Anda di halaman 1dari 31

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

(UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA)


Jl. Arjuna Utara No.6 Kebon Jeruk - Jakarta

KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
SMF BEDAH
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CIAWI

Nama Mahasiswa

: Monalisa

Tanda Tangan :

NIM

: 112013095

Dokter Pembimbing

: dr. M.Relly Sofiar Sp. B

I. IDENTITAS PASIEN
Nama Lengkap : M. IR

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Tempat/tanggal lahir : Bogor, 10 July 1996

Suku Bangsa : Sunda

Status Perkawinan : Belum Menikah

Agama : Islam

Pekerjaan : Pelajar

Pendidikan : SMA

Alamat : Kp. Caringin RT 13/ RW 07

Masuk RS : 10 Oktober 2014 pk. 18.30 WIB

II. ANAMNESIS
Diambil dari: Autoanamnesis di RSUD Ciawi

Tanggal : 10 10 2014 Jam : 18.30 WIB

Keluhan Utama:
Bengkak pada buah zakar sebelah kanan sejak 5 hari SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang:


6 hari SMRS, OS mengaku mulai mengalami nyeri pada kemaluan yang hilang timbul.
Nyeri dirasakan seperti diremas pada buah zakar sebelah kanan yang menjalar ke perut kanan
bawah, terutama muncul saat beraktivitas, tetapi tidak sampai mengganggu aktivitas. Adanya
benjolan pada perut disangkal OS.
5 hari SMRS, pada saat mandi sore hari, OS menyadari buah zakar sebelah kanannya
membesar dan berwarna kemerahan, nyeri masih sama seperti 6 hari SMRS. OS juga mengaku
mengalami keluhan mual, tetapi tidak muntah. OS juga mengaku nyeri saat BAK, tetapi terasa
panas, kencing yang menetes dan sering kebangun malam hari untuk BAK disangkal OS. Os
mengatakan warna air kencingnya kuning jernih, tidak terdapat nanah pada kemaluan maupun
pada celana dalamnya. Keluhan sulit BAB, batuk, demam ataupun meriang disangkal. OS juga
mengaku keluhan seperti ini adalah pertama kalinya dan tidak ada keluarga yang pernah
mengalami keluhan seperti OS. Riwayat benturan pada kemaluan, berenang dan sakit gondongan
disangkal oleh OS. Namun, OS mengaku sekitar 7 hari yang lalu bersepeda bersama temannya,
tetapi adanya kecelakaan dalam bersepeda disangkal OS. OS sehari-hari mangatakan
menggunakan celana dalam yang ketat.

Riwayat Penyakit Dahulu


Tidak ada

Riwayat Hidup
Riwayat kelahiran:
( ) Di Rumah

( ) Rumah Sakit

Ditolong oleh ( ) Dokter

( ) Rumah Bersalin

( ) Bidan

Riwayat Makanan
Frekuensi/hari : 3x/ hari
Variasi/hari

: Bervariasi (ikan/telur/ayam)

Jumlah/hari

: Porsi sedang

Nafsu makan : Baik

() Puskesmas

( ) Dukun

( ) Lainnya

Riwayat Imunisasi ()
( + ) BCG

( + ) DPT

( + ) Polio

( + ) Hep B

( + ) Campak ( ) Lainnya,.

Penyakit Dahulu (Tahun)


( - ) Wasir/Hemorrhoid

( - ) Appendisitis

( - ) Hepatitis

( - ) Batu Ginjal / Saluran Kemih

( - ) Tumor

( - ) Fistel

( - ) Batu ginjal/saluran kemih

( - ) Penyakit Prostat

( - ) Struma tiroid

( - ) Hernia

( - ) Diare Kronis

( - ) Penyakit jantung

( - ) Typhoid

( - ) DM

( - ) Perdarahan otak

( - ) Batu empedu

( - ) Kelainan kongenital

( - ) Gastritis

( - ) Tifus abdominalis

( - ) Colitis

( -) Hipertensi

( - ) Ulkus ventrikuli

( - ) Tetanus

( - ) Penyakit pembuluh

bawaan

darah
( - ) ISK

( - ) Volvulus

( - ) Patah tulang

( - ) Luka bakar

Lain-lain :

( -) Operasi

( - ) Abses hati

(-) Kecelakaan

Riwayat Keluarga

Hubungan

Umur

Jenis

Keadaan Kesehatan

Penyebab Meninggal

(tahun)

Kelamin

Kakek

78

Meninggal

Tidak diketahui

Nenek

75

Meninggal

Tidak diketahui

Ayah

50

Sehat

Ibu

45

Sehat

Saudara

20

Sehat

Laki-laki

Saudara

10

Sehat

perempuan

Adakah Keluarga /Kerabat Yang Menderita:


Penyakit

Ya

Tidak

Hubungan

Alergi

Asma

Tuberkulosis

Arthritis

Rematisme

Hipertensi

Jantung

Ginjal

Lambung

ANAMNESIS SISTEM
Kulit
( - ) Bisul

( - ) Rambut

( - ) Keringat malam

( - ) Kuku

( - ) Kuning / Ikterus

( - ) Sianosis

Kepala
( - ) Trauma

( - ) Sakit kepala

( - ) Sinkop

( - ) Nyeri pada sinus

Mata
( - ) Nyeri

( - ) Radang

( - ) Sekret

( - ) Gangguan penglihatan

( - ) Kuning / Ikterus

( - ) Ketajaman penglihatan (hipermetropi)

Telinga
( - ) Nyeri

( - ) Gangguan pendengaran

( - ) Sekret

( - ) Kehilangan pendengaran

( - ) Tinitus
Hidung
( - ) Rhinnorhea

( - ) Gejala penyumbatan

( - ) Nyeri

( - ) Gangguan penciuman

( - ) Sekret

( - ) Epistaksis

( - ) Trauma

( - ) Benda asing (foreign body)

Mulut
( - ) Bibir

( - ) Lidah

( - ) Gusi

( - ) Mukosa

Tenggorokan
( - ) Nyeri tenggorokan

( - ) Perubahan suara

Leher
( -) Benjolan

( -) Nyeri leher

Dada (Jantung / Paru)


( - ) Sesak napas

( - ) Mengi

( - ) Batuk

( - ) Batuk darah

( - ) Nyeri dada

( - ) Berdebar-debar

Abdomen (Lambung / Usus)


( + ) Mual

( - ) Muntah

( - ) Diare

( - ) Konstipasi

( - ) Nyeri epigastrium

( - ) Nyeri kolik

( - ) Tinja berdarah

( - ) Tinja berwarna dempul

( - ) Benjolan

(+) Nyeri perut kanan bawah

Saluran Kemih / Alat kelamin


( + ) Disuria
( - ) Hesistancy
( - ) Kencing batu
( - ) Hematuria
( - ) Nokturia
( - ) Urgency
( - ) Kolik
( - ) Retensio urin

Katanemia
( - ) Leukorea

( - ) Perdarahan

( - ) Lain-lain

Haid
Kapan haid terakhir? ..............
( - ) Jumlah dan lamanya
( - ) Teratur/tidak
( - ) Nyeri
( - ) Gangguan haid
( - ) Gejala klimakterium
( - ) Pasca menopouse
Saraf dan Otot
( - ) Riwayat trauma

( - ) Nyeri

( - ) Bengkak

Ekstremitas
( - ) Bengkak

( - ) Deformitas

( - ) Nyeri

( - ) Sianosis

BERAT BADAN
Berat badan rata-rata : 68 kg
Berat tertinggi

: 70 kg

Berat badan sekarang : ( 68 ) tetap

( - ) naik ... kg

( + ) turun 2 kg

III. STATUS GENERALIS


Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis

Tanda-tanda vital

: TD : 120/80

Kepala

: Normocephali, rambut hitam, distribusi merata, deformitas (-)

Mata
Telinga

: Konjungtiva anemis -/-, sclera ikterik -/-,


: Normotia, sekret -/-, serumen +/+

Hidung

: Deviasi septum ( - ), Normosepta, sekret ( - )

Tenggorokan

: Faring tidak hiperemis, Tonsil T1/T1 tenang

Leher

: KGB leher dan kelenjar tiroid tidak teraba membesar

N : 72x/menit

RR : 22x/menit

S : 36,8c

Thorax
Paru-paru :
Inspeksi
Palpasi

: Kedua hemithorax simetris dalam keadaan statis dan dinamis


: Vocal fremitus sama pada kedua lapang paru dan benjolan (-)
Keadaan sela iga tidak mencembung dan menyempit

Perkusi

: Sonor kedua lapang paru

Auskultasi

: Suara nafas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-

Jantung :
Inspeksi
Palpasi

: Iktus cordis tidak terlihat


: Ictus cordis teraba pada intercostal 5 linea midclavicular sinistra

Perkusi

: Bunyi redup

Auskultasi

: Bunyi jantung S1 S2 reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen :
Inspeksi

: abdomen datar supel , tidak terdapat jaringan parut, striae, dan kelainan kulit, tidak

terlihat pelebaran vena, tidak ada benjolan, turgor kulit tidak tampak menurun
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Perkusi

: Bunyi tymphani di keempat kuadran abdomen, nyeri ketok CVA (-)

Palpasi

: Nyeri tekan (-), nyeri lepas (-), benjolan (-), defens muskular (-)

Hati: Permukaan rata, tepi tumpul, tidak ada pembesaran, tidak ada nyeri
Limpa: Tidak teraba
Ginjal: Ballotement (-), bimanual (-)

Alat kelamin :
Inspeksi: Testis kanan tampak membengkak dan hiperemis, terletak lebih tinggi dan lebih
horizontal daripada testis kiri
Palpasi: Testis membesar, bentuk rata dan reguler, nyeri tekan pada testis kanan.
Prehn sign test: Positif
Angle sign : Positif
Demings sign : Positif

Colok dubur (Tidak indikasi):

Extremitas (lengan & tungkai):


Tonus : Normotonus
Massa : Normal
Sendi : normal, nyeri (-), bengkak (-)

Kekuatan:

Sensori:

+5

+5

+5

+5

Edema:

Sianosis:
-

Refleks tendon

Kanan

Kiri

Bisep

Trisep

Patella

Archiles

Kremaster

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Refleks patologis

IV. STATUS LOKALIS


Regio Genitalia:
Inspeksi: Testis kanan tampak membengkak dan hiperemis, terletak lebih tinggi dan lebih
horizontal daripada testis kiri
Palpasi: Testis membesar, bentuk rata dan reguler, nyeri tekan pada testis kanan.
Prehn sign: Positif
Angle sign : Positif
Demings sign : Positif

nyeri tekan testis kanan,


udema, hiperemis

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium Tanggal 10/10/2010
Hematologi dan

Hasil

Nilai Normal

Satuan

Hemogloblin (Hb)

14,5

13,5 17,5

g/dL

Leukosit

9200

4.100 10.900

/uL

Hematokrit

44

41 53

Trombosit

290.000

140.000 440.000

/uL

Eritrosit

5,14

4,5 5,5

Juta/uL

MCV (VER)

86,4

80 100

Fl

MCH (HER)

28,2

26 34

Pg

< 10

mm/jam

Masa Pendarahan

3,30

01 - 06

Menit

APTT

32,1

27 - 42

Detik

Masa Protrombin/PT

9.9

12 - 19

Detik

Hemostatis

LED

KIMIA

Hasil

Nilai Normal

Satuan

Asam Urat

7,7

3,4 7,0

mg/dL

Kreatinin

0,9

0,7 1,5

mg/dL

Ureum

19

20 40

mg/dL

96

< 180

mg/dL

Na

143

135 147

mmol/L

3,8

3,5 5,0

mmol/L

Cl

101

96 108

mmol/L

FUNGSI GINJAL

DIABETES
Glukosa Sewaktu
ELEKTROLIT

Pemeriksaan USG Testis :


Hasil :
Terlihat dibandingkan yang kiri axis testis kanan berubah/melintang. Terlihat gambaran testis
kanan sedikit agak membesar/edema, terutama daerah perifernya. Vaskularisasi kedua testis
kanan dan kiri, tidak banyak berbeda. Gambaran epididimis kanan dan kiri dalam batas normal.
Terlihat banyak fluid collection pada scrotum kanan. Gambaran testis dan epididimis kiri dalam
batas normal.
Kesan : Suspect torsio testis kanan lama dengan hidrocele testis dextra

Anjuran pemeriksaan :
Urinalisis

VI. RINGKASAN (RESUME/SAILENT FEATURES)


Anamnesis :
6 hari SMRS, nyeri seperti diremas pada buah zakar sebelah kanan yang hilang timbul
dan menjalar ke perut kanan bawah, terutama muncul saat beraktivitas.
5 hari SMRS buah zakar sebelah kanannya membesar, berwarna kemerahan dan nyeri.
Selain itu, OS juga mengatakan mual, muntah (-), nyeri saat BAK dan warna air kencingnya
kuning jernih, tidak terdapat nanah pada kemaluan maupun pada celana dalamnya. Adanya
benjolan pada perut, keluhan sulit BAB, batuk, demam ataupun meriang disangkal OS. Riwayat
benturan pada kemaluan, berenang dan sakit gondongan juga disangkal oleh OS. Tetapi terdapat
riwayat bersepeda sekitar 7 hari yang lalu, adanya kecelakaan (-). Selain itu sehari-hari OS
mangatakan menggunakan celana dalam yang ketat.

Pemeriksaan Fisik :
Inspeksi: Testis kanan tampak membengkak dan hiperemis, terletak lebih tinggi dan lebih
horizontal daripada testis kiri
Palpasi: Testis membesar, bentuk rata dan reguler, nyeri tekan pada testis kanan.
Prehn sign: Positif
Angle sign : Positif
Demings sign : Positif

Refleks kremaster : Negatif

Pemeriksaan Penunjang :
Laboratorium : Hb 14,5 g/dL, Ht 44%, leukosit 9200
USG : Suspect torsio testis kanan lama dengan hidrocele testis dextra

VII.

DIAGNOSIS KERJA

Torsio Testis Dextra


Dasar diagnosis : Pada anamnesis, terdapat riwayat nyeri yang bersifat tumpul, buah zakar yang
membesar atau membengkak dan kemerahan. Os juga mempunyai riwayat sering menggunakan celana
dalam yang ketat. Sedangkan, pada pemeriksaan fisik didapatkan testis kanan terletak lebih tinggi
(Demings Sign) dan testis posisinya lebih horizontal atau melintang (Angle Sign), nyeri pada palpasi dan
prehn test positif ( nyeri bertambah atau tidak berkurang saat mendorong testis ke arah cranial). Selain
itu refleks kremaster juga pada pasien ini negatif. Pada USG juga didapatkan hasil yang mendukung,
selain itu pada hasil lab tidak didapatkan tanda-tanda infeksi, karena leukositnya dalam batas normal.

Dasar yang tidak mendukung: Onset keluhan terlalu lama yaitu sekitar 6 hari dan dari anamnesis
OS mengaku nyeri bersifat hilang timbul, juga tidak terdapat riwayat trauma, walaupun terdapat
riwayat menggunakan celana dalam yang ketat.

VIII. DIAGNOSIS DEFERENSIAL


1.Epididimitis
Dasar diagnosis diffensial : Karena gejala pada epididimitis hampir mirip dengan gejala
torsio testis yaitu karena bersifat akut dan dapat terjadi pada waktu yang sama. Pada
epididimitis akan terdapat tanda-tanda radang yaitu udem, kemerahan dan nyeri. Pada
pemeriksaan fisik juga posisi testis akan tampak normal vertikal, ukuran kanan dan kiri
sama atau hampir sama, dan letaknya tidak tinggi. Kemudian, yang khasnya adalah pada
epididimitis prehn sign akan (-) karena dengan prehn test akan mengurangi regangan
pada funiculus spermaticus atau testis yang meradang. Selain itu, refleks cremaster pada
epididimitis juga akan normal. Pada pemeriksaan lab akan didapatkan leukositosis.

2.Orchitis
Dasar diagnosis differensial : karena orchitis juga mempunyai keluhan yang hampir sama
dengan torsio testis yaitu tampak scrotum membengkak dan teraba panas, terdapat
fluktuasi karena adanya pus, dan prehn sign (-). Namun pada orchitis biasanya
disebabkan oleh infeksi bakteri, yang bisa karena penyakit hubungan seksual, adanya
riwayat ISK, dan riwayat parotitis sebab kelenjar parotis dan testis mempunyai bentuk
kelenjar yang sama. Pada kasus ini tidak terdapat riwayat seperti di atas. Selain itu, pada
orchitis hasil lab akan menunjukkan leukositosis.

3. Hidrocele
Dasar diagnosis differnsial : hidrocele adalah terdapatnya cairan di dalam cavum tunica
vaginalis/ scrotum yang bisa disebabkan belum sempurnanya penutupan prosesus vaginalis
maupun overproduksi cairan atau belum sempurnanya reabsorpsi cairan sistem limfatik.
Sehingga pada hidrocele akan didapatkan benjolan pada scrotum yang berbentuk bulat
batas tegas konsistensi kenyal/lunak, ada fluktuasi, tidak nyeri tekan, bertambah besar jika
batuk, dan testis tidak teraba yang pada kasus diatas tidak ditemui. Onset pada hidrocele
juga tidak bersifat akut, berbeda dengan torsio testis.

4. Hernia Scrotalis Inkarserata / strangularis


Dasar diagnosis differntial : pada Hernia Scrotalis Inkarserata / strangularis akan memberikan
gambaran yang menyerupai torsi testis, yaitu nyerinya. Nyeri yang ditimbulkan hernia adalah
karena isi hernia yang terjepit sehingga isi kantung terperangkap yang menyebabkan gangguan
pasase usus dan vaskularisasi. Oleh karena itu, pada hernia tidak terdapat tanda-tanda radang yang
tampak dari luar, konsistensinya lunak, disertai gejala ileus obstruktif, dan jika terjadi gangguan
vaskularisasi akan menyebabkan gangren, biasanya pasien akan demam, leukositosis, dan nyeri
tekan. Dilihat dari segi umur juga, pada hernia lebih sering pada orangtua walaupun ada beberapa
hernia yang terjadi pada bayi dan anak. Dari ukuran juga biasanya pada hernia scrotalis akan
berukuran lebih besar dibanding pembengkakan karena torsio testis.

IX.

PENATALAKSANAAN
Medikamentosa:
Analgetik: Ketorolac 30 mg IV

RL 20 tpm
Non-medikamentosa:
Tirah baring
Tindakan :
Orchidopexy bila testis masih viabel kemudian dilanjutkan orchidopexy testis
kontralateral
jika testis tidak viabel dilakukan orchidectomy
Post operasi :
Infus Ringer Laktat
Cefriaxon1x2g sehari
Ketorolac 30mg 3x sehari

Edukasi :
Pasien dinasehati minum obat secara teratur
Pasien dinasehati istirahat yang cukup

X.

PROGNOSIS
Ad vitam

: Bonam

Ad functionam : Bonam
Ad sanationam : Bonam

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Testis
Testis merupakan sepasang struktur berbentuk oval dg berat 10-14 gr dg panjang
4 cm ukuran dari anterior ke posterior 3 cm dan lebar 2,5cm dan memiliki bagian2 yakni
extremitas superior, extremitas inferior, facies lateralis, facies medialis, margo anterior
(convex), margo posterior (datar).
Testis berada didalam skrotum bersama epididimis yaitu kantung ekstraabdomen tepat
dibawah penis. Testis kiri terletak lebih rendah drpd yang kanan. Dinding pada rongga yang
memisahkan testis dengan epididimis disebut tunika vaginalis. Tunika vaginalis dibentuk dari
peritoneum intraabdomen yang bermigrasi ke dalam skrotum primitive selama perkembangan
genetalia interna pria, setelah migrasi ke dalam skrotum, saluran tempat turunnya testis (prosesus
vaginalis) akan menutup.
Setelah pubertas, selain sebagai organ reproduksi (menghasilkan spermatozoa) jg
sebagai

kelenjar

endokrin

yg

menghasilkan

hormon

androgen

yang berguna

untuk

mempertahankan tanda2 kelamin sekunder.

Lapisan Pembungkus Testis (Orchis)


Testis terletak di dalam cavum scrota yg ditutupi oleh scrotum. Dimana lapisan nya dari luar ke
dalam yakni :
a. Cutis
b. Tunica dartos

c. Fascia Spermatica Externa (Aponeurosis MOAE)


d. M. Cremasterica
e. Fascia Cremasterica (Aponeurosis MOAI)
f. Fascia Spermatica Interna (Aponeurosis MTA)
g. Tunica Vaginalis Propia (Lamina Parietalis dan Lamina Visceralis)
h. Tunica Albuginea

Vaskularisasi Testis (Orchis)


-- A.

testicularis dextra ei sinistra cabang dr aorta abdominalis

- V. testicularis dextra yg akan bermuara ke V. Cava Inferior


- V. testicularis sinistra yg akan bermuara ke v. renalis sinistra lalu bermuara ke Vena Cava Inferior
Innervasi Testis (Orchis)
Testis dipersarafi oleh serabut saraf dari plexus nervacus tertucularis. Plexus ini dibentuk oleh
nervus thoracalis VI-XII.

Testis terdiri dari 3 sel yaitu :

a. Sel Leydig yang berfungsi untuk menghasilkan hormon testoseron untuk menumbuhkan
ciri2 kelamin sejuder laki2. Sel ini juga sebagai Endocrin
b. Sel Sertoli yang berfungsi untuk memberi makan sperma yang dirangsang oleh FSH
yang dihasilkan oleh Adenehypophysis. Sel ini Sebagai sebagai Eksocrin
c. Sel Spermatozoid yang berfungsi untuk menghasilkan sperma yang berada pada dinding
Tubulus Seminiferus Contortus. Sel ini sebagai Eksocrin
3 sel ini dibagi 2 bagian yaitu Sel Leydig Sebagai Endocrin sedangkan Sel Sertoli dan Sel
Spermatozoid sebagai Eksocrin. Testis menghasilkan hormon testosterone yg berfungsi utk
memacu perkembangan system reproduksi steroid pria dan ciri seksual sekunder pria

B. Etiologi Torsio Testis


Adanya kelainan sistem penyangga testis menyebabkan testis dapat mengalami torsio
jika bergerak secara berlebihan. Beberapa keadaan yang menyebabkan pergerakan yang
berlebihan itu, antara lain adalah perubahan suhu yang mendadak (seperti pada saat

berenang), ketakutan, latihan yang berlebihan, batuk, celana yang terlalu ketat, defekasi,
atau trauma yang mengenai skrotum (Purnomo, 2003).
Faktor predisposisi lain terjadinya torsio meliputi peningkatan volume testis (sering
dihubungkan dengan pubertas), tumor testis, testis yang terletak horisontal, riwayat
kriptorkismus, dan pada keadaan dimana spermatic cord intrascrotal yang panjang (Ringdahl
& Teague, 2006).
Trauma dapat menjadi faktor penyebab pada sekitar 50% pasien, torsio timbul ketika
seseorang sedang tidur karena spasme otot kremaster. Kontraksi otot ini karena testis kiri
berputar berlawanan dengan arah jarum jam dan testis kanan berputar searah dengan jarum
jam. Aliran darah terhenti, dan terbentuk edema. Kedua keadaan tersebut menyebabkan
iskemia testis (Wilson & Hillegas, 2006).

C. Manifestasi Klinis Torsio Testis


Nyeri akut pada daerah testis disebabkan oleh torsio testis, epididimitis/orchitis akut
atau trauma pada testis. Nyeri ini seringkali dirasakan hingga ke daerah abdomen sehingga
dikacaukan dengan nyeri karena kelainan organ intraabdominal. Sedangkan nyeri tumpul disekitar
testis dapat disebabkan karena varikokel (Purnomo, 2003).
Pada torsio testis, pasien mengeluh nyeri hebat di daerah skrotum, yang sifatnya
mendadak dan diikuti pembengkakan pada testis. Keadaan itu disebut akut skrotum. Nyeri dapat
menjalar ke daerah inguinal atau perut sebelah bawah sehingga jika tidak diwaspadai sering
dikacaukan dengan apendisitis akut. Gejala lain yang juga dapat muncul adalah mual dan muntah,
kadang-kadang disertai demam ringan. Gejala yang jarang ditemukan pada torsio testis ialah rasa
panas dan terbakar saat berkermih, dan hal ini yang membedakan dengan orchio-epididymitis
(Wilson & Hillegas, 2006).

D. Patofisiologi Torsio Testis


ETIOLOGI

Immobilisasi
testis

Trauma
testis

Tumor
testis

Spasme otot kremaster

Adescendens
testicularis

Testis berotasi bebas

Aliran darah terhenti

Iskemia testis

Nekrosis

Perubahan keadaan
extreme

Bell-clapper

E. Penegakkan diagnosis
1. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dapat membantu membedakan torsio testis dengan penyebab akut
scrotum lainnya. Testis yang mengalami torsio pada scrotum akan tampak bengkak dan
hiperemis. Eritema dan edema dapat meluas hingga scrotumsisi kontralateral. Testis yang
mengalami torsio juga akan terasa nyeri pada palpasi. Jika pasien datang pada keadaan
dini, dapat dilihat adanya testis yangterletak transversal atau horisontal. Seluruh testis
akan bengkak dan nyeri sertatampak lebih besar bila dibandingkan dengan testis
kontralateral, oleh karenaadanya kongesti vena. Testis juga tampak lebih tinggi di dalam
scotum

disebabkan

karena

pemendekan

dari

spermatic

cord.

Hal

tersebut

merupakan pemeriksaan yang spesifik dalam menegakkan dianosis. Biasanya nyeri juga
tidak berkurang bila dilakukan elevasi testis (Prehn sign) (Ringdahl & Teague, 2006).
Pemeriksaan fisik yang paling sensitif pada torsio testis ialah hilangnya refleks
cremaster. Dalam satu literatur disebutkan bahwa pemeriksaan inimemiliki sensitivitas
99% pada torsio testis(Ringdahl & Teague, 2006).

2. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang berguna untuk membedakan torsio testis dengan
keadaan akut scrotum yang lain adalah dengan menggunakan stetoskop Doppler,
ultrasonografi Doppler, dansintigrafi testis, yang kesemuanya bertujuan untuk menilai

aliran darah ke testis. Stetoskop Doppler dan ultrasonografi konvensional tidak terlalu
bermanfaat dalam menilai aliran darah ke testis. Penilaian aliran darah testis secara nuklir
dapat membantu, tetapi membutuhkan waktu yang lama sehingga kasus bisa terlambat
ditangani. Ultrasonografi Doppler berwarna merupakan pemeriksaan noninvasif yang
keakuratannya kurang lebih sebanding dengan pemeriksaan nuclear scanning.
Ultrasonografi Doppler berwarna dapat menilai aliran darah, dan dapat membedakan
aliran darah intratestikular dan aliran darah dinding scrotum. Alat ini juga dapat
digunakan untuk memeriksa kondisi patologis lain pada scrotum (Purnomo, 2003).
Pemeriksaan sedimen urin tidak menunjukkan adanya leukosit dalam urin, dan
pemeriksaan darah tidak menunjukkan adanya inflamasi kecuali pada torsio yang sudah
lama dan mengalami keradangan steril (Purnomo, 2003).
Pada umumnya pemeriksaan penunjang hanya diperlukan bila diagnosis torsio
testismasih meragukan atau bila pasien tidak menunjukkan bukti klinis yang nyata
(Minevich, 2007; Ringdahl & Teague, 2006).
Adanya

peningkatan

acute-fase

protein

(dikenal

sebagai

CRP)

dapat

membedakanproses inflamasi sebagai penyebab akut scrotum (Rupp, 2006).


a. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan urin dilakukan untuk menyingkirkan diagnosa infeksi traktus
urinarius pada pasien dengan nyeri akut pada skrotum. Pyuria dengan atau tanpa
bakteri mengindikasikan adanya suatu proses infeksi dan mungkin mengarah kepada
epididimitis. Selain itu perlu jugadilakukan pemeriksaan darah dan sediment urin
(Purnomo, 2003).
b. Pemeriksaan Radiologis
Color Doppler Ultrasonography (Saladdin, 2009).
1) Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat aliran darah pada arteri testikularis.
2) Merupakan Gold Standar untuk pemeriksaan torsio testis dengan sensitivitas 8290% dan spesifitas 100%.
3) Pemeriksaan ini menyediakan informasi mengenai jaringan di sekitar testis yang
echotexture\Ultrasonografi dapat menemukan abnormalitas yang terjadi pada
skrotum seperti hematom, torsio appendiks dan hidrokel.

4) Pada torsio testis, akan timbul keadaan echotexture selama 24-48 jam dan
adanya perubahan yang semakin heterogen menandakan proses nekrosis sudah
mulai terjadi.
Nuclear Scintigraphy (Saladdin, 2009):

1) Pemeriksaan ini menggunakan technetium-99 tracer dan dilakukan untuk melihat


aliran darah testis.
2) Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengkonfirmasi hasil pemeriksaan aliran darah
yang meragukan dengan memakai ultrasonografi.
3) Memiliki sensitivitas dan spesifitas 90-100% dalam menentukan daerah iskemia
akibat infeksi.
4) Pada keadaan skrotum yang hiperemis akan timbul diagnosis negatif palsu
5) Adanya daerah yang mengandung sedikit proton pada salah satu skrotum
merupakan tanda patognomonik terjadinya torsio.

3. Dianosis Banding
Torsio testis harus selalu dibedakan dengan kondisi-kondisi lain sebagai penyebab
dari akut scrotum, antara lain (Minevich, 2007; Ringdahl & Teague, 2006) :
a.

Epididimitis akut
Penyakit ini secara umum sulit dibedakan dengan torsio testis. Nyeri scrotum akut
biasanya disertai dengan kenaikan suhu, keluarnya nanah dari uretra, adanya riwayat
coitus suspectus (dugaan melakukan senggama dengan selain isterinya), atau pernah
menjalani kateterisasi uretra sebelumnya. Pada pemeriksaan, epididimitis dan torsio
testis, dapat dibedakan dengan Prehns sign, yaitu jika testis yang terkena dinaikkan,

pada epididmis akut terkadang nyeri akan berkurang (Prehns sign positif),
sedangkan pada torsio testis nyeri tetap ada (Prehns sign negative). Pasien
epididimitis akut biasanya berumur lebih dari 20 tahun dan pada pemeriksaan
sedimen urin didapatkan adanya leukosituria dan bakteriuria
b. Hidrokel
Hidrokel adalah penumpukan cairan yang berlebihan di antara lapisan parietalis
dan viseralis tunika vaginalis. Dalam keadaan normal, cairan yang berada di dalam
rongga itu memang ada dan berada dalam keseimbangan antara produksi dan
reabsorbsi oleh sistem limfatik di sekitarnya.
Hidrokel yang terjadi pada bayi baru lahir dapat disebabkan karena: belum
sempurnanya penutupan prosesus vaginalis sehingga terjadi aliran cairan peritoneum
ke prosesus vaginalis (hidrokel komunikans) atau belum sempurnanya sistem limfatik
di daerah skrotum dalam melakukan reabsorbsi cairan hidrokel.
Pada orang dewasa, hidrokel dapat terjadi secara idiopatik (primer) dan sekunder.
Penyebab sekunder terjadi karena didapatkan kelainan pada testis atau epididimis
yang menyebabkan terganggunya sistem sekresi atau reabsorbsi cairan di kantong
hidrokel. Kelainan pada testis itu mungkin suatu tumor, infeksi, atau trauma pada
testis/epididimis.
Pasien mengeluh adanya benjolan di kantong skrotum yang tidak nyeri. Pada
pemeriksaan fisis didapatkan adanya benjolan di kantong skrotum dengan konsistensi
kistus dan pada pemeriksaan penerawangan menunjukkan adanya transiluminasi.
Pada hidrokel yang terinfeksi atau kulit skrotum yang sangat tebal kadang-kadang
sulit melakukan pemeriksaan ini, sehingga harus dibantu dengan pemeriksaan
ultrasonografi.

c.

Hernia incarserata
Pada anamnesis didapatkan riwayat benjolan yang dapat keluar masuk ke dalam
scrotum

yang

muncul

bersamaan

dengan

keaadaan

peningkatan

tekanan

intraabdominal seperti batuk atau mengejan. Benjolan dapat hilang bila berbaring.
Ukuran benjolan dapat bervariasi dari kecil sampai besar, Bila hernia sudah
mengalami inkarserta maka gejala yang timbul dapat berupa mual, nyeri kolik
abdomen, konstipasi, keerahan pada skrotum, dan bila di auskultasi dapat didengat
bunyi bising usus di daerah skrotum.

d. Tumor testis
Pembesaran testis yang tidak nyeri, biasanya terjadi pada usia 20-50 tahun dan sering
disertai dengan limfadenopati abdomen

e.

Torsio appendix testis/epididymis


Apendiks testis adalah sisa embriologi di atas testis yang juga bisa mengalami torsio.
Hal ini dapat di deteksi sebagai titik hitam pada transluminasi

F. Terapi
1. Non operatif
Pada beberapa kasus torsio testis, detorsi manual dari funikulus spermatikus dapat
mengembalikan aliran darah (Purnomo, 2003).
Detorsi manual adalah mengembalikan posisi testis ke asalnya, yaitu dengan memutar
testis ke arah berlawanan dengan arah torsio. Karena arah torsio biasanya ke medial maka
dianjurkan memutar testis ke arah lateral terlebih dahulu, kemudian jika tidak terjadi perubahan
dicoba detorsi ke arah medial. Hilangnya nyeri setelah detorsi menandakan bahwa detorsi telah
berhasil. Detorsi manual merupakan cara terbaik untuk memperpanjang waktu menunggu

tindakan pembedahan, tetapi tidak dapat menghindarkan dari prosedur pembedahan. Jika
detorsi berhasil operasi harus tetap dilaksanakan (Purnomo, 2003).
Dalam pelaksanaannya, detorsi manual sulit dan jarang dilakukan. Di unit gawat darurat,
pada anak dengan scrotum yang bengkak dan nyeri, tindakan ini sulit dilakukan tanpa anestesi.
Selain itu, testis mungkin tidak sepenuhnya terdetorsi atau dapat kembali menjadi torsio tak
lama setelah pasien pulang dari RS. Sebagai tambahan, mengetahui ke arah mana testis
mengalami torsio adalah hampir tidak mungkin, yang menyebabkan tindakan detorsi manual
akan memperburuk derajat torsio (Govindarajan, 2011).

2. Operatif
Torsio testis merupakan kasus emergensi, harus dilakukan segala upaya untuk
mempercepat proses pembedahan. Hasil pembedahan tergantung dari lamanya iskemia,
oleh karena itu, waktu sangat penting. Biasanya waktu terbuang untuk pemeriksaan
pencitraan, laboratorium, atau prosedur diagnostik lain yang mengakibatkan testis tak
dapat dipertahankan (Purnomo, 2003).
Tindakan operasi ini dimaksudkan untuk mengembalikan posisi testis pada arah
yang benar (reposisi) dan setelah itu dilakukan penilaian apakah testis yang mengalami
torsio masih viable (hidup) atau sudah mengalami nekrosis (Purnomo, 2003).
Torsio testis merupakan kasus emergensi, harus dilakukan segala upaya untuk
mempercepat proses pembedahan. Hasil pembedahan tergantung dari lamanya iskemia,
oleh karena itu, waktu sangat penting. Biasanya waktu terbuang untuk pemeriksaan
pencitraan, laboratorium, atau prosedur diagnostik lain yang mengakibatkan testis tak
dapat dipertahankan (Govindarajan, 2011).
Tujuan dilakukannya eksplorasi yaitu (Govindarajan, 2011):
a.

Untuk memastikan diagnosis torsio testis

b.

Melakukan detorsi testis yang torsio

c.

Memeriksa apakah testis masih viable

d.

Membuang (jika testis sudah nonviable) atau memfiksasi jika testis masih viable

e.

Memfiksasi testis kontralateral


Perbedaan pendapat mengenai tindakan eksplorasi antara lain disebabkan
oleh kecilnya kemungkinan testis masih viable jika torsio sudah berlangsung lama

(>24-48 jam). Sebagian ahli masih mempertahankan pendapatnya untuk tetap


melakukan eksplorasi dengan alasan medikolegal, yaitu eksplorasi dibutuhkan
untuk membuktikan diagnosis, untuk menyelamatkan testis (jika masih mungkin),
dan untuk melakukan orkidopeksi pada testis kontralateral. Saat pembedahan,
dilakukan juga tindakan preventif pada testis kontralateral. Hal ini dilakukan
karena testis kontralaeral memiliki kemungkinan torsio di lain waktu
(Govindarajan, 2011).
Jika testis masih hidup, dilakuakn orkidopeksi (fiksasi testis) pada tunika
dartos kemudian disusul orkidopeksi pada testis kontralateral. Orkidopeksi
dilakukan dengan mempergunakan benang yang tidak diserap pada 3 tempat
untuk mencegah agar testis tidak terpluntir kembali, sedangkan pada testis yang
sudah mengalami nekrosis dilakukan pengangkatan testis (orkidektomi) dan
kemudian disusul orkidopeksi pada testis kontralateral. Testis yang telah
mengalami nekrosis jika tetap dibiarkan berada dalam skrotum akan merangsang
terbentuknya antibodi antisperma sehingga mengurangi kemampuan fertilitas
dikemudian hari (Purnomo, 2003).

G. Prognosis
Bila dilakukan penangan sebelum 6 jam hasilnya baik, 8 jam memungkinkan pulih
kembali, 12 jam meragukan, 24 jam dilakukan orkidektomi. Viabilitas testis sangat
berkurang bila dioperasi setelah 6 jam.

H. Komplikasi
Torsio testis dan spermatic cord akan berlanjut sebagai salah satu kegawat daruratan
dalam bidang urologi. Nekrosis tubular pada testis yang terlibat jelas terlihat setelah 2 jam
dari torsi. Keterlambatan lebih dari 6-8 jam antara onset gejala yang timbul dan waktu
pembedahan atau detorsi manual akan menurunkan angka pertolongan terhadap testis hingga
55-85%. Putusnya suplai darah ke testis dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan
atrofi testis. Atrofi testikular dapat terjadi dalam waktu 8 jam setelah onset iskemia. Insiden
terjadinya atrofi testis meningkat bila torsio telah terjadi 8 jam atau lebih. Komplikasi klinis
dari TT adalah kesuburan yang menurun dan hilangnya testikular apabila torsi tersebut tidak
diperbaiki dengan cukup cepat. Tingkat yang lebih ekstrim dari torsi testis mempengaruhi
tingkat iskemia testikular dan kemungkinan penyelamatan (Greenberg, 2005).
Komplikasi torsi testis yang paling signifikan adalah infark gonad. Kejadian ini
bergantung pada durasi dan tingkat torsi. Analisis air mani abnormal dan apoptosis testikular
kontralateral juga merupakan sekuele yang diketahui mengikuti ketegangan testis. Oleh
karena itu, resiko subfertilitas harus dibicarakan dengan pasien. Testis yang telah mengalami
nekrosis jika tetap dibiarkan berada di dalam skrotum akan merangsang terbentuknya
antibodi antisperma sehingga mengurangi kemampuan fertilitas dikemudian hari.
Komplikasi lain yang sering timbul dari torsio testis meliputi yaitu hilangnya testis, infeksi,
infertilitas sekunder, deformitas kosmetik (Graham, 2009).

DAFTAR PUSTAKA
Cuckow, PM. 2001. Torsion of Testis. BJU International (2000). The Hospital for Sick Children ; Bristol,
United Kingdom
Graham; Townell, Nick. 2010. Testicular Torsion. British Medical Journal (Overseas & Retired Doctors
Edition;7/31/2010, Vol. 341 Issue 7767, p249
Greenberg, Michael. 2005. Testicular Torsion page 329. Greenbergs Text Atlas of Emergency Medicine.
Lippicott Williams Willkins : Philadelphia
Leape.L.L . 1990. Testicular Torsion. In : Ashcraft.K.W (ed), Pediatric Urology,; Philadelphia: W.B.
Saunders Company.
Minevich.E. 2007. Testicular Torsion, Department of Surgery, Division of Pediatric urology, akses di
http://www.emedicine.com/ med/topic2780htm
Purnomo, Basuki P. Dasar-dasar Urologi. Jakarta : Sagung Seto. 2003. 8,145-148.
Ringdahl, Erika MD ; Teague, Lynn MD. 2006. Testicular Torsion. American Family Physician. University of
MissouriColumbia School of Medicine: Columbia, Missouri 15;74(10):1739-1743.
Rupp.T.J. 2006. Testicular Torsion, Department of Emergency Medicine, Thomas Jefferson University,
akses di http://www.emedicine.com/med/topic2560.htm
Scott, Roy, Deane, R.Fletcher. Urology Ilustrated. London and New York : Churchill Livingstone. 1975.
324-325.
Sjamsuhidajat R, Wim De Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC. 2004. 799.
Wilson, Lorraine M. Hillegas, Kathleen B. 2006. Gangguan Sistem Reproduksi Laki-Laki dalam Price, Sylvia
A. Wilson, Lorraine M. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6 Volume 2. Jakarta:
EGC.