Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II

PEMBUATAN EKSTRAK RAMUAN JAMU


KENCUR (Kaempferia galanga)
SECARA PERKOLASI

DISUSUN OLEH :
1. HANIFAH NURAINI

(1248025)

2. HERLINA WIBAWANTI

(1248026)

3. KARTINI KHASANAH

(1248028)

4. LIANA RESTIANA DEWI

(1248029)

PROGRAM STUDI D3 FARMASI


POLITEKNIK KESEHATAN BHAKTI SETYA INDONESIA
YOGYAKARTA
2014

Praktikum II
PEMBUATAN EKSTRAK RAMUAN JAMU KENCUR (Kaempferia galanga)
SECARA PERKOLASI
I. Tujuan Praktikum
Pada akhir praktikum diharapkan mahasiswa dapat memahami dan
melakukan proses pembuatan ekstrak suatu tanaman obat dengan cara
perkolasi dan selanjutnya dapat merancang bentuk sediaan yang cocok dan
bernilai komersil.
II. Dasar Teori
Ekstraksi atau penyarian adalah suatu kegiatan penarikan zat-zat yang
dapat larut dari bahan yang tidak larut dengan pelarut cair. Ekstraksi
dibutuhkan untuk keperluan terapi dan analisis/standarisasi. Tujuan ekstraksi
yaitu untuk memperoleh komponen kimia yang diinginkan dalam kadar yang
lebih tinggi, dan untuk menghilangkan zat pengganggu dan atau zat ballast.
Proses pembuatan ekstrak
1. Pembuatan serbuk simplisia dan klasifikasinya
Membuat serbuk simplisa kering (penyerbukan) sampai derajat kehalusan
tertentu, karena dapat mempenngaruhi mutu ekstrak. Ekstraksi dipengaruhi
oleh derajat kehalusan serbuk dan perbedaan konsentrasi.
2. Cairan pelarut
Adalah pelarut yang baik (optimal) untuk senyawa kandaungan yang
berkhasiat atau yang aktif. Pada prinsipnya cairan pelarut harus memenuhi
syarat kefarmasian atau dalam perdagangan dikenal dengan kelompok
spesifikasi "Pharmaceutical Grade". Sampai saat ini berlaku aturan bahwa
pelarut yang diperbolehkan adalah air, etanol, atau air-etanol (campuran)
3. Separasi dan pemurnian
Tujuannya untuk menghilangkan (memisahkan) senyawa yang tidak
dikehendaki. Semaksimal mungkin tanpa berpengaruh pada kandungan yang
dikehendaki, sehingga diperoleh ekstrak yang lebih murni.
4. Pemekatan/ penguapan (evaporasi dan vaporasi)

Berarti peningkatan jumlah senyawa terlarut dengan cara menguapkan


pelarut, tanpa sampai menjadi kondisi kering, ekstrak hanya menjadi
kental/pekat.
5. Pengeringan ekstrak
Berarti menghilangkan pelarut dari bahan sehingga menghasilkan serbuk,
massa kering-rapuh, tergantung proses dan peralatan yang digunakan.
6. Randemen
Adalah perbandingan antara ekstrak yang diperoleh dengan simplisia awal

Randemen ekstrak =

Salah satu metode ekstraksi yaitu Perkolasi. Perkolasi yaitu cara penyarian
dengan mengalirkan cairan penyari yang selalu baru melalui serbuk simplisia
yang telah dibasahi, umunya silakukan pada suhu ruang. Prinsip perkolasi
adalah serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder yang bagian
bawahnya diberi sekat berpori berupa glass wool atau kapas agar serbuk
simplisia tidak keluar. Cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui
serbuk tersebut. Cairan penyari akan melarutkan zat aktif pada sel-sel yang
dilalui sampai mencapai keadaan jenuh.
Kekuatan yang berperan pada perkolasi antara lain gaya berat, kekentalan,
daya larut, tegangan permukaan, difusi, osmosis, adesi, daya kapiler, dan daya
geseran (friksi). Kelebihan perkolasi :
1. Tidak terjadi kejenuhan
2. Pengaliran meningkatkan difusi (dengan dialiri cairan penyari sehingga zat
seperti terdorong untuk keluar dari sel.
Kerugian dari perkolasi :
1. Cairan penyari yang diperlukan lebih banyak
2. Resiko cemaran mikroba untuk penyari air karena dilakukan secara terbuka.

Kencur (Kaempferia galanga L.) adalah salah satu jenis emponempon/tanaman obat yang tergolong dalam suku temu-temuan dengan Tata
nama/ klasifikasi sebagai berikut:
Kingdom

Plantae

Divisi

Spermatophyta

Sub Divisi

Angiospermae

Kelas

Monocotyledoneae

Ordo

Zingiberales

Famili

Zingiberaceae

Genus

Kaempferia

Species

Kaempferia galanga L

Tanaman kencur ini berbatang kecil, basah, dan hidupnya berumpun


banyak. Kencur juga merupakan tumbuhan herba perennial dengan kumpulan
daun berbentuk rosset dekat permukaan tanah, batang semu dan pangkalnya
berbentuk rimpang. Rimpang atau rizoma tanaman ini mengandung minyak
atsiri dan alkaloid yang dimanfaatkan sebagai stimulan.
Komposisi kimia yang terkandung dalam rimpang kencur sebagai berikut:
1. pati (4,14 %),
2. mineral (13,73 %),
3. minyak atsiri (0,02 %), berupa
a. sineol,
b. asam metil kanil dan pentadekaan,
c. asam sinamat,
d. etil ester,
e. borneol,
f. kamphene,
g. paraeumarin,
h. asam anisat,
i. alkaloid dan
j. gom

Kencur (Kaempferia galanga) termasuk suku tumbuhan Zingiberaceae dan


digolongkan sebagai tanaman jenis empon-empon yang mempunyai daging buah
paling lunak dan tidak berserat. Kencur merupakan terna kecil yang tumbuh subur
di daerah dataran rendah atau pegunungan yang tanahnya gembur dan tidak terlalu
banyak air. Rimpang kencur mempunyai aroma yang spesifik. Daging buah
kencur berwarna putih dan kulit luarnya berwarna coklat. Jumlah helaian daun
kencur tidak lebih dari 2-3 lembar dengan susunan berhadapan. Bunganya
tersusun setengah duduk dengan mahkota bunga berjumlah antara 4 sampai 12
buah, bibir bunga berwara lembayung dengan warna putih lebih dominan. Kencur
tumbuh dan berkembang pada musim tertentu, yaitu pada musim penghujan.
Kencur dapat ditanam dalam pot atau di kebun yang cukup sinar matahari, tidak
terlalu basah dan di tempat terbuka.
Kencur adalah tumbuhan liar di tepi-tepi kebun, namun sekarang sudah
banyak yang dibudidayakan, bahkan secara monokultur. Tumbuh subur di daerah
tropis, di daerah yang banyak turun hujan, di dataran rendah sampai pegunungan.
Tumbuh subur pada tanah yang berwarna hitam dan berpasir, ditempat yang
sedikit terlindung. Banyak dibudidayakan di Indonesia, terutama di pulau Jawa.
Selain itu juga banyak ditanam di India, Malaysia, Taiwan, dan Cina karena
manfaatnya bagi kesehatan. Bagian yang sering digunakan adalah rimpang dan
daunnya.
Rimpang digunakan sebagai obat gosok pada bengkak yang disebabkan oleh
terkilir (keseleo) atau terpukul benda tumpul, serta untuk encok atau rematik.
Selain itu juga digunakan untuk mengobati masuk angin (sebagai flatulens),
radang lambung, kejang perut, mual, diare, penawar racun, serta sebagai obat
batuk. Juga dipakai untuk mengobati infeksi telinga, sakit kulit, bisul, dan sebagai
roboransia. Kencur kadang-kadang juga dipakai sebagai bioinsektisida.
Salah satu kandungan kimia dari rimpang kencur adalah Etil p-metoksi
sinamat dari rimpang kencur. Senyawa tersebut banyak digunakan untuk obat
batuk. Kadar etil p-metoksi sinamat dalam kencur cukup tinggi (tergantung
spesiesnya) bisa sampai 10%, karena itu bisa diisolasi dari bagian umbinya
menggunakan pelarut petroleum eter atau etanol.

Struktur p-metoksi sinamat (C12H14O3)dan asam p-metoksi sinamat sebagai


berikut.

O
C
O CH2 CH3
H3CO
Hidrolisa etil-p-metoksi sinamat menghasilkan asam-p-metoksi sinamat.
Sedangkan transformasi gugus ester dapat dilakukan melalui halida asam yang
jauh lebih reaktif untuk ditransformasikan menjadi gugus yang ditargetkan
misalnya : ester aril dapat disintesis melalui halida asam yang direaksikan dengan
fenol mengikuti mekanisme reaksi adisi-eliminasi nukleofilik, membuat fenil
sinamat dengan cara mereaksikan sinamoll klorida dengan fenol. Transformasi
gugus ester menjadi amida antara lain dapat dilakukan melalui amolisis, yakni
mereaksikan langsung ester dengan amonia atau amina.
Pengemasan dalam sediaan ekstrak jamu dipilih yang sesuai. Hitung kembali
dosis ramuan seperti pustaka acuan. Lakukan pengemasan primer dan sekunder,
lengkapi dengan leaflet/ brosur. Wadah/pembungkus/etiket harus berisi informasi
tentang :
1. Nama obat Trandisional atau nama dagang
2. Komposisi
3. Bobot, isi, atau jumlah obat tiap wadah
4. Dosis pemakaian
5. Khasiat atau kegunaan
6. Kontra indikasi (kalau ada)
7. Kadaluarsa
8. Nomor pendaftaran

9. Nomer kode produksi


10. Nama industri dan alamat sekurang-kurangnya nama kota dan kata
INDONESIA
11. Harus mencantumkan logo dan tulisan "JAMU" dan logo berupa "RANTING
DAUN TERLETAK DALAM LINGKARAN" dan ditempatkan pada bagian
atas sebelah kiri wadah/bungkus.brosur.

III. Bahan dan Alat


Bahan :
1. Simplisia Kencur (Kaempferia galanga)
2. Penyari yang sesuai (Etanol 70%)
3. Aerosil
4. Bahan pengemas
Alat :
1. Perkolator
2. Penyerbuk
3. Ayakan serbuk
4. Pengaduk
5. Beaker/erlenmeyer
6. Corong kaca
7. Kain flanel
8. Cawan poselen

IV. Cara Kerja


- Formulasi Ramuan
Penyusunan formulasi ramuan dilakukan perkelompok dengan
menggunakan satu simplisia. yang dilakukan diekstrak dengan cara perkolasi.
Indikasi/khasiat ramuan ditentukan berdasarkan kegunaan bahan utama.
Bahan ramuan tambahan disesuaikan dengan indikasi terpilih, harus disiapkan
oleh praktikan dengan bimbingan dosen pembimbing praktikum.
- Pembasahan
Sebanyak 100 gram serbuk bahan kering ditambahkan cairan penyari
sebanyak 0,5 sampai sama banyak dari botol serbuk. Sedikit demi sedikit
sambil diaduk dengan hati-hati, biarkan terendam selama 2 jam.

- Penyarian
Bagian bawah perkolator diisi dengan kapas yang telah direndam dengan etanol
70% dan kertas saring kemudian diberi kertas saring diatasnya.

Tambahkan bahan yang sudah dibasahi dan tambahkan cairan penyari sampai
kurang lebih perkolator

Biarkan termaserasi selama semalam

Keesokan harinya kran perkolator dibuka dengan mengatur kecepatan aliran


perkolat

Perkolat ditampung dalam wadah yang disediakan

Amatilah cairan penyari di atas serbuk di dalam perkolator, jika hampir mencapai
permukaan serbuk tambahkan cairan penyari lagi

Perkolasi dilanjutkan sampai cairan di atas serbuk jernih

Perkolat yang diperoleh diuapkan dalam cawan porselen dengan pemanasan di


atas penangas air hingga diperoleh ekstrak kental

Hitung randemen ekstrak yang diperoleh

Ekstrak kental yang diperoleh ditambahkan aerosil (pada praktikum menggunakan


serbuk simplisia lolos ayakan 40) hingga diperoleh ekstrak kering

Hitung bobot ekstrak kering yang diperoleh, catat jumlah aerosil (serbuk
simplisia) yang ditambahkan

Simpanlah ekstrak yang diperoleh dalam lemari pendingin sebelum diformulasi


menjadi bentuk sediaan kapsul.

IV. Perhitungan
Pembuatan Etanol 70%
=
= 1000 ml . 70%
=
Ekstrak Kental + cawan

: 226,7 gram

Cawan kosong

: 219,5 gram

Ekstrak kental

Randemen ekstrak

7,2 gram

=
=

Hasil
Hasil
Dosis
Empiris

Bahan Baku
Simplisia
Segar
1500 gram
500 gram
300 gram
100 gram
5 gram

Serbuk
21,9 gram
Serbuk

Ekstrak
7,2 gram
Bahan Baku Segar

21,9 gram

300 gram

Ekstrak Kental

Ekstrak
Kering

7,2 gram

29,1 gram

Serbuk + Ekstrak
29,1 gram
Serbuk + Bahan Baku
Segar
321,9 gram

Jumlah Pengunaan (x minum) =

Berat 1 x minum =

/ kapsul

Berat ekstrak 1 x minum (1 Kapsul) =

V. Pembahasan
Pada praktikum ini kita membuat ekstrak rimpang kencur dengan cara
perkolasi. Tujuan dari praktikum tersebut yaitu agar mahasiswa mampu
melakukan proses pembuatan ekstrak suatu tanaman obat dengan cara perkolasi
dan selanjutnya dapat merancang bentuk sediaan yang cocok dan bernilai
komersil. Tujuan dari pembuatan ekstrak sendiri adalah untuk menarik komponen
kimia (zat aktif) yang terdapat dalam simplisia. Ekstraksi ini didasarkan pada
prinsip perpindahan massa komponen zat ke dalam pelarut, dimana perpindahan
mulai terjadi pada lapisan antar muka kemudian berdifusi masuk ke dalam pelarut.
Ekstraksi secara perkolasi dilakukan dengan cara mengalirkan cairan
penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Serbuk simplisia kencur
yang digunakan adalah yang lolos ayakan 40 dan tidak lolos ayakan 20,
digunakan ukuran tersebut agar serbuk simplisia yang diekstraksi ukurannya
sesuai ( tidak halus dan tidak besar). Apabila simplisia terlalu halus minyak atsiri
akan mudah hilang karena sel-sel bahan pecah, zat ballast yang harusnya tidak
terlarut dapat terikut cairan penyari, dan akan menyebabkan clogging (pemadatan)
pada saat perkolasi. Dan apabila ukurannya terlalu besar zat aktif susah berdifusi,
sehingga cairan penyari tidak sempurna dalam melarutkan zat aktif.
Prinsip kerja perkolasi adalah serbuk simplisia yang dibasahi selama 2 jam
ditempatkan pada suatu bejana silinder (perkolator) kemudian dialiri cairan
penyari. Dibasahi selama 2 jam agar simplisia tersebut basah semua sehingga
tersari sempurna. Cairan penyari yang digunakan yaitu etanol 70%. Pemilihan
etanol sebagai pelarut didasarkan atas berbagai pertimbangan diantaranya
selektivitas, kelarutan, kerapatan, reaktivitas, dan titik didih. Etanol memiliki
beberapa keunggulan sebagai pelarut yaitu dapat melarutkan hampir semua
senyawa kimia yang terdapat dalam simplisia, beda kerapatan yang signifikan
sehingga mudah memisahkan zat yang akan dilarutkan, tidak bersifat racun, tidak
eksplosif bila bercampur udara, tidak korosif dan mudah didapat.
Cara kerja ekstraksi perkolasi yaitu yang pertama kita menyiapkan alat
yang akan digunakan (perkolator). Sebelum perkolator digunakan dicek terlebih
dahulu krannya bocor atau tidak. Kemudian bagian bawah ditutup dengan kapas
dan kertas saring untuk menghindari serbuk simplisia keluar. Kapas yang
digunakan direndam dahulu dengan etanol 70% agar tidak terdapat lemak dalam
kapas yang dapat mengotori hasil penyarian (perkolat). Setelah itu simplisia yang
telah dibasahi dimasukkan ke dalam perkolator sedikit demi sedikit sambil ditekan
dengan hati-hati agar tidak ada rongga udara. Kemudian ditambahkan dengan
cairan penyari sampai di atas serbuk

perkolator, ditutup menggunakan kertas

alumunium untuk mencegah cemaran mikroba dan didiamkan selama 24 jam.


Setelah itu kran dibuka agar perkolat menetes. Jika cairan penyari hampir
mencapai permukaan, cairan penyari ditambahkan. Perkolasi dihentikan sampai
perkolat yang menetes menjadi jernih.
Perkolat yang diperoleh diuapkan dalam cawan porselen yang telah
ditimbang dengan pemanasan di atas penangas air hingga diperoleh ekstrak
kental. Ekstrak kental yang diperoleh sebesar 7,2 gram, randemen ekstrak kencur
7,2%. Setelah didapat ekstrak kental kemudian dibuat ekstrak kering dengan cara
menambahkan aerosil (serbuk simplisia). Ekstrak kering tersebut dimasukkan ke
dalam oven dengan suhun 40 C agar sisa etanol dapat teruapkan, sehingga
ekstrak benar-benar kering. Ekstrak kering yang didapat ditimbang untuk
menentukan dosis tiap kapsul dengan membandingkan dosis empiris kencur segar
(sebanyak 5 gram). Dari perhitungan tersebut didapatkan ekstrak kencur tiap
kapsul sebanyak 0,11 gram ad 0,45 gram. Kemudian ekstrak kering kencur
dimasukkan ke dalam kapsul. Kapsul ekstrak kencur tersebut diindikasikan
sebagai obat batuk berdahak. Kapsul dikemas dengan menggunakan botol plastik
sebagai kemasan primer dan dikemas dengan menggunakan kardus sebagai
kemasan sekunder. Dalam kemasan tersebut dicantumkan etiket yang lengkap.
VI. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum "Pembuatan Ekstrak Ramuan Jamu Kencur
(Kaempferia galanga) secara Perkolasi" yang telah dilaksanakan dapat diperoleh
kesimpulan sebagai berikut:
- Ekstrak kental (perkolat) yang diperoleh sebanyak 7,2 gram, dan randemennya
sebanyak 7,2%
- Setiap kapsul berisi ekstrak kencur sebanyak 0,11 gram ad 0,45 gram.

Kencur Segar

Simplisia Kencur

Perkolator yang diisi simplisia dan dialiri cairan penyari

Perkolat

Ekstrak Kental

Kapsul ekstrak kencur

DAFTAR PUSTAKA

http://mayapusmpuspuspita.wordpress.com/2011/10/27/ekstraksi-dengan-metodeperkolasi/
http://narfina.blogspot.com/2011/11/ekstraksi-menggunakan-metodeperkolasi.html
http://shaniamuzammil.wordpress.com/2012/12/18/contoh-laporan-praktikumepms/http://shaniamuzammil.wordpress.com/2012/12/18/contoh-laporanpraktikum-epms/
http://tewewe.wordpress.com/2012/09/04/isolasi-etil-p-metoksi-sinamat-daririmpang-kencur-kaempferia-galanga/
Mardiyaningsih, Ana. dkk. 2014. Petunjuk Praktikukm Farmakognosi II.
Yogyakarta. Politeknik Kesehatan Bhakto Setya Indonesia