Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hernia merupakan penyakit yang mulai berkembang dan semakin dikenal di
masyarakat, baik pada Negara maju maupun berkembang. Hernia merupakan
salah satu kasus dibagian bedah yang pada umumnya sering menimbulkan
masalah kesehatan dan pada umumnya memerlukan tindakan operasi. Dari hasil
penelitian pada populasi hernia ditemukan sekitar 10% yang menimbulkan
masalah kesehatan dan pada umumnya pada pria. Hernia adalah pembukaan atau
kelemahan dalam struktur otot dinding perut. Penyakit ini menyebabkan
penonjolan dari dinding perut. Hal ini lebih terlihat ketika otot-otot perut
dikencangkan, sehingga meningkatkan tekanan dalam perut. Setiap kegiatan yang
meningkatkan tekanan intra-abdomen dapat memperburuk penyakit hernia; contoh
kegiatan tersebut mengangkat, batuk, atau bahkan berusaha untuk buang air besar.
Hernia dapat terjadi akibat kelainnan kongenital maupun didapat. Pada anakanak atau bayi, lebih sering disebabkan oleh kurang sempurnanya procesus
vaginalis untuk menutup seiring dengan turunnya testis atau buah zakar. Pada
orang dewasa adanya faktor pencetus terjadinya hernia antara lain kegemukan,
beban berat, batuk- batuk kronik, asites, riwayat keluarga, dan lain-lain.Lokasi
yang paling umum untuk penyakit hernia adalah lipat paha (inguinal) sehingga
ada jenis penyakit hernia yang disebut dengan hernia inguinal.
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan yaitu tindakan konservatif dan operatif.
Peengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan
pemakaian penyanggah atau penunjang untuk memepertahankan isi hernia yang
telah direposisi. Sedangkan prinsip dasar operasi hernia pada anak adalah
herniotomi.
I.2

RUMUSAN MASALAH

I.2.1 Bagaimana etiologi, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan hernia?


I.3

TUJUAN

I.3.1 Mengetahui etiologi, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan hernia.

I.4

MANFAAT

I.4.1

Menambah wawasan mengenai penyakit bedah khususnya hernia.

I.4.2

Sebagai proses pembelajaran bagi dokter muda yang sedang mengikuti


kepaniteraan klinik bagian ilmu penyakit bedah.

Klinik Dokter Keluarga FK UNISMA

No. RM

Berkas Pembinaan Keluarga

Nama pasien : Tn. D

PKM Wajak

Nama KK

: Tn. D

KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA


Nama Kepala Keluarga

: Tn. D

Alamat lengkap
Bentuk Keluarga

: Ds.Kidangbang Rt.02 Rw.01


: Nuclear Family

Tabel 1. Daftar Anggota Keluarga yang Tinggal Dalam Satu Rumah


No

Nama

Status

L/P

Umur

Pendidikan

Pekerjaan

Pasien

Ket

PKM
1

Tn. D

Suami

47 Th

SMP

(KK)
2

Ny. R

Istri

Sopir dan Kuli

Hernia

Mebel
P

42 Th

SD

Ibu Rumah
Tangga

An. A

Anak ke

3Th

Belum

sekolah

Sumber : Data Primer, 22 Oktober 2014


Kesimpulan :
Keluarga pasien merupakan small family yang terdiri atas 3 orang. Pasien
adalah Tn.D, umur 47 tahun, beralamat di Ds. Kidangbang Rt.02, Rw.01.
Diagnosa klinis pasien adalah Hernia. Pasien tinggal bersama dengan istri (Ny. R,
42 th) dan anaknya (sdr. A, 3 Th).

BAB II
STATUS PASIEN
1.1 PENDAHULUAN
Laporan ini dibuat berdasarkan kasus yang diambil dari seorang penderita
hernia, berjenis kelamin laki-laki dan berusia 47 tahun. Mengingat kasus hernia
masih sering terjadi di masyarakat, beserta permasalahannya seperti masih
kurangnya pengetahuan tentang penanganan yang tepat sehingga dapat
menyebabkan komplikasi. Oleh karena itu, penting kiranya bagi penulis untuk
memperhatikan dan mencermatinya dan kemudian bisa menjadikannya sebagai
pengalaman di lapangan.
1.2 ANAMNESIS
1.2.1 Identitas Pasien
Nama

: Tn. D

Umur

: 47 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Pekerjaan

: Sopir dan Kuli Mebel

Pendidikan

: SMP

Agama

: Islam

Alamat

: Ds. Kidangbang Rt.02 Rw.01

Status Perkawinan

: Menikah

Suku

: Jawa

Tanggal Periksa

: 22 Oktober 2014

1.2.2

Keluhan utama : Benjolan di kantung buah zakar bagian kanan

1.2.3

Riwayat penyakit sekarang :


Pasien datang ke IGD PKM Wajak dengan keluhan benjolan di
kantung buah zakar bagian kanan sejak 6 tahun yang lalu. Benjolan
tersebut sebesar buah kelapa namun tidak sakit. Benjolan tersebut muncul
jika pasien batuk-batuk, mengejan serta mengangkat beban yang berat.
Awalnya benjolan yang timbul tersebut bisa masuk kembali jika didorong
dengan tangan pasien. Namun, sejak 1 tahun yang lalu benjolan tersebut

sudah tidak dapat masuk kembali. Benjolan tidak terasa sakit, tidak merah,
dan tidak terasa tegang. Pasien tidak mengeluhkan adanya perubahan
dalam BAB, BAB tidak berdarah dan tidak pernah keluar benjolan dari
dubur. Pasien tidak mengeluhkan adanya gangguan BAK, pada saat BAK
pasien selalu merasa tuntas dan tidak merasa nyeri. Pasien juga tidak
mengeluhkan adanya mual dan muntah.
1.2.4

1.2.5

1.2.6

1.2.7

Riwayat penyakit Dahulu


Riwayat sakit serupa

: disangkal

Riwayat mondok

: disangkal

Riwayat diabetes

: disangkal

Riwayat batuk

: disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat keluarga sakit serupa

: disangkal

Riwayat diabetes

: disangkal

Riwayat penyakit jantung

: disangkal

Riwayat hipertensi

: disangkal

Riwayat kebiasaan
Riwayat olahraga

: disangkal

Riwayat pengisian waktu luang

: istirahat drumah

Riwayat lainnya

: Merokok

Riwayat sosial ekonomi


Penghasilan keluarga relatif cukup. Penghasilan didapat dari pasien yang

bekerja sebagai sopir dan kuli mebel. Keluarga Tn.D memiliki hubungan
sosial dengan tetangga yang cukup bagus.
Pasien adalah seorang Laki-laki berusia 47 tahun, seorang suami dengan
seorang anak dari hasil pernikahannya. Pasien bekerja sebagai sopir dan kuli
mebel. Saat ini pasien tinggal di rumah dengan istri dan analnya yaitu An.A.
Saat ini kebutuhan sehari-hari penderita ditanggung oleh dia seorang.
Hubungan Tn.D dan istri nampak saling mendukung, karena istri pasien
tampak menemani selama pasien dirawat di IGD puseksmas wajak.
Hubungan Tn.D dengan tetangga nampak akrab, karena saat kunjungan di
rumah,tampak tetangga sedang menjenguknya, pasien juga mengenal beberapa

petugas puskesmas yang diakuinya sebagai tetangga.


1.2.8

Riwayat Gizi :
Pasien makan sehari-hari biasanya 3 kali/hari. Berupa nasi sepiring, sayur,

dan lauk pauk. Terkadang dengan telur, tahu, tempe, ayam dan daging. jarang
makan buah-buahan seperti pepaya dan pisang. Minum air putih 8
gelas/hari.
1.3 PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum
: tampak sakit
Derajat kesadaran
: Compos mentis
Tanda vital
TD
: 110/70 mmHg
Nadi
: 84 x/menit, regular, isi tegangan cukup
RR
: 18 x/ menit, kedalaman cukup, reguler
Suhu
: 36,4 0C peraksila
BB
: 80 kg
TB
: 160 cm
-

Kulit
Kulit sawo matang, ikterik (-), venektasi (-), spider nevi (-).

Kepala
Bentuk Normocephal, luka (-), makula (-), papula (-), nodul (-), bells palsy (-).

Mata
konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), reflek cahaya (+/+), pupil isokor
(3mm/3mm)

Hidung
Napas cuping hidung (-/-), sekret (-/-), epistaksis (-/-), deformitas hidung (-/-)

Mulut
bibir pucat (-), sianosis (-),

Telinga
Daun telinga bentuk normal, sekret (-/-)

Tenggorok
Uvula di tengah, faring hiperemis (-), tonsil T1 - T1.

Leher
Bentuk normocolli, limfonodi tidak membesar, glandula thyroid tidak
membesar.

Thoraks
Bentuk

: normochest, retraksi (-/-)

Cor

Inspeksi
Palpasi
Perkusi

: iktus kordis tidak tampak


: iktus kordis teraba di SIC V LMCS, tidak kuat angkat
:

Batas kiri atas

: SIC II Linea parasternalis Sinistra

Batas kiri bawah

: SIC IV Linea Mid clavicularis sinistra

Batas kanan atas

: SIC II Linea parasternalis Dextra

Batas kanan bawah

: SIC IV Linea parasternalis Dextra

Batas jantung kesan tidak melebar


Auskultasi : BJ I-II intensitas normal, reguler, bising (-)
Pulmo

Inspeksi : pengembangan dada kanan = kiri


Palpasi
: fremitus raba sulit dievaluasi
Perkusi : sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+), suara tambahan (-/-)
-

Abdomen
Inspeksi

: dinding perut lebih cembung daripada dinding dada, caput

medusae (-)
Auskultasi : bising usus (+) N
Perkusi : pekak
Palpasi
: supel, nyeri tekan (-)
-

Ekstremitas
Akral Dingin
-

Capillary refill time < 2

Oedem
-

detik

Arteri dorsalis pedis teraba kuat


Status Lokalis :
Regio Scrotalis
Inspeksi

: Tampak adanya ketidakseimbangan antara testis kanan

dan kiri, testis kana terlihat lebih besar dari pada testis kiri. Ukuranya
sebesar biji kelapa, warna serupa dengan kulit, tidak ada tanda radang.

Palpasi

: teraba massa di scrotum ukuran 5x6 cm, konsistensi

lunak, permukaan rata, mobile, tidak nyeri tekan, terpisah dari testis
1.4 RESUME
Tn. D, umur 47 Th, datang ke IGD PKM Wajak dengan keluhan benjolan di
kantung buah zakar bagian kanan sejak 6 tahun yang lalu. Benjolan tersebut
sebesar buah kelapa namun tidak sakit. Benjolan tersebut muncul jika pasien
batuk-batuk, mengejan serta mengangkat beban yang berat. Awalnya benjolan
yang timbul tersebut bisa masuk kembali jika didorong dengan tangan pasien.
Namun, sejak 1 tahun yang lalu benjolan tersebut sudah tidak dapat masuk
kembali. Benjolan tidak terasa sakit, tidak merah, dan tidak terasa tegang. Pasien
tidak mengeluhkan adanya perubahan dalam BAB, BAB tidak berdarah dan tidak
pernah keluar benjolan dari dubur. Pasien tidak mengeluhkan adanya gangguan
BAK, pada saat BAK pasien selalu merasa tuntas dan tidak merasa nyeri. Pasien
juga tidak mengeluhkan adanya mual dan muntah.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan tensi: 110/70 mmHg, Nadi: 84 x/menit,
regular, isi tegangan cukup, RR: 18 x/ menit, kedalaman cukup, reguler, Suhu:
36,4 0C peraksila, BB: 80 kg. Status Lokalis: Regio Scrotalis Inspeksi: Tampak
adanya ketidakseimbangan antara testis kanan dan kiri, testis kana terlihat lebih
besar dari pada testis kiri. Ukuranya sebesar biji kelapa, warna serupa dengan
kulit, tidak ada tanda radang. Palpasi: teraba massa di scrotum ukuran 5x6 cm,
konsistensi lunak, permukaan rata, mobile, tidak nyeri tekan, terpisah dari testis.

1.5 DAFTAR MASALAH


1. Benjolan dikantung buah zakar kanan
2. Benjolan muncul jika pasien batuk-batuk, mengejan serta mengangkat
beban yang berat.
3. Awalnya benjolan yang timbul bisa masuk kembali jika didorong dengan
tangan pasien

4. Sejak 6 bulan terakhir benjolan tersebut sudah tidak dapat masuk


kembali.
5. BB: 80 kg, TB: 160 cm
6. Status Lokalis: Regio

Scrotalis

Inspeksi:

Tampak

adanya

ketidakseimbangan antara testis kanan dan kiri, testis kana terlihat lebih
besar dari pada testis kiri. Ukuranya sebesar biji kelapa, warna serupa
dengan kulit, tidak ada tanda radang. Palpasi: teraba massa di scrotum
ukuran 5x6 cm, konsistensi lunak, permukaan rata, mobile, tidak nyeri
tekan, terpisah dari testis.
1.6 DIAGNOSIS HOLISTIK
Tn. D, 47 Th, dengan keluhan benjolan di kantung buah zakar bagian kanan,
dengan keluarga yang saling memperhatikan, serta saling mendukung.
1.6.1

Diagnosis Biologis
Hernia Scrotalis Dextra

1.6.2

Diagnosis Psikologis
Hubungan antar anggota keluarga cukup baik. Dapat dilihat dari istri, dan

kedua anaknya yang sangat memperhatikan kesehatan pasien.


1.6.3

Diagnosis Sosial Ekonomi


Keluarga Tn.D memiliki hubungan sosial dengan tetangga yang cukup

bagus. Status ekonomi Penghasilan keluarga relatif cukup. Penghasilan


didapat dari pasien yang bekerja sebagai sopir dan kuli mebel. Saat ini
kebutuhan sehari-hari penderita ditanggung oleh Tn.D seorang diri.
1.7 PENATALAKSANAAN
1.7.1

Non Medika mentosa


Bed rest
Reposisi dan pemakaian penyangga (korset) untuk mempertahankan isi

1.7.2

hernia yang telah direposisi


Konsumsi makanan berserat tinggi.
Berhenti merokok.
Medikamentosa
IVFD RL 20 tpm
Rujuk: Pro Hernioplasty

1.8 PROGNOSIS

ad Bonam

BAB III
IDENTIFIKASI FUNGSI- FUNGSI KELUARGA
2.1 FUNGSI HOLISTIK
2.1.1 Fungsi Biologis
Keluarga terdiri dari suami (Tn.D, 47 tahun), istri (Ny.R, 42 tahun),
anak (An.A, 3 tahun).
2.1.2

Fungsi Psikologis
Penderita tinggal bersama istri dan seorang anaknya di rumah. Tn.D

adalah seorang suami yang bekerja sebagai sopir dan kuli mebel. Hubungan
Tn.D dan keluarga cukup terjalin dengan baik dan saling memperhatikan,
walaupun Tn.D kesehariannya sibuk bekerja, tetapi selalu bertemu setiap

10

hari saat sore ataupun malam hari. Hal ini terbukti pada saat pasien dirawat
di IGD, baik istri dan anak pasien menemani pasien.
2.1.3

Fungsi Sosial
Dalam kehidupan sehari-hari, keluarga Tn.D hanya sebagai anggota

masyarakat biasa, tidak mempunyai kedudukan sosial tertentu dalam


masyarakat. Dalam kehidupan sosial Tn.D cukup berperan aktif dalam
kegiatan kemasyarakatan.
2.1.4

Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan


Penghasilan keluarga berasal dari penghasilan Tn.D yang bekerja sebagai

sopir dan kuli mebel, istri pasien adalah ibu rumah tangga yang mengelola rumah
tangga dan menjaga anak mereka. Untuk biaya hidup sehari-hari seperti makan,
minum, atau iuran membayar listrik mengandalkan uang yang ada dari gaji suami
saja.
Kesimpulan :
Dari poin satu sampai empat dari fungsi holistik keluarga kesimpulannya
adalah Keluarga Tn.D umur 47 tahun dengan Hernia Scrotalis Dextra, fungsi
psikologis dan fungsi sosial ekonomi cukup baik.

2.2 FUNGSI FISIOLOGIS


Untuk menilai fungsi fisiologis digunakan APGAR score. APGAR score
adalah skor yang digunakan untuk menilai fungsi keluarga ditinjau dari sudut
pandang setiap anggota keluarga terhadap hubungannya dengan anggota keluarga
yang lain. APGAR score meliputi :
1.

Adaptasi
Kemampuan anggota keluarga tersebut beradaptasi dengan anggota keluarga
yang lain, serta penerimaan, dukungan dan saran dari anggota keluarga yang
lain.

2.

Partnership
Menggambarkan komunikasi, saling membagi, saling mengisi antara anggota
keluarga dalam segala masalah yang dialami oleh keluarga tersebut.

3.

Growth
11

Menggambarkan dukungan keluarga terhadap hal-hal baru yang dilakukan


anggota keluarga tersebut.
4.

Affection
Menggambarkan hubungan kasih sayang dan interaksi antar anggota keluarga.

5.

Resolve
Menggambarkan kepuasan anggota keluarga tentang kebersamaan dan waktu
yang dihabiskan bersama anggota keluarga yang lain.
Terdapat tiga kategori penilaian yaitu: nilai rata-rata 5 kurang, 6-7 cukup
dan 8-10 adalah baik.

Tabel 3. APGAR score Tn.D =


APGAR Tn.D Terhadap Keluarga
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke
keluarga saya bila saya menghadapi
masalah
P Saya puas dengan cara keluarga saya
membahas dan membagi masalah
dengan saya
G Saya puas dengan cara keluarga saya
menerima dan mendukung keinginan
saya untuk melakukan kegiatan baru
atau arah hidup yang baru
A Saya puas dengan cara keluarga saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan
R Saya puas dengan cara keluarga saya
dan saya membagi waktu bersama-sama

Sering/
Selalu

Kadangkadang

Jarang/
Tidak

Untuk Tn.D APGAR score dapat dijelaskan sebagai berikut :


Adaptation : Saat Tn.D sedang memiliki masalah biasanya tidak ditanggung
sendiri dan bisa berbagi dengan keluarga karena kedekatan Tn.D dengan
keluarga.
Score : 2
Partnership : Pekerjaan Tn.D sebagai sopir dan kuli mebel tidak menyebabkan
hambatan dalam berbagi masalah yang dihadapi sehari-hari dengan keluarga.
Score : 2
Growth : Tn.D jarang berkumpul dengan keluarga dan berkomunikasi, karena
Tn.D bekerja hingga sore hari kadang hingga malam hari.

12

Score : 1
Affection : Tn.D jarang mengekspresikan perhatian terhadap keluarga secara
langsung.
Score : 1
Resolve : Waktu yang tersedia untuk berkumpul dengan keluarga kurang.
Score : 1
Tabel 4. APGAR score Ny.R. =
APGAR Ny.R Terhadap Keluarga

Sering/
Selalu
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke

keluarga saya bila saya menghadapi


masalah.
P Saya puas dengan cara keluarga saya

membahas dan membagi masalah dengan


saya.
G Saya puas dengan cara keluarga saya
menerima dan mendukung keinginan saya
untuk melakukan kegiatan baru atau arah
hidup yang baru.
A Saya puas dengan cara keluarga saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian dll
R Saya puas dengan cara keluarga saya dan
saya membagi waktu bersama-sama
Untuk Ny.R APGAR score dapat dijelaskan sebagai berikut :

Kadang
-kadang

Jarang
/tidak

Adaptation : Saat Ny.R sedang memiliki masalah biasanya tidak ditanggung


sendiri dan bisa berbagi dengan keluarga karena kedekatan Ny.R dengan
keluarga.
Score : 2
Partnership : Pekerjaan Ny.R sebagai ibu rumah tangga tidak menyebabkan
hambatan dalam berbagi masalah yang dihadapi sehari-hari dengan keluarga.
Score : 2
Growth : Ny.R jarang berkumpul dengan keluarga dan berkomunikasi, karena
Ny.R di rumah sedangkan suami bekerja hingga sore bahkan malam hari.
Score : 1

13

Affection : Ny.R jarang mengekspresikan perhatian terhadap keluarga secara


langsung.
Score : 1
Resolve : Waktu yang tersedia untuk berkumpul dengan keluarga kurang.
Score : 1
APGAR score keluarga Tn.D = (7+7) : 2 = 7
Kesimpulan : Fungsi fisiologis keluarga Tn.D adalah cukup.
2.3 FUNGSI PATOLOGIS
Fungsi patologis dari keluarga Tn.D dinilai dengan menggunakan alat
S.C.R.E.E.M sebagai berikut :
Tabel 6. SCREEM keluarga pasien
SUMBER
Social
Culture
Religious
Economic
Educational
Medical
Kesimpulan

PATOLOGIS
Ikut berpartisipasi dalam kegiatan di lingkungannya
Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya baik, dapat dilihat
pada pergaulan mereka yang masih menggunakan bahasa Jawa
sebagai bahasa sehari-hari.
Pemahaman terhadap ajaran agama cukup, demikian juga dalam
ketaatannya dalam beribadah.
Penghasilan keluarga yang relatif stabil
Tingkat pendidikan dan pengetahuan keluarga ini cukup, namun
kurang memperhatikan masalah kesehatan

KET
-

Keluarga ini cukup mampu membiayai pelayanan kesehatan,


namun jika tidak cukup parah tidak akan dibawa kerumah sakit

Keluarga Tn.D mempunyai fungsi patologis di bidang educational, dan medical


2.4 GENOGRAM KELUARGA
Alamat lengkap :Ds. Kidangbang Rt.02, Rw.01
Bentuk Keluarga : small Family
Diagram 2. Genogram keluarga Tn.D

Ny. R

Tn. D

14

An.A

Kesimpulan:

Riwayat hernia tidak ditemukan pada anggota keluarga lainnya, dan bukan
merupakan penyakit yang ditularkan dari anggota keluarga yang lain..

2.5 POLA INTERAKSI KELUARGA


Diagram 1. Pola interaksi keluarga Tn.D
Ny. R

Tn. D, 47th

An. A, 3 th

Keterangan :
Hubungan baik
Hubungan tidak baik
Kesimpulan

: Hubungan antara Tn.D dengan keluarga baik

15

BAB IV
IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
KESEHATAN
3.1 Identifikasi Faktor Perilaku dan Non Perilaku Keluarga
3.1.1 Faktor Perilaku Keluarga
Tn.D adalah seorang laki-laki mengeluh benjolan di kantung buah zakar
bagian kanan sejak 1 tahun yang lalu. Tn.D tinggal serumah dengan istri dan
seorang anaknya, komunikasi antar anggota keluarga cukup baik. Istri dan
anaknya belum banyak memiliki pengetahuan tentang kesehatan khususnya
bahaya yang ditimbulkan oleh hernia.
Saat sakit keluarga Tn.D cukup memperhatikan penderita bahkan peduli dan
mengantarkan untuk berobat ke tempat pelayanan kesehatan terdekat
3.1.2

Faktor Non Perilaku


Dipandang dari segi ekonomi, keluarga ini termasuk keluarga hidup

sederhana, dengan mengandalkan gaji dari suami yang menjalani dua


pekerjaan sekaligus. Ketika Tn.D sakit, maka keluarga ini biasanya berobat ke
Puskesmas terkadang ke praktek dokter jika sakitnya parah atau saat mereka
merasa khawatir, pasien tidak memiliki kartu jamkesmas.
Rumah yang dihuni keluarga ini cukup memadai, karena cukup memenuhi
standar kesehatan. Pencahayaan ruangan cukup, ventilasi cukup, fasilitas WC dan
kamar mandi cukup bersih. Dapur memiliki akses udara yang bebas dan
pencahayaannya cukup. Pembuangan limbah rumah tangga dialirkan ke sungai
belakang yang mengalir, untuk sampah dikumpulkan di bak sampah depan.
Kebersihan lingkungan dalam dan luar rumah cukup bersih karena keluarga
memahamai pentingnya kebersihan lingkungan untuk kesehatan.

16

Diagram 3. Faktor Perilaku dan Non Perilaku


Lingkungan:
Keluarga cukup memahami
pentingnya kebersihan
lingkungan terhadap
kesehatan pasien

Pengetahuan :
Keluarga kurang
mengetahui penyakit
pasien
Sikap:
Komunikasi
baik.Keluarga cukup
memperhatikan

Keluarga Tn.D

Tindakan:
Keluarga
mengantarkan Tn.D
untuk periksa ke
dokter

Pelayanan Kesehatan:
Jika sakit Tn.D merasa
parah dan mengkhawatirkan
saja berobat ke praktek
dokter swasta

Keturunan :
Tidak ada factor
keturunan

: Faktor Perilaku
: Faktor Non Perilaku
3.2 Identifikasi Lingkungan Rumah
3.2.1 Lingkungan Luar Rumah
Keluarga ini tinggal di sebuah rumah yang berdempetan dengan rumah
tetangganya. Tidak memiliki pekarangan rumah dan pagar pembatas. Terdiri
dari ruang tamu, satu kamar tidur, satu dapur,dan memiliki fasilitas jamban
keluarga. Pintu masuk dan keluar ada dua, di bagian depan rumah dan di
belakang. Jendela kaca ada. Lantai rumah sebagian sudah memakai ubin,
sebagian berbahan tanah. Ventilasi dan penerangan rumah cukup. Perabotan
rumah tangga cukup. Secara keseluruhan kebersihan rumah sudah cukup.

3.2.2

Denah Rumah
17

6,5 m

Dapur

Kmr
Mandi

B
Ruang
Makan

R. Makan

9m

Kamar tidur
R tamu

Halaman teras
Bagian Depan

Kesimpulan : Lingkungan rumah cukup memenuhi syarat kesehatan

BAB V
DAFTAR MASALAH
4.1 MASALAH MEDIS :
1. Hernia Scrotalis Dextra

18

4.2 MASALAH NON MEDIS :


1.
Tingkat

pengetahuan

keluarga

Tn.D

tentang

kesehatan kurang.
2.

Keluarga Tn.D hanya datang berobat ke puskesmas

atau dokter swasta jika merasa sakitnya parah atau mengkhawatirkan.


4.3 PERMASALAHAN PASIEN
(Menggambarkan hubungan antara timbulnya masalah kesehatan yang ada
dengan faktor-faktor resiko yang ada dalam kehidupan pasien)
Diagram 5. Permasalahan Tn.D
Tingkat pengetahuan
keluarga Tn.D tentang
kesehatan kurang

Tn.D 47 th

Hernia Scrotalis Dextra

Tingkat pengetahuan
keluarga Tn.D tentang
kesehatan kurang

4.4 MATRIKULASI MASALAH


Prioritas masalah ini ditentukan melalui teknik kriteria matriks. (Azrul, 1996)
Tabel 7. Matrikulasi masalah
No
1.

Daftar Masalah
Tingkat

pengetahuan

I
S

T
SB

Mn
4

R
Mo Ma
3

Jumlah
IxTxR
9.600

keluarga Tn.D tentang


kesehatan kurang
2.

Keluarga Tn.D hanya


datang

berobat

7200

ke

puskesmas atau dokter


swasta
sakitnya

jika

merasa

parah

atau

mengkhawatirkan
Keterangan :
I

: Importancy (pentingnya masalah)

19

P : Prevalence (besarnya masalah)


S : Severity (akibat yang ditimbulkan oleh masalah)
SB : Social Benefit (keuntungan sosial karena selesainya masalah)
T : Technology (teknologi yang tersedia)
R : Resources (sumber daya yang tersedia)
Mn : Man (tenaga yang tersedia)
Mo : Money (sarana yang tersedia)
Ma : Material (pentingnya masalah)
Kriteria penilaian :
1

: tidak penting

: agak penting

: cukup penting

: penting

: sangat penting

4.5 PRIORITAS MASALAH


Berdasarkan kriteria matriks diatas, maka urutan prioritas masalah keluarga
Tn.D adalah sebagai berikut :
1.

Tingkat pengetahuan keluarga Tn.D tentang kesehatan kurang.


Kesimpulan :
Prioritas masalah yang diambil adalah tingkat pengetahuan keluarga Tn.D
tentang kesehatan kurang, sehingga mempengaruhi kondisi kesehatannya.

20

HUBUNGAN ANTARA STATUS EKONOMI DAN SOSIAL BUDAYA


DENGAN KASUS Hernia Tn.D
A.

EKONOMI KELUARGA
Kondisi perekonomian keluarga Tn.D termasuk cukup sederhana. Tn.D saat

ini tinggal bertiga dengan istri dan seorang anaknya. Untuk pemenuhan kebutuhan
sehari-hari dilakukan dari uang gaji bulanan. Untuk pemenuhan kesehatan
keluarga Tn.D tidak memiliki kartu jaminan kesehatan, karena kondisi ekonomi
penderita

yg

cukup

sederhana

dan

tidak

mempunyai

karti

jaminan

kesehatan,penderita apabila sakit ke puskesmas atau dokter swasta jika merasa


sakitnya parah atau mengkhawatirkan saja dan minum obat yang diberikan oleh
dokter.
B.

HAMBATAN SOSIAL BUDAYA PENANGANAN KASUS HERNIA


Secara garis besar hambatan sosial budaya dalam penanggulangan hernia

tidaklah terlalu besar walaupun pengetahuan pasien kurang, namun apabila pasien
ada masalah pasien dapat mengakses pusat kesehatan terdekat, baik karena
kondisi ekonomi dan dekatnya pusat kesehatan yg ada.
Tuntutan besar Tn.D sebagai kepala keluarga sekaligus sebagai sumber
ekonomi satu satunya di keluarga, penyakit ini menimbulkan kekhawatiran yang
mendalam terhadap pasien dan keluarga.
Pengambilan keputusan dirujuk untuk tindakan operasi membutuhkan
perhitungan dan pengambilan keputusan yang berat karena keluarga Tn.D hanya
mengandalkan gaji bulanan.
Atas dasar pertimbangan pencegahan komplikasi lebih lanjut maka tindakan
rujuk untuk dilakukan operasi diambil secara mufakat oleh keluarga Tn.D.
Baik faktor kebiasaan, kepercayaan, sikap, dan juga nilai tidak terlalu
bepengaruh pada penanganan Hernia scrotalis.

21

BAB VI
TINJAUAN PUSTAKA

5.1 Definisi
Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek
atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan. Pada hernia abdomen, isi
perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskulo-aponeurotik
dinding perut. Hernia terdiri atas cincin, kantong, dan isi hernia.
5.2 Anatomi Dinding Perut
Anatomi dari dinding perut dari luar ke dalam terdiri dari :
1. Kutis
2. lemak subkutis
3. fasia skarpa
4. muskulus obligus eksterna
5. muskulus obligus abdominis interna
6. muskulus abdominis tranversal
7. fasia transversalis
8. lemak peritoneal
9. peritoneum.

Gambar. Anatomi abdomen

22

b. Regio inguinalis
b.1. Kanalis inguinalis
Kanalis inguinalis dibatasi di kraniolateral oleh anulus inguinalis internus
yang merupakan bagian yang terbuka dari fasia tranversus abdominis. Di medial
bawah, diatas tuberkulum pubikum, kanal ini dibatasi oleh anulus inguinalis
eksternus, bagian terbuka dari aponeurosis m. Obligus eksternus. Atapnya ialah
aponeurosis m.oblikus eksternus dan di dasarnya terdapat ligamentum inguinale.
Kanal berisi tali sperma pada lelaki, ligamentum rotundum pada perempuan.

Gambar. Kanalis inguinalis

b.2. Kanalis femoralis


Kanalis femoralis terletak medial dari v.femoralis di dalam lakuna
vasorum, dorsal dari ligamentum inguinalis, tempat vena safena magna bermuara
di dalam v.femoralis. Foramen ini sempit dan dibatasi oleh tepi yang keras dan
tajam. Batas kranioventral dibentuk oleh ligamentum inguinalis, kaudodorsal oleh
pinggir os pubis dari ligamentum iliopektineal (ligamentum cooper), sebelah
lateral oleh sarung vena femoralis, dan sebelah medial oleh ligamentum lakunare
Gimbernati. Hernia femoalis keluar melalui lakuna vasorum kaudal dari
23

ligamentum inguinale. Keadaan anatomi ini sering mengakibatkan inkaserasi


hernia femoralis.
Berdasarkan terjadinya, hernia dibagi atas hernia bawaan atau kongenital
dan hernia dapatan atau akuisita. Hernia diberi nama menurut letaknya, misalnya
diafragma, inguinal, umbilikal, femoral.
Menurut sifatnya, hernia dapat disebut hernia reponibel bila isi hernia
dapat keluar masuk. Usus keluar jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika
berbaring atau didorong masuk ke perut, tidak ada keluhan nyeri atau gejala
obstruksi usus. Bila isi kantong tidak dapat direposisi kembali ke dalam rongga
perut, hernia disebut hernia ireponibel. Ini biasanya disebabkan oleh perlekatan isi
kantong pada peritoneum kantong hernia. Tidak ada keluhan rasa nyeri ataupun
tanda sumbatan usus. Hernia disebut hernia inkarserata atau hernia strangulata bila
isinya terjepit oleh cincin hernia sehingga isi kantong terperangkap dan tidak
dapat kembali ke dalam rongga perut. Akibatnya, terjadi gangguan pasase atau
vaskularisasi. Secara klinis, hernia inkarserata lebih dimaksudkan untuk hernia
ireponibel dengan gangguan pasase, sedangkan gangguan vaskularisasi disebut
sebagai hernia strangulata. Pada keadaan sebenarnya, gangguan vaskularisasi
telah terjadi pada saat jepitan dimulai, dengan berbagai tingkat gangguan mulai
dari bendungan sampai nekrosis.

Gambar 1. Bagian-bagian Hernia2


1. Kantong hernia: pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis; 2. Isi
hernia: berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia. Pada
hernia abdominalis berupa usus; 3. Locus Minoris Resistence (LMR); 4. Cincin
hernia: Merupakan bagian locus minoris resistence yang dilalui kantong hernia; 5.

24

Leher hernia: Bagian tersempit kantong hernia yang sesuai dengan kantong
hernia.
5.3 Klasifikasi Hernia Berdasarkan Arah Herniasi
Klasifikasi Hernia
Secara umum hernia diklasifikasikan menjadi:
1. Hernia eksterna, yaitu jenis hernia dimana kantong hernia menonjol secara
keseluruhan (komplit) melewati dinding abdomen seperti hernia inguinal
(direk dan indirek), hernia umbilicus, hernia femoral dan hernia
epigastrika.
2. Hernia intraparietal, yaitu kantong hernia berada didalam dinding
abdomen.
3. Hernia interna adalah hernia yang kantongnya berada didalam rongga
abdomen seperti hernia diafragma baik yang kongenital maupun yang
didapat.
4. Hernia reponibel (reducible hernia), yaitu apabila isi hernia dapat keluar
masuk. Usus keluar jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika
berbaring atau didorong masuk perut, tidak ada keluhan nyeri atau gejala
obstruksi usus.
5. Hernia ireponibel (inkarserata), yaitu apabila kantong hernia tidak dapat
kembali ke abdomen. Ini biasanya disebabkan oleh perlengkatan isi
kantong pada peritoneum kantong hernia. Hernia ini disebut hernia akreta,
merupakan jenis hernia ireponibel yang sudah mengalami obstruksi tetapi
belum ada gangguan vaskularisasi.
6. Hernia strangulasi adalah hernia yang sudah mengalami gangguan
vaskularisasi.
Hernia Eksterna
Penonjolannya dapat dilihat dari luar :
a. Hernia Inguinalis Medialis dan Lateralis
b. Hernia Femoralis
c. Hernia Umbilicus

25

d. Hernia Epigastrica
e. Hernia Lumbalis
f. Hernia Obturatoria
g. Hernia Semilunaris
h. Hernia Perinealis
i. Hernia Ischiadica
Hernia Interna
Bila isi hernia masuk ke dalam rongga lain, misalnya cavum thorax, cavum
abdomen :
a. Hernia Epiploici Winslowi : Herniasi viscera abdomen melalui foramen
omentale
b. Hernia Bursa Omentalis
c. Hernia Mesenterica
d. Hernia Retroperitonealis
e. Hernia Diafragmatica

Gambar 2. Beberapa Contoh Hernia Eksterna


Hernia Inguinalis
Hernia yang paling sering terjadi (sekitar 75% dari hernia abdominalis) adalah
hernia inguinalis. Hernia inguinalis dibagi menjadi: hernia inguinalis indirek
(lateralis), di mana isi hernia masuk ke dalam kanalis inguinalis melalui locus
minoris resistence (annulus inguinalis internus); dan hernia inguinalis direk
26

(medialis), di mana isi hernia masuk melalui titik yang lemah pada dinding
belakang kanalis inguinalis. Hernia inguinalis lebih banyak terjadi pada pria
daripada wanita, sementara hernia femoralis lebih sering terjadi pada wanita.
Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali kongenital atau karena sebab yang
didapat. Faktor yang dipandang berperan kausal adalah prosesus vaginalis yang
terbuka, peninggian tekanan di dalam rongga perut, dan kelemahan otot dinding
perut karena usia. Tekanan intra abdomen yang meninggi secara kronik seperti
batuk

kronik,

hipertrofi

prostat,

konstipasi

dan

asites

sering

disertai

hernia inguinalis.
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya hernia inguinalis antara
lain:
1. Kelemahan aponeurosis dan fasia tranversalis,
2. Prosesus vaginalis yang terbuka, baik kongenital maupun didapat,
3. Tekanan intra abdomen yang meninggi secara kronik, hipertrofi prostat,
konstipasi, dan asites,
4. Kelemahan otot dinding perut karena usia,
5. Defisiensi otot,
6. Hancurnya jaringan penyambung oleh karena merokok, penuaan atau
penyakit sistemik.
Pada neonatus kurang lebih 90 % prosesus vaginalis tetap terbuka, sedangka
pada bayi umur satu tahun sekitar 30 % prosesus vaginalis belum tertutup. Akan
tetapi, kejadian hernia pada umur ini hanya beberapa persen. tidak sampai 10 %
anak dengan prosesus vaginalis paten menderita hernia. Pada lebih dari separuh
populasi anak, dapat dijumpai prosesus vaginalis paten kontralateral, tetapi
insiden hernia tidak melebihi 20 %. Umumnya disimpulkan adanya prosesus
vaginalis yang paten bukan merupakan penyebab tunggal terjadinya hernia, tetapi
diperlukan faktor lain, seperti anulus inguinalis yang cukup besar.
Dalam keadaan relaksasi otot dinding perut, bagian yang membatasi anulus
internus turut kendur. Pada keadaan itu tekanan intraabdomen tidak tinggi dan
kanalis inguinalis berjalan lebih vertikal. Sebaliknya bila otot dinding perut
berkontraksi, kanalis inguinalis berjalan lebih transversal dan anulus inguinalis

27

tertutup sehingga dapat mencegah masuknya usus ke dalam kanalis inguinalis.


Kelemahan otot dinding perut antara lain terjadi akibat kerusakan n.ilioinguinalis
dan iliofemoralis setelah apendektomi. Jika kantong hernia inguinalis lateralis
mencapai skrotum, hernia disebut hernia skrotalis.

Gambar 3. Hernia Inguinalis


Hernia juga mudah terjadi pada individu yang kelebihan berat badan, sering
mengangkat benda berat, atau mengedan.
Jika kantong hernia inguinalis lateralis mencapai scrotum maka disebut
hernia skrotalis. Hernia ini harus dibedakan dari hidrokel atau elefantiasis
skrotum.

Testis

yang

teraba

dapat

dipakai

sebagai

pegangan

untuk

membedakannya.
Gambaran Klinis dan Diagnosis
Gejala dan tanda klinis hernia banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia.
Pada hernia reponibel keluhan satu-satunya adalah adanya benjolan di lipat paha
yang muncul pada waktu berdiri, batuk, bersin, atau mengedan dan menghilang
setelah berbaring. Keluhan nyeri jarang dijumpai kalau ada biasanya dirasakan di
daerah epigastrium atau periumbilikal berupa nyeri visceral karena regangan pada
mesenterium sewaktu satu segmen usus halus masuk ke dalam kantong hernia.
28

Nyeri yang disertai mual muntah baru timbul kalau terjadi inkaserata karena ileus
atau strangulasi karena nekrosis atau gangren.
Tanda klinis pada pemeriksaan fisik bergantung pada isi hernia. Pada saat
inspeksi saat pasien mengedan, dapat dilihat hernia inguinalis lateral muncul
sebagai penonjolan di regio inguinalis yang berjalan dari lateral atas medial
bawah. Kantong hernia yang kosong dapat diraba pada funikulus spermatikus
sebagai gesekan dari dua lapis kantong yang memberikan sensasi gesekan dua
permukaan sutera. Tanda ini disebut tanda sarung tangan sutera, tetapi pada
umumnya tanda ini susah ditentukan. Kalau kantong hernia berisi organ,
tergantung isinya, pada palpasi mungkin teraba usus, omentum maupun ovarium.
Dengan jari telunjuk atau dengan jari kelingking, pada anak dapat dicoba
mendorong isi hernia dengan cara mendorong isi hernia dengan menekan kulit
skrotum melalui anulus eksternus sehingga dapat ditentukan apakah hernia ini
dapat direposisi atau tidak. Dalam hal hernia dapat direposisi, pada waktu jari
masuk berada dalam anulus eksternus, pasien diminta mengedan. Kalau ujung jari
menyentu hernia berarti hernia inguinalis lateralis, dan bagian sisi jari yang
menyentuhnya adalah hernia inguinalis medial.
Diagnosis ditegakkan atas dasar benjolan yang dapat direposisi, atau jika
tidak dapat direposisi, atas dasar tidak adanya pembatasan jelas di sebelah kranial
dan adanya hubungan ke kranial melalui anulus eksternus.

Gambar 4. Hernia scrotalis yang berasal dari hernia inguinalis indirek

29

Jenis hernia yang lain-lain


1. Hernia umbilikalis
Umbilikus adalah tempat umum terjadinya herniasi. Hernia umblikalis
lebih sering terjadi pada wanita, kegemukan dengan kehamilan berulang-ulang
merupakan prekusor umum. Asites sering mengekserbasi masalah ini. Strangulasi
kolon dan omentum umum terjadi. Ruptura sering terjadi pada sirosis asitik
kronik, suatu kasus dimana diperlukan segera dekompresi portal atau pintas nevus
peritoneal secara darurat.
Hernia umbilikalis umum pada bayi dan menutup secara spontan tanpa
terapi khusus jika defek aponeurosis berukuran 1,5 cm atau kurang. Perbaikan
diindikasikan pada bayi dengan defek hernia yang diameternya lebih besar dari
2,0 cm dan dalam semua anak dengan hernia umbilikalis yang masih ada pada
usia 3-4 tahun. Perbaikan klasik untuk hernia umbilikalis adalah hernioplasti
Mayo. Operasi terdiri dari imbrikasi vest-over-pants dari segmen aponeurosis
superior dan inferior. Hernia umbilikalis lebih besar, lebih suka ditangani dengan
protesis.
2. Hernia paraumbilikalis.
Hernia para umbilikalis merupakan hernia melalui suatu celah di garis
tengah di tepi kranial umblikus, jarang terjadi di tepi kaudalnya. Penutupan secara
spontan jarang terjadi sehingga dibutuhkan operasi koreksi.
3. Hernia ventralis
Kebanyakan hernia ventralis disebabkan oleh insisi pada tubuh yang
sebelumnya tidak sembuh secara tepat atau terpisah karena tegangan abnormal.
Cacat ini memungkinkan penonjolan suatu hernia dan operasi umumnya
direkomendasikan.. Jika cacat ini berukuran kecil atau sedang , maka tindakan ini
relatf jelas dan memuaskan tetapi apabila hernia ventralsinya besar dan fasianya
jelek, merupakan prognosa yang jelek pada hernia ventralis. Pada umumnya
tindakan yang dilakukan adalah operasi dengan memobilisasi jaringan denga
cermat dan untuk mencapai penutupan langsung primer jika mungkin. Kadangkadang penggunaan kasa protesis seperti kasa marlex atau fasia lata diindikasikan.

30

4. Hernia epigastrika
Hernia yang keluar melalui defek di linea alba di antara umbilikus dan
prosesus xipoideus. Isi hernia berupa penonjolan jaringan lemak preperitoneal
dengan atau tanpa kantong peritoneum.
5. Hernia lumbalis
Di daerah lumbal antara iga XII dan krista iliaka, ada dua buah trigonum masingmasing trigonum kostolumbal superiorn (Grinfelt) berbentuk segitiga terbalik dan
trigonum kostolumbalis inferior atau trigonum iliolumbalis (Petit) berbentuk
segitiga. Trigonum Grijfelt di batasi di kranial oleh iga XII, di anterior oleh tepi
bebas m. Obligus internus abdominis, sedangkan tutupnya m. Latisimussdorsi.
Trigonum petit dibatasi di kaudal oleh krista iliaka, di anterior oleh tepi bebas
m.obligus eksternus abdominis, dan posterior oleh tepi bebas m. Latisimuss dorsi.
Dasar segitiga ini adalah m. Oblikus internus abdominis dan tutupnya adalah fasia
superfisialis. Hernia pada kedua trigonum ini jarang dijumpai. Pada pemeriksaan
fisik tampak dan teraba benjolan di pinggang di tepi bawah tulang rusuk XII atau
di tepi kranial panggul dorsal. Diagnosis di tegakkan dengan memeriksa pintu
hernia. Diagnosis banding adalah hematoma, abses dingin atau tumor jaringan
lunak. Pengelolaan terdiri dari atas herniotomi dan hernioplasti. Pada hernioplasti
dilakukan juga penutupan defek.
6. Hernia Littre
Hernia yang sangat jarang dijumpai ini merupakan hernia yang
mengandung divertikulum meckel. Hernia Littre dianggap sebagai hernia sebagian
dinding usus.
7. Hernia Speighel
Hernia Spieghel adalah hernia interstial dengan atau tanpa isinya melalui
fasia Spieghel. Hernia ini sangat jarang dijumpai. Biasanya dijumpai pada usia
40-70 tahun, tanpa ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Biasanya
terjadi dikanan dan jarang bilateral. Diagnosis ditegakkan dengan ditemukan
benjolan di sebelah Mc burney bagian kanan maupun sebelah kiri pada tepi lateral
m. Rektus Abdominis. Isi hernia dapat terdiri dari usus, omentum atau ovarium.
Sebagai pemeriksaan penunjang dapat dilakukan ultrasonografi. Pengelolaan
terdiri atas herniotomi dan hernioplastik dengan menutup defek pada m.tranversus

31

abdominis dan m.abdominis internus. Hernia yang besar sangat membutuhkan


suatu protesis.
8. Hernia obturatoria
Hernia obturatoria ialah hernia melalui foramen obturatoria. Dapat
berlangsung dalam empat tahap. Mula-mula tonjolan lemak retroperitoneum
masuk ke dalam kanalis obturatorius, disusul oleh tonjolan peritoneum parietal.
Kantong hernia ini mungkin diisi oleh lekuk usus yang dapat mengalami
inkaserasi parsial, sering secara Richter atau total.
Diagnosis dapat ditegakkan atas dasar adanya keluhan nyeri seperti
ditusuk-tusuk dan parestesia di daerah panggul, lutut, dan bagian medial paha
akibat penekanan pada n. Obturatorius (tanda howship Romberg) yang
patognomonik. Pada colok dubur atau pemeriksaan vaginal dapat ditemukan
tonjolan hernia yang nyeri yang merupakan tanda (Hoeship Romberg).
Pengelolaan bedah dengan pendekatan transperitoneal atau preperitoneal.
9. Hernia perinealis
Hernia perineal merupakan penonjolan hernia pada perineum melalui
defek dasar panggul dapat terjadi secara primer pada perempuan multipara, atau
sekunder setelah operasi melalui perineum seperti prostaktomi atau reseksi rektum
secara abdominoperineal.
Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Tanpak
dan teraba benjolan diperieneum yang mudah keluar masuk dan jarang mengalami
inkaserasi. Pintu hernia dapat diraba secara bimanual dengan pemeriksaan
rektovaginal.

Dalam

keadaan

ragu-ragu

dapat

dilakukan

pemeriksaan

ultrasonografi. Biasanya pendekatan operatif dengan transperitoneal, perineal atau


kombinasi abdomino dan perineal.
10. Hernia pantalon
Hernia pantalon merupakan kombinasi hernia inguinalis lateralis dengan
hernia inguinalis medial pada satu sisi. Kedua kantong hernia dipisahkan oleh
vasa epigastrika inferior sehingga berbentuk seperti celana. Keadaan ini
ditemukan kira-kira 15% dari hernia inguinalis. Diagnosis umum sukar
ditegakkan dengan pemeriksaan klinis dan biasanya sering ditemukan setelah

32

dilakukan operasi. Pengelolaan seperti biasanya pada hernia inginalis, herniotomi


dan hernioplasti.
5.4 Pemeriksaan Hernia
Inspeksi Daerah Inguinal dan Femoral
Meskipun hernia dapat didefinisikan sebagai setiap penonjolan viskus,
atau sebagian daripadanya, melalui lubang normal atau abnormal, 90% dari semua
hernia ditemukan di daerah inguinal. Biasanya impuls hernia lebih jelas dilihat
daripada diraba.
Pasien disuruh memutar kepalanya ke samping dan batuk atau mengejan.
Lakukan inspeksi daerah inguinal dan femoral untuk melihat timbulnya benjolan
mendadak selama batuk, yang dapat menunjukkan hernia. Jika terlihat benjolan
mendadak, mintalah pasien untuk batuk lagi dan bandingkan impuls ini dengan
impuls pada sisi lainnya. Jika pasien mengeluh nyeri selama batuk, tentukanlah
lokasi nyeri dan periksalah kembali daerah itu.
Pemeriksaan Hernia Inguinalis
Palpasi hernia inguinal dilakukan dengan meletakan jari pemeriksa di
dalam skrotum di atas testis kiri dan menekan kulit skrotum ke dalam. Harus ada
kulit skrotum yang cukup banyak untuk mencapai cincin inguinal eksterna. Jari
harus diletakkan dengan kuku menghadap ke luar dan bantal jari ke dalam.
Tangan kiri pemeriksa dapat diletakkan pada pinggul kanan pasien untuk
sokongan yang lebih baik.
Telunjuk kanan pemeriksa harus mengikuti korda spermatika di lateral
masuk ke dalam kanalis inguinalis sejajar dengan ligamentum inguinalis dan
digerakkan ke atas ke arah cincin inguinal eksterna, yang terletak superior dan
lateral dari tuberkulum pubikum. Cincin eksterna dapat diperlebar dan dimasuki
oleh jari tangan.
Dengan jari telunjuk ditempatkan pada cincin eksterna atau di dalam
kanalis inguinalis, mintalah pasien untuk memutar kepalanya ke samping dan
batuk atau mengejan. Seandainya ada hernia, akan terasa impuls tiba-tiba yang
menyentuh ujung atau bantal jari penderita. Jika ada hernia, suruh pasien

33

berbaring terlentang dan perhatikanlah apakah hernia itu dapat direduksi dengan
tekanan yang lembut dan terus-menerus pada massa itu. Jika pemeriksaan hernia
dilakukan dengan perlahan-lahan, tindakan ini tidak akan menimbulkan nyeri.
Setelah memeriksa sisi kiri, prosedur ini diulangi dengan memakai jari
telunjuk kanan untuk memeriksa sisi kanan. Sebagian pemeriksa lebih suka
memakai jari telunjuk kanan untuk memeriksa sisi kanan pasien, dan jari telunjuk
kiri untuk memeriksa sisi kiri pasien. Cobalah kedua teknik ini dan lihatlah cara
mana yang anda rasakan lebih nyaman.
Jika ada massa skrotum berukuran besar yang tidak tembus cahaya, suatu
hernia inguinal indirek mungkin ada di dalam skrotum. Auskultasi massa itu dapat
dipakai untuk menentukan apakah ada bunyi usus di dalam skrotum, suatu tanda
yang berguna untuk menegakkan diagnosis hernia inguinal indirek.
Transluminasi Massa Skrotum
Jika anda menemukan massa skrotum, lakukanlah transluminasi. Di dalam
suatu ruang yang gelap, sumber cahaya diletakkan pada sisi pembesaran skrotum.
Struktur vaskuler, tumor, darah, hernia dan testis normal tidak dapat ditembus
sinar. Transmisi cahaya sebagai bayangan merah menunjukkan rongga yang
mengandung cairan serosa, seperti hidrokel atau spermatokel.
5.5 Komplikasi
Komplikasi hernia tergatung kepada keadaan yang dialami oleh isi hernia.
Isihernia dapat bertahan dalam kantong hernia pada hernia ireponibel, ini dapat
terjadi kalau isi hernia terlalu besar, misalnya terdiri dari omentum, organ
ekstraperitoneal, disini tidak ada keluhan kecuali ada benjolan. Dapat pula isi
hernia terjepit oleh cincin hernia yang akan menimbulkan hernia strangulata.
Jepitan cincin hernia akan menyebabkan gangguan perfusi jaringan isi hernia.
Pada permulaan terjadi bendungan vena sehingga terjadi udem organ atau struktur
didalam hernia dan terjadi transudasi kedalam kantong hernia. Timbulnya udem
akan menambah jepitan pada cincin hernia sehingga perfusi jaringan makin
terganggu. Isi hernia menjadi nekrosis dan kantong hernia akan terisi transudat
yang bersifat serosanguinis. Kalau isi hernia terdiri dari usus maka akan terjadi
perforasi yang akhirnya akan menimbulkan abses lokal, fistel dan peritonitis jika
ada hubungan dengan rongga perut.

34

Gambaran klinis pada hernia inkaserata yang mengandung usus yang


dimulai dengan gambaran obstruksi usus dengan gangguan keseimbangan cairan,
elektrolit, dan asam basah. Bila terjadi strangulasi akan menyebabkan gangguan
vaskularisasi dan akan terjadilah ganggern. Hernia strangulata adalah keadaan
emergensi yang perlu tindakan operatif secepatnya.
5.6 Penatalaksanaan
1. Konservatif
Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian
penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi.
2. Operatif
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis yang
rasional. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip dasar
operasi hernia adalah hernioraphy, yang terdiri dari herniotomi dan hernioplasti.
a. Herniotomi
Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya.
Kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian
direposisi, kantong hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong.
b. Hernioplasti
Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus dan
memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Hernioplasti lebih penting
artinya dalam mencegah terjadinya residif dibandingkan dengan herniotomi.
Dikenal berbagai metode hernioplasti seperti memperkecil anulus inguinalis
internus dengan jahitan terputus, menutup dan memperkuat fasia transversa, dan
menjahitkan pertemuan m. tranversus internus abdominis dan m. oblikus internus
abdominis yang dikenal dengan nama conjoint tendon ke ligamentum inguinale
poupart menurut metode Bassini, atau menjahitkan fasia tranversa m. transversus
abdominis, m.oblikus internus abdominis ke ligamentum cooper pada metode Mc
Vay. Bila defek cukup besar atau terjadi residif berulang diperlukan pemakaian
bahan sintesis seperti mersilene, prolene mesh atau marleks untuk menutup defek.
1.5 Pencegahan

35

Kelainan kongenital yang menyebabkan hernia memang tidak dapat dicegah,


namun langkah-langkah berikut ini dapat mengurangi tekanan pada otot-otot dan
jaringan abdomen:
-

Menjaga berat badan ideal. Jika anda merasa kelebihan berat badan,

konsultasikan dengan dokter mengenai program latihan dan diet yang sesuai.
-

Konsumsi makanan berserat tinggi. Buah-buahan segar, sayur-sayuran

dan gandum baik untuk kesehatan. Makanan-makanan tersebut kaya akan serat
yang dapat mencegah konstipasi.
-

Mengangkat benda berat dengan hati-hati atau menghindari dari

mengangkat benda berat. Jika harus mengangkat benda berat, biasakan untuk
selalu menekuk lutut dan jangan membungkuk dengan bertumpu pada pinggang.
- Berhenti merokok. Selain meningkatkan resiko terhadap penyakit-penyakit
serius seperti kanker dan penyakit jantung, merokok seringkali menyebabkan
batuk kronik yang dapat menyebabkan hernia inguinalis.

36

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Diagnosis Holistik :
Tn.D 47 tahun, dengan Hernia Scrotalis Dextra dengan hubungan antar
anggota keluarga cukup baik. Dapat dilihat dari istri dan anak pasien yang
sangat memperhatikan kesehatan pasien.
1. Segi Biologis
Hernia Scrotalis Dextra
2. Segi Psikologis
Penderita tinggal bersama suami dan seorang anaknya di rumah. Tn.D
adalah seorang suami yang bekerja sebagai sopir dan kuli mebel.
Hubungan Tn.D dan keluarga cukup terjalin dengan baik dan saling
memperhatikan, walaupun Tn.D kesehariannya sibuk bekerja, tetapi
selalu bertemu setiap hari saat sore atau malam hari. Hal ini terbukti
pada saat pasien dirawat di IGD, baik istri dan anak pasien menemani
pasien.
3. Segi Sosial Ekonomi dan Budaya
a. Status ekonomi mencukupi kebutuhan
b. Penyakit Tn.D mengganggu aktifitas sehari-hari.
c.Kondisi lingkungan dan rumah yang cukup memenuhi standar kesehatan.
d. Cukup berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan.
6.2 SARAN
Memberikan pengertian kepada keluarga pasien mengenai pentingnya berobat
secara teratur untuk mencegah penyakit Tn.D agar dapat ditangani secepat
mungkin penyakit yang diderita, serta edukasi kepada keluarga perilaku hidup
bersih sehat.

37

DAFTAR PUSTAKA
1. Sjamsuhidayat R, Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi 2. Jakarta :
EGC, 2004. pp. 519-37
2. Mulyana S. Hernia inguinalis. http://medlinux.blogspot.com . Diakses
tanggal 21 September 2007
3. Swartz MH. Buku Ajar Diagnostik Fisik. Alih Bahasa : Lukmanto P,
Maulany R.F, Tambajong J. Jakarta : EGC, 1995. pp. 276-8
4. Ompusunggu M dr.SpB, Agus D dr.SpB. Pedoman Diagnosa Terapi RSUD
AW Syahrani Ed.V. SMF Penyakit Bedah.2001
5. Grace A Pierce and Neil R Borley. 2006. At a Glance Ilmu Bedah Edisi ketiga. EMS: Jakarta

38