Anda di halaman 1dari 7

D.

ASAS-ASAS HPI DALAM HUKUM BENDA


Klasifikasi jenis benda
Teori HPI mengenal 2 (dua) asas utama yang menetapkan bahwa klasifikasi
semacam itu harus dilakukan berdasarkan :
a. Hukum dari tempat gugatan atas benda diajukan (lex fori)
b. Hukum dari tempat benda berada / terletak (lex situs)

Status Benda-Benda Bergerak


Beberapa asas HPI menetapkan bahwa status benda bergerak ditetapkan
berdasarkan :
c. Hukum dari tempat pemegang hak atas benda tersebut (besitter atau
eigenaar) berkewarganegaraan (asas nasionalitas).
d. Hukum dari tempat pemegang hak atas benda tersebut berdomicilie (asas
domicile).
e. Hukum dari tempat benda terletak (lex situs)

Status Benda tetap


f. Asas umum yang diterima di dalam HPI menetapkan bahwa status bendabenda tetap ditetapkan berdasarkan lex rei sitae atau lex situs atau hukum
dari tempat benda berada / terletak.

Status Benda Tak Berwujud


Asas-asas HPI yang relevan denga usaha penentuan status benda-benda tak
berwujud di antaranya menetapkan bahwa yang harus diberlakukan adalah
sistem hukum dari tempat:
g. Kreditur atau pemegang hak atas benda itu berkewarganegaraan atau
berdomicile (lex patriae atau lex fomicili)
h. Gugatan atas benda-benda itu diajukan (lex fori)
i. Pembuatan perjanjian hutang piutang (khusus untuk perjanjian hutang
piutang) (lex loci contractus)

j. Yang sistem hukumnya dipilih oleh para pihak dalam perjanjian yang
menyangkut benda-benda itu (choice of law)
k. Yang memiliki kaitan yang paling nyata dan substansial terhadap transaksi
yang menyangkut benda tersebut (the most substantial connection)
l. Pihak yang prestasinya dalam perjanjian tentang benda yang bersangkutan
tampak paling khas dan karakteristik (the most characteristic connection).

Tentang Jaminan-Jaminan
Bila hendak dimasalahkan berdasarkan kaidah hukum mana masalah validitas
jaminan-jaminan itu harus ditentukan, maka dapat dilihat beberapa
kemungkinan, yaitu bahwa hukum yang seharusnya berlaku adalah :
m. Hukum dari tempat si pemegang jaminan (kreditur) menjadi warga negara
atau berdomicili atau
n. Hukum dari tempat yang memiliki kaitan yang paling substansial dengan
perjanjian induknya, atau
o. Hukum yang dipilih para pihak sebagai the applicable law dalam
perjanjian induknya, atau dalam hal tidak ada pilihan hukum. Hukum yang
merupakan the proper law of contract dari perjanjian induknya (choice of
law)

E. ASAS-ASAS HPI DALAM HUKUM PERJANJIAN


1. Pendahuluan
Dalam Hukum Perdata Internasional persoalan pokok di bidang ini adalah
penentuan the proper law of contract (hukum yang seyogyanya
diberlakukan untuk mengatur masalah-masalah yang ada di dalam suatu
kontrak),
2. Pengertian The Proper Law Of Contract
Konsep proper law ini sebenarnya bertitik tolak dari anggapan dasar
bahwa setiap aspek dari sebuah kontrak pasti terbentuk berdasarkan suatu

sistem hukum, walaupun tidak tertutup kemungkinan bahwa pelbagai


aspek dari suatu kontrak diatur oleh pelbagai sistem hukum yang berbeda.
3. Asas-asas dan Teori-teori tentang Penentuan The Proper Law of
Contract
Di bawah ini akan ditinjau secara singkat mengenai beberapa asas dan atau
teori yang berkembang dalam HPI.
a. Teori Lex Loci Contractus
Tindakan terakhir (last act) yang dibutuhkan untuk terbentuknya
kesepakatan (agreement)
b. Asas Lex Loci Solutionis
Hukum dari tempat pelaksanaan perjanjian (locus solutions)
c. Asas Kebebasan Para Pihak (Party Autonomy)
Setiap orang pada dasarnya memiliki kebebasan untuk mengikatkan
diri pada perjanjian.
Beberapa pembatasan (restrictions) yang dikembangkan dalam HPI
untuk menetapkan validitas suatu pilihan hukum, antara lain :
(1) Bila pilihan hukum dimaksudkan hanya untuk membentuk atau
menafsirkan

persyaratan-persyaratan

dalam

kontrak,

maka

kebebasan para pihak pada dasarnya tidak dibatasi.


(2) Pilihan hukum tidak boleh melanggar public policy atau public
order (keterlibatan umum) dan sistem-sistem hukum yang
mempunyai kaitan yang nyata dan substansial terhadap kontrak.
(3) Pilihan hukum hanya dapat dilakukan ke arah suatu sistem hukum
yang berkaitan secara substansial dengan kontrak.
(4) Pilihan

hukum

tidak

boleh

dimaksudkan

sebagai

usaha

menundukkan seluruh kontrak atau bagian tertentu dari kontrak


mereka

pada

suatu

sistem

hukum

asing,

sekedar

untuk

menghindarkan diri dari suatu kaidah hukum yang memaksa dari


sistem hukum yang seharusnya berlaku seandainya tidak ada
pilihan hukum.

(5) Pilihan hukum hanya dapat dilakukan untuk mengatur hak dan
kewajiban yang timbul dari kontrak.
(6) Pilihan hukum ke arah suatu sistem hukum tertentu harus dipahami
sebagai suatu sachnormverweisung

4. Doktrin-Doktrin di dalam HPI Inggris


Di Inggris terdapat 2 (dua) kelompok teori utama, yaitu :
(a) Yang mendasarkan diri pada maksud para pihak (intention of the
parties) dan
(b) Yang bertitik tolak dari penentuan tempat di mana kontrak seharusnya
berada (localization of contract)
a. Menurut pandangan yang pertama, The proper law of contract
adalah hukum yang dikehendaki oleh para pihak untuk diberlakukan
terhadap kontrak mereka.
b. Menurut pandangan ini the proper law adalah hukum dari negara
yang dapat dianggap sebagai tempat di mana kontrak terlokalisir.

5. Doktrin-Doktrin dalam Conflict of Laws Amerika Serikat


Pendekatan yang berkembang di Amerika Serikat berjalan seiring dengan
perkembangan teori-teori HPI modern dan dapat dibedakan ke dalam
kelompok :
a. Traditional approach yang pada dasarnya menggunakan satu titik taut
utama untuk menentukan hukum yang berlaku terhadap semua
persoalan yang timbul dari sebuah kontrak.
b. Modern approach yang lebih mengutamakan perlindungan terhadap
harapan-harapan yang sah dari pihak-pihak dalam perjanjian.
Jadi, penentuan the proper law menurut pendekatan modern akan
cenderung mementingkan :
-

Lex Validitas

Masalah-masalah khusus yang hendak diatur di dalam suatu kontrak


tertentu (subject matter of the contract).

Beberapa Variasi Utama


The Goverment Interest Approach pada dasarnya menekankan pada
kepentingan forum untuk memberlakukan hukumnya pada transaksi dari
para pihak.
The Restatement, Second, Conflict of Laws pada dasarnya menekankan
pada penerapan hukum dari tempat yang memiliki relasi paling signifikan
terhadap transaksi dan terhadap para pihak.

6. Die Charakteristische Leistung Theorie


Menurut teori ini, sistem hukum yang seyogyanya menjadi the proper law
of contract adalah sistem hukum dari pihak yang dianggap memberikan
prestasi yang khas dalam suatu jenis / bentuk kontrak tertentu.
Teori ini menganjurkan agar semua unsur di dalam kontrak yang
bersangkutan.

F. ASAS-ASAS HPI TENTANG PERBUATAN MELAWAN HUKUM


(TORT / ONRECHTMATIGE DAAD)
Asas-asas dan doktrin utama yang berkembang di dalam doktrin HPI untuk
menjawab masalah-masalah itu antara lain :
1. bahwa penentuan kualitas suatu perbuatan sebagai perbuatan melawan
hukum (atau tidak) harus dilakukan berdasarkan hukum dari tempat
perbuatan itu dilakukan (tex loci delict), termasuk penetapan tentang
perikatan-perikatan yang terbit dari perbuatan itu.
2. Sama dengan butir 1 di atas, hanya perikatan-perikatan yang timbul dari
perbuatan itu (penetapan ganti rugi dan sebagainya) harus diatur
berdasarkan hukum dari tempat timbulnya akibat dari perbuatan itu.
3. Bahwa penentuan kualitas suatu perbuatan sebagai perbuatan melawan
hukum harus ditentukan oleh hukum forum (lex fori).

4. Bahwa penentuan kualitas suatu perbuatan sebagai suatu perbuatan


melanggar hukum serta hak dan tanggung jawab yang terbit dari para
pihak.
5. Bahwa hukum yang berlaku untuk menyelesaikan perkara harus ditetapkan
setelah memperhatikan kebijaksanaan-kebijaksanaan umum (policies) dari
negara-negara hukumnya yang terlibat dalam perkara.
6. Dalam sisitem HPI Inggris berkembang suatu general rule yang perlu
diperhatikan agar suatu tuntutan ganti rugi terhadap perbuatan melanggar
hukum dapat berhasil, yaitu :
a. Suatu gugatan ganti rugi atas suatu perbuatan yang dianggap tort
berdasarkan lex loci delicti akan ditolak seandainya perbuatan
semacam itu menurut hukum Inggris bukan merupakan perbuatan
melawan hukum yang dapat diajukan ke pengadilan (not actionable in
England).
b. Penggugat harus membuktikan bahwa sesuai lex loci delict commissi,
memang telah terjadi perbuatan melanggar hukum yang dapat
diperkarakan (actionable by the lex loci delicti commissi).

G. ASAS-ASAS HPI TENTANG HUKUM PEWARISAN


Seringkali bersumber pada 2 (dua) masalah pokok, yaitu :
1. Adanya tata cara pewarisan yang diatur berdasarkan undang-undang.
2. Adanya keinginan tegas pewaris yang dinyatakan melalui testamen dan
yang harus diwujudkan terhadap harta peninggalannya setelah ia
meninggal dunia.

Fakta-fakta dalam perkara pewarisan yang secara potensial yang umumnya


dapat mempertautkan perkara dengan suatu sistem hukum (lokal atau asing)
adalah :
-

Status dan kedudukan benda / harta peninggalan

Penentuan kapasitas hukum / kemampuan hukum si pewaris

Penentuan validitas substansial dan atau formal dari testamen

Beberapa asas HPI untuk menentukan hukum yang berlaku dalam


persoalan pewarisan, misalnya :
1. Umumnya diterima asas bahwa dalam hal benda yang menjadi objek
pewarisan merupakan benda tetap.
2. Bila benda-benda yang menjadi obyek pewarisan adalah benda-benda
bergerak.
3. Hukum dari tempat pewaris berdomisili atau menjadi warga negara
pada saat ia meninggal dunia