Anda di halaman 1dari 32

KALIUM DAPAT DITUKAR

ABSTRAK

KALIUM DAPAT DITUKAR

Oleh
Kelompok 7

Telah dilakukan praktikum Kalium Dapat Ditukar di Laboratorium Ilmu Tanah


Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada tanggal 10 Oktober 2014.
Praktikum Dapat Ditukar bertujuan untuk mengetahui cara menghitung kadar
Kalium pada suatu tanah sampel, mengetahui ketersediaan Kalium bagi tanaman,
dan mengetahui fungsi Kalium bagi tanaman. Sampel tanah ynag digunakan ada.
Sampel A adalah tanah hitam dan sampel B adalah tanah merah. Berdasarkan
hasil percobaan, diperoleh absorbansi pada tanah A sebesar 20 dan absorbansi
tanah B sebesar 17,8. Sehingga diperoleh Kdd (me/100 g) pada sampel A sebesar
0,56 dan pada sampel tanah B sebesar 0,50 (me/100g).

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Pada dasarnya, Kalium di dalam tanah berada dalam mineral yang melapuk dan
melepaskan ion-ion Kalium. Ion-ion tersebut diserap oleh tanaman pada
pertukaran kation. Kalium yang tersedia menumpuk dalam tanah dengan
kelembaban lebih kering tanpa adanya pencucian. Dengan adanya kehilangan
kalium akibat pencucian maka penambahan kalium ke dalam tanah akan terasa
kehilangannya.

Di dalam tanah, Kalium dijumpai sebagai Kalium dalam larutan dan kalium ynag
dapat dipertukarkan dan diabsorbsi oleh permukaan koloid tanah. Sebagian besar
dari kalium tersedia ini berupa kalium yang dapat dipertukarkan. Kalium larutan
tanah lebih mudah diserap oleh tanaman dan juga peka terhadap pencucian.

Oleh karena itu perlu dilakukan praktikum mengenai kalium yang dapat ditukar.
Di dalam praktikum ini akan diketahui penetapan kalium dapat ditukar yang
digunakan untuk menduga jumlah unsure hara kalium yang dapat disediakan suatu
tanah bagi tanaman.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah:
1. Mengetahui cara menghitung kandungan kalium pada suatu tanah sampel
2. Mengetahui fungsi kalium bagi tanaman
3. Megetahui ketersediaan k bagi tanaman

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Kalium di dalam larutan tanah hanya berjumlah sedikit, sekitar 10 mg per liter
larutan. Pada umumnya tanah mengandung 0,02-0,03% K yang bisa ditukar. K di
dalam kompleks liat humus, yang dalam keadaan bisa ditukar berbentuk kation
K+. karena tanaman menghisap K dari larutan tanah, maka sebagian kation k+
terikat harus melewati larutan tanah, inilah yang menjadi bahan makanan
tanaman. K di dalam tanah dalam keadaan tertahan yaitu liat berstruktur lapisan
dan ion-ion k+ yang masuk antara lapisan sebesar 7-14 A, menurut jenis tanah
liat tertahan dan tak bisa keluar lagi. Selain itu k dalam bentuk yang tak dapat
melarut terdapat di dalam batu kering, maka tak berguna bagi tanaman karena
tanaman menghisap K+ yang mudah ditukar, dan sebagian kecil ion K+ ynag
tertahan (Aak, 2007).

Kalium termasuk dalam unsure hara primer atau mayor nutrient karena diperlukan
relative dalam jumlah besar (sering diekspresikan dai proses bobot kering) dan
secara beraturan diberikan ke dalam tanah melalui pemupukan. Kalium juga
berfungsi sebagai antagonistic dan keseimbangan dalam tanaman. Beberapa
elemen seperti ca, mg, k berinteraaksi dengan efek racun dari elemen mineral
yang lain dengan cara mengatur keseimbngan ion (Agustina, 2004).

Ion-ion k yang terikat pada permukaan luar koloid liat (disebut kalium dapat
dupertukarkan, Kdd) karena bervalensi satu tidak terikat secara kuat (juga oleh
bahan organic) disbanding ca dan mg yang bervalensi dua. Kdd ini berada dalam
keseimbangan dengan ion-ion k dalam larutan tanah (disebut k-terlarut). K terlarut
akan mudah hilang melelui aliran tanah apabila tidak dimanfaatkan oleh tanaman
atau mikrobia. Hal ini mengakibatkan pemupukan pada tanah berliat selain tipe

2:1 mengembang-mengerut di atas harus terus menerus dilakkan. Ada


kemungkinan penggunaan pupuk k-khelat (k yang dicengkam oleh senyawa
organic seperti asam humat dan asam fulvat) dapat digunakan sebagai metode
peningkatan efisiensi pemupukan K (Hanafiah, 2012).

Pada ph tanah sekitar netral maka unsure-unsur hara akan banyak tersedia bagi
tanaman. Kalium dapat ditukar adalah bentuk tersedia yang dapat diserap
tanaman. Fungsi k adalah mengatur aktivitas enzm-enzim, sintesis protein,
fotosintesis, perluasan sel, gerak stomata, niktinasi, seismonasti, transport melalui
floem dan kesetimbangan kation-anion dalam sel tanaman. Fosfor berperan dalam
pembentukan asam nukleat, transfer energy dan stimulasi aktivitas enzim-enzim.
Kalium yang ditambahkan melalui pemupukan dapat menjenuhkan kompleks
adsorbs sehingga tercapai kesetimbangan dengan K dalam larutan tanah. Oleh
sebab itu maka pemupukan K meningkatkan kadar kdd dalam tanah, selain itu,
pemupukan p juga menaikkan konsentrasi kdd karena adsorbsi anion ortofosfat
manaikkan muatan negative pada tanah yang kaya oksida-oksida Fe dan al
(silahooy, 2008).

III.

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


Peralatan yang digunakan dalam praktikum ini dalah flamefotometer, wadah
contoh (wadah plastic), dan pipet tetes.
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum yaitu 1 n ammonium asetat
(nh4oac) ph 7, larutan lanthanum dan standar K2O 100 ppm.

3.2 Cara Kerja


Cara kerja yang dilakukan dalam praktikum yaitu:
ditimbang 100 g tanah kering udara lolos ayakan 2 mm, dimasukkan ke dalam
botol kocok.
Ditambahkan 25 dan 50 ml larutan 1 n ammonium asetat Ph 7.
Dikocok selama 10 dan 30 menit dan setelah itu disaring dan ekstraknya
ditampung di dalam Erlenmeyer 100 ml.
Diukur absorban masing-masing larutan contoh pada flamefotometer.
Diukur absorban seri larutan standar dengan konsentrasi 0, 10, 20, 30, dan 40
ppm, dengan cara dipipet 0, 10, 20, 30, dan 40 ml larutan standar 100 ppm
dimasukkan larutan pengekstrak 1 n ammonium asetat ph 4,8 hingga tanda
tera.
Dibuat kurva linier antara konsentrasi larutan standar (sumbu x) dengan
absorban sumbu y lalu melalui linier ini ditetapkan kadar K (ppm) larutan.
Hasil

IV.

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil pengamatan


Diperoleh hasil dari percobaan yang dilakukan yaitu:
Standar
Absorbansi

Deret Standar P (ppm)


0

10

20

30

40

9,1

21,2

27,8

33,8

Kdd(me/100
No.

Tanah

Absorbansi

FP

g)

20

0,56

17,8

0,5

4.2 Pembahasan
Unsure k dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah yang esar, yakni terbesar kedua
setelah unsure hara N. pada tanah yang subur kadar K dalam jaringan hamper
sama dengan N. bagi tanaman, K berfungsi untuk meningkatkan proses
fotosintesis, mengefisienkan penggunaan air, mempertahankan turgor, membentuk
batang yang lebih kuat, sabagai activator bermacam sistem enzim, memperkuat
perakaran sehingga tanaman lebih tahan rebah dan meningkatkan ketahanan
tanaman terhadap penyakit. Fungsi dari unsure k tidak dapat digantikan
perannannya dengan unsure-unsur yang lain (hanafiah, 2003).

Ketersediaan kalium diartikan sebagai kalium yang dibebaskan dari bentuk yang
tidak dapat dipertukarkan ke bentuk yang dapat dipertukarkan sehingga dapat

diserap oleh tanaman. Berbagai faktor yang mempengaruhi ketersediaan k dalam


tanah untuk digunakan oleh tanaman adalah peristiwa pembekuan dan pencairan,
pembasahan dan pengeringan, pH tanah dan pelapukan. Kalium diserap dalam
bentuk kation k+ monovalen. Berbda dengan fosfat dan nitrogen, kalium tidak
ikut menyusun bagian tanaman, tetpi kalium menyusun 80% dari kation dalm
floem dan transport kalium berlangsung secara akropetal (saragi, 2008).

Ketersediaan K dalam tanah dibagi menjadi tiga yaitu K segera tersedia, K


tersedia, dan K tidak tersedia. K segera tersedia merupakan K yang berada di
dalam larutan tanah atau komplek perakaran, meliputi 1-2 % dari total K tanah.
Sedangkan K tersedia merupakan K yang terikat secara lemah pada muatan
pertukaran koloidal tanah fraksi liat tanah atau bahan organic. Dan k tidak tersedia
adalah k yang berada dalam struktur mineral primer dengan mengisi pengkalan K
tersedia, meliputi 90-98% total K dalam tanah (Budiman dan Brady, 2002).

Pada tanaman yang mengalami defisiensi unsure K dapat dilihat dengan


melemahnya turgor batang, sehingga mudah patah atau tanaman mudah rebah,
rentan terhadap serangan penyakit seperti powdery-mildew pada gandum,
kerusakan batang, busuk akar, rendahnya kualitas produksi buah-buahan dan
sayur-sayuran, secara fisiologis menyebabkan terganggunaya aktivitas enzim
invertase, distase, peptase, dan katalase pada tebu, proses fotosintesis terhambat,
respirasi meningkat, terhambatnya sintesis protein pada tebu akibat
terakumulasinya N-non protein di dedaunan barley dan penurunan produksi Namida pada rerumputan. Sedangkan kelebihaan unsure K yaitu dapat
menyebabkab penyerapan Ca dan Mg terganggu (Hanafiah, 2012).

Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh absorbansi tanah A sebesar 20 dan


absorbansi tanah B sebesar 17,8 dengan FP=1. Untuk mencari kadar kalium di
setiap larutan tanah, maka perlu dibuat kurva regresi antara konsentrasi larutan
standar dengan absorban lain, melalui kurva ini maka kadar k (ppm) dapat
ditentukan. Adapun konsentrasi standar yang digunakan adalah 0, 10, 20, 30, dan
40 ppm. Sedangkan untuk absorban yaitu 0; 9,1; 21,2; 27,8; dan 33,8.

Dari kurva regresi linier yang telah dibuat, maka diperoleh persamaan
yaituY=bx+a dengan nilai Y= 0,863x+1,12. Untuk mencari kadar K di dalam
masing-masing sampel digunakan dengan rumus yang digunakan rumus =

Setelah kadar K diperole, maka Kdd (me/100g) dapat dicari. Rumus yang
digunakan yaitu:
(


1
)=


100

390

Pada percobaan ini bobot tanah yang digunakan sebesar 2 gram dan FP sebesar 1.
Pada tanah A diperoleh kadar k dalam larutan sebesar 21,88 sehingga diperoleh
Kdd (me/100 g) sebesar 0,56 untuk tanah A. sedangkan pada tanah B diperoleh
kadar K dalam larutan sebesar 19,33 sehingga diperoleh Kdd (me/100 g) sebesar
0,50 untuk tanah B. dengan demikian, berdasarkan praktikum yang dilakukan
maka tanah A memiliki Kdd lebih besar disbanding denan tanah B. hal ini
dikarenakan kandungan bahan organic dalam tanah A lebih banyak.

V.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil percobaan maka dapat disimpulkan bahwa:


1.

Kadar kalium dapat ditukar atau Kdd pada sampel tanah A sebesar 0,56 dan
pada sampel tanah B kdd sebesar 0,50.

2.

Kdd tanah A lebih besar disbanding tanah B karena tanah A lebih banyak
mengandung bahan organic.

3.

Fungsi kalium dalam tanah bagi tanaman yaitu untuk memperkuat tubuh
tumbuhan, pertahanan terhadap hama dan penyakit, sisntesis protein, dan
pengisian bulir pada tanaman serealia.

4.

Penetapan Kdd digunakan untuk menduga jumlah unsure hara kalium yang
data disediakan tanah bagi pertumbuhan tanaman.

5.

Bentuk kalium dalam larutan tanah yaitu kalium dapat ditukar dan kalium
tidak dapat ditukar.

DAFTAR PUSTAKA

Aak. 2007. Dasar-Dasar Bercocok Tanam. Yogyakarta. Kanisius.

Agustina, Lily. 2004. Dasar Nutrisi Tanaman. Jakarta. Rineka Cipta.

Budiman dan Brady. 2002. Konsistensi Tanah. Jakarta. Darmawijaya.

Hanafiah, K.A.. 2003. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Jakarta. Rajawali Pers.

Hanafiah, K.A.. 2012. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Jakarta. Rajawali Pers.

Saragi, Arnold H. 2008. Pengaruh Pemberian pupuk kandang ayam dan dosis
kalium terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman peleng (Spinacia
oleracea). Universitas Sumatera Utara Repository.

Silahooy, C.H.. 2008. Efek pupuk kcl dan SP-36 terhadap Kalium tersedia,
serapan
kalium dan hasil kacang tanah (arachis hypogeal) pada tanah brunizem.
Hlm.
126-132.

LAMPIRAN

PERHITUNGAN

Berikut ini adalah data hasil percobaan:


Standar
Absorbansi

Deret Standar P (ppm)


0

10

20

30

40

9,1

21,2

27,8

33,8

Tabel regresi absorbansi dan deret standar P:

Absorbansi
40
35
30
25
20
15
10
5 0
0
0

33,8
27,8
21,2

Absorbansi
Linear
(Absorbansi)

9,1

10

20

30

40

50

Diketahui:
Absorbansi tanah a 20 fp a=1
Absorbansi tanah b 17,8 fp b=1
Volume ekstrak 20 ml
Bobot tanah 2 gram
Persamaan regresi yaitu y=0,863x+1,12

Ditanya:
Kadar K dalam larutan tanah A
Kadar K dalam larutan tanah B
Kdd (me/100 g) tanah A dan tanah B
Kadar K dalam larutan A

20 1,12
0,863

= = 21,88

Kdd (me/100 g) =

Kdd (me/100 g) tanah A

20
2

1
390

21,88

1
390

=0,56

Kadar K dalam larutan B

17,8 1,12
=
0,863
= = 19,33

Kdd (me/100 g) =

Kdd (me/100 g) tanah B

20
2

1
390

19,33

1
390

=0,50

Kdd(me/100
No.

Tanah

Absorbansi

FP

g)

20

0,56

17,8

0,5

TEKSTUR TANAH

ABSTRAK

TEKSTUR TANAH

Oleh
Kelompok 7

Tekstur tanah adalah susunan relative dan tiga ukuran zarah tanah, yaitu pasir
berukuran 2 mm-50 m, debu berukuran 50-2 m, dan liat berukuran <2 m. tujuan
dilakukannya praktikum tekstur tanaha yaitu untuk mengatahui kelas tekstur tanah
serta mengetahui susunan relative dari tiga ukuran tanah. Praktikum tekstur tanah
dilakukan pada tanggal 31 Oktober 2014 di laboratorium ilmu tanah. Alat-alat
yang digunakan pada praktikum adalah Erlenmeyer 250 ml, pengaduk listrik,
hydrometer, stopwatch, thermometer, dan tabung sedimentasi. Sedangkan bahanbahan yang digunakan dalam praktikum yaitu sampel tanah , air, dan Na
heksametafosfat. Penetapan tekstur dilakukan dengan dua cara yaitu penetapan
menurut perasaan di lapang dan penetapan tekstur di laboratorium. Hasil
pengamatan tekstur di lapang yaitu sampel tanah A bertekstur lempung liat
berpasir. Pada penetapan tekstur di laboratorium, diperoleh penetapan berdasarkan
hasil perhitungan. Sampel tanah A bertekstur lempung liat berpasir dengan
persentase liat 27,6 %, debu 18%, dan pasir 54,4 %. Sedangkan pada sampel B
tanah bertekstur liat dengan persentase liat 71,6 %, debu 6,72 %, dan pasir
21,68 %. Tekstur tanah mempengaruhi kesuburan tanah dan pertumbuhan
tanaman.

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tekstur tanah adalah perbandingan relative reaksi-reaksi penyusun tanah. Fraksifraksi tekstur adalah pasir, debu, dan liat. Perbandingan ketiga fraksi tersebut
dapat menunjukkan perbandingan kasar atau halusnya suatu tanah. Ketiga fraksi
tersebut memiliki ukuran yang berbeda (Buckman, 1992).

Terdapat perbedaan penting pada pasir, debu, liat, dan fraksi lain pada
kemampuan penyediaan elemen-elemen kesuburan tanah. Unsure hara esensial
biasanya terdapat pada partikel debu, area permukaan per gramnya lebih besar,
dan pelapukannya lebih cepat dari pada pasir, hingga menyebabkan tanah lebih
subur (Foth, 1991).

Ada dua cara dalam menetapkan tekstur tanah. Cara pertama yaitu penetapan
tekstur menurut perasaan di lapang yakni dengan memirid tanah basah di antara
ibu jari dan telunjuk. Cara kedua yaitu penetapan tekstur tanah di laboratorium
dengan enggunakan hydrometer. Tekstur tanah perlu dipahami dalam pertanian.
Hal ini pnting karena dalam penanaman suatu komoditas pemilihan lokasi sangat
diutamakan. Ukuran atau proporsi fraksi-fraksi penyusun tanah mempengaruhi
tingkat kesuburan tanah. Oleh karena itu dilakukanlah praktikum tekstur tanah
tanah dalam mata kuliah dasar-dasar ilmu tanah.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari dilakukannya praktikum ini adalah:
1. Mengetahui dan memahami tekstur tanah
2. Mengetahui susunan-susunan relative dan ukuran jarah tanah
3. Mengetahui kelas-kelas tekstur tanah dan penetapannya secara garis lurus.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Tekstur istilah adalah untuk ukuran relative partikel tanah yang mengacu pada
kehalusan dan kekasaran tanah. Secara khusus tekstur adalah perbandingan
relative pasir, debu, dan liat. Partikel pasir berukuran relative lebih besar
dibandingkan dengan ukuran partikel debu dan liat yang berbobot sama. Tanah
yang bertekstur kasar mengandung 20% atau lebih bahan organis dan tanah
bertekstur halus mengandung 30% atau lebih bahan organic (Foth, 1991).

Tanah terdiri dari butir-butir yang berbeda dalam ukuran dan bentuk sehingga
dilakukan pemberian istilah tentang sifat tekstur yang akan menunjukkan sifat
fisiknya. Untuk itu digunakan nama kelas seperti pasir, debu, liat, dan lempung
(Buckman dan Brady, 1992).

Fraksi pasir umumnya didominasi oleh mineral kuarsa yang sangat tahan terhadap
pelapukan. Sedangkan fraksi debu dan biasanyabesrasal dari mineral feldspar dan
mika yang cepat lapuk, pada saat pelapukannya akan membebaskan sejumlah
hara, sehingga tanah bertekstur debu umumnya lebih subur ketimbang tanah
bertekstur pasir (Hardjowigeno, 2003).

Dari fraksi debu, pasir, dan liat, partkel debu berukuran 0,05-0,002 mm dan pasir
berukuran diameter paling besar, yaitu 2-0,05 mm, serta liat dengan ukuran
<0,002 mm (penggolongan berdasarkan USDA). Keadaan tekstur tanah sangat
berpengaruh terhadap keadaan sifat tanah yang lain seperti struktur tanah,
permaebilitas tanah, porositas tanah dan lain-lain (Dedys, 1987).

Tanah bertekstur halus didominasi oleh tanah liat dengan tekstur yang lembut dan
licin memiliki permukaan yang lebih halus dibandingkan dengan tanah bertekstur
kasar yang biasanya berbentuk pasir. Tanah yang didominasi pasir akan banyak
mempunyai pori-pori makro, tanah yang didominasi debu berpori-pori meso,
sedangkan tanah yang didominasi liata akan banyak mempunyai pori-pori mikro.
Hal ini berbanding terbalik dengan luas permukaan yang terbentuk, luas
permukaan mencerminkan luas situs yang dapat bersentuhan dengan air, energy
atau bahan lain, sehingga makin dominan fraksi pasir akan makin kecil daya
tahannya untuk menahan tanah (Hakim, 1986).

III.

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


Adapun alat yang digunakan dalam percobaan adalah timbangan (ketelitian 0,1 g),
Erlenmeyer 250 ml, hydrometer, pengaduk listrik atau blender, stopwatch,
thermometer, dan gelas ukur (1000 ml).

Sedangkan bahan yang digunakan adalah tanah kering udara yang lolos saringan 2
mm, Na-heksametafosfat 5% dan air.

3.2 Cara Kerja


Adapun cara kerja dari percobaan adalah sebagai berikut:
1. Penetapan Tekstur menurut perasaan di lapang
Dibasahi massa tanah kering secukupnya, lalu dipijat diantara ibu jari dan
telunjuk, sehingga terbentuk bola lembab.

Diperhatikan adanya rasa kasar atau licin di antara ibu jari, bola tanah yang
lembab, kemudian digulung-gulung dan diamati adanya daya tahan terhadap
tekanan dan kelekatan massa sewaktu teunjuk dan ibu jari direnggangkan.

Ditentukan kelas tekstur lapang berdasarkan kriteria rasa kasar atau licin,
gejala piridan dan kelekatan.

Hasil

2. Penetapan Tekstur di Laboratorium


Ditimbang 50 g tanah kemudian dimasukkan ke dalam gelas Erlenmeyer 250
ml dan ditambahkan 100 ml calon lalu dikocok dan dibiarkan 30 menit.

Dimasukkan dalam gelas pengaduk dan ditambahkan 400 ml air aquades lalu
dikocok selama 5 menit.

Dipindahkan suspense ke dalam gelas ukur 1000 ml dan ditambahkan air


destilata sampai volume mencapai 1000 ml kemudian diaduk selama 2 menit.

Dinyalakan stopwatch bersamaan diangkatnya pengaduk. Dimasukkan


hydrometer setelah sekitar 20 detik, setelah 40 detik dibaca angka yang
ditunjukkan oleh hydrometer (H1), kemudian hydrometer diangkat dan dicuci
serta dibaca suhu-suhu suspense dengan thermometer (T1).

Dibiarkan suspense tersebut selama 2 jam kemudian dimasukkan kembali


hydrometer dan dibaca sebagai pembacaan kedua (H2), hydrometer diangkat
dan suhu suspense diukur (T2).

Hasil

IV.

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


Adapun hasil pengamatan dalam percobaan adalah sebagai berikut:
Tabel hasil pengamatan di lapang
No.

Sampel Tanah

1.

Penetapan Rasa
Rasa agak kasar, membentuk

Tekstur
Lempung berliat

bola agak teguh (kering),


membentuk gulungan jika
dipijit,
gulungan mudah hancur
serta melekatnya sedang.
2.

Rasa kasar agak jelas,

Lempung liat

membentuk bola agak teguh

berpasir

(kering), membentuk gulungan


jika dipijit, gulungan mudah
hancur serta melekat.

Tabel hasil pengamatan di laboratorium


No.

Sample Tanah

H1

T1

H2

T2

Tekstur

1.

21

25

12

25

Lempung liat berpasir

2.

37

26

34

25

liat

4.2 Pembahasan
tekstur tanah adalah keadaan tingkat kehalusan tanah yang terjadi karena
terdapatnya perbedaan kompisisi kandungan fraksi pasir, debu, dan liat yang
terkandung pada tanah. Fraksi-fraksi tersebut memiliki ukuran diameter yang
berbeda-beda. Fraksi pasir memiliki ukuran diameter paling besar, yaitu 2-0,05
mm, debu dengan ukuran 0,05-0,002 mm dan liat dengan ukuran <0,002 mm
(penggolongan berdasarkan USDA). Keadaan tekstur tanah mempengaruhi
struktur tanah. Permaebilitas tanah, porositas dan keadaan sifat tanah yang lain
(Hardjowigeno, 2003).

Pada praktikum tekstur tanah ini, dilakukan dua metode penetapan tekstur, yaitu
penetapan tekstur di lapang dan penetapan tekstur di laboratorium. Hasil
penetapan di lapang yatu, sampel tanah A bertekstur lempung liat. Penetapan rasa
tekstur lempung berliat yaitu rasa agak kasar, membentuk bola agak teguh
(kering), membentuk gulungan jika dipijit, gulungan mudah hancur serta
melekatnya sedang. Sedangkan sampel tanah B bertekstur lempung liat berpasir.
Penetapan rasa tekstur lempung liat berpasir yaitu rasa kasar agak jelas,
membentuk bola agak teguh (kering), membentuk gulungan jika dipijit, gulungan
mudah hancur serta melekat.

Pada penetapan tekstur di laboratorium, diperoleh data-data dari setiap sampel.


Pada sampel tanah A diperoleh H1 21, t1 25, h2 12, dan t2 25. Berdasarkan data
tersebut diperoleh hasil perhitungan dari % debu + % liat sebesar 45,6 %, liat
sebesar 27,6 %, % debu sebesar 18% dan % pasir sebesar 54,4 %. Pada sampel
tanah B diperoleh h1 37, t1 26, h2 34, dan t2 25C. sehingga dengan data tersebut
dapat diketahui persentase stiap fraksi . persentase debu+liat sebesar
78,32%, %liat sebesar 71,6 %, % debu sebesar 6,72 % dan %pasir sebesar
21,68%.

Berdasarkan data tersebut dan hasil perhitunga, dapat diketahui kelas tekstur dari
setiap sampel dengan menggunakan segitiga tekstur. Seitiga tekstur merupakan
suatu diagram untuk mnentukan kelas-kelas tekstur tanah.

Sehingga dapat ditetapkan bahwa sampel A termasuk ke dalam kelas tekstur


lempung liat berpasir dan sampel tanah B termasuk ke dalam kelas tekstur liat.

Setiap fraksi memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari fraksi pasir yaitu
membentuk struktur lepas dan drainase baik. Namun terdapat kekurangan dari
fraksi pasir yaitu rendahnya daya pegang air, daya menahan tanah dan rendahnya
hara. Sehingga tanah miskin unsur hara dan cenderung kekurangan air. Sedangkan
kelebihan dari fraksi liat yaitu umumnya tanah berliat relative kaya unsur hara.
Akan tetapi kekurangan dari fraksi ini yaitu memiliki drainase yang buruk karena
sifat lekat dai strukturnya yang massif. Sehingga memerlukan perbaikan drainase
(Nugroho dan Yayat, 2009).

Manfaat dari mempelajari tekstur tanah salah satunya adalah dapat menentukan
jenis tanah yang baik dan yang buruk untuk pertanaman. Rekomendasi untuk
petani mengenai jenis tanah yang baik untuk pertanaman yakni jenis tanah
organosol yang salah satu anggotanya adalah tanah humus. Tanah humus
direkomendasikan untuk lahan pertanian karena tanah ini sangat subur. Tanah
humus bersifat koloidal seperti liat dengan kapasitas tukar kation 150-300 me/100
g. tanah humus berwarna kehitaman dan kandungan bahan organiknya tinggi
(Arsyad, 1979).

Di dalam Al-Quran terdapat ayat mengenai tanah yaitu surat Al-Araf:58 yang
artinya dari tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin
Tuhan, dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya tumbuh merana. Demikianlah
kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang
yang bersyukur.

V.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan, dapat disimpulakan bahwa:


1.

Pada metode lapang, sampel tanah A ditetapkan bertekstur lempung berliat


dan sampel B bertekstur lempung liar berpasir.

2.

Pada penetapan di laboratorium, ditetapkan bahwa sampel tanah A bertekstur


lempung liat berpasir dan sampel tanah B bertekstur liat.

3.

Pada penetapan di laboratorium, sampel tanah A berdasarkan hasil


perhitungan terdiri dari 27,6% liat, 18% debu, dan 54,4% pasir. Sedangkan
pada sampel B 71,6% liat, 6,72% debu, dan 21,68% pasir.

4.

Tekstur tanah mempengaruhi tingkat kesuburan tanah.

5.

Fraksi tanah terdiri dari pasir, liar, dan debu. Setiap fraksi tanah memiliki
kelebihan dan kekurangan tersendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, S. 1979. Konservasi Tanah. Fakultas pertanian jurusan tanah institute


pertanian bogor. Bogor.

Buckman, H.O.. 1992. Ilmu Tanah. Jakarta. Brata Karya Aksara.


Dedys, site. 1987. Pengantar Ilmu Tanah. Jakarta. Rineka Cipta.

Foth, H.D. 1991. Dasar-dasar ilmu tanah. Jakarta. Erlangga.

Hakim, N.M.Y. Nyakpa, dkk. 1986. Dasar-dasar ilmu tanah. Lampung.


Universitas
lampung.

Hardjowigeno, S. 2003. Ilmu Tanah. Jakarta. Akademika Pressindo.

Nugroho, Budi, dan Yayat, Hidayat. 2009. Penuntun praktikum ilmu tanah.
Bogor.
Institute pertanian bogor. Bogor.

LAMPIRAN

PERHITUNGAN

Rumus:
(% + %) =

(%) =

(1)+1

100%;

= 0,36 ( 20)

(2 ) + 2
100%

(%) = (% + %) %
(%) = 100% (% + %)

1.

Tanah A

Diperoleh data h1=21; t1=25c; h2=12;t2=25c; b=0; BK=50 g


(% + %) =

(%) =

(21 0) + 0,36 (25 20)


100% = 45,6%
50

(12 0) + 0,36 (25 20)


100% = 27,6%
50

(%) = 45,6% 27,6% = 18%


(%) = 100% 45,6% = 54,4%

2.

Tanah B

Diperoleh data: H1=37; T1=26C; H2=34;T2=25C;b=0; BK=50 g


(% + %) =

(37 0) + 0,36 (26 20)


100% = 78,32%
50

(%) =

(34 0) + 0,36 (25 20)


100% = 71,6%
50

(%) = 78,32% 71,6% = 6,72%


(%) = 100% 78,32% = 21,68%