Anda di halaman 1dari 12

UJI NYALA API

I. Tujuan
Mengidentifikasi senyawa anion kation
II. Dasar Teori
Logam alkali adalah unsur- unsur golongan IA (kecuali hidrogen), yaitu litium,
natrium, kalium, rubidium, sesium, dan fransium. Kata alkali berasal dari bahas Arab
yang berarti abu. Air abu bersifat basa. Oleh karena logam-logam golongan IA
membentuk basa-basa kuat yang larut air, maka disebut logam alkali. Kecenderungan
sifat logam alakali sangatlah beraturan. Dari atas ke bawah, jari-jari atom, dan massa
jenis (rapatan) bertambah, sedangkan titik cair dan titik didih berkurang.
Sementara itu energi pengionan dan keelektronegatifan berkurang. Logam alkali
merupakan golongan logam yang paling reaktif. Kereaktifan meningkat dari ats ke
bawah (dari litium ke fransium). Hampir semua senyawa logam alkali bersifat ionic
dan mudah larut dalam air.
Unsur-unsur Golongan ALKALI ( I A)
Nama Unsur Lambang Nomor Atom Konfigurasi Elektron

Litium Li 3 1s2 2s1

Natrium Na 11 [Ne] 3s1

Kalium K 19 [Ar] 4s1

Rubidium Rb 37 [Kr] 5s1

Sesium Cs 55 [Xe] 6s1

Fransium Fr 87 [Rn] 7s1


Sifat-sifat logam alkali secara umum:
1) Unsur logam sangat aktif
2) Meripakan Reduktor kuat
3) Bersifat Basa
4) Mengkolat,lunak,dapat ditempa

yang

artinya

cara

pembuatannya

atau

pengolahannya
dengan dipukul-pukul ( besi ) untuk dibuat perkakas seperti pisau
5) Dibandingkan dengan golongan lain titik lelehnya sangat rendah
6) Suhu lebur diatas suhu kamar
7) Pada suhu kamar berupa zat padat
8) Dalam satu golongan dari atas kebawah,titik didih,titik lebur,kereaktifannya
bertambah
Keberadaaan logam ALKALI
Logam alkali ditemukan dibumi dalam bentuk senyawa seperti senyawa NaCl dan KCl
yang ditemukan pada air laut. Selain itu logam ALKALI seperti Na dan K juga
ditemukan di kulit bumi sebagai natron,kriolit,albit,silvit,karnalait, dan feldspar.

Adapun logam0logam seperti Li,Cs, dan Rb terdapat dalam mineral fosfat trifilit, dan
pada mineral silikat lepidolit dapat ditemukan Litium yang bercampur dengan
Alumunium.
Reaksi Logam-logam ALKALI diantaranya:
1) Bereaksi dengan Clor membentuk senyawa klorida yang stabil, 2L (s) + Cl2 (g)
menjadi 2LCl (s) + Energi
2) Bereaksi dengan Air dan membebaskan banyak energi. Reaksinya dengan Air
makin kebawah makin kuat ( sifatnya semakin aktif ) sehingga logam ALKALI,
biasanya disimpan dalam minyak tanah dan minyak parafin. Di alam tidak tredapat
dalam keadaan bebas.
3) Dapat bereaksi dengan O2 membentuk Oksida,Peroksida atau Superoksida 4Li (s) +
O2 (g) menjadi 2Li2O (s) (Oksida biasa) 2Na (s) + O2 (g) menjadi Na2O2 (s)
(Peroksida) K (s) + O2 (g) menjadi KO2 (s) (Superoksida)
4) Dengan Hidrogen membentuk Hidrida 2L (s) + H2 (g) menjadi 2LH (s)
5) Dengan Nitrogen, hanya Li yang dapat bereaksi 6Li (s) + N2 (s) manjadi 2Li3N (s)
6) Reaksi logam ALKALI dan Halogen 2L (s) + X2 manjadi 2LX
7) Reaksi logam ALKALI dan belerang 2L (s) + S (g) menjadi L2S (s)
Pembuatan logam ALKALI
Reaksi pembuatan logam alkali dari senyawanya merupakan reaksi reduksi. Logamlogam alkali dapat diperoleh dari elektrolisis leburan garam-garamnya.
Kegunaan Logam ALKALI
a) NaCl, garam dapur ( garam meja );pengawet makanan ; bahab baku pembuatan
NaOH,Na2CO3,logam Na dan gas klorin
b) Na2CO3, soda cuci ; pelunak kesadahan air ; zat pembersih peralatan rumah
tangga ; pembuat gelas ; industri kertas ; sabun ; deterjen ; minuman botol.
c) NaHCO3,soda kue ; campuran pada minuman dalam botol agar menghasilkan
CO2 ; bahan pemadam api ; obat-obatan ; bahan pembuat kue ; sebagai larutan
penyangga.
d) NaOCl,zat pengelantang untuk kain.
e) NaNO3,pupuk ; bahan pembuatan senyawa nitrat yang lain.
f) Na2SO4,garam glauber atau garam inggris ; obat pencahar ; zat pengering
untuk senyawa organik.
g) KBr digunakan sebagai obat penenang saraf (sedatif) ; pembuat plat fotografi
h) KIO3 untuk campuran garam dapur
i) K2Cr2O7 digunakan sebagai zat pengoksidasi
A.2 Definisi Alkali Tanah.
Logam alkali tanah terdiri dari 6 unsur yang terdapat di golongan IIA. Yang
termasuk ke dalam golongan II A yaitu : Berilium (Be), Magnesium (Mg), Calcium
(Ca), Stronsium (Sr), Barium (Ba), dan Radium (Ra). Di sebut logam karena memiliki
sifat sifat seperti logam.

Disebut alkali karena mempunyai sifat alkali atau basa jika direaksikan dengan
air. Dan istilah tanah karena oksidasinya sukar larut dalam air, dan banyak ditemukan
dalam bebatuan di kerak bumi. Oleh sebab itu, istilah alkali tanah biasa digunakan
untuk menggambarkan kelompok unsur golongan II A. Berbeda dengan golongan IA,
golongan IIA banyak yang sukar larut dalam air. Unsur-unsur golongan IIA umumnya
ditemukan dalam tanah berupa senyawa tak larut. Oleh karena itu disebut logam alkali
tanah (alkaline earth metal).
Di logam alkali tanah berilium ke barium jari-jari atom bertamabh besar,
sehingga energy ionisasi serta keelektronegatifan berkurang. Akibat, kecenderungan
untuk melepas electron membentuk senyawa ion makin besar.
A.3 Reaksi Nyala Logam Alkali dan Alkali Tanah
Salah satu cirri khas dari suatu unsru ialah spectrum emisinya. Unsur yang
tereksitasi, karena pemanasan ataupun karena sebab lainnya, memancarkan radiasi
elektromagnetik yang disebut spektrum emisi. Spektrum emisi teramati sebagai
pancaran cahaya dengfan warna tertentu, akan tetapi sesunggunya spectrum itu terdiri
atas beberapa garis warna (panjang gelombang) yang khas bagi setiap unsure. Karena
keunikan, spectrum emisi dapat digunakan untuk mengenali suatu unsure.
Unsur- unsure logam dapat dieksitasikan dengan memanaskan/membakar
senyawanya apada nyala api, mislanya pada pembakar Bunsen atau pembakar spiritus.
Akan lebih baik jika yang digunakan garam klorida karena relatif lebih mudah
menguap.
Warna Nyala Unsur-Unsur Alkali dan Alkali Tanah
UNSUR
Litium

WARNA NYALA
Merah

UNSUR
Berilium

WARNA NYALA
Putih

Natrium
Kalium

Kuning
Ungu

Magnesium
Kalsium

Putih
Jingga-Merah

Rubidium
Sesium

Merah
Biru

Stronsium
Barium

Merah
Hijau

A.4 Pengertian Unsur-Unsur Alkali dan Alkali Tanah


Barium adalah logam putih perak, dapat ditempa dan liat, yang stabil dalam
udara kering. Barium bereaksi dengan air dalam udara yang lembab, membentuk
oksida atau hidriksida. Barium melebur pada 710C. pada uji kering (pewarnaan
nyala) , garam garam barium bila dipanaskan pada nyala Bunsen yang tak cemerlang
(yakni kebiru-biruan), memberi warna hijau-kekuningan kepada nyala. Karena
kebanyakan garam barium, kecuali kloridanya, tak mudah menguap, kawat platinum
harus dibasahi asam klorida pekat sebelum dielupkan ke dalam zat itu. Sulfat mula-

mula direduksi, lalu sibasahi asmklorida pekat, dan dimasukkan kembali ke dalam
nyala.
Stronsium adalah logam putih-perak, yang dapat ditempa dan liat. Stronsium
melebur pada 771C. sifat sifatnya serupa dengan barium senyawa senyawa
stronsium yang mudah menguap, terutama kloridanya, memberi warna merah-karmin
yang khas pada nyala Bunsen yang tak cemerlang.
Kalsium adalah logam putih perak, yang agak lunak. Ia melebur pada 845C.
Ia terserang oleh oksigen atmosfer dan udara lembab; pada reaksi ini terbentuk
kalsium oksida dan/atau kalsium hidroksida. Kalsium menguraikan air dengan
membentuk kalsium hidroksida dan hidrogen. Pada uji kering atau pewarnaan nyala
senyawa senyawa kalsium yang mudah menguap, memberi warna merahkekuningan kepada nyala Bunsen.
Kalium adala logam putih perak yang lunak. Logam ini melebur pada 63,5C.
ia tetap tak berubah dalam udara kering, tetapi dengan cepat teroksidasi dalam udara
lembab, menjadi tertutup dengan suatu lapisan biru. Logam itu menguraikan air
dengan dahsyat, sambil melepaskan hidrogen dan terbakar dengan nyala lembayung :
2K+ + 2H20
2K+ + 2OH- + H2
Kalium biasanya disimpan dalam pelarut nafta. Garam garam kalium
mengandung kation monovalen K+. Garam-garam ini biasanya larut dalam membentuk
larutan yang tak berwarna, kecuali bila anionnya berwarna.pada uji kering (pewarnaan
nyala) senyawa-senyawa kalium, sebaiknya kloridanya, mewarnai nyala Bunsen yang
tak cemerlang menjadi ungu. Nyala kuning yang dihasilkan oleh natriun dalam jumlah
sedikit, mengganggu warna lembayung itu, tetapi dengan memandang nyala melalui
dua lapisan kaca kobalt yang warna biru, sinar-sinar natrium yang kuning akan diserap
sehingga nyala kalium yang lembayung kemerahan jadi terlihat. Larutan tawas krom
(310 -1) setebal 3 cm, juga merupakan penyaring yang baik.
Natrium adalah logam putih-perak yang lunak, melebur pada 97,5C. natrium
teroksidasi dengan cepat dalam udara lembab,maka harus dismpann terendam
seluruhnya dalam pelarut nafta atau silena. Logam ini bereaksi keras dengan air.
Untuk uji kering (pewarnaan nyala) nyala Bunsen yang tak cemerlang akan diwarnai
kuning kuat oleh uap garam natrium. Warna ini tak terlihat bila di pandang melalui
dua lapisan lempeng kaca kobalt yang biru. Garam natrium dalam jumlah sedikit
sekali memberi hasil posotif pada uji ini, dan hanya warna natrium terdapat dalam
jumlah yang berarti (Setiono, 1990)
Telah diketahui bersama bahwa akan dihasilkan warna jika suatu campuran
yang

mengandung

logam

diuapkan

dalam

nyala

api.

Seperti

pada

percobaan pembakaran garam Na dengan nyala Bunsen akan dihasilkan nyala kuning,

pembakaran garam Ca akan menghasilkan nyala api merah bata dan pembakaran
garam Ba akan menghasilkan nyala api hijau. Warna nyala api dari setiap unsur
tersebut memiliki panjang gelombang tertentu

III. Alat dan Bahan


III.1
Alat dan Bahan
Tabel 4. Alat dan Bahan
Alat
Lampu Bunsen

Jumlah
1 buah

Bahan
Jumlah
Garam klorida Secukupnya
dari

natrium,

kalium, kalsium,
stronsium,

dan

barium.
Kawat nikrom
1 buah
Kaca arloji
1 buah
Gelas kimia 100 1 buah
mL
Spatula

HCl pekat
Sampel B
Sampel D

Secukupnya
Secukupnya
Secukupnya

buah

IV. Prosedur Kerja


Identifikasi Kation dan Anion
a. Membersihkan kawat nikrom terutama pada ujung kawat (tempat sampel) dengan cara
sebagai berikut. Memasukkan ujung kawat nikrom ke dalam larutan HCl pekat dan
selanjutnya membakar kawat nikrom tersebut di dalam nyala api pada daerah nyala
paling panas (b). Prosedur ini terus dilakukan sampai warna yang dihasilkan dari
pembakaran kawat nikrom tersebut menghasilkan warna putih yang berarti kawat
tersebut telah bersih.
b. Mengambil masing-masing 2 sendok spatula garam-garam kloridan (Na, Ba, Ca, K,
Sr) yang ditempatkan dalam masing-masing kaca arloji.

c. Menambahkan beberapa tetes HCl pekat ke dalam sampel tersebut sehingga


menghasilkan sampel yang kental.
b.

Menempelkan bagian ujung kawat nikrom ke dalam sampel yang


mengandung logam natrium.

c.

Membakar kawat nikrom yang telah berisi sampel tersebut dalam


nyala api Bunsen pada daerah oksidasi bawah.

d.

Mengamati dan mencatat warna nyala yang ditimbulkan

e. Mengamati warna nyala dengan menggunakan kaca kobalt untuk mendapatkan data
hasil pengamatan yang lebih baik.
f. Membersihkan kembali kawat nikrom untuk praktikum sampel berikutnya.
g. Melakukan pengulangan langkah c sampai dengan h di atas untuk sampel yang
mengandung unsur logam Ba, Ca, K, dan Sr.
h. Membandingkan warna nyala yang didapatkan dengan yang tertera pada tabel 3.
i. Melakukan prosedur yang sama untuk sampel unknown (dipersiapkan laboran)
j. Menentukan unsur logam penyusun sampel unknown tersebut.

V. Hasil
Hasil Pengamatan
Tabel 5. Data Hasil Pengamatan
Sampel
NaCl
KCl
CaCl2
SrCl2
BaCl2
Sampel B
Sampel D

VI. Pembahasan

Warna Nyala
Tanpa Kaca Kobalt
Dengan Kaca Kobalt
Kuning keemasan
Violet(ungu)
Merah padam
Merah bata
Hijau muda
Merah padam
Ungu
Hijau kekuningan
Hijau kebiruan
Hijau kekuningan
Hijau kebiruan
Violet(ungu)
Merah padam

Uji dengan nyala api dilakukan sesuai dengan prosedur kerja. Sebelum melakukan
praktikum uji nyala, dilakukan pengaturan nyala Bunsen sehingga diperoleh nyala yang
kebiruan. Lampu Bunsen saat dinyalakan dibagian bawah berwarna biru sedangkan pada
bagian atas berwarna jingga. Hal ini karena pembakar Bunsen yang tersedia tidak
sempurna, sehingga tidak dapat dihasilkan warna nyala yang kebiruan. Pada saat cincin
pengatur udara dibuka bentuk api agak bulat atau besar disebabkan jumlah oksigen untuk
pembakaran banyak. Pada saat cincin pengatur udara ditutup (oksigen sedikit) bentuk api
agak kerucut, disebabkan kerena oksigen untuk pembakaran sedikit. Pada saat kran
pengatur gas dibuka, nyala api besar karena bahan bakar tersedia banyak. Pengaturan
nyala ini akan memudahkan di dalam mengamati warna nyala dari kation selama proses
pembakaran.
Dalam uji nyala digunakan kawat nikrom yang telah ditancapkan pada sebatang
gelas. Digunakan kawat nikrom karena kawat nikrom bersifat inert atau tidak mudah
bereaksi, dalam artian kawat nikrom tersebut tidak teroksidasi dan tidak tereduksi. Kawat
nikrom tersebut dibersihkan terlebih dahulu dengan menggunakan larutan HCl pekat dan
dibakar pada daerah peleburan atau daerah nyala paling panas(b) dari nyala Bunsen.
Pembakaran pada daerah nyala paling panas bertujuan agar pengotor-pengotor pada
kawat mudah dilebur sehingga kawat nikrom menjadi bersih. Kawat nikrom bersih bila
tidak tidak memberikan warna pada nyala. Jika kawat nikrom sudah bersih uji nyala
sampel dapat dilakukan.
Sampel untuk uji nyala dibuat dari garam-garam klorida yang diberikan beberapa
tetes HCl pekat sampai menghasilkan sampel yang kental. Penggunaaan sampel berupa
garam-garam klorida karena klorida termasuk senyawa yang sangat mudah menguap dan
pada saat dibakar tidak menunjukkan warna nyala sehingga pada saat pembakaran hanya
terlihat warna nyala unsur logam penyusun sampel tersebut. Sedangkan penambahan HCl
pekat ke dalam sampel sampai kental bertujuan agar sampel tersebut dapat menempel
pada ujung kawat nikrom.
Ujung kawat nikrom yang telah berisi sampel dibakar pada daerah oksidasi bawah.
Pembakaran sampel dilakukan pada daerah oksidasi bawah karena pada daerah tersebut
sampel dioksidasi sehingga unsur logam penyusun sampel menguap dan dihasilkan warna
nyala sesuai dengan warna nyala unsur logam penyusun sampel tersebut. Pembakaran
pada daerah oksidasi bawah hanya digunakan untuk sampel yang mengandung unsur
logam alkali. Sedangkan untuk sampel yang mengandung unsur logam alkali tanah
dipanaskan pada daerah peleburan agar lebih cepat menguap.Warna nyala yang
dihasilkan

oleh

masing-masing

logam

berbeda-beda

sesuai

dengan

panjang

gelombangnya sehingga energi yang dihasilkan juga berbeda. Warna nyala dapat diamati
dengan menggunakan kaca kobalt dan dapat pula diamati tanpa kaca kobalt. Warna nyala
yang diamati dengan kaca kobalt berbeda dengan warna nyala yang diamati tanpa kaca
kobalt. Hal ini disebabkan karena kaca kobalt tersebut berfungsi untuk menyerap polutan
cahaya.
Berdasarkan tabel hasil pengamatan, sampel yang digunakan dalam uji nyala ini
adalah sampel yang mengandung unsur logam golongan IA (kalium dan natrium) dan
golongan IIA (barium, stronsium, dan kalsium). Golongan alkali dan alkali tanah ini jika
dibakar akan menghasilkan warna nyala yang khas dan mudah diamati dengan mata
telanjang. Golongan alkali dan alkali tanah memiliki elektron valensi pada subkulit s
dengan elektron valensi masing-masing 1 dan 2. Golongan alkali dan alkali tanah ini juga
memiliki kecendrungan untuk melepaskan elektronnya sehingga pada saat diberikan
pengaruh dari luar yaitu berupa panas maka logam-logam golongan alkali dan alkali
tanah akan melepaskan elektronnya membentuk atom logam berenergi tinggi atau dalam
keadaan tereksitasi. Dalam keadaan tereksitasi ini atom logam alkali dan alkali tanah
tersebut bersifat tidak stabil sehingga mudah kembali ke keadaan semula dengan cara
memancarkan energi dalam bentuk cahaya atau warna nyala. Pada proses pembakaran
sampel yang mengandung logam alkali dan alkali tanah maka logam-logam tersebut
akan membentuk oksida, peroksida ataupun superoksida tergantung dari jumlah oksigen
yang digunakan dalam pembakaran tersebut. Berikut ini beberapa reaksi yang terjadi dari
pembakaran sampel tersebut:
a. Pembakaran garam kalium:
b. Pembakaran
natrium:2K O + 2Cl
4KCl(s) + Ogaram
2 (s)
2(g)
2(g)
c. Pembakaran
4NaCl(s) + garam
O2(g) barium: 2Na2O(s) + 2Cl2(g)
d. Pembakaran
2BaCl2(s) +garam
O2(g) kalsium: 2BaO(s) + 2Cl2(g)
e. Pembakaran
2CaO(s) + 2Cl2(g)
2CaCl2(s) +garam
O2(g) stronsium:
2SrO(s) + 2Cl2(g)
2SrCl2(s) + O2(g)
Oksida-oksida yang dihasilkan dari pembakaran sampel tersebut akan menempel
pada ujung kawat nikrom sehingga untuk uji sampel berikutnya, kawat nikrom tersebut
harus dibersihkan terlebih dahulu dengan menggunakan larutan HCl pekat dan dibakar.
Warna nyala dari sampel yang telah diuji dapat dilihat pada tabel 5 dan data yang
didapatkan sesuai dengan warna nyala standar untuk logam-logam alkali dan alkali tanah
pada tabel 3. Dari spektrum warna yang dihasilkan dan data rentangan panjang
gelombang pada tabel tabel 1 maka dapat dihitung rentangan energi yang dihasilkan oleh

spektrum warna tersebut. Besarnya energi yang dihasilkan dar masinga-masing spektrum
warna dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
E

hc

Dengan E = energi
h = tetapan Planck(6,626 x 10-34Js)
= panjang gelombang (m)
c = cepat rambat cahaya (3 x 108 m/s)
Sehingga:
E
E
E

hc

6,626 x 10 34 Js x 3 x 10 8 m/s

-25
1,987 x 10 Jm

Dengan memasukkan nilai panjang gelombang pada persamaan di atas maka besarnya

energi untuk untuk masing-masing spectrum warna yang dihasilkan dapat dilihat pada
table di bawah ini:
Logam

Warna Nyala

Rentang panjang

Rentangan energi yang

Na

Api
Kuning

gelombang (nm)
570 585

dihasilkan(x 10-19 J)
3,485 3,396

Ba

keemasan
Hijau

490 570

4,055 3,485

Ca
K
Sr

kekuningan
Merah bata
Ungu
Merah padam

585 620
400 420
620 - 780

3,396 3,204
4,967 4,730
3,204 2,547

Untuk sampel yang unsur logam penyusunnya belum diketahui (unknown)


prosedur kerjanya sama dengan prosedur kerja untuk sampel yang telah diketahui. Hanya
saja pada sampel unknown, perlu dianalisis unsur logam penyususn sampelnya dari warna
nyala yang dihasilkan. Berdasarkan tabel hasil pengamatan, terlihat bahwa untuk sampel
B dengan mata telanjang memperlihatkan warna hijau kekuningan sedangkan dengan
kaca kobalt memperlihatkan warna hijau kebiruan. Untuk sampel D dengan mata
telanjang memperlihatkan warna ungu sedangkan dengan kaca kobalt memperlihatkan
warna merah padam. Jadi, setelah dibandingkan dengan tabel hasil pengamatan
sebelumnya yaitu tabel 5 maka Sampel B adalah sampel yang mengandung logam
barium(Ba) dan sampel D adalah sampel yang mengandung logam kalium(K).

VII.Kesimpulan dan Saran


7.1 Kesimpulan
Berdasarkan data hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa pembakaran suatu unsur
logam alkali dan alkali tanah melalui uji nyala dapat mengakibatkan zat tersebut
memancarkan radiasi cahaya sesuai dengan panjang gelombangnya masing-masing. Warna
radiasi cahaya yang dipancarkan untuk beberapa logam alkali dan alkali tanah adalah sebagai
berikut:
Logam
Natrium(Na)
Kalium(K)
Kalsium(Ca)
Stronsium(Sr)
Barium(Ba)

Warna Nyala
Tanpa Kaca Kobalt
Dengan Kaca Kobalt
Kuning keemasan
Violet(ungu)
Merah padam
Merah bata
Hijau muda
Merah padam
Ungu
Hijau kekuningan
Hijau kebiruan

Jika dibandingkan warna nyala yang dihasilkan oleh masing-masing logam berbeda-beda baik
diamati dengan mata telanjang ataupun diamati dengan menggunakan kaca kobalt.
7.2 Saran
Sebaiknya kebersihan laboratorium lebih dijaga

DAFTAR PUSTAKA
Braddy,J. 1999 .Kimia Universitas . Jakarta : Binarupa Aksara
Keenan,C., Kleinfelter.D. dan Wood,J . 1984 . Ilmu Kimia Untuk Universitas . Jakarta :
Erlangga
Laksono,E., Laniwati,M. dan Ikhsan,M . 2006 . Efek pH terhadap kemampuan adsorbsi
dengan kisaran logam . Jurnal Kimia Lingkungan . 3(1) : 32-34
Petrucci,R., Harwood,W., Herring,F. dan Madura, J. 2011 .Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga
Scarlett,A. 1958. College Chemistry. New York : Henry Holt and Company
Sunarya,Y. 2012. Kimia Dasar 2. Bandung : Yrama Widya

LAMPIRAN