Anda di halaman 1dari 6

CORPORATE GOVERNANCE

Tata kelola perusahaan (corporate governance) adalah rangkaian proses, kebiasaan,


kebijakan, aturan dan institusi yang mempengaruhi pengarahaan, pengelolaan serta
pengendalian suatu perusahaan atau organisasi (Wikipedia, 2013).
Tata kelola perusahaan juga mencakup hubungan antara pemangku kepentingan
(stakeholder) serta tujuan pengelolaan perusahaan. Pihak pihak utama dalam tata kelola
perusahaan adalah pemegang saham, manajemen dan dewan direksi. Pemangku
kepentingan lainnya termasuk karyawan, pemasok, pelanggan, bank dan kreditor lain,
regulator, lingkungan serta masyarakat luas.
Perhatian terhadap praktik tata kelola perusahaan modern semakin meningkat
belakangan ini, terutama sejak keruntuhan perusahaan perusahaan besar AS seperti Enron
dan Worldcom. Di Indonesia, perhatian pemerintah terhadap masalah ini diwujudkan
dengan didirikannya Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) pada akhir tahun 2004.
Asas tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) menurut Komite
Nasional Kebijakan Governance adalah sebagai berikut:
a.

Transparansi (Transparency)
Untuk menjaga objektifitas dalam menjalankan bisnis, perusahaan harus menyediakan
informasi yang material dan relevan dengan cara yang mudah diakses dan dipahami
oleh

pemangku

kepentingan.

Perusahaan

harus

mengambil

inisiatif

untuk

mengungkapkan tidak hanya masalah yang disyaratkan oleh peraturan perundangundangan, tetapi juga hal yang penting untuk pengambilan keputusan oleh pemegang
saham, kreditur dan pemangku kepentingan lainnya.
b. Akuntabilitas (Accountability)
Perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan
wajar. Untuk itu perusahaan harus dikelola secara benar, terukur dan sesuai dengan
kepentingan perusahaan dengan tetap memperhitungkan kepentingan pemegang
saham dan pemangku kepentingan lain. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang
diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan. Salah satu contoh aplikasi
dari asas ini adalah penerapan sistem pengendalian internal yang efektif dalam
pengelolaan perusahaan.
c.

Responsibilitas (Responsibility)

Perusahaan harus mematuhi peraturan perundang-undangan serta melaksanakan


tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihara
kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapat pengakuan sebagai good
corporate citizen.
d. Independensi (Independency)
Untuk melancarkan pelaksanaan asas GCG, perusahaan harus dikelola secara
independen sehingga masing-masing organ perusahaan tidak saling mendominasi dan
tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.
e.

Kewajaran dan Kesetaraan (Fairness)


Dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa memperhatikan
kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas
kewajaran dan kesetaraan.
Selain asas tata kelola perusahaan yang baik, KNKG juga menjelaskan peran penting

organ perusahaan dalam pelaksanaan GCG secara efektif. Organ perusahaan harus
menjalankan fungsinya sesuai dengan ketentuan yang berlaku atas dasar prinsip bahwa
masing masing organ memiliki independensi dalam melaksanakan tugas, fungsi dan
tanggung jawabnya semata-mata untuk kepentingan perusahaan. Organ perusahaan terdiri
dari Rapat Umum Pemegang Saham, Dewan Komisaris dan Direksi.
Sir Adrian Cadbury mengartikan corporate governance sebagai cara mengelola dan
mengendalikan perusahaan. Pengertian sederhana tersebut mengandung banyak elemen
termasuk istilah kinerja. Tugas utama organisasi adalah mencapai tingkat kinerja tertentu
yang telah ditentukan sebelumnya. Tapi di saat yang bersamaan, organisasi harus taat pada
semua standar, peraturan, hukum, undang-undang, kebijakan dan pengharapan yang
relevan yang membentuk kerangka untuk menilai kinerja tersebut.
Audit internal adalah elemen kunci yang mendukung pencapaian integritas,
keterbukaan dan akuntabilitas dimana audit internal memainkan peran dalam mendidik top
manajemen dalam solusi yang tersedia dan membantu membangun alat dan teknik untuk
mencapai ketiga asas tersebut.
Konsep Keagenan (Agency Concept)
Isu good corporate governance diawali dengan munculnya pemisahaan antara pemilik
dan manajemen. Pemilik atau pemegang saham sebagai prinsipal, sedangkan manajemen
sebagai agen. Agency Theory mendasarkan hubungan kontrak antar anggota-anggota dalam

perusahaan dimana prinsipal dan agen sebagai pelaku utama. Prinsipal merupakan pihak
yang memberikan mandat kepada agen untuk bertindak atas nama prinsipal, sedangkan
agen merupakan pihak yang diberi amanat oleh prinsipal untuk menjalankan perusahaan.
Agen berkewajiban untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah diamanahkan oleh
prinsipal kepadanya. Inti dari agency theory adalah perancangan kontrak yang tepat untuk
menyelaraskan kepentingan prinsipal dan agen dalam hal terjadi konflik kepentingan (Scott,
1997).
Menurut Eisenhard (1989), teori keagenan dilandasi oleh 3 (tiga) asumsi yaitu (1)
asumsi tentang sifat manusia, (2) asumsi tentang keorganisasian dan (3) asumsi tentang
informasi.
Asumsi tentang sifat manusia menekankan bahwa manusia memiliki sifat untuk
mementingkan diri sendiri (self interest), memiliki keterbatasan rasionalitas (bounded
rationality) dan tidak menyukai risiko (risk aversion). Asumsi keorganisasian adalah adanya
konflik antar anggota organisasi, efisiensi sebagai kriteria produktivitas dan adanya
asymmetric information (AI) antara prinsipal dan agen. Sedangkan asumsi tentang informasi
adalah bahwa informasi dipandang sebagai barang komoditi yang bisa diperjualbelikan.
Prinsipal dan agen diasumsikan sebagai orang ekonomik (homo economicus) yang
berperilaku ingin memaksimalkan kepentingannya masing-masing. Dalam konsep teori
keagenan, manajemen sebagai agen semestinya on behalf of the best interest of the
shareholders, akan tetapi tidak tertutup kemungkinan manajemen hanya mementingkan
kepentingannya sendiri untuk memaksimalkan utilitas. Manajemen bisa melakukan tindakan
tindakan yang tidak menguntungkan perusahaan secara keseluruhan yang dalam jangka
panjang bisa merugikan kepentingan perusahaan. Bahkan untuk mencapai kepentingannya
sendiri, manajemen bisa bertindak menggunakan akuntansi sebagai alat untuk melakukan
rekayasa. Perbedaan kepentingan antara prinsipal dan agen inilah yang disebut dengan
agency problem yang salah satunya disebabkan oleh asymmetric information.
Adanya asymmetric information dan self serving behavior pada manajer/agen
memungkinkan mereka untuk mengambil keputusan dan kebijakan yang kurang bermanfaat
bagi perusahaan. Adanya kondisi ini menimbulkan tata kelola perusahaan yang kurang sehat
karena tidak adanya keterbukaan dari manajemen untuk mengungkapkan hasil kinerjanya
kepada prinsipal sebagai pemilik perusahaan. Untuk mengatasi kondisi semacam itu,

dibutuhkan tata kelola yang baik pada perusahaan yang biasa disebut Good Corporate
Governance (GCG).
Istilah Corporate Governance (CG) pertama kali dikenalkan oleh Cadbury Committee
tahun 1992 dalam laporannya yang dikenal sebagai Cadbury Report (Tjager dkk., 2003).
Terdapat banyak definisi tentang CG yang pendefinisiannya dipengaruhi oleh teori yang
melandasinya. Perusahaan / korporasi dapat dipandang dari dua teori, yaitu (a) teori
pemegang saham (shareholding theory) dan (b) teori stakeholder (stakeholding theory).
Definisi CG yang berdasar pada shareholding theory diberikan oleh Monks dan Minow
(1995) yaitu hubungan berbagai partisipan (pemilik/investor dan manajemen) dalam
menentukan arah dan kinerja korporasi. Adapun definisi GCG dari Cadbury Committee yang
berdasar pada teori stakeholder adalah seperangkat aturan yang mengatur hubungan
antara para pemegag saham, manajer, kreditur, pemerintah, karyawan dan pihak pihak
yang berkepentingan lainnya baik internal maupun eksternal lainnya yang berkaitan dengan
hak hak dan kewajiban mereka.
Definisi CG menurut sebuah institusi Indonesia bernama The Indonesian Institute for
Corporate Governance (2000) mendefinisikan CG sebagai proses dan struktur yang
diterapkan dalam menjalankan perusahaan, dengan tujuan utama meningkatkan nilai
pemegang saham dalam jangka panjang, dengan tetap memperhatikan kepentingan
stakehorlder yang lain.
Pengertian lain CG menurut Surat Keputusan Menteri Negara / Kepala Badan
Penanaman

Modal

dan

Pembinaan

BUMN

No.23/MPM/BUMN/2000

tentang

Pengembangan Praktik GCG dalam Perusahaan Perseroan , GCG adalah prinsip korporasi
yang sehat yang perlu diterapkan dalam pengelolaan perusahaan yang dilaksanakan
semata-mata demi menjaga kepentingan perusahaan dalam rangka mencapai maksud dan
tujuan perusahaan.
Berdasarkan definisi definisi tersebut, nampak dengan jelas bahwa CG merupakan
upaya yang dilakukan oleh semua pihak yang berkepentingan dengan perusahaan untuk
menjalankan usahanya secara baik sesuai dengan hak dan kewajibannya masing masing.
Tujuan GCG pada intinya adalah menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang
berkepentingan. Pihak pihak tersebut adalah pihak internal yang meliputi dewan
komisaris, direksi, karyawan dan pihak eksternal yang meliputi investor, kreditur,
pemerintah, masyarakat dan pihak pihak lain yang berkepentingan (stakeholders). Dalam

praktiknya CG berbeda di setiap negara dan perusahaan karena berkaitan dengan sistem
ekonomi, hukum, struktur kepemilikan, sosial dan budaya. Perbedaan praktik ini
menimbulkan beberapa versi yang menyangkut prinsip prinsip CG, namun pada dasarnya
mempunyai banyak kesamaan.
Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (2006), prinsip / asas utama GCG
adalah sebagai berikut:
a.

Transparansi (Transparency)
Untuk menjaga objektifitas dalam menjalankan bisnis, perusahaan harus menyediakan
informasi yang material dan relevan dengan cara yang mudah diakses dan dipahami
oleh

pemangku

kepentingan.

Perusahaan

harus

mengambil

inisiatif

untuk

mengungkapkan tidak hanya masalah yang disyaratkan oleh peraturan perundangundangan, tetapi juga hal yang penting untuk pengambilan keputusan oleh pemegang
saham, kreditur dan pemangku kepentingan lainnya.
b. Akuntabilitas (Accountability)
Perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan
wajar. Untuk itu perusahaan harus dikelola secara benar, terukur dan sesuai dengan
kepentingan perusahaan dengan tetap memperhitungkan kepentingan pemegang
saham dan pemangku kepentingan lain. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang
diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan. Salah satu contoh aplikasi
dari asas ini adalah penerapan sistem pengendalian internal yang efektif dalam
pengelolaan perusahaan.
c.

Responsibilitas (Responsibility)
Perusahaan harus mematuhi peraturan perundang-undangan serta melaksanakan
tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihara
kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapat pengakuan sebagai good
corporate citizen.

d. Independensi (Independency)
Untuk melancarkan pelaksanaan asas GCG, perusahaan harus dikelola secara
independen sehingga masing-masing organ perusahaan tidak saling mendominasi dan
tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.
e.

Kewajaran dan Kesetaraan (Fairness)

Dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa memperhatikan


kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas
kewajaran dan kesetaraan.