Anda di halaman 1dari 19

Referat

SKOLIOSIS IDIOPATIK

Pembimbing :
dr. Dhevariza SpOT

Disusun oleh :
Monalisa
11.2013.095

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CIAWI
PERIODE 16 SEPTEMBER- 22 NOVEMBER 2014

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
JAKARTA, 2014
1

Kata Pengantar

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karuniaNya sehingga kami dapat menyelesaikan referat ini.
Referat ini kami laksanakan dalam rangka menjalankan Kepaniteraan Klinik Ilmu
Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana, yang berlokasi di Rumah
Sakit Umum Daerah Ciawi, Jawa Barat.
Referat ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum penyakit skoliosis dan
etiologi dari penyakit sampai dengan penalaksanaannya.
Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya

atas

segala

bimbingan yang telah diberikan dalam penyelesaian referat ini kepada :

1.

dr. Dhevariza SpOT

2.

Seluruh pihak yang ikut memberikan dukungan dan bantuan sehingga referat ini dapat
diselesaikan dengan baik.

Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam referat ini, oleh karena itu
saya mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang membangun sehingga dimasa
mendatang dapat ditingkatkan lebih baik lagi.

Jakarta, Oktober 2014

Penyusun

Daftar Isi

Halaman
1. Pendahuluan ................................................................................................................. 1
2. Definisi ........................................................................................................................ 1
2.1.Skoliosis Struktural ................................................................................................ 1
2.2.Skoliosis Fungsional ............................................................................................. 2
3. Epidemiologi ................................................................................................................ 2
4. Etiologi ......................................................................................................................... 3
4.1.Kongenital ............................................................................................................. 3
4.2.Neuromuskular ...................................................................................................... 4
4.3.Idiopatik ................................................................................................................ 4
5. Gambaran Anatomi ..................................................................................................... 5
6. Diagnosa ....................................................................................................................... 6
6.1.Anamnesa ............................................................................................................... 6
6.2.Inspeksi .................................................................................................................. 7
6.3.Palpasi .................................................................................................................... 8
7. Pemeriksaan Penunjang ............................................................................................... 9
7.1.Tes .......................................................................................................................... 9
8. Penatalaksanaan .................................................................................................... ..... 10
8.1.Medikamentosa .................................................................................................... 10
8.2.Non Medikamentosa ........................................................................................... 11
Daftar Pustaka .......................................................................................................... 15

1.

Pendahuluan
Skoliosis berasal dari bahasa Yunani yaitu Crookednes atau

kebengkokan.

Skoliosis mempengaruhi ikatan sendi dan otot yang mengenai tulang belakang, yang
menyebabkan tulang belakang, tulang rusuk dan tulang panggul bengkok. Banyak penyebab
yang berbeda dari scoliosis. Sebagian besar deformitas skoliosis adalah idiopatik (penyebab
tidak diketahui). Namun yang lain dapat kongenital disertai dengan gangguan atau sindroma
neuromuscular, atau kompensator dari ketidakcocokan panjang kaki atau kelainan intraspinal.
Seringkali seseorang dengan skoliosis telah mengalami kondisi ini sejak masa kanakkanak, namun karena skoliosis berkembang sangat cepat, kebanyakan kasus skoliosis tidak
terdiagnosa sampai usia 10-14 tahun. Pada skoliosis, tulang belakang melengkung abnormal
dari sisi ke sisi menyerupai bentuk S, dapat dilihat ketika kelengkungannya semakin parah
dan juga mengakibatkan ketidaknyamanan. Jika kelengkungannya sudah menjadi sangat
parah akhirnya dapat menganggu fungsi pernafasan dan jantung. Juga dapat merusak
persendian tulang belakang serta rasa sakit di masa tua.
Kebanyakan pasien dengan skoliosis diobati tanpa melalui tindakan operasi, walaupun
terkadang operasi dibutuhkan. Pengobatan skoliosis lebih efektif bila penyebab diketahui
lebih dini.1,2
2.

Definisi
Skoliosis adalah kelengkungan tulang belakang di bidang frontal yang abnormal ke
arah samping yang dapat terjadi pada segmen cervical(leher), thoracal (punggung),
maupun lumbal (pinggang). Kurva yang terbentuk mungkin cembung ke kanan (lebih sering
pada kurva level dada) atau ke kiri (lebih umum pada kurva punggung bawah). Tulang
belakang mungkin berputar sekitar sumbunya, merusak bentuk tulang iga. Skoliosis sering
diasosiasikan dengan kifosis dan punggung melengkung.1,2
Secara sederhana, skoliosis terbagi menjadi 2 jenis, yaitu,1,2 :

2.1. Skoliosis Struktural :


Terjadi kelengkungan atau rotasi tulang belakang ke arah samping pada satu sisi dan
termasuk jenis skoliosis terburuk oleh karena dapat menjadi progresif.
Skoliosis struktural dibagi menjadi :
a. idiopatik skoliosis
b. congenital
c. neuromuskular

2.2 Skoliosis Fungsional :


Terjadi kelengkungan namun tidak terfiksasi dan tidak progresif. Skoliosis fungsional
ini adalah skoliosis sekunder terhadap ketidaksesuaian panjang lengan.
Skoliosis dapat diukur dari derajat kelengkungannya. Orang yang menderita skoliosis
dengan kelengkungan < 25 diperkirakan hanya akan mengalami asimetri pada arah tulang
belakang saja. Pada anak-anak yang mengalami kelengkungan dengan derajat yang cukup
besar maka dapat mengalami kelengkungan antara 25-40 dan dapat mengalami kelainan
bentuk selama masa pertumbuhannya. Penderita skoliosis dengan kelengkungan sebesar
300 pada masa remaja dapat mengalami kelengkungan yang semakin meningkat hingga
mencapai 600. Itulah sebabnya penderita skoliosis harus segera menjalani terapi-terapi
pengobatan atau treatment lainnya yang cukup bermanfaat untuk menghindari prognosa yang
buruk.
Gambar 1. Anatomi Tulang Vertebra pada Pasien Skoliosis

Sumber : http://bimaariotejo.wordpress.com/2012/07/02/skoliosis/
3.

Epidemiologi
Pada suatu populasi, hampir 2%nya mengalami kelainan tulang belakang, yaitu
skoliosis. Kelainan tulang belakang ini, skoliosis, juga dapat disebabkan secara kongenital.
Jika ada salah satu anggota keluarga mengalami skoliosis, kemungkinan akan terjadinya
skoliosis pada anggota keluarga lain akan semakin besar (sekitar 20%).3
Dari seluruh kasus skoliosis yang terjadi, 85% di antaranya berupa skoliosis non
reversible, yang penyebabnya tidak diketahui atau disebut juga dengan skoliosis idiopatik.
5

Skoliosis idiopatik terbagi dalam empat kelompok, yaitu: jenis infantile yang muncul pada
bayi sejak lahir hingga usia 3 tahun, jenis juvenile yang terdapat pada anak usia 3 tahun
hingga usia awal pubertas, jenis adolescent yang terdapat pada remaja usia pubertas hingga
akhir pubertas (akhir masa pertumbuhan), dan jenis adult yang terdapat pada usia di atas 20
tahun.3
Sekitar 4% dari seluruh anak-anak usia 10 tahun hingga 14 tahun mengalami
skoliosis. Dan 40 % sampai 60% di antaranya ditemukan pada anak perempuan. Pada remaja
wanita juga sering terjadi skoliosis yang menyebabkan nyeri dan radang sendi punggung.4

4.

Etiologi
Skoliosis terlihat sebagai komplikasi dari banyak penyakit neuromuskular. Kelainan
bentuk skoliosis dapat terjadi secara struktural atau fungsional.
Terdapat 3 penyebab terjadinya skoliosis 5 :
4.1). Congenital (bawaan) :
Biasanya berhubungan dengan suatu kelainan pembentukan tulang belakang atau
tulang rusuk yang menyatu.
Skoliosis congenital sekunder terhadap perkembangan vertebra yang abnormal.
Anomali dapat disebabkan oleh kegagalan pembentukan vertebra parsial. Anomali yang
paling lazim dari kategori ini adalahhemivertebra. Malformasi vertebra juga bisa disebabkan
oleh kegagalan segmentasi, yang paling jelas adalah batang unilateral yang tidak bersegmen.
Anomali-anomali vertebra ini dapat menyebabkan skoliosis struktural nyata sejak
kehidupan dini. Batang unilateral yang tidak berseragam, terutama mempunyai resiko
progresivitas lengkung yang cepat. Skoliosis congenital dapat berhubungan dengan anomali
congenital dari sistem organ-organ lain terutama ginjal dan jantung.
Gambar 2. Skoliosis kongenital pada bayi laki-laki usia 13 bulan

Sumber : http://bimaariotejo.wordpress.com/2012/07/02/skoliosis/

4.2). Neuromuskuler
Pengendalian otot yang buruk atau kelemahan / kelumpuhan akibat beberapa penyakit
berikut :
a) Cerebral Palsy
b) Distrofi otot
c) Polio
d) Osteoporosis juvenile
Gambar 3. Skoliosis Neuromuskular

Sumber : http://bimaariotejo.wordpress.com/2012/07/02/skoliosis/

4.3.) Idiopatik
Penyebabnya tidak diketahui. Dapat diperoleh melalui beberapa ciri genetik. Bentuk
skoliosis ini tampak pada tulang belakang yang sebelunya tumbuh lurus selama bertahuntahun.
Skoliosis idiopatik dapat melumpuhkan anak-anak (paling banyak menyerang bayi
laki-laki antara lahir sampai usia 3 tahun), anak muda (menyerang kedua jenis kelamin antara
4-10 tahun), atau orang dewasa (biasanya menyerang anak perempuan usia 10 sampai usia
subur).
Skoliosis idiopatik bertambah parah selama pertumbuhan. Kelaianan ini biasanya
asimptomatik pada usia remaja, tetapi kurvatura berat dapat menimbulkan gangguan fungsi
paru atau nyeri pinggang bagian bawah pada tahun-tahun selanjutnya.

Gambar 4. Skoliosis idiopatik

Sumber : http://bimaariotejo.wordpress.com/2012/07/02/skoliosis/

5.

Gambaran Anatomi
Secara Anatomis, penderita skoliosis menderita berbagai kelainan, seperti 4,5 :
1. Tulang belakang melengkung secara abnormal ke arah samping.
2. Bahu dan atau pinggul kiri dan kanan tidak sama tingginya.
3. Mengalami nyeri punggung
4. Kelelahan pada tulang belakang setelah duduk atau berdiri lama
Skoliosis yang berat (dengan kelengkungan lebih besar) dapat menyebabkan
gangguan pernafasan.
Lokasi terjadinya skoliosis pada umumnya di daerah sekitar rongga dada atau pada
rongga dada hingga daerah pinggang. Kebanyakan pada punggung bagian atas, tulang
belakang membengkok dan pada tulang punggung bagian bawah, tulang belakang
melengkung ke kiri, sehingga bahu kanan tampak lebih tinggi dari bahu kiri. Pinggul kanan
juga mungkin lebih tinggi dari pinggul kiri.

Gambar 6. Berbagai Contoh lokasi-lokasi Terjadinya Skoliosis

Sumber : http://bimaariotejo.wordpress.com/2012/07/02/skoliosis/

6.

Diagnosa
6.1.

Anamnesa
Pasien datang dengan keluhan kosmetik karena terdapat perbedaan antara
bahu kanan dan kiri, Pada Skoliosis jarang yang mengeluh tidak nyaman atau nyeri,
tetapi pada skoliosis yang berat (dengan kelengkungan yang lebih besar dari 60) bisa
menyebabkan gangguan pernafasan karena menurunkan kapasitas paru-paru, selain
itu juga dapat terjadi sakit punggung, sakit pada pinggang dan paha, radang tulang
belakang degeneratif, gangguan sendi, gangguan jantung, kesulitan jalan. Bila
skoliosis disebabkan oleh tumor atau lesi pada spinal cord dapat menimbulkan nyeri
punggung. Biasanya terjadi kelelahan pada tulang belakang setelah duduk atau berdiri
lama.3,4
Pertanyaan yang sebaiknya ditanyakan pada pasien antara lain :

1. Pada umur berapa kelengkungan tulang belakang pertama kali terlihat?


(Penting untuk menentukan prognosis dan derajat keparahan skoliosis)
2. Siapa yang pertama kali mengetahuinya?
(orang tua/guru/dokter)
3. Bagaimana keadaan ibunya ketika sedang mengandung dulu?
(apakah ada kelainan atau suatu masalah ketika kehamilan dulu)
4. Apakah pasien mengalami perkembangan yang normal?
(berjalan, berbicara)

5. Apakah ada riwayat keluarga yang menderita Skoliosis Atau masalah tulang
belakang lainnya?
(karena 20 % akan mewarisi kelainan ini, bila dalam keluarganya ada yang menderita
skoliosis)
6. Apakah pasien mengalami nyeri punggung?
(Biasanya Soliosis pada anak atau remaja tidak menimbulkan nyeri.Bilaterdapat
nyeri,pemerikan selanjutnya harus dilakukan untuk mengetahui adanya kelainankelainan yang lain.)
6.2.

Inspeksi
Terdapat ciri- ciri penting, yaitu 3,4:
1. Tulang belakang melengkung secara abnormal ke arah samping.
2. Bahu kanan dan bahu kiri tidak simetris. Bahu kanan lebih tinggi daripada bahu
kiri.
3. Pinggang yang tidak simetris, salah satu pinggul lebih tinggi atau lebih menonjol
daripada yang lain.
4. Ketika membungkuk ke depan, terlihat dadanya tidak simetris.
5. Badan miring ke salah satu sisi, paha kirinya lebih tinggi daripada paha kanan .
6. Ketika memakai baju, perhatikan lipatan baju yang tak rata ,batas celana yang tak
sama panjang.
7. Untuk Skoliosis yg Idiopatik kemungkinan terdapat kelainan yang mendasarinya,
misalnya neurofibromatosis yang harus diperhatikan adalah bercak caf au
lait atau Spina Bifida yang harus memperhatikan tanda hairy patches (sekelompok
rambut yg tumbuh di daerah pinggang).
8. Pasien berjalan dengan kedua kaki lebar.
9. Perut menonjol.
10. Sedangkan pada kasus yang berat dapat menyebabkan :
i.

Kepala agak menunduk ke depan

ii.

Punggung lurus dan tidak mobile

iii.

Pangggul yang tidak sama tinggi

Kebanyakan pada punggung bagian atas, tulang belakang membengkok ke kanan dan
pada punggung bagian bawah, tulang belakang membengkok ke kiri; sehingga bahu kanan
lebih tinggi dari bahu kiri. Pinggul kanan juga mungkin lebih tinggi dari pinggul kiri. Selain
itu pada inspeksi dapat dilihat bila penderita disuruh membungkuk maka akan terlihat

perbedaan secara nyata ketinggian walaupun dalam keadaan tegap bisa dalam keadaan
normal.
6.3.

Palpasi
-

The Adams Forward Bending test


Pemeriksaan dilakukan dengan melihat pasien dari belakang yaitu dengan
menyuruhnya membungkuk 90 ke depan dengan lengan menjuntai ke bawah dan
telapak tangan berada pada lutut.. Temuan abnormal berupa asimetri ketinggian iga
atau otot-otot paravertebra pada satu sisi, menunjukan rotasi badan yang berkaitan
dengan kurvatura lateral. Skoliosis torakalis kanan akan menunjukkan lengkung
konveks ke kiri pada daerah torak yang merupakan tipe kurva idiopatik yang umum.
Deformitas tulang iga dan asimetri garis pinggang tampak jelas pada kelengkungan
30 atau lebih.4
Jika pasien dilihat dari depan asimetri payudara dan dinding dada mungkin
terlihat. Tes ini sangat sederhana, hanya dapat mendeteksi kebengkokannya saja tetapi
tidak

dapat

menentukan

secara

tepat

kelainan

bentuk

tulang

belakang.

Pemeriksaan neurologis (saraf) dilakukan untuk menilai kekuatan, sensasi atau reflex.

Gambar 7. Manuver Forward Bending Test

Sumber : http://bimaariotejo.wordpress.com/2012/07/02/skoliosis/

11

7.

Pemeriksaan Penunjang
Gambar 8. Rontgen tulang belakang / plain foto

Sumber : http://bimaariotejo.wordpress.com/2012/07/02/skoliosis/

7.1.

Test

a.

Metode Cobb
Test ini digunakan untuk mengukur sudut kelengkungan dari tulang belakang .
Caranya 6:
- Mengukur sudut Cobb dengan menggambar garis tegak lurus dari lempeng

ujung

superior dari vertebra paling atas pada lengkungan (mengukur dari puncak T9)
- Dan garis tegak lurus dari lempeng akhir inferior vertebra paling bawah dari
lengkungan (mengukur dari alas L3)
- Perpotongan dari kedua garis ini membentuk suatu sudut yang diukur.

Gambar 9. Metode Cobb

Sumber : http://bimaariotejo.wordpress.com/2012/07/02/skoliosis/

8.

Penatalaksanaan
Jenis terapi yang dibutuhkan untuk skoliosis tergantung pada banyak faktor. Sebelum
menentukan jenis terapi yang digunakan, dilakukan observasi terlebih dahulu. Terapi
disesuaikan dengan etiologi,umur skeletal, besarnya lengkungan, dan ada tidaknya
progresivitas dari deformitas. Keberhasilan terapi sebagian tergantung pada deteksi dini dari
skoliosis.6
8.1.

Medikamentosa
Tujuan pemberian obat adalah untuk mengurangi atau menghilangkan rasa
nyeri dan kemungkinan infeksi baik dari alat ataupun pembedahan, bukan untuk
mengobati skoliosis.
13

Obat yang digunakan antara lain :


1. Analgesik :

Asam Asetil Salisilat 3 x 500 mg

Paracetamol 3 x 500 mg

Indometacin 3 x 25 mg
2. NSAID (Non Steroid Anti Inflamation Drug)

8.2.

Non Medikamentosa

- Fisioterapi :
1. Terapi panas, dengan cara mengompres
2. Alat penyangga, digunakan untuk skoliosis dengan kurva 25-40 dengan skeletal yang
tidak matang (immature). Alat penyangga tersebut antara lain 6:
I.

Penyangga Milwaukee
Alat ini tidak hanya mempertahankan tulang belakang dalam posisi
lurus, tetapi alat ini juga mendorong pasien agar menggunakan otot-ototnya
sendiri untuk menyokong dan mempertahankan proses perbaikan tersebut.
Penyangga harus dipakai 23 jam sehari. Alat penyangga ini harus terus
digunakan terus sampai ada bukti objektif yang nyata akan adanya
kematangan

rangka

dan

berhentinya

pertumbuhan

selanjutnya.
Gambar 10. Alat Penyangga Milwaukee untuk Meluruskan

tulang

belakang

Sumber : http://bimaariotejo.wordpress.com/2012/07/02/skoliosis/
II.

Penyangga Boston
Suatu penyangga ketiak sempit yang memberikan sokongan lumbal
atau torakolumbal yang rendah. Penyangga ini digunakan selama 16-23 jam
sehari sampai skeletalnya matur. Terapi ini bertujuan untuk mencegah dan
memperbaiki deformitas yang tidak dikehendaki oleh pasien.

Gambar 11. Alat Penyangga Boston dapat Digunakan pada Skoliosis bagian lumbal
atau torakolumbal.

15

Sumber : http://bimaariotejo.wordpress.com/2012/07/02/skoliosis/
3. Terapi Stimulasi Otot-Otot Skoliosis
Kunci dari terapi ini adalah rehabilitasi dari otot dan ligamen yang menyangga
tulang belakang. Rehabilitasi otot harus melalui sistem saraf pusat dengan tujuan agar
pasien dapat meningkatkan kekuatan otot sehingga otot dapat menyangga tulang
belakang dengan posisi yang benar tanpa bantuan alat penyangga.

Gambar 12. Terapi Stimulasi Otot-Otot Skoliosis

Sumber : http://bimaariotejo.wordpress.com/2012/07/02/skoliosis/

2. Tindakan Pembedahan
Umumnya, jika kelengkungan lebih dari 40 derajat dan pasien skeletalnya
imatur, operasi direkomendasikan. Lengkung dengan sudut besar tersebut,
progresivitasnya meningkat secara bertahap, bahkan pada masa dewasa. Tujuan terapi
bedah dari skoliosis adalah memperbaiki deformitas dan mempertahankan perbaikan
tersebut sampai terjadi fusi vertebra. Beberapa tindakan pembedahan untuk terapi
skoliosis antara lain 6 :
i.

Penanaman Harrington rods (batangan Harrington)


Batangan Harrington adalah bentuk peralatan spinal yang dipasang melalui
pembedahan yang terdiri dari satu atau sepasang batangan logam untuk meluruskan
atau menstabilkan tulang belakang dengan fiksasi internal. Peralatan yang kaku ini
terdiri dari pengait yang terpasang pada daerah mendatar pada kedua sisi tulang
vertebrata yang letaknya di atas dan di bawah lengkungan tulang belakang.
Keuntungan utama dari penggunaan batangan Harrington adalah dapat
mengurangi

kelengkungan

tulang

belakang

ke

arah

samping

(lateral),

pemasangannya relatif sederhana dan komplikasinya rendah. Kerugian utamanya


17

adalah setelah pembedahan memerlukan pemasangan gips yang lama. Seperti


pemasangan pada spinal lainnya , batangan Harrington tidak dapat dipasang pada
penderita osteoporosis yang signifikan.
Gambar 13. Penanaman Harrington rods

Sumber : http://bimaariotejo.wordpress.com/2012/07/02/skoliosis/

ii.

Pemasangan peralatan Cotrell-Dubousset


Peralatan Cotrell-Dubousset meliputi pemasangan beberapa batangan dan
pengait untuk menarik, menekan, menderotasi tulang belakang. Alat yang dipasang
melintang antara kedua batangan untuk menjaga tulang belakang lebih stabil.6
Pemasangan peralatan Cotrell-Dubousset spinal dikerjakan oleh dokter ahli
bedah yang berpengalaman dan asistennya.
3. Larangan
-

Tidak boleh mengangkat barang-barang berat

4. Tindakan Yang Dapat Membantu Skoliosis

Mengangkat pinggul yang miring

Peregangan tulang belakang

Latihan pernapasan

Yoga

Daftar Pustaka
1. David J Dandy MA MD FRCS Essential Othopaedics and Trauma, Second
Edition. 1993
2. Sabiston. Buku Ajar Bedah. Edisi 2. Jakarta: EGC. 1994. Hal 392-396
3. Nelson. Ilmu Kesehatan Anaka. Edisi 15. Jakarta: EGC. 1996. Hal 689-692,
Hal 2360-2364
4. Wim De Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: EGC. 2010. Hal 832834
5. Sylvia A Price, Lorraine M Wilson. Patofisiologi. Edisi 2. Jakarta: EGC. 2012.
Hal 391-392
6. Ariotejo B, Skoliosis, 2012, diunduh dari :
http://bimaariotejo.wordpress.com/2012/07/02/skoliosis/, 12 Oktober 2014.

19