Anda di halaman 1dari 12

Jumat, 11 Juni 2010

STRUKTUR DAN FUNGSI HEMOGLOBIN DAN MIOGLOBIN


A.

Struktur Hemoglobin
Hemoglobin adalah metaloprotein pengangkut oksigen yang mengandung besi dalam
sel merah dalam darah mamalia dan hewan lainnya. Hemoglobin adalah suatu protein dalam
sel darah merah yang mengantarkan oksigen dari paru-paru ke jaringan di seluruh tubuh dan
mengambil karbondioksida dari jaringan tersebut dibawa ke paru untuk dibuang ke udara
bebas.
Molekul hemoglobin terdiri dari globin, apoprotein, dan empat gugus heme, suatu
molekul organik dengan satu atom besi. Mutasi pada gen protein hemoglobin mengakibatkan
suatu golongan penyakit menurun yang disebut hemoglobinopati, di antaranya yang paling
sering ditemui adalah anemia sel sabit dan talasemia.
Hemoglobin tersusun dari empat molekul protein (globulin chain) yang terhubung
satu sama lain. Hemoglobin normal orang dewasa (HbA) terdiri dari 2 alpha-globulin chains
dan 2 beta-globulin chains, sedangkan pada bayi yang masih dalam kandungan atau yang
sudah lahir terdiri dari beberapa rantai beta dan molekul hemoglobinnya terbentuk dari 2
rantai alfa dan 2 rantai gama yang dinamakan sebagai HbF. Pada manusia dewasa,
hemoglobin berupa tetramer (mengandung 4 subunit protein), yang terdiri dari masingmasing dua subunit alfa dan beta yang terikat secara nonkovalen. Subunit-subunitnya mirip
secara struktural dan berukuran hampir sama. Tiap subunit memiliki berat molekul kurang
lebih 16,000 Dalton, sehingga berat molekul total tetramernya menjadi sekitar 64,000 Dalton.
Pada pusat molekul terdapat cincin heterosiklik yang dikenal dengan porfirin yang
menahan satu atom besi; atom besi ini merupakan situs/loka ikatan oksigen. Porfirin yang
mengandung besi disebut heme Tiap subunit hemoglobin mengandung satu heme, sehingga
secara keseluruhan hemoglobin memiliki kapasitas empat molekul oksigen. Pada molekul
heme inilah zat besi melekat dan menghantarkan oksigen serta karbondioksida melalui darah,
zat ini pula yang menjadikan darah kita berwarna merah.
Hemoglobin juga berperan penting dalam mempertahankan bentuk sel darah yang
bikonkaf, jika terjadi gangguan pada bentuk sel darah ini, maka keluwesan sel darah merah
dalam melewati kapiler jadi kurang maksimal. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa

kekurangan zat besi bisa mengakibatkan anemia. Nilai normal hemoglobin adalah sebagai
berikut :
Anak-anak

11 13 gr/dl

Lelaki dewasa

14 18 gr/dl

Wanita dewasa

12 16 gr/dl

Jika nilainya kurang dari nilai diatas bisa dikatakan anemia, dan apabila nilainya kelebihan
akan mengakibatkan polinemis.
B.

Struktur Mioglobin
Mioglobin (BM 16700, disingkat Mb) merupakan protein pengikat oksigen yang
relatif sederhana, ditemukan dalam konsentrasi yang besar pada tulang dan otot jantung,
membuat jaringan ini berwarna merah yang berfungsi sebagai penyimpan oksigen dan
sebagai pembawa oksigen yang meningkatkan laju transpor oksigen dalam sel otot. Mamalia
yang menyelam seperti ikan paus yang menyelam dalam waktu lama, memiliki mioglobin
dalam konsentrasi tinggi dalam ototnya. Protein seperti mioglobin juga banyak ditemukan
pada organisme sel tunggal. Mioglobin merupakan polipeptida tunggal dengan 153 residu
asam amino dan satu molekul heme. Komponen protein dari mioglobin yang disebut globin,
merupakan rantai polipeptida tunggal yang berisi delapan -heliks (Gambar 1). Sekitar 78%
residu asam amino dari protein ditemukan dalam -heliks ini.
Gambar 1. Struktur mioglobin. Segmen delapan -heliks (terlihat sebagai silinder) diberi label A sampai H.
Residu non heliks pada lipatan diberi label AB, CD, EF dan seterusnya menandakan segmen yang disambung.
Heme terikat pada ruang yang terbentuk oleh heliks E dan F, meskipun residu asam amino dari segmen lain
juga berpartisipasi

Lipatan rantai globin membentuk celah yang hampir terisi gugus heme. Heme bebas [Fe2+]
mempunyai afinitas tinggi terhadap O2 dan dioksidasi searah membentuk hematin [Fe3+].
Hematin tidak dapat mengikat O2. Interaksi nonkovalen antara sisi asam amino rantai dan
cincin porfirin nonpolar yang mengandung celah sisi ikat oksigen meningkatkan afinitas
heme terhadap O2. Peningkatan afinitas melindungi Fe2+ dari oksidasi dan memungkinkan
pengikatan oksigen yang reversibel. Semua asam amino yang berinteraksi dengan heme
nonpolar kecuali dua histidin, yang berikatan langsung dengan atom besi heme dan histidin
yang lain menstabilkan sisi ikat oksigen. Ketika oksigen terikat pada heme bebas, aksis dari
molekul oksigen posisinya pada sudut ikatan Fe-O (Gambar 2a), berlawanan dengan hal ini,
ketika CO2 berikatan dengan heme bebas Fe, C dan O berada pada garis lurus (Gambar 2b).
Kedua kasus tersebut mencerminkan geometri orbital hibridisasi masing-masing ligan. Pada

mioglobin, His64 (His E7), pada sisi ikat O2 heme, terlalu jauh untuk berkoordinasi dengan
heme besi, tetapi berinteraksi dengan ligan yang terikat pada heme. Residu ini disebut distal
his, yang tidak berefek pada pengikatan oksigen (Gambar 2c) tetapi dapat menghalangi
pengikatan linier CO, menjelaskan pengurangan pengikatan CO ke heme.
Gambar 2. Efek sterik pengikatan ligan ke heme pada mioglobin. (a) Oksigen terikat pada heme dengan O2 (b)
Karbon dioksida terikat pada heme bebas. (c) Ilustrasi yang memperlihatkan susunan residu asam amino
mengelilingi heme mioglobin. Pengikatan O2 merupakan ikatan hidrogen pada distal His, His E7 (His64), yang
memfasilitasi pengikatan O2

C.

Fiksasi Oksigen
Protein yang merupakan penyusun darah yang berperan mengikat oksigen adalah
mioglobin. Mioglobin tidak cocok sebagai protein pengangkut oksigen, tetapi efektif sebagai
protein penyimpan oksigen. Mioglobin pada jaringan otot merah mengikat oksigen yang
dalam keadaan kekurangan oksigen akan dilepas sehingga bisa digunakan oleh mitokondria
otot untuk sintesis ATP yang bergantung oksigen. Mioglobin yang teroksigenasi, molekulo
oksigen menempati posisi koordinasi keenam dari atom besi dan juga gerakan His F8 serta
residu yang secara kovalen berikatan dengan His F8 ke arah bidang cincin. Gerakan ini
menimbulkan konformasi baru untuk bagian-bagian protein.
Ketika O2 berikatan dengan mioglobin, ikatan antara satu molekul oksigen dengan
Fe2+ berada tegak lurus terhadap bidang heme. Molekul O2 kedua berikatan dengan sudut
121o terhadap bidang heme dan terarah menjauhi histidin distal. Pengikiatan oksigen disertai
dengan putusnya ikatan garam anatar residu terminal karboksil pada keseluruhan subunit.
Pengikatan O2 selanjutnya dipermudah karena jumlah ikatan garam yang putus menjadi lebih
sedikit. Perubahan ini mempengaruhi struktur hemoglobin. Satu pasang sub unit /
mengadakan rotasi terhadap pasangan / lain, sehingga menempatlkan tentramer dan
meningkatkan afinitas heme terhadap O2.
Saat oksigenasi, atom besi deoksihemoglobin bergerak ke dalam bidang cincin
heme. Gerakan ini diteruskan pada histidin proximal, yang bergerak menuju bidang cincin
dan dan pada residu asam amino yang melekat pada his F8. Oksigen yang telah terlepas dari
hemoglobin menuju ke jaringan, hemoglobin kemudian mengamgkut CO2 dan proton ke
dalam paru.

Ketika O2 berikatan dengan mioglobin, ikatan antara satu molekul oksigen dengan
Fe2+ berada tegak lurus terhadap bidang heme. Molekul O2 kedua berikatan dengan sudut 121
derajat terhadap bidang heme dab terarah menjauhi istidin distal.
Hemoblobin
Pengikatan O2 disertai dengan putusnya ikatan garam antara residu terminal karboksil
pada keseluruhan empat sub unit. Pengikatan O2 berikutnya dipermudah karena jumlah ikatan
garam yang putus menjadi lebih sedikit. Perubahan ini juga sangat mempengaruhi struktur
sekunder, tersier, dan kwartener hemoglobin. Satu pasang subunit / mengadakan rotasi
terhadap pasangan / yang lain sehingga memampatkan tetramer tersebut dan meningkatkan
afinitas heme terhadap O2.
Struktur kuartener hemoglobin yang teroksigenasi-sebagian dinyatakan sebagai
status-T (taut, tegang) dan struktur kuartener hemoglobin yang teroksigenasi (HbO 2)
sebagai status R (rileks). R dan T juga digunakan untuk mencirikan struktur kuartener enzim
alosterik, dengan status T memiliki afinitas substrat yang lebih rendah.
Saat oksigenasi, atom besi deoksihemoglobin bergerak ke dalam bidang cincin heme.
Gerakan ini diteruskan pada histidin proksimal (F8), yang bergerak menuju bidang cincin,
dan pada residuasam amino yan melekat pada His F8.

WAP builder
Hipoksia yaitu kondisi simtoma kekurangan oksigen pada jaringan tubuh yang terjadi akibat
pengaruh perbedaan ketinggian. Pada kasus yang fatal dapat berakibat koma, bahkan sampai

dengan kematian. Namun, bila sudah beberapa waktu, tubuh akan segera dan berangsurangsur kondisi tubuh normal kembali.
Penyebab
Di dalam tubuh manusia terdapat suatu sistem kesetimbangan yang berperan dalam menjaga
fungsi fisiologis tubuh untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Salah satu proses adaptasi
yang dilakukan oleh tubuh manusia adalah beradaptasi terhadap perubahan ketinggian yang
tiba-tiba. Jika seseorang yang bertempat tinggal di Jakarta dengan ketinggian 0 km dari
permukaan laut (dpl) pergi dengan pesawat terbang ke Mexico City dengan ketinggian 2,3
km dpl, maka setelah tiba di Mexico City akan merasa pusing, mual, atau rasa tidak nyaman
lainnya.
Oleh karena itu, kasus Hypoxia ini tidak terjadi pada penduduk setempat yang sudah terbiasa
hidup di daerah dataran tinggi tersebut dan bagi pendaki gunung diperlukan pos-pos
pemberhentian agar tubuh selalu dapat beradaptasi secara baik terus-menerus.
Kesetimbangan Pengikatan Oksigen oleh Hemoglobin
Keadaan tersebut dapat dijelaskan berdasarkan sistem reaksi kesetimbangan pengikatan
oksigen oleh hemoglobin:
Hb(aq) + O2(aq) HbO2(aq)
HbO2 merupakan oksihaemoglobin yang berperan dalam membawa oksigen ke seluruh
jaringan tubuh termasuk otak. Tetapan kesetimbangan dari reaksi tersebut adalah:
Kc = [HbO2] / [Hb][O2]
Pada ketinggian 3 km, tekanan parsial gas oksigen sekitar 0,14 atm, sedangkan pada
permukaan laut tekanan parsial gas oksigen sebesar 0,2 atm.
Kesetimbangan akan bergeser ke kiri
Berdasarkan azas Le-Chatelier, dengan berkurangnya gas oksigen berati kesetimbangan akan
bergeser ke kiri, dan berakibat kadar HbO2 di dalam darah menurun. Akibat yang
ditimbulkan dari keadaan tersebut, suplai oksigen ke seluruh jaringan akan berkurang. Hal
inilah yang mengakibatkan terjadinya rasa mual dan pusing, serta perasaan tidak nyaman
pada tubuh.
Kondisi tersebut akan mengakibatkan tubuh berusaha beradaptasi dengan memproduksi
hemoglobin sebanyak-banyaknya. Dengan meningkatnya konsentrasi hemoglobin akan
menggeser kembali kesetimbangan ke kanan dan HbO2 akan meningkat kembali seperti
semula. Penyesuaian ini berlangsung kurang lebih 2-3 minggu.
Dari penelitian, diketahui bahwa kadar hemoglobin rata-rata penduduk yang bertempat
tinggal di dataran tinggi akan memiliki hemoglobin lebih tinggi daripada penduduk yang
bertempat tinggal di dataran rendah.
Latihan Hipoksia dengan Senam Pernafasan
Dengan penahanan dan penekanan nafas di bawah perut sambil bergerak menyebabkan
keadaan hipoksia (kekurangan oksigen) pada paru, berlanjut ke darah dan berakhir pada
seluruh sel jaringan tubuh, terutama pada sel-sel otot yang aktif. Dengan demikian akan

melatih dan merangsang seluruh sel tubuh melalui mekanisme hipoksia agar tetap tegar
dalam menghadapi kemiskinan akan oksigen, tidak hanya sel-sel ototnya saja. Sel adalah
satuan terkecil dari tubuh manusia. Secara biologis, kehidupan manusia tergantung pada
kehidupan sel, dan kesehatan manusia juga tergantung pada kesehatan sel-selnya. Dengan
tetap dapat bertaban tegar dalam kemiskinan oksigen, maka tentu saja fungsi sel-sel akan
menjadi semakin baik dalam keadaan oksigen normal.
Manusia dapat bertahan hidup tanpa makan sampai 10 hari asalkan masih dapat minum,
sedangkan puasa yang biasa dilakukan berkisar 14-18 jam. Demikian pula sel-sel tubuh
manusia dapat bertahan tanpa oksigen sekitar 5-8 menit. Dalam latihan Senam Pernafasan
Bioenergi NAQS Alif Lam Mim, sel-sel itu dipuasakan dari oksigen selama melakukan jurus
yaitu 30-45 detik. Dengan demikian dari sudut Ilmu Faal dapat dikemukakan bahwa
manipulasi oksigen yakni membuat sel-sel tubuh kekurangan akan oksigen adalah cara yang
sangat fisiologis untuk merangsang sel-sel tubuh meningkatkan dirinya.
Beberapa manfaat langsung yang dapat diperoleh dari mekanisme ini:
1. Bertambahnya jumlah haemoglobin darah. Hal ini bisa ditemukan pada pemukim di
pegunungan, dengan suasana oksigen tipis, jumlah Hb mereka lebih tinggi. Penderita anaemia
dapat sembuh dengan mekanisme ini.
2. Penelitian dapat menunjukkan bahwa olah raga biasa meningkatkan IgG, IgM dan netrofil
yang merupakan sebagian dari elemen-elemen ketahanan tubuh. Tentu saja diharapkan latihan
yang secara fisiologis mampu merangsang seluruh sel-sel tubuh dengan mekanisme
hipoksianya akan memberikan hasil yang lebih dalam meningkatkan elemenelemen
ketahanan tubuh tersebut. Penderita yang mengidap virus hepatitis B tetapi tidak disertai
gejala penyakit dan tanpa kelainan pada tes fungsi hatinya dapat menggunakan mekanisme
ini sebagai upaya altematif yang sangat fisiologis untuk merangsang sel-sel tubuhnya agar
mengadakan perlawanan dan membentuk zat antinya.
3. Latihan hipoksia dalam Senam Pernafasan Bioenergi NAQS Alif Lam Mim juga akan
menyebabkan orang menjadi lebih tahan terhadap akibat dari serangan penyakit kardiovaskular khususnya yang bersifat ischamic. Ischamic artinya ialah kekurangan oksigen bagi
sel-sel jaringan yang bersangkutan akibat dari kurangnya pasokan darah. Misalnya ischamic
stroke (otak) dan ischamic miokard Jantung). Pada orang-orang yang telah berlatih dengan
latihan hipoksida tentulah akan mendapat akibat yang lebih ringan karena sel-seinya telah
terbiasa dan terlatih terhadap kekurangan oksigen.
4. Melatih sel-sel dengan menghadapkannya pada kemiskinan oksigen tidak mustahil dapat
mencegah dan bahkan menyembuhkan penyakit-penyakit keganasan (tumor, kanker), oleh
karena sel-sel ganasnya pada umumnya mempunyai tingkat metabolisme yang sangat tinggi
sehingga membutuhkan oksigen lebih banyak untuk pertumbuhan ganasnya. Sel-sel demikian
lebih peka terhadap kekurangan oksigen sehingga akan lebih dahulu terganggu sampai ke
tingkat yang fatal, sementara sel-sel normal belum sampai ke tingkat itu. Sifat rakus sel-sel
ganas mengambil lebih banyak zat-zat bagi pertumbuhan ganasnya inilah yang dipergunakan
sebagai dasar bagi Kemoterapi keganasan di Kedokteran Barat. Akan tetapi bila cara
Kemoterapi ini dibandingkan dengan manipulasi oksigen, jelas bahwa manipulasi oksigen
jauh lebih aman dan praktis tanpa resiko, karena memang merupakan cara yang sangat
fisiologis sehingga tidak ada resiko overdoses. Bagi mereka yang didiagnosa atau pernah
didiagnosa mengidap keganasan, selagi masih mampu bergerak, sangat dianjurkan untuk
secepatnya mengikuti senam pernafasan Bioenergi NAQS Alif Lam Mim ini, sebagai upaya
penyembuhan dan pencegahan altenatif, di samping upaya konvensional melalui jalur Ilmu
Kedokteran.

5. Dalam tubuh manusia terdapat berrnacam-macam sel sesuai dengan banyaknya macam
jaringan yang menyusun tubuh manusia. Semua sel tubuh manusia mempunyai potensi untuk
menjadi ganas. Dengan Kemoterapi keganasan maka harus dipilih jenis obat yang paling baik
diserap oleh sel-sel ganas itu. Sedangkan dengan hipoksia, manipulasi oksigen, maka semua
sel-sel tubuh manusia memerlukan oksigen, sehingga oleh karenanya manipulasi oksigen
merupakan cara yang universal dan aman bagi terapi keganasan. Tentu saja untuk itu
diperlukan latihan yang lebih intensif yaitu frekuensi latihan lebih banyak serta waktu latihan
yang lebih lama. Pada dasamya pertumbuhan ganas itu barns sebanyak mungkin diganggu.
6. Normalnya fungsi sel-sel tubuh dan ketegaran serta ketahanannya dalam menghadapi
berbagai keadaan yang kurang menguntungkan merupakan wujud dari derajat kesehatan dan
kemampuan fungsionalnya yang lebih tinggi dari tubuh secara keseluruhan. Dengan demikian
maka ditinjau dari sudut Fisiologi, senam pernafasan Bioenergi NAQS Alif Lam Mim
menghasilkan ketegaran, ketangguhan dan vitalitas sel-sel tubuh yang diperoleh melalui
latihan hipoksia anaerobik. Latihan dengan mekanisme hipoksia anaerobik membuat sel-sel
tubuh memjadi pandai dan efisien menggunakan oksigen, yang berarti meningkatnya
kemampuan fungsional dan kesehatan sel, serta merupakan cara yang sangat fisiologis pula
dalam merangsang sel-sel tubuh untuk melakukan penyembuhan bagi dirinya. Pada olah raga
kesehatan umumnya adalah latihan untuk membuat sel-sel tubuh mudah dan banyak dapat
memperoleh oksigen. Bila kedua latihan tersebut digabungkan, maka manfaatnya bagi
kesehatan dan kemampuan fungsional jelas sangat besar. Yang satu pandai mencari oksigen,
yang satu lagi pintar dan efisien menggunakan oksigen.

http://reikinaqs.wapsite.me/Hipoksia
13 des 2011 19.45

Hipoksia
Pengertian :
Hipoksia adalah keadaan tubuh kekurangan oksigen untuk
menjamin keperluan hidupnya. Dengan menipisnya udara pada
ketinggian, maka tekanan parsiil oksigen dalam udara menurun
atau mengecil. Mengecilnya tekanan parsiil oksigen dalam udara
pernapasan akan berakibat terjadinya hipoksia.
Sifat-sifat hipoksia :
1)
Tidak terasa datangnya, sehingga orang awam tidak tahu
bahwa bahaya hipoksia ini telah menyerangnya.
2)
Tidak memberikan rasa sakit pada seseorang, bahkan sering
memberikan rasa gembira (euphoria) pada permulaan serangannya, kemudian timbul gejala-gejala lain yang lebih berat sampai
pingsan dan bila dibiarkan dapat menyebabkan kematian.

Macam hipoksia
Menurut sebabnya hipoksia ini dibagi menjadi 4 macam,
yaitu .
1)
Hypoxic-Hypoxia, yaitu hipoksia yang terjadi karena menurunnya tekanan parsiil oksigen dalam paru-paru atau karena
terlalu tebalnya dinding paru-paru. Hypoxic-Hypoxia inilah yang
sering dijumpai pada penerbangan, karena seperti makin tinggi
terbang makin rendah tekanan barometernya sehingga tekanan
parsiil oksigennyapun akan makin kecil.
2)
Anaemic-Hypoxia, yaitu hipoksia yang disebabkan karena
berkurangnya hemoglobin dalam darah baik kanena jumlah darahnya sendiri yang kurang (perdarahan) maupun karena kadar
Hb dalam darah menurun (anemia).
3)
Stagnant-Hypoxia, yaitu hipoksia yang terjadi karena adanya
bendungan sistem peredaran darah sehingga aliran darah tidak
lancar, maka jumlah oksigen yang diangkut dari paru-paru menuju sel persatuan waktu menjadi kurang. Stagnant hipoksia ini
sering terjadi pada penderita penyakit jantung.
4)
Histotoxic-Hypoxia, yaitu hipoksia yang terjadi karena adanya bahan racun dalam tubuh sehingga mengganggu kelancaran
pemapasan dalam.

Gejala-gejala hipoksia
Gejala yang timbul pada hipoksia sangat individual, sedang
berat ringannya gejala tergantung pada lamanya berada di daerah
itu, cepatnya mencapai ketinggian tersebut, kondisi badan orang
yang menderitanya dan lain sebagainya.
Gejala-gejala ini dapat dikelompokkan dalam dua golongan,
yaitu :
1) Gejala-gejala Obyektif, meliputi :
a)
Air hunger, yaitu rasa ingin menarik napas panjang terusmenerus
b)
Frekuensi nadi dan pernapasan naik
c)
Gangguan pada cara berpikir dan berkonsentrasi
d)
Gangguan dalam melakukan gerakan koordinatif misalnya
memasukkan paku ke dalam lubang yang sempit
e)
Cyanosis, yaitu warna kulit, kuku dan bibir menjadi biru
f)
Lemas
g)
Kejang-kejang
h)
Pingsan dan sebagainya.
2) Gejala-gejala Subyektif, meliputi :
a)
Malas
b)
Ngantuk
c)
Euphoria yaitu rasa gembira tanpa sebab dan kadang-kadang timbul rasa sok jagoan. Rasa ini yang harus mendapat perhatian yang besar pada awak pesawat, karena euphoria ini banyak
membawa korban akibat tidak adanya keseimbangan lagi antara
kemampuan yang mulai mundur dan kemauan yang meningkat.
Pembagian hipoksia berdasarkan ketinggian
Gejala-gejala hipoksia yang timbul ditentukan oleh ketinggian tempat orang tersebut berada. Ketinggian ini dapat
dibagi menjadi 4 golongan yaitu :
1)
The Indifferent Stage, yaitu ketinggian dari sea level sampai
ketinggian 10.000 kaki. Biasanya yang terganggu oleh hipoksia
di daerah ini hanya penglihatan malam dengan daya adaptasi
gelap terganggu. Pada umumnya gangguan ini sudah mulai nyata
pada ketinggian di atas 5.000 kaki; oleh karena itu pada latihan
terbang malam para awak pesawat diharuskan memakai oksigen
sejak di darat.
2)

Compensatory Stage, yaitu ketinggian dari 10.000 sampai


15.000 kaki.
Pada daerah ini sistem peredaran darah dan pernapasan telah
mengadakan perubahan dengan menaikkan frekuensi nadi dan
pernapasan, menaikkan tekanan darah sistolik dan cardiac output untuk mengatasi hipoksia yang terjadi. Pada daerah ini sistem
saraf telah terganggu, oleh karena itu tiap awak pesawat yang
terbang di daerah ini harus menggunakan oksigen.
3)
Disturbance Stage, yaitu ketinggian dari 15.000 kaki sampai
20.000 kaki.
Pada daerah ini usaha tubuh untuk mengatasi hipoksia
sangat terbatas waktunya, jadi pada daerah ini orang tidak akan
dapat lama tanpa bantuan oksigen. Biasanya tanda-tanda serangan hipoksia ini tidak terasa hanya kadang-kadang saja timbul rasa
malas, ngantuk, euphoria dan sebagainya, sehingga tahu-tahu
orang tersebut menjadi pingsan.
Gejala-gejala obyektif antara lain pandangan menjadi menyempit (tunnel vision), kepandaian menurun, judgement terganggu. Oleh karena itu pada daerah ini merupakan keharusan
mutlak seluruh awak pesawat maupun penumpang untuk menggunakan oksigen.
4)
Critical Stage, yaitu daerah dari ketinggian 20.000 kaki
sampai 23.000 kaki.
Pada daerah ini dalam waktu 3 5 menit saja orang sudah
tidak dapat menggunakan lagi pikiran dan judgement lain tanpa
bantuan oksigen.
Time of Useful Consciousness (TUC)
Adalah waktu yang masih dapat digunakan bila kita menderita serangan hipoksia pada tiap ketinggian; di luar waktu itu
kita akan kehilangan kesadaran. Waktu itu berbeda-beda pada
tiap ketinggian, makin tinggi waktu itu makin pendek. TUC ini
juga dipengaruhi oleh kondisi badan dan kerentanan seseorang
terhadap hipoksia. TUC ini perlu diperhatikan oleh para awak
pesawat agar mereka dapat mengetahui berapa waktu yang tersedia baginya bila mendapat serangan hipoksia pada ketinggian
tersebut. Sebagai contoh : TUC pada ketinggian 22.000 kaki =10
menit, 25.000 kaki = 5 menit, 28.000 kaki = 2,53 menit, 30.000
kaki = 1,5 menit, 35.000 kaki = 0,5 1 menit, 40.000 kaki = 15
detik dan 65.000 kaki = 9 detik.
Pengobatan hipoksia
Pengobatan hipoksia yang paling baik adalah pemberian
oksigen secepat mungkin sebelum terlambat, karena bila terlambat dapat mengakibatkan kelainan (cacat) sampai ke kematian.
Pada penerbangan bila terjadi hipoksia harus segera menggunakan
masker oksigen atau segera turun pada ketinggian yang aman
yaitu di bawah 10,000 kaki.
Pencegahan hipoksia
Pencegahan hipoksia dapat dilakukan dengan beberapa cara

mulai dari penggunaan oksigen yang sesuai dengan ketinggian


tempat kita berada, pernapasan dengan tekanan dan penggunaan
pressure suit, pengawasan yang baik terhadap persediaan oksigen pada penerbangan, pengukuran pressurized cabin, mengikuti ketentuan-ketentuan dalam penerbangan dan sebagainya.
Cara lain untuk pencegahan yaitu latihan mengenal datangnya
bahaya hipoksia agar dapat selalu siap menghadapi bahaya
tersebut.
Dysbarism
Pengertian
Menurut Adler yang dimaksud dengan dysbarism adalah
semua kelainan yang terjadi akibat berubahnya tekanan sekitar
tubuh, kecuali hipoksia. Banyak istilah yang telah digunakan
orang untuk memberi nama sindrom ini seperti penyakit dekompresi, aeroembolisme, aeroemphysema dan sebagainya. Tetapi
istilah dysbarism lebih tepat karena istilah-istilah tidak mencakup keseluruhan pengertian atau seluruh kejadian.
Di samping hipoksia masalah dysbarism juga termasuk
masalah yang penting dalam ilmu faal penerbangan. Dysbarism
ini telah sejak abad ke XVII dibicarakan orang dan sampai sekarangpun masih ramai didiskusikan karena etiologinya atau
patofisiologinya belum dapat dijelaskan secara sempuma. Banyak teori yang timbul tetapi selalu saja ada kelemahannya.
Pembagian dysbarism