Anda di halaman 1dari 11

1.

Infeksi jamur pada telinga

Otomikosis adalah infeksi jamur pada liang telinga (Asroel, 2010). Otomikosis atau otitis
eksterna jamur sering melibatkan pinna dan meatus auditori eksternal (Barati dkk, 2011). Dan
termasuk infeksi subakut atau akut mikotik superficial saluran telinga luar yang disebabkan
oleh jamur
oportunistik (Mahmoudabadi, 2006).
Gejala yang dialami penderita otomikosis biasanya terasa gatal atau sakit di dalam liang
telinga. Pada liang telinga akan tampak berwarna merah, ditutupi oleh skuama, dan kelainan
ini ke bagian luar akan dapat meluas sampai muara liang telinga dan daun telinga sebelah
dalam. Tempat yang terinfeksi menjadi merah dan ditutupi skuama halus. Bila meluas sampai
ke dalam, sampai ke membrana timpani, maka daerah ini menjadi merah, berskuama,
mengeluarkan cairan srousanguinos. Penderita akan mengalami gangguan pendengaran. Bila
ada infeksi sekunder dapat terjadi otitis ekstema
(Boel, 2003).

Pada jamur Aspergillus biasanya tanpa ada gejala apapun kecuali rasa tersumbat dalam
telinga, atau
dapat berupa peradangan yang menyerang epitel kanalis atau gendang telinga dan
menimbulkan gejala gejala akut (Adams dkk, 1997).
Aspergillus niger dan Candida albicans adalah penyebab paling umum otomicosis.
Aspergillus dianggap sebagai dominan kausal organisme di daerah tropis dan daerah
subtropics (Munguia dkk, 2008).

a. Aspergillus niger, sebuah jamur berfilamen oportunistik, diidentifikasi sebagai penyebab


otomikosis kronis unilateral (Rutt & Sataloff, 2008).
Aspergillus niger adalah anggota dari genus Aspergillus yang mencakup seperangkat jamur
yang umumnya dianggap aseksual, meskipun bentuk sempurna (bentuk yang bereproduksi
secara seksual) telah ditemukan. Aspergilli mana-mana di alam. Mereka secara geografis
luas, dan telah diamati pada berbagai habitat karena mereka dapat menjajah berbagai macam

substrat. A. niger umumnya ditemukan tumbuh sebagai saprofit pada daun mati, gandum
yang disimpan, tumpukan kompos, dan vegetasi yang membusuk lainnya. Spora tersebar
luas, dan sering dikaitkan dengan bahan organik dan tanah.
Aspergillus niger

b. Candida albicans
Candida albicans merupakan jamur dimorfik karena kemampuannya untuk tumbuh dalam dua
bentuk yang berbeda yaitu sebagai sel tunas yang akan berkembang menjadi blastospora dan
menghasilkan kecambah yang akan membentuk hifa semu. Perbedaan bentuk ini tergantung
pada faktor eksternal yang mempengaruhinya. Sel ragi (blastospora) berbentuk bulat, lonjong
atau bulat lonjong dengan ukuran 2-5 x 3-6 hingga 2-5,5 x 5-28 .

Candida albicans memperbanyak diri dengan membentuk tunas yang akan terus memanjang
membentuk hifa semu. Hifa semu terbentuk dengan banyak kelompok blastospora berbentuk
bulat atau lonjong di sekitar septum.
Candida albicans dapat tumbuh pada variasi pH yang luas, tetapi pertumbuhannya akan lebih
baik pada pH antara 4,5-6,5. Jamur ini dapat tumbuh dalam perbenihan pada suhu 28oC 37oC. Candida albicans membutuhkan senyawa organik sebagai sumber karbon dan sumber
energi untuk pertumbuhan dan proses metabolismenya. Unsur karbon ini dapat diperoleh dari
karbohidrat.

Jamur ini merupakan organisme anaerob fakultatif yang mampu melakukan metabolisme sel,
baik dalam suasana anaerob maupun aerob. Proses peragian (fermentasi) pada Candida

albicans dilakukan dalam suasana aerob dan anaerob. Karbohidrat yang tersedia dalam
larutan dapat dimanfaatkan untuk melakukan metabolisme sel dengan cara mengubah
karbohidrat menjadi CO2 dan H2O dalam suasana aerob. Sedangkan dalam suasana anaerob
hasil fermentasi berupa asam laktat atau etanol dan CO2. Proses akhir fermentasi anaerob
menghasilkan persediaan bahan bakar yang diperlukan untuk proses oksidasi dan pernafasan.
Pada proses asimilasi, karbohidrat dipakai oleh Candida albicans sebagai sumber karbon
maupun sumber energi untuk melakukan pertumbuhan sel.

c. Penyebab
Terjadinya perubahan pH epitel liang telinga yang semula bersifat asam menjadi bersifat
basa. Temperatur dan kelembaban udara. Trauma, kebiasaan mengorek telinga dengan bahan
yang kurang bersih, atau mengorek telinga terlalu keras sehingga menimbulkan goresan pada
kulit liang telinga. Korpus alienum (benda asing) dalam telinga seperti air, timbunan serumen
atau serangga. Kelainan kongenital, yaitu bentuk liang telinga yang sempit dan 4 melekuk
lebih tajam sehingga menghalangi pembersihan serumen atau menyebabkan kelembaban
yang tinggi pada liang telinga. Penggunaan antibiotika dan steroid yang lama pada telinga.
Imunnocompromised condition. Penyakit kulit seperti dermatitis seboroik dan psoriasis.
Semua faktor ini dapat mempermudah terpapar otomikosis (Fakhrina, 2010).

d. diagnosis
Untuk mendiagnosis aspergilus pada telinga ini, bahan yang diperiksa adalah kotoran telinga
atau kerokan kulit liang telinga. Pada pemeriksaan langsung sediaan KOH 10% akan tampak
hifa dan/atau spora, tergantung pada jamur penyebabnya. Sementara identifikasi jamur
didasarkan biakan pada agar Sabouraud dalam suhu kamar.

2. Infeksi jamur pada kuku

Onychomycosis Infeksi Aspergillus pada kuku atau Tinea Unguium (Ring Worm of the
nail) terjadi secara kontak langsung. Gambaran kliniknya berupa kelainan yang mengenai
satu kuku atau lebih. Permukaan kuku tidak rata. Kuku menjadi rapuh atau keras.
Kelainan dapat mulai dari proksimal atau distal tergantung pada penyebabnya. Dapat disertai
paronychia.

a. Candida
Candida onikomikosis Candida spesies menyerang kuku biasanya terjadi pada orang yang
sering merendam tangan mereka di dalam air. Jamur menginfeksi lempeng kuku sehingga
mengalami kerusakan berat. Infeksi dimulai dengan lateral atau distal onikomikosis dan
kemudian menginvasi seluruh kuku secara progresif. Kuku tampak berkerut dan hancur.
Fragmen-fragmen lempeng kuku masih tinggal akan merusak dan terlihat sebagai tungkul
kayu pada lipatan kuku bagian proksimal. Keluhan subjektif dirasakan sebagai nyeri ringan
dan yang lebih berat dapat terjadi infeksi sekunder.
kandida dan lainnya yang menyerang daerah kuku jari kaki atau tangan. Onikomikosis
bersifat menahun dan sangat resisten terhadap pengobatan. Jamur bisa diperoleh melalui
hubungan dengan orang yang terinfeksi atau berhubungan dengan permukaan seperti lantai
kamar mandi dimana jamur tersebut ada. Orang yang lebih tua, orang yang menderita
diabetes, dan orang yang sedikitsirkulasi pada kakinya yang terutama mudah terinfeksi jamur.

Penamaan infeksi kuku berbeda berdasarkan penyebabnya. Jika jamur penyebab berasal dari
golongan dermatofita disebut tinea unguium (Rippon), sedangkan jika penyebabnya Candida
maka disebut kandidosis kuku. Penyebab nondermatofita lain ialah jenis jamur filamentosa

(Rippon), misalnya Scytalidium (Ellis, Baran), Aspergillus (Baran, Rippon), Fusarium


(Rippon, Elgart).

b. Penyebab

Onikomikosis dapat disebabkan oleh kelompok jamur dermatofita, non dermatofita atau
yeast.
Penyebab tersering dari kelompok yeast adalah Candida albicans yaitu sebanyak 6 %
dijumpai pada onikomikosis, sedangkan dari kelompok non dermatofita penyebab yang
tersering dijumpai adalah Claudiosporium, Alternaria, Aspergillus, Fusarium dan Epiccocum.

Ada beberapa Faktor risiko untuk onikomikosis termasuk sejarah keluarga, bertambahnya
usia, kesehatan yang buruk, trauma sebelumnya, iklim yang hangat, partisipasi dalam
kegiatan kebugaran, imunosupresi (misalnya, HIV, obat diinduksi), mandi komunal, dan alas
kaki oklusif, lanjut usia, penderita diabetes, dan orang dengan sirkulasi darah yang buruk
pada kaki.

c. Diagnosis
diagnosis penyakit ini ditegakkan dengan memeriksa bahan kerokan kuku dan kerokan di
bawah kuku. Pada pemeriksaan langsung sediaan KOH 10 %, tampak jamur sebagai hifa atau
spora. Jamur dapat ditentukan dengan pasti berdasarkan biakan. Pengobatan setempat dan
berlangsung lama.
Pembentukan klamidokonidia Candida albicans pada agar tepung jagung atau perbenihan lain
yangmenyuburkan konidia merupakan tes diferensiasi yang penting.
Diagnosis infeksi Candidiasis invasif secara historis bergantung pada hasil kultur, tetapi pada
kultur darah hanya ditemukan angka positif kurang dari 50% dengan hasil otopsi yang positif
Teknik terbaru dengan sistem kultur otomatis dan monitor secara terusmenerus, contoh
dengan BACTEC sistem dan dengan metode sentrifugasi lisis telahsecara bermakna
meningkatkan kemampuan untuk mendeteksi candidemia. Candidaalbicans biasanya tumbuh
dalam jangka waktu 3 hari.

Metode yang paling umum untuk mengidentifikasi spesies Candida adalah tesuntuk isolat
Candida albicans, karena organisme ini yang paling banyak ditemukantumbuh dari sampel
klinik. Tes-tes ini merupakan tes yang sederhana dan cepat,termasuk :

Profil asimilasi karbohidrat yang memungkinkan untuk mengidentifikasisampai level spesies


Tes germ tube yang bergantung pada kemampuan Candida albicans untuk memproduksi
germ tube pada serum.Waktu yang dibutuhkan untuk identifikasi spesies Candida dapat
diperpendek dengan pendekatan ini, yaitu :
Dr. Maria Magdalena Simatupang : Candida Albicans, 2009USU Repository 2008
Menggunakan media agar yang memungkinkan untuk mendiferensiasispesies Candida dari
warna koloni.

Metode molekular yaitu Candida albicans Peptide Nucleic AcidFluorescence in situ


Hybridization (PNA FISH) tes yang memungkinkanidentifikasi yang sangat cepat (2,5jam)
untuk membedakan spesiesCandida albicans dari spesies non albicans dari botol kultur darah.
Tes inisangat sensitif dan spesifik, diluar dari sistem kultur darah atau formulakaldu yang
digunakan. Dengan tes ini dapat menghemat biaya karena hasildapat diperoleh lebih cepat
dan terapi antijamur dapat menjadi lebihspesifik.

2. ASPERGILLOMA (Fungus ball)

Definisi
Aspergilloma paru adalah massa disebabkan oleh infeksi jamur yang biasanya tumbuh di
rongga paru-paru. Hal ini juga dapat muncul di otak, ginjal, atau organ lainnya. Aspergilloma

disebut juga sebagai mycetoma atau bola jamur (fungus ball), adalah koloni jamur yang
terdapat dalam kavitas paru

Infeksi jamur pada paru saat ini sering ditemui sebagai infeksi nosokomial. Kejadian ini
antara lain adalah sebagai akibat meningkatnya penggunaaan obat antibiotik spectrum luas,
penggunaan obat steroid, serta penggunaan obat sitostatik maupun radioterapi, pasien
immunocompromised, dan penderita yang menjalani transpalasi organ.1 Aspergilloma adalah
sebuah bola jamur (mycetoma) yang berkembang di rongga yang sudah ada sebelumnya
dalam parenkim paru dan merupakan kolonisasi dari aspergillus dalam bronkus atau kavitas
paru.2,3,4 Penyebab yang paling umum adalah tuberkulosis, dengan sekitar 25% sampai 50%
pasien memiliki riwayat penyakit ini. Kondisi lain predisposisi umum termasuk tuberkulosis
diobati atau infeksi necrotizing lainnya, sarkoidosis, cystic fibrosis (CF), dan bula
emphysematous. Bola jamur dapat bergerak di dalam rongga tetapi tidak menyerang dinding
rongga, namun dapat menimbulkan hemoptisis.3-5 Aspergillomas terbentuk ketika
aspergillus jamur tumbuh dalam rumpun dalam rongga paru-paru, atau menyerang jaringan
sebelumnya sehat, menyebabkan abses.
Aspergilloma tidak jarang pada pasien dengan penyakit paru-paru kronis kavitas dan cystic
fibrosis (CF). Dalam satu survei pasien dengan penyakit paru-paru kavitas karena TBC, 17%
dikembangkan aspergilloma. Aspergillus dapat menyebabkan spektrum yang luas dari
penyakit pada host manusia, mulai dari reaksi hipersensitivitas terhadap angioinvasi
langsung. Aspergillus terutama mempengaruhi paru-paru, menyebabkan 4 sindrom utama,
termasuk aspergillosis bronkopulmonalis alergi (ABPA), necrotizing pneumonia kronis
Aspergillus (atau aspergillosis paru kronis necrotizing (CNPA), aspergilloma, dan
aspergillosis invasif. Namun, pada pasien yang immunocompromised berat, Aspergillus
hematogenously mungkin menyebarkan di luar paru-paru, berpotensi menyebabkan
endophthalmitis, endokarditis, dan abses dalam miokardium, ginjal, hati, limpa, jaringan
lunak, dan tulang. Aspergillus adalah kedua untuk spesies Candida sebagai penyebab
endokarditis jamur. Aspergillus terkait endokarditis dan infeksi luka terjadi dalam konteks
operasi jantung.

PATOGENESIS
Aspergilosis diawali oleh salah satu sebab, yaitu terperangkapnya miselia Aspergillus spp
dalam plug mukus penderita asmaatau kolonisasi Aspergillus spp pada saluran
pemafasan(bronchial tree) penderita asma. Material antigenik dari Aspergillus spp tersebut
merangsang produksi antibodi IgE, IgG, IgAdan mensensitisasi limfosit. Asma bronkial pada
sebagianABPA melibatkan degranulasi sel mast dan melepaskan IgEyang mengakibatkan
peningkatan resistensi jalan udara. Terjadinya bronkiektasis yang dikaitkan dengan kelainan
inididuga akibat pembentukan kompleks-imun di dalam jalanudara proksimal. Reaksi
tanggap-kebal (immune-response) ini
dapat dilihat pada individu-individu yang terpapar antigen.
Bila dilakukan penyuntikan antigen secara intradermalpada sekelompok penderita, maka akan
menyebabkan reaksiindurasi dan kemerahan. Dari percobaan ini diketahui bahwalebih dari
separuh penderitanya memberikan respons terhadapantigen yang disuntikkan. Kemudian
akan timbul reaksi Arthusdengan adanya edema dan eritema. Reaksi ini biasanya
timbulsetelah 3 jam penyuntikan dengan puncak reaktivitas pada jamke-8 dan resolusinya
terjadi dalam 24 jam. Berdasarkan studi imunofluorensi terhadap biopsi kulit dari penderita
tersebut diatas ternyata menunjukkan deposisi IgG, IgM, IgA dan komplemen.
Pada keadaan lain, pemberian inhalasi antigen secara dini pada penderita menyebabkan
bronkokonstriksi akut. Sedangkan terjadinya reaksi lambat dari paru dimulai kirakira 10 jam
setelah inhalasi antigen itu dan berakhir setelah 13 hari. Hal
ini dikaitkan dengan gejala-gejala konstitusional, termasuk demam, malaise dan anoreksia.
Reaksi lambat tersebut berupa peningkatan resistensi jalan udara dan dapat pula disertai
wheezing. Reaksi lambat ini tidak responsif . terhadap
pemberian bronkodilator. Akan tetapi keadaan itu dapat dihambat dengan pemberian
kortikosteroid. Dari bukti tersebut diketahui bahwa antigen yang menyebabkan reaksi Arthus
pada kulit sepadan dengan antigen yang menyebabkan reaksi lambat pada paru. Bila rekuren,
akan mengakibatkan bronkiektasis proksimal yang menetap.
Pada beberapa penderita telah dibuktikan pula bahwa penyakit saluran pernafasan tersebut
disebabkan oleh hiper- sensitivitas lambat (delayed hypersensitivity). Spesimen biopsy paru
pada penderita-penderita ini menunjukkan granuloma dan

sebukan (infiltrasi) sel mononukleus dalam jaringan peribronkial Jadi patogenesis ABPA ini
tergantung pada reaksi imunologik tipe I dan III dan mungkin pula tipe IV.

3. Ambang batas kadar toksin pada makanan


Mutu bahan pangan sangat penting diperhatikan dalam menjaga kesehatan tubuh.Adanya
bahan tambahan berbahaya yang digunakan dalam produk pangan dapat menyebabkan
berbagai macam penyakit misalnyabahan tambahan bahan pemanis dan kontaminan
mikroorganisme pada bahan pangan.Pangan yang aman adalah pangan yang tidak
mengandung bahaya biologi atau mikrobiologi, bahaya kimia, dan bahaya fisik. Bahaya
biologis atau mikrobiologis terdiri dari parasit (protozoa dan cacing), virus, dan bakteri
patogen yang dapat tumbuh dan berkembang di dalam bahan pangan, sehingga dapat
menyebabkan infeksi dan keracunan pada manusia. Beberapa bakteri patogen juga dapat
menghasilkan toksin (racun), sehingga jika toksin tersebut terkonsumsi oleh manusia dapat
menyebabkan intoksikasi. Intoksikasi adalah kondisi dimana toksin sudah terbentuk di dalam
makanan atau bahan pangan, sehingga merupakan keadaanyang lebih berbahaya. Sekalipun
makanan atau bahan pangan sudah dipanasan sebelum disantap, toksin yang sudah terbentuk
masih tetap aktif dan bisa menyebabkan keracunan meski bakteri tersebut sudah tak ada
dalam makanan.

Produk pangan olahan tertentu yang mengandung bahan kimia yang sangat berbahaya dan
sangat membahayakan kesehatan manusia tidak diperbolehkan dijual atau dikeluarkan oleh
suatu industri. Bahan pangan yang tercemar atau terkontaminasi seperti logam berat, pestisida
dan zat beracun lainnya yang terdapat dalam bahan pagan. Produk pangan yang mengandung
zat kimia yang beracun dapat membahayakan kesehatan konsumen jika dimakan. Keracunan
yang ditimbulkan dapat bersifat sakit, mematikan dan juga dapat bersifat kronis. Zat kimia
beracun atau yang membahayakan dapat terkandung dalam produk atau komoditas pangan
melalui beberapa tahap seperti kontaminasi, zat tambahan yang tidak sesuai ketentuan, reaksi
atau proses kimia dan kondisi intoleran pada individu yang bersangkutan
Pengolahan makanan yang tidak memenuhi standar mutu akan mempercepat terjadinya
pertumbuhan mikroba yang melewati ambang batas kesehatan dan Standar Nasional
Indonesia (SNI) yakni satu juta mikoba.

Pertumbuhan mikroba seperti kapang, khamir, bakteri dan virus yang tinggi menyebabkan
pangan cepat rusak dan busuk. Beberapa jamur atau kapang penghasil toksin (mitotoksin)
adalah Aspergillus sp., Penicillum sp. SanFusarium sp., yang dapat menghasilkan aflatoksin,
patulin, okratoksin, zearalenon dan okratoksin
JENIS DAN BATAS MAKSIMUM KANDUNGAN MIKOTOKSIN DALAM
MAKANAN
1. Aflatoksin
No Jenis makanan
1
Susu dan minuman berbasis susu
2

Susu fermentasi dan produk susu


hasil hidrolisa
enzim renin (plain)
Susu kental dan analognya
Krim (plain) dan sejenisnya
Susu bubuk dan krim bubuk dan
bubuk analog (plain)
Keju dan keju analog M1 0,5
Makanan pencuci mulut berbahan
dasar susu
(misalnya puding, yogurt berperisa
atau yogurt
dengan buah)
Whey dan produk whey, kecuali
keju whey
Produk olahan kacang-kacangan

10

Produk olahan Jagung

11

Rempah-rempah bubuk

3
4
5
6
7

Batas Maksimum (ppb atau mcg/kg)


M1
0,5
M1

0,5

M1
M1
M1

0,5
0,5
5

M1
M1

0,5
0,5

M1

0,5

B1
TOTAL
B1
TOTAL
B1
TOTAL

15
20
15
20
15
20

2. Deoksinivalenol
NO

Jenis Maksimum

1
2
3

Produk olahan jagung sebagai bahan baku


Produk olahan gandum sebagai bahan baku
Produk olahan terigu siap konsumsi (pastri, roti,
biskuit, makanan ringan)

4
5

Pasta dan mi serta produk sejenisnya


MP-ASI berbasis terigu

Batas maksimum
(ppb atau mcg/kg
1000
1000
500

750
200

3. Fumonisin B1+B2
No

Jenis Makanan

Batas Maksimum

1
2

Produk olahan jagung sebagai bahan baku


Produk olahan jagung siap konsumsi

Ppb atau mcg/kg


2000
1000

4. Okratoksin A
No

Jenis Makanan

1
2
3
4
5
6
7
8

Produk olahan serealia sebagai bahan baku


Produk olahan serealia siap konsumsi
MP-ASI berbasis serealia
Buah anggur kering termasuk kismis
Sari buah anggu
Kopi sangrai termasuk kopi bubuk
Kopi instan
Bir

Batas Maksimum
Ppb atau mcg/kg
5
3
0,5
10
2
5
10
0,2

5. Patulin
No

Jenis makanan

1
2
3
4
5
6

Buah apel dalam kaleng


Puree apel
Sari buah apel
Nektar apel
Puree apel untuk bayi dan anak
Minuman beralkohol berbasis apel

Batas maksimum
Ppb atau mcg/kg
50
25
50
50
10
50