Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN KASUS

MANAJEMEN FISIOTERAPI PADA GANGGUAN AKTIVITAS


FUNGSIONAL LUMBAL AKIBAT CLOSE
FRAKTUR RADUIS ULNA DI
RSUD KOTA MAKASSAR

APRIANI
C13110260

PROGRAM STUDI S1 FISIOTERAPI PROFESI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2014

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dengan meningkatnya mobilitas disektor lalu lintas dan faktor kelalaian


manusia sebagai salah satu penyebab paling sering terjadinya kecelakaan yang
dapat menyebabkan fraktur. Penyebab yang lain dapat karena kecelakaan kerja,
olah raga dan rumah tangga.
Patah tulang antebrachii sering terjadi pada bagian distal yang umumnya
disebabkan oleh gaya pematah langsung sewaktu jatuh dengan posisi tangan
hiperekstensi. Hal ini dapat diterangkan oleh karena adanya mekanisme refleks
jatuh di mana lengan menahan badan dengan posisi siku agak menekuk seperti
gaya jatuhnya atlit atau penerjun payung.
Fraktur adalah gangguan pada kontinuitas tulang dengan atau tanpa letak
perubahan letak fragmen tulang. Menurut Lane and Cooper, fraktur atau patah
tulang adalah kerusakan jaringan atau tulang baik komplet maupun inkomplete
yang berakibat tulang yang menderita tersebut kehilangan kontinuitasnya dengan
atau tanpa adanya jarak yang menyebabkan fragmen.
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga
fisik. Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu sendiri, dan
jaringan lunak di sekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu
lengkap atau tidak lengkap. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah,
sedangkan pada fraktur tidak lengkap tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang.
(Carter Michel, 2006).
Secara garis besar, fraktur dapat diklasifikasikan menjadi fraktur komplit
dan inkomplit. Pada fraktur komplit, tulang benar-benar patah menjadi dua
fragmen atau lebih. Fraktur inkomplit adalah patahnya tulang hanya pada satu sisi
saja. Fraktur komplit dapat dibagi lagi menjadi fraktur transversa, oblik/spiral,
impaksi, kominutif, dan intra-artikular. Fraktur inkomplit dapat dibagi menjadi
greenstick fracture, yang khas pada anak-anak, dan fraktur kompresi, yang
biasanya ditemukan pada orang dewasa. Fraktur avulsi terjadi bila suatu fragmen

tulang terputus dari bagian tulang sisanya yang disebabkan oleh tarikan
ligamentum atau pelekatan tendon yang kuat dan biasnya terjadi akibat dari
kontraksi otot secara paksa.( Goh Lesley dan Peh Wilfred, 2011)
Fisioterapi sebagai salah satu profesi kesehatan yang bertanggung jawab
atas gerak dan fungsi yang berperan dalam kondisi fraktur. Tindakan fisioterapi
perlu diberikan sedini mungkin kepada pasien untuk mempercepat penyembuhan
kapasitas fisik dan kemampuan fungsional pasien. Modalitas fisioterapi yang
dapat digunakan pada pasien fraktur kompresi antara lain berupa terapi latihan
dapat digunakan untuk mengurangi nyeri, mencegah kontraktur dan atrofi pada
otot, meningkatkan kekuatan otot, meningkatkan luas gerak sendi (LGS),
mengurangi gangguan postur, dan meningkatkan kemampuan fungsional. Tekniktekniknya antara lain: Breathing Exercise, Strengthening berupa Static
Contraction (kontraksi isometric) dan Resisted Exercise, ROM exercise berupa
free berupa Active Rom Exercise (AROMEX) dan Passive Rom Exercise
(PROMEX), ADL Exercise.

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Anatomi Dan Fisiologi Tulang


1. Anatomi Tulang
Tulang dalam garis besarnya dibagi atas:
1. Tulang panjang
Yang termasuk tulang panjang misalnya femur, tibia, ulna dan
humerus, dimana daerah batas disebut diafisis dan daerah yang berdekatan
dengan garis efifisis disebut metafisis. Daerah ini merupakan suatu daerah
yang sangat sering ditemukan adanya kelainan atau penyakit, oleh karena
daerah ini

merupakan daerah metabolic yang aktif dan banyak

mengandung pembuluh darah. Kerusakan atau kelainan berkembang pada


daerah lempeng efifisis akan menyebabkan kelainan pertumbuhan tulang.
2. Tulang pendek
Contoh dari tulang pendek antara lain tulang vertebra dan tulangtulang karpal.
3. Tulang pipih
Yang termasuk tulang pipih antara lain tulang iga, tulang scavula dan
tulang pelvis. (Rasjad Chairuddin, 2009).
Secara makroskop terdiri dari : (1) substantia compacta dan (2)
substantia spongiosa. Pada os Longum substantia compacta berada di
bagian tengah dan makin ke ujung tulang menjadi semakin tipis. Pada
ujung tulang terdapat substantia spongiosa, yang pada pertumbuhan
memanjang tulang membentuk cavitis medullaris. Lapisan superficialis
tulang disebut periosteum dan lapisan profunda disebut endosteum. Bagain
tengah os longum disebut corpus, ujung tulang berbentuk konveks atau
konkaf, membesar, membentuk persendiaan dengan tulang lainnya.Dari
aspek pertumbuhan, bagian tengah tulang disebut diaphysis, ujung tulang
disebut epiphysis dibentuk oleh cartilago, dan bagian diantara keduanya
disebut metaphysis, tempat peartumbuhan memanjang dari tulang
(peralihan antara cartilago menjadi osseum) (Buranda Theopilus, 2011).

Tulang terdiri atas daerah yang kompak pada bagian luar yang
disebut korteks dan bagian dalam yang bersifat spongiosa berbentuk
trabekula dan diluarnya dilapisi oleh periostenum. Pada anak lebih tebal
daripada orang dewasa, yang ,memungkingkan penyembuhan tulang pada
anak lebih cepat dibandingkan orang dewasa.( Rasjad Chairuddin, 2009)

a. Anatomi Radius
Ujung proximal radius membentuk caput radii (=capitulum
radii), berbentuk roda, letak melintang. Ujung cranial caput radii
membentuk fovea articularis (=fossa articularis) yang serasi dengan
capitulum radii. Caput radii dikelilingi oleh facies articularis, yang
disebut circumferentia articularis dan berhubungan dengan incisura
radialis ulnae. caput radii terpisah dari corpus radii oleh collum radii.
Di sebelah caudal collum pada sisi medial terdapt tuberositas radii.
Corpus radii di bagian tengah agak cepat

membentuk margo

interossea (=crista interossea), margo anterior (=margo volaris), dan


margo posterior.

Ujung distal radius melebar ke arah lateral

membentuk processus styloideus radii, di bagian medial membentuk


incisura ulnaris, dan pada facies dorsalis terdapat sulcus-sulcus yang
ditempati oleh tendo. Permukaan ujung distal radius membentuk facies
articularis carpi (Buranda Theopilus, 2011).

b. Anatomi Ulna
Ujung proximal ulna lebih besar daripada ujung distalnya. Hal
yang sebaliknya terdapat pada radius. Pada ujung proximal ulna
terdapat incisura trochlearis (= incisura semiulnaris), menghadap ke
arah ventral, membentuk persendian dengan trochlea humeri. Tonjolan
di bagian dorsal disebut olecranon. Di sebelah caudal incisura
trochlearis terdapat processus coronoideus, dan di sebelah caudalnya
terdapat tuberositas ulnae, tempat perlekatan m.brachialis. di bagian
lateral dan incisura trochlearis terdapat incisura radialis, yang
berhadapan dengan caput radii. Di sebelah caudal incisura radialis
terdapat crista musculi supinatoris. Corpus ulnae membentuk facies
anterior, facies posterior, facies medialis, margo interosseus, margo
anterior dan margo posterior. Ujung distal ulna disebut caput ulnae (=
capitulum ulnae). Caput ulnae berbentuk circumferentia articularis,
dan di bagian dorsal terdapt processus styloideus serta silcus
m.extensoris carpi ulnaris.

Ujung distal ulna berhadapan dengan

cartilago triangularis dan dengan radius (Buranda Theopilus, 2011).

Kedua tulang lengan bawah dihubungkan oleh sendi radioulnar


yang diperkuat oleh ligamentum anulare yang melingkari kapitulum
radius, dan di distal oleh sendi radioulnar yang diperkuat oleh ligamen

radioulnar, yang mengandung fibrokartilago triangularis. Membranes


interosea memperkuat hubungan ini sehingga radius dan ulna
merupakan satu kesatuan yang kuat.

Oleh karena itu, patah yang hanya mengenai satu tulang agak
jarang terjadi atau bila patahnya hanya mengenai satu tulang, hampir
selalu disertai dislokasi sendi radioulnar yang dekat dengan patah
tersebut.Selain itu, radius dan ulna dihubungkan oleh otot antartulang,
yaitu otot supinator, m.pronator teres, m.pronator kuadratus yang
membuat gerakan pronasi-supinasi. Ketiga otot itu bersama dengan
otot lain yang berinsersi pada radius dan ulna menyebabkan patah
tulang lengan bawah disertai dislokasi angulasi dan rotasi, terutama
pada radius.

2. Fisiologi
Tulang adalah adalah suatu jaringan dinamis yang tersusun dari tiga
jenis sel : osteoblast, osteosit, dan osteoklas. Osteoblast membangun tulang
dengan membentuk kolagen tipe I dan proteoglikan sebagai matriks tulang
atau jaringan osteoid melalui suatu proses yang disebut osifikasi. Ketika
sedang aktif menghasilkan jaringan osteoid, osteoblast mensekresikan
sejumlah besar fosfatase alkali, yang memegang peranan penting dalam

mengendapkan kalsium dan fosfat ke dalam matriks tulang. Sebagian dari


fosfatase alkali akan memasuki aliran darah, dengan demikian maka kadar
fosfatase alkali di dalam darah dapat menjadi indikator yang baik tentang
tingkat pembentukan tulang setelah mengalami patah tulang atau pada kasus
metastasis kanker ke tulang (Carter Michel, 2006).
Osteoblas merupakan salah satu jenis sel hasil diferensiasi mesenkim
yang sangat penting dalam proses osteogenesis atau osifikasi. Sebagai sel,
osteoblas dapat memproduksi substansi organic intraseluler matriks, dimana
klasifikasi terjadi di kemudian hari. Jaringan yang tidak mengandung
kalsium disebut osteoid dan apabila klasifikasi terjadi pada matriks maka
jaringan disebut tulang. Sesaat setelah osteoblas dikelilingi oleh substansi
organic intraseluler, disebut osteosit dimana keadaaan ini terjadi dalam
lakuna.Sel yang bersifat multinukleus, tidak ditutupi oleh permukaan tulang
dengan sifat dan fungsi resopsi serta mengeluarkan tulang yang disebut
osteoklas. Kalsium hanya dapat dikeluarkan oleh tulang melalui proses
aktivitas osteoklasin yang menghilangkan matriks organic dan kalsium
secara bersamaan dan disebut deosifikasi. Struktur tulang berubah sangat
lambat terutama setelah periode pertumbuhan tulang berakhir. Setelah fase
ini tulang lebih banyak terjadi dalam bentuk perubahan mikroskopik akibat
aktifitas fisiologi tulang sebagai suatu organ biokimia utama tulang.
Komposisi tulang terdiri atas:
Substansi organic : 35%
Substansi Inorganic : 45%
Air

: 20%

Substansi organik terdiri atas sel-sel tulang serta substansi organic


intraseluler atau matriks

kolagen dan merupakan bagian terbesar dari

matriks (90%), sedangkan adalah asam hialuronat dan kondroitin asam


sulfur. Substansi inorganic terutama terdiri atas kalsium dan fosfor dan
sisanya oleh magnesium, sodium, hidroksil, karbonat dan fluoride. Enzim
tulang adalah alkali fosfatase yang diproduksi oleh osteoblas yang
kemungkinan besar mempunyai peranan yang paling penting dalam

produksi organic matriks sebelum terjadi kalsifikasi.( Rasjad Chairuddin,


2009)
Pada keadaan normal tulang mengalami pembentukan dan absorpsi
pada suatu tingkat yang konstan, kecuali pada masa pertumbuhan kanakkanak ketika terjadi lebih banyak pembentukan daripada absorpsi tulang.
Pergantian yang berlangsung terus-menerus ini penting untuk fungsi normal
tulang dan membuat tulang dapat berespon terhadap tekanan yang
meningkat dan untuk mencegah terjadi patah tulang. Betuk tulang dapat
disesuaikan dalam menanggung kekuatan mekanis yang semakin meningkat.
Perubahan tersebut juga membantu mempertahankan kekuatan tulang pada
proses penuaan. Matriks organik yang sudah tua berdegenerasi, sehingga
membuat tulang secara relative menjadi lemah dan rapuh. Pembentukan
tulang yang baru memerlukan matriks organik baru, sehingga memberi
tambahan kekuatan pada tulang.( Carter Michel, 2006)

B. Konsep Dasar Fraktur Radius Ulna (Colles)

1. Definisi
Fraktur adalah terputusnya atau hilangnya kontinuitas jaringan tulang
dan atau tulang rawan dan vaskularisasi disekitarnya karena adanya
trauma baik atau karena adanya kelainan yang bersifat patologis.
2. Mekanisme cedera
Fraktur colles biasanya terjadi ketika pasien jatuh dengan menumpu pada
tangan mengakibatkan fraktur dan dislokasi radius distal kea rah dorsal
(Thomas, 2011)
3. Diagnosis
Film polos tetap merupakan pemeriksaan penunjang radiologis yang utama
pada sistem skeletal. Gambar harus selalu diambil dalam dua
proyeksi.(Patel Pradip, 2005)
Film polos merupakan metode penilaian awal utama pada pasien dengan
kecurigaan trauma skeletal. Setiap tulang dapat mengalami fraktur
walaupun beberapa diantaranya sangat rentan.

Tanda dan gambaran yang khas pada fraktur adalah :


a. Garis fraktur : garis fraktur dapat melintang di seluruh diameter tulang
atau menimbulkan keretakan pada tepi kortikal luar yang normal pada
fraktur minor.
b. Pembengkakan jaringan lunak : biasanya terjadi setelah terjadi fraktur.
c. Iregularis kortikal : sedikit penonjolan atau berupa anak tangga pada
korteks.(5)
Posisi yang dianjurkan untuk melakukan plain x-ray adalah AP dan
lateral view. Posisi ini dibutuhkan agar letak tulang radius dan tulang
ulna tidak bersilangan, serta posisi lengan bawah menghadap ke arah
datangnya sinar (posisi anatomi). Sinar datang dari arah depan sehingga
disebut AP (Antero-Posterior) (12)
Terdapat tiga posisi yang diperlukan pada foto pergelangan tangan
untuk menilai sebuah fraktur distal radius yaitu AP, lateral, dan oblik.
Posisi AP bertujuan untuk menilai kemiringan dan panjang os radius,
posisi lateral bertujuan untuk menilai permukaan artikulasi distal radius
pada posisi normal volar (posisi anatomis).(13)
Berikut ini gejala klinis dari beberapa jenis fraktur yang terdapat
pada fraktur radius dan ulna :
1. Fraktur Kaput Radius
Fraktur kaput radius sering ditemukan pada orang dewasa tetapi
hampir tidak pernah ditemukan pada anak-anak. Fraktur ini kadangkadang terasa nyeri saat lengan bawah dirotasi, dan nyeri tekan pada
sisi lateral siku memberi petunjuk untuk mendiagnosisnya.
2. Fraktur Leher Radius
Jatuh pada tangan yang terentang dapat memaksa siku ke dalam
valgus dan mendorong kaput radius pada kapitulum. Pada orang
dewasa kaput radius dapat retak atau, patah sedangkan pada anak-anak
tulang lebih mungkin mengalami fraktur pada leher radius. Setelah

10

jatuh, anak mengeluh nyeri pada siku. Pada fraktur ini kemungkinan
terdapat nyeri tekan pada kaput radius dan nyeri bila lengan berotasi.

3. Fraktur Diafisis Radius


Kalau

terdapat

nyeri

tekan

lokal,

sebaiknya

dilakukan

pemeriksaan sinar-X
4. Fraktur Distal Radius
Fraktur Distal Radius dibagi dalam :
a). Fraktur Galeazzi
Fraktur Galeazzi yaitu Fraktur pada 1/3 distal radius disertai dislokasi
sendi radio-ulna distal.

Fragmen distal mengalami pergeseran dan

angulasi ke arah dorsal. Dislokasi mengenai ulna ke arah dorsal dan


medial. Fraktur ini akibat terjatuh dengan tangan terentang dan lengan
bawah dalam keadaan pronasi, atau terjadi karena pukulan langsung
pada pergelangan tangan bagian dorsolateral. Fraktur Galeazzi jauh
lebih sering terjadi daripada fraktur Monteggia. Ujung bagian bawah
ulna yang menonjol merupakan tanda yang mencolok. Perlu dilakukan
pemeriksaan untuk lesi saraf ulnaris, yang sering terjadi(Kune Wong
Siew dan Peh Wilfred, 2011)
b). Fraktur Colles

11

Fraktur ini akibat terjatuh dengan tangan terentang. Fraktur radius


terjadi di korpus distal, biasanya sekitar 2 cm dari permukaan artikular.
Fragmen distal bergeser ke arah dorsal dan proksimal, memperlihatkan
gambaran

deformitas

garpu-makan

malam

(dinner-fork).

Kemungkinan dapat disertai dengan fraktur pada prosesus styloideus


ulna. (Kune Wong Siew dan Peh Wilfred, 2011).
Fraktur radius bagian distal (sampai 1 inci dari ujung distal) dengan
angulasi ke posterior, dislokasi ke posterior dan deviasi pragmen distal
ke radial. Dapat bersifat kominutiva. Dapat disertai fraktur prosesus
stiloid ulna. Fraktur collees dapat terjadi setelah terjatuh, sehingga
dapat menyebabkan fraktur pada ujung bawah radius dengan
pergeseran posterior dari fragmen distal (Ekayuda Iwan, 2009)

c). Fraktur Smith


Fraktur ini akibat jatuh pada punggung tangan atau pukulan keras
secara langsung pada punggung tangan. Pasien mengalami cedera
pergelangan tangan, tetapi tidak terdapat deformitas. Fraktur radius
bagian distal dengan angulasi atau dislokasi fragmen distal ke arah
ventral dengan diviasi radius tangan yang memberikan gambaran
deformitas sekop kebun (garden spade). (Ekayuda Iwan, 2009)

12

d). Fraktur Lempeng Epifisis


Fraktur Lempeng Epifisis merupakan fraktur pada tulang panjang di
daerah ujung tulang pada dislokasi sendi serta robekan ligament
(Rasiad, 2007).
Klasifikasi menurut Salter-Harris merupakan klasifikasi yang dianut
dan dibagi dalam 5 tipe : (Rasiad, 2007)

Paling umum adalah tipe II, dengan fragmen metafisis triangular


terlihat di dorsal.(Soetikno, 2011)
d.1). Tipe I
Terjadi pemisahan total lempeng epifisis tanpa adanya fraktur
pada tulang, sel-sel pertumbuhan lempeng epifisis masih melekat
pada epifisis. Fraktur ini terjadi oleh karena adanya shearing
force dan sering terjadi pada bayi baru lahir dan pada anak-anak
yang lebih muda. Pengobatan dengan reduksi tertutup mudah
oleh karena masih ada perlekatan periosteum yang utuh dan
intak. Prognosis biasanya baik bila direposisisdengan cepat.

13

( Rasiad, 2007)
d.2). Tipe II
Merupakan jenis fraktur yang sering ditemukan. Garis fraktur
melalui sepanjang lempeng epifisis dan membelok ke metafisis
dan akan membentuk suatu fragmen metafisis yang berbentuk
segitiga

yang

disebut

tanda

Thurson-Holland.

Sel-sel

pertumbuhan pada lempeng epifisis juga masih melekat. Trauma


yang menghasilkan jenis fraktur ini biasanya terjadi pada anakanak yang lebih tua. Periosteum mengalami robekan pada daerah
konveks tetapi tetap utuh pada daerah konkaf. Pengobatan
dengan reposisi secepatnya tidak begitu sulit kecuali bila reposisi
terlambat harus dilakukan tindakan operasi. Prognosis biasanya
baik, tergantung kerusakan pembuluh darah.( Rasiad, 2007)

d.3). Tipe III


Fraktur lempeng epifisis tipe III merupakan fraktur intraartikuler. Garis fraktur mulai permukaan sendi melewati
lempeng epifisis kemudian sepanjang garis lempeng epifisis.
Jenis fraktur ini bersifat intra-artikuler dan biasanya ditemukan
pada epifisis tibia distal. Oleh karena fraktur ini bersifat intraartikuler dan diperlukan reduksi yang akurat maka sebaiknya
dilakukan

operasi

terbuka

dan

fiksasi

interna

dengan

mempergunakan pin yang halus.

14

d.4). Tipe IV
Fraktur tipe ini juga merupakan fraktur intra-artikuler yang
melalui permukaan sendi memotong epifisis serta seluruh lapisan
epifisis dan berlanjut pada sebagian metafisis. Jenis fraktur ini
misalnya fraktur kondilus lateralis humeri pada anak-anak.
Pengobatan dengan operasi terbuka dan fiksasi interna dilakukan
karena fraktur tidak stabil akibat tarikan otot. Prognosis jelek bila
reduksi tidak dilakukan.

d.3). Tipe V
Fraktur tipe V merupakan fraktur akibat hancurnya epifisis yang
diteruskan pada lempeng epifisis. Biasanya terjadi pada daerah
sendi penopang badan yaitu sendi pergelangan kaki dan sendi

15

lutut. Diagnosa sulit karena secara radiologik tidak dapat dilihat.


Prognosis jelek karena dapat terjadi kerusakan sebagian atau
seluruh lempeng pertumbuhan.

5) Fraktur Monteggia
Fraktur jenis ini disebabkan oleh pronasi lengan bawah yang
dipaksakan
saat jatuh atau pukulan secara langsung pada bagian dorsal sepertiga
proksimal dengan angulasi anterior yang disertai dengan dislokasi anterior
kaput radius. (Kune Wong Siew dan Peh Wilfred, 2011)

16

CT scan di gunakan untuk mendeteksi letak struktur fraktur yang


kompleks dan menentukan apakah fraktur tersebut merupakan fraktur
kompresi, burst fraktur atau fraktur dislokasi. Biasanya dengan scan MRI
fraktur ini akan lebih jelas mengevaluasi trauma jaringan lunak, kerusakan
ligament dan adanya pendarahan.

C. Penatalaksanaan
Fraktur dari distal radius adalah jenis fraktur yang paling sering
terjadi.
Fraktur radius dan ulna biasanya selalu berupa perubahan
posisi dan tidak stabil sehingga umumnya membutuhkan terapi
operatif. Fraktur yang tidak disertai perubahan posisi ekstraartikular
dari distal radius dan fraktur tertutup dari ulna dapat diatasi secara
efektif dengan primary care provider. Fraktur distal radius umumnya
terjadi pada anak-anak dan remaja, serta mudah sembuh pada
kebanyakan kasus. (Eiff et. al, 2004)

D. Komplikasi
1. Komplikasi Dini
Sirkulasi darah pada jari harus diperiksa; pembalut yang menahan slab
perlu dibuka atau dilonggarkan. Cedera saraf jarang terjadi, dan yang

17

mengherankan tekanan saraf medianus pada saluran karpal pun jarang


terjadi. Kalau hal ini terjadi, ligamen karpal yang melintang harus
dibelah sehingga tekanan saluran dalam karpal berkurang. Distroft
refleks simpatetik mungkin amat sering ditemukan, tetapi untungnya
ini jarang berkembang lengkap

menjadi keadaan atrofi Sudeck.

Mungkin terdapat pembengkakan dan nyeri tekan pada sendi-sendi


jari, waspadalah jangan sampai melalaikan latihan

tiap hari. Pada

sekitar 5% kasus, pada saat gips dilepas tangan akan kaku dan nyeri

Komplikasi patah tulang dapat dibagi menjadi komplikasi segera,


komplikasi dini, dan komplikasi lambat atau kemudian. Komplikasi
segera terjadi pada saat patah tulang atau segera setelahnya,
komplikasi dini terjadi dalam beberapa hari setelah kejadian, dan
komplikasi kemudian terjadi lama setelah tulang patah. Pada
ketiganya, dibagi lagi menjadi komplikasi umum dan lokal.(18)
2. Komplikasi lanjut
a. Malunion
Malunion sering ditemukan, baik karena reduksi tidak lengkap
atau karena pergeseran dalam gips yang terlewatkan. Penampilannya
buruk, kelemahan dan hilangnya rotasi dapat bersifat menetap. Pada
umumnya terapi tidak diperlukan. Bila ketidakmampuan hebat dan
pasiennya relatif muda, 2,5 cm bagian bawah ulna dapat dieksisi untuk
memulihkan rotasi, dan deformitas radius dikoreksi dengan osteotomi.
Penyatuan lambat dan non-union pada radius tidak terjadi, tetapi
prosesus stiloideus ulnar sering hanya diikat dengan jaringan fibrosa
saja dan tetap mengalami nyeri dan nyeri tekan selama beberapa bulan.
Kekakuan pada bahu, karena kelalaian, adalah komplikasi yang sering
ditemukan. Kekakuan pergelangan tangan dapat terjadi akibat
pembebatan yang lama.( Handkerchief el-Ahmed)
b. Osteomyelitis
Adapun komplikasi infeksi jaringan tulang disebut sebagai
osteomyelitis , dan dapat timbul akut atau

kronik. Bentuk akut

18

dicirikan

dengan

adanya

awitan

demam

sistemik

maupun

manifestasilocal yang berjalan dengan cepat. Pada anak-anak infeksi


tulang seringkali timbul sebagai komplikasi dari infeksi pada tempattempat lain seperti infeksi faring (faringitis), telinga (otitis me dia) dan
kulit (impetigo). Bakterin ya (Staph ylococcus aureus, Streptococcus,
Haemophylus influenzae) berpindah melalui aliran darah menuju
metafisis tulang didekat lempeng pertumbuhan dimana darah mengalir
ke dalam sinusoid.

Akibat perkembangbiakan bakteri dan nekrosis jaringan, maka


tempat peradangan yang terbatas ini akan tersas nyeri dan nyeri tekan.
Perlu sekali mendiagnosis ini sedini mungkin, terutama pada anakanak, sehingga pengobatan dengan
perawatan pembedahan

antibiotika dapat dimulai, dan

yang sesuai dapat

dilakukan dengan

pencegahan penyebaran infeksi yang masih terlokalisasi dan untuk


mencegah jangan sampai seluruh tulang mengalami kerusaskan yang
dapatmenimbulkan kelumpuhan. Diagnosis yang salah pada anak
anak yang menderita

osteomyelitis

dapat

mengakibatkan

keterlambatan dalam memberikan pengobatan yang memadai.

19

Pada orang dewasa, osteomyelitis juga dapat awali oleh bakteri


dalam aliran darah, Namun biasanya akibat kontaminasi jaringan saat
cedera atau operasi. Osteom yelitis kronik adalah akibat dari osteom
yelitis

akut yang tidak di tangani dengan baik.

disebutkan sebelumnya,

osteomyelitis

Seperti yang sudah

sangan resisten terhadap

pengobatan dengan antibiotika. Infeksi tulang sangat sulit untuk


ditangani, bahkan tindakan drainase dan debridement, serta pemberian
antibiotika yang tepat masih tidak cukup untuk menghilangkan
penyakit.( Carter Michel, 2006 )

E. Proses Penyembuhan Tulang (Thomas,2006)


1. Fase inflamasi
Berlangsung sekitar 1-2 minggu. Awalnya fraktur akan mencetuskan
terjadinya reaksi inflamasi. Peningkatan vaskularisasi pada di sekitar
area fraktur akan menyebabkan terjadinya hematoma yang kemudian
akan diinvasi oleh sel radang berupa neutrofil, makrofag, dan fagosit
termasuk osteoklas berfungsi membersihkan jaringan nekrotik untuk
mempersiapkan dasar untuk fase reparatif. Secara radiografis garis
fraktur tampak jelas karena jaringan nekrotik sudah dibersihkan.
2. Fase Reparatif
Berlangsung selama beberapa bulan. Ditandai oleh hematoma fraktur
yang diinvasi oleh kondroblas dan fibroblast yang akan meletakkan
matriks pembentuk kalus. Awalnya terbentuk kalus lunak yang
tersusun oleh fibrosa dan jaringan kartilago. Osteoblas bertanggung
jawab terhadap mineralisasi kalus halus ini dan mengubahnya menjadi
anyaman kalus keras (woven bone) yang imatur. Akhir fase reparatif
ditandai dengan stabilitas fraktur dan gambaran radiografis garis
fraktur mulai menghilang.
3. Fase remodeling
Berlangsung selama berbulan- bulan sampai bertahun-tahun. Aktivitas
osteoblas dan osteoklas yang mengakibatkan penggantian anyaman
tulang yang imatur (woven bone) menjadi tulang lamellar yang matur

20

yang menambah stabilitas fraktur. Seiring waktu kanalis medullaris


terbentuk kembali secara bertahap. Secara radiografis garis fraktur
sudah tidak terlihat.
.
4. MANAJEMEN FISIOTERAPI
Manajemen fisioterapi didasarkan pada pendekatan multidisiplin
problem-solving yang holistik dengan tujuan untuk meningkatkan kemandirian,
fungsi, maksimalisasi aktivitas, meringankan simptom dan pencegahan
kecacatan.
Manajemen fisioterapi mengikuti pendekatan problem-solving dan
melibatkan elemen-elemen berikut ini :
1. Rehabilitasi pergerakan
2. Maksimalisasi fungsi
3. Pencegahan komplikasi sekunder
4. Penanganan faktor sosial/psikologi
Intervensi fisioterapi fraktur kompresi, yaitu NMT, Breathing Exercise,
Strengthening berupa Static Contraction dan Resisted Exercise, ROM exercise
berupa free berupa Active Rom Exercise (AROMEX) dan Passive Rom
Exercise (PROMEX), Bugnet Exercise, Bridging Exercise, dan ADL Exercise
dengan mengutamakan keselamatan dan keamanan penderita, sehingga
modalitas fisioterapi yang diberikan harus disesuaikan dengan stabilitas kondisi
penderita. Pada umumnya intervensi yang diberikan pada stadium akut masih
bersifat latihan pasif, sehingga tidak membahayakan kondisi pasien.
Intervensi fisioterapi sedini mungkin bertujuan untuk: mengoptimalkan
upaya penyembuhan melalui re-edukasi muscle movement menuju re-edukasi
muscle function dan mencegah berbagai komplikasi yang mungkin timbul
akibat imobilisasi dan tirah baring lama sehingga pasien lebih cepat mandiri
sehingga meringankan beban psikososial dan ekonomi keluarga.

21

BAB III
LAPORAN KASUS

A. Data Umum Pasien


Nama/Inisial

: RA

Tanggal Lahir

: 08-03-1996

Usia

: 18 tahun

Alamat

: Sudiang

Pekerjaan

: Pelajar

Tanggal Masuk RS

: 21-04-2013

Agama

: Islam

Suku bangsa

: Bugis

Vital Sign

: Pemeriksaan Tanggal 28 April 2014


TD

: 110/80 mmHg

DN

: 68 /menit

Pernafasan

: 20x/mnt

Suhu

: 36C

B. Pemeriksaan Fisioterapi (CHARTS)


1. Chief Of Complaint
Nyeri pada pergelangan tangan kanan

2. History
Pasien merasa nyeri pada area pergelangan tangan setelah operasi pada
hari jumat akibat mengalami patah tulang lengan kanan bawah karena
mengalami kecelakaan lalu lintas tanggal 20 April 2014 dalam perjalanan
pulang menuju Makassar. Pasien ingin mendahului kendaraan di depannya
namun tiba tiba dari arah berlawanan muncul mobil truk. Pasien terlempar
dari motor dan mengalami pingsan. Pasien baru sadar setelah berada di
ambulans. Pasien tidak mengalami mual, muntah. Pasien di larikan ke
RSUD Pare-pare lalu malam harinya di rujuk ke RSUD Kota Makassar.

22

Nyeri yang dirasakan hanya pada area operasi. Nyeri dirasakan saat diam
dan saat jari digerakkan. Aktivitas makan baik tetapi memerlukan sedikit
bantuan, aktivitas berpakaian dan merawat diri memerlukan bantuan,
aktivitas toilet mandiri. Pasien sempat mengalami gangguan tidur malam
hari satu hari setelah operasi karena merasakan nyeri hebat pada lengan
kanan bawah. Pasien sudah melakukan pemeriksaan radiologi dengan hasil
fraktur 1/3 distal radius ulna (D) dan pemeriksaan lab dengan hasil Hb :
13,7 g/dl, RBC : 4,540, CT : 71 , BT : 2130, Ureum : 26 mg/dl, Kreat : 1,1
mg/dl, SGOT : 87 iu, SGPT : 113 iu. Diagnose dokter yang merawat
adalah fraktur 1/3 distal radius ulna (D)Pasien merasa sedikit cemas dan
ingin cepat pulang ke rumah. Pasien sudah tidak memiliki keluhan lain

3. Assymetris
a. Inspeksi Statis
a. Ekspresi wajah pasien nampak meringis.
b. Pasien dalam posisi duduk
c. Terpasang infuse ditangan kiri.
d. Terpasang volar slab below elbow (R)
e. Elevasi lengan kanan bawah.
f. Tampak oedema pada jari jari tangan kanan.
g. Tampak luka pada paha kanan.
b. Inspeksi dinamis
a. Pasien mampu menggerakkan elbow joint kanan dengan bantuan
tangan kirinya (pasif), pasien mampu menggerakkan shoulder
kanannya.
b. Pasien tidak mampu melakukan gerakan pada wrist joint karena
terpasang volar slab below elbow (R).
c. Palpasi
a. Suhu pada daerah jari tangan kanan hangat
b. Tenderness (-)
c. Oedema (+)

23

d. Sensasi pada jari dapat dirasakan tetapi ada rasa sedikit tebal pada
finger (R)
d. Pemeriksaan Fungsi Gerak Dasar
Gerakan

Aktif

Pasif

TIMT

Dekstra
Shoulder : nyeri (-), normal
Elbow : nyeri (-), tdak mampu (butuh
bantuan tangan kiri
Wrist : tidak dilakukan karena
terpasang volar slab below elbow (R)
Shoulder : nyeri (-), softendfeel
Elbow : nyeri (-), softendfeel
Wrist : tidak dilakukan karena
terpasang volar slab below elbow (R)

Shoulder : nyeri (-), kuat


Elbow : nyeri (-), lemah
Wrist : tidak dilakukan karena
terpasang volar slab below elbow (R)

Sinistra
Shoulder : nyeri (-), normal
Elbow : nyeri (-), normal
Wrist : nyeri (-), normal

Shoulder : nyeri (-), normal,


softendfeel
Elbow : nyeri (-), normal,
softendfeel
Wrist : nyeri (-), normal,
softenfeel
Shoulder : nyeri (-), kuat
Elbow : nyeri (-), kuat
Wrist : nyeri (-),kuat

4. Restricted
1. ROM
Dekstra
Shoulder
S.40.0.140
F.110.0.25
Elbow
S.0.0.140
Wrist
tidak dilakukan
karena terpasang
volar slab below
elbow (R)

Sinistra
Shoulder
S.50.0.150
F.120.0.35
Elbow
S.0.0.145
Wrist
S.80.0.80
T.25.0.20

2. ADL Kompleks
Pasien mengalami keterbatasan ADL kompleks, yaitu makan,
berpakaian, merawat diri, yang lebih lanjut mengakibatkan pasien juga
mengalami keterbatasan dalam melakukan pekerjaannya dan tidak
mampu lagi bersosialisasi dan berekreasi akibat sakit yang dialaminya.

5. Tissue impairment
Jaringan yang mengalami kerusakan/gangguan adalah:

24

a. Osteoarthrogen : fraktur radius dan ulna dextra


b. Muskulotendinogen : kelemahan otot-otot fleksoren dan ekstensoren
wrist serta pronator dan supinator wrist dextra
c. Neurogen : n. radialis, n. medianus dan n. ulnaris dextra.

6. Spesific Tests
1. VAS :
Nyeri tekan : 0 (nyeri sedang)
Nyeri diam : 5 (tidak nyeri)
Nyeri gerak : 5 (nyeri berat)

2. Tes Sensorik
a. Tes Rasa Sakit (tajam, tumpul) : pada jari normal, sedikit tebal
b. Tes Rasa Posisi (lurus, bengkok) : pada jari normal, sedikit tebal
c. Tes Arah Gerakan (atas, bawah, luar, dalam) : tidak dilakukan

3. Tes Motorik
a. Tes Kekuatan Otot (Manual Muscle Testing)
Nilai
0

Nilai Kekuatan Otot


Interpretasi
Tidak didapatkan sedikitpun kontraksi

1
2
3
4
5

Terdapat sedikit kontraksi otot, namun tidak ada pergerakan


Didapatkan gerakan, tetapi tidak melawan gaya gravitasi
Dapat mengadakan gerakan melawan gravitasi
Dapat melawan gravitasi dengan sedikit tahanan
Tidak ada kelumpuhan (normal)

Hasil :
Ekstremitas superior dextra :
1. Shoulder : 5 Tidak ada kelumpuhan (normal)
2. elbow : 5 Tidak ada kelumpuhan (normal)
3. wrist : tidak dapat dinilai karena terpasang volar slab below
elbow (R)
4. DIP : 3 (Dapat mengadakan gerakan melawan gravitasi)

Reaksi ADL (Indeks Katz) (Aras, 2013)


Mandi (bathing)
( ) Dapat mengerjakan sendiri

(+) Sebagian/pada
bagian tertentu dibantu

( ) Sebagian
besar/seluruhnya dibantu

25

Berpakaian (dressing)
( ) Seluruhnya tanpa bantuan
Ke Toilet (going to toilet)
( +) Dapat pergi ke WC & dpt
mengerjakan sendiri
Transfer
(+ ) Tanpa bantuan
Continance (blader & bowel)
(+) Dapat mengontrol

(+) Sebagian/pada
( ) Sebagian
bagian tertentu dibantu besar/seluruhnya dibantu
( ) Dapat pergi ke WC
( ) Tidak dapat pergi ke
tetapi memerlukan
WC
bantuan
( ) Dapat melakukan
( ) Tidak dapat melakukan
dengan bantuan
( ) Kadang-kadang
( ) Dibantu seluruhnya
ngompol/BAB di
(dgn kateter/manual)
tempat tidur
Makan (feeding)
(+) Makan dapat
( ) seluruhnya dibantu
( ) Dapat melakukan tanpa
sendiri kecuali Hal-hal
bantuan
tertentu
Klasifikasi hasil pemeriksaan :
A : Mandiri, untuk 6 fungsi (POST)
B : Mandiri, untuk 5 fungsi
C : Mandiri, kecuali untuk mandi & 1 fungsi lain
D : Mandiri, kecuali untuk mandi, berpakaian & 1 fungsi lain
E : Mandiri, kecuali mandi, berpakaian, ke toilet & 1 fungsi lain
F : Mandiri, kecuali mandi, berpakaian, ke toilet, transfer, & 1 fungsi lain

4.

Hamilton Test (Psikis) (Aras, 2013)


NO
1

KRITERIA
Keadaan perasaan sedih
(sedih,putus asa,tak
berdaya,tak berguna)

Perasaan bersalah

Bunuh diri

Gangguan pola tidur


(initial insomnia)

TINGKATAN
0 = tidak ada
1 = Perasaan ini ada hanya bila ditanya;
2 = perasaan ini dinyatakan secara
verbal spontan;
3 = perasaan yang nyata tanpa
komunikasi verbal, misalnya ekspresi
muka, bentuk, suara, dan
kecenderungan menangis;
4 = pasien menyatakan perasaan yang
sesungguhnya ini dalam komunikasi
baik verbal maupun nonverbal secara
spontan.
0 = tidak ada
1 = Menyalahkan diri sendiri dan merasa
sebagai penyebab penderitaan orang
lain;
2 = ada ide-ide bersalah atau renungan
tentang kesalahan-kesalahan masa
lalu;
3 = sakit ini sebagai hukuman, waham
bersalah dan berdosa;
4 = ada suara-suara kejaran atau tuduhan
dan halusinasi penglihatan tentang
hal-hal yang mengancamnya
0 = tidak ada
1 = merasa hidup tak ada gunanya,
2 = mengharapkan kematian atau
pikiran-pikiran lain kearah itu,
3 = ada ide-ide bunuh diri atau langkahlangkah ke arah itu.
0 = tidak ada
1 = Ada keluhan kadang-kadang sukar
tidur misalnya, lebih dari setengah

SKOR
0

26

Gangguan pola tidur


(middle insomnia)

Gangguan pola tidur (late


insomnia)

Kerja dan kegiatankegiatannya

Kelambanan (lambat
dalam berpikir , berbicara
gagal berkonsentrasi, dan
aktivitas motorik
menurun)
Kegelisahan

10

Kecemasan (ansietas
somatik)

11

Kecemasan (ansietas
psikis)

12

Gejala somatik

jam baru tidur;


2 = ada keluhan tiap malam sukar tidur
0 = tidak ada
1 = pasien mengeluh gelisah dan
terganggu sepanjang malam,
2 = terjadi sepanjang malam (bangun
dari tempat tidur kecuali buang air
kecil)
0 = tidak ada
1 = bangun saat dini hari tetapi dapat
tidur lagi,
2 = bangun saat dini hari tetapi tidak
dapat tidur lagi
0 = tidak ada
1=berpikir tidak mampu,
keletihan/kelemahan yang
berhubungan dengan kegiatan kerja
atau hobi;
2= hilangnya minat terhadap
pekerjaan/hobi
3 = berkurangnya waktu untuk aktivitas
sehari-hari atau produktivitas
menurun.
4 = tidak bekerja karena sakitnya
0 = normal
1= sedikit lamban dalam wawancara;
2 = jelas lamban dalam wawancara;
3 = sukar diwawancarai; stupor (diam
sama sekali)
0= tidak ada
1 = kegelisahan ringan;
2 = memainkan tangan jari-jari, rambut,
dan lain-lain;
3 = bergerak terus tidak dapat duduk
dengan tenang;
4 = meremas-remas tangan, menggigitgigit kuku, menarik-narik rambut,
menggigit-gigit bibir
sakit nyeri di otot-otot, kaku, dan
keduten otot; gigi gemerutuk; suara
tidak stabil; tinitus (telinga berdenging);
penglihatan kabur; muka merah atau
pucat, lemas; perasaan ditusuk-tusuk.
0 = tidak ada
1 = ringan
2 = sedang
3 = berat
4 = ketidakmampuan
0 = tidak ada
1 = ketegangan subyektif dan mudah
tersinggung;
2 = mengkhawatirkan hal-hal kecil;
3 = sikap kekhawatiaran yang tercermin
di wajah atau pembicaraannya;
4 = ketakutan yang diutarakan tanpa
ditanya
0= tidak ada

27

(pencernaan)

13

Gejala somatik (umum)

14

Kotamil (genital)

15

Hipokondriasis (keluhan
somatik, fisik yang
berpindah-pindah)

16

Kehilangan berat badan


(wawancara)

17

Insight (pemahaman diri)

18

Variasi harian

19

Depersonalisasi (perasaan
diri berubah) dan
derealisasi (perasaan tidak
nyata tidak realistis)

20

Gejala paranoid

21

Gejala-gejala obsesi dan


kompulsi

1 = nafsu makan berkurang tetapi dapat


makan tanpa dorongan teman,
merasa perutnya penuh;
2 = sukar makan tanpa dorongan teman,
membutuhkan pencahar untuk buang
air besar atau obat-obatan untuk
saluran pencernaan
0 = tidak ada
1=anggota gerak, punggung atau kepala
terasa berat;
2= sakit punggung, kepala dan otot-otot,
hilangnya kekuatan dan kemampuan
sering buang air kecil terutama malam
hari dikala tidur; tidak haid, darah haid
sedikit sekali; tidak ada gairah seksual
dingin (firgid); ereksi hilang; impotensi
0 = tidak ada
1 = ringan
2 = berat
0 = tidak ada
1 = dihayati sendiri,
2 = preokupasi (keterpakuan) mengenai
kesehatan sendiri,
3 = sering mengeluh membutuhkan
pertolongan orang lain,
4 = delusi hipokondriasi
0 = tidak ada
1 = berat badan berkurang berhubungan
dengan penyakitnya sekarang
2 = jelas penurunan berat badan,
3 = tak terjelaskan lagi penurunan berat
badan
0 = mengetahui dirinya sakit dan cemas
1 = mengetahui sakit tetapi berhubungan
dengan penyebab-penyebab iklim,
makanan, kerja berlebihan, virus,
perlu istirahat, dan lain-lain
2 = menyangkal bahwa ia sakit
adakah perubahan atau keadaan yang
memburuk pada waktu malam atau pagi
0 = tidak ada
1 = buruk saat pagi
2 = buruk saat malam
0 = tidak ada
1 = ringan
2 = sedang
3 = berat
4 = ketidakmampuan
0 = tidak ada
1 = Kecurigaan;
2 = pikiran dirinya menjadi pusat
perhatian, atau peristiwa kejadian
diluar tertuju pada dirinya (ideas
refence);
3 = waham (delusi) di kejar/diburu
0 = tidak ada
1 = ringan

28

2 = berat
Total skor POST
HAM-D Scoring Instructions:
Sum the scores from the first 17 items.
- 0-7 = Normal
- 8-13 = Mild Depression
- 14-18 = Moderate Depression
- 19-22 = Severe Depression (Pre)
- 23 = Very Severe Depression

5.

Sirkumferentia
Ektremitas superior (jari
jari tangan)
Tumb
Finger

6.

Dextra
6,5 cm
6

Sinistra
5cm
5

Gait analisis
Pasien tidak mengalami gangguan pada gait analisisnya karena tidak
ada masalah pada tungkai bawah.

7. Hasil Pemeriksaan Radiologi


Antebrachi (D) AP/Lat
Tampak discontinuitas pada region distal radius ulna dengan
pergeseran fragmen distal ke dorsal.
Posisi fiksasi baik
Callus belum terbentuk
Mineralisasi tulang baik
Kesan : Fraktur distal radius ulna dengan posisi fiksasi dan
fragmen fraktur baik
Hasil laboratorium
GDS
Ureum
Kreatinin
SGOT
SGPT

Hasil Pemeriksaan
95
7,1
1,1
87
113

Nilai Rujukan
140 mg/dl
0-50 mg/dl
<1,3
<38
<41

C. Diagnosis Fisioterapi
Gangguan gerak dan fungsi gerak tungkai atas akibat fraktur 1/3 distal radius
ulna post ORIF 3 hari yang lalu.
29

D. Problem Fisioterapi
1. Primer

: oedema, nyeri

2. Sekunder : keterbatasan ROM wrist (R), MCP joint (R), IP joint (R)
Kelemahan otot otot fleksoren dan ekstensoren wrist (R), Kelemahan
otot otot pronator dan supinator elbow (R)
3. Kompleks : Gangguan aktivitas fungsional (eating, dressing, selfcare)
Gangguan ADL pekerjaan (Pelajar)
Gangguan ADL rekreasi (main futsal)

30

BAB IV
PEMBAHASAN

Berdasarkan dari assessment yang telah dilakukan, tujuan jangka pendek


dan tujuan jangka panjang dari rencana tindakan fisioterapi yaitu sebagai berikut:
A. Tujuan Jangka Panjang
Meningkatkan kualitas hidup dengan mengoptimalkan kapasitas fisik dan
kemampuan fungsional pasien.
B. Tujuan Jangka Pendek
1. Mengurangi nyeri pada lengan bawah (R)
2. Mengurangi oedema pada lengan bawah (R)
3. Mencegah kontraktur otot yang sehat
4. Memelihara kekuatan otot upper extr (R) dan upper extr (L)
5. Memelihara lingkup gerak sendi regio yang sehat
6. Meningkatkan ADL

Adapun modalitas dan dosis yang digunakan, diuraikan dalam tabel di bawah

Problem

Modalitas

Dosis
F : Setiap hari

Menurunkan oedema

Positioning

I : toleransi pasien
T : Elevasi upper extr (R)
T : Selama perawatan
F: 2x sehari
I: 8 hitungan, 3 repetisi

Mengurangi nyeri

Exercise

T: kontraksi isometrik pada lower


extr (R)
T: 5 menit

F : 1x/ hari
I : 3 repetisi/gerakan
Mencegah kontraktur

Exercise

T : AROMEX pada DIP joint (R)


T : 5 menit

Memelihara otot otot

Exercise

F: 2x sehari

31

pada upper extr (R) dan

I: 8 hitungan, 3 repetisi

upper extr (L)

T:

Strengthening

shoulder

kontraksi isotonik)
T: 5 menit

F : 1x/ hari
I : 3 repetisi/gerakan

Memelihara Lingkup
gerak sendi regio yang
sehat (elbow dan shoulde

T : AROMEX/ PROMEX upper


ROM Exercise

extr (R)
T : 10 menit

(R))

F : 1x/ hari
Memelihara Lingkup
gerak sendi regio yang
sehat (wrist, elbow dan

I : 3 repetisi/gerakan
T : AROMEX upper extr (R)

ROM Exercise

T : 10 menit

shoulde (L))

F : Setiap hari
Mencegah dekubitus

I : toleransi pasien

Positioning

T : Positioning duduk (edukasi)


T: 20- 30 menit

C. Evaluasi
EVALUASI
Evaluasi
Problem

Parameter

Pre
5 (nyeri diam)
5 (nyeri gerak)

Post
2x Terapi
4 (nyeri diam)
5 (nyeri gerak)

Interpretasi

Nyeri

VAS

Nyeri hilang

Oedema

Sirkumferensia

Tumb : 6,5cm
Finger : 6 cm

Tumb : 6 cm
Finger : 5,5 cm

Oedema
hilang

Kekuatan
otot

MMT

fleksoren dan
ekstensoren
finger dan
tumb : 3

fleksoren dan
ekstensoren finger
dan tumb : 3

Kekuatan otot
meningkat

32

D. Modifikasi
Setelah kondisi penderita benar-benar sudah stabil, maka latihan ditingkatkan
dari latihan pasif menjadi latihan dan aktif mandiri dengan pengawasan.
Pasien diedukasikan jangan melakukan pembebanan terhadap lengan yang
sakit, diedukasi gerakan aktif pada ekstremitas yang sehat dan memelihara
kekuatan otot tungkai yang sakit dengan edukasi kontraksi isometrik.

E. Kemitraan

Melakukan kolaborasi/kemitraan dalam rangka memberikan layanan prima


kepada pasien, di antaranya dengan :
a. Keluarga pasien
b. Dokter Orthopedi
c. Dokter Psikiatri
d. Perawat

33

DAFTAR PUSTAKA

1. Aras, D. 2013. Proses dan Pengukuran Fisioterapi. Universitas Hasanuddin :


Program Studi Fisioterapi Fakultas Kedokteran.
2. Carter Michel A., Anatomi dan Fisiologi Tulang dan Sendi dalam: Price
Sylvia A, Wilson Lorraine McCarty. Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses Penyakit. Edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2006.Hal
1357-1359.
3. Eiff et. al., Radius and Ulna Fractures in : Fracture Management For Primary
Care. Second Edition. Publisher Saunders. UK. 2004. Page 116 -119.
4. Handkerchief

el-Ahmed.

Refarat Fraktur Tulang Radius.

Diunduh

dari:http://www.kumpulaninformasi.com/article-el-ahmed-handkerchief
referat-fraktur-tulang-radius.html. (online) diunduh 28 April 2014.
5. Kune Wong Siew, Peh Wilfred C. G., Trauma Ekstremitas dalam : Corr Peter.
Mengenali Pola Foto-Foto Diagnostik.

Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Jakarta. 2011. Hal 97-107.


6. Rasad Sjahriar, Radiologi Diagnostik. Edisi kedua, cetakan ke-6. Penerbit
Buku Balai Penerbitan FKUI. Jakarta. 2009. Hal 31-43.
7. Rasjad Chairuddin, Struktur dan Fungsi Tulang dalam: Rasjad Chairuddin.
Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi.

Cetakan keenam.

Penerbit PT. Yarsif

Watampone. Jakarta. 2009. Hal 6-11.


8. Rasjad, C. Trauma Pada Tulang dalam : Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi.
Edisi Ketiga. Penerbit Yarsif Watampone. Jakarta. 2007. Hal 374-377.
9. Soetikno, R.

Cedera Epifisis dalam :

Radiologi Emergensi.

Cetakan

Pertama. Penerbit Refika Aditama. Bandung. 2011. Hal 170-202.

34

10. Patel Pradip R., Sistem Skeletal dalam: Patel Pradip R.

Lecture Notes

Radiologi. Edisi kedua. Penerbit Buku Erlangga. Jakarta. 2005. Hal 191-194.

35