Anda di halaman 1dari 53

Duabelas Sifat Utama Hamba Allah terpuji ( Ibadu r-Rahman)

IBADURRAHMAN
Bagian Pertama

“Dan hamba-hamba Rabb yang Maha Penyayang


(Ibadurrahman) itu (ialah) orang-orang yang berjalan di
atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil
menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata
(mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui
malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan
mereka. Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami,
jauhkanlah azab jahannam dari kami, sesungguhnya
azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya
jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat
kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan
(harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula)
kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah
antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak
menyembah Tuhan yang lain beserta Allah, dan tidak
membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya)
kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina.
Barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya
dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan
dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia
akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali
orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan
amal shaleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan
kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan
amal shaleh, maka sesungguhnya ia bertaubat kepada
Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Dan orang-

H. Mas’oed Abidin 1
orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan
apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang
mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah,
mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.
Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan
ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya
sebagai orang-orang yang tuli dan buta. Dan orang-orang
yang berkata: “Ya Tuhan kami …Anugerahkanlah kepada
kami istri-istri dan keturunan kami, penyenang hati (kami),
dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang
bertaqwa. Mereka itulah orang yang dibalasi dengan
martabat yang tinggi (dalam sorga) karena kesabaran
mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan
ucapan-ucapan selamat di dalamnya.” (Q.S. Al Furqan:
63-75)

Ibadurrahman adalah hamba-hamba yang dinisbatkan


kepada Allah semata (Ar Rahman) yang mengandung
pengertian, bahwa mereka adalah hamba-hamba yang
layak mendapatkan rahmat Allah dan mereka selalu berada
dalam lingkup rahmat-Nya. Mereka adalah orang-orang
yang menyadari kekuasaan Allah dan memenuhi hak-hak-
Nya, yang memurnikan agama karena Allah dan Allah
memurnikan agama-Nya bagi mereka.

Dinisbatkannya mereka kepada Allah Yang Maha


Rahman – sebagaimana yang dinyatakan langsung oleh
Allah – oleh karena disana juga ada golongan-golongan
hamba yang lain, seperti hamba syeitan, hamba taghut,
hamba syahwat, hamba uang, hamba khamar, hamba
narkoba, hamba birahi, hamba harta, hamba tahta, hamba
Duabelas Sifat Utama Hamba Allah terpuji ( Ibadu r-Rahman)

wanita.

Ibadurrahman mempunyai sifat dan tanda-tanda


sebagaiman yang disebutkan Allah di dalam ayat-ayat di
atas. Sifat-sifat tersebut adalah:

1.Tawadhu’ dan rendah hati

2.Murah hati

3.Mendirikan shalat malam (Qiyamullail)

4.Takut neraka

5.Sederhana dalam membelanjakan harta

6.Tauhid

7.Menjauhi tindak pembunuhan dan menghormati


kehidupan

8.Menjauhi zina

9.Taubat Nasuha

10. Tidak bersumpah palsu dan meninggalkan


pekerjaan yang tidak bermanfaat

11. Menyelami ayat-ayat Allah

12. Memohon kebaikan bagi istri dan keluarganya

Sifat Ibadurrahman yang pertama: Tawadhu’

Sifat Ibadurrahman yang pertama diungkapkan oleh Al


Qur’an bahwa mereka berjalan di muka bumi dalam
keadaan rendah hati dan penuh tawadhu’.

H. Mas’oed Abidin 3
Ibadurrahman berjalan di muka bumi dalam keadaan
rendah hati, tawadhu’ dan lemah lembut, berjalan dengan
penuh kewibawaan dan kehormatan, tidak dengan sikap
sombong dan semaunya sendiri, tidak merasa lebih tinggi
dari siapapun, tidak menyeramkan dan tidak congkak.

Syaikh Yusuf Al Qardhawy mengatakan maksud


berjalan dengan rendah hati bukan berarti berjalan dengan
cara membungku-bungkuk seperti orang sakit, sebab
Rasulullah SAW tidak berbuat seperti itu, begitu pula para
sahabat. Sebagaimana yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib
r.a, dari Nabi SAW, bahwa saat berjalan badan beliau
bergerak-gerak seperti sedang meniti jalan menurun. Ini
merupakan jalannya orang-orang yang penuh semangatdan
pemberani, seperti yang dikatakan Ibnu Qayyim di dalam
Zadul Ma’ad . Abu Hurairah juga pernah berkata, “Aku tidak
melihat sesuatu pun yang lebih bagus dari pada Rasulullah
SAW. Seolah-oleh matahari berjalan di muka beliau. Aku
juga tidak melihat seseorang yang lebih jalannya daripada
beliau, seakan-akan bumi menjadi turun di hadapan beliau.
Kami sudah berusaha menyeimbangi beliau, tapi beliau
seperti tidak peduli.”

Rasulullah tidak berjalan seperti orang sakit atau


lamban. Tapi maksud cepat disini bukan berarti cara
berjalan yang menghilangkan kewibawaan, yang berjalan
terlalu cepat. Artinya sedang-sedang saja, tidak terlalu
cepat tidak terlalu lambat, sesuai dengan perawakan, umur
dan kemampuan.

Rasulullah SAW juga para sahabat beliau telah


menyontohkan kepada kita sikap tawadhu’ yang pada
Duabelas Sifat Utama Hamba Allah terpuji ( Ibadu r-Rahman)

dasrnya adalah salah satu landasan sikap dan akhlak


mereka.

Kemudian marilah kita simak kata-kata hikmah berikut


ini yang terdapat dalam kitab Muzakarah fi manazili as
Shiddiqin wa ar Rabbaniyyin; min khilali an Nushus wa
Hikam Ibnu ‘Athaillah Sakandary karya Syaikh Sa’id Hawwa:

“Barangsiapa yang beranggapan bahwa dirinya tawadhu’


pada hakikatnya dia orang-orang yang sombong, sebab
anggapan tawadhu’ seperti ini tidak timbul kecuali lantaran
rasa tinggi diri/tinggi hati. Karena itu, jika engkau
beranggapan bahwa dirimu telah tawadhu’ sebenarnya
engkau adalah orang yang takabur (sombong).”

Allahu A’lam Bi As Shawab

Bagian Kedua

َ
َ ِ ‫ن فَإ‬
‫ذا‬ ُ ‫س‬
َ ‫ح‬
ْ ‫يأ‬َ ِ‫ة اد ْفَعْ ِبال ِّتي ه‬
ُ َ ‫سي ّئ‬
ّ ‫ة َول ال‬
ُ َ ‫سن‬ َ ْ ‫وي ال‬
َ ‫ح‬ ِ َ ‫ست‬
ْ َ ‫َول ت‬

َ
‫م‬
ٌ ‫مي‬
ِ ‫ح‬
َ ‫ي‬ ُ ّ ‫داوَةٌ ك َأن‬
ّ ِ ‫ه وَل‬ َ َ‫ه ع‬
ُ َ ‫ك وَب َي ْن‬ ِ ّ ‫ال‬
َ َ ‫ذي ب َي ْن‬

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah


(kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba
orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan,
seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Q.S.
Fushilat: 34)

H. Mas’oed Abidin 5
Sifat Ibadurrahman yang kedua: Murah hati

Sifat Ibadurrahman yang kedua adalah sifat Murah Hati


saat bergaul dengan manusia, terutama dengan orang-
orang yang jahil dan bodoh. Sebagaimana firman Allah
SWT,

‫ض هَوْن ًننا وَإ َِذا‬ َ ْ َ َ ‫شننو‬


ُ ‫م‬ ِ ‫ن ال ّن‬
ِ ‫ن عَلننى الْر‬ ْ َ‫ن ي‬
َ ‫ذي‬ ِ ‫م‬
َ ‫ح‬
ْ ‫عَباد ُ الّر‬
ِ َ‫و‬

‫ما‬ َ ‫ن َقاُلوا‬
ً ‫سل‬ َ ‫جاهُِلو‬
َ ْ ‫م ال‬
ُ ُ‫خاط َب َه‬
َ

“… dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, maka


mereka mengucapkan kata-kata yang baik (yang
mengandung keselamatan),” (Q.S. Al Furqan: 63)

Mengucapkan kata-kata yang baik artinya


membebaskan diri dari kata-kata yang mengandung dosa,
celaan, fitnah dan rasa dendam. Tidak membals keburukan
dengan keburukan yang sama, meskipun itu sanggup
dilakukan dan punya hak untuk membalasnya.

Allah SWT berfirman:

َ َ
ْ ُ ‫مال َُنا وَل َك‬
‫م‬ َ ْ‫ه وََقاُلوا ل ََنا أع‬ ُ ‫مُعوا الل ّغْوَ أع َْر‬
ُ ْ ‫ضوا ع َن‬ َ ‫وَإ َِذا‬
ِ ‫س‬

َ
‫ن‬ َ ْ ‫م ل ن َب ْت َِغي ال‬
َ ‫جاه ِِلي‬ ْ ُ ‫م عَل َي ْك‬
ٌ ‫سل‬ ْ ُ ‫مال ُك‬
َ ‫م‬ َ ْ ‫أع‬

“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak


bermanfaat, mereka berpaling dari padanya dan mereka
berkata, “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-
Duabelas Sifat Utama Hamba Allah terpuji ( Ibadu r-Rahman)

amal kamu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin


bergaul dengan orang-orang yang jahil.” (Q.S Al-Qashash:
55)

Ketika orang-orang jahil menyapa, maka Ibadurrahman


mengucapkan perkataan yang baik, tidak melumuri
lidahnya dengan kata-kata yang sia-sia, tidak meladeni dan
menghindarinya. Karena mereka tidak mau waktu mereka
terbuang hanya untuk melayani sesuatu yang tidak
bermanfaat, bukankah waktu sangat berharga apalagi bagi
Ibadurrahman. Begitulah Ibadarurrahman, mereka menjaga
lidah, waktu dan umur, melindungi lembaran-lembaran
kebaikan yang sudah ada dan mengisi dengan kebaikan-
kebaikan yang lain, menghindari keburukan dan sesuatu
yang tidak mendatangkan manfaat bagi mereka.

Nabi Isa a.s pernah berjalan melewati sekumpulan


orang-orang Yahudi, lalu mereka melontarkan kata-kata
yang tidak senonoh kepda beliau, tapi beliau menanggapi
perkataan mereka dengan kebaikan. Maka ada beberapa
orang bertanya kepada beliau, “Orang-orang itu telah
melontarkan kata-kata tidak senonoh kepada engkau,
namun engkau justru mengatakan yang baik kepada
mereka.” Beliau menjawab, “Segala sesuatu mengeluarkan
apa yang ada di dalamnya.”

Anas bin Malik r.a pernah berkata; “Jika ada yang


mengucapkan kata-kata kasar kepadamu, misalnya dengan
ungkapan, “Wahai orang zalim, fasik, pendusta,
pembohong”, atau kata-kata lain yang tidak senonoh, maka
hadapilah ia dengan berkata, “Kalau memang engkau
berkata bahwa aku ini seperti yang engkau katakan,

H. Mas’oed Abidin 7
semoga Allah mengampuni kesalahanku. Jika engkau dusta
atau mengada-adaatau memfitnah dengan kata-katamu itu,
semoga Allah mengampuni kedustaanmu.”

Allah SWT berfirman: “Dan tidaklah sama kebaikan


dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara
yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan
antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi
teman yang sangat setia.” (Q.S. Fushilat: 34)

Di dalam ayat di atas Allah memerintahkan kita untuk


tetap berlaku baik bahkan yang lebih baik kepada orang
yang berbuat jahat kepada kita, agar dia berbalik menjadi
teman yang setia. Karena manusia itu menjadi tawanan
kebaikan. Jika kita berbuat baik kepada seseorang, maka
kebaikan itu akan mengikat dirinya dengan diri kita,
sebagaimana yang dikatakan seorang penyair:

“Tundukkan hati manusia dengan berbuat baik


kepadanya. Karena hanya kebaikan yang dapat
menundukkan hati manusia”.

Dalam pembahasan sebelumnya banyak disebut


tentang orang-orang yang jahil dan bagaimana
menykapinya dalam pergaulan. Siapakah mereka yang
disebut dengan orang-orang yang jahil? … Menurut Syaikh
Yusuf Al-Qardhawy, jahil menurut Al Qur’an adalah setiap
orang yang durhaka kepada Allah Azza wa Jalla, setiap
orang yang memberi kekuasaan kepada hawa nafsu untuk
mengalahkan kebenaran dan setiap orang yang memberi
kekuasaan kepada syahwat untuk mengalahkan akal sehat.
Orang-orang yang meremehkan, mengolok-olok masalah
Duabelas Sifat Utama Hamba Allah terpuji ( Ibadu r-Rahman)

yang serius dan mengejek kebenaran. Begitupun setiap


orang yang akhlaknya buruk.

Al Qur’an menceritakan ketika para wanita tertarik dan


terpesona saat menatap wajah tampanNabi Yusuf a.s, maka
Nabi Yusuf a.s berkata, “…Dan jika tidak Engkau hindarkan
aku dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung
untuk memenuhi keinginan mereka, dan tentulah aku
termasuk orang-orang yang jahil.” (Q.S. Yusuf: 33)

Al Qur’an juga menceritakan ketika Nabi Musa a.s


memerintahkan kaumnya agar menyembelih sapi betina,
maka mereka berkata, “Apakah kamu hendak menjadikan
kami buah ejekan?” Musa menjawab, “Aku berlindung
kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-
orang yang jahil.” (Q.S. Al Baqarah: 67)

Sebagai penutup dari pembahasan kedua sifat


Ibadurrahman marilah kita simak hadits Rasulullah SAW
berikut ini:

“Bersabda Nabi SAW kepada ‘Uqbah bin ‘Amir r.a, “Wahai


‘Uqbah, maukah engkau aku beritahukan budi pekrti ahli
dunia dan akhrat yang paling utama? Yaitu: Melakukan
silaturrahmi (menghubungkan kekeluargaan) dengan orang
yang telah memutuskannya, memberi kepad orang yang
tidak pernah memberimu, dan memaafkan orang yang
pernah menganiayamu.” (H.R. Hakim)

Allahu A’lam bi as Shawab

H. Mas’oed Abidin 9
Bagian Ketiga

َ َ َ‫ة ل‬
ً َ ‫جد ْ ب ِهِ َنافِل‬
َ ّ ‫ك َرب‬
‫ك‬ َ َ ‫ن ي َب ْعَث‬
ْ ‫سى أ‬
َ َ‫ك ع‬ ِ ْ ‫ن الل ّي‬
ّ َ‫ل فَت َه‬ َ ‫م‬
ِ َ‫و‬

‫موًدا‬
ُ ‫ح‬
ْ ‫م‬
َ ‫ما‬
ً ‫مَقا‬
َ

“Dan pada sebagian malam hari, (shalat) tahajjudlah


sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan
Tuhamu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”

(Q.S. Al Israa: 79)

Sifat Ibadurrahman yang ketiga: Shalat Malam

Pada malam hari Ibadurrahman berada dalam keadaan


antara sujud dan berdiri, yang berarti mereka sedang
mendirian shalat (Qiyamullail). Allah SWT berfirman: “Dan
orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan
berdiri untuk Rabb mereka.” (Q.S. Al Furqn: 64)

Mereka diberi sifat sujud, karena mereka meletakkan


kening di atas tanah, menghadap Allah. Dan mereka juga
berdiri, membaca Kalamullah. Mereka melakukan itu bukan
mencari kehormatan di mata manusia, bukan untuk
mencari ketenaran dan pujian, tapi mereka melakukannya
karena mengharap ridha Allah dan rahmat-Nya serta karena
takut akan azab-Nya.

Di dalam riwayat banyak sekali yang menceritakan


tentang keadaan Rasulullah SAW dalam melewati waktu
Duabelas Sifat Utama Hamba Allah terpuji ( Ibadu r-Rahman)

malamnya. Salah satunya diriwayatkan bahwa suatu hari


Ubaid bin Umair dan Atha’ bin Abu Rabbah mendatangi
rumsh Sayyidah Aisyah r.a lalu mereka bertanya,
“Beritahukanlah kepada kami sesutau yang paling
menakjubkan yang engkau lihat pada diri Rasulullah SAW!”
Setelah diam beberapa saat, Aisyah menjawab, “Suatu
malam beliau berkata kepadaku, ‘Hai Aisyah, biarkan aku
malam ini beribadah kepada Rabbku.” Aku berkata, “Demi
Allah, aku suka selalu dekat dengan engkau, namun aku
juga suka apa yang membuat engkau senang.”

Maka beliau bangkit, bersuci, lalu berdiri untuk


mengerjakan shalat. Beliau terus menerus menangis, lalu
beliau duduk dan masih tetap menangis hingga janggut
beliau basah oleh air mata. Lalu beliau berdiri dan terus
menangis hingga tanah di dekat beliau basah. Kemudian
Bilal datang mengumandangkan Azan Subuh. Ketika
melihat beliau menagis, Bilal menghampiri beliau seraya
berkata, “Wahai Rasulullah, engkau menangis, padahal
Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lampau
dan dosa-dosamu yang akan datang.” Beliau menjawab,
“Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang
bersyukur?”

Begitulah waktu malam yang dilalui oleh Rasulullah


SAW, dan begitu juga yang dilakukan oleh para sahabat
beliau. Al Hasan bin Shaleh – salah salah seorang fuqaha
salaf – pernah menjual seorang budak perempuan kepada
sekumpulan orang. Ketika memasuki sepertiga terakhir dari
waktu malam, wanita budak bangun dan menyeru mereka,
“sahalat, shalat!” Mereka bertanya-tanya, “Apakah sudah

H. Mas’oed Abidin 11
subuh? Apakah fajar sudah terbit?” Wanita budak itu balik
bertanya, “Apakah kalian tidak shalat kecuali subuh saja?”
Mereka menjawab, “Memang, kami hanya biasa
mengerjakan shalat fardhu.” Maka budak itu menemui Al
Hasan dan memohon kepadanya dengan berkata, “Tuan
menjual aku kepada sekumpulan orang yang tidak
mendapatkan bagian apapun dari waktu malam. Demi Allah
aku memohon agar tuan mengambil aku kembali.”

Barangsiapa yang tidak bisa melakukan semua itu


(Shalat malam), maka hendaklah ia mendirikan shalat
fardhu tepat pada waktunya dan tidak mengulur-ulur shalat
subuh sehingga matahari hampir terbut dan lebih suka
tidur.

Syaikh Yusuf Al Qardhawy mengatakan, “Pola hidup


manusia sudah banyak yang rusak. Dulu mereka suka tidur
lebih cepat dan bengun lebih cepat pula. Ketika berbagai
macam perangkat dan fasilitas modern, media massa, TV,
film, Video ada dimana-mana, maka mereka belum tidur
hingga tengah malam, dan mereka pun kesulitan bangun
lebih dini.”

“Disebutkan dari Nabi SAW, bahwa ada seseorang yang


tidur sepanjang malam hingga pagi hari. Maka beliau
bersabda, “Itulah orang yang dikencingi syeithan di bagian
telinganya.” (H.R. Bukhari & Muslim)

Rasulullah SAW bersabda:

“Syeithan membuat tiga simpul tali dibagian belakang


kepala salah seorang diantara kalian, yang pada setiap
simpul tali ia bubuhkan stempel, ‘Malam masih panjang,
Duabelas Sifat Utama Hamba Allah terpuji ( Ibadu r-Rahman)

maka tidurlah lagi’, Jika ia bangun dan menyebut nama


Allah, maka simpul itupun terburai. Jika ia wudhu’, maka
satu simpul lagi terburai, dan jika ia mendirikan shalat,
maka seluruh simpul terburai, sehingga dia menjadi
bersemangat dan tentram jiwanya. Jika tidak, maka
tertekanlah jiwanya dan (timbullah) malas.” (H.R.
Bukhari)

Simpul tali syeithan itu senantiasa ada di kepala setiap


orang. Karena itu Rasulullah SAW bersabda;

“Lepaskanlah simpul tali syeithan itu meskipun dengan dua


rakaat.” (H.R. Ibnu Khuzaimah)

Syaikh DR. Yusuf Al Qardhawy mengatakan, “Shalat


malam dapat dikerjakan seusai shalat Isya hingga waktu
fajar. Kita bisa memilih bagian dari bentangangan waktu
itu. Shalatlah menurut kesanggupan, bisa dua rakaat,
empat rakaat, enam rakaat, delapan rakaat, hingga dua
belas rakaat, dan akhirilah dengan shalat witir, karena
sesungguhnya akhir shalat malam itu dipersaksikan.
Tuntunan yang paling sederhana dari setiap muslim ialah
melaksanakan shalat fardhu. Tapi Allah mensifati
Ibadurrahman, bahwa mereka adalah orang-orang yang
sujud dan berdiri melaksanakan shalat di waktu malam
(Qiyamullail), dan tidak mensifati mereka sebagai orang-
orang yang hanya memelihara dan mendirikan shalat
fardhu. Memang memelihara shalat fardhu merupakan satu
tingkatan, tapi itu bukan tingkatan Ibadurrahman. Artinya,
Ibadurrahman memiliki tingkatan yang lebih tinggi lagi.”

Abdullah bin Sallam berkata, “Ketika pertama kali

H. Mas’oed Abidin 13
Rasulullah SAW menginjakkan kaki di Madinah, maka orang-
orang berkerumun mengelilingi beliau, dan aku termasuk
mereka yang ikut berkerumun. Setelah aku amati
kuperhatikan wajah beliau, maka aku tahu bahwa wajah itu
bukanlah wajah pendusta. Perkataan yang pertama kali
aku dengar dari beliau adalah :

“Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan,


jalinlah hubungan persaudaraan dan shalatlah pada malam
setelah manusia tidur, niscaya kalian akan masuk sorga
dengan sejahtera.” (H.R. Ahmad dan Tirmidzi)

Allahi A’lam bi as Shawab

Bagian Keempat

ٌ َ ‫مل‬
‫ة‬ ِ ‫عا‬
َ (2) ‫ة‬
ٌ َ ‫شع‬
ِ ‫خا‬
َ ٍ‫مئ ِذ‬
َ ْ‫جوهٌ ي َو‬
ُ ُ‫و‬ (1) ِ ‫ث ال َْغا‬
ِ‫شي َة‬ ُ ‫دي‬
ِ ‫ح‬ َ ‫ل أ ََتا‬
َ ‫ك‬ ْ َ‫ه‬

(5) ٍ‫ن َءان ِي َة‬


ٍ ْ ‫ن عَي‬
ْ ‫م‬
ِ ‫سَقى‬
ْ ُ‫ت‬ (4) ‫ة‬
ً َ ‫مي‬ َ ‫صَلى َناًرا‬
ِ ‫حا‬ ْ َ‫ت‬ (3) ‫ة‬
ٌ َ ‫صب‬
ِ ‫َنا‬

‫ن‬ ِ ‫ن وَل َ ي ُغِْني‬


ْ ‫م‬ ُ ‫م‬ ْ ُ‫ل َ ي‬
ِ ‫س‬ (6) ‫ريٍع‬
ِ ‫ض‬
َ ‫ن‬
ْ ‫م‬ ٌ ‫م ط ََعا‬
ِ ّ ‫م إل‬ ْ ُ‫س ل َه‬
َ ْ ‫ل َي‬

‫جوٍع‬
ُ

“Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari


pembalasan?, Banyak muka pada hari itu tunduk terhina,
bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat
panas (neraka), diberi minum (dengan air) dari sumber
yang sangat panas. Mereka tiada memperoleh makanan
Duabelas Sifat Utama Hamba Allah terpuji ( Ibadu r-Rahman)

selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan


dan tidak pula menghilangkan lapar.” (Q.S Al Ghasyiyah:
1-7)

Sifat Ibdurrahman yang keempat: Takut Neraka

Pada edisi sebelumnya telah dibicarakan tentang sifat-


sifat yang dimiliki Ibadurrahman yaitu:

1.Berjalan di muka bumi dengan rendah hati (Tawadhu’),


dan ini merupakan keadaan yang ada pada diri mereka.

2.Mengucapkan kata-kata yang baik (murah hati) jika


mereka disapa orang-orang jahil. Ini merupakan
keadaan mereka bersama orang lain.

3.Melalui waktu malam dengan sujud dan berdiri


menghadap Rabb mereka. Ini merupakan keadaan
mereka bersama Allah. Dikala orang lain lalai dan tidur
pulas, justru mereka bangun dan mendirikan shalat lail,
bermujahadah menghadapi Allah.

Hamba-hamba yang disifati langsung oleh Allah


sebagai Ibadurrahman ini, melakukan semua yang
disebutkan di atas karena ada rasa takut dan harap yang
selalu merasuki diri mereka. Mereka adalah hamba-hamba
Allah yang memiliki rasa takut yang begitu besar kepada
Allah, kepada azab-Nya, seakan-akan neraka terpampang
nyata di hadapan mereka. Karena itu timbullah rasa harap
akan maghfirah Allah, ampunan dan ridha-Nya, hidayah dan
rahmat-Nya serta harapan akan dijauhkan dari jilatan api
neraka yang sangat dahsyat. Mereka menyadari bahwa

H. Mas’oed Abidin 15
mereka hidup di dunia nyata, tertuntun dengan sekian
ragam kewajiban kehidupan. Namun, meskipun demikian,
mereka tidak dapat menafikan bahwa suatu hari kematian
pasti akan datang menjemput. Setelah kematian ada
kebangkitan.

Setelah kebangkitan ada pengumpulan. Setelah itu ada


hisab (perhitungan), mizan (timbangan), ada penyerahan
kitab. Tiada seorangpun yang mengetahui dengan tangan
apa ia akan menerimanya, tangan kanan (ash-habul yamin)
atau dengan tangan kirinya (ash-habul syimal)? Tidak ada
yang mengetahui ke sisi mana timbangan amalnya, ke sisi
kebaikan atau keburukan?. Yang lebih menggetarkan lagi,
kemana ia diantar, apakah ke dalam syurga tau dilempar
ke dalam neraka? Maka tidak heran jika para Ibadurrahman
merasa seakan-akan neraka jahannam itu terpampang
dengan nyata di hadapan mereka, yang seakan-akan
neraka itu hendak meluluh lantakkan diri mereka dan lidah-
lidah apinya seakan hendak menjilati kulit mereka dan
menembus ubun-ubun mereka. Karena itu mereka berdoa.

Setiap orang akan melewati shirah yang di bawahnya


api neraka yang menganga. Tiada yang tahu apakah dia
selamat melintasi/menyeberangi jembatan yang ada di atas
neraka itu ataukah akan jatuh ke dalamnya? Apakah ia
dapat melewatinya secara cepat ataukah melewatinya
secara tertati-tatih dan akhirnya jatuh di dalamnya? Allah
SWT berfirman:

‫ضّيا‬
ِ ‫مْق‬
َ ‫ما‬
ً ْ ‫حت‬ َ ّ ‫ن ع ََلى َرب‬
َ ‫ك‬ َ ‫ها‬
َ ‫كا‬ ْ ُ ‫من ْك‬
َ ُ ‫م إل ّ َوارِد‬ ِ ‫ن‬
ْ ِ ‫وَإ‬
Duabelas Sifat Utama Hamba Allah terpuji ( Ibadu r-Rahman)

‫جث ِّيا‬
ِ ‫ن ِفيَها‬
َ ‫مي‬ ّ ‫وا وَن َذ َُر ال‬
ِ ِ ‫ظال‬ ْ ‫ن ات َّق‬ ِ ّ ‫جي ال‬
َ ‫ذي‬ ّ ُ‫ث‬
ّ َ ‫م ن ُن‬

“Dan tidak ada seorangpun dari kamu sekalian melainkan


mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabb-mu adalah suatu
kepastian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan
menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan
membiarkan orang-orang yang zhalim di dalam neraka
dalam keadaan berlutut.” (Q.S. Maryam: 71-72)

Setiap individu muslim dan keluarga muslim harus


menanamkan keimanan dalam diri dan keluarganya serta
menjaganya dari jilatan api neraka.

Diriwayatkan bahwa Nabi Daud pernah berkata:

“Ya Ilahi, aku tak pernah sabar akan panasnya terik


matahari. Lantas, bagaimana mungkin aku bisa sabar akan
panasnya api neraka-Mu?”

Nabi Isa a.s pernah berkata:

“Beberapa banyak badan yang bagus, lisan yang fasih,


wajah yang berseri, kelak berada di atas api neraka sambil
berteriak-teriak kesakitan.”

Syeikh Yusuf Al Qardhawy mengatakan:

“Kematian merupakan pintu, dan setiap orang akan


memasukinya. Tempat tinggal macam apakah yang ada di
balik pintu itu? Tempat tinggal engkau adalah sorga, selagi
engkau mengerjakan hal-hal yang diridhai Allah. Jika tidak,
maka nerakalah tempat tinggal engkau. Keduanya
merupakan tempat tinggal yang berbeda. Maka pilihlah
tempat tinggal engkau.”

H. Mas’oed Abidin 17
Allah dan Rasul-Nya telah mengingatkan dan
menggambarkan keadaan neraka sedemikian rupa,
sehingga begitu jelas dan tanda-tandanya tampak di depan
mata, agar kelak kita tidak lagi mempunyai hujjah di
hadapan Allah. Karena itu manusia harus berada diantara
takut dan harap, tidak boleh terlalu dikuasai harapan
sehingga mereka merasa aman dari tipu daya Allah, dan
tidak pula terlalu dikuasai rasa takut, sehingga putus asa
terhadap rahmat Allah. Tapi jika seseorang merasa dosanya
terlalu banyak, kedurhakaannya menumpuk, kitab amalnya
dipenuhi dengan kesalahan-kesalahan, maka dia harus
lebih banyak merasa takut daripada berharap, selalu
mengingat dosa-dosanya dan tidak melalaikannya.

Menghisab (menghitung) dirinya sebelum dihisab,


menimbang amalnya sebelum ditimbang, bertanya kepada
dirinya sebelum ditanya. Dia harus mengingat neraka dan
bertanya-tanya kepada diri sendiri, “Apa yang telah engkau
lakukan? Apa yang telah engkau abaikan? Apa yang telah
engkau langgar?” Siapa tahu yang demikian ini bisa
meluruskan, membuat dia menyadari apa yang telah luput,
lalu membenarkan apa yang telah diabaikanya, sehingga
hari ini lebih baik dari kemaren, dan besok lebih baik dari
pada hari ini. Beginilah keadaan orang-orang mukmin.

Allahu A’lam bi Ash Shawab

Bagian Kelima
Duabelas Sifat Utama Hamba Allah terpuji ( Ibadu r-Rahman)

‫ط‬ ْ َ ‫ل ال ْب‬
ِ ‫س‬ ّ ُ ‫سط َْها ك‬ َ ‫ة إ َِلى عُن ُِق‬
ُ ْ ‫ك وَل َ ت َب‬ ً َ ‫مغُْلول‬ َ َ ‫ل ي َد‬
َ ‫ك‬ ْ َ ‫وَل َ ت‬
ْ َ ‫جع‬

‫سوًرا‬
ُ ‫ح‬
ْ ‫م‬ ً ‫مُلو‬
َ ‫ما‬ َ َ ‫فَت َْقعُد‬

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada


lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkan karena
itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (Q.S. Al Israa’:
29)

Sifat Ibadurrahman Kelima : Sederhana dalam


membelanjakan harta.

Islam mengajarkan sikap pertengahan (sederhana)


dalam segala perkara, termasuk dalam hal membelanjakan
harta yang dimiliki. Yaitu tidak berlebihan dan tidak pula
kikir.

Tidak ada salahnya Ibadurrahman memiliki harta. Toh


harta dalam pandangan Islam merupakan karunia Ilahi yang
diusahakan manusia dan nikmat yang harus disyukuri dan
juga merupakan amanat yang harus dipelihara. Bagi
Ibadurrahman, harta adalah karunia Allah yang diserahkan
dan dipercayakan kepada manusia untuk mengurus dan
mengembangkannya.

Allah SWT telah memberikan petunjuk dalam hal yang


berhubungan dengan harta. Yang berkaitan dengan cara
mendapatkannya (yaitu harus dengan cara yang halal
sesuai dengan apa yang telah disyari’atkan), cara
mengembangkan nya, cara membelanjakannya, dan cara
menyalurkannya. Boleh jadi manusia berusaha

H. Mas’oed Abidin 19
mengumpulkan harta dari cara-cara yang halal. Tapi
setelah itu dia menjadi kikir untuk memenuhi haknya,
bakhil membelanjakannya untuk hal-hal yang disukai dan
diridhai Allah atau sebaliknya, dia menghambur-
hamburkannya kesana kemari tanpa ada manfaat apapun.

Jika seseorang hidup sederhana, tidak bakhil dan tidak


kikir, tidak boros dan berlebih-lebihan, maka itu merupakan
dalil (pertanda) kedalaman pengetahuan dan cahaya
ilmunya. Dia berjalan di tengah, dan sebaik-baik urusan
adalah pertengahannya. Islam menuntut ummatnya untuk
menafkahkan sebagian dari harta mereka, dan tidak
menuntut mereka menafkahkan semua harta yang di miliki.
Ketika Allah mewajibkan manusia untuk mengeluarkan
zakat, maka zakat yang dikeluarkan itu hanya beberapa
persen dari harta yang dimiliki, dan tidak membebankan
mereka dengan jumlah yang terlalu banyak.

Ibadurrahman sangat jauh dari sifat kikir dan bakhil,


mereka adalah hamba-hamba Allah yang dermawan,
namun tidak boros dalam membelanjakan hartanya. Orang
kikir yang begitu erat menggenggam hartanya, bak kata
pepatah, “Laksana air dalam genggaman, tak setetespun
yang mengalir.” Adalah orang-orang yang sangat dimurkai
Allah. Ia meyakini harta yang ada padanya mutlak miliknya
karena diperoleh dari usahanya sendiri, sehingga ia lupa
kewajiban yang telah diperintahkan Allah kepadanya
dengan hartanya itu. Ia enggan membelanjakan sebagian
hartanya fisabilillah dengan berinfaq, bersedekah, bahkan
mereka enggan mengeluarkan zakat. Allah SWT
mengancam mereka yang bakhil dan kikir dengan azab api
Duabelas Sifat Utama Hamba Allah terpuji ( Ibadu r-Rahman)

neraka yang dahsyat. Sebagaimana firman Allah dalam


surat At Taubah ayat 34-35:

َ
‫ن‬ ْ َ ‫ن ا ْل‬
ِ ‫حب َننارِ َوالّرهْب َننا‬ ِ ‫ن ك َِثي نًرا‬
َ ‫من‬ ّ ِ ‫من ُننوا إ‬
َ ‫ن َءا‬ ِ ‫َياأي ّهَننا ال ّن‬
َ ‫ذي‬

‫ل‬ ‫بي‬‫ن‬ ‫س‬ ‫ن‬ ‫ن‬ َ ‫ع‬ ‫ن‬ ‫دو‬ ‫ن‬ ‫ص‬ ‫ي‬‫و‬ ‫ل‬‫ن‬ ‫ط‬ ‫با‬ ْ ‫ل‬ ‫با‬ ‫س‬ ‫نا‬
‫ن‬ ‫ن‬‫ال‬ َ
‫ل‬ ‫وا‬ ‫م‬َ ‫ل َيأ ْك ُُلون أ‬
ِ ِ َ ْ َ ّ َ
ُ َ ِ ِ َ ِ ِ ّ َ ْ َ َ

‫ة وَل َ ي ُن ِْفُقون َهَننا فِنني‬ ّ ‫ب َوال ِْف‬


َ ‫ضن‬ َ ‫ن ي َك ْن ُِزو‬
َ َ‫ن الذ ّه‬ ِ ّ ‫الل ّهِ َوال‬
َ ‫ذي‬

‫مى عَل َي َْهننا‬ َ َ َ‫م ب ِع‬ ّ َ ‫ل الل ّهِ فَب‬


َ ‫ح‬
ْ ُ‫م ي‬
َ ْ‫(ي َو‬34)‫م‬
ٍ ‫ب أِلي‬
ٍ ‫ذا‬ ْ ُ‫شْره‬ ِ ‫سِبي‬
َ

ْ ُ‫م وَظ ُُهننوُره‬


‫م‬ ْ ُ‫جُنننوب ُه‬
ُ َ‫م و‬
ْ ُ‫جَباهُه‬ َ ْ ‫م فَت ُك‬
ِ ‫وى ب َِها‬ َ ّ ‫جهَن‬
َ ِ‫ِفي َنار‬

َ ‫ت َك ْن ُِزو‬
(35)‫ن‬ ْ ُ ‫ما ك ُن ْت‬
‫م‬ َ ‫ذوُقوا‬
ُ َ‫م ف‬ ِ ‫م ِل َن ُْف‬
ْ ُ ‫سك‬ ْ ُ ‫ما ك َن َْزت‬ َ َ‫ه‬
َ ‫ذا‬

“…. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak


dan tidak menafkahkannya di jalan Allah (fi sabilillah),
maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan
mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas
perak itu dalam beraka jahannam, lalu dibakar dengannya
dahi mereka, lambung dan punggung merela (lalu
dikatakan) kepada mereka; “Inilah harta bendamu yang
kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah
sekarang (akibat dari) apa yang kamu dimpan itu.”

Rasullah SAW juga memperingatkan ummatnya agar


menjauhi sifat kikir karen sifat kikir mengakibatkan manusia
saling benci, putus hubungan kekeluargaan dan
persaudaraan, timbul kesenjangan, jurang pemisah antara

H. Mas’oed Abidin 21
si miskin dan si kaya, bahkan bisa terjadi saling
menumpahkan darah.

Allah SWT telah menggambarkan kepada kita tentang


suatu masyarakat yang kehidupannya penuh dengan
persaudaraan dan kasih sayang di antara mereka.
Solidaritas mereka begitu tinggi, yang kaya memperhatikan
yang miskin, dan yang mampu dan kuat membantu yang
lemah. Itulah masyarakat Madinah yang dibangun oleh
Rasulullah SAW dan begitulah gambaran ikatan
persaudaraan antara kaun Anshar dan Muhajirin. Mereka
adalah orang-orang yang jauh dari sifat kikir dan mereka
itulah orang-orang yang mendapatkan keberuntungan dari
Allah SWT.

Disamping tidak kikir, Ibadurrahman sangat dermawan,


katakanlah bahwa mereka sangat “hobby” dalam berinfaq
di jalan Allah, dan mereka tidak berlebih-lebihan dalam
menafkahkan hartanya kepada orang lain, meskipun
sebenarnya tidak ada istilah berlebih-lebihan dalam
kebaikan. Artinya mereka tiada membelanjakannya dalam
kedurhakaan kepada Allah. Ibadurrahman sangat yakin
bahwa setiap harta yang ia nafkahkan di jalan Allah, maka
Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik dan yang
lebih banyak, tidak ia rasakan di dunia, namun balasannya
pasti ia nikmati di akhirat kelak.

Sebagai penutup, marilah kita hayati dan renungkan


firman Allah dalam hadits Qudsi berikut ini yang
diriwayatkan oleh Imam Baihaqi yang bersumber dari Abu
Hurairah r.a:
Duabelas Sifat Utama Hamba Allah terpuji ( Ibadu r-Rahman)

“Wahai anak Adam! Jika engkau mendermakan kelebihan


hartamu, maka kebaikanlah bagimu. Tetapi sekiranya
engkau menggenggamkan tanganmu (karena kikir), maka
keburukanlah bagimu. Engkau tidak akan dicela (oleh
Allah) atas kehidupan yang pas-pasan (tidak berkelebihan
tapi qana’ah – selalu puas dengan apa yang ada), dan
mulailah (menafkahkan harta) dengan orang yang engkau
tanggung (dengan memberikan nafkah belanja seadanya).
Dan tangan di atas (memberi) lebih baik dari tangan di
bawah (meminta).”

Allahu A’lam bi as Shawab

Bagian Keenam

ُ ُ َ ‫شهد الل ّه أ َنه ل َ إل َه إل ّ هُو وال ْمل َئ ِك‬


ً ِ ‫ة وَأوُلو ال ْعِل ْم ِ َقائ‬
‫ما‬ َ َ َ َ ِ ُ ّ ُ َ ِ َ

‫ن‬
َ ‫دي‬
ّ ‫ن ال‬
ّ ِ‫( إ‬18) ‫م‬
ُ ‫كي‬ َ ْ ‫زيُز ال‬
ِ ‫ح‬ ِ َ‫ه إل ّ هُوَ ال ْع‬
َ َ ‫ط ل َ إ ِل‬ ْ ‫ِبال ِْق‬
ِ ‫س‬

ُ ‫ف ال ّذي‬
َ ‫ن أوُتوا ال ْك َِتا‬
ّ ‫ب إل‬ َ ِ َ َ ‫خت َل‬
ْ ‫ما ا‬ ْ ‫عن ْد َ الل ّهِ ال‬
ُ َ ‫سل‬
َ َ‫م و‬ ِ

ِ ‫ن ي َك ُْفْر ِبآَيا‬
‫ت‬ ْ ‫م‬
َ َ‫م و‬ ُ ْ ‫م ال ْعِل‬
ْ ُ‫م ب َغًْيا ب َي ْن َه‬ ُ ُ‫ما جاَءه‬
َ ِ‫ن ب َعْد‬
ْ ‫م‬
ِ

(19) ‫ب‬
ِ ‫سا‬ ِ ْ ‫ال‬
َ ‫ح‬ ُ‫ريع‬
ِ ‫س‬ َ ّ ‫ن الل‬
َ ‫ه‬ ّ ِ ‫الل ّهِ فَإ‬

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada sesembahan


yang haq melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para

H. Mas’oed Abidin 23
malaikat dan orang-orang yang berilmu(juga mengatakan
yang demikian itu). Tidak ada sesembahan yang haq
melainkan Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Sesunggunya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah
Islam.” (Q.S. Ali Imran: 18-19)

Sifat Ibadurrahman yang keenam: Tauhid

Allah SWT menyatakan sifat Ibadurrahman yang


keenam ini dalam firman-Nya:

‫س‬ َ ‫خَر وَل َ ي َْقت ُُلو‬


َ ‫ن الن ّْف‬ َ ‫معَ الل ّهِ إ ِل ًَها َءا‬
َ ‫ن‬ ُ ْ ‫ن ل َ ي َد‬
َ ‫عو‬ ِ ّ ‫َوال‬
َ ‫ذي‬

َ ِ ‫ل ذ َل‬
‫ك‬ ْ َ‫ن ي َْفع‬
ْ ‫م‬
َ َ‫ن و‬ َ ْ ‫ه إل ّ ِبال‬
َ ‫حقّ وَل َ ي َْزُنو‬ ُ ّ ‫م الل‬ َ ‫ال ِّتي‬
َ ‫حّر‬

َ
ً ‫ي َل ْقَ أَثا‬
‫ما‬

“Dan orang-orang yang tidak menyembah sesembahan lain


beserta Allah.” (Q.S. Al Furqan: 68)

Artinya Ibadurrahman mempunyai suatu keyakinan


yang menancap dalam qalbu mereka bahwa tidak ada yang
patut dan berhaq untuk disembah melainkan Allah SWT.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menulis dalam
bukunya Syarhu Tsalatsati Al Ushul ketika memberikan
keterangan dan penjelasan (Syarah) tentang kandungan
makna firman Allah SWT yang terdapat dalam surat Ali
Imran Ayat 18.

Kemudian beliau menegaskan bahwa Ibadurrahman


Duabelas Sifat Utama Hamba Allah terpuji ( Ibadu r-Rahman)

yang memiliki kematangan Tauhid meyakini bahwa


meskipun ada sesembahan selain Allah, namun itu semua
adalah batil, dan tidak berhak disembah, oleh karena tidak
memiliki sifat Uluhiyah sama sekali.

Marilah kita simak apa komentar Imam Fakhruddin


Muhammad bin Umar bin Husen Ar Raazi (Penulis Kitab
Tafsir Mafaatihil Ghaib/Tafsir Al Kabir tentang ayat di atas
yang terdapat dalam bukunya ‘Ajaibul Qur’an, “Dari ayat di
atas kita dapat mengetahui bahwa sebenarnya Allah Ta’ala
mendahulukan perintah-Nya untuk berma’rifatut tauhid
(pengenalan terhadap tauhidullah) dari pada perintah
memohon ampun kepada-Nya. Sebabnya ialah karena
ma’rifatut tauhid menunjuk kepada ilmu ushul (pokok dan
prinsip), sedangkan kegiatan memohon ampunan-Nya
menunjukkan kepada ilmu yang bersifat furu’ (cabang).
Oleh sebab itu jelaslah, ilmu ushul harus didahulukan . Jika
kita tidak mengetahui eksistensi Sang Pencipta maka hal
itu akan menghalangi tegaknya ketaatan dan
penghambaan kita kepada-Nya.”

Prof. DR. Mahmud Saltut mengatakan bahwa Islam


menetapkan Wahdaniyah Rububiyah. Artinya, tidak ada
Tuhan yang menciptakan, mengatur dan melaksanakan
segala sesuatu, melainkan Allah ‘Azza Wajalla. Kemudian
menetapkan Wahdaniyatul Uluhiyah, artinya tidak ada zat
yang berhak disembah, dihadapkan kepadanya segala
permohonan dan dimohonkan pertolongannya, selain Allah
SWT. Syaikh Yusuf Al Qardhawy menambahkan bahwa
tauhid ada dua macam: Tauhid Rububiyah dan Tauhid
Uluhiyah. Yang disebut Tauhid Rububiyah ialah engkau

H. Mas’oed Abidin 25
meyakini bahwa tidak ada Rabb selain Allah, tidak ada
Khaliq, tidak ada pemberi rezki melainkan Allah semata,
Dialah yang menciptakan langit dan bumi beserta seluruh
isinya serta menguasainya.

Adapun Tauhid Uluhiyah ialah jika engkau tidak


menyembah, tidak memohon pertolongan, todak berdoa,
tidak takut, dan tidak berharap kecuali kepada Allah
semata. Karena tauhid inilah Allah menurunkan kitab-kitab-
Nya, mengutus rasul-rasul-Nya, agar para rasul itu
mengajak kaumnya kepada tauhid ini. Karena itu seruan
yang pertama dalam setiap risalah para rasul adlah kalimat
tauhid.

Rasulullah SAW pernah mengirim surat kepada


beberapa raja yang berkuasa pada saat itu. Kepada Kaisar
Rumawi, kepada Muqaqis, kepada Najasyi dan kepada para
ahli Kitab dengan menyebutkan ayat yang mulia berikut ini:

“Katakanlah: “Wahai ahli Kitab, marilah (berpegang)


kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada
perselisihan diantara kami dan kalian, bahwa tidak kita
sembah kecuali Allah, dan tidak kita persekutukan Dia
dengan sesuatupun dan tidak pula sebagian kita
menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain
daripada Allah.” (Q.S. Ali Imran: 64)

Para ahli tafsir telah sepakat bahwa ayat pertama yang


diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW adalah
surat Al ‘Alaq ayat 1-5.

Pada wahyu pertama ini Allah SWT telah mengenalkan


beberapa Nama dan Sifat-Nya diantara Asmaul Husna,
Duabelas Sifat Utama Hamba Allah terpuji ( Ibadu r-Rahman)

yaitu, Ar Rabb (Maha Pemelihara), Al Khaliq (Maha


Pencipta), Al Akram (Maha Pemurah, Maha Mulia) dan Al
Alim (Maha Mengetahui). Bersamaan dengan itu, manusia
dikenalkan dengan eksistensi (wujud) dirinya sebagai
seorang hamba, makhluk yang diciptakan, dari sesuatu
yang hina (segumpal darah) dan bodoh (tidak tahu).
Manusia yang menyadari keberadaan Ar Rabb Yang Maha
Pemelihara, sementara dirinya adalah hamba yang
dipelihara akan melahirkan sikap Uluhiyah Ta’abbud
(menghamba dan menyembah Allah SWT). Secara Verbal
sikap ini terangkum dalam kalimat ‘Laa ma’buuda bi haqqin
illallaah, tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah
SWT. Allah SWT berfirman, “Iyyaaka Na’budu wa Iyyaaka
Nasta’iin” (Q.S. Al Fatihah: 5-6).

Diantara keistimewaan Ibadurrahman adalah


kematangan tauhidullah ini. Karena itulah Allah SWT
memilih mereka sebagai hamba-hamba pilihan yang
dinisbatkan langsung sengan-Nya; Merekalah
Ibadurrahman.

Allahu A’lam bi as Shawab

Bagian Ketujuh

ِ‫كوا ب ِه‬ ْ ُ ‫م أ َل َ ت‬
ُ ِ‫شر‬ ْ ُ ‫م ع َل َي ْك‬
ْ ُ ‫م َرب ّك‬
َ ‫حّر‬
َ ‫ما‬ ُ ْ ‫وا أ َت‬
َ ‫ل‬ ْ َ ‫ل ت ََعال‬
ْ ُ‫ق‬

َ
ٍ َ ‫مل‬
‫ق‬ ْ ِ‫ن إ‬
ْ ‫م‬ ْ ُ ‫ساًنا وَل َ ت َْقت ُُلوا أوْل َد َك‬
ِ ‫م‬ َ ‫ح‬
ْ ِ‫ن إ‬ َ ْ ‫شي ًْئا وَِبال‬
ِ ْ ‫وال ِد َي‬ َ

‫ما ظ َهََر‬
َ ‫ش‬
َ ‫ح‬ َ ‫م وَل َ ت َْقَرُبوا ال َْف‬
ِ ‫وا‬ ْ ُ ‫ن ن َْرُزقُك‬
ْ ُ‫م وَإ ِّياه‬ ُ ‫ح‬
ْ َ‫ن‬

H. Mas’oed Abidin 27
ُ ّ ‫م الل‬
ّ ‫ه إل‬ َ ‫س ال ِّتي‬
َ ‫حّر‬ َ ‫ن وَل َ ت َْقت ُُلوا الن ّْف‬
َ َ ‫ما ب َط‬
َ َ‫من َْها و‬
ِ

َ ‫م ت َعِْقُلو‬
‫ن‬ ْ ُ ‫م ب ِهِ ل َعَل ّك‬
ْ ُ ‫صاك‬ َ ْ ‫ِبال‬
ْ ُ ‫حقّ ذ َل ِك‬
ّ َ‫م و‬

“Katakanlah, “Marilah kubacakan apa yang diharamkan


atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu; Janganlah kamu
mempersukutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah
kepada kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu
membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan.
Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka;
dan janganlah mendekati perbuatan-perbuatan yang keji,
baik yang tampak diantaranya maupun yang tersembunyi,
dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan
Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab)
yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh
Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).”

(Q.S. Al An’am: 151)

Sifat Ibadurrahman yang ketujuh: Menjauhi tindak


pembunuhan dan menghormati kehidupan

Syari’at Islam tidak diturunkan hanya untuk menjaga


agama dan aqidah semata, tetapi juga untuk menjaga
darah dan jiwa, menjaga kehormatan dan kesucian,
menjaga akal, keturunan dan harta benda. Karena itu
Ibadurrahman sangat menjauhi tindak kekerasan apalagi
yang mengarah kepada pembunuhan, dan mereka sangat
menghormati kehidupan, menaburkan kasih sayang di
tengah-tengah manusia dan membenci kejahatan, terlebih
Duabelas Sifat Utama Hamba Allah terpuji ( Ibadu r-Rahman)

lagi yang namanya pembunuhan.

Al-Qur’an menyertai tindak pembunuhan dengan syirik,


karena buruknya kejahatan ini. Syirik merupakan
pelanggaran terhadap agama, sedangkan pembunuhan
merupakan pelanggaran terhadap kehidupan. Islam datang
untuk mengharamkan penumpahan darah dan melarang
seseorang melanggar jiwa orang lain tanpa alasan yang
dibenarkan.

Semenjak dahulu kala manusia selalu dikuasai oleh


nafs Ammarah, jiwa yang menyuruh kepada kejahatan,
sehingga sebagian membunuh sebagian yang lain, hanya
karena memperebutkan keduniawian yang tidak seberapa
nilainya, atau karena amarah yang meluap-luap, atau
karena kedengkian, kebencian dan perselisihan, atau
karena kompetisi dan persaingan dalam kehidupan ini, atau
sebab-sebab yang lain. Pada masa awal kehidupan
manusia, pembunuhan telah terjadi. Dimana salah seorang
putra Adam a.s yang bernama Qabil membunuh
saudaranya sendiri Habil. Dan ini merupakan tidakan
pembunuhan yang pertama kali di muka bumi. Saat itu
seseorang belum tahu bagaiman memperlakukan jasad
orang lain, maka Allah mengutus seekor burung gagak yang
menggali dipermukaan tanah, untuk mengajarkan kepada
manusia bagaimana memperlakukan jasad saudaranya
yang sudah mati.

Rasulullah SAW telah memperingatkan ummatnya agar


tidak kembali ke era jahiliyah, yang memiliki tradisi saling
bermusuhan, dan saling membunuh tanpa ada alasan yang
benar. Maka ketika haji Wada’ beliau bersabda di hadapan

H. Mas’oed Abidin 29
ribuan orang-orang muslim“Janganlah kalian kembali
menjadi kafir sesudahku, sehingga diantara kalian
memenggal leher sebagian yang lain (saling membunuh)”.

Jika sebagian mereka dengan sebagian yang lain saling


membunuh, maka beliau menganggap hal itu sebagai
keadaan orang-orang kafir. Karena prilaku keji tersebut
(membunuh dan saling bunuh) bukan keadaan atau sifat
orang-orang muslim. Allah menegaskan dalam Al Qur’an:

‫دا ِفيهَننا‬
ً ‫خال ِن‬
َ ‫م‬
ُ ‫جهَن ّن‬ َ َ‫دا ف‬
َ ُ‫ج نَزاؤ ُه‬ ً ‫من‬
ّ َ‫مت َع‬ ِ ْ ‫مؤ‬
ُ ‫من ًننا‬ ْ ُ ‫ن ي َْقت‬
ُ ‫ل‬ ْ ‫م‬
َ َ‫و‬

َ
‫ما‬
ً ‫ظي‬ ُ َ ‫ه وَأع َد ّ ل‬
َ َ‫ه ع‬
ِ َ‫ذاًبا ع‬ ُ َ ‫ه ع َل َي ْهِ وَل َعَن‬
ُ ّ ‫ب الل‬ ِ َ ‫وَغ‬
َ ‫ض‬

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin


dengan sengaja, maka balasannya ialah jahannam, ia kekal
di dalamnya dan Allah murka kepadanya, mengutuknya
dan menyediakan azab yang besar baginya.”

(Q.S. An Nisaa’: 93)

Marilah kita renungkan sabda-sabda Rasulullah SAW


berikut ini:

َ ُ ‫ل ََزَوا‬
‫م‬
ْ ِ ‫سل‬
ْ ‫م‬
ُ ‫ل‬
ٍ ‫ج‬ ِ ْ ‫ن قَت‬
ُ ‫ل َر‬ ْ ‫م‬
ِ ِ‫عن ْد َ الله‬
ِ ‫ن‬
ُ َ‫ل الد ّن َْيا أهْو‬

“Kebinasaan dunia ini lebih remeh bagi Allah daripada


Pembunuhan terhadap seorang muslim.” (H.R. At
Tirmidzi dan An Nasa’i)

‫ماِء‬ ُ َ‫أ‬
َ ّ ‫مةِ ِفى الد‬
َ ‫م الِقَيا‬
َ ْ‫س ي َو‬
ِ ‫نا‬
ّ ‫ال‬ ‫ن‬
َ ْ ‫ي‬َ ‫ب‬ ‫ضى‬
َ ‫ق‬
ْ ُ ‫ي‬ ‫ما‬
َ ‫ل‬ ّ ‫و‬
Duabelas Sifat Utama Hamba Allah terpuji ( Ibadu r-Rahman)

“Pengadilan yang pertama kali di antara manusia pada hari


kiamat adalah mengenai darah (pembunuhan).” (H.R
Bukhari dan Muslim)

Bahkan membantu orang lain untuk membunuh orang


mukmin, entah dengan cara apapun dan sekecil apapun,
juga mendapatkan balasannya, sebagaimana sabda
Rasulullah SAW.“Barangsiapa yang membantu untuk
membunuh seorang mukmin dengan sepenggal kata,
maka dia akan bertemu Allah dan diantara matanya tertulis
‘Terputus dari rahmat Allah’.”(H.R. Ibnu Majah)

Sufyan bin Uyainah mengatakan. “Yang dimaksud


sepotong atau sepenggal kata-kata disini ialah seperti
mengucapkan ,’B….’, tidak melengkapinya dengan kata
‘Bunuh’, kepada orang yang hendak membunuh. Lantas
bagaimana dengan orang yang membunuh itu sendiri?”

Setiap jiwa mempunyai kehormatan dan hak hidup,


maka setiap manusia harus menghormatinya, bahkan jiwa
seekor kucingpun mempunyai hak, sehingga seorang
wanita dimasukkan ke adalam neraka karena
mengurungnya hingga mati tanpa memberinya makan atau
tidak melepaskannya agar si kucing dapat mencari sendiri
makanannya. Karena itulah Ibadurrahman sangat menjauhi
penumpahan darah, mereka menghormati kehidupan.

Allahu A’lam bi as Shawab

Bagian Kedelapan

H. Mas’oed Abidin 31
‫سك ُُنوا‬ َ ُ ‫خل َق ل َك ُم من أ َنُفسك‬ َ
ْ َ ‫جا ل ِت‬
ً ‫م أْزَوا‬
ْ ِ ْ ْ ِ ْ َ َ ‫ن‬ ْ ‫ن َءاَيات ِهِ أ‬
ْ ‫م‬
ِ َ‫و‬

ٍ ‫ك ل ََيا‬
‫ت‬ َ ِ ‫ن ِفي ذ َل‬
ّ ِ‫ة إ‬
ً ‫م‬
َ ‫ح‬
ْ ‫موَد ّةً وََر‬ ْ ُ ‫ل ب َي ْن َك‬
َ ‫م‬ َ َ‫إ ِل َي َْها و‬
َ َ‫جع‬

َ ‫ل َِقوْم ٍ ي َت ََفك ُّرو‬


‫ن‬

“Diantara Tanda-tanda kebesaran-Nya ialah bahwa Dia


(Allah) Menciptakan untukmu pasangan-pasangan (suami-
istri) dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenteram
dengannya dan dijadikannya diantara kamu rasa kasih
sayang. Sesungguhnya hal itu merupakan tanda-tanda bagi
orang yang berfikir.” (Q.S. Ar Ruum: 21)

Risalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW adalah


Rahmatan Lil’alamin. Islam menjaga agama dan aqidah.
Maka ia mengharamkan syirik, baik yang besar maupun
yang kecil, yang tampak maupun yang tersembunyi. Islam
menjaga jiwa manusia, maka ia mengharamkan
pembunuhan dan pelanggaran terhadap jiwa manusia.
Islam menjaga kehormatan dan keturunan. Maka ia
mengharamkan perzinaan. Karena itu, Ibadurrahman
memiliki kemantapan tauhid, mereka memelihara diri dari
tindak kekerasan apa lagi yang mengarah kepada
pembunuhan dan mereka juga menjauhi perzinaan dan hal-
hal yang mengarah kepada perzinaan yang sangat dimurkai
Allah SWT. Allah SWT berfirman:

“Dan orang-orang yang tidak menyembah sesembahan


yang lain bersama Allah dan tidak membunuh jiwa yang
Duabelas Sifat Utama Hamba Allah terpuji ( Ibadu r-Rahman)

diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan)


yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang
melakukan yang demikian itu, niscaya dia (mendapat) dosa
(nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada
hari kiamat dan dia akan kekal di dalam azab itu dalam
keadaaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat,
beriman dan mengerjakan amal shaleh, maka kejahatan
mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al Furqan:
68-70)

Sifat Ibadurrahman yang Kedelapan: Menjauhi Zina

Islam melarang segala sesuatu yang menjurus kepada


zina, yang dimulai dengan mendidik individu agar menjaga
kehormatannya, menjaga kemaluannya, menahan
pandangannya, baik laki-laki maupun perempuan.

Islam melarang pergaulan bebas (promiskuitas) antar


lawan jenis (laki-laki dan perempuan) dan mengharamkan
laki-laki berkhalwat, berduaan bersama wanita yang bukan
mahram, melarang pandangan yang disertai nafsu syahwat,
melarang wanita terlalu bersolek dan pakaian yang
seronok. Jangankan melakukan perzinaan, mendekatinya
saja sudah diharamkan Allah. Inilah tanda kasih sayang
Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Prof. DR. dr. H. Dadang Hawari dalam bukunya Al


Qur’an; Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa
mengungkapkan tentang gaya hidup dengan pola
pergaulan bebas (promiskuitas) dan hubungan bebas (free

H. Mas’oed Abidin 33
sex) yang terjadi di sebuah negara maju yang dangat
dikenal yaitu Amerika. Hawari mengatakan, “bahwa 7 dari
10 wanita dan 8 dari 10 pria telah melakukan hubungan
seksual (di luar nikah) sebelum mereka berumur 20 tahun.
Satu dari 6 pelajar putri yang aktif bergaul bebas (sexuall
active), paling sedikit telah berganti-ganti pasangan
dengan 4 pria yang berbeda. Setiap tahunnya 1 dari 7
remaja terkena penyakit kelamin. Sebanyak 2,5 hingga 5
juta orang Amerika di bawah umur 25 tahun telah
memperoleh pengobatan untuk penyakit kelamin setiap
tahunnya. Data pada tahun 1985 menyebutkan bahwa 65
% dari penyekit kencing nanah (gonorrhoe), 40 % dari
penyakit sipilis, penderitanya adalah mereka yang berusia
10-24 tahun. Peringkat tertinggi untuk penyakit gonorrhoe
(kencing nanah), sipilis, dan chlamydia, adlah pada remaja
putri usia antara 10-14 tahun dan 15-19 tahun. Setiap
tahunnya 1 dari 10 remaja putri hamil dengan resiko
kehamilan secara kumulatif hingga usia 20 tahun mencapai
40 % (setiap satu menit dua remaja hamil). Selain dari pada
itu setiap tahunnya antara 125.000 hingga 200.000 remaja
terlibat prostitusi (pelacuran).”

Tidak diragukan lagi bahwa sabda beliau di atas adalah


salah satu tanda dari kenabiannya dan salah satu bukti
mengenai kerasulannya, ketika menceritakan hal tersebut
sejak 1300 tahun silam, munculnya perbuatan keji di
tengah suatu bangsa atau masyarakat yang dikerjakan
secara terang-terangan tanpa ada rasa malu apalagi
sungkan. Keadaan masyarakat yang demikian itu ternyata
mengundang datangnya berbagai macam wabah dan
penyakit yang mereka sendiri tidak mampu mengatasinya.
Duabelas Sifat Utama Hamba Allah terpuji ( Ibadu r-Rahman)

Seperti yang ada di hadapan mata kita, salah satu contoh


dari perbuatan perzinaan yang dilakukan dengan begitu
gampang oleh sebagian anak manusia yang kehilangan
akal sehatnya, apa yang terjadi? Timbulnya penyakit yang
begitu ganas yang mematikan; yaitu AIDS (Acquired
Immunodeficiency Syndrome) yang disebabkan oleh virus
HIV (Human Immunodeficiency Virus).

Menurut Marzuki Umar Sa’abah dalam bukunya Seks &


Kita, kemunculan pertama AIDS dirasakan sekitar tahun
1981 (saat itu sekitar 100.000 orang telah terinfeksi virus
AIDS. Red). Baru pada tahun 1983, Dr. Luc Montagnier dari
Lembaga Pasteur Paris mengumumkan tentang adanya
suatu virus maut. Setahun kemudian, Dr. Galo
membuktikan keberadaan virus ini dengan gejala
kehilangan kekebalan tubuh manusia. Sejak seorang
terinfeksi virus ini, maka daya tahan tubuhnya terhadap
berbagai penyakit semakin merosot. Maka saat itu mereka
berada dalam stadium terminal (diambang kematian).

Entah berapa banyak nyawa manusia yang telah


melayang disebabkan oleh virus maut yang hanya memiliki
besar 0,1 mikron (0,0001 mm) ini. Menurut Hawari, pada
tahun 2000 ada sekitar 110 juta orang yang terinfeksi virus
AIDS dan sekitar 30-40 juta orang yang mati.

Islam mengharamkan zina namun Islam sama sekali


tidak memusuhi dan berseberangan dengan naluri seksual.
Tapi Islam berpendapat agar naluri seksual ini diletakkan
seperti apa yang dikehendaki dan diperintahkan Allah agar
manusia menyalurkannya lewat cara yang halal, yaitu lewat
pernikahan, sehingga terbentuk rumah tangga dan

H. Mas’oed Abidin 35
keluarga yang penuh ridha dan rahmat Allah, keluarga yang
sakinah sehingga dengannya terbentuklah masyarakat
yang ideal sesuai dengan petunjuk Ilahi.

Allahu A’lam bi as Shawab

Bagian Kesembilan

‫سى‬ ّ َ ّ َ ‫ياأ‬
َ َ ‫حا ع‬
ً ‫صو‬
ُ َ ‫ن‬ ‫ة‬
ً َ ‫ب‬ْ ‫و‬َ ‫ت‬ ِ ‫ه‬ ‫ل‬‫ال‬ ‫لى‬ ِ ‫إ‬ ‫بوا‬
ُ ‫تو‬
ُ ‫نوا‬
ُ ‫م‬
َ ‫ءا‬
َ ‫ن‬
َ ‫ذي‬
ِ ‫ل‬‫ا‬ ‫ها‬
َ َ
ّ ‫ي‬

َ ُ ‫ربك‬
‫ري‬
ِ ‫ج‬
ْ َ‫ت ت‬
ٍ ‫جّنا‬ ْ ُ ‫خل َك‬
َ ‫م‬ ْ ُ ‫سي َّئات ِك‬
ِ ْ ‫م وَي ُد‬ ْ ُ ‫ن ي ُك َّفَر ع َن ْك‬
َ ‫م‬ ْ ‫مأ‬ْ ّ َ

ِ ّ ‫ي َوال‬ َ
‫مُنوا‬
َ ‫ن َءا‬
َ ‫ذي‬ ُ ّ ‫زي الل‬
ّ ِ ‫ه الن ّب‬ ِ ‫خ‬ َ ْ‫حت َِها ا ْلن َْهاُر ي َو‬
ْ ُ‫م ل َ ي‬ ْ َ‫ن ت‬
ْ ‫م‬
ِ

َ َ ‫معه نورهُم يسعى بي‬


َ ‫م ي َُقوُلو‬
‫ن َرب َّنا‬ ْ ِ‫مان ِه‬
َ ْ ‫م وَب ِأي‬
ْ ِ‫ديه‬
ِ ْ ‫ن أي‬
َ َْ َ ْ َ ْ ُ ُ ُ َ َ

ّ ُ ‫ك ع ََلى ك‬
َ ّ ‫فْر ل ََنا إ ِن‬ َ
ِ َ‫يءٍ ق‬
‫ديٌر‬ َ ‫ل‬
ْ ‫ش‬ ِ ْ‫م ل ََنا ُنوَرَنا َواغ‬
ْ ‫م‬
ِ ْ ‫أت‬

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah


dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan
Tuhan kalian akanmengapus kesalahan-kesalahan kalian
dan memasukkan kalian ke dalam sorga yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak
menghinakan nabi dan orang-orang yang beriman bersama
dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan
dan disebelah kanan mereka,sambil mereka mengatakan,
“Wahai Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya
kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha
Duabelas Sifat Utama Hamba Allah terpuji ( Ibadu r-Rahman)

Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S At Tahrim: 8)

Sifat Ibadurrahman yang kesembilan: Taubat


Nashuha

Pada pembahasan tentang sifat-sifat Ibadurrahman


sebelumnya dapat kita ambil pelajaran bahwa mereka
adalah hamba-hamba Allah yang senantiasa mengerjakan
kebajikan dan menjauhi keburukan. Namun demikian,
sebagai manusia biasa, sudah barang tentu mereka pernah
melakukan kesalahan dan dosa, akan tetapi mereka tidak
membiarkan dirinya hanyut dan tenggelam di dalamnya.
Apabila mereka mendapatkan dirinya melakukan dosa atau
kesalahan, mereka langsung bertaubat memohon ampun
kepada Allah. Dan menyesali perbuatannya.

Taubat merupakan rahmat Allah bagi hamba-hamba-


Nya. Allah Maha Mengetahui akan kelemahan hamba-
hambnya. Manusia diciptakan tidak sesuci malaikat, tapi
manusia diciptakan sebagai makhluk yang memiliki
keinginan, dorongan dan syahwat, amarah dan birahi,
sehingga mereka sering terseret dalam bujuk rayu syetan
yang selalu menggodanya. Allah mengetahui yang
demikian itu pada hamba-Nya, maka Dia membukakan
pintu taubat bagi mereka. Allahlah yang menciptakan
mereka dalam keadaan seperti itu karena Dia ingin
menerima taubat hamba-Nya. Diantara asma Allah adalah
At Tawwab (Maha Penerima Taubat), Al Ghaffar (Maha
Mengampuni) dan Al ‘Affuwwu- Ar Rahim (Maha Pemberi
Maaf dan Maha Penyayang).

H. Mas’oed Abidin 37
‫م ل َ ت َْقن َط ُننوا‬ َ َ ‫عبادي ال ّنذي‬
ِ ‫سنَرُفوا عَل َننى أن ُْف‬
ْ ِ‫سنه‬ ْ ‫نأ‬َ ِ ْ ُ‫ق‬
َ ِ َ ِ ‫ل َيا‬

‫و‬
َ ‫ه هُ ن‬
ُ ‫ميعًننا إ ِن ّن‬
ِ ‫ج‬
َ ‫ب‬ َ ‫ن الل ّن‬
َ ‫ه ي َغِْفنُر النذ ُّنو‬ ّ ِ ‫مةِ الل ّهِ إ‬
َ ‫ح‬
ْ ‫ن َر‬
ْ ‫م‬
ِ

‫م‬ ِ ‫ال ْغَُفوُر الّر‬


ُ ‫حي‬

“Katakanlah, Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas


terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa
dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-
dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Az Zumar: 53)

Syaikh DR. Yusuf Al Qardhawy dalam bukunya At


Taubah Ilallah menyebutkan beberapa syarat yang harus
dipenuhi dalam melakukan istighfar (memohon ampunan
Allah) agar istighfar diterima di sisi Allah SWT.

Pertama: niat yang benar dan ikhlas karena Allah

Kedua: harus ada kebersamaan hati dan lisan dalam


melakukan istighfar.

Seseorang tidak akan bisa mengatakan “Aku mohon


ampun kepada Allah” tapi hatinya tetap berkeinginan untuk
melakukan kedurhakaan. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a,
dia berkata, “Orang yang memohon ampun dari dosa
namun dia tetap melakukan dosa itu, sama dengan orang-
orang yang mengolok-olok Allah.”

Ketiga: menjaga kesucian.

Agar setiap yang melakukan istighfar berada dalam


Duabelas Sifat Utama Hamba Allah terpuji ( Ibadu r-Rahman)

kondisi yang paling sempurna, lahir maupun batin. Seperti


yang disebutkan dalam hadits Ali bin Abi Thalib, beliau
berkata, ”Aku diberitahu Abu bakar As Shiddiq, dia berkata,
‘Aku pernah mendengar Nabi SAW bersabda’,

“Tidaklah seorang melakukan dosa, kemudian bangkit,


bersuci dan membaguskannya, kemudian memohon ampun
kepada Allah Azza wa Jalla, melainkan Dia (Allah)
akanmengampuni dosanya.”

Keempat: memohon ampunan Allah dalam keadaan


antara takut dan berharap.

Para pendurhaka tidak boleh berputus asa, sehingga


enggan untuk bertaubat. Tak ada yang dianggap terlalu
besar bagi Allah, seperti apapun besarnya dosa itu.
Sesungguhnya ampunan dan rahmat Allah jauh lebih besar
dari dosa itu. Namun jangan pula terlena, sesungguhnya
azab dan siksa Allah amat keras.

Kelima: memilih waktu-waktu yang lebih utama, seperti


padaa sepertiga malam yang terakhir (waktu sahur
sebelum mendekati subuh).

Keenam: memohon ampun sewaktu shalat. Seperti


ketika sujud, sebelum salam, sesudah tahyat akhir ataupun
seusai shalat.

Rasulullah SAW pernah mengajarkan kepada Abu Bakar


r.a agar mengucapkan dalam shalat sebelum salam: "Ya
Allah, sesungguhnya aku telah menzholimi diriku sendiri
dengan kezholiman yang banyak, sementara tidak ada
yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau, Maka
ampunilah bagiku dengan ampunan dari sisi-Mu dan

H. Mas’oed Abidin 39
rahmatilah aku, karena sesungguhnya Engkau Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Yang paling penting, sudah saatnya kita bertaubat


memohon ampun kepada Allah, karena kita tidak tahu
kapan ajal menjemput kita. Kalau saja kita masih saja
berada dalam kubang kedurhakaan dan kemurkaan,
niscaya kita akan menemui penyesalan yang pasti tiada
arti. Padahal Allah selalu menanti permohonan taubat
hamba-hamba-Nya. Maka kesempatan yang kini telah
diberikan Allah haruslah dpergunakan sebaik-baiknya.
Dengan meningkatkan keiman dan amal shakeh yang
diridhai Allah SWT. Contoh teladan terlukis dalam pribadi
Rasulullah SAW, bahwa beliau tidak pernah melewatkan
hari-harinya tanpa beristighfar memohon ampunan Allah.

Allahu A’lam bi as Shawab

Bagian Kesepuluh

َ ِ ‫مًنا قَِليل ُأول َئ‬


‫ك‬ َ َ‫م ث‬
ْ ِ‫مان ِه‬
َ
َ ْ ‫ن ب ِعَهْد ِ الل ّهِ وَأي‬ ْ َ‫ن ي‬
َ ‫شت َُرو‬ ِ ّ ‫ن ال‬
َ ‫ذي‬ ّ ِ‫إ‬

‫ه وَل َ ي َن ْظ ُُر‬
ُ ّ ‫م الل‬ ِ َ ‫م ِفي ا ْل‬
ُ ّ ‫خَرةِ وَل َ ي ُك َل‬
ُ ُ‫مه‬ ْ ُ‫خل َقَ ل َه‬
َ َ‫ل‬

َ
‫م‬
ٌ ‫ب أِلي‬
ٌ ‫ذا‬ ْ ُ‫م وَل َه‬
َ َ‫م ع‬ ّ ‫مةِ وَل َ ي َُز‬
ْ ِ‫كيه‬ ِ ْ ‫م ال‬
َ ‫قَيا‬ ْ ِ‫إ ِل َي ْه‬
َ ْ‫م ي َو‬

“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan


sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit,
Duabelas Sifat Utama Hamba Allah terpuji ( Ibadu r-Rahman)

mereka itu tidak mendapat bagian (pahala) di akhirat, dan


Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak
akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak
(pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang
pedih.” (Q.S. Ali Imran: 77)

Sifat Ibadurrahman yang kesepuluh: Tidak


bersumpah palsu dan meninggalkan perbuatan yang
tidak bermanfaat

Allah SWT mensifati Ibadurrahman dalam Al Qur’an


surat Al Furqan ayat 72:

‫ما‬ َ ِ‫مّروا ِبالل ّغْو‬


ً ‫مّروا ك َِرا‬ َ ‫ن الّزوَر وَإ َِذا‬
َ ‫دو‬ ْ َ‫ن ل َ ي‬
ُ َ ‫شه‬ ِ ّ ‫َوال‬
َ ‫ذي‬

“Dan orang-orang yang tidak memberi persaksian palsu


dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang
mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah,
mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.”

Menjadi ciri mutlak seorang mukmin bahwa mereka


senantiasa berkata benar dan apabila mereka menjadi
saksi, mereka jauh dari perkataan dusta, sumpah palsu dan
kesaksian palsu. Karena baik perkataan palsu, kesaksian
palsu maupun sumpah palsu sangat dimurkai Allah SWT.
Karena, yang demikian itu salah satu ciri orang-orang yang
munafik.

Rasulullah SAW menggolongkan saksi palsu dalam


golongan dosa besar, bahkan beliau bersabda bahaw
sumpah palsu setara dengan syirik kepada Allah SWT.

H. Mas’oed Abidin 41
Sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan oleh Abu
Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad : “Kesaksian
palsu disetarakan dengan syirik kepada Allah.”

Syaikh DR. Yusuf Al Qardhawy mengatakan bahwa


kesaksian palsu disejajarkan dengan syirik kepada Allah,
karena di belakang kesaksian palsu itu tersembunyi
pengabaian hak dan menyulut permusuhan antara
manusia, dan di belakang ini akan muncul dampak-dampak
lain, seperti yang kuat memakan yang lemah, kebenaran
bisa diperjual belikan, sehingga orang akan memberikan
kesaksian secara batil dan mengabaikan hak orang lain.

Ibadurrahman tidak akan memberikan kesaksian palsu.


Jika Ibadurrahman dituntut atau diminta untuk memberikan
kesaksian untuk suatu kebenaran, niscaya mereka tidak
akan menyimpangkan, tidak mengganti, tidak
menyembunyikan, dan tidak berkhianat. Dan mereka tidak
pernah keberatan dan enggan untuk memberikan
kesaksian.

Sebagian orang ada yang tidak ingin berdusta dalam


memberikan kesaksian. Akan tetapi ia
menyembunyikannya. Padahal tindakannya yang
menyembunyikan kesaksian itu bisa menghilangkan hak
atau boleh jadi membantu kebatilan, atau boleh jadi pula
menelantarkan agama dan juga dunia. Karena itu Allah
befirman dalam surat Al Baqarah ayat 283:

ُ ‫م قَل ْب ُن‬
‫ه‬ ٌ ‫ه َءاث ِن‬ ْ ُ ‫ن ي َك ْت‬
ُ ّ ‫مهَننا فَنإ ِن‬ ْ ‫من‬ ُ ُ ‫ وَل َ ت َك ْت‬...
ّ ‫موا ال‬
َ َ‫شنَهاد َةَ و‬
Duabelas Sifat Utama Hamba Allah terpuji ( Ibadu r-Rahman)

‫م‬ َ ‫مُلو‬
ٌ ‫ن عَِلي‬ َ ْ‫ما ت َع‬ ُ ّ ‫َوالل‬
َ ِ‫ه ب‬

“Dan janganlah kamu menyembunyikan kesaksian, dan


barangsiapa menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia
adalah orang yang berdosa hatinya, dan Allah Maha
Mengetahui apa yang kalian kerjakan.”

Ibadurrahman tidak akan memberikan kesaksian palsu,


mereka adalah orang-orang yang memberikan kesaksian
yang benar, meskipun kesaksian itu akan berimbas kepada
anak, keluarga atau sanak familinya (kerabatnya).

Bahkan terhadap musuh yang dibenci sekalipun


Ibadurrahman tetap berlaku adil, adil dalam perkataan
maupun persaksian. Karena Allah SWT memerintahkan
sikap yang demikian itu. Allah SWT berfirman:

ْ ‫ن قَوْم ٍ عََلنى أ َل َ ت َْعندُِلوا ا‬


‫عندُِلوا‬ ْ ُ ‫من ّك‬
َ ‫م‬
ُ ‫شَنآ‬ ْ َ ‫ وَل َ ي‬...
َ ِ ‫جر‬

‫وى‬ ‫ق‬
ْ ‫ت‬‫لل‬
ِ ‫ب‬ ‫ر‬ ْ ‫ق‬َ ‫هُو أ‬
َ ّ ُ َ َ

“Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu


kaum, mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku
adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa.” (Q.S. Al
Maidah: 8)

Kemudian, ketika membahas ayat dari firman Allah,


“Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang
mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah,
mereka melalui (saja) dengan menjaga kehormatan
dirinya.” Syaikh Yusuf Al Qardhawy mengatakan artinya:

H. Mas’oed Abidin 43
Mereka (Ibadurrahman-red) menjaga kehormatan dirinya
tanpa mau bergabung dalam kebatilan itu. Diri mereka
terlalu mulia untuk bergabung dengan kebatilan, meskipun
mereka tidak termasuk yang melakukan kebatilan tersebut.
Umur mereka terlalu mahal untuk dibuang secara sia-sia
dalam kebatilan dan hal-hal yang tidak berfaedah yang
tiada membawa manfaat. Karena itu, tidak selayaknya
seorang mukmin duduk di suatu tempat yang diisi
kemungkaran dan keburukan, karena Rasulullah SAW
bersabda:

“Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari


kemudian, maka janganlah dia duduk di meja makan yang
disana diedarkan khamar.” (H.R. An Nasa’i dan Al
Hakim)

Ibadurrahman adalah hamba-hamba Allah yang sangat


menghargai waktu, karena waktu adalah modal bagi
mereka. Maka bagaimana mungkin mereka mengobral
waktunya dalam hal-hal yang tidak bermanfaat? Karena itu
mereka selalu mempergunakan waktunya untuk berzikir
dengan zikir yang sebanyak-banyaknya kepada Allah serta
mentafakkuri “ayat-ayat” Allah. Satu kata yang baik bisa
memenuhi lembarannya kebaikan manusia, dan satu kata
yang buruk bisa menghitamkan lembarannya dengan
berbagai macam keburukan.

Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali berkata: “Dengan


satu kata engkau dapat membangun istana di sorga. Siapa
yang menyia-nyiakan istana atau salah satu simpanan, lalu
menggantinya dengan kerikil, berarti dia adalah oraag-
orang yang sangat merugi.”
Duabelas Sifat Utama Hamba Allah terpuji ( Ibadu r-Rahman)

Allahu A’lam bi as Shawab

Bagian Kesebelas

َ ‫ت وا ْل‬
ِ ْ ‫ف الل ّي‬
‫ل َوالن َّهاِر‬ ِ َ ‫خت ِل‬
ْ ‫ض َوا‬
ِ ‫ر‬
ْ َ ِ ‫وا‬
َ ‫م‬
َ ‫س‬
ّ ‫ق ال‬ ْ َ ‫ن ِفي‬
ِ ‫خل‬ ّ ِ‫إ‬

ُِ ‫ت‬
‫لوِلي‬ ٍ ‫ل ََيا‬

‫ما وَقُُعوًدا‬ َ ّ ‫ن الل‬


ً ‫ه قَِيا‬ َ ‫ن ي َذ ْك ُُرو‬ ِ ّ ‫ال‬
َ ‫ذي‬ (190) ِ ‫ا ْل َل َْباب‬

‫ت‬
ِ ‫وا‬
َ ‫سمنـ‬
ّ ‫ق ال‬ ْ َ ‫ن ِفي‬
َ ‫م وَي َت ََفك ُّرو‬ ُ ‫وَع ََلى‬
ِ ‫خل‬ ْ ِ‫جُنوب ِه‬

َ ‫وا ْل‬
‫ب‬
َ ‫ذا‬ َ َ ‫حان‬
َ ‫ك فَِقَنا عـ‬ َ ْ ‫سب‬
ُ ‫طل‬
ِ ‫ذا َبا‬ َ ‫خل َْق‬
َ َ‫ت ه‬ َ ‫ما‬
َ ‫ض َرب َّنا‬
ِ ‫ر‬
ْ َ

(191) ِ ‫الّنار‬

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan


silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda
bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah (berzikir) sambil berdiri atau duduk atau
dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan
(brtafakkur) tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata), Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini
dengan sia-sia. Maha suci Engkau , maka peliharalah kami
dari siksa neraka.” (Q.S. Ali Imran: 190-191)

H. Mas’oed Abidin 45
Sifat Ibadurrahman yang kesebelas : Menyelami
ayat-ayat Allah (Bertafakkur dan Berzikir)

Ibadurrahman adalah sosok hamba Allah yang tiada


henti bertafakkur dan berzikir, membaca dan sekaligus
menghayati dan menyelami ayat-ayat Allah SWT yang
kemudian menghasilkan kemantapan iman dan
kematangan aqidah kepada Allah. Setiap apa yang mereka
tangkap dari ayat-ayat Allah, mereka sikapi dengan
menunjukkan ketaatan kepada-Nya, karena itu mereka
tiada pernah lalai akan printah Allah SWT. Mereka disifati
Allah dalam Al Qur’an:

‫ما‬ ُ ‫خنّروا ع َل َي ْهَننا‬


ّ ‫صن‬ ْ ‫م ل َن‬
ِ َ‫م ي‬ ِ ‫ن إ َِذا ذ ُك ُّروا ِبآي َننا‬
ْ ‫ت َرب ّهِن‬ ِ ّ ‫َوال‬
َ ‫ذي‬

‫مَياًنا‬
ْ ُ ‫وَع‬

“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan


ayat-ayat Rabb mereka, maka mereka tiadalah
menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan
buta.”(Q.S. Al Furqan: 73)

Menurut pada ulama, ayat-ayat Allah ada dua macam:


Pertama disebut ayat-ayat Takwiniyah dan yang kedua
disebut ayat-ayat Tanziliyah.

Pertama: ayat-ayat Takwiniyah. Artinya tanda-tanda


kekuasaan Allah yang terdapat dan dapat kita saksikan di
alam ini, yang dihamparkan di setiap tempat guna
Duabelas Sifat Utama Hamba Allah terpuji ( Ibadu r-Rahman)

menuntun manusia menuju kepada Khaliqnya serta


memberikan petunjuk kepada mereka tentang keberadaan-
Nya. Dan ayat Takwiniyah yang terdekat adalah apa yang
ada dalam diri manusia itu sendiri.

Barangsiapa yang memandang ayat-ayat atau tanda-


tanda kekuasaan Allah dengan mata buta, hati yang
tertutup dan telinga yang tuli, maka ia tidak akan
mengambil manfaat sedikitpun darinya. Sebab hati, telinga,
dan mata mereka tertutup, sehingga mereka bisu dan tuli
tidak dapat mentadabburinya.

Kedua: Ayat-ayat Tanziliyah. Artinya, ayat-ayat yang


diturunkan kepada Rasul-Nya, berupa ayat-ayat wahyu,
yang disudahi Allah dengan menurunkan Al Qur’anul Karim
kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad SAW. Al Qur’an
merupakan ayat-ayat Allah, dan manusia tidak akan
mungkin mampu membuat yang serupa dengannya.

Al Qur’an merupakan mu’jizat Nabi Shallallahu ‘Alaihi


Wassalam yang abadi, ayat-ayat yang abadi, yang dapat
menyusup ke dalam hati dan pikiran tanpa meminta izin
terlebih dahulu.

“Abdullah bin Urwah bin Az Zubair bertanya kepada


neneknya Asma’ binti Abu Bakar, ”Wahai nenek, apa yang
dilakukan para sahabat jika mereka mendengarkan al
Qur’an atau mendengarkannya?” Asma’ menjawab, “Wahai
cucuku, mereka seperti yang digambarkan Allah, mata
mereka meneteskan air mata, kulit mereka gemetar dan
hati mereka tertunduk.”

Bahkan para jin yang mendengat bacaan Al Qur’an pun

H. Mas’oed Abidin 47
terpengaruh. Allah SWT berfirman :

"Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin


kepadamu yang mendengarkan Al Qur’an, maka tatkala
mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkat,
‘Diamlah kalian (untuk mendengarkannya). ‘Ketika bacaan
itu telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya untuk
memberi peringatan. Mereka berkata, ‘Hai kaum kami,
sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Qur’an)
yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan
kitab-kitab sebelumnyalagi memimpin kepada kebenaran
dan kepada jalan yang lurus.” (Q.S. Al Ahqaf: 29-30)

Syaikh DR. Yusuf Al Qardhawy mengatakan, diantara


orang-orang salaf ada yang berkata, “Tadinya aku tidak
pernah merasakan kelezatan di dalam Al Qur’an hingga
Allah memberi anugerah kepadaku, sehingga aku
membacanya seakan-akan aku mendengarkannya
langsung dari Rasulullah SAW yang sedang
membacakannya di hadapan para sahabat. Maka ketika
aku membacanya, seakan-akan mendengarkan langsung
dari Jibril yang disampaikan kepada Rasulullah SAW.
Kemudian aku naik setingkat lebih tinggi lagi, sehingga
seakan-akan mendengarnya langsung dari Allah.”

Ibadurrahman apabila mendengarkan ayat-ayat Al


Qur’an maka iman mereka semakin bertambah. Karena Al
Qur’an adalah penawar hati mereka. Sementara orang-
orang yang tiada iman dalam hatinya, justru membuatnya
gelisah, dan mereka enggan mendengarkannya, karena
telinga mereka telah tersumbat. Allah SWT berfirman:
Duabelas Sifat Utama Hamba Allah terpuji ( Ibadu r-Rahman)

َ
‫ه‬ ْ َ ‫ص نل‬
ُ ُ ‫ت َءاي َننات‬ ّ ُ‫مي ّننا ل ََقنناُلوا ل َنوْل َ ف‬ َ ْ ‫جعَل َْناه ُ قُْرَءاًنا أع‬
ِ ‫ج‬ َ ْ‫وَل َو‬

َ
‫شنَفاٌء‬
ِ َ‫دى و‬
ً ‫من ُننوا هُن‬
َ ‫ن َءا‬ ِ ‫ل هُنوَ ل ِل ّن‬
َ ‫ذي‬ ْ ُ‫ي ق‬
ّ ِ ‫ي وَعََرب‬
ّ ‫م‬
ِ ‫ج‬
َ ْ ‫َءأع‬

‫مننى‬ ْ ‫م وَقٌْر وَهُ نوَ عَل َي ْهِ ن‬


ً َ‫م ع‬ ْ ِ‫ن ِفي َءاَذان ِه‬ ِ ْ ‫ن ل َ ي ُؤ‬
َ ‫مُنو‬ ِ ّ ‫َوال‬
َ ‫ذي‬

ٍ‫ن ب َِعيد‬ َ ‫م‬


ٍ ‫كا‬ َ ‫ن‬
ْ ‫م‬
ِ ‫ن‬ َ ِ ‫ُأول َئ‬
َ ْ‫ك ي َُناد َو‬

“Katakanlah, ‘Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar


bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang
tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan,
sedangkan Al Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka.
Mereka itu seperti orang-orang yang dipangil dari tempat
yang jauh.” (Q.S. Fusshilat : 44)

Allahu A’lam bi as Shawab

Bagian Keduabelas

َ َ ّ َ ‫ياأ‬
‫ها‬ ْ ُ ‫م وَأهِْليك‬
َ ُ ‫م َناًرا وَُقود‬ ْ ُ ‫سك‬
َ ‫مُنوا ُقوا أن ُْف‬
َ ‫ن َءا‬
َ ‫ذي‬
ِ ‫ل‬ ‫ا‬ ‫ها‬
َ َ
ّ ‫ي‬

...‫ة‬
ُ ‫جاَر‬ ِ ْ ‫س َوال‬
َ ‫ح‬ ُ ‫الّنا‬

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian


dan keluarga kalian dari apai neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan bebatuan…” (Q.S.At Tahrim: 6)

H. Mas’oed Abidin 49
Sifat Ibadurrahman yang keduabelas: Memohon
kebaikan bagi istri dan keluarga

Kali ini kita akan membicarakan sifat Ibadurrahman


yang terakhir, yaitu bahwa mereka memiliki perhatian yang
besar terhadap keluarganya, anak-istrinya dan sanak
keluarganya. Bahwa mereka selalu memohon kepada Allah
agar diri mereka dan juga keluarga mereka selalu
mendapatkan limpahan rahmat dan hidayah Allah dan
dijadikan keluarga yang penuh dengan kedamain,
keharmonisan, sakinah, mawaddah wa rahmah.

Allah SWT berfirman:

َ‫جن َننا وَذ ُّرّيات ِن َننا قُنّرة‬ َ ‫وال ّذين يُقوُلون ربنا هَب ل َنا م‬
ِ ‫ن أْزَوا‬
ْ ِ َ ْ َّ َ َ َ َ ِ َ

َ‫أ‬
‫ما‬
ً ‫ما‬
َ ِ‫ن إ‬
َ ‫قي‬ ُ ْ ‫جعَل َْنا ل ِل‬
ِ ّ ‫مت‬ ْ ‫ن َوا‬
ٍ ُ ‫ي‬ْ ‫ع‬

“Dan orang-orang yang berkata: ‘Ya Rabb kami,


anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan
kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami
imam bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S. Al Furqan:
74)

Yang membuat para Ibadurrahman dan orang-orang


mukmin lainnya merasa senang dan tenang ialah jika
mereka didampingi seorang istri yang sholehah, yang
apabila mereka memandangnya hati mereka tenang, taat
jika mereka menyuruhnya, menjaga kehormatannya
sebagai seorang istri jika mereka tiada bersamanya,
Duabelas Sifat Utama Hamba Allah terpuji ( Ibadu r-Rahman)

membantu mereka dalam ketaatan kepada Allah, dan tidak


berkata, “Mengapa engkau tidak seperti fulan yang
mengumpulkan uang segudang?” Atau perkataan lain yang
menghina dan menganggap remeh sang suami karena
kemiskinannya dan memperlakukannya dengan cara yang
tidak pantas untuk dilakukan oleh seorang istri.

Diriwayatkan bahwa ada seorang istri dari seorang


Salafus-Shaleh menyampaikan pesan kepada suaminya
yang hendak pergi mencari nafkah, seraya berkata, “Wahai
Abu Fulan, janganlah engkau mencari nafkah dari yang
diharamkan Allah, karena kami bisa bersabar menahan
lapar, namun kita tidak akan mampu menahan panasnya
kobaran api neraka dan kemurkaan Allah.”

Istri yang sholehah yang menyenangkan di mata


suaminya adalah merupakan unsur yang fundamental dari
berbagai unsur kebahagiaan dalam kehidupan ini.

Disebutkan pula dalam hadits yang lain, Rasulullah


SAW bersabda: “Empat perkara, siapa yang diberi empat
perkara ini, maka dia telah diberikan kebaikan di dunia dan
akhirat, yaitu: hati yang bersyukur, lisan yang berzikir,
badan yang sabar dalam menghadapi bala’ (ujian Allah)
dan istri yang tidak menimbulkan kesukaran dalam dirinya
dan hartanya.”(H.R. Ath Thabrani)

Diriwayatkan bahwa ada seorang wanita shalehah yang


menginginkan pahala sebagaimana yang diperoleh para
kaum mukmin yang shaleh di zaman Rasulullah SAW,
karena mereka memiliki beberapa kelebihan untuk
beramal, seperti shalat jum’at, berjihad fi sabilillah dan

H. Mas’oed Abidin 51
sebagainya. Karenanya wanita shalehah ini menanyakan
kepada Rasulullah SAW apakah gerangan amal yang dapat
mereka peroleh pahala darinya yang setara dengan apa
yang didapatkan oleh para mukmin shaleh tersebut. Hal ini
sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam
kitab Shahihnya diriwayatkan bahwa Asma’ binti Yazid bin
Assakan Al Anshariyyah (khalitbnya para wanita) datang
kepada Nabi Muhammad SAW ketika beliau berada diantara
para sahabatnya, Asma’ berkata, “Wahai Rasulullah, aku
wakil para wanita yang datang kepada engkau. Allah
mengutusmu dengan membawa kebenaran untuk laki-laki
dan wanita seluruhnya. Maka kami beriman kepadamu dan
mengikutimu. Kami, kaum wanita terkurung di bawah atap
rumah kalian dan mengandung anak-anak kalian.
Sementara kalian mendapatkan kelebihan di atas kami
dengan (menunaikan) shalat jumat berjamaah,
mengunjungi orang sakit, mengantar jenazah, dan
menunaikan haji berkali-kali. Lebih dari itu adalah jihad fi
sabilillah. Ketika kalian kalau keluar untuk haji atau umrah
atau berjihad, kami menjaga harta kalian, menyulam baju
kalian, dan mengasuh anak-anak kalian. Apakah kami
menyertai kalian dalam pahala?”

Maka Nabi SAW menoleh kepada para sahabatnya


dengan dengan menghadapkan seluruh wajah beliau, lalu
berkata, “Pernahkah kalian mendengarkan pengaduan
seorang wanita dalam urusan agamanya yang lebih baik
dari pada pengaduan wanita ini?”. Para sahabat menjawab,
“Kami tidak menduga bahwa seorang wanita bisa
menyampaikan hal semacam ini.” Lalu Nabi SAW menoleh
kepada wanita tersebut danberkata, “Ketahuilah wahai
Duabelas Sifat Utama Hamba Allah terpuji ( Ibadu r-Rahman)

wanita, dan beritahukan kepada para wanita di belakangmu


(selainmu), bahwa pergaulan yang baik dari wanita kepada
suaminya dan usahanya untuk mendapat keridhaannya
sepadan (pahalanya) dengan semua itu (jihad fi sabilillah,
dan sebagainya- red).

Istri dan anak keturunan menjadi penyenang hati, jika


mereka merupakan orang-orang yang berbakti, mengetahui
hak dan kewajiban. Dan yang terpenting adalah mereka
taat kepada perintah Allah SWT.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan


Ibadurrahman yang telah Engkau anugerahkan bagi mereka
keluhuran akhlaq, yang senantiasa mendirikan shalat, yang
sangat takut murka dan azab neraka-Mu, yang pandai
mensyukuri nikmat yang telah Engkau karuniakan, yang
memiliki kematangan tauhid, keimanan dan ketaqwaan,
yang senantiasa menjauhi dosa dan kemaksiatan yang kecil
apalagi yang besar, yang senantiasa mengaktifkan diri
dalam bertafakkur dan berzikir dengan menyelami ayat-
ayat-Mu, yang senantiasa memohon kebaikan bagi diri dan
keluarganya, serta tak pernah alpa memohon ampunan dan
taubat-Mu dengan taubatan nasuha, sehingga Engkau sifati
mereka dengan menisbatkannya dengan nama-Mu.
Merekalah Ibadurrahman. Ya Allah perkenankanlah do’a
dan permohonan kami ini, amin ya rabbal ‘alamin.

Allahu A’lam bi as Shawab

H. Mas’oed Abidin 53