAFTAR PUSTAKA
1. Chung M, Moorthy D, Hadar N, et al. Biomarkers for Assesing and Managing Iron
Deficiency Anemia In Late Stage Chronic Kidney Disease. 2012 Oct; 83: 1-2
2. Stauffer ME, Fan T. Prevalence of Anemia in Chronic Kidney Disease in United
States. Plos One. 2014 Jan; 9(1) : 1-2
3. Suwitra K. Buku Ajar Penyakit Dalam. 4th . ed. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Idrus
A, et al. Jakarta : Interna Publishing, 2008. 632 p.
4. Bakta IM. Buku Ajar Penyakit Dalam. 4th . ed. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Idrus A,
et al. Jakarta : Interna Publishing, 2008. 632-35 p.
5. Dmitrieva O, et al. Association of Anemia in Primary Care Patients with Chronic
Kidney Disease ; Cross Sectional Study of Quality Improvement in Chronic
Kidney Disease (OICKD) Trial Data. BMC Nephrol. 2013 ; 14(24) :2-3
6. Eknoyan G, et al. KDIGO Clinical Practice Guideline for Anemia in Chronic
Kidney Disease. Kidney Disease Improving Global Outcomes. 2012 Aug 2;2(4) :
283-86
7. Locatelli, et al. Kidney Disease : Improving Global Outcomes Guidelines on
Anemia Management in Chronic Kidney Disease : a European RenaL Best
Practice Position Outcomes. Nephrol Dial Transplant. 2013 Apr 12; 28: 1346-50
8. Fauci A, et all. Harrisons Principles of Internal Medicine. 18th . ed . Abbruzzese,
et al. United States of America : McGraw-Hill, 2012
9. Goldman L, Ausiello D. Cecil Medicine. 23rd. ed. Afdhal NH, et al. United State of
America : Saunders, 2007.
10. Provenzano, R. Current Diagnosis & Treatment Nephrology & Hypertension.
Lerma EV, Berns JS, Nissenson AR. United States of America : McGraw-Hill,
2009