Anda di halaman 1dari 25

Oleh :

Tanta G Pinem
14202055
Jurusan : Teknik Mesin
Dosen Pengajar ;

SUHERMAN ST.MT

INSTITUT TEKNOLOGI MEDAN


SEMESTER GANJIL
TAHUN AJARAN 2014/2015

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita ucapkan kehadirat TuhanYang Maha Esa, karena berkat rahmatNya penulis dapat menyusun dan menyelesaikan makalah Material Teknik. Makalah
Material Teknik ini berisi pembahasan tentang baja. Makalah ini dibuat untuk acuan
bagi pembaca untuk menambah pengetahuan tentang baja, khususnya mahasiswa
teknik mesin.
Penulis juga mmengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing yang telah
memberikan tugas makalah ini untuk menambah pengetahuan kepada semua pembaca.
Penulis mengakui adanya kekurangan dalam penyusunan makalah ini, untuk itu
penulis mengharapkan adanya kritik dan saran dari para pembaca agar penulis dapat
menyempurnakan penulisan makalah ini.

Medan, 25 November 2014

Tanta Gunawan Pinem

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. PENGERTIAN
B. KANDUNGAN ATOM ATAU UNSUR KIMIA
C. BENTUK STRUKTUR MIKRO
D. CARA PEMBUATAN
BAB II PROSES PELEBURAN BAJA DENGAN EAF
A. KLASIFIKASI BAJA PADUAN
B. SIFAT-SIFAT TEKNIS BAHAN
C. CONTOH PENGGUNAAN APLIKASI DIBIDANG TEKNIK
PERTANIAN/TEKNIK MESIN
D. STANDARISASI DAN PENGKODEAN
E. BENTUK, UKURAN DAN HARGA DIPASAR
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
B. DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. PENGERTIAN
Baja adalah logam paduan, logam besi sebagai unsur dasar dengan beberapa
elemen lainnya, termasuk karbon. Kandungan unsur karbon dalam baja berkisar antara
0.2% hingga 2.1% berat sesuai grade-nya. Elemen berikut ini selalu ada dalam baja:
karbon, mangan, fosfor, sulfur, silikon, dan sebagian kecil oksigen, nitrogen dan
aluminium. Selain itu, ada elemen lain yang ditambahkan untuk membedakan
karakteristik antara beberapa jenis baja diantaranya: mangan, nikel, krom, molybdenum,
boron, titanium, vanadium dan niobium. Dengan memvariasikan kandungan karbon dan
unsur paduan lainnya, berbagai jenis kualitas baja bisa didapatkan. Fungsi karbon
dalam baja adalah sebagai unsur pengeras dengan mencegah dislokasi bergeser pada
kisi kristal (crystal lattice) atom besi. Baja karbon ini dikenal sebagai baja hitam karena
berwarna hitam, banyak digunakan untuk peralatan pertanian misalnya sabit dan
cangkul.
Penambahan kandungan karbon pada baja dapat meningkatkan kekerasan
(hardness) dan kekuatan tariknya (tensile strength), namun di sisi lain membuatnya
menjadi getas (brittle) serta menurunkan keuletannya (ductility).
Meskipun baja sebelumnya telah diproduksi oleh pandai besi selama ribuan
tahun, penggunaannya menjadi semakin bertambah ketika metode produksi yang lebih
efisien ditemukan pada abad ke-17. Dengan penemuan proses Bessemer di pertengahan
abad ke-19, baja menjadi material produksi massal yang membuat harga produksinya
menjadi lebih murah. Saat ini, baja merupakan salah satu material paling umum di
dunia, dengan produksi lebih dari 1,3 miliar ton tiap tahunnya. Baja merupakan
komponen utama pada bangunan, infrastruktur, kapal, mobil, mesin, perkakas, dan
senjata. Baja modern secara umum diklasifikasikan berdasarkan kualitasnya oleh
beberapa lembaga-lembaga standar.

B. KANDUNGAN ATOM ATAU UNSUR KIMIA


Unsur paduan ditambahkan untuk mencapai sifat tertentu dalam materi. Sebagai
pedoman, unsur paduan ditambahkan dalam persentase lebih rendah (kurang dari 5%)
untuk meningkatkan kekuatan atau kekerasan, atau dalam persentase yang lebih besar
(lebih dari 5%) untuk mencapai sifat-sifat khusus, seperti ketahanan korosi atau suhu
ekstrim stabilitas.
Mangan(Mg), silicon(Si), atau aluminium(Al) ditambahkan selama pembuatan
baja proses untuk menghilangkan oksigen terlarut dari lelehan. Mangan, silikon, nikel,
dan tembaga ditambahkan untuk meningkatkan kekuatan dengan membentuk larutan
padat di ferit. Kromium, vanadium, molibdenum, dan tungsten meningkatkan kekuatan
dengan membentuk fase kedua-karbida. Nikel dan tembaga meningkatkan ketahanan
korosi dalam jumlah kecil. Molibdenum membantu untuk melawan embrittlement.
Zirconium, cerium, dan kalsium meningkatkan ketangguhan dengan mengendalikan
bentuk inklusi. Mangan sulfida, timbal, bismut, selenium, dan telurium-mesin
meningkat.
Elemen paduan cenderung yang baik untuk membentuk senyawa atau karbida.
Nikel sangat larut dalam ferit, sehingga membentuk senyawa, biasanya Ni
Aluminium larut dalam ferit dan membentuk senyawa Al
sangat larut dan biasanya membentuk senyawa SiO

Al.

dan AlN. Silikon juga

MxO

y.

Mangan kebanyakan

larut dalam membentuk senyawa ferit Mns, MnO SiO

2,

tetapi juga akan membentuk

karbida dalam bentuk (Fe, Mn) 3 C. Bentuk kromium partisi antara fasa ferit dan karbida
di baja, membentuk (Fe, Cr

3)

C, Cr 7 C

3,

dan Cr

23

6.

Jenis bentuk kromium karbida

yang tergantung pada jumlah karbon dan jenis-jenis elemen paduan hadir. Tungsten dan
molibdenum membentuk karbida jika ada karbon yang cukup dan tidak adanya unsurunsur pembentuk karbida kuat (yaitu titanium & niobium), mereka membentuk karbida
Mo

C dan W

C, masing-masing. Vanadium, titanium, dan niobium karbida unsur-

unsur kuat yang membentuk karbida V 3 C 3, TiC, dan NIC satu demi satu.
Unsur paduan juga memiliki mempengaruhi pada suhu eutektoid baja. Mangan
dan nikel eutektoid menurunkan suhu dan dikenal sebagai unsur menstabilkan austenit.
Cukup dengan elemen-elemen ini pada struktur austenitik dapat diperoleh pada suhu
kamar.

Elemen pembentukan karbida eutektoid menaikkan suhu; elemen ini dikenal

sebagai unsur menstabilkan ferit.

C. BENTUK STRUKTUR MIKRO


Baja secara umum memiliki struktur mikro berupa ferit, dan pearlite. Ada
beberapa perbedaan struktur mikro yang disebabkan oleh konsentrasi karbon pasa
masing masing campuran, Fasa-fasa padat yang ada didalam baja :
a. Ferit (alpha) : merupakan sel satuan (susunan atom-atom yang paling kecil dan
teratur) berupa Body Centered Cubic (BCC= kubus pusat badan), Ferit ini
mempunyai sifat magnetis, agak ulet, dan agak kuat.
b. Autenit : merupakan sel satuan yang berupa Face Centered Cubic (FCC = kubus
pusat muka), Austenit ini mempunyai sifat Non magnetis, dan ulet.
c. Sementid (besi karbida) : merupakan sel satuan yang berupa orthorombik, Sementid
ini mempunyai sifat keras dan getas.
d. Perlit : merupakan campuran fasa ferit dan sementid sehingga mempunyai sifat kuat.
e. Delta : merupakan sel satuan yang berupa Body Centered Cubic (BCC=kubus pusat
badan)
High Speed Steel (HSS) merupakan salah satu bagian dari Tool steel dengan
kararakteristik mampu mempertahankan nilai kekerasan pada suhu 300~700 derajat
celcius. Selain itu material HSS juga memeliki kadar karbon yang relative lebih tinggi
dibandingkan material tool steel lainnya yaitu berkisar 1.5~2.0% C. Unsur-unsur paduan
utama yang terdapat dalam material HSS yang akan membentuk karbida yaitu Tungsten,
Molybdenum, Vanadium. Chromium. Unsur Nickel dan Manganese tidak terlalu banyak
digunakan yaitu berkisar 0.2~0.5%. Penambahan Cobalt, Boron, Niobium merupakan
salah satu alternatif untuk meningkatkan kinerja material HSS. Material HSS bisa di
hasilkan melalui proses pengecoran atau proses metalurgi serbuk. Berikut ini saya
tampilkan beberapa struktur mikro material HSS hasil proses pengecoran dengan
menggunakan etsa Murakami dengan perbesaran 500X, mikroskop Olympus GX51
Inverted Type

D. CARA PEMBUATAN

Proses dalam Dapur Tinggi


Prinsip dari proses dapur tinggi adalah prinsip reduksi. Pada proses ini zat
karbon monoksida dapat menyerap zat asam dari ikatan-ikatan besi zat asam pada
suhu

tinggi.

Pada pembakaran suhu tinggi 18000 C dengan udara panas, maka

dihasilkan suhu yang dapat menyelenggarakan reduksi tersebut. Agar tidak terjadi
pembuntuan karena proses berlangsung maka diberi batu kapur sebagai bahan
tambahan. Bahan tambahan bersifat asam apabila bijih besinya mempunyai sifat basa
dan sebaliknya bahan tambahan diberikan yang bersifat basa apabila bijih besi bersifat
asam.
Gas yang terbentuk dalam dapur tinggi selanjutnya dialirkan keluar melalui
bagian atas dan ke dalam pemanas udara. Terak yang menetes ke bawah
melindungi besi kasar dari oksida oleh udara panas yang dimasukkan, terak ini
kemudian dipisahkan.
Proses reduksi di dalam dapur tinggi tersebut berlangsung sebagai berikut:
Zat arang dari kokas terbakar menurut reaksi :
C+O2

CO2

Sebagian dari CO2

bersama dengan zat arang membentuk zat yang berada

ditempat yang lebih atas yaitu gas CO.


CO + C

2CO

Di bagian atas dapur tinggi pada suhu 300 sampai 800 C oksid besi yang lebih
tinggi diubah

menjadi

oksid

yang

lebih

rendah

oleh

reduksi

tidak

langsung dengan CO tersebut menurut prinsip :


Fe O + CO

2FeO+CO

Pada waktu proses berlangsung muatan turun ke bawah dan terjadi reduksi tidak
langsung menurut prinsip :
FeO+CO

Reduksi
yang mereduksi
sEdangkan reduksi

FeO+CO2
ini disebut tidak langsung
melainkan
langsung

persenyawaan
terjadi pada

karena
zat

bukan
arang

bagian

yang

zat arang
dengan

murni
oksigen.

terpanas

dari

dapur,

yaitu langsung di atas pipa pengembus. Reduksi ini berlangsung sebagai

berikut.
FeO+C

Fe+CO

CO yang terbentuk itulah yang naik ke atas untuk mengadakan reduksi


tidak langsung tadi.
Setiap 4 sampai 6 jam dapur tinggi dicerat, pertama dikeluarkan teraknya
dan baru kemudian besi. Besi yang keluar dari dapur tinggi disebut besi
kasar atau besi mentah yang digunakan untuk membuat baja pada dapur
pengolahan baja atau dituang menjadi balok-balok tuangan yang dikirimkan pada
pabrik-pabrik pembuatan baja sebagai bahan baku. Besi cair dicerat dan dituang
menjadi

besi

kasar

dalam

bentuk

balok-balok besi

kasar

yang

digunakan

sebagai bahan ancuran untuk pembuatan besi tuang (di dalam dapur kubah) atau
masih dalam keadaan cair dipindahkan pada bagian pembuatan baja (dapur Siemen
Martin).
Terak yang keluar dari dapur tinggi dapat pula dimanfaatkan menjadi
bahanpembuatan pasir terak atau wol terak sebagai bahan isolasi atau sebagai bahan
campuran semen. Besi cair yang dihasilkan dari proses dapur tinggi sebelum dituang
menjadi balok besin kasar sebagai bahan ancuran di pabrik penuangan, perlu dicampur
dahulu di dalam bak pencampur

agar kualitas dan susunannya seragam. Dalam bak

pencampur dikumpulkan besi kasar cair dari bermacam-macam dapur tinggi yang ada
untuk mendapatkan besi kasar cair yang sama

dan merata. Untuk menghasilkan besi

kasar yang sedikit mengandung belerang di dalam bak pencampur tersebut dipanaskan
lagi menggunakan gas dapur tinggi.

BAB II
PROSES PELEBURAN BAJA
Proses peleburan baja
Pada gambar 3 dan 4 ditunjukkan proses peleburan baja dengan menggunakan
bahan baku berupa besi kasar (pig iron) atau berupa besi
iron). Disampin

itu bahan

baku

lainnya

spons

(sponge

yang biasanya digunakan adalah

skrap baja dan bahan-bahan penambah seperti ingot ferosilikon, feromangan dan
batu kapur. Proses peleburan dapat dilakukan pada tungku BOF (Basic Oxygen
Furnace) atau pada tungku busur listrik (Electric Arc Furnace atau disingkat EAF).
Tanpa memperhatikan tungku atau proses yang diterapkan, proses peleburan baja pada
umumnya mempunyai tiga tujuan utama, yaitu :
mengurangi sebanyak mungkin bahan-bahan impuritas

mengurangi sebanyak mungkin bahan-bahan impuritas.

mengatur kadar karbon agar sesuai dengan tingkat grade/spesifikasi baja

yang

diinginkan.

menambah elemen-elemen pemadu yang diinginkan.

Proses Peleburan Baja Dengan BOF


Proses ini termasuk proses yang paling baru dalm industri pembuatan baja.
Gambar sketsa dari tungku ini ditunjukkan dalam gambar 7. Terlihat bahwa dalam
gambar tersebut bahwa konstruksi BOF relatif sederhana, bagian luarnya dibuat dari
pelat baja sedangkan dinding bagian dalamnya dibuat dari bata tahan api (firebrick).
Kapasitas BOF ini biasanya bervariasi antara 35 ton sampai dengan 200 ton.
Bahan-bahan utama yang digunakan dalam proses peleburan dengan BOF adalah
besi

kasar cair

(kemurnian 99,5%).

(65-85%),

skrap baja (15-35%), batu kapur dan gas oksigen

Keunggulan proses BOF dibandingkan proses pembuatan baja

lainnya adalah dari segi waktu peleburannya yang relatif singkat yaitu hanya berkisar
sekitar 60 menit untuk setiap proses peleburan.
Tingkat efisiensi yang demikian tinggi dari BOF ini disebabkan oleh pemakaian
gas oksigen dengan kemurnian yang tinggi sebagai gas oksidator utama untuk

memurnikan baja.

Gas oksigen dialirkan ke dalam tungku melalui pipa pengalir

(oxygen lance) dan bereaksi dengan cairan logam di dalam tungku. Gas oksigen akan
mengikat karbon dari besi kasar berangsur-angsur turun sampai mencapai tingkat baja
yang dibuat. Disamping itu, selama

proses oksidasi berlangsung terjadi panas yang

tinggi sehinga dapat menaikkan temperatur logam cair sampai diatas 1650 oC.
Pada saat oksidasi berlangsung, ke dalam tungku ditambahkan batu kapur. Batu
kapur

tersebut kemudian mencair dan bercampur dengan bahan-bahan impuritas

(termasuk

bahan-bahan yang teroksidasi) membentuk terak yang terapung diatas

baja cair.
Bila proses oksidasi selesai maka aliran oksigen dihentikan dan pipa pengalir
oksigen diangkat/dikeluarkan dari tungku. Tungku BOF kemudian dimiringkan dan
benda uji dari baja cair diambil untuk dilakukan analisa komposisi kimia.
Bila komposisi kimia telah tercapai maka dilakukan penuangan (tapping).
Penuangan tersebut dilakukan ketika temperatur baja cair sekitar 1600 oC. Penuangan
dilakukan dengan memiringkan perlahan- lahan sehingga cairan baja akan tertuang
masuk

kedalam ladel. Di dalam ladel biasanya dilakukan skimming untuk

membersihkan terak dari permukaan baja cair dan proses perlakuan logam cair (metal
treatment). Metal treatment tersebut terdiri dari
penambahan

elemen-elemen pemadu atau

proses pengurangan impuritas dan

lainnya dengan

maksud untuk

memperbaiki kualitas baja cair sebelum dituang ke dalam cetakan.


Proses Peleburan Baja Dengan EAF
Proses peleburan dalam EAF ini menggunakan energi listrik. Konstruksi tungku ini
ditunjukkan dalam gambar 8. Panas dihasilkan dari busur listrik yang terjadi pada ujung
bawah dari elektroda. Energi panas yang terjadi sangat tergantung pada jarak antara
elektroda dengan muatan logam di dalam tungku. Bahan elektroda biasanya dibuat dari
karbon atau

grafit. Kapasitas tungku EAF ini dapat berkisar antara 2 - 200 ton

dengan waktu

peleburannya berkisar antara 3 - 6 jam.

Bahan baku yang dilebur biasanya berupa besi spons (sponge iron) yang dicampur
dengan skrap baja. Penggunaan besi spons dimaksudkan untuk menghasilkan kualitas
baja

yang lebih baik. Tetapi dalam banyak hal (terutama untuk pertimbangan biaya)

bahan baku yang dilebur seluruhnya berupa skrap baja, karena skrap baja lebih murah
dibandingkan dengan besi spons. Disamping bahan baku diatas, seperti halnya pada

proses BOF, bahan-bahan lainnya yang ditambahkan pada EAF adalah batu kapur,
ferosilikon, feromangan, dan lain-lain dengan maksud yang sama pula.
Proses basa dan asam dapat diterapkan dalam EAF. Untuk pembuatan baja berupa
produk cor maka biasanya digunakan proses asam, sedangkan untuk pembuatan baja
spesial biasanya digunakan proses basa.
Peleburan baja dengan EAF ini dapat menghasilkan kualitas baja yang lebih baik
karena tidak terjadi kontaminasi oleh bahan bakar atau gas yang digunakan untuk proses
pemanasannya.

A. KLASIFIKASI BAJA PADUAN

1. Berdasarkan persentase paduannya


a. Baja paduan rendah
Bila jumlah unsur tambahan selain karbon lebih kecil dari 8% (menurut Degarmo.
Sumber lain, misalnya Smith dan Hashemi menyebutkan 4%), misalnya : suatu baja
terdiri atas 1,35%C ; 0,35%Si ; 0,5%Mn ; 0,03%P ; 0,03%S ; 0,75%Cr ; 4,5%W
[Dalam hal ini 6,06%<8%]>
b. Baja paduan tinggi

Bila jumlah unsur tambahan selain karban lebih dari atau sama dengan 8% (atau 4%
menurut Smith dan Hashemi), misalnya : baja HSS (High Speed Steel) atau SKH 53
(JIS) atau M3-1 (AISI) mempunyai kandungan unsur : 1,25%C ; 4,5%Cr ; 6,2%Mo ;
6,7%W ; 3,3%V.

Sumber lain menyebutkan:


a. Low alloy steel (baja paduan rendah), jika elemen paduannya 2,5 %
b. Medium alloy steel (baja paduan sedang), jika elemen paduannya 2,5 10 %
c. High alloy steel (baja paduan tinggi), jika elemen paduannya > 10 %

2. Berdasarkan jumlah komponennya:


a. Baja tiga komponen

Terdiri satu unsur pemadu dalam penambahan Fe dan C.


b. Baja empat komponen atau lebih

Terdiri dua unsur atau lebih pemadu dalam penambahan Fe dan C. Sebagai contoh
baja paduan yang terdiri: 0,35% C, 1% Cr, 3% Ni dan 1% Mo.
3. Berdasarkan strukturnya:
a. Baja pearlit (sorbit dan troostit)
Unsur-unsur paduan relatif kecil maximum 5% Baja ini mampu dimesin, sifat
mekaniknya meningkat oleh heat treatment (hardening &tempering)
b. Baja martensit
Unsur pemadunya lebih dari 5 %, sangat keras dan sukar dimesin

c. Baja austenit
Terdiri dari 10 30% unsur pemadu tertentu (Ni, Mn atau CO) Misalnya : Baja tahan
karat (Stainless steel), nonmagnetic dan baja tahan panas (heat resistant steel).
d. Baja ferrit
Terdiri dari sejumlah besar unsur pemadu (Cr, W atau Si) tetapi karbonnya rendah.
Tidak dapat dikeraskan.
e. Karbid atau ledeburit
Terdiri sejumlah karbon dan unsur-unsur pembentuk karbid (Cr, W, Mn, Ti, Zr).

4. Berdasarkan penggunaan dan sifat-sifatnya


a. Baja konstruksi (structural steel)

Dibedakan lagi menjadi tiga golongan tergantung persentase unsur pemadunya, yaitu
baja paduan rendah (maksimum 2 %), baja paduan menengah (2- 5 %), baja paduan
tinggi (lebih dari 5 %). Sesudah di-heat treatment baja jenis ini sifat-sifat
mekaniknya lebih baik dari pada baja karbon biasa.
b. Baja perkakas (tool steel)

Dipakai untuk alat-alat potong, komposisinya tergantung bahan dan tebal benda yang
dipotong/disayat,kecepatan potong, suhu kerja. Baja paduan jenis ini dibedakan lagi
menjadi dua golongan, yaitu baja perkakas paduan rendah (kekerasannya tak berubah
hingga pada suhu 250 C) dan baja perkakas paduan tinggi (kekerasannya tak
berubah hingga pada suhu 600C). Biasanya terdiri dari 0,8% C, 18% W, 4% Cr, dan
1% V, atau terdiri dari 0,9% C, 9 W, 4% Cr dan 2-2,5% V.
c. Baja dengan sifat fisik khusus
Dibedakan lagi menjadi tiga golongan, yaitu baja tahan karat (mengandung 0,10,45% C dan 12-14% Cr), baja tahan panas (yang mengandung 12-14% Cr tahan
hingga suhu 750-800oC, sementara yang mengandung 15-17% Cr tahan hingga suhu
850-1000oC), dan baja tahan pakai pada suhu tinggi (ada yang terdiri dari 23-27% Cr,
18-21% Ni, 2-3% Si, ada yang terdiri dari 13-15% Cr, 13-15% Ni, yang lainnya
terdiri dari 2-2,7% W, 0,25-0,4% Mo, 0,4-0,5% C).
d. Baja paduan istimewa
Baja paduan istimewa lainnya terdiri 35-44% Ni dan 0,35% C,memiliki koefisien
muai yang rendah yaitu :
Invar

: memiliki koefisien muai sama dengan nol pada suhu 0 100 C, digunakan

untuk alat ukur presisi.


Platinite
Elinvar

: memiliki koefisien muai seperti glass, sebagai pengganti platina.

: memiliki modulus elastisitet tak berubah pada suhu 50C sampai 100C.

Digunakan untuk pegas arloji dan berbagai alat ukur fisika.


e. Baja Paduan dengan Sifat Khusus
Baja

Tahan Karat (Stainless Steel)

Sifatnya antara lain:


Memiliki daya tahan yang baik terhadap panas, karat dan goresan/gesekan

Tahan temperature rendah maupun tinggi


Memiliki kekuatan besar dengan massa yang kecil
Keras, liat, densitasnya besar dan permukaannya tahan aus

Tahan terhadap oksidasi

Kuat dan dapat ditempa


Mudah dibersihkan
Mengkilat dan tampak menarik
High

Strength Low Alloy Steel (HSLA)

Sifat dari HSLA adalah memiliki tensile strength yang tinggi, anti bocor, tahan
terhadap abrasi, mudah dibentuk, tahan terhadap korosi, ulet, sifat mampu mesin
yang baik dan sifat mampu las yang tinggi (weldability). Untuk mendapatkan sifatsifat di atas maka baja ini diproses secara khusus dengan menambahkan unsurunsur seperti: tembaga (Cu), nikel (Ni), Chromium (Cr), Molybdenum (Mo),
Vanadium (Va) dan Columbium.
Baja

Perkakas (Tool Steel)

Sifat-sifat yang harus dimiliki oleh baja perkakas adalah tahan pakai, tajam atau
mudah diasah, tahan panas, kuat dan ulet. Kelompok dari tool steel berdasarkan
unsur paduan dan proses pengerjaan panas yang diberikan antara lain:

Later hardening atau carbon tool steel (ditandai dengan tipe W oleh AISI),
Shock resisting (Tipe S), memiliki sifat kuat dan ulet dan tahan terhadap beban
kejut dan repeat loading. Banyak dipakai untuk pahat, palu dan pisau.

Cool work tool steel, diperoleh dengan proses hardening dengan pendinginan

yang berbeda-beda. Tipe O dijelaskan dengan mendinginkan pada minyak


sedangkan tipe A dan D didinginkan di udara.

Hot Work Steel (tipe H), mula-mula dipanaskan hingga (300 500) C dan
didinginkan perlahan-lahan, karena baja ini banyak mengandung tungsten dan
molybdenum sehingga sifatnya keras.

High speed steel (tipe T dan M), merupakan hasil paduan baja dengan tungsten

dan molybdenum tanpa dilunakkan. Dengan sifatnya yang tidak mudah tumpul
dan tahan panas tetapi tidak tahan kejut.
Campuran carbon-tungsten (tipe F), sifatnya adalah keras tapi tidak tahan aus

dan tidak cocok untuk beban dinamis serta untuk pemakaian pada temperatur
tinggi.

5. Klasifikasi lain antara lain :


a. Menurut penggunaannya:
Baja

konstruksi (structural steel), mengandung karbon kurang dari 0,7 % C.

Baja

perkakas (tool steel), mengandung karbon lebih dari 0,7 % C.

b. Baja dengan sifat fisik dan kimia khusus:


Baja

tahan garam (acid-resisting steel)

Baja

tahan panas (heat resistant steel)

Baja

tanpa sisik (non scaling steel)

Electric

steel

Magnetic

steel

Non

magnetic steel

Baja

tahan pakai (wear resisting steel)

Baja

tahan karat/korosi

c. Dengan mengkombinasikan dua klasifikasi baja menurut kegunaan dan


komposisi kimia maka diperoleh lima kelompok baja yaitu:
Baja

karbon konstruksi (carbon structural steel)

Baja

karbon perkakas (carbon tool steel)

Baja

paduan konstruksi (Alloyed structural steel)

Baja

paduan perkakas (Alloyed tool steel)

Baja

konstruksi paduan tinggi (Highly alloy structural steel)

d. Selain itu baja juga diklasifisikan menurut kualitas:


Baja

kualitas biasa

Baja

kualitas baik

Baja

kualitas tinggi

B. SIFAT-SIFAT TEKNIS BAHAN


a) Sifat Mekanis Baja Paduan
Baja paduan merupakan campuran dari baja dan beberapa jenis logam lainnya
dengan tujuan untuk memperbaiki sifat baja karon yang relatif mudah berkarat dan
getas bila kadar karbonnya tinggi. Selain itu, penambahan unsur paduan juga
bertujuan untuk memperbaiki sifat mekanik diantaranya:
Kekuatan

Kekuatan merupakan kemampuan suatu bahan untuk menahan perubahan bentuk di


bawah tekanan. Penambahan logam (Ni, Cr, Molibdenum) dengan komposisi sesuai
akan menambah kekuatan baja, sebab Ni dan Cr yang ditambahkan akan masuk ke
susunan atom dan menggantikan berapa atom C. Penambahan tersebut dapat
meningkatkan kekuatan sampai lima kali lipat.
Elasisitas
Elastisitas adalah kemampuan suatu bahan unuk kembali ke bentuk semula setelah
pembebanan ditiadakan atau dilepas. Modulus elastisitas merupakan indikator dari
sifat elastis. Adanya penambahan logam pada baja akan meningkatkan kemampuan
elastisitasnya dengan nilai modulus elastisitas yang lebih besar dari sebelumnya.
Berikut beberapa logam dan nilai modulus elastisitasnya jika ditambahkan pada
baja:
Batas

mulur

(Plastisitas)
Plastisitas
kemampuan

adalah
suatu

bahan untukberubah
bentuk

secara

permanen

setelah

diberi beban. Logam yang ditambahkan berupa nikel, vanadium, titanium, tungsten,
chrome dsb akan meningkatkan nilai batas mulur. Hal tersebut disebabkan dengan
penambahan logam yang memiliki batas mulur

tinggi akan menghasilkan baja

paduan yang batas mulurnya tinggi pula.


Kekuatan Tarik
Kekuatan tarik adalah kemampuan suatu material untuk menahan tarikan dua gaya
yang saling berlawanan arah dan segaris. Logam Ni dan Cr merupakan bahan yang
biasa ditambahankan untuk meningkatkan kemampuan menahan tariakan, selain
sebagai penambah kekutan tekan.
Keuletan

Keuletan adalah kemampuan suatu material untuk diregang atau ditekuk secara
permanent tanpa mengakibatkan pecah atau patah. Baja dengan kandungan karbon
rendah memiliki keuletan yang tinggi, sehingga dengan paduan logam lain kadar
karbonnya akan turun. Selain itu, kandungan fosfor pada baja paduan yang rendah
akan meningkatkan keuletannya.
Tahan aus
Tahan aus merupakan. Paduan logam yang digunakan untuk meningkatkan
kemampuan tahan aus diantaranya nikel, chrom, dan vanadium.

Efek utama elemen paduan utama untuk baja [8]


Elemen
Aluminium
Bismut
Boron
Kromium
Tembaga

Molybdenum
Nikel

Silicon
Belerang

Persentase
0.951.
- -0.0010.003
0.52
418
0.10.4

Fungsi utama
Paduan unsur dalam nitriding baja
Meningkatkan mesin
Powerfull agen kemampukerasan
Naik kemampukerasan
Tahan Korosi
Tahan Korosi

0.25
25
1220
0.20.7
2
Persentase

Stabil karbida; menghambat pertumbuhan butir


Toughener Toughener
Tahan terhadap Korosi
Meningkatkan kekuatan
Spring Baja

tinggi
0.080.15

Memperbaiki sifat-sifat magnetik


mesin bebas properti
Perbaikan karbon dalam partikel inert; mengurangi

Titanium

Tungsten

kekerasan di krom martensit baja


Kekerasan pada temperatur tinggi
Stabil karbida; meningkatkan kekuatan sementara

Vanadium

0.15

tetap mempertahankan keuletan; mempromosikan


struktur butir halus

Gambar Kurva Tegangan dan Regangan (baja paduan AISI 4.140)


b) Sifat Pengaruh Lingkungan
Korosi merupakan proses elektrokimia yang terjadi pada logam dan tidak dapat
dihindari karena merupakan suatu proses alamiah. Berbagai faktor yang dapat
menyebabkan terjadinya korosi, yaitu: sifat logam, yang meliputi perbedaan
potensial, ketidakmurnian, unsur paduan, perlakuan panas yang dialami, dan
tegangan, serta faktor lingkungan yang meliputi udara, temperatur, mikroorganisme.
Baja paduan akan memiliki ketahanan terhadap korosi jika dicampur dengan
Tembaga yang berkisar 0,5-1,5% tembaga pada 99,95-99,85 % Fe, dengan
Chromium, atau dicampur dengan Nikel.
Baja Paduan tahan terhadap perubahan suhu, ini berarti sifat fisisnya tidak banyak
berubah.
Penambahan Molibdenum akan memperbaiki baja menjadi tahan terhadap suhu

tinggi,liat dan kuat


Penambahan Wolfram dan penambahan Kobalt juga memberikan pengaruh yang

sama seperti pada penambahan Molibdenum yaitu membuat baja paduan tahan
terhadap suhu tinggi

C. CONTOH PENGGUNAAN/APLIKASI DI BIDANG TEKNIK


PERTANIAN/TEKNIK MESIN
Penggunaan baja paduan banyak sekali pada bidang teknik pertanian atau teknik
mesin karena baja paduan memiliki kelebihan yang berbeda sesuai dengan campuran
jenis logam yang digunakan.
Penggunaan baja paduan pada bidang teknika adalah mesin penghancur plastik.
Pada mesin ini penggunaan baja paduan berada pada bagian pisau yang membuat pisau
tersebut mudah di asah dan mudah diganti jika sudah aus, katup coran, kawat yang
terbuat dari baja karbon, rangka mesin perontok padi, gear pada mesin milling, alat tap,
pipa, dan masih banyak lagi alat atau mesin yang menggunakan baja karbon.

Alat Penghancur Plastik

Kawat Baja Karbon

Katup Koran

Mesin Perontok Padi

Gear

Pipa

Tap

D. STANDARISASI DAN PENGKODEAN


Baja memilki standar dan pengkodean yang bermacam-maca dari Amerika
hingga Jepang pun mengkodekan jenis baja.

Jenis-jenis Kode tersebut adalah

AISI(American Iron Steel Institute), SAE(Society for Automotive Engineering), UNS


(Unified Numbering System), ASTM(American Standard for Testing and Material), JIS
(Japanese

Industrial

Standard),

DIN

(Deutsches

Institut

fur

Normung),

ASME(American Society of Mechanical Engineers), CEN(Committee European de


Normalization), ISO(International Standardization Organization), dan Association
francaise de normalization (AFNOR).
Standarisasi untuk pengkodean SAE memiliki cara penulisan sebagai berikut:

Untuk dua angka pertama dalam sebutan ini menandakan paduan utama (s) dari
baja. Dua angka berikutnya dalam penunjukan menandakan jumlah karbon dalam baja.
Masing-masing unsur logam lainnya memilki angka kode yang mengisi digit pertama,
yaitu:
Baja Karbon:
Digit pertama
Digit kedua

adalah "1" seperti dalam 10xx, 11xx, dan 12xx

menjelaskan proses: "1" adalah resulfurized dan "2" adalah resulfurized

dan rephosphorized.
Baja Mangan:

Digit

pertama adalah "1" seperti dalam 13xx dan, memang, baja karbon. Namun,

karena mangan adalah normal produk baja karbon membuat AISI / SAE telah
memutuskan untuk tidak mengklasifikasikan sebagai baja paduan.
Digit kedua

selalu "3"

Baja Molybdenum:

Digit pertama adalah "4" seperti dalam 40xx dan 44xx.

Angka kedua menunjuk persentase molibdenum dalam baja.

Baja Kromium:

Digit pertama adalah "5" seperti dalam 51xx dan 52xx

Angka kedua menunjuk persentase kromium dalam baja.

Baja paduan lebih satu unsur:


Baja

ini mengandung tiga paduan

Digit pertama
Angka

dapat "4", "8", atau "9" tergantung pada paduan dominan

kedua menunjuk persentase reaming dua paduan.

Data pengkodean baja paduan sebagai berikut:


Kode SAE
13xx
40xx
41xx
43xx
44xx
46xx
47xx
48xx
50xx
50xxx
50Bxx
51xx
51xxx

Komposisi
Mn 1.75%
Mo 0.20% or 0.25% or 0.25% Mo & 0.042% S
Cr 0.50% or 0.80% or 0.95%, Mo 0.12% or 0.20% or 0.25% or 0.30%
Ni 1.82%, Cr 0.50% to 0.80%, Mo 0.25%
Mo 0.40% or 0.52%
Ni 0.85% or 1.82%, Mo 0.20% or 0.25%
Ni 1.05%, Cr 0.45%, Mo 0.20% or 0.35%
Ni 3.50%, Mo 0.25%
Cr 0.27% or 0.40% or 0.50% or 0.65%
Cr 0.50%, C 1.00% min
Cr 0.28% or 0.50%
Cr 0.80% or 0.87% or 0.92% or 1.00% or 1.05%
Cr 1.02%, C 1.00% min

51Bxx
52xxx
61xx
86xx
87xx
88xx
92xx

Cr 0.80%
Cr 1.45%, C 1.00% min
Cr 0.60% or 0.80% or 0.95%, V 0.10% or 0.15% min
Ni 0.55%, Cr 0.50%, Mo 0.20%
Ni 0.55%, Cr 0.50%, Mo 0.25%
Ni 0.55%, Cr 0.50%, Mo 0.35%
Si 1.40% or 2.00%, Mn 0.65% or 0.82% or 0.85%, Cr 0.00% or 0.65%

E. BENTUK, UKURAN, DAN HARGA YANG ADA DI PASAR

Bentuk
Mur dan Baut

Ukuran /Bentuk

Harga

10

Rp 1000

12

Rp1250

14

Rp1500

Palu

Rp 21.000

Gunting

Rp 27.500

Gear & Rantai

1 Set

Obeng

Rp 15.000 - Rp 55000

Tang Potong

Rp 13.000
0.5 inchi panjang

Pipa

Gembok

Ragum

Rp 120.000

6m
2 inchi

Rp 150.000
Rp 550.000

20 mm

Rp 8.000

30 mm

Rp 12.000

35 mm

Rp 20.000

3 inchi

Rp 100.000

8 inchi

Rp 750.000

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Pada bahasan diatas yang membahas tentang logam baja,baja dikatakan padu jika
komposisi unsur-unsur paduannya secara khusus bukan baja karbon biasa yang terdiri
dari unsur sisilium dan mangan. Baja didalamnya banyak terdapat kandungankandungan unsur kimia diantaranya kandungan atom atau unsur-unsur kimia dan
bentuk-bentuk struktur mikro.

B. DAFTAR PUSTAKA
[Anonim].2009.Alloy Steel. http://en.wikipedia.org. [Diakses pada tanggal 4 November
2009].
Agung Gregorious. 2009. Perlakuan Panas (heat treatment) pada Baja. http://
gregoriousagung.wordpress.com. [Diakses pada tanggal 28 November2009].
Henkel,Daniel P. 2002. Structure and Properties of Engineering Materials. New York:
McGraw-Hill Companies.
Prasetyo,Yos. 2009. The Beauty of High Speed Steal. http://www.bp.blogspot.com .
[Diakses pada tanggal 29 November 2009].
Rahayu SS. 2009. Baja Paduan. http://www.Chem-Is-Try.Org. [Diakses pada tanggal 30
November 2009].
Surdia Tata dan Shinroku Saito.1999.Pengetahuan Bahan Teknik. Jakarta: PT Pradnya
Paramita.
Syuaib. M Faiz. 2006. Modul Penuntun Kuliah dan Praktikum Perbengkelan. Bogor:
Institut Pertanian Bogor.
http://www.engineeringnews.co.za/article/steel-sales-increase-in-first-half-of-20082008-08-15
http://www.tradeindia.com/fp247342/Alloy-Steel-Wire.html

http://www.indiamart.com/vinayakaelectro/steelcastings-valvebody.html#low-alloysteel-castings
http://wb9.itrademarket.com/pdimage/22/699322_perontok-mobile2.jpg
http://www.evroskop.com/img/spur_gear.jpg
http://okasatria.blogspot.com