Anda di halaman 1dari 16

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1.

Dasar teori

Etanol, disebut juga etil alkohol, alkohol murni, alkohol absolut, atau alkohol saja,
adalah sejenis cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna, dan merupakan
alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Etanol termasuk ke dalam
alkohol rantai tunggal, dengan rumus kimia C2H5OH dan rumus empiris C2H6O. Alkohol
murni (absolut) dihasilkan pertama kali pada tahun 1796 oleh Johan Tobias Lowitz yaitu
dengan cara menyaring alkohol hasil distilasi melalui arang.
Alkohol absolut merupakan cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguap, mudah
bergerak, bau khas, rasa panas, mudah terbakar dengan memberikan nyala biru tidak berasap,
mudah larut dalam air, kloroform pekat dan eter pekat. Alkohol absolut bersifat tidak stabil,
senyawa ini cenderung membentuk campuran azeotrop bila kontak dengan udara. Alkohol
absolut tidak mengandung air. Alkohol absolut dapat melarutkan iodin, bromin, sedikit fosfor
dan sulfur, senyawa alkali dan alkalin, klorida, iodida dan nitrat dari logam, banyak asam
organik dan hampir semua alkaloid, resin, minyak menguap dan kamfer. Alkohol absolut
juga dapat mengendapkan larutan gum, starch, albumin, gelatin dan banyak zat lain. Alkohol
absolut tidak dimaksudkan untuk konsumsi manusia, melainkan digunakan sebagai pelarut
untuk laboratorium dan aplikasi industri, dimana air akan beraksi dengan bahan kimia lainnya.
Alkohol absolut didapatkan dari alkohol 95,6% dengan menggunakan campuran azeotrop
(misal dengan destilasi menggunakan tiga komponen azeotrop). Campuran 7,5% air (titik
didih 100C), 18,5% etanol (titik didih 78,3C), dan 74% benzena (titik didih 80C),
menghasilkan azeotrop tersier (titik didih 64,9C), yang mana merupakan titik didih
minimum campuran. Benzena dan etanol membentuk azeotrop biner (titik didih 68,2C). Jadi,
ketika campuran 95% etanol dan benzena didestilasi ,azeotrop tersier yang akan didestilasi
terlebih dahulu, diikuti dengan azeotrop biner dan fraksi akhir (titik didih 78,3C) adalah
alkohol absolut.

Pada destilasi campuran azeotrop dua komponen, etanol 95% merupakan campuran
azeotrop dengan air yang memberikan titik didih minimum pada 78.15oC. Untuk
menghilangkan 5% air dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain dengan menambah
CaO sehingga bereaksi dengan air membentuk Ca(OH)2, sehingga etanol absolut dapat
diperoleh melalui destilasi sederhana.
Azeotrop adalah campuran dua atau lebih cairan (kimiawi) pada rasio seperti itu
sehingga komposisi tidak dapat diubah dengan destilasi sederhana. Ini terjadi karena, ketika
azeotrop di didihkan, uap hasilnya mempunyai ratio konstituen yang sama seperti campuran
aslinya.
Campuran azeotrop adalah suatu campuran yang mempunyai sifat fisis menyerupai
suatu cairan yang murni. Azeotrop yang dididihkan komposisi campuran cair akan selalu
sama dengan komposisi uapnya, sehingga campuran ini tidak bisa dipisahkan dengan cara
destilasi fraksi menjadi komponen penyusunnya. (Pavia et al,1995). Campuran azeotrop ini
sering disebut juga constant boiling mixture karena komposisinya yang selalu sama jika campuran
tersebut dididihkan.
Campuran azeotrop merupakan penyimpangan dari hukum Raoult. Secara garis besar
destilasi digunakan dalam memisahkan campuran azeotrop (campuran campuran dua atau
lebih komponen yang sulit di pisahkan), biasanya dalam prosesnya digunakan senyawa lain
yang dapat memecah ikatan azeotrop tersebut atau dengan menggunakan tekanan tinggi.
Tiap azeotrop mempunyai titik didih yang khas. Titik didih pada senyawa azeotrop
lebih rendah dari titik konstituennya (azeotrop positif), atau lebih besar dari titik didih
konstituennya (azeotrop negative).
Contoh paling umum azeotrop positif adalah 95.63 % etanol dan 4.73% air (dalam
bobot). Etanol mendidih pada 78.4oC, air mendidih pada 1000C, tapi azeotrop mendidih pada
78.2oC, yang mana lebih rendah daripada konstituennya. Temperatur 78.2oC adalah
temperatur minimum yang mana larutan etanol/air mendidih pada tekanan atmosfer. Pada
umumnya, azeotrop positif mendidih pada temperatur yang lebih rendah dibandingkan rasio
konstituennya. Azeotrop positif juga disebut campuran dengan titik didih minimum atau
tekanan maksimum.
Contoh dari azeotrop negatif adalah asam hidroklorida pada konsentrasi 20.2 % dan
79.8% air (dalam bobot). Hidrogen klorida mendidih pada -84oC air pada 100oC, tetapi

aezotrop mendidih pada 110oC, yang mana lebih tinggi dibandingkan konstituennya. Suhu
maksimum yang mana larutan asam hidroklorida dapat mendidih pada suhu 110oC. Pada
umumnya, aezotrop negatif mendidih pada suhu yang lebih tinggi dibandingkan rasio

konstituennya.
a.

Azeotrop Positif

b.

Azeotrop Negatif

Jika konstituen campuran tidak campur sempurna, azetrop akan terdapat miscibility
gap. Tipe azeotrop ini disebut azeotrop heterogen. Jika komposisi azeotrop di luar miscibility
gap atau konstituen campuran campur sempurna, tipe ini disebut azeotrop homogen.
Azeotrop yang mengandung dua konstituen disebut azeotrop biner. Yang mengandung tiga
konstituen disebut azeotrop tersier.
Banyak metode yang bisa digunakan untuk menghilangkan titik azeotrop pada
campuran heterogen. Contoh campuran heterogen yang mengandung titik azeotrop yang
paling populer adalah campuran ethanol-air.
Agar dapat dipisahkan campuran azeotrop perlu diubah komposisi cairnya dengan
cara :
a.

Menambah cairan ketiga

Misalnya alkohol 95.6% (suatu campuran azeotrop) ditambahkan benzena. Jika


campuran ini kemudian di destilasi fraksi maka akan diperoleh fraksi sebagai berikut :
-

Fraksi I dengan titik didih 65.85oC yang terdiri dari 7.4% air, 18.5%

alkohol, 74.1 % benzena (suatu campuran azeotrop terner).

Fraksi II dengan titik didih 68.25 oC yang merupakan campuran

azeotrop 67.6% alkohol dan 32.4 % benzena.


b.

Fraksi III merupakan alkohol absolut.

Menambahkan pereaksi yang hanya bereaksi dengan salah satu cairan.

Misalnya menambahkan CaO ke dalam alkohol 95.6% .


c.

Menambahkan adsorben yang dapat mengadsorbsi salah satu komponen.

Biasanya digunakan norit atau silica gel.


d.

Diekstraksi dengan pelarut ke 3 dimana masing-masing komponen akan

terekstraksi dalam jumlah yang berbeda.

Metode popular lainnya yang bisa digunakan adalah Pressure Swing Distillation.
Prinsip yang digunakan pada metode ini yaitu pada tekanan yang berbeda, komposisi azeotrop. suatu
campuran akan berbeda pula. Azeotrop bukan jarak konsentrasi yang mana tidak dapat didestilasi, tapi titik
dimana koefisien aktivitas destilat menyeberangi dari koefisien yang satu ke koefisien lainnya. Jika azeotrop
dapat dilompati destilat akan berlanjut, tetapi air akan menguap dan menyisakan etanol.
Berdasarkan prinsip tersebut, distilasi dilakukan bertahap menggunakan dua kolom distilasi
yang beroperasi pada tekanan yang berbeda. Kolom distilasi pertama memiliki tekanan operasi yang lebih tinggi
dari kolom distilasi kedua. Produk yang dihasilkan terbagi menjadi produk atas dan produk bawah. Produk atas
kolom pertama tersebut kemudian didistilasi kembali pada kolom yang bertekanan lebih
rendah (kolom kedua).
Pada pemurnian etanol absolut untuk menarik air dari etanol 95,6% digunakan zat
pengering. Pada pemurnian zat cair diperlukan suatu zat anorganik yang sesuai sebagai
pengering untuk mengeringkan zat yang dimurnikan dari air. Syarat pemilihan zat pengering:
1.

Tidak bereaksi dengan zat organik

2.

Kapasitas mengeringkan besar dan harus dapat bekerja dengan cepat

3.

Tidak larut dalam cairan organik dan mudah dipisahkan

4.

Tidak mempunyai efek katalitik untuk terjadinya reaksi kimia dari senyawa

organik, misalnya polimerisasi, reaksi kondensasi, oto-oksidasi dan lain-lain.


5.

Murah dan mudah didapat

Pengering yang biasa digunakan dalam pemurnian etanol adalah CaO. Kalsium oksida
(CaO), dikenal sebagai kapur tohor. Kalsium oksida berwarna putih, pedas dan memadat
membentuk basa kristal padat pada suhu kamar. Sebagai produk komersial, kapur sering juga

mengandung magnesium oksida, silikon oksida dan jumlah yang lebih kecil aluminium
oksida dan besi oksida. Kalsium oksida memiliki pKa 12,5, massa relatif 56,077 g/mol,
kepadatan 3,35 g / cm 3, titik lebur 2572 C dan titik didih 2850 C. Kalsium oksida larut
dalam asam,gliserol,larutan gula, metanol,dietil eter,n-octanol.
Kalsium oksida biasanya dibuat oleh dekomposisi termal bahan-bahan seperti batu
kapur, yang mengandung kalsium karbonat (CaCO3; mineral kalsit) dalam tempat
pembakaran kapur. Hal ini dilakukan dengan memanaskan material di atas 825 C, suatu
proses yang disebut proses mengapur untuk membebaskan sebuah molekul karbon dioksida
(CO

meninggalkan CaO. Proses ini bersifat reversibel, karena setelah produk kapur telah

2);

didinginkan, segera mulai untuk menyerap karbon dioksida dari udara, sampai, setelah waktu
yang cukup, itu benar-benar diubah kembali ke kalsium karbonat.
Substansi yang relatif murah ini,CaO menghasilkan panas energi pada pembentukan
hidratnya,kalsium hidroksida Ca(OH)2.Seperti pada persamaan berikut:
CaO (s) + H 2 O (l)

Ca (OH) 2 (aq) (H r = -63,7 kJ / mol CaO)

Yang hidrat dapat dikonversi kembali menjadi bentuk anhidratnya dengan cara
membalik reaksinya.
Selain itu pada saat destilasi juga digunakan CaCl2 untuk menarik air di sekitar alat
destilasi. Sifat fisik dari kalsium klorida ialah tak berwarna, agak transparan, keras dan sangat
deliquescent, tidak berbau, memiliki panas, dan netral atau agak basa. Larut dalam 1,5 bagian
air dan dalam 8 bagian alkohol pada 15 C. (59 F.); sangat larut dalam air mendidih, dan
larut dalam 1,5 bagian mendidih alkohol Pada panas yang rendah garam merah sekering ke
cairan berminyak yang, pada pendinginan, membeku ke massa penampilan asli, seluruhnya
larut dalam air.
1.2.

Tujuan

Terampil dalam memisahkan campuran azeotrop melalui penambahan CaO


Terampil dalam melakukan destilasi alkohol absolut
Terampil melakukan proses dehidrasi alcohol dengan tabung CaCl2 dan CaO
Mampu memperoleh alkohol absolut tanpa kontak dengan udara menggunakan tabung
CaCl2

BAB 2
METODE KERJA
2.1. Prosedur
Ethanol of a high degree of purity is frequently required in preparative organic chemistry.
For some purposes ethanol of c.99,5 per cent purity is satisfactory; this grade may be
purchased (the absolute alcohol of commerce), or it may be conveniently prepared by
the dehydration of rectified spirit with calcium oxide. Rectified spirit is the constant
boiling point mixture which ethanol forms with water, and usually contains 95,6 per cent
of ethanol by weight. Whenever the term rectified spirit is used in this book,
approximately 95 per cent ethanol is to be understood. Ethanol which has been denatured
by the incorporation of certain toxin additives, notably methanol, to render it unfit for
consumption, constitutes the industrial spirit (indusrial methylated spirit,IMS) of
commerce; it is frequently a suitable solvent for recrystallisations.
Dehydration of rectified spirit by calcium oxide. Pour the contents of a Winchester bottle
of rectified spirit (2-2,5 litres) into a 3-litre round-bottomed flask and add 500 g of
calcium oxide which has been freshly ignited in a muffle furnance and allowed to cool in
desiccator. Fit the flask with a double surface codenser carrying a calcium chloride guardtube, reflux the mixture gently for 6 hours (preferably using a heating mantle) and allow
to stand overnight. Reassamble the condenser for donward distillation via a splash head
adapter to prevent carry-over of the calcium oxide in the vapour stream. Attach a receiver
adapter which is protected by means of a calcium chloride guard-tube. Distill the ethanol
gently discarding the first 20 ml of distillate. Preserve the absolute ethanol (99,5%) in a
bottle with a well fitting stopper.
2.2. Alat dan Bahan
BAHAN :
Etanol 95,6% 100 ml
CaO 8 gram
CaCl2 anhidrous

ALAT:
Labu Alas Bulat Leher Panjang

Gelas ukur

Penangas air

Tabung CaCl2

Pendingin liebig

Kaki tiga

Pendingin bola

Termometer

Pipa bengkok

Corong kaca

Statif dan klem

Bunsen

Adaptor

Sumbat gabus

Erlemeyer
2.3. Mekanisme Reaksi
C2H5OH . XH2O +
Etanol 95%

CaO
kalsium oksida

Ca(OH)2

kalsium hidroksida

C2H5OH
etanol absolut

2.4. Skema Kerja


100 ml etanol 96% + 8 g CaO + beberapa
batu didih, masukkan ke dalam labu alas
bulat leher panjang

Panaskan labu di penganas air dengan


pendingin bola (refluks) selama 6 jam. Pada
bagian atas dipasang tabung CaCl2 yang
berisi CaCl2 anhidrat.

Diamkan selama 30 menit

Lakukan proses destilasi dengan


menggunakan penangas air dengan
menggunakan pendingin liebig (diberi
aliran air)

2 tetes pertama di tampung di kaca arloji


kemudian dibuang. Selebihnya hasil dalam
labu hisap pada suhu sekitar titik didihnya
(78.5oC), dihubungkan dengan tabung
CaCl2

Hasil di saring dan dimasukkan ke dalam


botol hasil menggunakan corong kaca.

Catat titik didih praktis, ukur indeks bias


dan timbang hasilnya

2.5. Gambar Pemasangan Alat

Tabung CaCl2

8g CaO
Batu didih

100 ml ethanol
95,6%

Air keluar
Pendingin
Bola

Air
masuk

Tangas
air

Termometer
Diamkan selama
30 menit

Refluks selama
6 jam

Air keluar

3 cm dari
gabus

Pipa
bengkok

Tangas
air

Pendingin Liebig
Tabung CaCl2

Air masuk

1-2 tetes pertama


di erlenmeyer,
selanjutnya di labu hisap

Catat titik didih praktis,


ukur indeks bias
dan timbang hasilnya

BAB 3
HASIL PRAKTIKUM DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil Praktikum
1.

Hasil Praktis : 58,12 gram

2.

Hasil Teoritis : 75,8229 gram

3.

Titik Didih Praktis : 68C

4.

Titik Didih Teoritis : 78,5C

5.

Indeks Bias :

6.

Waktu destilasi : 73 menit

7.

Rendemen Hasil :
Hasil praktis

x 100%

Hasil teoritis
=

3.2. Pembahasan
Praktikum ini bertujuan untuk mendapatkan etanol absolute (99,5%) dari
bahan awal etanol 95.6% maka pembuatannya diawali dengan mencampurkan 8 g
CaO (kapur tohor) dengan 100 ml etanol 95,6% dan beberapa butir batu didih ke
dalam labu alas bulat leher panjang untuk menghindari terjadinya bumping. CaO yang
dicampur dengan etanol berfungsi sebagai zat pengering karena dapat menghilangkan
5% air dari etanol dan dapat bereaksi dengan air membentuk etanol-kalsium
hidroksida yang sukar larut. CaO tidak boleh dibiarkan di udara terbuka karena CaO
bersifat higroskopis. CaO sebagai pengering harus memenuhi syarat sebagai berikut
yaitu
1. Kapasitas mengeringkan besar dan harus dapat bekerja cepat

2. Tidak larut cairan organik dan mudah dipisahkan


3. Tidak memiliki efek katalitik untuk terjadinya reaksi kimia dari
senyawa organik, misalnya polimerisasi, reaksi kondensasi, oto-oksidasi,
dan lain-lain.
4. Sifat tidak stabil seperti higroskopis, deliquescent, dan efflorescent.
5. Murah dan mudah didapat.
Pada destilasi etanol ini, untuk mendapatkan etanol absolut (99,5 %)
digunakan CaO untuk menarik air yang masih ada dalam etanol 95 %,
peristiwa ini disebut sebagai peristiwa pengeringan pelarut. Selain CaO, untuk
menghilangkan air dalam etanol 95 % juga dapat digunakan K2CO3 anhidrat, CaSO4
anhidrat dan MgSO4 anhidrat.
Bahan lainnya yang dapat digunakan untuk menghilangkan air dalam etanol
95% adalah benzena karena campuran azeotrop benzen-air-etanol akan menguap lebih
dahulu. Tujuan penambahan batu didih adalah untuk mencegah terjadinya bumping.
Peristiwa bumping pada destilasi ini dapat menyebabkan terjadinya over heating,
sehingga cairan akan mudah menguap pada suhu yang lebih rendah dari seharusnya.
Setelah itu, campuran CaO dan etanol tersebut direfluks dengan pendingin
bola selama 6 jam agar uap yang terbentuk dapat terkondensasi kembali. Bola-bola
pada pendingin ini gunanya untuk memperluas pekerjaan pendingin supaya
pendinginan sempurna. Di atas pendingin bola dipasang tabung CaCl2 yang berisi
CaCl2 anhidrida dan ditutup dengan kapas yang berguna untuk menghidratasi
(menarik uap air) kondisi sekitar.
Pemasangan tabung CaCl2 digunakan untuk mencegah kontaminasi dengan
udara luar dan menyerap kandungan air yang tidak terdapat dalam senyawa yang
didestilasi. Setelah dipakai refluks, tabung CaCl2 telah jenuh dengan air dan sudah
terkontaminasi. Oleh karena itu, CaCl2 anhidrida harus dipanaskan atau dipijar
sebelum digunakan kembali untuk menghilangkan kandungan air kristalnya. Hal ini
merupakan persyaratan yang harus dipenuhi oleh CaCl2 anhidrida yang dimasukkan
dalam tabung CaCl2.

Setelah refluks selesai, cairan kemudian didiamkan selama 30 menit. Lalu


dilakukan destilasi sederhana dengan seperangkat alat destilasi, penampung hasil
destilasi (labu hisap) juga dihubungkan dengan tabung CaCl2 dan buang 2 tetes
destilat pertama karena destilat ini tidak murni dan titik didihnya tidak sama dengan
78,5%. Destilasi ini menggunakan pendingin liebig dimaksudkan agar uap etanol
dapat berkondensasi kembali menjadi larutan etanol absolut.
Pendingin liebig dialiri air supaya uap etanol dapat mengembun menjadi
etanol absolut. Aliran air masuk dan keluar pada pendingin liebig harus tepat dan
tidak boleh terbalik, karena jika terbalik maka air tidak akan memenuhi pendingin dan
pendingin dapat mengalami keretakan.
Pada proses destilasi ini pendingin liebig dihubungkan dengan adaptor dengan
tujuan agar destilat tidak mudah menguap dan untuk menjaga kondisi disekitarnya
jika destilat yang dihasilkan beracun atau mudah terbakar. Selain itu juga digunakan
untuk melindungi destilat dari kontaminasi debu yang ada disekitar destilat. Pada
waktu destilasi,untuk menghindari terjadinya bumping maka diberikan penambahan
batu didih baru, maupun dilakukan pengadukan serta memastikan bahwa isi labu tidak
lebih dari setengahnya.
Oleh karena titik didih yang didestilasi kurang dari 100 C, maka digunakan
penangas air. Saat pemasangan alat, sumbat atau gabus penghubung harus benarbenar rapat,karena bahan yang didestilasi mudah menguap sehingga jika tidak rapat
etanol akan menguap dan alkohol absolut yang didapatkan sedikit. Proses destilasi
dihentikan jika cairan dalam labu destilasi tingga l sedikit (jangan sampai
benar-benar habis, karena dapat retak) yang ditandai dengan penurunan suhu. Selesai
destilasi, hasil ditimbang , kemudian tentukan titik didih serta indeks biasnya.

BAB 4
KESIMPULAN
1.

Alkohol absolut merupakan hasil destilasi dari etanol 95,6%. Etanol 95,6%

merupakan campuran azeotrop dengan air.


2.

Campuran azeotrop adalah suatu campuran yang mempunyai sifat fisis

menyerupai suatu cairan yang murni.


3.

Untuk menghilangkan 5% air dapat dilakukan dengan beberapa cara antara

lain dengan menambah CaO sehingga bereaksi dengan air membentuk Ca(OH)2,
sehingga etanol absolut dapat diperoleh melalui destilasi sederhana.
4.

Pada proses refluks ini, pada ujung pendingin perlu diberi tabung CaCl2.

Tabung CaCl2 ini digunakan untuk menghindari kontak dengan udara luar.
5.

Pada labu alas bulat dipasang termometer dan pipa bengkok yang posisinya

sejajar. Termometer ini digunakan untuk mengukur suhu dan titik didih praktisnya,
Sedangkan pipa bengkok berfungsi untuk mengalirkan uap yang terbentuk ke
pendingin liebig.
6.

Pendingin liebig digunakan untuk mengkondensatkan kembali uap etanol

menjadi larutan etanol absolut.


7.

Pendingin ini dihubungkan dengan adaptor dengan tujuan supaya destilat tidak

menguap.
8.

Hasil destilat ini ditampung pada labu hisap yang dihubungkan juga dengan

tabung CaCl2, Satu tetes pertama dari destilat ditampung pada kaca arloji dan
nantinya akan dibuang. Hasil destilat pertama ini, dimaksudkan uantuk mengikat
apabila ada uap air dari pendingin ataupun adaptor, sehingga destilat berikutnya
benar-benar murni.

DAFTAR PUSTAKA
Bettelheim, Frederick, et al. 2007. Introduction to General, Organic and
Biochemistry 8th edition. California: Thomson Brooks/Cole.
Fessenden, R. J., Fessenden, J. S. 2008. Organic Chemistry 6th edition. California :
Brooks/Cole Publishing Company Pacific Grove
Furniss, B.S., Hannaford , A.J., Smith, P.W.G Rogers, V. Tatchell , A.R. 1989.
Vogels Textbook of Practical Organic Chemistry, 5th edition. New York : John Willey and
Sons Inc. page 400-401.
Mc Murry J. 2011. Organic Chemistry , 8th edition. California : Brooks/ Cole
Publishing Company Pacific Grove. Page 654-656.
W. L. F. Armarego, et al. 2013. Purification of Laboratory Chemicals 7th ed.
Oxford :Elsevier . Page. 156-157.
Nelson, D. L., and Cox, M. M., Principles of Biochemistry 6th edition. 2012. New
York : W.H Freeman and Company.

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II


ALKOHOL ABSOLUT

Nama : Sylvia Silvanus Sie


KP/ Kelompok : A 15
NRP : 1130486

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SURABAYA
2014