Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

VERTIGO
1. Definisi
Vertigo adalah sensasi abnormal berupa gerakan berputar. Pada penderita
vertigo harus dipikirkan apakah vertigo tersebut tipe sentral (misalnya stroke)
atau perifer (BPPV/Benign Positional Paroxysmal Vertigo) ( Dewanto,
George, 2009).
Vertigo adalah persepsi gerakan yang salah, baik presepsi dalam diri pasien
terhadap keadaan sekitarnya, sebagai akibat dari ketidakseimbangan input
vestibular (Ginsberg, Lionel, 2008).
Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan
atau gangguan orientasi di ruangan. Banyak system atau organ tubuh yang ikut
terlibat dalam mengatur dan mempertahankan keseimbangan tubuh kita.
Keseimbangan diatur oleh integrasi berbagai sistem diantaranya sistem
vestibular, system visual dan system somato sensorik ( propioseptik). Untuk
memperetahankan keseimbangan diruangan, maka sedikitnya 2 dari 3 sistem
system tersebut diatas harus difungsikan dengan baik. Pada vertigo, penderita
merasa atau melihat lingkunganya bergerak atau dirinya bergerak terhadap
lingkungannya. Gerakan yang dialami biasanya berputar namun kadang
berbentuk linier seperti mau jatuh atau rasa ditarik menjauhi bidang vertikal.
Pada penderita vertigo kadang-kadang dapat kita saksikan adanya nistagmus.
Nistagmus yaitu gerak ritmik yang involunter dari pada bolamata. (Lumban
Tobing. S.M, 2003).
2. Etiologi
Pada vertigo tipe sentral, etiologi umumnya adalah gangguan vaskuler.
Sedangkan, pada vertigo tipe perifer, etiologinya idiopatik. Biasanya vertigo
jenis perifer berhubungan dengan manifestasi patologis di telinga.

Beberapa penyebab vertigo perifer:


Idopatik 49%, trauma 18%, labirintitis viral 15%, lain-lain (sindrome=
Meniere 2%, pascaoperasi telinga 2%, pascaoperasi non telinga 2%,
ototoksisitas 2%, otitis sifilitika 1%, dan lainnya 3%).
Beberapa faktor predisposisi lain yang mencetuskan terjadinya vertigo adalah:
a. Kurang pergerakan aktif, sehingga saat mengalami perubahan posisi
mendadak akan timbul sensasi vertigo.
b. Alkoholisme akut
c. Pascaoperasi mayor
d. BPPV, kondisi ini juga dikenal sebagai vertigo posisional jinak, terjadi
karena adanya debris (otokonia) pada kanalis semisirkularis posterior, akibat
dari degenerasi organ sensorik keseimbangan utrikulus.
( Dewanto, George, 2009)
Perbedaan vertigo
Ciri-ciri
lesi

Vertigo perifer
Sistem vestibuler (telinga

Vertigo sentral
Sistem vertebrobasiler

dalam, saraf perifer)

dan gangguan vaskular


(otak, batang otak,

penyebab

Vertigo posisional

sereblum)
Iskemik batang otak,

paroksimal jinak

vertebrobasiler

(BPPV), penyakit

insufisiensi, neoplasma,

maniere, neuronitis

migren basiler

vestibuler, labirinitis,
Gejala gangguan

neuroma akustik, trauma.


Tidak ada

SSP

Diantaranya: diplopia,
parestesi, gangguan
sensibilitass dan fungsi
motorik, disartria,

Masa laten
Habituasi

3-40 detik
Ya

gangguan serebelar
Tidak ada
Tidak

Jadi cape
Intensitas vertigo
Telinga berdenging

Ya
Berat
Kadang-kadang

Tidak
Ringan
Tidak ada

atau tuli
Nistagmus spontan
lesi

+
Sistem vestibuler (telinga

Sistem vertebrobasiler

dalam, saraf perifer)

dan gangguan vaskular


(otak, batang otak,

penyebab

Vertigo posisional

sereblum)
Iskemik batang otak,

paroksimal jinak

vertebrobasiler

(BPPV), penyakit

insufisiensi, neoplasma,

maniere, neuronitis

migren basiler

vestibuler, labirinitis,
Gejala gangguan

neuroma akustik, trauma.


Tidak ada

SSP

Diantaranya: diplopia,
parestesi, gangguan
sensibilitass dan fungsi
motorik, disartria,

Masa laten
Habituasi
Jadi cape
Intensitas vertigo
Telinga berdenging

3-40 detik
Ya
Ya
Berat
Kadang-kadang

gangguan serebelar
Tidak ada
Tidak
Tidak
Ringan
Tidak ada

atau tuli
Nistagmus spontan

Klinis vertigo vestibular, perifer dan sentral


Bangkitan vertigo
Derajat vertigo
Pengaruh gerakan
kepala
Gejala otonom
Gangguan

Perifer
Mendadak
Berat
+

Sentral
Lambat
Ringan
-

++
+

pendengaran
Membedakan nystagmus sentral dan perifer adalah sebagai berikut:
No.
1.

Arah

2.
3.

4.

5.

Nystagmus

Vertigo Sentral
Berubah-ubah

Vertigo Perifer
Horizontal/horizo

Sifat
Test Posisional

Unilateral/bilateral

ntal rotatoar
Bilateral

- latensi

Singkat

Lebih lama

- durasi

Lama

Singkat

- intensitas

Sedang

Larut/sedang

- sifat

Susah ditimbulkan

Mudah

Test dengan rangsang

Dominasi arah jarang

ditimbulkan
Sering ditemukan

(kursi putar, irigasi

ditemukan

telinga)
Fiksasi mata

Tidak terpengaruh

Terhambat

3. Patofisiologi
Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang
disampaikan ke pusat kesadaran. Susunan aferen yang terpenting dalam sistem
ini adalah susunan vestibuler atau keseimbangan, yang secara terus menerus
menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan. Susunan lain yang
berperan

ialah

sistem

optik

dan

pro-prioseptik,

jaras-jaras

yang

menghubungkan nuklei vestibularis dengan nuklei N. III, IV dan VI, susunan


vestibuloretikularis, dan vestibulospinalis.
Informasi yang berguna untuk keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh
reseptor vestibuler, visual, dan proprioseptik; reseptor vestibuler memberikan
kontribusi paling besar, yaitu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual
dan yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik. Dalam kondisi
fisiologis/normal, informasi yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan
tubuh berasal dari reseptor vestibuler, visual dan proprioseptik kanan dan kiri
akan diperbandingkan, jika semuanya dalam keadaan sinkron dan wajar, akan

diproses lebih lanjut. Respons yang muncul berupa penyesuaian otot-otot mata
dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. Di samping itu orang
menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar. Jika fungsi
alat keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/
tidak fisiologis, atau ada rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan, maka
proses pengolahan informasi akan terganggu, akibatnya muncul gejala vertigo
dan gejala otonom; di samping itu, respons penyesuaian otot menjadi tidak
adekuat sehingga muncul gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus,
unsteadiness, ataksia saat berdiri/ berjalan dan gejala lainnya (Sumantri,
Bambang, 2011).

4. Pathway

5. Manifestasi Klinis
a. Rasa mual, terkadang berlebihan
b. Muntah
c. Diperburuk oleh pergerakan kepala yang tidak spesifik
d. Kepala terasa berat
e. Nafsu makan turun
f. Lelah
g. Lidah pucat dengan selaput putih lengket
h. Nadi lemah
i. Puyeng (dizziness)

j. Nyeri kepala
k. Penglihatan kabur
l. Tinitus (telinga berdenging)
m. Mulut pahit
n. Mata merah
o. Mudah tersinggung
p. Gelisah
q. Lidah merah dengan selaput tipis.
( Dewanto, George, 2009)
6. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium: darah lengkap, profil lipid, asam urat, dan
hemostasis
b. Foto rontgen servikal
c. Neurofisiologi

sesuai

(elektronistagmografi),

indikasi:
EMG

EEG

(elektroensefalografi),

(elektromiografi),

BAEP

ENG

(Brainstem

Auditory Evoked Potential) dan audiometri.


d. Neuroimaging: CT Scan, MRI, arteriografi.
( Dewanto, George, 2009)

7. Penatalaksanaan
Pada

kasus

vertigo

sentral,

karena

disebabkan gangguan

vaskuler,

penatalaksanaannya sesuai dengan tatalaksana stroke. Pada vertigo perifer,


penatalaksaannya terdiri dari:
a. Terapi kausal
b. Terapi simtomatik
c. Terapi rehabilitasi: menggunakan metode Brandt-Daroff.
d. Terapi operasi
Prosedur operasi dilakukan bila proses reposisi kanalis tidak berhasil.
( Dewanto, George, 2009)

8. Komplikasi
a. Cidera fisik
Pasien dengan vertigo ditandai dengan kehilangan keseimbangan
akibat terganggunya saraf VIII (Vestibularis), sehingga pasien tidak
mampu mempertahankan diri untuk tetap berdiri dan berjalan.
b. Kelemahan otot
Pasien yang mengalami vertigo seringkali tidak melakukan aktivitas.
Mereka lebih sering untuk berbaring atau tiduran, sehingga berbaring yang
terlalu lama dan gerak yang terbatas dapat menyebabkan kelemahan otot

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN VERTIGO


PENGKAJIAN FOKUS
A. IDENTITAS KLIEN
Nama:
Tempat/tanggal lahir:
Usia:
Agama:
Suku:
Status perkawinan:
Pendidikan:

Bahasa yang digunakan:


Alamat:
Dx medik:
B. IDENTITAS PENANGGUNG JAWAB
Nama:
Alamat:
Hubungan dengan klien:
C. RIWAYAT KEPERAWATAN MASA LALU
Penyakit yang pernah diderita:
Kebiasaan buruk:
Penyakit keturunan :
Alergi :
Imunisasi:
Operasi:
D. RIWAYAT KEPERAWATAN SEKARANG
Alasan masuk:
Tindakan/terapi yang sudah diterima:
Keluhan utama:
E. PENGKAJIAN POLA GORDON
1. Persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
Sebelum sakit:
Bagaimana klien menjaga kesehatan?
Bagaimana cara menjaga kesehatan?
Saat sakit:
Apakah klien tahu tentang penyakitnya?
Tanda dan gejala apa yang sering muncul jika terjadi rasa sakit?
Apa yang dilakukan jika rasa sakitnya timbul?
Apakah pasien tahu penyebab dari rasa sakitnya?
Tanda dan gejala apa yang sering muncul jika terjadi rasa sakit?
2. Nutrisi metabolik
Sebelum sakit:

Makan/minum; frekuensi, jenis, waktu, volume, porsi?


Apakah ada mengkonsumsi obat-obatan seperti vitamin?
Saat sakit:
Apakah klien merasa mual/muntah/sulit menelan?
Apakah klien mengalami anoreksia?
Makan/minum: frekuensi, jenis, waktu, volume, porsi?
3. Eliminasi
Sebelum sakit:
Apakah buang air besar atau buang air kecil: teratur, frekuensi, warna,
konsistensi, keluhan nyeri?
Apakah mengejan saat buang air besar atau buang air kecil sehingga
berpengaruh pada pernapasan?
Saat sakit:
Apakah buang air besar atau buang air kecil: teratur, frekuensi, waktu,
warna, konsistensi, keluhan nyeri?
4. Aktivitas dan latihan
Sebelum sakit:
Apakah bisa melakukan aktivitas sehari-hari dalam memenuhi kebutuhan
sehari-hari?
Apakah mengalami kelelahan saat aktivitas?
Apakah mengalami sesak napas saat beraktivitas?
Saat sakit:
Apakah memerlukan bantuan saat beraktivitas (pendidikan kesehatan,
sebagian, total)?
Apakah ada keluhan saat beraktivitas (sesak, batuk)?
5. Tidur dan istirahat
Sebelum sakit:
Apakah tidur klien terganggu?
Berapa lama, kualitas tidur (siang dan/atau malam ?
Kebiasaan sebelum tidur?
Saat sakit:
Apakah tidur klien terganggu, penyebab?
Berapa lama, kualitas tidur (siang dan/ atau malam) ?
Kebiasaan sebelum tidur?
6. Kognitif dan persepsi sensori
Sebelum sakit:
Bagaimana menghindari rasa sakit?

Apakah mengalami penurunan fugsi pancaindera, apa saja?


Apakah menggunakan alat bantu (kacamata)?
Saat sakit:
Bagaimana menghindari rasa sakit?
Apakah mengalami nyeri (PQRST)?
Apakah mengalami penurunan fugsi pancaindera, apa saja?
Apakah merasa pusing?
7. Persepsi dan konsep diri
Sebelum sakit:
Bagaimana klien menggambarkan dirinya?
Saat sakit:
Bagaimana pandangan pasien dengan dirinya terkait dengan penyakitnya?
Bagaimana harapan klien terkait dengan penyakitnya?
8. Peran dan hubungan dengan sesama
Sebelum sakit:
Bagaimana hubungan klien dengan sesama?
Saat sakit:
Bagaimana hubungan dengan orang lain (teman, keluarga, perawat, dan
dokter)?
Apakah peran/pekerjaan terganggu, siapa yang menggantikan?
9. Reproduksi dan seksualitas
Sebelum sakit:
Apakah ada gangguan hubungan seksual klien?
Saat sakit:
Apakah ada gangguan hubungan seksual klien?
10. Mekanisme koping dan toleransi terhadap stres
Sebelum sakit:
Bagaimana menghadapi masalah?
Apakah klien stres dengan penyakitnya?
Bagaimana klien mengatasinya?
Siapa yang biasa membantu mengatasi/mencari solusi?
Saat sakit:
Bagaimana menghadapi masalah?
Apakah klien stres dengan penyakitnya?
Bagaimana klien mengatasinya?
Siapa yang biasa membantu mengatasi/mencari solusi?

11. Nilai dan kepercayaan


Sebelum sakit:
Bagaimana kebiasaan dalam menjalankan ajaran Agama?
Saat sakit:
Apakah ada tindakan medis yang bertentangan kepercayaan?
Apakah penyakit yang dialami mengganggu dalam menjalankan ajaran
Agama yang dianut?
Bagaimana persepsi terkait dengan penyakit yang dialami dilihat dari sudut
pandang nilai dan kepercayaan?
F. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum:
Tidak tampak sakit: mandiri, tidak terpasang alat medis
Tampak sakit ringan: bed rest ,terpasang infus
Tampak sakit sedang: bed rest, lemah, terpasang infus, alat medis
Tampak sakit berat: menggunakan oksigen, coma
Kesadaran:
Kuantitatif:
Mata :
Spontan(4)
Atas permintaan(3)
Rangsang nyeri(2)
Tidak bereaksi(1)
Verbal:
Orientasi baik(5)
Jawaban kacau(4)
Kata-kata sepatah(3)
Merintis/mengerang(2)
Tidak bersuara(1)
Motorik:
Menurut perintah(6)
Reaksi setempat(5)
Menghindar(4)
Fleksi abnormal(3)
Ekstensi nyeri(2)
Tidak bereaksi(1)

Kualitatif: compos mentis (concious), apatis, delirium, somnolen (letargi),


stupor (sopor coma), coma?
2. Tanda-tanda vital:
Suhu: hipertermia?
Nadi: cepat, tidak teratur, frekuensi, irama, volume?
Pernapasan: cepat, irama, jenis, frekuensi?
Tekanan darah:?
Saturasi:?
3. Status gizi: tinggi badan, berat badan, berat badan normal, berat badan ideal?
4. Pemeriksaan sistemik:
Head to toe:
Inspeksi?
Palpasi?
Perkusi ?
Auskultasi?
5. 12 saraf kranial
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. ENG
2. Audiometri dan BAEP
3. Psikiatrik
4. Laboratorium
5. Radiologik dan Imaging
6. EEG, EMG, dan EKG.
H. TERAPI
Terapi yang didapat: nama obat, dosis, waktu, rute, indikasi?
I. DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan:
1. Nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan stress dan ketegangan, iritasi/
tekanan syaraf, vasospasme, peningkatan intrakranial ditandai dengan
menyatakan nyeri yang dipengaruhi oleh faktor misal, perubahan posisi,
perubahan pola tidur, gelisah.
2. Mual b/d iritasi pd sistim gastro, penyakit meniere, atau labirintitis
3. Risiko kurang nutrisi b.d tidak adekuatnya input makanan

4. Risiko jatuh b.d Kerusakan keseimbangan


5. Intoleransi aktivitas b.d tirah baring
6. Gangguan persepsi pendengaran b.d tinitus
7. Koping individual tak efektif berhubungan dengan ketidak-adekuatan
relaksasi, metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja.
Intervensi
1. Diagnosa Keperawatan 1.
Nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan stress dan ketegangan, iritasi/
tekanan syaraf, vasospasme, peningkatan intrakranial ditandai dengan
menyatakan nyeri yang dipengaruhi oleh faktor misal, perubahan posisi,
perubahan pola tidur, gelisah.
Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang
Kriteria Hasil : Klien mengungkapkan rasa nyeri berkurang
Tanda-tanda vital normal
pasien tampak tenang dan rileks.
Intervensi

Rasional

1.

Pantau tanda-tanda vital, 1.


intensitas/skala nyeri.

Mengenal dan memudahkan dalam


melakukan tindakan keperawatan

2.

Anjurkan klien
ditempat tidur

Istirahat
untuk
intesitas nyeri

3.

Atur
posisi
pasien 3.
senyaman mungkin

Posisi yang tepat mengurangi


penekanan
dan
mencegah
ketegangan otot serta mengurangi
nyeri

4.

Ajarkan teknik relaksasi 4.


dan napas dalam

Relaksasi mengurangi ketegangan


dan membuat perasaan lebih
nyaman

5.

Kolaborasi
untuk 5.
pemberian analgetik

Analgetik
berguna
untuk
mengurangi nyeri sehingga pasien
menjadi lebih nyaman

istirahat 2.

mengurangi

2. Diagnosa Keperawatan 2. :
Mual b/d iritasi pd sistim gastro, penyakit meniere, atau labirintitis
Tujuan: setelah dilakukan tindakan 3x24 jam masalah mual dapat teratasi
Kriteria hasil:mual akan berkurang
Klien dapat mengendalikan mual dan muntah
Klien mau untuk makan

1.

Intervensi
Kaji penyebab mual

Rasional
1. Mengetahui penyebab mual

2.

Pantau ttv klien

2. Mengetahui perkembangan kondisi

3.

Ajarkan

dan

anjurkan

klien klien

melakukan teknik distraksi dan 3. Mengurangi rasa ketidaknyaman


relaksasi
4.

atau mual

Anjurkan untuk makan sedikit tapi 4. Memenuhi kebutuhuan nutrisi


sering

5.

5. Memberikan rasa nyaman pada klien

Atur posisi yang nyaman bagi dan mengurangi rasa mual


klien

6.

6. Membantu klien untuk

Anjurkan

keluarga

memberikan

memakanan

untuk meningkatkan asupan nutrisi


yang 7. Mengurangi mual

disukai klien
7.

Kolaborasi
3. Diagnosa Keperawatan 3
Risiko kurang nutrisi b.d tidak adekuatnya input makanan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
maslah kurang nutrisi dapat sedikit teratasi.
Kriteria Hasil : Klien tidak merasa mual muntah
Nafsu makan meningkat
BB stabil atau bertahan
Intervensi

Rasional

1.

Kaji kebiasaan makan yang disukai 1.


klien

Kebiasaan makan yang disukai


dapat meningkatkan nafsu makan

2.

Pantau input dan output pada klien

3.

Ajarkan untuk makan sedikit tapi


sering
3.

Untuk memantau status nutrisi


pada klien

4.

2.

Kolaborasi dengan ahli gizi


4.

Mempertahankan status nutisi


pada klien agar dapat meningkat
atau stabil.
Ahli gizi dapat menentukan
makanan yang tepat untuk
meningkatkan kebutuhan nutrisi
pada klien.

4. Diagnosa Keperawatan 4
Resiko jatuh b.d Kerusakan keseimbangan
Tujuan : risiko jatuh dapat teratasi.
Kriteria Hasil : Klien dapat mempertahankan keseimbangan tubuhnya
Klien dapat mengantisipasi resiko terjadinya jatuh
Intervensi

Rasional

1.

Kaji tingkat energi yang dimiliki 1.


klien

Energi
yang
besar
dapat
memberikan keseimbangan pada
tubuh saat istirahat

2.

Berikan terapi ringan untuk 2.


mempertahankan kesimbangan

Salah satu terapi ringan adalah


menggerakan bola mata, jika sudah
terbiasa dilakukan, pusing akan
berkurang.

3.

Ajarkan penggunaan alat-alat 3.


alternatif dan atau alat-alat bantu
untuk aktivitas klien.

Mengantisipasi dan meminimalkan


resiko jatuh.

4.

Berikan pengobatan nyeri (pusing) 4.


sebelum aktivitas

Nyeri yang berkurang dapat


meminimalisasi terjadinya jatuh.

5. Diagnosa Keperawatan 5
Intoleransi aktivitas b.d tirah baring
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
masalah intoleransi aktivitas dapat teratasi.
Kriteria Hasil :

Meyadari keterbatasan energi

Klien dapat termotivasi dalam melakukan aktivitas


Menyeimbangkan aktivitas dan istirahat
Tingkat daya tahan adekuat untuk beraktivitas
Intervensi

Rasional

1.

Kaji respon emosi, sosial, dan 1.


spiritual terhadap aktivitas

Respon emosi, sosial, dan spiritual


mempengaruhi kehendak klien
dalam melakukan aktivitas

2.

Berikan motivasi pada klien untuk 2.


melakukan aktivitas

Klien dapat bersemangat untuk


melakukan aktivitas

3.

Ajarkan
tentang
pengaturan 3.
aktivitas dan teknik manajemen
waktu untuk mencegah kelelahan.

Energi yang tidak stabil dapat


menghambat dalam melakukan
aktivitas, sehingga perlu dilakukan

4.

Kolaborasi
okupasi

dengan

ahli

terapi

manajemen waktu
4.

Terapi okupasi dapat menentukan


tindakan
alternatif
dalam
melakukan aktivitas.

6. Diagnosa Keperawatan 6
Gangguan persepsi pendengaran b.d tinitus
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam maslah
gangguan perepsi sensori pendengaran dapat teratasi.
Kriteria Hasil :

Klien dapat memfokuskan pendengaran

Tidak terjadi tinitus yang berkelanjutan


Pendengaran adekuat
Intervensi

Rasional

1.

Kaji tingkat pendengaran pada 1.


klien

Mengetahui
tingkat
kemaksimalan
pendengaran
pada
klien
untuk
menentukan terapi yang tepat.

2.

Lakukan tes rinne, weber, atau 2.


swabah
untuk
mengetahui
keseimbangan pendengaran saat
terjadi tinitus

Mengetahui keabnormalan yang terjadi


akibat tinitus

3.

Ajarkan untuk memfokuskan 3.


pendengaran saat terjadi tinitus

Mempertahankan
pendengaran

4.

Kolaborasi penggunaan
bantu pendengaran

Memaksimalkan pendengaran pada klien

alat 4.

keadekuatan

7. Diagnosa Keperawatan 7
Koping individual tak efektif berhubungan dengan ketidak-adekuatan relaksasi,
metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja.
Tujuan : koping individu menjadi lebih adekuat
Kriteria Hasil : Mengidentifikasi prilaku yang tidak efektif
Mengungkapkan kesadaran tentang kemampuan koping
yang di miliki.
Mengkaji situasi saat ini yang akurat
Menunjukkan perubahan gaya hidup yang diperlukan atau
situasi yang tepat.
Intervensi

Rasional

1.

Kaji kapasitas
bersifat umum.

fisiologis

yang 1.

Mengenal
sejauh
dan
mengidentifikasi
penyimpangan
fungsi fisiologis tubuh dan
memudahkan dalam melakukan
tindakan keperawatan

2.

Sarankan
klien
untuk 2.
mengekspresikan perasaannya

klien akan merasakan kelegaan


setelah mengungkapkan segala
perasaannya dan menjadi lebih
tenang

3.

Berikan
informasi
mengenai 3.
penyebab sakit kepala, penenangan
dan hasil yang diharapkan

agar klien mengetahui kondisi dan


pengobatan yang diterimanya, dan
memberikan klien harapan dan
semangat untuk pulih

4.

Dekati pasien dengan ramah dan 4.


penuh perhatian, ambil keuntungan
dari kegiatan yang dapat diajarkan

membuat klien merasa lebih berarti


dan diharga

DAFTAR PUSTAKA
Dewanto, George. (2009). Panduan Praktis Diagnosis & Tata Laksana Penyakit
Saraf. Jakarta: EGC
Ginsberg, Lionel. (2008). Lecture Notes Neurologi Edisi Kedelapan. Jakarta:
Erlangga
Sumantri,

Bambang.

(2011).

Vertigo.

Terdapat

dalam

http://mantrinews.com/2011/07/vertigo.html di akses tanggal 30 November


2014.

Lumban Tobing. S.M, 2003, Vertigo Tujuh Keliling, Jakarta : FK UI