Anda di halaman 1dari 21

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Perdarahan Post Partum (PPP) merupakan perdarahan yang masih berasal

dari tempat implantasi plasenta, robekan pada jalan lahir dan jaringan sekitarnya dan
merupakan salah satu penyebab kematian ibu di samping perdarahan karena hamil
ektopik dan abortus. Perdarahan post partum bila tidak mendapat penanganan yang
semestinya akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas ibu serta proses
penyembuhan kembali.
Perdarahan post partum adalah perdarahan yang melebihi 500 ml setelah bayi
lahir. Pada praktisnya tidak perlu mengukur jumlah perdarahan sampai sebanyak itu
sebab menghentikan perdarahan lebih dini akan memberikan prognosis lebih baik.
Pada umumnya bila terdapat perdarahan yang lebih dari normal, apalagi telah
menyebabkan perubahan tanda vital (seperti kesadaran menurun, pucat, limbung,
berkeringat dingin, sesak napas, serta tensi < 90 mmHg dan nadi > 100/menit), maka
penanganan harus segera dilakukan (Prawirohardjo, 2011).
Dari data WHO (World Health Organization) menunjukan bahwa 25% dari
kematian maternal disebabkan oleh perdarahan postpartum dan diperkirakan 100.000
kematian maternal tiap tahunnya (Admin, 2009).
Angka Kematian Ibu di Indonesia menurut Survey Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) tahun 2007 menunjukkan bahwa terdapat penurunan angka
kematian ibu (AKI) dari 307 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup. Berdasarkan
data dari Dinas Kesehatan Provinsi NTB ditemukan angka kematian ibu sebesar 95
per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007, tahun 2008 menjadi 99 per 100.000
kelahiran hidup, tahun 2009 menjadi 130 per 100.000 kelahiran hidup dan tahun
2010 sebesar 114 per 100.000 kelahiran hidup dan pada tahun 2011 mengalami
peningkatan yaitu 129 per 100.000 kelahiran hidup, dan target pencapaian millenium
Development Goals (MDGS), yaitu AKI menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup

pada

tahun

2015,

perlu

dilakukan

upaya

terobosan

yang

efektif

dan

berkesinambungan (Anonim, 2010).


Penyebab langsung tingginya angka kematian ibu di Indonesia disebabkan
oleh perdarahan 28%, Eklampsia24%, infeksi 20%, komplikasi Puerperium 8%,
abortus 5%, partus macet 5%, trauma obsetri 5 %, emboli 3% (WHO, 2010).
Perdarahan, khususnya perdarahan post-partum, terjadi secara mendadak dan
lebih berbahaya apabila terjadi pada wanita yang menderita anemia. Seorang ibu
dengan perdarahan dapat meninggal dalam waktu kurang dari satu jam (Kemenkes
RI, 2008). Kondisi kematian ibu secara keseluruhan diperberat oleh tiga terlambat
yaitu terlambat dalam pengambilan keputusan, terlambat mencapai tempat rujukan,
terlambat dalam mendapatkan pertolongan yang tepat di fasilitas kesehatan (Dinas
Provinsi NTB, 2010).
Di tingkat provinsi upaya penurunan AKI dan AKB dilakukan melalui
strategi AKINO (angka kematian ibu menuju nol). Untuk mewujudkan strategi /
program tersebut pemerintah provinsi NTB melakukan beberapa upaya diantarnya
peningkatan kualitas tenaga kesehatan, peningkatan sarana dan prasaran,
memberikan layanan yang bermutu diantaranya pemeriksaan hamil minimal 4 kali,
penanganan gizi ibu hamil, penanganan penyakit menular dan tidak menular pada ibu
hamil, persalinan nakes, pelayanan KB, dll (Anonim, 2010).
Dalam rangka percepatan penurunan angka kematian ibu dan angka kematian
bayi, pemerintah telah melaksanakan berbagai upaya dibidang kesehatan,
diantaranya dengan peningkatan mutu pelayanan dan pengelolaan manajemen
program kesehatan ibu dan anak (KIA). Namun ternyata masih perlu adanya
peningkatan keterlibatan masyarakat dalam perhatian dan pemeliharaan kesehatan
ibu dan bayi baru lahir. Seperti kita ketahui bersama bahwa ditingkat masyarakat
masalah keterlambatan, utamanya keterlambatan mengenal tanda bahaya dan
mengambil

keputusan,

terlambat

mencapai

fasilitas

kesehatan,

terlambat

mendapatkan pertolongan di fasilitas kesehatan, serta masalah 4 terlalu yaitu terlalu


muda punya anak(<20 tahun), terlalu banyak melahirkan(>3 anak), terlalu rapat jarak

kelahiran (<2 tahun), terlalu tua (>35 tahun), masih dilatarbelakangi oleh rendahnya
pengetahuan (Kemenkes RI, 2009).
Untuk menanggulangi permasalahan tersebut, telah dilkukan upaya
percepatan AKI. Pada tahun 2000 Departemen kesehatan telah merancangkan
Strategi Making Pregnancy Safer (MPS) yang merupakan strategi terfokus dalam
penyediaan dan pemantapan pelayanan kesehatan, dengan 3 pesan kunci MPS, yaitu:
(1) setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih, (2) setiap konflikasi
obstetri dan neonatal mendapat pelayanan yang adekuat, dan (3) setiap wanita usia
subur mempunyai askes terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan
penanganan komflikasi keguguran. Upaya percepatan penurunan AKI tersebut
dilaksanakan melalui empat strategi, yaitu: (1) peningkatan kualitas dan akses
pelayanan kesehatan ibu dan bayi,(2) kerjasama lintas program,lintas sektor terkait
dan masyarakat termasuk swasta (3) pemberdayaan perempuan, keluarga dan
pemberdayaan masyarakat, dan (4) meningkatkan survailance, monitoring-evaluasi
KIA dan pembiayaan.

1.2 Tujuan
1. Agar mahasiswa mampu mengetahui tentang definisi dari perdarahan post
partum.
2. Agar mahasiswa mampu mengetahui etiologi dari perdarahan post partum.
3. Agar mahasiswa mampu memahami serta mampu menguraikan patofiologi
dari perdarahan post partum.
4. Agar mahasiswa mampu memahami tentang factor predisposisi dari
perdarahan post partum.
5. Agar mahasiswa mampu memahami manifestasi klinis dari perdarahan post
partum.
6. Agar mahasiswa mampu mengetahui serta memahami penatalaksanaan dari
perdarahan post partum.

7.

Agar mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada pasien dengan paerdarahan


post partum.

8.

Agar mahasiswa mampu merumuskan diagnose serta membuat rencana tindakan


keperawatan pada pasien dengan peradarahan post partum.

9.

Agar mahasiswa mampu mengevaluasi pada pasien dengan perdarahan post


partum.

1.3 Bagi Institusi Pendidikan


Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat khususnya dalam
memperbanyak referensi tentang penyebab perdarahan post partum sebagai acuan
bagi peneliti selanjutnya.

BAB II
PERDARAHAN POST PARTUM

1.Pengertian Perdarahan Post Partum


Definisi perdarahan post partum adalah perdarahan yang melebihi 500 ml
setelah bayi lahir. Pada praktisnya tidak perlu mengukur jumlah perdarahan sampai
sebanyak itu sebab menghentikan perdarahan lebih dini akan memberikan prognosis
lebih baik. Pada umumnya bila terdapat perdarahan yang lebih dari normal, apalagi
telah menyebabkan perubahan tanda vital (seperti kesadaran menurun, pucat,
limbung, berkeringat dingin, sesak napas, serta tensi < 90 mmHg dan nadi >
100/menit), maka penanganan harus segera dilakukan (Prawirohardjo, 2011).
Perdarahan postpartum sering didefenisikan secara berturut-turut sebagai
kehilangan darah berlebihan dari traktus genetalia dalam 24 jam setelah persalinan,
sebanyak 500 ml atau lebih, atau sebanyak apapun yang mengganggu kesejahtraan
ibu (Widiarti, 2007).
Kondisi dalam persalinan menyebabkan kesulitan untuk menentukan jumlah
perdarahan yang terjadi, maka batasan jumlah perdarahan disebutkan sebagai
perdarahan yang lebih dari normal dimana telah menyebabkan perubahan tanda vital,
antara lain pasien mengeluh lemah, limbung, berkeringat dingin, menggigil,
hiperpnea, tekanan darah sistolik <90 mmHg, denyut nadi> 100 x/menit, kadar Hb <
8 g/dL.
Hemoragia postpartum (perdarahan postpartum) adalah hilangnya darah lebih
dari 500 ml dalam 24 jam pertama setelah lahirnya bayi (William, 1981). Namun,
menurut Doengoes (2001), perdarahan postpartum adalah kehilangan darah lebih 500
ml selama atau setelah melahirkan

2. Jenis-Jenis Perdarahan Postpartum


Menurut pendapat (Varney, 2008).
Perdarahan post partum dibagi menjadi 2:
1. Perdarahan Post Partum Dini/Perdarahan Post Partum Primer (Early
Postpartum Hemorrhage)
Perdarahan post partum dini adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam
pertama setelah kala III. Penyebab utama perdarahan post partum primer
adalah atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta dan robekan jalan lahir.
Terbanyak dalam 2 jam pertama.
2. Perdarahan pada Masa Nifas I Perdarahan Post Partum Sekunder (Late
Postpartum Hemorrhage)
Perdarahan post partum sekunder ialah perdarahan yang terjadi setelah anak
lahir biasanya hari ke 5-15 post partum. Penyebab utamanya robekan jalan
lahir dan sisa plasenta.

3. Klasifikasi perdarahan post partum


1. Perdarahan paska persalinan dini/ early HPP/ primary HPP adalah
perdarahan berlebihan ( 600 ml atau lebih ) dari saluran genitalia yang terjadi
dalam 12 - 24 jam pertama setelah melahirkan.
2. Perdarahan paska persalinan lambat / late HPP/ secondary HPP adalah
perdarahan yang terjadi antara hari kedua sampai enam minggu paska
persalinan.

3. Etiologi
1.

Atonia Uteri
Definisi
Atonia uteri adalah keadaan lemahnya otnuys/kontraksi rahim yang

menyebabkan uterus tidak mampu menutup perdarahan terbuka dari tempat


implantasi plasenta setelah bayi dan plasenta lahir (Prawirohardjo, 2011).
b.

Tanda dan Gejala

Perdarahan pervaginam

Konsistensi lunak

Fundus uteri tinggi

Terdapat tanda-tanda syok

c.

Etiologi

Umur terlalu muda 25 tahun atau tim 35 tahun

Paritas

Partus lama yang menyebabkan inersia uteri karena kelelahan pada otot-otot
uterus

2.

Robekan Jalan Lahir

a.

Definisi
Pada umumnya robekan jalan lahir terjadi pada persalinan dengan trauma.

Pertolongan persalinan yang semakin manipulatif dan traumatik akan memudahkan


robekan jalan lahir dan karena itu dihindarkan memimpin persalinan pada saat
pembukaan serviks belum lengkap. Robekan jalan lahir biasanya akibat episiotomi,
robekan spontan perineum, truama forseps atau vakum ekstraksi, atau karena versi
ekstraksi (Prawirohardio, 2011).
b.

Tanda/Gejala
Gejala yang selalu ada yaitu perdarahan segera, darah segar mengalir segera
setelah bayi lahir, kontraksi uterus baik, keadaan plasenta baik (Wiknjosatro,
2006)

c.

Etiologi

Episiotomi yang terlalu lebar

Robekan servik yang luas menimbulkan perdarahan dan dapat menjalar ke


segmen bawah uterus. Apabila terjadi perdarahan yang tidak berhenti,
meskipun plasenta sudah lahir lengkap dan uterus sudah berkontraksi dengan
baik. perlu dipikirkan perlukaan jalan lahir, khususnya robekan servik uteri.

3. Retensio Placenta
a. Definisi
Retensio placenta adalah keadaan dimana plasenta belum lahir selama 30
menit setelah bayi lahir (Prawirohardjo, 2007).
b. Tanda/Gejala

Gejala yang selalu ada: plasenta belum lahir setelah 30 menit, perdarahan
segera, kontraksi uterus baik.

Gejala yang kadang-kadang timbul: tali pusat putus akibat kontraksi


berlebihan, inversi uteri akibat tarikan, perdarahan lanjutan (Salemba, 2010).

c. Etiologi

Plasenta belum terlepas dan dinding rahim karena melekat dan tumbuh
dalam. Menurut tingkat perlekatannya:

Plasenta adhesiva : plasenta yang melekat pada desidua endometrium lebih


dalam.

Plasenta inkreta : vili khorialis tumbuh lebih dalam dan menembus


desidua endometrium sampai kemiometrium.

Plasenta

akreta

: vili

khorialais tumbuh

menembusmiometrium sampai

ke serosa.

Plasenta perkreta : vili khorialis tumbuh


menembusserosa atau peritoneum dinding rahim.

Plasenta sudah terlepas dan dinding rahim namun belum keluar karena atonia
uteri atau adanya lingkaran konstriksi pada bagian bawah rahim yang akan
menghalangi plasenta keluar (plasenta inkarserata).
Bila plasenta belum lepas sama sekali tidak akan terjadi perdarahan tetapi bila
sebagian plasenta sudah lepas maka akan terjadi perdarahan. Ini merupakan
indikasi untuk segera mengeluarkannya (WHO, 2003).

4. Rest Placenta
a.

Definisi
Adalah tertinggalnya sisa-sisa plasenta atau sebagian selaput mengandung

pembuluh darah (Prawirohardio, 2011).


b.

Tanda dan gejala

Gejala yang selalu ada yaitu plasenta atau sebagian selaput (mengandung
pembuluh darah) tidak lengkap dan perdarahan segera

Gejala yang kadang-kadang timbul yaitu uterus berkontraksi baik tetapi tinggi
fundus tidak berkurang (WHO, 2003).

c.

Etiologi

Kesalahan penatalaksanaan kala tiga

Potongan-potongan placenta yang ketinggalan tanpa diketahui

Jaringan yang melekat dengan kuat

5.

Robekan Servik

a.

Konsep Dasar
Persalinan selalu mengakibatkan robekan serviks, sehingga serviks
seorang multipara berbeda dengan yang belum pernah melahirkan pervaginam.
Robekan serviks yang luas menimbulkan perdarahan dan dapat menjalar ke
segmen bawah uterus. Apabila terjadi rahan yang tidak berhenti walaupun
plasenta sudah lahir lengkap dan uterus berkontraksi baik, perlu dipikirkan
adanya perlukan jalan lahir khususnya robekan serviks uteri. Dalam keadaan ini

serviks harus diperiksa dengan spekulum. Pemeriksaan juga harus dilakukan


secara rutin setelah tindakan obstetrik yang sulit (Sumarah, 2009).
Perdarahan pasca persalinan pada uterus yang berkontraksi baik harus
memaksa kita untuk memeriks aserviks uteri dengan pemeriksaan spekulum
sebagai profilaksis sebaiknya semua persalinan buatan yang sulit menjadi
indikasi untuk pemeriksaan spekulum (obstetric patologi Unpad, edisi 2, 2005).
b.

Diagnosa
Jika perdarahan post partum pada uterus yang berkontraksi baik harus
idlakukan pemeriksaan serviks secara inspekulo. Sebagai profilaksis sebaiknya
semua pesalinan buatan yang sulit menjadi indikasi untuk pemeriksaan
inspekulo.

c.

Etiologi
Etiologi robekan serviks yaitu : partus presipitatus, trauma karena
pemakaian alat seperti cunam, vakum ekstraktor, melahirkan kepala janin dengan
letak sungsang secara paksa padahal pembukaan serviks uteri belum lengkap,
partus lama dimana telah terjadi serviks edem sehingga jaringan serviks sudha
menjadi rapuh dan mudah robek.

6.

Robekan Uteri (Ruptur Uteri)

a.

Konsep Dasar
Faktor predisposisi yang menyebabkan ruptur uteri yaitu multiparitas hal
ini disebabkan karena dinding perut yang lembek dengan kedudukan uterus
dalam posisi antefleksi sehingga terjadi kelainan letak dan posisi janin, janin
sering lebih besar, sehingga dapat menimbulkan CPD, pemakaian oksitosin untuk
induksi persalinan yang tidak tepat, kelainan letak dan implantasi plasenta
umpamnya pada plasenta akreta, plasenta inkreta atau perkreta, kelainan bentuk
uterus, hidramnion.

10

7.

Inversio Uteri

a.

Definis
Suatu keadaan dimana fundus uteri mausk ke dalam kavum uteri, dapat
secara mendadak atau terjadi perlahan, selain dari pada itu pertolongan pesalinan
yang makin banyak dilakukan tenaga terlatih maka kejadian inversio uteripun
makin berkurang.

8.

Pembekuan Darah

a.

Definisi
Adalah kegagalan terbentuknya pembekuan setelah 7 menit atau adanya

bekuan lunak yang dapat pecah dengan mudah (Anggraini, 2010).


b.

Tanda dan gejala


Perdarahan tidak berhenti setelah placenta lahir, dan perdarahar terjadi
secara terus menerus padahal tidak terdapat robekan jalan lahir dan tidak
ada sisa placenta, serta bekuan lunak darah cepat pecah dengan mudah.
Perdarahan hebat dengan atau tanpa komplikasi trombosis sampai keadaan
klinis

yang stabil

dan

hanya

terdeteksi

oleh

tes

laboratorium

(Prawirohardjo, 2007).

11

c.

Etiologi
Sering disebabkan oleh:

Solusio placenta

Kematian janin dalam uterus

Eklampsia

Emboli air ketuban

Penyakit darah

Kelainan pembekuan darah

Afibrinogenemia/hipofibrinogenemia (Prawirohardjo, 2007)

5. Faktor Predisposisi

1)

Perdarahan pascapersalinan dan usia ibu


Wanita yang melahirkan anak pada usia dibawah 20 tahun atau lebih dari 35

tahun merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan pascapersalinan yang dapat


mengakibatkan kematian maternal. Pada usia dibawah 20 tahun fungsi reproduksi
seorang wanita belum berkembang dengan sempurna, jalan lahir mudah robek,
kontraksi uterus masih kurang baik, rentan terjadi perdarahan. Pada usia diatas 35
tahun fungsi reproduksi seorang wanita mengalami penurunan kemungkinan
komplikasi pascapersalinan terutama perdarahan lebih besar.
2)

Perdarahan pascapersalinan dan gravid


Ibu-ibu dengan kehamilan multigravida mempunyai risiko > dibandingkan

primigravida. Pada Multigravida fungsi reproduksi mengalami penurunan sehingga


kemungkinan terjadinya perdarahan pascapersalinan menjadi lebih besar.
3)

Perdarahan pascapersalinan dan paritas


Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari perdarahan

pascapersalinan yang dapat mengakibatkan kematian maternal. Paritas satu dan


paritas tinggi (lebih dari tiga) mempunyai kejadian perdarahan lebih tinggi. Pada
paritas yang rendah (paritas satu) ketidak siapan ibu dalam menghadapi persalinan

12

yang pertama adalah faktor penyebab ketidakmampuan ibu hamil dalam menangani
komplikasi yang terjadi selama kehamilan, persalinan dan nifas.
4)

Perdarahan pascapersalinan dan kadar hemoglobin


Anemia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan penurunan nilai

hemoglobin dibawah nilai normal. Perdarahan pascapersalinan mengakibatkan


hilangnya darah sebanyak 500 ml atau lebih, jika hal ini terus dibiarkan tanpa adanya
penanganan yang tepat dan akurat mengakibatkan turunnya kadar hemoglobin
dibawah nilai normal.

6.

Patofisiologi
Pada dasarnya perdarahan terjadi karena pembuluh darah didalam uterus

masih terbuka. Pelepasan plasenta memutuskan pembuluh darah dalam stratum


spongiosum sehingga sinus-sinus maternalis ditempat insersinya plasenta terbuka.
Pada waktu uterus berkontraksi, pembuluh darah yang terbuka tersebut akan
menutup, kemudian pembuluh darah tersumbat oleh bekuan darah sehingga
perdarahan akan terhenti. Adanya gangguan retraksi dan kontraksi otot uterus, akan
menghambat penutupan pembuluh darah dan menyebabkan perdarahan yang banyak.
Keadaan demikian menjadi faktor utama penyebab perdarahan paska persalinan.
Perlukaan yang luas akan menambah perdarahan seperti robekan servix, vagina dan
perinium.

13

7.

Manifestasi Klinis
Untuk memperkirakan kemungkinan penyebab perdarahan paska persalinan

sehingga pengelolaannya tepat, perlu dibenahi gejala dan tanda sebagai berikut :

Gejala dan tanda


Uterus tidak berkontraksi
dan lembek
Perdarahan segera setelah
bayi lahir

Penyulit
Syok

Diagnosa
penyebab
Atonia uteri

Bekuan darah pada


serviks atau pada posisi
terlentang akan
menghambat aliran darah
keluar

Darah segar mengalir


segera setelah anak lahir
Uterus berkontraksi dan

Pucat
Lemah

Robekan
jalan lahir

Mengigil

keras
Plasenta lengkap
Plasenta belum lahir
setelah 30 menit
Perdarahan segera, uterus

Tali pusat putus


Inversio uteri

Retensio
plasenta

Perdarahan lanjutan

berkontraksi dan keras


Plasenta atau sebagian
selaput tidak lengkap
Perdarahan segera
Uterus tidak teraba
Lumen vagina terisi massa

Uterus berkontraksi
tetapi tinggi fundus uteri

Tertinggalnya
sebagian plasenta

tidak berkurang
Neurogenik syok, pucat

Inversio uteri

dan limbung

14

8.
1.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan umum
a. Ketahui secara pasti kondisi ibu bersalin sejak awal
b. Pimpin persalinan dengan mengacu pada persalinan bersih dan aman
c. Selalu siapkan keperluan tindakan gawat darurat
d. Segera lakukan penilaian klinik dan upaya pertolongan apabila dihadapkan
dengan masalah dan komplikasi
e. Atasi syok jika terjadi syok
f. Pastikan kontraksi berlangsung baik ( keluarkan bekuan darah, lakukan
pijatan uterus, beri uterotonika 10 IV dilanjutkan infus 20 ml dalam 500 cc
NS/RL dengan tetesan 40 tetes/menit ).
g. Pastikan plasenta telah lahir lengkap dan eksplorasi kemungkinan robekan
jalan lahir
h. Bila perdarahan tidak berlangsung, lakukan uji bekuan darah.
i. Pasang kateter tetap dan pantau cairan keluar masuk
j. Lakukan observasi ketat pada 2 jam pertama paska persalinan dan lanjutkan
pemantauan terjadwal hingga 4 jam berikutnya.

15

BAB III
Konsep Asuhan Keperawatan HPP

1.

Pengkajian

Identitas klien : Sering terjadi pada ibu usia dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun

2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama
Keluhan utama yang sering didapatkan dari klien dengan perdarahan post
partum adalah perdarahan dari jalan lahir, badan lemah, limbung, keluar
keringat dingin, kesulitan nafas, pusing, pandangan berkunang-kunang.
b. Riwayat kehamilan dan persalinan
Riwayat hipertensi dalam kehamilan, preeklamsi / eklamsia, bayi besar,
gamelli, hidroamnion, grandmulti gravida, primimuda, anemia, perdarahan
saat hamil. Persalinan dengan tindakan, robekan jalan lahir, partus
precipitatus, partus lama/kasep, chorioamnionitis, induksi persalinan,
manipulasi kala II dan III.
c. Riwayat kesehatan :
Kelainan darah dan hipertensi
d. Pengkajian fisik :
Tanda vital :
Tekanan darah

: Normal/turun ( kurang dari 90-100 mmHg)

Nadi

: Normal/meningkat ( 100-120 x/menit)

Pernafasan

: Normal/ meningkat ( 28-34x/menit )

Suhu

: Normal/ meningkat

Kesadaran

: Normal / turun

Fundus uteri/abdomen : lembek/keras, subinvolusi


Kulit : Dingin, berkeringat, kering, hangat, pucat, capilary refil memanjang
Pervaginam : Keluar darah, robekan, lochea (jumlah dan jenis)

16

Kandung kemih : distensi, produksi urin menurun/berkuran.

3. Diagnosa Keperawatan
1. Kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan vaskular
yang berlebihan.
2. Perubahan perfusi jaringan yang berhubungan dengan hipovolemia.
3. Ansietas berhubungan dengan perubahan keadaan atau ancaman kematian

4. Rencana tindakan keperawatan


1)

Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan vaskular yang

berlebihan
Tujuan : Mencegah disfungsional bleeding dan memperbaiki volume cairan
INTERVENSI
RASIONAL
Kaji dan catat jumlah, tipe, dan sisi Perkirakan kehilangan darah, arterial
perdarahan. Timbang dan hitung
versus vena, dan adanya bekuanpembalut. Simpan bekuan dan
bekuan membantu membuat diagnosis
jaringan untuk dievaluasi oleh dokter.
banding serta menentukan kebutuhan
penggantian (satu gram peningkatan
berat pembalut sama dengan kurang
lebih 1 ml kehilangan darah).
Kaji lokasi uterus dan derajat Derajat kontraktilitas uterus membantu
kontraktilitas uterus. Dengan masase,
dalam diagnosis banding. Peningkatan
penonjolan uterus dengan satu tangan
kontraktilitas
miometrium
dapat
sambil menempatkan tangan kedua
menurunkan
kehilangan
darah.
tepat di atas simfisis pubis.
Penempatan satu tangan di atas simfisis
pubis mencegah kemungkinan inversi
uterus selama masase.
Perhatikan hipotensi dan takikardi,
perlambatan pengisian kapiler atau
sianosis dasar buku, serta membran
mukosa dan bibir.

Tanda-tanda menunjukkan hipovolemik


dan terjadinya syok. Perubahan tekanan
darah tidak dapat dideteksi sampai
volume cairan telah menurun
hingga 30-50%. Sianosis adalah tanda
akhir dan hipoksia.

Pantau masukan dan keluaran: perhatikan Bermanfaat


dalam
memperkirakan
berat jenis urine.
luas/signifikansi
kehilangan
cairan.

17

Volume
perfusi/sirkulasi
adekuat
ditunjukkan dengan haluran 3-50 mi/jam
atau lebih besar
Berikan lingkungan yang tenang dan Meningkatkan relaksasi, menurunkan
dukungan psikologis
ansietas, dan kebutuhan metabolic

2) Ketidakefektifan

perfusi jaringan yang berhubungan dengan hipovolemia,

ditandai dengan pengisian kapilari lambat, pucat, kulit dingin atau lembap,
penurunan produksi ASI
Tujuan: perfusi jaringan kembali normal.
Kriteria hasil:
TD, nadi darah arteri, Hb/Ht dalam batas normal; pengisian kapiler cepat;
fungsi hormonal normal menunjukican dengan suplai ASI adekuat untuk laktasi dan
mengalami kembali menstruasi normal.
INTERVANSI
Perhatikan Hb atau Ht sebelum dan
sesudah kehilangan darah. Kaji status
nutrisi, tinggi, dan berat badan.

RASIONAL
Nilai bandingan membantu menentukan
beratnya kehilangan darah. Status
sebelumnya dan kesehatan yang buruk
meningkatkan luasnya cedera karena
kekurangan O2.

Pantau tanda vital, catat derajat, dan Luasnya keterlibatan hipofisi dapat
durasi episode hipovolemik
dihubungkan dengan derajat dari durasi
hipotensi.
Peningkatan
frekuensi
pernapasan dapat menunjukkan upaya
untuk mengatasi asidosis metabolik.
Perhatikan tingkat kesadaran dan adanya Perubahan sensonium adalah indikator
perubahan perilaku
diri hipoksia, sianosis tanda lanjut,
mungkin tidak tampak sampai kadar
PO2 turun di bawah 50 mmHg.
Kaji warna dasar kuku mukosa mulut, Pada kompensasi vasokonstriksi
gusi, dan lidah serta perhatikan suhu pirau organ vital, sirkulasi
kulit.
pembuluh darah perifer diturunkan
mengakibatkan sianosis dan suhu
dingin.

dan
pada
yang
kulit

18

Kaji payudara setiap hari, perhatikan ada Kerusakan hipofisis anterior menurunkan
atau tidaknya laktasi dan perubahan kadar prolaktin, mengakibatkan tidak
ukuran payudara.
adanya produksi ASI, dan akhirnya
menurunkan jaringan kelenjar payudara
Membantu dalam mendiagnosis derajat
Kolaborasi
Pantau kadar pH
hipoksia jaringan atau asidosis yang
diakibatkan oleh terbentuknya asam
laktat dan metabolisme anaerobik.
Berikan terapi oksigen sesuai kebutuhan

3)

Memaksimalkan ketersediaan oksigen


untuk transpor sirkulasi ke jaringan

Ansietas berhubungan dengan perubahan keadaan atau ancaman kematian

Tujuan : Klien dapat mengungkapkan secara verbal rasa cemasnya dan mengatakan
perasaan cemas berkurang atau hilang.
INTERVENSI
Kaji respon psikologis klien terhadap
perdarahan paska persalinan
Kaji respon fisiologis klien ( takikardia,
takipnea, gemetar )
Perlakukan pasien secara kalem, empati,
serta sikap mendukung
Berikan informasi tentang perawatan dan
pengobatan
Bantu klien mengidentifikasi rasa
cemasnya
Kaji mekanisme koping yang digunakan
klien

RASIONAL
Persepsi klien mempengaruhi intensitas
cemasnya
Perubahan tanda vital menimbulkan
perubahan pada respon fisiologis
Memberikan dukungan emosi agar bisa
di kendalikan
Informasi yang akurat dapat mengurangi
cemas dan takut yang tidak diketahui
Ungkapan perasaan dapat mengurangi
cemas
Cemas yang berkepanjangan dapat
dicegah dengan mekanisme koping yang
tepat.

19

BAB IV
1. KESIMPULAN
Perdarahan post partum adalah perdarahan yang melebihi 500 ml setelah bayi
lahir. Pada praktisnya tidak perlu mengukur jumlah perdarahan sampai
sebanyak itu sebab menghentikan perdarahan lebih dini akan memberikan
prognosis lebih baik. Pada umumnya bila terdapat perdarahan yang lebih dari
normal, apalagi telah menyebabkan perubahan tanda vital (seperti kesadaran
menurun, pucat, limbung, berkeringat dingin, sesak napas, serta tensi < 90
mmHg dan nadi > 100/menit), maka penanganan harus segera dilakukan
(Prawirohardjo, 2011).
Penyebab dari perdarahan post partum adalah Atonia Uteri, Robekan Jalan
Lahir, Retensio Placenta, Rest Placenta, Robekan Servik, Robekan Uteri
(Ruptur Uteri), Inversio Uteri, Pembekuan Darah

20

DAFTAR PUSTAKA

Bobak, 2005. Perawatan Maternitas. Jakarta : EGC


Brunner & Suddart,s (1996), Textbook of Medical Surgical Nursing 2, JB.
Lippincot Company, Pholadelpia.
Cunningham. Gary F. 2006. Obstetri Williams. Ed. Vol. 1. Jakarta : EGC
Klein. S (1997), A Book Midwives; The Hesperien Foundation, Berkeley, CA.
Lowdermilk. Perry. Bobak (1995), Maternity Nuring , Fifth Edition, Mosby Year
Book, Philadelpia.
Prawirohardjo, Sarwono, 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBP-SP
Prawirohardjo, Sarwono, 2011. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBP-SP
Prawirohardjo Sarwono ; EdiWiknjosastro H (1997), Ilmu Kandungan,Gramedia,
Jakarta.
Rukiyah, Al Yeyeh, 2010. Asuhan Kebidanan IV (Patologi). Jakarta : Trans Info
Media
Saifudin, AB. 2005. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawihardjo
RSUD Dr. Soetomo (2001), Perawatan Kegawat daruratan Pada Ibu Hamil,FK.
UNAIR, Surabaya
Varney, Helen. 2004. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta : ECG
Varney, Helen, 2008. Buku Ajar Asuhan Kebidanan, Edisi Kedelapan.

21