Anda di halaman 1dari 16

Masa Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Kondisi dan Kebijakan


Ideologi
Masa pemerintahan SBY lebih dipermudah akibat kebijakan Soeharto yang meredam
pengaruh ideologi, sehingga ketika SBY menjabat, pertarungan ideologi tidak sebagus dari
yang dahulu, meskipun masih cukup signifikan. Menyadari kesalahan pendahulunya, SBY
menyatakan partainya sebagai partai tengah, yakni nasionalis-religius. Dengan demikian,
SBY tidak membangun kekuatan baru, namun meletakkan dirinya dalam posisi anetrl, tidak
memihak ideologi manapun. SBY melalui partainya pun mengajak partai-partai lain baik
Nasionalis maupun Islam untuk berkoalisi. Melalui pidatonya, SBY menggunakan kata-kata
sedemikian rupa sehingga tidak menyinggung kekuatan manapun, meskipun hal tersebut
menyebabkan publik kurang memahami maksud dari SBY. Karena memposisikan dirinya
seperti itu, SBY pun dikritik sebagai sosok yang peragu dan tidak tegas.
Presiden SBY menyampaikan sambutan peresmian Pusdik Pancasila dan
di Cisarua, Bogor, Jabar, Selasa (26/2) pagi.

Konstitusi MK

Cisarua, Bogor: Walaupun Pancasila menjadi opsi terbaik bagi permasalahan bangsa,
namun Pancasila tidak boleh disakralkan dan didogmakan. Tetaplah harus kita jaga menjadi
open and living ideology. Mari kita dengan teguh dan cerdas dan yakin diri untuk memaknai
dan memposisikan Pancasila seperti itu, ujar Presiden SBY. Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono menyampaikan hal ini saat meresmikan Pusat Pendidikan Pancasila dan
Konstitusi Mahkamah Konstitusi (MK) Republik Indonesia, di Desa Tugu Selatan, Cisarua,
Bogor, Jawa Barat, Selasa (26/2) pagi. Dengan adanya Pusdik Pancasila dan Konstitusi MK,
Presiden SBY mengajak agar pendidikan Pancasila dilakukan dengan semangat untuk
menjaga relevansi dan aktualisasi Pancasila sebagai ideologi yang hidup dan terbuka.
Sebelumnya, SBY mengatakan bahwa sebenarnya Pancasila digali dan lahir di Indonesia
sebagai alternatif tehadap ideologi dunia yang berbenturan. Dengan di satu ujung ada
kapitalisme, liberalisme, di ujung lainnya ada marxisme, sosialisme, dan komunisme.
Meskipun ada spektrum dan varian tetapi masyarakat dunia mengenal inilah ekstrim kubu
dari ideologi yang hadir di dunia. Pancasila justru hadir sebagai the third way, SBY
menjelaskan.
Pancasila sebagai ideologi negara dan falsafah bangsa, lanjut Presiden, adalah sesuatu yang
berbeda dengan ideologi lain. Dengan berakhirnya Perang Dingin memang ada perubahan
bangsa-bangsa yang menganut ekstrim ideologi marxisme, komuinisme, dan sosialisme yang
menganut command economy, Presiden menambahkan. Ketika dunia terkena krisis ekonomi
dan terbentuk G20, dunia yang didasarkan liberalisme, kapitalisme, dan neoliberalisme juga
gagal menjawab tantangan global bahkan menimbulkan permasalahan baru. Kedua ekstrim
ideologi ini telah mendapatkan koreksi dari sejarah, SBY mengingatkan.
Indonesia selamat dari krisis ekonomi global sekarang ini karena sebenarnya kita memilih
jalan yang berbeda, tidak masuk pada kutub-kutub ideologi seperti itu tapi kita menemukan

jalan dan cara kita sendiri yang sebenarnya berakar, mengalir, dan dijiwai oleh Pancasila
dan semua nilai yang terkandung dan dijalankan di negeri ini, ujar Presiden SBY.
Politik
Bidang politik
Dalam pemilu legislatif 2004, partai yang didirikan oleh SBY, yaitu Partai Demokrat, meraih
7,45% suara. Kemudian pada 10 Mei 2004, tiga partai politik yaitu Partai Demokrat, Partai
Keadilan dan Persatuan Indonesia, dan Partai Bulan Bintang secara resmi mencalonkannya
sebagai presiden dan berpasangan dengan kandidat wakil presiden Jusuf Kalla. Dalam masa
kepemimpinannya bersama Jusuf Kalla, beliau didukung oleh koalisi dari Partai Demokrat,
Partai Golkar, Partai Amanat Nasional, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia, dan Partai
Bulan Bintang.
Kemudian di pemilu 2009, SBY kembali menjadi calon presiden bersama pasangan barunya
yaitu Boediono dan kembali terpilih sebagai presiden Indonesia.
Dalam pemerintahan SBY ini, melakukan beberapa kebijakan politik diantaranya:
Pembentukan Kabinet Bersatu
Pada periode kepemimpinannya yang pertama, SBY membentuk Kabinet Indonesia Bersatu
yang merupakan kabinet pemerintahan Indonesia pimpinan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono bersama Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla. Kabinet Indonesia Bersatu
dibentuk pada 21 Oktober 2004 dan masa baktinya berakhir pada tahun 2009. Pada 5
Desember 2005, Presiden Yudhoyono melakukan perombakan kabinet untuk pertama
kalinya, dan setelah melakukan evaluasi lebih lanjut atas kinerja para menterinya, Presiden
melakukan perombakan kedua pada 7 Mei 2007.
Pembentukan Kabinet Bersatu jilid II
Pada periode kepemimpinannya yang kedua, SBY membentuk Kabinet Indonesia Bersatu II
yang merupakan kabinet pemerintahan Indonesia pimpinan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono bersama Wakil Presiden Boediono. Susunan kabinet ini berasal dari usulan partai
politik pengusul pasangan SBY-Boediono pada Pilpres 2009 yang mendapatkan kursi
di DPR (Partai Demokrat, PKS, PAN, PPP, dan PKB) ditambah Partai Golkar yang
bergabung setelahnya, tim sukses pasangan SBY-Boediono pada Pilpres 2009, serta kalangan
profesional. Susunan Kabinet Indonesia Bersatu II diumumkan oleh Presiden SBY pada 21
Oktober 2009 dan dilantik sehari setelahnya.Pada 19 Mei 2010, Presiden SBY
mengumumkan pergantian Menteri Keuangan. Pada tanggal 18 Oktober 2011, Presiden SBY
mengumumkan perombakan Kabinet Indonesia Bersatu II, beberapa wajah baru masuk ke
dalam kabinet dan beberapa menteri lainnya bergeser jabatan di dalam kabinet.
Menganut konsep Trias Politika

Trias Politika merupakan konsep pemerintahan yang kini banyak dianut diberbagai negara di
aneka belahan dunia. Konsep dasarnya adalah, kekuasaan di suatu negara tidak boleh
dilimpahkan pada satu struktur kekuasaan politik melainkan harus terpisah di lembagalembaga negara yang berbeda.
Trias Politika yang kini banyak diterapkan adalah, pemisahan kekuasaan kepada 3 lembaga
berbeda: Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif. Legislatif adalah lembaga untuk membuat
undang-undang; Eksekutif adalah lembaga yang melaksanakan undang-undang; dan
Yudikatif adalah lembaga yang mengawasi jalannya pemerintahan dan negara secara
keseluruhan, menginterpretasikan undang-undang jika ada sengketa, serta menjatuhkan
sanksi bagi lembaga ataupun perseorangan manapun yang melanggar undang-undang.
Dengan terpisahnya 3 kewenangan di 3 lembaga yang berbeda tersebut, diharapkan jalannya
pemerintahan negara tidak timpang, terhindar dari korupsi pemerintahan oleh satu lembaga,
dan akan memunculkan mekanisme check and balances (saling koreksi, saling
mengimbangi). Kendatipun demikian, jalannya Trias Politika di tiap negara tidak selamanya
serupa, mulus atau tanpa halangan.
Konsep Trias Politika (Eksekutif, Legislatif, Yudikatif) pada masa pemerintahan SBY
mengalami perubahan progresif, dimana konsep tersebut berusaha menempatkan posisinya
berdasarkan prinsip structural Sistem Politik Indonesia, yakni berdasarkan kedaulatan rakyat.
Pada masa pemerintahan SBY, hal tersebut benar-benar terimplementasikan, dimana rakyat
bisa memilih secara langsung calon wakil rakyat melalui Pemilu untuk memilih anggota
dewan legislaif, dan Pilpres untuk pemilihan elit eksekutif, sekalipun untuk elit yudikatif,
pemilihannya masih dilakukan oleh DPR dengan pertimbangan presiden.
Sistem Kepartaian
Di Indonesia sendiri, selama masa pemerintahan SBY di tahun 2004-2009, sistem kepartaian
mengalami perubahan yang signifikan, dimana partai politik bebas untuk didirikan asalkan
sesuai dengan persyaratan dan ketentuan yang berlaku, serta tidak menyimpang dari hakikat
pancasila secara universal. Masyarakat Indonesia pun dapat memilih calon wakil rakyat
pilihan mereka secara langsung, hal tersebut tentu menunjukan apresiasi negara terhadap hak
dasar bangsa secara universal dalam konteks pembentukan negara yang demokratis.
Politik Pencitraan
Politik pencitraan merupakan salah satu senjata ampuh yang digunakan para pemimpin
negara untuk mengambil hati rakyatnya. Pola politik pencitraan tentu digunakan oleh hampir
semua pemimpin negara di dunia, termasuk Presiden SBY. Selaku pemimpin negara, ia tentu
harus membentuk citra dirinya sebaik mungkin demi menjaga imej baiknya di mata
masyarakat Indonesia. Dalam melakukan politik pencitraan tersebut, Presiden SBY
melakukanya dengan beberapa hal, yang terbagi dalam konteks internal dan konteks
eksternal.

Dalam konteks internal, politik pencitraan SBY dilakukan dengan menggunakan kapabilitas
internalnya, yakni dengan kapabilitas retorika atau kemampuan berbicara di depan umum.
Dari lima jenis retorika yang dikemukakan Aristoteles, Presiden SBY dinilai
mengimplementasikan Retorika tipe Elucotio, dimana pembicara memilih kata-kata dan
bahasa yang tepat sebagai alat pengemas pesanya ketika berbicara di depan umum. Selain hal
tersebut, konteks internal disini berkaitan dengan sikap bijak, kalem, dan legowo yang
ditunjukan Presiden SBY kepada masyarakat, dimana hal tersebut tentunya dapat
berimplikasi terhadap penarikat rasa simpatik masyarakat itu sendiri.
Dalam konteks eksternal, politik pencitraan SBY dilakukan dengan beragam aspek, salah
satunya adalah kampanye, dan introduksi prestasi positif SBY selama memerintah Indonesia.
Hal tersebut tentu dapat memicu ketertarikan rakyat Indonesia akan keberhasilan SBY dan
menjadi simpatik atasnya.
Politik Luar Negeri
SBY berusaha memantapkan politik luar negeri Indonesia dengan cara meningkatkan
kerjasama internasional dan meningkatkan kualitas diplomasi Indonesia dalam rangka
memperjuangkan kepentingan nasional. Baru-baru ini Indonesia berani mengambil sikap
sebagai satu-satunya negara anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB yang bersikap
abstain ketika semua negara lainnya memberikan dukungan untuk memberi sanksi pada Iran.
SBY telah berhasil mengubah citra Indonesia dan menarik investasi asing dengan menjalin
berbagai kerjasama dengan banyak negara pada masa pemerintahannya, antara lain dengan
Jepang. Perubahan-perubahan global pun dijadikannya sebagai peluang. Politik luar negeri
Indonesia di masa pemerintahan SBY diumpamakan dengan istilah mengarungi lautan
bergelombang, bahkan menjembatani dua karang. Hal tersebut dapat dilihat dengan
berbagai insiatif Indonesia untuk menjembatani pihak-pihak yang sedang bermasalah.
Ciri politik luar negeri Indonesia pada masa pemerintahan SBY, yaitu :
1) Terbentuknya kemitraan-kemitraan strategis dengan negara-negara lain (Jepang, China,
India, dll).
2) Terdapat kemampuan beradaptasi Indonesia terhadap perubahan-perubahan
domestik dan perubahan-perubahan yang terjadi di luar negeri (internasional).
3) Bersifat pragmatis kreatif dan oportunis, artinya Indonesia mencoba menjalin hubungan
dengan siapa saja (baik negara, organisasi internasional, ataupun perusahaan multinasional)
yang bersedia membantu Indonesia dan menguntungkan pihak Indonesia.
4) Konsep TRUST, yaitu membangun kepercayaan terhadap dunia Internasional. Prinsipprinsip dalam konsep TRUST adalah unity, harmony, security, leadership, prosperity.
Prinsip-prinsip dalam konsep TRUST inilah yang menjadi sasaran politik luar negeri
Indonesia di tahun 2008 dan selanjutnya.

3.

Ketahanan dan Keamanan

Ukuran keberhasilan atau kegagalan menjadi sangat penting dalam mengevaluasi Presiden
Susilo Bambang Yudoyono. Disatu pihak, kedudukan Presiden SBY, memiliki legitimasi dan
kredibilitas yang cukup tinggi. Dipihak lain, Presiden SBY telah berupaya merealisasikan
sebagian janji-janji dalam berbagai program pembangunan nasional.

KEBERHASILAN
1. Dalam ketahanan dan keamanan, keberanian menyeret sebagian koruptor-koruptor,
baik pejabat pemerintah di daerah maupun di pusat terhadap lembaga legislatif dan
eksekutif telah dilakukan. Perang melawan korupsi dalam kabinet SBY terlihat jelas
dan menggembirakan. Instrumen hukum UU No.31/1999 tentang Korupsi, UU
No.36/2003 Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Instrumen presiden 2005,
tentang Tim Pemberantas Korupsi (Timtas-TIPIKOR) yang memiliki kewenangan
luar biasa. Sebagai satu contoh, Gubernur Aceh, Abdullah Puteh dihukum 10 tahun
adalah bukti komitmen tersebut.
2. Kesungguhan penegakan keamanan dan ketahanan itu, juga bisa terlihat atas
keberhasilan penandatanganan MoU antara pemerintah RI dengan GAM, 15 Agustus
2005 di Helsinki. Meskipun MoU tidak sederajat dengan Perjanjian Internasional,
praktek di lapangan telah memperlihatkan kedua pihak mematuhinya. Pemusnahan
senjata oleh GAM dengan pengawasan Aceh Mission Monitoring (AMM) terus
dilaksanakan. Pemberlakuan amnesti terhadap tahanan praktek juga telah dilakukan.
Ribuan TNI non-organik sebagian telah dikembalikan dari Aceh ke daerah masingmasing. Akibat penandatanganan MoU situasi keamanan, kedamaian dan masyarakat
Aceh telah pulih. Keberhasilan ini mustahil dapat dicapai sekiranya kedua belah pihak
tidak memiliki komitmen. Telah lama TNI bercokol di Aceh dan jelas-jelas kebijakan
tersebut kontra produktif terhadap nilai-nilai demokrasi dan HAM secara
internasional dan nasional.
3. Masalah politik dan keamanan cukup stabil dan tampak konsolidasi demokrasi dan
keberhasilan pilkada Aceh menjadi catatan prestasi. Namun, potensi demokrasi ini
belum menghasilkan sistem yang pro-rakyat dan mampu memajukan kesejahteraan
bangsa Indonesia.Tetapi malah mengubah arah demokrasi bukan untuk rakyat
melainkan untuk kekuatan kelompok.

KEGAGALAN
1. Pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono 2004-2009, pemerintah dan
DPR tidak berhasil menetapkan satu pun undang-undang bidang pertahanan nasional.

2. Pertahanan dan keamanan yang terasa masih menjadi nilai raport merah SBY adalah
rendahnya komitmen mereka terhadap penciptaan sistem keamanan masyarakat.
Tragedi Bom Bali II 1 Oktober (jatuh pada hari Kesaktian Pancasila) yang diklaim
oleh Wapres Yusuf Kalla sebagai kecolongan tidak terbantahkan. Sebelumnya juga
teror bom di Tentena Poso di wilayah tentara Sulawesi Tengah bukti kegagalan
tersebut. Sementara Dr. Azhari dan Nurdin Top juga tidak akan tertangkap jika cara
kerja aparat penegak hukum tidak professional.
Kita percaya, sistem hukum terpadu tentang pencegahan dan penanggulangan terorisme
diperlukan, tetapi kejahatan teorisme juga belum tentu akan berkurang. Sejatinya UU
NO.15/2003, tentang Tindak Pidana Terorisme sesungguhnya tidak memadai. Untuk itu
Presiden SBY perlu mengusulkan UU Keamanan dan Intelejen Nasional cukup proporsional
dan tepat momennya. Tiadanya institusi yang kredibel dalam mengkoordinasikan berbagai
aparat pemerintah dan penegak hukum dalam menanggulangi terorisme menyisakan soal
ancaman keamanan sebagai masalah utama. Namun, tidak salah jika kita menengok Amerika,
Malaysia dan Singapore. Terlindunginya masyarakat dari rasa aman, tentram merupakan
segi-segi positif dari adanya instrumen hukum tersebut. Kinerja aparat keamanan khusunya
dalam pencegahan terorisme perlu ditingkatkan melalui para TNI-POLRI dan Intelejen tanpa
harus menaksirkan KOTER. Validitas Keppres tentang kebijakan menaikkan BBM 100%
oleh pemerintah secara sepihak hanya logis dalam tatanan kepentingan ekonomi nasional.
Namun, kenaikan BBM yang dibarengi oleh kenaikan harga-harga bahan pokok itu artinya
justru menyengsarakan masyarakat. Sampai saat ini, pemerintah belum mampu
memperlihatkan upaya untuk meningkatkan kemampuan daya beli masyarakat melalui
jumlah pengangguran.
Kegagalan pemerintah SBY dalam menciptakan rasa aman dan tentram masyarakat tak
terhindarkan melalui pembagian kompensasi BBM sebesar Rp 300.000 KK per bulan
terhadap masyarakat miskin. Kenaikan itu menjadi tidak berarti, mengingat harga bahan
pokok menjadi naik pula. Lagi pula, kenaikan harga BBM sungguh telah memicu kegelisahan
masyarakat. Memang niat memberikan kompensasi BBM terhadap orang-orang miskin tidak
diragukan nilai baik dan manfaatnya. Akan tetapi, upaya untuk mensejahterakan masyarakat
sesuai pasal 33 dan 34 UUD 1945 menjadi tidak kena sasaran bilaman tidak dipersiapkan
secara matang.
Bukti lemahnya persiapan itu tidak sekedar ditentukan oleh rumusan kemiskinan dan datadata yang akurat di lapangan. Tapi juga dampak-dampak negatif dari pemberian uang tunai
tidak menjamin sama sekali. Bencana sosial ini tampak dalam penderitaan dan kesengsaraan
masyarakat miskin. Sampai saat ni tidak kurang dari empat orang tewas dalam
prosespengambilan kompensasi BBM. Beberapa kepala desa dan kepala RT yang juga tewas
ditusuk dan juga bunuh diri. Jika disana puluhan penegak hukum dalam konteks
pemberantasan korupasi, terorisme dan mensejahterakan masyarakat. Dengan kata lain, nilai
raport merah SBY-YK tidak akan berubah jika dikemudian hari tidak mengalami perubahan.

Reformasi Sektor Pertahanan dan Keamanan selama kurang lebih tujuh tahun di Indonesia
meski mengalami kemajuan yang relative baik, tapi masih membutuhkan kerja-kerja politik
yang serius bagi proses SSR yang lebih baik. Masalah oportunisme elit sipil dan penolakan
dari internal masing-masing lembaga sektor keamanan dan pertahanan tersebut masih
mendominasi permasalahan bagi penguatan negara demnokratis, dan profesionalisme
lembaga-lembaga tersebut. Setidaknya bila kita mengacu pada tiga kerangka peran, yakni:
sektor pertahanan dan keamanan, sektor sosial-politik, dan sektor ekonomi, dapat dilihat
bagaimana perjalanan SSR di Indonesia berjalan tertatih-tatih. Dari ketiga kerangka peran
tersebut, lembaga-lembaga sektor pertahanan dan keamanan masih masih dilingkupi oleh
ketiga kerangka peran tersebut. Artinya masih belum profesional dalam merumuskan peran
masing-masing, meski sudah merevisi doktrin. Masih ada yang harus dipertegas pada peran
dan fungsi dari masing-masing lembaga. Salah satunya misalnya penempatan TNI dan Polri
yang belum pas dalam struktur pemerintahan. Apakah di bawah atau di dalam Departemen
Pertahanan untuk TNI, atau apakah di bawah Presiden, masuk ke salah satu departemen, atau
bahkan menjadi departemen tersendiri.
Ketidak tegasan dan konsistenan inilah yang menyebabkan banyak sekali cela bagi TNI,
Polri, maupun lembaga intelejen melalui perundang-undangan yang dihasilkan untuk
melakukan kerja atau fungsi-fungsi di luar kewajibannya.
Hal lain yang juga menjadi perhatian adalah buruknya konsepsi strategis pertahanan dan
keamanan, sehingga dalam konsepsi operasional pun juga mengalami kendala yang relatif
serius. Apalagi reformasi kultural di ketiga lembaga tersebut belum berubah. Masih
menggunakan mindset lama, sehingga menghambat langkah dan jalan bagi suksesnya
reformasi sektor pertahanan dan keamanan di Indonesia.
1. Penegakan hukum berjalan di tempat. Kasus-kasus besar selalu diakhiri dengan drama
transaksional. Bahkan tebang pilih menjadi gaya penegakan hukum pemerintah di
bawah komando SBY. Kegagalan itu diwakili Kementerian Hukum dan HAM dalam
pembebasan 29 napi koruptor atas nama remisi (HUT RI dan Lebaran).
2. Sektor kelautan juga dinilai masih banyak terjadi pencurian-pencurian sumber daya
alam Indonesia seperti ilegal fishing.
3. Rasa aman dan damai makin jauh di tengah tingginya pelanggaran HAM, kekerasan,
perusakan lingkungan hidup, serta hukum yang tidak berdaulat.
4. Pemerintahan SBY-Boediono gagal melakukan agenda reformasi peradilan militer
melalui Revisi Undang-undang No. 31 Tahun 1997. Pemerintahan SBY tidak
memiliki niatan dan upaya sungguh-sungguh untuk mendorong transparansi dan
akuntabilitas di sector keamanan.
5. SBY dianggap lamban menyikapi kisruh KPK vs Polri. SBY baru mau turun setelah
rakyat mendesak. Selain itu, menurut mereka, kebijakan ekonomi yang dilegitimasi
SBY juga dinilai berpihak pada kepentingan kapital, kebijakan energi nasional
mengesampingkan aspek kemandirian, skandal bailout Bank Century yang tak
kunjung selesai, penegakkan supremasi hukum, serta gagalnya SBY mewujudkan
Indonesia sebagai rumah yang aman bagi masyarakatnya.

6. Pemerintah SBY juga telah gagal melindungi kekayaan rakyat berupa minyak dan gas
bumi, barang tambang maupun yang lainnya tidak banyak dinikmati oleh rakyat, tapi
oleh segelintir orang, termasuk pihak asing melalui regulasi dan kebijakan yang tidak
pro rakyat. Pemerintah SBY juga gagal memberantas korupsi dan mafia hukum.
Iironinya banyak dilakukan oleh para pejabat yang berlangsung makin massif dan
sistemik. Sekitar 148 kepala daerah sekarang ini jadi tersangka korupsi, dan
diantaranya adalah 17 Gubernur. Kasus korupsi melahirkan korupsi baru melalui
mafia hukum yang bisa mengatur Kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman dan pengacara.
Itulah yang membuat banyak kasus korupsi yang tidak terungkap. Kasus skandal
Bank Century atau mafia Perpajakan adalah salah satunya.

Ekonomi
Pada pemerintahan SBY kebijakan yang dilakukan adalah mengurangi subsidi Negara
Indonesia, atau menaikkan harga Bahan Bahan Minyak (BBM), kebijakan bantuan langsung
tunai kepada rakyat miskin akan tetapi bantuan tersebut diberhentikan sampai pada tangan
rakyat atau masyarakat yang membutuhkan, kebijakan menyalurkan bantuan dana BOS
kepada sarana pendidikan yang ada di Negara Indonesia. Akan tetapi pada pemerintahan
Susilo Bambang Yudhoyono dalam perekonomian Indonesia terdapat masalah dalam kasus
Bank Century yang sampai saat ini belum terselesaikan bahkan sampai mengeluarkan biaya
93 miliar untuk menyelesaikan kasus Bank Century ini.
Kondisi perekonomian pada masa pemerintahan SBY mengalami perkembangan yang sangat
baik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh pesat di tahun 2010 seiring pemulihan
ekonomi dunia pasca krisis global yang terjadi sepanjang 2008 hingga 2009.
Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 5,5-6
persen pada 2010 dan meningkat menjadi 6-6,5 persen pada 2011. Dengan demikian prospek
ekonomi Indonesia akan lebih baik dari perkiraan semula.
Sementara itu, pemulihan ekonomi global berdampak positif terhadap perkembangan sektor
eksternal perekonomian Indonesia. Kinerja ekspor nonmigas Indonesia yang pada triwulan
IV-2009 mencatat pertumbuhan cukup tinggi yakni mencapai sekitar 17 persen dan masih
berlanjut pada Januari 2010.
Salah satu penyebab utama kesuksesan perekonomian Indonesia adalah efektifnya kebijakan
pemerintah yang berfokus pada disiplin fiskal yang tinggi dan pengurangan utang
Negara.Perkembangan yang terjadi dalam lima tahun terakhir membawa perubahan yang
signifikan terhadap persepsi dunia mengenai Indonesia. Namun masalah-masalah besar lain
masih tetap ada. Pertama, pertumbuhan makroekonomi yang pesat belum menyentuh seluruh
lapisan masyarakat secara menyeluruh. Walaupun Jakarta identik dengan vitalitas

ekonominya yang tinggi dan kota-kota besar lain di Indonesia memiliki pertumbuhan
ekonomi yang pesat, masih banyak warga Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Tingkat pertumbuhan ekonomi periode 2005-2007 yang dikelola pemerintahan SBY-JK
relatif lebih baik dibanding pemerintahan selama era reformasi dan rata-rata pemerintahan
Soeharto (1990-1997) yang pertumbuhan ekonominya sekitar 5%. Tetapi, dibanding kinerja
Soeharto selama 32 tahun yang pertumbuhan ekonominya sekitar 7%, kinerja pertumbuhan
ekonomi SBY-JK masih perlu peningkatan. Pertumbuhan ekonomi era Soeharto tertinggi
terjadi pada tahun 1980 dengan angka 9,9%. Rata-rata pertumbuhan ekonomi pemerintahan
SBY-JK selama lima tahun menjadi 6,4%, angka yang mendekati target 6,6%
Kebijakan menaikkan harga BBM 1 Oktober 2005, dan sebelumnya Maret 2005, ternyata
berimbas pada situasi perekonomian tahun-tahun berikutnya. Pemerintahan SBY-JK memang
harus menaikkan harga BBM dalam menghadapi tekanan APBN yang makin berat karena
lonjakan harga minyak dunia. Kenaikan harga BBM tersebut telah mendorong tingkat inflasi
Oktober 2005 mencapai 8,7% (MoM) yang merupakan puncak tingkat inflasi bulanan selama
tahun 2005 dan akhirnya ditutup dengan angka 17,1% per Desember 30, 2005 (YoY).
Penyumbang inflasi terbesar adalah kenaikan biaya transportasi lebih 40% dan harga bahan
makanan 18%.Core inflation pun naik menjadi 9,4%, yang menunjukkan kebijakan Bank
Indonesia (BI) sebagai pemegang otoritas moneter menjadi tidak sepenuhnya efektif. Inflasi
yang mencapai dua digit ini jauh melampaui angka target inflasi APBNP II tahun 2005
sebesar 8,6%. Inflasi sampai bulan Februari 2006 (YoY) masih amat tinggi 17,92%,
bandingkan dengan Februari 2005 (YoY) 7,15% atau Februari 2004 (YoY) yang hanya 4,6%.
Efek inflasi tahun 2005 cukup berpengaruh terhadap tingkat suku bunga Sertifikat Bank
Indonesia (SBI), yang menjadi referensi suku bunga simpanan di dunia perbankan.

Data Harga Bahan Bakar Minyak 2004 vs 2009 (Naik)


Harga
Minyak Mentah Dunia / barel
Premium
Minyak Solar
Minyak Tanah

2004
~ USD 40
Rp 1810
Rp 1890
Rp 700

2009
~ USD 45
Rp 4500
Rp 4500
Rp 2500

Catatan
Harga hampir sama
Naik 249%
Naik 238%
Naik 370%

Dengan kondisi harga minyak yang sudah turun dibawah USD 50 per barel, namun harga jual
premium yang masih Rp 4500 per liter (sedangkan harga ekonomis ~Rp 3800 per liter).
Maka sangat ironis bahwa dalam kemiskinan, para supir angkot harus mensubsidi setiap liter
premium yang dibelinya kepada pemerintah. Sungguh ironis ditengah kelangkaan minyak
tanah, para nelayan turut mensubsidi setiap liter solar yang dibelinya kepada pemerintah.
Dalam kesulitan ekonomi global, pemerintah bahkan memperoleh keuntungan Rp 1 triluin
dari penjualan premium dan solar kepada rakyatnya sendiri. Inilah sejarah yang tidak dapat

dilupakan. Selama lebih 60 tahun merdeka, pemerintah selalu membantu rakyat miskin
dengan menjual harga minyak yang lebih ekonomis (dan rendah), namun sekarang sudah
tidak lagi rakyatlah yang mensubsidi pemerintah.
Berdasarkan janji kampanye dan usaha untuk merealisasikan kesejahteraan rakyat,
pemerintah SBY-JK selama 4 tahun belum mampu memenuhi target janjinya yakni
pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas 6.6%. Sampai tahun 2008, pemerintah SBY-JK hanya
mampu meningkatkan pertumbuhan rata-rata 5.9% padahal harga barang dan jasa (inflasi)
naik di atas 10.3%. Ini menandakan secara ekonomi makro, pemerintah gagal
mensejahterakan rakyat. Tidak ada prestasi yang patut diiklankan oleh Demokrat di bidang
ekonomi.
Pertumbuhan
2004
2005
2006
2007
2008
2009

Janji Target
ND
5.5%
6.1%
6.7%
7.2%
7.6%

Realisasi
5.1%
5.6%
5.5%
6.3%
6.2%
~5.0%

Keterangan
Tercapai
Tidak tercapai
Tidak tercapai
Tidak tercapai
Tidak tercapai *

Tingkat Inflasi 2004-2009 (Naik)


Secara alami, setiap tahun inflasi akan naik. Namun, pemerintah akan dikatakan berhasil
secara makro ekonomi jika tingkat inflasi dibawah angka pertumbuhan ekonomi. Dan
faktanya adalah inflasi selama 4 tahun2 kali lebih besar dari pertumbuhan ekonomi.
Tingkat Inflasi
2004
2005
2006
2007
2008

Janji Target
7.0%
5.5%
5.0%
4.0%

Fakta
6.4%
17.1%
6.6%
6.6%
11.0%

Catatan Pencapaian
Gagal
Gagal
Gagal
Gagal

Selama 4 tahun pemerintahan, Demokrat yang terus mendukung SBY tidak mampu
mengendalikan harga barang dan jasa sesuai dengan janji yang tertuang dalam kampanye dan
RPM yakni rata-rata mengalami inflasi 5.4% (2004-2009) atau 4.9% (2004-2008). Fakta
yang terjadi adalah harga barang dan jasa meroket dengan tingkat inflasi rata-rata 10.3%
selama periode 2004-2008. Kenaikan harga barang dan jasa melebihi 200% dari target
semula.
Jumlah Penduduk Miskin

Sasaran pertama adalah pengurangan kemiskinan dan pengangguran dengan


target berkurangnya persentase penduduk tergolong miskin dari 16,6 persen pada
tahun 2004 menjadi 8,2 persen pada tahun 2009 dan berkurangnya pengangguran terbuka
dari 9,5 persen pada tahun 2003 menjadi 5,1 persen pada tahun 2009.
Penduduk Miskin
2004
2005
2006
2007
2008
2009

Jumlah
36.1 juta
35.1 juta
39.3 juta
37.2 juta
35.0 juta

Persentase
16.6%
16.0%
17.8%
16.6%
15.4%
8.2% ????

Catatan
Februari 2005
Maret 2006
Maret 2007
Maret 2008

Koalisi Organisasi Masyarakat Sipil mencatat, pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono


dan Jusuf Kalla memperbesar utang dalam jumlah sangat besar. Posisi utang tersebut
merupakan utang terbesar sepanjang sejarah RI.
Koalisi terdiri dari
Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran Perkumpulan Prakarsa
Perhimpunan Pengembangan Pesantren & Masyarakat (P3M)
Gerakan Antipemiskinan Rakyat Indonesia
Lembaga Advokasi Pendidikan Anak Marginal
Pusat Telaah dan Informasi Regional
Asosiasi pendamping Perempuan Usaha Kecil dan
Publish What You Pay
Berdasarkan catatan koalisi, utang pemerintah sampai Januari 2009 meningkat 31 persen
dalam lima tahun terakhir. Posisi utang pada Desember 2003 sebesar Rp 1.275 triliun.
Adapun posisi utang Janusari 2009 sebesar Rp 1.667 triliun atau naik Rp 392 triliun. Apabila
pada tahun 2004, utang per kapita Indonesia Rp 5,8 juta per kepala, pada Februari 2009 utang
per kapita menjadi Rp 7,7 juta per kepala. Memerhatikan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional 2004-2009, koalisi menilai rezim sekarang ini adalah rezim anti-subsidi.
Hal itu dibuktikan dengan turunnya secara drastis subsidi. Pada tahun 2004 jumah subsidi
masih sebesar 6,3 persen dari produk domestik bruto. Namun, sampai 2009, jumlah subsidi
untuk kepentingan rakyat tinggal 0,3 persen dari PDB.

Kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa Indonesia masih memerlukan banyak
perbaikan. Namun apa yang telah dicapai selama ini merupakan hasil dari visi dan
perencanaan pemerintahan SBY. Dapat dibayangkan hal-hal lain yang akan terjadi dalam
pemerintahan yang akan berjalan untuk beberapa tahun ke depan lagi.

5.

Sosial

Presiden SBY berhasil meredam berbagai konflik di Ambon, Sampit dan juga di Aceh.
Pada masa pemerintahan ini, kehidupan masyarakat mulai menuju kepada kehidupan
individualis yang mengutamakan kepentingan individu. Hal ini dapat dilihat dengan
kurangnya sosialisasi antarwarga di perkotaan.
Arus urbanisasi juga semakin marak. Namun pemerintah tidak lagi mencanangkan
transmigrasi.
Di pemerintahan SBY juga telah dibuat undang-undang mengenai pornografi dan pornoaksi.
Namun usaha ini tidak disertai dengan penegakan hukum yang baik sehingga tidak
terealisasi.
Meski konflik di beberapa daerah telah diredam, namun kembali muncul berbagai konflik
lagi seperti di Makassar. Bahkan baru-baru ini terjadi tawuran antar-SMA di Jakarta yang
membawa korban para pejuang jurnalistik.

6.

Budaya

Dalam hal pelestarian budaya, di masa pemerintahan SBY terlihat jelas kemundurannya.
Terutama dengan banyaknya warisan budaya asli Indonesia yang diklaim oleh pemerintah
negara lain. Contohnya sebagai berikut :

Klaim Batik Jawa Oleh Adidas


Klaim Angklung oleh Pemerintah Malaysia
Klaim Gamelan oleh Pemerintah Malaysia
Badik Tumbuk Lada oleh Pemerintah Malaysia
Naskah Kuno dari Riau oleh Pemerintah Malaysia
Naskah Kuno dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia
Naskah Kuno dari Sulawesi Selatan oleh Pemerintah Malaysia
Naskah Kuno dari Sulawesi Tenggara oleh Pemerintah Malaysia
Rendang dari Sumatera Barat oleh Oknum WN Malaysia
Sambal Bajak dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Belanda
Sambal Petai dari Riau oleh Oknum WN Belanda

Sambal Nanas dari Riau oleh Oknum WN Belanda


Tempe dari Jawa oleh Beberapa Perusahaan Asing
Lagu Rasa Sayang Sayange dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia
Tari Reog Ponorogo dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia
Lagu Soleram dari Riau oleh Pemerintah Malaysia
Lagu Injit-injit Semut dari Jambi oleh Pemerintah Malaysia
Tari Kuda Lumping dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia
Tari Piring dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia
Lagu Kakak Tua dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia
Lagu Anak Kambing Saya dari Nusa Tenggara oleh Pemerintah Malaysia
Kursi Taman Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara dari Jawa Tengah
Pigura Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara dari Jawa Tengah
Motif Batik Parang dari Yogyakarta oleh Pemerintah Malaysia
Desain Kerajinan Perak Desak Suwarti dari Bali oleh Oknum WN Amerika
Produk Berbahan Rempah-rempah dan Tanaman Obat Asli Indonesia oleh Shiseido
Co Ltd
Badik Tumbuk Lada oleh Pemerintah Malaysia
Kopi Gayo dari Aceh oleh perusahaan multinasional (MNC) Belanda
Kopi Toraja dari Sulawesi Selatan oleh perusahaan Jepang
Musik Indang Sungai Garinggiang dari Sumatera Barat oleh Malaysia
Kain Ulos oleh Malaysia
Lagu Jali-Jali oleh Pemerintah Malaysia
Tari Pendet dari Bali oleh Pemerintah Malaysia

Namun di masa ini, terdapat keberhasilan dengan pengakuan dari UNESCO bahwa batik
Indonesia adalah warisan budaya Indonesia.

D.

Kelebihan dan Kelemahan Pemerintahan SBY

Kelebihan
1. Harga BBM diturunkan hingga 3 kali (2008-2009), pertama kali sepanjang sejarah.
2. Perekonomian terus tumbuh di atas 6% pada tahun 2007 dan 2008, tertinggi setelah
orde baru.
3. Cadangan devisa pada tahun 2008 US$ 51 miliar, tertinggi sepanjang sejarah.
4. Menurunnya Rasio hutang negara terhadap PDB terus turun dari 56% pada tahun
2004 menjadi 34% pada tahun 2008.
5. Pelunasan utang IMF.
6. Terlaksananya program-program pro-rakyat seperti: BLT, BOS, Beasiswa,
JAMKESMAS, PNPM Mandiri, dan KUR tanpa agunan tambahan yang secara
otomatis dapat memperbaiki tinggkat ekonomi rakyat.
7. Pemberantasan korupsi.

8. Pengangguran terus menurun. 9,9% pada tahun 2004 menjadi 8,5% pada tahun 2008.
9. Menurunnya angka kemiskinan dari 16,7% pada tahun 2004 menjadi 15,4% pada
tahun 2008.
10. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh pesat di tahun 2010 seiring pemulihan
ekonomi dunia pasca krisis global yang terjadi sepanjang 2008 hingga 2009.
11. perekonomian Indonesia mampu bertahan dari ancaman pengaruh krisis ekonomi dan
finansial yang terjadi di zona Eropa.

Kelemahan
1. Harga BBM termahal sepanjang sejarah indonesia yaitu mencapai Rp. 6.000.
2. jumlah utang negara tertinggi sepanjang sejarah yakni mencapi 1667 Triliun pada
awal tahun 2009 atau 1700 triliun per 31 Maret 2009. Inilah pembengkakan utang
terbesar sepanjang sejarah.
3. tingkat pengeluaran untuk administrasi yang luar biasa tinggi. Mencapai sebesar 15%
pada tahun 2006 .menunjukkan suatu penghamburan yang signifikan atas sumber
daya public.
4. Konsentrasi pembangunan di awal pemerintahannya hanya banyak berpusat di aceh,
karena provinsi aceh telah di porak porandakan oleh bencana alam stunami pada
tahun 2004.
5. Masih gagal nya pemerintah menghapuskan angka pengangguran dan kemiskinan di
negeri ini.
6. Bencana alam yang sering terjadi di indonesia membuat para investor asing enggan
berinvestasi dengan alasan tidak aman terhadap ancaman bencana alam.
7. Dianggap belum mampu menyelesaikan masalah bank CENTURY.

Kesimpulan
Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, terjadi banyak kemajuan di
berbagai bidang. Hal ini dikarenakan kemajuan teknologi dan kebebasan berpendapat.
Namun, terdapat beberapa kemunduran juga. Kita tidak dapat melihat kesuksesan suatu
pemerintahan hanya dengan satu pandangan. Kita harus memandang dari berbagai sisi. Jika
dibandingkan dengan pemerintahan pada masa Orde Baru, memang dalam beberapa bidang
terlihat kemunduran. Tetapi bisa saja hal ini dikarenakan pada masa Orde Baru kebebasan
pers dikekang sehingga bagian buruk pada Orde Baru tidak terlihat. Di masa pemerintahan
Susilo Bambang Yudhoyono, musyawarah mufakat diutamakan. Sehingga pengambilan
kebijakan terkesan lambat. Meski begitu, musyawarah mufakat ini dilakukan untuk
kepentingan bersama. Sehingga dapat dikatakan, pada masa pemerintahan Susilo Bambang
Yudhoyono telah cukup berkembang dibandingkan masa-masa sebelumnya dalam hal
demokrasi.

Pemerintahan Indonesia Bersatu Jilid I (Era SBY- JK) = (2004-2009)


Masa Kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono terdapat kebijakan kontroversial
yaitu mengurangi subsidi BBM, atau dengan kata lain menaikkan harga BBM.
Kebijakan ini dilatar belakangi oleh naiknya harga minyak dunia. Anggaran subsidi
BBM dialihkan ke subsidi sektor pendidikan dan kesehatan, serta bidang-bidang
yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kebijakan kontroversial pertama itu menimbulkan kebijakan kontroversial kedua,
yakni Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi masyarakat miskin. Kebanyakan BLT
tidak sampai ke tangan yang berhak, dan pembagiannya menimbulkan berbagai
masalah sosial. Kebijakan yang ditempuh untuk meningkatkan pendapatan perkapita
adalah mengandalkan pembangunan infrastruktur massal untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi serta mengundang investor asing dengan janji memperbaiki
iklim investasi. Salah satunya adalah diadakannya Indonesian Infrastructure Summit
pada bulan November 2006 lalu, yang mempertemukan para investor dengan
kepala-kepala daerah.
Menurut Keynes, investasi merupakan faktor utama untuk menentukan kesempatan
kerja. Mungkin ini mendasari kebijakan pemerintah yang selalu ditujukan untuk
memberi kemudahan bagi investor, terutama investor asing, yang salah satunya
adalah revisi undang-undang ketenagakerjaan. Jika semakin banyak investasi asing
di Indonesia, diharapkan jumlah kesempatan kerja juga akan bertambah.
Selain itu, pada periode ini pemerintah melaksanakan beberapa program baru yang
dimaksudkan untuk membantu ekonomi masyarakat kecil diantaranya PNPM
Mandiri dan Jamkesmas. Pada prakteknya, program-program ini berjalan sesuai
dengan yang ditargetkan meskipun masih banyak kekurangan disana-sini.
Pada pertengahan bulan Oktober 2006 , Indonesia melunasi seluruh sisa utang
pada IMF sebesar 3,2 miliar dolar AS. Dengan ini, maka diharapkan Indonesia tak
lagi mengikuti agenda-agenda IMF dalam menentukan kebijakan dalam negeri.
Namun wacana untuk berhutang lagi pada luar negri kembali mencuat, setelah
keluarnya laporan bahwa kesenjangan ekonomi antara penduduk kaya dan miskin
menajam, dan jumlah penduduk miskin meningkat dari 35,10 jiwa di bulan Februari
2005 menjadi 39,05 juta jiwa pada bulan Maret 2006.
Hal ini disebabkan karena beberapa hal, antara lain karena pengucuran kredit
perbankan ke sector riil masih sangat kurang (perbankan lebih suka menyimpan
dana di SBI), sehingga kinerja sector riil kurang dan berimbas pada turunnya
investasi. Selain itu, birokrasi pemerintahan terlalu kental, sehingga menyebabkan
kecilnya realisasi belanja Negara dan daya serap, karena inefisiensi pengelolaan
anggaran. Jadi, di satu sisi pemerintah berupaya mengundang investor dari luar
negri, tapi di lain pihak, kondisi dalam negeri masih kurang kondusif.
Namun, selama masa pemerintahan SBY, perekonomian Indonesia memang berada
pada masa keemasannya. Indikator yang cukup menyita perhatian adalah inflasi.
Sejak tahun 2005-2009, inflasi berhasil ditekan pada single digit. Dari 17,11% pada
tahun 2005 menjadi 6,96% pada tahun 2009. Tagline strategi pembangunan
ekonomi SBY yang berbunyi pro-poor, pro-job, dan pro growth (dan kemudian
ditambahkan dengan pro environment) benar-benar diwujudkan dengan turunnya
angka kemiskinan dari 36,1 juta pada tahun 2005, menjadi 31,02 juta orang pada
2010. Artinya, hampir sebanyak 6 juta orang telah lepas dari jerat kemiskinan dalam
kurun waktu 5 tahun. Ini tentu hanya imbas dari strategi SBY yang pro growth yang
mendorong pertumbuhan PDB.

Imbas dari pertumbuhan PDB yang berkelanjutan adalah peningkatan konsumsi


masyarakat yang memberikan efek pada peningkatan kapasitas produksi di sector
riil yang tentu saja banyak membuka lapangan kerja baru. Memasuki tahun ke dua
masa jabatannya, SBY hadir dengan terobosan pembangunannya berupa master
plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3 EI). Melalui
langkah MP3EI, percepatan pembangunan ekonomi akan dapat menempatkan
Indonesia sebagai negara maju pada tahun 2025 dengan pendapatan perkapita
antara UsS 14.250-USS 15.500, dengan nilai total perekonomian (PDB) berkisar
antara USS 4,0-4,5 triliun.
Pemerintahan Indonesia Bersatu Jilid II (Era SBYBOEDIONO) = (2009-2014)
Pada periode ini, pemerintah khususnya melalui Bank Indonesia menetapkan empat
kebijakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional negara yaitu :
1.
2.
3.
4.

BI rate
Nilai tukar
Operasi moneter
Kebijakan makroprudensial untuk pengelolaan likuiditas dan makroprudensial
lalu lintas modal.

Dengan kebijakan-kebijakan ekonomi diatas, diharapkan pemerintah dapat


meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara yang akan berpengaruh pula pada
meningkatnya kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Hampir tujuh tahun sudah ekonomi Indonesia di tangan kepemimpinan Presiden
SBY dan selama itu pula perekonomian Indonesia boleh dibilang tengah berada
pada masa keemasannya. Beberapa pengamat ekonomi bahkan berpendapat
kekuatan ekonomi Indonesia sekarang pantas disejajarkan dengan 4 raksasa
kekuatan baru perekonomian dunia yang terkenal dengan nama BIRC (Brazil, Rusia,
India, dan China).
Krisis global yang terjadi pada tahun 2008 semakin membuktikan ketangguhan
perekonomian Indonesia. Di saat negara-negara superpower seperti Amerika Serikat
dan Jepang berjatuhan, Indonesia justru mampu mencetak pertumbuhan yang positif
sebesar 4,5% pada tahun 2009.
Gemilangnya fondasi perekonomian Indonesia direspon dunia internasional dengan
menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara pilihan tempat berinvestasi. Dua
efeknya yang sangat terasa adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
mencapai rekor tertingginya sepanjang sejarah dengan berhasil menembus angka
3.800. Bahkan banyak pengamat yang meramalkan sampai akhir tahun ini IHSG
akan mampu menembus level 4000.
Indonesia saat ini menjadi ekonomi nomor 17 terbesar di dunia. Tujuan kami adalah
untuk menduduki 10 besar. Kami sangat optimistis karena IMF pun memprediksi
ekonomi Indonesia akan mengalahkan Australia dalam waktu kurang dari satu
dekade ke depan, tutur SBY dalam sebuah acara.