Anda di halaman 1dari 40

BAB I

Pendahuluan
I.1.

Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan industri dan teknologi sediaan farmasi,
bermacam-macam bentuk sediaan telah beredar di pasaran dalam rangka
untuk memenuhi permintaan pasar yang menuntut adanya sediaan farmasi
yang lebih baik. Di mulai dari sediaan solid, semi solid hingga liquid,
tergantung dari keperluan dan kenyamanan para konsumen. Bentuk sediaan
solid diantaranya serbuk, tablet dan kapsul. Untuk semi solid terdapat salep,
krim, pasta dan gel. Sedangkan liquid terdiri atas potio, solutio, sirup,
suspensi, tetes mata, dan tetes hidung. Untuk pengobatan topikal, sering
digunakan bentuk sediaan semi solid. Diantara sediaan semisolid yaitu
salep, pasta, krim, dan gel. Sediaan semisolid yang sering digunakan
masyarakat salah satunya krim. Penggunaan krim tidak sebatas untuk obat
namun juga digunakan sebagai kosmetik sehingga sediaan ini terus
berkembang. Metode serta bahan-bahan pembuatan krim sangat banyak
sekali sehingga diperlukan pembelajaran lebih dalam lagi. Oleh karena itu
perlu dipelajari mengenai krim, jenis krim, basisnya serta formulasi krim.

I.2.

Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan krim?
2. Apa saja bahan-bahan serta basis yang terdapat dalam krim?
3. Bagaimana metode-metode pembuatan krim?
4. Apa saja contoh formulasi dari krim?

I.3.

Tujuan Penulisan
Tujuan pembuatan makalah ini yaitu agar dapat mengetahui lebih jauh
basis, formulasi, dan cara pembuatan sediaan krim.

I.4.

Metode Penulisan

Metode penulisan yang digunakan adalah studi pustaka. Sumber


informasi berasal dari buku-buku dan berbagai situs internet untuk
menunjang teori dasari.
1.5.

Sistematika Penulisan
BAB I. Pendahuluan
I.1 Latar Belakang
I.2. Rumusan Masalah
I.3. Tujuan Penulisan
I.4. Metode Penulisan
I.5. Sistematika Penulisan
BAB II. Pembahasan
II.1
BAB III. Kesimpulan
Daftar Pustaka

BAB II
ISI

2.1 Definisi Krim


Krim merupakan salah satu sediaan yang berbentuk emulsi. Krim dapat
didefinisikan berbagai macam dari beberapa sumber yang berbeda. Menurut Ansel
(1989), krim adalah emulsi setengah padat baik bertipe air dalam minyak atau
minyak dalam air yang biasanya digunakan sebagai emolien (pelembab) atau
pemakaian obat pada kulit. Menurut British Pharmacopeia, krim adalah formulasi
untuk memberikan persiapan yang pada dasarnya bercampur dengan sekresi kulit.
Mereka dimaksudkan untuk diterapkan pada kulit atau selaput lendir tertentu
untuk pelindung, terapeutik atau profilaksis tujuan, terutama di mana efek oklusif
tidak diperlukan. Menurut Farmakope Indonesia Edisi III, krim adalah bentuk
sediaan setengah padat, berupa emulsi mengandung air tidak kurang dari 60% dan
dimaksudkan untuk pemakaian luar. Sedangkan, Menurut Farmakope Indonesia
Edisi IV, krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih
bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai.
Tujuan umum dibentuknya sediaan krim adalah untuk mendapatkan efek
emolien atau pelembut. Berdasarkan fase dispersinya, krim digolongkan menjadi
2 tipe, yakni tipe air terdispersi dalam minyak (A/M) dan krim minyak terdispersi
dalam air (M/A). Krim tipe air dalam minyak (A/M) merupakan suatu krim
yang dibuat dengan mendispersikan komponen air ke dalam komponen minyak;
sifatnya tidak mudah hilang bila terkena air; berwarna putih atau transparan dan
agak kaku; dan diproduksi oleh pengemulsi agen dari alam, misalnya lilin lebah,
alkohol wol atau wol lemak. Contoh : Cold cream, yaitu sediaan kosmetika yang
dibuat untuk memberikan rasa dingin dan nyaman pada kulit, sebagai krim
pembersih, biasanya berwarna putih dan bebas dari butiran kasar. Krim tipe
minyak dalam air (M/A) merupakan suatu emulsi yang dibuat dengan
mendispersikan komponen minyak ke dalam komponen air; sifatnya mudah dicuci
dengan air; berwarna putih, tipis dan halus; dan diproduksi oleh sintetis lilin,
misalnya macrogol dan cetomacrogol. Contoh : Vanishing cream, yaitu sediaan

kosmetika yang digunakan untuk membersihkan dan melembabkan kulit serta


sebagai alas bedak. Berdasarkan tujuan penggunaannya, krim dapat dibedakan
menjadi 2, yaitu medicated cream dan non medicated cream. Medicated cream
digunakan untuk pengobatan topikal maupun sistemik melalui penghantaran
transdermal. Sedangkan non medicated cream digunakan bukan untuk
pengobatan dan penyembuhan, tetapi bertujuan untuk pencegahan dan perawatan
kulit yang biasanya disebut krim kosmetik.
Bentuk sediaan krim mempunyai kelebihan dan kekurangan. Adapun
kelebihan dan kekurangan menggunakan sediaan krim sebagai berikut:

Kelebihan :
Mudah menyebar rata dan praktis
Lebih mudah dibersihkan atau dicuci dengan air

untuk tipe m/a

(minyak dalam air)


Tidak lengket dan tidak berminyak, untuk tipe m/a (minyak dalam air)
Zat aktif yang diabsorbsi pada pemakaian topikal tidak cukup beracun,
sehingga efek samping dapat dimimalisir .
Meningkatkan rasa lembut dan lentur pada kulit, tetapi tidak menyebabkan
kulit berminyak.

Kekurangan :
Susah dalam pembuatannya, karena dibutuhkan suhu yang optimal pada
saat pembuatan (fase minyak dan fase air)
Mudah pecah, karena suhu tidak optimal atau saat pencampuran fase
minyak dan fase air pengadukannya tidak tepat.

2.2 Jenis-Jenis Krim


Jenis-jenis krim menurut Wasitaatmadja (1997) yaitu sebagai berikut :
1. Krim pendingin (cold cream)
Pelembab yang karena kandungan airnya menguap secara lambat
menimbulkan rasa dingin pada kulit. Biasanya bentuk sediaannya air

dalam minyak namun tidak terlalu lunak dan tidak terlalu lengket, berisi
bees-wax, mineral oil, paraffin, dan spermaceti.
2. Krim vitamin (vitamin cream)
Mengandung vitamin B kompleks, asam pantotenat, vitamin E, vitamin A,
vitamin C, dan vitamin D. Kegunaan vitamin secara topikal pada kulit ini
diragukan manfaatnya karena permeabilitas kulit yang rendah dan jauh
kurang efisien dibanding bila diberikan per oral.
3. Krim urut (massage cream)
Ditujukan untuk memperbaiki kulit yang rusak dan meninggalkan minyak
dipermukaan kulit dalam waktu yang agak lama, biasanya berbentuk krim
A/M.
4. Krim tangan atau badan (hand and body cream)
Dipakai untuk melembutkan dan menghaluskan kulit ditempat tersebut
dengan menggunakan emolien, humektan, dan barrier kulit. Pelembab
biasanya lebih cair, dapat ditambah tabir surya, aloe vera, alantoin, AHA,
atau vitamin.
5. Krim mengandung zat makanan (nourishing cream atau skin food cream)
Tidak memberi makanan kulit tetapi hanya untuk lubrikasi, mengurangi
hilangnya kelembaban kulit dan tidak menghilangkan kerut secara
permanent. Isi terpenting adalah lanolin, white germ oil, sun flower oil atau
corn oil.

2.3 Bahan dan Basis Krim


Bahan bahan dalam krim meliputi zat aktif, basis, dan zat tambahan
lainnya. Bahan utama dalam krim adalah zat aktif yaitu zat berkhasiat dalam
sediaan krim tersebut.
Selain zat aktif terdapat basis. Basis pada krim bukan merupakan
bahan utama tetapi penggunaannya dalam formulasi sediaan krim cukup
memegang peranan. Basis merupakan komponen terbesar dalam suatu

sediaan semipadat (seperti pasta, salep, krim, dll) dan merupakan faktor
yang sangat menentukan kecepatan pelepasan/aksi dari obat, yang nantinya
akan mempengaruhi khasiat atau keberhasilan terapi
Dalam

pemilihan

komponen

krim

diperlukan

pertimbangan-

pertimbangan yang matang untuk mendapatkan krim dengan efek terapeutik


yang optimal tanpa mengabaikan kenyamanan pasien dalam menggunakan
produk tersebut. Untuk mendapatkan suatu bentuk sediaan krim dibutuhkan
bahan utama untuk membuat basis krim yaitu fase minyak, fase cair dan
surfaktan atau emulgator. Selain bahan-bahan utama pembuatan basis krim,
ada pula bahan penunjang yang berguna untuk meningkatkan estetika dan
stabilitas

krim,

seperti

antioksidan,

pengawet,

pewarna,

pewangi,

pengkhelat dan pendapar.

2.3.1 Fase minyak


Hidrokarbon

squalen, paraffin cair, petrolatum, paraffin


padat, microcrystaline wax, ceresin, dll.

Lemak dan minyak minyak zaitun, almond oil, cocoa butter,


macadamia nut oil, avocado oil, hardened
palm oil, castor oil, sunflower oil, evening
primrose oil, trigliserida sintetik, dll.
Wax/Lilin

beeswax, lanolin, carnauba wax, candelilla


wax, jojoba oil, dll.

Asam Lemak

asam stearat, asam oleat, asam isostearat,


asam miristat, asam palmitat, dll.

Alkohol

stearil alkohol, behenil alkohol, heksadesil


alkohol, oktildodekil alkohol, kolesterol,
ceteth-20, dll.

Ester sintetik

isopropil miristat, trigliserida, pentaeritritil

tetraester, kolesteril ester dll.

Tabel 1. Pengelompokan komponen basis krim fase minyak.

Beberapa bahan yang digunakan sebagai fase minyak dalam pembuatan


krim antara lain :

Kelompok Hidrokarbon
a. Squalen

Gambar 1. Rumus Bangun Squalen

Squalen merupakan hidrokarbon yang tidak berwarna,


transparan dan hampir tidak berbau. Mempunyai titik didih
285oC pada 22 mmHg, dan mempunyai titik lebur -100oC.
Tidak larut dalam air, sangat kecil kelarutannya dalam alkohol
dehidrat, dapat tercampur dengan kloroform dan eter, sedikit
larut dalam aseton. Penggunaannya, sebagai pelembab alami
dalam sediaan kosmetik.

b. Paraffin Liquidum
Paraffin liquid merupakan campuran dari hidrokarbon yang
diperoleh dari minyak mineral. Paraffin liquid berupa cairan
kental yang transparan, tidak berflourosensi, dan tidak
berwarna. Selain itu paraffin liquid hampir tidak memiliki bau
dan rasa. Bahan ini praktis tidak larut dalam air dan etanol P
95% namun dapat larut dalam kloroform P, eter P, aseeton dan
benzen. Satu milliliter paraffin liquid memiliki bobot antara
0,83 hingga 0,89 gram. Penggunaan dalam krim umumnya
sebesar 1-32%.

c. Vaselin Kuning
Berbentuk massa semi-solid yang berwarna kuning muda
hingga kuning, agak transparan, berminyak, tidak berbau, tidak
berasa, tidak berfluoresensi. Vaselin kuning bersifat mudah
terbakar, memiliki titik didih di atas 100oF (37oC). Tidak
mudah teroksidasi saat terkena udara. Praktis tidak larut dalam
aseton, etanol, etanol (95%) panas atau dingin, gliserin, dan
air; larut dalam benzen karbon disulfida, kloroform, eter,
heksan, dan minyak atsiri. Penggunaan dalam krim yaitu
sebanyak 10-30%.
d. Paraffin Padat
Parafin padat sesuai namanya berbentuk padat, sering
menunjukan susunan hablur; agak licin; tidak berwarna atau
putih; tidak mempunyai rasa dan bau. Praktis tidak larut dalam
air dan dalam etanol (95%); larut dalam kloroform, benzen dan
ester.
e. Microcrystalline Wax
Microcystalline wax berbentuk kristal yang tidak beraturan,
tidak berbau dan tidak berasa, larut dalam benzen, kloroform,
dan eter, sedikit larut dalam etanol, dan praktis tidak larut
dalam air sediaan setengah padat digunakan dalam formulasi
kosmetik. Stabil dengan adanya asam, basa, cahaya, dan udara.
Tempat penyimpanan di tempat sejuk atau kering.

Kelompok Minyak dan Lemak


a. Minyak Zaitun (Olive oil)
Minyak zaitun diperoleh dari buah olive (Olea europaea),
tanaman tradisional dari Mediterranean Basin. Penggunaan
untuk memasak, pembuatan kosmetik, dan sabun khususnya
dalam pembuatan krim, salep, dan berfungsi melembabkan

kulit. Mengandung monounsaturated fat (khususnya asam


oleat) dan polifenol yang tinggi. Minyak zaitun berwarna
kuning muda atau kuning kehijauan, berupa cairan berminyak,
mempunyai sedikit bau dan rasa yang khas. Sedikit larut dalam
alkohol, dapat bercampur dengan karbon disulfida, kloroform,
dan eter.

b. Minyak Coklat (Cocoa butter)


Minyak coklat diperoleh dari tanaman coklat (Theobroma
cacao),

berbentuk

massa

padat

yang

berwarna

putih

kekuningan dengan bau seperti coklat. Sedikit larut dalam


alkohol, larut dalam alkohol dehidrat yang mendidihm dan
sangat larut dalam eter, kloroform. Cacao butter ini
mengandung stearin, palmitin, olein, laurin, linolein, dan
gliserida lainnya. Mempunyai titik lebur antara 34-38oC,
berupa massa padat pada suhu kamar. Penggunaannya dalam
kosmetik yang sangat terkenal dan produk perawatan kulit
seperti sabun dan lotion. Dalam bidang farmasi, cocoa butter
dapat digunakan untuk membuat suppositoria.

c. Minyak Alpukat (Avocado oil)


Minyak alpukat diperoleh dari buah Persea americana.
Banyak digunakan dalam pembuatan kosmetik sebagai
pelembab, mencegah kulit menjadi kering, mengandung
monounsaurated fats dan vitamin E dalam kadar yang cukup
tinggi.

d. Minyak Kelapa (Coconut oil)


Minyak kelapa diperoleh dari kelapa sawit, terdiri dari asam
lemak dan ester dengan gliserol. Asam lemak jenuh sekitar
50% dan 80%. Minyak kelapa juga mengandung asam
palmitat, asam laurat. Kandungan terbesarnya tokotrienol,

bagian dari vitamin E. Minyak kelapa berwarna merah karena


banyak mengandung betakaroten.

e. Minyak Jarak (Castor oil)


Minyak jarak merupakan minyak nabati yang berasal dari
castor bean (Ricinus communis). Berbentuk cairan tidak
berwarna hingga kuning muda, transpara, bau harum, dan tidak
berasa. Mempunyai titik didih 313oC. Mengandung kira-kira
90% asam lemak yang terdiri dari asam risinoleat, dan yang
terbesar adalah asam oleat dan linoleat. Minyak jarak larut
dalam alkohol, dapat bercampur dengan alkohol dehidrat, asam
asetat glasial, kloroform, dan eter. Selain digunakan dalam
kosmetika, minyak jarak juga digunakan dalam pembuatan
sabun, sebagai pewangi dan pelembut kulit.

f.

Minyak Bunga Matahari (Sunflower oil)


Minyak bunga matahari merupakan minyak nabati yang
berasal dari biji bunga matahari (Helianthus annuus) tidak
termasuk minyak menguap. Kandungan kimia minyak bunga
matahari mengandung asam linoleat, selain itu mengandung
lesitin, tokoferol, karotenoid dan waxes. Sifat fisik minyak
bunga matahari dalam suhu kamar berupa cairan, berbentuk
cairan jernih dan sedikit berwarna kuning tua dengan sedikit
bau lemak. Fungsi dalam bidang kosmetik digunakan sebagai
emolien dan pelindung kulit.

Kelompok Waxes/Lilin
a. Beeswax
Beeswax memiliki komponen utama yang terdiri dari palmitat,
palmitoleat, hidroksipalmitat dan ester oleat, mempunyai titik
lebur antara 62-64oC. Mempunyai titik didih sebesar 85oC,
tidak larut dalam air, sangat kecil kelarutannya dalam dehidrat

10

alkohol, dapat tercampur dengan kloroform dan eter, sedikit


larut dalam aseton, digunakan sebagai penstabil emulsi.

b. Adeps Lanae
Adeps lanae merupakan lemak yang diperoleh dari bulu
domba, berwarna kuning muda, berbau khas. Adeps lanae telah
meleleh berupa cairan kuning. Larut dalam benzen, kloroform,
eter, dan petroleum, sedikit larut dalam etanol dingin (95%),
lebih larut dalam etanol panas (95%); praktis tidak larut dalam
air. Mengandung pro-oksidan yang dapat memengaruhi
kestabilan beberapa zat aktif. Fungsinya dalam sediaan semi
solid sebagai emusifying agent, fase minyak dalam persipan
krim A/M. Adeps lanae dapat menyerap air sebesar 25%,
campuran adeps lanae dengan air dikenal sebagai lanolin

c. Carnauba Wax
Carnauba wax berasal dari carnauba palm (Copernicia
prunifera), berbentuk serbuk berwarna coklat terang hingga
kuning muda, tidak berbau dan tidak berasa. Carnauba wax
mengandung asam lemak (80-85%), alkohol lemak (10-15%),
asam-asam (3-6%) dan hidrokarbon (1-3%). Ciri khas dari
carnauba wax adalah esterified fatty diols (sekitar 20%),
hydroxylated fatty acids (sekitar 6%) dan asam sinamat (sekitar
10%). Mempunyai titik lebut 78-85oC, larut dalam kloroform
hangat dan toluen hangat sedikit larut dalam etanol (95%),
praktis tidak larut dalam air. Fungsinya sebagai bahan penyalut
dalam formula kosmetik seperti lipstick, eyeliners, mascaram
eye shadowsm foundations, skin care, sun carem dan lain-lain.
Stabil dan harus tersimpan pada tempat yang tertutup, di
tempat yang sejuk atau kering.

11

d. Candelia Wax
Candelia wax berbentuk padat dan mengkilat, berwarna
kuning, mempunyai kandungan kimia, asam bebas 7-9%,
karbohidrat kira-kira 50%, asam serortat dan ester wax alkohol
kira-kira 30%, serta resin. Digunakan sebagai perlindungan
terhadp uap air. Candelia wax mempunyai warna yang
mengkilat dan dapat digunakan dalam sistem emulsifikasi, dan
memiliki titik leburnya 68,72oC

e. Jojoba oil
Jojoba oil, berasal dari tanaman Jojoba (Simmondsia
chinensis). Mempunyai kandungan, setiap molekul terdiri dari
asam lemak dan alkohol lemak yang digabungkan oleh ikatan
ester. Minyak jojoba yang belum murni berupa cairan jernih
pada suhu kamar dengan sedikit bau lemak. Minyak jojoba
yang murni tidak berwarna, tidak berbau dan mempunyai titik
lebur 10oC. Minyak jojoba relatif lebih stabil dibandingkan
minyak nabati lainnya. Minyak jojoba digunakan dalam
formula sediaan kosmetik, skin care, dan hair care.
Kelompok Asam Lemak
a. Asam Stearat (C18H36O2)

Gambar 2. Rumus Bangun Asam Stearat.

Asam stearat diperoleh dari lemak atau minyak dari tumbuhan


atau binatang. Asam stearat dapat berupa gumpalan atau kristal
berwarna putih atau putih kekuningan, mengkilap, sedikit
berbau dan mirip lemak lilin. Asam stearat praktis tidak larut

12

dalam air namun dapat larut dalam alkohol, kloroform, dan


eter. Asam stearat tidak bercampur dengan hidroksida logam
dan dengan senyawa yang bersifat oksidator. Kegunaannya
dalam formulasi topikal sebagai bahan pengemulsi, konsentrasi
untuk krim yaitu 1-20%.

b. Asam Oleat (C18H34O2)

Gambar 3. Rumus Bangun Asam Oleat.

Asam oleat berbentuk cairan kental, berwarna kekuningan


sampai coklat muda, dengan bau, dan rasa yang khas. Praktis
tidak larut dalam air; mudah larut dalam etanol 95%, dalam
kloroform, dalam eter dan minyak tanah. Tidak bercampur
dengan ion Al, Ca, logam berat, larutan iodine, asam perklorat
dan seyawa pengoksidasi. Asam oleat bereaksi dengan basa
membentuk sabun.
Kelompok Alkohol
a. Setil Alkohol (C16H34O)

Gambar 4. Rumus Bangun Setil alkohol.

Setil alkohol merupakan campuran dari alkohol alifatis yang


dapat diperoleh dari binatang maupun tumbuhan. Setil alkohol
berupa padatan serbuk, ataupun granul berwarna putih. Setil
alkohol praktis tidak larut dalam air, dapat larut dalam etanol,

13

dan jika dileburkan maka dapat larut dalam paraffin liquid atau
minyak tumbuhan atau hewan. Setil alkohol berfungsi sebagai
bahan pengemulsi, dan sebagai bahan pengeras krim sehingga
mampu meningkatkan konsistensi. Setil alkohol sering
digunakan dalam sediaan krim karena sifatnya sebagai
emolien.

b. Stearil Alkohol (C18H38O)

Gambar 5. Rumus Bangun Stearil Alkohol.

Stearil alkohol ada dalam bentuk padatan granul berwarna


putih dengan bau khas yang lemah dan tidak berasa. Stearil
alkohol praktis tidak larut dalam air, tetapi dapat larut dalam
etanol, eter, kloroform dan minyak tumbuhan. Mempunyai
sifat emolien baik tanpa berlemak dan meningkatkan
viskositas, memebentuk tekstur massa krim yang lebih padat,
serta menstabilkan emulsi A/M. Stearil alkohol diabsorpsi
cepat oleh kulit, sehingga meningkatkan efikasi sediaan dan
sering digunakan pada sedian farmasetik juga kosmetik.

c. Alkohol Sterin (Sterol)


Sterol adalah alkohol hidroaromatik bervalensi satu tak jenuh.
Contoh dari alkohol sterol ini adalah kolesterol. Kolesterol
berbentuk partikel amorf berwarna putih, Diminati karena
meningkatkan daya emulsifikasinya baik. Kolesterol praktis
tidak larut dalam air, larut dalam 100 bagian alkohol, larut
dalam aseton, kloroform, eter, etil asetat, dan minyak sayur.
Kolesterol

digunakan

sebagai

bahan

pengemulsi

pada

konsentrasi 30-50%, mempunyai fungsi fisiologis dan banyak

14

digunakan dalam sediaan kosmetik. Penyimpanan di tempat


yang kering dan sejuk terhindar dari cahaya.

d. Ester sintetis
Ester sintetis seperti gliseril monostearat, isopropil miristat,
isopropil palmitat, isoprpil lanolat, butil stearat, dan butil
palmitat telah digunakan sebagai basis lemak yang resisten
terhadap oksidasi dan hidrolisis. Isopropil miristat adalah
cairan tak berwarna yang dapat dicampur dengan hidokarbon,
campuran minyak/lemak, atau sampai 50% lemak domba
dibentuk menjadi basis semisolid yang

tidak

larut air.

Meskipun demikian, ispropil miristat cocok dengan parafin


lunak, tetapi tidak stabil dengan parafin liquid. Pada bentuk
aplikasinya, zat

tersebut dapat diabsorbsi oleh kulit

dan

relatif nontoksik. Beberapa contoh ester sintetis lainnya


ialah kolesterol ester, gliserin triester, pentaeritritol tetraester.

2.3.2 Fase air


Komponen fase cair merupakan komponen penyusun krim yang bersifat
hidrofilik. Pada keadaan normal (tanpa emulsifier), zat yang tergolong fase ini
tidak bercampur dengan fase minyak. Berdasarkan fungsinya bahan-bahan
penyusun krim yang termasuk fase air terdiri atas golongan-golongan berikut.
Humektan

gliserin, propilen glikol, sorbitol, polietilen glikol,


dipropilen glikol, manitol, dll.

Thickening agent

pektin, derivat selulosa, xanthan gum, natrium


alginat, dll.

Pelarut

etanol, air, propilen glikol, gliserin dll.


Tabel 2. Pengelompokan komponen basis krim fase air.

15

Beberapa bahan yang digunakan sebagai fase air dalam pembuatan krim
antara lain:
a. Air Murni (H2O)
Air merupakan cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, dan
tidak berasa. Berat molekul yang dimiliki air adalah 18,02. Air
dalam krim umumnya digunakan sebagai pelarut.

b. Gliserin

Gambar 6. Rumus bangun Gliserin

Gliserin berupa cairan yang tidak berwarna dan tidak berbau


tetapi memiliki rasa manis. Gliserin larut dalam air dan
methanol tetapi praktis tidak larut dalam minyak. Gliserin
dapat digunakan sebagai pelarut dan juga humektan. Dapat
meledak jika dicampur dengan pengoksidasi kuat, seperti
kromium

trioksida,

potasium

klorat

atau

potasium

permanganat. Kontaminasi besi dalam gliserin menyebabkan


penghitaman pada warna campuran yang mengandung fenol,
salisilat dan tanin. Gliserin membentuk kompleks asam borat,
asan gliseroborat yang kekuatan asamnya lebih kuat dari asam
borat.

c. Propilenglikol

Gambar 7. Rumus bangun Propilenglikol

16

Sifat yang dimiliki propilenglikol hampir sama dengan


gliserin. Propilenglikol merupakan cairan tidak berwarna, tidak
berbau, tetapi memiliki rasa manis. Propilenglikol dapat larut
dalam aseton, kloroform, etanol (95%), gliserin, dan air.
Propilenglikol juga dapat digunakan sebagai pelarut dan
humektan dalam krim.

d. Trietanolamin (TEA)

Gambar 8. Rumus bangunTEA

Trietanolamin merupakan cairan higroskopis. Cairannya jernih


dan kental serta tidak berwarna atau berwarna kuning pucat
dan tidak berbau. Trietanolamin dapat membentuk garam
kristalin dengan asam mineral. Sifatnya larut dalam air,
alkohol, gliserol, dan agak larut dalam eter.

e. Sorbitol

Gambar 9. Rumus bangun Sorbitol

Sorbitol merupakan serbuk higroskopis, tidak berasa, hampir


tidak berwarna. Sorbitol dapat larut dalam Air dengan
perbandingan 1:0,5 ; praktis tidak larut kloroform, dan sedikit
larut dalam methanol. Sorbitol dapat digunakan sebagai
humektan.

17

Di dalam fase air dilarutkan bahan bahan yang dapat larut


dalam air. Pada pembuatan emulsi tipe o/w maka fase minyak
dituang secara perlahan ke dalam fase air sambil terus diaduk
searah dengan menggunakan mixer. Namun, pada krim tipe
emulsi w/o, fase air yang dituangkan secara perlahan ke dalam
fase minyak.

2.3.3 Surfaktan (Emulgator)


Terdapat banyak jenis emulgator yang dikelompokkan dalam
beberapa golongan berdasarkan parameter-parameter tertentu. Akan tetapi,
yang harus dipastikan pada setiap jenis emulgator adalah kemampuannya
untuk membentuk suatu lapisan film yang mengelilingi droplet-droplet yang
terdispersi di antara dua fase.
Kelompok Emulgator Anionik
Emulgator anion dapat terdisosiasi dalam larutan air, sehingga yang
berperan sebagai emulgator adalah anion. Emulgator jenis ini
memiliki kemampuan untuk stabil dalam asam dan memungkinkan
penyesuaian pH emulsi yang diinginkan. Emulgator anion terbagi
lagi menjadi beberapa golongan, yaitu:

Sabun alkali

garam dari asam palmitat, garam dari asam


stearat, dll

Sabun logam

Kalsium palmitat, Aluminium palmitat, dll

Sabun amin

Trietanolamin, dll

Senyawa tersulfatasi

Natrium lauril sulfat, Natrium setil sulfat,


Natrium stearil sulfat, dll

Senyawa tersulfonasi

Natrium setil sulfonat, dll

Garam dari asam empedu

Natrium glikokolat, dll

18

Saponin
Tabel 3. Pengelompokan komponen emulgator krim kelompok anionik.

Kelompok Emulgator Kationik


Emulgator jenis ini terdisosiasi dalam larutan air, cara kerjanya
sebagai emulgator berkebalikan dengan kelompok sabun, yang
berperan adalah kation. Kelebihan emulgator kationik yaitu tidak
ada pengendapan dengan ion kalsium, dan ion magnesium, dalam
air sadah tetap mempunyai aktivitas penuh. Kelemahannya sabun
invert selain dapat mengiritasi kulit dan mata, memiliki cukup
banyak inkompatibilitas yaitu tidak dapat digunakan dengan sabun
lainnya, karena perbedaan muatan yang ada dapat menyebabkan
terjadinya penghambatan aktivitas kerjanya. Salah satu contoh
emulgator kationik adalah Alkonium bromida, Benzalkonium
klorida, Setilpiridinium klorida dan Setrimid.
Kelompok Emulgator Amfoter
Emulgator amfoter adalah senyawa kimia yang mempunyai gugus
kationik dan anionik di dalam molekulnya. Molekulnya akan
terionisasi di dalam larutan air dan tergantung kondisi mediumnya,
dapat memberikan karakter ionik atau anionik. Pada umumnya,
dalam kondisi basa, surfaktan amfoterik berdisosiasi menjadi
anion, dan dalam kondisi asam berdisosiasi menjadi kation
Contoh emulgator amfoter, yaitu protein dan lesitin.
a. Protein
Protein merupakan emulgator sistem M/A, keuntungannya
dapat digunakan untuk sediaan obat dalam. Kerugiannya
sebagai

produk

mikroorganisme.

alam
Protein

mudah
mudah

terkontaminasi
bergumpal

pada

oleh
titik

isoelektrik membentuk gumpalan dan untaian anggur dari bolabola emulsi. Protein antara lain putih telur yang terdiri dari

19

asam amino sehingga ditunjang oleh gugus COOH dan gugus


OH atau gugus NH2 atau NH. Gelatin, kasein, serbuk susu
tanpa buih, kuning telur serta protein dari ekstrak gandum
kering merupakan protein yang utama dalam sediaan farmasi.
Protein yang sekarang ini juga berperan dalam sediaan farmasi
adalah protein yang berasal dari kacang-kacangan seperti
protein kacang kedelai. Protein dalam larutan alkali bertindak
sebagai emulgator kationik dan dalam larutan asam sebagai
emulgator kationik
b. Lesitin
Lesitin merupakan emulgator M/A atau A/M. Keuntungannya
emulgator ini dapat digunakan untuk emulsi yang digunakan di
bagian dalam dan untuk emulsi injeksi. Kerugiannya, stabilitas
emulsi terbatas karena akan mengalami hidrolisis dalam
lingkungan air. Lesitin diperoleh dari kuning telur atau material
tumbuhan. Paling banyak dari kacang kedelai. Karakter amfoter
dari senyawa tersebut memungkinkan pembentukan emulsi
M/A dan juga emulsi A/M. Komposisi minyak juga
berpengaruh melalui perubahan perbandingan fase air terhadap
fase minyak sehingga pada akhir proses dapat menyebabkan
terjadinya pembalikan fase.
Kelompok Emulgator Non-Ionik
Emulgator ini bereaksi netral, sedikit dipengaruhi oleh elektrolit.
Aktivitasnya relatif tidak tergantung pada suhu. Pengemulsi jenis
ini menunjukkan pH yang sangat baik dan elektrolit kompatibilitas
dalam emulsi, karena tidak terionisasi dalam larutan. Meskipun
dapat bersifat lipofilik dan hidrofilik, sistem pengemulsi ini
mungkin memiliki gugus lipofilik dan anggota hidrofilik untuk
menghasilkan keseimbangan hidrofilik-lipofilik (HLB). Berikut
merupakan contoh emulgator non ionik :
a. Span

20

Span merupakan emulgator yang merupakan ester parsial asam


lemak dari sorbitan. Span membentuk cincin tertutup dengan
struktur

tetrahidropiran

dan

tetrahidrofuran

dengan

membebaskan air. Kebanyakan dari span tidak larut sama sekali


atau hanya dapat terdispersi dalam air. Span dapat terdispersi
dalam alkohol, eter, dan beberapa dapat larut dalam paraffin.
Berikut merupakan tabel jenis span dan harga HLB yang
dimilikinya :

Nama Dagang

Identitas Kimia

Harga HLB

Span 20

Sorbitan monolaurat

8,6

Span 40

Sorbitan monopalmitat

6,7

Span 60

Sorbitan monostearat

4,7

Span 65

Sorbitan tristearat

2,1

Span 80

Sorbitan monooleat

4,3

Span 85

Sorbitan trioleat

1,8

Tabel 4. Jenis-jenis span dan nilai HLBnya.

b. Tween
Karakter

lipofil

pada

span

bertanggung

jawab

untuk

pembentukan emulsi a/m. pengeteran gugus hidroksil bebas


ester

sorbitan

dengan

polietilenglikol

memperoleh

penghidrofilan zat yang merupakan emulgator jenis m/a. Tween


merupakan ester asam lemak dari polioksietilensorbitan. Berikut
merupakan tabel jenis tween dengan HLB yang dimilikinya :
Nama Dagang

Identitas Kimia

Harga HLB

Tween 20

Polioksietilen-(20)-

16,7

sorbitanmonolaurat
Tween 21

Polioksietilen-(4)-

13,3

sorbitanmonolaurat
Tween 40

Polioksietilen-(20)-

15,6

21

sorbitanmonopalmitat
Tween 60

Polioksietilen-(20)-

14,9

sorbitanmonostearat
Tween 61

Polioksietilen-(4)-

9,6

sorbitanmonostearat
Tween 65

Polioksietilen-(20)-

10,5

sorbitanmotristearat
Tween 80

Polioksietilen-(20)-

10,0

sorbitanmonooleat
Tween 81

Polioksietilen-(4)-

10,0

sorbitanmonooleat
Tween 85

Polioksietilen-(20)-

11,0

sorbitantrioleat
Tabel 5. Jenis-jenis Tween dan nilai HLBnya.

Pada tabel di bawah ini disajikan surfaktan dan penggunaannya


Surfaktan

Contoh khas

Penggunaan

Golongan anionik
- Asam karboksilat

Sabun

Laktilat

T; O

Kondensat polipeptida
- Ester-ester asam sulfat
- Alkil & alkil aril
sulfonat
- Ester-ester asam fosfat

Monogliserida yang

T; O

disulfatasi

T; O

Alkil sulfat

Dodekilbenzen
sulfonat

- Amida alkil disubtitusi

T
T; O

Trioleil fosfat
- Hemester

Sarkosinat

T
T; O

Taurat
Sulfosuksinat

22

Golongan kationik
- Amin kuartener

Alkoksialkilamin
Benzalkonium klorida

T
T; O

Golongan non-ionik
- Polialkoksieter

Eter alkil/aril

polioksietilen

T; O; P

Polimer blok
polioksietilen

T; O

polioksipropilen

T; O

Ester polioksietilen
asam lemak
Ester polioksietilen
asam sorbitan
Golongan amfoter
- Ammonium karboksilat N-alkil asam amino
- Ammonium fosfat

Lesitin

T; O
T; O; P

Keterangan: T = topikal, O = oral, P = parenteral


Tabel 6. Penggolongan surfaktan untuk emulsi farmaseutik
2.3.4 Contoh Basis Krim
1. Basis Husas
Basis Husas mengandung :
a. Vaselin Album

25%

b. Catyl alkohol

20%

c. Emulsifier

2%

Tween 60

1,6%

Span

0,4%

d. Nipagin
e. Aqua

0,18%
ad

100%

Cara Pembuatan :
1. Lelehkan Vaselin album, Cetyl alkohol, dan Span dalam fat melting
vessel.
2. Lakukan pelelehan pada suhu 600C.
23

3. Lakukan pemanasan air pada Becomix Vessel pada suhu 900C.


4. Campurkan Tween dengan air kemudian lanjutkan pemanasan.
5. Tambahkan Nipagin, masukkan zat aktif dan tambahkan air hingga
volume 100ml.
2. Cum Aqueous Cream
Menurut Martindale halaman 1441, Basis Cum Aqueous Cream
mengandung :
I.

Emulsifying ointment

30%

a. Emulisifying wax

30%

Sodium Lauryl Sulfatee

10%

Setostearil alkohol

90%

b. Vaselin album

50%

c. Paraffin Liquid

20%

II.

Phenoxy etanol

III.

Aquadest

1%
ad

69%

Cara Pembuatan :
1. Vaselin album, Paraffin Liquid, dan Setostearil alkohol lelehkan
dalam fat Melting Vessel
2. Lakukan pelelehan pada suhu 600C.
3. Lakukan pemanasan air pada suhu 900C menggunakan Becomix
Vessel.
4. Larutkan Sodium Lauryl Sulfat dan Phenoxy etanol dalam air
panas tersebut.
5. Masukkan zat aktif dan tambahkan air sampai 100%.

3. Basis Cream Cum TEA Stearat


Cum TEA Stearat (Martindale halaman 45) mengandung :
I.

Asam Stearat

24%

II.

TEA

1,2%

III.

Gliserol

13,5%

IV.

Aquades

ad

100%

24

Cara pembuatan :
1. Lelehkan asam stearat dalam fat melting vessel..
2. Lakukan pelelehan pada suhu 600C.
3. Lakukan pemanasan air pada suhu 900C menggunakan Becomix
Vessel.
4. Larutka TEA dalam air panas, kemudian tambahkan gliserol
5. Masukkan zat aktif dan tambahkan air samai 100%.
2.4 Contoh Formulasi Krim

2.4.1 Floucinonide Cream


Floucinonide cream biasa digunakan untuk mengobati inflamasi dan gatal
yang disebabkan oleh beberapa kondisi kulit seperti reaksi alergi, psoriasis dan
eczema. Krim ini biasa digunakan sebagai pendamping krim walet untuk
mengatasi iritasi pada kulit, namun tidak hanya walet, krim pemutih dan
perawatan wajah lain nya pun dapat menggunalan krim iritasi ini, untuk mengatasi
gatal-gatal, pengelupasan dan merah-merah pada wajah akibat penggunaan krim
wajah/adaptasi kulit.

Bahan yang diperlukan untuk pembuatan krim ini adalah:


Bahan

Persentase (%)

Fungsi

Floucinonide

0,05

Zat aktif

Crotamiton

Zat aktif

Paraffin Liquid

10

Basis, pelembab (emolient, pelicin,


pembantu emulsi

Aquadest

56,07

pelarut

Polyoxyethylene

Surfaktan

lauryl ether

25

Carboxyvinyl

20

polymer

emulsifying agent,
stabilizing agent,

Trietanolamin

4,68

Alkalizing agent, emulsifying agent

Disodium edetate

1,2

Chelating agent

Tabel 7. Bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan krim Flucoinoide

1.

Floucinonide

Berwarna putih atau hampir putih berbentuk serbuk kristalin. Praktis tidak larut
dalam air, sulit larut dalam etanol absolut. Memiliki titik leleh 220oC

2.

Crotamiton

Tidak berwarna atau kuning pucat, berbentuk cairan berminyak. Sulit larut
dalam air, larut dalam etanol 96%. Pada suhu rendah akan membentuk padatan
sebagian atau seluruhnya.
3.

Polyoxyethylene lauryl ether

Cairan kental tidak berwarna atau kuning terang. Larut dalam air.

4.

Carboxyvinyl polymer

Berwarna putih, fluffy, bersifat asam, higroskopis.

5.

Trietanol amin

Tidak berwarna atau kuning pucat, Berbentuk cairan kental, Larut dalam air,
metanol, aseton, CCl4, Sangat higroskopis, Titik leleh: 20-21oC.

6.

Disodium edetate

Kristal berwarna putih, tidak berwarna, Praktis tidak larut dalam kloroform,
eter, sulit larut dalam etanol 95%, larut dalam air (1:11)

Cara pembuatan

26

1. Fluocinonide dilarutkan dalam crotamiton dengan pemanasan kemudian


masukan kedalam mixer.
2. Memasukan parafin liquid, polyoxyethylene lauryl ether ke dalam mixer 1
3. Melarutkan carboxyvinyl polimer dalam air dengan konsentrasi 4%
4. Melarutkan disodium edetate dalam aquadest dengan konsentrasi 1%
5. Memasukan 47% aquadest campuran 3 dan 4 dalam mixer 1
6. Memanaskan campuran sampai suhu 70-80oC
7. Melarutkan trietanolamin dalam aquadest dengan konsentrasi 2%
8. Menambahkan campuran 7 ke dalam mixer dan dicampur. Kemudian
ditambahkan sisa aquadest
9. Campurkan campuran didalam mixer kemudian didinginkan sampai
membentuk cream dengan viskositas 65.000 centipoise dan pH 4,47

2.4.2 Krim Calamine


Nama Bahan

Jumlah (%)

Fungsi

Calamin

5,00

Antiseptikum eksternal

Zink Oksida

5,00

Antiseptikum lokal

Minyak Almond

2,00

Fase minyak, emolient

Cetostearyl

11,25

Emulgator

Na-Lauryl Sulfat

1,25

Emulgator

Gliserin

10,00

Humektan

Metil Paraben

0,18

Pengawet

Propil Paraben

0,02

Pengawet

Alkohol

Aquadest

65,300

Fase air, pembawa

Tabel 8 . bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan krim kalamin

Cara kerja :
1. Pembuatan fase minyak :
6. Lelehkan

cetostearyl

alkohol

dan

minyak

almond

dengan

menggunakan fat melting vessel.

27

7. Lakukan pelelehan pada suhu 600C.


2. Pembuatan fase air :
a. Lakukan pemanasan air pada Becomix Vessel pada suhu 900C.
b. Campurkan gliserin dengan air kemudian lanjutkan pemanasan.
c. Tambahkan metil paraben dan propil paraben.
d. Masukkan Na-Lauryl Sulfat ke dalam vessel kemudian nyalakan mixer
hingga tercampur secara homogen.
3. Masukkan fase minyak terlebih dahulu kemudian dimasukkan fase air dan
dihomogenisasi dengan kecepatan 10 rpm.
4. Tambahkan sisa air dan homogenisasi kembali hingga terbentuk basis
krim.
5. Lakukan penyiapan zat aktif, terlebih dahulu ukuran zat aktif harus
dilakukan pengecilan ukuran partikel.
a. Lakukan pengayakan Zink Oksida menggunakan ayakan ukuran 16
mesh.
b. Lakukan pengecilan partikerl calamin dengan menggunakan milling.

6. Masukkan Zn Oksida dan calamin ke dalam basis krim.


7. Campuran ini dihomogenkan dengan kecepatan 10 rpm.
Krim dimasukkan ke dalam kemasan primer berupa tube.

2.4.3 Krim Cetrimide


Krim Cetrimide adalah krim yang biasa digunakan sebagai pengobatan
luka bakar, membersihkan kulit dan juga untuk membersihkan luka yang
mengering pada kulit. Contoh sediaan yang mengandung cetrimide sebagai bahan
aktifnya yaitu Bioacne

28

Gambar 10. Bioacne Cream, diakses dari


http://www.apotikantar.com/bioacne_cream_10_g pada
tanggal 9 Oktober 2013 pukul 10.48

Formula krim Cetrimide dalam 20 gram sediaan , yaitu :


No. Nama Bahan

Jumlah

Fungsi

Cetrimide

150 mg

Zat aktif, antimikroba

Stearic Acid

4 gram

Fase minyak, basis

TEA

12,5 gram

Emulsifying agent

Freshly boiled and

13,35 gram

Pengawet, Pelarut fase air

cooled purified water


Tabel 9. Bahan Krim Cetrimide

Pemerian bahan
1. Cetrimide
Cetrimide merupakan bahan aktif yang digunakan dalam pembuatan
krim. Cetrimide mempunyai rumus molekul CHBrN. Pemeriannya
berupa serbuk berwarna putih, berat molekulnya 336,40. Cetrimide
larut dalam ethanol 95% dan air dengan perbandingan 1:2. Titik leleh
antara 232-247 C. Cetrimide disimpan di wadah yang tertutup rapat
dan kering.

Gambar 11. Rumus bangun


Cetrimide

2. Stearic Acid (Asam stearat)


Asam stearat mempunyai rumus CHO. Pada krim cetrimide ini,
asam stearat memiliki fungsi sebagai basis fase minyak. Pemeriannya

29

berupa padatan yang berwarna putih sampai kuning. Berat molekul


asam stearat adalah 284,47 dan mempunyai titik didih 3830C . Asam
stearat larut dalam ethanol dengan perbandingan 1: 15, praktis tidak
larut dalam air

Gambar12. Rumus bangun


asam stearat

3. TEA (Triethanolamine)

TEA mempunyai rumus struktur CHO. Pemeriannya tidak


berwarna hingga berwarna kuning pucat. Kelarutannya, larut dalam air
dan metanol. TEA berubah warna menjadi cokelat ketika terkena
cahaya, dan mempunyai titik didih 294C.

Gambar 13. Rumus bangun Triethanolamine

4. Freshly boiled and cooled purified water


Pemeriannya berupa benda cair yang mempunyai titik didih 100C
dan memiliki kelarutan yaitu larut dalam pelarut yg polar. Air dalam
formulasi krim ini berfungsi sebagai pelarut dan pengawet
Cara pembuatan krim
1. Bahan-bahan yang diperlukan ditimbang dengan tepat menggunakan
timbanagn digital

30

2. Pembuatan fase minyak


a. Asam stearat dipanaskan hingga suhunya tidak melebihi 60C di dalam
alat jacketted kettle seperti pada gambar
b. Paraffin Liquid dimasukkan ke dalam jacketted kettle yang berisi Asam
Stearat
c. Asam stearat dan paraffin liquid dihomogenkan ke dalam homogenizer

Gambar 14. jacketted kettle

3. Pembuatan fase air


a. Air yang telah dimurnikan dipanaskan hingga suhu 60C dalam steel
drum seperti pada gambar

Gambar 15 stainless drum

31

b. Cetrimide dimasukkan ke dalam steel drum.


c. Cetrimide dan air murni yang telah dipanaskan dihomogenkan ke
dalam homogenizer
d. Pencampuran fase minyak dengan fase air, yaitu dengan memasukkan
fase minyak ke dalam fase air pada alat continuous mixer.

Gambar 16. continuous mixer

32

2.4.4 Krim Betametason Valerat


Nama Bahan

Jumlah (g/100g)

Betametason Valerat

0,1

Fungsi
Zat aktif, antiinflamasi

Setil alcohol

Emollient

Paraffin liquid

Fase minyak

Vaselin Album

17,8

Basis, fase minyak

Tween 60

1,386

Emulgator

Span 60

0,614

Emulgator

Metil Paraben

0,1

Pengawet

Aquadest

66

Fase Air

Tabel 10. Bahan-bahan krim Betametason Valerat


Cara Kerja:
1. Pembuatan fase minyak
a. Lelehkan vaselin album, setil alcohol, 2/3 paraffin liquid, dan span
60 dengan menggunakan fat melting vessel.
b. Lelehkan pada suhu 60C
2. Pembuatan fase air
a. Panaskan aquadest pada suhu 90C.
b. Larutkan tween 60, dan metal paraben hingga terbentuk larutan
jernih.
3. Campurkan fase air dan fase minyak menggunakan mixer dengan
kecepatan 8 rpm. Homogenkan selama 10 menit.
4. Dinginkan sampai suhu 50C
5. Larutkan betametason dalam 1/3 paraffin liquid pada wadah yang berbeda.
6. Campurkan larutan betametason dengan basis krim yang telah dibuat, lalu
homogenkan.

33

2.4.5 Krim Hidrokortison 1%


Hidrokortison adalah kortikosteroid topikal yang mempunyai efek antiinflamasi, anti-alergi dan antipruritus pada penyakit kulit. Hidrokortison
diindikasikan untuk menekan reaksi radang pada kulit yang bukan disebabkan
oleh infeksi seperti pada eksim dan alergi kulit seperti dermatitis atopi, dermatitis
kontak, dermatitis alergik, pruritus anogenital dan neurodermatitis.
Untuk membuat sediaan hidrokortison 1% digunakan bahan-bahan sebagai
berikut :
Bahan

Persentase

Fungsi

(%)
Hidrokortison,

yang

telah

di

kecilkan

Zat Aktif

Cetostearil alkohol

Basis

Paraffin putih

18

Basis

Parafin Liquid

basis

Chlorrocresol

0,1

Pengawet

Propil paraben

0.035

Pengawet

Metilparaben

0.1

Pengawet

Cetomagrogol-1000

Surfaktan

Propilen Glikol

Solvent,

partikelnya

humektan
Natrium pospat monobasis

0.29

Pengatur pH

Aquadest

59.6

Pelarut

Sifat Fisikokimia Bahan


1. Hidrokortison
Merupakan serbuk kristal berwarna putih yang sedikit larut dalam air.
Memiliki titik leleh 214

C dan bersifat adrenokortikosteroid sehingga

digunakan sebagai zat aktif.


2. Propilenglikol
34

Merupakan cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, dengan rasa yang
manis yang memiliki khasiat humektan dan solven. Propilen glikol larut di
dalam air dengan titik didih 188 O C dan titik leleh 59 O C
3. Klorokresol
Merupakan serbuk tidak berwarna yang sedikit larut didalam air dan
sangat larut dalam etanol. Berkhasiat sebagai antimikroba dan desinfektan
yang biasanya digunakan pada konsentrasi 0.2%. Memiliki titik didih : 235
O

C dan titik leleh : 65 O C

4. Parafin Liquid
Merupakan cairan yang tidak larut dalam air dan bercampur dengan
hidrokarbon.
5. Cetomacrogol 1000
Merupakan surfaktan nonionik yang larut dalam air, metanol dan aseton.
Memiliki titik leleh tidak kurang dari 38 O C.
6. Setostearil alkohol
Merupakan emulsifying agent yang juga berguna sebagai pengingkat
viskositas pada sediaan topikal. Berupa massa berwarna putih, berupa
pellet dan granul yang pada pemanasan, meleleh menjadi cairan jernih
berwarna kuning hambar. Memiliki titik didih 300-360O C dan larut dalam
etanol, eter, dan minyak serta tidak larut dalam air.
7. Parafin putih (vaselin album)
Merupakan campuran petrolatum dengan lanolin alkohol yang bersifat
emolient sehingga dapat dijadikan sebagai basis untuk sediaan topikal.
Memiliki titik leleh : 45-63O C dan larut 1 dalam 20 bagian kloroform, 1
dalam 100 bagian minyak.
8. Sodium pospat monobasic
Merupakan reagen dengan sifat buffer yang tinggi dengan BM : 138.
9. Metil Paraben
Merupakan serbuk halus dengan warna putih dan berfungsi sebagai
pengawet. Memiliki titik leleh 125-1280C.
10. Propil Paraben

35

Merupakan serbuk ristal putih tidak berbau dengan BM 180,2. Berfungsi


sebagai pengawet dan memiliki titik didih 133 O C dan titik leleh
O

95-98

C. Kelarutannya dalam air yaitu < 0.1 g/100 mL pada 12 C.

Prosedur Kerja
1. Pembuatan fase air
a. Memanaskan aquadest di Becomix Vessel pada suhu 90o C.

Gambar 17. Becomix vessel

b. Tambahkan dan larutkan propil paraben dan metil paraben pada


Becomix Vessell.
c. Turunkan suhu hingga 65oC dan kemudian pertahankan suhu pada
rentang 65-70oC.
d. Memasukan chlorocresol, sisa massa cetomacrogol-1000, dan
Natrium pospat monobasis kemudian nyalakan mixer.
2. Pembuatan fase minyak
a. Memuat, parafin liquid, setengah massa cetomacrogol-1000, stearil
alkohol, dan parafin putih ke fat-melting vessel. panaskan hingga
suhu 70-75oC sambil di stirring.

36

Gambar 18. fat-melting vessel

b. Turunkan suhu hingga 65oC dan kemudian pertahankan suhu pada


rentang 65-70oC.
3. Pembuatan basis krim
a. Memasukan fase minyak kedalam Becomix vessel yang berisi fase
air melewati vaccum transfer. Sambil di homogenkan dengan
kecepatan 10 rpm dan temperatur 60 O C.
b. Menghomogenkan campuran pada kecepatan rendah dengan
pencampuran 10-12 rpm, tekanan 0,4bar, temperatur 60O C selama
10 menit.
c. Dinginkan campuran hingga suhu 45O C.
4. Zat Aktif
a. Pada wadah

yang berbeda, masukkan propilenglikol

dan
O

hidrokortison yang telah dikecilkan partikel nya pada suhu 45 C


kemudian homogenkan menggunakan Turrax homogenizer hingga
terbentuk massa lembek seperti bubur.

37

Gambar 19. Turrax homogenizer

b. Masukkan campuran tersebut ke dalam basis pada 10 rpm suhu


45OC.
c. Bilas wadahnya dengan sisa propilenglikol, masukkan hasil
bilasan, mix selama 10 menit pada kecepatan yang sama.
5. Pencampuran Terakhir
a. Homogenkan campuran dengan kecepatan pada 10 rpm dengan
tekanan 0,4 bar.
b. Turunkan suhu hingga 30O C sambil tetap di mixing.
c. Masukkan jumlah krim yang tepat ke dalam collapsible tubes.

38

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan di atas, maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa krim adalah formulasi untuk memberikan persiapan
yang pada dasarnya bercampur dengan sekresi kulit. Krim merupakan
salah satu contoh dari emulsi. Dalam krim terdapat beberapa bahan yang
mendukung sediaannya seperti basis, emulgator, zat aktif, pelarut,
pengawet maupun zat tambahan lainnya. Basis terdiri dari berbagai macam
sumber yang bisa diterapkan dalam proses pembuatan krim .

3.2

Saran
Agar dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap basis-basis dan pendukung
bahan krim lainnya agar seorang formulator dapat dengan tepat
memformulasikan krim sesuai dengan kegunaannya.

39

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Effionora. 2012. Eksipien dalam Sediaan Farmasi. Jakarta : Dian Rakyat.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III.
Jakarta: Korpri Sub Unit Dirjen POM
Niazi, Sarfaraz K. 2004. Handbook of Pharmaceutical Manufacturing
Formulations Semisolid Products Volume 4. USA : CRC Press
Raymond C Rowe, Paul J Sheskey. 2009. Handbook of Pharmaceutical
Excipients. 6th Ed. London: the Pharmaceutical Press.
www.chemicalbook.com
WHO Pharmacopoeia Library http://apps.who.int/phint/en/p/docf/

40