Anda di halaman 1dari 13

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ketika kita lebih mendalami akan pemahaman kita terhadap agama,
utamanya yang berkaitan dengan tindakan para mukallifin (orang-orang yang
terbebani hukum taklif), kata syariah, fikih, dan hukum islam merupakan
kata-kata yang begitu sering kita jumpai dalam setiap pembahasannya. Tidak
jarang kita menggunakan kata-kata tersebut dalam satu arti, tanpa
membedakannya, bahkan seringkali malah menyamakan antara satu dengan
yang lainnya. Hal ini tidak lain karena penilaian kita yang memganggap katakata tetsebut merupakan sinonim.
Melihat realita yang telah umum tersebut, kami (penulis) memiliki
keinginan untuk mengungkapkan bahwa, apa sebenarnya pengertian dari
masing-msing kata tersebut? Apakah memang benar kata-kata itu merupakan
sinonim, tanpa adanya perbedaan antara yang satu dengan yang lain?
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, pasti ada rasa ingin tahu, paling tidak ada
beberapa pertanyaan yang timbul dalam benak penulis, yaitu:
1.

Bagaimanakah pengertian Syariah, Fikih, dan Hukum Islam?

2.

Apa sajakah perbedaan antara Syariah, Fikih, dan Hukum Islam?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari rumusan masalah di atas adalah sebagai berikut :
1.

Untuk mengetahui apa pengertian dari Syariah, Fikih, dan Hukum


Islam itu.

2.

Untuk mengetahui perbedaan Syariah, Fikih, dan Hukum Islam itu.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Fikih, Syariah, dan Hukum Islam
Pengertian fikih atau ilmu fikih sangat berkaitan dengan syariah, karena
fikih itu pada hakikatnya adalah jabaran praktis dari syariah.1 Karenanya,
sebelum membahasa tentang arti fikih, terlebih dahulu perlu dibahas arti dan
hakikat syariah.
1.

Pengertian Syariah
Syariah menurut bahasa memiliki beberapa makna, antaranya
adalah ( al-warid) yang berarti jalan, ia bermakna pula
yaitu tempat keluarnya (mata) air.2 Al-Raghib menyatakan syariah adalah
metode atau jalan yang jelas dan terang misalnya ucapaan
(aku mensyariatkan padanya sebuah jalan). Manna' Khalil Al-Qathan
berkata Syariat pada asalnya menurut bahasa adalah sumber air yang
digunakan untuk minum, kemudian digunakan oleh orang-orang Arab
dengan arti jalan yang lurus (al-shirath al-mustaqim) yang demikian itu
karena

tempat

keluarnya

air

adalah

sumber

kehidupan

dan

keselamatan/kesehatan badan, demikian juga arah dari jalan yang lurus


yang mengarahkan manusia kepada kebaikan, padanya ada kehidupan
jiwa dan pengoptimalan akal mereka.3
Kata syariah banyak terdapat di dalam Al-Qur'an, misalnya firman
Allah SWT dalam QS Al-Jatsiyah : 18




Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatusyariat
(peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan

. Amir Syarifuddin, Ushul Fikih, Juz 1, hal. 1.


2 Ibnu Mandzur, Lisan Al-Arab Juz VII, hal. 86
3 Manna' Khalil Al-Qatan, At-Tasyri' Wa Al-Fikihi fi Al-Islam Tarikhan wa Manhajan, Mesir :
Maktabah Wahbah, 2001, hal. 13.

janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak


mengetahui.
Makna syariah pada ayat ini adalah peraturan atau cara beragama.
Sedangkan dalam QS Asy-Syura ayat 13 bermakna memberikan tata cara
beragama :


Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah
diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan
kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim,
Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu
berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik
agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada
agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk
kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).
Makna syariah yang serupa disebutkan dalam QS Al-Syura ayat 21
Allah taala berfirman :

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah


yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan
Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah)
tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang
yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.
Dari

beberapa

ayat

tersebut

dapat

disimpulkan

bahwa

kata syariah bermakna peraturan, agama dan tata cara ibadah. Pengertian

ini telah mengarah kepada makna secara istilah, karena khitab dari ayatayat tersebut adalah orang-orang yang beriman agar mereka dapat
merealisasikan syariat tersebut.
Secara istilah syariat adalah Seperangkat norma yang mengatur
masalah-masalah bagaimana tata cara beribadah kepada Allah SWT, serta
bermuamalah dengan sesama manusia. Al-Fairuz Abady menyebutkan
bahwa syariat adalah apa-apa yang disyariatkan Allah kepada para
hambaNya.4 Ibnu Mandzur menyatakan bahwa syariah adalah :


Segala sesuatu yang ditetapkan

Allah dari dien(agama) dan

diperintahkanya seperti puasa, shalat, haji, zakat dan amal


kebaikan lainnya.5
Definisi ini seperti yang disebutkan oleh Manna' Al-Qathan yang
menyebutkan bahwa syariat secara istilah adalah Setiap sesuatu yang
datang dari Allah SWT yang disampaikan oleh utusan/RasulNya kepada
para hambaNya, dan Dia adalah pembuat syariat yang awal, hukumNya
dinamakan syar'an.6 Senada dengan pengertian ini Mahmud Syalthut
mendefinisikannya dengan "Sebuah nama untuk tata peraturan dan
hukum yang diturunkan oleh Allah SWT dalam bentuk ushulnya dan
menjadi kewajiban setiap muslim sebagai pedoman dalam berhubungan
dengan Allah dan antar sesama manusia."7
Para

intelektual

muslim

Indonesia

memberikan

definisi

dari syariah dengan beraneka ragam, misalnya Hasbi Ash-Shidieqy


mendefinisikannya dengan Segala yang disyariatkan Allah untuk kaum
muslimin, baik ditetapkan oleh Al-Qur'an ataupun sunnah Rasul yang

Al-Fairuz Abady, Al-Qamus Al-Muhith, hal. 732.


5 Ibnu Mandzur, Lisan Al-Arab, Juz 5, hal. 86.
6 Manna' Khalil Al-Qathan, Op. Cit, hal. 14.
7 Mahmud Syalthut, Al-Islam Aqidah Wa-Syari'ah, hal. 73.

5
berupa sabda, perbuatan, ataupuntaqrirnya.8 Sedangkan M. Ali Hasan
menyatakan bahwa syari'ah adalah : Hukum-hukum yang disyariatkan
oleh Allah bagi hamba-hambaNya (manusia) yang dibawa oleh para nabi,
baik

menyangkut

cara

mengerjakannya

yang

disebutfar'iyah

amaliyah (cabang-cabang amaliyah) dan untuk itulah fikih dibuat, atau


yang

menyangkut

petunjuk

beri'tiqad yang

disebut ashliyah

i'tiqadiyah(pokok keyakinan), dan untuk itu para ulama menciptakan ilmu


kalam (ilmu tauhid). Dalam bagian lain disebutkan bahwa syariah adalah
Semua yang disyariatkan Allah untuk kaum muslimin baik melalui AlQur'an maupun melalui sunnah rasul.9
Secara etimologis syariah berarti jalan yang harus diikuti. Kata
syariah muncul dalam beberapa ayat Al-Quran, seperti dalm surah AlMaidah:48, asy-Syura: 13, yang mengandung arti jalan yang jelas yang
membawa kepada kemenangan.(Prof. Dr. H. Amir Syarifuddin, Ushul
Fikih. Hal. 1). Dalam hal ini agama yang ditetapkan oleh Allah disebut
syariah, dalam artian lughawi karena umart isla selalu melaluinya dalam
kehidupannya.
2.

Pengertian Fikih
10

.( )

Fikih secara etimologi berarti pemahaman yang mendalam dan


membutuhkan pengerahan potensi akal.11 Sedangkan secara terminologi
fikih merupakan bagian darisyariah Islamiyah, yaitu pengetahuan
tentang hukum syariah Islamiyah yang berkaitan dengan perbuatan
manusia yang telah dewasa dan berakal sehat (mukallaf) dan diambil dari
dalil yang terinci. Sedangkan menurut Prof. Dr. H. Amir Syarifuddin

Hasbi Ash-Shidieqy, Pengantar Hukum Islam, Semarang : PT. Pustaka Rizki Putra , 2001.
hal. 18.
9
M. Ali Hasan, Perbandingan Madzhab, Jakarta : PT Rajagrafindo Persada, 1995, hal. 5.
10 Abdul hamid hakim, Al-Bayan. hal 3-4
11 Rachmat SyafeI, Ilmu Ushul Fikih. hal. 18

6
mengatakan fikih adalah ilmu tentang hukum-hukum syarI yang bersifat
amaliah yang digali dan ditemukan dengan dalil-dalil yang tafsili.12
Penggunaan kata syariah dalam definisi tersebut menjelaskan
bahwa fikih itu menyangkut ketentuan yang bersifat syarI, yaitu sesuatu
yang berasal dari kehendak Allah. Kata amaliah yang terdapat dalam
definisi diatas menjelaskan bahwa fikih itu hanya menyangkut tindak
tanduk manusia yang bersifat lahiriah. Dengan demikian hal-hal yang
bersifat bukan amaliah seperti masalah keimanan atau aqidah tidak
termasuk dalam lingkungan fikih dalam uraian ini. penggunaan kata
digali dan ditemukan mengandung arti bahwa fikih itu adalah hasil
penggalian, penemuan, penganalisisan, dan penentuan ketetapan tentang
hukum. Fikih itu adalah hasil penemuan mujtahid dalam hal yang tdak
dijelaskan oleh nash.
Dari penjelasan diata dapat kita tarik benang merah, bahwa fikih
dan syariah memiliki hubungan yang erat. Semua tindakan manusia di
dunia dalam mencapai kehidupan yang baik itu harus tunduk kepada
kehendak Allah dan Rasulullah. Kehendak Allah dan Rasul itu sebagian
terdapat secara tertulis dalam kitab-Nya yang disebut syariah. Untuk
mengetahui semua kehendak-Nya tentang amaliah manusia itu, harus ada
pemahaman yang mendalam tentang syariah, sehingga amaliah syariah
dapat diterapkan dalam kondisi dan situasi apapun dan bagaimanapun.
Hasilnya itu dituangkan dalam ketentuan yang terinci. Ketentuan yang
terinci

tentang

amaliah

manusia

mukalaf13

yang

diramu

dan

12 Amir Syarifuddin, Op. Cit, hal. 3


13
Mukallaf adalah muslim yang dikenai kewajiban atau perintah dan menjauhi
larangan agama (pribadi muslim yang sudah dapat dikenai hukum). Seseorang berstatus mukallaf
bila ia telah dewasa dan tidak mengalami gangguan jiwa maupun akal. Sedangkan mujtahid adalah
ialah orang-orang yang berijtihad hanya pada beberapa masalah saja, jadi tidak dalam arti
keseluruhan, namun mereka tidak mengikuti satu madzhab. Misalnya, Hazairin berijtihad tentang
hukum kewarisan Islam, Mahmus Junus berijtihad tentang hukum perkawinan, A. Hasan Bangil
berijtihad tentang hukum kewarisan dan hukum lainnya, Prof. Dr. H. M. Rasyidi berijtihad tentang
filsafat Islam. Wikipedia, mukallaf. Mujtahid.

7
diformulasikan sebagai hasil pemahaman terhadap syariah itu disebut
fikih.14
3.

Pengertian Hukum Islam


Kata hukum dalam Hukum Islam bukanlah arti hukum dalam
bahasa Arab al-hukm akan tetapi makna hukum dalam bahasa Indonesia
adalah bermakna syari'ah dalam bahasa Arab. Pendapat ini seperti
disebutkan oleh Fathurrahman Djamil yang menyimpulkan : Kata hukum
Islam tidak ditemukan sama sekali di dalam Al-Qur'an dan literatur
hukum dalam Islam15, yang ada dalam Al-Qur'an adalah kata syari'ah,
fikih, hukum Allah dan yang seakar dengannya, kata hukum Islam
merupakan terjemahan dari term Islamic Law dari literatur barat.16
Maka dalam ruang lingkup hukum Islam digunakan istilah Syariah
Islam, yaitu "Seluruh peraturan dan tata cara kehidupan dalam Islam yang
diperintahkan oleh Allah SWT yang termaktub di dalam Al-Qur'an dan
Al-Sunnah". Hal ini sebagaimana term hukum dalam bahasa Indonesia
yaitu Seperangkat norma yang mengatur tingkah laku manusia dalam
suatu masyarakat, baik peraturan atau norma itu berupa kenyataan yang
tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat maupun peraturan atau
norma yang dibuat dengan cara tertentu dan ditegakkan oleh penguasa,
baik berupa hukum tertulis ataupun tidak tertulis seperti hukum adat.17
Pengertian selanjutnya dalam rangkaian hukum Islam adalah kata
Islam. Kata ini secara bahasa berasal dari bahasa Arab yaitu kata -
- ( al-salam-aslama-yaslimu-islaman) kata ini mempunyai
cabang makna yang sangat banyak, namun semuanya menunjuk kepada

14
Mukallaf adalah muslim yang dikenai kewajiban atau perintah dan menjauhi
larangan agama (pribadi muslim yang sudah dapat dikenai hukum). Seseorang berstatus mukallaf
bila ia telah dewasa dan tidak mengalami gangguan jiwa maupun akal. Sedangkan mujtahid adalah
ialah orang-orang yang berijtihad hanya pada beberapa masalah saja, jadi tidak dalam arti
keseluruhan, namun mereka tidak mengikuti satu madzhab. Misalnya, Hazairin berijtihad tentang
hukum kewarisan Islam, Mahmus Junus berijtihad tentang hukum perkawinan, A. Hasan Bangil
berijtihad tentang hukum kewarisan dan hukum lainnya, Prof. Dr. H. M. Rasyidi berijtihad tentang
filsafat Islam. Wikipedia, mukallaf. Mujtahid.
15
Amir Syarifuddin, Op. Cit, hal. 5
16
Fathurrahman Jamil, Filsafat Hukum Islam, Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999. hal. 11.
17
Mohammad Daud Ali, Hukum Islam : Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam di
Indonesia, hal. 40.

8
makna ( al-salam) yaitu kesejahteraan, kedamaian serta sifat tunduk
patuh.18 Dalam Al-Qur'an akar kata (aslama) terdapat dalam QS AlHujuraat : 14

Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman".


Katakanlah (kepada mereka): "Kamu belum beriman, tetapi
katakanlah: "Kami telah tunduk", karena iman itu belum masuk ke
dalam hatimu dan jika kamu ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia
tiada

akan

mengurangi

sedikitpun

(pahala)

amalanmu;

sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".


Pada ayat ini kata berarti kami tunduk kepada peraturan
Allah SWT. Adapun dalam QS Al-Jin : 14, kata bermakna taat
terhadap perintahNya :

Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang ta`at dan


ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran.
Barangsiapa yang ta`at, maka mereka itu benar-benar telah
memilih jalan yang lurus.
Sinonim dari kata tunduk dan taat adalah berserah diri, hal ini
seperti disebutkan dalam QS Az-Zumar :54





Dan

kembalilah

kamu

kepada

Tuhanmu,

danberserah

dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu


tidak dapat ditolong (lagi).
Selain itu masih banyak sekali ayat-ayat yang menggunakan
lafadz aslama seperti dalam QS Ash-Shafaat 103, An-Naml 44, Al-Haj
18

Ibnu Mandzur, Lisan Al-Arab Juz VI, hal. 344.

34, Al-An'am 14, Al-Maidah 44, An-Nisaa 125, Ali Imran 83 dan 20 serta
Al-Baqarah ayat 131 dan 112.19
Akar kata aslama juga terdapat dalam sebuah hadits yang shahih
dari riwayat Abdullah bin Amr bin Al-'Ash, Rasulullah bersabda :


Seorang muslim itu adalah seseorang yang kaum muslimin lainnya
selamat dari ucapan lidah dan gangguan tangannya.20
Sedangkan pengertian Islam menurut istilah adalah:


Penyerahan diri kepada Allah SWT serta tunduk dengan penuh
ketaatan serta berlepas diri dari syirik dan para pelakunya."21
Secara umum dapat dikatakan bahwa Islam adalah Rangkaian
ibadah kepada Allah SWT dengan apa-apa yang disyariatkanNya, ia
berlaku sejak Nabi pertama di utus hingga hari kiamat, sebagaimana
disebutkan dalam QS Al-Baqarah ayat 128 :



Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh
kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat
yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami
cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah
taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat
lagi Maha Penyayang.

19

Fadhlurrahman, Indeks Al-Quran, Bandung : Pustaka Hikmah, lLihat dalam software Holy
Qur'an.
20
HR Bukhari. Lihat Fath Al-Bary Juz 10 hal. 446. lihat pula Lisan Al-Arab Ibnu Mandzur hal.
345. dan Maktabah Syamilah.
21
Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syarh Ats-Tsalastah Al-Ushul, Mesir : Dar Ibn AlJauzy, 2004, hal. 50.

10

Sedangkan Islam dalam arti khusus adalah agama yang diturunkan


oleh

Allah

Wassalam bagi

SWT

kepada

seluruh

umat

Nabi

Muhammad Shalallahu

manusia.22 Pengertian

yang

Alaihi
lebih

komprehensif disebutkan oleh Mahmud Syalthut dalam Al-Islam, Aqidah


wa Syari'ah, ia mendefinisikan Islam dengan Dienullah (Agama Allah)
yang

diwahyukan

kepada

Nabi

Muhammad Shalallahu

Alaihi

Wasalam yang berisi pokok pengajaran pada bidang ushul(dasar/pokok)


maupun syariat, dan Nabi diperintahkan untuk menyampaikan kepada
seluruh manusia dan menda'wahkannya.23
Dari sini dapat dipahami bahwa hukum Islam adalah hukum yang
berdasarkan kepada nilai-nilai yang terkandung dalam Islam. Mengenai
hal ini M. Daud Ali mengatakan Hukum Islam adalah seperangkat
tingkah laku yang mengatur tentang hubungan seorang manusia dengan
Tuhan, sesama manusia dan alam sekitarnya yang berasal dari Allah
SWT.24 Adapun Hasbi Ash-Shidieqy menyatakan bahwa hukum Islam
adalah Hukum-hukum yang bersifat umum dan kulli yang dapat
diterapkan dalam perkembangan hukum Islam menurut kondisi dan
situasi masyarakat dan masa.25

4.

Perbedaan antara Syariah, Fikih, dan Hukum Islam


Dari pengertian syari'ah dan fikih yang telah dibahas sebelumnya
maka dapat disimpulkan bahwa keduanya memiliki karakter masingmasing. Dilihat dari sumbernya maka syariah bersumber dari Allah SWT
yaitu berupa Al-Qur'an dan Hadits Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi
Wasalam. Sedangkan fikih bersumber dari para ulama dan ahli fikih yang
telah menggali hukum-hukum yang berasal dari Al-Qur'an dan Hadist.
Sementara dari segi obyeknya maka syariah objeknya meliputi bukan saja

22

Ibid, hal. 15.


Mahmud Syalthut, Al-Islam Aqidah Wa-Syari'ah, hal. 7.
24
Mohammad Daud Ali, Hukum Islam : Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam di
Indonesia, hal. 40.
25
M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Falsafah hukum Islam, Jakarta : PT Bulan Bintang, 1986. hal. 44.
23

11

batin manusia akan tetapi juga lahiriyah manusia dengan Tuhannya


(ibadah). Sedangkan fikih objeknya peraturan manusia yaitu hubungan
lahir antara manusia dengan manusia serta manusia dengan makhluk
lainnya.

Perbedaan

selanjutnya

adalah

mengenai

sanksi

ketika

melanggarnya, syariah sanksinya adalah pembalasan Allah SWT di


akhirat, sedangkan fikih Semua norma sanksinya bersifat sekunder yaitu
negara sebagai pelaksana sanksinya.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa hukum Islam adalah aturanaturan yang datang dari Allah SWT melalui perantara para rasul-Nya
yang berupa hukum-hukum yang qathi (syariah) dan juga yang
bersifat dzanni yaitu fikih. Dengan kata lain hukum Islam adalah syariat
Allah yang bersifat menyeluruh berupa hukum-hukum yang terdapat di
dalam Al-Quran dan As-Sunnah serta hukum-huukm yang dihasilkan
oleh para ahli hukum Islam dengan menggunakan metode ijtihad (fikih).

12

BAB III
PENUTUP

Dari pembahasan yang telah kami uraikan pada bab-bab


sebelumnya dapat diambil beberapa kesimpulan, bahwa:
1. Syariah merupakan isi yang sebenarnya dari wahyu (al-Quran dan
al-Sunnah). Sedangkan fikih ialah ilmu yang menerangkan hukumhukum syariat Islam yang diambil dari dalil-dalilnya yang terperinci.
Hukum Islam adalah aturan-aturan yang datang dari Allah SWT
melalui perantara para rasul-Nya yang berupa hukum-hukum
yang qathi (syariah) dan juga yang bersifat dzanni yaitu fikih.
2. Hukum islam lebih umum dari pada kedua kata lainnya, karena
apabila berupa hukum-hukum qathi dinamakan dengan syariah.
Sedangkan bila berupa hukum yang dzanni maka dinamakan dengan
fikih.

13

DAFTAR PUSTAKA

Abdul hamid hakim, Al-Bayan, tt.


Amir Syarifuddin, Ushul Fikih, Jakarta: Kencana Perdana Media Group,
2009.
Fadhlurrahman, Indeks Al-Quran, Bandung : Pustaka Hikmah, dalam
software Holy Qur'an.
Fathurrahman Jamil, Filsafat Hukum Islam, Jakarta : Logos Wacana
Ilmu, 1999.
Hasbi Ash-Shidieqy, Pengantar Hukum Islam, Semarang : PT. Pustaka
Rizki Putra , 2001.
Ibnu Mandzur, Lisan Al-Arab , tt
Mahmud Syalthut, Al-Islam Aqidah Wa-Syari'ah, tt.
Maktabah Syamilah.
Manna' Khalil Al-Qatan, At-Tasyri' Wa Al-Fikihi fi Al-Islam Tarikhan wa
Manhajan, Mesir : Maktabah Wahbah, 2001.
Mohammad Daud Ali, Hukum Islam : Pengantar Ilmu Hukum dan Tata
Hukum Islam di Indonesia, tt.
Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syarh Ats-Tsalastah Al-Ushul,
Mesir: Dar Ibn Al-Jauzy, 2004.
M. Ali Hasan, Perbandingan Madzhab, Jakarta : PT Rajagrafindo
Persada, 1995.
M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Falsafah hukum Islam, Jakarta : PT Bulan
Bintang, 1986.
Rachmat SyafeI, Ilmu Ushul Fikih, tt.