Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH EKOLOGI

SUKSESI
KELOMPOK 12
MUH IRHAM SIBALI

G41113512

TRIALITA APRILIA

G41113513

GEMALA HARDINASINTA

G41113514

DIAH P MULYAWAN

G41113515

NUR SUYUTI

G41113516

PROGRAM STRUDI KETEKNIKAN PERTANIAN


JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014/2015
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Komposisi spesies dalam komunitas akan bervariasi sepanjang waktu
dibeberapa spesies keimpahannya menurun, sedangkan yang lain meningkat.
Beberapa perubahan mungkin hanya merupakan fluktuasi lokal yang kecil
sifatnya, sehingga tidak memberikan arti yag penting. Perubahan lainnya mungkin
sangat besar atau kuat sehingga mempenngaruhi sistem secara keseluruhan.
Proses perubahan dalam komunitas yang berlangsung menuju ke satu arah secara
tertatur disebut dengan suksesi, dan suksesijuga bisa diartikansebagai perubahan
yang langsung dalam komposisi komunitas dan asosiasi biologis serta sifat-sifat
ekosistem.
Kajian perubahan ekosistem dan stabilitasnya memrlukan perhatian yang
tidak sedehana, ini meliputi aspek-aspek yang sangat luas seperti siklus materi
atau nutrisi, produktivtas, konsep energi, kaitannya dengan masalah pertanian dan
juga dengan masalah konservasi. Proses suksesi berakhir dengan sebuah
komunitas atau ekosistem yang disebut dengan klimaks. Dalam kondisi ini sering
dikatakan bahwa sebuah ekosistem dalam kondisi meostasis, sebuah kondisi
dimana ekosistem dapat mempertahankan kestabilan internalnya sebagai respon
yang koordinasi dari komponen penyusun sub-sub sistem terhadap tiap
rangsangan yang cenderung mengganggu kondisi normal komunitas.

I.2 Tujuan Pembahasan


Adapun tujuan dari pembahasan makalah ini antara lain untuk :
1.
2.
3.
4.

Mengetahui definisi suksesi.


Mengetahui faktor-faktor penyebab suksesi.
Memahami proses/tahapan suksesi.
Mengetahui macam-macam suksesi.
BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Pengertian Suksesi

Suksesi ekologis adalah komunitas yang terdiri dari berbagai populasi


bersifat dinamis dalam interaksinya, dan dalam ekosistemnya mengalami
perubahan

sepanjang

masa.

Perkembangan

ekosistem

tersebut

menuju

kedewasaan dan keseimbangan. Suksesi terjadi sebagai akibat dari modifikasi


lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Menurut konsep mutakhir
suksesi merupakan pergantian jenis-jenis pioneer oleh jenis-jenis yang lebih
mantap yang sangat sesuai dengan lingkungannya.
Akhir proses suksesi komunitas yaitu terbentuknya suatu bentuk komunitas
klimaks. Komunitas klimaks adalah suatu komunitas terakhir dan stabil (tidak
berubah) yang mencapai keseimbangan dengan lingkungannya. Komunitas
klimaks ditandai dengan tercapainya homeostatis atau keseimbangan, yaitu suatu
komunitas yang mampu mempertahankan kestabilan komponennya dan dapat
bertahan dan berbagai perubahan dalam sistem secara keseluruhan.

II.2 Faktor-faktor Penyebab Suksesi


1. Iklim
Tumbuhan tidak akan dapat teratur dengan adanya variasi yang lebar dalam
waktu yang lama. Fluktuasi keadaan iklim kadang-kadang membawa akibat
rusaknya vegetasi baik sebagian maupun seluruhnya. Dan akhirnya suatu tempat
yang baru (kosong) berkembang menjadi lebih baik (daya adaptasinya besar) dan
mengubah kondisi iklim. Kekeringan, hujan salju atau air dan kilat seringkali
membawa keadaan yang tidak menguntungkan pada vegetasi.
2. Topografi
Suksesi terjadi karena adanya perubahan kondisi tanah, antara lain:

a. Erosi
Erosi dapat terjadi karena angin, air dan hujan. Dalam proses erosi tanah
menjadi kosong kemudian terjadi penyebaran biji oleh angin (migrasi) dan
akhirnya proses suksesi dimulai.
b. Pengendapan (denudasi)

Erosi yang melarutkan lapisan tanah, di suatu tempat tanah diendapkan


sehingga menutupi vegetasi yang ada dan merusakkannya. Kerusakan vegetasi
menyebabkan suksesi berulang kembali di tempat tersebut.
3. Biotik
Pemakan tumbuhan seperti serangga yang merupakan pengganggu di lahan
pertanian demikian pula penyakit mengakibatkan kerusakan vegetasi. Di padang
penggembalaan, hutan yang ditebang, panen menyebabkan tumbuhan tumbuh
kembali dari awal atau bila rusak berat berganti vegetasi.

II.3 Proses Suksesi


Dalam suksesi terjadi suatu proses perubahan secara bertahap menuju suatu
keseimbangan. Proses suksesi dapat terjadi melalui beberapa tahap, yaitu sebagai
berikut:
1. Kolonisasi
Tahap awal dari suksesi adalah kolonisasi, selama tahap tersebut habitat
yang kosong dipenuhi oleh oragisme organisme. Kolonisasi ini memerlukan:
a. Organisme tersebut sampai dilokasi
b. Organisme tersebut menjadi mantap disana. Kemampuan organisme untuk
sampai pada suatu tempat tergantung pada kemampuan dispersal individu
tersebut dan isolasi yang ada pada daerah tersebut.
2. Modifikasi Tempat
Dari tahap kolonisasi, organisme organisme yang berdiam di daerah itu
akan mengubah sifat sifat tempat tersebut. Koloni awal dari suksesi primer pada
daerah terestial biasanya adalah mikroorganisme mikroorganisme tanah seperti
misalnya lichenes (lumut kerak) yang memperbanyak koloni permulaan dari
bebatuan vulkanik. Organisme ini akan mempengaruhi sifat sifat batuan yang
didiami.
3. Variabilitas Ruang
Tahap berikutnya yaitu modifikasi ruang merupakan peningkatan variablitas
ruang (spasial) habitat. Contohnya adalah Dryas drummndii adalah tanaman
pembentuk hutan yang terpenting pada suksesi awal di Alaska. Tumbuhan ini

menghasilkan gradien sifat tanah. Bahan organik tanah bervariasi pada bagian
tengah hutan dan pada bagian tepi hutan. Penutupan vegetasi umumnya
berpengaruh pada perbaikan temperatur, cahaya dan evaporasi. Oleh karena itu,
transpirasi hutan akan cenderung menciptakan kelembapan internal yang tinggi,
kehilangan air dari organisme yang ada dihutan mungkin akan berkurang.
Temperatur udara akan lebih rendah dalam tegakan suksesi yang lebih tua.
Clements menyusun urutan kejadian secara rasional ke dalam 5 fase, yaitu:
1.
2.
3.
4.

Nudasi: proses awal terjadinya pertumbuhan pada lahan terbuka atau kosong.
Migrasi: proses hadirnya biji-biji tumbuhan, spora dan lain-lainnya.
Ecesis: proses kemantapan pertumbuhan biji-biji tersebut.
Reaksi: proses persaingan atau kompetisi antara jenis tumbuhan yang telah

ada atau hidup, dan pengaruhnya terhadap habitat setempat.


5. Stabilisasi: proses manakala populasi jenis tumbuhan mencapai titik akhir
kondisi yang seimbang (equilibrium), di dalam keseimbangan dengan kondisi
habitat lokal maupun regional.
Proses suksesi sangat beragam, tergantung kondisi lingkungan. Proses suksesi
pada daerah hangat, lembab, dan subur dapat berlangsung selama seratus tahun.
Kecepatan proses suksesi dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut:
1.
2.
3.
4.

Luas komunitas asal yang rusak karena gangguan.


Jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di sekitar komunitas yang terganggu.
Kehadiran pemencar benih.
Iklim, terutama arah dan kecepatan angina yang membantu penyebaran biji,

sporam dan benih serta curah hujan.


5. Jenis substrat baru yang terbentuk
6. Sifat sifat jenis tumbuhan yang ada di sekitar tempat terjadinya suksesi.

II.3 Macam-macam Suksesi


Berdasarkan kondisi habitat pada awal suksesi, dapat dibedakan dua macam
suksesi, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder.
1. Suksesi Primer
Suksesi primer terjadi jika suatu komunitas mendapat gangguan yang
mengakibatkan komunitas awal hilang secara total sehingga terbentuk habitat baru.
Gangguan tersebut dapat terjadi secara alami maupun oleh campur tangan

manusia. Gangguan secara alami dapat berupa tanah longsor, letusan gunung
berapi, dan endapan lumpur di muara sungai. Gangguan oleh campur tangan
manusia dapat berupa kegiatan penambangan (batu bara, timah, dan minyak bumi).
Terdapat beberapa ciri-ciri dari suksesi Primer, antara lain:
a. Berkembang pada sustrat baru
b. Terbentuk vegetasi baru
c. Ekosistem awal habis total
Suksesi primer ini diawali tumbuhnya tumbuhan pionir, biasanya berupa lumut
kerak. Lumut kerak mampu melapukkan batuan menjadi tanah sederhana. Lumut
kerak yang mati akan diuraikan oleh pengurai menjadi zat anorganik. Zat anorganik ini
memperkaya nutrien pada tanah sederhana sehingga terbentuk tanah yang lebih
kompleks. Benih yang jatuh pada tempat tersebut akan tumbuh subur. Setelah itu,
akan tumbuh rumput, semak, perdu, dan pepohonan. Bersamaan dengan itu pula
hewan mulai memasuki komunitas yang baru terbentuk.
Hal ini dapat terjadi karena suksesi komunitas tumbuhan biasanya selalu
diikuti dengan suksesi komunitas hewan. Secara langsung atau tidak langsung. Hal ini
karena sumber makanan hewan berupa tumbuhan sehingga keberadaan hewan pada
suatu wilayah komunitas tumbuhan akan senantiasa menyesuaikan diri dengan
jenis tumbuhan yang ada. Akhirnya terbentuklah komunitas klimaks atau
ekosistem seimbang yang tahan terhadap perubahan (bersifat homeostatis). Salah
satu contoh suksesi primer yaitu peristiwa meletusnya gunung Krakatau. Setelah
letusan itu, bagian pulau yang tersisa tertutup oleh batu apung dan abu sampai
kedalaman rata rata 30 m.
2. Suksesi sekunder
Suksesi sekunder terjadi jika suatu gangguan terhadap suatu komunitas tidak
bersifat merusak total tempat komunitas

tersebut sehingga masih terdapat

kehidupan/substrat seperti sebelumnya. Proses suksesi sekunder dimulai lagi dari


tahap awal, tetapi tidak dari komunitas pionir.
Gangguan yang menyebabkan terjadinya suksesi sekunder dapat berasal dari
peristiwa alami atau akibat kegiatan manusia. Gangguan alami misalnya angin
topan, erosi, banjir, kebakaran, pohon besar yang tumbang, aktivitas vulkanik, dan

kekeringan hutan. Gangguan yang disebabkan oleh kegiatan manusia contohnya


adalah pembukaan areal hutan.
Proses suksesi sangat

terkait dengan faktor lingkungan, seperti letak

lintang, iklim, dan tanah. Lingkungan sangat menentukan pembentukkan struktur


komunitas klimaks. Misalnya, jika proses suksesi berlangsung di daerah beriklim
kering, maka proses tersebut akan terhenti (klimaks) pada tahap komunitas
rumput, jika berlangsung di daerah beriklim dingin dan basah, maka proses
suksesi akan terhenti pada komunitas (hutan) conifer, serta jika berlangsung di
daerah beriklim hangat dan basah, maka kegiatan yang sama akan terhenti pada
hutan hujan tropis.

II.5 Sere
Suksesi tanaman merupakan perubahan keadaan tanaman. Suksesi yang
menempati habitat utama disebut Sere. Sedangkan variasi yang terjadi
diantaranya disebut Seral. Komunitas yang timbul pada susunan itu disebut
Komunitas Seral. Biasanya komunitas seral itu tidak tampak dengan jelas,
mereka kenal hanya karena beberapa spesies tanaman dominan tumbuh
diantaranya. Tumbuhan pertama yang tumbuh di habitat yang kosong disebut
tanaman Pioner.
Lazimnya suksesi tanaman tidak menunjukkan suatu seri tingkat-tingkat
atau tahap-tahap tetapi terus menerus dan merupakan pergantian yang lambat dan
kompleks. Penempatan individu vegetasi ini individu per individu, dan tidak
merupakan loncatan-loncatan dari suatu komunitas dominan ke komunitas
dominan yang lain. Spesies dominan dari suatu komunitas akan tetap stabil dalam
jangka waktu yang lama. Kemudian akan bercampur dengan vegetasi baru.
Vegetasi baru ini mungkin menggantikan vegetasi yang telah ada tetapi mungkin
juga tidak (bila komunitas yang baru itu tidak menghendaki kondisi yang
diciptakan menjadi dominan terutama dari segi kondisi pencahayaan).
Jika habitat menjadi ekstrem tidak memenuhi syarat untuk tumbuhnya
tanaman-tanaman maka timbul tanaman dari komunitas berikutnya yang sesuai

dengan lingkungan yang baru, kemudian tanaman ini menjadi dominan. Setelah
beberapa kali mengalami pergantian semacam itu, suatu saat habitat akan terisi
oleh spesies-spesies yang sesuai dan mampu bereproduksi dengan baik. Sehingga
proses ini mencapai

Komunitas Klimaks yang matang, dominan, dapat

memelihara dirinya sendiri dan selanjutnya bila ada pergantian, maka pergantian
itu relatif sangat lambat.
Telah dijelaskan bahwa akhir suksesi adalah terbentuknya suatu komunitas
klimaks. Berdasarkan tempat terbentuknya, terdapat tiga jenis komunitas klimaks
sebagai berikut :
1. Hidrosere
Hidrosere yaitu suksesi yang terbentuk di ekosistem air tawar. Tipe suksesi
yang berkembang di daerah (habitat) perairan yang biasanya disebut Hidrarch.
Tipe suksesi ini tidak memerlukan komunitas aquatik untuk menuju ke
perkembangan komunitas daratan. Jika air yang ada itu dalam jumlah cukup besar
dan sangat dalam atau jika air selalu bergerak kuat (beratus atau bergelombang)
atau adanya kekuatan fisik lain, suksesi menghasilkan suatu komunitas aquatik
yang stabil dan sukar mengalami pergantian. Jadi suksesi ini hanya terjadi jika
kolonisasi komunitas tumbuhan menempati kolam buatan yang kecil dan dangkal,
serta diikuti terjadinya erosi tanah di tepi danau, sehingga batas air akan semakin
kecil dan hilang setelah waktu yang lama. Sebagai pelopor adalah tumbuhan air
yang terendam, kemudian dirusak tumbuhan terapung seperti eceng gondok,
kemudian rumput rawa, rumput daratan, semak dan akhirnya pohon.
Pada kolam, eceng gondok berangsur-angsur akan menutup permukaan air,
kemudian akumulasi seresahnya baru menumpuk di dasar kolam dan lama
kemudian mengubah kolam menjadi rawa dengan jenis tumbuhan baru yang
mematikan jenis tumbuhan sebelumnya. Secara berangsur-angsur kemudian
habitat yang lebih kering dengan aerasi yang lebih baik yang akhirnya akan terjadi
tanah yang cukup matang dan tebal.
2. Halosere
Halosere yaitu suksesi yang terbentuk di ekosistem air payau. Suksesi ini
dimulai pada tanah bergaram atau air asin. Biasanya pada daerah rawa yang habis
terkikis oleh air.

3. Xerosere
Xerosere yaitu sukses yang terbentuk di daerah gurun. Suksesi vegetasi yang
berkembang dalam daerah xerik atau kering, biasanya disebut xerarch. Ada tiga
macam xerosere, yaitu:
a.
b.
c.

Psammosere, suksesi vegetasi yang dimulai pada daerah berpasir.


Lithosere, suksesi vegatasi yang dimulai pada batuan.
Serule, suksesi untuk mikroorganisme (bakteri, fungsi) dalam sisa-sisa
produsen/konsumen.
Suksesi xerik biasanya terjadi pada lahan yang tinggal batuan induknya

saja. Dengan demikian tumbuhan yang mampu hidup disitu harus tumbuhan yang
tahan kering dan mampu hidup di tanah miskin. Tumbuhan yang biasanya
merupakan pioner adalah lumut kerak (Lichenes) dalam bentuk lapisan kerak.
Dalam proses respirasi Lichenes akan mengeluarakan CO2 dan akan bereaksi
dengan H2O sehingga menjadi H2CO3. Asam karbonat ini akan bereaksi dengan
bahan-bahan dari batuan induk sehingga melepaskan ikatan partikel batuan.
Partikel batuan yang lepas itu akan bereaksi dengan sisa-sisa Lichenes yang
mengalami pembusukan, mengikat Nitrogen yang terbawa oleh air hujan.
Kondisi seperti itu tidak sesuai lagi bagi lumut kerak sehingga lumut kerak mati.
Setelah itu akan muncul vegetasi jenis lain yaitu Thallus (Thallophyta). Begitu
seterusnya vegetasi pertama akan memberikan pengaruh pada habitat yang tidak
cocok untuk vegetasi kedua.

BAB III
KESIMPULAN
Suksesi adalah suatu proses perubahan, berlangsung satu arah secara teratur
yang terjadi pada suatu komunitas dalam jangka waktu tertentu hingga
terbentuk komunitas baru yang berbeda dengan komunitas semula. Dengan
perkataan lain. suksesi dapat diartikan sebagai perkembangan ekosistem tidak
seimbang menuju ekosistem seimbang. Suksesi terjadi sebagai akibat modifikasi
lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem.
Terdapat beberapa faktor penyebab suksesi, yaitu :
1. Iklim
2. Topografi
3. Biotik
Peoses suksesi terjadi melalui bebeapa tahap, yaitu:

1. Kolonisasi
2. Modifikasi tempat
3. Variabilitas ruangan
Berdasarkan kondisi habitat pada awal suksesi, dapat dibedakan dua macam
suksesi, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder.
1. Suksesi Primer
Suksesi primer terjadi jika suatu komunitas mendapat gangguan yang
mengakibatkan komunitas awal hilang secara total sehingga terbentuk habitat baru.
2. Suksesi sekunder
Suksesi sekunder terjadi jika suatu gangguan terhadap suatu komunitas
tidak bersifat merusak total tempat komunitas tersebut sehingga masih terdapat
kehidupan atau substrat seperti sebelumnya. Proses suksesi sekunder dimulai lagi
dari tahap awal, tetapi tidak dari komunitas pionir.