Anda di halaman 1dari 10

Membangun Indonesia dari Perbatasan

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kewarganegaraan

Disusun oleh:
Alfonsus Andaru Widya Svara
12/331570/PA/14771

UNIVERSITAS GADJAH MADA


2014

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Negara Indonesia adalah negara yang sangat besar. Sudah berulang kali kita mendengar
folklor yang sangat dibanggakan tentang sebutan Nusantara sebagai pulau di antara lautan
yang sangat luas. Kita mesti ingat juga bagaimana para pelopor negara ini memperjuangkan
wilayah yang disebut sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Wilayah yang sangat luas
ini menjadi seperti pedang bermata dua. Di satu sisi Indonesia menjadi kaya. Sudah tak
terhitung banyaknya penelitian dan riset yang menunjukkan bagaimana Indonesia kaya akan
sumber daya mulai dari minyak bumi, gas alam, ikan, tumbuhan, sampai sumber daya
manusia. Tapi ada sisi lain yang masih menjadi kendala Indonesia sampai 69 tahun negara ini
berdiri: pengelolaan sumber daya. Pengelolaan sumber daya ini menjadi krusial karena tanpa
pengelolaan yang tepat, Indonesia tidak akan mampu menjadi negara yang maju. Dan luasnya
negara ini menjadi sebuah tantangan besar yang belum terselesaikan. Kunci untuk melewati
tantangan ini adalah kebijakan yang tepat. Kota-kota besar mungkin sudah berkembang
sesuai (atau bahkan melewati) target yang dicanangkan. Tetapi tidak demikian di banyak
wilayah lain, seperti di pedesaan, luar pulau Jawa, sampai perbatasan.

Sudah lazim kita mendengar berita tentang tidak meratanya distribusi pembangunan antara
ibukota dan kota-kota besar dengan wilayah di luar Jawa-Bali. Jangankan merata, adil saja
tidak. Kita tahu bagaimana wilayah-wilayah industri dan wisata yang sudah terkenal terus
melaju pembangunannya. Sekolah-sekolah berlabel internasional tumbuh di sana,
infrastruktur modern dibangun dengan cepat, dan pasokan bahan pokok mengalir seolah
tanpa henti. Cukup banyak penulis dengar dari saudara dan teman mengenai ukuran prestasi
kerja ikatan dinasnya dimulai dari wilayah antah berantah lalu mendekat ke Jawa.
Pandangan ini sudah melekat bertahun-tahun. Pandangan inilah yang mengantar kita pada
kenyataan yang menunjukkan bahwa hampir separuh warga negara Indonesia tinggal di pulau
Jawa, juga fakta yang menunjukkan betapa ibukota Jakarta selalu menjadi sasaran para
perantau yang membuat kepadatan penduduknya sangat tinggi sampai meluber ke kota-kota
penyangga seperti Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Akan tetapi, Indonesia bukan hanya Jawa,
Bali, dan sebagian Sumatera. Ada juga Ternate, Nias, juga yang tidak pernah luput dari
perhatian tetapi kerap diabaikan: daerah perbatasan.

Persoalan perbatasan bukan hanya sekali dua kali muncul ke permukaan. Banyak sekali
program televisi baik tanah air maupun mancanegara meliput kisah perbatasan. Akan tetapi
ini biasanya hanya terjadi sekali setahun, yaitu menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia.
Setelah itu, tidak ada lagi pemberitaan, kecuali ada hal spesial seperti negara tetangga yang
berusaha mencaplok perbatasan kita. Permasalahan perbatasan lebih dari sekadar penyedap
peringatan kemerdekaan, atau unjuk kemegahan negara. Lebih dari itu, negara yang maju
mesti memajukan seluruh elemen negaranya, termasuk perbatasan. Seperti tujuan negara
Indonesia yang melindungi seluruh tumpah darah Indonesia, warga negara Indonesia di
perbatasan mesti dilindungi juga.

Rumusan Masalah
Dalam makalah ini, penulis menyusun rumusan masalah sebagai berikut:
1. Mengapa pembangunan perbatasan menjadi hal yang penting?
2. Apa saja kendala pembangunan perbatasan Indonesia?
3. Bagaimana membangun perbatasan Indonesia berbasis kewarganegaraan?

Tujuan Penulisan
Makalah ini ditulis dengan tujuan sebagai berikut.
1. Menganalisis urgensi pembangunan perbatasan.
2. Menganalisis kendala pembangunan perbatasan Indonesia.
3. Menganalisis cara membangun perbatasan Indonesia berbasis kewarganegaraan.

Batasan Masalah
Makalah

ini

hanya

akan

mengulas

perbatasan-perbatasan

Indonesia

dari

sisi

kewarganegaraan. Penulis membatasi fokus penulisan pada warga negara Indonesia dan
pembangunan

dari

sisi

ekonomi,

sosial,

keamanan

dan

kesejahteraan.

PEMBAHASAN
Urgensi Pembangunan Perbatasan Indonesia
Jika kita membangun rumah tentu saja kita ingin seluruh rumah kita tampak indah bahkan
mulai dari jalan di depan rumah. Selain keindahan yang kita perhatikan, ada satu faktor lagi
yang selalu kita perhatikan: keamanan. Keamanan ini bisa berarti banyak hal: aman dari
pencuri, aman dari bencana alam, dan segala macam indikator keamanan yang dibutuhkan
sebuah rumah. Banyak hal yang bisa dilakukan, membangun tembok yang kokoh, memasang
kamera pengawas, dan semacamnya. Semua demi satu tujuan: agar rumah tidak ditembus
pencuri. Begitu juga dengan membangun negara.

Membangun negara bisa kita andaikan seperti membangun rumah. Kita ingin agar negara ini
kuat, kokoh, dan mampu bertahan dari ancaman. Perbatasan negara bisa diandaikan sebagai
pagar rumah. Pagar itu menjadi pembatas dan juga pengaman kita. Selayaknya pengaman,
mestinya perbatasan mampu memberikan rasa aman bagi penghuninya, yaitu warga negara.
Perbatasan yang dibangun dengan baik akan membawa keamanan juga ke bagian tengah
negara, serta bisa juga memberi manfaat bahkan warga negara lain yang berbatasan dengan
negara. Perbatasan adalah penjaga kedaulatan terdepan wilayah negara.

Perbatasan umumnya terletak cukup jauh dari ibukota negara atau pusat bisnisnya (Amerika
Serikat contohnya yang terkenal terpisah antara pusat pemerintahan di Washington DC dan
pusat bisnis di New York). Hal ini dikhawatirkan menimbulkan kesenjangan dalam berbagai
aspek mulai dari ilmu pengetahuan sampai sosial-ekonomi. Kita sudah mengetahui bersama
di Indonesia perbedaan antara daerah bisnis dan perbatasannya sangat besar terlihat dari citra
malam hari yang menunjukkan nyala lampu di daerah Jawa jauh lebih terang daripada
katakanlah Maluku. Jauhnya perbatasan dari pusat negara, dipadukan dengan kedekatan
dengan daerah negara lain, apalagi yang lebih maju perbatasannya, memicu kecemburuan
sosial. Lebih jauh lagi, bisa saja warga negara perbatasan lebih memilih pindah ke negara
sebelah yang lebih makmur, seperti yang diancamkan beberapa warga Mahakam Ulu. Inilah
yang jadi faktor lain penegas pentingnya pembangunan perbatasan: memastikan seluruh
warga negara memperoleh kesejahteraan.

Dalam konteks Indonesia, dua faktor ini menjadi penting. Sebagai penjaga terdepan,
selayaknya perbatasan memiliki bekal yang cukup untuk menjaga negara dari ancaman luar.
Masih segar ingatan masyarakat tentang sengketa Sipadan dan Ligitan yang akhirnya jatuh ke
tangan Malaysia. Indonesia dinilai tidak melakukan langkah apapun dalam mengelola kedua
pulau tersebut, sedangkan Malaysia sudah menerbitkan peraturan konservasi alam di sana
sejak 1930 ketika masih dijajah Inggris dan operasi mercusuar sejak 1960an. Hal ini tentu
memengaruhi kedaulatan negara secara keseluruhan. Bukan tidak mungkin ancaman pindah
yang dilancarkan beberapa warga Mahakam Ulu diikuti dengan langkah nyata karena
pemerintah Malaysia justru lebih peduli pada mereka dibandingkan Indonesia selama ini.
Tidak cuma Malaysia saja, kita juga perlu ingat bahwa Indonesia berbatasan dengan banyak
sekali negara. Ada Papua Nugini, Timor Leste, Singapura, Filipina, India, Australia, Republik
Palau, Thailand, juga Vietnam yang menjadi tetangga kita di wilayah darat ataupun laut.
Menariknya, wilayah yang jadi objek sengketa di perbatasan mengandung nilai strategis,
misalnya Natuna. Wilayah yang sempat jadi berita karena muncul dalam peta Tiongkok ini
memiliki salah satu sumber gas alam terbesar di Asia. Nilai strategis itu pula yang makin
menekankan pembangunan perbatasan di Indonesia.

Kendala Pembangunan Perbatasan Indonesia


Kebijakan yang Tidak Tepat Sasaran
Pembangunan perbatasan memang bukan pekerjaan yang bisa selesai dalam semalam. Ada
kendala yang dialami untuk mewujudkan pembangunan perbatasan Indonesia. Sony Sudiar
dalam makalahnya Kebijakan Pembangunan Perbatasan dan Kesejahteraan Masyarakat di
Wilayah Perbatasan Pulau Sebatik, Indonesia menganalisis kendala di wilayah perbatasan
Kalimantan Timur adalah sebagai berikut:

Garis perbatasan wilayah negara kabur akibat rusaknya patok-patok pembatas.

Kebijakan yang tidak sinkron antara instansi pemerintah baik pusat maupun daerah
menghasilkan tumpang tindih kebijakan yang kontraproduktif.

Kesenjangan ekonomi dengan kawasan perbatasan negara lain yaitu Serawak dan
Sabah.

Sarana dan prasarana dasar yang terbatas mengisolasi warga dari daerah sekitarnya.

Komitmen pembangunan yang rendah dari masyarakat, pemerintah pusat, dan


pemerintah daerah.

Tingkat kesehatan, pendidikan dan keterampilan rendah.

Kemiskinan akibat terisolasi dari wilayah Indonesia di sekitarnya memicu


penyeberangan ke negara tetangga untuk memperbaiki ekonomi.

Produk-produk Kalimantan Timur diklaim sebagai produk Malaysia.

Pengelolaan sumber daya alam lintas negara belum terintegrasi memicu perbedaan
penggunaan lahan.

Gangguan keamanan dan politis terkait pengelolaan sumber daya lintas negara.

Pemekaran wilayah yang tidak didukung kesiapan sarana dan prasarana.

Kendala yang dikemukakan oleh Sony Sudiar ini sebagian besar dialami oleh masyarakat
perbatasan pada umumnya. Ketimpangan yang serupa bisa kita lihat di negara tetangga yang
lepas dari Republik Indonesia: Timor Leste. Pos perbatasan Timor Leste dengan Indonesia
bahkan jauh lebih baik daripada pos milik Indonesia. Hal ini sangat memprihatinkan, apalagi
ditambah kenyataan bahwa Indonesia penah menjadi induk dari negara ini.

Kendala ini bukan tidak disadari oleh Pemerintah. Badan Nasional Pengelola Perbatasan
(BNPP) sudah dibentuk untuk mengatasi persoalan di perbatasan termasuk untuk membangun
wilayah perbatasan sebagaimana mestinya. Tapi BNPP juga mengakui bahwa pembangunan
perbatasan memiliki kendala yang menjadikannya lambat. Setidaknya ada 4 (empat) kendala
yang disampaikan Pemerintah melalui BNPP dan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo:

Izin yang lambat terbit.

Lokasi perbatasan umumnya dekat dengan hutan.

Perbatasan jauh dari ibukota menyebabkan kontraktor enggan.

Alokasi dana yang kurang dalam Dana Alokasi Khusus (DAK) Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara

BNPP juga menyampaikan fakta bahwa alokasi dana yang sudah kurang ini masih juga
berkurang karena penyaluran anggaran hanya sampai ke kabupaten/kota perbatasan, tidak
sampai kecamatan tempat perbatasan. Oleh pemerintah daerah setempat, penyaluran
anggaran dilakukan melalui musyawarah rencana pembangunan. Dalam musyawarah ini
usulan daerah perbatasan selalu kalah dengan daerah yang lebih dekat dengan ibukota
kabupaten/kota, sehingga alokasi yang seharusnya untuk daerah perbatasan menjadi semakin
berkurang. Kendala ini masih ditambah persoalan geografis seperti jarak tempuh dan
infrastruktur yang tidak memadai.

Kendala-kendala di atas menunjukkan lemahnya posisi Indonesia di perbatasan. Seperti


sudah disebutkan sebelumnya, daerah perbatasan sebetulnya memiliki potensi yang sangat
besar. Namun kurangnya keseriusan seluruh pihak dalam mengeksplorasi potensi yang ada di
sana demi kemajuan warga negara di perbatasan. Kendala di atas baru meliputi kendala
kebijakan. Kita juga perlu melihat konteks masyarakat Indonesia.

Paradigma Masyarakat Indonesia dan Kondisi Masyarakat Sekitar


Problema kebijakan perbatasan tidak lahir begitu saja. Ada latar belakang masyarakat yang
memengaruhi lahirnya kebijakan yang menyebabkan pembangunan perbatasan Indonesia,
salah satunya paradigma masyarakat Indonesia tentang kesejahteraan. Latar belakang
makalah ini telah menyebutkan bahwa ada sebuah paradigma yang keliru tentang
kesejahteraan, terutama karir. Ketimpangan pembangunan yang menahun mengakibatkan
kontras sosial ekonomi yang besar. Kota-kota besar, terutama di Jawa dan Bali terus
berkembang secara cepat, menggoda masyarakat di luar kedua pulau ini untuk merantau demi
nasib yang lebih baik. Hal ini juga dilatarbelakangi oleh kebijakan Pemerintah yang tidak
berimbang bertahun-tahun. Pertumbuhan ekonomi yang pesat di Jawa-Bali mendorong
perpindahan masyarakat secara masif, sementara warga Jawa-Bali yang sudah tinggal jauh
lebih dulu (untuk tidak mengatakan asli) sudah kadung nyaman ada di wilayah ini.
Diperkirakan pada 2035, 54,7 persen warga penduduk Indonesia terkonsentrasi di pulau
Jawa, yang wilayahnya tidak sampai sepertiga negara ini.

Apakah paradigma karir berpuncak di Jawa-Bali salah? Tidak sepenuhnya demikian.


Paradigma ini benar karena mayoritas puncak karir ada di Jawa, terutama karena pusat-pusat
perusahaan juga instansi pemerintah terletak di Jawa, khususnya Jakarta. Tapi Indonesia
bukan hanya Jawa-Bali, tetapi ada Kalimantan, Natuna, dan wilayah-wilayah lain. Paradigma
ini saling bertaut dengan kebijakan sehingga daerah di luar Jawa-Bali semakin tertinggal.

Negara bukan tidak abai. Kita tentu ingat sebuah program bernama transmigrasi yang
sekarang tidak terlalu terdengar gaungnya. Kebijakan ini berusaha mendorong warga negara
di Jawa untuk berpindah ke wilayah luar untuk tinggal di sana dan mengembangkan wilayah
tersebut. Namun hal ini tidak dipadukan dengan jaminan infrastruktur dan birokrasi sehingga
banyak keluhan yang disampaikan. Ada juga kebijakan pemerintah untuk menyalurkan

tenaga profesi ke daerah-daerah tertinggal juga perbatasan untuk memajukan daerah, tetapi
hal yang sama terjadi. Para tenaga kerja pun protes.

Di sisi lain, masyarakat perbatasan terus ditinggal, dengan perhatian seadanya yang baru
meningkat ketika ada konflik, sengketa, kunjungan pejabat, atau bencana alam. Masyarakat
perbatasan tidak menuntut pembangunan mall, mereka hanya menuntut infrastruktur yang
baik, harga bahan pokok yang terjangkau, pendidikan yang baik. Mereka tidak
mendapatkannya dari Indonesia, sayangnya. Semua hal yang dibutuhkan masyarakat
perbatasan tersedia di negara tetangga. Dan kedekatan sosio-kultural membuat warga
perbatasan tidak ragu untuk melintas negara untuk mengupayakan kebutuhan mereka.
Nyatanya, negara sebelah pun lebih peduli, apapun motifnya, terhadap warga Indonesia di
perbatasan. Bukan mereka tidak nasionalis, tetapi mereka membutuhkan, dan harus
diupayakan.

Membangun Perbatasan Indonesia Berbasis Kewarganegaraan


Ada sebuah fakta bahwa beberapa ratus warga negara Indonesia di perbatasan dengan
Malaysia memiliki Kartu Tanda Penduduk Malaysia. KTP Malaysia memudahkan mereka
untuk mengakses kebutuhan pokok di sana yang lebih murah dan lebih berkualitas daripada
produk dalam negeri. Fakta ini menunjukkan betapa mendesaknya pembangunan perbatasan
Indonesia karena problem ini sudah menyangkut kewarganegaraan. Indonesia menganut
kewarganegaraan tunggal dengan perlakuan khusus untuk anak di bawah 18 tahun yang
kelahirannya meyebabkan munculnya kewarganegaraan ganda serta orang yang mendapatkan
kewarganegaraan karena pemberian seperti Presiden Indonesia ketiga, B.J. Habibie. KTP
Malaysia adalah bukti lemahnya Negara dalam merawat, melindungi, dan mengawasi
warganya. Untuk itu ada beberapa langkah yang diusulkan untuk membangun perbatasan.

Kebijakan Tepat Sasaran


Ulasan tentang penyaluran anggaran menunjukkan pembentukan kebijakan yang tidak tepat
sasaran. Kebijakan pemerintah ke depan haruslah benar-benar tepat pada lokasi yang tepat.
Daerah perbatasan harus menjadi subjek, bukan objek kebijakan. Penempatan sudut pandang
subjek akan memberikan pandangan lebih rinci tentang kebutuhan daerah. Selain itu, perlu
persiapan yang matang namun cepat karena sebetulnya problem perbatasan sangat mendesak.
Pendidikan, tenaga kerja, bahan pokok, dan infrastruktur menjadi poin-poin utama.

Perubahan Paradigma Kebijakan Pembangunan


Sudah cukup pembangunan di kawasan Jawa-Bali. Negara maju harus mampu memajukan
seluruh wilayahnya terutama perbatasan. Maka kebijakan-kebijakan sebaiknya lebih
diprioritaskan pada pembangunan kawasan perbatasan, termasuk dalam hal penyaluran
tenaga kerja dan tenaga pendidik. Hal ini juga mesti didukung oleh kebijakan yang ramah
investor, seperti tax holiday, atau insentif pajak, pengurusan izin yang tidak berbelit dan
cepat, serta infrastruktur yang mendukung.

SIMPULAN
Berdasarkan paparan pada bagian sebelumnya, penulis mengambil beberapa simpulan:
1. Pembangunan kawasan perbatasan Indonesia sangat penting mengingat posisinya
yang strategis terkait potensi sumber daya juga kondisi masyarakat sekitar.
2. Kendala pembangunan perbatasan meliputi kebijakan yang tidak tepat sasarna serta
tidak matang dan juga paradigma masyarakat yang memandang pusat pembangunan
karir dan kesejahteraan ada di Jawa-Bali.
3. Perlu dirumuskan pembangunan perbatasan berbasis kewarganegaraan yang
dijabarkan dalam kebijakan yang tepat sasaran dengan persiapan yang matang, juga
perubahan paradigma kebijakan pembangunan di Indonesia.

REFERENSI
http://karimansyahputra.wordpress.com/2014/09/29/keadilan/
http://news.metrotvnews.com/read/2014/11/09/316102/kelaparan-warga-perbatasan-ancampindah-kewarganegaraan
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Natuna#Potensi
http://www.dw.de/indonesia-dan-filipina-akhiri-kisruh-perbatasan/a-17655530
http://sipildankewarganegaraan.wordpress.com/2013/02/11/pembangunan-infrastruktur-didaerah-perbatasan-kalimantan-malaysia/
http://kependudukan.lipi.go.id/id/kajian-kependudukan/dinamika-kependudukan/125menuju-politik-kependudukan-yang-berbasis-kewarganegaraan-dan-keindonesiaan
http://www.antarababel.com/berita/14899/mengapa-warga-perbatasan-ingin-pindahkewarganegaraan
http://economy.okezone.com/read/2014/05/23/20/989007/pos-perbatasan-indonesia-kalahdari-timor-leste
http://www.tempo.co/read/news/2014/11/14/078621984/Pembangunan-di-PerbatasanLambat-Ini-Penyebabnya
http://www.tempo.co/read/news/2014/02/07/092552083/Sebanyak-547-Persen-PendudukTerpusat-di-Jawa
http://www.antarakaltim.com/print/7501/bnpp--pembangunan-infrastruktur-di-perbatasanalami-masalah
Sudiar, Sony. Kebijakan Pembangunan Perbatasan dan Kesejahteraan Masyarakat diWilayah
Perbatasan Pulau Sebatik, Indonesia