Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pemerintah daerah menyusun dan melaksanakan anggaran daerah
untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada publik. Kualitas
pelayanan tersebut sangat tergantung pada kelancaran pendanaan untuk
membiayai semua aktivitas yang dilakukan. Dalam hal ini pemerintah
daerah harus dapat mengelola sumberdaya yang dimilikinya dengan
sebaik

mungkin.

Dengan

demikian,

unit

kerja

yang

memberikan

pelayanan kepada publik sedapat mungkin tidak berhadapan dengan


masalah kekurangan atau ketiadaan dana ketika dibutuhkan. Artinya,
dana yang dibutuhkan oleh unit kerja semestinya tersedia dalam jumlah
yang cukup tepat pada waktunya. Untuk itu diperlukan suatu sistem
manajemen dan pengendalian kas daerah yang baik.
Manajemen kas sangat penting dalam pengelolaan keuangan daerah.
Manajemen

kas

merupakan

fungsi

yang

dilaksanakan

oleh

unit

perbendaharaan, mulai dari perencanaan sampai pada pelaporan tentang


aliran kas daerah. Agar secara optimal dapat mendukung pelaksanaan
pelayanan publik oleh pemerintah daerah, pengelolaan kas selayaknya
dilaksanakan secara terencana, transparan dan akuntabel. Hal ini
bermakna bahwa strategi pemerintah daerah untuk memaksimalkan hasil
dari uang yang dimilikinya merupakan esensi utama dari manajemen kas.
Pemerintah

daerah

kemudian

membentuk

suatu

unit

kerja

yang

melaksanakan fungsi perbendaharaan, yang mencakup perencanaan,


penerimaan, penataausahaan, pengeluaran, dan pertanggungjawaban kas
daerah, yang disebut dengan nama bendahara daerah. Dalam peraturan
perundang-unadngan terbaru dikenal dengan nama bendahara umum
daerah (BUD).
B. RUMUSAN MASALAH
Berikut adalah rumusan masalah dalam Manajemen Kas Keuangan
Daerah :

Bagaimana manajemen kas dalam perspektif literatul ilmiah?

Bagaimana tujuan kas manajemen keuangan daerah?

Bagaimana siklus manajemen keuangan daerah?

Bagaimana anggaran kas dalam manajemen keuangan daerah?

C. TUJUAN PENULISAN
Setiap penulisan yang dilakukan pasti mempunyai tujuan tertentu.
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya maka
tujuan yang hendak dicapai dalam penyusunan makalah ini adalah untuk
mengetahui ruang lingkup manajemen kas keuangan daerah yang
terdapat dalam rumusan masalah.

BAB II
PEMBAHASAN
A. MANAJEMEN KAS DALAM PERSPEKTIF LITERATUR ILMIAH
Di negara sedang berkembang, termasuk Indonesia, manajemen kas
tidak menjadi perhatian utama dalam manajemen keuangan daerah
seperti halnya penganggaran.Hal ini mungkin karena penganggaran
bersinggungan langsung dengan politik di pemerintahan, sementara
manajemen kas merupakan pekerjaan administratif belaka yang dilakukan
oleh pemerintah daerah (eksekutif). Selain itu ada anggapan bahwa
manajemen

kas

dapat

dilakukan

apabila

proses

penyusunan

dan

pelaksanaan anggaran sudah dilaksanakan. Manajemen kas dengan


sendirinya akan berjalan jika anggaran sudah ditetapkan. Padahal
penganggaran dan manajemen kas dua hal yang berbeda, baik secara
teknis maupun risiko yang melekat di dalamnya.
Manajemen kas di pemerintahan didefinisikan sebagai strategi dan
proses terkait untuk mengelola aliran kas jangka pendek dan saldo kas
secara efektif biaya (cost-effective), baik secara internal maupun dalam
hubungan pemerintah dengan pihak luar.Manajemen kas adalah praktik
dan

teknik

yang

dirancang

untuk

mempercepat

dan

mengontrol

penerimaan kas, menjamin keamanan penerimaan, meningkatkan kontrol


atas cara-cara pembayaran, dan menghilangkan saldo kas menganggur.
Dalam buku Managing Public Expenditure (Allen, 1998:241) disebutkan
bahwa fungsi perbendaharaan di pemerintahan mencakup aktivitasaktivitas berikut:
manajemen kas;
manajemen rekening-rekening bank yang dimiliki pemerintah
(daerah);

perencanaan keuangan dan peramalan aliran kas;


manajemen hutang publik;
administrasi batuan luar negeri dan dana bantuan internasional;
dan
manajemen aset finansial.
Aktivitas manajemen kas pada posisi pertama mengisyaratkan bahwa
pemerintah, termasuk pemerintah daerah, semestinya memprioritaskan
pengelolaan

kas

daerah

dalam

manajemen

keuangan

pemerintah.

Meskipun di negara berbeda digunakan pendekatan yang berbeda dalam


merumuskan fungsi perbendaharaan, namun pengelolaan kas merupakan
fungsi utama yang berlaku di negara manapun.
B. TUJUAN MANAJEMEN KAS
Terdapat tiga tujuan utama dalam manajemen kas, yaitu:

keamanan kas,

menjaga likuiditas keuangan,

memperoleh keuntungan investasi.


Manajemen kas bertujuan untuk menjaga keamanan kas dalam arti

melindungi

kas

dan

kehilangan

yang

diakibatkan

oleh

keputusan

manajemen yang buruk atau karena tindak korupsi dalam praktik


pengumpulan, pengeluaran, dan pemanfaatan kas. Tujuan kedua adalah
menjaga likuiditas keuangan, yaitu menjaga jumlah kas yang memadai
dan

mencukupi

membayankan

untuk

kembali

memenuhi
utang

kewajiban

jangka

pendek

finansial,
yang

jatuh

seperti
tempo,

membayar kewajiban kepada pihak ketiga, membiayai kegiatan yang


sudab dianggarkan, dan membayar belanja rutin. Manajemen kas juga
bertujuan untuk memperoleh keuntungan dafi pemanfaatan kas dalam
investasi jangka pendek.
Seringkali
keuntungan

antara

investasi

tujuan
bersifat

menjaga

likuiditas

kontradiktif.

dan

Likuiditas

memperoleh
yang

tinggi

membutuhkan

ketersediaan

kas

yang

lebih

besar.

Namun

kondisi

keuangan yang mengalami likuiditas tinggi bisa berarti mengorbankan


kesempatan memperoleh keuntungan investasi, sebab kas yang terlalu
banyak tersebut sebenamya dapat digunakan untuk investasi sehingga
menghasiLkan keuntungan. Sebaliknya, menginvestasikan kas

yang

terlalu besan dalam instrumen investasi jangka pendek juga berarti


menuninkan likuiditas. Tantangan terbesar yang dihadapi oleh manajer
keuangan sektor publik adalah bagaimana menentukan jumlah kas yang
paling optimal, yaitu menentukan jumlah kas di tangan yang mencukupi
untuk mendanai kegiatan operasional dan menginvestasikan kas yang
masih menganggur.
C. SIKLUS MANAJEMEN KAS DAERAH
Siklus manajemen kas daerah merupakan tahap-tahap, proses, atau
kegiatan yang terkait dengan perolehan, penggunaan, dan pemanfaatan
kas daerah. Siklus manajemen kas meliputi:

pengumpulan pendapatan,

pengeluaran belanja,

penerimaan pembiayaan,

pengeluaran pembiayaan.

Pengumpulan Pendapatan

Pengumpulan pendapatan
Salah
pengumpulan

satu

tugas

pendapatan.

pemerintah
Pemerintah

daerah

adalah

mengumpulkan

melakukan
pendapatan

daerah dan berbagai sumber, yaitu dan Pendapatan Asli Daerah, dana
perimbangan, dan lain-lain pendapatan yang sah. Pada prinsipnya
pendapatan harus diperoleh sesegera mungkin dan setelah diperoleh
segera disetor ke rekening kas umum daerah. Dalam hal perolehan
pendapatan, pemerintah daerah harus berprinsip bahwa lebih baik
diterima sekarang daripada diterima kemudian hari. Prinsip menerima
uang sekarang lebih baik daripada menerima besok adalah sesuai dengan

konsep nilai waktu uang (tune value of money), yang berarti nilai uang
akan menurun karena faktor waktu, misalnya inflasi. Berdasarkan konsep
nilai waktu uang maka uang Rp. l.000.000 hari ini lebih tinggi nilainya
daripada Rp. l.000.000 esok hari.
Pada saat ini, pengelolaan keuangan daerah menggunakan konsep
UYHD

(Uang

yang

harus

dipertanggungjawabkan)

sebelumnya

menggunakan konsep UUDP (Uang Untuk Dipertanggung jawabkan). Saat


menggunakan UUDP, unit kerja dapat mengajukan dana terlebih dahulu
untuk melaksanakan suatu kegiatan atau program, yang dikenal dengan
uang panjar. Kemudian setelah kegiatan tersebut selesai baru dibuat
laporan pertanggungjawaban atas penggunaan dana tersebut. Sebaliknya
dengan sistem UYHD, suatu kegiatan harus dilaksanakan terlebih dahulu
dan unit kerja harus membuat laporan pencairan anggaran sederhananya
dengan sistem UUDP berarti menerima uangnya terlebih dahulu baru
bekerja, sedangkan dengan UYHD bekerja dulu baru mendapatkan
uangnya.
Dengan penggunaan konsep UYHD tersebut konsekuensinya adalah
pemerintah daerah harus memiliki kas yang mencukupi di awal periode
anggaran
dan program kerja tidak terganggu. Ketersediaan kas diawal periode
anggaran tersebut dimaksudkan sebagai modal awal bagi pemerintah
daerah,

misalnya

untuk

memberikan

dana

talangan,

membiayai

persediaan, piutang, dan sebagainya. Idealnya pemerintah daerah di awal


anggaran memiliki kas setidaknya sebesar 25% dan total penerimaan
yang dianggarkan untuk membiayai kegiatan di triwulan pertama untuk
itu prinsip terima cepat atas pendapatan daerah juga sejalan dengan
implementasi sistem UYHD.
Untuk kepentingan manajemen kas, pemerintah daerah harus
menciptakan sistem koleksi pendapatan daerah yang mudah dan
sederhana bagi masyarakat sehingga memungkinkan pendapatan dapat
segera diterima sehingga ketersediaan dana aman dan mencukupi.
Sistem

koleksi

mempercepat

pendapatan
perolehan

daerah

dana,

harus

memberikan

didesain

agar

keamanan

mampu
kas

dan

kehilangan, pencurian, dan penurunan nilai, serta biaya koleksi dan


penyimpanan kas yang efisien.
Sistem Koleksi Pendapatan
Sistem koleksi pendapatan bervariasi antara pemerintah daerah
satu dengan yang lain. Beberapa pemerintah daerah memilih kebijakan
sentralisasi dalam sistem pemungutan pendapatan yaitu dengan cara
membuat satu unit kerja khusus (misalnya Dinas Pendapatan Daerah)
yang bertugas untuk memungut pendapatan. Ada juga pemerintah daerah
yang mengambil kebijakan menyatuatapkan pengelolaan penerimaan dan
pengeluaran dengan cara melebur Dinas Pendapatan Daerah dengan
Bagian Keuangan (Badan Pengelola Keuangan Daerah). Setelah otonomi
daerah

dan

desentralisasi

fiskal

banyak

pemerintah

daerah

yang

menyatukan Dinas Pendapatan Daerah dengan Bagian Keuangan/ BPKD


sehingga tugas pemungutan pendapatan daerah, khususnya pajak
daerah, ditangani oleh Kantor Pelayanan Pajak Daerah. Sementara itu
untuk pemungutan retribusi daerah didesentralisasikan ke unit kerja
terkait. Dengan digabungkannya fungsi pengumpulan pendapatan dengan
fungsi alokasi anggaran, Bagian KeuanganlBPKD dapat mengendalikan
pendapatan dan pengeluaran daerah sekaligus. Hal ini tentunya lebih
menguntungkan daerah karena perencanaan dan pengendalian keuangan
daerah dapat dilakukan secara lebih baik, lebih mudah koordinasinya,
serta lebih efisien.
Sebagai upaya memperbaiki sistem koleksi pendapatan yang
mudah, murah, cepat, dan aman beberapa pemerintah daerah melakukan
kerjasama dengan lembaga-lembaga keuangan di daerah untuk tempat
pembayaran pajak. Sistem ini cukup efektif dan mampu mempercepat
proses pengumpulan pendapatan. Selain itu pemerintah daerah juga
diuntungkan yaitu membantu mengurangi beban kerja pegawai pemda,
pengendalian intemal kas daerah menjadi lebih baik karena uang
langsung masuk ke rekening kas daerah tidak harus melewati petugas
pemungut atau bendahara penerimaan. Cara pembayaran pajak juga

semakin dipermudah, misalnya dapat dilakukan dengan kartu kredit,


melalui ATM, melalui intemet banking, atau SMS banking.
Sistem Rekening Tunggal (Treasury Single Account)
Untuk menampung pendapatan yang diterima, pemerintah daerah
perlu membatasi jumlah rekening khusus penerimaan dan mewajibkan
untuk menyetor seluruh penerimaan yang diperoleh ke rekening kas
umum daerah yang merupakan rekening induk. Setiap penerimaan
pendapatan

baik

yang

diterima

melalui

bendahara

penerimaan,

bendahara penerimaan pembantu maupun lembaga keuangan yang


menjadi mitra pemerintah daerah harus disetor ke rekening kas umum
daerah pada han itu juga. Kalaupun bendahara penerimaan memiliki
rekening khusus penerimaan, maka rekening mi harus bersifat Zero
Balance Account (ZBA). Zero Balance Account merupakan rekening bank
yang berfungsi untuk penampungan sementara atas pendapatan yang
diterima. Rekening mi bersaldo nol karena setiap hari pendapatan yang
diterima pada hari itu seluruhnya akan ditransfer ke rekening kas umum
daerah.
Rekening kas umum daerah merupakan pintu gerbang transaksi kas
di pemda baik penerimaan kas maupun pengeluaran kas. Prinsip rekening
tunggal (treasury single account) seperti halnya rekening kas umum
daerah mensyaratkan setiap pendapatan harus masuk melalui satu pintu
dan ditampung dalam satu rekening tunggal, bam kemudian bisa
dikeluarkan melalui beberapa pintu. Memang dalam beberapa kasus
pemerintah dapat membuka beberapa rekening karena alasan tertentu,
misalnya untuk menampung dana cadangan, tanggap darurat bencana
alam, dan sebagainya. Tujuan pengkonsentrasian dana dan penggunaan
nekening tunggal mi adalah untuk memudahkan perencanaan dan
pengendalian keuangan daerah, mengurangi kebocoran peadapatan,
serta untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas. Di samping itu,
sistem ini juga dapat membantu manajer keuangan publik untuk
melakukan manajemen kas.

Agar

penerimaan

pendapatan

lebih

mudah

dipantau

dan

dikendalikan, maka pemerintah daerah hams menertibkan rekeningrekening liar yang ada. Rekening liar dimaksud adalah rekening yang
sumber dananya berasal dan pemerintah atau milik pemerintah tetapi
disimpan dalam rekening yang bukan resmi rekening pemerintah,
misalnya rekening atas nama pribadi, rekening atas nama lembaga di luar
pemerintah, dan sebagainya. Untuk penertiban rekening liar atau rekening
ilegal ini pemerintah dapat bekerjasama dengan pihak bank dan
memperkuat pengawasan dan pengendalian internal organisasi.
Kerjasama Bank
Perlu diingat bahwa bank merupakan bagian integral dan aktivitas
manajemen kas pemerintah daerah. Oleh karena itu, komunikasi dan
kerjasama yang baik dengan pihak bank penting dilakukan dalam rangka
optimalisasi manajemen kas. Setiap hari bendahara umum daerah perlu
memantau keadaan keuangan daerah, baik penerimaan, pengeluaran,
maupun saldo yang ada di bank. Dengan dukungan teknologi informasi,
pemerintah daerah dapat membangun sistem informasi kas bank yang
terhubung dengan sistem informasi yang dimiliki oleh bank tempat pemda
menyimpan uang sehingga setiap saat dapat dipantau keadaan kas di
bank. Dalam memilih bank tempat menyimpan kas daerah, pemerintah
daerah harus mempertimbangkan:

Jenis pelayanan yang diberikan kepada pemerintah daerah

Produk yang dimiliki

Biaya yang kompetitif

Keuntungan yang ditawarkan

Kesehatan bank

Kepemilikan saham pemda pada bank tersebut

Waspada Terhadap Cek


Pemerintah daerah perlu waspada terhadap penerimaan dalam
bentuk cek sebab bisa jadi cek yang diterima merupakan cek kosong yang

tidak cukup dananya, atau bisa jadi cek tersebut hilang atau dicuri orang.
Oleh karena itu cek yang diterima sebaiknya tidak disimpan terlalu lama
namun segera dicairkan untuk memastikan diperolehnya dana. Selama
belum dicairkan, cek harus disimpan di tempat yang aman, seperti
brankas atau lockbox. Kerjasama dengan pihak bank penting untuk
mengetahui validitas cek yang diterima terutama untuk menghindari
diterimanya cek kosong.
Pengeluaran Belanja
Untuk keperluan manajemen kas, bendahara umum daerah perlu
menyusun skedul pengeluaran yang akan dilakukan dalam satu periode
anggaran. Pengeluaran belanja tersebut meliputi belanja operasi. belanja
modal,

dan

belanja

transfer.

Pengeluaran

belanja

juga

dapat

diklasifikasikan berdasarkan belanja tidak langsung dan belanja langsung


sebagaimana ketentuan Permendagri No. 59 Tahun 2007. Kepentingan
manajemen kas terhadap pengeluaran belanja adalah untuk menjamin
bahwa kewajiban pemerintah untuk membayar pengeluaran belanja dapat
dipenuhi secara tepat waktu efisien, dan efektif.
Selain itu, manajer keuangan publik juga berkepentingan untuk
mengetahui kebutuhan pengeluaran dana jangka pendek dan menengah
yang akan dikaitkan dengan likuiditas keuangan pemerintah daerah.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun skedul
pengeluaran belanja ini adalah mengetahui:

Kapan belanja dilakukan

Berapa jumlah yang harus dikeluarkan

Lama proses pencairan anggaran

Kapan Belanja Dilakukan


Untuk keperluan manajemen kas, manajer keuangan publik harus
berkoordinasi dengan bendahara pengeluaran dan pejabat penatausahaan
keuangan di tingkat satuan kerja perangkat daerah untuk menentukan
kapan suatu pengeluaran akan dilakukan dan berapa besarnya. Pada
dasarnya unit kerja diwajibkan untuk menyusun anggaran kas yang di

10

dalamnya berisi skedul pengeluaran yang akan dilakukan. Penyusunan


anggaran kas tersebut dasarnya adalah Dokumen Pelaksanaan Anggaran
Satuan Kerja Perangkat Daerah (DPA-SKPD) yang sudah disahkan yang di
dalamnya berisi rencana penarikan dana per triwulan. Karena DPA-SKPD
baru berisi rencana penarikan dana per triwulan, maka SKPD perlu
membuat anggaran kas SKPD yang lebih detil yang menginformasikan
rencana pengeluaran setiap bulannya. Dan informasi anggaran kas SKPD
tersebut selanjutnya BUD dapat menyusun anggaran kas pemda sehingga
dapat dibuat skedul waktu kapan pendapatan akan diterima, kapan
belanja harus dilakukan, kapan melakukan investasi, kapan mengadakan
pinjaman, dan sebagainya.
Pembuatan skedul pengeluaran belanja ini juga penting bagi BUD
selaku manajer keuangan publik untuk mengurangi frekuensi pengeluaran
cek dan rekening kas umum daerah. Beberapa pemerintah daerah
melakukan kebijakan mengeluarkan cek sekali dalam seminggu atau
bahkan sebulan sekali. Pengeluaran cek dengan sistem batch ini dapat
membantu BUD dalam mengatur arus kas pemda secara lebih efektif,
menghemat biaya transaksi bank, mengurangi jumlah persediaan cek,
dan mengurangi biaya meterai.
Proses Pencairan Anggaran
Pada prinsipnya manajemen kas bertujuan untuk meningkatkan
efisiensi dan efektivitas dalam pengeluaran belanja. Efisiensi dalam hal ini
termasuk efisiensi proses yang berarti kecepatan proses pencairan,
sedangkan efektif dalam hal ini adalah ketepatan waktu pengeluaran
belanja. Proses pencairan anggaran biasanya sudah diatur secara baku
oleh peraturan perundangan, misalnya untuk saat ini adalah Permendagri
No. 59 Tahun 2007. Berdasarkan ketentuan dalam Permendagri 59/2007
proses pencairan anggaran dilakukan dengan cara mengajukan Surat
Permintaan Pembayaran (SPP). SPP terdiri atas empat jenis yaitu SPP
Langsung (LS), SPP Uang Persediaan (UP), SPP Ganti Uang (GU), dan SPP
Tambahan Uang (TU). Dasar pengajuan SPP adalah Surat Penyediaan
Dana (SPD) dan Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat

11

Daerah (DPA-SKPD). SPP LS diajukan oleh Pejabat Pelaksana Teknis


Kegiatan (PPTK) di masing-masing SKPD kepada Bendahara Pengeluaran
di SKPD, kemudian apabila sudah lengkap dan tidak ada yang perlu
diperbaiki dibuatkan Surat Perintah Membayar (SPM). SPM juga terdiri atas
empat jenis yaitu SPM LS, SPM UP, SPM GU, dan SPM TU.
SPP

dan

SPM

kemudian

akan

diverifikasi

oleh

Pejabat

Penatausahaan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah (PPK-SKPD) dan


apabila sudah lengkap dan tidak ada kesalahan maka akan dimintakan
otorisasi ke Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah selaku Pengguna
Anggaran. Setelah mendapatkan otorisasi dan kepala SKPD, kemudian
SPP, SPM beserta dokumen pendukung dibawa ke BUD untuk dimintakan
dananya. Khusus untuk pengajuan GU, hams dilampiri dengan SPJ
penggunaan uang persediaan bulan sebelumnya. BUD selanjutnya akan
meneliti kelengkapan dan validitas dokumen dan apabila tidak ada
permasalahan maka akan dikeluarkan Surat Perintah Pencairan Dana
(SP2D). SP2D tersebut berfungsi sebagai cek yang dapat dilakukan
pencairannya di bank. Berdasarkan prosedur tersebut, maka lama proses
pencairan dana dan sejak pengajuan SPP hingga diterbitkannya SP2D
apabila lancar semuanya dapat dilakukan dalam tiga han, sedangkan
apabila perlu revisi maka bisa mencapai satu minggu. Selama anggaran
SKPD

belum

diajukan

pencairannya,

pemerintah

daerah

dapat

memanfaatkannya untuk kepentingan manajemen kas.


Gambar 8.2 Mekanisme Pengeluaran Kas di Tingkat SKPD

12

D. ANGGARAN KAS
Kas merupakan alat pembayaran yang siap dan bebas digunakan
untuk membiayai kegiatan umum perusahaan/pemerintah. Anggaran
merupakan rencana keuangan periodik yang disusun berdasarkan
program yang telah disahkan dan merupakan rencana tertulis mengenai
kegiatan suatu organisasi yang dinyatakan secara kuantitatif dan
umumnya dinyatakan dalam satuan moneter untuk jangka waktu tertentu.
Anggaran kas (Cash Budget) ialah anggaran yang merencanakan
secara lebih terperinci tentang jumlah kas beserta perubahan-perubahan
dari waktu kewaktu selama periode yang akan datang, baik perubahan
yang berupa permintaan kas, maupun perubahan yang berupa
pengeluaran kas. Anggaran kas merupakan alat penting dalam proses
perencanaan dan pengendalian keuangan perusahaan/pemerintah, karena
di dalamnya terdapat estimasi penerimaan dan pengeluaran kas untuk
periode tertentu dimasa datang sehingga akan bisa diketahui kapan
perusahaan/pemerintah dalam keadaan defisit kas atau surplus kas.
Anggaran kas pada dasamya meliputi dua bagian, yaitu: anggaran
pendapatan dan penerimaan pembiayaan serta anggaran belanja dan
pengeluaran

pembiayaan.

Anggaran

pendapatan

dan

penerimaan

pembiayaan memuat perkiraan realisasi pendapatan yang diharapkan


diterima untuk setiap bulan dan triwulan selama 1 (satu) tahun anggaran,
sedangkan anggaran belanja dan pengeluaran pembiayaan memuat
perkiraan kebutuhan dana untuk belanja dan pengeluaran pembiayaan
untuk setiap bulan dan triwulan selama 1 (satu) tahun anggaran.
Tujuan Utama Anggaran Kas
a) Memberikan taksiran posisi kas pada akhir setiap periode sebagai
hasil dari operasi yang dijalankan, yaitu dengan membandingkan
uang kas masuk dan uang kas keluar. Sehingga saldo kas akhir pada
suatu periode akan sama dengan kas awal ditambah penerimaan
dan dikurangi dengan pengeluaran kas dalam suatu periode.
b) Mengetahui kelebihan atau kekurangan kas pada waktunya. Defisit
bila saldokas awal ditambah dengan penerimaan kas lebih kecil dari
pengeluaran kas dalam satu periode. Sehingga keadaan ini harus
diwaspadai oleh perusahaan.
c) Menentukan
kebutuhan
pembiayaan
menganggur untuk investasi

atau

kelebihan

kas

13

d) Menyelaraskan kas dengan modal, pendapatan, beban, investasi


dan utang Sebagai dasar kebijakan pemberian kredit. Besar kecilnya
kas yang tersedia akan menunjukkan kemampuan perusahaan
dalam membelanjaakan modal kerjanya.
e) Kemampuanmembelanjakan modal kerja ini pada akhirnya juga
akan menjadi dasar bagi perusahaan untuk menggunakan kebijakan
kredit sebagai upaya untuk meningkatkan volume penjualan.
Fungsi Anggaran Kas
1. Menunjukkan jumlah dan waktu kas perusahaan/pemerintah dimasa
yang akan datang
2. Memberikan dasar untuk melakukan tindakan perbaikan jika jumlah
kas dalam anggaran tidak cocok dengan jumlah yang sebenarnya
terjadi
3. Anggaran kas memberikan dasar evaluasi atas kinerja manajer
keuangan
Ruang Lingkup Anggaran Kas di Pemerintah Daerah
Penyusunan anggaran kas di pemerintah daerah pada dasarnya
meliputi dua tingkatan, yaitu:

Anggaran kas satuan kerja perangkat daerah, dan

Anggaran kas pemerintah daerah.

Anggaran Kas Satuan Kerja Perangkat Daerah


Kepala

SKPD

berdasarkan

rancangan

DPA-SKPD

berkewajiban

menyusun rancangan anggaran kas SKPD. Rancangan Anggaran Kas SKPD


tersebut kemudian disampaikan kepada PPKD selaku BUD bersamaan
dengan rancangan DPA-SKPD. Pembahasan rancangan Anggaran Kas
SKPD

dilaksanakan

bersamaan

dengan

pembahasan

DPA-SKPD.

Penyusunan Anggaran Kas SKPD dimulai dan penyusunan skedul belanja


untuk pelaksanaan setiap kegiatan. Berdasarkan DPA-SKPD yang telah
disahkan PPKD, selanjutnya unit kerja menyusun jadwal pelaksanaan
kegiatan dan kebutuhan dananya, sehingga jelas tergambar kebutuhan
dana baik yang akan dibayar dengan SPM Langsung maupun melalui SPM
UP.

14

Anggaran Kas Pemerintah Daerah


Berdasarkan

anggaran

kas

dan

masing-masing

Satuan

Kerja

Perangkat Daerah, PPKD selaku BUD selanjutnya menyusun Anggaran Kas


Pemerintah Daerah yang selanjutnya disahkan oleh Kepala Daerah. Pada
level

Pemerintah

Daerah,

yaitu

pada

Bendahara

Umum

Daerah,

kebutuhan untuk membuat Anggaran Kas Pemerintah Daerah merupakan


suatu keharusan. Anggaran Kas Pemerintah Daerah penting untuk
mengatur ketersediaan dana yang cukup untuk mendanai pengeluaranpengeluaran sesuai dengan rencana penarikan dana yang tercantum
dalam DPA-SKPD yang telah disahkan. Anggaran kas memuat perkiraan
arus kas masuk yang bersumber dan penerimaan dan perkiraan arus kas
keluar yang digunakan mendanai pelaksanaan kegiatan dalam setiap
periode.
Pentingnya Anggaran Kas
Pemerintah

daerah

perlu

melakukan

harmonisasi

antara

pengeluaran dengan penerimaan. Bendaharawan Umum Daerah perlu


mengatur agar keuangan pemerintah daerah tidak mengalami overlikuid,
illikuid, atau defisit yang membebani sehingga mengganggu pelaksanaan
program dan anggaran. Penyusunan anggaran kas sangat penting bagi
pemerintah daerah karena beberapa alasan, yaitu:

Mengharmonisasikan keadaan kas daerah dengan DPA-SKPD, SPD,


SPP dan SPM yang akan diajukan.

Mengatur likuiditas keuangan Pemda untuk mendanai pengeluaranpengelUaran

sesuai

dengan

rencana

penarikan

dana

yang

tercantum dalam DPA-SKPD.

Membantu perencanaan dan pengendalian kas daerah.

Menjamin adanya kelancaran pelaksanaan anggaran, khususnya


dalam pelaksanaan anggaran belanja dan pembiayaan daerah
karena

pemasukan

pendapatan

daerah

dalam

pelaksanaan

anggaran tidak terjadi pada saat awal tahun anggaran yang

15

bersangkutan dan pendapatan tersebut tidak sama besarnya tiap


bulan/triwulan sehingga perlu sarana pengatur, yaitu anggaran kas.
Elemen Anggaran Kas
Terdapat empat elemen utama anggaran kas yang perlu diperoleh
informasinya, yaitu:

Saldo awal kas,

Perkiraan penerimaan kas,

Perkiraan pengeluaran kas, dan

Perkiraan saldo akhir kas setiap bulan dan triwulan.

Saldo Awal Kas


Informasi saldo awal kas tahun anggaran bersangkutan berasal dan
saldo kas tahun anggaran sebelumnya yang dipegang oleh Bendahara
Umum Daerah sebagaimana dilaporkan dalam Laporan Arus Kas. Saldo
awal kas ini tidak identik dengan SiLPA tahun anggaran sebelumnya,
sebab

SiLPA

tahun

anggaran

sebelumnya

merupakan

komponen

penerimaan pembiayaan untuk tahun anggaran bersangkutan. Untuk


penyusunan anggaran kas SKPD, saldo awal kas merupakan saldo kas
yang masih dipegang oleh bendahara pengeluaran.
Anggaran Kas Penerimaan
Anggaran kas pendapatan memuat perkiraan arus kas masuk dan
realisasi pendapatan dan penerimaan pembiayaan yang diharapkan
diperoleh untuk setiap bulan dan triwulan selama satu tahun anggaran.
Anggaran Kas Pengeluaran
Anggaran kas pengeluaran memuat perkiraan kebutuhan dana
untuk belanja dan pengeluaran pembiayaan untuk setiap bulan dan
triwulan selama satu tahun anggaran.
Saldo Akhir Kas
Saldo akhir kas merupakan perkiraan jumlah saldo kas yang ada
untuk setiap bulan dan triwulan selama satu tahun anggaran. Saldo akhir

16

kas dihitung dengan cara menambahkan saldo awal kas dengan jumlah
penerimaan kemudian dikurangi dengan perkiraan pengeluaran yang akan
dilakukan. Saldo akhir kas bulan bersangkutan merupakan saldo awal kas
bulan berikutnya.
Cara Membuat Anggaran Kas
Terdapat empat langkah dasar dalam membuat anggaran kas, yaitu:
a) Mengenali

pola

belanja

atau

pengeluaran

(pattern

of

expenditure). Pengenalan pola belanja/ pengeluaran tersebut


tidak

cukup

hanya

mengetahui

jumlah

kas

yang

harus

dikeluarkan, tetapi juga memperhitungkan kapan kas tersebut


akan dibelanjakan atau dikeluarkan. Untuk memperkirakan
jumlah

belanja

setiap

bulannya,

pemerintah

daerah

bisa

menggunakan data historis dan pengalaman-pengalaman yang


terjadi selama periode-periode sebelumnya. Dalam hal ini perlu
dikenali pola belanja atau pengeluaran untuk masing-masing
jenis belanja, misalnya: Belanja Pegawai, Belanja Bunga, Belanja
Subsidi, Belanja Bantuan Keuangan, Belanja Bantuan Sosial,
Belanja Tidak Terduga, Belanja Barang dan Jasa, dan Belanja
Modal. Dari masing-masing jenis belanja/pengeluaran tersebut
dapat

dikategorikan

menjadi

dua

pola

umum,

yaitu:

1)

pengeluaran yang sifatnya relatif tetap (rutin) setiap bulannya,


misalnya Belanja Pegawai yang berupa Gaji dan Tunjangan, dan
2) pengeluaran yang sifatnya fluktuatif (tidak tetap), misalnya
Belanja Pegawai yang berupa Upah dan Honorarium, Belanja
Barang dan Jasa, Belanja Modal, dan Belanja Tidak Terduga.
b) Mengenali pola pendapatan/penerimaan (pattern of income)
yang diharapkan diperoleh pemerintah daerah. Sama halnya
dengan

belanja

pendapatan/

atau

pengeluaran

penerimaan

tidak

dalam

hanya

mengenali

pola

mempertimbangkan

jumlah kas yang akan diterima, tetapi juga harus memperkirakan


kapan kas tersebut diterima. Dalam hal inii perlu dikenali pola
penerimaan masing-masing jenis penerimaan yang meliputi: 1)

17

Penerimaan PAD, 2) Penerimaan Dana Perimbangan, yang terdiri


atas Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak/Sumber Daya
Alam, penerimaan Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi
Khusus, dan 3) Lain-lain pendapatan daerah yang sah.
c) Setelah

pola

belanja/pengeluaran

dan

pola

pendapatan/penerimaan diketahui selanjutnya adalah membuat


skedul yang mengindikasikan perkiraan total penerimaan serta
pengeluran per bulan selama satu tahun anggaran.
d) Membuat perkiraan anggaran kas setelah skedul penerimaan
dan pengeluaran tersebut disusun.
Masing-masing jenis penerimaan dan pengeluaran pada skedul
penerimaan dan pengeluaran bisa dibuat rinciannya. Uraian rincian
tersebut misalnya sebagai berikut:
Perkiraan penerimaan dan pengeluaran sebagaimana terlihat pada
tabel (hal 123) merupakan skedul untuk level pemerintah daerah
(Bendaharawan Umum Daerah), sedangkan untuk level satuan kerja
formatnya tidak berbeda, hanya saja elemen-elemennya sedikit berbeda.
Perbedaan tersebut terletak pada elemen penerimaan dan pengeluaran.
Penerimaan tertentu tidak menjadi penerimaan satuan kerja, misalnya
penerimaan dan pajak, Dana Perimbangan, dan penerimaan pembiayaan.
Penerimaan-penerimaan tersebut merupakan penerimaan daerah yang
masuk

melalui

rekening

kasda

melalui

bendahara

umum

daerah.

Penerimaan untuk satuan kerja lebih terbatas jenisnya, khususnya dan


retribusi daerah. Penerimaan retribusi itu pun pada dasamya tidak bisa
langsung digunakan oleh satuan kerja karena harus disetor ke rekening
kas umum daerah. Hal ini sesuai dengan prinsip anggaran bruto yang
dianut dalam sistem penganggaran daerah.
Pada tabel anggaran kas (Hal.125) dimasukkan data yang berasal
dan skedul penerimaan dan pengeluaran untuk tiap-tiap bulan selama
satu tahun, yaitu:

[1] adalah posisi saldo awal kas;

[2] adalah penerimaan bruto dan semua sumber;

18

[3] adalah jumlah total, yaitu saldo awal [1] ditambah total
penerimaan [2];

[4]

adalah

pengeluaran

bruto

untuk

semua

jenis

belanja/pengeluaran;

[5] adalah saldo akhir, yaitu selisih antara [3] dan [4]. Saldo Akhir
[5] bulan tertentu akan menjadi Saldo Awal [1] bulan berikutnya.

BAB III
PENUTUP
Setelah tim penyusun mempelajari manajemen kas keuangan
daerah dapat didefinisikan sebagai strategi dan proses terkait untuk kas
secara efektif, baik secara internal maupun dalam hubungan daerah
dengan pihak-pihak yang bersangkutan. Manajemen kas adalah praktik
dan

teknik

yang

dirancang

untuk

mempercepat

dan

mengontrol

penerimaan kas, menjamin keamanan penerimaan, meningkatkan kontrol


atas cara-cara pembayaran, dan menghilangkan saldo kas menganggur.
Aktivitas manajemen kas pada posisi pertama mengisyaratkan
bahwa

pemerintah,

termasuk

pemerintah

daerah,

semestinya

memprioritaskan pengelolaan kas daerah dalam manajemen keuangan


pemerintah. Meskipun di negara berbeda digunakan pendekatan yang
berbeda dalam merumuskan fungsi perbendaharaan, namun pengelolaan
kas merupakan fungsi utama yang berlaku di negara manapun.

19

DAFTAR PUSTAKA
MAHMUDI (2009) , Manajemen keuangan daerah ,Yogyakarta, 17 oktober
2009.
Mahmudi (2007) Analisis laporan keuangan pemerintah daerah: Panduan
Eksekutif dan masyarakat dalam pengambilan keputusan ekonomi, social
dan politik, Yogyakarta.
Peraturan

Pemerintah

No

24/2006

tentang

Standar

Akuntansi

Pemerintahan.
Permendagri No. 13/2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan
Daerah.
Undang-Undang No. 1/2003 tentang Perbendaharaan negara.
Undang-Undang No. 17/2004 tentang Keuangan Negara.
Republik

Indonesia.

2004.

Peraturan

Pemerintah

No.

15

tentang

Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara.

20