Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kanker merupakan penyakit dengan karakteristik adanya gangguan atau kegagalan
mekanisme pengaturan multiplikasi pada organisme multiseluler sehingga terjadi perubahan
perilaku sel yang tidak terkontrol. Perubahan tersebut disebabkan adanya perubahan atau
transformasi genetik, terutama pada gen-gen yang mengatur pertumbuhan, yaitu
protoonkogen dan gen penekan tumor. Sel-sel yang mengalami transformasi terus-menerus
berproliferasi dan menekan pertumbuhan sel normal. Kanker merupakan salah satu penyakit
dengan angka kematian yang tinggi. Data Global action against canser (2005) dari WHO
(World Health Organization) menyatakan bahwa kematian akibat kanker dapat mencapai
angka 45% dari tahun 2007 hingga 2030, yaitu sekitar 7,9 juta jiwa menjadi 11,5 juta jiwa
kematian. Di Indonesia, menurut laporan Riskesdes (2007) prevalensi kanker mencapai 4,3
per 1000 penduduk dan menjadi penyebab kematian nomor tujuh (5,7%) setelah sroke,
tuberkulosis, hipertensi, trauma, perinatal dan diabetes melitus.
Di negara berkembang, kanker merupakan penyebab utama kematian yang
disebabkan oleh penyakit pada anak diatas usia enam bulan. Data kanker laporan Riskesdes
tahun 2007 menyatakan bahwa Indonesia setiap tahunnya ditemukan sekitar 4.100 pasien
kanker anak yang baru. Dari keseluruhan kasus kanker yang ditemukan, meskipun kanker
masih jarang ditemukan terjadi pada golongan usia anak atau masih sekitar 2-6%, namun
kanker merupakan penyakit degeneratif yang menyebabkan 10% kematian pada anak.
Etiologi kanker pada anak masih belum jelas namun penyebabnya diduga oleh karena
penyimpangan pertumbuhan sel akibat defek genetik dalam kandungan. Pemicunya diduga
oleh faktor lingkungan yang tidak sehat, makanan yang dikonsumsi secara tidak adequat,
adanya radiasi, serta infeksi virus.
Karsinoma sel skuamosa adalah tumor ganas yang berasal dari jaringan epithelium
dengan struktur sel yang berkelompok, mampu berinfiltrasi melalui aliran darah dan limfatik
yang menyebar keseluruh tubuh (Cancer Biology, 2000). Karsinoma sel skuamosa
merupakan jenis kanker yang paling sering terjadi di rongga mulut yaitu sekitar 90-95% dari
total keganasan pada rongga mulut. Lokasi Karsinoma sel skuamosa rongga mulut biasanya
terletak pada lidah (ventral, dan lateral), bibir, dasar mulut, mukosa bukal, dan daerah
retromolar.
Karsinoma sel skuamosa pada lidah merupakan tumor ganas yang berasal dari
mukosa epitel rongga mulut dan sebagian besar merupakan jenis karsinoma epidermoid.
Karsinoma sel skuamosa lidah berkisar antara 25 sampai dengan 50 % dari semua kanker
ganas didalam mulut. Karsinoma ini jarang dijumpai pada wanita dibandingkan pada pria,
kecuali dinegara Skandinavia insiden karsinoma rongga mulut pada wanita tinggi oleh karena
tingginya insiden penyakit plumer vision syndrome sebelumnya. Dari 441 karsinoma sel
skuamosa lidah yang dilaporkan oleh Ash dan Millar, 25 % terjadi pada wanita dan 75 %

terjadi pada pria dengan umur rata-rata 63 tahun. Menurut statistic dari NCIs SEER
(National Cancer Institute Surveillance Epidemiology and End Results) U.S. National
Institues of Health Cancer diperkirakan 9,800 pria dan wanita (6,930 pria dan 2,870 wanita)
didiagnosis terkena kanker lidah. Karsinoma sel skuamosa lidah umumnya mengenai pria di
atas 50 tahun, terutama dengan riwayat konsumsi tinggi terhadap tembakau dan alkohol,
jarang terjadi pada anak, yaitu sekitar 2-6% dari seluruh kasus, namun literatur menunjukkan
adanya peningkatan insidensi tiga hingga tujuh persen selama 25 tahun terakhir. Karsinoma
sel skuamosa lidah pada anak merupakan penyakit yang mematikan karena sering kali tidak
mampu diprediksi keberadaanya dan memiliki sifat agresif dari awal pembentukannya.
Meskipun secara mikroskopik Karsinoma sel skuamosa lidah pada anak dan dewasa hampir
sama, namun karena sifat agresif pada anak yang lebih besar, sehingga prognosis pada anak
lebih buruk dibanding pada orang dewasa.
Karsinoma sel skuamosa lidah mempunyai prognosis yang jelek, sehingga diagnosa
dini sangat diperlukan terlebih bila telah terjadi metastase kedaerah lain (leher dan servikal).
Karsinoma lidah sering dijumpai bersama-sama dengan penyakit syphilis dan premalignant
seperti: leukoplakia, erythroplasia. Menurut penelitian Frazell dan Lucas kasus-kasus kanker
lidah yang terjadi bagian dorsum lidah hanya 4%, tetapi lebih ganas (Undifferentiated
epidermoid carcinoma).
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Tumor adalah suatu benjolan yang disebabkan oleh pertumbuhan sel. Ada dua macam
tumor yaitu:
1. Tumor Jinak
Tumor jinak mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a. Bentuknya bundar dan lonjong.
b. Pertumbuhannya terbatas dan lambat.
c. Mempunyai simpai atau kapsul.
d. Tidak menyebabkan kematian secara langsung.
e. Tidak mempunyai anak sebar.
2. Tumor Ganas Atau Kanker
Ciri-cirinya antara lain :
a. Tidak mempunyai bentuk.
b. Pertumbuhannya cepat dan tidak terbatas serta melewati batas anatominya.
c. Tidak mempunyai simpai.
d. Mempunyai anak sebar (metastasis).

e. Tumor ganas selalu menimbulkan kematian bila tidak ditangani secara dini.(E.
Oswari, 2005)
Tumor rongga mulut ialah tumor yang terdapat di daerah yang terletak mulai dari
perbaatasan kulit selaput lendir bibir atas dan bawah sampai ke perbatasan palatum durumpalatum mole di bagian atas.(Efiaty Arsyad, 2006)
Karsinoma lidah adalah suatu tumor yang terjadi dasar mulut, kadang-kadang meluas
kearah lidah dan menyebabkan gangguan mobilitas lidah (Van de Velde, 1999).
Tumor lidah adalah sebagian besar kanker lidah adalah karsinoma sel skuamosa..
Tersebut muncul dari lapisan yang menutupi otot-otot lidah. Sebuah tumor ganas yang timbul
dari epitel yang menutupi lidah. Sebagian besar karsinoma lidah yang cukup atau kurang
dibedakan karsinoma sel skuamosa.
Kanker lidah adalah suatu neoplasma maligna yang timbul dari jaringan epitel
mukosa lidah dengan selnya berbentuk squamous cell carcinoma (sel epitel gepeng berlapis) ,
juga beberapa penyakit-penyakit tertentu (premaligna). Kanker ganas ini dapat menginfiltrasi
ke daerah sekitarnya, di samping itu dapat melakukan metastase secara limfogen dan
hematogen.
Jadi dapat disimpulkan tumor lidah adalah suatu tumor yang terjadi pada permukaan
dasar mulut yang timbul dari epitel yang menutupi lidah.

B. Etiologi
Penyebab Karsinoma sel skuamosa yang pasti belum diketahui. Penyebabnya diduga
berhubungan dengan bahan karsinogen dan faktor predisposisi. Insiden kanker lidah
berhubungan dengan umur yang dapat mencerminkan waktu penumpukan, perubahan genetik
dan lamanya terpapar inisiator dan promotor (seperti: bahan kimia, iritasi fisik, virus, dan
pengaruh hormonal), aging selular dan menurunnya imunologik akibat aging. Faktor
predisposisi yang dapat memicu berkembangnya kanker lidah antara lain adalah tembakau,
menyirih, alkohol, dan faktor pendukung lain seperti penyakit kronis, faktor gigi dan mulut,
defisiensi nutrisi, jamur, virus, serta faktor lingkungan.
1. Tembakau

Tembakau berisi bahan karsinogen seperti : nitrosamine, polycyclic aromatic,


hydrokarbon, nitrosodicthanolamine, nitrosoproline, dan polonium. Tembakau
merupakan faktor etiologi tunggal yang paling penting. Tembakau dapat dikunyahkunyah, atau diletakkan dalam mulut untuk diisap, pada semua keadaan tersebut
tembakau mempunyai efek karsinogenik pada mukosa lidah.
Efek dari penggunaan tembakau yang tidak dibakar ini erat kaitannya dengan
timbulnya oral leukoplakia dan lesi mulut lainnya pada pipi, gingiva rahang bawah,
mukosa alveolar, dasar mulut dan lidah.
Kebiasaan mengunyah tembakau di masyarakat Asia dengan menggunakan campuran
sirih dan pinang yang sering dan dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan
Karsinoma sel skuamosa sesuai dengan letak campuran tembakau yang ditempatkan pada
lidah. Mengunyah tembakau dengan menyirih dapat meningkatkan keterpaparan
carcinogen tobacco specific nitrosamine (TSNA) dan nitrosamine yang berasal dari
alkaloid pinang.
2. Menyirih
Kebiasan menyirih atau "nginang" merupakan salah satu kebiasaan kuno yang
dimulai sejak berabad-abad tahun yang lalu. Menyirih mulai dilakukan oleh masyarakat
di China dan India lalu menyebar ke benua Asia termasuk Indonesia. Komposisi utama
dari menyirih adalah daun sirih (Piper betel leaves), buah pinang (Areaca nut), kapur
sirih (Antacid), dan gambir (Uncaria Gambier Roxb). Menurut penelitian, kegiatan
menyirih dapat menimbulkan efek negatif terhadap jaringan mukosa di rongga mulut
yang dikaitkan dengan penyakit kanker lidah dan pembentukan karsinoma sel skuamosa
yang bersifat malignan akibat komposisi menyirih, frekuensi menyirih, durasi menyirih,
dan penggunaan sepanjang malam.
3. Alkohol
Beberapa penelitian telah menunjukkan hubungan antara konsumsi alkohol yang
tinggi terhadap terjadinya karsinoma sel skuamosa. Minuman alkohol mengandung bahan
karsinogen seperti etanol, nitrosamine, urethane contaminant. Alkohol dapat bekerja
sebagai suatu solvent (pelarut) dan menimbulkan penetrasi karsinogen kedalam jaringan
epitel. Acelylaldehyd yang merupakan alkohol metabolit telah diidentifikasi sebagai
promotor tumor. Alkohol merupakan salah satu faktor yang memudahkan terjadinya
leukoplakia, karena pemakaian alkohol dapat menimbulkan iritasi pada mukosa.
Kombinasi kebiasaan merokok dan minum alkohol menyebabkan efek sinergis
sehingga mempunyai resiko yang lebih besar untuk terjadinya kanker lidah. Asap rokok
mengandung bahan karsinogen dan alkohol menyebabkan dehidrasi dan rasa panas yang
mempengaruhi selaput lendir mulut. Meningkatnya premeabilitas mukosa ini akan
menimbulkan rangsangan menahun dimana timbul proses kerusakan dan pemulihan
jaringan yang berulang-ulang sehingga mengganggu keseimbangan sel dan sel
mengalami displasia.
4. Faktor Pendukung Lain

a. Penyakit Kronis
Penyakit kronis dapat menjadi faktor predisposisi bagi timbulnya keganasan. Penyakit
tersebut antara lain adalah sifilis. Sifilis merupakan faktor predisposisi yang penting
dari karsinoma lidah. Dengan berkurangnya sifilis tertier dan sifilis glositis, peranan
sifilis juga makin berkurang, oleh karena itu adanya sifilis harus tetap diperiksa pada
setiap keadaan karsinoma.
b. Faktor Gigi dan Mulut
Keadaan rongga mulut yang tidak terjaga ikut ambil peranan memicu timbulnya
kanker lidah. Iritasi kronis yang terus menerus berlanjut dan dalam jangka waktu
lama dari restorasi yang kasar, gigi-gigi karies/akar gigi, dan gigi palsu yang letaknya
tidak pas akan dapat memicu terjadinya karsinoma.
c. Diet dan nutrisi
Diet dan nutrisi yang penting pada neoplasma lidah diindikasikan pada beberapa
study populasi dimana defisiensi dikaitkan pada resiko karsinoma sel skuamosa.
Buah-buahan dan sayur-sayuran (vitamin A dan C) yang tinggi merupakan proteksi
terhadap neoplasma, sedangkan daging dan cabe merah powder didiagnosa sebagai
faktor resiko.
Zat besi berperan dalam melindungi pemeliharaan epitel. Defisiensi zat besi,
menyebabkan atropi epitel mulut dan Plummer Vinson Syndrome yang berhubungan
dengan terjadinya kanker lidah.
d. Jamur
Kandidiasis dalam jaringan rongga mulut mempengaruhi patogenesis dari kanker
lidah. Kandidiasis ada hubungannya dengan diskeratosis pada epitelium walaupun
tidak jelas apakah kandida ikut berperan dalam etiologi diskeratosis.
Kandidiasis dapat menyebabkan proliferasi epitel dan karsinogen dari prokarsinogen
in vitro, chronik hyperplastic candidiasis yang berupa plak mukosa nodular atau
bercak putih yang berpotensial untuk terjadinya lesi malignan epitel oral.
e. Virus
Virus dipercaya dapat menyebabkan kanker dengan mengubah struktur DNA dan
kromosom sel yang diinfeksinya. Virus dapat ditularkan dari orang ke orang melalui
kontak seksual. Virus penyebab karsinoma sel skuamosa antara lain Human
Papiloma Virus, herpes simplex virus tipe 1 (HSV-1), human immunodeficiency Virus
(HIV), dan Epstein Barr Virus. Human Papiloma Virus positif dijumpai lebih tinggi
pada tumor rongga mulut (59%), faring (43%), dan laring (33%).
f. Faktor Lingkungan
Sejumlah faktor lingkungan dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker, salah
satunya adalah pemaparan yang berlebihan dari sinar ultraviolet, terutama dari sinar
matahari. Selain itu, radiasi ionisasi karsinogenik yang digunakan dalam sinar x,
dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga nuklir dan ledakan bom atom juga dapat
meningkatkan resiko terjadinya kanker.

C. Manifestasi Klinis
1. Awal keganasan biasanya ditandai dengan adanya ulkus yang tidak kunjung sembuh
dalam waktu 2 minggu meski sudah diobati.
2. Adanya massa dan ulkus yang tidak nyeri.
3. Sejalan dengan kemajuan kanker pasien dapat mengeluhkan nyeri tekan, kesulitan
mengunyah, menelan, dan berbicara, batuk dengan sputum bersemu darah atau terjadi
perbesaran nodus limfe servikal. (Baughman Diane C., 2000)
D. Stadium Kanker
Klasifikasi
Sistem yang dipakai untuk klasifikasi karsinoma sel skuamosa adalah Klasifikasi TMN dari
America Joint Committe for Cancer and End Result Reporting.
T - Tumor Primer:
Tls : Karsinoma in situ
Tl : Besar tumor 2 cm atau kurang.
T2 : Besar tumor lebih dari 2 cm atau 4 cm.
T3 : Besar tumor lebih dari 4cm.
N - Metastase kelenjar :
NO : Secara klinis pada palpasi kelenjar limfe tidak teraba dan subjek tidak ada
metastase.
N1 : Secara klinis pada palpasi teraba kelenjar limfe servikal homo-lateral dan tidak
melekat, saspek terjadi metastase.
N2 : Secara klinis pada palpasi kelenjar limfe servikal kontra- lateral atau bilateral
dapat teraba dan tidak melekat, subjek terjadi metastase.
N3 : Secara klinis limf nod teraba dan melekat, suspek terjadi metastase.
M Metastase jarak jauh :
MO : Tidak ada metastase
M1 : Tanda-tanda klinis dan radio-grafis dijumpai adanya metastase melewati
kelenjar limfe servikal.
Stadium kanker lidah:
Stadium l : T1 N0 M0
Stadium 2 : T2 N0 M0
Stadium 3 : T3 N0 M0
: T1 N1 M0
: T2 N1 M0
: T3 N1 M0
Stadium 4 : T1 N2 M0 T1 N3 M0
T2 N2 M0 T2 N3 M0

T3 N2 M0 T3 N3 M0
Atau setiap T atau N dengan M1
WHO mengklasifikasikan SCC secara histologis menjadi:
1. Well differentiated (Grade I) : yaitu proliferasi sel-sel tumor di mana sel-sel basaloid
tersebut masih berdiferensiasi dengan baik membentuk keratin (keratin pearl) (Gambar
7)
2. Moderate diffirentiated (Grade II) : yaitu proliferasi sel-sel tumor di mana sebagian selsel basaloid tersebut masih menunjukkan diferensiasi, membentuk keratin (Gambar 8)
3. Poorly differentiated (Grade III) : yaitu proliferasi sel sel tumor di mana seluruh sel-sel
basaloid tidak berdiferensiasi membentuk keratin, sehingga sel sulit dikenali lagi
(Gambar 9)

Gambar 7: Histopatologis SCC well differentiated. Terlihat proliferasi sel-sel Skuamosa


disertai pembentukan keratin (keratin pearl) (tanda panah)

Gambar 8: Histopatologis SCC moderet differentiated. Terlihat proliferasi sel Karsinoma

Gambar 9: Histopatologi SCC poorly differentiated. Terlihat proliferasi sel karsinoma tanpa
adanya diferensiasi sel sehingga sel sulit dikenali.

E. Patofisiologi
Dasar lidah memainkan peran penting dalam berbicara dan menelan. Selama fase
faring menelan, makanan dan cairan yang mendorong ke arah oropharing dari rongga mulut
oleh lidah dan otot-otot pengunyahan. Laring terangkat, efektif menekan katup tenggorok
dan memaksa makanan, cair, dan air liur ke dalam kerongkongan hypopharynx dan leher
rahim.
Meskipun laring menghasilkan suara, lidah dan faring adalah organ utama yang
membentuk suara. Kerugian jaringan dari dasar daerah lidah mencegah penutupan yang
kedap air dengan laring selama tindakan menelan. Ketidaksesuaian ini memungkinkan
makanan dan cairan untuk melarikan diri kedalam faring dan laring, koreografer dengan hatihati mengubah refleks menelan dan sering mengakibatkan aspirasi. Baik neurologis
penurunan dan perubahan dalam tindakan terkoordinasi menelan dari penyakit berbahaya di
daerah ini dapat merusak mempengaruhi pada kemampuan berbicara dan menelan.
Squamous sel carcinoma pada lidah sering timbul pada daerah epithelium yang tidak
normal, tetapi selain keadaan tersebut dan mudahnya dilakukan pemeriksaan mulut, lesi
sering tumbuh menjadi lesi yang besar sebelum pasien akhirnya datang ke dokter gigi. Secara
histologis tumor terdiri dari lapisan atau kelompok sel-sel eosinopilik yang sering disertai
dengan kumparan keratinasi. Menurut tanda histology, tumor termasuk dalam derajat I IV
(Broder). Lesi yang agak jinak adalah kelompok pertama yang disebut carcinoma verukcus
oleh Ackerman. Pada kelompok ini, sel tumor masuk, membentuk massa papileferus pada
permukaan. Tumor bersifat pasif pada daerah permukaannya, tetapi jarang meluas ke tulang
dan tidak mempunyai anak sebar. Lidah mempunyai susunan pembuluh limfe yang kaya, hal
ini akan mempercepat metastase kelenjar getah bening dan dimungkinkan oleh susunan
pembuluh limfe yang saling berhubungan kanan dan kiri.
Tumor yang agak jinak cenderung membentuk massa papiliferus dengan penyebaran
ringan kejaringan didekatnya. Tumor paling ganas menyebar cukup dalam serta cepat ke
jaringan didekatnya dengan penyebaran permukaan yang kecil, terlihat sebagai ulser nekrotik
yang dalam. Sebagian besar lesi yang terlihatterletak diantara kedua batas tersebut dengan
daerah nekrose yang dangkal pada bagian tengah lesi tepi yang terlipat serta sedikit
menonjol. Walaupun terdapat penyebaran lokal yang besar, tetapi anak sebar tetap berjalan.
Metastase haematogenus terjadi pada tahap selanjutnya.
F. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan kanker lidah tergantung pada tipe sel, derajat differensiasi, tempat,
ukuran dan lokasi lesi primer, status kelenjar getah bening, keterlibatan tulang untuk
mencapai tepi bedah yang adekuat, kemampuan untuk melindungi fungsi penelanan,
berbicara, status fisik dan mental pasien, pemeriksaan keseluruhan dari komplikasi yang
potensial dari setiap terapi, pengalaman ahli bedah, radiotherapist dan keinginan serta
kooperatifan pasien.

Kemoterapi dan pembedahan digunakan dalam pengobatan kanker LIDAH.


Pembedahan atau kemoterapi dapat digunakan untuk lesi T1 dan T2, sedangkan kanker
stadium lanjut dilakukan dengan gabungan kemoterapi dan pembedahan.
Pembedahan lengkap direkomendasikan jika tidak menganggu secara kosmetik. Pada
kasus tidak memungkinkannya reseksi lengkap, biopsi inisial yang diikuti oleh kemoterapi
merupakan hal yang tepat. Pembedahan kedua dapat dilakukan dalam dua keadaan berbeda.
Dalam kasus yang terlihat remisi lengkap, pembedahan kedua dimaksudkan sebagai metode
untuk melihat respon patologis . Selain itu, pembedahan kedua dimaksudkan untuk mereseksi
setelah pemberian terapi lokal defenitif.
Kemoterapi. Sebelum terapi kombinasi, pembedahan sendiri menghasilkan laju
ketahanan< 20%.Perkembangan terapi telah meningkatkan ketahanan hidup pasien sekitar
60%. Bahan yang digunakan dalam kemoterapi adalah vincristin (V), aktinomisin D (A),
doksurubisin (Dox), siklofosfamid (C), ifosfamid (I), dan etoposid (E), VAC telah
merupakan standar terbaik untuk kemoterapi kombinasi dalam perawatan kanker lidah.
Radioterapi berperan penting dalam perawatan kanker lidah.Radioterapi merupakan
metode efektif untuk mencapai kontrol lokal tumor bagi pasien dengan penyakit residual
mikroskopik atau besar setelah biopsi, reseksi pembedahan inisial, atau kemoterapi. Dosis
awal yang direkomendasikan adalah 5,500 hingga 6,000 cG untuk mengontrol daerah tomur
primer.
Rujukan pada terapi bicara, terapi pekerjaan, psikolog, dan ahli diet sangat penting
karena berhubungan dengan masalah yang mungkin muncul berikut ini yaitu komunikasi
verbal, mengunyah, dan menelan yang membawa perubahan tampilan diri serta harga
diri.(Charlene J. Reeves, 2001)

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Identitas Pasien
Nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, nomor register, tanggal
masuk dan nama penanggung jawab pasien selama dirawat.
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama
Alasan spesifik untuk kunjungan ke klinik atau rumah sakit.
b. Riwayat penyakit sekarang
Keluhan utama dari awitan paling awal sampai perkembangannya saat ini. Terdapat
komponen utama yaitu: rincian awitan, riwayat interval yang lengkap, status saat ini,
alas an untuk mencari bantuan saat ini.
c. Riwayat penyakit dahulu
Riwayat kesehatan dahulu yang mungkin mempengaruhi kondisi saat ini.
d. Riwayat penyakit keluarga
Apakah didalam keluarga ada salah satu anggota yang menderita tumor lidah.
3. Pengkajian Pola Kesehatan Fungsional (Gordon)
a. Aktivitas: Kelemahan atau keletihan, perubahan pada pola istirahat; adanya faktorfaktor yang mempengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas.
b. Eliminasi : Perubahan pola defekasi konstipasi atau diare, perubahan eliminasi urin,
perubahan bising usus, distensi abdomen.
c. Makanan/cairan : Kebiasaan diit buruk ( rendah serat, aditif, bahan pengawet),
anoreksia, mual/muntah, mulut rasa kering, intoleransi makanan,perubahan berat
badan, perubahan kelembaban/turgor kulit.
d. Neurosensori : Sakit kepala, tinitus, tuli, juling.

e. Nyeri/kenyamanan : Rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri telinga (otalgia),
rasa kaku di daerah leher karena fibrosis jaringan akibat penyinaran.
f. Pernapasan : Merokok (tembakau, hidup dengan seseorang yang merokok),
pemajanan.
g. Keamanan : Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen, pemajanan matahari lama /
berlebihan, demam, ruam kulit.
h. Seksualitas : Masalah seksual misalnya dampak hubungan, perubahan pada tingkat
kepuasan.
i. Interaksi sosial : Ketidakadekuatan atau kelemahan sistem pendukung (Doenges,
2000)
4. Pemeriksaan Fisik
Sistem pengkajian fisik, baik struktur internal dan eksternal mulut dan tenggorok
diinspeksi dan palpasi. Perlu untuk melepaskan gigi palsu dan lempeng parsial untuk
menjamin inspeksi menyeluruh terhadap gusi. Secara umum, pemeriksaan dapat
diselesaikan dengan penggunaan sumber lampu terang (penlight) dan depresor lidah.
Sarung tangan digunakan untuk mempalpasi lidah dan adanya abnormalitas.
a. Bibir : Pemeriksaan mulai dengan inspeksi terhadap bibir untuk kelembaban, hidrasi,
warna, tekstur, simetrisitas, dan adanya ulserasiatau fisura. Bibir harus lembab, merah
muda, lembut dan simetris.
b. Gusi : Gusi diinspeksi terhadap inflmasi, perdarahan, retraksi, dan perubahan warna.
Bau napas juga dicatat.
c. Lidah : Lidah dorsal diinspeksi untuk tekstur, warna, dan lesi. Papila tipis, lapisan
putih, dan besar berbentuk V pada bagian distal dorsal lidah. Selanjutnya dibagian
permukaan venteral lidah dan dasar mulut lidah. Adanya lesi pada mukosa yang
melibatkan vena superfissial pada permukaan bawah lidah terlihat. Spatel lidah
digunakan untuk menekan lidah guna mendapatkan visualisasi adekuat terhadap
faring.
d. Rongga Oral : Pengkajian rongga oral sangat penting, karena banyak gangguan
seperti kanker, diabetes, dan kondisi imunosupresidari terapi obat atau AIDS
dimanifestasikan oleh perubahan pada rongga oral. Leher diperiksa terhadap
pembesaran nodus limpa.(Smeltzer, Suzanne C., 2002)

5. Pemeriksaan Diagnostik
a. Ultrasound yaitu dipakai untuk menilai massa superficial.
b. Scan CT dan Megnetic Resonance Imaging (MRI) yaitu digunakan untuk lesi lebih
dalam dan menilai struktur lebih dalam pada tumor dan menunjukkan apakah terdapat
metastase atau tidak.(Charlene J. Reeves, 2001)

B. Diagnosa Keperawatan
1. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan penyakit
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan
ketidakmampuan untuk mencerna nutrisi adekuat akibat kondisi oral.
3. Nyeri yang berhubungan dengan lesi oral atau pengobatan, efek dari pembedahan reseksi.
4. Kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan penurunan neurology dan
kemampuan menelan.
5. Resiko terhadap infeksi yang berhubungan dengan penyakit atau pengobatan
6. Kurang pengetahuaan tentang proses penyakit dan rencana pengobatan

C. Intervensi Keperawatan
1. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan penyakit
Tujuan : hipertermi teratasi dalam 2x24 jam
Kriteria Hasil : suhu tubuh dalam batas normal, badan tidak terasa panas.
Intervensi :
a. Kaji suhu dan tanda- tanda vital, keadaan klien
Rasional : Suhu 38,-41,1C menunjukan proses penyakit infeksius.
b. Pantau suhu klien, perhatikan menggigil.

Rasional : Memantau perubahan suhu tubuh


c. Berikan kompres mandi hangat.
Rasional : Dapat membantu mengurangi demam.
d. Anjurkan pasien untuk banyak minum.
Rasional : Mempertahankan intake.
e. Anjurkan pasien memakai pakaian yang tipis dan menyerap keringat.
Rasional : Menurunkan suhu tubuh.
f. Kolaborasi pemberian antipiretik.
Rasional : Untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya hipotalamus.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan
ketidakmampuan untuk mencerna nutrisi adekuat akibat kondisi oral.
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi dalam waktu 3x24 jam
Kriteria hasil : BB sesuai usia, nafsu makan meningkat, tidak mual / muntah.
Intervensi
a. Timbang BB tiap hari.

Rasional : untuk mengetahui terjadinya penurunan BB dan mengetahui tingkat perubahan.


b. Berdiit makanan yang tidak merangsang (lunak / bubur).
Rasional : untuk membantu perbaikan absorbsi usus.
c. Anjurkan klien untuk makan dalam keadaan hangat.
Rasional : keadaan hangat dapat meningkatkan nafsu makan.
d. Anjurkan klien untuk makan sedikit tapi sering.
Rasional : untuk memenuhi asupan makanan.
e. Berikan diit tinggi kalori, protein dan mineral serta rendah zat sisa.

Rasional : untuk memenuh gizi yang cukup.


f. Colaboration pemberian obat antipiretik.
Rasional : untuk mengurangi bahkan menghilangkan rasa mual dan muntah
3. Nyeri yang berhubungan dengan lesi oral atau pengobatan, pembedahan reseksi.
Tujuan : Nyeri hilang lebih berkurang, rasa nyaman terpenuhi
KH : skala nyeri 0
Klien mengatakan nyeri berkurang
Nadi 60 90 x / menit
Klien nyaman, tenang, rileks
Intervensi
a. Kaji karakteritas dan letak nyeri.
Rasional : untuk menentukan tindakan dalam mengatur nyeri.
b. Ubah posisi klien bila terjadi nyeri, arahkan ke posisi yang paling nyaman.
Rasional : posisi yang nyaman dapat mengurangi nyeri.
c. Observasi nyeri berkurang atau tidak.
Rasional : Mengetahui skala nyeri saat ini.
d. Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi (teknik penggurang rasa nyeri non farmakologi).
Rasional : Mengurangi rasa nyeri.
e. Diskusikan dengan keluarga tentang nyeri yang dialami klien.
Rasional : Keluarga berpartisipasi dalam pengobatan
f. Kolaborasi untuk mendapatkan obat analgetik
Rasional : untuk memblok syaraf yang menimbulkan nyeri
4. Kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan penurunan neurologi dan
kemampuan menelan.
Tujuan : tidak terjadi kerusakan komunikasi verbal.
Kriteria hasil : komunikasi lancar.
Intervensi :
a. Kaji kemampuan komunikasi klien.
Rasional : Mengetahui kemampuan komunikasi klien.

b. Sediakan alat komunikasi yang lain seperti papan tulis atau buku jika klien
tidak dapat berkomunikasi verbal
Rasional : Membantu dalam berkomunikasi.
c. Responsif terhadap bel panggilan dari klien
Rasional : Menjaga kepercayaan dari pasien.
5. Resiko terhadap infeksi yang berhubungan dengan penyakit atau pengobatan.
Tujuan : Tidak terjadi infeksi.
Kriteria hasil :
Tidak ada tanda-tanda infeksi (rubor, color, dolor, tumor dan fungsion laesa)
TTV normal terutama suhu (36-37 oC)
Intervensi :
a. Monitor TTV.
Rasional : Suhu yang meningkat dapat menunjukkan terjadi infeksi (color).
b. Kaji luka pada abdomen dan balutan.
Rasional : Mengidentifikasi apakah ada tanda-tanda infeksi adanya pus.
c. Menjaga kebersihan sekitar luka dan lingkungan pasien, teknik rawat luka dengan antisep dan
antiseptic.
Rasional : Mencegah kontaminasi silang / penyebaran organisme infeksius.
d. Kolaborasi pemberian antibiotic.
Rasional : Antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi.
6. Kurang pengetahuaan tentang proses penyakit dan rencana pengobatan
Tujuan : keluarga dapat menyatakan pemahaman proses penyakit
KH : menyatakan pemahaman proses penyakit
Intervensi :
a. Kaji ulang proses penyakit, penyebab/efek hubungan faktor yang menimbulkan gejala dan
mengidentifikasi cara menurunkan faktor pendukung.
Rasional : Mengetahui sejauh mana keluarga memahami penyakit
tersebut.
b. Tentukan persepsi tentang proses penyakit.
Rasional : Menyamakan pola pikir.
c. Jelaskan tentang penyakit yang diderita klien.

Rasional : Memberikan informasi.


d. Diskusikan kembali dengan keluarga
Rasional : Mengetahui sejauhmana informasi yang diterima keluarga

dalam faring dan laring, koreografer dengan hati-hati mengubah refleks menelan dan sering
mengakibatkan aspirasi. Baik neurologis penurunan dan perubahan dalam tindakan terkoordinasi
menelan dari penyakit berbahaya di daerah ini dapat merusak mempengaruhi pada kemampuan
berbicara dan menelan.
Squamous sel carcinoma pada lidah sering timbul pada daerah epithelium yang tidak normal,
tetapi selain keadaan tersebut dan mudahnya dilakukan pemeriksaan mulut, lesi sering tumbuh
menjadi lesi yang besar sebelum pasien akhirnya datang ke dokter gigi. Secara histologis tumor
terdiri dari lapisan atau kelompok sel-sel eosinopilik yang sering disertai dengan kumparan
keratinasi. Menurut tanda histology, tumor termasuk dalam derajat I IV (Broder). Lesi yang
agak jinak adalah kelompok pertama yang disebut carcinoma verukcus oleh Ackerman. Pada
kelompok ini, sel tumor masuk, membentuk massa papileferus pada permukaan. Tumor bersifat
pasif pada daerah permukaannya, tetapi jarang meluas ke tulang dan tidak mempunyai anak
sebar. Lidah mempunyai susunan pembuluh limfe yang kaya, hal ini akan mempercepat
metastase kelenjar getah bening dan dimungkinkan oleh susunan pembuluh limfe yang saling
berhubungan kanan dan kiri.
Tumor yang agak jinak cenderung membentuk massa papiliferus dengan penyebaran ringan
kejaringan didekatnya. Tumor paling ganas menyebar cukup dalam serta cepat ke jaringan
didekatnya dengan penyebaran permukaan yang kecil, terlihat sebagai ulser nekrotik yang dalam.
Sebagian besar lesi yang terlihat 13
terletak diantara kedua batas tersebut dengan daerah nekrose yang dangkal pada bagian tengah
lesi tepi yang terlipat serta sedikit menonjol. Walaupun terdapat penyebaran lokal yang besar,
tetapi anak sebar tetap berjalan. Metastase haematogenus terjadi pada tahap selanjutnya.