Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia memiliki jumlah penduduk keempat terbanyak di dunia.
Masyarakat di Indonesia dengan sejuta permasalahannya adalah sesuatu yang
sudah biasa. Salah satu permasalahannya adalah kekurangan air bersih untuk
keperluan sehari-hari, baik untuk mencuci, mandi maupun untuk minum. Sumber
air di masyarakat tercemar oleh imbah pabrik dan limbah rumah tangga yang
dapat berbentuk padat maupun cair. Air yang tercemar limbah ini biasanya penuh
dengan bakteri, berbau tidak enak, berwarna coklat hingga hitam dan dengan rasa
yang tentunya tidak enak juga. Jika digunakan oleh masyarakat, dikhawatirkan
akan membawa penyakit yang bisa membahayakan kesehatan. Salah satu cara
untuk menjernihkan air limbah adalah dengan cara melakukan filtrasi. Filtrasi
merupakan suatu metode pemisahan air (misal air kali yang kotor) berdasarkan
ukuran partikel. Filtrasi juga dapat diartikan sebagai proses penyaringan zat cair
melalui filter, dimana bagian padatan tertahan pada media filter. Dengan filtrasi
kita dapat memperoleh air yang lebih bersih dan steril. Oleh karena itu, perlu
dilakukan praktikum mengenai metode filtrasi.
1.2 Tujuan Praktikum
Praktikum ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui mekanisme
filtrasi pada air limbah.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Filtrasi


Filtrasi adalah pembersihan partikel padat dari suatu fluida dengan
melewatkannya pada medium penyaringan, atau septum, yang di atasnya padatan
akan terendapkan. Range filtrasi pada industri mulai dari penyaringan sederhana
hingga pemisahan yang kompleks. Fluida yang difiltrasi dapat berupa cairan atau
gas; aliran yang lolos dari saringan mungkin saja cairan, padatan, atau keduanya.
Oleh karena varietas dari material yang harus disaring beragam dan kondisi proses
yang berbeda, banyak jenis penyaring telah dikembangkan (Hiskia, dkk. 1996)
Cara filtrasi juga dipakai untuk memisahkan zat-zat yang kelarutannya
berbeda, misalnya gula yang dikotori pasir dimasukkan ke dalam air, gula akan
melarut, sedangkan pasir tidak. Melalui penyaringan, gula yang larut itu akan
turun sebagai filtrate. Lalu filtrate diuapkan sehingga diperoleh gula padat yang
bersih. Pada industri PAM, salah satu proses awalnya adalah penyaringan air
kotor melalui filter bed, yaitu lapisan air di atas, kerikil di tengah, dan batu besar
di bawah. Air saringan diolah lebih lanjut (Budiarti, 2009).
2.2 Manfaat Filtrasi
Air keruh yang digunakan bisa berasal dari mana saja, misalnya sungai,
rawa, telaga, sawah, sawah, air kotor lainnya. Filtrasi dapat menghilangkan bau
yang tidak sedap pada air yang keruh, dapat mengubah warna air yang keruh
menjadi lebih bening, menghilangkan pencemar yang ada dalam air atau
mengurangi kadarnya agar air dapat dilayak untuk minum cara ini berguna untuk
desa yang masih jauh dari kota dan tempat terpencil (Intan, 2013).
2.2 Pencemaran Air
Untuk mengetahui pencemaran air sungai digunakan kombinasi parameter
fisika, kimia dan biologi. Tetapi sering hanya digunakan paramerter fisika seperti
temperatu, warna, bau, rasa dan kekeruhan air, ataupun parameter kimia seperti:
partikel terlarut, kebutuhan oksigen biokimia (BOD), partikel tersuspensi (SS),

amonia (NH3). Bahan-bahan polutan bagi pencemaran air dalam bentuk


pencemaran fisika, kimia dan biologi dibagi menjadi 8 kelompok yaitu, agen
penyebab penyakit (bakteri, virus, protozoa, parasit), limbah penghabis oksida
(limbah rumah tangga, kotoran hewan dan manusia, bahan organik dan
sebagainya), Bahan kimia yang larut dalam air (asam, garam, logam beracun dan
senyawa lainnya), pupuk anorganik (garam nitrat dan fosfat yang terlarut), bahan
kimia organik (minyak, bensin, plastik, pestisida), bahan sedimen atau suspensi
(parikel tanah, pasir dan bahan anorganik lainnya yang melayang dalam air),
bahan-bahan radioaktif, dan panas.
Polutan biologis berasal dari kotoran manusia yang mengandung bakteri, virus,
protozoa atau parasit lainnya yang mencemari sungai atau sumur atau mata air
(Nurmaed, 2012).
Air memiliki sifat pelarut yang baik sehingga dapat melarutkan bahan-bahan
organik sisa-sisa pembuangan(limbah). Bahan-bahan organik yang terlarut ini
akan mengalami penguraian dan pembusukan,peristiwa inilah yang menyebapkan
air menjadi tercemar. Air yang tercemar ini mempunyai kadar oksigen yang
menurun dratis sehingga biota air akan mati. Ciri-ciri air yang tercemar dapat
dilihat secara kualitatif yaitu warna, viskositas dan bau (Arutanti, 2009).

BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat Praktikum


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Minggu, 1 Desember di Lapangan
Parkir Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas Mataram.
3.2. Alat dan Bahan Praktikum
3.2.1. Alat-alat Praktikum
Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat filtrasi,
galon, stopwatch, dan gelas ukur dan ember.
3.2.2. Bahan-bahan Praktikum
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah air limbah, pasir,
arang, ijuk dan kerikil.
3.3. Prosedur Kerja
Adapun langkah- langkah kerja yang dilakukan pada praktikum ini adalah
sebagai berikut :
1. Disiapkan peralatan praktikum.
2. Diisi tabung filtrasi dengan air limbah kemudian ditambahkan tanah
kedalamnya.
3. Dibuka keran pertama dan kedua.
4. Diperiksa tingkat kekeruhan air pada tangki pertama dan kedua, kemudian
diperiksa air filtrasi (hasil filtrasi) pada tangki kedua.
5. Ditutup semua keran, kemudian dipersiapkan stopwatch.
6. Dicatat data setiap lima menit, berapa volume filtrat yang ditampung dengan
gelas ukur.

BAB V
PEMBAHASAN

Filtrasi merupakan suatu cara pemisahan zat padat dari fluida melalui filter
yang berpori. Prinsip kerja filtrasi umumnya sama dengan destilasi, hanya saja
perbedaannya terletak pada media yang digunakan. Filtrasi menggunakan media
filter dan beda tegangan sedangkan pada destilasi menggunakan bantuan radiasi
surya. Cara filtrasi dipakai untuk memisahkan zat-zat yang kelarutannya berbedabeda atau berdasarkan perbedaan ukuran partikel.
Air limbah yang diambil dari kali dituang kedalam bak penampung air
limbah, kemudian dicampur dengan tanah agar menjadi lebih keruh. Air limbah
kemudian akan melewati pipa menuju tangki filtrasi yang kemudian disaring
dengan empat filter yaitu, pasir, kerikil, serabut dan yang terakhir arang. Air hasil
filtrasi kemudian ditampung dengan menggunakan gelas ukur untuk mengetahui
volume air yang diperoleh. Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan, setiap
kelompok melakukan filtrasi sebanyak 6 kali ulangan dengan interval 5 menit.
Kemudian volume air filtrat dirata-ratakan dan dari delapan kali pengamatan hasil
filtrat rata-ratanya adalah 0,02043 m3. Nilai Y rata-rata yang didapat adalah
674,20 s/m, nilai X rata-rata 0,2245 m, dan nilai X2 sebesar 0,0558.
Alat filtrasi yang digunakan dalam praktikum ini terdiri dari bak
penampung, pipa, tangki filtrasi yang berbentuk tabung, dan wadah hasil filtrasi
yang berupa gelas ukur. Bak penampung ini merupakan bak yang digunakan
untuk menampung air limbah atau air kali yang kotor yang akan di filtrasi. Tangki
yang berbentuk tabung mempunyai fungsi untuk sebagai media penyaringan.
Antara bak penampung dan tangki dihubungkan dengan pipa tempat mengalirnya
air. Di dalam tangki ini terdapat empat lapisan yang memiliki fungsi yang
berbeda-beda. Lapisan pertama berupa lapisan pasir yang memilki fungsi untuk
menyaring kotoran pada air tercemar yang berukuran makro (besar). Lapisan
kedua berupa lapisan kerikil yang berfungsi sebagai penjernih air. Lapisan ijuk
berfungsi untuk membersihkan air tercemar dari kotoran-kotoran yang berukuran
mikro (kecil-kecil) termasuk bakteri dan parasit lainnya. Lapisan terakhir yaitu

berupa arang yang memilki fungsi sebagai penghilang bau, penjernihan warna,
dan rasa akibat zat-zat hasil sisa filtrasi sebelumnya. Bagian terakhir filtrasi
adalah berupa wadah hasil filtrasi adalah berupa gelas ukur yang berfungsi untuk
mengukur berapa jumlah air hasil filtrasi. Air hasil filtrasi dialirkan melalui pipa
kemudian jatuh pada gelas ukur penampung.
Alat filtrasi akan berfungsi dengan baik jika komponen penyusunnya
dalam keadaan baik pula. Seperti, tidak ada kebocoran dalam bak penampung,
pipa, dan tabung filtrasinya. Filter yang tidak diganti dalam waktu lama juga akan
mengurangi kemampuannya dalam membersihkan air limbah. Setiap lapisan filter
harus diganti secara berkala agar kotoran-kotoran yang disaring tidak menumpuk
dan justru menjadi penyebab air yang disaring menjadi kotor lagi.
Berdasarkan hasil percobaan, dari awal hingga akhir proses filtrasi yang
dilakukan praktikan menghasilkan suatu filtrat yang mempunyai warna yang agak
bening yang awalnya sebelum disaring berwarna sangat keruh. Sedangkan bau
sebelum difiltrasi adalah amis, setelah dilakukan filtrasi bau amis air menjadi
hilang, sedangkan pada pengulangan kelima dan keenam air filtrat berbau lumpur.
Perubahan yang terjadi karena kotoran makro disaring oleh pasir, kemudian
kerikil menjernihkan air dan serabut sebagai penghilang kotoran mikro. Bau air
limbah yang hilang karena diserap oleh arang. Air limbah yang mengandung
banyak kotoran dan berwarna sangat keruh disaring oleh empat lapisan yang ada
dalam tabung filtrasi yaitu pasir, kerikil, serabut/ijuk dan arang. Perbedaan bau air
hasil filtrasi yang berbeda karena media filter pada tabung filtrasi belum diganti.
Air filtrat yang dihasilkan tidak terlalu bening karena, filter sudah digunakan
terlalu sering dan perlu diganti.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses filtrasi antara lain adanya
pengaruh tekanan pada medium filter (alat filtrasi), luas penampang alat filtrasi,
kecendrungan suatu bahan pada air limbah yang berpengaruh pada media alat
filtrasi, penambahan beberapa bahan pada alat filtrasi, dan pengaruh waktu
terhadap hasil filtrat. Semakin tebal lapisan media filter, maka luas permukaan
penahan partikel-partikel semakin besar dan jarak yang ditempuh oleh air semakin
panjang. Semakin rendah kualitas air yang akan difilter, maka akan semakin

memerlukan pengolahan yang sempurna atau kompleks Semua faktor tadi dapat
mempengaruhi apakah hasil yang didapat sesuai atau tidak dengan tujuan dari
percobaan yang dilakukan.
Alat filtrasi sangat berguna bagi masyarakat yang kekurangan sumber air
bersih. Filtrasi dapat menghilangkan bau yang tidak sedap pada air yang keruh,
dapat mengubah warna air yang keruh menjadi lebih bening, menghilangkan
pencemar yang ada dalam air atau mengurangi kadarnya agar air layak untuk
digunakan mencuci, mandi dan keperluan sehari-hari lainnya, cara ini berguna
untuk desa yang masih jauh dari kota dan tempat terpencil. Air yang dihasilkan
dari proses filtrasi mungkin tidak bisa langsung diminum karena kehigienisannya
masih diragukan dan ditakutkan bisa menyebabkan penyakit bagi masyarakat
yang mengkonsumsinya. Oleh karena itu, perlu dilakukan proses filtrasi
selanjutnya dengan teknologi yang lebih maju dan modern agar didapatkan filtrat
yang bersih, murni, sehat, higienis dan dapat langsung diminum.

BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat ditarik beberapa
kesimpulan antara lain:
1. Filtrasi adalah cara pemisahan zat padat dari cairan melalui saringan atau
filter yang berpori, untuk menghasilkan air yang bersih.
2. Hasil filtrat rata-ratanya adalah 0,02043 m3. Nilai Y rata-rata yang didapat
adalah 674,20 s/m, nilai X rata-rata 0,2245 m, dan nilai X2 sebesar 0,0558.
3. Alat filtrasi yang digunakan terdiri dari bak penampung, pipa, tangki filtrasi
yang berbentuk tabung, dan wadah hasil filtrasi yaitu gelas ukur.
4. Tabung filtrasi berisi lapisan pasir, kerikil, ijuk/serabut dan arang.
5. Air limbah setelah disaring berwarna agak bening dan tidak berbau.
6. Tingkat efisiensi praktikum kali ini adalah 60 %, hal ini belum dikatakan
berhasil karena kerusakan alat. Biasanya efisiensi alat filtrasi yang baik
adalah sekitar 90 % dan bahkan lebih.
7. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses filtrasi antara lain, tekanan alat
filtrasi, luas penampang alat filtrasi, penambahan beberapa bahan pada alat
filtrasi, pengaruh waktu terhadap hasil filtrat, tinggi rendahnya kotoran dalam
air limbah dan lain-lain.

6.2 Saran
Adapun saran dari penulis adalah untuk praktikum selanjutnya praktikan
harus melakukan pengamatan dengan teliti. Alat praktikum diperbaiki atau
diganti dengan alat yang lebih bagus.

DAFTAR PUSTAKA

Arutanti, Osi dan Mikrajuddin Abdullah, Khairurrijal, dan Hernawan


Mahfudz.2009. Penjernihan Air Dari Pencemar Organik Dengan Proses
Fotokatalis pada Permukaan Titnanium Dioksida (TiO2). Jurnal
Nanosains & Nantoteknologi ISSN 1979-0880.
Budiarti, Akhmad.2009., Teknologgi Sederhana. Erlangga.Jakarta
Choirunnisa, F.,2009. Dasar-Dasar Keteknikan Pengolahan.Liberty. Yogyakarta
Hiskia, Akhmad. 1996. Kimia Dasar 1. Erlangga. Jakarta
Intan, Sunita., 2013. Filtrasi Air Limbah.
http://sunitaintan.blogspot.com/2013/01/filtrasi-air-limbah.html. (Diakses
pada hari Mingu 30 Nopember 2014)