Anda di halaman 1dari 43

TUGAS TEKNOLOGI SEDIAAN SOLID

Formulation and Evaluation of Ascorbic acid Tablets by


Direct Compression using Microcrystalline Starch as a
Direct Compression Excipient

Disusun Oleh :
Eka Fitriyani (13330707)

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2014

ABSTRAK
TUJUAN: Untuk mengevaluasi sifat tablet yang diproduksi menggunakan eksipien
microcrystalline starch (MCS) dalampembuatan tablet asam askorbat dengan metode
kempa langsung dan dibandingkan dengan sifat-sifat tablet yang menggunakan
microcrystalline cellulose (MCC) sebagai eksipien.

METODE: MCS diperoleh melalui hidrolisis parsial dari pati singkong (Manihot
esculenta Crantz) dengan menggunakan enzim -amilase. Hidrolisis dilakukan
selama 5 jam di bawah suhu terkontrol dan pH (56 C, 6). Turunan MCS diperoleh
dengan cara penyaringan menggunakan pelarut etanol (95% v / v). Pengkajian
praformulasi menunjukkan bahan eksipien yang cocok untuk pembuatan tablet asam
askorbat dengan metode kempa langsung yaitu MCC dan MCS.

HASIL: Sifat fisik tablet yang diformulasikan menggunakan MCS sebanding dengan
MCC. Tablet diformulasikan dengan MCS memiliki waktu hancur 15 menit dan uji
disolusi mencapai kadar sebesar 100% asam askorbat dalam waktu 30 menit
dibandingkan dengan MCC memiliki waktu hancur setelah 60 menit.

KESIMPULAN: MCS dapat digunakan sebagai eksipien dalam pembuatan obat yang
sensitif terhadap panas atau lembab dengan metode kempa langsung.

Kata kunci: mikrokristalin selulosa, sifat serbuk, teknik pembuatan, hidrolisis parsial,
-amilase.

BAB I
PENDAHULUAN

Hingga saat ini, tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling disukai
karena memiliki banyak keuntungan untuk dokter dan pasien. Bentuk tablet
menawarkan sistem penghantaran zat aktif yang aman baik secara fisikokimia
maupun stabilitasnya dibandingkan dengan bentuk sediaan lain, serta dapat
memberikan dosis yang tepat. Oleh karena itu, banyak obat yang dibuat dalam bentuk
tablet dengan mengontrol kualitasnya secara ketat. Tantangan utama yang dihadapi
dalam membuat formulasi tablet adalah mempertahankan kualitas tablet. Oleh karena
itu, harus berhati-hati pada saat membuat desain atau memilih proses pembuatan dan
komponen yang akan digunakan pada formulasi.
Kempa langsung telah mengambil peran penting dalam pembuatan tablet
karena prosesnya dapat mengatasi banyak permasalahan yang terkait dengan metode
granulasi. Proses yang terdapat pada metode kempa langsung adalah proses yang
sederhana dan ekonomis karena tidak memerlukan panas atau lembab yang cocok
untuk senyawa yang tidak stabil. Namun, keberhasilan proses kempa langsung sangat
ditentukan oleh pemilihan eksipien yang sesuai, karena eksipien menentukan sifat alir
dan karakteristik campuran serbuk yang akan di kempa secara langsung.
microcrystalline cellulose (MCC) atau avicel merupakan eksipien yang digunakan
pada metode kempa langsung dengan sifat kompresibilitas yang sangat baik. MCC
juga memiliki sifat disintegrasi yang baik, tetapi dapat membuat tablet menjadi sangat
keras ketika di kempa dengan tekanan tinggi. Karena keterbatasan tersebut, dilakukan
penelitian untuk menentukan eksipien yang dapat digunakan pada kempa langsung.
Amilum adalah bahan serbaguna, yang murah dan mudah didapat. Bahan
diperoleh dari sumber yang dapat diperbaharui serta dapat digunakan secara luas
dalam pembuatan tablet sebagai pengikat, penghancur, pengencer, pelumas dan
glidant. Bentuk asli pati memiliki sifat alir dan kompresibilitas yang buruk sehingga
tidak cocok untuk metode kempa langsung. Beberapa Peneliti telah melakukan

upaya-upaya memodifikasi amilum untuk memperbaiki sifat kompresibilitasnya


sehingga dapat digunakan pada kempa langsung.
Tujuan penelitian ini adalah untuk memodifikasi pati secara parsial
menggunakan hidrolisis enzimatik dan melakukan evaluasi sifat tablet dalam
formulasi tablet asam askorbat. Asam askorbat adalah obat yang larut dalam air,
kompresibiltasnya buruk dan sensitif terhadap kelembaban. Berdasarkan latar
belakang tersebut penilitian ini dilakukan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori Sediaan
1. Definisi Tablet
Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam
bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung,
mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa bahan tambahan. Zat
tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengembang,
zat pengikat, zat pelicin, zat pembasah, atau zat lain yang cocok (Farmakope
Indonesia Edisi III).
Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan
pengisi. Berdasarkan metode pembuatan dapat digolongkan sebagai tablet cetak
dan tablet kempa (Farmakope Indonesia Edisi IV).
Tablet adalah sediaan bentuk padat yang mengandung substansi obat dengan
atau

tanpa

bahan

pengisi.

Berdasarkan

metode

pembuatannya,

dapat

diklasifikasikan sebagai tablet atau tablet kompresi (USP 26, Hal 2406).
Tablet adalah bentuk sediaan yang paling banyak beredar karena secara fisik
stabil, mudah dibuat, lebih menjamin kestabilan bahan aktif dibandingkan bentuk
cair, mudah dikemas, praktis, mudahdigunakan, homogen, dan reprodusibel.
Massa tablet harus mengalir dengan lancar agar dapat menjamin homogenitas dan
reprodusibilitassediaan dan harus dapat terkompresi dengan baik agar diperoleh
tabletyang kuat, kompak, dan stabil selama penyimpanan dan distribusi.Metode
granulasi banyak dipilih dengan tujuan memperbaiki sifat alir dan kompresibilitas
massa tablet (Lachman,Leon., 1994).

2. Ukuran Tablet

Menurut R. Voigt :
Garis tengah pada umumnya 15-17 mm
Bobot tablet pada umumnya 0,1-1 g

Menurut Lachman :
Tablet oral biasanya berukuran 3/16-1/2 inci
Berat tablet berkisar antara 120-700 mg 800 mg
Diameternya -7/6 inci

Menurut Farmakope Indonesia Edisi III


Kecuali dinyatakan lain, diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak
kurang dari 1 1/3 kali tebal tablet

3. Jenis Sediaan Tablet


Berdasarkan prinsip pembuatan tablet terdiri dari :
a. Tablet Kempa
Dibuat dengan cara pengempaan dengan memberikan tekanan tinggi pada
serbuk atau granul menggunakan pons atau cetakan baja.
b. Tablet Cetak
Dibuat dengan cara menekan massa serbuk lembab dengan tekanan rendah
pada lubang cetakan. Kepadatan tablet tergantung pada pembentukan kristal
yang terbentuk selama pengeringan, tidak tergantung pada kekuatan yang
diberikan.

4. Berdasarkan Tujuan Penggunannya


a. Tablet Kempa Tujuan Saluran Pencernaan
1) Tablet konvensional Biasa

Tablet yang dibuat atau dikempa dengan siklus kompresi tunggal yang
biasanya terdiri dari zat aktif sendiri atau kombinasi dengan bahan
eksipien seperti :

Pengisi (member bentuk) : laktosa

Pengikat (member adhesivitas atau kelekatan saat bertemu saluran


cerna) : amylum, gelatin, tragakan

Disintegrator (mempermudah hancurnya tablet)

2) Tablet Kempa Multi atau Kempa Ganda


Adalah tablet konvensional yang dikompresi lebih dari siklus kompresi
tunggal sehingga tablet akhir tersebut terdiri atas dua atau lebih lapisan.
Disebut juga sebagai tablet berlapis. Keuntungannya dapat memisahkan
zat aktif yang inkompatibel (tidak tersatukan).
3) Tablet Lepas Lambat
Tablet yang pelepasan zat aktifnya dimodifikasi sehingga tablet tersebut
melepaskan dosis awal yang cukup untuk efek terapi yang kemudian
disusul dengan dosis pemeliharaan sehingga jumlah zat aktif dalam darah
cukup untuk beberapa waktu tertentu.
4) Tablet Lepas Tunda
Adalah tablet yang dikempa yang disalut dengan suatu zat yang tahan
terhadap cairan lambung, reaksi asam, tetapi terlarut dalam usus halus
yang pelepasan zat aktifnya terkendali pada waktu-waktu tertentu.
5) Tablet Salut Gula
Adalah tablet kempa yang disalut dengan beberapa lapis lapisan gula baik
berwarna maupun tidak. Tujuannya untuk melindungi zat aktif terhadap
lingkungan udara (O2 , Kelembaban), menutup rasa dan bau tidak enak,
menaikkan penampilan tablet.
6) Tablet salut Film
Tablet kempa yang disalut dengan salut tipis, berwarna atau tidak dari
bahan polimer yang larut dalam air yang hancur cepat dalam saluran
cerna.penyalutan tidak perlu berkali-kali.

7) Tablet Effervesen
Tablet kempa jika berkontak dengan air menjadi berbuih karena
mengeluarkan CO2. Tablet ini harus dilarutkan dalam air baru diminum.
8) Tablet Kunyah
Tablet kempa yang mengandung zat aktif dan eksipien yang harus
dikunyah sebelum ditelan.

b. Tablet Kempa Digunakan dalam Rongga Mulut


1) Tablet Bukal
Tablet kempa biasa berbentuk oval yang ditempatkan diantara gusi dan
pipi. Biasanya keras dan berisi hormone. Bekerja sistemik, tererosi atau
terdisolusi di tempat tersebut dalam waktu yang lama (secara perlahan).
2) Tablet Sublingual
Tablet kempa berbentuk pipih yang diletakkan dibawah lidah, berisi
nitrogliserin. Biasanya untuk obat penyempitan pembuluh darah ke
jantung (angina pectoris) sehingga harus cepat terlarut agar dapat segera
memberi efek terapi. Diabsorbsi oleh selaput lendir dibawah lidah.
3) Tablet Hisap atau Lozenges
Tablet yang mengandung zat aktif dan zat-zat penawar rasa dan bau,
dimaksudkan untuk disolusi lambat dalam mulut untuk tujuan lokal pada
selaput lender mulut.
4) Dental Cones (Kerucut Gigi)
Yaitu suatu bentuk tablet yang cukup kecil, dirancang untuk ditempatkan
dalam akar gigi yang kosong setelah pencabutan gigi. Tujuannya biasanya
untuk mencegah berkembangbiaknya bakteri ditempat yang kosong tadi
dengan menggunakan suatu senyawa anti bakteri yang dilepaskan secara
perlahan-lahan, atau untuk mengurangi pendarahan dengan melepaskan
suatu astringen atau koagulan.

c. Tablet Kempa Digunakan Melalui Liang Tubuh


1) Tablet Rektal
Tablet kempa yang mengandung zat aktif yang digunakan secara rectal
(dubur) yang tujuannya untuk kerja lokal atau sistemik.
2) Tablet Vaginal
Tablet kempa yang berbentuk telur (ovula) untuk dimasukkan dalam
vagina yang didalamnya terjadi disolusi dan melepaskan zat aktifnya.
Biasanya mengandung antiseptik, astringen. Digunakan untuk infeksi
lokal dalam vagina dan mungkin juga untuk penggunaan steroid dalam
pengobatan sistemik.

d. Tablet Kempa untuk Implantasi


Tablet implantasi atau pelet dibuat berdasarkan teknik aseptik, mesin tablet
harus steril. Dimaksudkan untuk implantasi subkutan (untuk KB, mencegah
kehamilan).

e. Tablet Cetak Untuk Penggunaan Lain


1) Tablet Triturat untuk Dispensing
Adalah tablet yang dihaluskan dulu atau disiapkan untuk penggunaan
tertentu. Tablet kempa atau cetak berbentuk kecil umumnya silindris
digunakan untuk memberikan jumlah zat aktif terukur yang tepat untuk
peracikan obat. Digunakan sebagai tablet sublingual atau dilepaskan diatas
lidah atau ditelan dengan air minum.
2) Tablet Hipodermik
Tablet cetak atau kempa yang dibuat dari bahan mudah larut atau melarut
sempurna dalam air. Umumnya digunakan untuk membuat sediaan injeksi
steril dalam ampul dengan menambahkan pelarut steril
3) Tablet Dispending
Tablet yang digunakan oleh apoteker untuk meracik suatu bentuk sediaan
padat atau cair. Dimaksudkan untuk ditambahkan kedalam air dengan

volume tertentu, oleh ahli farmasi atau konsumen, untuk mendapatkan


suatu larutan obat dengan konsentrasi tertentu.

5. Kriteria Tablet
Suatu tablet harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
a. Harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi persyaratan;
b. Harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil;
c. Keadaan fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik/mekanik;
d. Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan;
e. Waktu hancur dan laju disolusi harus memenuhi persyaratan;
f. Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan;
g. Bebas dari kerusakan fisik;
h. Stabilitas kimiawi dan fisik cukup lama selama penyimpanan;
i. Zat aktif harus dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu tertentu;
j. Tablet memenuhi persayaratan Farmakope yang berlaku.
(Proceeding Seminar Validasi, Hal 26)

6. Persyaratan Tablet
a. Memenuhi keseragaman ukuran
b. Memenuhi keseragaman bobot
c. Memenuhi waktu hancur
d. Memenuhi keseragaman isi zat berkhasiat
e. Memenuhi waktu larut (dissolution test)

7. Keuntungan Sediaan Tablet


Sediaan tablet banyak digunakan karena memiliki beberapa keuntungan, yaitu :
a. Tablet dapat bekerja pada rute oral yang paling banyak dipilih;
b. Tablet memberikan ketepatan yang tinggi dalam dosis;

c. Tablet dapat mengandung dosis zat aktif dengan volume yang kecil sehingga
memudahkan

proses

pembuatan,

pengemasan,

pengangkutan,

dan

penyimpanan;
d. Bebas dari air, sehingga potensi adanya hidrolisis dapat dicegah/diperkecil.

Dibandingkan dengan bentuk sediaan lain, sediaan tablet mempunyai keuntungan,


antara lain :
a. Volume sediaan cukup kecil dan wujudnya padat (merupakan bentuk sediaan
oral yang paling ringan dan paling kompak), memudahkan pengemasan,
penyimpanan, dan pengangkutan;
b. Tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh (mengandung dosis zat aktif yang
tepat/teliti) dan menawarkan kemampuan terbaik dari semua bentuk sediaan
oral untuk ketepatan ukuran serta variabilitas kandungan yang paling rendah;
c. Dapat mengandung zat aktif dalam jumlah besar dengan volume yang kecil;
d. Tablet merupakan sediaan yang kering sehingga zat aktif lebih stabil;
e. Tablet sangat cocok untuk zat aktif yang sulit larut dalam air;
f. Zat aktif yang rasanya tidak enak akan berkurang rasanya dalam tablet;
g. Pemberian tanda pengenal produk pada tablet paling mudah dan murah; tidak
memerlukan langkah pekerjaan tambahan bila menggunakan permukaan
pencetak yang bermonogram atau berhiasan timbul;
h. Tablet paling mudah ditelan serta paling kecil kemungkinan tertinggal di
tenggorokan, terutama bila bersalut yang memungkinkan pecah/hancurnya
tablet tidak segera terjadi;
i. Pelepasan zat aktif dapat diatur (tablet lepas tunda, lepas lambat, lepas
terkendali);
j. Tablet dapat disalut untuk melindungi zat aktif, menutupi rasa dan bau yang
tidak enak, dan untuk terapi lokal (salut enterik);
k. Dapat diproduksi besar-besaran, sederhana, cepat, sehingga biaya produksinya
lebih rendah;
l. Pemakaian oleh penderita lebih mudah;

m. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki sifat pencampuran


kimia, mekanik, dan stabilitas mikrobiologi yang paling baik.
(The Theory & Practice of Industrial Pharmacy, Lachman Hal 294 dan
Proceeding Seminar Validasi, Hal 26)

8. Kerugian Sediaan Tablet


Di samping keuntungan di atas, sediaan tablet juga mempunya beberapa kerugian,
antara lain :
a. Ada orang tertentu yang tidak dapat menelan tablet (dalam keadaan tidak
sadar/pingsan);
b. Formulasi tablet cukup rumit, antara lain :

Beberapa zat aktif sulit dikempa menjadi kompak padat, karena sifat
amorfnya, flokulasi, atau rendahnya berat jenis;

Zat aktif yang sulit terbasahi (hidrofob), lambat melarut, dosisnya cukup
besar atau tinggi, absorbsi optimumnya tinggi melalui saluran cerna, atau
kombinasi dari sifat tersebut, akan sulit untuk diformulasi (harus
diformulasi sedemikian rupa);

Zat aktif yang rasanya pahit, tidak enak, atau bau yang tidak disenangi,
atau zat aktif yang peka terhadap oksigen, atmosfer, dan kelembaban
udara, memerlukan enkapsulasi sebelum dikempa. Dalam hal ini sediaan
kapsul menjadi lebih baik daripada tablet.
(The Theory & Practice of Industrial Pharmacy, Lachman Hal 294)

9. Permasalahan Dalam Pencetakan Tablet


Masalah-masalah yang dapat muncul selama proses pencetakan tablet secara
umum, seperti :
a. Capping : pemisahan sebagian atau keseluruhan bagian atas/bawah tablet dari
badan tablet
b. Laminasi : pemisahan tablet menjadi dua bagian atau lebih
c. Chipping : keadaan dimana bagian bawah tablet terpotong

d. Cracking : keadaan dimana tablet pecah, lebih sering di bagian atas-tengah


e. Picking : perpidahan bahan dari permukaan tablet dan menempel pada
permukaan punch
f. Sticking : keadaan dimana granul menempel pada dinding die (ada adhesi)
g. Mottling : keadaan dimana distribusi zat warna pada permukaan tablet tidak
merata

B. Komponen Pembentuk Tablet


1. Zat aktif
Secara luas obat atau bahan aktif yang diberikan secara oral dalam bentuk tablet
dikelompokkan menjadi beberapa bagian, antara lain :
a. Zat aktif tidak larut air
Zat ini cenderung digunakan untuk memberikan efek local pada saluran
pencernaan (seperti antasida dan adsorben). Zat yang tidak larut air umumnya
dipengaruhi oleh fenomena permukaan, jika bekerja dengan menggunakan zat
ini sangatlah penting memperhatikan kemampuan redispersi bahan obat dari
sediaan menghasilakn ukuran partikel yang halus dan luas permukaan yang
tinggi. Dengan demikian efek formulasi, granulasi, dan pencetakan terhadap
sifat permukaan dari bahan dan kemampuan memperbaiki sifat bahan dalam
saluran cerna dengan sifat permukaan optimum merupakan faktor kritis.

b. Zat aktif larut air


Zat ini cenderung digunakan untuk memberikan efek sistemik dengan
terdisolusi dan terabsorbsi pada usus. Dalam hal obat diharapkan dengan
memberikan

efek

sistemik,

rancangan

bentuk

sediaan

harus

cepat

terdisintegrasi dan terlarut. Kemampuan terlarutnya didaerah saluran cerna


tempat bahan tersebut diabsorbsi.

2. Eksipien (bahan pembantu)


Eksipien adalah zat yang bersifat inert secara farmakologi yang digunakan
sebagai zat pembantu dalam formulasi tablet untuk memperbaiki sifat zat aktif,
membentuk tablet dan mempermudah teknologi teknologi pembuatan tablet.
Eksipien harus memiliki criteria sebagai berikut :

Tidak toksik (memenuhi persyaratan peraturan di setiap negara)

Tersedia secara komersial dengan mutu yang dapat diterima oleh semua
Negara

Tempat produk tersebut dikembangkan

Harga relatif murah

Tidak kontraindikasi dalam suatu golongan populasi, inert secara fisiologis

Stabil secara fisika dan kimia baik tersendiri maupun dalam kombinasi
dengan zat aktif

Bebas dari kandungan bakteri pathogen.

Kompatibel dengan zat warna dan bahan lainnya dan tidak membawa
pengaruh yang buruk terhadap ketersediaan hayati dari zat aktif dalam
sediaan.

a. Bahan pengisi
Pengisi adalah zat yang ditambahkan untuk menyesuaikan bobot dan
ukuran tablet jika dosis zat aktif tidak cukup untuk membuat masa tablet,
memperbaiki daya kohesi sehingga tablet dapat dikempa dengan baik, serta
mengatasi masalah kelembapan yang mempengaruhi kestabilan zat aktif.
Jumlah bahan pengisi yang dibutuhkan bervariasi,berkisar 5 80% dari bobot
tablet (tergantung jumlah zat aktif dan bobot tablet yang dinginkan). Bila
bahan aktif berdosis kecil, sifat tablet (campuran massa yang akan ditablet)
secara keseluruhan ditentukan oleh sifat bahan pengisi.
Massa yang dibutuhkan dalam tablet adalah 0,1 0,8 gram, sehingga
memungkinkan untuk dicetak. Pada obat yang berdosis cukup tinggi bahan
pengisi tidak diperlukan. Bahan pengisi juga ditambahkan untuk memperbaiki

daya kohesi sehingga dapat dikempa langsung atau untuk memicu aliran.
Yang umum digunakan adalah pati dan laktosa.

b. Pengikat dan perekat


Pengikat atau perekat berfungsi memberi daya adhesi pada massa
serbuk pada granulasi dan kempa langsung serta untuk menambah daya
kohesi yang telah ada pada bahan pengisi. Bahan pengikat dapat ditambahkan
dalam bentuk kering dan dalam bentuk larutan (lebih efektif). Beberapa
senyawa yang dapat digunakan sebagai pengikat atau perekat antara lain :
polimer alam, contoh amilum, gom, sorbitol, tragakan, glukosa, gelatin dan
natrium alginat, polimer sintetik contohnya derivat selulosa, seperti metal
selulosa, karboksil metal selulosa (CMC), etil selulosa, polivinil pirolidon
(PVP). Salah satu bahan pengikat yang sering digunakan yaitu jenis pati
dengan konsentrasi 5 20%. (Voight, 1995 : 174). Pada granulasi basah,
bahan pengikat biasanya ditambahkan dalam bentuk larutan (dibuat solution,
muchilago, atau suspensi) namun dapat juga ditambahkan dalam bentuk
kering, setelah dicampur dengan massa yang akan digranul baru ditambahkan
pelarut.

c. Penghancur
Fungsinya untuk memudahkan pecahnya atau hancurnya tablet ketika
kontak dengan cairan pencernaan. Bahan ini dapat menarik air kedalam tablet,
mengembang dan menyebabkan tablet pecah menjadi bagian bagian. Bahan
ini sangat menentukan kelarutan obat selanjutnya sehingga dapat tercapai
bioavailabilitas yang diharapkan (lachman, 1994 : 702 )
Bahan penghancur meliputi tepung jagung dan kentang, turunan amilum
seperti amilum glikoat, senyawa selulosa, dan bahan bahan lain yang
memperbesar atau mengembang dengan adanya lembab dan mempunyai efek
memecahkan dan menghancurkan tablet setelah masuk kedalam saluran

pencernaan. Amilum digunakan untuk konsentrasi 5% umunya cocok untuk


membantu penghancuran.

d. Bahan pelincir (lubrikan)


Lubrikan murni
Lubrikan murni adalah zat yang digunakan untuk mengurangi gesekan
antar granul dengan dinding cetakan selama pengempaan pengeluaran
tablet. Lubrikan dapat bekerja dengan dua mekanisme, yaitu fluid
lubrication dan boundary lubrication. Fluid lubrication bekerja dengan
memisahkan kedua permukaan granul dan dinding. Sedangkan boundary
lubrication bekerja karena adanya penempelan dari bagian molekular yang
mempunyai rantai karbon panjang. Berdasarkan kelarutannya dalam air,
lubrikan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
- Lubrikan larut air
Lubrikan ini umumnya hanya digunakan jika tablet harus sangat larut
air (misalnya tablet effervesen) dan tergantung dari karakter disolusi
yang diinginkan. Beberapa contoh senyawa yang dapat digolongkan
sebagai lubrikan larut air antara lain : natrium benzoat, natrium asetat,
natrium klorida, natrium oleat, natrium lauril sulfat, magnesium lauril
sulfat, asam borat, Karbowax 4000, Karbowax 6000, polietilenglikol.
- Lubrikan tidak larut air
Lubrikan ini lebih efektif daripada yang larut air dan digunakan pada
konsentrasi yang lebih rrendah. Beberapa contoh senyawa yang dapat
digolongkan sebagai lubrikan tidak larut air antara lain : magnesium
stearat, kalsium stearat, natrium stearat, asam stearat, talk.
Pertimbangan pemilihan lubrikan tergantung pada cara pemakaian, tipe
tablet, sifat disintegrasi dan disolusi yang diinginkan, sifat fisika-kimia
serbuk atau granul dan biaya.
Sebagai bahan pelincir yang sangat menonjol adalah talk karena dapat
sekaligus memenuhi ketiga fungsi yaitu sebagai pelincir, anti lengket dan

pelicin. Pada umumnya talk ditambahkan sebanyak 2% ke dalam granulat


siap pakai.

e. Anti lengket (antidheren)


Antiadheren

adalah

zat

yang

digunakan

untuk

mencegah

menempelnya massa tablet pada punch dan untuk mengurangi penempelan


pada dinding cetakan. Bahan ini sangat diperlukan untuk zat-zat yang mudah
menempel, seperti vitamin E. Talk, magnesium stearat dan amilum jagung
merupakan material yang memiliki sifat antiadheren yang sangat baik.

f. Glidan
Glidan ditambahkan dalam formulais untuk menaikkan atau meningkatkan
fluiditas massa yang akan dikempa, sehingga massa tersebut dapat mengisi
die dalam jumlah yang seragam. Amilum adalah glidan yang paling populer
karena disamping dapat berfungsi sebagai glidan juga sebagai disintegran
dengan konsentrasi sampai 10%. Talk lebih baik sebagai glidan dibandingkan
amilum, tetapi dapat menurunkan disintegrasi dan disolusi tablet.

g. Pembasah (surfaktan)
Beberapa zat berkhasiat memiliki sifat hidrofob, yaitu sifat yang susah untuk
dibasahi. Zat berkhasiat yang demikian akan menimbulkan masalah dalam
waktu hancurnya, oleh karena itu diperlukan suatu zat pembasah. Zat
pembasah membantu mempercepat penetrasi cairan ke dalam tablet sehingga
dapat terjadi kontak antara bahan cairan dengan zat penghancur yang lebih
cepat.

h. Penyerapan cairan (adsorben)


Adsorben adalah zat yang digunakan untuk menyerap sejumlah besar cairan
seperti minyak, ekstrak cair, dan lelehan eutektik yang dapat terinkoporasi
dalam tablet tanpa perubahan zat tersebut menjadi basah. Beberapa contoh zat

yang dapat digolongkan menjadi adsorben antara lain : siloid, aerosol, tanah
liat, kaolin, magnesium silikat, magnesium karbonat, magnesium oksida,
amilum.

i. Zat tambahan
Adjuvan adalah zat tambahan dalam formula sediaan obat yang ditambahkan
dalam jumlah kecil untuk maksud pemberian warna, penawar bau, dan rasa.
Contohnya :

Colors dan pigment


Bahan pewarna tidak mempunyai aktifitas terapeutik, dan tidak dapat
meningkatkan bioavailabilitas atau stabilitas produk, tetapi pewarna
ditambahkan ke dalam sediaan tablet berfungsi untuk menutupi warna
obat yang kurang baik, identifikasi produk, dan untuk membuat suatu
produk lebih menarik. akan tetapi penggunaan pewarna yang tidak tepat
akan mempengaruhi mutu produk. Pewarna yang digunakan haruslah
pewarna yang diperbolehkan oleh Undang-undang untuk digunakan
sebagai pewarna untuk sediaan obat. bahan pewarna ada yang larut dalam
air dan ada yang tidak larut dalam air.
Pewarna ditambahkan dalam bentuk larutan atau suspensi dalam
granulasi basah, tergantung apakah pewarna tersebut larut atau tidak.
Penggunaan pewarna yang larut kemungkinan dapat terjadi migrasi zat
warna selama proses pengeringan yang dapat mengakibatkan tidak
meratanya warna. Penggunaan pewarna ynag tidak larut dapat mengurangi
resiko interaksi yang kemungkinan terjadi dengan zat aktif dan bahan
tambahan lain. Terhadap tablet yang telah diberi pewarna, sangat penting
untuk dilakukan pengukuran keseragaman warna pengkilapan, serta
perubahan warna karena pengaruh cahaya pada permukaan tablet.

Sweeteners dan Flavor


Penambahan pemanis dan pemberi rasa biasanya hanya untuk tablettablet kunyah, hisap, buccal, sublingual, effervesen dan tablet lain
yang dimaksudkan untuk hancur atau larut di mulut.

Tabel beberapa pemanis yang biasa digunakan


Pemanis Alami

Pemanis Sintetis atau Buatan

Mannitol

Sakarin

Lactosa

Siklamat

Sukrosa

Aspartame

Dektrosa

C. Metode Pembuatan Tablet


Sediaan tablet dapat dibuat melalui tiga macam metode, yaitu granulasi basah,
granulasi kering, dan kempa langsung. Pemilihan metode pembuatan sediaan
tablet ini biasanya disesuaikan dengan karakteristik zat aktif yang akan dibuat
tablet, apakah zat tersebut tahan terhadap panas atau lembab, kestabilannya, besar
kecilnya dosis, dan lain sebagainya.
1. Granulasi Basah, yaitu memproses campuran partikel zat aktif dan eksipien
menjadi partikel yang lebih besar dengan menambahkan cairan pengikat dalam
jumlah

yang

tepat

sehingga

terjadi

massa

lembab

yang

dapat

digranulasi.Metode ini biasanya digunakan apabila zat aktif tahan terhadap


lembab dan panas.Umumnya untuk zat aktif yang sulit dicetak langsung karena
sifat aliran dan kompresibilitasnya tidak baik. Prinsipdari metode granulasi
basah adalah membasahi masa tablet dengan larutan pengikat teretentu sampai
mendapat tingkat kebasahan tertentu pula, kemudian masa basah tersebut
digranulasi.
Metode ini membentuk granul dengan cara mengikat serbuk dengan suatu
perekat sebagai pengganti pengompakan, tehnik ini membutuhkan larutan,
suspensi atau bubur yang mengandung pengikat yang biasanya ditambahkan ke

campuran serbuk atau dapat juga bahan tersebut dimasukan kering ke dalam
campuran serbuk dan cairan dimasukan terpisah. Cairan yang ditambahkan
memiliki peranan yang cukup penting dimana jembatan cair yang terbentuk di
antara partikel dan kekuatan ikatannya akan meningkat bila jumlah cairan yang
ditambahkan meningkat, gaya tegangan permukaan dan tekanan kapiler paling
penting pada awal pembentukan granul, bila cairan sudah ditambahkan
pencampuran dilanjutkan sampai tercapai dispersi yang merata dan semua
bahan pengikat sudah bekerja, jika sudah diperoleh massa basah atau lembab
maka massa dilewatkan pada ayakan dan diberi tekanan dengan alat
penggiling atau oscillating granulator tujuannya agar terbentuk granul sehingga
luas permukaan meningkat dan proses pengeringan menjadi lebih cepat, setelah
pengeringan granul diayak kembali ukuran ayakan tergantung pada alat
penghancur yang dugunakan dan ukuran tablet yang akan dibuat.

2. Granulasi Kering disebut juga slugging, yaitu memproses partikel zat aktif dan
eksipien dengan mengempa campuran bahan kering menjadi massa padat yang
selanjutnya dipecah lagi untuk menghasilkan partikel yang berukuran lebih
besar dari serbuk semula (granul). Prinsip dari metode ini adalah membuat
granul secara mekanis, tanpa bantuan bahan pengikat dan pelarut, ikatannya
didapat melalui gaya. Teknik ini yang cukup baik, digunakan untuk zat aktif
yang memiliki dosis efektif yang terlalu tinggi untuk dikempa langsung atau
zat aktif yang sensitif terhadap pemanasan dan kelembaban.
Pada proses ini komponenkomponen tablet dikompakan dengan mesin cetak
tablet lalu ditekan ke dalam die dan dikompakan dengan punch sehingga
diperoleh massa yang disebut slug, prosesnya disebut slugging, pada proses
selanjutnya slug kemudian diayak dan diaduk untuk mendapatkan granul yang
daya mengalirnya lebih baik dari campuran awal bila slug yang didapat belum
memuaskan maka proses diatas dapat diulang. Dalam jumlah besar granulasi
kering dapat juga dilakukan pada mesin khusus yang disebut roller compactor
yang memiliki kemampuan memuat bahan sekitar 500 kg, roller compactor

memakai dua penggiling yang putarannya saling berlawanan satu dengan yang
lainnya, dan dengan bantuan tehnik hidrolik pada salah satu penggiling mesin
ini mampu menghasilkan tekanan tertentu pada bahan serbuk yang mengalir
dintara penggiling.

3. Metode Kempa Langsung, yaitu pembuatan tablet dengan mengempa langsung


campuran zat aktif dan eksipien kering.tanpa melalui perlakuan awal terlebih
dahulu. Metode ini merupakan metode yang paling mudah, praktis, dan cepat
pengerjaannya, namun hanya dapat digunakan pada kondisi zat aktif yang kecil
dosisnya, serta zat aktif tersebut tidak tahan terhadap panas dan lembab. Ada
beberapa zat berbentuk kristal seperti NaCl, NaBr dan KCl yang mungkin
langsung dikempa, tetapi sebagian besar zat aktik tidak mudah untuk langsung
dikempa, selain itu zat aktif tunggal yang langsung dikempa untuk dijadikan
tablet kebanyakan sulit untuk pecah jika terkena air (cairan tubuh). secara
umum sifat zat aktif yang cocok untuk metode kempa langsung adalah;
alirannya baik, kompresibilitasnya baik, bentuknya kristal, dan mampu
menciptakan adhesifitas dan kohesifitas dalam massa tablet. Sedangkan
keuntungan metode kempa langsung yaitu :

Lebih ekonomis karena validasi proses lebih sedikit

Lebih singkat prosesnya. Karena proses yang dilakukan lebih sedikit, maka
waktu yang diperlukan untuk menggunakan metode ini lebih singkat,
tenaga dan mesin yang dipergunakan juga lebih sedikit.

Dapat digunakan untuk zat aktif yang tidak tahan panas dan tidak tahan
lembab

Waktu hancur dan disolusinya lebih baik karena tidak melewati proses
granul, tetapi langsung menjadi partikel. tablet kempa langsung berisi
partikel halus, sehingga tidak melalui proses dari granul ke partikel halus
terlebih dahulu.
Kerugian metode kempa langsung :

Perbedaan ukuran partikel dan kerapatan bulk antara zat aktif dengan
pengisi dapat menimbulkan stratifikasi di antara granul yang selanjutnya
dapat menyebabkan kurang seragamnya kandungan zat aktif di dalam
tablet.

Zat aktif dengan dosis yang besar tidak mudah untuk dikempa langsung
karena itu biasanya digunakan 30% dari formula agar memudahkan proses
pengempaan sehingga pengisi yang dibutuhkanpun makin banyak dan
mahal. Dalam beberapa kondisi pengisi dapat berinteraksi dengan obat
seperti senyawa amin dan laktosa spray dried dan menghasilkan warna
kuning. Pada kempa langsung mungkin terjadi aliran statik yang terjadi
selama pencampuran dan pemeriksaan rutin sehingga keseragaman zat aktif
dalam granul terganggu.

Sulit dalam pemilihan eksipien karena eksipien yang digunakan harus


bersifat; mudah mengalir; kompresibilitas yang baik; kohesifitas dan
adhesifitas yang baik.

D. Evaluasi Granul dan Tablet


1. Kemampuan alir dan sudut istirahat
Sifat aliran serbuk yang baik merupakan hal penting untuk pengisian yang
seragam ke dalam lubang cetak mesin tablet dan untuk memudahkan gerakan
bahan di sekitar fasilitas produksi. Sifat aliran dipengaruhi oleh ukuran dan
bentuk partikel, partikel yang lebih besar dan bulat menunjukkan aliran yang
lebih baik. Metode untuk mengevaluasi sifat aliran granul yang sering
digunakan adalah metode corong (langsung) (Sari, 2010).
Kecepatan alir diketahui melalui metode corong. Metode ini paling sederhana
untuk menetapkan kemampuan alir granul secara langsung, yakni kecepatan
alir granul dengan bobot tertentu melalui corong diukur dalam detik. Suatu
penutup sederhana ditempatkan pada lubang keluar corong lalu diisi dengan
granul yang telah ditimbang terlebih dahulu. Ketika penutup dibuka, waktu
yang dibutuhkan granul untuk keluar dicatat. Dengan membagi massa serbuk

dengan waktu keluar tersebut, kecepatan alir diperoleh sehingga dapat


digunakan untuk perbandingan kuantitatif granul yang berbeda.
Waktu alir adalah waktu yang dibutuhkan oleh sejumlah granul untuk
mengalir dalam suatu alat. Sifat alir ini dapat digunakan untuk menilai
efektivitas bahan pelicin, mudah tidaknya granul mengalir dan sifat
permukaan granul (Voigt, 1995).
Metode sudut istirahat telah digunakan sebagai metode tidak langsung untuk
mengukur mampu alir granul karena hubungannya dengan kohesi antar
partikel. Banyak metode yang berbeda untuk menetapkan sudut istirahat dan
salah satunya yang digunakan adalah metode corong (Sari, 2010).

2. Kerapatan curah dan kerapatan mampat


Tap density atau densitas ketuk adalah densitas yang ditentukan dengan
membagi berat dengan volume setelah dilakukan pengetukan. Pada
pengetukan ini proses yang terjadi adalah pemampatan. Alat Tap density
terdiri dari tiga bagian yaitu holder, mesin pengetuk dan penghitung ketukan.
Holder digunakan untuk menyimpan tabung berukuran. Tabung berukuran ini
biasanya menggunakan gelas ukur, alat ini fungsinya untuk wadah sampel
yang diuji, mesin pengetuk berfungsi untuk mengangkat gelas ukur yang
tersimpan dalam holder kemudian membiarkan jatuh demikian seterusnya
hingga sampel terketuk-ketuk, dan penghitung ketukan akan menghitung
jumlah ketukan sesuai dengan angka yang ditentukan.

3. Uji Susut Pengeringan (LOD)


Granul dibuat dengan maksud untuk memperbaiki sifat alir massa serbuk yang
akan dibuat menjadi sediaan tablet, kapsul, puyer, ataupun suspensi kering.
Salah satu cairan pembasah yang dapat digunakan adalah air sehingga setelah
melalui proses pengeringan, kadar air granul harus dievaluasi untuk
mengetahui kadar air yang tertinggal di granul. Salah satu metode yang dapat
digunakan untuk mengukur kadar air adalah metode gravimetri dengan cara

membandingkan bobot granul setelah dipanaskan dengan bobot granul


sebelum dipanaskan. Pada saat pemanasan berlangsung, air yang masih
tertinggal dalam granul akan menguap (Lachman dkk, 1989).
Salah satu alat yang bisa digunakan untuk mengukur kadar air dengan prinsip
gravimetri adalah moisture analyzer. Dilihat dari katanya moisture analyzer
artinya penganalisa kelembaban. Jadi yang diukur oleh alat ini adalah
kandungan lembab yang terkandung dalam zat uji yang kemudian menguap
akibat panas yang dikeluarkan oleh alat ini. Temperatur moisture balance
bisa di set sesuai dengan yang diinginkan. Untuk mengukur kadar air granul,
moisture balance cukup diset pada temperatur 70oC untuk mencegah ikut
menguapnya air kristal yang terkandung dalam bahan yang digunakan dalam
pembuatan granul (Ansel, 1999).
Penentuan kadar air dapat ditentukan dengan menggunakan timbangan dengan
cara menentukan nilai bobot akhir dan bobot awal dari granul. Uji kadar air
dengan menggunakan metode LOD (Loss on Drying) yaitu suatu pernyataan
kadar kelembaban berdasarkan bobot basah.
Timbangan yang digunakan dalam melakukan uji susut pengeringan dikenal
timbangan Moisture Balance. Timbangan tersebut sangatlah unik karena bisa
mengeluarkan panas. Kegunaan timbangan ini adalah untuk mengetahui
seberapa banyak kadar air yang tersembunyi dalam setiap barang yang diuji
(Lachman dkk, 1989).

4. Uji Keseragaman bobot


Timbangan digital sebagai alat ukur untuk satuan berat. Dibandingkan dengan
neraca jaman dulu yang masih menggunakan neraca analog atau manual,
neraca digital memiliki fungsi lebih sebagai alat ukur, diantaranya neraca
digital lebih akurat, presisi, akuntable (bisa menyimpan hasil dari setiap
penimbangan). Neraca analitik digital merupakan salah satu neraca yang
memiliki tingkat ketelitian tinggi, neraca ini mampu menimbang zat atau
benda sampai batas 0,0001 g (Robbins, 2011).

Neraca atau timbangan baik yang digital ataupun manual harus diletakkan
pada bidang datar, dimana tiap sudut harus benar-benar setimbang.
Kesetimbangan ini mutlak perlu untuk mendapatkan hasil penimbangan yang
akurat, jadi kesetimbangan ini untuk menempatkan titik berat berada pada
poros timbangan bukannya pada salah satu sisi. Kesetimbangan dapat dilihat
pada indikator kesetimbangan yang terdapat pada setiap timbangan. Neraca
digital ditunjukkan dengan water pass yang berupa bulatan besar yang
didalamnya terdapat bulatan kecil (Hamdani, 2012).

5. Uji Keseragaman Ukuran


Jangka sorong adalah instrumen presisi yang dapat digunakan untuk
mengukur dimensi benda bagian dalam dan luar. Ditinjau dari cara
pembacaannya, jangka sorong dapat dibagi dua yaitu jangka sorong manual
dan digital. Penggunaan jangka sorong manual lebih sulit bila dibandingkan
dengan yang digital, karena hasil pengukuran diinterpretasi dari skala oleh
pengguna, sedangkan hasil pengukuran menggunakan yang digital dapat
dibaca langsung pada layar LCD. Versi manual memilki dua skala imperial
(skala dalam inci) dan metrik (skala dalam milimeter).
Fungsi jangka sorong antara lain mengukur panjang suatu benda dengan
ketelitian sampai 0,1 mm, rahang tetap dan rahang geser atas bisa digunakan
untuk mengukur diameter benda yang cukup kecil seperti cincin, pipa, dll, dan
tangkai ukur di bagian bawah berfungsi untuk mengukur kedalaman seperti
kedalaman tabung, lubang kecil, atau perbedaan tinggi yang kecil (Admin,
2013).
Jangka sorong dapat digunakan untuk mengukur panjang, diameter luar,
diameter dalam, dan kedalaman benda. Bagian-bagian utamanya adalah
rahang tetap yang memiliki skala utama dengan lebar skala terkecil 1 mm dan
rahang geser yang memiliki skala nonius/vernier. Lebar skala nonius masingmasing 0,9 mm. hal ini dimungkinkan karena panjang seluruh skala nonius
adalah 9 mm tetapi dibagi menjadi 10 buah skala. Jadi, selisih satu skala pada

rahang tetap dan rahang geser adalah (1-0,9)mm atau 0,1 mm (Tim Fisika,
2007).

6. Uji Waktu Hancur


Waktu hancur adalah waktu yang diperlukan tablet untuk hancur di bawah
kondisi yang ditetapkan dan lewatnya seluruh partikel melalui saringan
berukuran mesh-10. Uji ini tidak memberi jaminan bahwa partikel-partikel itu
akan melepas bahan obat dalam larutan dengan kecepatan yang seharusnya
(Lachman, dkk., 1994).
Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu hancur dari tablet adalah sifat kimia
dan fisis dari granulat, kekerasan dan porositasnya. Tablet biasanya
diformulasi dengan bahan pengembang atau bahan penghancur yang
menyebabkan tablet hancur di dalam air atau cairan lambung. Hancurnya
tablet tidak berarti sempurna larutnya bahan obat dalam tablet. Kebanyakan
bahan pelicin bersifat hidrofob, bahan pelicin yang berlebihan akan
memperlambat waktu hancur. Tablet dengan rongga-rongga yang besar akan
mudah dimasuki air sehingga hancur lebih cepat dari pada tablet yang keras
dengan rongga-rongga yang kecil (Soekemi, dkk., 1987).

7. Uji Friabilitas
Kerapuhan merupakan parameter yang digunakan untuk mengukur ketahanan
permukaan tablet terhadap gesekan yang dialaminya sewaktu pengemasan dan
pengiriman. Kerapuhan diukur dengan friabilator. Prinsipnya adalah
menetapkan bobot yang hilang dari sejumlah tablet selama diputar dalam
friabilator selama waktu tertentu. Pada proses pengukuran kerapuhan, alat
diputar dengan kecepatan 25 putaran per menit dan waktu yang digunakan
adalah 4 menit. Jadi ada 100 putaran (Andayana, 2009). Kerapuhan dapat
dievaluasi dengan menggunakan friabilator (contoh nya Rosche friabilator)
(Sulaiman, 2007).

Tablet yang akan diuji memiliki berat antara rentang 6 6,5 gram, terlebih
dahulu dibersihkan dari debunya dan ditimbang dengan seksama. Tablet
tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam friabilator, dan diputar sebanyak
100 putaran selama 4 menit, jadi kecepatan putarannya 25 putaran per menit.
Setelah selesai, keluarkan tablet dari alat, bersihkan dari debu dan timbang
dengan seksama. Kemudian dihitung persentase kehilangan bobot sebelum
dan sesudah perlakuan. Tablet dianggap baik bila kerapuhan tidak lebih dari
1% (Andayana, 2009). Uji kerapuhan berhubungan dengan kehilangan bobot
akibat abrasi yang terjadi pada permukaan tablet. Semakin besar harga
persentase kerapuhan, maka semakin besar massa tablet yang hilang.
Kerapuhan yang tinggi akan mempengaruhi konsentrasi/kadar zat aktif yang
masih terdapat pada tablet. Tablet dengan konsentrasi zat aktif yang kecil
(tablet dengan bobot kecil), adanya kehilangan massa akibat rapuh akan
mempengaruhi kadar zat aktif yang masih terdapat dalam tablet (Sulaiman,
2007).
Hal yang harus diperhatikan dalam pengujian friabilitas adalah jika dalam
proses pengukuran friabilitas ada tablet yang pecah atau terbelah, maka tablet
tersebut tidak diikutsertakan dalam perhitungan. Jika hasil pengukuran
meragukan (bobot yang hilang terlalu besar), maka pengujian harus diulang
sebanyak dua kali. Selanjutnya tentukan nilai rata-rata dari ketiga uji yang
telah dilakukan (Andayana, 2009).

8. Uji Kekerasan
Uji kekerasan tablet dapat didefinisikan sebagai uji kekuatan tablet yang
mencerminkan kekuatan tablet secara keseluruhan, yang diukur dengan
memberi tekanan terhadap diameter tablet. Tablet harus mempunyai kekuatan
dan kekerasan tertentu serta dapat bertahan dari berbagai goncangan mekanik
pada saat pembuatan, pengepakan dan transportasi. Alat yang biasa digunakan
adalah Hardness Tester. Kekerasan adalah parameter yang menggambarkan
ketahanan tablet dalam melawan tekanan mekanik seperti goncangan, kikisan

dan terjadi keretakan tablet selama pembungkusan, pengangkutan dan


pemakaian. Kekerasan ini dipakai sebagai ukuran dari tekanan pengempaan
(Parrott, 1971).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kekerasan tablet adalah tekanan kompresi
dan sifat bahan yang dikempa. Kekerasan ini dipakai sebagai ukuran dari
tekanan pengempaan. Semakin besar tekanan yang diberikan saat penabletan
akan meningkatkan kekerasan tablet. Pada umumnya tablet yang keras
memiliki waktu hancur yang lama (lebih sukar hancur) dan disolusi yang
rendah, namun tidak selamanya demikian. Pada umumnya tablet yang baik
dinyatakan mempunyai kekerasan antara 4-10 kg. Namun hal ini tidak mutlak,
artinya kekerasan tablet dapat lebih kecil dari 4 atau lebih tinggi dari 8 kg.
Kekerasan tablet kurang dari 4 kg masih dapat diterima dengan syarat
kerapuhannya tidak melebihi batas yang diterapkan. Tetapi biasanya tablet
yang tidak keras akan memiliki kerapuhan yang tinggi dan lebih sulit
penanganannya pada saat pengemasan, dan transportasi. Kekerasan tablet
lebih besar dari 10 kg masih dapat diterima, jika masih memenuhi persyaratan
waktu hancur/disintegrasi dan disolusi yang dipersyaratkan (Sulaiman, 2007).
Prinsip pengukurannya adalah memberikan tekanan pada tablet sampai tablet
retak atau pecah.

E. VITAMIN C
Vitamin C adalah Kristal putih yang mudah larut dalam air. Vitamin C yang
disebut juga sebagai asam askorbat merupakan vitamin yang larut dalam air.
Dalam keadaan kering vitamin C cukup stabil, tetapi dalam keadaan larut, vitamin
C mudah rusak karena bersentuhan dengan udara (oksidasi) terutama apabila
terkena panas. Vitamin C tidak stabil dalam larutan alkali, tetapi cukup stabil
dalam larutan asam. Di dalam tubuh, vitamin C terdapat di dalam darah
(khususnya leukosit), korteks anak ginjal, kulit, dan tulang. Vitamin C akan
diserap di saluran cerna melalui transpor aktif).

Vitamin C diperlukan untuk hidroksilasi prolin dan lisin menjadi


hidroksiprolin yang merupakan bahan penting dalam pembentukan kolagen.
Kolagen merupakan senyawa protein yang mempengaruhi integritas struktur sel
di semua jaringan ikat, seperti pada tulang rawan, matriks tulang, gigi, membrane
kapiler, kulit dan tendon. Dengan demikian maka fungsi vitamin C dalam
kehidupan sehari-hari berperan dalam penyembuhan luka, patah tulang,
perdarahan di bawah kulit dan perdarahan gusi. Asam askorbat penting untuk
mengaktifkan enzim prolil hidroksilase, yang menunjang tahap hidroksilasi dalam
pembentukan hidroksipolin, suatu unsure integral kolagen. Tanpa asam askorbat,
maka serabut kolagen yang terbentuk di semua jaringan tubuh menjadi cacat dan
lemah. Oleh sebab itu, vitamin ini penting untuk pertumbuhan dan kekurangan
serabut di jaringan subkutan, kartilago, tulang, dan gigi.
Selain itu vitamin c diperlukan untuk absorbsi dan metabolisme besi, vitamin
C mereduksi besi menjadi feri dan menjadi fero dalam usus halus sehingga mudah
untuk diabsorbsi. Vitamin C menghambat pembentukan hemosiderin yang sulit
dibebaskan oleh besi apabila diperlukan. Absorbsi besi dalam bentuk nonhem
meningkat empat kali lipat apabila terdapat vitamin C. Fungsi yang ketiga adalah
mencegah infeksi, Vitamin C berperan dalam meningkatkan daya tahan tubuh
terhadap infeksi. Pauling (1970) pernah mendapat hadiah nobel dengan bukunya
Vitamin C and the common cold, di mana pauling mengemukakan bahwa dosis
tinggi vitamin C dapat mencegah dan menyembuhkan serangan flu (Pauling,
1971).
Penelitian menunjukkan bahwa vitamin C memegang peranan penting dalam
mencegah terjadinya aterosklerosis. Vitamin C mempunyai hubungan dengan
metabolisme kolesterol. Kekurangan vitamin C menyebabkan peningkatan
sintesis kolesterol. Studi yang dilakukan WHO (1976) meyimpulkan bahwa
progresi pengapuran koroner bertambah sebesar 3% per tahun sejak usia
seseorang melewati 20 tahun. Kenyataan ini membuktikan bahwa progresivitas
pengapuran pembuluh koroner sesungguhnya memang menggulir secara
tersembunyi dan menimbulkan bahaya yang bersifat laten. Penelitian klinis

menunjukkan bahwa vitamin C menurunkan kolesterol dan trigliserida pada


orang-orang yang mempunyai kadar kolesterol yang tinggi, tetapi tidak pada
orang-orang yang mempunyai kadar kolesterol yang normal. Ini membuktikan
bahwa vitamin C berperan sebagai homeostatis untuk mencapai. Konsumsi
vitamin C 1g per hari setelah tiga bulan akan menurinkan kolesterol 10% .

F. Microcrystalline cellulose (MCC) atau avicel

Bentuk 103 memiliki keunggulan dibandingkan dengan 101, 102 karena


volume spesifiknya kecil, aliran lebih baik dan waktu hancur lebih singkat.

Insoluble, non-reaktif, aliran kurang baik, kapasitas pegang 50%.

Menghasilkan tablet yang keras dengan tekanan kecil (kompresibilitas baik)


dan friabilitas tablet rendah, waktu stabilitas panjang.

Menghasilkan pembasahan yang cepat dan rata sehingga mendistribusikan


cairan penggranul ke seluruh massa serbuk; menghasilkan distribusi warna
dan obat yang merata.

Bertindak sebagai pembantu mengikat, menghasilkan granul yang keras


dengan sedikit fines.

Bisa bersifat pengikat kering, disintegran, lubrikan dan glidan.

Penggunaannya membutuhkan lubrikan; penggunaannya dapat dikombinasi


dengan laktosa, manitol, starch, kalsium sulfat.

Membantu mengatasi zat-zat yang jika overwetting (terlalu basah) menjadi


seperti clay yang sukar digranulasi dan ketika kering granulnya menjadi
keras dan resisten terhadap disintegrasi. Contoh: kaolin, kalsium karbonat.

Avicel dalam GB memperbaiki ikatan pada pengempaan, mengurangi capping


dan friabilitas tablet.

Avicel membantu obat larut dengan air agar homogen, mencegah migrasi
pewarna larut air dan membantu agar evaporasi cepat dan seragam.

Untuk obat dengan dosis kecil, Avicel digunakan sebagai pengisi dan
pengikat tambahan.

60% avicel PH 101 dan 40% amilum sebagai pasta 10% membuat massa
lembab mudah digranulasi, membentuk granul yang kuat pada pengeringan
dengan sedikit fine daripada pasta yang hanya terbuat dari amilum.

Bentuk PH 101: serbuk, PH 102: granul, PH 103: serbuk

Sebagai disintegran :

Merupakan disintegran yang sangat baik terutama pada konsentrasi 10%


atau lebih tinggi.

Pada GB Avicel tidak bersifat disintegran.

Perhatian: pada konsentrasi tinggi, Avicel dapat menyebabkan tablet


lengket pada lidah saat akan digunakan.

G. Microcrystalline starch (MCS) atau amilum


Amilum adalah karbohidrat kompleks yang tidak larut dalam air, berwujud
bubuk putih, tawar dan tidak berbau. Amilum sering disebut juga dengan sebutan
pati. Pati merupakan bahan utama yang dihasilkan oleh tumbuhan untuk
menyimpan kelebihan glukosa (sebagai produk fotosintesis) dalam jangka
panjang. Hewan dan manusia juga menjadikan pati sebagai sumber energi yang
penting.
Amilum

mempunyai

Rumus

Molekul

(C6H10O5)n,

Densitas

1.5

g/cm3.Dalam air dingin amilum tidak akan larut tetapi apabila suspensi dalam air
dipanaskan akan terjadi suatu larutan koloid yang kental, memberikan warna ungu
pekat pada tes iodin dan dapat dihidrolisis dengan menggunakan asam sehingga
menghasilkan glukosa.
Pati tersusun dari dua macam karbohidrat, amilosa dan amilopektin, dalam
komposisi yang berbeda-beda. Amilosa memberikan sifat keras (pera) sedangkan
amilopektin menyebabkan sifat lengket. Amilosa memberikan warna ungu pekat
pada tes iodin sedangkan amilopektin tidak bereaksi. Penjelasan untuk gejala ini
belum pernah bisa tuntas dijelaskan.
Pada bidang farmasi, amilum terdiri dari granul-granul yang diisolasi dari
Zea mays Linne (Graminae), Triticum aesticum Linne (Graminae), dan Solanum

tuberosum Linne (Solanaceae). Granul amilum singkong berbentu polygonal,


membulat atau sferoidal dam mempunyai garis tengah 35 mm
Amilum gandum dan kentang mempunyai komposisi yang kurang seragam,
masing-masing mempunyai 2 tipe granul yang berbeda. .
Amilum digunakan sebagai bahan penyusun dalam serbuk awur dan sebagai
bahan pembantu dalam pembuatan sediaan farmasi yang meliputi bahan pengisi
tablet, bahan pengikat, dan bahan penghancur.
Sementara suspensi amilum dapat diberikan secara oral sebagai antidotum
terhadap keracunan iodium dam amilum gliserin biasa digunakan sebagai emolien
dan sebagai basis untuk supositoria
Sebagai amilum normal, penggunaanya terbatas dalam industri farmasi. Hal
ini disebabkan karakteristiknya yang tidak mendukung seperti daya alir yang
kurang baik, tidak mempunyai sifat pengikat sehingga hanya digunakan sebagai
pengisi tablet bagi bahan obat yang mempunyai daya alir baik atau sebagai
musilago, bahan pengikat dalam pembuatan tablet cara granulasi basah.
Amilum hidroksi-etil adalah bahan yang semisintetik yang digunakan
sebagai pengencer plasma (dalam larutan 6%). Ini merupakan pengibatan
tasmbahan untuk kejutan yang disebabkan oleh pendarahan, luka terbakar,
pembedahan, sepsis, dan trauma lain. Sediaan amilum yang terdapat dalam
pasaran adalah Volex
Fungsi amilum dalam dunia farmasi tergolong banyak dan penting. Bahkan
sudah

ada

sediaan

yang

dipasarkan.

Sebaiknya

dapat

dimaksimalkan

penggunaannya dan dilestarikan pula tanaman-tanaman yang mengandung


amilum untuk kelancaran dalam bidang farmasi.

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Alat dan bahan
Bahan yang digunakan adalah
1. asam stearat
2. talk
3. etanol
4. asam askorbat
5. xylene (BDH Chemicals Ltd Poole, Inggris)
6. natrium hidroksida (Avondale Laboratories Ltd Banbury, Inggris)
7. asam klorida
8. enzim -amilase (Sigma-Aldrich laborchemikalien GmbH Jerman)
9. mikrokristalin ph selulosa 101 (ATOZ Farmasi Ltd, Ambaltur, India)
10. Pati singkong diekstrak di laboratorium Proses dari Departemen Farmasi dan
Farmasi Mikrobiologi, Fakultas Farmasi Ilmu, Ahmadu Bello University,
Zaria.

Alat yang digunakan adalah :


1. Water bath (Digital thermostatic water bath Mcdonald Scientific International,
Lagos, Nigeria)
2. Oven (Gallenkamp Oven BS Size 3, England)
3. Mesin kempa tablet single punch (Type EKO, Erweka Apparatebau - G.m.b.H
Heusenstamm, West Germany)
4. Mosanto hardness tester
5. Timbangan elektronik (Mettler Analytical Balance, Philip Harris Ltd, Inggris)
6. Mesin uji disintegrasi Erweka (Type ZT3, Erweka - Apparatebau - G.m.b.H
Heusenstamm, West Germany)
7. Alat disolusi Erweka

8. Friabilator Erweka
9. Spektrofotometer Uv-Vis (Helios Zeta UV - VIS Spectrophotometer, Thermo
Fischer Scientific Inc, Cambridge, UK)

B. Ekstraksi dan modifikasi pati


Pati diekstraksi dari umbi singkong (Manihot esculenta Crantz) yang baru
dipanen menggunakan prosedur standar yang diterdapat dalam literature dengan
modifikasi menggunakan Metode Buwalda dan Arends-Scholte [3] untuk
mempersiapkan pati mikrokristalin.
Bubur singkong yang mengandung pati 40% b / b disiapkan dalam gelas
kimia. Gelas diletakkan diatas water bath (Digital thermostatic water bath
Mcdonald Scientific International, Lagos, Nigeria) pada suhu dibawah 56 C.
Kemudian pH dibuat 6 dengan cara menambahkan campuran 0,1 N HCl dan 0,2%
v / g -amilase (BAN 240L) ke dalam bubur singkong dan diaduk terus menerus
selama 5 jam. Setelah 5 jam pH akan menurun sampai 2,5 kemudian dinetralisis
dengan penambahan 0,1 N NaOH yang dapat menaikkan pH sampai 7. Campuran
tersebut dibiarkan mengendap dan lakukan dekantasi untuk menhilangkan
supernatan. Endapan kemudian dicuci dengan aquadest beberapa kali sebelum
ditambahkan 100 ml etanol (95% v / v) untuk memperoleh mikrokristalin pati
(MCS).

C. Penentuan sifat serbuk


Kadar air ditentukan dengan menimbang lima (5) gram serbuk dan dikeringkan
pada 105 C dalam oven (Gallenkamp Oven BS Size 3, England) hingga
diperoleh bobot konstan. Persentase (%) bobot yang hilang dihitung sebagai kadar
air.

Sudut istirahat ditentukan dengan menggunakan metode yang dijelaskan oleh


Alebiowu [4]. Sebanyak dua puluh (20) gram serbuk ditempatkan dalam alat yang
berbentuk tabung silinder dengan cara mengalirkan sejumlah serbuk melalui

corong pada ketinggian tertentu, kemudian sudut yang dibentuk oleh permukaan
serbuk dengan bidang alas atau dasar diukur dengan alat pengukur serbuk atau
dapat dihitung melalui rumus :

Hitung dan catat rata-rata dari tiga pengukuran.

Kompresibilitas

partikel

ditentukan

menggunakan

metode

pycnometric

perpindahan cair dengan xylene sebagai fluida perpindahan [5]. Kompresibilitas


dihitung dengan cara mengetuk sejumlah serbuk didalam gelas ukuran silinder
[6]. Pengukuran kompresibilitas dapat dilakukan dengan membandingkan selisih
tap density dan Bulk density dengan tap density, seperti pada persamaan :

D. ilusi Kapasitas
Perbandingan yang disiapkan untuk campuran obat dan zat tambahan pengisipengikat adalah 10:90, 20:80, 30:70, 40:60, 50:50, 60:40, 70:30, 80:20, dan
90:10. Kemudian dikempa pada berbagai tingkat tekanan menggunakan mesin
cetak tablet single punch (Type EKO, Erweka Apparatebau - G.m.b.H
Heusenstamm, West German). Lalu catat dan tentukan hasil perbandingan yang
terbaik.

E. Formulasi Tablet
Formulasi tablet asam askorbat terdapat pada Tabel 1. Tablet dibuat dengan
meode kempa langsung. Asam askorbat dan MCC/MCS dicampur terlebih dahulu
selama 5 menit menggunakan mortir dan stamfer sampai homogen. Setelah
homogen tambahkan asam stearat dan talk selama 5 menit. Kempa csmpuran
tablet menggunakan mesin tablet single punch (Type EKO, Erweka - Apparatebau
- G.m.b.H Heusenstamm, West Jerman) yang dilengkapi dengan punch berukuran

12mm pada berbagai tekanan. Tablet yang telah dikempa kemudian disimpan
pada silica gel selama 24 jam agar lebih elastis, stabil dan keras serta mencegah
penurunan nilai yield. Bobot tablet yang diinginkan adalah 500mg.

F. Evaluasi tablet
Timbang bobot masing-masing 20 tablet timbangan elektronik (Mettler Analytical
Balance, Philip Harris Ltd, Inggris) dan hitung rata-rata bobotnya.
Mengukur kekuatan tablet dilakukan dengan menghancurkan 10 tablet untuk tiap
batch menggunakan Mosanto hardness tester. Kekuatan dihitung dengan
menggunakan persamaan di bawah ini:

Keterangan : Ts adalah kekuatan tarik


Cs adalah kekuatan menghancurkan
D dan t adalah diameter dan tebal tablet

kerapuhan ditentukan menggunakan friabilator Erweka. Sebanyak 10 tablet per


batch ditimbang dan dibiarkan jatuh dalam drum friabilator yang diputar pada
kecepatan 25rpm selama 4 menit. Kemudian bersihkan tablet dan timbang
kembali. Hilangnya bobot dinyatakan dalam persentase dari berat asli sepuluh
tablet yangdihitung sebagai nilai kerapuhan tablet.

Uji waktu hancur atau uji disintegrasi ditentukan menggunakan 6 buah tablet per
batch dalam air suling pada suhu 37 0,5 C menggunakan mesin uji disintegrasi

Erweka (Type ZT3, Erweka - Apparatebau - G.m.b.H Heusenstamm, West


Germany). Hitung waktu hancur tablet.

Laju disolusi tablet dari setiap batch ditentukan dengan menggunakan alat
disolusi Erweka (medium disolusi sebanyak 1000 ml HCl 0.01N, pada suhu 37
0,5 C). Kecepatan dari keranjang yang berisi sampel adalah 100 rpm. 10 ml
sampel dipipet pada 5 menit dengan interval waktu selama 30 menit. Setiap
sampel dipipet volume media disolusi diganti dengan volume yang setara dan
dipertahankan pada suhu yang sama. Dibuat pengenceran dengan 1:9 medium
disolusi untuk tiap sampel dan kemudian sampel dibaca pada absorbansi 244 nm
[14] dengan menggunakan Spektrofotometer Uv-Vis (Helios Zeta UV - VIS
Spectrophotometer, Thermo Fischer Scientific Inc, Cambridge, UK). Buat kurva
antara kadar obat terhadap waktu.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Sifat serbuk dari MCS dan MCC yang telah diperoleh disajikan pada Tabel 2.
Sudut istirahat memberikan informasi mengenai besarnya kekompakan serbuk [10].
Serbuk kohesif memiliki sudut istirahat antara 40 dan 60 ketika diukur dengan salah
satu metode standar [11].
Nilai sudut istirahat yang diperoleh untuk kedua bahan lebih besar dari 40 .
Ini berarti bahwa kedua bahan memiliki sifat aliran yang buruk dan oleh karena itu
memerlukan talc sebagai glidant untuk meningkatkan aliran serbuk selama
pengempaan tablet.
Terdapat perbedaan yang signifikan terhadap nilai bulk dan tap bahan. Nilai
untuk MCS lebih tinggi dibandingkan dengan MCC, hal ini menunjukkan bahwa
MCS memiliki kekompakkan yang lebih baik dibandingkan dengan MCC. Hal ini
kemungkinan akan mempengaruhi tingkat konsolidasi formulasi yang mengandung
bahan sebagai pengisi-pengikat selama kompresi. Kepadatan partikel untuk kedua
bahan sebanding meskipun MCC sedikit lebih berat. Porositas serbuk memberikan
indikasi informasi kemudahan serbuk untuk kompak jauh lebih rendah MCS (56%)
dibandingkan dengan MCC (74%). Indeks Carr dan rasio Hausner serta sudut
istirahat digunakan untuk memprediksi sifat aliran serbuk [12]. Nilai-nilai yang tinggi
menunjukkan aliran bahan yang buruk. MCS memiliki nilai kelembaban yang tinggi,
hal ini berarti MCS cenderung higroskopis dan kemungkinan akan mempengaruhi
stabilitas tablet selama penyimpanan dibandingkan dengan MCC yang memiliki
kelembaban lebih rendah (10%). Terdapat sedikit perbedaan dalam kekuatan
pengembang antara MCS dan MCC sedangkan nilai kapasitas hidrasi untuk kedua
bahan sebanding. Variasi dalam pengembang dan kapasitas hidrasi pengisi-pengikat
ini selalu akan mempengaruhi laju disintegrasi tablet yang diformulasikan.

Hasil untuk perbandingan formulasi terdapat pada Tabel 3. Ilusi kapasitas atau
DC sementara masih memperoleh tablet dengan kualitas yang dapat diterima [2].
Nilai kompaktibilitas yang tinggi ditunjukkan dengan MCC dibandingkan dengan
MCS untuk proporsi campuran yang sama. Ini menunjukkan bahwa MCC memiliki
pengenceran kapasitas tertinggi yang dapat dikaitkan dengan kemampuannya untuk
berubah bentuk secara plastis pada tekanan rendah dan yang struktur permukaan yang
berpori memungkinkan untuk menggabungkan proporsi obat kurang kompresibel dan
masih mempertahankan kompresibilitasnya [13].

Hasil evaluasi dari sifat tablet terdapat pada Tabel 4. Kedua batch melewati
syarat pengujian bobot yaitu tidak melebihi batas 5% (475-525mg) [14]. Nilai
disintegrasi

batch 2 yang mengandung MCC sebagai pengisi-pengikat secara

signifikan lebih tinggi daripada batch 1 yang mengandung MCS.

MCC merupakan polimer turunan selulosa dengan rantai lurus. Tidak seperti amilum,
strukturnya tidak melingkardan molekulnya memiliki konformasi seperti tangkai dan
karena struktur mikrofibrilar dari MCC gugus hidroksil ganda pada residu glukosa
memiliki ikatan hydrogen satu sama lain sehingga membuat ikatan rantainya kuat dan
akhirnya menghasilkan sifat daya rentang yang tinggi. Nilai friabilitas juga relative
rendah untuk tablet batch 2 dibandingkan dengan batch 1. Hal ini juga bisa dijelaskan
dengan melihat kekerasan tablet bath 2 [2].

Waktu hancur tablet bacth 1 dalam tabel hancur setelah 15 menit jauh lebih cepat
daripada tablet batch 2 yang memerlukan waktu lebih dari 1 jam untuk hancur. Waktu

disintegrasi menunjukan waktu disolusi. Pelepasan obat jauh lebih cepat pada tablet
yang mengandung MCS dibandingkan tablet mengandung MCC. Pelepasan obat
mencapai 100% setelah 30 menit pada tablet yang mengandung MCS, sedangkan
MCC hanya mencapai 27%. Data pelepasan obat terdapat pada gambar 1. Parameter
hasil evaluasi tablet ditampilkan pada table 4.

BAB V
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa modifikasi asli amilum dengan
hidrolisis enzimatik telah mampu memberikan beberapa fitur yang diperlukan dalam
proses kempa langsung. Oleh karena itu, amilum dapat digunakan sebagai eksipien
dalam formulasi tablet obat yang sensitif terdapat panas dan lembab dengan metode
kempa langsung.

DAFTAR PUSTAKA
Andayana, N. 2009. Teori Sediaan Tablet. Tersedia di :http://www. Pembuat
_tablet.html. Diakses tanggal 30 Agustus 2013
Ansel, H.C., et.al. 1999. Pharmaceutical Dosage Form and Drug Delivery System.
7th edition.Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia. 96, 175-178
Chaerunissa, A.Y., dkk. 2009. Farmasetika Dasar. Bandung: Widya Padjadjaran
Departemen

Kesehatan

Republik

Indonesia,1979.Farmakope

Indonesia

Ed.

III.Depkes RI : Jakarta
Departemen Kesehatan Republik Indonesia,1995.Farmakope Indonesia Ed IV.
Depkes RI : Jakarta
Lachman L,1986. Teori dan Praktek Farmasi Industri Ed 2.Gadjah Mada University
: Yogyakarta
Parrot, E. L. 1971.Pharmaceutical Technology Fundamental pharmaceuticsThird
Edition.USA: Burges Publishing Company
Syamsuni, H. 2006. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Jakarta: EGC
Tim Fisika. 2007. Fisika. Jakarta: Grasindo
Voigt,Rudolf.1995.Buku Pelajaran Teknologi Farmasi Industri.UI Press : Jakarta
Wade,A & Weller,P.J.1995. Handbook of Pharmacetuical Excipient. Pharmaceutical
Press : London