Anda di halaman 1dari 10

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Tsunami (bahasa Jepang: tsu = pelabuhan, nami = gelombang. Secara
harfiah berarti "ombak besar di pelabuhan") adalah perpindahan badan air
yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tibatiba. Tanda-tanda akan terjadinya tsunami adalah gempa tektonik/vulkanik
terlebih dahulu kemudian diikuti dengan keadaan air laut surut secara tibatiba.
Sejarah mencatat setidaknya ada beberapa tsunami pernah terjadi:
1. 1 November 1755, tsunami menghancurkan Lisboa, ibu kota Portugal, dan
menelan 60.000 korban jiwa.
2. 26 Agustus 1883, letusan gunung Krakatau dan tsunami menewaskan
lebih dari 36.000 jiwa.
3. 26 Desember 2004, gempa besar yang menimbulkan tsunami menelan
korban jiwa lebih dari 250.000 di Asia Selatan, Asia Tenggara dan Afrika.
Ketinggian tsunami 35 m.
4. 17 Juli 2006, gempa yang menyebabkan tsunami terjadi di selatan pulau
Jawa, Indonesia, dan setinggi maksimum ditemukan 21 meter di Pulau
Nusakambangan. Memakan korban jiwa lebih dari 500 orang. Dan berasal
dari selatan kota Ciamis
5. 12 September 2007, di Bengkulu, memakan korban jiwa 3 orang.
Ketinggian tsunami 3-4 m.
6. 27 Februari 2010, Santiago, Chili.
7. 26 Oktober 2010, Kepulauan Mentawai, Indonesia.
8. 11 Maret 2011, Sendai, Jepang.
Pada beberapa kesempatan, tsunami disamakan dengan gelombang
pasang. Dalam tahun-tahun terakhir, persepsi ini telah dinyatakan tidak
sesuai lagi, terutama dalam komunitas peneliti, karena gelombang pasang

tidak ada hubungannya dengan tsunami. Persepsi ini dahulu populer karena
penampakan tsunami yang menyerupai gelombang pasang yang tinggi.
Tsunami dan gelombang pasang sama-sama menghasilkan gelombang air
yang bergerak ke daratan, namun dalam kejadian tsunami, gerakan
gelombang jauh lebih besar dan lebih lama, sehingga memberikan kesan
seperti gelombang pasang yang sangat tinggi. Meskipun pengartian yang
menyamakan dengan "pasang-surut" meliputi "kemiripan" atau "memiliki
kesamaan karakter" dengan gelombang pasang, pengertian ini tidak lagi
tepat. Tsunami tidak hanya terbatas pada pelabuhan. Karenanya para geologis
dan oseanografis sangat tidak merekomendasikan untuk menggunakan istilah
ini.

B. Penyebab Terjadinya Tsunami


Perubahan permukaan laut saat tsunami bisa disebabkan oleh gempa
bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor
bawah laut, atau hantaman meteor di laut. Gelombang tsunami dapat
merambat ke segala arah. Tenaga yang dikandung dalam gelombang tsunami
adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Di laut dalam,
gelombang tsunami dapat merambat dengan kecepatan 500-1000 km perjam,
setara dengan kecepatan pesawat terbang. Ketinggian gelombang di laut
dalam hanya sekitar 1 meter. Dengan demikian, laju gelombang tidak terasa
oleh kapal yang sedang berada di tengah laut. Ketika mendekati pantai,
kecepatan gelombang tsunami menurun hingga sekitar 30 km perjam, namun
ketinggiannya sudah meningkat hingga mencapai puluhan meter. Hantaman
gelombang Tsunami bisa masuk hingga puluhan kilometer dari bibir pantai.
Kerusakan dan korban jiwa yang terjadi karena Tsunami bisa diakibatkan
karena hantaman air maupun material yang terbawa oleh aliran gelombang
tsunami.
Beberapa kondisi meteorologis, seperti badai tropis, dapat menyebabkan

gelombang badai yang disebut sebagai meteor tsunami yang ketinggiannya


beberapa meter di atas gelombang laut normal. Ketika badai ini mencapai
daratan, bentuknya bisa menyerupai tsunami, meski sebenarnya bukan
tsunami. Gelombangnya bisa menggenangi daratan.

C. Dampak Tsunami
Dampak negatif yang diakibatkan tsunami adalah merusak apa saja yang
dilaluinya. Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa
manusia serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin lahan pertanian,
tanah, dan air bersih.

D. Proses Terjadinya Tsunami


Gerakan vertikal pada kerak bumi, dapat mengakibatkan dasar laut naik
atau turun secara tiba-tiba, yang mengakibatkan gangguan keseimbangan air
yang berada di atasnya. Hal ini mengakibatkan terjadinya aliran energi air
laut, yang ketika sampai di pantai menjadi gelombang besar yang
mengakibatkan

terjadinya

tsunami.

Kecepatan

gelombang

tsunami

tergantung pada kedalaman laut dimana gelombang terjadi, dimana


kecepatannya bisa mencapai ratusan kilometer/jam. Bila tsunami mencapai
pantai, kecepatannya akan menjadi kurang lebih 50 km/jam dan energinya
sangat merusak daerah pantai yang dilaluinya. Di tengah laut tinggi
gelombang tsunami hanya beberapa cm hingga beberapa meter, namun saat
mencapai pantai tinggi gelombangnya bisa mencapai puluhan meter karena
terjadi penumpukan masa air. Saat mencapai pantai tsunami akan merayap
masuk daratan jauh dari garis pantai dengan jangkauan mencapai beberapa
ratus meter bahkan bisa beberapa kilometer.
Gerakan vertikal ini dapat terjadi pada patahan bumi atau sesar. Gempa
bumi juga banyak terjadi di daerah subduksi, dimana lempeng samudera
menelusup ke bawah lempeng benua.
Tanah longsor yang terjadi di dasar laut serta runtuhan gunung api juga

dapat mengakibatkan gangguan air laut yang dapat menghasilkan tsunami.


Gempa yang menyebabkan gerakan tegak lurus lapisan bumi. Akibatnya,
dasar laut naik-turun secara tiba-tiba sehingga keseimbangan air laut yang
berada di atasnya terganggu.
Kriteria gempa yang menyebabkan tsunami:
1.

Gempa bumi yang berpusat di tengah laut dan dangkal (0 - 30 km).

2.

Gempa bumi dengan kekuatan sekurang-kurangnya 6,5 Skala


Richter.

3.

Gempa bumi dengan pola sesar naik atau sesar turun.

Demikian pula halnya dengan benda kosmis atau meteor yang jatuh dari
atas. Jika ukuran meteor atau longsor ini cukup besar, dapat terjadi
megatsunami yang tingginya mencapai ratusan meter.

E. Mitigasi Bencana Tsunami


Mitigasi bencana gempa yang dilakukan oleh pemerintah ialah memberi
peringatan dini saat terjadi gempa bumi. Sedangkan untuk mendeteksi
kemungkinan adanya bahaya tsunami, telah dipasang beberapa alat
peringatan tsunami di beberapa perairan Indonesia di antaranya di Samudra
Hindia sepanjang pantai barat Sumatera, Selat Sunda, Utara dan Pulau
Komodo. Saat ini telah terpasang lebih dari 90 alat pendeteksi tsunami yang
dipasang di perairan Indonesia.
Pemerintah Indonesia, dengan bantuan negara-negara donor, telah
mengembangkan Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia (Indonesian
Tsunami Early Warning System - InaTEWS). Sistem ini berpusat pada Badan
Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Jakarta. Sistem ini
memungkinkan BMKG mengirimkan peringatan tsunami jika terjadi gempa
yang berpotensi mengakibatkan tsunami. Sistem yang ada sekarang ini
sedang disempurnakan. Kedepannya, sistem ini akan dapat mengeluarkan 3
tingkat peringatan, sesuai dengan hasil perhitungan Sistem Pendukung
Pengambilan Keputusan (Decision Support System - DSS).

Sedangkan di Jepang telah dibangun dinding penahan tsunami setinggi


4,5 10 meter pada daerah pantai yang padat penduduk. Ketika gempa tahun
1993 menimpa Hokkaido tahun 2011 lalu di area Tohoku, tinggi gelombang
tsunami mencapai 30 m. Dinding penahan terlampaui namun dapat
mengurangi kecepatan tsunami. Korban jiwa memang tidak terhindarkan.
Dinding semacam ini dapat digunakan di Aceh atau daerah lainnya
(Pangandaran) yang rawan Tsunami, namun efektivitas dinding penahan
tersebut perlu dilakukan penelitian. Pembuatan model dengan alat sentrifugal
dan uji laboratorium dapat mensimulasikan tinggi gelombang yang
dikehendaki.
Mitigasi harus memperhatikan semua tindakan yang diambil untuk
mengurangi pengaruh dari bencana dan kondisi yang peka dalam rangka
mengurangi bencana yang lebih besar di kemudian hari. Oleh karena itu,
seluruh aktivitas mitigasi difokuskan pada bencana itu sendiri atau
bagian/elemen dari ancaman.
Tsunami Early Warning System (TEWS) adalah upaya untuk mitigasi
bencana tsunami. Hal sederhana yang dapat dilakukan untuk memberi
peringatan dini bagi penduduk yang berada di sekitar kota/pantai yang
memiliki potensi tsunami adalah memberi peringatan melalui sirene atau
televisi/radio lokal yang dapat dengan segera mensosialisasikan akan
terjadinya Tsunami. Menurut pengalaman di Aceh ada jeda waktu sekitar 30
menit sampai gelombang mencapai pantai. Saat ini di daerah yang rawan
seperti Aceh dan Pangandaran sedang disiapkan perangkat alat pendeteksi
dini untuk memperkirakan terjadinya gempa maupun tsunami. Sudah
menjadi keharusan bagi Indonesia untuk memiliki suatu sistem peringatan
dini tsunami TEWS yang terintegrasi, apalagi dengan pengalaman yang
menimpa negeri semaju Jepang yang tetap kewalahan menghadapi tsunami.
Sejauh ini, Indonesia telah menerima bantuan beberapa unit buoy dari
Jerman, Norwegia, dan beberapa negara sahabat. Bahkan beberapa waktu

lalu, Indonesia juga telah menerima satu unit buoy dari Amerika Serikat.
Buoy adalah sebuah alat pendeteksi tsunami (Deep-Ocean Assessment
and Reporting of Tsunami/DART) yang terapung di permukaan laut dan
merupakan bagian dari skema teknologi TEWS yang disandingkan dengan
perangkat OBU (Ocean Bottom Unit) yang terpasang di dasar laut. OBU
dipasang bersama seismometer untuk mendeteksi kekuatan gempa di dasar
laut. Ketika terjadi getaran gempa, OBU akan mengirimkan informasi
kekuatan gempa ke buoy yang dilengkapi dengan penerima GPS (Global
Positioning System) untuk memberikan data posisi derajat lintang dan derajat
bujur unit yang terapung. Kemudian, buoy langsung memberikan informasi
lewat satelit pemancar untuk diteruskan ke master station yang ada di
daratan. Jika kekuatan gempa mengindikasikan akan ada tsunami, pihak
terkait yang berada di master station segera memberikan informasi ke
beberapa institusi untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat
berupa alarm maupun penyiaran darurat radio dan televisi.
Selain itu prinsip TEWS harus pula memperhatikan hal-hal berikut ini.
1. Dibangun dengan konstruksi tahan getaran/gempa khususnya di daerah
rawan gempa. Konstruksi bangunan tahan gempa biasanya di desain agar
memberikan rasa aman bagi penghuninya terhadap bencana gempa.
Dengan mengikuti konstruksi yang tahan gempa ini, dampak gempa dapat
diminimalkan sehingga korban jiwa akibat runtuhnya bangunan juga akan
lebih sedikit. Penguatan bangunan dengan mengikuti standar kualitas
terbaik. Setiap bangunan tentunya harus memiliki standar kualitas
bangunan yang baik. Dengan mengikuti standar yang ada, bangunan akan
kokoh dan dapat bertahan terhadap goncangan atau getaran yang
diakibatkan oleh gempa bumi. Bangunan yang mengikuti standar ialah
bangunan yang dibuat dengan perencanaan yang matang agar aman dan
nyaman untuk ditempati.
2. Pembangunan fasilitas umum dengan standar kualitas yang tinggi.

Kegiatan pembangunan fasilitas umum seperti sekolah, pasar, rumah sakit,


dan yang lainnya juga harus memiliki standar kualitas yang tinggi. Rumah
sakit terutama sebagai fasilitas umum yang sifatnya penting dalam kondisi
darurat saat bencana harus memiliki bangunan yang kuat.
3. Pengaturan daerah pemukiman untuk mengurangi tingkat kepadatan
hunian di daerah rawan gempa bumi.
4. Zonasi daerah rawan gempa bumi dan pengaturan penggunaan lahan.
Kegiatan zonasi dapat dilakukan dengan bantuan ilmu terapan seperti
Sistem Informasi Geografi (SIG) yang mampu memberikan gambaran dari
kondisi/fenomena yang terjadi di permukaan bumi. Indonesia sudah sarat
pengalaman gempa. Oleh karena itu, selain mempelajari proses terjadinya
gempa bumi, kita masih harus mau belajar dari pengalaman masa lalu agar
mampu meminimalkan dampak gempa bumi. Untuk jangka panjang,
pemerintah bersama-sama peneliti ilmu geofisika perlu membuat peta
zonasi gempa bumi tektonik. Peta semacam ini secara global sudah ada,
namun perlu dikembangkan peta yang lebih rinci, misalnya peta zonasi
gempa untuk setiap provinsi atau bahkan setingkat kabupaten, disertai
dengan peraturan bangunan tahan gempa. Di samping itu, perlu
diupayakan untuk merapatkan jaringan seismograf (alat pendeteksi dan
pencatat gempa bumi) di seluruh wilayah Indonesia, sehingga peta
bencana dapat dibuat per kecamatan atau bahkan per desa.Untuk jangka
pendek, perlu dilakukan riset yang lebih rinci di setiap segmen patahan
(sesar) aktif seperti Sesar Opak (Bantul), Sesar Menoreh (Kulon Progo),
serta sesar-sesar mikro aktif lainnya, yang sering memicu terjadinya
gempa bumi tektonik. Perlu juga disarankan kepada penduduk untuk tidak
bermukim di wilayah yang diperkirakan rawan gempa bumi. Selain itu,
studi deformasi kerak bumi dilakukan dengan jalan pemantauan dan
monitoring gempa bumi mikro, pergerakan kerak bumi, memetakan sesarsesar aktif, dan mempelajari karakteristik seismologi suatu daerah.

Memang benar terjadinya gempa bumi tidak dapat kita cegah, tetapi para
pakar dapat memprediksi dan melakukan langkah antisipasi.
5. Pendidikan dan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya gempa
bumi dan cara cara penyelamatan diri jika terjadi gempa bumi. Berbagai
cara telah dilakukan oleh pemerintah maupun Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) yang konsen terhadap mitigasi bencana. Pendidikan
dan penyuluhan ini penting bagi masyarakat di daerah rawan gempa dan
sekaligus rawan tsunami.

BAB III
KESIMPULAN

Tsunami adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan


permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Tanda-tanda akan terjadinya
tsunami adalah gempa tektonik/vulkanik terlebih dahulu kemudian diikuti
dengan keadaan air laut surut secara tiba-tiba. Sejarah mencatat setidaknya
ada beberapa puluh kali tsunami pernah terjadi seluruh dunia.
Dampak negatif yang diakibatkan tsunami adalah merusak apa saja yang
dilaluinya. Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa
manusia serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin lahan pertanian,
tanah, dan air bersih.
Mitigasi bencana gempa yang dilakukan oleh pemerintah ialah dimulai
dari pencegahan dampak tsunami dengan memberi peringatan dini saat
terjadi gempa bumi di dekat pantai, kemudian setelah terjadi tsunami
pemerintah mengupayakan pembangunan fasilitas umum dengan standar
kualitas yang tinggi, pengaturan daerah pemukiman untuk mengurangi
tingkat kepadatan hunian di daerah rawan gempa bumi, zonasi daerah rawan
gempa bumi dan pengaturan penggunaan lahan, dan pendidikan dan
penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya gempa bumi dan cara cara
penyelamatan diri jika terjadi gempa bumi.

DAFTAR PUSTAKA

Iwan, W.D. 2006, Summary report of the Great Sumatra Earthquakes and Indian
Ocean tsunamis of 26 December 2004 and 28 March 2005: Earthquake Engineering
Research Institute. EERI Report 2006-06.
Dudley, Walter C. & Lee, Min. 1988. Tsunami 1st edition. ISBN 0-8248-1125-9.
Macey, Richard. 2005. The Big Bang that Triggered A Tragedy. The Sydney
Morning: Seismologist at Geoscience Australia.
Lambourne, Helen. 2005. Tsunami: Anatomy of a disaster. USA: BBC News.
www.wikipediaindonesia.com. Tsunami. Artikel diambil tanggal 10 September
2014.