Anda di halaman 1dari 31

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Mekanisme Koping
II.1.1. Pengertian Mekanisme Koping
Mekanisme koping adalah berbagai usaha yang dilakukan individu untuk
menanggulangi stress yang dihadapinya (Stuart, 2005). Menurut Keliat (1999)
Mekanisme koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan
masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta respon terhadap situasi yang
mengancam. Menurut Lazarus dan Folkman (1984) dalam Friedman (2003)
mekanisme koping merupakan suatu perubahan yang konstan dari usaha kognitif
dan tingkah laku untuk menata tuntutan eksternal dan internal yang dinilai sebagai
hal yang membebani atau melebihi sumber daya individu.
Berdasarkan pengertian diatas, peneliti menyimpulkan bahwa mekanisme
koping adalah reaksi individu ketika menghadapi suatu tekanan atau stress dan
bagaimana individu tersebut menanggulangi stress yang dihadapinya.
II.1.2. Sumber Koping
Cara individu menanggulangi stress juga amat bergantung pada sumber yang
tersedia dan pembatas-pembatas yang menghambat penggunaan sumber koping
dalam konteks peristiwa tertentu.
Sumber-sumber koping terdiri dari aset ekonomi, kemampuan dan bakat, teknik
pertahanan, dukungan sosial, dan motivasi. Sumber koping lainnya adalah
keseimbangan energi, dukungan spiritual, keyakinan positif, pemecahan masalah,
kemampuan sosial, kesehatan fisik, sumber materi dan sosial.
Keyakinan spiritual dan pandangan seseorang yang positif dapat ditujukkan
sebagai dasar dari harapan dan dapat membenarkan upaya koping seseorang dalam
keadaan yang paling merugikan.
Kemampuan pemecahan masalah termasuk
8
kemampuan untuk mencari informasi, mengidentifikasi masalah, menimbang suatu
pilihan, dan implementasi rencana tindakan. Kemampuan sosial memudahkan
pemecahan masalah termasuk masalah orang lain, meningkatnya kemungkinan

kerja sama dan dukungan dari lainnya, dan memberikan kontrol sosial terbesar pada
individu tersebut. Asset materi menunjuk kepada uang, barang dan jasa dimana
uang dapat membeli segalanya. Jelas sekali bahwa sumber keuangan sangat
meningkat pada pilihan koping seseorang dimana hampir dalam situasi stress
apapun.
Pengetahuan dan kecerdasan adalah sumber-sumber koping lainnya yang
membolehkan orang-orang untuk melihat perbedaan cara dalam menghadapi stress.
Sumber-sumber koping juga termasuk komitmen kekuatan identitas ego kepada
jaringan sosial, keseimbangan budaya, system yang stabil dari nilai dan
kepercayaan, orientasi pencegahan kesehatan dan genetik atau kekuatan gerak
badan. (Stuart, 2005)
II.1.3. Penggolongan Mekanisme Koping
Mekanisme koping berdasarkan penggolongannya dibagi menjadi 3 (Stuart dan
Laraia, 2005) yaitu :
1. Koping yang berpusat pada masalah (Problem Focused Coping Mechanisms).
Mekanisme koping berpusat pada masalah diarahkan untuk mengurangi tuntutantuntutan situasi yang menimbulkan stress atau mengembangkan sumber daya
untuk mengatasinya.
Hal-hal yang berhubungan dengan mekanisme koping yang berpusat pada
masalah adalah :
a. koping konfrontasi (Confrontative Coping), menggambarkan usaha-usaha
untuk mengubah keadaan atau masalah secara agresif, juga menggambarkan
tingkat kemarahan serta pengambilan resiko.
b. isolasi, individu berusaha menarik diri dari lingkungan atau tidak

mau

tahu masalah yang dihadapi.


c. kompromi, menggambarkan usaha untuk mengubah keadaan secara
hati, meminta bantuan dan kerjasama dengan keluarga dan teman
mengurangi keinginannya lalu memilih jalan

kerja

hatiatau

tengah.

2. Koping yang berpusat pada kognitif (Cognitively Focused Coping Mechanisms).


Dimana seseorang berusaha untuk mengontrol masalah

dan

menyelesaikannya. Contohnya termasuk perbandingan yang

positif, ketidaktahuan

memilih, penggantian penghargaan, dan devaluasi dari keinginan akan tujuan.


3. Koping yang berpusat pada emosi (Emotion Focused Coping
Koping ini mengarah pada usaha reduksi,
toleransi stress subjective (somatis,
yang muncul karena adanya

Mechanisms).

pembatasan/menghilangkan

atau

motori atau afektif) dari stress emosional

transaksi dengan lingkungan yang menyulitkan.

Jenis-jenis mekanisme koping yang berpusat pada emosi adalah :


a. Denial, menolak masalah dengan mengatakan hal tersebut tidak terjadi pada
dirinya.
b. Rasionalisasi, menggunakan alasan yang dapat diterima oleh akal dan diterima
oleh orang lain untuk menutupi ketidakmampuan dirinya. Dengan rasionalisasi
kita tidak hanya dapat membenarkan apa yang kita lakukan, tetapi juga merasa
sudah selayaknya berbuat demikian secara adil
c. Kompensasi, menunjukkan tingkah laku untuk menutupi ketidakmampuan
dengan menonjolkan sifat yang baik, karena frustasi dalam suatu bidang maka
dicari kepuasan secara berlebihan dalam bidang lain. Kompensasi timbul
karena adanya perasaan kurang mampu.
d. Represi, yaitu dengan melupakan masa-masa yang tidak menyenangkan dari
ingatannya dan hanya mengingat waktu-waktu yang menyenangkan
e. Sublimasi, yaitu mengekspresikan atau menyalurkan perasaan, bakat atau
kemampuan dengan sikap positif
f. Identifikasi, yaitu meniru cara berfikir, ide dan tingkah laku orang lain
g. Regresi, yaitu sikap seseorang yang kembali ke masa lalu atau bersikap seperti
anak kecil
h. Proyeksi, yaitu menyalahkan orang lain atas kesulitannya sendiri atau
melampiaskan kesalahannya kepada orang lain
i. Konversi, yaitu mentransfer reaksi psikologi ke gejala fisik
j. Displacement, yaitu reaksi emosi terhadap seseorang kemudian diarahkan
kepada orang lain
II.1.4. Hubungan antara stressor, stress, dan koping

Stressor merupakan sumber stres atau penyebab stres, beberapa penyebab


stres diantaranya perkawinan, masalah orang tua, pekerjaan, keluarga, dan penyakit
fisik. Bila individu mampu menggunakan cara-cara penyesuaian diri yang sehat
dengan stres yang dihadapi, meskipun stres atau tekanan tersebut tetap ada,
individu yang bersangkutan tetaplah dapat hidup secara sehat. Bahkan tekanantekanan tersebut akhirnya justru akan memungkinkan individu untuk memunculkan
potensi-potensi manusiawinya dengan optimal. Penyesuaian diri dalam menghadapi
stres, dalam konsep kesehatan mental dikenal dengan istilah koping. Koping juga
dimaknai sebagai apa yang dilakukan oleh individu untuk menguasai situasi yang
dinilai sebagai suatu tantangan, luka, kehilangan, atau ancaman. (Yosep, 2007).
Dari beberapa penjelasan diatas dapat dihubungkan antara stressor, stres, dan
koping. Stres merupakan respon yang muncul karena terjadinya tekanan yang
disebut dengan stressor, ketika seseorang mengalami stres karena stressor yang
didapatkan maka diperlukan koping untuk menghadapi stres tersebut.
II.1.5. Koping Keluarga
Koping keluarga didefinisikan sebagai respons yang positif, sesuai dengan
masalah, afektif, persepsi, dan respons perilaku yang digunakan keluarga dan
subsistemnya untuk memecahkan suatu masalah atau mengurangi stress yang
diakibatkan oleh masalah atau peristiwa. Dengan mengubah dari tingkat koping
individu menjadi koping keluarga, koping menjadi jauh lebih rumit. Responsrespons atau perilaku koping keluarga merupakan tindakan-tindakan pengenalan
yang digunakan keluarga sedangkan pola-pola dan strategi koping adalah responsrespons sama yang membentuk set-set homogeny. Strategi-strategi koping keluarga
berkembang dan berubah dari waktu ke waktu, sebagai respons terhadap tuntutantuntutan atau stressor yang dialami (Friedman, 2003).
Respons-respons koping keluarga meliputi tipe strategi koping eksternal
dan internal. Sumber-sumber koping internal terdiri dari kemampuan keluarga yang
menyatu sehingga menjadi kohesif dan terintegrasi. Integrasi keluarga memerlukan
pengontrolan dari subsistem lewat ikatan kesatuan. Keluarga yang paling sukses
meghadapi masalah-masalah mereka adalah keluarga yang paling sering terintegrasi

dengan baik dimana anggota keluarga memiliki tanggung jawab yang kuat terhadap
kelompok dan tujuan-tujuan kolektifnya. Satu sumber koping lainnya adalah
fleksibilitas peran mampu memodifikasi peran-peran keluarga ketika dibutuhkan
(Friedman, 2003).
Sumber-sumber koping eksternal berhubungan dengan penggunaan system
pendukung social oleh keluarga. Dalam memandang sumber-sumber eksternal ini,
jelas bahwa keluarga berbeda satu sama lain dalam hal sejauh mana mereka mampu
memperoleh persetujuan dari lingkungan mereka untu memenuhi kebutuhankebutuhan terhadap informasi, barang, dan pelayanan. Seringkali sumber-sumber
finansial dan pengetahuan untuk mendapat bantuan kurang. Keluarga harus mampu
mengurangi beberapa tuntutan darinya. Hal ini dilakukan lewat aturan batasanbatasan keluarga. Tanpa kemampuan yang memadai untuk mengamankan ketaatan
terhadap lingkungan melalui pengaturan efektif dari batasan keluarga dan
membawanya ke dalam masukan yang diperlukan, keluarga lebih berada pada
risiko.
II.1.6. Strategi Koping Keluarga
Gambaran tentang adaptasi keluarga tehadap stress muncul dari riset dan
upaya-upaya teoritis hingga kira-kira pertengahan 1970-an adalah bahwa keluarga
semata-mata merupakan sebuah reactor

bagi stress, sebagai seorang manajer

defensive dari sumber-sumber dengan begitu banyak kecenderungan terhadap


disfungsi. Namun untuk kecenderungan ini sedang mengalami perubahan. Banyak
sekali penyelidikan berikutnya telah berubah dari penekanannya pada disfungsi
kearah minat yang lebih positif dan lebih luas dalam beraneka macam taktik koping
yang keluarga gunakan. Dengan fokus ini, keluarga pelaku perubahan social yang
ulet, inovatif, dan sangat efektif dalam kondisi yang penuh stress (Friedman, 2003).
II.1.7. Faktor yang Mempengaruhi Strategi Coping Keluarga
Cara individu menangani situasi yang mengandung tekanan ditentukan oleh
sumber daya individu yang meliputi kesehatan fisik/energi, keyakinan atau

pandangan positif, keterampilan memecahkan masalah, keterampilan sosial dan


dukungan sosial dan materi.
1. Kesehatan Fisik
Kesehatan merupakan hal yang penting, karena selama dalam usaha
mengatasi stres individu dituntut untuk mengerahkan tenaga yang cukup besar
2. Keyakinan atau pandangan positif
Keyakinan menjadi sumber daya psikologis yang sangat penting, seperti
keyakinan akan nasib (external locus of control) yang mengerahkan individu
pada penilaian ketidakberdayaan (helplessness) yang akan menurunkan
kemampuan strategi coping tipe : problem-solving focused coping.
3. Keterampilan memecahkan masalah
Keterampilan
menganalisa

ini

situasi,

meliputi

kemampuan

mengidentifikasi

untuk

masalah

mencari

dengan

informasi,

tujuan

untuk

menghasilkan alternatif tindakan, kemudian mempertimbangkan alternatif


tersebut sehubungan dengan hasil yang ingin dicapai, dan pada akhirnya
melaksanakan rencana dengan melakukan suatu tindakan yang tepat.
4. Keterampilan sosial
Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk berkomunikasi dan bertingkah
laku dengan cara-cara yang sesuai dengan nilai-nilai sosial yang berlaku
dimasyarakat.
5. Dukungan sosial
Dukungan ini meliputi dukungan pemenuhan kebutuhan informasi dan
emosional pada diri individu yang diberikan oleh orang tua, anggota keluarga
lain, saudara, teman, dan lingkungan masyarakat sekitarnya.

6. Materi
Dukungan ini meliputi sumber daya berupa uang, barang- barang atau
layanan yang biasanya dapat dibeli.
II.1.8. Tipe Strategi Koping Keluarga

Dengan memasukan strategi koping berikut ini, diasumsikan bahwa kopingkoping strategi semacam ini biasanya bersifat fungsional meskipun mungkin
penggunaan yang tidak tepat atau menonjol/tersendiri terhadap salah satunya
menimbulkan hasil keluarga disfungsional. Bila tidak bersifat spesifik terhadap
situasi tertentu dan konteks keluarga, fungsionalitas pola-pola perilaku tidak bisa
ditentukan.
Upaya-upaya dan perilaku koping keluarga atau individual yang spesifik
untuk masalah atau situasi. Berbeda dalam situasi dan masalah berbeda pula
solusinya yaitu penggunaan berbagai respons-respons koping. Akan tetapi, responsrespons koping memiliki gaya-gaya dan kecondongan tertentu, yang juga
mempengaruhi tipe-tipe upaya-upaya tertentu di mana keluarga berhubungan
dengan suatu masalah. Dua tipe strategi koping keluarga adalah internal atau
intrafamilial(dalam keluarga inti) dan eksternal atau ekstrafamilial (di luar keluarga
inti).
1. Strategi Koping Keluarga Internal
a. Mengandalkan kelompok keluarga. Untuk mengatasi masalah/stressor yang
dihadapinya, keluarga seringkali melakukan upaya untuk menggali dan
mengandalkan sumber-sumber mereka sendiri. Keluarga melakukan ini
dengan membuat struktur dan organisasi yang lebih besar dalam keluarga,
yakni dengan membuat jadwal dan tugas rutinitas yang dipikul oleh setiap
anggota keluarga yang lebih ketat. Hal ini diharapkan setiap anggota dapat
lebih disiplin dan taat. Dalam kondisi ini keluarga dapat mengontrolnya, jika
berhasil maka akan mencapai integrasi dan ikatan yang lebih kuat. Burgess
(1979) dalam Friedman (2003) mengatakan bahwa strategi koping yang khas
adalah disiplin diri dikalangan anggota keluarga yang mengalami stress ,
mereka harus memelihara ketenangan dan dapat memecahkan masalah karena
mereka yang bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan anak-anaknya.
b. Penggunaan humor. Menunjukkan bahwa perasaan humor merupakan asset
yang penting dalam keluarga karena dapat memberikan perubahan bagi sikapsikap keluarga terhadap masalah-masalah dan perawatan kesehatan. Homor

juga diakui sebagai suatu cara bagi individu dan kelompok untuk
menghilangkan rasa cemas dan stress/tegang.
c. Pengungkapan bersama yang semakin meningkat (memelihara ikatan
keluarga). Suatu cara untuk membawa keluarga lebih dekat satu sama lain
dan memelihara serta mengatasi tingkat stress dan pikiran, ikut serta dengan
aktivitas setiap anggota keluarga merupakan cara untuk menghasilkan suatu
ikatan yang kuat dalam sebuah keluarga. Cara untuk mengatasi masalah
dalam keluarga adalah: adanya waktu untuk makan bersama-sama dalam
keluarga, saling mengenal, membahas masalah bersama, makan malam
bersama, adanya kegiatan yang menantang bersama keluarga, beribadah
bersama, bermain bersama, bercerita pada anak sebelum tidur, menceritakan
pengalaman pekerjaan maupun sekolah, tidak ada jarak diantara anggota
keluarga.
d. Mengontrol arti/makna dari masalah: pembentukan kembali kognitif dan
penilaian pasif. Salah satu cara untuk menemukan koping efektif adalah
menggunakan mekanisme mental dengan mengartikan masalah yang dapat
mengurangi atau menetralisir secara kognitif rangsang berbahaya yang
dialami dalam hidup. Menambah pengetahuan keluarga merupakan cara yang
paling efektif untuk mengetahui stressor yaitu dengan keyakinan yang optimis
dan penilaian yang positif. Keluarga menggunakan strategi ini cenderung
melihat segi positif dari kejadian yang menyebabkan stress. (Friedman, 2003)
e. Pemecahan masalah keluarga secara bersama-sama. Pemecahan masalah
bersama dikalangan anggota keluarga merupakan strategi koping keluarga
yang telah dipelajari melalui riset laboratorium oleh sekelompok peneliti
keluarga. Pemecahan masalah bersama dapat digambarkan sebagai suatu
situasi dimana keluarga dapat mendiskusikan masalah yang ada secara
bersama-sama oleh keluarga dengan mengupayakan dengan mencari solusi
atau jalan keluar atas dasar logika, mencapai suatu consensus tentang apa
yang perlu dilakukan atas dasar petunjuk, persepsi dan usulan dari anggota
keluarga yang berbeda. (Friedman, 2003)

f. Fleksibilitas peran. Adanya perubahan dalam kondisi dan situasi dalam


keluarga yang setiap saat dapat berubah, fleksibilitas peran merupakan suatu
strategi koping yang kokoh untuk mengatasi suatu masalah dalam keluarga.
Pada keluarga yang berduka, fleksibilitas peran adalah sebuah strategi koping
fungsional yang penting untuk membedakan tingkat berfungsinya sebuah
keluarga.
g. Normalisasi. Salah satu strategi koping keluarga yang lain adalah
kecenderungan keluarga menormalkan keadaan sehingga keluarga dapat
melakukan koping terhadap sebuah stressor jangka panjang yang dapat
merusak kehidupan keluarga dan kegiatan rumah tangga. Friedman (2003)
mengatakan

bahwa

Normalisasi

merupakan

cara

untuk

mengkonseptualisasikan bagaimana keluarga mengelola ketidakmampuan


seorang anggota keluarga, sehingga dapat menggambarkan respons keluarga
terhadap sakit atau kecacatan. Bila anak dalam anggota keluarga sakit, maka
keluarga

dapat

menormalkan

situasi

dengan

meminimalkan

situasi

abnormalitas dalam penampilan anak, berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan


biasa dan terus memelihara ikatan social.
2. Strategi Koping Keluarga Eksternal
a. Mencari informasi. Keluarga yang mengalami stress memberikan respons
secara kognitif dengan mencari pengetahuan dan informasi yang berhubungan
dengan stressor. Ini berfungsi untuk menambah rasa memiliki control
terhadap situasi dan mengurangi perasaan takut terhadap orang yang tidak
dikenal dan membantu keluarga menilai stressor secara lebih akurat.
b. Memelihara hubungan aktif dengan komunitas. Kategori ini berbeda dengan
koping yang menggunakan system dukungan social dimana kategori ini
merupakan suatu koping keluarga yang berkesinambungan, jangka panjang
dan bersifat umum, bukan sebuah kategori yang dapat meningkatkan stressor
spesifik tertentu. Dalam hal ini anggota keluarga adalah pemimpin dalam
suatu kelompok, organisasi dan kelompok komunitas.
c. Mencari dukungan social. Mencari system pendukung social dalam jaringan
kerja social keluarga merupakan strategi koping keluarga eksternal yang

utama. System pendukung social ini dapat diperoleh dari system kekerabatan
keluarga, kelompok professional, para tokoh masyarakat dan lain-lain yang
didasarkan pada kepentingan bersama. Menurut Caplan (1974) dalam
Friedman (2003), terdapat tiga sumber umum dukungan social yaitu
penggunaan jaringan dukungan social informal, penggunaan system social
formal,

dan

penggunaan

kelompok-kelompok

mandiri.

Tujuan

dari

penggunaan jaringan dukungan social informal, yang biasanya diberikan oleh


kerabat dekat atau tetangga dekat atau tokoh masyarakat, memiliki dua tujuan
utama koping: pertama, system ini memberikan dukungan pemeliharaan dan
emosional bagi anggota keluarga. Dan yang kedua adalah bantuan yang
berorientasi pada tugas yang biasa dilakukan keluarga, misalnya bantuan
perawatan, melakukan tugas-tugas rumah tangga, bantuan prkatis pada saat
kristis. (Friedman, 2003). Penggunaan system social formal dilakukan
keluarga ketika keluarga gagal untuk menangani masalahnya sendiri, maka
keluarga harus dipersiapkan unutk beralih kepada professional bayaran untuk
memecahkan masalah. Sedangkan penggunaan kelompok mandiri sebagai
bentuk dukungan social dilakukan melalui organisasi yang luas seperti
perkumpulan-perkumpulan yang berorientasi pada penyembuhan penyakit
misalnya perkumpulan penyakit Asma, Jantung, dll. (Friedman, 2003).
d. Mencari dukungan spiritual. Beberapa studi mengataka keluarga berusaha
mencari dan mengandalkan dukungan spiritual anggota keluarga sebagai cara
keluarga untuk mengatasi masalah. Friedman (2003) mengatakan bahwa
kepercayaan kepada Tuhan dan berdoa diidentifikasikan oleh anggota
keluarga sebagai cara paling penting bagi keluarga mengatasi suatu stressor
yang berkaitan dengan kesehatan.
Selain

dari

dua

tipe

sperti

dikemukakan

diatas,

kemudian

dikembangkan lagi strategi koping keluarga dari H I. Mc Cubbin dan


Thompson

(1987)

dalam

Friedman

(2003)

yang

khusus

untuk

menginventarisir tindakan penanggulangan masalah-masalah kesehatan bagi


orang tua yakni Coping Health Inventory for Parent (CHIP). Alat ini
dikembangkan untuk menggambarkan bagaimana keluarga beradaptasi

dengan situasi di bawah tekanan kronis (stressor). Hal tersebut mencakup


penanggulangan oleh keluarga sebagai proses aktif

yang meliputi

pemanfaatan sumber daya keluarga dan pengembangan perilaku baru untuk


membantu memperkuat unit keluarga dalam mengurangi dampak peristiwa
penuh tekanan. Pengembangan perilaku dalam CHIP ini memfokuskan pada :
a) teori dukungan sosial keluarga, yaitu hubungan anggota keluarga dengan
masyarakat dan antar angggota keluarga untuk menghasilkan dukungan
emosi, kepercayaan diri dan jaringan; b) teori tekanan keluarga

yang

menekankan sumber daya dan persepsi keluarga yang digunakan dalam


mengelola situasi penuh tekanan/stressor; c) teori psikologi individu tentang
penanggulangan yang memfokuskan pada penyesuaian aktif dan pasif secara
psikologi yang diperlukan untuk mengatur kegelisahan dan tekanan emosi;
dan d) dukungan perawatan kesehatan keluarga/medis melalui komunikasi
orang tua dengan tim kesehatan dan orang tua lain.
Dari teori-teori tersebut strategi koping dibagi menjadi tiga pola
penerapan/penanggulangan
(mempertahankan

keutuhan

yaitu:

Pola

keluarga),

disebut

kerjasama

integrasi
dan

rasa

keluarga
optimis

menghadapi keadaan, Pola II yaitu mempertahankan dukungan sosial,


kepercayaan diri dan rasa stabilitas psikologis dan Pola III yaitu pemahaman
situasi medis (perawatan kesehatan) melalui komunikasi dengan keluarga dan
konsultasi dengan petugas kesehatan. (H I. Mc Cubbin dan Thompson, 1987
dalam Friedman, 2003).
II.2 Konsep Stress Keluarga
II.2.1. Definisi Stress
Stress adalah ketegangan atau tekanan di dalam diri seseorang atau
system social (individu, keluarga, dll) dan stress merupakan suatu reaksi
terhadap situasi yang menghasilkan tekanan (Burgess, 1978 dalam Friedman,
2003). Stress adalah realitas kehidupan setiap hari yang tidak dapat dihindari.
Stress disebabkan oleh perubahan yang memerlukan penyesuain (Keliat,
B.A.,1999).

Berdasarkan pengertian diatas, peneliti menyimpulkan bahwa stress


adalah respon emosi seseorang yang dihasilkan stressor atau oleh tuntutantuntutan nyata yang belum ditangani.
II.2.2. Model Stres Keluarga
Ada tiga model yang berkaitan dengan model krisis dari adanya stress
keluarga. Yang pertama adalah model ABC-X yang telah dikembangkan oleh
Hill (1949). Kedua adalah model Mc.Cubbin dan Patterson (1980), dan yang
ketiga adalah model Boss (1983) dalam Friedman (2003).
1. Teori stress keluarga dari Hill (1949) dalam Friedman (2003) adalah
model yang menggambarkan faktor-faktor yang menghasilkan krisis atau
non-krisis dalam keluarga . berdasarkan riset dari Hill tentang perpisahan
akibat perang dan reuni, ia mengembangkan sebuah teori stress keluarga
yang disebut ABCX, dimana ia mengidentifikasikan satu set variable
utama dan hubungannya yang menimbulkan krisis keluarga. Secara
teoritis, ia menggambarkan determinan-determinan krisis keluarga, yaitu :
faktor A (kejadian atau stressor) yang berinteraksi dengan B (sumbersumber koping keluarga, selanjutnya berinteraksi dengan C (persepsi
keluarga terhadap kejadian), yang akhirnya menghasilkan X (krisis),
2. Model ABCX dari McCubbin dan Pattreson (1980) dalam Friedman
(2003) merupakan bentuk pengembangan dari teori ABCX-nya Hill
meliputi

variable-variabel

krisis,

teori

McCubbin

dan

Patterson

menjelaskan perbedaan dalam adaptasi keluarga pasca krisis. Setiap


variable asli (ABCX) diuji kembali dan definisi-definisinya dimodifikasi.

3. Model stress keluarga dari Boss (1983) dalam Friedman (2003). Ia telah
mengembangkan teori stress dari Hill untuk menerangkan pengaruh
konteks keluarga. Keluarga tidak hidup dalam isolasi tetapi mereka
merupakan bagian dari konteks yang lebih besar yang mempengaruhi
variabel-variabel model dari Hill. Dua konteks berbeda yang menjadi
media bagi stress keluarga adalah konteks internal dan eksternal. Konteks
eksternal dari keluarga adalah konteks yang tidak dikontrol oleh keluarga.
Konteks tersebut termasuk lingkungan dimana keluarga berada, terdiri dari
batas-batas genetik dan perkembangan, dan konteks tempat dan waktu
(sejarah, ilmu, ekonomi, kebudayaan). Konteks internal keluarga terdiri
dari tiga elemen yang dikontrol oleh keluarga dan dapat diubah. Ada
elemen-elemen psikologis, struktural dan filosofis. Elemen-elemen
struktural sama dengan dimensi-dimensi struktural, tanpa memasukkan
nilai-nilai keluarga: konteks psikososial merujuk pada definisi dari
keluarga tentang kejadian/stressor; konteks filosofis merujuk pada
keyakinan dan nilai-nilai dari keluarga. Model dari Boss didasarkan pada
konteks yang digambarkan sebagai dua lingkaran konsentrik yang
mengelilingi model ABCX. Lingkaran paling luar adalah konteks
eksternal, dan lingkaran paling dalam adalah konteks internal.

II.2.3. Tingkat Stres


Menurut Lazarus (1984) dalam Friedman (2003), perbedaan tingkat
stress merupakan salah satu faktor pembeda dalam melakukan koping sebagai
kegiatan kognitif. Strategi koping yang dipengaruhi oleh tingkat stress yang
dialami adalah perilaku atau tindakan yang diambil dalam menghadapi stress.
Menurut McElroy dan Townsend (1985), tingkat stress dibutuhkan
untuk membentuk stimulasi dan tantangan dari lingkungan. Pada beberapa
tingkatan stress dapat diatasi dengan mudah, tapi ada pula tingkat stress yang
sangat sulit diatasi sehingga menciptakan situasi krisis. Bahkan adanya stress
pada tingkat tertentu dianggap mampu meningkatkan kemampuan, sehingga
seringkali diasumsikan sebagai tekanan yang menyehatkan. Turner dan
Helms (1986) mengelompokkan stress menjadi dua yaitu tinggi dan rendah.
Pengelompokkan ini dibuat berdasarkan tipe kepribadian seseorang.

Mengelompokkan tingkat stres berdasarkan kerentanan seseorang terhadap


stres.

Selain

itu,

tingkat

stres

seseorang

dapat

diketahui

dengan

memperhatikan gejala-gejala stres yang ditunjukkan, baik gejala fisik maupun


gejala emosional.
Tingkat stres seseorang terhadap suatu peristiwa dipengaruhi oleh
sumber stres, sumberdaya yang dimiliki untuk menghadapi stres, dan persepsi
terhadap sumber stres. Tingkat stres akan dikelompokkan menjadi ringan dan
berat. Pada keluarga dalam merawat anggota keluarga dengan penyakit TB
Paru, tingkat stres keluarga dipengaruhi oleh kondisi psikososial penderita TB
Paru, dukungan keluarga,

dan persepsi keluarga terhadap anggota

keluarganya yang menderita TB Paru.


II.2.4. Sumber Dasar Stress Keluarga
Begitu banyak sekali perubahan dan stressor yang dihadapi oleh keluarga
dari waktu ke waktu, sebagaimana Minuchin (1974) dalam Friedman (2003)
melihatnya, ini berasal dari empat sumber utama.
1. Kontak Penuh Stress dari Seorang Anggota Keluarga dengan Kekuatan di
Luar Keluarga. Ketika seorang anggota keluarga dibuat stress oleh
stressor-stressor (mis., kehilangan pekerjaan, masalah sekolah, masalah
hukum), anggota keluarga yang lain merasa perlu menyesuaikan situasi
yang berubah.
2. Kontak Penuh Stress Seluruh Keluarga dengan Kekuatan
Keluarga.

Kesulitan-kesulitan

ekonomi

seperti

di Luar

kemiskinan

dan

diskriminasi merupakan dua kekuatan mengancam yang menegangkan.


Mekanisme koping keluarga menjadi sangat terpaksa ketika sumbersumber keluarga habis.
3. Stressor Tradisional. Masalah-masalah transisi yang terjadi dalam
beberapa

situasi

yang

paling

sering

terjadi

adalah

perubahan

perkembangan keluarga dan anggota keluarga alami dan perubahan


normatif yang terjadi dalam komposisi keluarga.

4. Stressor Situasional. Tipe-tipe stressor ini berkaitan dengan masalahmasalah yang unik, non normative, dan idiosinkratik yang dialami oleh
sebuah keluarga, seperti masalah-masalah penularan dan merawat salah
satu orangtua di rumah sakit, berakibat pada seluruh keluarga. Stressorstressor ini tidak terantisipasi dan mungkin memaksa kapasitas koping.
Misalnya, suatu tuntutan terhadap sumber-sumber koping bisa terjadi bila
sakit yang serius berlangsung lama, karena ini menggambarkan kekuatan
negative yang berkesinambungan dan menciptakan perlunya suatu
perubahan penting (redistribusi peran-peran dan fungsi-fungsi).
II.2.5. Gejala stress
Gejala stress mencakup gejala psikis, fisik dan perilaku, misalnya gejala
psikis kelelahan mental, diikuti gejala fisik seperti gangguan kulit, dan
perubahan perilaku yaitu penurunan kualitas hubungan interpersonal.
Allen (2001) mengidentifikasi gejala-gejala (symptoms) orang mengalami
stress, baik secara fisik, mental, maupun psikologis. Symptoms-symptoms
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pikiran-pikiran menakutkan (scary-thought)
2. Ada gangguan (distraction)
3. Pikiran bersaing (racing mind)
4. Tidak yakin atau ragu-ragu (uncertainty)
5. Tidak logis (illogic)
6. Lupa (forgetfulness)
7. Kecurigaan (suspicion)
8. Lekas marah (irritability)
9. Kecemasan (anxiety)
10.Depresi (depression)
11.Gusar atau marah-marah (anger)
12.Kesepian (lonliness)
13.Rendah diri (low-self esteem)
14.Gangguan perut (upset stomach)

15.Keletihan (fatigue)
16.Sakit punggung (backache)
17.Sakit kepala (headache)
18.Sembelit (constipation)
19.Diare (diarrhea)
20.Dada sumpek (chest tightness)
21.Kebiasaan tidur yang buruk (poor sleeping habits)
22.Kebiasaan bangun yang buruk (poor calling habits)
23.Berbicara cepat (rapid speech)
24.Menggunakan obat-obatan (drug use)
25.Mengendarai dengan sembrono (reckless driving)
26.Merokok berlebihan (excessive smoking)
27.Minum (alkohol) berlebihan (excessive drinking)
Dari beberapa gejala stress diatas ada yang telah mengarah kepada
koping yang tidak efektif (maladaptif) seperti kebiasaan tidur yang buruk,
kebiasaan bangun yang buruk, berbicara cepat, menggunakan obat-obatan,
mengendarai dengan sembrono, merokok berlebihan dan minum alkohol dan
obat terlarang.
II.3 Konsep Keluarga
II.3.1. Definisi Keluarga
Keluarga adalah dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan-ikatan
kebersamaan dan ikatan emosional dan yang mengidentifikasikan diri mereka
sebagai bagian dari keluarga (Friedman, 2003). Keluarga adalah dua orang
atau lebih yang bergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan
atau pengangkatan dan hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu
sama lain dalam peran masing-masing serta mempertahankan kebudayaan
(Bailon dan Maglaya 1998). Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah nomor
21 tahun 1994 Bab I ayat 1 keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat
yang terdiri dari suami-istri, atau suami, istri dan anaknya, atau ayah dan
anaknya, atau ibu dan anaknya.

Dari pengertian keluarga diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa


keluarga adalah kumpulan dua atau lebih individu yang disatukan oleh ikatan
kebersamaan dan ikatan emosional, memiliki peran dan tugas-tugas yang
saling berhubungan, serta adanya rasa saling menyayangi dan memiliki.
II.3.2. Struktur Keluarga
Menurut Friedman (2003) struktur keluarga terdiri atas
1. Pola dan proses komunikasi
Pola interaksi keluarga yang berfungsi :
a. bersifat terbuka dan jujur
b. selalu menyelesaikan konflik keluarga
c. berpikiran positif
d. tidak mengulang-ulang isu dan pendapat sendiri
Karakteristik komunikasi keluarga berfungsi untuk :
1) Karakteristik pengirim : yakin dalam mengemukakan sesuatu atau
pendapat, apa yang disampaikan jelas dan berkualitas, selalu meminta
dan menerima umpan balik.
2) Karakteristik penerima : siap mendengarkan, memberi umpan balik,
melakukan validasi.
2. Struktur peran
Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai dengan
posisi sosial yang diberikan. Yang dimaksud dengan posisi atau status
adalah posisi individu dalam masyarakat misalnya sebagai suami, istri,
anak dan sebagainya. Tetapi kadang peran ini tidak dapat dijalankan oleh
masing-masing individu dengan baik. Ada beberapa anak yang terpaksa
mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarga yang lain
sedangkan orang tua mereka entah kemana atau malah berdiam diri
dirumah.
3. Struktur kekuatan
Kekuatan merupakan kemampuan (potensial dan aktual) dari
individu untuk mengendalikan atau mempengaruhi untuk merubah
perilaku orang lain ke arah positif.

4. Nilai-nilai keluarga
Nilai merupakan suatu system, sikap dan kepercayaan yang secara
sadar atau tidak, mempersatukan anggota keluarga dalam satu budaya.
Nilai keluarga juga merupakan suatu pedoman bagi perkembangan norma
dan peraturan. Norma adalah pola perilaku yang baik, menurut masyarakat
berdasarkan system nilai dalam keluarga. Budaya adalah kumpulan dari
pola perilaku yang dapat dipelajari, dibagi, dan ditularkan dengan tujuan
untuk menyelesaikan masalah.
II.3.3 Tipe dan Bentuk Keluarga
Pembagian tipe keluarga bergantung pada konteks keilmuwan dan
orang yang mengelompokkan menurut Friedman (2003) tipe keluarga ada tiga
, yaitu :
1.

Keluarga inti (nuclear family) adalah keluarga yang hanya terdiri dari
ayah, ibu dan anak yang diperoleh dari keturunan atau adopsi atau
keduanya.

2.

Keluarga orientasi (keluarga asal) adalah unit keluarga yang didalamnya


seseorang dilahirkan.

3.

Keluarga besar adalah keluarga inti ditambah anggota keluarga yang lain
yang masih mempunyai hubungan darah (kakek, nenek, paman, bibi).

II.3.4 Fungsi Keluarga


Fungsi keluarga menurut Friedman (2003) adalah :
1. Fungsi Afektif (The affective function) : Fungsi keluarga yang utama untuk
mengajarkan segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga
berhubunagn dengan orang lain, fungsi ini dibutuhkan untuk perkembangan
individu dan psikososial keluarga.
2. Fungsi Sosialisasi dan Penempatan Sosial (socialization and social
placement function) : Fungsi pengembangan dan tempat melatih anak untuk

berkehidupan social sebelum meninggalkan rumah untuk berhubungan


dengan orang lain di luar rumah.
3. Fungsi Reproduksi (reproductive function) : Keluarga berfungsi untuk
mempertahankan generasi menjadi kelangsungan keluarga.
4. Fungsi Ekonomi (the economic function) : Keluarga berfungsi untuk
memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat untuk
mengembangkan kemampuan individu meningkatkan penghasilan untuk
memenihi kebutuahn keluarga.
5. Fungsi Perawatan atau Pemeliharaan Kesehatan (the healthy care function) :
Fungsi untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar
tetap memiliki produktivitas tinggi. Fungsi ini dikembangkan menjadi tugas
keluarga di bidang kesehatan.
II.3.5. Tugas Kesehatan Keluarga
Tugas kesehatan keluarga adalah sebagai berikut : (Friedman, 2003)
1. Mengenal masalah kesehatan
2. Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat
3. Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit
4. Mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat
5. Mempertahankan hubungan dengan (menggunakan) fasilitas kesehatan
masyarakat

II.4 Tinjauan Tentang TB Paru


II.4.1. Pengertian
Tuberkulosis

adalah

penyakit

infeksi

yang

disebabkan

oleh

Mycobacterium tuberculosis (Silvia A. Price. 2005:852). Tuberculosis (TB)


adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang parenkin paru (Brunner
& Suddarth. 2001:584).

Sutikno (2004) juga menyebutkan bahwa penyakit Tuberkulosis adalah


penyakit menular langsung yang mengenai parenkim paru, disebabkan oleh
bakteri Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman TB menyerang
paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya (Depkes, 2006).
II.4.2. Etiologi
Penyebab dari penyakit tuberculosis paru adalah terinfeksinya paru oleh
mycobacterium tuberculosis yang merupakan kuman berbentuk batang
dengan ukuran sampai 4 mycron dan bersifat anaerob. Sifat ini yang
menunjukkan kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan
oksigennya, sehingga paru-paru merupakan tempat prediksi penyakit
tuberculosis. Kuman ini juga terdiri dari asal lemak (lipid) yang membuat
kuman lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimia
dan fisik. Penyebaran mycobacterium tuberculosis yaitu melalui droplet
nukles, kemudian dihirup oleh manusia dan menginfeksi (Pedoman Nasional
Penanggulangan Tuberculosis, cetakan ke 8, Departemen Kesehatan RI,
Jakarta. 2002) .
II.4.3. Patofisiologi
Tempat masuknya kuman tuberkulosis adalah saluran pernapasan,
pencernaan, dan luka terbuka pada kulit. Namun kebanyakan infeksi terjadi
melalui udara yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman
basil tuberkel dari orang terinfeksi. Basil tuberkel yang mencapai permukaan
alveolus biasanya berada di bagian bawah lobus atas paru-paru atau di bagian
atas lobus bawah dan membangkitkan reaksi peradangan. Leukosit
polimorfonuklear (PMN) memfagosit bakteri namun tidak membunuhnya.
Selanjutnya leukosit diganti oleh makrofag, alveoli yang terserang mengalami
konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut. Gejala ini dapat sembuh
dengan sendirinya.
Proses dapat terus berlanjut dan bakteri terus difagosit dan
berkembangbiak di dalam sel. Basil juga menyebar melalui kelenjar limfe

regional. Lesi berkembang dan terbentuk jaringan parut yang mengelilingi


tuberkel yang disebut fokus ghon dan gabungan terserangnya kelenjar limfe
regional dengan fokus ghon disebut kompleks ghon. Fokus ghon dapat
menjadi nekrotik dan membentuk masa seperti keju, dapat mengalami
kalsifiksi membentuk lapisan protektif sehingga kuman menjadi dorman.
Setelah pemajanan dan infeksi awal, individu dapat mengalami
penyakit aktif karena gangguan atau respons inadekuat dari sistem imun.
Penyakit aktif dapat juga terjadi akibat infeksi ulang atau aktivasi bakteri
dorman. Hanya sekitar 10% yang awalnya terinfeksi yang mengalami
penyakit aktif. Basil TB dapat bertahan lebih dari 50 tahun dalam keadaan
dorman. Penyakit dapat juga menyebar melalui kelenjar limfe dan pembuluh
darah yang dikenal dengan penyebaran limfohematogen ke berbagai organ
lain seperti usus, ginjal, selaput otak, kulit dan lain-lain.

II.4.4. Manifestasi Klinis


Tanda dan gejala tuberculosis dapat bermacam-macam antara lain (Ilmu
Penyakit Dalam jilid II) :
1. Demam
Umumnya subfebris, kadang-kadang 40-41C, keadaan ini sangat
dipengaruhi oleh daya tahan tubuh pasien dan berat ringannya infeksi
kuman tuberculosis yang masuk.
2. Batuk
Terjadi karena adanya iritasi pada bronkus. Batuk ini diperlukan untuk
membuang produk radang. Sifat batuk dimulai dari batuk kering (non
produktif). Keadaan setelah timbul peradangan menjadi produktif
(menghasilkan sputum atau dahak). Keadaan yang lanjut berupa batuk
darah haematoemesis karena terdapat pembuluh darah yang cepat.
Kebanyakan batuk darah pada TBC terjadi pada dinding bronkus.
3. Sesak nafas

Pada gejala awal atau penyakit ringan belum dirasakan sesak nafas. Sesak
nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut dimana infiltrasinya
sudah setengah bagian paru-paru.
4. Nyeri dada
Gejala ini dapat ditemukan bila infiltrasi radang sudah sampai pada pleura,
sehingga menimbulkan pleuritis, akan tetapi gejala ini akan jarang
ditemukan.
5. Malaise
Penyakit TBC Paru bersifat radang yang menahun. Gejala malaise sering
ditemukan anoreksia, berat badan makin menurun, sakit kepala, meriang,
nyeri otot dan keringat malam. Gejala semakin lama semakin berat dan
hilang timbul secara tidak teratur.

Klasifikasi diagnosis TB adalah


1) TB Paru
a) BTA (bakteri tahan asam) mikroskopis langsung (+) atau biakan (-),
kelainan foto thoraks menyokong TB Paru dengan gejala klinis sesuai
TB Paru.
b) BTA (bakteri tahan asam) mikroskopis langsung atau biakan (-) tetapi
kelainan rontgen atau klinis sesuai dengan TB Paru dengan memberikan
perbaikan pada pengobatan awal inti TB Paru (initial therapy) pasien
golongan ini memerlukan pengobatan yang adekuat.
2) TB Paru tersangka
Diagnosa pada tahap ini bersifat sementara sampai hasil pemerikasaan
bakteri tahan asam (BTA) didapat (paling lambat 3 bulan). Pasien dengan
BTA mikroskopis langsung (-) atau belum ada hasil pemeriksaan atau
pemeriksaan belum lengkap, tetapi kelainan rontgen dan klinis sesuai TB
Paru. Pengobatan dengan inti TBC sudah dapat dimulai.

3) Bekas TB Paru (tidak sakit)


Ada riwayat TB Paru pada pasien di masa lalu dengan atau tanpa
pengobatan atau gambaran rontgen normal/abnormal tetapi stabil pada foto
serial dan sputum GBTA (+) kelompok ini tidak perlu diobati.
II.4.5. Faktor Resiko
Risiko terinfeksi TB sebagian besar adalah faktor risiko eksternal,
terutama adalah faktor lingkungan seperti rumah tidak sehat, pemukiman
padat dan kumuh. Sedangkan risiko menjadi sakit TB, sebagian besar adalah
faktor internal dalam tubuh penderita sendiri

yang disebabkan oleh

terganggunya sistem kekebalan dalam tubuh penderita seperti kurang gizi,


infeksi HIV/AIDS, pengobatan dengan immunosupresan dan lain sebagainya.
Depkes (2006) menyebutkan tentang faktor resiko menderita TB sebagai
berikut :
1. Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB
2. Dengan arti 1%, diperkirakan diantara 100.000 penduduk rata-rata terjadi
1000 terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit
TB setiap tahun. Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif.
3. Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB
adalah daya tahan tubuh yang rendah, diantaranya infeksi HIV/AIDS dan
malnutrisi (gizi buruk).
4. HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB
menjadi sakit TB. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya
tahan tubuh seluler (Cellular immunity), sehingga jika terjadi infeksi
oportunistik, seperti Tuberkulosis, maka yang bersangkutan akan menjadi
sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian. Bila jumlah orang
terinfeksi HIV meningkat, maka jumlah pasien TB akan meningkat,
dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula.
Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik pada tahun 2005 juga
menyebutkan, kemungkinan untuk terinfeksi TB, tergantung pada :
1. Kepadatan droplet nuclei yang infeksius per volume udara

2. Lamanya kontak dengan droplet nuclei


3. Kedekatan dengan penderita TB

Gambar 3 Faktor Risiko Kejadian TB

II.4.6. Komplikasi
Penyakit TBC bisa menimbulkan komplikasi, yaitu menyerang beberapa
organ vital tubuh, di antaranya:
1. Tulang
TBC tulang ini bisa disebabkan oleh bakteri TBC yang mengendap di
paru-paru, lalu terjadi komplikasi dan masuk ke tulang. Atau bisa juga
bakteri TBC langsung masuk ke tulang lewat aliran darah dari paru-paru.
Waktu yang dibutuhkan bakteri untuk masuk dan merusak tulang
bervariasi. Ada yang singkat, tapi ada pula yang lama hingga bertahuntahun. Bakteri TBC biasanya akan berkembang biak dengan pesat saat
kondisi tubuh sedang lemah, misalnya selagi anak terkena penyakit berat.

Saat itu kekebalan tubuhnya menurun, sehingga bakteri pun leluasa


menjalankan aksinya.
Bagian tulang yang biasa diserang bakteri TBC adalah sendi panggul,
panggul dan tulang belakang. Gangguan tulang belakang bisa terlihat dari
bentuk tulang belakang penderita. Biasanya tidak bisa tegak, bisa miring
ke kiri, ke kanan, atau ke depan. Sendi panggul yang rusak pun membuat
penderita tidak bisa berjalan dengan normal. Sedangkan pada ibu hamil,
kelainan panggul membuatnya tidak bisa melahirkan secara normal. Jika
kelainannya masih ringan, upaya pemberian obat-obatan dan operasi bisa
dilakukan. Lain halnya jika berat, tindakan operasi tidak bisa menolong
karena sendi atau tulang sudah hancur. Penderita bisa cacat seumur hidup.
2. Usus
Selain karena komplikasi, TBC usus ini bisa timbul karena penderita
mengonsumsi makanan/minuman yang tercemar bakteri TBC. Bakteri ini
bisa menyebabkan gangguan seperti penyumbatan, penyempitan, bahkan
membusuknya usus. Ciri penderita TBC usus antara lain anak sering
muntah akibat penyempitan usus hingga menyumbat saluran cerna.
Mendiagnosis TBC usus tidaklah mudah karena gejalanya hampir sama
dengan penyakit lain. Ciri lainnya tergantung bagian mana dan seberapa
luas bakteri itu merusak usus. Demikian juga dengan pengobatannya. Jika
ada bagian usus yang membusuk, dokter akan membuang bagian usus itu
lalu menyambungnya dengan bagian usus lain.
5. Otak
Bakteri TBC juga bisa menyerang otak. Gejalanya hampir sama dengan
orang yang terkena radang selaput otak, seperti panas tinggi, gangguan
kesadaran, kejang-kejang, juga penyempitan sel-sel saraf di otak. Kalau
sampai menyerang selaput otak, penderita harus menjalani perawatan yang
lama. Sayangnya, gara-gara sel-sel sarafnya rusak, penderita tidak bisa
kembali ke kondisi normal.
6. Ginjal

Bakteri TBC pun bisa merusak fungsi ginjal. Akibatnya, proses


pembuangan racun tubuh akan terganggu. Selanjutnya bukan tidak
mungkin bakal mengalami gagal ginjal. Gejala yang biasa terjadi antara
lain mual-muntah, nafsu makan menurun, sakit kepala, lemah, dan
sejenisnya. Gagal ginjal akut bisa sembuh sempurna dengan perawatan dan
pengobatan yang tepat. Sedangkan gagal ginjal kronik sudah tidak dapat
disembuhkan. Beberapa di antaranya harus menjalani cangkok ginjal.
II.4.7. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
a.Ziehl Neelsen : (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk

usapan

cairan darah) positif untuk basil asam cepat.


b. Kultur sputum : positif untuk mycobacterium tuberculosis pada tahap
akhir penyakit.
2. Radio Diagnostik
Foto thorax PA dengan atau tanpa literal merupakan pemeriksaan
radiology standar. Jenis pemeriksaan radiology lain hanya atas indikasi
Top foto, oblik, tomogram dan lain-lain.
Karakteristik radiology yang menunjang diagnostik antara lain :
1) Bayangan lesi radiology yang terletak di lapangan atas paru
2) Bayangan yang berawan (patchy) atau bercak (noduler)
3) Kelainan yang bilateral, terutama bila terdapat di lapangan

atas

paru
4) Bayang yang menetap atau relatif menetap setelah beberapa minggu
5) Bayangan bilier.
II.4.8. Sumber dan Cara Penularan Kuman Tuberkulosis
Sumber penularan adalah penderita TB BTA positif, yang dapat
menularkan kepada orang yang berada disekelilingnya, terutama kontak erat.
Penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak
(droplet) pada saat penderita itu batuk atau bersin. Kuman yang disebarkan

lewat droplet bisa bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam.
Orang lain dapat terinfeksi jika droplet tersebut terhiru ke dalam saluran
pernafasan. Kuman TB yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui
pernafasan, dapat menyebar ke bagian tubuh lain melalui sistem peredaran
darah, sistem saluran limfe, saluran nafas, atau penyebaran langsung ke
bagian-bagian tubuh lainnya.
Seorang penderita mempunyai daya penularan yang ditentukan oleh
banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif
hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Jika hasil
pemeriksaan dahak negative, maka penderita tersebut tidak menular.
Banyak dijumpai pada penderita awam dengan kebiasaan meludah
sembarangan . ludah yang didalamnya terdapat kuman tuberculosa akan
menyebar melalui media udara. Peristiwa ini akan sangat potensial
menimbulkan terinfeksinya orang lain yang ada disekitar sehingga menjadi
penderita baru. Perilaku yang baik seperti kepatuhan untuk kebiasaan
menjemur perlengkapan tidur seminggu sekali dan kepatuhan untuk berobat
akan menuntun penderita kearah pencegahan penularan (Depkes,2000).
II.4.9. Pencegahan
1. Menutup mulut pada waktu batuk dan bersin
2. Meludah

hendaknya

pada

tempat

tertentu

yang

sudah

diberi

desinfektan (air sabun)


3. Imunisasi BCG diberikan pada bayi berumur 3-14 bulan
4. Menghindari udara dingin
5. Mengusahakan sinar matahari dan udara segar masuk

secukupnya ke

dalam tempat tidur


6. Menjemur kasur, bantal,dan tempat tidur terutama pagi hari
7. Semua barang yang digunakan penderita harus terpisah begitu
mencucinya dan tidak boleh digunakan oleh orang lain
8. Makanan harus tinggi karbohidrat dan tinggi protein

juga

II.4.10. Penatalaksanaan
TB Paru diobati dengan obat anti tuberculosis (OAT) selama periode
6 -8 bulan. OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis
obat, dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori
pengobatan. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi). Pemakaian OATKombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) lebih menguntungkan dan sangat
dianjurkan. Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan
pengawasan langsung (DOTS= Directly Observed Treatments) oleh seorang
Pengawas Menelan Obat (PMO). Lima medikasi garis depan : Isoniasid (H),
Ripamfisin (R), Streptomisin (S), Etambutol (E) dan Pirazinamid (Z).
Pengobatan diberikan dalam 2 tahap : tahap intensif (awal) penderita
mendapat obat setiap hari dan tahap lanjutan penderita minum obat 3 kali
seminggu.
Panduan obat yang ada di Indonesia meliputi :
1. Kategori 1 ; tahap intensif terdiri dari HRZE selama 2 bulan dan
tahap lanjutan

terdiri dari HR selama 4 bulan. Panduan ini

diberikan pada penderita baru BTA positif, BTA negatif rontgen


positif yang sakit

berat dan TBC ekstra paru berat.

2. Kategori 2 ; tahap intensif diberikan selama 3 bulan terdiri dari 2


bulan dengan

HRZE dan suntikan Streptomisin setiap hari, 1

bulan dengan

HRZE. Untuk tahap lanjutan penderita

diberi HRE selama 5 bulan. Panduan


kambuh,gagal atau setelah lalai (after

ini

untuk

penderita

default).

3. Kategori 3 ; tahap intensif dengan HRZ selama 2 bulan dan tahap


lanjutan dengan HR selama 4 bulan. Panduan ini untuk
penderita BTA
paru ringan.

II.5 Penelitian Terkait

negative rontgen positif sakit ringan, ekstra

II.5.1. Berdasarkan penelitian Desak Putu Jayanthi (2008) Hubungan stress dan
mekanisme koping keluarga dengan dukungan social keluarga di unit
hemodialisa RSPAD Gatot Soebroto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara stress dan mekanisme
koping keluarga dengan dukungan social keluarga di unit hemodialisa
RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Sehingga kesimpulannya adalah semakin
berat stress yang dialami individu dan semakin maladaptive koping yang
digunakan maka semakin buruk dukungan social yang diberika kepada
pasien.
II.5.2.

Berdasarkan penelitian Mamat Lukman (2002) Strategi koping keluarga


dalam menghadapi masalah kesehatan : kasus penyakit TB Paru di
Kabupaten Bandung, memperlihatkan bahwa 54,67% keluarga mempunyai
perilaku koping positif dan terdapat perbedaan yang bermakna antara
koping keluarga pada kelompok yang mendapat bantuan pengobatan dengan
yang tidak mendapat bantuan pengobatan.

II.5.3.

Berdasarkan Penelitian Marwiati (2005) Hubungan tingkat kecemasan


dengan strategi koping pada keluarga dengan anggota keluarga yang dirawat
dengan penyakit jantung di RSUD Ambarawa didapatkan kesimpulan
bahwa gambaran strategi koping keluarga terhadap penyakit jantung sudah
cukup baik yang mana 72,7% menggunakan koping adaptif dan 27,3%
masih menggunakan koping maladaptive.

II.6 Kerangka Teori

Sumber koping:

Stressor keluarga :

kemampuan personal
dukungan sosisal
aset materi
keyakinan positif

Penyakit TB Paru

Krisis atau
non krisis
Persepsi keluarga
tentang TB Paru

Skema 2.1
Teori Sress dari Hill (1949) dalam Friedman (2003)