Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi allah Swt. Yang masih memberikan kesehatan dan kesempatannya
kepada kita semua ,terlebih kepada kami para pemakalah sehingga kami mampu menyelesaikan
makalah ini dengan waktu yang relative singkat.

Berikut ini kami mempersembahkan sebuah makalah yang kami beri judul DI BALIK
HAJI , pemakalah mengharapkan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca semua
terutama bagi pemakalah.

Kepada pembaca yang budiman sudi kiranya untuk memaafkan dan memaklumi jika
dalam makalah ini terdapat kekurangan dan kekeliruan, karena pemakalah juga sedang dalam
tahap pembelajaran.

Dengan demikian ,tak lupa kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada para pembaca.

Semoga Allah memberkahi makalah ini sehingga benar-benar bermanfaat,amin.

Banjarmasin, Januari 2010

Pemakalah
HAJI

A. Pengertian haji
Haji adalah rukun (tiang agama) Islam yang kelima setelah syahadat, shalat, zakat dan
puasa. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan umat Islam
sedunia yang mampu (secara material, fisik, dan keilmuan) dengan berkunjung dan
melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi pada suatu waktu yang
dikenal sebagai musim haji (bulan Dzulhijjah). Hal ini berbeda dengan ibadah umrah yang bisa
dilaksanakan sewaktu-waktu.

Kegiatan inti ibadah haji dimulai pada tanggal 8 Dzulhijjah ketika umat Islam bermalam
di Mina, wukuf (berdiam diri) di Padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, bermalam di
Muzdalifah, dan berakhir setelah melempar jumrah (melempar batu simbolisasi setan) pada
tanggal 10, 11, dan 12 Dzulhijjah. Masyarakat Indonesia lazim juga menyebut hari raya Idul
Adha sebagai Hari Raya Haji karena bersamaan dengan perayaan ibadah haji ini.

1. Definisi

Secara lughawi (bahasa), haji berarti menyengaja atau menuju dan mengunjungi.
Menurut etimologi bahasa Arab, kata haji mempunyai arti qashd, yakni tujuan, maksud, dan
menyengaja. Menurut istilah syara’, haji ialah menuju ke Baitullah dan tempat-tempat tertentu
untuk melaksanakan amalan-amalan ibadah tertentu pula. Yang dimaksud dengan tempat-tempat
tertentu dalam definisi di atas, selain Ka’bah dan Mas’a(tempat sa’i), juga Arafah, Muzdalifah,
dan Mina. Yang dimaksud dengan waktu tertentu ialah bulan-bulan haji yang dimulai dari
Syawal sampai sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Adapun amal ibadah tertentu ialah
thawaf, sa’i, wukuf, mabit di Muzdalifah, melontar jumrah, mabit di Mina, dan lain-lain.

2. Latar Belakang Ibadah haji

Orang-orang Arab pada zaman jahiliah telah mengenal ibadah haji ini yang mereka warisi
dari nenek moyang terdahulu dengan melakukan perubahan di sana-sini. Akan tetapi, bentuk
umum pelaksanaannya masih tetap ada, seperti thawaf, sa’i, wukuf, dan melontar jumrah. Hanya
saja pelaksanaannya banyak yang tidak sesuai lagi dengan syariat yang sebenarnya. Untuk itu,
Islam datang dan memperbaiki segi-segi yang salah dan tetap menjalankan apa-apa yang telah
sesuai dengan petunjuk syara’ (syariat), sebagaimana yang diatur dalam Al-Qur’an dan Sunnah
Rasulullah. Latar belakang ibadah haji ini juga didasarkan pada ibadah serupa yang dilaksanakan
oleh nabi-nabi dalam agama Islam, terutama Nabi Ibrahim (nabinya agama Tauhid). Ritual
thawaf didasarkan pada ibadah serupa yang dilaksanakan oleh umat-umat sebelum Nabi
Ibarahim. Ritual sa’i, yakni berlari antara bukit Shafa dan Marwah (daerah tinggi di sekitar
Ka’bah yang sekarang sudah menjadi satu dengan Masjidil Haram, Makkah), juga didasarkan
untuk mengenang ritual istri Nabi Ibrahim bernama Siti Hajar ketika mencari air untuk anaknya,
Nabi Ismail.

3. Sejarah Ibadah Haji

Haji secara bahasa berarti menuju ke suatu tempat. Namun secara syariat mengacu pada
ziarah tahunan umat Islam ke Mekah dengan maksud tertentu untuk melakukan ritual keagamaan
diwaktu tertentu pula sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW.

Haji pertama kali disyariatkan oleh Allah pada masa Nabi lbrahim a.s. dan ia adalah Nabi yang
dipercaya oleh Allah untuk membangun Ka’bah bersama dengan anaknya Ismail di Mekah.
Allah menggambarkan Ka’bah sebagai berikut:






 





 



 


  

 
 



 


 

 

“Dan ingatlah ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan
mengatakan): janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-
Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat mereka yang ruku’ dan
sujud.” (Al-Hajj :26)

Setelah membangun Ka’bah, Nabi Ibrahim datang ke Mekah untuk melakukan ibadah
haji setiap tahun, dan setelah kematiannya, praktik ini dilanjutkan oleh anaknya. Namun, secara
bertahap dengan berlalunya waktu, baik bentuk dan tujuan ritual haji berubah sebagai
penyembahan berhala yang tersebar di seluruh Arabia, Ka’bah kehilangan kemurnian dan
berhala ditempatkan di dalamnya. Dindingnya penuh dengan puisi dan lukisan, dan akhirnya
lebih dari 360 berhala ditempatkan di sekitar Ka’bah.

Selama periode haji itu sendiri, suasana di sekitar rumah suci (Ka’bah) layaknya seperti sirkus.
Laki-laki dan perempuan mengelilingi Ka’bah dengan telanjang, dengan alasan bahwa mereka
harus menampilkan diri di hadapan Allah dalam kondisi yang sama seperti mereka lahir. Doa
mereka menjadi bebas tak lagi tulus mengingat Allah, malah berubah menjadi serangkaian tepuk
tangan, bersiul dan meniup tanduk, bahkan kalimat talbiah telah diselewengkan oleh mereka
dengan tambahan-tambahan. Bahkan darah binatang yang dikurbankan dituangkan ke dinding
Ka’bah dan dagingnya digantung di tiang sekitar Ka’bah, dengan keyakinan bahwa Allah
menuntut daging dan darah hewan-hewan ini. Mengenai hal ini Allah SWT mengingatkan
dengan firman-Nya:



 

 
 

 
 

  

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi
ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (Al-Hajj: 37)

Bernyanyi, minum arak, perzinaan dan perbuatan amoral lainnya tersebar luas di antara
para peziarah. Dan lomba puisi adalah bagian utama dari seluruh rangkaian haji. Dalam
kompetisi ini, para penyair akan memuji keberanian dan kemegahan suku mereka masing-masing
dan menceritakan cerita-cerita yang berlebihan, kepengecutan dan kekikiran suku-suku lainnya.
Kompetisi dalam kemurahan hati juga diadakan di mana masing-masing kepala suku akan
menyediakan kuali besar dan memberi makan para peziarah, hanya agar mereka bisa menjadi
terkenal karena kemurahan hati mereka.

Dengan demikian mereka benar-benar meninggalkan ajaran nenek moyang dan


pemimpin mereka Nabi Ibrahim a.s. Ajarannya yang suci untuk menyembah Allah semata, telah
dinodai oleh orang-orang kafir dan ritual yang telah ditetapkan benar-benar terselewengkan oleh
mereka. Keadaan menyedihkan itu berlangsung selama kurang lebih dua ribu tahun. Tapi
kemudian setelah periode panjang ini, waktu datang untuk doa Nabi Ibrahim yang harus dijawab:

 
   

 
 
 
 
 
 
  
 

 

   
 

 
 

 
   

 
 
“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan
membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-
Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah :129)

Selama dua puluh tiga tahun, Nabi Muhammad menyebarkan pesan tauhid – pesan yang
sama bahwa Nabi Ibrahim dan semua Nabi pendahulunya datang dengan membawa dan
mendirikan hukum Allah dimuka bumi. Nabi tidak hanya membersihkan Ka’bah dari segala
kotoran, tapi juga mengembalikan semua ibadah haji yang dituntunkan oleh Allah di masa Nabi
Ibrahim.

Terdapat perintah khusus dalam Al-Quran diturunkan dalam rangka menghilangkan semua
upacara palsu yang telah merajalela di masa pra-Islam. Semua tindakan tidak senonoh dan
memalukan itu sangat dilarang dalam pernyataan Allah SWT:



 
 
  
 
 
 
 

 
  
 

    

 
  
   
 
 
 





“Musim haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya
dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (mengeluarkan perkataan yang
menimbulkan birahi yang tidak senonoh atau bersetubuh), berbuat fasik dan berbantah-bantahan
di dalam masa mengerjakan haji.” (Al-Baqarah: 197).

A. Syarat Wajib Haji :

Syarat wajib haji adalah sifat-sifat yang harus dipenuhi oleh seseorang sehingga dia diwajibkan
untuk melaksanakan haji, dan barang siapa yang tidak memenuhi salah satu dari syarat-syarat
tersebut, maka dia belum wajib menunaikan haji. Syarat-syarat tersebut ada lima perkara:

1. Islam
2. Berakal

3. Baligh

4. Merdeka

5. Mampu

Ibnu Qudamah (dalam Al-Mughni 3/218 adn Nihayah Al-Muhtaj 2/375) berkata: “Kami
tidak melihat adanya perbedaan pendapat mengenai lima perkara tersebut“.

“Islam” dan “Berakal” adalah dua syarat sahnya Haji, karena haji tidak sah jika dilakukan oleh
orang kafir atau orang gila.

“Baligh” dan “Merdeka” merupakan syarat yang dapat mencukupi pelaksanaan kewajiban
tersebut, tetapi keduanya tidak termasuk syarat sahnya haji. Karena apabila anak kecil dan
seorang budak melaksanakan haji, maka haji keduanya tetap sah sesuai dengan hadits dari
seorang wanita yang -pada saat melaksanakan haji bersama Rasulullah shallallahu alayhi
wasalam- mengangkat anak kecilnya kehadapan Nabi dan berkata: “Apakah ia mendapatkan
(pahala) haji ?” beliau shallallahu alayhi wasalam menjawab: “Ya, dan kamu pun mendapatkan
pahala“(Shahih HR Muslim 1336, Abu Dawud 1736, dan an-Nasa’i 5/120).

Akan tetapi haji yang dilakukan oleh anak kecil dan budak tidak menggugurkan
kewajiban hajinya sebagai seorang Muslim, menurut pendapat yang lebih kuat, berdasarkan
hadits:

“Barang siapa (seorang budak) melaksanakan haji, kemudian ia dimerdekakan, maka ia


berkewajiban untuk melaksanakan haji lagi, barang siapa yang melaksanakan haji pada usia
anak-anak, kemudian mencapai usia baligh, maka ia wajib melaksanakan haji
lagi“(Dishahihkan oleh Al-Albani HR Ibnu Khuzaimah 3050, Al-Hakim 1/481, Al-Baihaqi
5/179 dan lihat Al-Irwa’ 4/59).

Adapun “Mampu” hanya merupakan syarat wajib haji. Apabila seorang yang “tidak
mampu” berusaha keras dan menghadapi berbagai kesulitan hingga dapat menunaikan haji, maka
hajinya dianggap sah dan mencukupi. Hal ini seperti shalat dan puasa yang dilakukan oleh orang
yang kewajiban tersebut telah gugur darinya. Maka shalat dan puasanya tetap sah dan
mencukupi. (Al-Mughni 3/214).
APAKAH YANG DIMAKSUD “MAMPU“

“Kemampuan” yang menjadi syarat wajib haji hanya akan terwujud dengan hal-hal berikut:

1. Kondisi badan yang sehat dan bebas dari berbagai penyakit yang dapat
menghalanginya dalam melaksanakan berbagai macam ritual dalam haji. Sesuai hadits Ibnu
Abbas, bahwa seorang wanita dari Khats’am berkata: “Wahai Rasulullah, bapak ku memiliki
kewajiban haji pada saat dia sudah sangat tua dan tidak dapt menanggung beban perjalanan
haji, apakah aku bisa menghajikannya ?” beliau shallallahu alayhi wasalam menjawab:
“Tunaikanlah haji untuknya (menggantikannya)“(Shahih HR Bukhari 1855 dan Muslim 1334).

Barangsiapa telah memenuhi seluruh syarat haji, tetapi dia menderita penyakit kronis atau
lumpuh, maka dia tidak wajib melaksanakan haji, sesuai kesepakatan ulama.

hanya saja ada perbedaan pendapat mengenai perwakilannya kepada orang lain, apakah wajib
atau tidak ?.

Madzhab Syafi’i, Hanbali dan dua orang pengikut madzhab Hanafi berpendapat wajib, atas dasar
bahwa kesehatan badan merupakan syarat untuk menunaikan haji dan bukan syarat wajib haji.
Dan inilah pendapat yang terkuat berdasarkan hadits Ibnu Abbas, bahwa Nabi shallallahu alayhi
wasalam bersabda: “Bagaimana jika ayahmu memiliki tanggungan utang, apakah kamu akan
melunasinya ?” Wanita itu menjawab “Ya” beliau shallallahu alayhi wasalam lalu bersabda
“Maka utang kepada Allah lebih berhak untuk dilunasi” (HR Bukhari 5699, An-Nasa’i 5/116).

Adapun Imam Abu Hanifah danImam Malik berpendapat tidak wajib mewakilkannya kepada
orang lain. (Nihayah Al-Muhtaj 2/385, Al-Kafi 1/214 dan fath al-Qadir 2/125).

2. Memiliki perbekalan yang cukup dalam perjalana, masa mukim (menginap) dan saat
kembali kepada keluarganya, diluar kebutuhan-kebutuhan pokok, seperti tanggungan utang dan
nafkah untuk keluarga dan orang-orang yang berada dalam tanggungannya. Ini menurut pendapat
Jumhur Ulama (Al-Majmu’ 7/56) -selain madzhab Maliki-, karena nafkah merupakan hak
manusia dan harus diutamakan, sesuai sabda Rasulullah shallallahu alayhi wasalam:

“Cukuplah seseorang (dianggap) berdosa dengan menelantarkan orang yang berada dalam
tanggungannya“(Shahih HR Abu Dawud 1676 dan Al-Irwa’ 989).

3. Amannya perjalanan. Ini meliputi aman bagi jiwa dan harta pada saat orang-orang
ramai keluar menunaikan haji, karena kategori “mampu” tidak dapat terlepas dari kondisi ini.
KEBERADAAN SEORANG MUHRIM MERUPAKAN SYARAT WAJIB HAJI BAGI
PEREMPUAN.

Wanita diwajibkan menunaikan haji apabila telah memenuhi lima syarat yang telah dijelaskan
kemudian disyaratkan pula agar ditemani oleh suami atau muhrim. Apabila tidak ada muhrim
maka dia belum diwajibkan haji.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radiallahuanhu, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah
shallallahu alayhi wasalam bersabda: “Hendaknya seorang laki-laki tidak berdua-duaan dengan
seorang perempuan, kecuali bersama muhrimnya, dan hendaknya seorang wanita tidak
berpergian kecuali bersama muhrimnya.” Kemudian seorang laki-laki berkata “Wahai
Rasulullah, istriku hendak pergi haji untuk melaksanakan haji dan aku mendapat bagian untuk
ikut perang ini dan ini” Maka beliau shallallahu alayhi wasalam bersabda “Pergilah, laksanakan
haji bersama istrimu“(Al-Mughni 3/230, Bidayah Al-Mujtahid 1/348 dan Al-Majmu’ 7/68). Ini
adalah pendpat madzhab Hanafi dan Hanbali.

Adapun madzhab Maliki dan Syafi’i menilai bahwa keberadaan muhrim bukanlah syarat dalam
haji, tetapi mereka mensyaratkan amannya perjalanan dan adanya teman yang amanah.
Ketentuan ini berlaku dalam haji yang wajib. Adapun haji sunnah maka perempuan tidak boleh
melaksanakannya kecuali bersama muhrimnya, sesuai kesepakatan para ulama.

Sementara madzhab Azh-Zhahiri berpendapat bahwa wanita yang tidak memiliki suami atau
muhrim atau suaminya enggan menemani maka dia boleh menunaikan haji tanpa muhrim.

Mereka berdalil dengan riwayat yang menjelaskan penafsiran Nabi shallallahu alayhi wasalam
bahwa yang dimasud dengan “mampu” adalah adanya perbekalan dan kendaraan, dan riwayat ini
dha’if, sebagaimana yang telah disebutkan.

Juga dengan sabda beliau:”Hampir saja akan keluar sekelompok perempuan dari Hirah menuju
Ka’bah tanpa ada yang menemaninya (tanpa muhrim), mereak tidak merasa takut melainkan
hanya kepada Allah” (HR Bukhari 3595, kata Azha’inah berarti perempuan)

A. Rukun Haji

Rukun haji ada empat:

1. Ihram: Yaitu berniat untuk menunaikan ibadah haji sambil mengucapkan dengan lisan
dengan mengatakan: labbaikallahumma hajjan.
2. Wukuf di Arafah: yaitu berdiam di arafah. Waktu wukuf dimulai dari tergelincirnya
matahari pada tanggal Sembilan dzulhijjah hingga terbit fajar pada tanggal sepuluh
dzulhijjah.

3. Thawaf ifadah. Yaitu mengelilingi ka'bah sebanyak tujuh kali. Dimulai dari hajar aswad
sampai ke hajar aswad lagi. Ketika thawaf disyaratkan harus suci dari hadats. Kalau ragu
apakah sudah tujuh putaran atau masih enam, maka mengambil yang yakin yaitu enam,
lalu menambah satu putaran lagi.Sa'i. Yaitu berjalan dari bukit shafa ke bukit marwa
sebanyak tujuh kali. Dimulai dari bukit shafa dan berakhir di bukit marwa. Hitungan
putaran dalam sa'i beda dengan hitungan dalam thawaf, kalau dalam thawaf, dari hajar
aswad ke hajar aswad dihitung satu putaran, tapi dalam sa'I dari shafa ke marwa dihitung
satu, dari marwa ke shafa dihitung satu dan seterusnya, sehingga tujuh putaran sa'i
berakhir di bukit marwa.

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:

 
 

 
 
 
Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)."…"
((QS.Al-Hajj: 29

4. Sa'i antara Shafa dan Marwah.


Karena Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam melaksanakannya dan beliau bersabda:

‫ى‬
َ ْ ‫سع‬ ُ ُ ‫ب عَل َي ْك‬
ّ ‫م ال‬ َ ّ ‫ن الل‬
َ َ ‫ه ك َت‬ ّ ِ ‫وا فَإ‬
ْ َ‫سع‬
ْ ِ‫ا‬
• "Laksanakanlah sa'i karena sesungguh-nya Allah telah mewajibkan sa'i atas kamu
sekalian."
Sebagian ulama ada yang mema-sukkan "Mabit di Muzdalifah hingga shalat Shubuh
disana" sebagai salah satu di antara rukun haji, berdasarkan hadits Rasulullah Shalallaahu
alaihi wasalam kepada 'Urwah bin Mudharris ath-Thai Radhiallaahu anhu :

َ ْ ‫ف قَب‬
‫ل‬ َ َ‫حّتى ن َد ْفَعَ وَقَد ْ وَق‬
َ ‫معََنا‬َ ‫ف‬ َ َ‫ذا وَوَق‬َ َ‫صل َت ََنا ه‬ َ َ ‫شـهِد‬ َ ‫ن‬ ْ ‫م‬ َ
َ
َ َ‫ه وَق‬
ُ َ ‫ضى ت ََفث‬
‫ه‬ ُ ‫ج‬ّ ‫ح‬
َ ‫م‬ّ َ ‫ة ل َي ْل ً أوْ ن ََهاًرا فََقد ْ ت‬ َ ِ ‫ذ َل‬
َ َ‫ك ب َعََرف‬
"Barangsiapa yang menyaksikan shalat kami ini, dan wuquf bersama kami hingga kami
bertolak )dari Muzdalifah,-Pent), sedang dia telah wuquf sebelum ini di 'Arafah di siang
hari atau di malam hari, maka telah sempurna hajinya dan hilanglah kotorannya.”

A. Tujuan Haji

Haji Mabrur, tiada balasannya kecuali sorga, demikian salah satu hadits Nabi
SAW. Dengan motifasi itulah maka umat Islam yang merasa mampu secara fisik, material dan
mental tergerak hatinya untuk menunaikan ibadah haji. Bahkan mereka yang sudah pernah naik
haji pun masih merasa tertagih untuk melakukannya kembali. Agaknya, rasa rindu ke tanah suci
selalu mengisi hati setiap orang mukmin, dan mereka yang sudah haji merasakan hal itu melebihi
apa yang dirasakan oleh mereka yang belum haji.
Dalam hadits riwayat Bukhari-Muslim, haji disebutkan pada urutan kelima dari ibadah yang
diwajibkan dalam Islam. Karena posisi itu, maka hampir semua orang memahami bahwa ibadah
haji merupakan simbol kesempurnaan keislaman seseorang. Siapa yang telah berhaji berarti dia
telah menyempurnakan keislaman yang dianutnya. Pandangan ini dari satu sisi mungkin dapat saja
dibenarkan, tetapi sesungguhnya tingkat kesempurnaan Islam adalah tidak tepat jika diukur dari haji
tidaknya seseorang. Sebab jika haji menjadi barometer kesempurnaan Islam, maka timbul
pertanyaan, bagaimana nasib berjuta-juta bahkan beratus juta umat Islam yang miskin dan belum
menunaikan haji? Apakah mereka mengalami diskrminiasi religius, lantaran mereka bernasib tidak
mujur dalam hidupnya. Karena itu, mungkin lebih tepat jika derajat keislaman tidak diukur dari haji
tidak-nya seseorang, melainkan diukur dari nilai taqwanya masing-masing. Tuhan sendiri
berfirman: "Bertaqwalah kamu sesuai dengan kemampuanmu". Mereka yang miskin dapat saja
mencapai derajat taqwa yang tertinggi jika ia menunaikan segenap ibadah secara maksimal, sesuai
daya yang dimilikinya, meskipun ia tidak berdaya naik haji. Berbeda dengan orang yang memang
dianugerahi kemampuan ekonomi oleh Tuhan dan memperoleh kesempatan untuk berhaji, maka
tanggung jawabnya untuk memiliki taqwa tidak dapat terpenuhi sebelum ia menunaikan haji.
Taqwa membutuhkan landasan aqidah yang kokoh. Karena itu ibadah haji dan segenap ibadah
lainnya, harus ditunaikan atas landasan iman yang benar. Di sini seringkali orang tergelincir,
mengira dirinya naik ke tanah suci Mekah menyempurnakan keislamannya dengan ibadah haji,
padahal justru ia menghancurkan agamanya akibat penyimpangan aqidah. Ketika penulis
menunaikan haji pertama (1988), salah seorang wanita tengah baya dari rombongan kami jatuh
pingsan dalam perjalanan dari rumah menuju ke Masjid Nabawi di Madinah. Kejadian itu sempat
mengagetkan rekan-rekan serombongannya, sebab dari segi fisik wanita itu tampak masih sangat fit,
umurnya pun masih terbilang muda. Hasil ivestigasi menunjukkan bahwa yang bersangkutan telah
tiga hari tidak menikmati makanan secara normal seperti biasanya di tanah air. Ia tidak mau
menanak nasi dari jatah beras yang diperolehnya. Ia mengira beras itu adalah beras tanah suci
Mekah, dan karena itu iapun berniat membawanya pulang ke tanah air dan membagi-bagikan
kepada segenap kerabatnya, agar kelak rezki berlimpah ruah dan kehidupan bertambah sejahtera.
Orang seperti ini tidak saja mengalami buta aqidah, tetapi sekaligus buta huruf. Bukankah dalam
sampul beras itu tertera tulisan imported from Thailand, yang berarti beras itu berasal dari Thailand,
bukan produksi tanah suci. Jika aqidah semacam ini masih menghinggapi seseorang yang akan
berhaji, jelas hajinya tidak akan mabrur, malah menjadi haji merdud atas kemusyrikan yang
diperbuatnya.
Salah satu pemandangan yang sewaktu-waktu tampak dalam suasana berhaji ialah adanya
jamaah haji yang berbusana kumuh, lusuh dan berdebu. Kebanyakan orang seperti ini berasal dari
India, Pakistan dan Banglades, tetapi tidak sediki pula jamaah kita sudah mulai ketularan. Konon,
mereka punya keyakinan bahwa apa saja yang ada di tanah suci itu adalah bersih dan suci pula,
termasuk debu dan limbah. Karena itu mereka tidak merasa perlu mencuci pakaiannya meskipun
sudah berubah warna. Pakaian itu dikumpul kemudian dibungkus secara khusus untuk kemudian
dicuci sesampai di tanah air, dan konon, air cucian yang berwarna coklat itupun diberi keluarga
untuk mereka minum, dengan harapan memperoleh berkah dari tanah suci. Tak ragu lagi, prinsip
seperti ini juga merusak aqidah Islam, dan karena itu jangan berharap haji yang bersangkutan
menjadi mabrur.
Haji Mabrur tidak lain adalah haji yang membuahkan taqwa. Karena itu, upaya memperoleh
haji mabrur sebenarnya sudah harus dimulai sejak berniat menunaikan haji, sampai pada saat
pelaksanaan ibadah haji itu sendiri dan seterusnya kembali mengamalkannya di tanah air sesudah
haji. Perkataan mabrur berasal dari kata al-birr (kebajikan), berubah menjadi mabrur dengan
pengertian sesuatu yang semakin bertambah nilai kebajikannya. Sebelum seorang Muslim
menunaikan haji, oleh Tuhan sudah dianjurkan dalam Q.S. Al-Baqarah (2): yang artinya: "Haji itu
adalah beberapa bulan yang sudah dikenal, barangsiapa yang berniat menunaikan haji di dalamnya
maka hendaklah ia menghindari perkataan yang kotor, perbuatan fasik dan pertengkaran; dan
kebajikan apapun yang kamu lakukan niscaya Allah mengetahuinya, maka berbekallah,
sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa, maka bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang
berakal".
Selanjutnya, dalam pelaksanaan ibadah haji di tanah suci, seseorang harus menunaikan segala
syarat, rukun dan wajibnya, bahkan jika mampu melengkapi dengan berbagai ibadah sunat yang
berkaitan dengannya, berdasarkan syariat yang sebenarnya. Tidak mengada-ada dan tidak memaksa
diri sendiri melakukan sesuatu yang sesungguhnya tidak disyariatkan. Dalam kaitan ini seringkali
kita melihat orang yang menunaikan haji dalam keadaan buta ibadah. Mereka tidak tahu
membedakan unsur-unsur pelaksanaan yang wajib dan yang sunat. Bahkan sesuatu yang tak ada
hukumnya sama sekali, karena tak diperintahkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah, justru dianggap
sangat wajib sehingga ia lebih mengutamakannya daripada rukun haji yang sebenarnya. Contoh
konkret ialah mencium hajar aswad. Menurut hukum fikih, berdasarkan sunnah Rasulullah SAW,
mencium hajar aswad itu merupakan rangkaian pelaksanaan thawaf. Seorang yang sedang
berthawaf disunnahkan mencium hajar aswad secara langsung jika mampu melakukannya, dan jika
tidak, cukup mencium jarak jauh dengan menghadap ke arah hajar aswad sambil mengangkat
tangan. Dengan demikian, mencium hajar aswad secara khusus, yang tidak dirangkaikan dengan
thawaf, bukanlah perbuatan yang disyariatkan. Bahkan jika dikembalikan kepada kaedah ushul
fikih, perbuatan semacam itu, andaikata dilakukan dalam keadaan membahayakan fisik, hukumnya
menjadi makruh, dan jika dapat membahayakan jiwa maka hukumnya menjadi haram. Tetapi,
sebahagian orang belum memahami hal ini, dan merasa tidak puas melakukan haji jika tidak pernah
mencium secara langsung hajar aswad, meskipun ciumannya itu di luar rangkaian thawaf. Inilah
kebutaan ibadah, kebutaan hukum dari sebahagian jemaah kita. Namun, jika ia bertekad
menciumnya, di luar thawaf, untuk sekedar merasakan apa adanya dalam keadaan aman, tetap saja
dibolehkan asal jangan dipandang sebagai manasik haji, dan hukumnya pun bukanlah sunat dan
bukan pula wajib.
Hasil dari semuanya itu ialah perilaku yang dimiliki oleh seseorang yang sudah haji. Artinya,
seseorang yang hajinya mencapai derajat mabrur akan ditandai dari kesempurnaan perilakunya
sesudah ia haji, apakah semakin bertambah kebaikannya dibanding dengan keburukannya. Jika
perilakunya yang buruk tetap tidak berubah sama sekali, atau malah jauh melebihi perilaku
kebajikannya maka haji yang bersangkutan jauh dari makna mabrur. Sehubungan dengan ini,
penulis ingin menyinggung tradisi bangsa Asia Tenggara, khususnya Indonesia, yang memanggil
seseorang yang sudah menunaikan haji dengan gelar "Haji" di depan namanya. Orang-orang yang
sudah berhaji pun agaknya senang memakai busana yang menyimbolkan haji, minimal peci putih
dan serban bagi laki-laki. Bagi penulis, semua itu tidak hanya sekedar tradisi, tetapi mempunyai
makna dan efek dalam upaya meningkatkan haji mabrur. Maksudnya, seseorang yang di muka
namanya terpasang gelar "Haji", maka yang bersangkutan diharap menghayati dan menyadari
dirinya sebagai seorang Muslim yang paripurna. Janganlah dirusak dengan melakukan perbuatan
yang tidak pantas bagi seorang Muslim. Hilangkan kebiasaan buruk, hindari kehidupan gebyar
yang rawan dosa, hindari perkataan kotor, judi dan mabuk, lebih-lebih lagi kamar-kamar zina
terselubung di panti pijat. Dan pakaian haji yang melekat di badan atau di kepala itu, jika dihayati
fungsinya juga sangat besar. Seseorang yang kebetulan memakai peci putih sebagai simbol haji,
mungkin dia selamat dari kejaran wanita yang sedang "berburu", ketimbang orang yang peci
putihnya sengaja dilipat dalam saku dengan alasan malu disebut pendatang baru di kota besar.
Tetapi yang penting sebenarnya ialah makna sabda Nabi SAW yang menyatakan: Taqwa itu ada
di sini, lalu beliau menunjuk dadanya”. Atau tegasnya taqwa yang benar-benar taqwa tidak perlu
diukur lagi dari segi embel-embel nama dan busana seseorang. Tidak sedikit orang yang taqwanya
paripurna tanpa gelar dan busana haji pada dirinya. Wallahu a`lam bi al-shawab.