Anda di halaman 1dari 7

0

Analisis Arah Gaya dan Pembentuk Lipatan di Kali Dalog, Desa Banyumeneng,
Kecamatan Mranggen, Semarang
Laras Cahyani Putri
21100113120050
Teknik Geologi Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Abstract
Banyumeneng is located in Mranggen, Demak Regency, Banyuemeng river has region that composed of
sediment rock. Carbonate elements dominated this region so this region composed of elements like
limestone, calcite, and sedimentary carbonate. So theres assumption that this region formed because of
transport seabed, Banyumeneng river is an area that outcrops dominated by oblique bedding, bedding
which of these oblique folds indications which have had pergeserah, in reference (regional geology) This
area has experienced a shift from the north-south direction, the purpose of making this paper is to
analyze the similarity of data field with existing data in the field, by using field and also stereonet
analysis and literature, the collection of field data generated data on the right wing N 2380 E / 640, N
2440 E / 450, N 2340 E / 370, N 2450 E / 470 , N 2450 E / 500, with the left wing of data: N 1390 E /
300, N 940 E / 660, N 930 E / 450, N 920 E / 470, N 870 E / 320, after analysis using the stereonet help
generate 1 and 2, has same direction that is north-south, so it can be concluded that there are
similarities between the direction of the field data with the data on the regional geology.
Keywords : Right Limb, Left Limb, stereonet analysis, 1, 2, Mranggen, JawaTengah
Sari
Sungai Banyumeneng berada di daerah Mranggen, Kabupaten Demak, Sungai Banyumeneng
memiliki daerah yang tersusun atas batuan sedimen. Unsur unsur karbonat mendominasi daerah ini
sehingga litologi daerah ini tersusun atas unsur unsur tersebut seperti batu gamping, kalsit, dan batuan
sedimen karbonat. Sehingga dapat diduga bahwa daerah in merupakan hasil dari pengangkutan
permukaan dasar laut, Daerah banyumeneng merupakan daerah yang singkapannya didominasi oleh
perlapisan miring, dimana dari perlapisan miring ini ditemukan indikasi lipatan yang sudah mengalami
pergeserah, pada referensi (geologi regional) daerah ini telah mengalami pergeseran dari arah utaraselatan, tujuan pembuatan paper ini adalah untuk menganalisa kesamaan data dilapangan dengan data
yang ada dilapangan, dengan menggunakan metode lapangan dan juga analisa stereonet serta literature,
pada pengambilan data lapangan dihasilkan data pada sayap kanan N 238 0 E/ 640, N 2440 E/ 450, N 2340
E/ 370, N 2450 E/ 470, N 2450 E/ 500, dengan data sayap kiri : N 1390 E/ 300, N 940 E/ 660, N 930 E/ 450, N
920 E/ 470, N 870 E/ 320, setelah dilakukan analisa menggunakan bantuan stereonet yang menghasilkan
1 dan 2 bearah utara-selatan, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada kesamaan arah pergerakan
antara data dilapangan dengan data pada geologi regional.
Keywords : Sayap Kanan, sayap kiri, analisa stereonet, 1, 2, Mranggen, JawaTengah
Pendahuluan
Lipatan merupakan hasil perubahan
bentuk atau volume suatu bahan yang berupa
lengkungan dengan unsur garis dan bidang
didalamnya. Geometri dari lipatan berkaitan
dengan aspek perubahan bentuk (distorsi) dan

perputaran (rotasi). Lipatan merupakan gejala


penting yang mencerminkan sifat dari deformasi.
Deformasi merupakan perubahan batuan yang
diakibatkan karena adanya dinamika bumi pada
skala kerak bumi, terutama pada zona kovergen
dengan konsep tektonik lempeng yang
membetuk awalnya berupa deformasi ductile dan
akan menerus membentuk deformasi getas.

Berdasarkan referensi daerah Semarang


termasuk kedalan Zona Kendeng. Dimana pada
deformasi pertama yang terdapat di Zona
Kendeng terjadi pada akhir Pliosen (Plio
Plistosen), deformasi sendiri merupakan
manifestasi dari zona konvergen pada konsep
tektonik lempeng yang diakibatkan oleh gaya
kompresi berarah relatif utara selatan dengan
tipe formasi berupa ductile yang pada fase
terakhirnya berubah menjadi deformasi brittle
berupa pergeseran blok blok dasar cekungan
Zona Kendeng.
Intensitas gaya kompresi semakin besar
ke arah bagian barat Zona Kendeng yang
menyebabkan banyak dijumpai lipatan dan sesar
naik dimana banyak zona sesar naik juga
merupakan kontak antara formasi atau anggota
formasi. Deformasi PlioPlistosen dapat dibagi
menjadi tiga fase atau stadia yaitu: fase pertama
berupa
perlipatan
yang
mengakibatkan
terbentuknya Geantiklin Kendeng yang memiliki
arah umum barat timur dan menunjam di
bagian Kendeng Timur, fase kedua berupa
pensesaran yang dapat dibagi menjadi dua, yaitu
pensesaran akibat perlipatan dan pensesaran
akibat telah berubahnya deformasi ductile
menjadi deformasi brittle karena batuan telah
melampaui batas kedalaman plastisnya. Kedua
sesar tersebut secara umum merupakan sesar
naik bahkan ada yang merupakan sesar sungkup.
Fase ketiga berupa pergeseran blok blok dasar
cekungan Zona Kendeng yang mengakibatkan
terjadinya sesar sesar geser berarah relatif utara
selatan.
Geologi Regional
Sungai Banyumeneng memiliki lokasi di
desa Banyumeneng, Kecamatan Mranggen
Kabupaten Demak. Kabupaten Demak terletak di
dataran rendah dilintasi beberapa sungai besar
yaitu Sungai Sayung, Tuntang, Serang dan
Buyaran.
Berdasarkan morfologi tektonik (litologi
dan pola struktur), maka wilayah Jawa bagian
timur (meliputi Provinsi Jawa Tengah dan Jawa
Timur) dapat dibagi mejadi beberapa zona
fisografis yakni : Zona Pegunungan Selatan,
Zona Solo atau Depresi Solo, Zona Kendeng,
Depresi Randublatung, dan Zona Rembang.

Zona Kendeng meliputi deretan pegunungan


dengan arah memanjang barat-timur yang
terletak langsung di sebelah utara sub zona
Ngawi. Pegunungan ini tersusun oleh batuan
sedimen laut dalam yang telah mengalami
deformasi secara intensif membentuk suatu
antiklinorium. Pegunungan ini mempunyai
panjang 250 km dan lebar maksimum 40 km (de
Genevraye & Samuel, 1972) membentang dari
gunungapi Ungaran di bagian barat ke timur
melalui Ngawi hingga daerah Mojokerto. Di
bawah permukaan, kelanjutan zona ini masih
dapat diikuti hingga di bawah selatan Madura.
Ciri morfologi Zona Kendeng berupa
jajaran perbukitan rendah dengan morfologi
bergelombang, dengan ketinggian berkisar antara
50 hingga 200 meter. Jajaran yang berarah barattimur ini mencerminkan adanya perlipatan dan
sesar naik yang berarah barat-timur pula.
Intensitas perlipatan dan anjakan yang
mengikutinya mempunyai intensitas yang sangat
besar di bagian barat dan berangsur melemah di
bagian timur. Akibat adanya anjakan tersebut,
batas dari satuan batuan yang bersebelahan
sering merupakan batas sesar. Lipatan dan
anjakan yang disebabkan oleh gaya kompresi
juga berakibat terbentuknya rekahan, sesar dan
zona lemah yang lain pada arah tenggara-barat
laut, barat daya-timur laut dan utara-selatan.
Proses eksogenik yang berupa pelapukan
dan erosi pada daerah ini berjalan sangat intensif,
selain karena iklim tropis juga karena sebagian
besar litologi penyusun Mandala Kendeng adalah
batulempung-napal-batupasir yang mempunyai
kompaksitas rendah, misalnya pada formasi
Pelang, Formasi Kerek dan Napal Kalibeng yang
total ketebalan ketiganya mencapai lebih dari
2000 meter.
Karena proses tektonik yang terus
berjalan mulai dari zaman Tersier hingga
sekarang, banyak dijumpai adanya teras-teras
sungai yang menunjukkan adanya perubahan
base of sedimentation berupa pengangkatan pada
Mandala Kendeng tersebut. Sungai utama yang
mengalir di atas Mandala Kendeng tersebut
adalah Bengawan Solo yang mengalir mulai dari
utara Sragen ke timur hingga Ngawi, ke utara
menuju Cepu dan membelok ke arah timur
hingga bermuara di Ujung Pangkah, utara
Gresik. Sungai lain adalah Sungai Lusi yang

mengalir ke arah barat, dimulai dari Blora,


Purwodadi dan terus ke barat hingga bermuara di
pantai barat Demak-Jepara.
Metodologi
Pengambilan data yang digunakan dalam
pembuatan paper ini yaitu dengan melakukan
studi pustaka dan pengambilan data sekunder
sebelum kelapangan seperti peta, geologi
regional daerah tersebut, dan persiapan untuk ke
lapangan. Lalu dilakukan pengambilan data di
lapangan tepatnya pada Sungai Banyumeneng.
Kemudian data tersebut diolah dan didapatkan
sebuah kesimpulan. Untuk menguatkan data
tersebut maka dilakukan studi pustaka dengan
mencari referensi dibuku, artikel maupun
internet.
Pembahasan
Lipatan merupakan hasil perubahan
bentuk atau volume suatu bahan yang berupa
lengkungan dengan unsur garis dan bidang
didalamnya. Geometri dari lipatan berkaitan
dengan aspek perubahan bentuk (distorsi) dan
perputaran (rotasi). Lipatan merupakan gejala
penting yang mencerminkan sifat dari deformasi.
Deformasi merupakan perubahan batuan yang
diakibatkan karena adanya dinamika bumi pada
skala kerak bumi, terutama pada zona kovergen
dengan konsep tektonik lempeng yang
membetuk awalnya berupa deformasi ductile dan
akan menerus membentuk deformasi getas.
Pada acara lapangan geologi struktur
yang dilakukan pada Kamis, 23 November 2014
di daerah Desa Banyumeneng kecamatan Demak
tepatnya pada Sungai Banyumeneng. Pada
daerah tersebut dilakukan pendeskripsian
terhadap struktur geologi yang ada pada
singkapan. Setelah dilakukan analisa didapatkan
struktur primer pembentuk singkapan daerah
tersebut berupa perlapisan batuan sedimen dan
struktur sekunder berupa lipatan antiklin, sesar,
kekar, dragfold dan unsur tambahan pembentuk
struktur tersebut seperti gash fracture dan
lainnya.
Berdasarkan data dilapangan dapat
diinterpretasikan bahwa pembentukan singkapan
yang ada di Sungai Banyumeneng tersebut yaitu

dengan adanya proses terbentuknya sungai yang


dimulai dengan adanya rekahan, lalu rekahan
tersebut teraliri oleh air sehingga lama kelamaan
akan membentuk sebuah celah yang akan
semakin melebar. Setelah melebar maka akan
mengendapkan material sedimen dari hancuran
batuan yang telah ada sebelumnya. Sungai
Banyumeneng ini tergolong kedalam sungai
dengan stadia dewasa. Pengendapan material
sedimen yang terbentuk sesuai dengan hukum
Nicolas Steno, 1669 yang menyebutkan konsep
horizontality
dimana
material
sedimen
diendapkan secara horizontal.
Pengendapan
yang terdapat di Sungai Banyumeneng ini berupa
perlapisan antara batuan yang pada umumnya
berupa perselingan antara batupasir bercangkang
dengan batulanau, batupasir gampingan dengan
batu lempung. Dan kombinasi dari litologi
tersebut.
Struktur primer pada daerah Sungai
Banyumeneng ini berupa perlapisan. Perlapisan
batuan yang terdapat berupa perlapisan miring,
sehingga diinterpretasikan batuan tersebut sudah
mengalami deformasi sehingga membuat
perlapisan yang mulanya horizontal berubah
menjadi miring yang merupakan struktur
sekunder. Ketika diamati lebih lanjut ternyata
ditemukan adanya struktur sekunder berupa
kekar, sesar, lipatan pada daerah tersebut.
Fracture yang terbentuk merupakan pengaruh
dari gaya endogen yang bekerja. Struktur
tersebut dapat membentuk struktur sesar ketika
sudah mengalami pergeseran dan kekar
merupakan bentuk awal dari pembentukan
lipatan.
Pada kondisi lingkungan yang plastis dan
elastik, material akan mudah berubah mengikuti
hukum aliran. Pada deformasi ductile yang
terjadi di daerah ini membentuk struktur berupa
lipatan. Dimana lipatan yang terbentuk memiliki
bagian yang sudah mengalami pergeseran
sehingga ditemukan adanya struktur dragfold.
Berdasarkan unsur dari lipatan ditemukan adanya
hinge point, crest, fold axis, axial plane dengan
arah N 1050 E/ 660. Pada lipatan tersebut terdapat
struktur dragfold yang terbentuk dari unsur
berupa bidang sesar dengan arah N 580 E.
Struktur lipatan terbentuk dari perlapisan antara
batupasir dengan batulanau dan sisipan lempung,
dengan bidang perlapisan yang didapat arahnya

sebesar N 950 E/ 450 dan N 1150 E/ 540.


Perhitungan sayap kanan pada lipatan didapatkan
data sebagai berikut : N 2380 E/ 640, N 2440 E/
450, N 2340 E/ 370, N 2450 E/ 470, N 2450 E/ 500.
Perhitungan sayap kiri didaptkan data sebagai
berikut : N 1390 E/ 300, N 940 E/ 660, N 930 E/
450, N 920 E/ 470, N 870 E/ 320.
Setelah dilakukan analisis menggunakan
net berupa: polar equal-area net, kalsbeek
counting net dan stereonet didapatkan hasil berpa
arah gaya utama yang bekerja berasal dari arah
1 yang berada pada arah north-west, 2 dengan
arah south-east dan 3 dengan arah north-east.
Dari hasil tersebut ketika disamakan dengan
referensi sangat cocok dengan konsep tektonik
yang terdapat pada daerah tesebut. Arah gaya 1
yang berlawanan dengan arah 2. Berdasarkan
referensi daerah ini terdapat pergeseran blok
blok dasar cekungan Zona Kendeng yang
mengakibatkan terjadinya sesar sesar geser
berarah relatif utara selatan. Dari hasil analisis
menunjukkan hal yang sama dimana arah 1
dengan 2 terdapat pada arah utara-selatan.
Proses pembentukan struktur sekunder
daerah ini diawali dengan adanya kekar lalu
terkena gaya endogen yang dapat membentuk
sesar. Struktur selanjutnya dari akibat deformasi
ductile membentuk lipatan berupa antiklin. Besar
gaya yang bekerja pada berbagai arah berbeda
sehingga membentuk lipatan yang asimetris.
Dimana lipatan tersebut cenderung miring kearah
kanan. Dan ditemukan adaya zona sesar pada
lioatan tersebut yang biasa disebut dengan
struktur dragfold.

blok blok dasar cekungan Zona Kendeng yang


mengakibatkan terjadinya sesar sesar geser
berarah relatif utara selatan. Dari hasil analisis
menunjukkan hal yang sama dimana arah 1
dengan 2 terdapat pada arah utara-selatan.
Deformasi ductile yang bekerja pada daerah ini
membentuk lipatan berupa antiklin. Dan
ditemukan adaya zona sesar pada lipatan tersebut
yang disebut dengan struktur dragfold.
Referensi
[1] Staff Asisten Geologi Struktur. 2011. Buku
Panduan Praktikum Geologi Struktur.
Semarang. Teknik Geologi Undip.
[2]https://www.scribd.com/doc/192422882/Buku
-Panduan-Praktikum-Geologi-Struktur
(diakses pada Kamis 4 Desember 2104, pukul
20:35 WIB).
Lampiran

Foto 1. Singkapan Lipatan

Kesimpulan
Struktur primer pada daerah Sungai
Banyumeneng ini berupa perlapisan. Perlapisan
batuan yang terdapat berupa perlapisan miring.
Struktur sekunder berupa kekar, fracture yang
terbentuk merupakan pengaruh dari gaya
endogen yang bekerja. Struktur tersebut dapat
membentuk struktur sesar ketika sudah
mengalami pergeseran dan kekar merupakan
bentuk awal dari pembentukan lipatan. Analisis
terhadap arah gaya yang sesuai dengan arah gaya
pada zona kendeng dimana 1 yang berlawanan
dengan arah 2. Daerah ini terdapat pergeseran

Foto 2. Sungai Banyumeneng

Foto 3. Struktur Dragfold

Foto 6. Analisis Lipatan dengan Steronet

Foto 4. Struktur Lipatan

Foto 5. Analisis Lipatan Secara Stereografis