Anda di halaman 1dari 13

Mahfuz Idafi

LAPORAN PRAKTIKUM
LABORATORIUM LINGKUNGAN
PERCOBAAN IV
BESI

Oleh:
NAMA : MAHFUZ IDAFI
NIM : H1E107017
ASISTEN : NURHIKMAH
KELOMPOK : 6 (Enam)

PROGRAM STUDI LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2009

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

LAPORAN PRAKTIKUM
PERCOBAAN IV
BESI

I. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan percobaan praktikum ini adalah untuk mengukur kandungan besi
pada air.

II . TINJAUAN PUSTAKA
Air konsumsi adalah air yang memenuhi persyaratan sebagaimana
ditetapkan Kepmenkes RI No.907/MENKES/SK/VII/2002 tanggal 29 Juli 2002
tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum yaitu kadar Fe sebesar
0,3 mg/l. Secara kualitas, ditemukan beberapa penyimpangan terhadap parameter
kualitas air bersih, baik kualitas fisik, kimia, biologi, ataupun radioaktif.
Penurunan kualitas air diantaranya diakibatkan oleh adanya kandungan besi yang
sudah ada pada tanah karena lapisan-lapisan tanah yang dilewati air mengandung
unsur-unsur kimia tertentu, salah satunya adalah persenyawaan besi (Poerwadio,
2004).
Besi merupakan salah satu unsur pokok alamiah dalam kerak bumi.
Keberadaan besi dalam air tanah biasanya berhubungan dengan pelarutan batuan
dan mineral terutama oksida, sulfida karbonat, dan silikat yang mengandung
logam-logam tersebut. Besi adalah unsur dalam jadual berkala yang mempunyai
simbol Fe dan nombor atom 26. Besi adalah kumpulan 8 dan kala (period) 4
logam (Poerwadio, 2004).
Tingginya kadar Fe dapat disebabkan tipe/jenis tanah dan proses
biogeokimia di dalamnya. Oleh karena itu, pada lingkungan mangrove, tingginya
kadar Fe tidak selalu identik dengan pencemaran lingkungan yang disebabkan
oleh prosesproses antropogenik. Besi biasanya ditemukan di air dalam bentuk
teroksidasi dan tersebar luas (terlarut). Besi juga terdapat dalam pigmen
pernafasan dan dibutuhkan untuk perpindahan elektron pada hewan maupun

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

tumbuhan. Besi juga mengaktifkan beberapa proses oksidasi dan penting dalam
sintesis klorofil (Setyawan, 2004)
Besi (Fe) terdapat pada pigmen pernafasan dan dibutuhkan dalam proses
perpindahan elektron, baik dalam tubuh hewan maupun tanaman. Namun bila Fe
berikatan denganH2S pada kondisi anaerob di sedimen akan menghasilkan pirit
yang diperkirakan menurunkan pH dan potensial redoks sehingga dapat bersifat
toksik industri. Kegunaan besi yang paling penting adalah pembuatan baja (alloy).
Besi juga terkandung di dalam air. Meski jumlahnya sangat sedikit, tetapi apabila
kadar besi dalam air melebihi 1 ppm maka dapat menyebabkan racun (Hasanah,
2006)
Fe berada dalam tanah dan batuan sebagai ferioksida (Fe 2O3) dan
ferihidroksida (Fe(OH)3). Dalam air besi berbentuk ferobikarbonat (Fe(HCO3)2),
ferohidroksida(Fe(OH)2), ferosulfat (FeSO4) dan organik komplek. Air tanah
megandung besi terlarut berbentuk ferro (Fe2+). Jika air tanah dipompakan keluar
dan kontak dengan udara (oksigen) maka besi (Fe2+) akan teroksidasi menjadi
ferihidroksida (Fe(OH)3). Ferihidroksida dapat mengendap dan berwarna kuning
kecoklatan. Hal ini dapat menodai peralatan porselen dan cucian. Bakteri Besi
(Crenothrix dan Gallionella) memanfaatkan besi fero (Fe2+) sebagai sumber
energi untuk pertumbuhannya dan mengendapkan ferrihidroksida. Pertumbuhan
bakteri besi yang terlalu cepat (karena adanya besi ferro) menyebabkan diameter
pipa berkurang dan lama kelamaan pipa akan tersumbat. Air tanah yang
mengandung CO2 tinggi dan O2 yag terlarut sedikit, dapat mempercepat proses
pelarutan besi (dari bentuk tidak terlarut menjadi terlarut). Sedangkan air tanah
yang alkalinitasnya tinggi, biasanya memiliki konsentrasi besi rendah, karena besi
teroksidasi dan mengendap pada pH tinggi. Air tanah yang mengandung besi dan
organik yang tinggi akan membentuk ikatan kompleks yang sulit mengendap
dengan aerasi. Kandungan besi yang tinggi merugikan, karena dapat
menyebabkan air teh menjadi hitam, sayuran yang direbus berwarna gelap,
menimbulkan rasa besi/logam, astringent atau obat, dan merugikan jika dipakai
dalam produksi (Syahreza, 2006).
Besi adalah salah satu elemen yang dapat ditemui hampir pada setiap
tempat di bumi, pada semua lapisan geologis dan semua badan air. Pada

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

umumnya besi yang ada di dalam air dapat bersifat terlarut sebagai Fe 2+ atau Fe3+.
Kandungan ion Fe (Fe2+,Fe3+) pada air sumur bor berkisar antara 5–7 mg/L.
Tingginya kandungan Fe (Fe2+,Fe3+) ini berhubungan dengan keadaan struktur
tanah. Struktur tanah dibagian atas merupakan tanah gambut, selanjutnya berupa
lempung gambut dan bagian dalam merupakan campuran lempung gambut
dengan sedikit pasir. Besi dalam air berbentuk ion bervalensi dua (Fe2+) dan
bervalensi tiga (Fe3+). Dalam bentuk ikatan dapat berupa Fe2O3, Fe(OH)2, Fe(OH)3
atau FeSO4 tergantung dari unsur lain yang mengikatnya. Dinyatakan pula bahwa
besi dalam air adalah bersumber dari dalam tanah sendiri di sampng dapat pula
berasal dari sumber lain, diantaranya dari larutnya pipa besi, reservoir air dari besi
atau endapan – endapan buangan industri (Ronquillo, 2009).
Adapun besi terlarut yang berasal dari pipa atau tangki – tangki besi
adalah akibat dari beberapa kodisi, di antaranya: akibat pengaruh pH yang rendah
(bersifat asam) dapat melarutkan logam besi, pengaruh akibat adanya CO2 agresif
yang menyebabkan larutnya logam besi, pengaruh banyaknya O2 yang terlarut
dalam air yang dapat pula, pengaruh tingginya temperature air akan melarutkan
besi-besi dalam air, kuatnya daya hantar listrik akan melarutkan besi, dan adanya
bakteri besi dalam air akan memakan besi (Ronquillo, 2009).
Apabila kosentrasi besi terlarut dalam air melebihi batas tersebut akan
menyebabkan berbagai masalah, diantaranya :
1. Gangguan teknis
Endapan Fe (OH) bersifat korosif terhadap pipa dan akan
mengendap pada saluran pipa, sehingga mengakibatkan pembuntuan dan
efek-efek yang dapat merugikan seperti Mengotori bak yang terbuat dari
seng. Mengotori wastafel dan kloset.
2. Gangguan fisik
Gangguan fisik yang ditimbulkan oleh adanya besi terlarut dalam
air adalah timbulnya warna, bau, rasa. Air akan terasa tidak enak bila
konsentrasi besi terlarutnya > 1,0 mg/l.
3. Gangguan kesehatan
Senyawa besi dalam jumlah kecil di dalam tubuh manusia
berfungsi sebagai pembentuk sel-sel darah merah, dimana tubuh

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

memerlukan 7-35 mg/hari yang sebagian diperoleh dari air. Tetapi zat Fe
yang melebihi dosis yang diperlukan oleh tubuh dapat menimbulkan
masalah kesehatan. Hal ini dikarenakan tubuh manusia tidak dapat
mengsekresi Fe, sehingga bagi mereka yang sering mendapat tranfusi
darah warna kulitnya menjadi hitam karena akumulasi Fe. Air minum yang
mengandung besi cenderung menimbulkan rasa mual apabila dikonsumsi.
Selain itu dalam dosis besar dapat merusak dinding usus. Kematian sering
kali disebabkan oleh rusaknya dinding usus ini. Kadar Fe yang lebih dari 1
mg/l akan menyebabkan terjadinya iritasi pada mata dan kulit. Apabila
kelarutan besi dalam air melebihi 10 mg/l akan menyebabkan air berbau
seperti telur busuk (Ronquillo, 2009).
Pada Hemokromatesis primer besi yang diserap dan disimpan dalam
jumlah yang berlebihan di dalam tubuh. Feritin berada dalam keadaan jenuh akan
besi sehingga kelebihan mineral ini akan disimpan dalam bentuk kompleks
dengan mineral lain yaitu hemosiderin. Akibatnya terjadilah sirosis hati dan
kerusakan pankreas sehingga menimbulkan diabetes. Hemokromatis sekunder
terjadi karena transfusi yang berulang-ulang. Dalam keadaan ini besi masuk ke
dalam tubuh sebagai hemoglobin dari darah yang ditransfusikan dan kelebihan
besi ini tidek disekresikan (Ronquillo, 2009).
Hal-Hal yang Mempengaruhi Kelarutan Fe dalam Air:
1. Kedalaman
Air hujan yang turun jatuh ke tanah dan mengalami infiltrasi
masuk ke dalam tanah yang mengandung FeO akan bereaksi dengan H2O
dan CO2 dalam tanah dan membentuk Fe (HCO3)2 dimana semakin dalam
air yang meresap ke dalam tanah semakin tinggi juga kelarutan besi
karbonat dalam air tersebut.
2. pH
pH air akan terpengaruh terhadap kesadahan kadar besi dalam air,
apabila pH air rendah akan berakibat terjadinya proses korosif sehingga
menyebabkan larutnya besi dan logam lainnya dalam air, pH yang rendah
kurang dari 7 dapat melarutkan logam. Dalam keadaan pH rendah, besi
yang ada dalam air berbentuk ferro dan ferri, dimana bentuk.ferri akan

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

mengendap dan tidak larut dalam air serta tidak dapat dilihat dengan mata
sehingga mengakibatkan air menjadi berwarna,berbau dan berasa.
3. Suhu
Suhu adalah temperatur udara. Temperatur yang tinggi
menyebabkan menurunnya kadar O2 dalam air, kenaikan temperatur air
juga dapat mengguraikan derajat kelarutan mineral sehingga kelarutan Fe
pada air tinggi.
4. Bakteri besi
Bakteri besi (Crenothrix, Lepothrix, Galleanella, Sinderocapsa dan
Sphoerothylus ) adalah bakteri yang dapat mengambil unsur ber dari
sekeliling lingkungan hidupnya sehingga mengakibatkan turunnya
kandungan besi dalam air, dalam aktifitasnya bakteri besi memerlukan
oksigen dan besi sehingga bahan makanan dari bakteri besi tersebut. Hasil
aktifitas bakteri besi tersebut menghasilkan presipitat (oksida besi) yang
akan menyebabkan warna pada pakaian dan bangunan. Bakteri besi
merupakan bakteri yang hidup dalam keadaan anaerob dan banyak
terdapat dalam air yang mengandung mineral. Pertumbuhan bakteri akan
menjadi lebih sempurna apabila air banyak mengandung CO2 dengan
kadar yang cukup tinggi.
5. CO2 agresif
Karbondioksida (CO2) merupakan salah satu gas yang terdapat
dalam air. Berdasarkan bentuk dari gas Karbondioksida (CO2) di dalam
air, CO2 dibedakan menjadi: CO2 bebas yaitu CO2 yang larut dalam air,
CO2 dalam kesetimbangan, CO2 agresif. Dari ketiga bentuk
Karbondioksida (CO2) yang terdapat dalam air, CO2 agresiflah yang paling
berbahaya karena kadar CO2 agresif lebih tinggi dan dapat menyebabkan
terjadinya korosi sehingga berakibat kerusakan pada logam-logam dan
beton. CO2 bebas yang asam akan merusak logam apabila CO2 tersebut
bereaksi dengan air.karena akan merusak logam. Reaksi ini dikenal
sebagai teori asam, dengan reaksi sebagai berikut:
2Fe + H2CO3 FeCO3 + 2H+
2FeCO3 + 5H2O +1/2 O2 2Fe(OH)2 + 2H2CO3

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

Dalam reaksi di atas dapat dilihat bahwa asam karbonat tersebut secara
terus-menerus akan merusak logam, karena selain membentuk FeCO3
sebagai hasii reaksi antara Fe dan H2CO3, selanjutnya FeCO3 bereaksi
dengan air dan gas oksigen (O2) menghasilkan zat 2FeOH dan 2H2CO3
dimana H2CO3 tersebut akan menyerang logam kembali sehingga proses
pengrusakan logam akan berjalan secara terus-menerus mengakibatkan
kerusakan yang semakin lama semakin besar pada logam tersebut
(Ronquillo, 2009).
Penyebab utama Tingginya Kadar besi dalam Air
1. Rendahnya pH air
Nilai pH air normal yang tidak menyebabkan masalah adalah 7. Air
yang mempunyai pH 7 dapat melarutkan logam termasuk besi.
2. Adanya gas-gas terlarut dalam air.
Yang dimaksud gas-gas tersebut adalah CO2 dan H2S. Beberapa gas
terlarut dalam air terlarut tersebut akan bersifat korosif.
3. Bakteri
Secara biologis tingginya kadar besi terlarut dipengaruhi oleh
bakteri besi yaitu bakteri yang dalam hidupnya membutuhkan makanan
dengan mengoksidasi besi sehingga larut. Jenis ini adalah bakteri
Crenotrik, Leptotrik, Callitonella, Siderocapsa dan Iain-Iain. Bakteri ini
mempertahankan hidupnya membutuhkan oksigen dan besi (Ronquillo,
2009).

III. ALAT DAN BAHAN


A. ALAT
Alat – alat yang digunakan meliputi pipet volumetri, pro pipet, gelas
beaker, botol kecil, dan AAS.

B. BAHAN
Bahan yang digunakan meliputi sampel air sumur Intansari, sampel
air sumur Sei. Ulin, sampel air sumur Cempaka, sampel air sumur Loktabat,
aquadest, dan larutan induk Fe 1000 ppm.

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

IV. CARA KERJA


A. Pengenceran Larutan
1. Mengencerkan larutan induk Fe 1000 ppm dengan
aquadest di dalam labu ukur 50 ml hingga konsentrasinya 100 ppm.
2. Mengencerkan lagi menjadi 10 ppm dalam labu ukur 100
ml.
3. Membuat larutan standar dengan konsentrasi 1, 2, 3, 4,
dan 5 ppm sebanyak 20 ml dengan aquadest.
B. Pengukuran Absorbans Larutan Stándar Fe
1. Mengukur masing – masing absorbans larutan standar Fe
1, 2, 3, 4, dan 5 ppm dengan menggunakan AAS.
C. Pengukuran Absorbans Larutan Sampel/Cuplikan Air dengan
AAS
1. Menyediakan empat macam larutan sampel (air sumur
Intansari, air sumur Sei. Ulin, air sumur Cempaka, dan air sumur
Loktabat).
2. Mengambil 20 ml sampel.
3. Memasukkannya ke dalam botol kecil.
4. Mengukur masing-masing absorbansnya dengan
menggunakan AAS.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
1. Pengukuran Absorbans Larutan Standar Fe
No. Konsentrasi Fe Absorbansi
1. 1 ppm 0,047

2. 2 ppm 0,089

3. 3 ppm 0,134

4. 4 ppm 0,177

5. 5 ppm 0,212

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

Grafik Hubungan antara Absorbansi vs


Konsentrasi Larutan Fe

0.25
y = 0.0418x + 0.0064
0.2
Absorbansi

0.15 Grafik Kalibrasi

Linear (Grafik
0.1 Kalibrasi)

0.05

0
0 1 2 3 4 5

Konsentrasi Fe

2. Pengukuran Absorbans Larutan Sampel/Cuplikan Air


No. Jenis Sampel Absorbansi
1. Air sumur Intansari 0,010

2. Air sumur Sei. Ulin 0,005

3. Air sumur Loktabat 0,004

4. Air sumur Cempaka 0,007

Sampel Air Sumur Intansari


y = 0,0418x + 0,0064
0,010 = 0,0418x + 0,0064
0,010 – 0,0064 = 0,0418x
0,0036 = 0,0418x
x = 0,0036 / 0,0418
x = 0,086
Jadi, konsentrasi Fe di air sumur Intansari adalah sebesar 0,086 mg/l

Sampel Air Sumur Sei. Ulin


y = 0,0418x + 0,0064
0,005 = 0,0418x + 0,0064
0,005 – 0,0064 = 0,0418x
- 0,0014 = 0,0418x
x = - 0,0014 / 0,0418

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

x = - 0,033
Jadi, konsentrasi Fe di air sumur Sei. Ulin adalah sebesar - 0,033 mg/l

Sampel Air Sumur Loktabat


y = 0,0418x + 0,0064
0,004 = 0,0418x + 0,0064
0,004 – 0,0064 = 0,0418x
- 0,0024 = 0,0418x
x = - 0,0024 / 0,0418
x = - 0,057
Jadi, konsentrasi Fe di air sumur Loktabat adalah sebesar - 0,057 mg/l

Sampel Air Sumur Cempaka


y = 0,0418x + 0,0064
0,007 = 0,0418x + 0,0064
0,007 – 0,0064 = 0,0418x
0,0006 = 0,0418x
x = 0,0006 / 0,0418
x = 0,014
Jadi, konsentrasi Fe di air sumur Cempaka adalah sebesar 0,014 mg/l

B. Pembahasan
Praktikum kali ini dilakukan untuk mengukur kadar besi yang terdapat
pada air sumur yang berada di daerah berbeda, sampel air yuang dugunakan
adalah dari air sumur Intan Sari, air sumur Sei Ulin, air sumur Loktabat dan
air sumur Cempaka.
Praktikum kali ini dimulai dengean pembuatan larutan induk Fe 1000
ppm yang kemudian diencerkan hingga menjadi larutan Fe 10 ppm yang
telah dilakukan oleh asisten praktikum. Dari larutan Fe 10 ppm tersebut
kemudian diencerkan lagi hingga konsentrasinya menjadi 1; 2; 3; 4; dan 5
ppm, yang masing-masing jumlahnya 20 ml. Kemudian dari larutan standar
Fe yang konsentrasinya berbeda ini diukur nilai absorbansinya dengan
menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer).
Di dalam AAS pengukuran dilakukan melalui pengukuran besarnya
intensitas dari lampu katoda yang diserap oleh atom-atom logam di dalam
nyala yang berongga berada dalam tingkat dasar (tereksitasi). Pada metode
ini larutan sampel diubah ke dalam bentuk aerasol di dalam bagian
pengkabutan (nebulazer) pada alat AAS selanjutnya diubah ke dalam bentuk

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

atom-atomnya berupa garis di dalam nyala. Prinsip kerja dari AAS adalah
nyala api gas yang megandung atom-atom netral unsur yang dianalisis dan
yang dalam keadaan dasarnya dilewati cahaya dari sumber cahaya yang
memancarkan spektrum pancaran garis.
Dari hasil pengukuran didapatkan nilai absorbansi larutan standar Fe
berturut – turut adalah sebesar 0,047; 0,089; 0,134; 0,177; dan 0,212. Dari
konsentrasi Fe dan absorbansinya ini dibuat grafik kalibrasi untuk
mendapatkan persamaan umum y = ax + b. Dari grafik kalibrasi yang telah
dibuat didapat persamaan umum y = 0,0418x + 0,0064. Yang mana
persamaan umum ini digunakan untuk menghitung konsentrasi besi yang
terdapat pada masing-masing sampel air sumur yang diamati.
Pada pengukuran absorbansi pada 4 sampel air yang akan diukur
kandungan besinya, yaitu air sumur Intan Sari, air sumur Sei. Ulin, air
sumur Loktabat, dan air sumur Cempaka, didapat nilai absorbansi keempat
sampel tersebut adalah untuk air sumur intan sari 0,010, untuk air sumur sei.
Ulin 0,005, sedangkan air sumur loktabat 0,004 sebesar, dan air sumur
cempaka sebesar 0,007. Setelah dilakukan pengukuran absorbansi terhadap
keempat sampel tersebut maka dapat dilakukan perhitung kandungan besi
yang terdapat didalam masing-masing sampel dengan menggunakan
persamaan umum y = 0,0418x + 0,0064. Hasil perhitungan kandungan besi
dari keempat sampel tersebut adalah 0,086 mg/l untuk sampel air sumur
Intan Sari, air sumur Sei. Ulin sebesar - 0,033 mg/l. Sedangkan air sumur
Loktabat sebesar - 0,057 mg/l dan air sumur Cempaka sebesar 0,014 mg/l.
Dari keempat sampel tersebut, kandungan besi yang paling besar terdapat
dalam sampel air sumur Intan Sari yakni 0,086 mg/l karena daerah ini
kepadatan penduduknya cukup tinggi dibanding ketiga daerah lainnya.
Sedangkan yang paling kecil terdapat dalam sampel air sumur Sei. Ulin
sebesar - 0,033 mg/l dikarenakan daerah Sei Ulin kepadatan cukup rendah
dibandingkan tiga daerah yang lain. Kepadatan penduduk pempengaruhi
kadar besi dalam air tanah secara tidak langsung, yakni dari korosi alat-alat
rumah tangga dan alat-alat lainnya yang terbuat dari besi.

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan terhadap semua


sampel air sumur dari empat daerah yang berbeda, dapat diktehi bahwa
kadar besi yang terdapat didalam masing-masing air sumur masih di bawah
standar Kepmenkes RI No.907/MENKES/SK/VII/2002 tanggal 29 Juli 2002
tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum yaitu kadar Fe
sebesar 0,3 mg/l. Sehinga air sumur tersebut masih bisa digunakan untuk
kebutuhan sehari-hari, dan tidak harus kuatir terhadap gangguan yang
mungkin ditimbulkan akibat kadar Fe yang berlebihan.
Pada hasil perhitungan terdapat nilai konsentrasi Fe yang negatif (-)
hal ini dikarenakan ada kesalahan pada saat pembuatan larutan standar Fe,
kesalahan ini berpengaruh pada pengukuran nilai absorbansi, sehinga grafik
kalibrasi perbandingan absorbansi dengan konsentrasi larutan Fe tidak
konstantan.

VI. KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapat dari hasil percobaan adalah sebagai berikut :
1. Besi adalah sejenis logam yang hadir dalam konsentrasi yang rendah
dalam sebagian besar persediaan air.
2. Kadar besi yang paling besar terdapat dalam sampel air sumur Loktabat
yaitu 0,086 mg/l. Sedangkan yang paling kecil terdapat pada sampel air
sumur Sei. Ulin yaitu sebesar - 0,033 mg/l.
3. Air wilayah Banjarbaru (air sumur Intan Sari, air sumur Sei. Ulin, air
sumur Loktabat dan air sumur Cempaka) masih aman untuk digunakan
pada kegiatan sehari-hari.

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat
Mahfuz Idafi

DAFTAR PUSTAKA

Hasanah, Y. U. 2006. Ekstraksi Ion Fe(III) dengan Ekstraktan


Ammonium Pirolidin Dithiokarbamat (APDC) dalam Pelarut Metil Iso
Butil Keton (MIBK)
http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/wrdpdf-e/import/4350401003.pdf

Setyawan. A. D. dkk. 2004. Pencemaran Logam Berat Fe, Cd, Cr, dan Pb pada
Lingkungan Mangrove di Propinsi Jawa Tengah 2004
http://www.scribd.com/doc/12813924/e040201

Poerwadio A. dan Ali Masduqi. 2004. Penurunan Kadar Besi oleh Media Zeolit
Alam Ponorogo secara Kontinyu
http://www.its.ac.id/personal/files/pub/2091-ali-masduqi-
zeolit_ponorogo.pdf

Syahreza, M. 2006. Kandungan Fe dalam air bersih


http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages

Ronquillo, U. 2009. Mengatasi Zat Besi (Fe) Tinggi dalam Air


http://advancebpp.wordpress.com/2009/04/16/mengatasi-zat-besi-fe-
tinggi-dalam-air/

Teknik Lingkungan
Universitas Lambung Mangkurat