Anda di halaman 1dari 11

PEMERIKSAAN Anti-HCV

Hari, tanggal : Kamis, 10 Oktober 2014


Temapt: Laboratorium Immunoserologi Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes
Denpasar

I.

TUJUAN
1.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui cara pemeriksaan rapid test Anti-HCV.
1.2 Tujuan Khusus

Untuk dapat melakukan pemeriksaan rapid test Anti-HCV.


Untuk dapat menginterpretasikan hasil pemeriksaan rapid test AntiHCV.

II.

METODE
Metode yang digunakan dalam pemeriksaan Anti-HCV ini adalah
Immunochromatography rapid test.

III. PRINSIP
Berdasarkan reaksi Immunologis antara antibody spesifik dalam
specimen dengan rekombinan antigen HCV capture (inti, NS3, NS4, NS5)
pada membrane test yang dilapisi protein A koloidal emas conjugate
membentuk

kompleks

antibodi-antigen.

Campuran

bermigrasi

di

sepanjang membrane test dan bereaksi menghasilkan garis berwarna.


IV.

DASAR TEORI
Hepatitis adalah suatu proses peradangan pada jaringan hati yang
memberikan lemah badan, mual ,kencing, seperti air the disusul dengan
mata dan badan menjadi kuning. Tidak semua penyakit hepatitis
mempunyai bentuk yang klasik seperti ini. Ada hepatitis yang tidak nyata
(inapparent

hepatitis),

ada

yang

tanpa

ikterik,ada

bentuk

yang

jiank(bening)dan ada yang ganas (fulminan). Hepatitis dapat disebabkan


oleh virus (penyebab terbanyak), bakteri (salmonella typhy), obat-obatan
racun(hepatotoksik)dan alcohol. Kini telah dikenal beberapa virus
penyebab peradangan hati yaitu : virus hepatitis A (VHA), Virus hepatitis
B(VHB),virus

hepatitis

C(VHC,non

non

B),virus

hepatitis

D(VHD),Virus hepatitis E(VHE)dan virus hepatitis G(VHG).


Hepatitis C adalah infeksi yang terutama menyerang organ hati.
Penyakit ini disebabkan oleh virus hepatitis C (HCV). Hepatitis C
seringkali tidak memberikan gejala, namun infeksi kronis dapat
menyebabkan parut (eskar) pada hati, dan setelah menahun menyebabkan
sirosis. Dalam beberapa kasus, orang yang mengalami sirosis juga
mengalami gagal hati, kanker hati, atau pembuluh yang sangat
membengkak di esofagus dan lambung, yang dapat mengakibatkan
perdarahan hingga kematian. Hepatitis C adalah hepatitis viral yang
disebabkan oleh virus Hepatitis C (vhc=hcv), dan tergolong dalam
kelompok hepatitis non-A ,non-B(NANB). Hepatitis viral inoi sering
terjadi setelah transfuse darah atau pemberian komponen darah sehingga
pada masa yang lalu hepatitis C ini disebut sebagai post transfusion NANB
hepatitis.
Seseorang terutama terkena hepatitis C melalui kontak darah,
penggunaan narkoba suntik, peralatan medis yang tidak steril, dan
transfusi darah. Sekira 130170 juta orang di dunia menderita hepatitis C.
Para ilmuwan mulai meneliti HCV pada tahun 1970-an, dan memastikan
keberadaan virus tersebut pada tahun 1989. Virus ini tidak diketahui
menyebabkan penyakit pada hewan lain. Dibeberapa daerah didapatkan
hepatitis non-A non-B yang tidak mempunyai riwayat transfuse, dan
disebut sebagai hepatitis sporadic atauu acquired community. Dari
penelitian selanjutnya ternyata 40-50% dari penderita hepatitis ini
menunjukkan antibody anti-HCV yang positif.
Pada umunya hepatitis C member gejala klinis yang relative ringan
bahkan sering tanpa gejala namun mempunyai kecenderungan untuk

menjadi menahun atau serosis hati yang lebih besar bila dibandingkan
dengan hepatitis viral yang lain. Peginterferon dan ribavirin merupakan
obat-obatan standar untuk HCV. Antara 50-80% pasien yang diobati
sembuh. Pasien dengan sirosis atau kanker hati mungkin memerlukan
transplantasi hati, namun biasanya virus muncul kembali setelah
transplantasi. Tidak ada vaksin untuk hepatitis C.
Stuktur Antigen Virus Hepatitis C
Virus hepatitis C merupakan virus RNA dengan genom berantai
tunggal, dengan polaritas positif, diameter 30-60nm, dan panjang sekitar
10kb. VCH merupakan virus yang peka terhadap pelarut organic seeperti
kloroform, terbungkus oleh envelop lipid dan termasuk dalam family
antara flavivirus dan pestivirus. Genom VHC terdiri dari sekitar 9413
nukleotida dan mengkode sekitar 3010 asam amino.
Menurut beberapa peneliti terdapat enam genotip strain VHC. Di
Indonesia genotip yang sering dijumpai adalah subtype 1b, dan subtype 1
baru yang tidak didapatkan di Negara lain. Genotipe VHC yang sering
dijumpai di Surabaya adalah subtype 1b, subtype 1 baru, 2a dan subtype
baru dari tipe 3. Genom VHC terdiri dari 3 bagian utama sebagai berikut :
Region non-coding ,terdiri dari 340 nukleotida dan belum banyak
diketahui funggsinya,
Region structural, terdiri dari region nukleokapsid atau core (c),
dan region envelope(surface=s),dan
Region non structural (NS), terdiri dari NS 1-NS5 dan sebagian
fungsi NS 2-NS5 tiddak diketahui.
Imunopatogenesis
Masa inkubasi dari Hepatitis C berkisar antara 2-20 minggu dengan
puncaknya antara 6-12 minggu dan rerata sekitar 7-8 minggu. Respon
imun yang terjadi setelah masuknya VHC kedalam hepatosit, sama dengan
respons imun penyakit yang lain, yaitu respons imun terhadap jasad renik
intraseluler dalam sitosol dari sel yang terinfeksi. Antigen dari virus yang

dibuat di dalam sitosol hepatosit akan merangsang MHC kelas 1 untuk


membuat polipeptida yang mengangkut antigen tersebut ke permukaan sel
untukdiikat oleh reseptor ddari limposit T CD8 sehingga sel ini teraktivasi.
Limposit TCD8 yang teraktivitas tersebut akan mengeluarkan
sitokin yang menghancurkan sel hepar, dan virus yang berada didepannya.
Akibatnya akan terjadi peningkatan kadar ALT dalam serum penderita
yang sering kali disertai oleh viremia. Beberapa menduga bahwa VHC
dapat merusak sel hati secara lansung (directly cytopathic) sebab ada
kaitan antara beratnya kerusakan sel hati dengan banyaknya virus.
Pola fluktuasi ALT serum pada hepatitis C khas periode
peningkatan ALT di selingi oleh periode ALT yang normal atau mendekati
normal. VHC atau beberapa bagian virus yang berada ekstraseluler dapat
ditangkap oleh beberapa reseptor pada permukaan limfosit B, dimasukan
kedalam vokuol, dan diproses, lalu dipaparkan pada permukaan limfosit B
dan ditangkap oleh reseptor limfosit T CD4 Th2. Sel CD4 Th2 yang
teraktivitasi akan mengalami transformasi blas menjadi sel plasma yang
mensekresi antibody spesifik terhadap antigen VHC. Serenkonversi sel
plasma yang mensekresi antibody spesifik terhadap antigen VHC.
Serekonversi biasanya terjadi 11-12 minggu setelah infeksi, behkan
dengan uji anti-HCV generasi II, antibody tersebut dapat dilacak 7-8
minggu setelah infeksi. Namun pada beberapa kasus, antibody tersebut
baru timbul setelah infeksi berjalan setelah 6-12 bulan.
Antibody

pertama

yang

biasa

timbul

adalah

antibody

terhadap core, dan biasanya dapat dilacak sesaat sebelum atau bersamaan
dengan peningkatan ALT serum.Antibody terhadap NS 3 biasanya timbul
bersamaan atau sesaat setelah antibodi terhadap protein core, namun
kadang kala (anti-C33c) dapat juga timbul sebelum anti-core, dapat
dideteksi. Anti C 100-3 (NS4) baru timbul 10-15 minggu setelah
peninghktan ALT. Hepatitis Cdikatakan menjadi menahun bila kenaikan
kadar ALT serum dan anti-HCV positif terjadi lebih dari 6 bulan atau 1
tahun. Factor yang berperan dalam perubahan hepatitis C akut menuju

menahun yaitu tingginya kadar ALT, sifat polifaksin, usia lanjut dan
gangguan imunologis.
Tes human anti HCV lgG antibody dikembangkan untuk
mendeteksi sirkulasi anti HCV lgG antibody dinyatakan sebagai petunjuk
infeksi hepatitis C virus, tes ini berdasarkan prinsip yang menggunakan
rekombinan HCV protein sebagai viral antigen. Pada langkah pertama anti
HCV lgG dalam specimen bila ada akan terikat pada protein rekombinan
HCV yang dilabel pada permukaan sumur microtitir. Setelah inkubasi
bagian specimen yang tidak terikat akan dipisahkan melalui pencucian,
pada pencucian ke dua anti human lgG konjugat ditambahkan akan
mengikat antibody spesifik manusia anti HCV lgG pada permukaan sumur
akan membentuk sandwich complex.

V.

ALAT DAN BAHAN


5.1 Alat:
Mikropipet 10 l
Yellow / white tip
Pipet disposible
Stopwatch
Wadah limbah
5.2 Bahan:
Sampel serum HCV 9
Rapid test Anti HCV (ACON)

VI.

CARA KERJA
1. Alat uji dikeluarkan dari dalam bungkus.
2. Diteteskan 10 L sampel, plasma atau darah pada lubang sampel.
3. Ditambahkan 4 tetes diluent assay pada kolom sampel yang sama.
4. Hasil dibaca dalam 5 20 menit. Jangan membaca hasil lebih dari 20
menit karena akan memberikan hasil yang salah.

VII. INTERPRETASI HASIL


Negatif
: hanya muncul garis warna pada daerah control C
Positif
: muncul garis warna pada control C dan test T
Invalid
: tidak muncul garis warna pada control C

VIII. HASIL PENGAMATAN


No.

Gambar

Keterangan

1.

a. Diluent assay HCV


tes
b. Strip test HCV (merk
ACON)

(a)

2.

(b)

Sampel serum pasien dengan


kode HCV 9

3.

Diteteskan 10 L sampel dan


4 tetes diluent assay pada
lubang yang sama. Setelah
diinkubasi selama 20 menit,
diperoleh
dengan

hasil
munculnya

negatif
garis

warna hanya pada daerah


control C.

IX.

PEMBAHASAN
Pemeriksaan Anti-HCV merupakan pemeriksaan darah untuk
mendeteksi keberadaan antibodi terhadap virus Hepatitis C (HCV). Bila
hasil Anti-HCV positif (reaktif), hal tersebut tidak menunjukkan
terbentuknya imunitas tubuh melainkan sebaliknya, maka sebaiknya segera
dikonsultasikan ke dokter.
Pada praktikum kali ini dilakukan pemeriksaan Rapid Test AntiHCV (Hepatitis C Virus) pada sampel serum kode HCV9 dengan metode
rapid kromatografi immunoassay. Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk
mendeteksi secara kualitatif ada tidaknya antibodi virus hepatitis C dalam
sampel serum pasien. Sampel serum yang dipergunakan sudah disiapkan
sebelumnya. Seacara visual, sampel serum yang digunakan berwarna kuning
dengan konsistensi kental. Sebelum memulai praktikum, semua perangkat
test dan sampel dikondisikan pada suhu ruang (15-30 oC). Hal ini
dikarenakan pada serum terdapat antibodi dimana

antibodi merupakan

protein dan protein dapat bereaksi optimal pada suhu ruang. Pemeriksaan
HCV ini dapat menggunakan plasma/serum/wholeblood tergantung dari
reagen dan test kit yang dipergunakan. Kebanyakan menggunakan
plasma/serum sebab sebagian besar antigen dalam bentuk glikoprotein yang
tersekresi lebih dari 48 kDa di supernatant membran plasma/serum.
Selanjutnya cassete test dikeluiarkan dari bungkusnya dan ditempatkan di
tempat yang datar dan kering. Pada praktikum ini pengujian dilakukan
dengan menggunakan perangkat uji Rapid Test Anti-HCV (ACON). Sampel
serum dihomogenkan terlebih dahulu agar semua komponen yang ada di
dalamnya bercampur merata sehingga sampel uji dapat representatif.
Sebanyak 10l sampel serum diteteskan secara vertikal pada sumur sampel
(tanda S) dari cassete test menggunakan disposible dropper yang ada dalam
test kit. Tujuan pemipetan secara vertikal adalah agar volume yang
dihasilkan tidak berkurang/tidak ada sampel yang bersisa pada pipet
(volume tepat 10l). Saat pemipetan juga sebaiknya ujung tip tidak
menyentuh cassete test/sumur sampel secara langsung untuk mencegah

kontaminasi. Setelah itu assay diluent dihomogenkan lalu diteteskan


sebanyak 4 tetes (90-120l) kedalam sumur yang sama dengan sampel.
Penetesan diluent juga sebaiknya vertikal dan berjarak 1cm dari sumur
untuk menghindari kontaminasi pada ujung botol diluent. Diluent berfungsi
untuk mengatur PH selama terjadinya reaksi, membantu dalam bermigrasi,
dan mengencerkan serum dengan rekombinan virus HCV sehingga
terbentuk kompleks. Hasil pemeriksaan dibaca dalam 15-20 menit dari
penambahan diluent (waktu inkubasi). Jika hasil dibaca setelah 20 menit
akan menunjukkan hasil invalid dan pemeriksaan harus diulang. Pembacaan
yang lebih dari 20 menit dapat menyebabkan hasil yang sebenarnya/tadinya
positif berubah menjadi negatif akibat terlepasnya ikatan konjugat koloid
emas antigen HCV dengan antibodi spesifik dalam sampel dan secara
otomatis kompleks antigen-antibodi tidak akan terbentuk lagi (hilang).
Waktu 15-20 menit merupakan operating time yaitu waktu optimum yang
diperlukan untuk membentuk kompleks antigen antibodi. Membran test
yang dilapisi dengan protein koloidal emas berupa antigen virus HCV yang
akan bereaksi dengan antibodi spesifik pada sampel pasien. Ikatan antigen
dan antibodi akan bermigrasi secara kromatografi ke daerah uji dan
membentuk garis warna. Pada pengujian yang dilakukan terbentuk garis
warna merah muda hanya pada daerah control (C) dimana dapat
diinterpretasikan didapat hasil negatif. Hal ini berarti dalam sampel serum
kode HCV9 tidak mengandung antibodi HCV (pasien tidak mengalami
infeksi virus hepatitis C).
Hal-hal yang harus diperhatikan selama praktikum antara lain :
Spesimen hemolisis, lipemia atau ikterik (hiperbilirubinemia) dapat
mempengaruhi pengujian.
Jika memungkinkan sebaiknya digunakan sampel segar.
Spesimen dapat disimpan pada suhu 2o-8oC selama 7 hari dan untuk
waktu yang lama dapat disimpan beku pada suhu -25o-6oC.
Hindari pembekuan dan pencairan (thawing) sampel berkali-kali.
Antikoagulan seperti heparin, EDTA, dan sodium sitrat tidak
mempengaruhi test.

Digunakan pipet kapiler disposible atau tip pipet secara terpisah


untuk mencegah kontaminasi silang dari setiap sampel yang
mengakibatkan kesalahan hasil.

X.

KESIMPULAN
Dari hasil pemeriksaaan Anti HCV pada sampel dengan kode
HCV 9 didapakan hasil negatif dengan ditandai munculnya garis warna
hanya pada daerah control C. hal ini juga menunjukan sampel HCV 9
negatif Hepatitis C.

DAFTAR PUSTAKA
Sutrimo,

Wayan.

2013.

Uji

HCV.

Online.

Available.

http://analiskesehatankendariangkatan5.blogspot.com/20
13/01/uji-hcv_14.html. diakses pada 13 Oktober 2014.
Ahmad,

Ihwan.

2012.

Hepatitis.

Online.

Available.

http://ahmadihwan.blogspot.com/2012/11/daftarisidaftarisi-imunokromatografi.html.

diakses

Oktober 2014.

LEMBAR PENGESAHAN
Denpasar, 17 Oktober 2014
Praktikan

( a. n Kelompok 4 ganjil )
Mengetahui

pada

13

Pembimbing I

(Dr. Ni kadek Mulyandari, Sp.Pk)

Pembimbing III

(I Ketut Adi Santika, A.Md. AK)

Pembimbing II

(Gst. Ayu Komang Dwi Hantari)

Pembimbing IV

( Ni Md Sri Dwijastuti, A.Md. AK)

PEMERIKSAAN Anti-HCV

Oleh :
KELOMPOK 4 Ganjil

Dewa Ayu Ari Purwaningsih

(P07134012037)

Putu Pradnyawati Budi Sunata

(P07134012039)

Luh De Trisna Dewi

(P07134012041)

Gst Agung Putu Iswari S.

(P07134012043)

A.A Istri Agung Adnyani

(P07134012045)

I Gst Ngr Dahana Dinata

(P07134012047)

Dwi Karunia Wulandari

(P07134012049)

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR


ANALIS KESEHATAN
2014